Skip to main content

ZINE (Pentingkah Negara?) Volume 3 - Pokok Ati Seneng

Page 1

PAKSN PENTINGKAH NEGARA?

Sedangkan kedudukan negara sejauh ini hal yang imajinatif seperti mimpi waktu tidur. Bahwa negara adalah omong kosong dalam penciptaan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Tak jarang kita menemukan akan penindasan dan perampasan bahkan sampai penghisapan yang dilakukan negara kepada rakyatnya.

APRIL - MEI VOLUME 3 ZINE POKOK ATI SENENG ZINE

TULISAN DAN KATA KATA KARYA ART DAN ILUSTRASI SASTRA DAN CAMPAIGN


REDAKSI

SEBUAH UCAPAN ZINE POKOK ATI SENENG EDISI MEI-APRIL DAN EDISI KETIGA Layout & Desain M Rifki Kurniawan

Dalam poros sebuah kesatuan dan pergerakan memang istilah 'Negara' menjadi sudut pandang yang abu-abu. Sejauh mata memandang, hanya menghasilkan pemandangan akan kain yang dilapisi warna dan diangkat oleh besi yang menjulang keatas. Tak sedikit yang mengatakan bahwa itu wujud dari kesatuan Negara.


DAFTAR ISI Sebuah kata - kata - Halaman 2 Sebuah kata - kata - Halaman 3 Negara itu tidak ada dan hanya belenggu imajinasi - Halaman 4 Tanpa Negara, Rakyat Hidup Sejahtera - Halaman 6 Sebuah Puisi - Halaman 10 Campaign - Halaman 13 Karya Art dan Ilustrasi - Halaman 15


Kata-Kata

"Jika ada Negara, harus ada dominasi satu kelas dengan kelas lain dan, sebagai akibatnya, perbudakan; Negara tanpa perbudakan tidak terpikirkan - dan inilah mengapa kita adalah musuh Negara." 2


KATA-KATA

"Di setiap Negara, pemerintah tidak lain hanyalah konspirasi permanen dari pihak minoritas terhadap mayoritas, yang diperbudak dan dikalahkan." 3


OPINI

Negara itu tidak ada dan hanya belenggu imajinasi

PKASNZINE PKASNZINE PKASNZINE

Sejauh mataku menatap keatas yang ku lihat hanyalah bendera yang didasari oleh kain dan warna serta corak motif yang menjadi identitas. Setiap apa yang kurasakan dan kupahami sejauh ini, negara hanyalah barisan kata yang memang dipaksa’kan untuk diakui. Namun secara kedudukanya Negara itu bukan benda, bukan orang, bukan kamu, apalagi aku. Sekelompok berpakaian serba rapi disertai dasi dan peci dipajang disekolah, dirumah bahkan dimasjid sekalipun yang membawahi suatu golongan dengan sebutan ‘persiden’. Persetan dengan itu semua! Pada keyakinan atas hidup didunia ini, negara selalu menjanjikan akan kesejahteraan dan kemakmuran yang membawahi rakyatnya sendiri. Namun, sejauh poros dunia ini berputar negara sendiri adalah tempat penindasan berlangsung, bahkan penghisapan atas rakyat dengan dalih tenaga kerja dan upah. Sebenarnya, manusia tidak membutuhkan negara dan negara tidak perlu diakui sebagai peradaban manusia.

4


OPINI Coba kalian fikirkan lagi, apakah negara ini ada? Tentu ada karena disebut oleh mulut, bahkan keberadaan negara pun tidak pernah menyentuh aku sebagai rakyat, lebih dari omong kosong yang dikeluarkan oleh para pembohong istana.

PKASNZINE PKASNZINE PKASNZINE

Jujur aku akui ini adalah penindasan secara tidak langsung, bahwasannya kata negara sendiri yang sangat jahat kepada setiap manusia, banyak orang mengaku sebagai pejabat yang menaikan harga pajak dan harga pangan, sungguh tidak manusiawi bukan? Bahkan kenaikan harga tidak disuaikan dari para pekerja yang menggarap setiap proses perusahaan dan instansi, lembaga. terus terang pada suara ku, negara itu sama dengan sebuah menstrubasi, ia hanya digunakan pada saat tertentu oleh manusia tertentu, demi kepentingan tertentu dan kenikmatan tertentu. Tapi bagi kalian para pekerja, para seniman, para pedagang, apakah kalian merasakan apa yang dirasakan kelompok berdasi itu? Yang katanya pelayan bagi rakyat?. Persetan, anjing untuk para mafia, maling, para penghisap atas segala bentuk kejahatan ideologis dan kejahatan politk, dimana negara itu diciptakan hanya untuk melanggengkan kekuasaan kapitalisme dan tetap menjadi tempat penjajahan manusia.

