TOPIK UTAMA Memenuhi Akreditasi Menuju Keunggulan
PROFIL PTM Universitas Muhammadiyah Sidoarjo: Menjadi Perguruan Tinggi Unggul
WARTA PTM
Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian & Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah
AKREDITASI & KEUNGGULAN Bagi pengelola perguruan tinggi di tanah air, kata “akreditasi” bagaikan pisau bermata dua. Bisa “mengancam” manakala nilai akreditasi rendah, dan “mencerahkan” manakala nilainya unggul. Karenanya, pengelola perguruan tinggi (PT), baik negeri maupun swasta, berusaha keras untuk memperoleh nilai akreditasi tinggi. Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh nilai optimal pada sembilan standar yang ada, baik untuk akreditasi program studi maupun akreditasi institusi. Edisi Mei- Juni 2017
www. diktilitbangmuhammadiyah.org
Asa
Akreditasi: Menuju PTM Unggul Bagi pengelola perguruan tinggi di tanah air, kata “akreditasi” bagaikan pisau bermata dua. Bisa “mengancam” manakala nilai akreditasi rendah, dan “mencerahkan” manakala nilainya unggul. Karenanya, pengelola perguruan tinggi (PT), baik negeri maupun swasta, berusaha keras untuk memperoleh nilai akreditasi tinggi. Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh nilai optimal pada sembilan standar yang ada, baik untuk akreditasi program studi maupun akreditasi institusi. Sejak sekitar pertengahan 1990-an, saat pertama kali akreditasi prodi dilakukan—dan sejak akhir 2012 untuk akreditasi insitusi—kampuskampus disibukkan oleh urusan akreditasi institusi ini. Mereka berupaya memenuhi compliance dari semua standar yang ditetapkan. Memenuhi standar dosen, standar kelulusan, sarana prasarana, kerja sama, keuangan, dan sebagainya. Agar PT bisa unggul, tentu saja bukan sekadar standar “kepatutan” yang dipenuhi, tetapi melampaui standar yang ada. Apakah upaya memenuhi standard akreditasi itu merupakan beban? Seyogianya, itu tidak dianggap beban! Memang akreditasi di Indonesia adalah sesuatu yang diatur pemerintah. Ada dasar undang-undangnya, sehingga menjadi sesuatu yang wajib, tak bisa ditawar-tawar. Tujuh standar yang ada dalam akreditasi hakikatnya sesuatu yang memang menjadi tugas pokok pengelola PT untuk memenuhinya. Ada atau tidak ada regulasi, itu harus dipenuhi sebagai akuntabilitas PT yang baik, sebagai bagian akuntabilitas kepada stakeholders, kepada publik. Para pengelola PTM tentu juga wajib berpikir demikian. Lembaga pendidikan Muhammadiyah sudah hadir di negeri ini sejak negara Republik Indonesia belum lahir. Dulu tak ada ketentuan regulasi seperti akreditasi. Tak ada pula berbagai bantuan yang diberikan pemerintah kepada lembaga pendidikan Muhammadiyah. Namun, lembaga pendidikan Muhammadiyah hadir untuk mencerdaskan anak bangsa. Tidak karena tekanan atau paksaan siapa pun. Tetapi, PTM hadir karena kesadaran untuk berbuat kebaikan bagi umat manusia melalui pendidikan tersebut. Untuk menghadirkan pendidikan bermutu, pada masanya Muhammadiyah pernah melakukan morotarium pendirian PTM. Tidak ada yang memerintahkan itu. Lagi-lagi, itu dilakukan karena kesadaran sendiri, agar lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah tak sekadar hadir, namun hadir karena dibutuhkan dan maslahat bagi masyarakat. Dengan latar belakang demikian, pengelola PTM seharusnya sadar untuk menyinergikan lingkungannya guna menghadirkan PTM yang unggul. Akreditasi adalah salah satu media agar wujud PTM unggul itu bisa dicapai. Akreditasi dipenuhi secara substantif, bukan formalistik. Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM
1
Asa Kita melihat sebagian besar prodi PTM sudah terakreditasi. Lebih separuh PTM sudah terakreditasi institusi. Dari sisi ini, bisa jadi kita sudah di atas rata-rata nasional. Bagaimana dengan nilai akreditasinya? Untuk prodi, puluhan PTM terakreditasi A, dan ratusan B dan C. Untuk akreditasi institusi, tiga PTM saat ini terakreditasi A, dan puluhan B dan C. Bahkan, sebagian PTM masih belum terakreditasi institusi secara substantif, karena menunggu giliran visitasi dan sebagainya. Tentu nilai akreditasi itu belum membanggakan semua. Majelis Diktilitbang PPM sudah menargetkan: tak ada lagi prodi yang terakreditasi C dalam periode ini, kecuali prodi yang baru. Untuk institusi, diharapkan semua terakreditasi dalam periode ini. Ditargetkan juga, semua yang sudah AIPT “B”, akan naik menjadi “A” saat reakreditasi. Karenanya, berbagai workshop dan pendampingan dilakukan. Semua target ini memang bukan sesuatu yang mudah. Namun demikian, ia menjadi ringan manakala semua elemen terkait PTM mempunyai mindset dan tujuan yang sama: memperoleh akreditasi unggul. Oleh karena itu, semua pimpinan PTM harus concern ke arah itu, dan mengajak lingkungannya berjalan ke arah yang sama. Last but not least, betapa pun kita bekerja keras untuk akreditasi, tetaplah itu bukan tujuan utama pendidikan dalam Muhammadiyah. Itu hanyalah “parameter” atau medium antara saja. Tetap saja wujud dari lembaga pendidikan Muhammadiyah yang antara lain adalah: terwujudnya manusia Muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, berguna bagi masyarakat dan negara”. Beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya ....[]
WARTA PTM
Warta PTM diterbitkan oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah SUSUNAN REDAKSI
PENANGGUNG JAWAB: Lincolin Arsyad PEMIMPIN UMUM/REDAKSI: Edy Suandi Hamid DEWAN REDAKSI: Muhammad Sayuti I Muhammad Samsudin I Ahmad Muttaqin REDAKTUR PELAKSANA: Agung Prihantoro STAF REDAKSI: Iwan Setiawan REPORTER: Nisa Pujiana KEUANGAN: HS Mulyatno IKLAN: Agus Mulyono ISSN: 0853-4756 ALAMAT REDAKSI: Jln. KHA Dahlan 103 Yogyakarta 55262 Telp. +62-274-389485 Faks. +62-274-376336 Email: redaksiwartaptm@gmail.com Rekening Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Nomor 09-0008-7003 BNI Cabang Yogyakarta a/n Lincolin Arsyad, Prof. Dr. M.Sc. Warta PTM menerima tulisan yang berupa opini, berita panjang, berita singkat, glosarium dan foto seputar perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Redaksi berhak menyunting tulisan. Silakan kirim tulisan dan/atau foto ke email redaksi.
2
Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
daftar isi ASA
TOPIK UTAMA
•
Memenuhi Akreditasi Menuju Keunggulan_4
Akreditasi: Menuju PTM Unggul_1
TOPIK UTAMA • • • • • •
Memenuhi Akreditasi Menuju Keunggulan_4 Kerja Keras, Kendala dan Solusi_6 Perkembangan dan Peta Akreditasi Perguruan Tinggi_8 Tiada Lagi “C”, Minimal “B”_10 Sembilan Catatan dari Workshop & Pendampingan_12 Membangkitkan Kesadaran Mutu_14
WAWANCARA • Prof. Dr. Siti Muslimah Widyastuti, M.Sc.: Budaya Mutu Seharusnya Menjadi Kebiasaan Sehari-Hari_16 • Prof. Dr. Bambang Cipto M.A.: BPM Sangat Menentukan Akreditasi_19
PROFIL PTM •
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Menjadi Perguruan Tinggi Unggul_21 • Rektor UMSIDA, Dr. Hidayatullah, M.Si.: Setiap Prodi Minimal 2 Doktor_24 • Universitas Muhammadiyah Palangkaraya: The Green Islamic Campus_26
“Tanpa adanya kewajiban akreditasi pun, sesungguhnya memang harus dibangun kesadaran akan pentingnya mewujudkan perguruan tinggi yang memenuhi standar mutu pelayanan pendidikan. Sehingga, kehadirannya benarbenar membawa manfaat kepada masyarakat,” kata Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, M.T.,
profil ptm Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Menjadi Perguruan Tinggi Unggul_21 “Menjadi Perguruan Tinggi Bermutu Tingkat Nasional Tahun 2020”, itulah visi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Adapun misinya, UMSIDA merumuskannya: “Membangun Indonesia Berkemajuan Melalui Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Kerjasama Berdasarkan Nilai-Nilai Islam”.
KINERJA •
• •
• •
Hibah Penelitian Muhammadiyah Gelombang II 2017 Pembekalan Bimtek Penulisan Proposal_29 Menjadi Asosiasi FEB PTM_30 Rakernas Ke-8 ALPTK PTM di UM Mataram Pendidikan Berkemajuan dan Menggembirakan_31 Workshop Persiapan & Pembekalan AIPT “B” ke “A”_32 Muhammadiyah Scholarship Preparation Program 2017_33
KRONIK • Pendirian Universitas Muhammadiyah Pringsewu (UMPRI)_34 • Prof. Setyo Budi Resmi Jabat Rektor UMG 2017-2021_35 • FK UM Palembang Syukuran Akreditasi “B” & Dekan Baru_36 • Inisiasi Kerja Sama Madrasah Mu’allimin & PTM_37 • Kuliah Umum Ekonomi Kreatif UM Palembang_38
• Stikes Muhammadiyah Palembang Siapkan Alih Bentuk Ke Institut_38 • Pelantikan Lima Wakil Rektor UMY_39 • Pelantikan Rektor UMS Dr. Sofyan Anif, M.Si._40 • Wisuda Universitas Muhammadiyah Palembang
Lulusan Terbaik untuk Sumatera Selatan & Indonesia_41
warta dari ptm Warta dari PTM_38
regulasi Regulasi_40
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM
3
topik utama
Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, STKIP Muhammadiyah Sorong & UHAMKA Dok. unismuh.ac.id, uhamka.ac.id
Memenuhi Akreditasi Menuju Keunggulan “Tanpa adanya kewajiban akreditasi pun, sesungguhnya memang harus dibangun kesadaran akan pentingnya mewujudkan perguruan tinggi yang memenuhi standar mutu pelayanan pendidikan. Sehingga, kehadirannya benar-benar membawa manfaat kepada masyarakat,” kata Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, M.T., Wakil Rektor I selaku Ketua Tim Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
keniscayaan,
4
Warta PTM
Abd. Rakhim Nanda mengatakan hal itu ketika diminta untuk berbagi pengalamannya dalam melakukan akreditasi. Pendapatnya menyuratkan bahwa keunggulan dan mutu kampus merupakan tak terelakkan. Di Unismuh
Edisi Mei-Juni 2017
Makassar, akreditasi, keunggulan dan daya saing menjadi starting point dalam menyusun Rencana dan Program Strategis dan Rencana Induk Pengembangan. Sementara itu, menurut Ketua Task Force AIPT Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Drs. Daniel Fernandez, M.Si., akreditasi menunjukkan martabat suatu perguruan tinggi. Peringkat akreditasi yang sangat baik (“B”) atau unggul (“A”) menandakan bahwa martabatnya
Memenuhi Akreditasi Menuju Keunggulan
tinggi. Sehingga, masyarakat percaya bahwa perguruan tinggi tersebut sangat memperhatikan mutunya. Akreditasi oleh BAN-PT atau Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi (LAM-PT), lanjut Daniel Fernandez, sebetulnya merupakan bagian dari sistem penjaminan mutu eksternal di tingkat nasional. Di tingkat internasional, juga terdapat lembaga-lembaga penyelenggara akreditasi. Bagi Doni Sudibyo, M.Pd., Ketua Task Force AIPT Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong, akreditasi merupakan salah satu bentuk pengakuan masyarakat atas perguruan tinggi. Sehingga, saat ini peringkat akreditasi dari BAN-PT menjadi ukuran bagi masyarakat. Warta PTM meminta tiga ketua task force AIPT tersebut untuk membagi pengalamannya dalam melaksanakan akreditasi. Sebagaimana diketahui, Unismuh Makassar adalah salah satu PTM awal di Sulawasi yang mendapat peringkat AIPT “B”. UHAMKA merupakan satu dari tiga PTM yang peringkat AIPT-nya “A”, dan STKIP Muhammadiyah Sorong menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Provinsi Papua Barat yang telah melakukan AIPT dengan peringkat “B”.
Kunci Keberhasilan Akreditasi Unismuh Makassar, tutur Abd. Rakhim Nanda, telah melakukan akreditasi program studi (prodi) sejak lima belas tahun lalu. Melakukan akreditasi menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi seluruh sivitas akademika untuk membenahi kampus dan meningkatkan mutunya seperti yang disyaratkan oleh BAN-PT. Bahkan, AIPT pada 2014 merupakan pengalaman pertama bagi Unismuh Makassar. Apa kunci keberhasilannya? Pemahaman dan kesadaran kolektif tentang arti penting akreditasi. Inilah yang digencarkan sejak awal dan terusmenerus oleh pimpinan Unismuh Makassar: menumbuhkan pemahaman dan kesadaran
bersama bahwa akreditasi prodi dan institusi sangat penting. Pemahaman dan kesadaran kolektif ini menjadi modal besar untuk menyiapkan akreditasi. Selain itu, komitmen dan keseriusan pimpinan kampus sangat penting untuk memperoleh peringkat akreditasi yang baik. Perkataan Abd. Rakhim Nanda ini diamini oleh Daniel Fernandez. Komitmen dan kerja keras pimpinan, dari Badan Pembina Harian (BPH), rektor, wakil rektor, dekan, ketua program studi, pimpinan lembaga, serta seluruh sivitas akademika dan tenaga kependidikan sangat dibutuhkan. Komitmen dan keseriusan semua pihak harus sama. Pimpinan UHAMKA mengatakan, dukungan dari semua pihak adalah keniscayaan. Sementara itu, STKIP Muhammadiyah Sorong berhasil karena kuncinya adalah membuat sesuatu yang berbeda. “We have to make differences,” ujar Doni. Sebagai PTM yang relatif baru, berdiri pada 19 Agustus 2004, STKIP Muhammadiyah Sorong melakukan sesuatu yang berbeda, yakni memaksimalkan potensi lokal di Sorong secara khusus dan di Papua secara umum, dan tetap taat pada asas dan peraturan pemerintah dan Muhammadiyah. Sehingga, PTM ini menjadi perguruan tinggi termuda di Indonesia yang peringkat AIPT-nya “B”.
