Issuu on Google+

80 TAHUN WARNA HATI EYANG PUTRI ELLY A.R


hidup adalah warna warna adalah hidup hidupkanlah warna dan berwarnalah hidup

Solo Exhibition Warung Yayaa, Sanur, 18 - 23 Agustus 2012 Warung Batavia, Seminyak, 1 - 31 September 2012


80 TAHUN WARNA HATI EYANG PUTRI ELLY A.R Tegal, 12 Agustus 1932

9 anak, 26 cucu, 11 cicit, dan ratusan karya

Batubulan, 25 Juli 2012 Ni Nyoman Sani

Bersinergi Dengan Seni Tak Mengenal Usia Saat kita terlahir Tuhan telah memberi banyak hal sebagai bekal kebaikan, ketulusan, jiwa besar, kejujuran, hati yang penuh kasih, karakter yang unik, dan tantangannya hanyalah, bagaimana cara kita bisa menghargai semua dengan baik dengan kesadaran penuh. Namun tidak semua manusia terlahir dengan jiwa dan bakat yang special. Menjadi sosok special tidaklah mudah, menjadi sosok yang penuh ‘isi’ bukanlah keberuntungan. Eyang Putri, Yang dispesialkan oleh anak, menantu, cucu dan cicitnya pasti ada ‘pemicu’, beliau lincah dan selalu enerjik dilihat dari hasil karya yang saat ini dipamerkan, dan adalah contoh yang sangat baik secara energi. Menjadi perempuan yang memiliki kemampuan menghasilkan karya karya sebanyak ini saya yakin tidak mudah, perlu banyak ide dan imajinasi yang terlatih. Eyang Putri, Selamat... Anda menginspirasi saya khususnya saat ini, saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh, bagaimana anda dapat mempertahankan kondisi agar tetap konsisten seiring berjalannya waktu? Menjadi bersinergi dengan diri sendiri, dengan apa yang kita sebut dengan ‘anak’ hasil kreasi dari hadiah yang diberikan Tuhan, tidak mudah menjaganya. Eyang Putri, Sekali lagi selamat berpameran. Semoga banyak perempuan terinspirasi dan kemudian menyadari nilai yang terpendam dalam diri masing masing... dan menghargainya.

Ni Nyoman Sani adalah Ketua Seniwati Gallery, Ubud. Sebuah kelompok perupa perempuan yang mengkhususkan diri dalam pengembangan seniwati di Bali melalui kegiatan eksebisi dan berbagai program. Baik di dalam maupun hingga ke luar negeri.


80 TAHUN WARNA HATI EYANG PUTRI ALIMAH ROKHATI Kreativitas Unggul Seorang Nenek Gaul Oleh: Putu Suarthama …mengalir bagai air, merenung seperti gunung, batu karang yang dihantam gelombang laut…

pantang surut bagai kerasnya

UNGKAPAN tersebut penulis rasa tepat untuk melukiskan secara ringkas biografi dan filosofi kehidupan Elly Alimah Rochati (80 tahun). Ketabahan, kerja keras dan spirit hidup nenek 26 cucu dan 11 cicit dari 9 anaknya ini, sungguh bagai nyala api nan tak kunjung padam. Ditakdirkan hidup sebagai janda di usia muda setelah sang suami (almarhum, Lettu (TNI) Roy Barsono) yang gugur dalam operasi militer penumpasan pembrontakan Kahas Muzakar di Sulawesi Selatan (1962), kecintaan Elly AR, begitu akrab dipanggil, kepada hidup dan kehidupan begitu mengharukan. Dia tak pernah patah gairah hidup di tengah kegamangan yang menekan hari-hari masa mudanya yang kelam. Bayangkan, jauh dari keluarga di usia masih muda harus membesarkan sendiri anakanaknya yang masih kecil, tertua (saat itu) Eddy Agoes Ryanto (lahir 1948) dan terkecil Yani VCDY (1958), dengan uang pensiun yang tak mencukupi, merupakan perjuangan yang tak kalah mengagumkan dengan sikap kepahlawanan sang suami, yang gugur sebagai Kusuma Bangsa.

