Skip to main content

cerita dewasa

Page 1


Cerita Dewasa Bercinta Dengan Istri Calon Orang ini akan kita bagikan kepada anda para pembaca setia blog dewasa, desahan manja – Kejadian ini terjadi sekitar 5 bulan lalu dan yang aku ingat hubungan Eksantidan Yoga sudah membaik dan mereka merencanakan sebuah tunangan dan sebentar lagi akan melakukan pernikahan dalam waktu yang singkat ini. Ketika itu mereka tinggal dalam sebuah rumah kost yang sama di daerah Selatan – Jakarta, meskipun berbeda kamar, karena saat itu Yoga sedang mendapat pelatihan di Jakarta selama 6 bulan. Sebagai bekas teman dan atasan Eksanti, saya memang pernah dikenal dengan Yoga. Yoga ternyata begitu cemburuan.

Memang harus aku akui kalau Eksanti memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran Yoga itu.Padahal kalau menurutku sih, adalah hal yang biasa kalau serorang lelaki yang penampilan fisiknya biasa saja, ternyata memiliki seorang pacar yang cantik.

Aku mengatakan Eksanti cantik, bukan merupakan penilaianku yang subyektif. Banyak teman- tanya yang lain juga berpendapat begitu. Bahkan beberapa diantaranya berpendapat bahwa Eksanti memiliki daya tarik seks yang luar biasa tinggi. Bagi kaum

lelaki, jika memandang mata Eksanti, boleh jadi langsung akan berfantasi

macam-macam

Percaya atau tidak, mata Eksanti begitu sayu seolah-olah pasrah’ ditambah lagi dengan’

yang seksi dan suka digigit-gigit, kalau Eksanti sedang gemes. Sungguh suatu ciptaan

Tuhan yang sangat eksotis dan sensual. Ketika saya sempat bertemu dengan Yoga

minggu, secara tidak sengaja kami menemukan suatu peluang bisnis yang mungkin bisa

dikerjakan bersama antara kantorku dengan kantornya Pikiranku segera jalan dan meminjam untuk dagang menitipkan sebuah proposal kepada Yoga untuk dibahas oleh

tim kantornya di Malang

Siang itu, sehabis pertemuan dengan salah satu klienku di sebuah kantor di daerah

Kuningan, aku berencana mampir ke rumah kost Yoga ? yang juga rumah kost Eksanti –untuk menitipkan proposal yang aku janjikan. Aku mengendarai mobil menuju tempat kost Yoga. Sesampainya di sana, aku melihat garasi tempat mobil Yoga biasa diparkir dalam keadaan kosong yang menandakan Yoga sedang keluar. Namun aku tidak

mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Yoga Setelah saya memarkir mobil di depan halaman rumah kost itu, saya masuk menuju ruang tamu yang pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka, dan langsung menuju ke kamar Yoga Di dalam rumah

itu ada 4 kamar dan kamar Yoga yang paling pojok, berhadapan dengan kamar Eksanti

Masing-masing kamar tampak tampak pertanda tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Yoga karena memang aku sangat perlu dengannya. Sementara aku sedang menuliskan pesan, samar-samar terdengar suara

televisi dari dalam kamar Eksanti, di depan kamar Yoga, pertanda ada seseorang di dalam kamarnya Aku memastikan kalau yang di kamar itu adalah Eksanti, orang lain aku pintu sambil memanggil nama Eksanti

Tidak beberapa lama kemudian pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan aku melihat

wajah Eksanti tampak dari celah pintu yang terbuka “Eh, Mas cari Mas Yoga yaa Tadi

pagi sih ditungguin, tapi Mas Yoga buru-buru berangkat Mas”, sebelum aku bertanya

Entah mengapa, ketika membocorkan mata Eksanti yang sayu itu, pikiranku jadi

masa-masa indah yang pernah kami alami dulu Aku sambil tersenyum sambil bertanya, “Kamu nggak ke kantor hari ini?” “Lagi kurang enak badan nih, Mas, tadi Santi bangunnya

kesiangan, jadi male banget ke kantor”, singkatan, sambil menggigit bibir bawahnya

Ada rasa maaf mengapa dia harus membolos ke kantor hari ini oleh majalahsex com

“Terus, Yoga biasanya jam berapa pulangnya, Santi?”, bertanya-tanya berbasa-basi

“Mestinya sih jam 5 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Mas Yoga hari ini ada tugas kelompok bersama teman-teman trainingnya”, agak kesal Saat itu kira-kira jam 1 siang berarti Yoga pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikiranku mulai nakal Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang kira-kira bisa memperpanjang obrolan kami agar aku

bisa lebih dekat dengan Eksanti Agak lama aku terdiam Aku memandang memandang, memandang yang basah Bibirnya yang dipoles warna merah menambah sensual bentuk yang tipis dan memang sangat indah itu Semakin lama aaku semakin aku berfantasi

macam-macam. Sungguh, jantungku deg-degan saat itu.

