WARTA PTM
Edisi September-Oktober
2016
Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian & Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah
MENINGKATKAN KINERJA RISET DOSEN
OPINI
WAWANCARA
TEROPONG
Strategi Penguatan Riset di PTMA Arah dan Orientasi
Dr. Muhammad Dimyati: Membangun Tradisi Riset, Keberpihakan Kepada Peneliti Kisah Kelapa Kopyor dari Purwokerto
BEST PRACTICE UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGOMelompat dari Klaster Binaan ke Klaster Utama
asa
MENDORONG KINERJA RISET PTM
U
paya untuk melakukan penguatan riset dan mempublikasikan hasil riset di jurnal ilmiah sangat gencar dilakukan oleh pemerintah beberapa tahun terakhir ini. Anggaran diperbesar. Insentif diberikan kepada para periset atau peneliti. Kenaikan pangkat dosen (peneliti) juga sangat dipengaruhi kinerja riset. Alhasil, beberapa indikator menunjukkan bahwa kinerja riset di Indonesia dan ikutannya dalam publikasi pada jurnal ilmiah meningkat, termasuk jurnal internasional bereputasi. Bagaimana dengan perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM)? Sama saja. Jumlah PTM, termasuk ‘Aisiyah, yang mencapai 177 buah terus menggeliat. Kinerja risetnya membaik. Ini bisa dilihat dari posisinya dalam peta riset Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Dua PTM sudah masuk dalam klaster Mandiri—klaster tertinggi dalam pemeringkatan kinerja riset di Kemenristekdikti—yakni Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Seluruhnya, terdapat 25 perguruan tinggi dalam klaster Mandiri ini, dan di dalamnya hanya ada empat perguruan tinggi swasta (PTS), termasuk dua PTM tersebut. Sebagian PTM masuk dalam klaster Utama, Madya dan Binaan. Walaupun secara makro posisi kinerja riset PTM ini sudah cukup baik—secara umum di atas PTS lain—harus diakui kinerja riset kita belum optimal. Masih cukup banyak PTM yang kinerja risetnya pas-pasan atau, bahkan, sangat minimal. Ini berakibat pada sulitnya dosen-dosen PTM untuk menaikkan jabatan akademik mereka. Kesulitan untuk naik jabatan ini merugikan bukan hanya dosen yang bersangkutan, melainkan juga PTM tempat mereka mengajar. Oleh karena itu, Majelis Diktilitbang sangat mendorong penguatan kinerja riset dosen. Pelatihan dan pendampingan pun dilakukan. Salah satu Wakil Ketua Majelis Diktilitbang secara khusus menangani urusan riset di PTM, yang didukung oleh divisi untuk penguatan riset.
Langkah penguatan riset merupakan suatu keniscayaan, harus dilakukan. Artinya, pemimpin PTM harus memberikan perhatian yang serius pada riset, dan tidak hanya berfokus pada penguatan pendidikan dan pengajaran. Riset merupakan salah satu dari Catur Dharma PTM. Sehingga, program dan anggaran harus dialokasikan secara memadai untuk riset. Pemimpin PTM perlu mengembangkan semua potensi penelitinya dan memberikan dukungan sarana prasarana riset hingga pendanaan yang dibutuhkan oleh peneliti. Kita memahami bahwa dana di perguruan tinggi terbatas dan terkadang tidak memadai untuk membiayai riset yang membutuhkan dana besar. Karenanya, semua elemen di PTM didorong untuk mencari mitra dalam melaksanakan riset: mitra domestik dan global. Sumber-sumber dana dari pemerintah, dunia usaha dan lembaga-lembaga lainnya harus didekati dan dimanfaatkan. Tentu saja, syaratnya adalah sepanjang berbagai sponsor dana penelitian itu tidak mengganggu independensi peneliti, PTM dan Muhammadiyah secara keseluruhan. Kita mencatat persoalan riset di PTM khusus nya, dan perguruan tinggi umumnya, bukan sekadar persoalan kuantitas, melainkan persoalan kualitas riset, diseminasi luaran riset, dukungan anggaran riset yang lebih memadai, dan perlunya kolaborasi antara lembaga riset/pendidikan tinggi, pemerintah dan dunia industri. Terkait dengan diseminasi, perlu ada stimulus bagi para peneliti di kampus dan lembaga penelitian untuk mendiseminasikan hasil penelitiannya sehingga memberikan nilai tambah yang konkret bagi pengembangan ilmu dan mendorong Indonesia yang berkemajuan dalam segala bidang. Untuk interaksi akademik, PTM bisa mendorong para penelitinya guna mendiseminasikan luaran riset mereka melalui konferensi dan publikasi jurnal ilmiah. Forum ilmiah bisa diselenggarakan oleh PTM secara mandiri atau bersama-sama PTM lain atau perguruan tinggi mitra lainnya.[] Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM
1
daftar asa isi ASA •
Mendorong Kinerja Riset PTM__1
OPINI •
Strategi Penguatan Riset di PTMA Arah dan Orientasi__4
WAWANCARA •
Dr. Muhammad Dimyati: Keberpihakan Pada Peneliti__8
TEROPONG •
WARTA PTM Warta PTM diterbitkan oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. SUSUNAN REDAKSI PENANGGUNG JAWAB: Lincolin Arsyad
BEST PRACTICE •
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG Menjadi Research Center Of Excellence__23
•
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGOMelompat dari Klaster Binaan ke Klaster Utama__26
KINERJA
PEMIMPIN UMUM/REDAKSI: Edy Suandi Hamid
•
Rakernas ALPTK PTM Merumuskan & Mengeksekusi Program Kerja__30
DEWAN REDAKSI: Muhammad Sayuti Muhammad Samsudin Ahmad Muttaqin
•
Pertemuan Wakil Rektor dan Dosen AIK Menguatkan AIK Sebagai Distingi Unggulan PTM__31
•
Hibah Penelitian tentang Muhammadiyah Menjadikan PTMA sebagai Think Tank Muhammadiyah__32
•
Pelantikan Pengurus ASLAMA PTMA Mengukuhkan Pengader Asrama__33
•
Silaturahmi dan Rakornas PTAIM Agar Kualitas Akademik Terus Naik__34
REDAKTUR PELAKSANA: Agung Prihantoro STAF REDAKSI: Iwan Setiawan David Efendi REPORTER: Dewi Setiyaningsih
KRONIK
SEKRETARIS: Sadiyono
•
The 4Th University Research Colloquium PTM LGBT Bukan Bawaan Genetik__35
TATA USAHA: HS Mulyatno
•
Warta dari Ptm__36
•
Wisuda & Sumpah Dokter__37
SIRKULASI: Ibrahim Agus Mulyono
GLOSARIUM
ALAMAT REDAKSI: Jln. KHA Dahlan 103 Yogyakarta 55262 Telp. +62-274-389485 Faks. +62-274-376336 Email: redaksiwartaptm@gmail.com Rekening Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Nomor 09-0008-7003 BNI Cabang Yogyakarta a/n Lincolin Arsyad, Prof. Dr. M.Sc.
2
Membangun Tradisi Riset, Kisah Kelapa Kopyor dari Purwokerto__16
Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
•
Research University__39
WARTA PTM Warta PTM menerima tulisan yang berupa opini, berita panjang, berita
singkat, glosarium dan foto seputar perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Redaksi berhak menyunting tulisan. Silakan kirim tulisan dan/atau foto ke email redaksi.
opini
foto dok. umm dan umy
STRATEGI PENGUATAN RISET DI PTMA Arah dan Orientasi
Salah satu ukuran eksistensi perguruan tinggi (PT) adalah kinerja riset dosen dan juga kinerja Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), karena lembaga ini menjadi faktor determinan bagi kemajuan suatu PT.
D Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, S.H., M.Hum. Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tahun 2015-2020
4
Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
ata statistik penilaian Kinerja Penelitian Perguruan Tinggi dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa dari 165 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang tercatat dalam Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), terdapat 84 PTMA yang masuk klaster, dan 81 PTMA lainnya belum tercatat. Hasil pemetaan kinerja LPPM dapat dilihat dalam penilaian research matrix pada Tabel 1 berikut:
Strategi Penguatan Riset di PTMA
Tabel 1. Hasil Penilaian Kinerja LPPM di Lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Periode Tahun 2013-2015 No Kode PT
Klaster
No Kode PT
1
71024
Universitas Muhammadiyah Malang
Nama PTM
Mandiri
46 61025
Universitas Muhammadiyah Purworejo
Binaan
2
61008
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Mandiri
47 101002
Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Binaan
3
51007
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Utama
48 23105
STIKES Muhammadiyah Palembang
Binaan
4
11003
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Utama
49 94114
Binaan
5
71060
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Utama
Akademi Kesehatan Lingkungan Muhammadiyah Makassar
6
31011
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Utama
50 63051
STIKES Muhammadiyah Gombong
Binaan
7
61019
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Utama
51 63085
STIKES Muhammadiyah Kudus
Binaan
8
61004
Universitas Muhammadiyah Magelang
Utama
52 91011
Universitas Muhammadiyah Palu
Binaan
9
71044
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Utama
53 111009
Universitas Muhammadiyah Palangka Raya
Binaan
10 71032
Universitas Muhammadiyah Jember
Utama
54 11014
Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Binaan
11 31039
Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka
Utama
55 63062
STIE Muhammadiyah Pekalongan
Binaan
12 61026
Universitas Muhammadiyah Semarang
Madya
56 113027
STIE Muhammadiyah Tanjung Redeb
Binaan
13 21001
Universitas Muhammadiyah Palembang
Madya
57 93175
STIKES Muhammadiyah Sidrap
Binaan
14 91024
Universitas Muhammadiyah Pare-pare
Madya
58 113011
STIE Muhammadiyah Samarinda
Binaan
15 51013
Universitas Ahmad Dahlan
Madya
59 83014
16 91004
Universitas Muhammadiyah Makassar
Madya
Sekolah Tinggi Administrasi Muhammadiyah Binaan Selong
17 21004
Universitas Muhammadiyah Metro
Madya
60 41029
Universitas Muhammadiyah Cirebon
Binaan
18 41040
Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Madya
61 63048
Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Kebumen
Binaan
Nama PTM
Klaster
19 71012
Universitas Muhammadiyah Surabaya
Madya
62 113052
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin
Binaan
20 63068
STIKES Muhammadiyah Pekajangan
Madya
63 23010
STKIP Muhammadiyah Kotabumi
Binaan
21 71059
Universitas Muhammadiyah Gresik
Madya
64 91044
Universitas Muhammadiyah Gorontalo
Binaan
22 33103
STIE Ahmad Dahlan Jakarta
Madya
65 23120
STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung
Binaan
23 63072
STIKES Muhammadiyah Klaten
Madya
66 23001
STIE Muhammadiyah Pringsewu
Binaan
24 91032
Universitas Muhammadiyah Buton
Madya
67 83017
Binaan
25 113060
STIK Muhammadiyah Pontianak
Madya
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Bima
26 143019
STKIP Muhammadiyah Sorong
Madya
68 94015
Binaan
27 23011
STKIP Muhammadiyah Pringsewu
Binaan
Akademi Keperawatan Muhammadiyah Makassar
28 94085
Akademi Kebidanan Muhammadiyah Palopo
Binaan
29 63089
STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta
Binaan
30 91036
Universitas Muhammadiyah Kendari
Binaan
31 81021
Universitas Muhammadiyah Kupang
Binaan
32 93004
STKIP Muhammadiyah Rappang
Binaan
33 111013
Universitas Muhammadiyah Pontianak
Binaan
34 91025
Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai
Binaan
35 93096
STISIP Muhammadiyah Rappang
Binaan
36 41051
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Binaan
37 44210
Akademi Farmasi Muhammadiyah Cirebon
Binaan
38 121005
Universitas Muhammadiyah Maluku Utara
Binaan
39 81010
Universitas Muhammadiyah Mataram
Binaan
40 21010
Universitas Muhammadiyah Bengkulu
Binaan
41 73130
STIKES Muhammadiyah Lamongan
Binaan
42 33096
STIE Muhammadiyah Jakarta
Binaan
43 93031
STIE Muhammadiyah Palopo
Binaan
44 101018
Universitas Muhammadiyah Riau
Binaan
45 94072
AKBID Muhammadiyah Makassar
Binaan
69 43323
STKIP Muhammadiyah Kuningan
Binaan
70 113020
STKIP Muhammadiyah Sampit
Binaan
71 113082
STIKES Muhammadiyah Samarinda
Binaan
72 64025
Akademi Statistika Muhammadiyah Semarang
Binaan
73 13060
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Kisaran
Binaan
74 93002
STKIP Muhammadiyah Bulukumba
Binaan
75 23033
STIEMuhammadiyah Kalianda
Binaan
76 23114
STIKES Muhammadiyah Pringsewu
Binaan
77 33088
STMIK Muhammadiyah Jakarta
Binaan
78 41061
Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya
Binaan
79 43135
STIE Muhammadiyah Bandung
Binaan
80 131004
Universitas Muhammadiyah Aceh
Binaan
81 133011
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Muhammadiyah Takengon
Binaan
82 55007
Politeknik Muhammadiyah Yogyakarta
Binaan
83 74030
Akademi Pariwisata Muhammadiyah Jember Binaan
84 93001
STKIP Muhammadiyah Bone
Binaan
Sumber: Hasil Penilaian Kinearja Penelitian Perguruan Tinggi Periode 2013-2015 Kemenristekdikti
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM
5
opini Tabel 1 di atas menunjukkan 84 PTM yang masuk dalam empat klaster, yakni 2 (dua) klaster Mandiri, 9 (sembilan) klaster Utama, 15 (lima belas) klaster Madya dan 58 (lima puluh delapan) klaster Binaan. Dengan demikian, masih ada 81 (delapan puluh satu) PTMA yang belum masuk dalam klaster-klaster tersebut dan diharapkan bisa ikut dalam penilaian secara online pada periode penilaian kinerja LPPM tahun 2016-2018. PTMA yang masuk dalam klaster Mandiri dan Utama memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan lebih banyak nominal dana dari Kemenristekdikti. Implikasinya antara lain ialah, pertama, peringkat PTMA semakin meningkat dan, kedua, peluang jumlah dosen PTMA untuk melakukan riset juga makin banyak. Permasalahan Riset di PTMA Kegiatan riset di PT berperan sangat penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya peningkatan kegiatan riset, dari segi kualitas dan kuantitas, perlu dikoordinasi oleh setiap LPPM PT. Di lingkungan PTMA, terdapat beberapa permasalahan riset yang perlu mendapat perhatian dan harus segera diatasi. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain adalah: 1. Riset belum menjadi budaya. 2. Riset kolaboratif belum menjadi tradisi di kalangan dosen dengan mahasiswa dan sesama dosen antar-PTMA. 3. Hasil riset belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan ajar (research-based teaching), dan hilirisasi riset dalam bentuk artikel ilmiah yang diterbitkan di jurnal nasional yang terakreditasi atau jurnal internasional yang bereputasi juga belum dimanfaatkan sebagai bahan ajar (journalbased teaching). 4. Tindak lanjut hasil riset yang berpotensi pada Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) belum maksimal. 5. Dosen di lingkungan PTMA yang memperoleh dana riset dari luar PTMA masih minim. 6. Pengelolaan riset berbasis Rencana Induk Penelitian (RIP) belum dikembangkan. 7. PTMA belum memiliki arah dan orientasi core research sesuai dengan visi setiap PTMA. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kegiatan riset di lingkungan PTMA perlu segera dibenahi, baik yang berkaitan dengan arah, orientasi, strategi pengembangan, kebijakan, kelembagaan maupun tata kelolanya. Ada beberapa strategi untuk mengatasi permasalahan riset tersebut.