Penulis M Rifki Kurniawan 5


OPINI

Tanpa Negara, Rakyat Hidup Sejahtera

6


OPINI Menarik jika kita membaca kalimat pembuka di atas, mengapa kalimat itu muncul, ada apa sebenarnya yang terjadi, apakah benar tanpa negara rakyat hidup sejahtera atau negara dianggap tidak dapat mensejahterakan rakyatnya. Hal inilah sering menjadi tanda tanya besar dalam beberapa diskusi dan menjadi olah pikir kita dalam menganalisis kalimat yang disebutkan di atas

PKASNZINE PKASNZINE PKASNZINE

Maksud dari frasa “Tanpa Negara, rakyat hidup sejahtera” merupakan kejenehuan yang dirasakan oleh rakyat terhadap Pemerintah sebagai pelaksana negara yang bahwa negara belum mampu mensejahterakan rakyatnya. Didirikannya negara Indonesia memiliki visi dan misi untuk sepenuhnya kemakmuran rakyat seperti yang terdapat dalam pembukaan UUD 1945 “Mensejahterakan kehidupan bangsa”. Namun realita yang terjadi, masih banyak rakyat yang tertindas akibat dari ulah Negara (pemerintah). Seperti halnya contoh konflik agraria yang terjadi di Indonesia. para petani selalu menjadi korban akibat dari ulah pemerintah yang selalu melegalisasikan para pemilik modal dalam menjalankan misi-misi mereka sehingga jelas keberpihakan terhadap rakyat tidak dilaksanakan seperti tujuan didirikannya negara Indonesia.

6


OPINI Petani selalu terhalang dalam menikmati sumber daya alam yang mana merupakan hak mereka demi terwujudnya kemakmuran. Padahal dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 menyebutkan bahwa “bumi, air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Seluruh kekayaan yang ada dibumi diperuntukkan kepada rakyat dan dimanfaatkan oleh rakyat agar hidup sejahtera dan jauh dari kemiskinan dan kemelaratan.

PKASNZINE PKASNZINE PKASNZINE

Negara seyogyanya harus menfasilitasi rakyat dalam hal pemanfaatan sumber daya alam dan negara dijadikan sebagai pengontrol rakyat dalam mengelola hasil-hasil bumi dengan baik agar terciptanya tujuan negara yang sesungguhnya. Namun, hal tersebut bertolak belakangan dengan apa yang terjadi saat ini. Konflik-konflik agraria bermunculan dimana-mana dan semakin signifikan. Tidak ada satu pun konflik agraria terselesaikan dengan baik, yang ada hanya semakin memperbesar tensi konflik yang sudah ada. Banyaknya konflik agraria yang muncul dipermukaan yang tidak ada ujung penyelesaiannya Itu bertanda bahwa negara tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Mengapa hal itu terjadi, dan itu menjadi tanda tanya besar bagi kita semua.

7


OPINI Akar mula konflik terjadi dikarenakan munculnya perlawanan rakyat atas penindasan terhadap haknya. Hak atas tanah mereka dirampas oleh para pemilik modal/kaum kapitalis dengan berbagai macam cara, dengan cara disiksa, diusir, ditakut-takuti, diracuni sawah, diancam bahkan ada yang dibunuh karena tidak memberikan tanah tersebut. Padahal tanah tersebut merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian hidup mereka dan hal tersebut dinafikan oleh para pemilik modal (perusahan). Dan yang mengherankan lagi, perbuatan-perbuatan yang tidak manusiawi tersebut direstui/dilegalkan oleh negara (Pemerintah). Negara tidak berdaya membela rakyatnya dan ujung-ujungnya pemerintah selalu berpihak kepada perusahaan dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan.

PKASNZINE PKASNZINE PKASNZINE

Sebenarnya berbicara hak atas tanah, hak milik lah yang diutamakan (primer) ketimbang Hak Guna Usaha/Hak Pakai (sekunder) seperti yang dijelaskan di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria, akan tetapi tetap saja rakyat (pengemban hak milik) dinomor duakan dan perusahaan selalu dinomor satukan. Akhirnya, rakyat yang selalu menjadi korban keserakahan kaum kapitalis. Tercatat dalam sejarah bahwa UndangUndang Pokok Agraria merupakan undang-undang yang paling sempurna yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia.