sebuah desiran hangat mengalir keras di dadaku, dan aku sungguh yakin Eksanti pun masih memiliki getar rasa yang sama denganku Setelah agak lama kami terdiam, “Teman-teman kamarmu yang lain pada kemana semua, Santi?”, dengan mata membocorkan sekeliling aku bertanya sekenaku, menanyakan keberadaan anak-anak kost yang lain “Mas ini mau nyari Mas Yoga atau ” , kata-katanya terputus tapi aku menerjemahkan terjemahan kalimatnya dari senyuman di bisa Akhirnya aku memutuskan untuk to the point aja. “Aku juga pengin ketemu kamu, Santi!”, jawabku setuju-pura. Dia tertawa pelan, “Mas, kenapa sih?”, ia memandangku lembut. “Boleh aku masuk, Santi? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” jawabku lagi.“Sebentar, ya.. Mas, kamar Santi lagi berantakan nih!” Eksanti lalu menutup pintu di depanku. Tidak

beberapa lama membuka pintu terbuka kembali, lalu masuk ke dalam kamarnya Aku

duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai

Eksanti masih sibuk memakai pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi sofa. Aku

membocorkan tubuh Eksanti yang membelakangiku. Saat itu dia mengenakan kaos

ketat warna kuning yang luasnya mulus. Aku memandang pinggulnya yang ditutup oleh

celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus. Kejantananku

menjadi tegang memandang semua keindahannya, ditambah dengan fantasiku dulu, ketika aku memiliki kesempatan untuk membelai-belai kedua pangkalnya itu Kemudian

Eksanti duduk di sampingku Lututnya ditekuk sehingga celananya agak naik ke atas

membuat pahanya semakin terpampang lebar Kali ini tanpa malu-malu aku

membocorkan dengan sepengetahuan Eksanti Dia mencoba menarik turun ke ujung

celananya untuk menutupi sedikit pahanya yang sedang saya nikmati “Mas, mau bicara apa, sih?”,

Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau-kalau aku tidak punya bahan pembicaraan

yang berhubungan dengannya Soalnya dalam pikiranku saat itu hanya

khayalan-khayalan untuk bercinta dengannya “Mmm San aku beberapa hari ini sering bermimpi,”, kataku berbohong Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu, aku

sendiri tidak tahu tetapi aku merasa agak tenang dengan pernyataan itu “Mimpi tentang apa, Mas?”, penjelasannya begitu serius menangapiku dilihat dari caranya

memandangku “Tentang kamu, San”, jawabku pelan Bukannya kaget, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku Sampai-sampai Eksanti menutup mulut agar suara tawanya tidak terdengar terlalu keras “Emangnya Mas, mimpi apa sama aku?”, tanyanya penasaran “Ya biasalah, kamu juga pasti tahu”, jawabku sambil tertunduk

Cerita Dewasa – Tiba-tiba dia memegang tangan Aku benar-benar terkejut lalu menoleh ke arahnya “Mas ini ada-ada saja, Mas ‘kan sekarang sudah punya yang di rumah, lagian aku juga ‘kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin orang lain?”

“Makanya aku juga bingung, Santi Lagian kalaupun bisa, aku tidak ingin bermimpi

tentang kamu, Santi”, jawabku pura-pura memelas Kami sama-sama terdiam Aku

meremas jemari dengan perlahan lalu perlahan aku mengangkat menuju bibirku Dia memperhatikanku pada saat aku melabuhkan ciuman mesra ke punggungku Aku duduk

posisiku agar lebih dekat dengan tubuhnya Aku memandangi wajahnya Mata kami berpandangan Wajahku perlahan mendekati wajah, mencari tahu, semakin dekat dan tiba-tiba menghadap ke depan sehingga mulutku mendarat di pipinya yang mulus

Kedua tanganku kini bergerak aktif pada tubuhnya Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan berhadapan dengan berhadapan Aku meraup mulutku seketika dengan mulutku Eksanti menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku “Mas , cukup mas!”, mencoba mendorong dadaku untuk ide kegiatanku Aku menghentikan aksiku, lalu pura-pura meminta maaf kepadanya “Maafkan aku, Santi aku tidak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu”, aku pura-pura menunduk lagi seolah-olah

menyesali perbuatanku “Aku mengerti Mas, aku juga tidak bisa menyalahkan Mas karena mimpi-mimpimu itu ternyata juga, kita pernah merasa deket Mas”, sepertinya

Eksanti memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan Aku mengungkapkan wajah lagi.Ada pertimbangan di wajah hanya saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih tampak memerah bekas cumbuanku tadi. “Aku juga ingin membantu Mas agar tidak perlu memikirkanku lagi, tapi..” kalimatnya terputus.