6
Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Pertama, riset sebagai budaya. Fenomena di berbagai PTMA secara empiris memperlihatkan bahwa budaya riset belum berkembang sebagaimana yang diharapkan. Maka, perlu perubahan orientasi menuju proses pembelajaran yang berbasis riset. Strategi ini perlu disosialisasikan kepada seluruh dosen: pentingnya riset sebagai bagian dari instrumen transformasi ilmu. Kedua, hilirisasi riset. Selama ini, hasil riset belum dimanfaatkan secara maksimal. Artinya, hasil riset berhenti sebagai laporan riset dan belum diarahkan pada HAKI. Padahal, sebagai tindak lanjut riset, luaran riset seharusnya dipublikasikan di jurnal nasional yang terakreditasi atau jurnal internasional yang bereputasi. Hasil riset yang dipublikasikan ini menjadi bahan ajar bagi mahasiswa dalam proses pembelajaran. Ketiga, riset berbasis Rencana Induk Penelitian (RIP). RIP dimaksudkan sebagai acuan bagi para dosen untuk melakukan riset yang tema-temanya telah ditentukan sesuai dengan disiplin ilmu dosen agar capaian risetnya sejalan dengan visi RIP PTMA. Maka, setiap PTMA harus membuat RIP. Strategi Pengembangan Strategi pengembangan merupakan prioritas utama untuk menentukan arah dan orientasi riset. Strategi pengembangan riset PTMA adalah sebagai berikut: a. Peningkatan angka partisipasi dosen. Secara umum, angka partisipasi dosen dalam melaksanakan riset masih tergolong relatif rendah. Hal ini ditandai dengan belum terserapnya rencana anggaran belanja penelitian di lingkungan PTMA. Karenanya, setiap dosen perlu didorong dengan strategi pengembangan yang tepat agar mereka berperan serta dalam kegiatan penelitian, baik penelitian yang dibiayai dari funding internal maupun eksternal. b. Perubahan budaya riset dari yang bersifat individual menuju riset grup. Selama ini, di lingkungan PTMA belum tercipta tradisi riset yang dilakukan secara berkelompok, sehingga berbagai problematika kehidupan sering kali diselesaikan dengan satu pendekatan disiplin ilmu sesuai dengan kompetensi penelitinya. Oleh karena itu, perlu dikembangkan tradisi riset dengan pendekatan multidisipilin ilmu. Strategi ini hanya dapat dilakukan jika riset tersebut dilaksanakan melalui riset grup. Strategi ini didukung dengan skema riset yang
Strategi Penguatan Riset di PTMA
dibiayai oleh Kemenristekdikti (seperti Hibah Pascasarjana) dan skim riset yang dibiayai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan luaran riset yang bersifat komersial. c. Perubahan budaya dari aktivitas proses pembelajaran ke kegiatan berbasis riset. Pada umumnya, kegiatan di perguruan tinggi lebih berorientasi pada proses pembelajaran dibandingkan pada riset. Hal ini ditandai dengan dominasi kegiatan proses perkuliahan yang menyebabkan kegiatan riset sering kali terabaikan. Guna mengatasi hal tersebut, para dosen perlu didorong untuk mengubah mindset dengan mengembangkan model perubahan budaya dari kegiatan pembelajaran menuju kegiatan riset. Sehingga, harapan besar untuk menjadi universitas riset bisa terwujud. d. Peningkatan capaian riset yang diarahkan pada HAKI atau publikasi. Kegiatan penelitian yang selama ini dilakukan sekadar menyusun laporan riset, tanpa diikuti dengan tindak lanjut hasil riset tersebut. Oleh karena itu, untuk menunjukkan bahwa hasil riset tersebut memiliki manfaat secara akademik dan komersial, para peneliti perlu didorong untuk memperoleh paten. Juga, hasil risetnya diarahkan untuk dipublikasikan di jurnal nasional yang terakreditasi atau jurnal internasional yang bereputasi. e. Pengembangan riset yang berorientasi pada RIP. RIP pada dasarnya merupakan agenda pengembangan program penelitian dalam rentang waktu tertentu. Lazimnya, RIP disusun berdasarkan visi, misi, tujuan, isu sentral dan strategis, rencana strategis, tema-tema unggulan dan kompetensi sumber daya manusia di lingkungan PT. Maka, para peneliti perlu diarahkan pada isu-isu sentral dan strategis dalam melakukan kegiatan riset, sehingga hasil riset mereka sesuai dengan arah dan orientasi yang telah dirumuskan dalam RIP. PTMA perlu didorong agar mereka memperhatikan lima strategi penting di atas, yang merupakan sebagian ukuran kemajuan PT. Lima strategi tersebut merupakan bentuk penguatan institusional agar PTMA memperoleh posisi yang sama dengan PT lain di Indonesia. Untuk itu, Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat
Muhammadiyah mengambil langkah strategis sebagai upaya untuk mencapai tujuan tersebut di atas. Langkah strategis ini ditempuh juga untuk mengantispasi regulasi-regulasi pemerintah yang berkaitan dengan kebijakan yang berkaitan pendidikan tinggi. Salah satu langkah strategis yang dilakukan Majelis Diktilitbang adalah melaksanakan kegiatan workshop riset yang akan diikuti seluruh PTMA di Indonesia. Penutup Dengan lima strategi tersebut dan langkah strategi yang ditempuh oleh Majelis Diktilitbang, diharapkan kinerja riset PTMA akan meningkat. Para pemimpin akan mengambil kebijakan-kebijakan untuk mendukung program-program peningkatan kinerja riset. LPPM PTMA juga membuat RIP dengan bagus beserta program-programnya yang relevan. Dosen-dosennya pun diharapkan untuk bergiat meneliti dan terus-menerus meningkatkan kinerja riset mereka. Sehingga, makin banyak PTMA yang masuk dalam klaster atas pada penilaian kinerja riset oleh Kemenristekdikti. Semua ini ditujukan untuk meningkatkan eksistensi PTMA guna memajukan umat Islam dan bangsa Indonesia. PTMA makin eksis dengan berkontribusi dalam menyongsong “Indonesia 2045 yang berdaya saing dan berdaulat berbasis riset�.[]
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM
7
Wawancara
KEBERPIHAKAN PADA PENELITI
D
alam setahun ini, isu riset dan teknologi dikupas berkali-kali di media cetak nasional. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Kupasan ini menunjukkan bahwa telah muncul kesadaran publik tentang pentingnya riset dan teknologi, dan kupasan tersebut telah membentuk opini publik. Semua ini tidak terlepas dari apa yang telah dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah memiliki political will dan telah mengambil langkah-langkah nyata untuk meningkatkan dan menguatkan riset, pengembangan dan teknologi. Momentum yang sangat bagus ini perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Maka, Warta PTM mewawancarai Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Dr. Muhammad Dimyati, di kantornya di Jakarta pada Jumat sore tanggal 14 Oktober 2016. Wawancara ini dilakukan oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dan Agung Prihantoro, M.Pd. Bagaimana Pak Dirjen menjelaskan kupasan media dan kesadaran publik tentang riset, pengembangan dan teknologi ini?
8
Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
foto dok. detik.com
Ada satu hal yang menggelitik kami dari awal, sejak saya di sini (menjadi Dirjen), yakni apa yang namanya daya saing. Daya saing ini ternyata menjadi rujukan internasional, dan dinilai oleh suatu lembaga internasional yang bisa membandingkan daya saing antarnegara. Daya saing ini dinilai berdasarkan dua belas parameter, dan salah satu parameternya adalah inovasi. Dan kita tahu, inovasi itu tidak akan muncul kalau tidak ada research. Mulai dari situlah, segala yang kami lakukan terkait dengan research adalah untuk menghasilkan inovasi yang bisa mendongkrak daya saing. Keinginan pertamanya seperti itu. Nah, bagaimana bisa mendongkrak inovasi? Caranya adalah memperbaiki research environment. Riset itu mengeluarkan suatu output, dan output ini nanti harus bisa diproduksi. Dari output ke produksi ini, terdapat jarak. Jarak ini menjadi lembah kematian, death valley antara riset dan proses industri. Pada lembah kematian inilah kita harus melakukan berbagai aksi agar output riset dari para peneliti ini bisa dihilirisasi, menurut terminologi Pak Menteri Risetdikti. Apa yang harus dilakukan? Kami harus bisa membangun instrumen, baik berupa regulasi maupun infrastruktur riset, termasuk kultur riset
Keberpihakan Pada Peneliti
agar para peneliti percaya diri untuk melakukan dan mengekspresikan seluruh yang mereka miliki untuk menghasilkan sesuatu, dibantu dengan suatu kelembagaan, sehingga hasilnya bisa dibawa ke proses produksi. Apa sajakah masalah-masalah yang dihadapi oleh para peneliti di Indonesia? Bermula dari situ, kami mulai mengidentifikasi —karena kunci untuk meningkatkan daya saing tadi adalah riset—permasalahan apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia, khususnya pada komunitas riset? Mengapa selama ini inovasinya tidak setinggi yang kita harapkan? Bahkan, daya saing bangsa ini menurun terus. Salah satu parameternya, yakni inovasi, juga tak kunjung naik. Kami coba identifikasi. Ada banyak masalah, tetapi intinya tiga atau empat masalah yang ingin saya sampaikan. Ternyata para peneliti di Indonesia tidak bisa mengekspresikan seluruh yang mereka miliki karena berbagai keterbatasan. Keterbatasan pendanaan atau penganggaran itu terjadi, karena, pertama, rendahnya pendanaan dan, kedua, mekanisme pertanggungjawaban pendanaan (yang kurang mendukung). Dua hal ini cukup membelenggu peneliti, sehingga peneliti tidak bisa mengekspresikan seluruh yang dia miliki. Ketiga, keterbatasan jaminan penelitian yang tidak sustainable. Karena, penelitian untuk menghasilkan sesuatu tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu satu tahun. Penelitian yang qualified itu biasanya—pada bidang-bidang tertentu, apakah itu engineering, apalagi kesehatan—dilakukan dalam waktu bertahun-tahun. Untuk menemukan sebuah vaksin, itu butuh waktu penelitian enam tahun, tujuh tahun dan sebagainya. Kalau peneliti tidak mendapatkan jaminan keberlanjutan untuk melakukan penelitiannya—misalnya pada tahun pertama dia mendapatkan dana anggaran dari pemerintah, tetapi pada tahun kedua tidak ada kepastian anggaran—maka dia tidak bersemangat untuk melakukan penelitian. Problem keempat adalah bahwa anggaran yang tersedia di pemerintah turun tidak tepat waktu, tidak di awal waktu tahun anggaran, seperti yang diharapkan oleh para peneliti. Kemudian yang kelima, keterbatasan infrastruktur penelitian, baik itu peralatan laboratorium maupun fasilitas yang lain, termasuk di dalamnya regulasi yang mendorong agar penelitian kondusif.
Apa saja solusi-solusi yang telah ditempuh pemerintah? Untuk itu, kita mencoba mengurai satu per satu dari permasalahan tadi. Tentu sambil mengurai permasalahan, kita mengomunikasikan apa yang kita lakukan ini kepada publik. Salah satu hasil komunikasi kita dengan publik itu adalah mendorong berbagai pihak, termasuk jurnalis, untuk melihat bahwa aktivitas penelitian mulai menggeliat. Dan, singkat cerita, para jurnalis tertarik untuk mengajak dialog dengan pelaku-pelaku peneliti dan pelaku kebijakan penelitian. Seperti yang disampaikan Pak Edy Suandi Hamid tadi, hasilnya dipublikasikan di berbagai media sosial dan di salah satu media nasional yang cukup besar oplahnya. Pernah dua kali berturutturut dalam beberapa hari. Kira-kira beberapa bulan yang lalu, pernah tiga kali berturut-turut di halaman khusus Iptek. Kemudian, beberapa minggu yang lalu, (publikasinya) tiga hari berturut-turut di halaman depan. Hari keempatnya di tajuk rencana, dan hari kelimanya, ada yang menulis menanggapi (publikasi itu) di halaman Opini. Itu artinya, para pihak ini sekarang mulai melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda di research environment. Di satu sisi, kami sebagai pemerintah mencoba mengurai beberapa masalah yang tadi saya sebutkan. Kalau ditambahkan lagi, ada masalah link and match antara penelitian dan industri. Tetapi, okelah itu masalah yang nomor sekian. Yang coba kami urai adalah
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM
9
Wawancara masalah yang kami anggap paling signifikan. Dan, kalau masalah itu diselesaikan, akan memberikan multilplier effect yang luar biasa bagi para peneliti. Multilplier effect apa? Semangat, perhatian, fokus dan kesanggupan untuk menulis proposal usulan penelitian. Yang kami bidik pertama kali adalah menyelesaikan dan mengurai masalah nomor satu dan dua tadi, yaitu pertanggungjawaban penelitian bisa lebih sederhana dan anggaran yang tersedia itu banyak sumbernya. Untuk menyelesaikan masalah pertama, kita baru saja menyelesaikan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 106 Tahun 2016 yang filosofinya adalah memungkinkan penelitian di Indonesia dilakukan dengan basis output, terutama untuk penelitian yang menggunakan anggaran pemerintah. Peraturan ini mulai berlaku pada tahun 2017, tetapi gemanya di tahun 2016 sudah menjadi buah bibir para peneliti. Kalau kita bicara jumlah dosen, 200.000an lebih sedikit, ditambah teman-teman LPNK (Lembaga Pemerintah Non-Kementerian), jumlah totalnya 250.000-an. Sekarang ini, sebagian besar dari mereka, terutama yang masih melakukan penelitian dengan anggaran pemerintah, sudah mulai membicarakan bagaimana menerapkan PMK Nomor 106/2016 itu. Karena kalau dia tidak mempelajari dan mendalaminya, dia tidak akan bisa melakukan penelitian ke depan. Sangat ramai di mana-mana, dan kami terus melakukan sosialisasi, komunikasi dan seterusnya. Di awal tahun 2016, kami mengomunikasikan PMK itu, ternyata ini memberikan impact psikologis yang luar biasa. Ini terlihat dari jumlah publikasi, yang sekarang sudah meningkat dan sudah melebihi sasaran yang ditargetkan dalam Renstra. Data tentang Publikasi Internasional dan HKI Indonesia NO
INDIKATOR KINERJA UTAMA
TARGET REALISASI PERSENTASE 2015 2015 (%)
1
Jumlah publikasi internasional
1.580
1.388
96
2
Jumlah HKI yang didaftarkan
5.008
6.470
129
3
Jumlah prototipe R&D->TRL s.d. 6
530
1.611
309
4
Jumlah prototipe R&D-> TRL 7
5
4
80
Sumber: Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti tahun 2015.
10 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Ini suatu berita yang menggembirakan. Baru sampai bulan Oktober 2016, (jumlah publikasinya) sudah melebihi sasaran Renstra, apalagi nanti di akhir tahun. Jadi, ternyata kebijakan-kebijakan kami yang membuat mereka bebas dari kungkungan pertanggungjawaban administrasi dan juga kebijakan pemberian insentif itu membuat mereka tergugah. Para penulis publikasi internasional kami berikan insentif sampai Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) per publikasi kalau mereka mempublikasikan tulisan di jurnal internasional yang terindeks bagus dan punya impact factor cukup tinggi. Di periode pertama ini, yang mendapatkan insentif itu sebanyak 375 orang: 75 orang mendapat insentif Rp. 100.000.000-an/orang dan 300 orang lainya mendapat Rp. 50.000.000-an/ orang sesuai dengan grade-nya masing-masing. Itu baru hal yang pertama. Kami urai permasalahan pertama: keterbelengguan peneliti. Solusi lainnya?
Kemudian, permasalahan kedua yang kami coba bidik adalah bagaimana agar para peneliti bisa memberikan fokusnya untuk melakukan penelitian selama bertahun-tahun. Kami coba selesaikan masalah ini dengan merevisi Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 (tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Kita sudah selesai memformulasikan revisi itu dengan menambahkan satu bab penelitian di sana. Formulasi ini sudah kami sampaikan ke LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Sudah diharmonisasikan, sudah dibicarakan dengan Setneg (Sekretaris Negara) dan Setkab (Sekretaris Kabinet), sekarang kembali ke LKPP. Bagian penelitian ini sudah tidak diubahubah. Setelah satu atau dua kali pertemuan lagi di antara mereka, (revisi ini) insya Allah akan sampai di meja presiden untuk ditandatangani. Prinsip atau substansi dari revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 tahun 2010 adalah, pertama, penelitian bisa multiyears, bisa multisources. Sources-nya dari mana? Dari berbagai pendanaan. Misalnya, kita ingin melakukan penelitian dengan anggaran satu miliar, kemudian kita baru mendapatkan dana dari satu sumber pendanaan sebanyak Rp. 400.000.000, maka dana Rp. 600.000.000 bisa dicari dari sumber pendanaan lain. Itu bisa double sejauh pertanggungjawabannya transparan. Selain, multiyears dan multisources, prinsip kedua adalah bahwa penelitian ini nanti dilakukan dengan merujuk pada Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), yang juga sedang kami kembangkan itu agar
Keberpihakan Pada Peneliti
jadi Perpres juga. Sekarang, apa yang nantinya akan menjadi Perpres ini sudah dilaporkan Pak Menteri (Ristekdikti) kepada Ibu Menkeu (Menteri Keuangan) dan sebentar lagi akan diselenggarakan semacam ratas (rapat terbatas) untuk mempercepatnya. Prinsip ketiga dari revisi Perpres Nomor 54 tahun 2010 adalah penelitian yang menggunakan anggaran pemerintah nanti (dananya) bisa ditransfer ke peneliti mandiri, yakni orang per orang yang mengusulkan proposal tersebut. Misalnya, dosen selama ini mendapatkan dana penelitian dari Kemenristekdikti yang ditransfer melalui LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat). Beruntunglah kalau di LPPM, dananya hanya berhenti sementera kemudian langsung didistribusikan, tapi kan ada yang dipotong. Nanti, untuk menghindari itu dan mempersingkat mekanisme itu, dananya bisa langsung ditransfer ke individu, tapi dengan syarat individu itu melakukan penelitian dengan izin dari instansinya dan melakukan misi dari instansinya. Ini terjadi pada teman-teman yang ada di LPNK: LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan sebagainya. Ini akan memberikan semangat juga kepada para peneliti untuk menulis dan mengajukan proposal penelitian ke mana-mana. Sehingga, gairah peneliti itu semakin tinggi, karena dia mendapatkan kesempatan untuk transfer pribadi dari mana-mana. Selain itu, keempat, dalam revisi ini ada kemudahan untuk membeli perangkat atau infrastruktur penelitian. Dulu, pembelian di atas Rp. 200.000.000 pakai lelang, tetapi nanti tidak usah pakai lelang, dengan penunjukan langsung. Jadi, banyak kemudahan dalam konteks menjamin penelitian itu bisa multiyears, sehingga para peneliti lebih bersemangat. “Saya (peneliti) bisa men-set up dari sekarang. Saya melakukan penelitian selama lima tahun dan akan mendapatkan jaminan terus sampai penelitian saya selesai.�
ď ˝
Masalah-masalah yang dihadapi oleh para peneliti di Indonesia. Pertama, rendahnya pendanaan dan. Kedua, mekanisme pertanggungjawaban pendanaan. Ketiga, keterbatasan jaminan penelitian yang tidak sustainable. Keempat adalah bahwa anggaran yang tersedia di pemerintah turun tidak tepat waktu dari kekayaan intelektual. Kalau kita bicara kekayaan intelektual, ada tiga, yaitu paten, merek dan hak cipta. Dua undang-undang tentang paten dan merek sudah selesai, dan satunya hampir selesai. Dulu untuk mendaftar paten itu butuh waktu 72 bulan (6 tahun), baru bisa jadi paten. Sekarang, prosesnya lebih cepat hanya 2,5 tahun. Dan, begitu didaftarkan, paten itu sudah boleh diproduksi. Itu keberpihakan pertama. Kedua, pendaftarannya online. Jadi, peneliti dari Papua, dari Aceh tidak harus datang ke sini (Jakarta). Ketiga, selama lima tahun tidak bayar. Dari tahun keenam sampai tahun ke dua puluh (sampai habis masa perlindungan paten) itu bayar 10% dari nilai yang seharusnya dibayar untuk perguruan tinggi. Kemudian, paten bisa diagunkan, bisa diwakafkan. Ini juga keberpihakan kepada mereka. Royalti paten itu bisa diterima sampai 40%. Jadi, kalau satu orang punya tiga atau empat paten—profesor kebanyakan sudah punya puluhan hasil penelitian kan, dan dari puluhan itu, sepuluh yang dipatenkan—maka setelah dia pensiun, akan luar biasa income-nya.