Membenahi SPMI Untuk mendapatkan peringkat “A”, lanjut Daniel, UHAMKA memulainya dengan membenahi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). SPMI PTM dengan standar mutunya yang telah disusun oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menjadi acuan kerja seluruh sivitas akademika, dan standar mutu internal dibuat lebih tinggi daripada standar mutu eksternal. Misalnya, BAN-PT menetapkan jumlah penelitian dosen rata-rata minimal dua penelitian per dosen per tiga tahun, tetapi UHAMKA menetapkan rata-rata minimal tiga penelitian per dosen per tiga tahun. Kemudian, komponen-komponen pendukung —seperti sarana dan prasarana, pemeliharaannya,
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM
5
topik utama sistem pengelolaan keuangan dan tata pamong—untuk mencapai indikator mutu juga diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah ciri khas PTMA, yaitu standar Al Islam Kemuhammadiyahan. Standar mutu tersebut dielaborasi jadi indikator-indikator capaian dengan rubrik penilaian yang akan diaudit. Semua ini wajib dibaca oleh seluruh pihak di UHAMKA. UHAMKA memakai model audit sederhana yang mirip model audit BANPT dan LAMPTKes. Bedanya, BAN-PT dan LAMPTKes menggunakan skala 0-4, sedangkan UHAMKA menggunakan skala 1-5. Seluruh pihak di UHAMKA berupaya bersama-sama untuk meraih skor 5 pada setiap indikator capaian. Inilah yang membangkitkan semangat peningkatan mutu dan budaya mutu yang terinternalisasi di semua bagian kampus. Selanjutnya, skor-skor dengan audit itu dihitung dengan model UHAMKA sendiri dan baru kemudian dimasukkan ke dalam bingkai AIPT. Ketika UHAMKA melakukan reakreditasi dari “B” ke “A”, angka capaiannya dengan model sendiri lebih dari 88%. Lalu, skorskor ini dimasukkan ke dalam bingkai AIPT dan capaiannya lebih dari 90%. Angka minimal untuk mencapai peringkat “A” adalah 361 dari maksimal 400, atau 90,25%. Hasil perhitungan UHAMKA sendiri sebesar 362, sedikit di atas angka minimal, dan rektor sebagai pemegang kendali tidak jarang ikut serta dalam hitunghitungan angka pencapaian ini. Setelah divisitasi dan dihitung oleh asesor BAN-PT, ternyata angkanya mencapai 365 (91,25%). Tak sia-sia kerja keras semua pihak di UHAMKA, Unismuh Makassar dan STKIP Muhammadiyah Sorong dalam memenuhi akreditasi untuk mencapai keunggulan layanan pendidikan. Hasilnya memuaskan dan manis. Kampus, umat dan masyarakat merasakannya. [] Agung Prihantoro
6
Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
“K
erja keras” merupakan istilah yang dengan tepat menggambarkan apa yang dikerjakan oleh UHAMKA, Unismuh Makassar dan STKIP Muhammadiyah Sorong—serta PTM lain—untuk mencapai peringkat akreditasi yang optimal. Kerja keras ini berupa langkah-langkah nyata yang dilakukan secara terus-menerus. Daniel Fernandez menyebut sembilan langkah nyata yang ditapaki UHAMKA untuk meraih peringkat AIPT “A”. Langkah-langkah tersebut adalah, pertama, menata kelembagaan secara keseluruhan; kedua, memberdayakan Sistem Penjaminan Mutu secara maksimal; ketiga, meningkatkan akreditasi program studi; keempat, meningkatkan kualitas SDM. Langkah-langkah berikutnya ialah, kelima, meningkatkan jumlah dan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat; keenam, meningkatkan karya ilmiah dan berbagai prestasi dosen dan mahasiswa; ketujuh, menyiapkan dana yang lebih dari cukup untuk seluruh kegiatan akreditasi; kedelapan, membuka jaringan kerja sama dengan berbagai pihak; dan, kesembilan, menyiapkan task force yang andal. Dalam proses reakreditasi, lanjut Daniel, UHAMKA meminta pendampingan dari Kemristekdikti selama beberapa bulan. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk memantapkan naskah akreditasi, baik borang maupun evaluasi diri. Agar prosesnya lebih maksimal, UHAMKA pun meminta opini dari pihak lain dengan mengundang tim dari Universitas Islam Indonesia (UII) dalam akreditasi pertama dan juga UMY dalam akreditasi pertama dan reakreditasi. Menjelang visitasi, UHAMKA melakukan simulasi agar suasana akreditasi semakin riil dengan mendatangkan tim dari UMY pada satu hari menjelang visitasi. Secara teknis, Unismuh Makassar menempuh enam langkah berikut: (1) membentuk tim adhoc untuk melakukan evaluasi awal tentang kondisi institusi (kekuatan dan kelemahan), (2) menyusun strategi, (3) melakukan koordinasi dan konsolidari tim secara rutin, (4) melakukan bimbingan teknis (bimtek), (5) membentuk tim Penyusun Borang, dan (6) menyusun time schedule dan action plan-nya. Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah juga mendorong dan membantu proses akreditasi di
Kerja Keras, Kendala dan Solusi
Gedung Universitas Muhammadiyah Prof.Dr. HAMKA Dok. uhamka.ac.id
Kerja Keras, Kendala dan Solusi semua PTM. UHAMKA, Unismuh Makassar dan STKIP Muhammadiyah Sorong merasakan betul kehadiran dan peran Majelis Diktilitbang. Informasi penting tentang bagaimana eksekusi hasil akhir diperoleh dari Majlisdiktlitbang. Karenanya, Daniel Fernandez menyarankan agar seluruh PTMA yang membutuhkan pendampingan akreditasi prodi atau AIPT meminta bimbingan dari Majelis Diktilitbang. Ketika ditanya berapa dana yang dianggarkan untuk melakukan akreditasi, Daniel mengatakan bahwa angkanya berkisar pada beberapa miliar rupiah. Sementara itu, Abd. Rakhim Nanda dari Unismuh Makassar menyebut angka puluhan juta rupiah yang dianggarkan untuk akreditasi prodi dan lebih dari setengah miliar rupiah untuk AIPT. Doni Sudibyo dari STKIP Muhammadiyah Sorong tidak melafalkan angkanya, tetapi anggarannya dibuat dengan pertimbangan utama kelancaran dan keberhasilan proses akreditasi.
Kendala dan Solusi Dalam menapaki langkah-langkah tersebut, UHAMKA tak terlepas dari kendala. Dua kendala yang dihadapi UHAMKA adalah bahwa beberapa warga kampus kurang peduli pada akreditasi dan
bahwa beberapa dosen tidak sempat menyerahkan karya-karya ilmiah mereka yang dilakukan di luar kampus. Warga kampus yang tidak peduli itu tidak membaca naskah borang atau evaluasi diri yang telah diberikan kepada mereka, padahal mereka harus memahami naskah itu. Di sini, diperlukan ketua-ketua prodi yang tegas. Sebab, dosen-dosen UHAMKA lebih taat kepada ketua prodi. Mereka sudah terbiasa dengan budaya taat kepada semua pimpinan, tetapi masih lebih patuh kepada ketua prodi mereka. Jadi, ketua-ketua prodi bertugas untuk menangani warga kampus dan dosen yang kurang peduli pada akreditasi. Sementara itu, Unismuh Makassar menghadapi kendala keterbatasan-keterbatasan finansial, SDM, dan sarana penunjang. Kekurangan SDM yang berkualitas juga dirasakan oleh STKIP Muhammadiyah Sorong. Kendala dana dan sarana diatasi dengan memaksimalkan penggunaan anggarannya. Kendala SDM diselesaikan dengan rekrutmen kader-kader terbaik Persyarikatan Muhammadiyah. Selalu diperlukan kerja keras untuk mencari solusi-solusi yang tepat atas kendalakendala tersebut.[] Agung Prihantoro Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM
7
topik utama
Perkembangan dan Peta Akreditasi Perguruan Tinggi
P
emerintah Indonesia terus mendorong agar perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, terus meningkatkan kualitasnya melalui Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME). Kebijakan SPME dilakukan dengan mewajibkan setiap perguruan tinggi, institusi dan program studi yang dimilikinya, terakreditasi secara nasional, baik melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), maupun Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM). Bagaimana perkembangan akreditasi perguruan tinggi di Indonesia? Bagaimana pula peta akreditasi program studi dan institusi perguruan tinggi? Keduanya ditampilkan dalam tabel-tabel dan grafik berikut ini. Tabel 1. Perkembangan Akreditasi Perguruan Tinggi di Indonesia TAHUN
PERKEMBANGAN
1989
Akreditasi Pendidikan Tinggi di Indonesia secara legal formal diawali sejak berlakunya UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 46: Pemerintah melakukan penilaian setiap satuan pendidikan secara berkala dan hasil penilaian diumumkan kepada masyarakat secara terbuka.
1994
2006
Pengembangan/implementasi perangkat instrumen akreditasi program studi jenjang program sarjana pendidikan terbuka dan jarak jauh.
2007
Pengembangan/implementasi perangkat instrumen akreditasi institusi dengan 15 standar.
2008
Evaluasi instrumen akreditasi terutama dengan mempertimbangkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
2009
Instrumen akreditasi baru dengan 7 (tujuh) standar akreditasi program studi dan institusi.
2011
Pengembangan/implementasi perangkat instrumen akreditasi program studi profesi.
2013
Pengembangan sistem akreditasi nasional (SAN) dan instrumen akreditasi baru dengan 9 (sembilan) kriteria akreditasi.
2016
- Permenristekdikti No. 32 Tahun 2017 tentang Akreditasi Prodi dan PT. - Permenristekdikti No. 62 Tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
2017
Implementasi Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online (SAPTO)
Tabel 2. Jumlah Program Studi Terakreditasi di Indonesia Tahun 2017 Lingkup Perguruan Tinggi
Peringkat Akreditasi A
B
Jumlah C
Perguruan Tinggi Swasta
582 (2,88%)
4.960 (24,53%)
5.424 (26,82%)
10.966 (54,23%)
Perguruan Tinggi Negeri
1.570 (7,76%)
2.638 (13,05%)
677 (3,35%)
4.885 (24,16%)
Pembentukan BAN-PT yang bertugas melakukan akreditasi program dan satuan PT negeri dan swasta.
Perguruan Tinggi Kementerian Lain
50 (0,25%)
263 (1,3%)
65 (0,32%)
378 (1,87%)
19961997
BAN-PT melakukan ujicoba perangkat instrumen akreditasi untuk program studi Diploma dan Sarjana.
Perguruan Tinggi Agama Swasta
12 (0,06%)
448 (2,22%)
1.055 (5,23%)
1.515 (7,49%)
19992001
BAN-PT menyusun instrumen akreditasi magister dan doktor serta mengembangkan sistem portofolio.
Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri
233 (1,15%)
766 (3,79%)
296 (1,46%)
1.295 (6,40%)
8
Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Perkembangan dan Peta Akreditasi Perguruan Tinggi
Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta
80 (0,04%)
766 (3,79%)
338 (1,67%)
1.184 (5,85%)
Jumlah
2.527 (12,50)
9.841 (48,66%)
7.855 (38,84%)
20.223 (100%)
Sumber: BAN-PT (https://ban-pt.ristekdikti.go.id/grafik_per_jenis)
Tabel 3. Jumlah Institusi Perguruan Tinggi Terakreditasi di Indonesia Tahun 2017 Lingkup Perguruan Tinggi
Peringkat Akreditasi A
B
Jumlah
C
Perguruan Tinggi Swasta
16 234 549 (1,42%) (20,78%) (48,76%)
Perguruan Tinggi Negeri
28 (2,49%)
45 (3,99%)
4 (0,36%)
77 (6,84%)
Perguruan Tinggi Kementerian Lain
3 (0,27)
24 (2,13%)
4 (0,36%)
31 (2,75%)
Perguruan Tinggi Agama Swasta
0 (0%)
7 155 (0,62%) (13,77%)
162 (14,39%)
Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri
3 (0,27%)
34 (3,02%)
19 (1,69%)
Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta
0 (0%)
0 (0%)
1 (0,09%)
Jumlah
50 344 732 (4,44%) (30,06%) (65,01%)
799 (70,96%)
56 (4,97%) 1 (0,09%) 1.126 (100%)
Sumber: BAN-PT (https://ban-pt.ristekdikti.go.id/grafik_per_jenis)
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM
9
topik utama
Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. Dok. www.umm.ac.id
Tiada Lagi “C”, Minimal “B”
S
elama hampir dua tahun kepengurusan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah ini, telah terjadi peningkatan akreditasi prodi dan institusi PTM. Laporan Majelis Diktilitbang pada Sidang Tanwir Muhammadiyah Februari 2017 menyebutkan bahwa dari 2015 sampai awal 2017, jumlah prodi yang terakreditasi “A” meningkat dari 6% ke 8%; “B” meningkat dari 47% ke 59%; dan “C” turun dari 47% ke 34%. Seluruh prodi di PTM berjumlah 1.096. Sementara itu, jumlah PTM dengan peringkat AIPT “A” bertambah dari 2 pada 2015 jadi 3 pada awal 2017; “B” bertambah dari 18 jadi 34; dan “C” dari 50 jadi 56. Jumlah PTM yang belum melakukan AIPT berkurang dari 94 pada 2015 jadi 71 pada awal 2017. Seluruh PTM berjumlah 163 per Februari 2017. Dengan kondisi seperti ini, Majelis Diktilitbang membuat kebijakan untuk meningkatkan peringkat akreditasi prodi PTM agar tidak ada lagi prodi dengan peringkat akreditasi “C”. Semua prodi di PTM harus terakreditasi “B” atau “A”. Di pihak lain, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membantu perguruan tinggi negeri dan swasta guna melakukan percepatan AIPT dari peringkat “B” ke “A”. Maka, Majelis Diktilitbang mendorong PTM-PTM untuk menyambut kebijakan 10 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
pemerintah itu. Namun, setelah Majelis Diktilitbang menelisik lebih jauh, ternyata sejumlah PTM dengan peringkat AIPT “B” masih memiliki prodi-prodi yang terakreditasi “C”. Sehingga, Ketua Majelis Diktilitbang Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. menuturkan pada Selasa 21 Maret 2017 di UGM bahwa kebijakan Majelis Diktilitbang berfokus untuk meningkatkan peringkat akreditasi prodi terlebih dahulu. Beliau berharap selama periode kepengurusan Majelis Diktilitbang 2015-2020 ini semua prodi di PTM terakreditasi minimal “B”, kecuali prodi yang baru dibentuk. Prodi-prodi yang terakreditasi “B” juga ditingkatkan jadi “A”. Setelah semua prodi di PTM terakreditasi “B” dan “A”, barulah dimungkinkan untuk mempercepat AIPT “B” ke “A”. Percepatan ini berat dilakukan bila sebagian prodi di sebuah PTM masih terakreditasi “C”.
Ketidakmerataan Distribusi Doktor Mengapa sebagian prodi di sebuah PTM masih terakreditasi “C” padahal PTM tersebut memiliki cukup banyak dosen yang berpendidikan doktor? Lincolin menjelaskan, distribusi doktornya tidak merata. Dosen-dosen yang bergelar doktor
Tiada Lagi “C”, Minimal “B”
menumpuk di prodi-prodi dan fakultas-fakultas tertentu. Ketidakmerataan distribusi doktor ini perlu diperhatikan oleh pengelola PTM. Maka, Lincolin sebagai Ketua Majelis Diktilitbang meminta para pengelola PTM untuk mempertimbangkan aspek pemerataan doktor per prodi dalam menyekolahkan dosen-dosennya ke jenjang doktor. Dalam perhitungan kasar, untuk mendapatkan peringkat akreditasi “A”, sebuah prodi harus memiliki minimal tiga dosen yang berpendidikan S-3. Asumsinya, dosen-dosen yang bergelar doktor ini—dan tentu juga semua dosen lain—menunjukkan kinerja yang baik dalam pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan dakwah Islam. Dengan perkataan lain, mereka mempunyai jabatan akademik dan jabatan fungsional yang bagus. Komponen paling pokok dalam akreditasi memang sumber daya manusia (SDM) dosen yang berkecukupan dan berkualitas. Kuantitas dosen dengan pendidikan S-3 dan S-2 harus cukup sesuai dengan ketentuan pemerintah. Kualitas dosen juga menjadi keniscayaan. Dengan jumlah dosen berkecukupan, kualitas dosen juga tinggi, kemudian ditambah tata kelola prodi yang bagus, fasilitas yang memadai dan lain-lain, sebuah prodi tak terlalu sulit untuk mendapatkan peringkat akreditasi “B”. Namun, bila SDM-nya buruk, masalahnya merembet ke mana-mana. Pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan dakwah Islam serta lain-lainnya sangat mungkin buruk pula. Akibatnya, skor akreditasinya rendah. Akreditasi tidak bisa disulap dalam waktu sekejap. Prosesnya tidaklah instan. Akreditasi ini perkara membangun budaya mutu dan keunggulan yang membutuhkan waktu.
