Skip to main content

Warta PTM Edisi Maret-April 2017

Page 1

Kerja Sama Internasional STIKES Muhammadiyah Kudus: Membuka Wawasan Ilmu, Teknologi dan Budaya

Robert John Pope, M.Pd.I.: “Perjalanan dari Barat ke Muhammadiyah.�

WARTA PTM

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian & Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah

INTERNASIONALISASI KAMPUS Dunia kini semakin terbuka. Kita tidak bisa hanya merasa hebat di daerah kita sendiri, sekadar jago kandang. Tetapi, kita juga harus bisa masuk dalam kancah lebih luas. Adanya globalisasi, ataupun juga regionalisasi seperti ASEAN Economic Community, memaksa PTM juga harus outward looking, go international, atau melakukan internasionalisasi PTM. Atau, bahasa lain yang juga sering digunakan: bisa masuk dalam world class higher educations.


Asa

Internasionalisasi PTM Keberadaan 163 PTM ditambah delapan perguruan tinggi (PT) Aisiyah tentu bukan jumlah yang kecil. Pengakuan dan peran PTM dalam berkontribusi bagi pendidikan anak bangsa tentu tidak terbantahkan. Bayangkan setiap tahun puluhan ribu sarjana diluluskan dari PTM, puluhan ribu pula PTM menyerap lulusan SLTA, dan sudah jutaan sarjana lulusannya berkontribusi membangun tanah air ini. Itu nasional, atau lokal. Bagaimana dengan perannya di dunia global? Harus kita akui bahwa PTM baru beberapa tahun terakhir ini serius menggarap ranah internasional. Jika sekadar mengirimkan dosen untuk kuliah di luar negeri, itu sudah puluhan tahun dilakukan. Ratusan dosen PTM adalah lulusan mancanegara, baik itu dari Amerika Serikat, Eropa, Australia, hingga dari negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, ataupun Filipina. Namun, masih sangat terbatas dosen PTM yang menjadi pengajar tamu di PT luar negeri, juga masih terbatas lulusannya yang bekerja di luar negeri. Ini memang perlu didorong dan diberi bekal yang lebih sehingga bisa berkiprah dalam pentas dunia. Dunia kini semakin terbuka. Kita tidak bisa hanya merasa hebat di daerah kita sendiri, sekadar jago kandang. Tetapi, kita juga harus bisa masuk dalam kancah lebih luas. Adanya globalisasi, ataupun juga regionalisasi seperti ASEAN Economic Community, memaksa PTM juga harus outward looking, go international, atau melakukan internasionalisasi PTM. Atau, bahasa lain yang juga sering digunakan: bisa masuk dalam world class higher educations. Ini tentu tidak ringan. Internasionalisasi membutuhkan biaya besar. Namun, itu suatu keniscayaan kalau kita ingin bertahan dan diperhitungkan sebagai perguruan tinggi bereputasi. Oleh karena itu, internasionalisasi di berbagai bidang harus dilakukan. Sebagai suatu lembaga akademik, PT dikenal dunia lantaran karya akademik perguruan tinggi itu, baik itu karya mahasiswanya maupun dosennya. Karya akademik merupakan simbol prestasi akademik. Simbol akademik itu terlihat dari kemunculan sivitas akademika di forum-forum akademik dunia—konferensi internasional, simposium global. Para sivitas akademika hadir dengan menyampaikan pemikirannya yang merupakan buah dari penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian itu kemudian juga diolah dan dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi. Lihatlah, nama besar PT seperti Harvard, Cornell, Cambridge, Oxford, atau juga untuk regional Asia seperti National University of Singapore, University of Tokyo, atau KAIST di Korsel, hadir di dunia karena publikasi internasionalnya yang masif. Jadi, internasionalisasi juga harus didukung dengan karya akademiknya. Edisi Maret-April 2017

Warta PTM

1


Asa Apakah PTM bisa masuk ke wilayah itu? Jawabnya tegas, bisa. Walaupun masih dalam jumlah terbatas, karya akademik para dosen PTM dari UM Surakarta, Universitas Ahmad Dahlan, UM Malang, UM Yogyakarta, dan PTM lainnya sudah rutin masuk jurnal bereputasi dunia, yang terindeks dari Scopus, Thompson Reuters dan sebagainya. Ini yang harus didorong oleh pimpinan PTM. Tidak peduli PTM kecil atau menengah, sepanjang dosennya rajin meneliti secara serius, peluang internasionalisasi melalui penyebaran karya akademik ini akan sangat besar. Tentu bukan hanya itu simbol dari sebuah internasionalisasi PTM. Adanya kerja sama internasional, mahasiswa asing, pertukaran mahasiswa antarnegara, tenaga pengajar asing, guru besar tamu, joint international seminars, joint research dengan peneliti mancanegara, dan sebagainya, juga perlu didorong. Upaya internasionalisasi ini tidak bisa ditangani sambil lalu, atau hanya dicantelkan pada unit yang sudah mengurusi bermacam tugas. Keberadaan Kantor Urusan Internasional (KUI) yang sudah ada di banyak PTM merupakan penanda adanya keseriusan itu. Urusan internasionalisasi ditangani secara khusus dan oleh dosen yang kompeten. Paling tidak, ada yang bisa membantu semua prodi manakala ingin bekerja sama, misalnya, dengan PT luar negeri. Sangat diapresiasi langkah pimpinan PTM yang banyak menjalin kerja sama internasional. Penandatanganan MOU yang dilakukan dengan PT asing, baik di dalam dan luar negeri, sangat penting sebagai langkah awal internasionalisasi tersebut. Namun demikian, MOU saja tentulah tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana semua MOU itu diikuti dengan agenda riil sebagai implementasinya. Oleh karena itu, setiap MOU harus diikuti dengan penunjukan staf atau unit yang akan mengeksekusinya. Tanpa itu, MOU tidak bermakna apa-apa, atau hanya penanda seremonial kerja sama internasional.[]

WARTA PTM

Warta PTM diterbitkan oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah SUSUNAN REDAKSI

PENANGGUNG JAWAB: Lincolin Arsyad PEMIMPIN UMUM/REDAKSI: Edy Suandi Hamid DEWAN REDAKSI: Muhammad Sayuti I Muhammad Samsudin I Ahmad Muttaqin REDAKTUR PELAKSANA: Agung Prihantoro STAF REDAKSI: Iwan Setiawan REPORTER: Nisa Pujiana KEUANGAN: HS Mulyatno IKLAN: Agus Mulyono ISSN: 0853-4756 ALAMAT REDAKSI: Jln. KHA Dahlan 103 Yogyakarta 55262 Telp. +62-274-389485 Faks. +62-274-376336 Email: redaksiwartaptm@gmail.com Rekening Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Nomor 09-0008-7003 BNI Cabang Yogyakarta a/n Lincolin Arsyad, Prof. Dr. M.Sc. Warta PTM menerima tulisan yang berupa opini, berita panjang, berita singkat, glosarium dan foto seputar perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Redaksi berhak menyunting tulisan. Silakan kirim tulisan dan/atau foto ke email redaksi.

2

Warta PTM

Edisi Maret-April 2017


daftar isi ASA

TOPIK UTAMA

•

Internasionalisasi Kampus__4

Internasionalisasi PTM__1

TOPIK UTAMA •

• •

Kerja Sama Internasional STIKES Muhammadiyah Kudus: Membuka Wawasan Ilmu, Teknologi dan Budaya 6 Testimoni Mahasiswa Asing di PTMA_10 Ma’had AMCF-Muhammadiyah Mengatasi Kelangkaan Ulama Muhammadiyah_13

“Sudah saatnya Kantor Urusan Internasional (KUI) menjadi bagian yang sangat penting dalam membangun kerja sama internasional perguruan tinggi,” tandas Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Kepala KUI Universitas Muhammadiyah Makassar ketika dimintai pendapatnya tentang internasionalisasi perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

PROFIL PTM •

Sukses Mencetak Kader Pemimpin di Daerah_16

KINERJA • • • • •

Menerbitkan Buku Memacu Mutu_18 Membuat Dokumen Berstandar_19 Mewujudkan Guru Profesional Sejati_20 PTM Unggul Perkuat Kedaulatan & Keadilan_21 MOU Konsorsium PTM dengan AeU Malaysia_22

regulasi Regulasi_23

KRONIK • • • • • • •

SIA Tonggak Sejarah Baru UMSU_24 Mengenal SAR Mapala Muhammadiyah_25 Muhammadiyah untuk Negeri_26 Godok Pejabat, Tingkatkan Kinerja UM Magelang_27 Peresmian dan Peletakan Batu Pertama di Unimus_28 Persiapan & Pembekalan AIPT B ke A di Sumatera_28 Peleburan PTM_29

profil ptm STIE Muhammadiyah Tanjung Redeb Menyemai Benih Pendidikan Tinggi di Berau__14 Mulanya, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Tanjung Redeb yang lebih dikenal dengan STIEM Tanjung Redeb, didirikan atas prakarsa tokoh-tokoh dan Pimpinan Muhammadiyah Cabang BerAau, Kalimantan Timur. Kala itu, di Kabupaten Berau belum ada perguruan tinggi atau lembaga pendidikan pascasekolah menengah atas. Pada tanggal 17 Agustus 1991, didirikanlah Akademi Manajemen Muhammadiyah Tanjung Redeb di Jalan Jenderal Sudirman dengan jumlah mahasiswa angkatan pertama sebanyak 165 orang. Akademi Manajemen Muhammadiyah ini menjadi cikal bakal STIEM Tanjung Redeb.

warta dari ptm Warta dari PTM_30

obituarium •

Ketua Majelis Dikti 1995-2000, Prof. Dr. Umar Anggoro Jenie, Apt. Wafat_32

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM

3


topik utama

Konsorsium PTM berkunjung ke Malaysia & Para dosen dan mahasiswa PTMA melanjutkan studi dan mengikuti kompetisi di luar negeri

Internasionalisasi Kampus

“

Sudah saatnya Kantor Urusan Internasional (KUI) menjadi bagian yang sangat penting dalam membangun kerja sama internasional perguruan tinggi,” tandas Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Kepala KUI Universitas Muhammadiyah Makassar ketika dimintai pendapatnya tentang internasionalisasi perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Internasionalisasi perguruan tinggi, termasuk PTMA, sekarang tak terelakkan lagi. Terdapat dua alasan pokok mengapa kampus harus melakukan go international, menjadi kampus internasional.

