Skip to main content

Joint Studio 2017

Page 1

LAPORAN

WINDA RAHMATYA N 16/394906/TK/ 44198

JULI 2017


Sebagai bagian dari pengembangan kompetensi mahasiswa juga kerjasama internasional, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada bersama dengan University of Queensland melakukan joint studio pada bulan Juli 2017. Mengangkat tema “Exploring Development Complexi es�, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan mengama kompleksitas dari pembangunan terutama di Yogyakarta. Mahasiswa dapat memahami tantangan yang dihadapi masyarakat terutama di negara berkembang mengenai kesejahteraan dan peran pemerintah untuk pengembangan masyarakat dengan konsep pembelajaran 'learning by doing'. Studi lapangan dilakukan agar mahasiswa dapat merasakan dan melihat secara langsung bagaimana kondisi yang ada di Yogyakarta. Kampung Code dan Desa Sukunan menjadi des nasi pertama dalam kegiatan ini. Kampung Code menjadi salah satu kampung yang ada di Kota Yogyakarta yang perkembangannya sudah mulai terencana. Pengembangan kampung kota ini dibantu dengan berbagai komunitas serta masyarakat yang ikut serta membangun Kampung Code. Sedangkan Desa Sukunan menjadi contoh desa pengolahan sampah dimana sebagian besar sampah Yogyakarta diolah di desa ini. Konsep waste treatment yang dirancang sedemikian rupa menjadikan desa ini sebagai Desa Wisata Pengolahan Sampah. Selain melihat dari sisi perencanaan kota, studi ini juga dilakukan untuk memahami hubungan perencanaan pembangunan dengan masalah kerawanan bencana di Yogyakarta. Kunjungan ke instansi terkait penanggulangan bencana yaitu Badan Nasional Penanggulangan Bencana dilakukan untuk mendapatkan informasi dari pihak pemerintah. Selain itu dilakukan juga kunjungan ke kawasan Hunian Tetap (Huntap) Merapi sebagai salah satu bentuk program pemerintah pasca bencana erupsi Gunung Merapi. Yang menjadi core dari kegiatan ini adalah kerjasama antara mahasiswa dari University of Queensland (UQ) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam kelompok yang terbagi menjadi kelompok urban dan kelompok rural. Laporan ini difokuskan untuk menyajikan hasil kerja salah satu kelompok rural dalam mengama Kelompok Tani Wanita yang ada Desa Dlingo, Bantul.

1


PROFIL KOMUNITAS

Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di Dusun Koripan II merupakan salah satu kelompok tani yang ada di Desa Dlingo, Bantul. Dengan beranggotakan 35 orang, ke l o m p o k t a n i i n i te r u s b e r u s a h a mengembangkan produksi emping garut terlepas dari pekerjaan mereka sebagai petani.

Produksi emping garut dimulai sejak 2009 setelah sebelumnya salah satu warga desa pergi ke Sedayu untuk mempelajari proses produksi emping garut. Produksi emping ini dilakukan melihat hasil panen umbi garut yang c u k u p m e l i m p a h . Ta n a m a n g a r u t (Maranta Arundinacea L) awalnya dak dipedulikan oleh warga sekitar. Biasanya jenis umbi ini tumbuh bebas di pekarangan rumah. Tanaman ini dak memerlukan perawatan khusus dan juga dapat tumbuh pada tanah yang dak subur.

Wanita tani memiliki peranan pen ng dalam pengelolaan usaha tani termasuk dalam hal ini usaha pengolahan hasil pertanian. KWT dibentuk sebagai wadah para wanita tani agar dapat berhimpun, b e r u s a h a d a n b e ke r j a s a m a u n t u k meningkatkan kesejahteraan keluarga Awalnya produksi emping garut hanya dijadikan kegiatan untuk mengisi waktu melalui usaha bersama dalam kelompok. luang sambil menunggu masa panen padi dan jagung, namun karena warga ternyata mampu mengolah emping garut dengan produksi yang banyak dan baik, akhirnya ada inisia f untuk membudidayakan umbi garut dan memproduksi emping garut serta membentuk kelompok wanita tani.

