TOPIK UTAMA Jangan Konflik
PROFIL PTM Universitas Muhammadiyah Magelang: Unggul & Islami di Kaki Gunung Tidar
WARTA PTM
Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian & Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Dari Bawah,
PTMA Tumbuh
Tidak bisa dimungkiri, judul di atas menggambarkan realitas lahirnya 175 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang eksis saat ini. Inisiatif lahirnya PTMA memang bisa datang dari PWM, PDM, bahkan PCM, ataupun dari anggota Muhammadiyah yang mengusung gagasannya untuk membuat perguruan tinggi melalui berbagai level “birokrasi” Muhammadiyah yang ada.
www. diktilitbangmuhammadiyah.org
Edisi NovemberDesember 2017
Asa
Dari Bawah, PTMA Tumbuh
T Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tahun 2015-2020
idak bisa dimungkiri, judul di atas menggambarkan realitas lahirnya 173 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang eksis saat ini. Inisiatif lahirnya PTMA memang bisa datang dari PWM, PDM, bahkan PCM, ataupun dari anggota Muhammadiyah yang mengusung gagasannya untuk membuat perguruan tinggi melalui berbagai level “birokrasi� Muhammadiyah yang ada. Betul, kini pengajuannya oleh PWM dan diproses oleh Majelis Diktilitbang. Namun, asal-muasalnya selalu bottom up, dari akar rumput yang kemudian dikerjakan bersama-sama sehingga menjadi PTMA seperti yang ada sekarang. Dalam sedikit kasus, ada juga PTMA yang pengelolaannya dialihkan dari yayasan lain ke Muhammadiyah. Tetapi, jika ditelusuri lebih lanjut, alur gagasannya pun sama. Asal-muasalnya dari masyarakat yang terpanggil untuk ikut mencerdaskan anak bangsa ini, sebagaimana K.H.A. Dahlan yang sejak sebelum melahirkan Muhammadiyah telah membuat sekolah-sekolah, yang kemudian dari ide itu berkembang ribuan sekolah dan perguruan tinggi di bawah panji Muhammadiyah. Tetapi, sebetulnya munculnya lembaga pendidikan tinggi dari bawah ini bukan milik Muhammadiyah saja. Banyak PT lain yang juga lahir dengan gagasan dari bawah. Namun, belakangan muncul model-model pembuatan PT yang didesain dari atas: dari para pemodal besar. PT digagas dari atas, dan dalam tempo singkat lahir perguruan tinggi yang tibatiba saja muncul dengan sarana dan prasarana modern, serta dosen-dosen dengan latar belakang pendidikan tinggi yang mapan, seperti S-2 dan S-3 serta para tenaga pengajar yang kompeten dan bergaji besar. Pola big push seperti ini memang mampu melahirkan PT baru dengan cepat, dengan manajemen korporasi modern dan profesional. Ini merupakan pesaing bebas bagi PT-PT yang tumbuh bertahap, gradual, yang tumbuh lebih karena semangat pengabdian seperti PTMA-PTMA. Itulah yang terjadi pada ranah perguruan tinggi Indonesia saat ini. Persaingan bebas antara PT yang didukung pemodal besar dan PT yang lahir dari bawah, yang menurut Forlap Dikti saat tulisan ini dibuat berjumlah 4.560 buah, dan 4.163 di antaranya adalah PTS. Persaingan keras ini membuat banyak PT kecil megap-megap (terengah-engah), dan hidup seadanya dengan kuantitas mahasiswa dan kualitas yang terbatas. Bagaimana dengan PTM? PTM yang tumbuh dari bawah ini umumnya memiliki semangat juang tinggi. Ia sudah terbiasa tumbuh dalam suasana perjuangan keras, bekerja dengan ketulusan dan keikhlasan, sehingga tantangan dan g  odaan seperti apa pun, umumnya bisa dilewati. Maka, tidak mengherankan jika Edisi Edisi November-Desember 2017
Warta PTM
1
Susunan redaksi kita melihat peta perguruan tinggi nasional, kuantitas dan kualitas PTM masih unggul dibandingkan dengan PT lainnya. Dari sisi kuantitas misalnya, tak ada lembaga atau yayasan lain—kecuali pemerintah—yang memiliki PT dan mahasiswa sebanyak Muhammadiyah. Dari sisi kualitas, dengan merujuk pada jumlah PT yang terakreditasi dan nilai akreditasinya, PTM di atas rata-rata nasional. Misalnya, saat ini ada lima PTM—dan ini akan terus bertambah—yang terakreditasi institusi “A”. Sudah sekitar 50% PTM terakreditasi institusi, sementara PT nasional yang belum terakreditasi institusi tidak sampai separuhnya. Itu membuat kita bangga dan yakin PTM akan terus berkembang. Namun, di tengah persaingan yang kian ketat ini, ghirah dan ketulusan saja tidak cukup. Pengelolaan PTM harus dengan manajemen yang profesional. Profesionalisme yang dipadukan dengan ketulusan dan semangat pengabdian yang tinggi akan membuat PTM menjadi besar, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa PTM seperti Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA dan lain-lainnya. Kini, masyarakat menuntut PT yang memiliki sarana dan prasrana memadai. Menuntut dosen berkualitas. Menuntut teknologi informasi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Ini sudah bisa dipenuhi oleh sebagian PTM kita, sehingga posisinya berada jauh di atas rata-rata PTS lainnya di tanah air. Namun, profesionalisme juga menuntut kontr-
WARTA PTM
aprestasi yang layak bagi dosen dan tenaga kependidikannya. Ini tidak boleh dilupakan oleh para pimpinan PTM. Agar bisa tumbuh, unggul, berdaya saing dan berkemajuan, PTM memerlukan sumber daya manusia yang fokus pada kerja utamanya. Agar mereka bisa fokus, bisa menghidup-hidupkan Muhammadiyah, maka kehidupan mereka perlu dijamin lebih baik. Ini harus menjadi perhatian kita semua. Tentu saja, semua itu harus sesuai dengan daya dukung masing-masing PTM. Tumbuhnya PTM dari akar rumput jelas menjadi aset berharga bagi Persyarikatan Muhammadiyah. Ini masih belum berhenti, dan kita harapkan berlangsung terus sampai akhir zaman. Tidak hanya berkiprah di tanah air, tetapi ladang dakwah Muhammadiyah bisa di mana pun di atas jagad ini. Dan kini, pendidikan Muhammadiyah sudah mulai merintis era baru dengan masuk ke mancanegara. PTM pun akan menuju ke sana. Tetapi sekali lagi, ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengelolaan PTM secara profesional merupakan suatu keniscayaan jika kita ingin menuju ke arah itu. Menjadi perguruan tinggi bereputasi dunia merupakan cita-cita semua PTM. Reputasi itu dibangun bertahap. Karenanya, PTM di daerah, misalnya, bisa memulai membangun reputasi pada tingkat lokal, dan berkembang pada level regional dan nasional, kemudian pada tingkat global. Dengan semangat dari bawah, dari daerah, kita membawa PTM-PTM menuju tingkat internasional. Insya Allah, barokallah.[]
Warta PTM diterbitkan oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah SUSUNAN REDAKSI
PENANGGUNG JAWAB: Lincolin Arsyad PEMIMPIN UMUM/REDAKSI: Edy Suandi Hamid DEWAN REDAKSI: Muhammad Sayuti I Muhammad Samsudin I Ahmad Muttaqin REDAKTUR PELAKSANA: Agung Prihantoro STAF REDAKSI: Iwan Setiawan REPORTER: Nisa Pujiana KEUANGAN: HS Mulyatno IKLAN: Agus Mulyono ISSN: 0853-4756 ALAMAT REDAKSI: Jln. KHA Dahlan 103 Yogyakarta 55262 Telp. +62-274-389485 Faks. +62-274-376336 Email: redaksiwartaptm@gmail.com Rekening Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Nomor 09-0008-7003 BNI Cabang Yogyakarta a/n Lincolin Arsyad, Prof. Dr. M.Sc. Warta PTM menerima tulisan yang berupa opini, berita panjang, berita singkat, glosarium dan foto seputar perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Redaksi berhak menyunting tulisan. Silakan kirim tulisan dan/atau foto ke email redaksi.
2
Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
daftar isi ASA •
Dari Bawah, PTMA Tumbuh_1
TOPIK UTAMA
• Jangan Konflik_4 • Dulu Kuliah Menumpang, Kini Peringkat Utama_6 • Merawat Amanat Secara Profesional_9
WAWANCARA
• Muhammad Alfian Darmawan: Keikhlasan, Kesungguhan & Kebersamaan_12
PROFIL PTM •
Universitas Muhammadiyah Magelang: Unggul & Islami di Kaki Gunung Tidar_16 • Rektor UM Magelang Ir. Eko Muh. Widodo, M.T: Menuju AIPT “A”_19 • STISIP Muhammadiyah Rappang: Sekolah Calon Pemimpin Bangsa_21
PROFIL DOSEN •
Dr. Reni Mulyani, M.Si.: Dakwah Melalui Pengabdian kepada Masyarakat_23
KINERJA • • • • • • • • • • •
Kunjungan Kerja Sama Pimpinan PTM ke Eropa_24 Pendampingan AIPT PTMA Gelombang 2_25 Konsolidasi PTM Se-Jawa Timur_27 Workshop LPPM: Tingkatkan Penelitian & Pengabdian_29 Muhammadiyah Dilirik Ahli Pendidikan Finlandia_30 Workshop Anti-Korupsi PTM: Pastikan Gerakan Berantas Korupsi_31 Workshop KKN Etnografi: Dakwah Berbasis Data_32 Workshop Panduan AIK untuk Non-Muslim: Kemuhammadiyahan sebagai Nilai & Subkultur_33 Wisuda UM Kupang: Teladan Toleransi_34 Workshop Penyusunan Borang AIPT PTMA: Dari Surabaya Menuju AIPT “A”_35 Workshop Penyusunan Borang AIPT PTMA: Pahit di Depan, Manis di Belakang_36
inaugurasi
• Pelantikan Ketua STIE Muhammadiyah Tuban: Menjadi PTM yang Diperhitungkan_38 • Wisuda Stikes Muhammadiyah Manado: Tingkatkan Penelitian & Short Course_38 • Wisuda Stikes Muhammadiyah Lamongan: Tujuh Penentu Kesuksesan_39 • Pelantikan Wakil Rektor UMKT: Percepat Pembentukan Corporate Culture_40 • Wisuda Stikes Muhammadiyah Manado: Tingkatkan Penelitian & Short Course_40 • Pelantikan Rektor UM Kupang: Jadikan PTM yang Unggul_41
TOPIK UTAMA Jangan Konflik “Jangan konflik. Sekali konflik, runtuh! Kalau ada masalah, segera konsolidasikan. Jangan dibawa keluar,” tegas Prof. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., Kamis (28/10) silam di kediamannya di Tebet, Jakarta. Wakil Ketua PP Muhammadiyah 2002-2005 dan Ketua PP Muhammadiyah 2005-2009 ini mengingatkan para Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Badan Pembina Harian (BPH) PTMA dan pejabat-pejabat PTMA agar mereka tidak berkonflik. Malik Fadjar menyampaikannya saat dimintai pandangannya tentang tumbuh-kembang PTMA dari bawah.
profil ptm Universitas Muhammadiyah Magelang: Unggul & Islami di Kaki Gunung Tidar Kalau kita berdiri di Jalan Mayjend Bambang Soegeng KM 5 Magelang, Jawa Tengah, kita akan melihat bangunan yang megah tepat di samping Seminari Mertoyudan. Itulah Kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang. UM Magelang adalah kampus kebanggaan warga Muhammadiyah Kabupaten Magelang. Keberadaan UM Magelang ini menunjukkan, dakwah Muhammadiyah di kabupaten ini diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.
kronik
• Peletakan Batu Pertama UM Bandung: Membangun Islamic Technopreneurship University_42 • Kunjungan Kerja Presiden ke UM Banjarmasin: Wujudkan Boarding University_43 • Pembangunan SMA Premium & SMK Agromaritim di UM Bengkulu: Program Menjemput Matahari_44 • Seminar & Lokakarya Nasional Pengembangan Penerbit PTM: Kukuhkan Eksistensi University Publishing_45 • Literasi Digital 2017: Agar Perempuan Tak Terdiskriminasi_46 • Gelar Pahlawan Nasional untuk Prof. Drs. Lafran Pane: Dosen Muhammadiyah Sang Penggagas Besar_47
• AIPT “B” sebagai Modal Awal_48
warta dari ptm
• Design Engineering untuk Hadapi Persaingan Global_49
regulasi
• Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2017 Tentang Standar Pendidikan Guru_52
Edisi Edisi November-Desember 2017
Warta PTM
3
topik utama
Prof. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. . Dok www.pwmu.co
Jangan Konflik “Jangan konflik. Sekali konflik, runtuh! Kalau ada masalah, segera konsolidasikan. Jangan dibawa keluar,” tegas Prof. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., Kamis (28/10) silam di kediamannya di Tebet, Jakarta. Wakil Ketua PP Muhammadiyah 2002-2005 dan Ketua PP Muhammadiyah 2005-2009 ini mengingatkan para Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Badan Pembina Harian (BPH) PTMA dan pejabat-pejabat PTMA agar mereka tidak berkonflik. Malik Fadjar menyampaikannya saat dimintai pandangannya tentang tumbuh-kembang PTMA dari bawah.
“
Saya salut dengan semangat perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Yang perlu dicegah itu konflik. Sebab, konflik merusak apa saja!” tegasnya lagi. Malik Fadjar yang pernah menjadi Rektor UM Malang dan UM Surakarta pada 1980-1990-an ini menaruh perhatian khusus pada konflik yang destruktif di sejumlah PTMA yang besar maupun kecil. PTMA besar tumbuh dari kampus kecil, dan bila timbul konflik destruktif, PTMA yang sudah besar itu bisa hancur. Demikian pula, jika muncul konflik pada PTMA kecil, institusi tersebut tidak akan bisa tumbuh dan berkembang besar. Tokoh yang pernah menjadi Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Menteri Agama, dan Menteri Pendidikan 4
Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
Nasional ini menuturkan pandangan dan pengalaman empirisnya yang luas dalam mengelola dan membina PTMA dari bawah. Pengalaman empiris, ilmu dan praktik nyata—inilah yang dituturkan Malik Fadjar secara panjang lebar.
Tumbuh dari Bawah Sejarah panjang pembentukan PTM semestinya menghindarkan amal usaha pendidikan tinggi ini dari konflik. Malik Fadjar memaparkan bagaimana ide awal untuk mendirikan PTM mengemuka pertama kali pada Muktamar (Kongres) Muhammadiyah 1936-an di Yogyakarta. Salah satu tokoh yang mengemukakan ide tersebut adalah Muljadi Djojomartono. Kala itu, Muhammadiyah sudah memiliki banyak sekolah dasar dan sekolah menengah, tetapi
Jangan Konflik
belum mempunyai perguruan tinggi untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang tangguh. Ide tersebut terus bergulir dan bergulir sehingga berdirilah PTM. PTM pertama didirikan di Sumatera Barat dan disusul oleh PTM-PTM lain, lanjut Malik Fadjar. Fakultas Hukum menjadi fakultas awal PTM. Di Jakarta, juga berdiri Fakultas Hukum. Lalu, disusul Akademi Dakwah di Yogyakarta untuk menyambung pendidikan siswa-siswi tamatan Madrasah Menengah Tinggi (MMT). Perkuliahan Akademi Dakwah diselenggarakan di gedung-gedung di depan Masjid Keraton Yogyakarta dan terbuka untuk siapa saja. Lulusannya melanjutkan di Perguruan Tinggi Agama Islam (Institut Agama Islam Negeri). Awal 1950-an, Malik Fadjar mengikuti proses kuliah B-1, semacam kursus tingkat pendidikan tinggi selama setahun. Multidisiplin ilmu dipelajari di sini. Para pengajarnya merupakan dosen-dosen UGM, seperti Djoerban Wahid. Awal tahun 1950an. Meskipun pendidikan ini hanya setahun, kualitas lulusannya luar biasa. Lantas pada 1960-an, kata Malik Fadjar, tumbuhlah banyak Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah dari bawah. PDM dan PWM melalui Majelis Pendidikan dan Pengajaran Daerah (Mapendapda) menginisiasi pendirian kampus pendidikan Muhammadiyah. Sejak dahulu sampai sekarang, aktivis-aktivis Muhammadiyah di daerah dan wilayah selalu berinisiatif untuk membangun PTM di daerah dan wilayah mereka. Pada 1963, lahirlah IKIP Muhammadiyah Jakarta di Jalan Limau dengan salah satu tokohnya Prodjokoesoemo. PTM ini mempunyai wewenang untuk menyelenggarakan pendidikan bagi para pegawai dinas-dinas pemerintahan. IKIP Muhammadiyah Jakarta ini menjadi semacam perguruan tinggi pendidikan guru (PTPG). Kemudian, berdiri pula IKIP Muhammadiyah di Surakarta, Magelang, Purworejo, Surabaya, Malang dan daerah-daerah lain. Pada 1970-an dan 1980-an, tumbuhlah lembagalembaga pendidikan agama Islam dan keperawatan Muhammadiyah. Pada 1970-an, berdirilah fakultas-fakultas agama Islam Muhammadiyah (FAI) di Gresik, Kediri dan Ponorogo. FAI-FAI tersebut kini berkembang jadi Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM). Selanjutnya pada 1980-an, merebak juga akademi-akademi kesehatan di banyak tempat.
Tiga Konsolidasi PTMA-PTMA yang awalnya kecil kemudian tumbuh dan berkembang jadi besar, jelas Malik Fadjar, karena melakukan tiga konsolidasi: ideal, organisasi dan personal. Konsolidasi ideal menyangkut niat dan cita-cita para pengelola dan institusi PTMA. Niat dan cita-cita ini harus dikonsolidasikan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah. Konsolidasi organisasi berkenaan dengan struktur organisasi, terutama manakala PTMA masih kecil. Struktur organisasi kampus yang baru awal berdiri sebaiknya sederhana saja agar tidak menghabiskan biaya, lantaran kampus belum punya banyak uang. Misalnya, pejabat strukturalnya hanya rektor/ ketua/direktur, wakil bidang keuangan, dan sekretaris, dan ketiganya harus bisa menjalankan tugastugas struktural. Konsolidasi personal paling berat karena menyangkut beragam sumber daya manusia (SDM). Rektor/ketua/direktur harus membuat seluruh SDM kampus solid. Karenanya, pemimpin kampus ini perlu menghayati apa yang sesungguhnya terjadi di kampus. Tiga konsolidasi ini dilakukan Malik Fadjar dalam menumbuhkembangkan UM Malang dan UM Surakarta dari kecil sampai besar seperti sekarang. Tak butuh waktu lama untuk melakukan konsolidasi awal, dan memang mesti cepat. Beliau melakukan konsolidasi awal dalam tempo yang singkat, enam bulan.