Berawal dari Perjanjian Internasional Erwin Akib dan semua narasumber lain yang dimintai tanggapannya menyebut alasan pertama adalah globalisasi dan perjanjian-perjanjian kerja sama internasional, seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA, ASEAN Economic Community). Perjanjianperjanjian kerja sama internasional yang muncul 4

Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

akibat arus globalisasi ini mengharuskan pasar bebas antarnegara. PTMA sebagai lembaga pendidikan tak terhindarkan dari pasar bebas itu. Dalam pasar bebas, tenaga kerja dari negaranegara yang menjadi anggotanya bebas keluar masuk. Mereka bersaing dengan tenaga-tenaga kerja bukan hanya dari negara mereka sendiri, tetapi juga dari negara-negara lain. Persaingannya tak lagi berskala lokal, tetapi sudah berlevel internasional. Artinya, seluruh sivitas akademika, yakni dosen, mahasiswa dan karyawan, mau tak mau harus berkualitas internasional. Mereka semua mesti meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) diri mereka. Ini alasan kedua mengapa PTMA perlu melakukan internasionalisasi. Di tempat terpisah, Indriani, S.K.M., M.Sc., Koordinator Kerja­ sama Internasional Universitas ‘Aisyiyah (UNISA), menambahkan, perawat dan bidan lulusan UNISA kini sudah bersaing dengan perawat dan bidan dari negara-negara ASEAN dan Eropa.


Internasionalisasi Kampus

Maka, UNISA membekali mahasiswa-mahasiswanya dengan pengalaman internasional agar sanggup bersaing di tingkat dunia. Imbas praktis dari internasionalisasi ialah meningkatkan poin akreditasi program studi (prodi) dan perguruan tinggi dan Key Performance Indicators (KPI)-nya. Ida Puspita, M.A.Res., Kepala Kantor Urusan Internasional Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Ketua Forum Kantor Urusan Internasional (FKUI) PTMA Nasional, mengimbuhkan. Akreditasi prodi yang bagus, akreditasi PTMA yang maksimal, dan KPI yang optimal merupakan bukti kualitas kampus. Bukti-bukti kualitas ini niscaya menarik minat banyak calon mahasiswa untuk kuliah di sini. Kampus yang berkualitas lazimnya juga menjamin kesejahteraan dosen dan karyawan. Lebih luas lagi, kualitas PTMA tersebut bakal turut mendongkrak kualitas umat Islam dan bangsa Indonesia.

Bentuk Internasionalisasi Apa bentuk internasionalisasi PTMA? Ida Puspita mencatat banyak sekali wujud internasionalisasi kampus: staff development, joint research, joint publication, joint seminar, student exchange, lecturer exchange, benchmarking, dan pameran pendidikan. “Selain itu, kita juga bisa membuka program gelar ganda, gelar bersama, dan transfer kredit dengan mitra luar negeri. Pun, UAD sudah menerima mahasiswamahasiswa asing untuk kuliah di kampus kami,” jelas Ida. Mengikuti program pemeringkatan perguruan tinggi di level internasional, membuat kelas internasional, pemberdayaan Language Center, kuliah kerja nyata (KKN) di luar negeri, program pengalaman lapangan (PPL) internasional, dan magang internasional—inbound (dari perguruan tinggi mitra luar negeri) atau outbound (ke perguruan tinggi mitra di luar negeri)—semua ini merupakan bentuk dari upaya untuk menjadi kampus internasional. Tentu, masih banyak bentuk internasionalisasi lain yang dapat dikembangkan. Di luar UAD, PTMA seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), UNISA dan

lain-lainnya telah go international. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., rektor UMY, mengatakan bahwa kampusnya telah sejak lama mengirim mahasiswamahasiswa KKN ke Davao dan Sulu di Filipina, juga ke Patani di Thailand. UMY dan UMM memiliki mahasiswa-mahasiswa S-1, S-2, S-3 dan short course antara lain dari Australia, Thailand, Korea Selatan, Sierra Leone (Afrika), dan Ukraina.

Melangkah Go International Tak kelewat sulit untuk membawa PTMA ke jenjang internasional. Sebab, pada prinsipnya, semua kampus di dunia butuh untuk menginternasional. Bahkan, selaras penuturan Indriani, sejumlah kampus di Australia dan Malaysia mewajibkan mahasiswa-mahasiswa mereka berkunjung ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Apalagi, kini FKUI PTMA mempermudah kampus-kampus Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk melangkah ke pentas dunia. Forum ini membantu semua PTMA untuk menginternasional. Syarat pertama internasionalisasi adalah komitmen pemimpin PTMA dan segenap sivitas akademika untuk mendukung langkah ini. Komitmennya diharapkan mewujud dalam kebijakan dan program-program nyata. Selanjutnya, penguasaan bahasa Inggris sebagai salah satu alat komunikasi sejagat raya menjadi keniscayaan. Dosen, mahasiswa dan karyawan PTMA memang mesti terampil berbicara, menulis, membaca dan mendengarkan dalam bahasa Inggris untuk melangkah ke benua-benua lain dan menerima tamu-tamu mancanegara yang belajar di PTMA. Sementara itu, Erwin menyoroti pentingnya, selain penguasaan bahasa Inggris, keterampilan untuk melakukan lobi dan negosiasi pada tataran internasional. Ini penting sekali, tegasnya. Soal biaya, Ida menerangkan, banyak sekali sumber dana yang bisa diakses. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menganggarkan dana untuk program-program internasionalisasi. Lembaga-lembaga semisal New Colombo Plan (Australia), Erasmus Plus (European Union) dan lainnya juga menawarkan dana. Let’s go international![] Agung Prihantoro

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM

5


topik utama Kerja Sama Internasional STIKES Muhammadiyah Kudus:

Membuka Wawasan Ilmu, Teknologi dan Budaya

Ketua STIKES Muhammadiyah Kudus, Rusnoto, S.K.M., M.Kes. (Epid.), (paling kanan) bersama staf

S

ekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Muhammadiyah Kudus merasakan betul manfaat dari kerja sama internasional yang telah dilakukannya dengan lembaga-lembaga dunia. Kerja sama internasional membuka wawasan mereka perihal ilmu, teknologi, budaya kerja, dan budaya pembelajaran. Rusnoto, S.K.M., M.Kes. (Epid.) menyampaikan hal tersebut melalui surat elektronik. Para dosen, mahasiswa dan karyawan kampus ini telah beroleh banyak manfaatnya. Mereka mendapatkan dan membagi wawasan, ilmu dan pengalaman baru secara terus-menerus dari dan dengan mitra-mitra kerja sama mereka. Rusnoto mengimbuhkan, STIKES Muhammadiyah Kudus telah melakukan lecture exchange dan student exchange dengan Sirindorn College of Public Health Suphanbury Thailand dan

6

Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

National Taipei University of Nursing and Health Sciences Taiwan. Rusnoto juga mengirimkan dosen-dosennya untuk belajar dan memberikan kuliah di kampus College of Pharmacy, Taipei Medical University Taiwan. Dosen-dosen dari Sirindorn College of Public Health Suphanbury Thailand datang pula ke kampus STIKES Muhammadiyah Kudus. Mereka melakukan workshop dan kesepakatan penelitian global TBC di Asia dengan membentuk tim bersama. Kerja sama ini ditindaklanjuti dengan mengadakan sebuah konferensi internasional pada 2017. Salah satu dosen Sirindon yang kuliah di Amerika Serikat membantu mendatangkan seorang profesor dari Negeri Paman Sam untuk menjadi narasumber dalam konferensi internasional tersebut.


Membuka Wawasan Ilmu, Teknologi dan Budaya

Gedung STIKES Muhammadiyah Kudus, dan kegiatan belajar foto dok. STIKES Muhammadiyah Kudus

Selain dengan ketiga kampus tersebut, STIKES Muhammadiyah Kudus juga menjalin kerja bareng dengan Khon Kaen University Thailand, University of Cordilleras Philippines, Far Eastern University Manila Philippines, Cebu Normal University Cebu City Philippines, dan Dongeso University Korea. Dalam setiap kerja sama, seluruh sivitas akademika STIKES Muhammadiyah Kudus menyiapkan diri secara sistematis. Mereka dilibatkan dengan proporsional. Selama aktivitasaktivitas itu berjalan, mereka memperoleh ilmu dan pengalaman baru yang berguna sekali untuk meningkatkan kualitas pendidikan kampus Muhammadiyah di bagian utara Pulau Jawa ini. Dalam hal budaya, sivitas akademika STIKES Muhammadiyah Kudus memperkenalkan budaya Indonesia kepada tamu-tamu dari luar negeri. Mereka diajak untuk mengunjungi Candi Borobudur, Malioboro, dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat BPVRV Salatiga. Masalah yang dihadapi dalam kegiatankegiatan tersebut adalah penguasaan bahasa Inggris. Rusnoto sebagai pucuk pimpinan mengatasi masalah ini dengan menggenjot

kemampuan bahasa Inggris sivitas akademika kampusnya. Dia membentuk lembaga kursus bahasa Inggris dengan nama LKP EC in Mind dan mengangkat dua dosen tetap dan tiga dosen tidak tetap Bahasa Inggris. Secara khusus, mahasiswamahasiswa yang akan mengikuti pertukaran mahasiswa membekali diri dengan kursus bahasa Inggris selama empat bulan di lembaga tersebut. Masalah lainnya bagi lembaga pendidikan kesehatan adalah kesibukan para dosen di laboratorium. Mereka melakukan banyak eksperimen dan membimbing mahasiswa. Sehingga, mereka mesti pandai-pandai mengatur waktu untuk berpartisipasi aktif dalam kerja sama internasional. Kerja bareng internasional ini menyingkap mata pikiran dan mata hati semua sivitas akademika STIKES Muhammadiyah Kudus untuk maju dan mendunia.[] Agung Prihantoro

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM

7


topik utama

Indriani, S.K.M., M.Sc., Kepala Kantor Internasional dan Humas UNISA

Kita Akan Menjadi Pemain Internasional Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta baru setahun berubah dari sekolah tinggi jadi universitas, tetapi sudah lama melakukan internasionalisasi. Selama ini, UNISA bekerja sama dengan lembaga-lembaga dunia dalam bidang kesehatan. Untuk mengetahui lebih detail tentang kerja sama internasional yang dilakukan UNISA, Warta PTM mewawancarai Indriani, S.K.M., M.Sc., Koordinator Kerjasama Internasional Universitas ‘Aisyiyah UNISA Yogyakarta pada 20 Januari 2017 di kantornya. Seandainya, PTMA, misalnya UNISA, tidak melakukan internasionalisasi, apa yang akan terjadi? Imbasnya terasa pada kami sebagai pencetak tenaga kesehatan. User tenaga kesehatan kami adalah rumah sakit dan segala macamnya di tingkat internasional. Tentunya, para user akan memilih produk-produk yang lebih pantas untuk mereka pekerjakan. Sehingga, kami yakinkan mahasiswamahasiswa UNISA bahwa kami mampu membawa mereka ke dunia internasional. Dalam persaingan 8

Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

ke depannya nanti, mereka akan bersaing dengan orang-orang dari mancanegara. Kita bersaing bukan hanya dengan negara-negara ASEAN, tetapi dengan negara-negara asing mana pun. Apa lembaga-lembaga internasional yang bernilai strategis dan tepat untuk diajak kerja sama? Karena kami institusi pendidikan, kami mencari lembaga-lembaga pendidikan pula. Basic kami bidang kesehatan. Kami juga mengaktifkan diri untuk bekerja sama dengan rumah sakit-rumah sakit di luar negeri. Kami sudah menandatangani MOU (Memorandum of Understanding) dengan TIHTC (Taiwan International Healthcare Training Center). Ke rumah sakit ini, setiap tahun secara kontinu kami kirimkan mahasiswa-mahasiswa kami untuk melakukan semacam intensif. Sepuluh mahasiswa kami kirim ke sana setiap batch. Mahasiswa praktik di TIHTC selama satu bulan. Jarak waktu pengirimannya tiga bulan, per tiga bulan. Ini sudah berlangsung sejak tujuh tahun lalu.