2


MEtODE

Pendekatan kepada masyarakat langsung digunakan dengan menampung aspirasi masyarakat. Pertemuan dengan kelompok wanita di Desa Dlingo dilakukan dalam dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilakukan untuk menggali informasi tentang bagaimana kelompok tani wanita ini bekerja dan sebagainya. Dilakukan juga wawancara mengenai kerawanan bencana di DIY yang dapat mengancam keberlangsungan produk yang dihasilkan oleh kelompok. Di pertemuan kedua, kegiatan difokuskan pada menampung aspirasi para wanita tentang visi kedepan, masalah, dan rencana kedepan.

OBSERVASI

3

Awalnya kelompok wanita tani ini terbentuk karena keikutsertaan wanita untuk membantu suami melaksanakan usaha tani dan sambil menunggu waktu panen ba. Selain mengurusi rumah tangga, para wanita ini mencoba melakukan usaha pengolahan hasil pertanian untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

kelompok wanita tani untuk memudahkan koordinasi dan pembinaan wanita tani. Selain pemberdayaan mandiri, ada juga pihak-pihak yang ikut membantu dalam pengembangan kelompok ini, s a l a h s a t u n y a p ro g r a m pengabdian masyarakat oleh universitas-universitas.

Sebelumnya, 35 petani wanita ini biasa menanam tanaman seper padi, jagung, dan singkong. Hingga akhirnya mereka melihat adanya peluang untuk pengembangan tanaman ubi garut yang biasanya dibiarkan begitu saja di pekarangan rumah m e re k a . Me n d e n g a r s u d a h dikembangkannya tanaman ini di daerah lain yaitu di Sedayu, mereka pun berinisia f untuk mengirimkan perwakilannya untuk belajar bagaimana caranya mengolah ubi garut ini.

Proses produksi emping garut sendiri terbilang singkat dan rela f mudah. Dengan alat tradisional yang ada, kelompok wanita tani ini dapat menghasilkan emping garut kering dalam waktu satu hingga dua hari. Emping ini nan nya dijual dalam bentuk mentah (raw product) dan siap makan (ready to eat pack).

Tahapan pembuatan emping yang pertama adalah dengan mengupas kulit ubi garut hingga bersih. Ampas atau Pada tahun 2009, produksi sisa kulit ubi garut selanjutnya emping garut dimulai dengan dapat diolah menjadi tepung kerjasama antar petani wanita untuk membuat bubur. dengan membentuk sebuah

Selanjutnya ubi yang sudah dikupas direndam di air semalaman. Setelah itu direbus hingga matang. Ubi garut lalu diiris dan dipotong kecil untuk selanjutnya ditumbuk. Ubi yang telah ditumbuk selanjutnya dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari selama satu sampai dua hari. Emping y a n g s u d a h ke r i n g d a p a t langsung di mbang dan dikemas untuk dipasarkan secara mentah. Sedangkan emping harus digoreng terlebih dahulu untuk produk yang siap makan. Ke g i at a n p ro d u k s i s e n d i r i dilakukan se ap hari tergantung ketersediaan ubi garut yang ada. Para petani wanita ini mengolah emping garut secara mandiri di rumah masing-masing. Setelah itu mereka baru mengumpulkan emping yang siap dipasarkan kepada kelompok wanita tani yang ada. Se ap 1 kg emping garut mentah dihargai Rp 40.000.