Dalam hati aku tersenyum dengan kalimat “ingin membantu ” yang diucapkannya “Santi, aku hanya ingin pergi berdua denganmu, sekali saja , sebelum kamu benar-benar menjadi Yoga Agar aku bisa melupakanmu”, kataku memohon “Kita kan sama-sama sudah ada yang punya, Mas , nanti kalau ketahuan gimana?” Nah, kalau sudah sampai disini saya merasa mendapat angin. Kesimpulannya dia masih mau pergi denganku, asal jangan sampai ketahuan sama Yoga. “Seandainya ketahuan.. aku akan bertanggung jawab, Santi”, setelah aku memeluknya lagi. Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah membalasku.Telapak perlahan-lahan mengelus punggungnya dengan

mesra, sementara bibirku tidak tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke lehernya yang jenjang Eksanti mendesah

Aku menciumi kulitnya dengan penuh nafsu. mulutku meraup. Eksanti diam saja. Aku

melumat saat, lalu aku menjulurkan lidahku perlahan-lahan berjalan perlahan seperti mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga. Nafasnya tidak teratur ketika lidahku

memilin lidahnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk membelai payudaranya.

Perlahan-lahan telapak tangan saya tarik dari punggungnya melalui ketiaknya Tanpa berhenti mendekat, telapak tangan kini sudah berada di sisi payudaranya Aku

benar-benar hampir tidak bisa menguasai birahiku saat itu Apalagi aku sering membayangkan kesempatan seperti saat ini terulang lagi bersamanya Kini tangan kami

sudah berada di atas gundukan daging di atas penyerangan Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, justru yang seperti ini yang paling indah menurutku

Pada saat saya mulai meremas payudaranya yang kanan, tangan Eksanti mencoba menahan aksiku. Payudaranya masih kencang dan membuatku semakin bernafsu untuk

meremas-remasnya “Mas, jangan sekarang Mas Santi takut ” , katanya berulang kali

Saya juga merasa tindakanku saat itu betul-betul nekat, apalagi pintu kamar masih terbuka setengah Jangan-jangan ada orang lain yang melihat perbuatan kami Wah, bisa

gawat jadinya Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menyaksikan suasana

Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menyaksikan suasana Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menyaksikan suasana

Aku tipe laki-laki yang suka terburu-buru dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah percintaan Aku kini duduk di kursi sofa menghadap Eksanti, sedangkan Eksanti masih di atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yang agak kusut

“Mas, mau ngajak Santi ke mana sih”, Eksanti mengungkapkan “Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yang bisa mengganggu ketenangan kita, Santi”, jawabku sambil memandang permukaan yang baru saja aku remas-reMas Eksanti duduk sambil

bersandar pada kedua tangan di belakang untuk menahan beban Payudaranya jadi tampak menonjol Aku memandang nakal ke arah payudaranya sambil tersenyum

Kakinya diluruskan hingga menyentuh telapak kakiku “Tapi kalau ketahuan Mas yang tanggung jawab, yaa ” , katanya menuntut penjelasanku lagi Aku mengangguk

“Terus kapan jalan-jalannya, Mas?”, “Gimana kalo besok sore jam 4, besok ‘kan Jum’at, bisa pulang lebih awal ‘kan?”, tanya. “Ketemu di mana?”, tanyanya penasaran. “Kamu telepon aku, kasih tahu kamu lagi dimana saat itu, lalu aku akan bertemumu di sana, bagaimana?”, tanya lagi Dia tersenyum, “Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan ” , Aku tertawa “Tapi aku nggak mau kalau Mas nakalin aku kayak dulu lagi!!,” tegasnya Saya namun pura-pura mengiyakan, soalnya tadi saya merasa besok saya sudah bisa menikmati kehangatan tubuh Eksanti seperti dulu lagi besok sengaja aku

memilih waktu hari karena aku ingin mengajaknya menginap, kalau mau Namun aku diam saja, yang penting dia sudah mau aku ajak pergi, tinggal penyelesaiannya

saja Lagian kenapa harus minta tanggung jawab, aku tidak melakukan apa-apa dengannya, pikirku lagi Ah, lihat besok sajalah

Pukul 3 siang, akhirnya aku harus kembali ke kantorku, memang Eksanti juga meminta aku segera pulang karena dia juga takut jika tiba-tiba Yoga memergoki kami sedang

berdua di kamar Namun sebelum pulang aku masih sempat menikmati bibir Eksanti

sekali lagi waktu berdiri di samping pintu Aku malah menekan tubuh Eksanti hingga

punggungnya bersandar di dinding kesempatan ini aku gunakan untuk menekan

kejantananku yang sedari tadi butuh distribusi ke selangkangannya oleh majalahsex com Tetapi hal itu tidak akan berlangsung lama karena situasinya memang tidak memungkinkan oleh majalahsex com Di kantor , di rumah aku selalu gelisah

Kejantanan saya terus menegang membayangkan apa yang telah dan akan saya lakukan terhadap Eksanti nanti.setiap hari, saat aku menunggu tibanya saat bertemu, aku merasa waktu begitu lambat.