Mengabdi, Bukan Mencari Kekuasaan Terkait dengan niat dalam memimpin atau bekerja di PTMA, Malik Fadjar menandaskan, niatnya adalah mengabdi, bukan mencari kekuasaan. Pengabdian bertujuan untuk berdakwah demi kepentingan Muhammadiyah, umat Islam, bangsa Indonesia dan seluruh umat manusia. Sebaliknya, mencari kekuasaan itu bertujuan untuk kepentingan pribadi. “Di Muhammadiyah itu, pengabdian. Konkret,� tegas anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini. Pengabdian itu ikhlas, sedangkan memburu kekuasaan itu tendensius. Pengabdian mengarah pada kemajuan, sementara memburu kekuasaan berujung pada konflik dan keruntuhan serta kerusakan.[]
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM
5
topik utama
Gedung Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
Dulu Kuliah Menumpang, Kini Peringkat Utama Kontras sekali antara Universitas Muhammadiyah Ponorogo sekarang dan tiga puluh satu tahun silam. Kini, PTM ini berperingkat AIPT “B” dan berada dalam kelompok kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Lintabmas) “Utama” di level nasional. Pada 1986, UM Ponorogo tak punya tempat kuliah sendiri. Perkuliahannya menumpang di SD dan SMP Muhammadiyah di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Jln. Batoro Katong Ponorogo, Jawa Timur. Kuliahnya berlangsung pada sore hingga malam hari, pukul 15.00-22.00 WIB.
S
aat ini, jumlah mahasiswa aktif UM Ponorogo sekitar 5.500 orang, sedangkan dahulu hanya 300-400 orang. Jumlah fakultasnya sekarang tujuh dan satu program pascasarjana, yakni Fakultas Agama Islam (FAI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), dan Fakultas Hukum (FH). Program studinya enam belas S-1, tiga D-3, satu profesi dan satu S-2. Dulu, hanya ada lima fakultas, yaitu FAI, FISIP, FKIP, FE dan FT. Gambaran di atas disampaikan oleh Rektor UM Ponorogo Drs. Sulton, M.Si. Selanjutnya, Sulton mengisahkan perjalanan kampusnya dari tekad,
6
Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
semangat dan kesungguhan para pendirinya sampai prestai-prestasi mentereng yang telah diraihnya sekarang dan juga rencana ke depan.
Tekad dan Semangat dari Bawah UM Ponorogo didirikan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Ponorogo dengan tekad, semangat dan kesungguhan. Pada 1986, PTM ini secara resmi bernama Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Namun, tekad untuk mendirikan PTM telah dimulai sejak 1968 ketika aktivis-aktivis Muhammadiyah setempat berinisiatif membentuk Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIM). STAIM ini merupakan kerja sama dengan UM Surakarta.
Dulu Kuliah Menumpang, Kini Peringkat Utama
Kemudian, pada 1975, dibuatlah Fakultas Ilmu Sosial atas kerja sama dengan UM Malang. Lalu, didirikan pula Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan konsentrasi Pendidikan Umum pada 1980. Barulah pada 19 November 1986, Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0813/1986 menabalkan UM Ponorogo secara hitam di atas putih. Tekad dan semangat PDM dan para pengelola UM Ponorogo tampak jelas dari keputusankeputusan yang diambil pada masa-masa awal. Dengan keadaan yang serba minim, mereka merekrut dosen-dosen tetap untuk memastikan penyelenggaraan akademis berlangsung dengan baik. “Harus diakui bahwa para pengelola Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada tahun awal berdirinya sangat berani. Orang Surabaya menyebutnya bonek (bondo nekat, modal nekat). Kampus baru bediri, sarana prasarana fisik sangat minim dan masih ndompleng (menumpang), kemampuan anggaran juga belum seberapa, tetapi untuk pertama kalinya pada tahun 1988 sudah berani mengangkat sepuluh orang dosen tetap, termasuk saya,” kata Sulton. “Dalam keadaan keuangan yang masih terbatas, pada tahun-tahun awal berdirinya sering kali terjadi penundaan penerimaan gaji pegawai, karena masih harus menunggu pembayaran uang kuliah mahasiswa. Pada saat seperti inilah, benar-benar diuji tanggung jawab dari para pengelola sekaligus komitmen para pegawai dalam melalui masa-masa sulit tersebut,” lanjutnya. “Para pengelola tanpa lelah mengomunikasikan keadaan yang ada secara elegan kepada para pegawai sambil terus berusaha dan mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan anggaran gaji. Para pengelola sering kali, untuk sementara, harus merogoh keuangan pribadinya. Pada sisi lain, para pegawai (dosen dan karyawan) melihat dengan hati keadaan dan kesungguhan para pengelola saat itu, sehingga mereka pantang mengurangi kesungguhan dan surut semangat. Mereka, kami, tetap komitmen dalam tugas dan setia bersama para pengelola pada hari-hari yang sulit itu tanpa mengeluh dan saling menyalahkan,” lanjutnya lagi. Dukungan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) dan pemerintah, serta
Rektor UM Ponorogo Drs. Sulton, M.Si.
kepercayaan masyarakat tak bisa diabaikan. Semua komponen ini membantu UM Ponorogo untuk mencari jalan keluar atas beragam hambatan dan rintangan yang mengadang. Tekad, semangat, kesungguhan dan tanggung jawab dari bawah, dukungan dari atas, dan kepercayaan dari masyarakat untuk menguliahkan putra-putri mereka di UM Ponorogo—semua ini membuat UM Ponorogo bertahan dan kemudian berkembang. PDM, para pengelola, dosen dan karyawan terlarang untuk menyerah. PWM, PPM dan pemerintah tiada lelah untuk memberikan dukungan.
Suka dan Duka Dalam titian panjang mengelola UM Ponorogo dari bawah, Sulton juga mengungkapkan suka dan dukanya. Perasaan suka muncul ketika, pertama, para pemimpin kampus, pegawai dan mahasiswa berada pada spirit untuk berakselerasi tanpa kenal jemu dalam menjaga eksistensi dan memajukan kampus. Kedua, program-program dan kegiatan-kegiatan kampus memberi solusi dan manfaat yang besar untuk menyelesaikan berbagai problem sosial dan pembangunan di tengah masyarakat. Ketiga, stakeholder utama, yaitu orang tua/wali
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM
7
topik utama
Gedung Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
mahasiswa, mahasiswa dan masyarakat memberikan kepercayaan kepada kampus dengan wujud peningkatan jumlah mahasiswa dan respons positif atas kinerja kampus. Adapun dukanya, pertama, ini terasakan ketika pemimpin, pegawai dan mahasiswa terjebak dalam konflik dan tidak fokus pada tugas masingmasing. Kedua, mereka bekerja dan berinteraksi dengan mengabaikan aturan main dan memilih langkah pragmatis, sehingga langkah itu mereduksi eksistensi kampus, baik secara institusional maupun sosial.
Kunci Sukses Suka, duka dan kesuksesan UM Ponorogo tersebut di atas diraih dengan empat kunci sukses, terang Sulton. Pertama, kepemimpinan dan manajemen yang bagus senantiasa mengawal pertumbuhan dan perkembangan kampus. Kedua, kebersamaan dan komitmen yang produktif dari seluruh komponen kampus sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan agenda-agenda pengembangan kampus. Kerja kolektif kolegial me rupakan tumpuan pertumbuhan dan perkembangan kampus. Ketiga, rencana strategi dan rencana operasional disusun dengan skala prioritas tertentu. Rencana8
Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
rencana ini dilengkapi dengan standar operasional prosedur (SOP) untuk mengeksekusinya secara jelas dan terukur. Keempat, Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dirumuskan untuk menjaga kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. UM Ponorogo juga bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Internasional (ISO) untuk meningkatkan kualitas tersebut. Selain empat kunci sukses yang telah dan terus dilaksanakan ini, satu lagi kunci keberhasilan yang sedang digiatkan oleh UM Ponorogo adalah menargetkan jumlah doktor. Kelak, setiap prodi minimal akan memiliki tiga orang dosen yang bergelar doktor agar kualitas kampus makin tinggi, sehingga PTM ini bisa mendapatkan peringkat AIPT “A”. UM Ponorogo telah meniti anak-anak tangga bawah sampai atas dan masih akan melewati anakanak tangga berikutnya. Anak tangga bawah berupa aktivitas kuliah yang menumpang di SD dan SMP. Anak tangga atas berwujud AIPT “B” dan kategori Lintabmas “Utama”. Anak-anak tangga berikutnya adalah AIPT “A” dan prestasi-prestasi lainnya di level nasional dan internasional.[] Agung Prihantoro
Merawat Amanat Secara Profesional
Merawat Amanat Secara Profesional
Gedung Universitas Muhammadiyah Riau.
Setelah PTMA tumbuh dari bawah, pihak-pihak yang terkait dengannya perlu merawatnya secara profesional. Amanat dari bawah ini dirawat tak cukup dengan cara ala kadarnya, tetapi mesti secara profesional. Sebab, amanat untuk mendirikan PTMA lazimnya muncul dengan segala keterbatasan. Sehingga, agar PTMA berkembang dengan pesat, amanat itu mesti dirawat secara profesional.
I
tulah yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dan juga Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Lamongan untuk mengembangkan kampusnya. Rektor UMRI Dr. Mubarak, M.Si. yang dihubungi via telepon (29/9) membeberkan bagaimana segenap pihak yang terkait dengan PTM ini, seperti pemimpin kampus, Badan Pembina Harian (BPH), PWM, PDM dan organisasi-organisasi otonom, bekerja sesuai dengan tugas-tugasnya secara profesional. Kerja profesional yang dimaksud adalah melakukan tugas-tugas yang telah ditetapkan dengan sungguh-sungguh dan manajemen yang bagus. Kesungguhan diwujudkan dalam bentuk totalitas kerja untuk memajukan dan mengembangkan kampus. Manajemen yang bagus mengikuti kaidah-kaidah
dan etika manajemen modern. Kerja profesional sewajarnya juga dihargai dengan remunerasi yang profesional. Namun, remunerasi profesional ini disesuaikan dengan kemampuan setiap PTMA. Pasalnya, PTMA-PTMA mempunyai kemampuan yang beragam dalam menentukan remunerasi bagi pemimpin, dosen dan karyawannya. Mubarak mengutip perkataan K.H.A. Dahlan, hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Bekerja di PTMA diniatkan tak semata-mata untuk mencari uang, tetapi juga untuk bersedekah, kata Mubarak. Sedekah waktu, sedekah tenaga dan sedekah pikiran sudah pasti harus dilakukan oleh seluruh sivitas Âakademika. Dengan cara seperti ini, UMRI berkembang
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM
9
topik utama
Rektor Universitas Muhammadiyah Riau Dr. Mubarak, M.Si.
pesat. Dalam waktu yang tidak terlampau lama, jumlah mahasiswa, jumlah program studi dan peringkat akreditasinya meningkat cepat. Pada 2014, penerimaan mahasiswa baru sebanyak 700 orang, dan kemudian pada akhir 2014 akhir, mahasiswa baru yang diterima di UMRI naik jadi 1.100 orang. Angka ini terus bertambah pada 2015, 2016, dan 2017, yakni 1.300, lebih dari 1.300 lebih, dan hampir 1.600 orang. Tiga tahun silam, pada 2014, jumlah program studi sebanyak 13, yang mencakup S-1 dan D-3, sementara sekarang bertambah tujuh prodi baru, sehingga semuanya 20 prodi. Dulunya hanya terdapat lima fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Teknik, Fakultas Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Kesehatan, Fakultas Komputer, Fakultas Komunikasi. Saat ini, sudah bertambah tiga fakultas baru, yakni Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Agama Islam. Sedang dirintis pula dua prodi Farmasi dan Pendidikan IPA. Prestasi-prestasi lainnya tak kalang mengilap. Peringkat akreditasi prodi seluruhnya “B”, dan peringkat AIPT-nya pun “B”. Pada 2017, UMRI merupakan perguruan tinggi penerima hibah penelitian terbanyak di Kopertis Wilayah 10. Sekarang, UMRI menjadi pesaing bukan hanya bagi perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) di Riau, tetapi juga perguruan tinggi negeri (PTN).
Kebersamaan dan Kekompakan Salah satu unsur profesionalisme di UMRI adalah kebersamaan dan kekompakan seluruh sivitas akademika. Sivitas akademika mengedepankan kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi. 10 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
Setiap pihak harus fokus pada setiap tugas dan tanggung jawabnya, tetapi tetap saling membantu. Jika tidak bisa membantu orang lain, minimal tidak saling memberatkan. Kebersamaan dan kekompakan ini dilandasi amanat Persyarikatan Muhammadiyah. Amanat untuk mengelola PTM berasal dari para pimpinan Muhammadiyah di tingkat daerah, wilayah dan pusat. Amanat ini dipegang teguh dan ditindaklanjuti dengan kesungguhan hati. Dengan kebersamaan dan kekompakan, UMRI bertekad untuk terus maju dan menjadi nomor satu. Mubarak mencanangkan bahwa pesaing UMRI bukanlah PTS-PTS lain, melainkan PTN. Tak hanya itu, ke depan 40% prodi harus terakreditasi “A”. Ini target yang sangat tinggi, mengingat UMRI baru memiliki satu orang dosen dengan gelar doktor. Maka, UMRI menerapkan strategi-strategi untuk meningkatkan kualifikasi dosen-dosennya di jalur fungsional dan pendidikan.
Nilai Minimal 3,00 Akan halnya Stikes Muhammadiyah Lamongan yang memiilki kurang lebih 1.200 mahasiswa dan empat program studi serta satu program profesi, PTM ini merawat amanat secara profesional dengan mendorong mahasiswa-mahasiswanya untuk mendapatkan nilai mata kuliah minimal 3,00. Ini cara yang unik, tutur Ketua Stikes Muhammadiyah Lamongan Drs. Budi Utomo, M.Kes. saat diwawancari via telepon (3/10). Jika mahasiswa memperoleh nilai mata kuliah di bawah 3,00, dia harus mengikuti ujian lagi, ujian perbaikan atau kuliah semester pendek sampai nilainya 3,00. Agar nilainya murni hasil belajar mahasiswa, Budi Utomo juga menggariskan, tidak boleh ada nilai pemberian. Ini prinsip, tegasnya. Semua nilai harus buah dari kerja keras mahasiswa dan dosen. Mahasiswa, terutama, mesti belajar dengan keras dan cerdas untuk mendapatkan nilai tersebut. Ini dilakukan karena dua alasan. Pertama, mahasiswa-mahasiswa yang masuk ke Stikes Muhammadiyah Lamongan umumnya memiliki motivasi belajar yang rendah. Sehingga, nilai tinggi menjadi daya dorong mahasiswa agar mereka mau belajar dengan serius. Kedua, nilai tinggi menunjukkan kemampuan dan karakter yang tinggi pula. Dengan kemampuan dan karakter yang tinggi ini, lulusan Stikes
Merawat Amanat Secara Profesional
Gedung Stikes Muhammadiyah Lamongan
Ketua Stikes Muhammadiyah Lamongan Drs. Budi Utomo, M.Kes.
 uhammadiyah Lamongan diburu oleh para pengM gunanya. Sulit sekali mencari alumnusnya yang menganggur atau belum mendapatkan pekerjaan. Nilai tinggi ini menjamin kuailtas lulusannya.
Manajemen Kuangan yang Ketat Selain itu, Stikes Muhammadiyah Lamongan menerjemahkan profesionalitas dengan manajemen keuangan yang ketat. Anggaran program-program dan proyek-proyek pembangunan disusun dengan ketat, dan pelaksanakan program dan proyek tersebut dieksekusi oleh sivitas akademika sendiri. Tidak boleh ada kebocoran anggaran. Tidak boleh pula
merugikan dosen, karyawan dan mahasiswa. Dengan cara ini, anggaran bisa diminimalisasi, dan program dan proyeknya berjalan dengan baik. Manajemen keuangan yang ketat ini menjadikan hak-hak dosen dan karyawan terpenuhi, dan Stikes Muhammadiyah Lamongan boleh dikata tidak memiliki pinjaman atau hutang. Gaji mereka 60% dari gaji pegawai negeri sipil. Namun, mereka mendapatkan tunjangan supervisi, tunjangan anak dan istri/ suami, BPJS dan dana pensiun. Dana BPJS tidak dipotong dari gaji mereka. Kini, Budi Utomo sedang merancang tunjangan kematian. Sehingga, dosen dan karyawan membawa pulang gaji bersih tanpa potongan, dan mereka betah bekerja di kampus ini. Budi Utomo juga tengah menanti kunjungan dari Kemenristekdikti sebagai tindak lanjut pengajuan usulan perubahan bentuk dari sekolah tinggi jadi universitas. Semua persyaratan telah dipenuhi. Dua belas program studi baru telah diusulkan, dan tujuh di antaranya sudah lolos, serta lima prodi lainnya sedang melengkapi persyaratannya. Amanat dari bawah, dari Persyarikatan Muhammadiyah di level daerah, wilayah dan pusat, yang dirawat secara profesional terbukti membuahkan hasil yang membanggakan. Mengemban amanat dengan baik dan menjaga profesionalitas menjadi dua poin penting dalam mengembangkan PTMA.[]
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 11
wawancara
Muhammad Alfian Darmawan di ruang kerjanya.
Muhammad Alfian Darmawan:
Keikhlasan, Kesungguhan & Kebersamaan
M
uhammad Alfian Darmawan dan Mustafa Kamal Pasha merupakan dua di antara para penggagas awal pendirian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Gagasan ini benar-benar muncul dari bawah. Mereka menginisiasi pendirian UMY dari nol dengan gigih, berani, cerdas dan pantang menyerah, dan hasilnya, kini UMY menjadi salah satu kampus besar di Indonesia dengan peringkat AIPT “A�. Inisiasi tersebut dilandasi oleh trilogi keikhlasan, kesungguhan dan kebersamaan. Muhammad Alfian Darmawan yang lahir di Yogyakarta, 1 Juni 1952, memaparkan trilogi ini dalam wawancara dengan Warta PTM pada 19 dan 25 September 2017 di Kantor PT Mentari Prima Niaga, Yogyakarta. Dosen
12 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
UMY yang enggan ditulis gelar akademisnya di sini menceritakan dengan penuh semangat tiga nilai dasar yang melekat pada sejarah PTM ini.