Proses Kreatif JIKA di ranah kreatif ada prinsip, ‘gairah kreativitas tanpa batas ruang dan waktu, agaknya sosok sepuh ini bisa menjadi studi kasus yang menarik. Di kalangan keluarga besar dan kolega dikenal sebagai nenek gaul. Mengingat, selain masih suka jalan-jalan ke pasar atau pusat pertokoan untuk membeli kebutuhan hidup pribadinya, di usia senjanya, Bu Elly juga tak pernah merasa terlambat untuk unjuk bakat yang cukup banyak. Selain dikenal piawai dalam seni kuliner (jago masak), kini bakat lamanya yang terpendam, yakni olah kreatif di ranah senirupa, telah dibuktikan dengan belasan karya lukis yang dipuji pengamat dan peminat. Asal-usul lahirnya karya rupa tersebut juga tak kalah menarik disimak. Di sela-sela kesibukannya melayani pasien yang antri konsultasi perihal spiritual, Bu Elly yang dikenal luas sebagai paranormal di kawasan Pondok Gede, Jakarta, tetap berusaha mencuri-curi waktu untuk mengekspresikan dorongan kreatif dari ‘passion’ insting ‘art’-nya dalam media kertas berupa figur-figur ‘ganjil’ dengan aksi lucu dengan warna-warna nan ceria. Sebutan nenek gaul, rupanya bukan hanya mengacu kreativitas unggul Bu Elly - yang meminjam pendapat pengamat senirupa Dr Jean Cauteu (kurator dan penulis pengantar katalog pameran) masuk katagori aliran senirupa naif (tentu teori seni yang tak pernah dipahami sang pelukis otodidak), tapi juga jika menyimak atitude hidup kesehariannya.


Saya kebetulan mengenal secara dekat keluarga besar Bu Elly sejak tahun 1980 silam, bahkan dianggap saudara, karena bersahabat dengan putra kelimanya. Yani VCDY sesama aktivis di Teater Poliklinik pimpinan Abu Bakar (1980-an). Sehingga, cukup kaya memori saya merekam bakat, minat dan kreativitas Sang Bunda. Misalnya, Tante Gani - begitu saya suka memanggil, sejak masih gadis dikenal berbakat menari gaya modern (lenso?). Gairah ‘melantai’ sering makin intens saat pesta ulangtahun atau sesi hiburan di lingkungan tugas saat mengikuti penugasan suaminya di Denpasar dan akhirnya di Kota Pare-pare, Sulsel. Dalam kehidupan keseharian, Bu Elly selain dikenal seniman kuliner hebat (sangat jago memasak), juga punya selera mode yang mengagumkan. Hal itu terlihat dari pilihan model dan desain hadiah pakaian kepada anak-anak dan cucunya yang dilakukan dengan hunting langsung ke pasar atau toko pakaian, selama menetap di Bali (sampai tahun 1986) atau sampai saat ini di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur. Merunut proses kreatif tersebut, dan sebagai sosok yang dikenal pantang membuang waktu sia-sia, sesungguhnya bukan hal yang aneh jika tiba-tiba muncul produk bakat melukisnya yang menakjubkan. Tapi, fenomena Bu Elly ini tetap saja mengharukan. Bayangkan, ratusan karya yang telah disimpannya dengan rapi selama belasan tahun, konon berawal dari dorongan jiwanya yang tiba-tiba ingin menggambar apa saja di atas kertas lalu mewarnai. “Setelah itu saya merasa puas dan bebas,” ungkapnya. “Saya sendiri bingung kenapa spirit itu begitu datang mengebu bagai tak terbendung. Pernah, ketika saya lawan dan tahan-tahan untuk mengabaikan dorongan hebat itu, saya malah jadi uring-uringan gak karuan, seperti wong edan , tambahnya dengan dialek Jawa yang khas. Kajian Karya SEJARAH senirupa Indonesia mencatat, seorang pelukis perempuan bernama Ratu Aminah yang mulai melukis di usia senja (66 tahun) karya-karya diapresiasi positif oleh para pengamat dan kalangan masyarakat peminat seni (Agus Dermawan T. 111 Cerita Ajaib Dunia Seni, 2011). Tapi, istri Letjen (Pur) Hidayat tersebut sempat belajar teknik melukis ( 2 tahun) dari pelukis senior S. Sudjono. Tapi, Elly AR yang mulai melukis di usia 70 tahun, 100 % otodidak alias tanpa guru resmi. “Guru besar saya, ya… Yang Maha di atas sana,” ucapnya sambil menghembuskan asap rokok kereteknya. “Apa yang saya bikin sekarang disebut lukisan, padahal saya tak pernah benar-benar memahami apa itu lukisan. Saya hanya menjalankan petunjuk-NYA yang dialirkan lewat pikiran lalu ke tangan saya…” Mencermati riwayat kehidupannya (kosmologi) dan menyelami sejumlah karyanya (kreativitas), kita seakan membaca sejumlah paradoks. Dalam kajian senirupa secara kosmologis, karya seorang seniman tak bisa terpisahkan dari pengaruh lingkungan sosial budaya kehidupannya. Misalnya, visualisasi surealistik pelukis perempuan Meksiko, Frida Kahlo atau karya-karya dekoratif naïf dari Murniasih (Ubud) yang begitu mencekam sangat dipengaruhi latar belakang dan faktor psikologis sisi kehidupannya yang kelam dan mengerikan. Tapi, visualisasi dari perenungan retrofektif Bu Elly, justru sebaliknya. Karya-karyanya menunjukkan persenyawaan aneh dan unik antara kebesaran dan kedalaman jiwa serta ketabahan dan kerendahan hati yang menakjubkan. Visualisasi karya yang lucu, liar, kekanak-kanakan, primitive yang tak terkekang soal proporsi objek atau figure, perspektif atau volume keruangan (dekoratif naïf), tampak sebagai upaya untuk merayakan perjuangan hidup masa mudanya yang penuh duka lara dan air mata dengan sikap yang wajar dan adil. “Beginilah saya Putu,..masih bisa melihat anak-anak, cucu dan cicit, masih bisa bantu-bantu orang sebisanya, masih bisa jalani hobi menggambar, dan masih bisa tertawa lepas dan bebas…”, ucap katanya yang begitu lugas tanpa nuansa nada usia renta, sungguh suatu ejekan yang terarah jitu ke dada generasi muda harapan bangsa. Selamat Ulang Tahun Ke-80, Tante Gani, semoga selalu sehat dan sejahtra. Salam tiga jari…!!! - Putu Suarthama, Redaktur Senior Koran ReNON