Konsep pemberdayaan menjadi basis utama dalam pembangunan masyarakat. Kinderva er, 1975 (dalam Saleh Marzuki, 2010: 221) mengatakan bahwa pemberdayaan sebagai upaya untuk membuat orang memperoleh pemahaman pengendalian tentang kekuatan-kekuatan sosial, ekonomi, dan poli k guna memperbaiki kedudukannya di masyarakat. In dari pemberdayaan adalah melipu ga hal, yaitu pengembangan, memperkuat potensi atau daya (empowering), dan terciptanya kemandirian. Sedangkan pemberdayaan perempuan adalah upaya pemampuan perempuan untuk memperoleh akses dan kontrol terhadap sumber daya, ekonomi, poli k, ekonomi, dan sosial budaya agar perempuan dapat mengatur diri dan mampu berperan dan berpar sipasi ak f dalam memecahkan masalah sehingga mampu membangun kemampuan dan konsep diri.

pemberdayaan

wanIta Tujuan pemberdayaan perempuan : 1. Meningkatkan kedudukan dan peran perempuan di berbagai bidang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 2. M e n i n g k a t k a n p e r a n a n perempuan sebagai pengambil keputusan dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. 3. Meningkatkan kualitas peran kemandirian organisasi perempuan dengan mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan. 4. M e n g e m b a n g k a n u s a h a pemberdayaan perempuan, kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Dalam peneli an sebelumnya disebutkan bahwa salah satu kunci kekuatan Kelompok Wanita Tani (KWT) adalah kemampuannya untuk memberikan dampak posi f pada kehidupan sosial anggotanya dan manfaat lanjutan bagi komunitas desa. Anggota KWT merasakan bagaimana keikutsertaan dalam KWT telah meningkatkan kulaitas hidup mereka dan banyak merasakan dampak sosial . Anggota KWT menghargai kesempatan untuk berbagi waktu dengan perempuan lain secara ru n.

sebagai kontrol sosial, sehingga se ap orang dapat mengatur perilakunya menurut kehendak masyarakat. Kelembagaan dalam ar an organisasi/ins tusi dibangun secara par sipa f dalam KWT.

Beberapa masalah yang sering dijumpai dalam KWT adalah keterbatasan dalam permodalan, teknologi, dan organisasi yang berpengaruh terhadap rendahnya produk vitas usaha, lemahnya posisi tawar menawar d i p a s a r, d a n re n d a h ny a Lembaga di pedesaan lahir untuk tanggapan terhadap program m e m e n u h i k e b u t u h a n s o s i a l pemerintah, sehingga par sipasi masyarakatnya. Sifatnya dak linier, kelompok menjadi rendah. n a m u n ce n d e r u n g m e r u p a k a n kebutuhan individu anggotanya. Manfaat utama lembaga adalah mewadahi kebutuhan salah satu sisi kehidupan sosial masyarakat, dan

4


MASALAH YANG DIHADAPI KOMUNITAS

EKONOMI 5

Izin P.IRT yaitu izin produksi pangan rumah tangga yang masih diurus dan b e l u m j e l a s ke b e r l a n j u t a n n y a . Sebelum mendapat ser ďŹ kasi ini, produk emping garut dak bisa dijual ke pasar yang lebih luas. Izin ini menjadi sangat pen ng jika kelompok ini ingin memasarkan produknya ke wilayah yang lebih besar. Emping garut hingga saat ini sebagian besar dipasarkan dalam bentuk mentah karena emping yang siap makan memakan biaya produksi yang lebih besar terutama untuk kemasannya. Kemasan biasanya dibuat oleh kelompok sehingga keuntungan kelompok habis untuk membuat kemasan saja. Dibutuhkan inovasi kemasan yang menjual tetapi juga dapat menghemat biaya produksi. Selain kelompok tani wanita ini, ada m a sya ra k at ya n g m e m p ro d u k s i emping garut secara mandiri. Adanya kompe tor ini menyebabkan adanya persaingan pasar.

-

-

-

Keahlian para petani wanita terutama t e nt a n g p e m a s a ra n j u g a k u ra n g sehingga produksi dak bisa berkembang lebih jauh lagi. Selama ini teknik pemasaran dibantu oleh pihak ke g a ya n g m e m b a nt u m i s a l nya mahasiswa-mahasiswa dari universitas yang sedang melakukan program pengabdian masyarakat. Keuntungan kelompok sangat sedikit dan habis untuk modal produksi selanjutnya. Karena beberapa kegiatan produksi masih dilakukan secara komunal, misalnya untuk menjemur, menumbuk, dan menggoreng emping garut. Masalah transportasi juga menjadi salah satu penghambat. Para wanita yang sebagian besar dak dapat mengendarai sepeda motor ini memiliki hambatan dalam proses distribusi. Mereka harus menunggu orang yang akan mengantarkan produk ini ke pasar atau wilayah di luar dusun.