Kita Akan Menjadi Pemain Internasional

Sekarang, kami sedang approach Siraj Hospital di Thailand. Sudah dua kali kunjungan. Itu khusus untuk mahasiswa-mahasiswa S-2. Mereka akan belajar sistem HTA (Health Technology Assessment) di sana karena basic Siraj itu. Sifatnya berkunjung ke sana selama sepuluh hari. Ini tahun ketiga. Dua lembaga mitra kerja itu yang bukan universitas. Apakah dana menjadi masalah? Apa solusinya? Bicara tentang internasionalisasi, otomatis imbasnya adalah dana. Kami mengatasinya dengan pendekatan regulasi. Ini komitmen dari seluruh pihak, pimpinan terutama. Karena kalau kita bicara go international, artinya kita sudah harus memahami bahwa dampaknya pada dana, yang jumlahnya akan lebih meningkat daripada yang tidak go international. Untuk dosen, kami mengirim teman-teman guna meningkatkan pendidikan di universitasuniversitas yang bagus, guna studi lanjut. Ada juga sejumlah shortcourse di sana, sehingga dosen bisa ikut. Kami juga berupaya lewat MOU. Memang kita mencari dana eksternal. Tuntutannya, dosen memang harus kreatif sekali untuk mencari dana eksternal. Jangan sampai kita terpaku pada dana internal, karena ini akan sangat memberatkan kampus. Sebenarnya, banyak sekali dana eksternal, seperti hibah-hibah internasional. Belum banyak dosen UNISA yang berpendidikan S-3. Sehingga, untuk mengajukan proposal-proposal hibah, dosendosen S-2 kami masih sangat terbatas. Apakah universitas-universitas di luar negeri juga butuh bekerja sama dengan Indonesia? Betul. Bahkan, beberapa negara, misalnya Australia dan Malaysia, memasukkan dalam regulasi mereka bahwa mahasiswa mereka harus mengunjung tiga negara, dan Indonesia termasuk negara yang wajib dikunjungi. Apa manfaat yang diperoleh PTMA dari internasionalisasi ini? Satu, kita akan menjadi pemain di dunia internasional. Kami memberikan keyakinan kepada para mahasiswa yang kami didik bahwa mereka bisa bersaing di dunia internasional. Dua, secara akademis, mahasiswa-mahasiswa bisa mengecap

kuliah satu atau dua semester di luar negeri, karena kurikulum mengharuskan demikian. Tiga, harapannya, mahasiswa-mahasiswa kita menjadi pemimpin dunia. Ketika mereka mempunyai link (jaringan) di dunia internasional, ini menjadikan mereka tidak punya kendala yang berarti untuk mendunia. Mereka tidak lagi takut mendunia karena teman-teman kuliah mereka dulu juga menjadi pemimpin dunia. Internasionalisasi ini akan memperbanyak link internasional mereka. Sejumlah Memorandum of Understanding (MOU) di beberapa PTMA mandek. Apa yang sebenarnya terjadi? Bunyi MOU sudah jelas, misalnya research collaboration. Kita akan kolaborasi penelitian. Penelitian ini tentu ada di beberapa negara yang topik besarnya sama, sehingga bisa kita kawinkan. Kalau topik kita tidak sama dengan topik mereka, apa yang bisa dikawinkan? Kendala lainnya, PIC dalam MOU itu tidak bergerak. Komitmen pimpinan lagi-lagi juga. Contohnya itu. Mungkin ada di semua universitas. Saya lihat di kampus-kampus besar seperti UGM dan UI, karena personalnya. Kita juga disibukkan dengan hal-hal yang bersifat teknis. Urusan administratif kita banyak sekali. Sangat menyita waktu. Tapi, ini sebenarnya tantangan. Saya tidak bisa mengatakan alasannya itu. Aktivitas kita menuntut kita untuk mampu melakukannya. Apakah Forum KUI membantu? Forum KUI sangat sangat membantu. Misalnya, UMM menawarkan kesempatan kerja sama dengan Belanda kepada kita semua. Ada yang mau ikut? Yang mau ikut, silakan datang. Kita sudah diberi peluang. Dua tahun lagi ke Amerika, misalnya. Siapa yang mau jualan di Amerika bisa ikut dengan tim. Yang ikut tentu yang siap, karena akan mengundang orang untuk sekolah di sini. Ini komitmen bersama untuk bisa menginternasional, untuk bisa mengundang orang datang ke sini. Kualitas menjadi keharusan. Komitmen, kualitas, bahasa Inggris.[]

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM

9


topik utama

Robert John Pope, M.Pd.I. saat diwisuda di Dome UMM pada 30 Mei 2015.

Testimoni Mahasiswa Asing di PTMA Robert John Pope, M.Pd.I.: “Perjalanan dari Barat ke Muhammadiyah.” “Sumber untuk lebih memahami Islam adalah dari Muslim itu sendiri, bukan dari non-Muslim,” kata lulusan Magister Agama Islam Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Dia menulis pernyataan itu saat diminta untuk memberikan testimoni tentang perkuliahannya. Pria kelahiran 4 Maret 1967 di Australia Selatan ini menambahkan bahwa dirinya datang ke Indonesia dan kuliah di UMM untuk mempelajari Islam setelah terjadi sejumlah peristiwa teror di beberapa belahan dunia. Teror-teror tersebut menyebabkan ketakutan dan ketegangan mengenai Islam di negara-negara Barat.

10 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

“Namun, ini sama sekali tidak tecermin dalam realitas kehidupan yang kami alami di Indonesia. Teman-teman dekat anak-anak saya berasal dari umat Muslim. Kami tinggal di sebuah komunitas Muslim yang damai. Jelas sekali bahwa pandangan kita mengenai suatu budaya agama akan menyimpang dari aslinya jika kita melihatnya dari luar,” imbuhnya. Selepas diwisuda di Dome UMM pada 30 Mei 2015, Robert Pope berniat untuk melanjutkan kuliah S-3 di kampus yang sama. Niatnya terwujud. Kini, dia sedang memperdalam studinya untuk meraih gelar doktor dalam bidang Pendidikan Agama Islam di UMM.[] Agung Prihantoro


Testimoni Mahasiswa Asing di PTMA

Nada Yeewansam: “UMY is a Good Choice to Study.” “Saya mendapatkan kesempatan untuk belajar ke luar negeri dari pemerintah Thailand, dan saya memilih Indonesia dengan UMY sebagai tempat saya belajar,” kata Nada. Mahasiswa asing di UMY ini berasal dari Thailand dan studi penuh di prodi Ilmu Hubungan Internasional UMY sejak 2013. “Melalui kegiatan belajar di negara lain ini juga, saya bisa merasakan suasana internasional yang sesungguhnya sebagai mahasiswa internasional di Indonesia. Saya juga belajar tentang budaya, perbedaan dan berbagi pengetahuan adalah salah satu alasan saya belajar di Indonesia,” ungkap Nada. Menurutnya, UMY menjadi representasi wujud Indonesia itu sendiri. Orang-orang Indonesia sangat ramah dan suka menolong. UMY juga telah memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa asing. “Semua yang ada di HI UMY, sangat bersikap baik dan sangat membantu, baik staf maupun dosen-dosen. Banyak pengalaman yang saya dapatkan di UMY, dan itu adalah pengalaman yang tak terlupakan,” imbuhnya. “UMY akan lebih bagus lagi jika dilakukan fiksasi dan penambahan koleksi buku, jam operasi perpustakaan yang diperpanjang dan perbaikan

akses perpustakaan. Selain itu, UMY didukung oleh lingkungan yang rindang dan sejuk, hal tersebut tentu akan lebih baik lagi jika kawasan UMY disterilkan dari asap rokok,” jelas Nada. Nada berharap kerja sama antara Thailand dan Indonesia melalui sektor pendidikan ini dapat membangun dan memperkuat hubungan kedua negara ini. Kerjasama yang baik sebagai bagian dari ASEAN akan memberikan simbiosis mutualisme antara keduanya. “Belajar di Indonesia adalah ide bagus dan pilihan yang bagus, khususnya UMY, yang memiliki kredo ‘Youth and Global’,” tandasnya.[] Nisa Pujiana

Nguyen Thi Thu Thoo: Senang Kuliah di UAD Nguyen Thi Thu Thoo mahasiswa asal Vietnam yang mengambil program Short Course Darmasiswa di Universitas Ahmad Dahlan merasa senang bisa kuliah di UAD. “Di UAD banyak kegiatan nyata di luar kelas. Kalau di Vietnam, kuliah lebih banyak di kelas dengan banyak materi dari buku dan tekanan mengerjakan tugastugas,” ujarnya. Nguyen gembira sekali karena di UAD terdapat banyak mahasiswa dari luar negeri, seperti Vietnam, Kamboja, dan Thailand. Dia mendapatkan kesempatan untuk ikut kelaskelas drama, musik, memasak dan tari. Sehingga, Nguyen benar-benar mengalami dan menikmati

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 11


topik utama budaya Indonesia. Dara kelahiran 3 Desember 1995 tidak merasa kesulitan dalam mengikuti kuliah di UAD. Begitu juga, tidak ada masalah dengan budaya Indonesia. “Saya bisa menyelaraskan dan menyesuaikan dengan sistem belajar di UAD, sehingga tidak ada masalah yang berarti dalam kuliah,” tukasnya. Bagi Nguyen yang hobi wisata dan menonton, kuliah di Yogyakarta itu luar biasa. Walau ada perbedaan agama yang dianutnya dengan agama Islam yang dipeluk oleh sivitas akademia UAD, dan juga sedikit perbedaan budaya, semua kegiatan kuliah dan kehidupannya di Kota Gudeg ini berjalan dengan lancar.[] Iwan Setiawan