Menggencarkan Workshop & Pendampingan Untuk membangun budaya mutu dan keunggulan melalui akreditasi, Majelis Diktilitbang menggencarkan workshop dan pendampingan akreditasi. Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) telah dilakukan beberapa kali per wilayah (region) dan akan dilakukan minimal dua kali dalam setahun, kata Lincolin. Pendampingan bahkan dilaksanakan tiap pekan secara maraton sesuai dengan permintaan PTM, tambahnya. Buku Modul Penyusunan SPMI PTM (2016) telah disahkan sebagai salah satu panduan standar
mutu di PTMA. Pengesahan ini tertuang dalam SK No. 291/KEP/I.3/D/2016 tentang Pedoman Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah tertanggal 30 Desember 2016. Majelis Diktilitbang sudah pula menawarkan workshop dan pendampingan akreditasi kepada PTM dan telah pula menyiapkan tenaga-tenaganya. PTM tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan Majelis Diktilitbang guna meningkatkan akreditasinya, pesan Lincolin. Dalam kesempatan ini dan banyak kesempatan lain, beliau berpesan, pertama, agar para pimpinan PTM tidak enggan untuk mendorong dosendosennya menempuh kuliah S-3. Sebab, sekali lagi, SDM dosen sangat penting bagi PTM. Kedua, PTM harus meningkatkan budaya akademik dengan menyelenggarakan seminar dan diskusi; dosen-dosennya mesti mengikuti seminar di luar kampusnya dan juga di luar negeri. Seyogianya, PTM mengadakan seminar nasional sekali dalam setahun dan seminar lokal dua kali setahun. Setiap prodi sebaiknya menghelat diskusi sekali sebulan. Diskusi prodi ini bisa berupa presentasi hasil penelitian dosen atau presentasi artikel jurnal yang telah dipelajari. Seminar dan diskusi ini merupakan proses produksi ilmu pengetahuan, sebab kampus adalah pabrik ilmu pengetahuan. Dengan semua langkah ini, diharapkan seluruh prodi di lingkungan PTM akan terakreditasi minimal “B”. Prodi-prodi yang telah terakreditasi “B” juga mengupayakan peningkatan peringkatnya jadi “A”. Setelah itu, PTM yang belum melakukan AIPT menyiapkan diri agar memperoleh peringkat paling rendah “B”. PTM-PTM yang AIPT-nya telah “B” didorong untuk melaksanakan reakreditasi institusi agar peringkatnya jadi “A”. Apalagi, Lincolin mengutip penuturan rektor-rektornya, beberapa PTM seperti UM Jakarta dan Unismuh Makassar akan panen doktor pada tahun ini. Syahdan, pada 2020, tiada lagi prodi PTM yang terakreditasi “C”, dan akreditasinya minimal “B”. Makin banyak prodi yang terakreditasi “A”. Lincolin berharap sampai akhir periode kepengurusan ini lima PTM akan mendapatkan AIPT “A”, sehingga total ada delapan PTM dengan AIPT “A”. Harapan besar ini tentu harus diperjuangkan bersama oleh Majelis Diktilitbang dan seluruh PTM.[] Agung Prihantoro
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 11
topik utama
Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., Munawwar Khalil, M.Ag., Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., dan Dr. Suliswiyadi, M.Ag. Dok. google.co.id
Sembilan Catatan dari Workshop & Pendampingan
S
elama menjadi narasumber dan fasilitator dalam workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan pendampingan akreditasi pada tingkat program studi (prodi) dan institusi PTM, pengurus Majelis Diktilitbang dan Tim Asistensi mendapatkan banyak pengalaman. Pengalaman empiris ini disarikan jadi sembilan catatan penting yang perlu diindahkan oleh Majelis Diktilitbang dan para pengelola PTM. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., yang merupakan anggota Majelis Diktilitbang Bidang I, menyampaikan catatan-catatan tersebut. Pertama, banyak PTM tidak memiliki SPMI, sehingga mereka berjalan tanpa standar, tanpa acuan internal. Mereka hanya memakai standar eksternal dari BAN-PT. Akibatnya, kualitas banyak PTM rendah dilihat dari peringkat akreditasinya. Dalam bahasa Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., anggota Tim Asistensi Majelis Diktilitbang yang sering melakukan pendampingan, PTM-PTM mempunyai beragam cara pandang terhadap akreditasi, termasuk SPMI. Konsekuensinya, isian 12 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
borang akreditasi mereka pun beragam-ragam. Karena itu, Majelis Diktilitbang telah menyusun buku Modul Penyusunan SPMI PTM (2016) dengan standar-standar yang melampaui standar-standar BAN-PT. Buku ini dan workshopnya diharapkan membantu PTM dalam membuat standar internal. Kedua, banyak pula PTM memiliki mahasiswa kurang dari 500 orang. Jumlah mahasiswa yang sedikit ini berimbas pada kesehatan keuangan dan kualitas layanan pendidikannya. PTM dalam bentuk sekolah tinggi minimal harus mempunyai 1.000 mahasiswa untuk bisa berkembang. Sebagaimana diketahui, PTM sebagai perguruan tinggi swasta (PTS) berbeda dengan perguruan tinggi negeri (PTN) yang mendapatkan anggaran rutin dari pemerintah. Bagi PTS, dana dari mahasiswa merupakan salah satu sumber keuangan yang pokok. Pimpinan PTM dan BPH Pimpinan PTM dan BPH berperan penting dalam melakukan akreditasi. Kemampuan dan keluasan wawasan mereka sungguh vital. Selain
Sembilan Catatan dari Workshop & Pendampingan
itu, hubungan keduanya yang produktif sangat mendukung akreditasi dan pencapaian keunggulan. Namun, hubungan yang tidak baik antara pimpinan PTM dan BPH dengan sendirinya merusak tata kelola PTM. Ketiga, banyak pimpinan PTM tidak mengerti SPMI dan SPME. Imbasnya, PTM-PTM tersebut tidak tahu harus membuat program, kegiatan, kebijakan dan anggaran yang tepat. Salah satu contoh kasus imbas ini ialah pimpinan PTM menolak anggaran yang diajukan seorang dosennya untuk mengikuti seminar internasional dan mempublikasikan artikel di jurnal internasional. Padahal, partisipasi dalam seminar internasional dan publikasi artikel merupakan bagian dari SPMI dan SPME. Pimpinan PTM yang mengerti SPMI dan SPME tentu akan mengalokasikan anggaran untuk seminar dan publikasi internasional. Karenanya, workshop SPMI berperan penting dalam membimbing secara detail bagaimana pimpinan PTM beserta jajarannya membuat standar, kemudian menerjemahkan standar-standar itu ke dalam bentuk program, kegiatan, kebijakan dan anggaran. Standar-standar itu berimplikasi praktis pada siapa untuk melakukan apa. Keempat, banyak PTM tidak mempunyai tata kelola yang baik. Tata kelola ini meliputi planning, organizing, monitoring, evaluating, leading, staffing, auditing, dan reporting. Majelis Diktilitbang telah mengadakan workshop tata kelola, tetapi jika pimpinan PTM tidak ikut, masalah tata kelola ini tak kunjung rampung. Sebab, tata kelola ini bermula dari pimpinan. Kelima, pola hubungan Badan Pembina Harian (BPH) dan pengelola PTM tidak harmonis pada sebagian PTM. Parahnya, konflik BPH dan pengelola berakibat buruk pada akreditasi PTM. Di sinilah perlu regulasi-regulasi yang jelas dan komitmen bersama BPH dan pengelola atau pimpinan PTM untuk mengembangkan dan memajukan kampus. Sistem Informasi, Budaya Akademik & Trust Selanjutnya, sistem informasi kampus, budaya akademik PTM dan kepercayaan masyarakat juga menjadi isu krusial. Ketiganya bertalian erat dengan akreditasi dan kelangsungan hidup PTM. Keenam, sejumlah PTM belum memiliki sistem informasi yang bagus dengan teknologi canggih.
Ketiadaan sistem informasi akan berefek, misalnya, pada kebocoran keuangan. Jika PTM memiliki banyak uang, tetapi tidak dikelola dengan sistem informasi yang bagus, apa yang kemudian terjadi ialah moral hazard. Namun, bila uang yang banyak itu dikelola dengan sistem informasi yang canggih, apa yang muncul adalah amanah. Ketujuh, budaya akademik belum tumbuh di semua PTM. Budaya akademik ini berupa aktivitas penelitian dengan semua ikutannya. Budaya akademik yang belum tumbuh berdampak pada rendahnya output akademik, yaitu miskin publikasi di jurnal dan penulisan buku. Tentu aneh bila perguruan tinggi sebagai pusat ilmu pengetahuan tidak menghasilkan produk akademik. Kedelapan, kepercayaan masyarakat (trust) pada PTM sebenarnya tinggi. Hal ini terlihat dari animo calon mahasiswa yang mendaftar di PTM yang terakreditasi “C�. Kepercayaan masyarakat tersebut merupakan peluang pasar dan peluang dakwah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Majelis Diktilitbang, BPH dan pengelola PTM perlu mencermati fakta ini. Kesembilan, sejumlah PTM meminta PP Muhammadiyah untuk melakukan audit keuangan PTM mereka. PTM ingin tahu apakah keuangannya sehat atau tidak dan mereka ingin maju. Sehingga, Majelis Diktilitbang sekarang sedang menggodok pedoman sistem pengelolaan keuangan PTM. Spirit PTM untuk maju ini juga ditangkap oleh Munawwar Khalil, M.Ag., anggota Tim Asistensi Majelis Diktilitbang yang kerap melakukan pendampingan akreditasi. Kampus-kampus Muhammadiyah itu menunjukkan korps PTM untuk maju bersama dan saling membantu. Di tempat terpisah, anggota Tim Asistensi lainnya, Dr. Suliswiyadi, M.Ag., mengatakan bahwa PTM-PTM sangat antusias ketika mengikuti pendampingan. Mereka mau membuka diri untuk sadar bahwa mutu itu sangat penting dan kemudian melakukan perbaikan dalam pengisian borang akreditasi. Sembilan catatan ini tentu berkaitan, bukan hanya dengan urusan teknis akreditasi PTM, melainkan juga dengan keunggulan PTM. Catatan ini melengkapi data tentang akreditasi PTM untuk membaca kondisi masa kini dan menyusun road map PTM ke depan.[] Agung Prihantoro
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 13
topik utama
Gedung Universitas Muhammadiyah Pontianak Dok. unmuhpnk.ac.id
Membangkitkan Kesadaran Mutu
“W
orkshop SPMI dan pendampingan yang diadakan Majelis Diktilitbang, selain memberikan wawasan dan informasi substansial dan teknis terkait akreditasi, juga yang lebih penting, adalah memberikan kesadaran tentang pentingnya mutu,” demikian disampaikan oleh Heriansyah, M.Pd., Ketua Task Force AIPT Universitas Muhammadiyah Pontianak yang kini menjadi Wakil Rektor I saat dimintai tanggapannya. Pernyataan di atas merupakan salah satu respons positif dari dosen yang menangani AIPT dan mengikuti workshop SPMI dan pendampingan akreditasi yang dilakukan oleh Majelis Diktilitbang. Selain respons positif, ada pula masukan bagi Majelis Diktilitbang, khususnya Bidang I yang menangani urusan akreditasi dan akademis.