8


OPINI Hak-hak atas tanah diuraikan secara jelas dan terperinci serta adanya pengakuan hak Ulayat yang hidup di dalam masyarakat komunal. Tapi tetap saja undang-undang tersebut tidak diimplementasikan secara maksimal, bahkan semakin dikerdilkan oleh undang-undang yang lahir setelahnya. lahirya undang-undang pasar modal, undang-undang perkebunan, undangundang kehutanan semakin mempersempit ruang gerak para petani dalam memanfaatkan kekayaan sumber daya alam.

PKASNZINE PKASNZINE PKASNZINE

Ini merupakan bukti penindasan secara struktural yang melibatkan pemerintah dalam memberikan ruang sebesar-besarnya kepada para investor/pemilik modal dalam mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya sehingga akan terjadi kemiskinan struktural yang diderita oleh rakyat. Inilah segelintir fenomena-fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini. dan atas dasar inilah mengapa frasa “tanpa negara, rakyat hidup sejahtera” muncul dan sering keluar dari mulut para korban penindasan yang dilakukan oleh negara. Kepercayaaan rakyat terhadap negara semakin memudar. dan tunggulah tiba saatnya nanti rakyat akan bangkit dan melakukan perlawanan besar-besaran akibat dari perbuatan tersebut.

Penulis Riki Yuniagara 9


PUISI

Amor Fati

Terkesiap menatapmu, sorot memarselongsong mata itu mengerjap tiba-tiba: debar samardalam garang prahara, meradang menggeram seram, namun galaubagai igau malam demam, selimut redam, gerabah pecah, bahasakaram gemuruh nadi kaum pengungsi; arung nasibmu,senyum lembut seorang nabi, gadis mungil bermantel merahyang terjatuh di alun-alun, tak mengaduh, bangkit berlarimenyibak nyeri menyelinap di antara derak tulang terseretorang-orang Yahudi berangkat pergi, tengadah, beberapatak kembali, tak pernah kembali, tertumbuk remukdi kampkamp konsentrasi.

Mantel merah, sesosok gadis mungil yang berlari, beringsutke balik babut, ke sayap-sayap kabut, ingin sembunyiseperti doa, ingin lirih mengucap isyarat-isyarat pucat,kalimat-kalimat pekat, seperti, Ma, Pa, Riri tercekik! Padamkan lampu-lampu, Mama, dan lihatbetapa marak cahayaku mabuk berpestamenari-nari membakar lilin pelupukmu yang gemetarmenggigil memanggilmanggilgirang lazuardi: siapa, siapakah bersiuldi gigir gerammatahati

10


PUISI

Terkesiap meratapmu, tak kausahut, gerah langkahyang diterkam dentam sepatu, lalu amisangin bersiut, wangi amunisi, lalusebentuk jidat yang rekahterbuntel mantel merah.

Mata, caling beling yang mengerling menatapku.Hati, matahari ngeri. Tapi seekor laron, Riri, selalu luput membujuk mautberingsut dari parau tatapmu.

Padamkan, Papa, lepas.

Karya Arif Bagus Prasety 11


PUISI

INILAH KAMI : PEJUANG TANI Inilah ini tanah kami berapapun kau jual akan kami beli dengan darah kami dengan jiwa kami karena inilah ini tanah kami pusaka negeri

pejuang tani pejuang negeri penerus semangat revolusi mewujudkan cita proklamasi 100 % MERDEKA

kami berpantang mundur ke belakang karena kami barisan pejuang

Karya Qomarun Najmi 12


CAMPAIGN

WADAS ORA DIDOL 13


CAMPAIGN

14


Karya @PANG.PNG 15


Karya @ETSY 16


Karya @DEFAME 17


REDAKSI

TERIMAKASIH Sebuah perjuangan adalah awal dari setiap nilai kehidupan berlangsung. Manusia sebagai mahluk yang berfikir tentunya bisa melakukan tindakan yang sepantasnya dilakukan. Sepertinya membaca dan menulis. Dalam zine ini, tentunya semua isi dan inti yang ada akan dikembalikan kepada pembaca, bagaimana pun yang berhak menilai adalah pembaca. Hingga seterusnya, zine ini akan tetap hadir disaat redaksi zine ini tidak sibuk dengan urusan pribadi dan duniawi.

Jika teman-teman berminat mengirimkan karya, langsung saja kirimkan melalui email berikut ini ;

pkasn.native@gmail.com


WUJUDKAN REVOLUSI DENGAN BUDAYA PEMBEBASAN


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
ZINE (Pentingkah Negara?) Volume 3 - Pokok Ati Seneng by pkasn zine - Issuu