Apakah ada lagi solusi lainnya?
Bukan hanya berhenti di situ. Begitu penelitian selesai dan ada output-nya, dia (output-nya) didorong menjadi hasil karya yang bisa dinilaiekonomiskan dengan insentif paten dan royalti. Undang-undang paten baru saja kita selesaikan juga setengah tahun bersama PMK Nomor 106/2016, dan sekarang namanya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten. UU ini memberikan keberpihakan yang luar biasa kepada para peneliti. Keberpihakannya apa? Misalnya, paten itu bagian
Contoh peneliti atau kampus yang memperoleh keuntungan dari paten?
Sebuah perguruan tinggi kecil di Yogyakarta bisa mendapatkan royalti 1.600.000 (satu juta enam ratus) dolar Amerika. Itu produk pertamanya. Produk keduanya 5.000.000 (lima juta) dolar Amerika. Produk ketiganya yang sedang berjalan akan mendapat 13.000.000 (tiga belas juta) dolar Amerika. Itu gambaran perguruan tinggi kecil yang
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 11
Wawancara tidak harus menggunakan alat laboratorium yang canggih, karena perguruan tinggi yang saya sebutkan ini perguruan tinggi komputer, laboratoriumnya hanya komputer. Dan, tokohnya juga punya nuansa Kemuhammadiyahan. Itu contoh-contoh yang sedang kita coba reform agar para peneliti di Indonesia ini mau mengekspresikan seluruh kemampuan yang mereka miliki untuk melakukan penelitian. Bagaimana soal output riset?
Di samping kendala-kendala lain lagi, kami juga ingin memetakan sebetulnya penelitian di Indonesia ini dilakukan oleh siapa, di mana, output-nya sampai pada tahap ke berapa untuk siap diproduksi. Ada istilah technology readiness level (TRL). Baru saja diselesaikan Peraturan Menteri Risetdikti Nomor 42 tahun 2016 (tentang Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi). Diwajibkan bagi orang yang menggunakan anggaran pemerintah untuk menggunakan Permen itu. Misalnya, dulu Pak Wakil Presiden pernah bertanya kepada Pak Menteri Ristekdikti ketika akan mendukung pengembangan energi baru yang terbarukan, “Siapa orang perguruan tinggi atau LPNK yang sudah melakukan itu? Hasilnya sampai di mana?� Kita tidak pernah bisa menjawab karena kita tidak punya (peraturan yang mengukur kesiapterapan teknologi) itu. Nah, sekarang kita punya. Sehingga, sambil mendorong teman-teman peneliti untuk melakukan penelitian, sekaligus kita database-kan. Kita akan tahu seluruh penelitian kita, sampai tahap apa, dan seterusnya. Ini upaya-upaya awal terkait dengan apa yang dilakukan sekarang ini. Apa dukungan yang diharapkan dari perguruan tinggi dan dosen-dosennya untuk menyukseskan upayaupaya yang dilakukan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan?
Perguruan tinggi merupakan institusi yang punya kewajiban untuk melakukan Tri Dharma. Menurut kami, lakukanlah Tri Dharma ini sesuai dengan porsinya. Sekarang, kami sedang berupaya—dan sudah sampai tahap yang hampir selesai—mendudukkan dharma penelitian dan pengabdian masyarakat pada posisi tawar yang lebih tinggi dengan meningkatkan kum. Selama ini, pengajaran mendapatkan porsi paling besar untuk kenaikan pangkat fungsional. Nah, sekarang porsi penelitian juga sudah meningkat. Pengabdian masyarakat yang masih belum signifikan. Tetapi, kita mencoba meningkatkan kum penelitian, dan itu sudah berhasil dengan Permenristekdikti. 12 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Nanti ada Permenpan yang harus kita perbaiki lagi. Sehingga, harapan kita pada perguruan tinggi, lakukanlah penelitian dengan bukan seperti orang menjalankan sesuatu yang sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi lakukanlah penelitian dengan sepenuh hati. Itu harapan kita pada perguruan tinggi. Penelitian dengan sepenuh hati itu seperti apa? Tentu sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah, dan dalam melakukan penelitian itu, jangan hanya mendasarkan pada kemauan si peneliti. Tetapi, si peneliti harus melihat apa yang dibutuhkan pasar, industri dan masyarakat. Dengan perkataan lain, kita ingin sampaikan dengan kata-kata vulgar, jangan melakukan penelitian untuk kepuasan peneliti sendiri. Tetapi, lakukanlah penelitian yang punya kemanfaatan untuk masyarakat dan bisa di-industrialized. Kalau dari masyarakat, dukungan apa yang diharapkan?
Kalau dukungan dari masyarakat, kita ingin masyarakat ikut menghargai para peneliti kita dengan menempatkan pada maqam yang sebenarnya. Apa yang dimaksud dengan maqam yang sebenarnya? Masyarakat Indonesia, termasuk komunitas peneliti sendiri, belum mau menghargai peneliti seperti yang seharusnya. Seorang profesor, seperti Prof. Edy Suandi Hamid, kalau dijejerkan dengan seseorang yang punya kualifikasi tidak profesor dalam profesi lain, seharusnya penghargaan kepada Prof. Edy itu lebih tinggi daripada mereka. Ukuran penghargaan itu apa? Misalnya, kalau kita sama-sama mengundang Prof. Edy sebagai peneliti senior dan mengundang profesional lain yang mungkin persiapannya sama dengan Prof. Edy, mestinya imbang dong jumlah yang datang. Dari yang diundang seratus ya yang datang seratuslah. Tetapi, kenyataan di lapangan tidak seperti itu. Saya lihat, kalau Profesor Edy ceramah, atau mungkin yang lebih dari Prof. Edy-lah, pemenang Nobel sekalipun, kalau diundang untuk ceramah di suatu tempat dengan mengundang seribu orang, maka yang datang, saya yakin, kurang dari seribu. Orang jarang mau datang ke acara yang pembicaranya peneliti. Tetapi, profesional lain di bidang lain, contohnya bintang film kita undang, lantas yang diundang seribu orang, maka yang datang lima ribu. Artinya apa? Masyarakat belum menempatkan peneliti pada maqam yang sebenarnya. Padahal, peneliti bisa memberikan kontribusi yang sangat signifikan dibandingkan dengan profesi lain. Tapi, cara pandang masyarakat masih terbalik, menurut pendapat saya.
Keberpihakan Pada Peneliti
Dukungan dari masyarakat yang kami harapkan ya mari menempatkan peneliti pada tempat yang sebenarnya. Apakah masyarakat sudah memanfaatkan teknologi secara produktif?
Di samping itu, kami minta masyarakat untuk mendorong agar segala yang dilakukan masyarakat berdasarkan evidence (evidence-based). Jadi, apa pun menggantungkan pada para peneliti, karena menurut pendapat saya, ini akan memberikan multiplier effect yang luar biasa. Apalagi, kita tahu bahwa kalau masyarakat memanfaatkan teknologi dari hasil riset, itu akan bisa meningkatkan nilai dari objek yang dimiliki secara berlipat-lipat. Contohnya cokelat. Cokelat itu, kalau kita petik dari pohonnya dan cuma kita kupas, lalu dijual, paling harganya seribu per satuan tertentu. Tetapi, kalau diubah menjadi cokelat yang siap dimakan, itu harganya bisa menjadi tiga puluh kali lipat. Ini sentuhan teknologi, sentuhan riset. Tidak hanya cokelat, iron (besi) dan macammacamlah. Kalau masyarakat mau memanfaatkan hasil riset untuk memberi sentuhan untuk setiap objek yang mereka punya, niscaya kita akan menjadi bangsa yang luar biasa. Tetapi, apakah sudah sampai situ atau belum? Saya lihat belum. Kenapa belum? Karena para peneliti masih sangat eksklusif, menurut pendapat saya. Peneliti hanya menyampaikan hasilhasil penelitiannya di jurnal-jurnal untuk para peneliti. Harusnya, menurut hemat saya, peneliti punya kemampuan untuk menyampaikan hasil penelitiannya dalam bentuk populer, menyajikannya di media populer. Sehingga, masyarakat bisa langsung memanfaatkannya. Tapi, yang terjadi kan tidak demikian. Itu menjawab pertanyaan tentang harapan kami kepada masyarakat dan perguruan tinggi. Dalam praktiknya, apakah dosen-dosen di perguruan tinggi sudah melakukan penelitian sepenuh hati karena kesadaran, bukan karena kepatuhan untuk naik pangkat dan sebagainya?
Ukurannya gampang, bisa dikuantifikasi, untuk melihat apakah para dosen sudah melakukan penelitian sepenuh hati atau belum, karena kesadaran atau tidak. Ukurannya adalah jumlah publikasi, jumlah paten, atau jumlah (hasil penelitian) yang bisa diindustrikan. Kita bisa lihat dari situ. Trennya sekarang baik dibandingkan dengan tahun 2015. Tren perkembangan publikasi dan paten (Indonesia), kalau saya lihat, relatif membaik. Walaupun (trennya)
membaik, kita masih ingin meningkatkan jumlah tersebut ke tataran yang lebih tinggi. Kita lihat publikasi internasional kita tahun 2014, 2015 dan 2016, Indonesia masih berada di ranking empat di ASEAN. Tetapi kalau kita lihat trennya, Malaysia sudah mulai jenuh, trennya turun. Singapura juga demikian. Thailand juga demikian. Indonesia meningkat. Jadi, kalau kita ingin mengejar mereka, momentumnya sekarang. Makanya, kita patok. Kita punya quick way untuk menjadi juara ASEAN dalam publikasi (internasional) di tahun 2020 nanti. Bukan tidak masuk akal kalau kita lihat trennya. Jumlah Publikasi Internasional Negara-negara ASEAN tahun 2014-2016 No.
Negara
2014
2015
12 Oktober 2016
1
Malaysia
25.330
23.414
18.811
2
Singapore
19.044
17.976
14.124
3
Thailand
12.061
11.632
9.963
4
Indonesia
5.499
6.280
7.463
5
Vietnam
3.955
4.092
1.775
6
Philippines
1.767
2.091
1.797
Tren Jumlah Publikasi Internasional Negara-negara ASEAN tahun 1996-2014
----------------------------
Pak Dirjen mengatakan di awal bahwa untuk meningkatkan daya saing kita, perlu inovasi. Dan inovasi berbasis riset. Tahun-tahun belakangan ini, riset kita meningkat, tetapi mengapa indeks daya saing (competitiveness index) terbaru, kita menurun?
Begini. Inovasi hanya salah satu dari dua belas variabel untuk menilai daya saing. Sebelas variabel lain itu tanggung jawab kementerian lain. Daya saing kita turun dari urutan ke-37 ke 41. Dalam konteks inovasi, kita tidak menurun amat. Untuk Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 13
Wawancara pilar (variabel) ke-12, yakni inovasi, ada tujuh subpilar untuk mengukurnya. Indeks daya saing kita tidak turun-turun amat dibandingkan dengan tahuntahun sebelumnya, bahkan nilainya sama. Tapi, variabel-variabel lain turun. Jadi, dari sisi inovasi yang menjadi tanggung jawab kami, itu cukup bagus. Kami menembak rohnya. Saya yakin kalau suasana riset itu muncul, yang lain akan terdorong. Kalau kita bicara riset, inovasi dan daya saing, bukankah ada time lag? Sekarang, publikasi kita naik dan mungkin hasilnya akan kita petik dua atau tiga tahun lagi?
Iya betul. Sekarang, kita lihat paten. Tren peten Indonesia itu naik. Dengan bertambah banyaknya paten ini, nanti akan semakin banyak (paten) yang didorong ke industri. Oke dari paten mungkin 10%, tapi 10% itu kan naik. Itu otomatis. Memang betul, hasilnya itu nanti dua atau tiga tahun yang akan datang. Tren Jumlah Paten Negara-negara ASEAN tahun 2005-2014
Ada satu yang tidak boleh kita lupakan. Walaupun kita sudah menemukan inovasi yang sangat baik, untuk bisa diproduksi itu kan dunia lain, dunia bisnis, dunia dagang. Satu contoh, baru saja saya diskusi tentang penemuan motor listrik. Dari sisi inovasi, kita siap. Tetapi, ketika kita masuk ke situ (dunia bisnis), kita akan memproduksi dan lain-lain, Jepang dan Korea sudah mulai nggosok-nggosok. Misalnya, negara-negara tersebut membuat suatu praktik dan mengklaim bahwa mereka menguji motor listrik yang dibuat di salah satu tempat. Motor listrik yang diuji itu (kebetulan) tidak bagus, lantas dikatakan bahwa motor listrik tidak cocok untuk Indonesia. Itu semua perang dagang.
14 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Jadi, inovasi hasil riset tidak bisa langsung diproduksi massal?
Kalau orang sudah menemukan inovasi, tidak langsung serta merta inovasinya bisa dipakai di dunia industri. Suatu contoh gambir untuk mengunyah sirih. Gambir, kalau dijual dalam bentuk serbuk gambir, itu tidak ada harganya. Katakanlah, harganya seribu perak. Tapi, begitu gambir itu diolah dengan scientific treatment—sangat potensial untuk whitening, kecantikan—harganya bisa jadi jutaan dalam jumlah yang sama. Tetapi, dalam memproses gambir dari awal ini, hasil akhirnya tidak langsung putih, masih cokelat. Saya exercise dengan CEO salah satu perusahaan produk kecantikan yang terkenal di Indonesia. Saya pertemukan dia dengan penelitinya, dan saya juga undang orang bank dan BUMN. Saya exercise apakah hasil penelitian yang sudah luar biasa seperti ini bisa langsung dipakai? Kata mereka begini: Pak Dirjen, peneliti ini hanya melakukan proses scientific, yang tahapannya sampai tahapan tanggung. Industri produk kecantikan itu ingin memakai gambir, tapi bukan yang warnanya cokelat. Masak whitening dengan warna cokelat? Dari warna cokelat ke warna putih masih satu langkah lagi. Dari cokelat ke putih itu bukan pekerjaan scientific. Para peneliti tidak mau melakukan ini. Padahal, kalau mereka mau melakukan ini, mereka akan bisa langsung mendapatkan royalti. Tapi mereka tidak mau melakukan. Kenapa? Karena ini bukan pekerjaan scientific. Dikasihkan ke mahasiswa S-1 pun, tidak bakal lulus dia. Untuk itu, peneliti harus kita pertemukan dengan mereka. Harusnya, kalau kalian mengolah itu, ditambahkan proses tersebut, sehingga hasilnya bisa ditangkap oleh industri. Kalau peneliti tidak tahu kebutuhan industri, dia tidak mau sampai putih. Tapi kalau dia tahu, dia akan olah gambir sampai putih supaya hasilnya bisa langsung dipakai. Industri tidak mau susah-susah untuk melakukan pre-research, karena dia tidak mau membuang waktu, dia mau yang sudah siap dan langsung di-industrialized. Itu suatu contoh bahwa sampai inovasi, saya tidak pernah ragu dengan teman-teman Indonesia. Tetapi begitu melangkah ke dagang, mereka lemah. Di situlah pentingnya, para ekonom bisa membuat jembatan di death valley tadi. Di situ harus dibentuk bermacam-macam lembaga pendanaan. Perbankan itu tidak boleh membiayai riset yang tingkat kepastian keberhasilannya masih di bawah 97%. Jadi, kita harus membentuk berbagai lembaga pendanaan untuk itu yang mendorong spin off, membuat berbagai startup company dan seterusnya.
Keberpihakan Pada Peneliti
ď ˝
Lantas apa yang dilakukan pemerintah?
Di Kemenrisetdikti dibentuk dua Ditjen untuk menangani masalah itu: satu Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan, kedua Penguatan Inovasi. Harusnya kerjanya di situ. Kami sudah mencoba mulai dengan membuat berbagai regulasi agar orang bersemangat untuk melakukan riset dan nanti Ditjen Inovasi yang membuat jembatan di death valley ini. Kalau itu terjadi, hasilnya luar biasa. Di situlah diperlukan lembaga-lembaga pendanaan seperti Fraunhofer di Jerman yang me-mak-comblangi (menjodohkan) antara peneliti dan industri. Di perguruan tinggi Amerika, ada satu tim pemburu paten, namanya. Tim pemburu paten ini, senior-senior di perguruan tinggi, bertugas mencari hasil-hasil penelitian untuk dievaluasi apakah ini layak ekonomis atau tidak guna didorong ke industri. Tim ini juga mencari industrinya. Sehingga, nanti penelitinya tinggal duduk manis dan menerima royalti. Di Indonesia, belum seperti itu. Kami coba inisiasi itu, mendatangkan Fraunhofer. Saya sudah exercise, Fraunhofer kami datangkan dan kami minta kerja sama dengan ITB (Institut Teknologi Bandung). Sekarang baru mulai. Kalau itu selesai, saya ingin angkat kerja sama ini ke lima perguruan tinggi. Jadi, sebenarnya, dari banyak sisi, saya sudah coba mulai. Baru mulai semua. Semoga semua ini berjalan bareng, wah saya sangat optimis. Cuman, saya tidak mau gembar-gembor (ekspose secara besar-besaran) memang. Karena, saya punya prinsip begini, kalau aturan itu tidak digembargemborkan, tetapi dicari orang, berarti memang orangorang semangat. Itu terbukti dengan PMK 106/2016 yang tidak begitu digembar-gemborkan. Mau tidak mau peneliti terpaksa mencari tahu tentang itu. Karena kalau tidak tahu PMK itu, dia tidak melakukan penelitian. Itu upaya-upaya yang kita lakukan. Sekarang, kita baru mulai. Target Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) itu tahun 2045?