14 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Secara umum, dosen-dosen PTM merasakan manfaat atas apa yang telah dilakukan oleh Majelis Diktilitbang untuk membantu PTM mereka dalam menyiapkan akreditasi. UM Pontianak mendapatkan banyak pengetahuan tentang tips untuk mengisi borang dan expert judgement (penilaian pakar) dari para narasumber Majelis Diktilitbang, imbuh Heriansyah. “Melalui pendampingan dan workshop, kami belajar seolaholah dikunjungi dan dinilai oleh asesor BAN-PT secara objektif,” tandasnya. Di tempat terpisah, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Riau Bakaruddin, M.M mengatakan, “Bantuan bimbingan akreditasi dari Majelis Diktilitbang sangat bermanfaat. Berkat bimbingan ini, Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) bisa meraih peringkat “B” untuk semua
Membangkitkan Kesadaran Mutu
Gedung STKIP & STISIP Muhmmadiyah Sidenreng Rappang dan Universitas Muhammadiyah Riau Dok. simakad.stkipmsidrap.ac.id dan umri.ac.id
prodi dan AIPT.� Dia juga berharap bimbingan dan pemberian motivasi dari Majelis Diktilitbang terus berlanjut. Apalagi, UMRI akan menyiapkan reakreditasi prodi dan institusi. Wakil Ketua I STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Rustam Efendy Rasyid, S.H., S.Pd., M.Pd., juga berkata, “Sungguh bermanfaat. Mata kami jadi melek tentang tata cara penyusunan borang. Kami sangat berterima kasih kepada Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah yang telah mengirim pendamping penyusunan borang kepada kami.� Acara-acara workshop SPMI juga menjadi ajang tukar pengalaman antarpeserta. Para peserta dari sejumlah kampus Muhammadiyah barter pengalaman dalam melakukan akreditasi. Tak hanya Majelis Diktilitbang dengan PTM, sesama PTM pun baku belajar dan baku bagi apa yang telah mereka alami dalam melakukan akreditasi. Adapun masukan untuk Majelis Diktilitbang, Dini Hadiarti, M.Sc., Ketua Prodi Pendidikan
Kimia UM Pontianak menyampaikan dua hal, pertama, perlu tambahan narasumber atau fasilitator dalam pendampingan akreditasi yang satu bidang ilmu atau serumpun dengan prodiprodi yang didampingi. Masukan ini juga diamini oleh Heriansyah. Kedua, coaching clinic seyogianya dilakukan dalam kelompok kecil dengan peserta 3-4 orang agar lebih intensif, dan pengelompokannya menurut bidang atau rumpun ilmu peserta. Masukan lain dari Heriansyah, workshop sebaiknya dilaksanakan berdasarkan ruang lingkup wilayah yang lebih kecil, misalnya kota. Sehingga, semua unit yang terkait dengan akreditasi pada sejumlah PTM di kota tersebut dapat dilibatkan. Tidak hanya ketua Task Force yang diikutsertakan. [] Agung Prihantoro
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 15
wawancara
Siti Muslimah Widyastuti, M.Sc., Anggota Dewan Eksekutif BAN-PT
Prof. Dr. Siti Muslimah Widyastuti, M.Sc.:
Budaya Mutu Seharusnya Menjadi Kebiasaan Sehari-Hari
M
endukung upaya untuk mewujudkan sistem pendidikan tinggi yang unggul dan berkarakter merupakan bagian dari visi Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). BAN-PT memberikan dukungan ini secara terus-menerus dengan meningkatkan kualitas dan kecepatan pelayanannya. BAN-PT juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru demi mewujudkan visi tersebut. Untuk mengetahui bagaimana kiprah BANPT dalam mewujudkan visinya itu, Warta PTM mewawancarai Prof. Dr. Siti Muslimah Widyastuti,
16 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
M.Sc., yang merupakan anggota Dewan Eksekutif BAN-PT, pada Senin, 27 Maret 2017 petang di Yogyakarta. Bu Wiwik, demikian beliau kerap disapa, juga merupakan Guru besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, anggota Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PP ‘Aisyiyah. Apa saja catatan penting Ibu selama bergiat di BAN-PT? Sejauh pengalaman saya dulu di BAN-PT, dan sekarang di sini (Dewan Eksekutif BAN-PT),
,,
Budaya Mutu Seharusnya Menjadi Kebiasaan Sehari-Hari
kita menjadi lebih baik. Sekarang tiap hari, ada yang mengantor, jadi pelayanan dari Senin sampai Kamis. Biasanya, Kamis siang ada penilaian borang, jadi kami pindah, tidak di kantor. Proses penerbitan Surat Keputusan (SK) sekarang lebih cepat. Penilaian borang memang butuh waktu karena jumlahnya yang banyak. Sekali lagi, sekarang lebih baik dan ke depan, insya Allah, akan lebih baik lagi. Catatan lainnya, peringkat perguruan tinggiperguruan tinggi di Indonesia sekarang lebih bagus. Yang tadinya “C” sekarang menjadi “B”. Apalagi, ada peraturan yang mengharuskan peringkat akreditasi program studi (prodi) “B” kalau lulusannya mau diterima sebagai PNS (pegawai negeri sipil). Ini memaksa prodi untuk tertib. Bagaimana mengenai borang akreditasi? Pada waktu penerimaan borang, itu juga sudah dijagani (dicek terlebih dahulu). Di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti), jumlah dosen di setiap prodi minimal enam. Ini dicek. Kemudian, nama prodi sesuai atau tidak dengan namanya di PD Dikti. Statusnya aktif atau tidak. Kalau ketiga hal itu tidak ada, otomatis borangnya tidak kami terima. Dulu bisa, tetapi kemudian SK tidak kami keluarkan kalau nama prodinya belum sama dan jumlah dosennya kurang di PD Dikti. Pada tahun 2016, masih ada dua ratus lebih SK yang tertunda karena proses itu. Sehingga, kami di awal cek lebih dulu PD Dikti sebelum borang masuk. Kalau tidak memenuhi tiga poin itu, borangnya tidak kami terima. Kami minta mereka untuk memperbaikinya. Itu yang saya lihat. Kalau mau naik peringkat, tetapi penjaminan mutunya belum aktif dan data mengajarnya masih kurang lengkap, dengan sedikit di-push (dorong), peringkatnya bisa naik. “C” jadi “B”, atau “B” jadi “A”. Tapi kalau jumlah penelitiannya, publikasinya, dosen, SDM (sumber daya manusia) dan sarana prasarana yang masih kurang, ini butuh waktu, tidak bisa di-push dengan cepat. Perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), harus menyoroti masalahmasalah ini. Saya lihat, ini kelemahan PTMA pada SDM. Sudah banyak yang wakaf tanah, bangunan-
Tapi kalau jumlah penelitiannya, publikasinya, dosen, SDM (sumber daya manusia) dan sarana prasarana yang masih kurang, ini butuh waktu, tidak bisa di-push dengan cepat. Perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA), harus menyoroti masalah-masalah ini. Saya lihat, ini kelemahan PTMA pada SDM.
,,
bangunan besar, tapi ternyata jumlah SDM kurang. Itu yang banyak saya temui pada saat melihat apakah SK boleh keluar atau tidak. Kebetulan saat ini, saya di Dewan Eksekutif Divisi Akreditasi. Dari proses masuk sampai SK keluar, saya lihat prosesnya terhambat hanya karena itu (SDM). Jadi, secara umum terjadi peningkatan? Secara umum, terjadi peningkatan pada perguruan tinggi maupun pada BAN-PT. Masyarakat pun sadar untuk mengetahui apakah suatu perguruan tinggi terakreditasi atau tidak. Kita lihat, kalau prodi terakreditasi “A” atau “B”, langsung informasinya dipasang. Tapi kalau tulisannya “Terakreditasi” tanpa peringkat, itu pasti “C”. Masyarakat akhirnya juga tahu. Mereka memilih perguruan tinggi yang sesuai dengan harapan mereka. Di Indonesia, jumlah perguruan tinggi sebanyak 4.405 dan jumlah program studinya lebih dari 24.000. jumlah prodi yang terakreditasi kurang lebih 19.000-an. Bagaimana tanggapan Ibu atas data ini?
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 17
wawancara tukang potret. Kalau barangnya bagus, dipotret dari mana saja, hasilnya pasti akan bagus. Akreditasi mendorong kampus untuk menciptakan budaya mutu dan keunggulan. Sejauh mana kemajuan budaya mutu di lingkungan perguruan tinggi, yang kemudian mengarah ke world-class university? Setelah prodi bersemangat, perguruan tinggi bersemangat, BAN-PT bersemangat, Kemenristekdikti juga bersemangat, dengan sendirinya budaya mutu juga sudah mulai kelihatan. Jadi, potret kami itu melihat budaya mutunya. BAN-PT ada seperti ini karena aturan mengharuskan demikian, bukan begitu. Kalau persiapan akreditasi dilakukan hanya karena asesor akan datang, ya budaya mutunya di bibir saja. Budaya mutu seharusnya menjadi kebiasaan seharihari. Kapan saja didatangi, pasti mereka akan siap. Biasanya yang AIPT-nya “A�, penjaminan mutunya pasti sudah bagus.
Ya 19.000-an prodi yang belum terakreditasi. Namun, ada, misalnya prodi baru, yang tentu belum melakukan akreditasi. Prodi baru S-1 baru bisa melakukan usulan akreditasi dua tahun setelah SK prodi tersebut turun. Kalau S-2, satu tahun setelah SK, baru bisa mengajukan usulan akreditasi. Sekarang, Pak Menteri Ristekdikti membuka banyak prodi baru. Kini, pelan-pelan dirapikan pula yang kadaluwarsa. Kami cek mana prodi yang mestinya sudah ditutup atau memang masih boleh. Pembinaan ada di kelembagaan. Tugas BAN-PT sebetulnya hanya memotret, memotret kondisi di lapangan. Setelah kami potret, hasilnya kami sampaikan ke masyarakat, ke Kemenristekdikti bahwa fotonya seperti ini. Sekarang, masyarakat atau perguruan tinggi menganggap kami bukan sebagai tukang potret, tetapi sebagai polisi. “Polisi datang, polisi datang! Siap, siap. Ditata!� Padahal, kami tukang potret. Tukang potret itu seharusnya disenangi kalau orangnya yang akan dipotret itu cantik atau gayanya bagus. Saya selalu mengatakan, kami jangan dianggap polisilah, wong kami ini sekadar
18 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Adakah kebijakan-kebijakan terbaru BAN-PT? Apa yang perlu dilakukan PTMA untuk merespons kebijakan-kebijakan tersebut? Tahun depan, 2018, akan ada instrumen baru. Ada semacam asistensi juga dari BAN-PT. Kalau ada beberapa perguruan tinggi yang berkumpul, kemudian minta BAN-PT untuk memberikan pendampingan, asal waktu dan tempatnya sesuai, BAN-PT akan menyanggupi dengan mengirim tim yang sesuai pula. Saya usulkan supaya PTM-PTM berkumpul bersama, kemudian minta tutorial dari BAN-PT soal SAPTO (Sistem Akreditasi Perguruan Tinggi Online) maupun instrumen baru. Yang jelas, instrumen baru itu lebih baik daripada instrumen lama. Intinya, menuju ke arah yang lebih bagus. Website BAN-PT itu informatif, sehingga PTM dan PTA sering-seringlah membukanya. Kalau ada apa-apa, pasti di situ kami umumkan. Dengan kinerja Majelis Diktilitbang sekarang ini, PTM dan PTA seharusnya berterima kasih dan mengimbangi usaha dari Majelis.[] Agung Prihantoro
BPM Sangat Menentukan Akreditasi
Prof. Dr. Bambang Cipto M.A. Rektor UMY Tahun 2012-2016 Dok. umy.ac.id
Prof. Dr. Bambang Cipto M.A.:
U
BPM Sangat Menentukan Akreditasi
niversitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memperoleh peringkat akreditasi institusi “A” dengan SK No. 061/SK/ BAN-PT/Ak-IV/PT/II/2013. Pengalaman dalam melakukan AIPT ini perlu dibagi dan ditularkan ke PTMA lain. Sehingga, semua PTMA memiliki peringkat AIPT yang bagus dan unggul. Untuk itu, Warta PTM mewawancarai Dr. Bambang Cipto, M.A., Rektor UMY tahun 2012-2016 dan Guru Besar bidang Hubungan Internasional yang pernah menjadi anggota BANPT. Pria kelahiran 11 Februari 1958 di Yogyakarta ini menamatkan pendidikan S-1 di Program Studi Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1986, kemudian S-2 di Ohio State University (1990) dan S-3 di UGM (2002).
Bagaimana pengalaman Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam melakukan akreditasi sehingga mendapatkan peringkat “A”? Persiapan yang dilakukan UMY sebenarnya tidak banyak beda dengan PTM lain karena baru pertama kali mengajukan borang akreditasi sehingga semula tidak tahu hasilnya apa. Walaupun dalam hati tentu berharap semoga mendapatkan hasil yang terbaik. Tim cukup banyak, namun dalam perjalanan biasanya berkurang tinggal beberapa orang yang paling andal dan siap untuk menghadapi momen menentukan. UMY diuntungkan oleh adanya Badan Penjaminan Mutu (BPM) yang sudah cukup lama berjuang membangun penjaminan mutu internal. BPM telah membina setiap program studi dalam Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 19
wawancara mengembangkan mutu. Secara teratur, BPM memonitor dan melakukan evaluasi kualitas masingmasing program studi. Kelak kebijakan BPM ini akan sangat membantu Tim Akreditasi Institusi yang akan menghadapi asesor institusi. Tim Akreditasi Institusi sangat rajin dan kerja keras untuk selalu melengkapi borang akreditasi sedemikian rupa sehingga siap untuk dikirimkan ke BAN-PT pada waktunya. Komponen apa yang paling penting dalam penilaian akreditasi? Semua komponen sebetulnya sangat penting untuk penilaian. Namun, bobot penilaian memang pada standar Tata Pamong atau pada bidang manajemen perguruan tinggi. Dalam bidang ini. UMY cukup menonjol. Kepemimpinan Pak Dasron sangat bagus karena berpengalaman sebagai manajer berbagai bidang. Sistem manajemen UMY juga bagus karena memiliki sistem manajemen online yang sudah cukup maju saat ini. Kesulitan apa yang dihadapi UMY saat proses akreditasi? Kesulitan terutama terjadi pada upaya mengumpulkan berkas dari masing-masing dosen dan dari progama studi. Karya akademik dosen seperti hasil seminar, diskusi, konferensi, workshop, tulisan di koran, buku, artikel jurnal ilmiah—semua ini sulit sekali dikumpulkan. Para dosen sering lupa di mana menyimpannya, di rumah atau di kantor sering tidak jelas. Akibatnya, tim akreditasi susah mendapatkan karya-karya tesebut. Padahal, karya akademik para dosen menentukan hasil akreditasi. Dalam hal ini, tim harus bekerja ekstra keras mencari cara agar karya akademik dosen dapat dikumpulkan sebanyak mungkin. Ini bagian paling melelahkan sekaligus sulit dilupakan. Pada saat kunjungan asesor, tim juga harus siap untuk melayani kebutuhan asesor. Karena, biasanya asesor akan meminta tambahan laporanlaporan yang harus dipenuhi pada hari itu juga. Tim harus siap di tempat untuk membuat laporan lengkap sesuai dengan permintaan asesor. Ini bagian yang sangat merepotkan karena harus membuat laporan mendadak sesuai dengan permintaan asesor. Meskipun demikian, bagian ini memang menentukan karena asesor akan merasa puas bahwa UMY mampu menyediakan apa yang diperlukan dalam waktu sangat singkat.
20 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Perlukan universitas mencari konsultan dalam mengejar akreditasi? Konsultan itu bisa dikatakan penting karena membantu melengkapi borang. Biasanya asesor BAN-PT yang ada di kota sekitar dapat membantu akreditasi jika mereka bersedia. UMY diuntungkan oleh beberapa asesor BAN-PT yang memang dosen UMY, sehingga anggota-anggota Tim Akreditasi memang sudah paham tentang praktik kreditasi walaupun mereka asesor program studi, bukan asesor institusi. Bagaimana pendapat Bapak yang pernah menjadi anggota BAN-PT tentang kesiapan PTM dalam melakukan akreditasi? PTM secara umum memang memerlukan persiapan terus-menerus, karena beberapa ratus PT sudah diakreditasi. Jadi, ke depan, akreditasi institusi masih akan terus menjadi tantangan PTM. Nilai apa dari PTM saat akreditasi yang bisanya lemah? Standar tata pamong harus terus ditingkatkan karena berhubungan dengan manajemen perguruan tinggi. Semakin bagus manajemennya, semakin bagus prospeknya. Peran Badan Penjaminan Mutu (BPM) harus ditingkatkan. Saya tidak tahu apakah ada PTM yang belum punya BPM. Ini sangat memprihatinkan. Kalaupun ada, BPM harus aktif mengikuti workhsop dan seminar penjaminan mutu internal perguruan tinggi yang diselenggarakan Kemenrisetdikti. BPM bisa dikatakan sangat menentukan akreditasi, karena mereka menjaga kualitas program studi. Apa yang harus ditingkatkan oleh PTM agar peringkat akreditasinya “A�? Pertama, PTM dituntut untuk meningkatkan karya akademik dosen, seperti penulisan buku dan artikel di jurnal nasional maupun internasional. Kalau setiap dosen memiliki karya akademik, ini dengan sendirinya akan memperkuat posisi dalam akreditasi institusi. Kedua, PTM perlu meningkatkan kerja sama internasional baik dengan student moblity atau pengiriman mahasiswa keluar negeri maupun menerima mahasiswa asing. mengirimkan dosendosen ke luar negeri untuk melakukan riset atau seminar dengan perguruan tinggi di luar negeri. Mengudang dosen luar negeri untuk mengajar di PTM selama beberapa waktu. Mengirim dosen untuk riset di luar negeri.[] Iwan Setiawan
Profil PTM
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Menjadi Perguruan Tinggi Unggul
Gedung Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Dok. umsida.ac.id
“M
enjadi Perguruan Tinggi Bermutu Tingkat Nasional Tahun 2020”, itulah visi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Adapun misinya, UMSIDA merumuskannya: “Membangun Indonesia Berkemajuan Melalui Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Kerjasama Berdasarkan Nilai-Nilai Islam”. Untuk mewujudkan misi tersebut, PTM ini melakukan usaha-usaha berikut: 1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran holistik berdasarkan nilai-nilai Islam. 2. Meningkatkan mutu sumber daya manusia yang mempunyai keunggulan moral, intelektu-
al, dan profesional. 3. Meningkatkan mutu penelitian untuk mendukung proses pembelajaran, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan ma syarakat. 4. Meningkatkan pengabdian kepada masyarakat berbasis potensi lokal. 5. Melaksanakan tata kelola institusi secara kredibel, transparan, akuntabel, bertanggungjawab, dan adil. 6. Meningkatkan kerja sama dengan lembaga dalam negeri dan luar negeri untuk penguatan catur dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah.