Bergembira Artpen on 29.7cm x 21cm 2012

Menunggu Ayah Pulang Artpen on 37cm x 27cm 2012


Bergembira Artpen on paper 29.7cm x 21cm 2012

Menunggu Ayah Pulang Artpen on paper 37cm x 27cm 2012


Mertua, Ortu & Anak Acrylic on canvas 65cm x 55cm 2012

Kepala Rumah Tangga Acrylic on canvas 50cm x 40cm 2012


Kuda Laut Acrylic on canvas 70cm x 60cm 2012

Burung Ajaib Acrylic on canvas 70cm x 60cm 2012


Teman Tapi Mesra Bisik Bisik Acrylic on canvas 55cm x 45cm 2012

Tiga Dara Acrylic on canvas 60cm x 45cm 2012


Hobi Bola Tengah Malam Mengantuk Acrylic on canvas 68cm x 50cm 2012

Gadis Di Atas Salju Acrylic on canvas 40cm x 30cm 2012


Si Kerudung Panca Warna Acrylic on canvas 55cm x 45cm 2012

Penyanyi Acrylic on canvas 65cm x 40cm 2012


Pengantin Acrylic on canvas 60cm x 50cm 2012

Sisingaan Acrylic on canvas 65cm x 55cm 2012


Mertua, Ortu & Anak Acrylic on vinyl 65cm x 55cm 2012


Keluarga Papua Acrylic on canvas 50cm x 60cm 2012


Selamat Ulang Tahun Eyang Putri Segenap keluarga Besar Anak - Cucu - Cicit


WARUNG YAYAA Jl. Sekar Waru no. 4 Banjar Belanjong Sanur Bali 80228 Indonesia +62 361 270 335 | art@warungyayaa.com www.warungyayaa.om

WARUNG BATAVIA Jl. Yudistira [ Kunti II ] Seminyak Bali Indonesia +62 361 855 1501 | @WarungBatavia warungbatavia@yahoo.com


80 Tahun Warna Hati Eyang Putri Elly AR