Bagaimana awal mula pendirian UMY? Gagasan ini dimulai dari keprihatinan beberapa abiturien (alumnus) Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta tentang tanggung jawab kepemimpinan Muhammadiyah masa depan. Muallimin adalah sekolah kader utama Muhammadiyah. Kemudian, kami yang mengalami didikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk menjadi pemimpin Muhammadiyah masa depan merasa bahwa ke depan, Muallimin tidak cukup memadai untuk mengader calon-calon pemimpin
Keikhlasan, Kesengguhan & Kebersamaan
Muhammadiyah masa depan. Maka, diperlukan peningkatan kapasitas dan kualitas abiturien Muallimin. Lantas, muncul gagasan yang kita sebut sebagai pesantren luhur. Dalam diskusi selanjutnya, berkembang gagasan kenapa cuma pesantren luhur? Kenapa tidak sekaligus mendirikan universitas? Dengan alasan, Yogyakarta adalah tempat lahir dan juga ibukota Muhammadiyah, tetapi belum memiliki universitas. Yang ada dulu IKIP Muhammadiyah di Yogyakarta. Kita belum memiliki universitas. Konon katanya, dulu juga banyak tokoh cendekiawan Muhammadiyah sudah berusaha menggagas pendirian UMY, tapi belum bisa terwujud. Kami hanya punya cita-cita, punya tekad, bahkan bisa dikatakan nekat, untuk mengaktualkan gagasan-gagasan itu. Ini semua merupakan aktualisasi tanggung jawab kami atas masa depan Muhammadiyah. Itu pertama kali gagasannya. Gagasan ini diolah di Madrasah Muallimin pada tahun 1979-1980. Setelah itu, gagasannya dikembangkan. Waktu itu, ada semacam keragu-raguan, wong kita yang menggagas ini tidak ada satu pun yang pernah jadi dosen. Semuanya guru Madrasah Muallimin. Tidak ada satu pun yang jadi dosen. Kita hanya punya cita-cita dan sesungguhnya tidak tahu bagaimana mewujudkan cita-cita itu, tidak pernah tahu.
Adakah momentum tertentu yang melesatkan gagasan itu? Ada sebuah momentum yang saya katakan ini blessing in disguise. Suatu hari, almarhum Pak Mustafa Kamal Pasha selaku penggagas utama UMY dan saya akan menjemput seorang alumnus Madinah yang kita harapkan bersedia menjadi guru di Muallimin. Kami sudah janji dengan teman yang punya mobil untuk ketemu di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jln. K.H.A. Dahlan Yogyakarta. Tuhan ternyata sedang merangkum strategi atau merangkum rencana-Nya. Ternyata kami diciderai janji. Teman itu sampai sore tidak datang, padahal hujan. Kami tidak bisa pergi dari Kantor PP, karena akan kehujanan. Mobil tidak ada, sepeda motor tidak punya jas hujan.
Di Kantor PP itu, sedang ada rapat pleno Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Mapendapu (Majelis Pendidikan dan Pengajaran Pusat) untuk menentukan siapa rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta. Waktu itu, ditetapkan rektornya Bapak Ir. Omar Tusin, S.E., yang pernah menjadi Ketua Penyelenggara Jakarta Fair. Kita tidak sadar ada rapat pleno itu. Tiba-tiba, Pak Sekretaris Mapendapu saat itu Pak Haiban Nais keluar ruangan. Pak Mustafa bilang, “Mas Alfian, ini Pak Haiban. Ayo kita ketemu, menyampaikan gagasan kita.” Kita sampaikan, “Pak Haiban, sesungguhnya kita mau mendirikan UMY. Cuma, kami tidak tahu bagaimana caranya.” “Sudahlah, jalan saja. Nanti, kita bantu,” kata Pak Haiban. Kata-kata “Kita bantu” itu seperti menyiramkan bensin di api yang kecil. Kita semangat sekali. Akhirnya, kita bertekad, sudahlah kita tinggalkan yang lain dan fokus mendirikan UMY.
Apa langkah selanjutnya? Beberapa abiturien Madrasah Muallimin Yogyakarta, seperti Pak Bakri Syahid almarhum, yang dulu Rektor IAIN (Institut Agama Islam Negeri, kini Universitas Islam Negeri, UIN), kita hubungi. Pak Daim Saleh, kita hubungi. Bapakbapak yang lain juga kita hubungi, Pak Rosyad Saleh. Mereka semua ya ayo, setuju. Waktu itu, Pak Amien Rais, kalau tidak salah, masih sekolah di Amerika. Pak Dasron Hamid belum pulang dari Australia. Ini terus berkembang. Jadi, gagasan ini memang tumbuh dari bawah. Modal, kita tidak punya. Satu rupiah pun, tidak punya. Tapi ketika gagasan berkembang dan makin mengerucut, Pak Dasron pulang dari Australia, Pak Amien pulang dari Amerika. Mereka semakin memperkokoh gagasan ini.
Bagaimana kantor, tempat kuliah dan segala macamnya? Kantor tidak ada. Uang tidak punya. Itulah seninya di Muhammadiyah. Waktu itu, ada Gedung Dakwah. Yang mengurusi itu Pak Daim cs. Nanti, kita cari tempat. Kalau di Gedung Dakwah itu, masak kantor universitas kok masuk gang. Nggak wangun (tidak pantas). Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 13
wawancara
“Bapak-Bapak, saya minta di Muhammadiyah itu yang ikhlas, pertama. Kedua, ojo gampang gelo (jangan mudah kecewa). Ketiga, ojo mutungan (jangan mudah patah arang). -- KH A.R. Fachruddin ---
Akhirnya, kita menyewa gedung. Kantor pertama kita itu ruko di Jalan K.H.A. Dahlan, sebelah barat toko daging Lestari, yang sekarang jadi Parfume Center. Di situlah kantor pertama UMY. Sewa. Ruang kecil. Alat tidak punya, maka pinjam alat di Gedung Dakwah. Mesin ketik tidak punya, lalu pinjam di Gedung Dakwah. Uang tidak punya, pokoknya bagaimana caranya. Lalu, kuliahnya di mana? Karena Pak Mustofa Kamal Pasha dulu guru di SPG Muhammadiyah, nanti kita pinjam gedung SPG Muhammadiyah Wirobrajan, yang sekarang jadi SMA Muhammadiyah 7. Kuliahnya sore hari. Pendaftaran mahasiswa baru dimulai di tempat sewaan itu. Sudah ada SK PP Muhammadiyah tentang susunan pimpinan. Rektor pertamanya Pak Bakri Syahid, Wakil Rektor I Pak Basyid Wachid, Wakil Rektor II Pak Dasron Hamid, Wakil Rektor III Pak Amien Rais, Sekretaris Universitas Pak Mustafa Kamal Pasha. Lalu, ada susunan dekan dan sekretaris dekan.
Berapa jumlah mahasiswa baru saat UMY mulai beroperasi kali pertama? Dimulailah proses pendaftaran mahasiswa baru. Tahun pertama, kita menerima 292 orang di empat fakultas. Jadi, setiap fakultas hampir 75 orang. Belum ada program studi. Kuliahnya di SPG siang. Mahasiswa masuk setelah semua kegiatan SPG selesai. Kantornya di tempat sewaan. Rektor, dekan, semua jadi satu kantor. Setelah berjalan, muncul pikiran, SPG gedungnya kok kurang bagus. Mbok kita cari yang agak bagus. Muncul alternatif pikiran SMA Muhammadiyah 2. Direkturnya Pak Ali Warsito. 14 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
Boleh. Tahun kedua, kuliahnya dipindahkan ke sana. Ternyata itu keputusan keliru. Kenapa? Ketika kita sudah mulai kuliah di SMA Muhammadiyah 2 di Jalan Kapas, Jembatan Sayidan jebol. Sehingga, mahasiswa yang sudah terlanjur mondok di sini kesulitan untuk kuliah, karena tidak bisa melewati Jembatan Sayidan. Sehingga, perjalanan kuliah menjadi sulit. Kebetulan, pada tahun kedua itu, juga sulit sekali mencari mahasiswa. Mahasiswa baru cuma 87 orang untuk empat fakultas. Turun. Ini semua, kira-kira Allah menguji kita. Kita serius nggak sih. Husnudzon pada Allah. Jadi, kalau kami pantas putus asa, saat itulah yang tepat untuk putus asa. Saat itulah tepatnya untuk menyerah. Saat itulah tepat kalau kita bubar. Tapi, kita tidak. Ayo semangat. Ini momentum kita. Esensinya, di Muhammadiyah itu ada tiga nilai penting. Pertama, kita itu ikhlas. Dasar pertama itu ikhlas. Kedua adalah kesungguhan. Mengerjakan sesuatu itu dengan sungguh-sungguh, sehingga tidak mudah menyerah. Fokus pada apa yang diniati. Ketiga adalah kebersamaan. Yang kita pikirkan, membesarkan secara bersama-sama, dan besar juga bersama-sama.
Jadi, dasarnya adalah ikhlas? Ada satu perkataan yang semua Bapak pendiri UMY tidak lupa begitu selesai peletakan batu pertama gedung UMY. Fondasinya dibuat untuk empat lantai. Lalu, Pak A.R. Fachruddin sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah di ruang rektor yang kecil dan sederhana mengatakan, “BapakBapak, saya minta di Muhammadiyah itu yang ikhlas, pertama. Kedua, ojo gampang gelo (jangan mudah kecewa). Ketiga, ojo mutungan (jangan mudah patah arang). Karena suatu ketika, siapa tahu UMY sudah jadi besar, mungkin Bapak-Bapak itu, jangankan disebut namanya, diingat pun tidak.� Ya sekarang, UMY sudah besar. Itu pesan Pak A.R. Esensinya apa? Ikhlas. Kekuatan Muhammadiyah itu pada keikhlasan. Dan, kita tidak pernah menuntut yang macam-macam. Ya sudah, wong niat kita begitu. Kata kuncinya ikhlas. Ketika kita ikhlas, jangan mengharapkan balasan. Biar Allah saja yang mengurusnya.[]
Edisi Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 15
Profil PTM
Universitas Muhammadiyah Magelang
Unggul & Islami di Kaki Gunung Tidar
Gedung Rektorat Universitas Muhamamdiyah Magelang. Dok. ummgl.ac.id.
K
alau kita berdiri di Jalan Mayjend Bambang Soegeng KM 5 Magelang, Jawa Tengah, kita akan melihat bangunan yang megah tepat di samping Seminari Mertoyudan. Itulah Kampus Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang. UM Magelang adalah kampus kebanggaan warga Muhammadiyah Kabupaten Magelang. Keberadaan UM Magelang ini menunjukkan, dakwah Muhammadiyah di kabupaten ini diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Keberadaan PTM ini dimulai dari masuknya dakwah Muhammadiyah yang damai dan
16 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
mencerahkan di Kabupaten Magelang. Dakwahnya bermula dari Groep Muhammadiyah Boroboedoer pada 1917, yang dibina secara intensif oleh Kiai Hadjid dari Yogyakarta. Lambat laun, Muhammadiyah masuk ke Muntilan, Magelang, Salam dan seterusnya. Selain Kiai Hadjid, ada juga Kiai Siradj, kader Muhammadiyah dari Kauman Yogyakarta, yang kemudian menetap di Salam, Magelang. Sampai sekarang, dakwah Muhammadiyah di Magelang telah berlangsung selama satu abad dan membawa perubahan yang nyata bagi umat Islam. UM Magaleng menjadi salah satu bukti perubahan itu.
Universitas Muhammadiyah Magelang: Unggul & Islami di Kaki Gunung Tidar
Dari kiri ke kanan. dokumentasi Pengukuhan Guru Besar UMMagelang, kuliah tamu pembekalan etika profesi, bakti sosial Milad UMM 53, Semarak Idhul Adha 1438 H,The 6th University Research Colloquium 2017, Workshop Sistem Manajemen Mutu Laboratorium ISO/IEC 17025, Sosialisasi Mengenal dunia Kerja, dan donor darah Milad UMM53. Dok. ummgl.ac.id.
UM Magelang berdiri pada 31 Agustus 1964 dan awalnya merupakan cabang dari UM Jakarta. Empat fakultas pertamanya adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Umum; Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS) Jurusan Ekonomi, Civic dan Hukum; Fakultas Hukum; dan Fakultas Ekonomi. Rektor UM Magelang Ir. Eko Muhammad Widodo, M.T. menjelaskan sejarah panjang kampusnya. Pada 1968, berdirilah Fakultas Tarbiyah yang merupakan cabang dari Institut Agama Islam Muhammadiyah Surakarta. Pada 1984, berdiri pula Fakultas Teknik. Sembilan tahun berikutnya, pada 1993, dibukalah Akademi Keperawatan, yang kemudian berubah jadi
Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) pada 2008. Lalu, pada 2016, UM Magelang membuka program pasca sarjana Magister Manajemen Pendidikan Islam. Hingga kini, UM Magelang memiliki 7 fakultas dan 20 program studi yang terdiri dari 1 prodi S-2, 1 prodi profesi, 14 prodi S-1, dan 4 prodi D-3. Letak kampus UM Magelang sangat strategis dan berada di dua lokasi seluas lebih dari 10 hektare, yakni di Kota dan Kabupaten Magelang. Kampus 1 berada di Jalan Tidar 21 Kota Magelang dan Kampus 2 di Jalan Mayjen Bambang Soegeng Mertoyudan Kabupaten Magelang. Letak yang strategis dan berdekatan dengan Gunung Tidar nan sejuk ini merupakan salah satu daya tarik bagi mahasiswa Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 17
Profil PTM untuk kuliah di sini. Arsitektur kampusnya menawan, bersahabat dan menjanjikan harapan. Untuk menunjang pelayanan mahasiswa, UM Magelang mempunyai beberapa fasilitas dan pelayanan, yaitu Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP3M), Pusat Pembinaan dan Pengembangan Studi Islam (P3SI), Pusat Bahasa (Language Center), Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH), Unit Pelaksana Teknis Pusat Komputer (UPT PUSKOM), Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan, Badan Penjamin Mutu (BPM), Biro (Teknologi Informasi dan Komunikasi) TIK, Lembaga Bank Syari'ah, Lembaga Zakat Infaq Shodaqoh, dan Radio Unimma FM (87,6 FM). Visi UM Magelang adalah “menjadi universitas unggul dan islami”. Visi ini diterjemahkan dengan mendidik mahasiswamahasiswanya jadi cendekiawan muttaqin yang unggul dan mempunyai pemahaman Islam yang komprehensif dan berpilaku islami. Maka, penyelenggaraan pendidikannya harus berkualitas dan berlandaskan Islam. UM Magelang juga berupaya meningkatkan peran institusi dalam menyelesaikan persoalanpersoalan masyarakat dan bangsa berdasarkan wawasan keislaman dan keilmuan bagi terwujudnya masyarakat utama. Moral religius menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Ipteks) dan pembinaan iman dan taqwa (Imtaq) untuk menghasilkan penelitian yang kompetitif dan inovatif bagi kemajuan Ipteks dan kemaslahatan umat. UM Magelang membangun kepercayaan masyarakat dan mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan catur darma perguruan tinggi. Pada 2017, UM Magelang mendapat apresiasi dari Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam hal kualitas sumber daya manusia (SDM), kelembagaan, kegiatan kemahasiswaan, dan penelitian dan publikasi ilmiah. UM Magelang bersama UM Malang dan UM Surakarta termasuk dalam 100 universitas negeri/swasta terbaik di Indonesia. Prestasi ini tentu menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi sivitas akademika UM Magelang dan warga Muhammadiyah.[] Iwan Setiawan
18 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
I
r. Eko Muhammad Widodo, M.T. menjadi Rektor UM Magelang pada 2012—2016 dan 2016—2020. Kariernya di UM Magelang dimulai pada 1991 ketika beliau menjabat sebagai Kepala Tata Usaha Fakultas Teknik UM Magelang. Alumni Teknik Industri Fakultas Teknik (FT) UM Magelang tahun 1990 yang kemudian menjadi dosen di almamaternya ini juga pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan FT pada 1993—2002 dan Dekan FT pada 2002— 2004. Eko Widodo yang menyelesaikan studi S-2 di Prodi Teknik Industri Institut Teknologi Surabaya memegang amanah sebagai Kaprodi Teknik Industri pada 2004—2008. Pada 2008—2012, bapak dua orang putri ini kemudian menjabat Wakil Rektor 1 dan akhirnya Rektor UM Magelang sampai sekarang.
Apa inovasi Bapak dalam membesarkan UM Magelang dari kecil hingga kini menjadi besar? UM Magelang telah menetapkan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Enterpreneurship Islami sebagai karakter dan nilai dasar dalam seluruh kegiatan akademik. Enterpreneurship Islami bermakna perwujudan keunggulan yang memudahkan lulusan untuk mencapai tujuan kesejahteraan hidup dengan pola pikir yang kreatif, inovatif, mandiri serta berwawasan dengan landasan nilai-nilai keislaman. Peringkat AIPT UM Magelang “B” dan berbagai pengakuan lain, seperti peringkat 100 Perguruan Tinggi (PT) Terbaik di Indonesia, menunjukkan bahwa UM Magelang menjadi PT yang diperhitungkan dengan jumlah mahasiswa terdaftar lebih dari 6,000 orang. Apa program unggulan UM Magelang serta langkah konkretnya? UM Magelang memiliki Tonggak Capaian yang ditetapkan dalam Rencana Jangka Panjang (RIP) 2008—2024 yang dibagi dalam empat tahap. Keempat tahapan itu adalah tahap 1 tahun 2008— 2012, tahap 2 tahun 2012—2016, tahap 3 tahun 2016—2020, dan tahap 4 tahun 2020—2024. Saat ini, UM Magelang tengah memasuki tahap 3 dari RIP. Strategi pengembangan dalam tahap ini yakni pengembangan kompetensi institusi, proses akademik, dan penguatan networking dengan target terwujudnya peningkatan produktivitas institusi. Untuk mewujudkan hal tersebut, UM Magelang telah menyusun Rencana Strategis dan Rencana Operasional (Renstra Renop) Tahun 2016—2020
Ir. Eko Muh. Widodo, M.T: Menuju AIPT “A�
Ir. Eko Muh. Widodo, M.T
Rektor UM Magelang Ir. Eko Muh. Widodo, M.T:
Menuju AIPT “A� yang mencakup beberapa bidang, antara lain tata kelola dan penjaminan mutu. UM Magelang melakukan strategi berupa peningkatan kinerja institusi melalui pengembangan kompetensi institusi dan penguatan networking serta peningkatan status akreditasi prodi sampai peringkat unggul (A). Di bidang kemahasiswaan dan layanan alumni, strategi yang dilakukan antara lain dengan penguatan jejaring alumni serta program layanan karir. Di bidang SDM, UM Magelang melakukan strategi peningkatan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan serta peningkatan kegiatan ilmiah dosen pada skala nasional dan internasional. Strategi lain yakni di bidang kurikulum dengan meredesain kurikulum agar sesuai dengan SN-DIKTI, serta meningkatkan kapasitas layanan dan fasilitas untuk mendukung atmosfer akademik. UM Magelang juga melakukan strategi perbaikan sistem tata kelola aset, keuangan dan informasi secara menyeluruh. Di bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat, strategi yang dilakukan adalah dengan
meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengabdian masyarakat serta mendorong dosen untuk mengakses hibah penelitian dan pengabdian masyarakat. Di bidang pengembangan dan kerja sama, di samping melakukan kerja sama dengan beberapa institusi di dalam negeri seperti dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang dilakukan beberapa waktu, UM Magelang juga menjalin kerja sama luar negeri dengan beberapa perguruan tinggi, baik di ASEAN seperti Malaysia dan Thailand, di Asia seperti India dan Jepang, maupun di Australia dan beberapa negara Eropa, seperti Inggris, Belanda, Belgia dan Prancis
Bagaimana kiprah UM Magelang berkaitan dengan pengabdian kepada masyarakat? Dosen dan mahasiswa UM Magelang bergiat melakukan kegiatan pengabdian. Bagi dosen UM Magelang, hal tersebut merupakan bagian dari tugas yang harus diemban yang tertuang dalam Catur Darma Perguruan Tinggi. Adapun bagi mahasiswa, Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 19
Profil PTM
Rektor UM Magelang Ir Eko Moh Widodo (kanan) menerima kenang-kenangan President NIIT, Rajendra Kumar Pandey. dok.jogpaper.com
hal tersebut merupakan bentuk aplikatif dari ilmu yang diperoleh di bangku kuliah. Terjun ke masyarakat melalui kegiatan KKN Posdaya yang mengusung empat pilar, yakni kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan lingkungan. Banyak hasil karya pengabdian dosen maupun mahasiswa UM Magelang yang dilakukan melalui berbagai program serta hibah yang diperoleh, antara lain Hibah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilakukan mahasiswa FIKES UM Magelang. Juga kegiatan pengabdian dosen UM Magelang, antara lain pengabdian Program Kemitraan Universitas (PKU) bagi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Madukoro dan Wonogiri, sosialisasi tentang “Pemberdayaan Pengasuh dalam Meminimalisir Kejahatan Seksual pada Anak di Panti Asuhan Muhammadiyah”, serta IBW di Kabupaten Magelang untuk mewujudkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat berbasis potensi lokal di daerah miskin.