Mahasiswa Thailand di Palembang: Perlu Intensifkan Penyiapan Bahasa PTM yang jadi pilihan mahasiswa asing tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga PTM Luar Jawa yang dianggap memiliki reputasi cukup baik. Di Palembang, paling tidak ada tujuh mahasiwa asal Thailand yang kuliah di sana. Empat orang di Universitas Muhammadiyah Palembang, yaitu Rohanee Sa-Leah dan Saneesah Karing pada program studi Bahasa Inggris, serta Nurmaa Masaman dan Kawanee Salaeh pada prodi Bahasa Indonesia. Sementara itu, sisanya, tiga orang, belajar di STIKES Muhammadiyah Palembang, yakni Asneeda Asae, Suhaini Cheeloh, dan Sulalailatu Maeroh yang ketiganya di prodi Keperawatan. Mengapa mereka memilih Palembang? Ternyata mereka umumnya mencari informasi

12 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

dari internet. Informasi yang ada sangat terbatas tentang PTM. “Namun setelah sampai di Palembang ternyata kami cocok,” ujar Maeroh. Selama proses pendidikan, relatif tidak banyak kesulitan, karena para dosen memberi perhatian yang sangat baik. Teman-teman kuliah juga sangat membantu. Demikian pula masyarakat sekitar, sangat menerima kehadiran mereka. Mereka tidak hanya bergaul sesama mahasiswa dari Thailand saja, tetapi juga dengan masyarakat. “Masyarakatnya sangat baik. Kita juga ikut kegiatan-kegiatan pengajian,” kata Saneesah Karing. Mereka juga tinggal di rumah masyarakat dan merasakan sangat berbahagia dan kerasan di Palembang, karena adat istiadat yang hampir sama, dan makanan pun cocok dengan lidah mereka. Para mahasiswa asal Thailand ini juga sependapat bahwa apa yang perlu diperhatikan dalam persiapan keberangkatan adalah penguasaan Bahasa Indonesia. Pembekalan bahasa agar lebih intensif dan cukup. Mereka butuh waktu cukup lama setelah masuk kuliah untuk bisa mengerti apa yang diajarkan oleh para dosennya di kelas. Kehadiran mahasiswa Negeri Jiran ini juga akan ditingkatkan oleh UM Palembang dan STIKES Muhammadiyah Pelembang. Baik Rektor UMP Dr. Abid Djazuli dan ketua STIKES Sri Yulia, S.Kp., M.Kep., berharap program yang distimulus Majelis Diktilitbang PPM ini terus berlanjut. “Bagi kami, ini langkah awal untuk internasionalisasi. Apalagi nanti kami ingin mengubah bentuk menjadi institut atau universitas. Akan lebih banyak daya tampung dan perlu promosi yang lebih luas,”ujar Sri Yulia. Dr. Abid Djazuli bahkan berharap kerja sama untuk menerima mahasiswa asing diperluas. “Tidak hanya dari Thailand, tetapi juga dari negara-negara lain di luar ASEAN,” ujarnya. [] ESH


Peta persebaran Ma’had AMCF di Indonesia.

Ma’had AMCF-Muhammadiyah

Mengatasi Kelangkaan Ulama Muhammadiyah

M

a’had Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) merupakan salah satu bentuk kerja sama internasional yang dilakukan Muhammadiyah dengan melibatkan PTM. Ma’had AMCF adalah program pendidikan yang diinisiasi untuk mengatasi masalah kelangkaan ulama Muhammadiyah. Muhammad Ali Bakri, M.Pd., Koordinator Administratif Ma’had Albirr Universitas Muhammadiyah Makassar, mengatakan bahwa program kerja sama Muhammadiyah-AMCF ini dimulai pada 11 Januari 1992. AMCF sebelumnya bernama Sekretariat Kerja Sama Al-Birr Society dan, baru pada 28 Juni 2002, nama AMCF dipakai sampai sekarang. Dalam MOU yang ditandatangani pada 11 April 2011 oleh dua orang yang mewakili Muhammadiyah dan dua orang dari AMCF, yakni Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, M.A., Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., H. Abdul Hamid Siroj, dan Muhammaed M.T. Khoory, Ma’had AMCF akan berakhir pada 1 Juli 2025.

Lantaran dimaksudkan untuk memperbanyak ulama Muhammadiyah, Ma’had AMCF memberikan kursus bahasa Arab dan dirasah Islamiyah. Para peserta didik yang lulus kursus ini bisa melanjutkan ke jenjang S-1. Kursusnya berlangsung selama 2-4 semester. Sekarang, Ma’had AMCF ini berlokasi di 20 tempat di seluruh Indonesia, dan 17 lokasi di antaranya berada di PTM. Tiga lokasi lainnya terletak di lembaga-lembaga milik Persatuan Islam (Persis). Ghoffar Ismail, M.A. koordinator kerja sama AMCF dengan Ma’had Ali bin Abi Thalib UMY pada awal berdirinya, menuturkan bahwa kerja sama pendidikan ini perlu terus dikembangkan demi meningkatkan kualitas perkaderan Muhammadiyah. Oleh karena itu, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menginisiasi pengembangan kaderisasi ulama Muhammadiyah dengan melibatkan Ma’had AMCF agar upaya ini lebih terprogram, terencana dan sesuai dengan tujuan awalnya, visi dan misi Muhammadiyah.[] Agung Prihantoro Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 13


Profil PTM

Gedung STIE Muhammadiyah Tanjung Redeb

STIE Muhammadiyah Tanjung Redeb

Menyemai Benih Pendidikan Tinggi di Berau Mulanya, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Tanjung Redeb yang lebih dikenal dengan STIEM Tanjung Redeb, didirikan atas prakarsa tokoh-tokoh dan Pimpinan Muhammadiyah Cabang BerAau, Kalimantan Timur. Kala itu, di Kabupaten Berau belum ada perguruan tinggi atau lembaga pendidikan pasca-sekolah menengah atas. Pada tanggal 17 Agustus 1991, didirikanlah Akademi Manajemen Muhammadiyah Tanjung Redeb di Jalan Jenderal Sudirman dengan jumlah mahasiswa angkatan pertama sebanyak 165 orang. Akademi Manajemen Muhammadiyah ini menjadi cikal bakal STIEM Tanjung Redeb. Awalnya, kampus ini hanya mendapat izin operasional dari Kopertis Wilayah XI Kalimantan. Kemudian, Akademi Manajemen

14 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

Muhammadiyah memperkuat statusnya dengan mengurus administrasinya ke pemerintah. Lalu, keluarlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 243/Dikti/Kep/1992 tertanggal 5 Juni 1992. SK ini menerangkan bahwa Akademi Manajemen Muhammadiyah Tanjung Redeb bestatus terdaftar dengan program studi Manajemen jenjang program pendidikan Diploma Tiga (D-3). Melihat kemajuan Akademi Manajemen Muhamamdiyah Tanjung Redeb, serta animo masyarakat untuk mendapatkan pendidikan, para pengelola memutuskan untuk meningkatkan jenjang D-3 ke Strata 1 (S-1). Lalu, turunlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 037/D/O/1994 tertanggal 18 Mei 1994 sebagai izin resmi


Menyemai Benih Pendidikan Tinggi di Berau

Kegiatan peningkatan skill mahasiswa dan ujian pendadaran mahasiswa STIE Muhammadiyah Tanjung Redeb

pembukaan dua program studi S-1, yakni (1) Manajemen dan (2) Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Selanjutnya, pada 2005, dibuka pula program studi Akuntansi S-1. Dalam rentang sembilan belas tahun perjalanan STIEM Tanjung Redeb (1991-2010), perkembangan fisik yang paling berarti dimulai pada tahun 2000. Kampus lama yang berada di Jalan Jenderal Sudirman tidak mampu lagi menampung jumlah mahasiswa yang bertambah-tambah. Maka, dilakukan pembangunan gedung baru di Jalan Dr. Murjani II Tanjung Redeb di lahan seluar kurang lebih 10.000 meter persegi. Gedung baru ini berlantai tiga dengan fasilitas akademik yang lengkap. Pada tahun 2011, program-program studi di STIEM Tanjung Redeb telah terakreditasi. Berkat perjuangan tiada henti, akhirnya pada tahun 2015, seluruh program studi di STIEM Tanjung Redeb memperoleh akreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Program Studi Manajemen mendapatkan akreditasi B berdasarkan SK Nomor 1011/BAN PT/Akred/S/ IX/2015, sedangkan Program Studi Akuntansi dan Ekonomi Pembangunan memperoleh nilai B berdasarkan SK Nomor 1022/BAN PT/Akred/ S/X/2015. Jumlah dosen STIEM Tanjung Redeb yang memiliki NIDN dan NIDK pada 2016/2017 sebanyak 46 orang. Empat belas orang di antaranya merupakan dosen prodi Akuntansi, 11 orang dosen prodi Ekonomi Pembangunan, dan 12 orang dosen prodi Manajemen. Jumlah mahasiswanya pada tahun 2016/2017 sebanyak 1.067 orang: Akuntansi 365 orang, Ilmu Ekonomi dan Studi

Pembangunan 143 orang dan Manajemen sebanyak 559 orang mahasiswa. Secara total, nisbah dosen dan mahasiswanya pada tahun 2016/2017 adalah 1:23,2. Nisbah ini telah memenuhi standar untuk ilmu sosial, yaitu 1:45. STIEM Tanjung Redeb mempunyai visi: Menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi yang Terkemuka, Unggul, Berwawasan Islami dan Sejahtera tahun 2025. Sementara itu, misinya adalah sebagai berikut: 1. Menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan bermutu tinggi di bidang Ekonomi Pembangunan, Manajemen dan Akuntansi. 2. Melaksanakan kurikulum dengan pendekatan system, dalam rangka menetapkan program study yang menjadi program studi unggul. 3. Melaksanakan penelitian dalam rangka pengembangan Ilmu Pengetahuan, teknologi dalam bidang ekonomi, manajemen dan akuntansi untuk menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat dengan pendekatan islam 4. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan berperan aktif dalam organisasi profesi dan kemasyarakatan. 5. Menyelenggarakan pendidikan secara islami berdasarkan ajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Pada 2018, STIEM Tanjung Redeb berencana membuka Program Pascasarjana S-2 Ilmu Manajemen dan Ilmu Ekonomi. Sampai saat ini, di Kabupaten Berau tidak ada perguruan tinggi yang memiliki program pascasarjana. Dalam jangka panjang, pada 2025, STIEM Tanjung Redeb berupaya untuk menjadi Institut atau Universitas Muhammadiyah Berau.[] Nisa Pujiana Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 15


Profil PTM

Dr.