SOSI AL Terdapat beberapa anggota kelompok yang dak ak f dan mengancam keberlangsungan kelompok. Ketertarikan pemuda akan kelompok ini juga berkurang seiring dengan banyaknya migrasi pemuda yang pergi ke luar desa. Terlebih jika kelompok ini dak bisa memperluas pasarnya, keberlangsungan kelompok ini makin terancam.

“ Pemuda sekarang lebih memilih bekerja di luar kota, bukan sebagai petani. Kalau sudah begini kita dak ada harapan lagi� 6


REKOM ENDASI Isu-isu dan kompleksitas yang teriden ďŹ kasi selama kegiatan berlangsung, data eksternal yang terkumpul dari pertemuan dengan pemerintah provinsi dan perkembangan dan pengembangan kapasitas yang diama selama kunjungan di Desa Merapi menghasilkan beberapa rekomendasi. Rekomendasi ini terutama untuk situasi ekonomi belakangan ini dan situasi sosial dari kelompok wanita dan disajikan dalam kerangka waktu yang tepat. Tujuan yang mendukung rekomendasi ini sejalan dengan visi dari pemimpin desa untuk warganya. Ada kesempatan bagi kelompok ini untuk dak hanya mempertahankan dirinya di masa depan tetapi juga berkembang melampaui pasar yang ada dan juga berkembang sebagai merek atau brand yang diakui bahkan di luar Desa Dlingo. Rekomendasi ini dibuat sesuai dengan aspirasi para perempuan untuk koperasi dan komunitas mereka yang lebih luas. Bersama dengan para wanita, m berusaha mengubah visi mereka menjadi target yang berfokus pada rencana satu, lima, dan sepuluh tahun.

1

7

Langkah awal menuju ekspansi membutuhkan pengembangan keahlian b a g i ko p e r a s i u n t u k m e n g a k s e s pengalaman dan kepercayaan bisnis dan pasar. Tim merasa bahwa pendekatan pengembangan keterampilan yang ideal akan melibatkan pela han bisnis dan pembinaan oleh pemangku kepen ngan eksternal. Pihak eksternal ini juga bertanggung jawab untuk mencari lokasi penjual, kompe tor lokal, dan koordinasi ke t e r l i b a t a n ' p e t a n i - ke - p e t a n i '. Keterlibatan 'petani-ke-petani' ini menjadi kesempatan bagi para wanita untuk belajar dari kesuksesan koperasi petani lain dan secara langsung mengama strategi pemasaran dan bisnis mereka. Ini menjadi kesempatan untuk memo vasi para wanita untuk mengenali potensi pertumbuhan bisnis mereka (asalkan izin P.IRT mereka disetujui dalam waktu dekat).

Unt u k t a h u n p e r t a m a , ko p e ra s i mungkin memerlukan dukungan dari pihak eksternal untuk membuat struktur organisasi yang secara tepat menunjukkan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota dengan visi pengembangan pasar. Dengan peneli an dan dukungan, ada kesempatan bisnis ini berkembang dalam jangka panjang. Hal yang pen ng adalah memas kan bahwa tanggung jawab bisnis ini tetap berada di tangan para wanita.