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 21
Profil PTM
Gedung Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Dok. umsida.ac.id
Fakultas dan Program Studi Kini, UMSIDA memiliki 10 fakultas dan 27 program studi. Fakultas Agama Islam (FAI) terdiri dari Prodi S-1 Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Hukum Keluarga (Akhwal Syakhsiyah), dan Perbankan Syariah. Selain itu, juga ada Ma’had Umar Bin Khattab dengan Prodi D-2 Bahasa Arab dan Studi Islam, dan D-2 Tahfidz Qur’an. Fakultas Pertanian mempunyai Prodi S-1 Agroteknologi dan Teknologi Hasil Pertanian. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) memiliki Prodi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Guru Anak Usia Dini, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) memayungi Prodi S-1 Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi. Fakultas Teknik terdiri atas Prodi S-1 Teknik Informatika, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Elektro. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) mempunyai Prodi S-1 Manajemen dan Akuntansi. Fakultas Psikologi berisi Prodi S-1 Ilmu Psikologi, dan Fakultas Hukum berisi Prodi S-1 22 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Ilmu Hukum. Fakultas Ilmu Kesehatan memiliki Prodi D-3 Kebidanan dan D-4 Analis Kesehatan. Program Pascasarjana mempunyai Prodi Magister Manajemen dan Magister Manajemen Pendidikan Islam. UMSIDA saat ini membina lebih dari 8.000 mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Ada juga mahasiswa dari luar negeri, seperti Malaysia dan Thailand. Setiap tahun jumlah mahasiswa UMSIDA meningkat secara signifikan. Pada tahun akademik 2017/2018, jumlah mahasiswanya diperkirakan lebih dari 9.000. Keragaman mahasiswa ini membuat kuliahnya jadi lebih dinamis. Kegiatan perkuliahan mahasiswa UMSIDA dilaksanakan di empat kampus, yaitu Kampus I untuk FAI, FISIP, FEB, FKIP, dan Program Pascasarjana; Kampus II untuk Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Pertanian; Kampus III untuk Ma’had Umar bin Khattab; dan Kampus IV untuk Fakultas Ilmu Kesehatan. Dosen, Karyawan dan Mahasiswa Untuk mendukung kegiatan akademik, UMSIDA memberdayakan 302 Dosen, yang terdiri
Menjadi Perguruan Tinggi Unggul
dari 210 dosen tetap dan 92 dosen luar biasa. Semua dosen tetapnya berpendidikan S-2 atau S-3 dengan kepangkatan akademik Guru Besar, Lektor Kepala, Lektor, dan Asisten Ahli. Dari 210 dosen tetap itu, baru 60 orang yang sudah mengikuti sertifikasi. UMSIDA mendorong para dosen untuk meningkatkan kualitas akademiknya dengan mengikuti berbagai seminar, pelatihan, dan studi lanjut S-3 di dalam dan luar negeri. UMSIDA juga memiliki tenaga kependidikan sebanyak 183 orang. Untuk menfasilitasi pengembangan diri mahasiswa, UMSIDA memiliki organisasi kemahasiswaan (Ormawa), baik di tingkat universitas maupun tingkat fakultas. Ormawa ini mencakup Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Tapak Suci Putra Muhammadiyah, Hizbul Wathan (HW), Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Untuk mengembangkan soft skill lulusan dan memperluas informasi bursa kerja, mereka dihimpun dan dibina melalui Ikatan Alumni dan Pusat Informasi Pengembangan Karir UMSIDA (PIN-PKU). UMSIDA melakukan berbagai inovasi dan pengembangan untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan. Peningkatan mutunya mencakup mutu pendidik dan tenaga kependidikan; sarana fisik yang berupa fasilitas perkuliahan, laboratorium, perpustakaan, kemahasiswaan; dan layanan non-fisik seperti lembaga penelitian, pusat studi, lembaga dan berbagai unit kegiatan kemahasiswaan, serta layanan kesehatan. Sejak 2010, UMSIDA telah memperoleh beraneka penghargaan. Pada 2011, UMSIDA mendapat penghargaan dari Kopertis Wilayah VII Jawa Timur sebagai universitas berprestasi dalam bidang Tata Kelola Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dan juga prestasi Kelembagaan dan Kemahasiswaan. Pada 2012, UMSIDA memperoleh status Terakreditasi Institusi (Universitas) dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan SK No. 006/BAN-PT/Ak-III/ Inst/II/2012. Pada tahun yang sama, UMSIDA memperoleh penghargaan dari Kemendikbud sebagai perguruan tinggi yang memiliki sistem penjaminan mutu internal terbaik, bersama dengan
,,
UMSIDA melakukan berbagai inovasi dan pengembangan untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan. Peningkatan mutunya mencakup mutu pendidik dan tenaga kependidikan; sarana fisik yang berupa fasilitas perkuliahan, laboratorium, perpustakaan, kemahasiswaan; dan layanan nonfisik seperti lembaga penelitian, pusat studi, lembaga dan berbagai unit kegiatan kemahasiswaan, serta layanan kesehatan.
delapan perguruan tinggi lain di Indonesia. Pada 2014, UMSIDA mendapat penghargaan dari Yayasan Damandiri sebagai Posdaya Terbaik. Lalu, pada 2015, UMSIDA mendapat peringkat AIPT “B�. Setahun kemudian, UMSIDA kembali menorehkan prestasi di bidang penelitian dari Kemenristekdikti dengan masuk dalam Klaster Utama, dan juga meraih Predikat Utama dalam Anugerah Kampus Unggul (AKU) dari Kopertis Wilayah VII. Pada 2017, Kemenristekdikti menempatkan UMSIDA pada ranking 149 dari 3.320 PTN dan PTS di Indonesia. Semua prestasi tersebut merupakan hasil kerja seluruh sivitas akademika yang Unggul, Mandiri, Sinergis, Islami, Dinamis dan Amanah. UMSIDA: Dari Sini Pencerahan Bersemi.[] Iwan Setiawan
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 23
Profil PTM
Penyerahan SK dari Rektor UMSIDA Dr. Hidayatullah, M.Si. (kanan) kepada Dekan FEB Dr. Sigit Hermawan, M.Si. (kiri). Dok. umsida.ac.id
Rektor UMSIDA, Dr. Hidayatullah, M.Si.:
Setiap Prodi Minimal 2 Doktor Sebagai salah satu PTM terkemuka di Indonesia, UMSIDA terus mengembangkan diri. Apa dan bagaimana pengembangan kampus yang telah dan akan dilakukan, Warta PTM mewawancarai Rektor UMSIDA, Dr. Hidayatullah, M.Si. Putra asli Sidoarjo kelahiran 16 Juli 1969 ini memaparkan prestasi dan rencana pengembangan kampus secara runtut. Salah satu rencana pengembangannya adalah mendorong dan memfasilitasi dosendosennya untuk melanjutkan studi S-3 di dalam dan luar negeri agar setiap prodi memiliki minimal dua doktor. Bisa diceritakan prestasi-prestasi yang telah dicapai UMSIDA? Kami diberi amanat memimpin Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) ini sejak bulan Desember 2014 sampai dengan sekarang. Sudah berjalan 2 tahun 3 bulan. Dalam masa itu, kami telah melakukan berbagai hal untuk meningkatkan mutu dan kapasitas kampus. UMSIDA ini mengalami perkembangan dan peningkatan mutu yang signifikan, antara lain,
24 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
pertama, saat ini jumlah mahasiswa UMSIDA mencapai 8.000-an orang. Calon mahasiswa baru yang mendaftar juga meningkat. Pada tahun akademik 2016/2017, jumlah mahasiswa baru yang kami terima 2.500 dari 2.900 pendaftar. Kedua dari sisi jumlah dosen, pada tahun akademik 2016/2017, kami menambah sekitar 50 dosen tetap baru. Sehingga, sekarang jumlah dosen tetap UMSIDA menjadi 220 orang. Selain itu, kami juga mendorong dan memfasilitasi para dosen yang masih berpendidikan S-2 untuk melanjutkan studi S-3 di dalam dan luar negeri. Ketiga dari sisi fasilitas perkuliahan, pada tahun 2016/2017 kami menambah satu gedung baru di kampus 1 untuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), gedung parkir lima lantai di kampus 2 untuk kendaraan mahasiswa, laboratorium teknik di kampus 2, dan laboratorium analis kesehatan di kampus 4. Keempat, dari sisi akreditasi, AIPT UMSIDA telah berperingkat “B”. Tujuh belas prodi terakreditasi “B”, dan 9 prodi lainnya masih terakreditasi “C”. Prodi-prodi yang terakreditasi C
Setiap Prodi Minimal 2 Doktor
ini baru dibuka, dan beberapa prodi di antaranya sedang persiapan untuk reakreditasi. Kelima, dalam pemeringkatan perguruan tinggi swasta dan negeri yang dilakukan oleh Kemenristekdikti, UMSIDA berada pada peringkat 149 se-Indonesia. Dalam Anugerah Kampus Unggul (AKU) Kopertis Wilayah 7 pada 2016, UMSIDA masuk peringkat 19 dalam kategori Predikat Utama. Dalam pemeringkatan versi 4ICU dan Webometric, UMSIDA berada pada posisi antara 65 sampai dengan 75 dari seluruh PTS dan PTN se-Indonesia. Apa saja obsesi ke depan? Ke depan kami akan terus mengupayakan untuk meningkatkan dan mengembangkan UMSIDA, baik secara akademik maupun nonakademik. Beberapa obsesi yang kami usahakan untuk terwujud dalam jangka pendek dan menengah, antara lain: pada tahun akademik 2017/2018, jumlah mahasiswa baru kami targetkan bisa naik mencapai 2.700 mahasiswa, sehingga jumlah mahasiswa secara keseluruhan menjadi sekitar 9.000-an orang. Juga ditargetkan beberapa prodi mengalami kenaikan status akreditasinya, dari “C” ke “B” dan dari “B” ke “A”. Selain itu, pada 2017/2018 UMSIDA mengajukan pembukaan prodi baru, yaitu Profesi Kebidanan, Rekam Medik, dan Magister Administrasi Publik. Dengan bertambahnya jumlah prodi dan mahasiswa, kami harus membangun gedung baru untuk mencukupi kebutuhan ruang kuliah, ruang laboratorium, dan lain-lain. Pada 2017/2018, sedang dan akan dilangsungkan pembangunan gedung baru di kampus 1, yaitu: (1) gedung parkir lima lantai untuk kendaraan mahasiswa, (2) gedung kuliah tujuh lantai untuk FISIP dan perpustakaan, (3) melengkapi kekurangan laboratorium FAI, FISIP, Fikes, dan FKIP. Kami menambah jumlah dosen tetap untuk memenuhi rasio dosen/mahasiswa. Kami juga meningkatkan jumlah dosen tetap yang lulus Program Doktor (S-3), setiap prodi minimal 2 doktor. Ke depan, minimal ada 30% dari jumlah dosen tetap secara keseluruhan yang telah lulus S-3. Pun, kami meningkatkan jumlah kepangkatan akademik dosen. Untuk keperluan ini, semua dosen
yang baru diangkat diwajibkan segera melengkapi dokumen untuk pengurusan NIDN. Dosen yang telah memiliki NIDN diwajibkan untuk mengurus dan meningkatkan kepangkatan akademik dosen. Apa saja kerja sama yang telah dilakukan, baik dengan pemerintah, swasta dalam dan luar negeri? UMSIDA telah menjalin kerja sama dengan pemerintah, lembaga swasta, dan Persyarikatan Muhammadiyah. Kami telah meneken MOU kerja sama internasional dengan lebih dari 34 lembaga di Asia, Australia, Amerika dan Eropa, antara lain Abroad Alumni Association in Thailand, Islamic Integrated School Network Thailand (IISN), Rajamangala University of Technology Krungthep, University Sains Islam Malaysia, Universiti Sultan Azlan Syah Malaysia, Clare Ong Psychconsult Pte Ltd. Singapura, IIIT for South and East Asia Chapter, National Taipei University of Nursing and Health Science Taiwan, Asia Muslim Charity Foundation Dubai, Manisota Institute of Trades And Technology Kanada, Tiri-Making Integrity Work Inggris, dan Australian Council for Private Education and Training (ACPET) Australia. Bagaimana pengembangan riset? Semua dosen tetap UMSIDA wajib melakukan riset dengan biaya dari Kemenristekdikti atau internal UMSIDA. Saat ini, UMSIDA telah masuk dalam Klaster Utama yang bisa memanfaatkan jauh lebih banyak dana penelitian dari Kemenristekdikti. Sayangnya, tidak semua dosen bisa memanfaatkannya, karena terbentur jenjang pendidikan yang harus S-3 atau kepangkatan akademik yang harus Lektor Kepala dan Guru Besar. Karena itu, UMSIDA akan menambah alokasi anggaran untuk penelitian internal. Bagimana hubungan kampus dengan PWM/PDM? Hubungan UMSIDA dengan PWM dan PDM di Jawa Timur terjalin dengan baik. Terbangun simbiosis mutualisme. Berbagai kegiatan di tingkat PWM selalu melibatkan PTM-PTM di Jawa Timur. Demikian juga, berbagai kegiatan di kampus juga sering dihadiri oleh PWM. UMSIDA kerap mengundang PWM untuk memberi pengajian untuk dosen dan karyawan, mengisi pelatihan, dan seterusnya.[] Iwan Setiawan
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 25
Profil PTM
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya
The Green Islamic Campus
Gedung Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Dok. umpalangkaraya.ac.id
U
niversitas Muhammadiyah Palangkaraya (UM Palangkaraya) merupakan The Green Islamic Campus (Kampus Islami yang Berwawasan Lingkungan). Kampus ini telah berusia 29 tahun. Iibarat manusia, usia tersebut merupakan saat-saat yang penuh semangat, idealisme, sekaligus produktif. UM Palangkaraya memiliki enam program studi, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Teknik, Fakultas Agama Islam, Fakultas Pertanian 26 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
dan Kehutanan, dan Fakultas Ilmu Kesehatan. UM Palangkaraya juga membuka Program Pasca Sarjana Magister Administrasi Publik. Pada 2016, jumlah mahasiswa aktif UM Palangkaraya sebanyak 3.044 orang. UM Palangkaraya beralamat di Jln. RTA Milono Km 1,5 Palangkaraya Kalimantan Tengah. Menurut Rektor UM Palangkaraya, Dr. H. Bulkani, M.Pd., seiring bertambahnya usia, PTM ini telah menjadi sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbesar di Kalimantan Tengah, baik ditinjau
The Green Islamic Campus
dari sisi akademik maupun non-akademik. Dari sisi akademik, UM Palangkaraya memiliki 15 program studi dan 1 program pascasarjana yang berizin dan terakreditasi. Di samping itu, UM Palangkaraya juga memiliki jumlah mahasiswa lebih banyak dari perguruan tinggi swasta lain di Kalimantan Tengah. Dari sisi non-akademik, UM Palangkaraya juga mempunyai berbagai sarana dan prasarana penunjang proses pendidikan yang memadai. Visi UM Palangkaraya adalah “unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan iman dan taqwa”, sedangkan misinya “rahmatan lil ‘aalamiin”. UM Palangkaraya merupakan lembaga pendidikan tinggi yang menjadi amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah. Gagasan untuk mendirikan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya berawal dari hasil Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta. Hasil ini ditindaklanjuti oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah dengan membentuk panitia pendirian UM Palangkaraya melalui surat keputusan No. A-2/18/SKPWM/1986 tertanggal 28 Agustus 1986. Pendirian UM Palangkaraya diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Tengah dan dihadiri oleh Ketua Majelis Pendidikan Tinggi dan Penelitian Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 1 Muharram 1408, yang bertepatan dengan 24 September 1987. Pada awal berdirinya, UM Palangkaraya memiliki empat fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Pertanian dan Fakultas Agama Islam. Pada perkembangan selanjutnya, berdirilah Fakultas Teknik pada 1988, Fakultas Kehutanan pada 2000, dan Fakultas Ilmu Kesehatan pada 2006. Pada 2011, Fakultas Pertanian digabung dengan Fakultas Kehutanan dan menjadi Fakultas Pertanian dan Kehutanan. Dalam meningkatkan standar kualitas pendidikan dan lulusan, UM Palangkaraya pada 2017 menerapkan Kurikulum Berbasis Kerangka Kualifikasi nasional Indonesia (KKNI). KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang bisa menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan
Dr. H. Bulkani, M.Pd. (tengah) beserta jajarannya Dok. umpalangkaraya.ac.id
struktur pekerjaan di berbagai sektor. Program studi yang diselenggarakan di UM Palangkaraya berorientasi pada kebutuhan pembangunan di Kalimantan Tengah, terutama dalam mengisi peluang lapangan kerja. Selain itu, lulusan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya juga dibekali dengan keahlian untuk mengoperasikan komputer dan keterampilan berbahasa Inggris. Keahlian dan keterampilan ini menjadi persyaratan wisuda, dan mahasiswa harus mengikuti uji kompetensi komputer dan Bahasa Inggris (Test of English as A Foreign Language, TOEFL). Dr. H. Bulkani, M.Pd. menjelaskan, melalui KKNI diharapkan UM Palangkaraya akan melahirkan lulusan yang memiliki kualitas berstandar internasional yang terbit berdasarkan Peraturan Presiden (PP) Nomor 8 Tahun 2012. Dalam KKNI, terdapat level 1-9 dan menjadi acuan untuk pembangunan sumber daya manusia dan tenaga kerja Indonesia dengan pengakuan kualifikasi yang mengacu tidak hanya pada pendidikan formal, tetapi juga pelatihan yang