Apa program kemahasiswaan yang menonjol? Program kemahasiswaan yang menonjol di bidang penalaran ilmiah. UM Magelang adalah satusatunya PTS di Jawa Tengah yang berhasil meraih emas pada Pinmas 2015 Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Juga Juara 1 LKTI Nasional 2017. Selain itu, 28 proposal UM Magelang lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), di 20 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
mana UM Magelang menempati ranking ke-2 di Wilayah Kopertis VI Jawa Tengah setelah UMS, serta ranking ke-4 untuk PTM se-Indonesia. Tidak lupa, kita melakukan pertukaran mahasiswa ke beberapa perguruan tinggi di negara-negara ASEAN.
Bagaimana pengajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan di UM Magelang? Setiap mahasiswa UM Magelang wajib mengikuti mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan serta dibekali dengan Baitul Arqam. Selain itu, mereka harus memiliki sertifikat lulus Baca Tulis Al-Qur’an serta ibadah praktis yang dikeluarkan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Studi Islam (LP2SI) sebagai syarat untuk mengikuti KKN, skripsi, dan wisuda. Strategi di bidang dakwah Islam dan Kemuhammadiyahan dengan cara meningkatkan intensitas warga kampus dalam kegiatan Persyarikatan serta internalisasi nilai-nilai Islami dan Kemuhammadiyahan dalam pelaksanaan catur darma perguruan tinggi. Apa cita-cita UM Magelang yang belum terlaksana? UM Magelang tengah mengupayakan beberapa hal yang menjadi target di masa mendatang, antara lain akreditasi institusi “A”, peningkatan animo pendaftar setiap tahunnya, dan 50% dosen kami bergelar doktor.[] Iwan Setiawan
STISIP Muhammadiyah Rappang
Sekolah Calon Pemimpin Bangsa
Gedung Pasca Sarjana STISIP Muhammadiyah Sideng Rappang, Kegiatan Visitasi, sidang wisuda sarjana S1 dan S2 , kuliah umum oleh Asst. Prof. Sataporn Roengtam, Ph.D., kegiatan pesatren mahasiswa baru (Pesa Maba). Dok. stisipmrappang.ac.id.
M
uhammadiyah boleh berbangga karena memiliki sekolah calon pemimpin bangsa di Sulawesi Selatan, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Muhammadiyah Rappang. PTM ini berada di Kabupaten Sidenreng Rappang (sering disingkat Sidrap). Kampus yang berdiri pada 17 April 2000 ini mengalami perkembangan yang signifikan, dan telah membuka program pasca sarjana S-2 Administrasi Publik. Perkembangan STISIP Muhammadiyah
Rappang sejalan dengan perkembangan dakwah Muhammadiyah di Kabupaten Sidrap. Masuknya Muhammadiyah ke Kabupaten Sidrap berawal dari mubaligh-mubaligh Muhammadiyah asal Makkassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Organisasi Muhammadiyah berdiri di Sulsel pada 21 Dzulhijjah 1344 (2 Juli 1926). Setelah mengalami kemajuan yang membanggakan Makassar, dakwah Muhammadiyah mulai menuju daerah-daerah sekitarnya, termasuk ke Kabupaten Sidrap.
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 21
Profil PTM
Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si. Ketua STISIP Muhammadiyah Rappang
Muhammadiyah masuk ke Sidrap dengan pembentukan Cabang Muhammadiyah Rappang pada 1 Mei 1936, yang diresmikan langsung oleh Haji Hisyam, Ketua PP Muhammadiyah kala itu. Seterusnya, berkembang cabang-cabang lain di Aja’tappareng sampai Polmas, yang kemudian disatukan jadi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sidrap. Untuk menunjang dakwah Muhammadiyah, didirikanlah sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Sebagai salah satu PTM, STISIP Muhammadiyah Rappang berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Tujuan ini menyasar mahasiswa sebagai subyek dakwah Muhammadiyah, yang kelak akan menjadi nahkoda di pemerintahan. Perintisan STISIP Muhammadiyah Rappang dimulai dari ide non-formal beberapa tokoh Muhammadiyah Sidrap, terutama di kalangan pendidik. Mereka melihat kenyataan, masih banyak lulusan SMA dan pegawai di kantor-kantor
22 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
pemerintah belum berpendidikan sarjana. Para lulusan SMA dan pegawai ini melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di luar Kabupaten Sidrap, lantaran belum ada kampus di kabupaten tersebut. Sehingga, muncullah tekad untuk membuka perguruan tinggi yang mendidik lulusan SMA dan para pegawai non-keguruan. Tekad ini juga membantu pemerintah dalam pembangunan di bidang pendidikan di Kabupaten Sidenreng Rappang pada khususnya. Selain itu, kebutuhan lulusan pendidikan tinggi yang terampil dalam bidang keahliannya, pada saat ini maupun di masa yang akan datang, semakin diperlukan untuk mendukung pembangunan daerah di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Mulanya, program-program studinya hanya dua, yaitu S-1 Ilmu Administrasi Negara dan S-1 Ilmu Pemerintahan. Pada 5 Maret 2014, prodinya resmi bertambah, yaitu S-2 Administrasi Publik. Sekarang, sekolah tinggi ini dipimpin oleh Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si. selaku Ketua dan Drs. H. Tajuddin Posi, M.Pd. selaku Ketua Badan Pembina Harian. STISIP Muhammadiyah Rappang beralamat di Jln. Angkatan 45 No 1 A Salo RappangSidrap 91651 Sulawesi Selatan. Visi STISIP Muhammadiyah Rappang adalah “menjadi sekolah tinggi yang unggul, profesional, islami dan mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa melalui proses pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat”. Misinya ialah (1) “menyelenggarakan proses pendidikan berstandar mutu agar peserta didik menjadi manusia berkemampuan akademik yang berkualitas, serta berkepribadian dan berjiwa entrepreneur; (2) melakukan pengembangan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan administrasi dan pemerintahan, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat; (3) membina suasana kehidupan akademik yang islami, dan bertanggung jawab melalui penggunaan sumber daya yang ada secara optimal STISIP Muhammadiyah Rappang memiliki Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah (LP2I), Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M), Lembaga Kerjasama dan Kantor Urusan Internasional (LKUI), Unit Perpustakaan dan Unit Informatika dan Teknologi (IT). Semua lembaga dan unit ini berperan untuk menerapkan Rencana Strategis menuju 2020. [] Iwan Setiawan
Profil dosen
D
r. Reni Mulyani, M.Si. (40 tahun) memiliki hobi yang unik, yakni menuntut ilmu. Perempuan asal Sukabumi ini menggerapai gelar sarjana pada 1994 dengan mengambil konsentrasi kimia murni di Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung. Kemudian, pada 1998, Reni melanjutkan studi S-2 dengan konsentrasi kimia analisis farmasi di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak berhenti sampai di situ, Reni yang merupakan istri dari seorang arsitek di Kota Sukabumi itu terus menimba ilmu di ITB untuk meraih gelar S-3 dengan mengambil konsentrasi kimia analitik pada 2000. Berkat kegigihan dan rasa hausnya akan ilmu, Reni berhasil mendapatkan gelar doktor pada 2014. Setelah melewati perjalanan panjang dalam menyelesaikan studinya, pada 2005, Reni mulai mengabdi di Univeristas Muhammmadiyah Sukabumi (UMMI). Perempuan kelahiran 20 Februari 1977 ini pernah menjadi Ketua Prodi Kimia UMMI dan, sejak April 2016, menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM). Prestasinya segudang. Reni pernah mendapatkan piagam penghargaan publikasi terbaik tingkat universitas pada 2013. Salah satu penelitiannya sudah memiliki paten. Ia juga terlibat dalam kerja sama riset bersama Chulalongkorn University Thailand pada 2013. Risetnya tentang pengolahan limbah surfaktan itu dilakukan di Thailand. Lalu, Reni berhasil memperoleh gelar “Dosen Berprestasi� di tingkat universitas dan Kopertis IV Jawa Barat pada 2014. Sebagai Ketua LPPM UMMI, Reni mampu mendorong dosen-dosen UMMI untuk aktif melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat, serta mengantarkan penelitian dan publikasi UMMI berada di peringkat 145 dari 3.244 perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Imbasnya, UMMI berhasil menambah proposal yang didanai oleh Kemenristekdikti hingga 60% pada 2017. Selain memimpin peningkatan jumlah paten dan hak cipta dalam penelitian dan pengabdian yang bersumber dari Kemenristekdikti, Reni juga mengoordinasi kerja sama penelitian dan pengabdian masyarakat dengan Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota Sukabumi.
Dr. Reni Mulyani, M.Si.
Dr. Reni Mulyani, M.Si.
Dakwah Melalui Pengabdian kepada Masyarakat Sebagai wujud pelaksanaan salah satu Catur Darma Perguruan Tinggi dalam hal pengabdian masyarakat, LPPM UMMI pun aktif melibatkan mahasiswa dalam KKN Tematik, KKN Internasional dan KKN Muhammadiyah untuk Negeri. Pada 2016, UMMI mengirim hanya dua orang mahasiswa dalam KKN Muhammadiyah untuk Negeri di Provinsi Gorontalo, tetapi pada 2017, UMMI mengirimkan mahasiswanya 6 kali lipat, yaitu 12 orang. Begitu pula dengan KKN Internasional yang dilaksanakan di Thailand dan Malaysia, LPPM UMMI bekerja sama dengan KUI menambah jumlah pesertanya. Dengan memaksimalkan tugas sebagai Ketua LPPM, Reni terus berupaya untuk mengembangkan dakwah Persyarikatan melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pasalnya, menurut Reni, keunggulan PTM tecermin dalam catur darma yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian pada masyarakat dan Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Reni tiada henti menggiatkan UMMI untuk melakukan dakwah amar makruf dan nahi munkar.[] Nisa Pujiana
Edisi Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 23
Kinerja rsyad, M.Sc., Ph.D. menyatakan, A PTM tidak bisa lagi hanya berpuas diri tanpa membangun relasi dengan PT Dunia. Kerja sama internasional untuk lebih meningkatkan kualitas dosen, mahasiswa, lulusan, dan membangun jaringan global mutlak harus dilakukan, agar peran ke depan dan keberadaannya di masyarakat betulbetul dirasakan. Ini dilakukan sekaligus agar PTM bisa terus bertahan dan berkembang di tengah persaingan yang ketat antarperguruan tinggi di tanah air. “Kita perlu belajar dari kampuskampus kelas dunia bagaimana mereka bisa mengelola kampusnya secara Rektor UMY Dr. Gunawan Bidiyanto, M.P. menyerahkan cindera mata kepada pimpinan Harper Adams University, didampingi Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. (kiri) dan Pof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. (kedua dari kanan). profesional dan mendunia. Kita juga perlu go internasional dan tak hanya jago kandang,” kata Prof. Lincolin saat berbicara di KBRI London. Ia berharap MOU yang sudah ditandatangani dan penjajakan yang dilakukan diikuti dengan aganda aksi, sehingga kunjungan ini betulbetul bermanfaat. Dalam kesempatan itu, Dubes RI ebanyak 39 pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang didampingi oleh Ketua di Inggris Rizal Sukma menyatakan dukungannya, Majelis Diktilitbang Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., dan akan membantu serta mengawal agar MOU Ph.D. dan Wakil Ketua Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, yang ditandatangani ada implementasinya. “Jika dari setiap PTM yang ikut MOU ini, ada M.Ec. melakukan kunjungan ke beberapa pergurusatu kegiatan saja dengan PT di sini, maka sudah tean tinggi di Eropa. Delegasi ini mengunjungi tujuh peguruan tinggi (PT) dan menandatangani MOU rasa manfaatnya,” ujar Rizal. “Kita juga akan memdengan empat PT di antaranya, yaitu University of bantu kalau ada dosen yang ingin kerja sama dalam Coventry, De Monfort University, Harper Adams penulisan untuk jurnal dengan dosen di sini. Kami University, dan Bradford University. Kunjungan akan membantu dengan memberikan skim pembiapenjajakan dilakukan ke dua perguruan tinggi lain- yaannya,” tambah Atdikbud Prof. Aminudin. Prof. Edy Suandi Hamid yang mengelola kernya, yaitu Westminster University dan University of Sorbonne Paris 1. Di Oxford University, delegasi ini ja sama PTM mengatakan, “Sesuai dengan amanat muktamar, PTM akan aktif didorong secara serius mengadakan campus tour. Saat berada di Inggris dan Belanda, delegasi membangun kemitraan dengan PT bereputasi di duPTM ini juga melakukan pertemuan dengan Duta nia. Oleh karena itu, kita juga menyeleksi PT yang Besar dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Re- diajak MOU atau yang dijajaki untuk kerja sama.” “Misalnya, kita menjajaki kerja sama dengan publik Indonesia di KBRI London dan Den Haag. Bentuk kerja sama yang disepakati antara lain terka- Universitas Paris 1 Pantheon Sorbonne, atau yang it dengan pengembangan staf, student exchange, kerja dikenal sebagai Paris 1. Ini PT Terbaik di Prancis sama riset dan publikasi ilmiah, joint seminar, dan yang sudah ada sejak abad ke-13. Sebagian delegasi diterima langsung oleh Vice Provost untuk Kerja sebagainya. Dalam berbagai kesempatan, Ketua Majelis Sama internasional, Prof. Maria Gravari,” jelasnya. Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Lincolin [] ESH
Kunjungan Kerja Sama Pimpinan PTM ke Eropa
S
24 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
M
enyikapi pentingnya AIPT, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah telah melakukan berbagai kegiatan untuk memastikan setiap PTMA dalam kondisi siap menghadapi AIPT dan mendapatkan hasil optimal. Kegiatan-kegiatannya berupa Workshop AIPT, Sosialisasi Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO) BAN-PT, Bimbingan Teknis dan Pendampingan Penyusunan Borang Akreditasi Institusi, dan Pendampingan Simulasi Visitasi Akreditasi. Selama AgustusSeptember 2017, Majelis Diktilitbang melaksanakan safari pendampingan AIPT Gelombang 2 dan fokus pada simulasi visitasi AIPT pada 24 PTMA. Simulasi ini dikoordinasi Tim Divisi I Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan dibantu oleh Tim Asistensi sebagai fasilitator atau pendamping simulasi. Simulasi ini memiliki setidaknya empat tujuan, yaitu, pertama, memastikan ketersediaan bukti dokumen AIPT; kedua, melakukan self-assessment dengan second opinion; ketiga, memastikan pemahaman pimpinan PTMA tentang isi borang; keempat, memastikan kesiapan seluruh unsur PTMA yang akan divisitasi, termasuk infrastruktur (prasarana dan sarana).
Visitasi Akreditasi STKIP Muhammadiyah Bone. Sumber: stkipmuhbonekajuara.blogspot.co.id/
Pendampingan AIPT PTMA Gelombang 2
Tabel Pelaksanaan Simulasi Visitasi AIPT PTMA No
PTMA
Waktu Simulasi
16
STKIP Bone
29-30 Agustus 2017
17
STKIP Pringsewu
18-19 Agustus 2017
18
UM Buton
03-04 September 2017
19
STIEM Tjg Rdb Berau
06-07 September 2017
20
STIEM Jambi
11-12 September 2017
21
STIKES PKU Surakarta
11-12 September 2017
22
STISIP M Rappang
12-13 September 2017
23
UAD
14-15 September 2017
24
STIEM Kisaran Asahan
15-16 September 2017
1
UM Lampung
7-8 Agustus 2017
2
STAIM Klaten
7 Agustus 2017
3
UM Malang
8-9 Agustus 2017
4
Akbid Cirebon
8-9 Agustus 2017
Bukti Dokumen AIPT
5
UM Gorontalo
15-16 Agustus 2017
6
UM Lampung
15-16 Agustus 2017
7
Stikes M Klaten
27 & 30 Agustus 2017
8
UM Sukabumi
23-24 Agustus 2017
9
UM Kupang
27-28 Agustus 2017
10
UM Palangkaraya
24-25 Agustus 2017
11
UNISA
29-30 Agustus 2017
12
UM Sumbar
28-29 Agustus 2017
13
AIS Semarang
28-29 Agustus 2017
14
UM Maluku Utara
29-30 Agustus 2017
15
UM Palu
24-25 Agustus 2017
Kegiatan simulasi ini dimulai dengan terlebih dahulu memetakan bukti dan dokumen yang diminta dalam borang akreditasi. Dalam konsep sistem penjaminan mutu, segala hal dimulai dari perencanaan terlebih dahulu. Setiap kebijakan atau tindakan akademik maupun non-akademik harus dimulai dari perencanaan. Rencana tersebut diwujudkan dalam bentuk dokumen tertulis tentang penetapan kebijakan, tujuan, prosedur dan semua yang akan dilakukan oleh perguruan tinggi. Dengan pemetaan ini, diketahui mana PTMA yang sudah
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 25
Kinerja bekerja berdasarkan sistem dan mana yang belum. PTMA pun belajar untuk memulai segala hal dengan penetapan standar/kebijakan terlebih dahulu. Kemudian, dalam pelaksanaan standar/ kebijakan ini, dokumen menjadi bukti penetapan dan bahan evaluasi dan pengendalian. Dokumen tersebut digunakan untuk mengukur level peningkatan standar. Langkah-langkah ini sesuai dengan siklus SPMI, yaitu Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian dan Peningkatan (PPEPP)— amanat Permenristekdikti No. 62 Tahun 2016 tentang SPM Dikti Pasal 1. PTMA yang sudah melaksanakan SPMI dengan baik mudah saja memenuhi bukti-bukti dokumen. Namun, PTMA yang belum konsisten, bahkan sama sekali belum melaksanakan SPMI, mengalami kerepotan untuk menunjukkan bukti dokumennya. Maka, salah satu rekomendasi tim pendampingan ini adalah PTMA perlu menggiatkan atau mengadakan Audit Mutu Internal (AMI) secara konsisten untuk mencocokkan apakah dokumen yang telah ditulis (ditetapkan/direncanakan) sudah dilaksanakan, atau apakah program yang telah dilaksanakan sudah sesuai dengan dokumen yang ditulis/ditetapkan. AMI bisa dilaksanakan jika PTMA sudah memberdayakan Lembaga Penjaminan Mutu sebagai pengawal pelaksanaan SPMI dan SPME selaras dengan siklus PPEPP.