5

Memperluas produksi dan diversiďŹ kasi produk (menambah varian rasa dan produk baru dari limbah sekunder) akan memerlukan peningkatan kapasitas produksi dengan permintaan lahan budidaya yang lebih besar, sebaiknya digunakan sebagai sumber komunal. Sehubungan dengan jumlah dan umur anggota yang ada saat ini, kelompok tersebut perlu menambah anggota untuk memenuhi kebutuhan pasar. Penyediaan peralatan untuk koperasi (pengering dan pemukul) dapat dicari melalui program bantuan pemerintah, investor swasta, atau pihak ke ga (kolaborasi dengan universitas). Biaya transportasi ke pasar yang akan diperluas juga perlu dimasukkan kedalam rancangan harga. Selain itu, peran pihak internal dan eksternal koperasi akan memberikan hubungan antara anggota dan pasar.

10

Para wanita dalam kelompok ini sadar bahwa banyak dari mereka yang mungkin dak memiliki kapasitas untuk tetap ak f seper sekarang di masa yang akan datang. Ada keinginan dari koperasi ini untuk tetap berlanjut, tetapi kurangnya minat dan komitmen generasi muda untuk melanjutkan kelompok ini mengancam keberlangsungan kelompok. Keberhasilan perluasan pasar menjadi kesempatan untuk memicu keterlibatan pemuda dalam koperasi. Peran tambahan bisa diisi oleh anggota yang lebih muda. Jika kaum muda dapat didorong oleh keberhasilan bisnis yang berkembang, koperasi dapat dipertahankan dan pemuda akan memiliki rasa yang sama dengan yang d i ra s a k a n p a ra w a n i t a t e r h a d a p kelompok mereka saat ini.

8


-

-

9

Secara kogni f, banyak pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan ini. Pendekatan yang ko m p re h e n s i f d a l a m m e m b a h a s u r b a n complexi es memberikan banyak sekali ilmu dan cara pandang baru. Analisis kebijakan dan penilaian secara holis k dengan melihat p e re ko n o m i a n , ke s e j a h t e r a a n , h i n g g a lingkungan. Dimulai dari melihat bagaimana kawasan urban di sekitar Sungai Code dengan warga berdayanya hingga melihat bagaimana korban letusan Gunung Merapi bertahan hidup dengan wilayah rawan bencana. Lalu bagaimana warga Desa Sukunan dapat memanfaatkan sampah yang selama ini hanya dianggap sebelah mata dan diolah kembali menjadi barang layak pakai dan memberikan banyak inovasi tentang sistem persampahan. Dan terutama tentang Kelompok Wanita Tani di Desa Koripan II, Dlingo yang memberikan banyak pengalaman terkait dengan bagaimana kelompok ini berjalan dengan organisasi yang ada. Dilakukannya kegiatan seper analisis dan sintesa masalah yang nan nya akan dijadikan per mbangan dalam memberikan rekomendasi memberi insight tentang bagaimana cara berpikir yang baik .


-

-

-

Kesempatan bekerja sama dengan pelajar internasional menjadi bagian paling mengesankan dalam kegiatan ini. Bagaimana perbedaan budaya, cara berpikir, bahkan bahasa mereeksikan tantangan dalam bekerja dengan kultur yang berbeda. Pengalaman berinteraksi, berdiskusi, dan memecahkan masalah menjadi salah satu hasil dari kegiatan ini. Banyak ilmu yang justru didapatkan dari interaksi yang ada selain dari lectures yang diberikan. Mengunjungi Kelompok Wanita Tani di Desa Koripan II, Dlingo memberikan pengalaman tentang cara advokasi masyarakat. Bagaimana cara berinteraksi secara langsung dengan masyarakat dan menampung keinginan, masalah, dan harapan dari warga menjadi pengalaman baru. Diajarkan pula bagaimana cara pemetaan langsung oleh warga, pengumpulan masalah, analisis dan sintesa masalah, lalu membuat rekomendasi. Kegiatan ini meningkatkan kemampuan dalam mengemukakan pendapat secara lisan dengan suasana belajar yang berbeda. Kemampuan verbal terutama dengan berbahasa inggris sangat diasah begitu pula dengan mempresentasikan hasil kerja di depan audiens yang beragam.

10


“ A strong woman stands up for herself, a stronger woman stands up for everyone else�


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Joint Studio 2017 by Winda Rahmatya - Issuu