Ceritanya begini. Kita melihat dari fakta yang ada, Iptek kita itu tidak dilirik sama sekali, kalau mau dibilang dalam bahasa vulgar. Karena memang perannya masih rendah di dalam pembangunan ekonomi nasional. Angkanya 16,7% kalau kita ukur secara kuantitatif. Peran Iptek dalam pembangunan nasional (multifactor productivity) baru menunjukkan 16,7%, sementara di Korea, peran Ipteknya sudah mencapai 60%. Artinya, hampir seluruh objek sumber daya yang ada di Korea sudah diberi nilai tambah sampai 60%. Masih banyak objek di Indonesia yang
Kita ingin pada tahun 2045 posisi kita seperti Korea. Artinya, peran Ipteknya 60% dalam pembangunan ekonomi nasional. Itu punya konsekuensi. Untuk mencapai seperti itu, input-nya harus oke, output-nya harus oke. Input-nya apa? Jumlah peneliti, kemudian GERD (Gross Domestic Expenditure on R&D) atau belanja Litbang. seharusnya bisa diberi nilai tambah, tetapi (justru) diekspor dan sebagainya. Kita ingin pada tahun 2045 posisi kita seperti Korea. Artinya, peran Ipteknya 60% dalam pembangunan ekonomi nasional. Itu punya konsekuensi. Untuk mencapai seperti itu, inputnya harus oke, output-nya harus oke. Input-nya apa? Jumlah peneliti, kemudian GERD (Gross Domestic Expenditure on R&D) atau belanja Litbang. Dan alhamdulillah belanja Litbang kita sudah naik dari 0,09 jadi 0,2 sekarang. Artinya, upaya satu setengah tahun ini mendatangkan hasil walaupun hasilnya tak kelihatan mata. Hasilnya masih angka-angka, tapi semangat itu sudah mulai kehilatan. Selain itu, output-nya adalah produktivitas peneliti. Produktivitas peneliti bisa diukur dari jumlah publikasi dan jumlah paten. Jumlah publikasi kita makin naik dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN. Kita sangat optimis untuk bisa bersaing di ASEAN dan kita bisa betul menjadi juara ASEAN pada tahun 2019/2020. Apalagi, nanti kalau ada kebijakankebijakan lain, seperti orang yang sudah jadi profesor didorong untuk menulis. Itu akan manambah. Kemudian, senior-senior yang sudah lama belum jadi profesor itu bisa di-convert ke associate professor atau ke apalah jabatan yang mendekati profesor dengan persyaratan menulis di jurnal internasional. Itu akan menambah jumlah publikasi kita. Di samping itu, kami juga melakukan berbagai kerja sama untuk mendorong agar orang bisa
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 15
Wawancara
foto dok. ristekdikti.go.id
mempublikasi (hasil-hasil penelitiannya). Jumlahnya kalau ditambah-tambahkan bisa ratusan. Misalnya, kerja sama dengan Newton Fund, dengan UK, itu juga mendorong orang untuk bekerja sama riset, mempublikasikan dan mempatenkan, dengan Prancis yang namanya Nusantara juga demikian, dengan USAID juga demikian, dengan Australia, terus program-program dari Ditjen Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi, BUDI (Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia) dan sebagainya semakin mendorong jumlah publikasi yang luar biasa. Dan, keinginan saya sebetulnya, karena temanteman yang mengurus riset itu tidak banyak, kita ingin menjadikan seluruh orang Indonesia, apalagi orangorang perguruan tinggi, sebagai duta-duta Risbang (riset dan pengembangan) untuk mengomunikasikan semangat riset kepada seluruh khalayak. Jadi, saya sangat senang kalau ada rektor perguruan tinggi, dirjen lain bicara riset. Saya bangga. Biasanya orang malah merasa, “O itu pekerjaan saja,� tetapi justru saya balik. Jadi, kalau ada apa-apa, kita distribusikan, dan itu milik semua orang. Ternyata, hal seperti itu sangat efektif dalam berbagai hal. Saya lihat seperti itu. Sepertinya, riset-riset ini cenderung ke ilmu pengetahuan alam?
Tidak juga. Contohnya di SBK (Standar Biaya Keluaran) di PMK 106/2016, dalam seluruh hierarki. 16 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Permennya itu luar biasa, memberikan peluang tidak hanya bidang tertentu, tetapi di seluruh bidang. Di Permen ini disebutkan dari riset dasar sampai riset pengembangan. Tidak hanya riset dasar, sampai riset terapan, ada. Misalnya, riset terapan terkategori apa, per kegiatan, output-nya apa, angkanya berapa. Ini bisa dipakai ke mana-mana. Ini satu contoh. Jadi, sekali lagi, bukan hanya riset dasar. RIRN juga mencakup seluruh hierarki riset, dari dasar, terapan sampai pengembangan. Bahkan, kami sudah mengedepankan research frontier jadi pilihan di akhir periode nanti. Bukan (hanya) berhenti di situ, bukan sekadar pilihan-pilihan, kami pun mendorong pendanaan yang berhierarki. Kami coba dorong lahirnya lembaga pendanaan yang namanya ISF (Indonesian Science Fund) atau Lembaga Pendanaan Sains Indonesia yang didedikasikan untuk research frontier atau riset dasar. LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), yang dulu kesannya hanya untuk beasiswa, sekarang sudah kami minta berperan untuk mendukung riset aplikatif, walaupun (alokasi dananya) masih lebih besar untuk beasiswa. Ada juga beberapa riset lain, tetapi mostly riset aplikatif. Nanti, ada riset-riset untuk pengembangan teknologi industri, ada research consortium dan sebagainya.
Keberpihakan Pada Peneliti
Anggaran Litbang naik dari 0,09 ke 0,2, tetapi di perusahaan-perusahaan swasta, anggaran untuk Litbang masih minimal. Apa yang dilakukan?
Swasta itu ternyata lebih suka mengambil inovasi dari luar negeri. Terbukti, 58% inovasi yang dipakai di Indonesia berasal dari luar negeri, dan 57% industri di Indonesia tidak punya unit research and development; 59% industri tidak pernah bekerja sama dengan perguruan tinggi atau lembaga Litbang. Itu kondisi-kondisi yang memprihatinkan, hasil penelitian LIPI. Untuk mendorong agar swasta mau berperan melakukan penelitian, minimal dimulai dengan membentuk unit research and development— otomatis kalau sudah membentuk unit research and development, mereka melakukan penelitian—kita buat berbagai insentif untuk swasta. Insentif yang diminati swasta adalah double tax deduction. Apa prinsip double tax deduction? Kebetulan, tadi saya juga habis bicara dengan teman-teman terkait dengan double tax deduction. Ke depan, kalau industri punya anggaran riset untuk melakukan penelitian, anggaran risetnya itu dipakai untuk memotong jumlah harta kekayaan yang kena pajak. Misalnya, suatu perusahaan punya harta kekayaan 1 triliun, dan dia melakukan riset dengan anggaran 100 juta. Maka, harta kekayaan yang kena pajak dikurangi anggaran untuk riset, 1 triliun dikurangi 100 juta, tinggal 900 miliar sekian. Itu jumlah yang kena pajak. Itu insentif pertama. Insentif kedua, kalau perusahaan melakukan pengeluaran peningkatan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia, tambah 50% lagi. Kalau dia mengeluarkan tambahan dana untuk riset, untuk kegiatan prioritas yang ditetapkan oleh pemerintah, misalnya energi dan maritim, ya tambah 50% lagi. Terus, kalau dia mengeluarkan dana untuk pendidikan dan pelatihan di dalam negeri, tambah lagi sekian persen. Jadi, kita beri insentif terus. Kita akan usulkan ini untuk undang-undang pajak. Pak Menteri Ristekdikti sudah bicara dengan Bu Mulyani (Menteri Keuangan). Pada prinsipnya, Bu Mulyani setuju, tetapi dengan syarat beliau ingin bertemu dengan kalangan industri terlebih dahulu. Maka, tadi saya bicarakan kapan kita kumpulkan KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) dengan seluruh industri itu, biar nanti Pak Menteri dan Bu Mulyani langsung tanya kepada mereka. Bu Mulyani bilang begini, “Saya mau kasih ini, tetapi ingin dengar apakah industri kalau dikasih ini, mau atau tidak.” Sebab, kalau industri tidak mau pakai, ini seperti buah simalakama, seperti pengembang yang
sudah mendapatkan izin untuk membangun, tapi pengembang itu tidak kunjung membangunnya. Si pengembang cuma main tanah. Ini juga begitu. Saya kira Bu Mulyani cerdas sekali. Makanya, saya bersemangat. Tadi, baru saja kita undang kapan kita ketemu para KADIN itu. Kami akan ketemu KADIN, dan saya juga akan ajak pengurus KADIN-nya ketemu Bu Mulyani terlebih dahulu, dengan salah satu wakil BUMN. Semua pihak yang terkait riset dilibatkan ya?
Jadi, kita “serang” dari berbagai pihak, swasta kita “serang”. Cuma, memang kurang kita publikasi karena, seperti tadi gagasannya, begitu yang kita tembak leher burung, nggak usah pakai ba bi bu, (burungnya) mati. Tapi, kalau yang kita tembak itu kaki, sayap, kita tembak berkali-kali, dengan publikasi, (burungnya) tidak bakal mati. Nah, kita incarannya kayak gitu. Analoginya, diam-diam, tapi langsung ke leher burungnya. Pemikiran-pemikiran ini lahir dari mereka. Kami punya tim lima, dan salah satu anggotanya beliau (Prof. Edy Suandi Hamid). Kita kumpulkan dari BUMN dan industri. Saya punya gagasan seperti itu. Tadinya, membaca, terus teman-teman cerita. Kita exercise dengan industri. Yang kita undang itu industri kesehatan dan pangan. Kita diskusi empat atau lima kali di sini. Kita undang orang-orang pajak, akhirnya ketemulah formulasi itu. Begitu ketemu formulasinya, ada simulasi ini. Lalu, saya matur Pak Menteri Risetdikti, dan Pak Menteri cepat sekali menangkap. Langsung, habis saya bicara siangnya, sorenya Pak Menteri ketemu Bu Sri Mulyani dan langsung bicara. “Boleh, Pak, tapi begini begini ....” Ini akan menguntungkan negara. Nanti, pada tahun ketiga dan keempat, income negara akan berlebih. Akan banyak perusahaan yang mengeluarkan anggaran riset. Tambah dapat pajaknya, tambah macam-macam. Langkah-langkah kita itu tidak usah gaduhgaduh, tapi kita ingin tembak, kalau burung, ya leher burung. Kalau (ibarat) jembatan, ada titik lemahnya. Titik kecil itu. Kalau ditembak titik lemahnya, jembatan itu pasti akan runtuh. Tidak usah pakai tenaga yang macam-macam. Jadi, titik seperti itu yang kita incar. Tidak usah gaduh-gaduh. Silent operation, tapi plek (kena). Itu strategi.[]
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 17
Teropong
foto dok. ristekdikti.go.id
MEMBANGUN TRADISI RISET Kisah Kelapa Kopyor dari Purwokerto
H
asil riset kelapa kopyor belakangan mendapat perhatian. Kelapa hasil riset yang seratus persen kopyor ini merupakan buah kerja keras. Kerja keras tersebut menyangkut upaya untuk membangun tradisi riset di Indonesia dan berkaitan pula dengan faktor-faktor industri dan ekonomi. Dua faktor ini amat penting lantaran bertalian dengan hilirisasi riset.
Sisunandar, Ph.D. Dosen pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purwokerto
18 Warta PTM
Awal Mula Riset Kelapa Kopyor Penelitian kelapa kopyor ini merupakan lanjutan dari penelitianpenelitian sebelumnya. Saya memulai penelitian bioteknologi, khususnya kultur jaringan tumbuhan, pada tahun 1994 dengan melakukan perbanyakan melinjo melalui kultur jaringan. Penelitian ini dilanjutkan dengan penelitian tanaman jati (Tectona grandis L) dan beberapa tanaman yang lain. Penelitian kultur jaringan kelapa dimulai sejak tahun 2004 ketika saya “dipaksa� oleh supervisor S-3 saya untuk melakukan penelitian kriopreservasi kelapa. Awalnya, saya merencanakan penelitian tentang kriopreservasi tanaman jati. Namun, sejak penelitian kriopreservasi kelapa itu, saya belajar tentang kelapa. Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral di University of Queensland, Australia pada tahun 2008, saya melanjutkan penelitian tentang kultur jaringan kelapa dengan fokus pada kelapa kopyor sampai sekarang. Saya tertarik untuk meneliti kelapa kopyor karena kelapa kopyor
Edisi September - Oktober 2016
Membangun Tradisi Riset
merupakan komoditas yang bernilai ekonomis sangat tinggi. Kelapa biasa memiliki harga sekitar Rp. 4.0005.000/butir, sedangkan harga kelapa kopyor saat ini sekitar Rp. 35.000-50.000/butir. Permintaan kelapa kopyor di pasar domestik juga sangat tinggi. Pada waktu saya dan teman-teman melakukan pameran di Soropadan Agro Expo di Soropadan, Temanggung, Jawa Tengah pada bulan Juni 2016, kami didatangi beberapa perusahaan yang meminta suplai buah kopyor dalam skala besar dan kontinu. Namun, kami tidak sanggup memenuhi suplai dalam skala besar tersebut. Satu perusahaan rata-rata meminta suplai sekitar 600 kilogram fresh meat (daging buah) per bulan, sedangkan kapasitas produksi petani dampingan kami masih relatif rendah. Sebagai contoh, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sebagai sentra utama produsen kelapa kopyor di Indonesia hanya mampu menghasilkan sekitar 1.000 butir kelapa kopyor per 3 hari dan hanya mampu menyuplai sebagian kecil pasar Jakarta. Sayang sekali, petani-petani di Indonesia sekadar menanam bibit kelapa kopyor yang dibibitkan secara alami. Kelemahan utama bibit alami adalah bahwa tidak semua bibit yang ditanam dapat menghasilkan buah kopyor (perkiraan hanya sekitar 60-70% bibit yang mampu menghasilkan buah kopyor). Jika bibitnya menghasilkan kelapa kopyor, setiap pohon hanya mampu menghasilkan buah kopyor kurang dari 25% dari total buah kelapa yang dihasilkannya. Maka, satu-satunya cara untuk menghasilkan bibit kelapa yang mampu menghasilkan buah kopyor hampir 100% (true-to-type) adalah teknik kultur jaringan. Universitas Muhammadiyah (UM) Purwokerto berhasil melakukan penelitian tersebut dan mampu menghasilkan bibit kelapa kopor true-to-type. Saya tidak memiliki motivasi khusus untuk melakukan penelitian kelapa kopyor. Semua hanya mengalir sesuai dengan kehendak Allah yang Maha Mengatur, dan saya hanya melaksanakan kegiatan yang bisa saya laksanakan. Jika berhasil, semua hanya karena Allah SWT., dan jika gagal, saya akan terus mencoba semampu saya. Saat ini, saya diberi amanah sebagai dosen dengan tugas utamanya adalah meneliti di samping mengajar. Saya hanya melaksanakan amanah tersebut dengan berbagai konsekuensi yang saya terima. Hilirisasi Riset Kelapa Kopyor Sampai saat ini, temuan kami belum banyak. Sejak memulai penelitian kelapa kopyor secara intensif tahun 2008, kami baru mempublikasikan
kopyor Jawa Tengah. Kami juga mendapatkan permintaan bibit dan permohonan bimbingan teknis dari beberapa provinsi lain. Di tingkat internasional, CIRAD Perancis melakukan penelitian bersama kami dari tahun 2013 sampai sekarang. Coconut Genetic Network (COGENT) pun tertarik dengan kebun koleksi yang sedang dibangun di UM Purwokerto. Kendala dan Solusinya Kendala sangat besar yang kami hadapi sewaktu memulai penelitian ini adalah kurangnya dana dan peralatan laboratorium. Laboratorium yang kami miliki saat itu sangat kecil dan terbatas, sehingga sebagian peralatan harus kami desain dan buat sendiri dengan uang sendiri. Biaya penelitian juga tidak kami miliki, karena kala itu saya baru merampungkan pendidikan S-3. Waktu itu, UM Purwokerto hanya menyediakan dana yang sangat minim (sekitar Rp. 1.500.000 per judul penelitian). Dana ini tidak mungkin untuk membiayai penelitian tersebut. Misalnya, harga kelapa kopyor sebagai bahan riset saat itu Rp. 20.000 per butir. Jadi, dana penelitian itu sangat tidak memadai. Saya juga telah mencoba membuat proposal penelitian ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) dengan berbagai skema, tetapi tetap tidak berhasil, karena saya tidak memiliki track record penelitian yang didanai Ditjen Dikti. Akhirnya, saya harus menggunakan gaji saya selaku dosen pegawai negeri sipil (PNS) untuk menyokong penelitian ini. Beruntunglah, istri saya juga dosen di UM Purwokerto, sehingga dia tahu persis kondisi yang kami hadapi dan merelakan gaji saya selama empat tahun untuk biaya penelitian. Syukurlah, proposal training ke CIRAD Perancis pada tahun 2009 disetujui, sehingga uang hasil kegiatan tersebut saya gunakan untuk kegiatan penelitian kelapa kopyor. Pada tahun 2010, saya mendapatkan Endeavour Award dari Pemerintah Australia yang juga saya pakai untuk mendukung penelitian tersebut. Selanjutnya, penelitian ini menunjukkan kemajuan yang signifikan karena pada tahun 2011, kami berhasil memproduksi bibit kelapa kopyor true-to-type pertama kali. Saat ini, dukungan UM Purwokerto untuk penelitian kami luar biasa. Pada tahun 2012, UM Purwokerto membangun laboratorium terpadu dengan peralatan yang sangat modern yang kami gunakan untuk penelitian ini. Dana penelitian juga bisa kami dapatkan dengan berjualan bibit yang kami hasilkan. UM Purwokerto telah pula menyediakan
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 19
Teropong lahan seluas satu hektar di dalam kampus untuk dijadikan kebun koleksi kelapa kopyor pertama di dunia yang mengoleksi kelapa kopyor dari seluruh wilayah Indonesia. Kini, kami sudah memiliki koleksi kelapa kopyor yang berasal dari Purbalingga, Pati (Jawa Tengah), Sumenep (Madura) dan Kalianda (Lampung Selatan). Jajaran pemimpin UM Purwokerto membuat kebijakan-kebijakan untuk mendukung kegiatan penelitian. Pertama, kampus memfasilitasi semua dosen yang akan menempuh pendidikan S-3 dengan keahlian yang berbeda. Kedua, kampus memfasilitasi alat-alat laboratorium yang dibutuhkan untuk penelitian. Ketiga, kampus meningkatkan anggaran untuk mengembangkan alat-alat laboratorium. Keempat, kampus mendorong semua program studi untuk memiliki unggulan penelitian. Kebijakankebijakan ini membuahkan hasil penelitian, misalnya, kelapa kopyor, polimer, obat kanker dan game pembelajaran multimedia. Dukungan pemerintah sangat besar melalui program penelitian, baik hibah bersaing maupun hibah kompetensi, sejak tahun 2013 sampai sekarang. Sebagian besar dana penelitian tersebut kami gunakan untuk mencari marka molekul kelapa kopyor. Saat ini, support Kemenristekdikti pada penelitian ini luar biasa besar. Pada tahun 2015, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek, Bapak Dr. Muhammad Dimyati, meresmikan pembangunan kebun koleksi kelapa kopyor di dalam Science Technopark UM Purwokerto. Motivasi dari beliau juga sangat membantu kami dalam mengembangkan penelitian kelapa kopyor di UM Purwokerto. Harapan kepada Pemerintah Arah penelitian yang direncanakan oleh Kemenristekdikti sangat baik. Sejak tahun 2017, misalnya, peneliti tidak diminta untuk membuat laporan keuangan, tetapi diminta untuk membuat laporan output penelitian. Pemerintah juga menyediakan dana khusus bagi doktor baru, sehingga pengalaman saya yang kurang beruntung dalam mencari dana penelitian tidak akan terjadi lagi. Saya berharap pemerintah terus men-support kegiatan-kegiatan penelitian secara lebih serius. Pertama, dengan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk penelitian yang sangat terbatas, program publikasi hasil penelitian di jurnaljurnal internasional akan sulit untuk terlaksana. Seyogianya, anggaran untuk kegiatan penelitian perlu ditingkatkan. Namun, pemerintah juga tidak