Self- Assessment dengan Second Opinion Pada langkah kedua, fasilitator Majelis Diktilitbang bersama PTMA secara terbuka melakukan prediksi nilai sementara PTMA yang bersangkutan. Seluruh 101 poin penilaian dalam borang AIPT dibedah satu per satu berdasarkan indikator penilaian dengan bukti yang ada, dan kemudian ditaksir berapa nilai yang didapatkan dari poin per poin tersebut. Simulasi penilaian ini dimaksudkan untuk memastikan borangnya sudah sesuai dengan target yang diharapkan. Prediksi hasil AIPT hanya bisa dilakukan jika ada simulasi self-assessment. Idealnya, simulasi self-assessment dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama menunjukkan pemetaan keunggulan dan kelemahan, pemetaan nilai setiap komponen dalam standar AIPT dan nilai akhir. Berdasarkan paparan dan pemetaan tahap awal ini, PTMA bisa melakukan perbaikan untuk mencapai targetnya. Tahap kedua memastikan
26 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
apakah telah terjadi perbaikan dan memastikan posisi akreditasi “aman” sesuai dengan targetnya.
Pemahaman Pimpinan PTMA tentang Borang Majelis Diktilitbang perlu memastikan bahwa setiap pimpinan PTMA peduli dan mengetahui persoalan akreditasi sebagai sistem penjaminan mutu eksternal. Dalam simulasi, fasilitator Majelis Diktilitbang menanyakan langsung poin-poin pertanyaan yang diolah dari aspek penilaian yang ada dalam borang AIPT melalui wawancara dengan pimpinan PTMA (mulai rektor/ketua/direktur hingga ketua/kepala unit/lembaga). Sesi ini menyiapkan pimpinan PTMA untuk menghadapi asesor BAN-PT, sehingga saat visitasi, pimpinan PTMA itu bisa menjawab pertanyaan asesor dengan baik. Lebih penting lagi, pimpinan PTMA perlu memahami secara mendalam isi standar dalam borang AIPT dan pencapaian PTMA yang telah ditulis dalam borangnya. Jika tidak memahami, pimpinan PTMA tidak akan bisa menjawab pertanyaan asesor dan biasanya menyerahkan segalanya ke tim penulis borang. Ditengarai, pimpinan PTMA tersebut tidak membaca borang yang telah disusun taskforce. Kasus yang lebih parah adalah saat visitasi justru, pimpinan PT tidak hadir, sehingga asesor mengategorikan pimpinan seperti ini tidak memiliki quality awareness.
Kesiapan Seluruh Unsur PTMA Salah satu manfaat terpenting dari simulasi ini adalah “membangunkan” seluruh unsur PTMA untuk peduli pada mutu kampusnya dan bekerja secara integratif-interkonektif dengan berbagai unsur. Setiap unsur di PTMA wajib menjalankan sistem penjaminan mutu dengan siklus PPEPP. Dalam melakukan AIPT, semua unsur di PTMA menjadi bermakna karena memberi kontribusi langsung maupun tidak langsung pada pencapaian sistem penjaminan mutu internal PTMA dan sistem penjaminan mutu eksternal (BAN-PT). Di sini, pengelola perpustakaan, laboratorium, sistem informasi, teknisi hingga cleaning service diperiksa apakah telah beroperasi di jalan mutu atau belum. Semua unsur di PTMA perlu dijamin untuk bersinergi mengembangkan mutu PTMA.[] Munawwar Khalil
Gedung Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Muhammadiyah Madiun Dok. stisipm-madiun.ac.id
Konsolidasi PTM Se-Jawa Timur
M
ungkin untuk pertama kali dalam kepengurusan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah 2015-2020, diselenggarakan pertemuan PTM dalam satu provinsi secara utuh. Pertemuan PTM se-Jawa Timur ini berlangsung di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Ahad (6/8). Seluruh 25 PTM di Jawa Timur hadir. Hadir juga perwakilan Badan Pembina Harian (BPH) PTM dan perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah di lokasi PTM berada.
Sinergi dan Opsi Prof. Dr. Ahmad Jainuri yang mewakili Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dalam sambutannya menggarisbawahi keberagaman kondisi PTM-PTM di Jawa Timur. Terdapat kesenjangan atau disparitas antar-PTM. Beberapa PTM mengelola puluhan program studi dan puluhan ribu mahasiswa, sedangkan sebagian PTM lain hanya mengelola mahasiswa di bawah angka lima ratus orang atau bahkan lebih sedikit lagi. Forum tersebut mengharapkan PTM-PTM dapat bertumbuh secara bersama- sama. Selain itu, Wakil Ketua PWM Jawa Timur ini menegaskan kompetisi yang semakin ketat di antara
perguruan tinggi dan aturan-aturan yang juga semakin ketat. Sehingga, 25 PTM ini perlu melakukan konsolidasi dan sinergi. Sinergi dilakukan antara PTM dan Persyarikatan Muhammadiyah dan juga antar-PTM. Sebab, PTM tidak bisa berdiri sendiri tanpa Persyarikatan. Ini menjadi catatan khusus, karena masih ada PTM yang sama-sekali tidak berkomunikasi dengan Persyarikatan, bahkan secara struktural tidak mengikuti aturan pengelolaan PTM. Sementara itu, Sekretaris Majelis Diktilitbang, Muhammad Sayuti, Ph.D. yang mewakili enam orang rombongan dari Majelis mengungkapkan fenomena pahit pada PTM di Jawa Timur yang hampir mati karena tidak memperoleh mahasiswa baru. Ironinya, pengelola PTM yang mahasiswanya sangat sedikit ini tidak segera bangkit untuk mencari solusi penyehatan kampus. Karenanya, Majelis Diktilitbang berharap penyehatan kampus kecil segera dimulai agar jumlah mahasiswa bertambah dan tidak perlu menutup PTM. Lebih dari itu, PTM-PTM di Jawa Timur diharapkan bisa bersaing dalam skala nasional. Di ujung sambutannya, Sekretaris Majelis menegaskan tujuan sarasehan ini, yakni untuk segera Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 27
Kinerja jumlah mahasiswa yang banyak, PTM akan sehat secara finansial dan dapat meningkatkan mutunya secara berkelanjutan.
Kolaborasi antar-PTM
Gedung Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Kediri
memulai konsolidasi dan sinergi antara PTM-PTM di Jawa Timur, menata kelembagaan sesuai dengan pedoman PTM, meningkatkan mutu PTM, mencari skema revitalisasi yang terbaik, dan update data PTM. Ada empat opsi yang ditawarkan oleh Majelis Diktilitbang untuk PTM kecil. Pertama, PTM meningkatkan mutu secara progresif. Majelis berkomitmen untuk membantu PTM kecil dalam melakukan lompatan agar mutunya meningkat. Kedua, PTM mengembangkan diri dari akademi ke sekolah tinggi atau dari sekolah tinggi ke institut. Ketiga, sekolah tinggi yang masih memiliki prospek berubah bentuk jadi universitas. Opsi terakhir, keempat, adalah merger PTM kecil dengan PTM lain yang sudah stabil dan kuat. Prof. Dr. Sutrisno, anggota Majelis Diktilitbang yang turut hadir, memberikan motivasi kepada pimpinan PTM bahwa peluang pengembangan PTM masih terbuka lebar. Misalnya, angka partisipasi kasar (APK) untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi masih di kisaran 30%. Diharapkan angka tersebut naik ke 50% sehingga akan ada 21 juta mahasiswa secara nasional. Ini peluang bagi PTM. Dosen UIN Yogyakarta ini berpendapat bahwa perguruan tinggi swasta harus mendahulukan jumlah mahasiswa karena tidak bisa meningkatkan mutu kalau jumlah mahasiswanya sedikit dan miskin finansial. Setiap tahun PTM harus mengevaluasi jumlah mahasiswa yang bisa diterima agar terjadi peningkatan jumlah mahasiswa secara ajeg. Dengan 28 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
Respons pimpinan PTM yang hadir dalam sarasehan ini diawali oleh Rektor UM Malang Fauzan, M.Pd.. Beliau menegaskan, cara pengelolaan PTM harus berubah. Pilihannya, PTM kecil di Jawa Timur mau hidup apa mati. Beliau menawarkan kolaborasi antar-PTM, misalnya antara sekolah tinggi dengan institut dan dengan universitas, sehingga dapat mengangkat citra PTM kecil. UM Malang membuka pintu kolaborasi dan mengusulkan agar PWM Jawa Timur membentuk tim khusus untuk mengevaluasi kinerja PTM dan meningkatkan kerja sama antar-PTM. Fauzan menutup kalimatnya, pimpinan PTM jangan merasa sendirian di Muhammadiyah, tapi harus melihat dirinya sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah yang telah memiliki brand image sebagai penyelenggara lembaga pendidikan yang kuat. Pada sesi sumbang saran, seluruh pimpinan PTM yang hadir menyampaikan laporan kinerja dan masalah yang dihadapi. Isu utama yang dilaporkan di antaranya adalah akreditasi yang masih minimal, jumlah mahasiswa yang sedikit, kualifikasi dosen yang belum terpenuhi, gedung kampus yang tidak menjual dan tidak representatif. Beberapa PTM kecil, seperti wakil dari Stikes Muhammmadiyah Lamongan, secara eksplisit menyatakan keinginannya untuk merger dengan PTM lain yang sehat. Sebagian pimpinan PTM menyampaikan kritik ke Majelis Diktilitbang. Misalnya, Majelis dinilai kurang giat dalam mengunjungi dan membantu PTM kecil dan hanya berkomunikasi dengan PTM besar. Dr. Muhammad Samsudin, Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang menyatakan terima kasih atas masukan dari PTM dan memberikan klarifikasi bahwa periode 2015-2020 ini Majelis Diktilitbang aktif berkomunikasi dengan PTM dan memberikan bantuan teknis dan pendampingan. Beliau menyampaikan saran agar PTM bertindak proaktif dan tidak segan untuk minta bantuan guna meningkatkan kualitas PTM.[] MS
M
ajelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengadakan “Workshop Peningkatan Kinerja Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah” di Hotel Tjokro Style Yogyakarta (28-30/9). Peserta workshop ini berasal dari perwakilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) yang belum memiliki klaster dari Kemenristekdikti. Peserta yang hadir berjumlah lebih dari 100 orang, perwakilan dari 55 PTMA. Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, S.H., anggota MajeMuhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, S.H. dan Dr. Chairil Anwar dalam lis Diktilitbang PP MuhammaWorkshop Peningkatan Kinerja LPPM. diyah, dalam sambutan pada pembukaan workshop itu, meWorkshop Peningkatan Kinerja LPPM ngatakan bahwa saat ini dari data di Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) Kemenristekdikti, hanya ada 2 PTM di klaster Mandiri, 9 di klaster Utama, 15 PTM di klaster Madya dan 58 PTM di klaster Binaan. Sementara PTM kita yang sudah mampu menjalankan LPPM dengan baik adalah UM Malang, UM Magelang, itu, 81 LPPM PTM belum tercatat dalam klaster. “Oleh karena itu, workshop ini diharapkan bisa UM Metro, UM Surakarta dan Universitas Ahmad memberi pengetahuan kepada PTMA di daerah- Dahlan. Semoga PTMA yang lain bisa segera medaerah agar bisa mendorong PTMA yang belum me- nyusul,” jelas Chairil yang juga didampingi oleh miliki klaster supaya masuk ke klaster binaan, dan Muhammad Sayuti, Ph.D., Sekretaris Majelis Dikgolongan klaster binaan bisa meningkat ke tingkat tilitbang. Chairil berharap, workshop ini menjadi awal madya,” ucap Prof. Dimyati yang juga Dekan Fakulpengetahuan untuk para akademisi agar bisa turut tas Hukum UM Surakarta. Kemudian, Dr. Chairil Anwar, Wakil Ketua Ma- serta melakukan penelitian dan hasilnya dipublijelisdiktilitbang PP Muhammadiyah, mengatakan kasikan. Menurutnya, setiap prodi dapat mengembahwa agenda ini juga ditujukan untuk menguatkan bangkan penelitian dan bisa membuat karya tulis penelitian dan pengabdian sebagai bagian dari catur untuk dipublikasikan. “Kualitas sebuah perguruan tinggi dipengaruhi darma PTM. Menurutnya, saat ini pihak pemerintah melalui Kemenristekdikti mulai fokus pada LPPM. oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah penelitiSemakin bertambah jumlah PTM yang menduduki an dan pengabdian yang dilakukan oleh perguruan klaster Mandiri dan Utama, maka semakin besar pe- tinggi tersebut. Maka, jika ingin memajukan perguluang untuk mendapatkan dana dari Kemenristek- ruan tinggi, penelitian dan publikasi oleh para akadikti. Implikasi berikutnya, peringkat PTM akan demisi juga harus terus dicanangkan,” pungkasnya. [] Nisa Pujiana meningkat. “Saat ini, Indonesia di tataran Asia Tenggara menduduki peringkat keempat dalam hal publikasi.
Tingkatkan Penelitian & Pengabdian
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 29
Kinerja ahan secara online. Sehingga, belajar bisa di mana saja dan kapan saja, tidak perlu di dalam kelas, karena aplikasi LifeLearn sudah mampu mendukung pelaksanaan e-learning dengan baik,” ujarnya. Menanggapi tawaran tersebut, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengatakan, peningkatan kualitas di bidang pendidikan memang selalu konsisten dilakukan Muhammadiyah, termasuk kegiatan belajar mengajar jarak jauh. Sayuti menambahkan, kegiatan belajar mengajar jarak jauh sudah dilakukan oleh Allan Schneitz memaparkan aplikasi LifeLearn (29/9). salah satu universitas Muhammadiyah, yakni UM Surakarta. “Ke depan, tentunya sistem seperti ini akan dibutuhkan, agar jarak tidak menjadi penghalang untuk keberlangsungan proses belajar mengajar,” ujar Sayuti yang didaminilai sebagai organisasi yang menempatkan pingi Ahmad Muttaqin, M.A., Ph.D., Wakil Bendapendidikan sebagai faktor penting dan konsis- hara Majelis Diktilitbang, dan Prof. Dr. Khudzaifah ten dalam melakukan peningkatan kualitas sektor Dimyati, S.H., anggota Majelis Diktilitbang. pendidikan, Muhammadiyah melalui Majelis DiktiDalam proses peningkatan kualitas suatu perlitbang PP Muhammadiyah ditawari kerja sama oleh guruan tinggi, Majelis Diktilitbang PP MuhammaAllan Schneitz, Chief Operating Officer (COO) ap- diyah menyadari sepenuhnya banyak hal yang perlu likasi LifeLearn. Aplikasi ini mendukung kegiatan dipersiapkan. Selain lingkup akademik, seperti aplie-learning. Pertemuan Majelis Diktilitbang dan Allan kasi e-learning ini, sumber daya manusia juga perlu Schneitz berlangsung di Hotel Grand Tjokro Yogya- ditingkatkan untuk menghadapi tantangan terkini karta pada Jumat (29/9). dalam pendidikan. Allan yang merupakan pengamat pendidikan “Di berbagai pendidikan tinggi yang dikelola asal Finlandia dan pencetus Dream School itu meman- Muhammadiyah, ada beragam tingkatan, kualitas dang, PTMA memiliki peluang untuk menerapkan dan dinamikanya masing-masing. Ada perguruan e-learning guna mewujudkan pengajaran yang ber- tinggi yang sudah mapan untuk melakukan e-learkemajuan di era modern dengan kemajuan teknolo- ning, namun ada juga yang belum bisa karena harus gi ini. Allan menawarkan gagasan tentang aktivitas memprioritaskan kebutuhan pendidikan yang lain. belajar mengajar yang tidak harus berlangsung di Tapi dari itu semua, kami selalu konsisten untuk dalam ruangan kelas, tetapi tetap efektif dan efisien. meningkatkan kualitas pendidikan di Muhammadi“Melalui aplikasi ini, para tenaga pengajar bisa yah,” Sayuti menyudahinya.[] Nisa Pujiana membagikan materi, bahkan mengadakan perkuli-
Muhammadiyah Dilirik Ahli Pendidikan Finlandia
D
30 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
M
ajelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelenggarakan “Workshop Pengembangan Kapasitas dan Penyusunan Kurikulum Pendidikan AntiKorupsi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM)” di Hotel Grand Quality Yogyakarta, Selasa-Kamis (24-26/10). Kegiatan yang diikuti oleh 75 orang perwakilan PTM tersebut bertujuan untuk mengedukasi tentang bahaya korupsi. Edukasi ini dilakukan di perguruan tinggi, karena PT memiliki kapasitas untuk membentuk generasi masa depan. Peserta dalam kegiatan itu adalah para dosen mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Ketua Majelis Diktilitbang Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., Wakil Ketua KPK Thoni Saut Situmorang, M.M., Ph.D. dan Ketua PP Muhammadiyah Dr. M. Busyro Muqoddas, M.Hum. dalam acara pembukaan workshop antikorupsi. Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Lincolin ArWorkshop Anti-Korupsi PTM syad, M.Sc., Ph.D. mengatakan, korupsi bukan hanya extraordinary crime, melainkan juga kejahatan yang sudah menggurita, sehingga penanganannya susah dilakukan. “Walau korupsi sukan, Muhammadiyah senantiasa ikut serta dalam sah untuk dihilangkan, tapi setidaknya kita bisa bermemberantasnya. Salah satu caranya melalui Madrausaha untuk mengurangi. Kita harus bersama-sama sah Anti-Korupsi yang digalakkan oleh Pemuda Mumemberantas korupsi. Upaya ini harus dijadikan hammadiyah. “Madrasah antikorupsi adalah upaya gerakan pasti,” tegas Lincolin dalam sambutan pada Muhammadiyah dalam memberdayakan masyarakat acara pembukaan workshop tersebut. untuk ikut serta dalam memberantas korupsi, karena Lebih lanjut, Lincolin menyampaikan, pembememberantas korupsi adalah upaya profetik,” imbuh rantasan korupsi bukan hanya tugas aparat terkait, Busyro. tapi masyarakat juga harus aktif, termasuk mahasisKemudian, Pimpinan KPK Thony Saut Situmowa, untuk ikut serta. “Oleh karena itu, kita sebagai rang, M.M., Ph.D. mengatakan, perguruan tinggi masyarakat juga harus aktif melakukan perang terhamemiliki peran untuk mengubah perilaku generasi dap korupsi itu. Korupsi itu jelek sekali untuk moral penerus bangsa. Dia menilai, Muhammadiyah yang dan perekonomian. Korupsi yang terus menerus damemiliki 175 perguruan tinggi bisa berkontribusi unpat mematahkan sendi ekonomi bangsa kita,” ucaptuk membentuk para mahasiswa.“Korupsi itu ada kanya. itannya dengan leadership. Maka, di perguruan tinggi Dalam kesempatan yang sama, Ketua PP Muinilah bisa dibentuk jiwa kepemimpinan para genehammadiyah Bidang Hukum dan HAM Dr. Busyro rasi muda agar mampu menjadi pemimpin yang baik Muqoddas, S.H., M.Hum. mengatakan, korupsi ibadan amanah,” ungkapnya. rat tumor ganas. Menurutnya, banyak modus korupSaut melanjutkan, tujuan pembentukan KPK si tak terlihat mata dan harus dicermati. “Korupsi di ialah untuk menciptakan kesejahteraan dan mencipIndonesia sudah parah, bahkan reproduksi korupsi takan daya saing. itu adalah mekanisme politik. Inilah yang menjadi “Saat ini korupsi sudah memasuki banyak tempenyebab susahnya menekan korupsi sampai ke tipat. Hal ini yang menyebabkan kesejahteraan kita tak tik nadi,” ujar Busyro yang juga Ketua KPK periode kunjung terwujud. Juga keadaan ini membuat kita 2010-2011. kehilangan daya saing. Jika terus seperti ini, IndoneTerkait parahnya korupsi, Busyro menambahsia akan kalah,” tutupnya.[] Nisa Pujiana
Pastikan Gerakan Berantas Korupsi
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 31
Kinerja
Para peserta Workshop KKN Etnografi di Hotel Lor In Surakarta, (20-21/10).