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 27
Profil PTM
Kegiatan seminar, wisuda dan kunjungan mahasiswa UM Palangkaraya Dok. umpalangkaraya.ac.id
didapat di luar pendidikan formal, pembelajaran mandiri, dan pengalaman kerja. Untuk meningkatkan daya saing, UM Palangkaraya juga mengadakan kerja sama dengan pihak luar negeri. Penandatanganan kerja sama antara Rektor UM Palangkaraya dan Direktur (Rektor) Xiaozhuang University Xu Chengming di kampus Xiaozhuang University, Nanjing, pada 16 September 2014. Kerja sama ini berupa pertukaran dan studi lanjut dosen, pertukaran mahasiswa, dan kegiatan penelitian bersama. Selain itu, kerja sama dalam bentuk cooperative partners seperti model 2+2, yakni mahasiswa kuliah di UM Palangkaraya selama dua tahun kemudian melanjutkan pendidikannya pada program studi yang linier di Xiaozhuang University selama dua tahun pula. UM Palangkaraya juga kerja sama dengan Highline Community College di Seatle Amerika 28 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Serikat. Kerja sama ini berwujud pendidikan dan latihan, pengembangan sumber daya manusia (beasiswa), riset bersama, dan pelaksanaan workshop serta seminar internasional. UM Palangkaraya bekerja bareng pula dengan University of Hawaii. Kerja sama ini ditujukan antara lain untuk meningkatkan kapabilitas kedua institusi pendidikan tinggi dalam bidang pendidikan dan pelatihan, pengembangan sumber daya manusia (beasiswa), riset bersama, dan pelaksanaan workshop serta seminar internasional. [] Iwan Setiawan
Kinerja Hibah Penelitian Muhammadiyah Gelombang II 2017
Pembekalan Bimtek Penulisan Proposal
Infografi Hibah Penelitian Muhammadiyah Gelombang I 2017
M
ajelis Diktilitbang melanjutkan program Hibah Peanelitian tentang Muhammadiyah Gelombang I dengan Gelombang II. Program ini mendorong dan memfasilitasi dosendosen PTMA untuk melakukan penelitian dengan bantuan dana dari PTMA-PTMA tertentu. Pada Gelombang I, proses penelitian sedang berlangsung, dan panitia program hibah ini akan melakukan monitoring terhadap lima puluh penelitian yang telah didanai. Tahap selanjutnya adalah para peneliti menyusun laporan penelitian
dan menyampaikannya kepada panitia, jelas Hamzah Fanzuri, salah seorang panitia program hibah. Sementara itu, lanjut Hamzah, pada Gelombang II, pengiriman proposal penelitian paling lambat pada 30 April 2017. Selanjutnya, para pengirim proposal tersebut akan mengikuti Bimbingan Teknis Penulisan Proposal Penelitian yang rencananya akan diselenggarakan di beberapa tempat dapa bulan Mei 2017. Bimbingan teknis (bimtek) ini dimaksudkan
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 29
Kinerja untuk membekali para peneliti dalam menulis proposal penelitian yang bagus. Pada Gelombang II ini perlu dilakukan bimtek, karena panitia mencatat bahwa banyak proposal penelitian yang masuk masih perlu dibenahi. Harapannya, bimtek tersebut meningkatkan kemampuan para peneliti untuk menyempurnakan proposal penelitian yang telah mereka buat. Usai bimtek itu dilaksanakan, para pengirim proposalnya diminta untuk memperbaiki proposal mereka. Kemudian, proposal-proposal yang telah diperbaiki akan diseleksi oleh panitia untuk dipilih lima puluh proposal terbaik. Lima puluh proposal ini akan didanai untuk pelaksanaan penelitiannya.
Setelah semua proses penelitian rampung, panitia akan menghelat acara simposium bagi para peneliti untuk mempresentasikan hasil-hasil penelitian mereka. Panitia juga akan memfasilitasi publikasi hasil penelitian tersebut. Dengan program ini, dosen-dosen PTMA diharapkan dapat meningkatkan kinerja penelitian mereka. Sehingga, mereka mampu memproduksi ilmu pengetahuan. Dengan peningkatan kinerja penelitian dan produksi ilmu pengetahuan ini, kinerja kampusnya juga meningkat. Imbas teknisnya, program tersebut meningkatkan akreditasi prodi dan institusi PTMA.[] Agung Prihantoro
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan Jakarta mendapat amanah untuk menjadi ketua asosiasi ini, sedangkan sekretaris dan bendaharanya adalah Dr. Sigit Hermawan, M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Dr. Anna Marina, M.Si., Ak., CA. dari Um Surabaya. Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua Gedung Universitas Muhamadiyah Surabaya Dok. fe.um-surabaya.ac.id Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. Dalam sambutannya, Prof. Edy menyarankan agar AFEB PTM ini memikirkan tidak hanya urusan internal asosiasi, melainkan juga masalah dan solusi bangsa. Menanggapi saran tersebut, Mukhaer Pakkanna menyampaikan, AFEB PTM akan melakukan itu. Tak hanya melihat ke dalam, asosiasi ini akan melihat sosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis keluar juga. Mukhaer mengimbuhkan, secara Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AFEB organisatoris asosiasi ini menginduk ke Majelis PTM) menjadi nama baru bagi Forum Dekan Diktilitbang. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Sepuluh tahun sudah organisasi ini berdiri dan Muhammadiyah. Perubahan nama ini ditetapkan berkiprah di Indonesia. Telah banyak pula kegiatan dalam kegiatan Workshop Nasional Pembahasan yang dilangsungkan untuk membahas isu-isu Kepemimpinan Publik Forum Dekan FEB PTM pada ekonomi umat Islam dan bangsa Indonesia.[] AP 9 Maret 2017 di kampus UM Surabaya. Dr. Mukhaer Pakkanna, M.M. yang merupakan
Menjadi Asosiasi FEB PTM
A
30 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Gedung Universitas Muhammadiyah Mataram Dok. www.ummat.ac.id
Rakernas Ke-8 ALPTK PTM 2-4 Agustus 2017
Pendidikan Berkemajuan dan Menggembirakan
P
engurus Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (ALPTK PTM) bersiap untuk menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional Ke-8 pada 2-4 Agustus 2017 di Universitas Muhammadiyah Mataram, Nusa Tenggara Barat. Rakernas ini merupakan acara tahunan yang diadakan ALPTK PTM dan diikuti oleh program studi dan fakultas pendidikan di lingkungan PTM. Ketua ALPTK PTM Prof. Dr. Harun Joko Prayitno mengatakan, panitia Rakernas akan mengundang Menteri Pendidikan Republik Indonesia Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., dan Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Intan Ahmad, Ph.D. untuk hadir dalam acara ini Rakernas kali ini bertujuan antara lain untuk mengoordinasikan arah dan pengembangan pembelajaran dan kemahasiswaan dan juga meningkatkan mutu penyelenggaraan dan pengembangan LPTK berkelanjutan Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T), e-PPG, Sertifikasi Guru Pendidikan Profesi Guru (SG PPG), PPG Reguler dan PPG Mandiri.
Tujuan lainnya adalah meninjau kembali Capaian Pembelajaran (CP) atau Program Learning Outcome (PLO) ALPTK PTM ke Direktorat Pembelajaran pada Direktorat Jenderal Belmawa. Rakernas ini, lanjut Harun, dibarengi dengan seminar nasional, The 2nd Progressive and Fun Education Seminar (The 2nd Profun-Edu). Temanya adalah “Pendidikan Berkemajuan dan Menggembirakan”. Panitia mengundang dua narasumber, yaitu Prof. Dr. Djaali (Rektor Universitas Negeri Jakarta) dan Prof. Dr. Suyatno (Rektor Universitas Prof. Dr. HAMKA dan Ketua Forum Rektor Indonesia). Djaali akan memaparkan topik “LPTK Unggul Berorientasi Pendidikan Profesi Guru Mandiri”, sedangkan Suyatno akan mempresentasikan topik “Pendidikan Berkarakter, Unggul dan Berpenciri (Buber)”. Panitia mengundang para peserta Rakernas yang berasal dari unsur-unsur program studi, fakultas, pengurus dan anggota asosiasi program studi, pengelola PPG, dan lainnya di lingkungan LPTK PTM. Mereka semua diminta untuk menyiapkan diri guna berpartisipasi dalam acara ini.[] Agung Prihantoro Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 31
Kinerja
Universitas Muhammadiyah Surabaya tempat dilangsungkanya Workshop Persiapan & Pembekalan AIPT “B” ke “A”. Dok. http://www.suaramuhammadiyah.id
Workshop Persiapan & Pembekalan AIPT “B” ke “A”
Menaikkan Peringkat AIPT PTM
M
ajelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan PTM-PTM terus bergerak untuk meningkatkan peringkat AIPT sejumlah PTM dari “B” ke “A” dengan melakukan workshop dan pendampingan. Workshop kali ini digelar pada 8-9 Maret 2017 di Universitas Muhammadiyah Surabaya dan diikuti oleh PTM-PTM di Indonesia bagian timur. Sejumlah PTM yang berperingkat AIPT “B” mengutus wakil-wakilnya dalam acara ini. PTM-PTM tersebut di antaranya adalah UM Surabaya, Unmuh Gresik, UM Jember, UM Ponorogo, UM Sidoarjo (UMSIDA), UM Pontianak, Unismuh Makassar, dan UM Parepare. Dua puluh tiga orang dari PTM tersebut menjadi peserta dalam workshop ini. Narasumber yang hadir dalam workshop tersebut ialah Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., anggota Majelis Diktilitbang Daniel Fernandez, M.Si., dan anggota Tim Asistensi Majelis Diktilitbang Dr. Budhi Akbar, M.Si. Ketiganya memang menangani urusan akreditasi yang menjadi salah satu program unggulan majelis
32 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
yang menaungi seluruh PTM ini. Sebagaimana diketahui, Majelis Diktilitbang mendorong dan memfasilitasi PTM yang peringkat AIPT-nya “B” agar jadi “A”. PTM-PTM yang telah diidentifikasi untuk bisa menaikkan peringkatnya dibekali dan disiapkan untuk mengambil langkahlangkah konkret. Di At-Tauhid Tower, gedung kebanggaan PTM di Kota Pahlawan ini, Rektor UM Surabaya Dr. dr. Sukadiono, M.M. menyatakan bahwa kampusnya mendukung program ini. Bahkan, UM Surabaya telah menyiapkan diri untuk meningkatkan peringkat AIPT-nya jadi “A”. Sementara itu, Sekretaris Majelis Diktilitbang Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D. mengungkapkan kegembiraannya pada acara tersebut. Pasalnya, sekarang PTM-PTM berusaha keras untuk terus mengembangkan diri jadi kampus yang unggul atau terakreditasi “A”.[] AP
Pimpinan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengunjungi para peserta Muhammadiyah Scholarship Preparation Program pada 9 April 2017 di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur
Muhammadiyah Scholarship Preparation Program 2017
Kian Semangat Memburu Beasiswa
P
ada pertengahan Mei 2017, pelatihan bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur akan berakhir. Dua puluh enam orang yang berasal dari PTMA di seluruh Indonesia telah mengikuti pelatihan tersebut selama tiga bulan penuh. Mereka mukim di kawasan khusus kursus bahasa Inggris itu. Pada 9 April 2017, pimpinan Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkunjung ke Pare untuk memonitor pelaksanaan pelatihan itu. Ahmad Muttaqin, Ph.D. dan Amika Wardhana, Ph.D., menjumpai para peserta dan berbincang-bincang dengan mereka. Para peserta merasa kaget dan senang sekali dengan kunjungan ini. Mereka juga kian bersemangat dalam mengikuti pelatihan dan memburu beasiswa luar negeri, tutur Muttaqin. Setelah dua bulan mereka mengikuti pelatihan
ini, keterampilan bahasa Inggris mereka umumnya meningkat. Skor TOEFL/IELTS mereka naik, dan mereka telah menempuh tes IELTS pada 25 April 2017. Kenaikannya beragam sesuai dengan skor awal dan kemampuan setiap peserta dalam mengikuti pelatihan. Sampai akhir masa pelatihan, skor TOEFL/IELTS mereka diharapkan terus naik, sehingga mereka memiliki skor yang disyaratkan oleh lembagalembaga pemberi beasiswa dan kampus-kampus di mancanegara. Program ini merupakan upaya Majelis Diktilitbang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di PTMA dalam kemampuan bahasa Inggris dan studi lanjut S-2 dan S-3 di luar negeri.[] Agung Prihantoro
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 33
Kronik
Gedung STKIP Muhammadiyah Pringsewu, STIE Muhammadiyah Pringsewu, Stikes Muhammadiyah Pringsewu Lampung
Pendirian Universitas Muhammadiyah Pringsewu (UMPRI)
P
anitia pendirian Universitas Muhammadiyah Pringsewu melakukan kunjungan ke Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis, 30 Maret 2017. Dalam siaran pers yang diterima Warta PTM disebutkan bahwa pada kunjungan tersebut, turut serta Ketua STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung Drs. A Rahman, M.M., M.Pd., Wakil Ketua I STKIP Muhammadiyah Pringsewu Dr. Tri Yuni Hendrowati, M.P.d., Ketua STIE Muhammadiyah Pringsewu Sapto Yowono, S.E.,M.M., Wakil Ketua I Stikes Muhammadiyah Pringsewu Fitra Pringgayuda, S.Kep., M.Kep., dan Sekretais Panitia Pendirian Universitas Muhammadiyah Pringsewu Nurfaizal, M.Pd. Panitia ini diterima oleh Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. dan anggota-anggota Majelis. Drs. H Wanawir Am, M.M., M.Pd. selaku Ketua Panitia Pendirian UMPRI, menjelaskan bahwa berdasarkan amanah Musyawarah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung pada 2010, perguruan tinggi Muhammadiyah yang ada di Pringsewu, yakni STKIP Muhammadiyah, STIE Muhammadiyah
34 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
dan Stikes Muhammadiyah, sudah waktunya untuk menjadi satu lembaga berbentuk universitas. Berdasarkan aturan pemerintah, syarat untuk membentuk universitas adalah memiliki batas minimal jumlah prodi, yaitu enam prodi berbasis eksakta dan empat prodi berbasis sosial. Dalam hal ini, tiga PTM di Pringsewu baru memiliki dua prodi eksakta, yaitu Prodi S-1 Matematika (STKIP MPL) dan S-1 Keperawatan (Stikes Muhammadiyah Pringsewu), sehingga panitia masih memerlukan empat prodi lagi yang berbasis eksakta. Untuk memenuhi kekurangan tersebut, PTM Pringsewu berencana akan membentuk prodi baru yaitu, S-1 Teknik Informatika (TI), S-1 Matematika Murni, S-1 Farmasi, dan S-1 Gizi. Dalam proses perjalanannya, panitia menghadapi kesulitan terutama dalam pemenuhan sumber daya manusia dosen yang pendidikannya linier. Oleh sebab itu, kunjungan panitia ke PP Muhammadiyah dimaksudkan untuk memohon arahan, dukungan dan bantuan untuk mencarikan SDM yang linier dengan prodi-prodi yang akan dibentuk tersebut.[] Agung Prihantoro
Pelantikan Prof. Dr. Setyo Budi, M.S. sebagai Rektor Unmuh Gresik tahun 2017-2021 (kanan) oleh Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Dr. Chairil Anwar (kiri)
Prof. Setyo Budi Resmi Jabat Rektor UMG 2017-2021
U
niversitas Muhammadiyah (Unmuh) Gresik memiliki Rektor baru, yakni Prof. Dr. Setyo Budi, M.S. menggantikan Tri Ariprabowo, S.E., M.Si. Setyo Budi resmi menjabat sebagai Rektor Unmuh Gresik untuk masa jabatan 2017-2021. Pelantikannya dilakukan oleh Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Chairil Anwar di Hall Sang Pencerah Gedung Utama Unmuh Gresik, Jumat (31/3). Acara pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri oleh Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Agung Danarto, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Ir. Tamhid Masyhudi, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik, Sekretaris Badan Pembina Harian Unmuh Gresik Drs. Abdullah Smith, dan juga Bupati Gresik Dr. H. Sambari Halim Radianto serta Ketua DPRD Kabupaten Gresik Ir. Abdul Hamid. Hadir pula dalam acara ini, para sivitas Unmuh Gresik dan perwakilan mahasiswa dari seluruh fakultas di Unmuh Gresik. Dalam sambutan perpisahannya, Tri Ariprabowo mengucapkan selamat atas pelantikan Prof. Setyo Budi yang menggantikan dirinya.