20 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
hasil penelitian kami di jurnal internasional berimpact factor (masih sekitar 2-3) sebanyak 6 paper. Kami menemukan teknik untuk menggandakan bibit dari embrio kelapa yang kami tanam dan telah kami patenkan pada tahun 2012. Kami juga sangat beruntung karena mendapatkan teknik untuk memindahkan bibit dari kondisi di kultur jaringan ke lingkungan luar (lahan) dengan menggunakan alat yang kami namai mini growth chamber dan telah kami daftarkan paten pada tahun 2015. Jika di tempat lain, seperti Balai Penelitian Tanaman Palma (Balitpalma) Manado, tingkat keberhasilan penelitiannya masih sekitar 20%, penelitian kelapa kopyor di UM Purwokerto telah berhasil mencapai lebih dari 90%. Kami juga mempublikasikan hasil-hasil riest kami di seminar-seminar nasional dan internasional. Kami melakukan penelitian kerja sama dengan Centre de coopĂŠration internationale en recherche agronomique pour le dĂŠvelopment (CIRAD), Prancis. Kerja sama ini mempublikasikan hasil-hasil riset kami di situs CIRAD. Di samping itu, kami juga mengikuti beberapa pameran agroindustri di Provinsi Jawa Tengah untuk mempublikasikan hasil-hasil riset kami kepada masyarakat luas dan industri. Hilirisasi riset ini pernah dilakukan di Pemerintah Daerah (Pemda) Sorong, Papua Barat pada tahun 2011-2014. Sekarang, kami melakukannya di Balai Benih Provinsi Jawa Tengah. Sebenarnya, kultur jaringan bukan bidang baru, dan banyak institusi negeri (seperti Pemda) dan institusi swasta maupun perorangan memiliki laboratorium kultur jaringan. Namun, hanya sedikit laboratorium kultur jaringan yang beroperasi dengan baik. Masalahnya relatif sama, yaitu sumber daya manusia (SDM) yang kurang untuk mengelola laboratorium. Kami di UM Purwokerto juga telah memproduksi bibit kelapa kopyor yang kami jual untuk mendukung penelitian kami. Lebih jauh, respons masyarakat lokal, nasional dan internasional terhadap hasil penelitian kami sangat bagus. Di tingkat universitas (UM Purwokerto), saat ini sedang dibangun kebun plasma nutfah kelapa kopyor yang memanfaatkan hasil penelitian kami. Diperkirakan dalam waktu lima tahun, kami akan berhasil membangun kebun koleksi kelapa kopyor dari seluruh wilayah di Indonesia untuk pertama kalinya. Kami sangat bangga, karena kebun tersebut berada di dalam kampus UM Purwokerto. Di tingkat provinsi, beberapa waktu lalu Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah melakukan kunjungan untuk mengembangkan potensi kelapa
Membangun Tradisi Riset
1. Bibit kelapa kopyor hasil kultur jaringan 2. Penanaman bibit kelapa kopyor oleh komisi B DPRD propinsi Jateng 3. Isolasi endosperm kelapa kopyor bersama peneliti Perancis 4. Bersama Gubernur Jawa Tengah dan Kepala Dinas Perkebunan Prop. Jawa tengah
boleh mengeluarkan dana tanpa kontrol dengan hanya melihat laporan keuangan. Dana penelitian harus disesuakan dengan output yang akan diperoleh dengan reward dan punishment yang jelas. Pemerintah pun perlu membuat tolok ukur penelitian dosen di Indonesia untuk mengontrol kualitas dosen. Kedua, saya berharap pemerintah membantu peningkatkan kualitas sarana penelitian (laboratorium). Dana pembelian sarana penelitian tersebut sangat besar dan berat bagi perguruan tinggi swasta (PTS), termasuk perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), sehingga bantuan pemerintah sangat dibutuhkan. Kegiatan penelitian PTS/PTMA diperuntukkan tidak hanya bagi swasta, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia, sehingga pemerintah memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas sarana penelitian. Ketiga, pemerintah perlu meningkatkan SDM peneliti. Salah satu kendala penelitian yang dimiliki Indonesia adalah kurangnya SDM yang berkualitas dan mampu berkolaborasi di tingkat internasional. Peningkatan jumlah dosen dan tenaga laboran untuk sekolah (bagi dosen) dan pelatihan (bagi teknisi dan laboran) sangat dibutuhkan. Celakanya, sampai saat ini, program pelatihan bagi laboran belum pernah dilakukan. Dukungan bagi dosen untuk berinteraksi
dalam pertemuan ilmiah internasional juga perlu ditingkatkan, karena networking dalam penelitian sangat penting. Networking hanya dapat diperoleh dengan cara mengikuti seminar dan workshop internasional. Keempat, program pelatihan dan pendampingan bagi dosen muda untuk melakukan penelitian dan publikasi ilmiah secara benar sangat dibutuhkan. Program ini dimaksudkan untuk mencetak dosendosen berprestasi di masa mendatang. Kelima, pembentukan kelompok-kelompok peneliti yang memiliki minat yang sama sangat dibutuhkan untuk berbagi informasi dan percepatan penelitian yang dilakukan. Keenam, salah satu kendala di Indonesia adalah minimnya akses artikel di jurnal internasional yang bereputasi. Seyogianya, pemerintah menyediakan akses yang lebih bagus untuk pelayanan pustaka, seperti ketersediaan web of science yang dapat diakses secara gratis oleh dosen-dosen. Saat ini, tersedia layanan Proquest, tetapi artikel-artikel yang tersedia di dalamnya sangat terbatas. Ketujuh, saya juga berharap adanya interlibrary connection, sehingga perpustakaan-perpustakaan di semua perguruan tinggi terkoneksi dan bisa diakses oleh semua dosen dan mahasiswa.
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 21
Teropong
kelapa kopyor
Membangun Tradisi Riset Paparan di atas dimaksudkan untuk membangun tradisi riset yang mapan di Indonesia. Tradisi riset yang mapan sangat berperan dalam memajukan bangsa. Kita bisa berkaca dari pengalaman negara-negara maju. Pertama, di negara maju, misalnya Australia dan Prancis, peneliti sangat dimanjakan dengan fasilitas. Peneliti sama sekali tidak dibebani dengan urusan administrasi. Masalah keuangan ditangani oleh apa yang disebut research office. Kebutuhan bahan penelitian ditangani bagian administrasi, dan peneliti tinggal minta staf administrasi untuk mencarikannya. Dana penelitian tersedia dengan sangat cukup. Persyaratan administrasi untuk mengajukan proposal penelitian dan melaporkan hasilnya tidak berbelitbelit. Semua ini tidak ditemukan di Indonesia. Kedua, ketersediaan sarana perpustakaan di negara-negara maju dan berkembang sangat jauh berbeda. Buku, artikel dan semacamnya tidak pernah menjadi masalah di negara maju, karena pemerintah menyediakan akses optimal bagi dosen. Kebutuhan pustaka yang sangat spesifik bahkan dapat dilakukan oleh pustakawan melalui interlibrary loan antarnegara. Peneliti hanya tahu bahwa artikel yang dibutuhkan akan sampai di mejanya tidak lebih dari satu minggu setelah dia mengajukan permintaan. Hal ini tidak terjadi di Indonesia. Ketiga, salah satu penopang kegiatan penelitian di negara-negara maju adalah mahasiswa S-3. Persyaratan untuk membuka program S-3 di sana tidak serumit di Indonesia. Selama ada pembimbing, program S-3 bisa diselenggarakan. Bahkan, jika dosen pembimbing pindah tempat kerja, mahasiswanya kadang mengikutinya pindah. Persyaratan membuka S-3 di Indonesia sangat administratif dan kurang memperhatikan kualitas dosen. Di negara maju, seorang doktor yang berkualitas dapat membimbing mahasiswa S-3 dengan mudah.
22 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Keempat, penopang kegiatan penelitian yang lain adalah postdoctoral research fellow. Bagi fresh graduate S-3, tersedia program post doc yang dapat meningkatkan kemampuan peneliti dalam penelitian dan meningkatkan jumlah tenaga kerja di laboratorium, sehingga laboratorium capacitybuilding sangat intensif. Seorang profesor dari Prancis terheran-heran ketika datang ke laboratorium UM Purwokerto yang memiliki empat ruangan dan peralatan yang sangat modern. Beliau bertanya berapa jumlah peneliti di laboratorium tersebut. Saya jawab dua orang. Beliau geleng-geleng kepala, karena di ruangan beliau yang sempit berukuran 5 x 6 meter, terdapat enam post doc dan delapan mahasiswa S-3 di bawah bimbingan beliau. Kelima, pertemuan ilmiah rutin dua minggu sekali diselenggarakan setiap kelompok dosen sebidang (tidak lebih dari 10 orang), dan pertemuan ini mampu meningkatkan atmosfer akademik. Pertemuan semacam ini sangat jarang diadakan di Indonesia. Keenam, penilaian kinerja dosen di negaranegara maju sangat simpel, hanya dengan melihat berapa dana penelitian yang didapat, berapa jumlah mahasiswa yang diluluskan, dan jumlah publikasi yang dihasilkan. Ini sangat berbeda dengan penilaian kinerja dosen yang jelimet di Indonesia, dengan meminta tanda tangan senior setiap semester dan seterusnya. Kondisi Indonesia yang seperti ini tak menyurutkan saya untuk terus melakukan penelitian. Saya masih tetap melanjutkan penelitian tentang kelapa kopyor sampai pensiun. Masih banyak hal yang harus dilakukan, seperti mengembangkan marka (penanda) bibit kelapa, produksi bibit kelapa hibrida kopyor, pembangunan kebun plasma nutfah kelapa kopyor yang lebih luas, dan mengembangkan teknologi pasca-panen kelapa kopyor. Kegiatankegiatan ini membutuhkan banyak tenaga dan banyak dana. Jika kegiatan-kegiatan tersebut terlaksana, semua hasilnya bisa dipamerkan. Suatu saat akan terwujud science technopark UM Purwokerto yang menjadi tempat pameran hasil-hasil penelitian dan contoh kegiatan industri kelapa kopyor skala kecil yang dapat dimanfaatkan oleh masyakarat luas. Aplikasi hasil-hasil penelitian dengan mengembangkan start-up di masyarakat juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Selain itu, UM Purwokerto akan menyiapkan generasi penerus, sehingga kegiatan penelitian tidak terhenti sesudah saya pensiun.[]
Best Practice
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Menjadi Research Center Of Excellence
foto dok. umm
U Prof. Dr. Ir. Sujono, M.Kes. Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Malang
niversitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil masuk dalam klaster Mandiri untuk penilaian kinerja penelitian tahun 2010-2012 dan 2013-2015 pada Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Selain UMM, perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang berada dalam klaster Mandiri ialah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Pada penilaian tahun 2007-2009, UMM termasuk dalam klaster Madya, dan pada periode penilaian berikutnya, UMM melompat dua tingkat. Prestasi-prestasi ini diraih dengan kerja keras semua pihak. Upaya untuk melompat dan mencapai klaster Mandiri membutuhkan napas panjang, dan mempertahankan status klaster Mandiri memerlukan napas yang lebih panjang lagi. Kami akan memaparkan kerja keras yang kami lakukan dalam mencapai prestasi-prestasi tersebut. Mencapai Klaster Mandiri UMM membuat enam kebijakan untuk mencapai klaster Mandiri. Pertama, UMM memperkuat manajemen pengelolaan penelitian di DPPM dengan melakukan pembinaan pada aspek sumber daya penelitian, manajemen penelitian, luaran penelitian dan revenue yang diperoleh sebagai tindak lanjut dari hasil-hasil penelitian yang dihasilkan Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 23
Best Practice para peneliti. Kedua, UMM membentuk tim penjamin mutu penelitian di tingkat universitas, yang bertugas memantau dan menjamin pelaksanaan penelitian sesuai dengan SOP (standard operating procedure). SOP ini mencakup prosedur-prosedur standar kegiatan rekrutmen, review internal, desk evaluasi proposal penelitian, seminar pembahasan proposal penelitian, penetapan pemenang, kontrak penelitian, monitoring dan evaluasi (monev) internal, seminar hasil penelitian internal, pelaporan hasil penelitian, tindak lanjut hasil penelitian (publikasi di jurnal, pengurusan Hak Kekayaan Intelektual, teknologi tepat guna) dan luaran penelitian lainnya (model/ prototype, desain, rekayasa sosial, dan buku ajar), serta kegiatan pelatihan dan sistem penghargaan (reward) untuk peneliti berprestasi. Di samping itu, juga para peneliti mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah di tingkat regional, nasional dan internasional. Ketiga, UMM melakukan pembinaan kepada para dosen dan peneliti di UMM secara rutin dengan melakukan kegiatan klinik penyusunan proposal, baik untuk skema desentralisasi maupun kompetitif nasional. Keempat, UMM melakukan workshop dan klinik penyusunan artikel ilmiah untuk jurnal nasional dan internasional melalui kerja sama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kemenristekdikti dan dengan instansi dan perguruan tinggi lainnya. Kelima, UMM mendorong para peneliti untuk melakukan program hilirisasi dan komersialisasi dari hasil penelitiannya, terutama dari skema Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) dan penelitian kompetitif nasional lainnya. Keenam, UMM mendorong para peneliti untuk selalu meng-update data evaluasi kinerja penelitiannya di Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Simlitabmas) pada situs www.simlitabmas.dikti.go.id. Kebijakan-kebijakan ini direspons dengan sangat baik dan antusias oleh para dosen, karyawan dan mahasiswa. Mereka mendukung kebijakankebijakan dan upaya-upaya yang dilakukan DPPM untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil penelitian. Setelah UMM mencapai klaster Mandiri pun, mereka tetap menyokong upaya-upaya untuk mempertahankan status klaster Mandiri karena akan berdampak langsung dan nyata pada kegiatan penelitian dan kompetensi serta eksistensi dosen UMM dalam melakukan Catur Dharma perguruan
24 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
tinggi. Dan, mempertahankan posisi pada klaster Mandiri jauh lebih sulit daripada mencapainya. Dosen dan karyawan bekerja keras dengan penuh semangat dan tak lupa berdoa. Kerja keras dan doa mereka diperkuat dengan komitmen dari jajaran pemimpin kampus dan lembaga-lembaga untuk terus berkarya di tingkat nasional dan internasional. Kami semua melakukannya secara sinergis, integratif dan kompetitif. Bagi kami, bekerja adalah ibadah; meneliti merupakan bagian dari ibadah; dari Muhammadiyah untuk bangsa. Komitmen jajaran pemimpin mewujud dalam pengalokasian dana sebesar 10% sebagai supporting system untuk pengembangan kegiatan penelitian. Wujud lainnya adalah penyediaan sarana dan prasarana atau infrastruktur pendukung penelitian, yakni laboratorium/studio, pusat studi/kajian, sentra HKI, inkubator hasil riset dan lahan/kebun percobaan. Komitmen ini meneguhkan kebijakan dan upaya UMM untuk mencapai klaster Mandiri. Memacu Riset UMM telah membuat Rencana Induk Penelitian (RIP) yang merupakan grand design penelitian kampus. RIP menjadi rujukan seluruh penelitian di UMM. RIP juga menjadi persyaratan bagi kampus yang akan dinilai oleh Kemenristekdikti dalam hal kinerja risetnya. Selain merujuk ke RIP, penelitian-penelitian juga mengacu ke standar mutu penyelenggaraan penelitian, luaran yang dihasilkan dan kontribusi penelitian pada kebutuhan masyarakat. Tahap dan proses penelitian mengacu ke standar mutu penyelenggaraan penelitian. Penelitian tentu harus menghasilkan luaran yang bermanfaat secara praktis. Penelitian juga mesti memenuhi kebutuhan masyarakat: menyelesaikan masalah masyarakat atau mengaktualisasikan potensi masyarakat. Misalnya, penelitian menghasilkan teknologi tepat guna (TTG) yang berguna bagi masyarakat atau bernilai komersial dalam industri. Hasil atau produk penelitian yang bernilai komersial ini sangat didukung oleh kampus. Sebab, komersialisasi produk penelitian membawa banyak dampak positif. Produk penelitian yang diproduksi massal dan dijual di pasaran akan memberikan dampak positif ilmiah dan ekonomis bagi peneliti. Ini juga berdampak bagi pengembangan industri. Masyarakat sebagai konsumen juga merasakan dampaknya. Produk penelitian yang sudah dikomersialisasikan
UMM Menjadi Research Center of Excellence