Workshop KKN Etnografi
Dakwah Berbasis Data
M
ajelis Diktilitbang PP Muhammadiyah bekerja sama dengan UM Surakarta mengadakan Workshop Kuliah Kerja Nyata (KKN) Etnografi dengan tema “Evaluasi Hasil Try Out Studi Etnografi dan Penyusunan Pedoman Studi Etnografi KKN Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah” di Hotel Lor In Surakarta, Jumat-Sabtu (20-21/10). Workshop ini merupakan kelanjutan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya tentang KKN etnografi. Koordinator Tim Studi Etnografi untuk PTMA Dr. Robby Habibah Abror, M.Hum. mengatakan, workshop kali ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Sjafri Sairin, Ph.D. (anggota Majelis Diktilitbang), Prof. Amri Marzali, Ph.D. (dosen antropologi UHAMKA) dan Dr. Robby Habibah Abror, M.Hum. Ketiganya menyampaikan paparannya tentang pentingnya data etnografi dalam melakukan dakwah. Acaranya didahului dengan sambutan oleh Rektor UM Surakarta Dr. Sofyan Anif, M.Si. Beliau mengatakan, KKN etnografi berorientasi pada dakwah, baik untuk internal warga Persyarikatan
32 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
Muhammadiyah maupun warga masyarakat umumnya. KKN semacam ini juga menunjukkan kepada masyarakat bahwa Muhammadiyah bukan gerakan ekstrem kanan dan kiri dan juga tidak anti-Pancasila dan NKRI. Prof. Sjafri Sairin menyampaikan, dakwah Muhammadiyah, apalagi di daerah-daerah, harus berbasis data etnografi. Muhammadiyah mengoptimalkan KKN untuk mengumpulkan data etnografi tersebut. Uji coba KKN etnografi telah dimulai di Palembang beberapa waktu lalu. Sementara itu, Prof. Amri Marzali mengatakan, misi di balik KKN etnografi adalah pemberdayaan umat Islam. Dr. Robby Habibah Abror menambahkan, KKN etnografi juga melatih mahasiswa-mahasiswa PTM untuk turun langsung ke masyarakat, tak hanya tinggal di menara gading. Selepas workshop ini, akan disusun pedoman studi etnografi KKN PTMA. Pedoman ini menjadi acuan dalam melaksanakan KKN etnografi di PTMA di seluruh Indonesia.[] RHA
Para peserta workshop panduan AIK di UM Malang, Jumat-Sabtu (3-4/11).
Workshop Panduan AIK untuk Non-Muslim
Kemuhammadiyahan sebagai Nilai & Subkultur
D
alam kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) untuk mahasiswa-mahasiswa non-Muslim, Kemuhammadiyahan sebaiknya ditekankan sebagai nilai (value) dan subkultur, selain sebagai pengetahuan. Sehingga, kuliah AIK mengajarkan nilainilai kebaikan dan pengetahuan tentang Islam dan Persyarikatan Muhammadiyah. Harapannya, mahasiswa-mahasiswa di PTM merasakan dan kemudian mengaplikasikan nilai-nilai ini sehingga membentuk subkultur Muhammadiyah. Pemikiran tersebut disampaikan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. dalam acara Workshop Panduan AIK untuk Non-Muslim di UMM Inn, Jumat-Sabtu (34/11). Workshop ini dimaksudkan untuk mematangkan penyusunan panduan kuliah AIK bagi mahasiswa-mahasiswa non-Muslim. Kuliah ini sudah lama berlangsung di PTM yang sebagian mahasiswanya beragama bukan Islam. Namun, kuliah tersebut belum memiliki panduan yang lengkap. Dengan workshop ini, diharapkan panduan yang lengkap itu segera terwujud. Sebagaimana dipahami, kuliah AIK bagi mahasiswa non-Muslim tidak dimaksudkan untuk me-
maksa mereka masuk Islam. Sebagai pengetahuan, kuliah ini memberikan informasi tentang Islam dan Muhammadiyah. Dengan informasi yang memadai tentang Islam dan Muhammadiyah, para mahasiswa dan alumni PTM akan bersikap baik dan membantu aktivitas-aktivitas kaum Muslim dan organisasi Muhammadiyah. Dalam workshop ini, muncul juga gagasan bahwa untuk menyelenggarakan kuliah AIK dengan bagus, diperlukan dosen dan proses kuliah yang bagus pula. Langkah selanjutnya adalah peningkatan kualitas dosen dengan studi lanjut di PTMA dan dengan program-program capacity building oleh asosiasi dosen AIK. Peningkatan kualitas dosen yang bagus tentu berimbas pada peningkatan kualitas proses kuliah AIK. Pada gilirannya, peningkatan kualitas proses ini berdampak pada peningkatan hasil kuliah AIK. Para mahasiswa dan alumni PTMA akan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam dan Muhammadiyah dan berperilaku sesuai dengan nilainila Islam dan Kemuhammadiyahan. Syahdan, terbentuklah subkultur Kemuhammadiyahan.[] Budi Asyhari Afwan
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 33
Kinerja
Delegasi perguruan tinggi Muhammadiyah melakukan kunjungan ke perguruan-perguruan tinggi di Jepang, Ahad-Sabtu (12-18/11).
PTM Gandeng Perguruan Tinggi Bidang Kesehatan di Jepang
P
erguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) mulai merintis kerja sama dengan perguruan tinggi (PT) di Jepang. “Untuk bidang kesehatan, lebih relevan bagi kita bekerja sama dengan PT di Jepang ketimbang PT di Eropa, Australia ataupun Amerika. Penyakit dan kultur kita lebih cocok dengan Jepang," demikian disampaikan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. saat kunjungan delegasi PTM ke KBRI Jepang di Tokyo, Senin (13/11). Delegasi 38 PTM Kesehatan ini diterima Minister Counselor Eko Junor dan M. Abas Ridwan serta Atdikbud Alinda. Delegasi juga akan merintis kerja sama dengan International University of Helath anda Welfare dan JICHI Medical University. Ditambahkan Lincolin, PTM Kesehatan akan terus dikembangkan sesuai dengan cita-cita K.H. Ahmad Dahlan yang ingin melakukan pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan dan pelayanan masyarakat. "Saat ini kita sudah mempunyai 10 Fakultas Kedokteran, dan akan bertambah dua lagi, di samping puluhan prodi kesehatan," ujar Lincolin
34 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
yang didampingi Wakil Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah Pof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dan Sekretaris Diktilitbang Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. Dalam pengantarnya, Atdikbud RI di Tokyo Alinda mengapresiasi kunjungan ini yang dilakukan dengan cepat oleh Muhammadiyah. "Beberapa bulan lalu saya menawarkan untuk merintis kerja sama ini, dan itu direspons cepat oleh Muhammadiyah. Saya berharap rintisan kerja sama ini bisa diikuti dengan agenda aksi yang bermanfaat bagi PT di Indonesia,� pungkas Alinda. Selanjutnya, delegasi PTM ini bertemu dengan pimpinan International University of Health and Welfare (IUHW), Rabu (15/11). Delegasi ini diterima langsung oleh Chairman dan Presiden IUHW, yakni Kuninori Takagi, M.D., Ph.D. Kerja sama akan dilakukan antara IUHW dan PTM dalam pengembangan dosen dan riset. IUHW akan memberikan beasiswa kepada para mahasiswa Fakultas Kedokteran PTM yang lulus seleksi untuk melanjutkan studi.[] ESH
Rektor UM Surabaya Dr. dr. Sukadiono, M.M. sebagai tuan rumah memberikan sambutan pada acara pembukaan Workshop Penyusunan Borang AIPT. sumber: www.muhammadiyah.or.id.
Workshop Penyusunan Borang AIPT PTMA
Dari Surabaya Menuju AIPT “A”
“
Semoga ke depan UM Surabaya bisa sejajar dengan PTN dan PTM yang ada. Target tahun 2020, UM Surabaya mendapatkan akreditasi A,” papar Dr. dr. Sukadiono, M.M., Rektor UM Surabaya, sebagai tuan rumah dalam sambutannya pada acara pembukaan Workshop Penyusunan Borang AIPT PTMA, Selasa (24/10). Sukadiono menambahkan, UM Surabaya telah melakukan AIPT dengan skor 301 dan peringkat “B” pada 2015. Prestasi ini dicapai berkat perjuangan seluruh tim dan bakal ditingkatkan lagi selama tiga tahun mendatang. UM Surabaya merasa bangga karena ditunjuk oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah untuk menjadi tuan rumah kegiatan workshop penyusunan borang AIPT bagi PTMA yang belum pernah melakukan akreditasi institusi perguruan tinggi. Workshop ini berlangsung selama tiga hari, Selasa-Kamis (24-26/10).
Workshop ini mendorong semua PTMA untuk melakukan AIPT. Sebagian PTM belum melakukannya, sehingga Majelis Diktilitbang menyelenggarakan acara ini. Workshop serupa juga dilaksanakan di UM Yogyakarta, Jumat-Ahad (2729/10), dengan peserta yang berbeda. Diharapkan, nantinya semua PTMA melakukan AIPT dan mendapatkan peringkat yang bagus dan unggul. Jadi, tak hanya UM Surabaya yang menargetkan AIPT peringkat “A”, tetapi juga PTMA-PTMA lain. Sampai sekarang, baru lima PTMA yang peringkat AIPT-nya “A”, yakni UM Yogyakarta, UHAMKA, UM Surakarta, UM Malang dan Universitas Ahmad Dahlan. Jumlah PTMA dengan AIPT “A” diharapkan bertambah di masa-masa mendatang.[] Agus Mulyono
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 35
Ahmad Muttaqin, M.A., Ph.D. memaparkan materinya dalam Workshop Penyusunan Borang AIPT PTMA di UMY.
Workshop Penyusunan Borang AIPT PTMA
Pahit di Depan, Manis di Belakang Saat ini, pilihan mahasiswa untuk masuk perguruan tinggi (PT) dipengaruhi oleh peringkat akreditasi program studi dan akreditasi perguruan tinggi dan juga klastering PT yang dibuat oleh Kemeristekdikti. Sehingga, Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) perlu bersungguh-sungguh untuk menjadikan kampusnya memiliki peringkat akreditasi yang unggul, yaitu “A”. Untuk itulah, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengadakan “Workshop Penyusunan Borang Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) untuk PTMA yang belum mengajukan AIPT. Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dalam sambutan pembukaan workshop mengharapkan agar pengelola PTMA benar-benar serius dalam mengelola kampusnya. “Perkembangan PTMA tergantung pada pengelolaan kampus yang baik,” ujarnya. Salah satu cara pengelolaan kampus yang baik adalah mengikuti AIPT dengan nilai yang baik. Prof. Edy juga berharap agar PTMA yang belum mengajukan AIPT ke Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk segera mendaftar. “Awal 2019, semua PTMA harus terakreditasi dan tidak ada yang 36 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
mendapat nilai C, kecuali kampus baru,” imbuhnya. Workshop ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat-Ahad (2729/10). Rektor UMY Dr. Gunawan Budiyanto, M.P. dalam sambutan pembukaan workshop memberi semangat kepada PTMA yang belum mengajukan akreditasi untuk lekas mengajukan. “Mengelola PTMA bukan seperti makan tebu, manisnya di depan, pahitnya dibelakang. Mengelola PTMA itu pahitnya di depan dan manisnya di belakang,” ujarnya. Beliau mengajak kepada pengelola PTMA agar gigih dalam mengelola kampus. Sehingga di belakang hari, kampus yang mereka kelola mengalami perkembangan yang menggembirakan. Workshop yang diikuti 50 PTMA ini mengupas secara tuntas penyusunan borang AIPT, standar 1—7. Para narasumber yang menyampaikan materi antara lain Pof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., Ph.D. dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Narasumber lain berasal dari UMY, yakni Dr. Mukti Fajar ND, M.Hum., Dr. Suranto, M.Pol., Dr. Nano Prawoto, M.Si. dan Mujiyana, M.Si.[] Iwan Setiawan
Edisi Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 37
INAUGURASI Dalam sambutannya, Yuanis mengatakan, dirinya memohon bimbingan, dukungan dan petunjuk dari semua pihak, baik rekan dosen, BPH, PDM, PWM, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan pihak-pihak terkait dalam mengemban tugas dan amanah ini. Sebab, beliau merendah, dirinya baru belajar menjadi ketua sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah. “Saya mengajak rekan-rekan dosen STIE Muhammadiyah Tuban untuk tidak melihat siapa saya, siapa kamu. Namun, lebih melihat kita sebagai teamwork untuk membawa STIE Muhammadiyah Tuban menjadi lebih baik, lebih dikenal oleh masyarakat Tuban dan sekitarnya, dan, kalau boleh berharap, menjadikan STIEM Prof. Achmad Jainuri, Ph.D. (paling kanan), Yuanis, S.E., M.M. (nomor dua dari kanan), dan Hariyanti, S.E., M.M. (nomorsebagai salah satu perguruan tinggi yang tiga dari kanan) dalam acara Pelantikan Ketua STIE Muhammadiyah Tuban, Sabtu (16/9). diperhitungkan di Kota Tuban, seperti Pelantikan Ketua STIE Muhammadiyah Tuban PTM yang ada di kota-kota lain,” ujar Yuanis. “Karena tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mau bekerja, bekerja, bekerja dan berusaha serta berdoa. Man jadda wa jadda,” imbuhnya. elantikan Yuanis, S.E., M.M. sebagai Ketua Sekolah Pelantikan ini dihadiri juga oleh sivitas akademika, Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Tuban, dosen-dosen dan karyawan-karyawan STIE MuhamJawa Timur periode 2017-2021 dilakukan oleh anggomadiyah Tuban. Usai pelantikan, dilakukan pembinaan ta Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah kepada seluruh dosen dan karyawan tersebut.[] Agung Prof. Achmad Jainuri, Ph.D. di kampus setempat, Sabtu Prihantoro (16/9). Yuanis menggantikan Hariyanti, S.E., M.M. yang masa jabatannya telah berakhir.
Menjadi PTM yang Diperhitungkan
P
A
cara Wisuda Stikes Muhammadiyah Manado diikuti dengan pembinaan dosen, Senin (4/9). Jumlah wisudawan sebanyak 202 orang yang terdiri dari 85 orang S-1 Keperawatan, 66 orang D-3 Kebidanan, 21 orang D-3 Farmasi dan 36 orang Ners. Para wisudawan ini menambah jumlah alumninya sehingga jadi 2.119 orang. Selain melakukan wisuda, Stikes Muhammadiyah Manado juga telah menerima mahasiswa baru pada 2017 sebanyak 371 orang. Angka tersebut adalah jumlah yang lolos seleksi dan kemudian mendaftar ulang dari seluruh pendaftar sebanyak 542 orang. Jumlah total mahasiswanya adalah 1.182 orang. Acara wisuda dihadiri oleh para pejabat kampus dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Drs. A. Dahlan Rais, M.Hum. serta Ketua Majelis Diktilitbang Prof.
38 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
Wisuda Stikes Muhammadiyah Manado
Tingkatkan Penelitian & Short Course Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. Selepas acara wisuda, diadakan pembinaan kepada dosen-dosen Stikes Muhammadiyah Manado oleh Prof. Lincolin Arsyad. Di sini, beliau menekankan empat hal, yakni, pertama, perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui penelitian dan short course (pelatihan). Untuk mengangkat kualitas kampus, peningkatan kualitas SDM tak bisa ditawar. Penelitian dan pelatihan menjadi bagian dari catur darma PTM. Kedua, Stikes Muhammadiyah Madano perlu
penerapan good university governance, khususnya pemantapan penerapan sistem penjaminan mutu internal (SPMI). Langkah ini dimaksudkan juga untuk meningkatkan kualitas kampus dan peringkat akreditasinya. Ketiga, PTM ini harus mengembangkan keunikan dan keunggulan lokal supaya Stikes Muhammadiyah Manado bisa menjadi local/regional champion di Sulawesi Utara. Keempat, PTM harus menjaga kekompakan dan cohesiveness dengan para pemangku kepentingan utama, yaitu BPH dan PWM/PDM dan Pemda setempat.[] Drs. A. Dahlan Rais, M.Hum. dan Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. (tengah) bersama para pejabat Stikes Muhammadiyah Manado dan wisudawan.