Sukses Mencetak Kader Pemimpin di Daerah

D

r. H. Muhammad Bayu, M.M. selaku Ketua STIEM Tanjung Redeb yang menjabat sejak tahun 2008 telah berhasil melakukan terobosan progresif dalam rangka meningkatkan kualitas STIE Muhammadiyah Tanjung Redeb. “Selama saya diamanahi menjadi rektor, pencapaian yang sudah saya lakukan adalah tersedianya tiga unit gedung kuliah yang representatif, penambahan program studi Akuntansi, terakreditasinya tiga prodi, dari belum terakreditasi sampai terakreditasi B, dan tersedianya dosen tetap dengan jumlah 47 orang,� jelasnya. Masyarakat Kabupaten Berau menaruh harapan besar pada STIEM Tanjung Redeb. Mereka mengharapkan sumbangsih pendidikan

16 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

untuk kemajuan kabupaten mereka. Untuk mengetahui langkah ke depan STIEM Tanjung Redeb demi kemajuan Kabupaten Berau dan, lebih luas lagi, Provinsi Kalimantan Timur, Warta PTM mewawancarai Muhammad Bayu via surat elektronik. Apa obsesi jangka pendek dan panjang? Ada dua obsesi yang kami cetuskan, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, kami berobsesi untuk mencapai akreditasi institusi minimal B. Sementara itu, obsesi jangka panjang adalah menjadikan STIE ini sebagai lembaga pendidikan tinggi untuk pusat pendidikan dan bisnis Islami di Kabupaten Berau.


Sukses Mencetak Kader Pemimpin di Daerah

Apa langkah-langkah konkret yang dilakukan? Langkah konkret yang akan kami lakukan adalah pembenahan kurikulum dan pelatihan kewirausahaan. Kami juga menambah tenaga dosen, memberikan kesempatan kepada dosendosen yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, baik ke perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam dan luar negeri. Bagaimana kiprah STIEM Tanjung Redeb di Kalimantan Timur? Kami menjadi salah satu perguruan tinggi di Kalimantan Timur yang dipilih oleh masyarakat yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. Karena, semua program studi kami sudah terakreditasi B. Bagaimana posisi STIEM Tanjung Redeb dalam bidang pendidikan di sini? Apa sajakah bentuk kerja sama yang dilakukan? STIEM Tanjung Redeb merupakan perguruan tinggi tertua dan menjadi pilihan utama bagi para lulusan SLTA yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Kami telah berhasil untuk mencetak kaderkader pemimpin di daerah ini. Kami bekerja sama dengan pelaku usaha swasta maupun pemerintah. Misalnya, kami melakukan riset tentang dampak ekenomis keberadaan perusahaan pada masyarakat, dan juga mengidentifikasi potensi-potensi daerah kami. Ke depan, PTM diarahkan untuk memiliki lebih banyak program pascasarjana, bagaimana dengan STIEM Tanjung Redeb? Insya Allah, STIEM Tanjung Redeb menjadi salah satu kampus yang akan membuka program pascasarjana, target 2018-2019. Terkait pengembangan riset, bagaimana peran STIEM Tanjung Redeb? Sesuai dengan bidang ilmu kami, tentu STIEM mencoba untuk melakukan pengembangan riset terutama dalam rangka penggalian dan pengembangan potensi ekonomi daerah. STIEM kami telah mendukung Dewan Riset Daerah yang telah dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Berau.

ď ˝

Dalam jangka panjang lima tahun ke depan, kemungkinan baru akan mengubah menjadi universitas. Dalam waktu kurang dari dua tahun, kami bekerja keras untuk menjadi Institut Ekonomi dan Bisnis.

Sejauh ini, apakah STIEM Tanjung Redeb sedang bersiap diri untuk mengubah status menjadi sebuah universitas? Dalam jangka panjang lima tahun ke depan, kemungkinan baru akan mengubah menjadi universitas. Dalam waktu kurang dari dua tahun, kami bekerja keras untuk menjadi Institut Ekonomi dan Bisnis. Bagaimana hambatan yang dirasakan oleh STIEM Tanjung Redeb? Kurangnya dosen tetap yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang ilmu yang dikembangkan oleh STIEM Tanjung Redeb. Terbatasnya sumber pendanaan yang sementara ini hanya berasal dari mahasiswa. Lahan yang dimiliki masih terbatas dan sekarang ini hanya kurang lebih 10.000 meter persegi dan itu pun sebagian digunakan untuk Amal Usaha Muhammadiyah lainnya. Ada hal lain yang ingin Bapak sampaikan? Perlu kerjasama yang lebih konkret antarPTM terutama dalam mengatasi kekurangan tenaga dosen.[] Nusa Pujiana

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 17


Kinerja

1.

Modul Penyusunan SPMI PTM, Panduan Penyusunan RIP PTM, dan Pedoman tentang PTM.

Menerbitkan Buku Memacu Mutu

P

ada akhir 2016, Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah empat buku, yakni AIK III: Al-Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Modul Penyusunan Standar Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Panduan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, dan Pedoman tentang Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Penerbitan buku-buku ini merupakan bagian dari upaya untuk terus memacu PTM. AIK III menjadi buku pegangan mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan untuk mahasiswa Diploma atau S-1 di PTM. Buku ini dianggit oleh Tim Penulis Majelis Diktilitbang. Tiga buku AIK I, II dan IV masih digarap oleh tim. Modul Penyusunan SPMI PTM ditulis oleh Ahmad Muttaqin, M.A., Ph.D., Dr. Budi Akhbar, Daniel Fernandez, M.Pd., dan Munawwar Khalil, M.Ag. Buku ini lengkap sekali sehingga sangat membantu PTM yang belum merumuskan SPMI. Sebagaimana kita ketahui bersama, SPMI menjadi bagian penting dalam akreditasi. 18 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

Selanjutnya, buku Panduan Penyusunan RIP PTMA juga membantu PTM yang belum membuat Rencana Induk Pengembangan. Buku ini disusun oleh Nurul Indarti, S.E., SivilÂ.konom, Cand.Merc., Ph.D., Tri Lestari W. Utami, M.Sc., dan Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. Sementara itu, kitab Pedoman tentang Perguruan Tinggi Muhammadiyah dicetak ulang untuk memenuhi permintaan kampus-kampus Muhammadiyah. Buku ini berisi dua bagian, yaitu Peraturan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 01/PRN/I.0/B/2012 tentang Majelis Pendidikan Tinggi dan Ketentuan Majelis Pendidikan Tinggi PPM Nomor 178/KET/I.3/D/2012 tentang Penjabaran Pedoman PPM Nomor 02/PED/ I.0/B/2012 tentang Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Semua buku tersebut, kecuali AIK III, sudah dikirim ke seluruh PTM agar mereka segera memacu mutu.[]


Nurul Indarti tengah menyampaikan materi dalam Pelatihan Penyusunan RIP PTM

Membuat Dokumen Berstandar

S

ebagian PTM sudah memiliki Rencana Induk Pengembangan (RIP), tetapi sebagian lainnya belum mempunyai. RIP yang sudah dimiliki pun belum semuanya terstandar. Padahal, RIP merupakan bagian pokok dalam tata kelola dan tata pamong perguruan tinggi. Maka, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menggelar acara Pelatihan Penyusunan RIP pada 19-21 Januari 2017 di Hotel Sargede Yogyakarta. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali para peserta dengan pengetahuan dan keterampilan teknis dalam menyusun, merevisi dan mengimplementasikan RIP. RIP yang berstandar terdiri dari enam bab. Bab I berisi latar belakang, dasar hukum dan sistematika penulisan. Bab II berupa sejarah, nilai dasar, misi, visi dan tujuan perguruan tinggi. Bab III memuat kondisi lingkungan internal dan eksternal. Bab IV memaparkan skenario perencanaan dan arah pengembangan perguruan tinggi. Bab V mendedahkan strategi dasar, kebijakan dasar dan indikator kinerja. Bab VI tersusun atas simpulan dan rancangan implementasi.

Pemateri pelatihan ini ialah Nurul Indarti, S.E., SivilÂ.konom, Cand.Merc., Ph.D., dan Tri Lestari W. Utami, M.Sc. Keduanya merupakan penyusun buku Panduan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (2016), yang diterbitkan oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Peserta pelatihan ini berjumlah 20 orang yang berasal dari 10 PTM. Jumlah peserta memang sangat terbatas supaya pelatihannya berjalan dengan efektif dan membuahkan hasil yang maksimal. Dengan pelatihan ini, para peserta diharapkan mampu menyusun dokumen RIP PTM yang berstandar. Mereka juga diasakan mampu menerapkannya dalam program-program nyata. [] Agung Prihantoro

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 19


Kinerja

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., Ketua Majelis Diktilitbang PPM, Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., dan narasumber lain dalam Rakornas ALPTK PTM.

Mewujudkan Guru Profesional Sejati

R

apat Koordinasi Nasional Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (Rakornas ALPTK PTM) kali ini diadakan pada 15-17 Februari 2017 di Horison Tirta Sanita Hotel, Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama antara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, ALPTK PTM dan STKIP Muhammadiyah Kuningan. Rakornas ALPTK PTM merupakan aktivitas rutin yang dihelat pada awal tahun. Rakornas ini bertemakan “LPTK PTM Berkhidmat untuk Umat, Berkarya untuk Menghasilkan Guru Profesional Sejati, Berkinerja untuk Kemajuan Bangsa�. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., yang juga Ketua PP Muhammadiyah, menjadi keynote speaker. Hadir pula Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., dan Sekretaris Majelis Diktilitbang, Muhammadiyah Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., dalam acara ini. Agenda-agenda Rakornas antara lain adalah pengesahan, pengiriman, dan pengunggahan

20 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

dokumen Capaian Pembelajaran atas nama Asosiasi Program Studi ALPTK PTM ke Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan; pengesahan, pengiriman, dan pengunggahan dokumen kurikulum lengkap mengacu Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) ke Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Peserta Rakornas meliputi unsur dekan, unsur program studi, pengurus ALPTK dan pengelola Program Pengembangan Profesi Guru (P3G) dan PPG. Pengurus ALPTK PTM mencakup tujuh belas Asosiasi Program Studi (APS). APS tersebut antara lain adalah Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Jepang, Pendidikan Matematika, Pendidikan Biologi, dan Pendidikan Bahasa Indonesia. Harapannya, Rakornas ini memantapkan peran LPTK PTM untuk menghasilkan dan mewujudkan guru-guru profesional sejati.[] Agung Prihantoro


Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si., dan jajaran pengurus PPM dalam Tanwir Muhammadiyah.