boleh dikata menjadi suatu inovasi. Sebagaimana kita ketahui, inovasi merupakan salah satu pendukung daya saing bangsa dalam kancah global, dan inovasi dihasilkan dari penelitian. Sehingga, proses penelitian yang bagus dan menghasilkan produk yang komersial dan inovatif turut meningkatkan daya saing bangsa Indonesia. Selain komersialisasi, wujud lain dari hilirisasi penelitian adalah publikasi hasil-hasil penelitian dan pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). UMM mendorong para peneliti untuk melakukan hilirisasi penelitian terutama dari skema PUPT dan penelitian kompetitif nasional lainnya. Publikasinya dilakukan melalui pengiriman artikel-artikel ke jurnal-jurnal nasional dan internasional yang terakreditasi dan terindeks dan penerbitan buku-buku direktori abstrak penelitian dan direktori kepakaran dan inovasi penelitian dosen UMM. Publikasi juga dilakukan melalui koran, media audio visual, dan media sosial lainnya. Tak ketinggalan, kegiatankegiatan seminar, lokakarya, konferensi dan ekspose hasil-hasil penelitian di tingkat regional, nasional dan internasional menjadi media publikasi hasil penelitian dosen-dosen UMM. Selain itu, UMM pun mendorong pengurusan HKI. Kampus juga mendorong para peneliti UMM untuk melakukan kerja sama penelitian dengan peneliti-peneliti dari kampus atau instansi lain, negeri dan swasta. Kami menjalin kemitraan dan kerja sama dengan perguruan tinggi asing/luar negeri, terutama dari Jepang, Korea, China, India dan Australia dalam kegiatan-kegiatan riset kolaboratif. Kami pun menjadi pemateri, pemonitor dan evaluator, dan penilai proposal serta pembina klinik proposal bagi perguruan-perguruan tinggi lain, khususnya di lingkungan PTMA. Kami menjalin kemitraan dan kerja sama dalam mempublikasikan hasil-hasil penelitian melalui jurnal nasional dan internasional dan melalui kegiatan seminar, kolokium di tingkat nasional dan internasional. Kendala dan Solusi Upaya-upaya untuk mencapai klaster Mandiri dan mempertahankannya bukan tanpa kendala. Kendala-kendala yang dihadapi UMM adalah sebagai berikut: pertama, kekurangdisiplinan para peneliti untuk selalu meng-update kinerja penelitian mereka di Simlitabmas secara rutin dan periodik; kedua, lemahnya kaderisasi peneliti-peneliti junior yang kepangkatannya belum memenuhi prasyarat untuk ikut terlibat dalam pelaksanaan skema PUPT yang
menjadi fokus penelitian klaster Mandiri. Kendala ketiga adalah hilirisasi dan komersialisasi produk penelitian masih perlu digenjot dengan banyak publikasi dan jejaring kerja sama dengan dunia usaha dan industri serta stakeholders lainnya. Terakhir, kendala keempat ialah banyaknya kompetitor perguruan tinggi lain yang sangat kompetitif dan mempunyai keunggulan di kancah nasional dan internasional. Untuk menyelesaikan kendala-kendalah tersebut, UMM menempuh solusi-solusi sebagai berikut: pertama, selalu mengingatkan para peneliti untuk melakukan updating data kinerja penelitian; kedua, melakukan pembinaan dan kaderisasi pada penelitipeneliti junior untuk ikut nyantrik atau terlibat dalam PUPT sebagai enumerator, serta mendorong mereka untuk mengurus kepangkatan (JAFA), sehingga pada periode atau tahun berikutnya mereka dapat menjadi anggota peneliti pada skema PUPT. Solusi ketiga ialah membangun jejaring dan melakukan kerja sama dengan dunia usaha dan industri serta stakeholders lainnya untuk melakukan program hilirisasi dan komersialisasi produk penelitian yang dihasilkan peneliti. Keempat, UMM meningkatkan kompetensi sumber daya manusia terutama peneliti dan pengelola/teknisi penelitian dengan mengikutkan mereka dalam program pelatihan dan upgrading kegiatan penelitian dan sistem pengelolaannya. Setelah dosen-dosen bekerja keras dalam penelitian, kampus memberikan penghargaan kepada para dosen-peneliti. Kampus memberikan anugerah dan reward pada para peneliti terbaik di UMM setiap tahun dengan mengadakan ajang “Pemilihan Peneliti dan Pengabdi Terbaik UMM�. Para peneliti diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan penelitian dengan mengambil beberapa skema penelitian di lingkungan internal (dana dari dalam kampus) dan eksternal (dana dari luar kampus). Ke depan, kami bermimpi untuk menjadi center of excellence kegiatan riset dan pengkajian di lima bidang utama, yaitu: (1) energi, (2) pangan, (3) kesehatan dan lingkungan, (4) sosial dan humaniora, (5) pendidikan dan psikologi. Dengan kegiatankegiatan penelitian yang berkualitas ini, kami ingin berkontribusi nyata dalam meningkatkan daya saing bangsa, mendorong kemajuan bangsa Indonesia dan kemajuan umat Islam serta kemajuan dunia yang lebih beradab dan bermartabat. Kemajuan penelitian perguruan tinggi adalah bagian dari kemajuan peradaban dunia.[]
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 25
Best Practice
foto dok. um ponorogo
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
Melompat dari Klaster Binaan ke Klaster Utama
U Dr. Bambang Widyahseno, M.Si. Wakil Rektor III UM Ponorogo tahun 20162020& Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat tahun 2009-2016
Rizal Arifin, M.Si., Ph.D.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UM Ponorogo tahun 2016-2020
26 Warta PTM
niversitas Muhammadiyah Ponorogo berhasil meningkatkan kinerja riset dosen-dosennya, sehingga peringkatnya melompat dua tingkat dari klaster Binaan ke klaster Utama. Lompatan ini dikukuhkan dengan Surat Edaran Nomor 2331/ DRPM/TU/2016 dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tertanggal 18 Agustus tahun 2016 yang menyatakan bahwa Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UM Ponorogo) termasuk dalam klaster Utama dalam bidang penelitian. Ini merupakan hasil penilaian kinerja riset perguruan tinggi (PT) oleh Kemenristekdikti selama tiga tahun, 2014-2016. Pada penilaian periode sebelumnya (2010-2012), UM Ponorogo masih berada dalam klaster Binaan, klaster paling bawah. Pada periode 2010-2012, penilaian kinerja riset PT masih dilakukan secara manual. UM Ponorogo menyampaikan kinerja risetnya dalam bentuk cetak ke Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah 7. Dari sini, Direktorat Pendidikan Tinggi melakukan penilaian, dan kemudian hasilnya diumumkan pada tahun 2014 bahwa UM Ponorogo berada dalam klaster Binaan.
Edisi September - Oktober 2016
UM Ponorogo Melompat dari Klaster Binaan Ke Klaster Utama
Menggenjot Pelatihan dan Pendampingan Hasil ini memicu UM Ponorogo untuk berbenah. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UM Ponorogo merancang pembenahan ini. Pertama-tama, mereka mengundang para pakar penelitian dan reviewer proposal penelitian untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada dosen-dosen UM Ponorogo. Para pakar itu memotivasi dosen-dosen untuk melakukan penelitian dan juga melatih mereka dalam metodologi penelitian. Dosendosen jadi bersemangat untuk meneliti dan memiliki pengetahuan yang mendalam dan keahlian perihal metodologi penelitian. Para reviewer juga memberikan pelatihan dan pendampingan tentang kiat-kiat untuk membuat proposal penelitian yang baik. Proposal perlu dibuat dengan baik untuk menyampaikan pemikiranpemikiran yang brilian. Proposal yang baik juga bisa mengomunikasikan pemikiran-pemikiran tersebut kepada pembacanya. Di sini, dosen-dosen UM Ponorogo berlatih menyusun proposal yang bagus. Kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam penelitian ini merupakan langkah awal untuk membenahi kinerja risetnya. Motivasi dosen dan kemampuan untuk menyusun proposal dan melakukan penelitian adalah dua hal penting. Sehingga, dosen-dosen dimotivasi dan terus didorong untuk menyiapkan penelitian-penelitian mereka. Mereka juga sudah dibekali dengan kemampuan untuk melakukan penelitian yang berkualitas. Gelontor Dana Langkah awal tersebut didukung penuh oleh pihak universitas. Universitas menganggarkan dana penelitian dan tak segan-segan untuk menggelontorkan banyak dana. Pelatihan dan pendampingan yang dilaksanakan secara terus-menerus tentu membutuhkan dana. Pihak universitas menyokong sepenuhnya langkah-langkah pembenahan ini. Dana internal kampus digelontorkan tak hanya untuk kegiatan pelatihan dan pendampingan, tetapi juga untuk melakukan penelitian itu sendiri. Pihak universitas meningkatkan anggaran dana penelitian untuk menggiatkan dosen-dosen dalam mengadakan berbagai penelitian. Sehingga, para dosen bersemangat dan berlomba-lomba untuk membuat proposal penelitian yang bermutu dan melaksanakan penelitian dengan serius. Dana eksternal dari Kemenristekdikti dan instansiinstansi pemerintah lain serta dari lembaga-lembaga swasta menjadi incaran berikutnya bagi dosen-dosen
UM Ponorogo. Pemerintah menyediakan banyak dana penelitian melalui Kemenristekdikti, Lembaga Pengelola Dana Penelitian (LPDP), kementeriankementerian lain, dan instansi-instansi pemerintah daerah. Dana-dana ini sengaja ditawarkan dan diperuntukkan guna membiayani penelitian yang hasilnya bermanfaat bagi kampus, masyarakat dan bangsa. Dosen-dosen UM Ponorogo pun menyambut baik tawaran-tawaran tersebut. Sehingga, banyak dosen menghelat penelitian-penelitian dengan dana yang bersumber dari pihak eksternal kampus. Dana-dana internal dan eksternal kampus diperuntukkan juga untuk kegiatan-kegiatan pascapenelitian. Kegiatan-kegiatan pascapenelitian disebut dengan hilirisasi penelitian yang berupa publikasi hasil penelitian di jurnal-jurnal ilmiah nasional dan internasional, pengurusan paten dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), pemanfaatan hasil penelitian secara praktis dalam kehidupan masyarakat, diseminasi hasil penelitian dalam konferensi dan seminar nasional dan internasional, aplikasi hasil penelitian ke dunia industri, dan penulisan hasil penelitian dalam bentuk buku. Dosen-dosen UM Ponorogo menyerap dana-dana penelitian ini untuk menggarap hilirisasi penelitian mereka. Menggalang Kerja Sama Upaya lain yang dilakukan UM Ponorogo ialah menggalang kerja sama dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi negeri dan swasta besar yang berprestasi dan juga dengan instansi-instansi pemerintah daerah. UM Ponorogo menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),
Langkah awal tersebut didukung penuh oleh pihak universitas. Universitas menganggarkan dana penelitian dan tak segan-segan untuk menggelontorkan banyak dana. Pelatihan dan pendampingan yang dilaksanakan secara terus-menerus tentu membutuhkan dana. Pihak universitas menyokong sepenuhnya langkah-langkah pembenahan ini.
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 27
Best Practice Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan universitas-universitas negeri di Jawa Timur. Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo dan Provinsi Jawa Timur juga menjadi mitra penelitian. Kerja sama ini berbentuk pelatihan dan pendampingan, penelitian bersama, dan lainlainnya. UMM, UMS dan universitas-universitas negeri yang berprestasi memiliki pakar-pakar penelitian, dan mereka diundang ke UM Ponorogo untuk memberikan pelatihan dan pendampingan seperti yang telah dipaparkan di atas. Para pakar itu biasanya juga merupakan reviewer proposal penelitian yang mengerti betul bagaimana proposal penelitian yang berkualitas. Mereka menularkan ilmu dan pengalamannya kepada dosen-dosen UM Ponorogo. Dosen-dosen UM Ponorogo juga melakukan joint research dengan para dosen dari universitas-universitas yang disebutkan tadi. Penelitian bersama ini memiliki nilai plus, karena di sini para peneliti saling berbagi ilmu dan pengalaman untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil penelitian. Penelitian bersama juga dihargai dengan kredit poin yang lebih tinggi dalam program-program penelitian dan akreditasi kampus. Pemerintah daerah pun memerlukan peneliti-peneliti dari UM Ponorogo untuk membantu merumuskan kebijakan dan mengimplementasikannya. Pemerintah daerah juga mendorong kegiatan penelitian dan membutuhkan hasil-hasil penelitian sebagai referensi untuk membuat kebijakan. Maka, dosen-dosen UM Ponorogo terlibat dalam kerja sama penelitian ini. Langkah-langkah dan upaya-upaya UM Ponorogo ini direspons dengan sangat baik oleh para dosen.
Dengan langkah-langkah pembenahan tersebut, UM Ponorogo kini telah memanen hasilnya. Semangat dan kinerja para dosen meningkat secara bertahap, dan sekarang tingkat partisipasi dosen UM Ponorogo yang berNIDN (Nomor Induk Dosen Nasional) dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat meningkat jadi 85%.
28 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Mereka kini sangat antusias dan bersemangat untuk mengadakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat menjadi wadah untuk memanfaatkan hasil penelitian mereka secara praktis dan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Kendala dan Solusi Semua langkah dan upaya tersebut tak lepas dari kendala. Salah satu kendala yang dihadapi UM Ponorogo adalah tidak dapat menyerap dana-dana penelitian dengan skema yang besar. Sementara ini, dosen-dosen UM Ponorogo mengajukan proposalproposal penelitian dengan skema pendanaan yang tidak terlalu besar. Dengan perkataan lain, kendalanya adalah bahwa pengajuan dan penawaran dananya tidak cocok. Apa solusinya? Salah satu solusi untuk menyelesaikan kendala ini adalah mengadakan percepatan kualifikasi peneliti dengan mendorong para dosen UM Ponorogo untuk segera menempuh pendidikan S-3 dan memiliki jabatan akademik yang sesuai untuk mengusulkan skema penelitian dengan pendanaan yang cukup besar. Maka, dosen-dosen UM Ponorogo bergegas untuk melanjutkan pendidikan doktoral di dalam dan luar negeri. Apalagi, sekarang tersedia banyak beasiswa juga dari dalam dan luar negeri. Kendala lain atau, lebih tepatnya, tantangan ke depan UM Ponorogo dalam penelitian adalah hilirisasi ke dunia industri. Sampai saat ini, hasil-hasil penelitian dosen UM Ponorogo belum merambah ke jagat industri. Artinya, hasil-hasil penelitian tersebut belum menjadi produk yang diproduksi massal dan dijual ke pasar secara komersial. Memanen Hasil Dengan langkah-langkah pembenahan tersebut, UM Ponorogo kini telah memanen hasilnya. Semangat dan kinerja para dosen meningkat secara bertahap, dan sekarang tingkat partisipasi dosen UM Ponorogo yang ber-NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional) dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat meningkat jadi 85%. Mereka telah memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukan penelitian, pengabdian masyarakat, mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal ilmiah, menulisnya dalam bentuk buku, dan mengikuti seminar dan konferensi ilmiah. Kegiatan-kegiatan ilmiah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sangat mendukung akumulasi nilai kinerja dosen. Dosen-dosen
UM Ponorogo Melompat dari Klaster Binaan Ke Klaster Utama
yang akumulasi nilai kerjanya mencukupi akan mendapatkan tunjangan kinerja yang dibayarkan setiap bulan selama satu tahun berjalan. Mereka yang rajin melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta komponen-komponen penilaian lainnya, tentu memiliki nilai kinerja yang mencukupi dan memperoleh tunjangan kinerja. Untuk mendukung kegiatan-kegiatan ilmiah dosen, UM Ponorogo tak hanya memberikan tunjangan kinerja dosen, tetapi juga membangun laboratorium. UM Ponorogo telah mempunyai sejumlah laboratorium untuk menyokong kegiatankegiatan ilmiah dosen dan mahasiswa. Saat ini, UM Ponorogo sedang mengupayakan pembangunan laboratorium terpadu lima lantai untuk meningkatkan kegiatan penelitian sivitas akademika kampus. Semua keberhasilan ini tak luput dari doa para sesepuh
UM Ponorogo dan keikhlasan dosen dan staf UM Ponorogo dalam bekerja. Terakhir, UM Ponorogo bercita-cita untuk menjadi kampus yang unggul dalam bidang penelitian, khususnya di bidang kebudayaan lokal reog dan bidang sosial masyarakat Ponorogo. Namun, ke depan, kampus ini akan memperluas garapan penelitiannya ke bidang sains dan teknologi. UM Ponorogo sebagai kampus Islam yang unggul di bidang-bidang tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi umat Islam, bagi bangsa Indonesia dalam mempertahankan budaya lokalnya, dan bagi dunia internasional dalam bidang sains dan teknologi.[]
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 29
kinerja
RAKERNAS ALPTK PTM
Merumuskan & Mengeksekusi Program Kerja YOGYAKARTA. Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (ALPTK) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) telah menyelenggarakan beberapa kali kegiatan workshop, Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan seminar. Kegiatan-kegiatan ini diselenggarakan dengan kerja sama antara Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang), ALPTK PTM dan sejumlah PTM. Para peserta kegiatan-kegiatan tersebut adalah wakilwakil dari program studi (prodi) pendidikan atau tarbiyah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada universitas, institut, Sekolah Tinggi Ilmu Kependidikan (STKIP), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI), dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) di lingkungan Muhammadiyah. Kegiatan-kegiatan ini bertujuan untuk menjalin sinergi dan berbagi pengalaman dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas anggota asosiasi. Tujuan lainnya adalah menindaklanjuti regulasi-regulasi pemerintah yang berhubungan dengan penyelenggaraan LPTK, seperti kurikulum yang berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Program Pendidikan Profesi Guru (PPPG), program magang dan lain sebagainya. 30 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Jumlah prodi di 60 LPTK PTM sampai tahun 2016 sebanyak 300 yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, 5% prodi terakreditasi A, 46,3% terakreditasi B, dan sisanya terakreditasi C. Heterogenitas dan kualifikasi yang berbeda-beda ini memungkinkan LPTK PTM untuk saling menimba dan berbagi pengalaman sukses (success story). Salah satu program kerja ALPTK PTM adalah meningkatkan nilai akreditasi prodi yang masih C agar jadi B dan A. Pada kurun waktu 2014-2016, tercatat beberapa kegiatan workshop yang diselenggarakan oleh ALPTK PTM. Misalnya, pada bulan Juli 2014 di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya diselenggarakan workshop Perumusan dan Penetapan Program Learning Outcome (PLO) Kurikulum Program Studi. Selanjutnya, pada bulan Mei 2015 di Universitas Muhammadiyah Makassar, diselenggarakan workshop dan rapat koordinasi untuk merumuskan program-program kerja ALPTK PTM. Pada tanggal 2-4 Februari 2016 di Universitas Muhammadiyah Surakarta, diadakan Rakornas ALPTK PTM. Lalu, pada tanggal 2-4 Agustus 2016 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), diselenggarakan Rakernas ALPTK PTM dan seminar nasional tentang pendidikan.