W
akil Bendahara Majelis DiktilitWisuda Stikes Muhammadiyah Lamongan bang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Muttaqin, M.A., Ph.D. menyebut tujuh faktor penentu kesuksesan hidup manusia saat beliau memberikan sambutan dalam acara Wisuda Stikes Muhammadiyah Lamongan, Ahad (21/10). Tujuh faktor yang paling menentukan ini, Muttaqin mengutip riset Thomas J. Stanley, adalah kejujuran, kedisiplinan, jaringan, dukungan pasangan hidup, kerja keras, mencintai profesi, dan kepemimpinan yang kuat. Sementara itu, indeks prestasi (IP) menempati urutan ke-21 dalam faktorfaktor penentu keberhasilan tersebut, imbuh Muttaqin. IP berkaitan dengan intelligence quotion (IQ). Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Pelaksana Kopertis VII Dr. Widyo Winarso, M.Pd. juga memberikan sambutan. Beliau mendorong dan menduSekretaris Pelaksana Kopertis VII Dr. Widyo Winarso, M.Pd. memberikan sambutan dalam acara wisuda Stikes Muhammadiyah Lamongan. kung perubahan bentuk Stikes Muhammadiyah Lamongan jadi Universitas Muhammadiyah Lamongan. Perubahan bentuk ini nantinya  segera dilakukan. akan diikuti dengan merger tiga PTM lain. Wisuda kali ini diikuti oleh 300 orang dan dihadiri Sebagaimana diketahui, Stikes Muhammadiyah Lamongan telah mengirim surat dan berkas-berkas yang oleh para pejabat Stikes Muhammadiyah Lamongan. diperlukan untuk melakukan perubahan bentuk ke Hadir pula dalam acara ini PWM Jawa Timur dan PDM Kemenristekdikti. Visitasi oleh Kemenristekdikti akan Lamongan.[] AGP
Tujuh Penentu Kesuksesan
Edisi Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 39
INAUGURASI harus dipercepat, karena UMKT merupakan gabungan dua institusi. Karenanya, pengelola UMKT mesti bekerja keras untuk mencapainya dan mewujudkan PTM ini sebagai center of excellence di kawasan Indonesia Timur seperti tujuan awal. Selain itu, UMKT perlu membuat perencanaan jangka panjang dan mengembangkan good university governance dan program internasionalisasi, lanjut Prof. Colin. Pun, UMKT harus mampu menjalin kerja sama dengan semua pihak, baik internal (khususnya PWM dan BPH) maupun eksternal (pemerintah daerah, dunia usaha dan stakeholder lainnya). Sementara itu, Prof. Bambang Setiaji mengatakan, UMKT dibangun tidak seProf. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. menyampaikan sambutan dalam acara Pelantikan Wakil Rektor UMKT cara reguler karena didukung oleh gurudi Samarinda, Jumat (6/10). guru besar dan doktor-doktor terbaik dari UM Surakarta. Mereka akan mengaPelantikan Wakil Rektor UMKT jar dan mendidik mahasiswa-mahasiswa dengan karakter islami: respek terutama kepada orangtua dan dosen, jujur, kerja keras dan tahan banting. UMKT juga akan mendidik mahasisektor Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur wa dengan wawasan yang luas, tambah (UMKT) Prof. Dr. Bambang Setiaji melantik Ghozali Prof. Bambang. Karena itu, UMKT bakal bekerja sama MH, M.Kes. sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan dengan berbagai bangsa, seperti Korea Selatan, Taiwan, Sunarso, M.M. sebagai Wakil Rektor Bidang KemahasisMalaysia, Australia dan Inggris. waan di Samarinda, Jumat (6/10). Pelantikan ini dihadiri Tak hanya itu, UMKT akan menjadi information techoleh Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. nology-based paperless university. IT merupakan mata kuliLincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. ah dasar umum (MKDU), dan ujian dan perpustakaannya Prof. Lincolin dalam sambutannya menyampaikan akan tanpa kertas.[] Agung Prihantoro selamat atas kelahiran UMKT. Beliau manambahkan, proses transisi UMKT menuju corporate culture yang baru
Percepat Pembentukan Corporate Culture
R
Wisuda UM Kupang
Teladan Toleransi
U
niversitas Muhammadiyah Kupang mewisuda 455 orang di Aula Serba Guna UM Kupang, Sabtu (14/10). Acara wisuda ini dihadiri oleh antara lain Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Dr. Chairil Anwar dan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Drs. Frans Lebu Raya. Frans Lebu Raya dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi kepada UM Kupang yang telah ber-
40 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
usia 30 tahun. Pada usia tiga dasawarsa ini, jumlah alumninya telah mencapai 8.500 orang. Program Studi Perikanan menjadi satu-satunya prodi di perguruan tinggi di NTT, demikian juga Program Studi Pendidikan Sosiologi. Beliau mengimbuhkan, NTT menjadi contoh provinsi yang penuh dengan toleransi. Sebagian besar masyarakatnya beragama bukan Islam, dan UM Kupang berada di tengah-tengah mereka. Sementara itu, Chairil Anwar menyatakan, kebinekaan dan toleransi bukan hal baru bagi Muhammadiyah. Persyarikatan Muhammadiyah telah mempraktikkan toleransi sejak awal berdirinya organisasi ini. Di NTT terdapat tiga PTM, yakni UM Kupang, IKIP Muhammadiyah Maumere dan STKIP Muhammadiyah Alor, lanjut Chairil. Ketiganya diterima dengan baik oleh
masyarakat yang mayoritas non-Muslim. Banyak alumni UM Kupang menjadi pejabat di NTT, dan hal ini merupakan sumbangsih Muhammadiyah kepada provinsi ini. Chairil Anwar juga menyampaikan terima kasih kepada para orangtua wisudawan yang telah mempercayakan anak-anak mereka kuliah di UM Kupang dan PTM-PTM lain. Beliau mengucapkan terima kasih pula kepada Rektor UM Kupang Prof. Dr. Sandi Maryanto, BPH dan PWM yang telah bekerja sama dengan baik untuk memajukan PTM ini. Ucapan terima kasih secara khusus ditujukan kepada Prof. Sandi yang dengan Rektor UM Kupang dan jajarannya dalam acara wisuda di Aula Serba Guna UM Kupang, Sabtu (14/10). tangan dingin memimpin dan membesarkan UM Kupang selama dua periode. Sekarang, UM Kupang memiliki 11 Peringkat AIPT-nya “B”. UM Kupang telah menambah program studi lama dan 1.250 mahasiswa baru. Sepuluh lima prodi baru dan tengah menunggu SK prodi S-2 Soprodi di antaranya telah terakreditasi “B”, dan prodi yang siologi.[] AGP terakreditasi “C” sedang melakukan akreditasi ulang.
P
elantikan Dr. Zainur Wula, M.Si. sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang tahun 2017— 2021 dilakukan oleh Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. di kampus setempat, Selasa (7/11). Zainur Wula berkomitmen untuk menjadikan kampusnya sebagai perguruan tinggi yang unggul, demikian dilansir oleh www. muhammadiyah.or.id. Acara pelantikan dan serah terima jabatan ini dihadiri oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Si. dan para tamu undangan lainnya. Sebelum pelantikan, proses pemilihan dan penetapan rektor baru ini melalui proses yang panjang. Dengan proses-proses yang bertahap, akhirnya Zainur Wula ditetapkan sebagai pimpinan baru. Beliau menggantikan Prof. Dr. Sandi Maryanto yang telah menjabat sebagai Rektor UM Kupang selama dua periode, 2009—2013 dan 2013—2017. Zainur akan meneruskan dan meningkatkan pencapaian yang telah diraih oleh PTM ini. Peringkat AIPT-nya “B”, dan masih ada lima program studi baru
Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. (kanan) melantik Dr. Zainur Wula, M.Si. (kiri) sebagai Rektor UM Kupang tahun 2017—2021, Selasa (7/11).
Pelantikan Rektor UM Kupang
Jadikan PTM yang Unggul yang menuntut kerja keras untuk melakukan akrediasi agar peringkatnya unggul.[]
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 41
Kronik
Menristekdikti Prof. Muhammad Nasir, M.Si., Akt., Ph.D. melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung UM Bandung, Ahad (15/10).
Peletakan Batu Pertama UM Bandung
Membangun Islamic Technopreneurship University
M
enteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Muhammad Nasir, M.Si., Akt., Ph.D. melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Universitas Muhammadiyah Bandung di Lengkong Kota Bandung, Ahad (15/10). Beliau mengharapkan UM Bandung dapat bekembang dengan baik ke depan. Sementara itu, Rektor UM Bandung Prof. Dr. Suyatno, M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan, “Kami sangat menyadari bahwa mengelola sebuah lembaga pendidikan tinggi diperlukan semangat kerja yang tinggi, disiplin yang kuat, dan dilandasi semangat fastabiqul khoirot. Kami berharap UM Bandung dapat menjadi perguruan tinggi yang memiliki posisi kuat dengan keunggulannya sebagai Islamic Technopreneurship University dan memberikan tambahan sumber daya insani yang berpendidikan tinggi, berkarakter kuat, inovatif, kreatif, berdaya saing, berwawasan global serta mempunyai kompetensi yang
42 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
tinggi dalam penguasaan Imtaq dan Iptek.” “Pendirian Universitas Muhammadiyah Bandung merupakan salah satu perwujudan cita-cita dakwah Muhammadiyah untuk umat dalam mengembangkan masyarakat sesuai yang dicita-citakan pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan, melalui pusat keunggulan dalam mencetak technopreneur-technopreneur baru,” lanjutnya. UM Bandung menjadi PTM pertama dalam bentuk universitas di Kota Asia Afrika ini. UM Bandung berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indoneia Nomor 205/ KPT/I/2016 tanggal 14 Juni 2016 tentang Izin Pendirian Universitas Muhammadiyah Bandung. Sebelumnya, di kota ini telah ada Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Bandung dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah (STIEM) Bandung.[] AGP
Presiden Joko Widodo meninjau lokasi pembangunan gedung UM Banjarmasin, Jumat (15/9).
Kunjungan Kerja Presiden ke UM Banjarmasin
Wujudkan Boarding University
P
residen Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Jumat (15/9). Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan, pembangunan asrama mahasiswa UM Banjarmasin untuk mendukung pendidikan karakter menjadi tanggung jawab dirinya. Presiden berjanji akan membangunnya. Selanjutnya, beliau akan mengirim tim dan kemudian akan mulai membangun dua unit asrama mahasiswa pada awal 2018 jika lahannya sudah siap dengan anggaran 12-14 miliar rupiah per unit. Apabila dua unit asrama tersebut belum mencukupi dan timbul kebutuhan yang mendesak, tahun berikutnya presiden akan memberikan bantuan untuk membangun dua unit asrama lagi. Jokowi mengimbuhkan, dukungannya sangat besar pada UM Banjarmasin lantaran visi universitasnya sama dengan visi kebangsaan, yakni membangun boarding university untuk membentuk karakter bangsa. Beliau juga meminta Gubernur Kalimantan Se-
latan Sahbirin Noor untuk membantu pembangunan gedung UM Banjarmasin. Pembangunannya sudah berjalan 70%. Dukungan dan bantuan gubernur dan Presiden Jokowi terasa sangat istimewa, karena usia PTM ini belum genap dua tahun. Rektor UM Banjarmasin Prof. Dr. Ahmad Khairuddin, M.Ag. mengatakan, kampusnya beralih bentuk dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin jadi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin pada 30 Desember 2015 berdasarkan Surat Keputusan Kemenristekdikti Nomor 204/KPT/I/2015. Kampus utama UM Banjarmasin dibangun di atas lahan seluas 11,4 hektare dengan konsep floating campus (kampus terapung), lanjut Khairuddin. Dalam 3-4 bulan, pembangunan gedung utamanya akan selesai. Untuk tahap awal, gedung utama ini dibangun 4 lantai dengan luas 11.000 meter persegi sehingga dapat menampung 3.000 orang mahasiswa. Saat ini, mahasiswa UMB berjumlah sekitar 3.000 orang di 15 program studi dan 1 program pascasarjana.[] AGP Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 43
Kronik
Pembangunan gedung SMA Premium Bengkulu
Pembangunan SMA Premium & SMK Agromaritim di UM Bengkulu
Program Menjemput Matahari
P
ada 2017, Universitas Muhammadiyah Bengkulu memperoleh amanah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membina dan membangun SMA Premium dan SMK Agromaritim Laboratorium Fakultas Pertanian. Program ini merupakan kerja sama antara Kemendikbud dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan total anggaran 2,4 miliar rupiah untuk setiap sekolah. Pembangunan SMA Premiun didasarkan pada Surat Keputusan Direktur Bina SMA Nomor 2786/D4/ KU/2017 tanggal 7 Juni 2017. Sementara itu, pembangunan SMK Agromaritim berlandaskan Surat Keputusan Direktur Pembinaan SMK Nomor 6291/D5.4/KU/2017 tanggal 27 September 2017. Dua sekolah ini akan menerapkan sistem pesantren (boarding school). Siswa-siswanya mukim di asrama sekolah. Mereka akan dibekali dengan kemampuan bahasa Arab dan Inggris. Pengelola sekolah ini menggulirkan program “Menjemput Matahari�, yakni mencari calon-calon siswa di
44 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Bengkulu. Pengelola sekolah menyeleksi dan merekrut calon-calon siswa untuk dididik agar menjadi manusia-manusia yang unggul. SMK Agromaritim membuka dua program studi, yaitu (1) Agroindustri dan Pariwisata dan (2) Kelautan dan Perikanan. Dua program ini selaras dengan potensi geografis Provinsi Bengkulu untuk mengembangkan usaha kemaritiman, terutama budidaya laut. Seperti diketahui, letak geografis Provinsi Bengkulu memanjang 600 kilometer di tepi Samudra Indonesia, dan letak geografis ini sangat potensial. Potensi lain Provinsi Bengkulu adalah hutan-hutannya yang berada di sepanjang perbatasan dengan provinsiprovinsi lain. Harapannya, potensi ini ke depan akan diolah dan dikembangkan antara lain oleh lulusan-lulusan SMK Agromaritim yang unggul, sehingga masyarakat Bengkulu mendapatkan banyak manfaat, dan kehidupannya pun sejahtera.[] Agung Prihantoro
Para peserta Seminar & Lokakarya Nasional Pengembangan Penerbit PTM di Hotel Atria Sumarecon Tangerang (3-5/11). sumber: harian.analisadaily.com.
Seminar & Lokakarya Nasional Pengembangan Penerbit PTM
Kukuhkan Eksistensi University Publishing
K
etua Kwartir Wilayah Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) Jabodetabek Dr. Purnomo mengatakan, penerbit-penerbit perguruan tinggi sebenarnya merupakan garda depan dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas. Namun, saat ini, penerbit perguruan tinggi belum bekembang secara optimal lantaran tidak mempunyai kapabilitas dan pengalaman penerbitan yang memadai. Purnomo menyampaikannya dalam acara Seminar & Lokakarya Nasional Pengembangan Penerbit PTM di Hotel Atria Sumarecon Tangerang, Jumat-Ahad (3-5/11). Acara ini diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Tangerang dan dihadiri oleh para pengelola penerbit PTM, sebagaimana dikutip dari situs Harian Analisa. Pengelola penerbit PTM yang hadir antara lain berasal dari UM Sumatera Utara, UM Sumatera Barat, UM Gorontalo, Sekolah Tinggi Ilmu Agama Muhammadiyah Selong, Stikes Muhammadiyah Kudus, Stikes Muhammadiyah Lamongan, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Mu-
hammadiyah Kotabumi Lampung, UM Tasikmalaya, UM Surabaya, STIE Muhammadiyah Palopo, UNISA Yogyakarta, UM Yogyakarta, UM Surakarta, UM Sorong, Stikes Muhammadiyah Pekalongan dan Stikes Muhammadiyah Manado. Narasumber lain yang menyampaikan materi dalam cara ini ialah Dr. Bambang Warsito Adi, Ketua APPTI Dr. Richardi dan Bambang Trimansyah sebagai praktisi penerbit. Sebelum para narasumber memaparkan materinya, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Pof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. membuka seminar dan lokakarya ini. Acara tersebut diakhiri dengan pembentukan pengurus Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APPTIMA). Drs. Zalzulifa, M.Pd. (UM Tangerang) dan Dr. Sriyanto, M.Pd. (UM Surakarta) terpilih sebagai Ketua I dan II. Sekretaris dan Bendaharanya adalah Mulyono, S.E. dan Joko Supriyanto, S.Sn., sedangkan Bagian Humasnya ialah Ikhamiyati.[]
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 45
Kronik
Dari kiri, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Papua Barat, Ketua STKIP Muhammadiyah Manokwari, Menteri PPPA dan Gubernur Papua Barat.dalam acara talk show Literasi Digital 2017, Sabtu (30/9).