PTM Unggul Perkuat Kedaulatan & Keadilan

T

anwir Muhammadiyah 24-26 Februari 2017 di Ambon menghasilkan “Resolusi Ambon tentang Penguatan Kedaulatan dan Keadilan Sosial”. Resolusi ini berisi lima poin perihal pentingnya upaya untuk menguatkan kedaulatan dan keadilan sosial bangsa Indonesia. Poin ke-5 menandaskan bahwa Muhammadiyah mendesak pemerintah bertindak tegas dan bersikap percaya diri dalam “melaksanakan kebijakan ekonomi yang pro rakyat kecil, menegakkan hukum dengan seadil-adilnya, mengelola sumber daya alam dengan berdasarkan Pancasila dan Undangundang Dasar 1945, menata sistem kepartaian yang lebih aspiratif terhadap masyarakat, mencegah dominasi kelompok tertentu yang dengan kekuatan politik, finansial, dan jaringan mendikte praktik penyelenggaraan negara”. Harapan tersebut tentu perlu didukung oleh PTM-PTM yang terus berbenah untuk menjadi kampus-kampus yang unggul dan berdaya saing. Kampus Muhammadiyah yang unggul dan berdaya saing berbasis Al Islam-Kemuhammadiyahan,

holistik integratif, dan bertata kelola baik merupakan amanah Muktamar Muhammadiyah ke-47 tahun 2015 di Makassar. PTM dengan kualitas seperti ini turut menguatkan kedaulatan dan keadilan sosial bangsa Indonesia. Kepada seluruh peserta Tanwir Muhammadiyah, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah melaporkan semua kebijakan, strategi dan program yang telah ditempuh selama satu tahun untuk mencapai PTMA dengan kualitas di atas. Majelis Diktilitbang sudah berupaya optimal untuk mewujudkannya. Ke depan, Majelis Diktilitbang memiliki banyak agenda untuk diimplementasikan pada 163 PTM. Agenda-agenda tersebut antara lain adalah pendampingan akreditasi program studi dan perguruan tinggi dan berbagai workshop untuk terus meningkatkan Catur Dharma. Dengan implementasi Catur Dharma yang maksimal, PTMA menjadi kampus yang unggul dan berdaya saing demi memperkuat kedaulatan dan keadilan sosial di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia.[] Agung Prihantoro Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 21


Kinerja

Wakil Presiden IUMW Steve Griffiths menyerahkan cindera mata kepada Rektor UM Surabaya Dr. dr. Sukadiono, M.M.

MOU Konsorsium PTM dengan AeU Malaysia

S

ebagai tindak lanjut gagasan internasionalisasi Muhammadiyah, Konsorsium PTM yang dipimpin Prof. Bambang Setiaji, dan didampingi Ketua PPM Drs. Dahlan Rais dan Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Edy Suandi Hamid, berkunjung ke Asia E University (AeU), International University Malaya-Wales (IUMW), dan University Putra Malaysia. Muhibah selama dua hari diikuti rektor dan perwakilan dari UM Surakarta, UM Surabaya, UM Makassar, UM Jakarta, UHAMKA, UM Purwokerto, UAD, dan UM Tangerang. Kunjungan ini masih dalam penjajakan lebih dalam untuk perluasan kiprah Muhammadiyah yang berencana membuka kampus di Malaysia. Beberapa perguruan tinggi sudah dikaji untuk

22 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

dibeli sebagian sahamnya, termasuk AeU. “Namun semua perlu pengkajian mendalam. Perlu ada feasibilty study mendalam untuk melihat kelayakan dari segi finansial, keberlanjutan, dan juga regulasi pemerintah,� ujar Prof. Edy dalam pertemuan dengan semua delegasi di hotel Midah Kuala Lumpur yang dipimpin oleh Ketua PPM Dahlan Rais. Saat itu, sudah ditunjuk tim kecil untuk membuat studi kelayakan tersebut. Sebagai langkah antara untuk penjajakan itu, diadakan MOU antara konsorsium dan 12 PTM anggota konsorsium dengan AeU untuk program pendidikan doktor para dosen PTM di AeU, sebuah perguruan tinggi berbasis online (distance learning) yang berdiri sejak 2007 dan didukung oleh 34 negara anggota Asia Cooperation Dialogue (ACD). Saat


ini, AeU memiliki lebih dari 10 ribu mahasiswa dan meluluskan dua belas ribuan alumni. Dalam sambutan, saat diterima President AeU Prof. Dato Ansary Ahmad, Ketua PPM Dahlan Rais menegaskan, Muhammadiyah yang sejak awal sudah bergerak di bidang pendidikan, akan terus maju dan melebarkan sayapnya ke Negeri Jiran. “Bahkan untuk pendidikan ini, Muhammadiyah hadir ke tempat yang pemerintah Indonesia sendiri belum melakukannya, seperti di berbagai remote area di Indonesia,” ujarnya. Untuk menangani kerja sama dan upaya untuk mencari PT yang bisa bekerja sama dengan PTM, telah dibentuk University Consortium Muhammadiyah Malaysia (UCMM) yang beranggotakan 12 PTM. “Kita melihat AeU sangat cocok, karena sudah memiliki berbagai program

doktor yang mendapat mengakuan internasional,” kata Prof. Bambang Setiaji. “Muhammadiyah memiliki sebelas ribu dosen, dan sebagian besar belum berkualifikasi doktor. Untuk itu, kita perlu kerja sama untuk percepatan agar lebih banyak dosen berkualifikasi doktor untuk penguatan perguruan tinggi Muhammadiyah,” ujar Prof Bambang Setiaji dalam sambutan sebelum penandatanganan MOU dengan AeU. Usai MOU dengan AeU, delegasi UCMM melanjutkan kunjungan ke IUMW dan UPM untuk penjajakan kerja sama.[] ESH

regulasi

1. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik indonesia Nomor 1 tahun 2017 Tentang Pembukaan, Perubahan, dan Penutupan Program Studi di Luar Kampus Utama Perguruan Tinggi. 2. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor.

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 23


Kronik

Proses menekan tombol sirene tanda dimulai penggunaan sistem informasi oleh Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., Rektor UMSU Dr. Agussani, M.A.P., Rektor UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.I.P., Dan Drs. Firdaus Naly dan unsur Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara

SIA Tonggak Sejarah Baru UMSU

U

niversitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Akademik (SIA) di Aula Kampus UMSU Jalan Kapt. Mukhtar Basri pada Rabu (25/1/2017). Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. didampingi Rektor UMSU Dr. Agussani, M.A.P., Rektor UMY Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.I.P., Ketua Badan Pembina Harian UMSU Drs. Firdaus Naly dan unsur Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara menekan tombol sirene tanda dimulai penggunaan sistem informasi tersebut. Aplikasi SIA memudahkan pengelolaan informasi akademik mahasiswa yang jumlahnya puluhan ribu. Informasi tentang banyak mahasiswa ini tak lagi bisa dilakukan secara manual. Maka, aplikasi SIA adalah solusinya. Aplikasi ini bermanfaat bagi mahasiswa dan orangtua mahasiswa untuk melihat biodata,

24 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

nilai, data keuangan, kartu rencana studi (KRS) online, jadwal kuliah, dan jadwal-jadwal akademik lainnya. Selain diperuntukkan bagi mahasiswa dan orangtua, SIA juga ditujukan bagi dosen untuk mengetahui biodata, aktivitas mengajar, dosen wali, KRS, input nilai, bahan dan tugas kuliah, data-data akademik lainnya. Sistem information technology (IT) ini merupakan hasil kerja sama antara UMSU dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). SIA rakitan tim IT UMY dan UMSU tersebut berbasis web. Mahasiswa, orangtua mahasiswa dan dosen dapat menggunakan SIA dengan membuka web browser, seperti Mozilla Firefox, Google Crome, Opera dan lainnya.[] Agung Prihantoro


Pendidikan Latihan Dasar Mapala UNiversitas Muhammadiyah Sumatra Utara pada Februari 2017 berjalan lancar. Foto dok. mapalaptm.com

Mengenal SAR Mapala Muhammadiyah

I

nsiden buruk yang menimpa mahasiswamahasiswa pecinta alam beberapa waktu silam membuat perhatian khalayak ramai tertuju pada organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). “Diksar yang diadakan sebagai pendidikan di Mapala ini harusnya menjadi sebuah awal yang baik bagi para pecinta alam. Tetapi, karena teknis pelaksanaannya tidak hati-hati, sehingga menimbulkan hal buruk yang jelas tidak kita inginkan,” tutur Slamet Widodo, Ketua Umum Search and Rescue (SAR) Mapala Muhammadiyah saat dimintai tanggapannya mengenai insiden buruk di atas. SAR Mapala Muhammadiyah mengambil banyak pelajaran dari insiden tersebut agar peristiwa itu tidak terjadi di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Slamet menambahkan bahwa Diksar Mapala harus lebih mengedepankan kegiatan yang bernuansa kognitif edukatif dan tidak terlalu banyak dalam

melibatkan pendekatan fisik. SAR Mapala Muhammadiyah kali pertama dideklarasikan oleh perwakilan-perwakilan Mapala PTM se-Indonesia pada 26 Desember 2015 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). SAR Mapala Muhammadiyah diresmikan oleh majelis Diktilitbang PPM dengan SK No. 040/ KEP/1.3/D/2015. Ketua Umumnya adalah Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, dan Bendahara Umum Aries Munandar. Tujuan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia adalah: (1) sebagai media dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar melalui tugas dan misi kemanusiaan, (2) sebagai perwujudan bhakti atas komitmen Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, dan (3) sebagai wadah informasi, komunikasi, sosialisasi, dan silaturahmi tentang SAR antar sesama Mahasiswa Pecinta Alam Perguruan Tinggi Muhammadiyah di seluruh Indonesia.[] Nisa Pujiana

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 25


Kronik demikian banyak isu tersebut. Sementara itu, Prof. Edy Suandi Hamid yang menyampaikan makalah bertajuk “Muhammadiyah Berbakti untuk Negeri” mengatakan, Muhammadiyah sebagai suatu organisasi yang lahir dalam situasi pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia, perannya (termasuk peran ‘Aisyiyah) untuk negeri bernama Indonesia ini tidak bisa diragukan lagi, dan sangat kasat mata. “Peran Muhammadiyah bukan saja dalam mengisi kemerdekaan The 5 URECOL PTM. ini, melainkan juga peran untuk mempersiapkan dan memerdekakan bangsa. Beberapa founding fathers dari bangsa ini adalah tokoh-tokoh Muhammadiyah, seperti Ki Bagus Hadikusumo, KH Mas Mansoer, KH Abdul Kahar Muzakkir, dan Kasman Singodimejo, yang terlibat aktif saat bangsa menyiapkan diri untuk merdeka. Beberapa di antaranya juga sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Pahlawan Nasional, termasuk KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan,” ujarnya. Lebih lanjut dikatakan, dengan berbagai kontribusinya, Muhammadiyah memang tidak pernah menepuk dada, bahkan terus melakukan berbagai akselerasi untuk berbuat lebih banyak bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu, forum URECOL ini kiranya perlu melakukan kajian-kajian mendalam untuk akselerasi Muhammadiyah bagi bangsa ini. Banyak research questions yang kiranya bisa menjadi kajian bagi para peneliti di Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Misalnya, dalam konteks kebijakan publik, kita menyadari bahwa sebagai lembaga, Muhammadiyah tidak terlibat politik praktis, namun ini bukan berarti Muhammadiyah bersifat a-politis. “Pertanyaannya adalah bagaimana tanpa kehilangan independensinya, Muhammadiyah bisa berperan untuk mempengaruhi keputusan politik dan kebijakan publik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara, dan meluruskan kebijakan-kebijakan yang bengkok dan berpihak pada segelintir orang atau bertentangan dengan sifat keadilan sosial?” ujar Prof. Edy. th