Rakernas ALPTK PTM Merumuskan & Mengeksekusi Program Kerja
Rakernas di UMSU ini menghasilkan enam rumusan. Pertama, LPTK PTM memberlakukan kurikulum yang mengacu KKNI dan Standar Nasional Pendidikan Guru (SNPG). Kedua, ALPTK PTM merampungkan penulisan Buku Profil Lulusan LPTK PTM 12 Prodi ber-ISBN (Internasional Standard Book Number). Ketiga, LPTK PTM memberlakukan program magang 1, 2 dan 3 dan kuliah kerja
nyata pendidikan (KKN-Dik) di dalam negeri dan luar negeri bagi mahasiswa. Keempat, LPTK PTM melakukan kerja sama antar-PTM dengan mengirim mahasiswa-mahasiswa peserta magang 3 dan KKNDik ke PTM lain. Kelima, ALPTK PTM meresmikan sistem situs www.alptkptm.org. Keenam, ALPTK PTM menyelenggarakan The First Progressive & Fun Education Seminar.[] Dewi Setiyaningsih
PERTEMUAN WAKIL REKTOR DAN DOSEN AIK
Menguatkan AIK Sebagai Distingi Unggulan PTM YOGYAKARTA. Apa yang membedakan perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) dengan perguruan tinggi lain? Salah satunya adalah AlIslam dan Kemuhammadiyahan (AIK). AIK menjadi distingsi unggulan mahasiswa dan lulusan PTM— juga dosen dan karyawan PTM. Namun, masih diperlukan upaya untuk menguatkan AIK sebagai distingsi unggulan PTM. PTM dan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah terus mengupayakan agar AIK benar-benar menjadi ciri khas unggulan PTM. Pada tanggal 10 Agustus 2016 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, diadakanlah pertemuan antara Wakil-wakil Rektor Bidang AIK dan dosen-dosen AIK untuk mengupayakan hal tersebut. Pertemuan ini membahas sejumlah gagasan untuk menjadikan perkuliahan AIK di PTM lebih efektif. Kuliah AIK bertujuan untuk mencerahkan, mencerdaskan, mengimankan dan menggerakkan mahasiswa Muslim PTM. Dengan perkataan lain, AIK berupaya menjadikan mahasiswa-mahasiswa Muslim PTM agar mereka menemukan format Islam yang benar (sesuai dengan dinamika sosial), mengamalkan agama Islam di tengah masyarakat, dan menjadi pemimpin Islam yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, pada tahun 2013, Majelis Diktilitbang (dulu namanya Majelis Dikti) menerbitkan buku Pedoman Pendidikan AIK Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Kemudian, pada tahun 2016, majelis ini juga telah merampungkan penulisan buku AIK III tentang Kemuhammadiyahan. Buku-buku AIK I tentang Kemanusiaan dan Keimanan; AIK II ihwal Ibadah, Akhlak dan Muamalah; dan AIK IV perihal Islam dan
foto hanya ilustrasi dok. ummetro
Ilmu Pengetahuan sedang dalam proses penulisan dan penyuntingan. Semua ini merupakan dokumen dan bahan kuliah AIK untuk mendukung pencapaian tujuan-tujuan di atas. Masalahnya adalah bidang AIK di sejumlah PTM belum mendapat alokasi anggaran tersendiri. PTM yang memiliki Wakil Rektor atau Wakil Ketua yang secara khusus membidangi AIK telah mengalokasikan anggarannya. Namun, di PTM yang tidak menempatkan AIK di bidang khusus, tidak ada lokasi anggaran, sehingga perkuliahan AIK dan rangkaian program-programnya tidak digarap secara optimal. Masalah lainnya adalah koordinasi, sistemisasi dan aksi. Secara substantif, materi AIK diajarkan bukan hanya di perkuliahan, melainkan juga dalam aktivitas-aktivitas lembaga-lembaga mahasiswa dan asrama mahasiswa. Maka, diperlukan koordinasi di antara lembaga-lembaga di PTM, juga sistematisasi dan aksi agar aktivitas-aktivitas yang menyangkut AIK tidak tumpang tindih dan berjalan lebih efektif. Semua ini dimaksudkan untuk benarbenar menguatkan AIK sebagai distingsi unggulan PTM.[] Dewi Setiyaningsih Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 31
kinerja
HIBAH PENELITIAN TENTANG MUHAMMADIYAH
Menjadikan PTMA sebagai Think Tank Muhammadiyah YOGYAKARTA. Penelitian dan pengembangan merupakan amanah Muktamar Muhammadiyah ke-47 pada tahun 2015 di Makassar, Sulawesi Selatan. Amanah ini ditujukan secara khusus bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) agar membangun pusat-pusat penelitian dan pengembangan (think tank) untuk menyediakan informasi, data dan analisis mengenai isu-isu kontemporer yang dibutuhkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Untuk merealisasikan amanah tersebut, Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan program “Hibah Penelitian tentang Muhammadiyah�. Hibah penelitian ini bertujuan untuk mendorong dosen-dosen PTMA guna melakukan penelitian tentang topiktopik yang strategis, yakni pendidikan dasar, menengah dan tinggi Muhammadiyah; pelayanan kesehatan amal usaha Muhammadiyah; fatwa tarjih Muhammadiyah; dakwah Muhammadiyah; pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan Muhammadiyah. Tujuan lainnya ialah meningkatkan kinerja riset dosen-dosen PTMA dan, pada gilirannya, meningkatkan kualitas dosen dan kampusnya sebagai think tank Muhammadiyah. Program hibah ini dibagi ke dalam empat
32 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
tahap, yakni (1) pengiriman dan seleksi proposal penelitian tahap pertama pada 20 Oktober-30 November 2016 dan pengumuman hasil seleksi pada bulan Desember 2016, (2) penandatanganan kontrak pada 4-8 Januari 2017, (3) penelitian pada 9 Januari-31 Mei 2017, dan (4) 18 November 2017. Sampai sekarang, panitia sudah menerima banyak proposal penelitian dan kemudian menyeleksinya untuk memilih proposal-proposal terbaik. Syarat-syarat untuk mengikuti program hibah ini adalah (1) dosen PTMA yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN), (2) pendidikan terakhir peneliti minimal S-2, dan (3) jumlah peneliti dalam satu tim maksimal dua orang. Utamanya, PTMA yang belum masuk dalam klaster kinerja penelitian Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sangat diharapkan untuk mendorong para dosennya agar mengirimkan proposal penelitian. Panitia menyediakan dana total hibah penelitian sebesar Rp. 1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Di luar dana tersebut, panitia akan memberikan insentif tambahan kepada para peneliti yang hasilhasil penelitiannya tergolong sangat baik. Insentif akan diberikan lagi kepada mereka yang publikasi hasil penelitiannya dimuat di jurnal-jurnal terindeks. [] Dewi Setiyaningsih
PELANTIKAN PENGURUS ASLAMA PTMA
Mengukuhkan Pengader Asrama
JAKARTA. Pengurus Asosiasi Pengelola Asrama Mahasiswa (Aslama) di perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) tahun 2016-2020 telah resmi dilantik pada tanggal 21 September 2016 di Universitas HAMKA Jakarta. Pelantikan dilakukan oleh Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengurus Aslama telah dikukuhkan sebagai salah satu pengader Muhammadiyah di PTMA. Ketua dan Sekretaris Pengurus Aslama PTMA adalah Ghoffar Ismail, S.Ag., M.Ag. (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) dan Rohmat Suprapto, S.Ag., M.S.I. (Universitas Muhammadiyah Malang). Wakil Ketua 1, 2 dan 3 ialah Miseri, S.H. (Universitas Muhammadiyah Malang), Muamaroh, M.Hum., Ph.D. (Universitas Muhammadiyah Surakarta), dan Dr. Irwan Baadilla, M.Pd. (UHAMKA). Wawan Kusnawan, S.S., M.Pd.I. (Universitas Muhammadiyah Ponorogo) menjadi bendahara. Usai acara pelantikan, diadakan peluncuran buku Standar Pengelolaan Asrama Mahasiswa di PTMA, workshop dan rapat kerja pada hari berikutnya, 22 September 2016. Buku ini berisi visi, misi, tujuan dan delapan standar (1) kompetensi lulusan, (2) isi, (3) proses, (4) penilaian, (5) sumber daya manusia, (6) sarana dan prasarana, (7) pengelolaan, dan (8) pembiayaan. Workshop bertema “Asrama Mahasiswa sebagai Wahana Kaderisasi Pemimpin Muhammdiyah dan
Islam Masa Depan”. Narasumber dalam workshop ini ialah Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., Ir. Firmawan Edwin T., M.T., Dr. Agus Purwanto dan Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A. Lincolin Arsyad menjadi keynote speaker dalam workshop ini. Firmawan Edwin, Kepala Sub Direktorat Pemantauan dan Evaluasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, diundang karena beliau menangani pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang menjadi Asrama Mahasiswa di PTMA. Beliau mengatakan bahwa pembangunan rusunawa sekarang diprioritaskan untuk masyarakat industri, mahasiswa, pesantren, Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia (TNI/POLRI) dan pegawai negeri sipil (PNS). Sementara itu, Agus Purwanto dan Sudarnoto menyampaikan pentingnya pesantren dan sains (trensains) bagi mahasiswa. Kaderisasi mahasiswa Muhammadiyah di asrama harus berfokus pada agama Islam dan sains sebagai bekal untuk menjadi pemimpin masa depan. Agama Islam dan ilmu tak terpisahkan dari kaderisasi mahasiswa Muhammadiyah. Acara ini diakhiri dengan rapat kerja Pengurus Aslama untuk merumuskan program-program kerja dan kemudian mengeksekusinya. Kita berharap Aslama ini bisa mengoptimalkan kaderisasi mahasiswa Muhammadiyah di masa mendatang.[] Dewi Setiyaningsih
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 33
kinerja
SILATURAHMI DAN RAKORNAS PTAIM
foto dok. abujibril.com
Agar Kualitas Akademik Terus Naik JAKARTA. Kualitas akademik tak bisa ditawar, harus terus naik. Meningkatkan kualitas akademik merupakan bentuk komitmen Perguruan Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (PTAIM) demi menjaga kualitas pendidikan. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas akademik dan menjaga mutu pendidikan PTAIM ialah merespons peraturanperaturan terbaru pemerintah dengan cepat. Inilah inti pembicaraan Silaturahmi dan Rapat Koordinasi Nasional PTAIM yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Acara ini dihelat pada hari Selasa-Kamis tanggal 27-29 September 2016 di Universitas Muhammadiyah Jakarta dengan tema “Peningkatan Kualitas Akademik PTAIM yang Unggul dan Berkemajuan”. Kegiatan ini diikuti oleh rektor, ketua, dekan dan ketua program studi dari 176 PTM yang berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi dan akademi yang memiliki Fakultas Agama Islam (FAI). Silaturahmi dan Rakornas ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing PTAIM agar mampu berkompetisi dengan institusi-institusi lain. Maka, PTAIM berbenah diri dalam hal kualitas dosen, kurikulum, peralatan pembelajaran, sarana dan prasarana, dan pendanaan sesuai dengan regulasi
34 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
pemerintah paling gres dan perkembangan zaman. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si., dan Direktur Pendidikan Tinggi Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., hadir sebagai narasumber dalam acara ini. Haedar Nashir membuka acara dan sekaligus menyampaikan materi dengan judul “Peran Strategis Fakultas Agama Islam di Lingkungan PTM dalam Dakwah Persyarikatan Muhammadiyah”. Beliau menyampaikan pentingnya FAI di PTM karena FAI PTM menjadi agen-agen dalam mengembangkan pembelajaran agama Islam dan Kemuhammadiyahan serta dakwah Islam yang berkemajuan. Sementara itu, Amsal Bakhtiar memaparkan “Kebijakan Kementerian Agama dalam Penerapan KPT-KKNI di Lingkungan Perguruan Tinggi Islam dan PPG PAI”. Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT), termasuk PTAIM, sekarang harus menyesuaikan dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Penyesuaian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional, sumber daya manusia dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.[] Iwan Setiawan
kronik
THE 4TH UNIVERSITY RESEARCH COLLOQUIUM PTM
LGBT Bukan Bawaan Genetik
R
iset neurosains terbaru menunjukkan bahwa lesbi, gay, biseksual dan transgender (LGBT) tidak disebabkan oleh keturunan. LGBT bukanlah bawaan genetik, tetapi disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Maka, LGBT jelas merupakan penyimpangan seksual. Neurosains merupakan disiplin yang sedang naik daun karena mampu menjelaskan kehidupan manusia dengan melihat otaknya. Lesbi atau gay memiliki hippocampus, bagian otak yang berfungsi untuk mengingat dan menavigasi ruangan, yang telah membesar. Pembesaran hippocampus ini dikarenakan intervensi lingkungan yang masuk ke dalam otaknya. Pembesaran hippocampus lesbi dan gay mirip dengan apa yang terjadi pada sopir-sopir bis di Kota London. Hippocampus sopir-sopir bus ini membesar dibandingkan dengan hippocampus semula yang hanya sebesar biji kacang sebelum mereka menjadi sopir. Hippocampus mereka membesar karena pengaruh rute bus yang rumit. Sopit-sopir itu harus mempelajari rute-rute bus yang kompleks. Demikian pula, hippocampus lesbi dan gay lebih besar daripada hippocampus bayi. Artinya, pada otak bayi, tidak ditemukan tanda-tanda pembesaran hippocampus gay dan lesbi. Hasil riset ini dengan lugas membantah pendapat lama yang mengatakan bahwa lesbi dan gay merupakan bawaan genetik. Paparan yang menarik tersebut disampaikan oleh Dr. dr. Taufiq Pasiak, M.Pd.I., M.Kes., dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, yang pernah menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Manado dan anggota Tanwir Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Beliau menyampaikannya dalam seminar “Penyimpangan Perilaku Seksual dalam Perspektif Islam dan Neurosains” yang mengawali acara The 4th University Research Colloquium (URECOL) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), Sabtu, 27 Agustus 2016 di STIKES Muhammadiyah Pekajangan, Pekalongan, Jawa Tengah.
Narasumber lainnya adalah Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beliau menjelaskan fenomena LGBT dari perspektif Al-Qur’an. Menurutnya, bahasa Arab dan fitrah manusia dalam Al-Qur’an juga menandaskan bahwa LGBT adalah penyimpangan. Al-Qur’an menyebutkan dua jenis kelamin atau seks manusia, yaitu laki-laki (rajul, zakar) dan perempuan (nisa’, untsa, dan mar’ah). Kata zakar untuk laki-laki dan untsa untuk perempuan menunjukan makna dan fungsi genital dan biologis. Dengan fungsi genital ini, terjadilah hubungan seksual yang ditekankan dalam Al-Qur’an sebagai aktualisasi fitrah manusia. Aktualisasi fitrah manusia ini dilegalkan dalam bentuk pasangan (zauj, azwaj) melalui proses pernikahan. Riset neurosains secara empiris dan riset linguistik dan fitrah manusia dalam Al-Qur’an mendedahkan dengan argumentatif dan gamblang perihal LGBT. Riset-riset semacam ini memuaskan keingintahuan manusia. Tak hanya itu, riset juga amat berguna bagi kehidupan manusia. “Riset sangat penting bagi kemajuan dan kesejahteraan sebuah bangsa,” tandas Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. dan Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam sambutannya pada saat pembukaan URECOL. URECOL keempat ini diadakan oleh Jaringan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. STIKES Muhammadiyah Pekajangan bertindak sebagai tuan rumah. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 255 peneliti dari berbagai PTM. URECOL bertujuan untuk menguatkan kontribusi penelitian-penelitian LPPM PTM bagi Indonesia yang berkemajuan. [] Mukhlis Rahmanto
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 35
kronik
WARTA DARI PTM Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB)
Dua kegiatan penting pada bulan September 2016 dihelat di UMB, yakni Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Peresmian Gedung KH Ahmad Dahlan Kampus IV dan Peresmian Gedung baru KH Ahmad Dahlan. Rakornas LPCR diselenggarakan pada tanggal 6-8 September 2016. Sementara itu, Peresmian Gedung KH Ahmad Dahlan dilakukan oleh Koordinator Kopertis Wilayah II, Prof. Slamet Widodo. Ini merupakan gedung termegah milik perguruan tinggi swasta di Kopertis Wilayah II. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Kendal
Kuliah Umum dilaksanakan di STIT Muhammadiyah Kendal pada tanggal 6 September 2016. Kuliah umum ini disampaikan oleh Dr. Dian Fajarwati, almunus STIT Muhammadiyah Kendal yang baru saja menggondol gelar doktor. Semua mahasiswa mengikuti kuliah umum ini sebagai persiapan pelaksanaan kuliah tahun ajaran baru 2016/2017. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Palopo
Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Ambo Asse, M.Ag., memberikan kuliah umum tentang AlIslam dan Kemuhammadiyahan di hadapan ribuan mahasiswa STIE Muhammadiyah Palopo pada hari Sabtu 10 September 2016. AIK merupakan mata kuliah wajib yang diberikan di PTM. Kuliah umum ini mengawali kegiatan perkuliahan di kampus ini.