Literasi Digital 2017
Agar Perempuan Tak Terdiskriminasi Acara talk show literasi digital dengan tema “Sinergitas Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan Lingkungan di Pulau Ujung Samudranta” merupakan salah satu program Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia. Acara ini dilaksanakan atas kerja sama KPPPA dengan Indonesian Women IT Awareness (IWITA) dan STKIP Muhammadiyah Manokwari di kampus PTM ini, Sabtu (30/9). Menteri KPPPA Yohana Susana Yembise menjadi pembicara utama (keynote speaker), sedangkan Ketua STKIP Muhammadiyah Manokwari Murniati, M.Pd. dan Ketua IWITA Martha Simanjuntak, M.M. menjadi narasumbernya. Yohana menyampaikan, banyak perempuan tidak mendapatkan keadilan di pemerintahan dan pendidikan. Karenanya, kegiatan ini diadakan untuk membicarakan masalah tersebut dan mencari solusi-solusinya. Acara ini dihadiri Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, M.M. dan Bupati Manokwari Demas Mandacan. Gubernur dalam sambutannya mengatakan, perempuan-perempuan sekarang semakin hari semakin dituntut untuk mengetahui dan memahami apa itu teknologi. De46 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
ngan pengetahuan dan pemahaman ini, serta wadah aspirasi perempuan, gubernur mengharapkan tiada lagi perempuan di tanah Papua yang terdiskriminasi dan tertekan. Murniati sebagai pemimpin perguruan tinggi membuktikan, perempuan bisa tampil di lembaga pendidikan. Perempuan memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan laki-laki. Sejumlah jabatan strategis juga dipegang oleh perempuan. Kuncinya, menurut Murniati, adalah ketahanan keluarga. Keluarga harus memberdayakan anak-anak—lakilaki dan perempuan—dan mendukung mereka untuk maju secara adil. Keluarga juga mesti mengawasi anak-anak dalam menggunakan teknologi. Pemberdayaan perempuan dimulai dan dikawal oleh keluarga. Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang pelajar SMA/ SMK, 40 orang dari organisasi-organisasi perempuan, tokoh-tokoh masyarakat, dan sivitas akademika STKIP Muhammadiyah Manokwari. Panitia menargetkan jumlah pesertanya 150 orang, tetapi ternyata masyarakat sangat antusias dengan acara ini, sehingga pesertanya membludak jadi 223 orang.[] Agung Prihantoro
Prof. Drs. Lafran Pane
Gelar Pahlawan Nasional untuk Prof. Drs. Lafran Pane
Dosen Muhammadiyah Sang Penggagas Besar
S
atu lagi kader Muhammadiyah mendapatkan anugerah pahlawan nasional. Prof. Drs. Lafran Pane (1922-1991) dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ditetapkan sebagai pahlawan nasional dengan Keputusan Presiden (Kepres) Republik Indonesia Nomor 115/ TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017. Beliau pernah menjadi dosen di Akademi Tabligh Muhammadiyah, yang kemudian berubah jadi Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah, cikal bakal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kepres tersebut juga menetapkan tiga pahlawan nasional lainnya, yakni T.G.K.H. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, Laksamana Malahayati dari Provinsi Aceh dan Sultan Mahmud Riayat Syah dari Provinsi Kepulauan Riau. Kepres untuk saudara kandung Sanusi Pane dan Armijn Pane ini diterima oleh Muhammad Iqbal Pane, anak kedua Lafran Pane, Selasa (7/11). Semasa kecil, Lafran Pane belajar di Pesantren Muhammadiyah Sipirok, yang kini bernama Pesantren K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Setia, dekat Desa Parsorminan Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Setelah
berpindah-pindah sekolah, Lafran Pane meneruskan pendidikannya di kelas 7 HIS Muhammadiyah hingga Taman Dewasa Raya dan kuliah di Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta. Saat pecah Perang Dunia II, ibukota Republik Indonesia dan juga STI pindah ke Yogyakarta, demikian pula Lafran Pane. Di Kota Pendidikan inilah karier intelektual dan pergerakan Lafran Pane berkembang dengan luas. Semasa berstatus sebagai mahasiswa STI di Yogyakarta, pada 5 Februari 1947, beliau dan empat belas mahasiswa lain mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia. HMI mengader para mahasiswa Muslim dan melahirkan banyak sekali tokoh yang berperan penting bagi kemajuan umat dan bangsa. Beberapa di antara tokoh-tokoh alumi HMI ialah Nurcholish Madjid, Ahmad Syafii Maarif dan M. Amien Rais. Itulah salah satu kontribusi besar Lafran Pane. Kontribusi besar lainnya adalah pemikiran-pemikirannya tentang tata negara, nasionalisme dan Pancasila. Dalam pidato pengukuran guru besarnya pada 16 Juli 1970, Sang Penggagas Besar ini menegaskan Pancasila sebagai dasar negara dan menolak monopoli penafsirannya.[] Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 47
Kronik
Dr. Sofyan Anif (paling kanan), Weni Hastuti, S.Kep., M.Kes. (dua dari kanan) dan asesor saat visitasi AIPT di Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta, Selasa (19/9).
AIPT “B” sebagai Modal Awal
P
ada 2028, Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta akan menjadi perguruan tinggi kesehatan terdepan, unggul, berkarakter Islam berkemajuan. Langkah untuk mencapai cita-cita tersebut telah dimulai dari sekarang. Langkah awalnya berupa pelaksanaan AIPT, yakni visitasi asesor (Selasa, 19/9/2017) dan perolehan peringkat AIPT “B” berdasarkan SK BAN-PT Nomor 3772/SK/BANPT/Akred/PT/X/2017. Ketua Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta Weni Hastuti, S.Kep., M.Kes. menuturkannya kepada Warta PTM. Keberhasilan dalam melakukan AIPT ini menjadi modal awal yang menambah semangat pimpinan, dosen, karyawan dan mahasiswa PTM ini. Dengan kepemimpinan Weni Hastuti, S.Kep., M.Kes. sebagai ketuanya dan Dr. Sofyan Anif, M.Si. sebagai ketua BPH-nya—yang juga rektor UM Surakarta—semangat itu terarah menuju citacita besar tadi. Cita-cita tersebut bermakna, Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta bertekad untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berstandar nasional dan internasional. Selain itu, Weni menambahkan, lulusannya selalu berperan aktif dalam berbagai kegiatan dan program pemerintah di bidang kesehatan. Untuk mencapai cita-cita itu, lanjut Weni, PTM yang baru berusia lima tahun ini melakukan tiga langkah
48 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
pokok, yaitu (1) peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), (2) peningkatan kualitas proses pembelajaran, dan (3) peningkatan kerja sama dengan berbagai lembaga di dalam dan luar negeri. Peningkatan kualitas SDM dilakukan dengan studi lanjut; partisipasi dosen di seminar-seminar dan workshop-workshop nasional dan internasional serta terutama pelatihan-pelatihan metode penelitian, pengabdian masyarakat dan penulisan artikel. Peningkatan kualitas proses pembelajaran dilaksanakan dengan penerapan pendekatan student-centered learning. Dosen-dosen menjadikan para mahasiswa sebagai subyek dan mendorong mereka untuk aktif belajar. Terakhir, peningkatan kerja sama telah dijalankan dengan jalinan kerja bareng lembaga-lembaga eksternal, seperti KNCV Tuberculosis Foundation di Den Hag Belanda dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Dengan KNCV Tuberculosis Foundation, Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta bekerja sama untuk menanggulangi penyakit tuberculosis di Kota Surakarta. Stikes ini juga telah menggandeng BNP2TKI untuk melatih alumninya dan sarjana-sarjana lulusan kampus lain agar mereka siap bekerja di luar negeri, khususnya di negara-negara Asia Barat dan Jepang.[] AGP
warta dari ptm
Design Engineering untuk Hadapi Persaingan Global
Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Cileungsi STTM Cileungsi mengadakan seminar dengan tema “Meningkatkan Skill Design Engineering dalam Menghadapi Persaingan Global”, Sabtu (30/9). Kegiatan ini diadakan oleh Program Studi Teknik Mesin. Selain itu, STTM Cileungsi juga mengadakan Trend Manufacturing yang dilakukan setiap dua bulan sekali. Dalam waktu dekat ini, STTM Cileungsi akan membuka pula Learning Center yang ditujukan untuk kalangan akademisi dan kalangan industri. Harapannya, kegiatankegiatan ini bakal menjadikan STTM sebagai pelopor pelatihan di bidang design engineering, programer dan motivasi diri.
Akademi Kebidanan Muhammadiyah Madiun Akbid Muhammadiyah Madiun akan membuka klinik Bidan Praktik Mandiri (BPM) dan klinik komplementer, Sabtu (28/10). Disampaikan oleh Lilis Suryani, M.Keb. selaku penanggung jawab kegiatan, program kebidanan komplementer ini bertujuan untuk menambah skill para mahasiswa agar mereka mampu menjadi calon tenaga bidan yang profesional. Lilis mengatakan, saat ini program yang sedang dipersiapkan adalah baby and mommy spa hypnotherapy/hypnobirthing, acupressure dan acupunture. Lilis berharap program ini bisa membentuk sarjana-sarjana Akbid Muhammadiyah Madiun yang siap bekerja dengan sertifikat ekstrakurikuler kebidanan komplenter. Klinik kebidanan komplementer mandiri menjadikan PTM ini unggul di bidang kebidanan komplenter.
Stikes Muhammadiyah Bojonegoro Stikes Maboro bertekad mengembangkan sistem informasi yang terintegrasi dengan PD DIKTI dengan decision support system. Pengembangan ini diawali workshop penyusunan smart cloud system melalui kerja sama dengan Indonesia Smart Cloud System, Selasa (3/10). Hal ini dilakukan agar pelaksanaan akreditasi prodi D-3 Rekam Medis oleh LAM-PTKes (1214/10) membuahkan hasil “B”. Dengan smart cloud system, mahasiswa merasa bangga kuliah di kampus yang berbasis IT. Dalam sistem ini, orangtua bisa memantau semua aktivitas putra putrinya melalui smart phone. Di samping itu, seluruh mahasiswa bisa mengakses semua informasi dan aktivitas kampus melalui smart phone. Ke depan, diharapkan peringkat Stikes Maboro di Webometrics meningkat menuju world class university.
STKIP Muhammadiyah Rappang Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Rappang menggelar rapat senat terbuka luar biasa dalam rangka Wisuda Sarjana XXIX di Aula H. Zaini Razak Lautang Salo Rappang, Sulawesi Selatan, Senin (2/10). Pada acara wisuda ini, STKIP Muhammadiyah Rappang menasbihkan gelar sarjana pendidikan (S.Pd.) kepada 253 orang lulusan di tiga program studi, yakni 104 lulusan program studi Teknologi Pendidikan, 68 lulusan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan 81 lulusan dari program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Acara wisuda ini dihadiri oleh pejabat Pemerintah Kabupaten SiEdisi Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 49
warta dari ptm denreng Rappang (Sidrap), Kopertis Wilayah IX dan PWM Sulawesi Selatan. Ketua PWM Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Ambo Asse, M.Ag. menyampaikan pesan kepada wisudawan-wisudawati agar mereka menjadi generasi yang ikut mewujudkan bangsa Indonesia yang berkemajuan. Prof. Ambo Asse juga mengatakan, STKIP Muhammadiyah Rappang sebagai PTM harus berupaya mewujudkan catur darma PTM secara profesional dan berbasis teknologi.
STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung mengadakan seminar internasional, Senin (25/9). Seminar itu bertujuan untuk mendiskusikan persiapan generasi muda dalam menghadapi revolusi industri mendatang. Narasumber pada kegiatan itu adalah Prof. Edy Herianto Majlan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Prof. Edy mengatakan, era revolusi industri saat ini menjadi tantangan besar bagi perguruan tinggi, karena perubahan besar sedang terjadi sementara cara kita mengajar masih sama dengan cara mengajar 20 tahun lalu. Edy juga memaparkan, kampus adalah benteng terakhir bagi seseorang sebelum ia terjun ke masyarakat. Oleh karena itu, kampus harus bisa memberikan skill yang berkualitas kepada mahasiswa-mahasiswanya.
Akademi Kebidanan Muhammadiyah Makassar Akademi Kebidanan Muhammadiyah Makassar menggelar wisuda bagi 88 sarjana di Hotel Arya Duta Makassar, Senin (11/9). PTM ini merupakan akbid swasta yang ternama dan sudah berdiri sejak 1999. Wisuda ke16 Akbid Muhammadiyah Makassar digelar bersama dengan perguruan-perguruan tinggi kesehatan lainnya, yakni Akper, AKL, ATEM, Anakes dan ATRO dengan jumlah wisudawan sebanyak 540 orang. Wisuda terpadu ini dihadiri oleh beberapa tamu undangan dari instansi kesehatan dan instansi-instansi terkait serta perguruan-perguruan tinggi lainnya.
50 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017
Universitas Muhammadiyah Kupang UM Kupang menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus (PKK), Rabu (13/9). Kegiatan PKK UM Kupang kali ini diikuti oleh 950 orang dari 1.034 mahasiswa baru yang diterima di UM Kupang. Pada kegiatan tersebut, Dr. Rahmat Laan, M.M. selaku Kepala Penjaminan Mutu UM Kupang mengatakan, saat ini tantangan di tingkat pendidikan tinggi semakin meningkat. Rahmat mengatakan, sekarang perguruan tinggi tertantang untuk menghasilkan output dengan kualitas SDM yang bisa bersaing. Sementara itu, Waki Rektor III UM Kupang Drs. Kenedy M.Pd. menegaskan pentingnya penyiapan output perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman.
Universitas Muhammadiyah Bengkulu UM Bengkulu mengundang Wakil Ketua MPR Mahyudin dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar, Kamis (5/10). Mahyudin mendorong para mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, dan entrepreneurship (wirausaha). Mahyudin menambahkan, dua tujuan bernegara sebagaimana amanat pendiri bangsa dalam Pembukaan UUD 1945 yang belum tercapai adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Salah satu indikator kecerdasan bangsa adalah kemampuan memproduksi barang/ jasa. Mahyudin mengajak semua mahasiswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang produktif, tidak hanya konsumtif. Hadir juga dalam sosialisasi ini tiga narasumber anggota MPR, yaitu Hetifah (Fraksi Partai Golkar), M. Toha (Fraksi PKB) dan Rektor UM Bengkulu Dr. Ahmad Dasan, M.A.
Universitas Muhammadiyah Pontianak Panitia Milad Muhammadiyah ke-108 di UM Pontianak menyelenggarakan bakti sosial di kompleks SD dan SMP Muhammadiyah 3 Pontianak di Jalan Pak Kasih Gang Merak, Ahad (1/10). Bakti sosial ini berupa pembagian 100 paket sembako, pakaian layak pakai,
Design Engineering untuk Hadapi Persaingan Global
pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan kanker serviks dan payudara oleh tim pink blue day Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Kalimantan Barat. Acara dibuka langsung oleh Ketua PWM Kalbar Dr. Pabali Musa. Masih ada beberapa agenda lain yang akan digelar dalam rangkaian Milad Muhammadiyah ini, yakni aneka lomba, seminar dan penutupan Milad, Sabtu (18/11). Kegiatan ini didukung oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kalbar, STIK Muhammadiyah Pontianak, Akbid ‘Aisyiyah, Dinas Kesehatan Kota Pontianak, dan PD Nasyiatul ‘Aisyiyah Kota Pontianak.
Universitas Muhammadiyah Makassar Rektor UM Makassar Dr. Abdul Rahman Rahim, M.M. menandatangani nota kerja sama Gerakan Nasional Peningkatan Produktivitas Daya Saing (GNP2DS) Kawasan Timur Indonesia bersama beberapa pimpinan perguruan tinggi lain dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia di Hotel Clarion, Senin (2/10). Pimpinan-pimpinan perguruan tinggi lain yang menandatangani nota itu adalah Rektor UMI Prof. Dr. H.J. Masrurah sekaligus sebagai Koordinator dan Penggerak GNP2DS KTI, Rektor Unasman Dr. Chuduriah Sahabuddin, M.Si., Rektor Universitas Pejuang RI Dr. Andi Niniek F. Lantara, dan Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. Abdul Rahman Rahim mengatakan, perguruan tinggi harus terus berupaya menciptakan inovasi-inovasi baru untuk meningkatkan sistem pendidikan yang lebih berdaya saing.
STISIP Muhammadiyah Rappang Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Muhammadiyah Rappang telah divisitasi oleh tim asesor BAN-PT dalam rangka proses AIPT, Sabtu (7/10). Dr. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si. selaku Ketua STISIP Muhammadiyah Rappang optimis dengan hasil AIPT tersebut. Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah (LP2I) STISIP Muhammadiyah
Rappang Herman Dema, S.I.P., M.Si. berharap, nilai AIPT ini akan menambah kepercayaan masyarakat pada PTM yang memiliki jargon unggul, profesional dan islami. Saat ini, STISIP Muhammadiyah Rappang memiliki tiga program studi, yakni S-1 Ilmu Administrasi Negara, S-1 Ilmu Pemerintahan, dan S-2 Ilmu Administrasi Publik. Ketiga prodi tersebut sudah terakreditasi “B”.
Universitas Muhammadiyah Kendari Sebanyak 521 lulusan UM Kendari mengikuti Wisuda XVI Program Sarjana, Sabtu (30/9). Mereka berasal dari 8 fakultas, yaitu Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Agama Islam. Rektor UM Kendari Muhammad Nur, S.P., M.Si. mengatakan, ilmu yang diperoleh di kampus hanya sebagian kecil dari lautan ilmu. Perkembangan dunia semakin pesat, sehingga setiap orang dituntut untuk mempunyai keahlian dalam menghadapinya, imbuhnya. Sementara itu, Koordinator Kopertis IX Drs. Andi Lukman, M.Si. berpesan kepada para wisudawan agar mereka jangan menjadikan upacara wisuda ini sebagai akhir dari proses belajar. Acara wisuda ini juga dihadiri anggota Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Si. dan juga Ketua Komisi Persaingan Usaha (KPPU) RI Dr. Syarkawi Rauf, M.E. yang membawakan orasi Ilmiah.
Stikes ‘Aisyiyah Bandung Enam dosen Stikes ‘Aisyiyah Bandung melakukan studi banding ke Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), Sabtu (16/9). Ketua Stikes ‘Aisyiyah Dewi Mustikaningsih, S.Kep., Ns. M.Kep. mengatakan, studi banding ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi sebagai bahan acuan dalam perumusan konsep program studi Fisioterapi yang akan didirikan di Stikes ‘Aisyiyah Bandung sesuai dengan standar mutu perguruan tinggi. Sampai sejauh ini, Stikes ‘Aisyiyah Bandung telah melakukan percepatan pengembangan akademik.[] Nisa Pujiana
Edisi November-Desember 2017
Warta PTM 51
regulasi
sumber foto: www.cefci.pro
Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2017 Tentang Standar Pendidikan Guru BAB III STANDAR PENDIDIKAN PROGRAM SARJANA PENDIDIKAN Pasal 6 Standar Pendidikan Program Sarjana Pendidikan terdiri atas: a. standar kompetensi lulusan; b. standar isi; c. standar proses; d. standar penilaian; e. standar pendidik dan tenaga kependidikan; f. standar sarana dan prasarana pembelajaran; g. standar pengelolaan; dan h. standar pembiayaan;
Bagian Kesatu Standar Kompetensi Lulusan
Pasal 7 (1) Standar kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf a merupakan kriteria minimal mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran lulusan Program Sarjana Pendidikan. (2) Rumusan capaian pembelajaran lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. mengacu pada deskripsi capaian pembelajaran lulusan dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi; dan b. memiliki kesetaraan dengan jenjang kualifikasi 6 (enam) pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. (3) Rumusan capaian pembelajaran lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat aspek akademik kependidikan dan bidang keilmuan dan/atau keahlian. (4) Aspek akademik kependidikan dan bidang keilmuan dan/atau keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi: a. kompetensi pemahaman peserta didik; b. kompetensi pembelajaran yang mendidik; c. kompetensi penguasaan bidang keilmuan dan/atau keahlian; dan d. kompetensi sikap dan kepribadian. (5) Rumusan capaian pembelajaran lulusan yang mencakup aspek akademik kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. (6) Bidang keilmuan dan/atau keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi filsafat keilmuan, substansi, struktur, pola pikir, tradisi keilmuan, dan perkembangan keilmuan.
52 Warta PTM
Edisi November-Desember 2017