Muhammadiyah untuk Negeri

U

ntuk kelima kalinya, Konsorsium Perguruan Tinggi Muhammadiyah mengadakan kolokium pada 18 Februari 2017 di Auditorium Kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. The 5th University Research Colloqium (URECOL) bertajuk “Cinta Negeriku” dibuka oleh Rektor UAD Dr. Kasiyarno M.Hum., dan menghadirkan pembicara mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof. Mahfud MD dan Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Edy Suandi Hamid. “Yang sangat menggembirakan, Urecol ini menghadirkan lebih 280 makalah yang akan dibahas dalam forum ini,” ujar Rektor UAD Kasyarno dalam forum yang diikuti sekitar 200 peserta dari PTM dan perguruan tinggi negeri serta swasta lainnya. Dalam prasarannya, Prof. Mahfud mengingatkan, Indonesia negara yang sangat besar dengan jumlah pulau yang lebih dari 17 ribu buah. Sumber daya alamnya berlimpah, namun belum semuanya termanfaatkan. “Bahkan masih banyak rakyat yang miskin dan menganggur. Ini yang harus diberikan jalan keluarnya oleh para peneliti,” ujar Prof Mahfud, sembari mengingatkan agar para peniliti tidak menjadi “tukang survei” saja, tetapi betul-betul melaksanakan survei yang bermanfaat dan mencerahkan. Oleh karenanya, beliau mengapresiasi forum URECOL yang membahas

26 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017


Dalam peran di bidang pendidikan, pertanyaan yang terkait dengan penyelarasan kualitas dan kuantitas juga perlu dipecahkan. Bagaimana dengan tuntutan untuk meningkatkan akses masyarakat untuk mengenyam pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, dengan tidak menurunkan kualitas lulusannya? Ataukah lebih

baik lembaga pendidikan Muhammadiyah fokus pada pendidikan berkualitas, dan hadir dirasakan manfaatnya secara riil di masarakat? “Semua ini memerlukan kajian riset mendalam agar bisa diperoleh jawaban yang pas dan sejalan dengan misi Muhammadiyah,” ujar Prof. Edy Suandi Hamid.[] ESH

S

ebanyak 110 pejabat struktural di lingkungan Universitas Muhammadiyah Magelang mengikuti “Workshop Peningkatan Kapasitas Organisasi dan Sumber Daya UM Magelang Berbasis Islam Kemuhammadiyahan”. Acara tersebut diadakan selama dua hari, Jum’at-Sabtu (17-18/2) di Hotel Universitas Negeri Yogyakarta. Ir. Eko Muh Widodo, M.T., Rektor UM Magelang yang membuka acara sekaligus menjadi peserta workshop mengatakan, kegiatan itu Dr. Haedar Nashir, M.Si., menyampaikan materi di Workshop Peningkatan Kapasitas Organisasi dan dilakukan sebagai upaya konsolidasi Sumber Daya UM Magelang Berbasis Islam Kemuhammadiyahan SDM UM Magelang serta untuk meningkatkan kinerja organisasi. Workshop ini diikuti oleh para pejabat struktural, yakni pimpinan universitas, pimpinan fakultas, dan pejabat di tingkat unit. “Diharapkan setelah Prof. Lincoln Arsyad, M.Sc., Ph.D., Ketua mengikuti workshop para peserta Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mendapat pencerahan dan dapat meningkatkan membawakan tema “Arah Kebijakan kinerja sehingga membuahkan hasil yang optimal Pengembangan PTM”. Dr. Muhammad Samsudin, bagi kemajuan UM Magelang,” ungkap Eko. M.Pd., Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Sejumlah petinggi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Drs. M. Safar Nasir, M.Si., (PP) Muhammadiyah dihadirkan untuk yang merupakan Wakil Rektor II Universitas menyampaikan materi. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Ahmad Dahlan Yogyakarta, menyampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah menyampaikan materi “Penguatan Organisasi dan Tata Kelola materi tentang “Revitalisasi Ideologi dan NilaiPTM”. Nilai Muhammadiyah untuk Pengembangan Di hari kedua (Sabtu 18/2), dua Rektor PTM”. Dalam paparannya, Haedar antara lain PTM. yakni Rektor Universitas Muhammadiyah menekankan perlunya pengorbanan dalam Yogyakarta Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., dan perjuangan: pengorbanan ilmu maupun harta. Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang “Ketika kita menerima gaji, itu merupakan pahala Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., memaparkan di dunia. Di samping itu, kita juga dituntut untuk ihwal “Revitalisasi Budaya Mutu dan Peningkatan ikhlas melakukan suatu pekerjaan. Semakin kita Atmosfir Akademik” dan “Marketing dan ikhlas, maka akan semakin baik kehidupan kita,” Pengembangan Kemahasiswaan”.[] pesannya di hadapan para peserta.

Godok Pejabat, Tingkatkan Kinerja UM Magelang

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 27


kronik

Dr. Haedar Nashir, M.Si., menyampaikan tausiyah Peresmian dan Peletakan Batu Pertama di Unimus

Peresmian dan Peletakan Batu Pertama di Unimus Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) sebagai salah satu pusat keunggulan Muhammadiyah Jawa Tengah memiliki spirit membangun yang terus bergelora. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum PP Muhammadiyah, saat beliau memberikan tausyiah pada acara “Peresmian dan Peletakan Batu Pertama dalam rangka Akselerasi Pengembangan Institusi Menuju Unimus Unggul”, di Kampus Unimus Kedungmundu Raya pada Ahad (5/2). Haedar menekankan pentingnya menjadikan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai AUM yang sebenarnya. Amal Usaha Muhammadiyah, baik kampus, sekolah dan lainnya, harus bisa menjadi Addiinul Hadharah. Artinya, Islam merupakan agama pembawa peradaban dan kebhinekaan tunggal ika. “Dari kampus ini, serta tempat-tempat amal usaha Muhammadiyah di Jawa Tengah ini, mari kita gerakkan dan kita gelorakan terus untuk menghadirkan Islam sebagai dinul hadharah, Islam sebagai agama yang membawa kemajuan peradaban manusia,” ujar Haedar. Didampingi Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., Haedar meresmikan gedung Laboratorium Pendidikan Kesehatan Terpadu, ATM corner, Pujasera “Halalan Thoyiban” dan Unit Pengolahan

Sampah Terpadu. Haedar juga meletakkan batu pertama pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran, Gedung Serbaguna, dan Pembangunan Tahap II Masjid At-Taqwa Muhammadiyah. Beliau juga me-launching mobil ambulance dan penyerahan tanah wakaf Unimus. Sementara itu, Rektor Unimus, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., berharap dalam satu sampai satu setengah tahun ke depan, pembangunan semua fasilitas tersebut sudah selesai, sehingga Unimus semakin sempurna dalam menjalankan proses belajar mengajar. “Mahasiswa semakin betah dan semangat kuliah, juga dosennya makin giat menularkan dan mengamalkan ilmunya,” ujarnya.[] Nisa Pujiana ***

Persiapan & Pembekalan AIPT B ke A di Sumatera

28 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

K

etua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., mendorong Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang untuk mencapai akreditasi A. Lincolin menyampaikan hal itu dalam acara “Persiapan dan Pembekalan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) B Menuju A” di hadapan para pejabat delapan PTM se-Sumatera di Aula KPA UM Palembang. Beliau berharap target itu segera tercapai.


Delapan PTM di Sumatera yang mengikuti acara ini adalah UM Palembang, UM Sumatera Utara, UM Bengkulu, UM Tapanuli Selatan, UM Riau, UM Metro Lampung, STIKES Muhammadiyah Palembang dan STIKES Muhammadiyah Pringsewu, Lampung. “Kita mendorong UM Palembang dan UM Sumatera Utara segera memacu itu,” tandas Lincolin, Jumat (10/2). Menurutnya, dua PTM ini telah memiliki kelengkapan untuk menuju ke arah target tersebut. Sekarang, UM Palembang sudah memiliki dosen sebanyak 44 yang bergelar doktor, dan dua guru besar. “Sudah saatnya, dipacu SDM, seperti dosen dipersiapkan. Karena itu menjadi syarat krusial atau paling utama. Kemudian, kesiapan tata kelola akademik, dan kesiapan sarana prasarana,” ungkap Lincolin yang juga Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada. Dosen, tata kelola akademik dan sarana prasarana merupakan tiga pilar syarat untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi. “UM Palembang harus bisa memanfaatkan kesempatan. Terlebih saat ini Kemenristekdikti membuka peluang tersebut. Ini menjadi tantangan ke depan,” ujar Lincolin. Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah turut membantu persiapan dan pembekalan ini. Salah satu bantuannya berupa bantuan hibah penelitian sebesar Rp 10.000.000/proposal kepada dosendosen di PTM untuk menambah kinerja riset mereka.[] Nisa Pujiana ***

P

impinan Pusat Muhammadiyah sedang melebur sejumlah kampus Muhammadiyah di beberapa daerah menjadi satu perguruan tinggi. “Idealnya cukup 100 kampus saja, lainnya dilebur. Dalam waktu dekat, tiga perguruan tinggi Muhammadiyah di Palopo, Kendal, Lamongan, dan Samarinda akan menjadi satu dan membentuk universitas,” kata Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Suyatno, M.Pd, pada Kamis (16/2). Beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah akan digabung di antaranya, yaitu Akademi