Universitas Muhammadiyah Magelang Seminar Nasional dengan tema “Seni Mengemas Pengasuhan Anak dengan Pendekatan Bibliography” diselenggarakan di Aula Fakultas Ilmu Kesehatan di Kompleks Kampus II UM Magelang pada tanggal 1 Oktober 2016. Dr. 36 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Riana mashar, M.Psi. dan Wiji Suwarno, S.Pd.I., S.IPI., M.Hum. menjadi narasumber yang menyampaikan materi dengan judul “Penerapan Pola Asuh dalam Membentuk Pribadi yang Cerdas, Mandiri dan Berkarakter” dan “Kekuatan Buku dalam Membentuk Karakter Pembaca”. Akademi Keperawatan (Akper) Muhammadiyah Cirebon
Nilai akreditasi “B” akhirnya diperoleh Program Studi D-3 Keperawatan Akper Muhammadiyah Cirebon. Hasil akreditasi ini tercantum dalam SK Nomor 0771/LAM-PTKes/Akr/Dip/ VIII/2016 yang dikeluarkan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAMPTKes). Hasil ini merupakan buah kerja keras seluruh sivitas akademika Akper Muhammadiyah Cirebon dan tentu menambah semangat mereka untuk maju. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Kudus
Hasil Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi “B” diperoleh STIKES Muhammadiyah Kudus. Akreditasi “B” juga didapat oleh Program Studi D-3 Kebidanan sekolah tinggi Muhammadiyah ini. Hasil-hasil ini tentu membanggakan dan menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Muhammadiyah di Kudus, Jawa Tengah ini berkualitas. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Pringsewu Lampung
Lima dosen STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung berhasil memperoleh beasiswa studi lanjut dari program Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia Dalam Negeri (BUDI-DN) pada tahun 2016. Mereka adalah Nita Fitria, Muji Sofi, Sofwan Adiputra, Siswoyo, dan Wuri Syaputri. Lima dosen ini akan menempuh Program Doktor di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, dan Universitas Negeri Surabaya.[]
foto dok. unismuh
Wisuda & Sumpah Dokter Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar
UNISMUH Makassar mewisuda 907 sarjana di Balai Sidang Muktamar Kampus UNISMUH Jln. Sultan Alauddin 259, Makassar, pada Sabtu, 27 Agustus 2016. Wisuda ini diisi dengan orasi ilmiah oleh Prof. Dr. Halide, pensiunan Guru Besar Universitas Hasanuddin, Makassar, dengan judul “Integritas, Profesional dan Enterpreneurship untuk Islam Berkemajuan”. Dalam acara wisuda ini, UNISMUH Makassar juga menandatangani tujuh Memorandum of Understanding (MOU) dengan Kementerian Lingkungan Hidup, ‘Aisyiyah, dan media massa. Pada kesempatan ini pula, Rektor UNISMUH Makassar, Dr. Abdul Rahman Rahim S.E., M.M. memberikan penghargaan kepada mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi di tingkat regional, nasional dan internasional. Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember
Unmuh Jember menyelenggarakan Wisuda pada tanggan 27 Agustus 2016 dengan mewisuda 904 sarjana. Para wisudawan berasal dari sepuluh fakultas di Unmuh Jember, yakni 14 orang dari Akademi Pariwisata, 17 orang dari Fakultas Hukum, 287 orang dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 24
orang dari Fakultas Pertanian, 217 orang dari Fakultas Ekonomi, 39 orang dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, 111 orang dari Fakultas Teknik, 24 orang dari Fakultas Psikologi, 148 orang dari Fakultas Kesehatan, 23 orang dari Program Pascasarajana. Wisudawan-wisudawati terbaik adalah sebagai berikut: Kusmiati dari Akademi Pariwisata; Agung Saputra dan Ari Sandi Prastiyo dari Fakultas Hukum; Novi Agustin dan Farid Qusayyi Datu dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan; Ahmad Jaqfar Sodik dan Khalimatus Sa’diyah dari Fakultas Pertanian; Novi Karisma Rurbaroro dan Dian Asih Budiarti dari Fakultas Ekonomi; Linda Amalia dan Nawang Wulan Suyo Seto dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik; Agus Hari Cahyono dan Moh. Arif Wicaksono dari Fakultas Teknik; Anandany Arlita Nastiti dan Yunita Setiyo Tri Wulandari dari Fakultas Psikologi; dan Dyah Mashinta dari Fakultas Ilmu Kesehatan. Sekolah Tinggi Farmasi (STF) Muhammadiyah Tangerang
STF Muhammadiyah Tangerang menggelar Wisuda dan Pengambilan Sumpah Ahli Madya Farmasi Tahun Akademik 2015/2016 pada tanggal 1 September 2016. Jumlah wisudawan-wisudawati sebanyak 55 sarjana D-3 Farmasi dan 62 sarjana Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 37
kronik
foto dok. Unmuh Jembar, UNISA dan UM palembang
S-1 Farmasi. Jumlah ini menjadi bukti nyata langkah dan gerak Persyarikatan Muhammadiyah khususnya di Wilayah Banten sebagai kontribusi pada pembangunan sumber daya manusia. Dalam sambutannya, Ketua STF Muhammadiyah Tangerang, Nita Rusdiana, S.Farm., M.Sc., Apt., mengajak para wisudawan untuk membangun diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Apalagi, untuk menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), wisudawan-wisudawati perlu terus meningkatkan profesionalitasnya agar mereka dapat bersaing dengan tenaga-tenaga farmasi dari negara-negara ASEAN lainnya. Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)
UNISA menyelenggarakan wisuda pada hari Kamis 22 September 2016 di Auditorium Gedung B Kampus Terpadu UNISA. Pada periode ini, UNISA mewisuda 734 sarjana, yang terdiri dari sarjana S-2 Kebidanan, sarjana S-1 Keperawatan, sarjana S-1 Fisioterapi, sarjana D-4 Bidan Pendidik, dan sarjana D-3 Kebidanan. Para wisudawan peraih predikat cumlaude adalah Anggi Wahyu Sudianingrum dari Program Studi S-1 Fisioterapi (IPK 3,99), Kinanti Zidnii Ulfah dari Program Studi S-1 Ilmu Keperawatan (IPK 3,83), Dwi Laely Mei Antika dari Program Studi D-4 Bidan Pendidik (IPK 3,89), dan Endah Dewi Utami dari Program Studi D-3 Kebidanan (IPK 3,80). Selain itu, ada tiga wisudawan peraih predikat cumlaude sempurna dengan IPK 4,00 yaitu Kardi, Budi Dwi Prasetio, dan Samsu Hidayat pada Program Profesi Ners. Wisuda kali ini dihadiri oleh Koordinator Kopertis Wilayah 5 Bapak Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES, DEA. Beliau menjadi tamu kehormatan dan memberikan pidato seraya berharap agar para wisudawan-wisudawati UNISA lebih siap dan terarah dalam menghadapi dunia kerja di masa yang akan datang. Sementara itu, Rektor UNISA Yogyakarta, 38 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
Warsiti, S.Kp, M.Kep, Sp.Mat berpesan kepada para wisudawan-wisudawati untuk terus mengembangkan kemampuan dan selalu berkiprah dalam dunia kerja nasional maupun internasional. Beliau juga berpesan agar para lulusan menjaga nama baik keluarga besar UNISA, sehingga cita-cita lembaga untuk menjadikan para lulusan UNISA sebagai warga dunia yang bertanggung jawab dapat terealisasi melalui karya mereka. Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang
Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang Nomor 1268/E-1/KPTS/FK-UMP/X/2016, sebanyak 25 dokter baru mengikuti Pengambilan Sumpah Dokter Periode I Tahun Akademik 2016/2017 Fakultas Kedokteran UM Palembang. Acara ini digelar pada tanggal 8 Oktober 2016 di Aula Kantor Pusat Administrasi UM Palembang dan dihadiri oleh Badan Pengurus Harian UM Palembang; Rektor UM Palembang Dr. Abid Djazuli, S.E., M.M.; Wakil-wakil Rektor; Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan; Dinas Kesehatan Kota Palembang; Direktur RS BARI Palembang, dr. Hj. Makkiani, M.M.; Direktur RS Muhammadiyah Palembang, dr. Pangestu Widodo, MARS.; Direksi RS Renaldi Bahar Palembang; Direksi RS Bhayangkara Palembang, dr. H.M. Ali Muchtar, M.Sc.; Dekan dan dosen-dosen Fakultas Kedokteran UM Palembang. Dalam sambutannya, Abid Djazuli menyampaikan bahwa alumni Fakultas Kedokteran UM Palembang sekarang berjumlah 234 orang. Beliau menambahkan bahwa Sumpah Dokter merupakan komitmen awal dokter. Beliau berharap para alumni dapat diandalkan di tengah masyarakat, karena tenaga medis sangat dibutuhkan. Di sinilah pentingnya dokter-dokter alumni UM Palembang untuk beradaptasi dengan baik di masyarakat.[] Iwan Setiawan
Glosarium
Research University
R
esearch universitas (universitas riset) menjadi makin penting sekarang ini, sebab riset adalah salah satu kunci untuk mencapai kemajuan. Riset menemukan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi kemajuan kehidupan manusia. Universitas merupakan lembaga yang mampu melakukan riset, selain lembaga-lembaga khusus riset dan perusahaan (industri). Jadi, universitas riset memainkan peran pokok dalam memajukan kehidupan manusia di tingkat lokal, nasional dan internasional. Di Amerika dan Eropa, universitas-universitas gencar melakukan riset untuk mengembangkan ilmu dan, tentu saja para gilirannya, memajukan kehidupan umat manusia. Sebagaimana kita mafhum, disiplindisiplin ilmu dan juga teknologi berkembang dengan cepat melalui riset-riset di universitas—dan lembagalembaga lain—di Amerika dan Eropa. Di Jerman dan Amerika Serikat, universitas riset mempunyai sejarah yang panjang (Clark, Academic Charisma and the Origins of the Research University, 2006; Geiger, To Advance Knowledge: the Growth of American Research Universities, 1900-1940, 1986). Apa sebenarnya pengertian “universitas riset�? Apa pula ciri-cirinya? Artikel pendek ini memaparkan pengertian dan ciri-ciri pokok universitas riset. Pengertian Pada tahun 2013, Association of American Universities (AAU), Group of Eight (GO8), League of European Research Universities (LERU), dan Chinese 9 Universities (C9) mengeluarkan pernyataan bersama tentang universitas riset. Pernyataan bersama ini bertajuk Hefei Statement on the Ten Characteristics of Contemporary Research Universities. Pernyataan ini dibuat untuk merespons perkembangan universitasuniversitas riset yang kian menjadi tumpuan dan andalan
banyak negara untuk meningkatkan kemajuan dan kesejahteraannya. Hefei Statement ini dikutip oleh banyak penulis dalam membincang universitas riset. Universitas-universitas riset di Eropa tumbuh, menurut Breimer dalam Eureka! European Research Universities and the Challenges of the 1st Century (Funnekotter, 2005), juga karena mereka membutuhkan dana. Mereka tak bisa lagi hanya mengandalkan dana dari mahasiswa dan bantuan pemerintah. Maka, riset-riset yang mereka lakukan dan terus kembangkan sebagian dimaksudkan untuk mencari dana guna mengembangkan universitas-universitas tersebut. Dalam Hefei Statement, disebutkan bahwa universitas riset adalah universitas yang mempunyai komitmen serius untuk melakukan riset atau penelitian. Universitas riset memiliki kesungguhan untuk mengadakan riset secara terus-menerus. Komitmen dan kesungguhan ini diwujudkan dalam (1) pelaksanaan banyak aktivitas riset yang membuahkan hasil-hasil riset yang sangat bagus pada berbagai disiplin ilmu dan (2) penumbuhan budaya riset yang menyelap ke seluruh aktivitas pengajaran, pemelajaran dan kerja sama dengan jagat bisnis dan pemerintah. Pengertiannya sederhana, tetapi implikasinya luar biasa. Universitas riset melakukan banyak riset, dan aktivitas-aktivitas riset yang berkualitas niscaya menyedot pemikiran, energi, dana dan waktu bukan hanya dari para peneliti, tetapi juga dari pihak-pihak yang terlibat. Peneliti tentu perlu mengidentifikasi masalah dan kebutuhan teoretis dan praktis dan membaca banyak referensi untuk membuat proposal penelitian yang baik. Kemudian, pengambilan dan pengolahan data juga memerlukan kecermatan dan energi agar bisa melahirkan hasil-hasil penelitian yang bagus. Riset membutuhkan dana dan waktu. Besaran dananya bergantung pada besar-kecilnya riset dan
Edisi September - Oktober 2016
Warta PTM 39
Glosarium bidangnya. Riset-riset tertentu membutuhkan banyak sekali dana, tetapi sebagian riset lain memerlukan lebih sedikit dana. Riset-riset besar tentu juga membutuhkan waktu yang lama, bertahun-tahun. Sebaliknya, riset-riset kecil bertenggat singkat. Implikasi lainnya yang luar biasa menyangkut aktivitas perkuliahan. Riset tak terpisahkan dari aktivitas kuliah, karena hasil-hasil riset terbaru dipakai dalam perkuliahan. Hasil-hasil riset terbaru menjadi bahan kuliah yang bagus sekali bagi mahasiswa. Di sini, mahasiswa di universitas-universitas riset beroleh keuntungan, lantaran mereka bisa mengikuti perkembangan-perkembangan ilmiah paling anyar. Ciri-ciri Pokok Hefei Statement menyebut sepuluh ciri pokok universitas riset. Pertama, universitas riset selalu berupaya untuk mencapai kesempurnaan dalam semua hal. Rekrutmen dosen dan karyawan, seleksi mahasiswa, aktivitas kuliah, administrasi, dan penelitian—semuanya diupayakan agar sempurna. Upaya untuk senantiasa mencapai kesempurnaan ini merupakan ciri seorang peneliti dan universitas riset. Kedua, universitas riset menghasilkan banyak riset yang dikenal oleh masyarakat. Para peneliti di universitas riset mempublikasikan hasil-hasil riset mereka di jurnal, koran, majalah, televisi, internet, forum seminar dan sebagainya. Sehingga, hasil-hasil riset mereka diketahui oleh masyarakat luas. Ketiga, universitas riset mempunyai komitmen untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan riset, terutama melalui program pendidikan doktor. Pelatihan riset ini utamanya ditujukan untuk dosen-dosen muda dan mahasiswa-mahasiswa internal untuk meningkatkan kemampuan riset mereka. Dengan peningkatan kemampuan riset ini, sarjana-sarjana S-1, S-2 dan S-3 lulusan universitas riset diharapkan berperan untuk melakukan riset-riset di masa depan. Keempat, universitas riset mempunyai komitmen untuk menjalankan aktivitas perkuliahan yang berkualitas pada semua strata sehingga melahirkan lulusan-lulusan yang memberi kontribusi bagi kehidupan nasional. Kelima, universitas riset komit pada integritas dan etika riset. Riset dilakukan secara ilmiah tanpa bias kepentingan politik, ekonomi dan seterusnya yang merusak keilmiahan riset. Keenam, universitas riset memberikan kebebasan akademis yang bertanggung jawab kepada sivitas akademikanya untuk mengembangkan ilmu dan mempublikasikan temuan-temuan mereka. Ketujuh, universitas riset menghargai perbedaan pandangan, perspektif, kerangka pikir dan pendapat sivitas 40 Warta PTM
Edisi September - Oktober 2016
akademikanya. Perbedaan-perbedaan ini memperkaya pemikiran dan mendukung kemajuan riset. Kedelapan, universitas riset memiliki wewenang untuk menentukan prioritas program-programnya. Wewenang ini tidak didikte oleh kepentingan-kepentingan tertentu, tetapi universitas riset tetap responsif terhadap masalah-masalah dan potensi masyarakat. Kesembilan, universitas riset komit untuk mendukung kesejahteraan masyarakat lokal, nasional dan internasional. Risetrisetnya dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kesepuluh, universitas riset mempunyai tata kelola (governance) yang terbuka dan transparan dan bertanggung jawab. Sementara itu, Arthur Bienenstock, seorang guru besar di Stanford University (Essential Characteristics of Research Universities dalam Hebe Vessuri & Ulrich Teicher, eds., 2008, Universities as Centres of Research and Knowledge Creation: An Endangered Species), mencatat delapan ciri universitas riset. Sebagian ciri ini sama dengan ciri-ciri yang dipaparkan dalam Hefei Statement di atas. Pertama, dosen, mahasiswa dan karyawan di universitas riset mempunyai kualitas dan komit pada riset. Kedua, mahasiswa-mahasiswa pascasarjana di universitas riset mempunyai keinginan yang kuat untuk melakukan riset. Ketiga, universitas riset memiliki iklim intelektual yang mendorong sivitas akademiknya untuk mencari beasiswa. Keempat, universitas riset memiliki fasilitasfasilitas yang mendukung aktivitas-aktivitas pengajaran dan riset yang efektif. Kelima, universitas riset memiliki cukup dana untuk biaya operasional dan pengajaran. Keenam, universitas riset mempunyai anggaran dana untuk melakukan riset. Selain mencari dana riset dari sumber-sumber eksternal, universitas riset memiliki anggaran riset sendiri. Ketujuh, universitas riset memiliki infrastruktur riset. Universitas riset mempunyai lembaga khusus yang menangani riset untuk membantu para peneliti dalam melakukan penelitian. Lembaga ini juga mengurusi alat-alat yang dibutuhkan dalam penelitian. Kedelapan, universitas riset memiliki kepemimpinan yang berkualitas. Alhasil, universitas riset tak hanya berfokus pada riset, tetapi juga pada pengajaran dan pemelajaran di universitas dan juga kesejahteraan masyarakat. Riset yang berkualitas membutuhkan dukungan tata kelola dan kepemimpinan universitas yang baik, serta dana internal dan eksternal yang memadai. Riset dilakukan untuk mengembangkan universitas dan memajukan kehidupan masyarakat lokal, nasional dan internasional. Maka, tak berlebihan bila diharapkan bahwa makin berkembang universitas-universitas riset, makin maju pula kehidupan umat manusia.[]