Dirinya juga mengungkapkan kepuasannya karena proses pergantian kepemimpinan di Unmuh Gresik berjalan dengan lancar, tertib dan bermartabat. Keberhasilan dan prestasi yang telah diraih oleh Unmuh Gresik, menurutnya, adalah berkat kerja sama semua elemen di lingkungan kampus. Selain itu, dukungan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik juga tak kalah penting dalam pembangunan di Unmuh Gresik, yang saat ini memiliki gedung baru sembilan lantai. “Kami tidak akan bisa mewujudkan prestasi dan keberhasilan pembangunan tanpa adanya sinergisitas semua pihak di lingkungan Universitas Muhammadiyah Gresik ini. Dan kami mohon maaf apabila dalam kepemimpinan kami pernah melakukan kesalahan baik disengaja atau pun tidak. Saya berharap prestasi yang terukir di Unmuh Gresik dapat terus ditingkatkan,� pungkas Tri Ariprabowo. Sementara itu, Prof. Dr. Setyo Budi mengatakan bahwa tugas dan amanah yang diembannya cukup berat. Namun, dirinya siap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya serta bekerja keras untuk mewujudkan Unmuh Gresik yang berdaya saing di tingkat nasional.
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 35
Kronik “Tentunya dengan dukungan dan kerja sama semua pihak, kami siap meneruskan apa yang telah menjadi capaian dan keberhasilan Unmuh Gresik di bawah nahkoda Bapak Tri Ariprabowo. Semoga ke depan dapat terjalin kebersamaan sehingga tercapai tujuan yang sesuai dengan apa yang diharapkan,” pungkas rektor anyar ini. PP Muhammadiyah yang diwakili oleh
Sekretaris PP Muhammadiyah Dr. Agung Danarto dalam pengarahannya berharap Rektor Unmuh yang baru bisa melanjutkan program yang telah dirintis pendahulunya. Pasalnya, tantangan perguruan tinggi ke depan sangat besar, sehingga dibutuhkan sosok pemimpin yang mampu merespons setiap perubahan yang sangat cepat di masyarakat.[] Agus Mulyono
Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PPM Prof. Edy Suandi Hamid menyerahkan buku Muslim Kampung Jawa di Bangkok kepada Dekan FK UM Palembang dr. Yanti Rosita, M.Kes.
FK UM Palembang Syukuran Akreditasi “B” & Dekan Baru Hasil re-akreditasi Prodi Kedokteran UMP kembali memperoleh Nilai B. Bedanya kalau lima tahun lalu nilainya 319 dan hanya untuk akademik, saat ini akreditasi akademik naik menjadi 342, dan juga memperoleh akreditasi profesi B dengan skor 336. Sebagai ungkapan rasa syukur, diadakanlah syukuran terbatas yang dihadiri unsur rektorat dan dekanat FK UMP. "Sekaligus memohon doa agar FK terus maju di bawah Dekan antarwaktu yang baru dilantik 22 Maret lalu," kata Rektor Dr. Abid Djazuli, M.M. Dekan sebelumnya, dr. Ali Mochtar, M.Sc., yang sakit, digantikan dr. Yanti Rosita, M.Kes.
36 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
yang sebelumnya menjabat Wakil Dekan 1 untuk sisa periode 2017-2019. "Salah satu tugas yang harus diperjuangkan pada periode ini adalah mempersiapkan lagi reakreditasinya agar mendapat nilai A," kata Dekan Yanti Rosita yang didampingi para wakil dekan dr. Lisa Chairani, dr. Mitayani, Trisnawati, M.Kes., dan Antoni S.Ag., M.Ag. Disamping memberikan apresiasi, saat acara tersebut Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PPM Prof. Edy Suandi Hamid menyampaikan bukunya Muslim Kampung Jawa di Bangkok, yang antara lain mengupas peran keluarga pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan di Bangkok.[] ESH
Gedung Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Dok. muallimin.sch.id
Inisiasi Kerja Sama Madrasah Mu’allimin & PTM
Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan audiensi dengan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 21 Februari 2017. Audiensi ini dimaksudkan untuk membahas kemungkinan Majelis Diktilitbang memberikan payung kerja sama antara Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah dan perguruan tinggi-perguruan tinggi Muhammadiyah dengan program beasiswa kader Persyarikatan, tulisan siaran pers Madrasah Mu’allimin yang dikirim ke Warta PTM. Dalam presentasinya, Aly Aulia, Lc., M.Hum., selaku Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, menjelaskan perlunya sinergi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah dengan PTM untuk kelangsungan perkaderan Muhammadiyah dalam bentuk pemberian beasiswa. Inisiasi beasiswa kader ini merupakan bentuk tanggung jawab Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah sebagai sekolah kader yang langsung berada di bawah naungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah harus diisi oleh siswa-siswa terbaik bangsa. Aly melihat, sebaran kader Muhammadiyah di Indonesia belum merata, baik secara kuantitas maupun kualitas. Maka, pemberian beasiswa ini diharapkan dapat mengatasi masalah ketidakmerataan kader tersebut. Dalam audiensi ini, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., menyambut baik inisisasi program beasiswa kader tersebut. Sayuti juga menyampaikan bahwa kemungkinan kerja sama tersebut terbuka lebar. Apalagi, sekarang asrama mahasiswa di PTM yang sedang digarap secara lebih serius memerlukan pendamping dan mentor. Pendamping dan mentor ini bertugas untuk membantu pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di PTM. Mu’allimin Muhammadiyah siap menyuplai kader terbaiknya, dan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah siap menjembatani tercapainya kerja sama itu.[] Agung Prihantoro Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 37
Kronik "Nilai tambahnya bagi ekonomi sangat besar," ujar Prof. Edy Suandi Hamid dalam kuliah umum yang dihadiri Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. Abid Djazuli dan sivitas akademika UM Palembang di Kampus PTM tersebut Selasa (11/4). Dikemukakan, di daerah Palembang sendiri, potensi ekonomi kreatif sangat banyak yang bisa dikembangkan, dan ini bisa dipromosikan saat Asian Games yang akan diadakan pada 2018 di Palembang. Potensi itu antara lain bidang pariwisata, batik Palembang, Usai memberikan kuliah umum, Prof. Edy Suandi Hamid menerima cindera mata dari Wakil Rektor II UM Palembang Dr. Fatimah. Dok.um-palembang.ac.id kuliner khas Palembang, kerajinan dan sebagainya. "Oleh karena itu, UM Palembang harus terlibat dan melakukan kajian serta dorongan pada sivitias akademika maupun masyarakat otensi ekonomi kreatif di Indonesia masih untuk ikut mengembangkan ekonomi kreatif sangat besar. Namun, potensi itu belum ini," kata Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP tergarap secara optimal. Oleh karena itu, para mahasiswa disarankan untuk distimulus agar Muhammadiyah ini.[] ESH mereka ikut mengembangkan ekonomi kreatif.
Kuliah Umum Ekonomi Kreatif UM Palembang
P S
tikes Muhammadiyah Palembang sudah siap untuk mengajukan diri guna alih bentuk menjadi institut. Stikes yang telahah ber-AIPT “B� ini sudah siap dengan enam prodi eks-Stikes, dan empat prodi baru juga sudah siap diajukan untuk dibuka. "Diusahakan tahun ini bisa mulai diproses," kata Ketua Stikes Sri Yulia S.Kp., M.Kep., dalam diskusi terbatas bersama Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Prof. Edy Suandi Hamid, yang memberikan pembekalan tentang kesiapan Stikes menjadi institut, Selasa (11/4) di kampus Stikes tersebut. Menurut Sri Yulia, perubahan ini sesuai dengan Statuta, Renstra, maupun Rencana Induk Pengembangan (RIP) Stikes
38 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Prof. Edy Suandi Hamid memberikan pembekalan tentang kesiapan Stikes Muhammadiyah Palembang menjadi institut, Selasa (11/4) di kampus tersebut
Stikes Muhammadiyah Palembang Siapkan Alih Bentuk ke Institut
Muhammadiyah Palembang. Dosen maupun sarana prasarana juga sudah mencukupi untuk melakukan alih bentuk. "Stikes sudah memiliki lahan kampus lebih dari satu hektar. Padahal, syaratnya hanya 8.000 meter," ujar Ketua BPH Stikes Muhammadiyah Palembang Drs. Abu Hanifah dalam acara yang dipandu oleh Drs. Djakfar Abdullah tersebut.
Dalam kesempatan itu, Prof. Edy menyampaikan, bukan saja menyetujui alih bentuk itu, namun berjanji akan mengawalnya agar bisa secepatnya mewujud. "Ini penting agar peran Stikes menjadi lebih besar dalam mencetak ahli bidang kesehatan di daerah ini. Namun, upaya peningkatan akreditasi institusi dilakukan bersamaan," Prof. Edy.[] ESH
B
ertempat di gedung AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dilaksanakan pelantikan lima Wakil Rektor untuk masa jabatan 20172021 oleh Dr. Rektor UMY Gunawan Budiyanto, M.P. Wakil-wakil rektor ini ialah Dr. Sukamta, M.T. (WR I Bidang Akademik), Dr. Nano Prawoto, M.Si. (WR II Bidang Sumber Daya Manusia), Dr. Suryo Pratolo, M.Si. Ak., CA., APP-A. (WR III Bidang Sumber Daya Keuangan dan Aset), Hilman Latief Ph.D. (WR IV Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Al Islam dan Kemuhammadiyahan) dan Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. (WR V Bidang Kerja Sama dan Internasional). Dalam sambutannya, Gunawan berpesan kepada para wakil rektor “untuk dapat bekerja sama membesarkan UMY menuju akreditasi internasional". Sementara itu, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., sebagai Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengucapkan selamat atas pelantikan para wakil rektor ini dan selamat bekerja. “Namun tugas Saudara sangat berat, karena bukan saja harus menjaga kinerja baik UMY selama ini, tetapi harus meningkatkannya,” ujar Prof. Edy sembari mengatakan bahwa dirinya ikut mengajar di masa awal berdirinya UMY pada 1990-an. Prof. Edy menambahkan, team work yang baru ini sudah sangat baik dari sisi kompetensi. Selain itu, wakil-wakil rektor unsur pimpinan juga harus memberikan keteladanan dan komitmen yang lebih tinggi untuk menjalankan amanah yang diberikan.
Rektor UMY Dr. Gunawan Budiyanto, M.P. melantik lima wakil rektor baru
Pelantikan Lima Wakil Rektor UMY Hal ini penting karena posisi UMY sudah masuk klaster perguruan tinggi utama di Indonesia. Ini bukan sekadar dipertahankan, tetapi harus ditingkatkan. "Akreditasi, misalnya, UMY harus sudah mulai diakreditasi pada level internasional. Kalau hanya dapat “A” lagi akreditasi institusi, itu sudah dicapai UMY. Jadi bukan hal yang istimewa," ujar Prof. Edy Suandi Hamid. Ditambahkannya, sekarang ini peringkat UMY sudah cukup lumayan dalam QS, Webometrics, dan 4ICU. "Bahkan mendapat lima bintang dari QS untuk aspek fasilitas, tanggung jawab sosial dan inklusivisme," ujarnya.[] Agus Mulyono
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 39
Kronik
Serah terima jabatan dari Prof. Dr. Bambang Setiaji (nomor dua dari kanan) kepada Rektor UMS tahun 2017-2021 Dr. Sofyan Anif, M.Si. (nomor tiga dari kanan) disaksikan oleh Dr. Haedar Nashir, M.Si. (paling kiri) dan Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. (paling kanan)
Pelantikan Rektor UMS Dr. Sofyan Anif, M.Si. Dr. Sofyan Anif, M.Si. dilantik sebagai Rektor
BPH UMS, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr.
Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk masa jabatan 2017-2021 pada 22 April 2017 di Auditorium
Bahtiar Effendy, M.A., Bendahara Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Suyatno, M.Pd., dan
Mohamad Djazman Kampus 1 UMS, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Pelantikan dilakukan oleh
Ketua Komisi Yudisial Prof. Dr. Aidul Fitriciada Azhari, S.H., M.Hum.
Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. dan disaksikan
Dalam sambutannya, Sofyan Anif memuji prestasi rektor sebelumnya, Bambang Setiaji,
oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Si.
yang berhasil membawa UMS ke posisi kedelapan universitas terbaik versi riset global
Sofyan Anif menggantikan Prof. Dr. Bambang Setiaji yang telah menjadi rektor UMS selama dua
oleh Quacquarelli Symonds. Sofyan akan mempertahankan dan meningkatkan prestasi ini
periode. Sebelumnya, Sofyan Anif merupakan Wakil Rektor IV UMS Bidang Kerja Sama dan
sembari meminta dukungan dari semua pihak. Sementara itu, Haedar Nashir menyampaikan
Hubungan Internasional. Beliau mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMS. Acara pelantikan ini dihadiri oleh banyak tamu undangan antara lain Anggota Dewan
tiga hal, yaitu UMS harus terus (1) menguatkan Tri Dharma perguruan tinggi, (2) mengembangkan kampus berdasarkan Al Islam dan Kemuhammadiyahan, dan (3) mendorong
Pertimbangan Presiden Prof. Abdul Malik Fadjar, yang pernah menjadi Rektor UMS tahun 19921996, perwakilan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Koordinator Kopertis Prof. Dr.
UMS agar jadi kekuatan pembangun peradaban, bahkan jadi pusat peradaban. Pada kesempatan itu, Prof. D.Y.P. Sugiharto mengatakan bahwa program studi di UMS yang
Dwi Yuwono Puji Sugiharto, M.Pd.,Kons, serta pengurus wilayah hingga ranting Muhammadiyah. Juga hadir Ketua PP Muhammadiyah Drs. A. Dahlan Rais, M.Hum., yang juga menjadi Ketua
telah terakreditasi “A� sebanyak 19. Program studiprogram studi lain mesti segera digarap supaya memperoleh peringkat akreditasi yang unggul juga.[] AP
40 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
U
niversitas Muhammadiyah Palembang (UM Palembang) melaksanakan wisuda pada 20 April 2017 di Gedung Ogan Permai Indah Convention Center Jakabaring Palembang. Jumlah wisudawannya sebanyak 976 orang, yang terdiri dari 904 wisudawan sarjana S-1 dan 72 wisudawan pascasarjana. Wisuda ini dihadiri oleh Rektor UM Palembang dan jajaran Senat. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Wakil Gubernur Sumatera Foto bersama sebelum acara wisuda di UM Palembang (dari kiri) Kordinator Kopertis II Prof. Dr. Slamet Selatan Ir. H. Ishak Mekki, M.M., Widodo, Rektor Dr. Abid Djazuli, M.M., Wagub Sumatera Selatan Ir. Ishak Mekki, M.M., Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang Dr. Muh. Samsudin, M.Pd. dan tamu undangan) Koordinator Kopertis Wilayah II Prof. Dr. Slamet Widodo M.S., M.M., Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Wisuda Universitas Muhammadiyah Palembang Muhammadiyah Dr. Muh. Samsudin., S. Ag. M.Pd., dan Pimpinan Wilayah Lulusan Terbaik untuk Sumatera Selatan Muhammadiyah Sumatera Selatan & Indonesia Suroso P.R. S.Ag,. M.Pd. dan serta Badan Pembina Harian UM Palembang H. Novrizal dalam pidatonya menyampaikan, alumni UM Nawai Lc., M.Pd. I. Palembang dibekali dengan dua keunggulan, yakni UM Palembang dengan peringkat AIPT “B” pengetahuan (hard skills) dan nilai-niai Al Islam dan memiliki komitmen untuk mewujudkan keunggulan Kemuhammadiyahan yang penuh dengan muatan dan bertekad untuk meningkatkan peringkatnya soft skills. Dua bekal keunggulan ini merupakan jadi “A” pada dua tahun mendatang. Hal tersebut modal penting bagi para wisudawan untuk mengabdi disampaikan oleh Abid Jazuli dalam sambutannya. pada bangsa Indonesia dan bersaing dalam kancah Oleh karenanya, UM Palembang melakukan global. Spirit Muhammadiyah dalam mencerdaskan berbagai upaya melalui peningkatan kualitas bangsa dan memajukan kesejahteraan umum sumber daya manusia dengan studi lanjut dan menjadi salah satu komitmen Muhammadiyah yang menjalin kerja sama dengan berbagai institusi, baik diperjuangkan melalui pendidikan. Oleh sebab itu, di dalam negeri maupun luar negeri. Dilakukan juga wisudawan UM Palembang adalah lulusan terbaik penataan sistem informasi, pembangunan sarana yang dipersembahkan Muhammadiyah kepada perkuliahan dan laboratorium, dan penguatan Provinsi Sumatera Selatan dan bangsa Indonesia. sistem penjaminan mutu. Sehingga, dalam kiprahnya nanti, para alumni Dalam sambutannya, Koordinator Kopertis akan selalu dijiwai oleh nilai-nilai keislaman dan Wilayah II Slamet Widodo mengatakan, UM membuat kehidupan ini jadi lebih beradab. Palembang merupakan salah satu perguruan tinggi Wakil Gubernur Sumatera Selatan Ishak Mekki swasta yang ke depan akan berkembang lebih maju. memberikan apresiasi kepada Muhammadiyah, UM Palembang saat ini menduduki peringkat 89 kususnya kepada UM Palembang yang dapat menjadi dari 100 perguruan tinggi swasta (PTS) terbaik mitra pemerintah dalam pembangunan. Beliau di Indonesia—jumlah totalnya lebih dari 4.000 berpesan bahwa dengan bekal yang dimilikinya, PTS. Karena itu, beliau mendukung upaya UM para wisudawan harus siap menghadapi persaingan Palembang untuk lebih cepat mewujudkan yang semakin terbuka. Dalam kesempatan ini, peningkatan peringkat AIPT-nya. beliau juga menyampaikan selamat kepada para Sementara itu, Wakil Sekretaris Majelis wisudawan dan memberikan hadiah dan piagam Diktilitbang PP Muhammadiyah Muh. Samsudin kepada para lulusan terbaik.[] MS
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 41
warta dari ptm
WARTA DARI PTM
Universitas Muhammadiyah Mataram Seminar Nasional “Kajian Hukum RUU Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi” diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Mataram pada 7 Maret 2017. Narasumber yang hadir dalam acara ini ialah Ketua KPK Agus Rahardjo, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.H., Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Dr. Syaiful Bakhri, S.H., M.H. Acara tersebut dihelat atas kerja sama antara UM Mataram dan KPK. Para peserta seminar mengikuti forum ilmiah dengan antusias. Harapannya, seminar ini menguatkan pemahaman hukum masyarakat tentang tindak pemberantasan korupsi. Universitas Muhammadiyah Tangerang Program Studi S-1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Tangerang telah mengajukan akreditasi mandiri. Akreditasi ini dilakukan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes). Hasil akreditasinya adalah “B”, sebagaimana disampaikan dalam surat keputusan tertanggal 5 Maret 2017 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Prof. dr. Usman Chatib Warsa, Sp. M.K., Ph.D. Hasil ini tentu patut disyukuri dan dijadikan modal untuk terus meningkatkan kualitas akademik program studi secara khusus dan universitas secara umum.
42 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) terus memperkuat sumber daya manusia (SDM)-nya dengan menambah delapan dosen yang bergelar doktor. Wakil Rektor I Dr. Muhammad Arifin Gultom, S.H., menyampaikan siaran pers ini kepada Warta PTM. Yan Hendra, M.Si. menyelesaikan Ujian Promosi Doktor di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara pada 9 Januari 2017. Hazmanan Khair, S.E., M.Si., juga telah merampungkan Ujian Promosi Doktor pada 11 Januari 2017 di School of Management Universiti Sains Malaysia, dan demikian pula dr. Nurfadly, M.K.T. di Universitas Sumatera Utara. Lima doktor baru lainnya adalah Dr. Zaenal Aziz, M.Si., Dr. Irvan, M.Si., dan Dr. Elfrianto, M.Pd., pada bidang matematika; Dr. Arifin Saleh, M.Si., pada bidang kesejahteraan sosial; Dr. Charles Butar-Butar, M.Pd., dan Dr. Muhammad Isman, M.Pd., di bidang bahasa Indonesia; Dr. Tengku Winona, M.Si., di bidang linguistik; Dr. Irfan, S.E., M.M., dan Dr. Azuar Juliandi, M.Si., di bidang manajemen. Universitas Muhammadiyah Magelang Indri Kartika Putri, mahasiswi Prodi S-1 Keperawatan UM Magelang berhasil menjadi Juara 1 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat Nasional ESFRA 2017 yang diadakan di Universitas Islam Sultan Agung Semarang pada 16-19 Meret lalu, sebagaimana
Warta dari PTM
disampaikan oleh Humas UM Magelang Yudia Setiandini, S.Sos. Atas prestasinya itu, Indri berhak mendapatkan piala dan uang tunai senilai 7,5 juta. Karya tulis Indri yang berjudul “Efektivitas Kombinasi Terapi Inovatif Plasma Medis dengan Madu Lokal dan Multiholes Dressing guna Mempercepat Penyembuhan Luka pada Mencit” berhasil memukau para juri, karena model penyembuhan luka dengan plasma medis merupakan temuan baru di Indonesia. STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang Dalam rangka peningkatan nilai akreditasi program studi, STKIP Muhammadiyah Sidrap Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan STKIP Muhammadiyah Enrekang melaksanakan pelatihan penyusunan borang akreditasi program studi. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 23-25 Maret 2017 di kampus STKIP Muhammadiyah Sidrap. Dalam acara tersebut, hadir sebagai pembimbing dari Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Drs. Daniel Fernandez, M.Si. dan Munawwar Khalil, S.Ag., M.Ag. Sebanyak dua puluh orang mengikuti kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan nilai akreditasi program studi yang akan melakukan akreditasi dan reakreditasi, tulis Wakil Ketua I STKIP Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Rustam Efendy Rasyid, S.H., S.Pd., M.Pd. dalam siaran persnya. Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat UMSB mendapat bantuan dan dukungan yang besar dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kata Humas UMSB Ilham, S.Pd.I., M.A. PP Muhammadiyah menunjuk tim konsorsium untuk percepatan pengembangan UMSB, yaitu UM Malang, UM Surakarta, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA). Konsorsium ini secara bergantian membantu UMSB mendirikan bangunan enam lantai di Kampus III Jln. By Pass Pasar Aur Kuning Kota Bukittingi. Pembangunan ini telah dimulai sejak pertengahan 2016 dan
sekarang sudah masuk pengecoran lantai IV. Direncanakan pada tahun akademik 2017/2018, bangunan ini bisa digunakan untuk perkuliahan. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Pada 2017, program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) internasional UM Purwokerto berlangsung di Negeri Jiran, Malaysia pada 14 Februari-14 Maret, demikian siaran pers oleh Humas UM Purwokerto, Guntur Wibowo. Lima belas mahasiswa berprestasi dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan melaksanakan praktik mengajar di tiga sekolah di Malaysia. PPL ini diselenggarakan atas kolaborasi UM Purwokerto dengan Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Program tersebut bertujuan untuk merealisasikan langkah UM Purwokerto menuju world-class university. Penarikan mahasiswa PPL dilakukan pada 14 Maret 2017 oleh Wakil Rektor Bidang Pengembangan, Kerjasama, dan Al Islam Kemuhammadiyahan Dr. Ners. Jebul Suroso, S. Kep., M. Kep. Universitas Muhammadiyah Pontianak UM Pontianak telah melaksanakan AIPT dan memperoleh peringkat “B”, jelas Wakil Rektor I Heriansyah, M.Pd. dalam keterangan persnya kepada Warta PTM. Perolehan ini merupakan kerja keras semua sivitas akademika UM Pontianak, dari level program studi, fakultas dan institusi. Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Prof. Intan Achmad, Ph.D. memberikan penghargaan atas prestasi ini. Pada kesempatan yang sama, Kemenristekdikti juga memberikan apresiasi kepada UM Pontianak sebagai perguruan tinggi swasta penerima hibah PKM se-Kalimantan Kopertis XI. Penghargaan tersebut diberikan langsung kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Pontianak Helman Fahri, S.E., M.M.[] Agung Prihantoro
Edisi Mei-Juni 2017
Warta PTM 43
regulasi
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh pada Pendidikan Tinggi Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Pendidikan jarak jauh, yang selanjutnya disingkat PJJ, adalah proses belajar-mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi. 2. Unit sumber belajar jarak jauh, yang selanjutnya disingkat USBJJ, adalah unit pendukung penyelenggaraan PJJ yang berada di luar perguruan tinggi penyelenggara PJJ. 3. Bantuan belajar adalah segala bentuk kegiatan pendukung yang dilaksanakan oleh penyelenggara PJJ untuk membantu kelancaran proses belajar peserta didik. 4. Pembelajaran elektronik (e-learning) adalah pembelajaran yang memanfaatkan paket informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran yang dapat diakses oleh peserta didik kapan saja dan di mana saja. 5. Sumber belajar adalah bahan ajar dan berbagai informasi yang dikembangkan dan dikemas dalam beragam bentuk yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi dan digunakan dalam proses pembelajaran. 6. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan. 7. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pasal 2 PJJ bertujuan: a. memberikan layanan pendidikan tinggi kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka; dan b. memperluas akses serta mempermudah layanan pendidikan tinggi dalam pendidikan dan pembelajaran.
44 Warta PTM
Edisi Mei-Juni 2017
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS PERTANIAN DAN KEHUTANAN
1. S-1 Bimbingan Konseling (terakreditasi B) 2. S-1 Pendidikan Ekonomi (terakreditasi B) 3. S-1 PGSD (terakreditasi B) 4. S-1 Pendidikan Teknologi Informasi (terakreditasi C)
1. S-1 Agroteknologi (terakreditasi C) 2. S-1 Kehutanan (terakreditasi C)
FAKULTAS TEKNIK
FAKULTAS AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
1. S-1 Teknik Sipil (terakreditasi B) 2. S-1 Teknik Lingkungan (terakreditasi C)
1. S-1 Peradilan Agama/ Syari'ah (terakreditasi B) 2. S-1 Pendidikan Agama Islam (terakreditasi B) 3. S-1 Pendidikan Guru Madrasah (terakreditasi C)
1. D-3 Farmasi (terakreditasi C) 2. D-3 Analisis Kesehatan (terakreditasi B)
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK 1. S-2 Magister Administrasi Publik (terakreditasi B) 2. S-1 Ilmu Administrasi Negara (terakreditasi B) 3. S-1 Ilmu Komunikasi (terakreditasi C)