Peleburan PTM Kebidanan (Akbid) Muhammadiyah Palopo, STKIP Muhammadiyah Palopo, dan STIE Muhammadiyah Palopo yang nantinya akan menjadi Universitas Muhammadiyah Palopo. Penggabungan juga akan dilakukan terhadap perguruan tinggi-perguruan tinggi Muhammadiyah di Lamongan yang akan dilebur menjadi Universitas Muhammadiyah Lamongan. Perguruan tinggi-perguruan tinggi Muhammadiyah di Samarinda, yaitu STIKES Muhammadiyah Samarinda dan STIE Muhammadiyah Samarinda, akan berganti nama menjadi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Dua kampus Muhammadiyah di Kendal dan Kuningan pun akan dilebur. Suyatno yang juga Rektor Universitas HAMKA mengungkapkan, pihaknya mendukung program merger kampus-kampus kecil supaya proses perkuliahannya berjalan dengan lebih baik. Meskipun demikian, diakuinya bahwa proses merger tidaklah mudah. Menurutnya, syarat yang memberatkan adalah perguruan tinggi minimal harus satu kali meluluskan mahasiswa baru bisa merger. Syarat berikutnya adalah akreditasi perguruan tinggi yang akan merger minimal B. “Harapannya, selama kampus yang dimerger masih satu yayasan, dipermudah. Kecuali jika kampus yang dilebur itu berbeda yayasan, pasti ada perdebatan, yayasan satunya kebagian apa dan seterusnya,” tandasnya.[] Nisa Pujiana

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 29


warta dari ptm

WARTA DARI PTM

STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang Setelah mengikuti Pelatihan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) PTM di Mataram, Lombok Desember 2016 silam, STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang segera melakukan sosialisasi hasil-hasil pelatihan tersebut kepada sivitas akademikanya. Acara ini digelar selama dua hari pada 4-5 Februari 2017. Acara sosialisasi ini melibatkan Badan Pembina Harian, jajaran pimpinan kampus, ketua-ketua program studi, para dosen dan mahasiswa. Diharapkan kegiatan sosialisasi ini dapat meningkatkan komitmen seluruh sivitas akademika untuk meningkatkan mutu kampusnya. Dalam acara ini pula dilakukan pelantikan Pengurus SPMI STKIP Muhammadiyah Sidrap tahun 2017-2019.

Universitas Muhammadiyah Bengkulu Satu doktor lagi menambah amunisi akademis Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Dr. Amnah Qurniati, M.Pd.I., menjadi doktor baru setelah menyelesaikan Ujian Promosi pada Jumat 24 Februari 2017 di Aula Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Disertasinya berjudul “Perkembangan Pendidikan Islam di Bengkulu Abad XX� dengan promotor Prof. Dr. H. Anik Ghufron, M.Pd., dan Dr. Hery Noor Ali, M.A. Empat orang yang bertindak selaku penguji ialah

30 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

Dr. Nurul Hak, M.Hum., Prof. Dr. H.M. Abdul Karim, M.A., Prof. Dr. Abd. Rachman Assegaf, M.Ag., dan Prof. Dr. H. Mundzirin Yusuf, M.Si.

Universitas Muhammadiyah Mataram Universitas Muhammadiyah Mataram melakukan studi banding ke empat perguruan tinggi di Malaysia pada 1317 Februari 2017. Keempat perguruan tinggi tersebut adalah University Malaya Malaysia, University Teknologi Malaysia, University Sains Islam Malaysia, dan University Kebangsaan Malaysia. Studi banding ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi global UM Mataram melalui kerja sama internasional dengan kampus-kampus di Negeri Jiran itu. Kerja sama internasional ini merupakan salah satu dari 29 standar dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal.

STIE Ahmad Dahlan Jakarta Mukhaer Pakkanna, S.E., M.M., Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan Jakarta Periode 2014-2018, meraih gelar doktor dalam bidang ilmu ekonomi di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta pada Kamis 2 Maret 2017. Disertasinya berjudul “Penguatan Ekonomi Perempuan Pedesaan Melalui Lembaga Kuangan Mikro (LKM) Semi-Formal: Studi tentang Koperasi Wanita (Kopwan) di Kabupaten Tangerang,


Banten”. Disertasi ini dipertahankan dalam ujian yang dipimpin oleh Prof. Sutarno, M.Sc., Ph.D., di Ruang Sidang Senat UNS. Gelar doktor ini tentu menambah amunisi akademis STIE Ahmad Dahlan Jakarta untuk lebih berprestasi.

Universitas Muhammadiyah Kendari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muhammadiyah Kendari menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema “Mempersiapkan Perguruan Tinggi Menuju Negara Maritim” pada 2 Maret 2017 di Gedung Islamic Center UM Kendari. Empat narasumber hadir dalam acara ini, yakni Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, Dra. Theressa GS dari Octopus Diving Indonesia/Misool Ecoresort Raja Ampat, Prof. Dr. Andondho, dan Mikael Ginting, S.T. Jamaluddin Jompa memaparkan makalahnya “Pengembangan Scientific Diving, sedangkan makalah Theressa GS berjudul “Peran ADSI-INA dalam Pengembangan Selam Dunia”. Andondho dan Mikael Ginting menjelaskan topik “Penyelaman Pengawas Bawah Air”.

Universitas Muhammadiyah Pontianak Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UM Pontianak, Dr. Linda Suwarni, S.K.M., M.Kes., dan Perwakilan PT Mahakam, Dr. dr. Ferdy, M.M., menandatangani Memorandum of Understanding tentang survei dan penelitian pada 5 Maret 2017. Penandatanganan MOU ini disaksikan oleh Subagio, M.Kes., dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan mantan Dekan Fikes UM Pontianan, Indah Budiastutik, S.K.M., M.Kes. MOU ini merupakan bentuk kerja sama antara UM Pontianak dan PT Mahakam untuk melakukan penelitian, menemukan inovasi dan menyebarkan pengetahuan terbaru yang dilakukan oleh swasta, publik dan perguruan tinggi.

STIE Muhammadiyah Bandung “Workshop Penulisan dan Penerbitan Buku Ajar Perguruan” dilaksakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Bandung pada 21 Februari 2017. Workshop ini mendorong dosendosen STIE Muhammadiyah Bandung untuk menulis dan menerbitkan buku ajar. Dengan menulis buku ajar yang bagus, dosen-dosen dipacu untuk mengembangkan materi kuliah secara komprehensif dan sistematis. Pada gilirannya, penulisan buku ajar bakal meningkatkan proses perkuliahannya. Workshop ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Ir. H. Sri Widodo Soedarso, B.M. Eng., M.Mngt., D.B.A., dan Aep Syaiful Hamidin. Keduanya merupakan penulis buku yang produktif. Untuk menindaklanjuti acara ini secara lebih konkret, STIE Muhammadiyah Bandung dan sebuah penerbit buku juga menandatangani Memorandum of Understanding (MOU).

STIE Muhammadiyah Cilacap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Cilacap aktif melaksanakan berbagai kegiatan. Kali ini, Bank Indonesia digandeng untuk melakukan kerja sama. Pada 7 Maret 2017, sekolah tinggi Muhammadiyah di Jawa Tengah bagian barat selatan ini melakukan penandatanganan MOU dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto dan menggelar Kuliah Umum Kebanksentralan di gedung kampus. Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Ketua STIEM Cilacap, Tri Nurindahyanti Yulian, S.E., M.Si., Ak., dan Kepala Kantor Perwakilan BI Purwokerto, Ramdan Denny Prakoso. Kuliah umumnya disampaikan oleh tim BI dan diikuti oleh para mahasiswa dan bank-bank dan BMTBMT di Cilacap dan sekitarnya.

Edisi Maret-April 2017

Warta PTM 31


OBITUARIUM

Ketua Majelis Dikti 1995-2000, Prof. Dr. Umar Anggoro Jenie, Apt. Wafat

P

agi itu, para panitia dan peserta “Workshop Pembentukan Asosiasi Program Studi Perguruan Tinggi Muhammadiyah/ ‘Aisyiyah” di Universitas Muhammadiyah Malang tersentak kaget mendengar berita duka: Prof. Dr. Umar Anggoro Jenie, Apt. meninggal dunia. Beliau wafat di Yogyakarta pada usia 67 tahun usai menunaikan salat tahajud dan menanti salat subuh Jumat 26 Januari 2017. Umar Anggoro Jenie adalah Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 1995-2000. Dalam situs Muhammadiyah, disebutkan bahwa beliau merupakan Ketua Majelis Dikti yang ketiga. Sebelumnya, Majelis ini dipimpin oleh Drs. H.M. Djazman Al-Kindi (1986-1990) dan Dr. H. Yahya A. Muhaimin (1990-1995). Almarhum lahir pada 22 Agustus 1950 di Surakarta, Jawa Tengah. Beliau menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1975. Pendidikan S-2-nya ditempuh dalam bidang ilmu kimia di University of New South Wales, Australia pada 1982, dan pendidikan doktoralnya dalam bidang ilmu yang sama di Australian National University, Australia pada 1988. Umar menjadi dosen di Fakultas Farmasi UGM. Kariernya moncer sehingga beliau diangkat sebagai Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada periode 2002-2010, tepatnya 27 September 2002-14 Juni 2010. Pada hari terakhirnya sebagai Kepala LIPI, beliau resmi menyandang Profesor dalam bidang Kimia Medisinal Organik. Beliau juga mengemban amanah sebagai Ketua Komisi Bioetika Nasional pada 2009-2012. Pelopor bidang bioetika merupakan sebutan

32 Warta PTM

Edisi Maret-April 2017

lain yang disandang Umar. Pengembanganpengembangan etika ilmiah, penelitian strategis, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan profesionalitas fungsional peneliti—ini sebagian dari banyak kontribusi almarhum bagi Indonesia. Pada 2010, Umar Anggoro Jenie menerima Penghargaan Sarwono Prawirohardjo dari LIPI. Ini penghargaan paling tinggi LIPI yang dianugerahkan kepada ilmuwan-ilmuwan yang memberi banyak andil dalam iptek bagi bangsa. Pada level internasional, beliau pernah menjadi anggota International Dialogue on Bioethics of European Group on Ethics of Sciences and New Technology (IDB-EGE). IDB-EGE merupakan forum dunia yang menaruh perhatian pada etika di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi anyar. Selain itu, almarhum menekuni kajian tentang hubungan antara ayat-ayat Al-Qur’an dan temuantemuan ilmiah. Penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an secara ilmiah, boleh dibilang begitu, juga menjadi minat beliau. Umar Anggoro Jenie berkiprah pula di Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Terakhir, beliau merupakan anggota Dewan Penasihat ICMI Organisasi Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 2016-2021. Pemakaman jenazah almarhum berangkat dari rumah beliau di Condongcatur, Depok, Sleman Yogyakarta. Kemudian, jenazah dibawa ke Balairung UGM untuk dilakukan upacara penghormatan pamungkas. Selanjutnya, jenazah dikebumikan di pemakaman keluarga di Sewu Bantul Yogyakarta. Selamat jalan Prof. Dr. Umar Anggoro Jenie, Apt.[] Agung Prihantoro


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Warta PTM Edisi Maret-April 2017 by wartaptm - Issuu