Aku mulai gelisah ketika 15 menit telah lewat, namun Eksanti belum juga meneleponku

Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir setengah jam, dan

tiba-tiba handphoneku berbunyi saya mengangkat telepon itu Dari seberang sana aku mendengar suara Eksanti yang sangat aku nanti-nantikan Eksanti meminta maaf

sebelumnya, karena kesibukannya hari itu tidak memungkinkan baginya untuk pulang dari kantor lebih awal Banyak pekerjaan yang menumpuk, karena kemarin tidak masuk

ke kantor Saat itu ia memintaku untuk bertemunya di sebuah wartel dekat pertigaan di seberang kantornya Aku langsung menyambar kunci mobil, lalu keluar dari kantorku dan menghadap ke wartel tempat di mana Eksanti sedang menungguku.

Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama melihat aku melihat Eksanti keluar dari wartel, dengan memakai kaos ketat warna oranye Mickey Mouse (di bagian depan

tokohnya, pakaian favorit jeans warna abu-abu Blazer bekerja ia lepas, dan ditenteng bersama tugas kerjanya Aku masih ingat, ia memang selalu tampil ke kantor dengan pakaian santai setiap hari Eksanti langsung naik ke atas mobilku, setelah tidak ada orang lain yang melihatnya di tempat itu Aku tersenyum melihatnya ini Bibirnya tidak dipoles dengan lipstik merah seperti biasanya Ia hanya menyapukan lipgloss tipis, yang membuat jantungku semakin deg-degan.Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol. Selama perjalanan, aku dan Eksanti tentang berbagai hal, termasuk Yoga dan kehidupan keluargaku.

Sesampainya di Ancol aku mengajak Eksanti untuk makan di sebuah rumah makan di tepi laut yang nuansa romantisnya sangat terasa Tanpa canggung lagi aku memeluk pinggang Eksanti, pada saat kami memasuki rumah makan tersebut Eksanti juga membantukan memanfaatkan di pinggangku Setelah memesan makanan dan minuman, aku memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yang terbuka. Suasana lesehan di rumah makan itu, yang ruangannya disekat menjadi beberapa tempat dengan pembatas dinding bilik yang tinggi, membuat saya bisa bertindak dengan leluasa kepada Eksanti. “Tadi malam mimpi lagi, nggak?”, tanyanya

memecah keheningan “Tidak, tapi aku sempat gelisah nggak bisa tidur karena terus

membayangkanmu”, jawabku tanpa malu-malu Eksanti tertawa sambil memainkan mencubit pinggangku

Hari sudah menjelang malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Setelah berputar-putar di sekitar lokasi pantai, akhirnya aku memutuskan untuk menyewa

sebuah kamar pada sebuah pondok di kawasan Ancol. Semula Eksanti menolak, karena

dia takut kalau kami tidak bisa menahan diri Aku akhirnya berharap Eksanti bahwa sebenarnya aku hanya ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja

Akhirnya Eksanti mengalah Ketika kami telah berada di kamar cottage itu, Eksanti tampak jadi pendiam Dia duduk di atas kursi memandang ke arah laut, sementara aku

rebahan di atas tempat tidur Saya mencoba mencairkan suasana, dengan

bertanya-tanya mengenai kesibukan pekerjaan hari itu Selama aku bertanya kepadanya, ia hanya menjawab singkat dengan kata-kata iya dan tidak Hanya itu yang keluar dari

mulutnya “Mas,

Ternyata, dengan mengingat statusnya saat ini sebagai tunangan Yoga, Eksanti masih belum bisa menerimaku yang membawanya ke dalam pondok ini Namun aku tidak menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya sudah tahu apa yang akan terjadi, sejak

kejadian kemarin siang di kamar Tinggal bagaimana caranya aku bisa mengajaknya bercinta tanpa ada pemaksaan film “Santi, aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku ingin berdua saja bercinta, sebelum Yoga benar-benar menikah dengan kamu Aku hanya ingin memelukmu tanpa ada rasa takut, itu saja Dan aku rasa di sinilah tempatnya”, jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya “Tetapi, apa Mas sanggup untuk tidak melakukan yang lebih dari itu?”, Eksanti melihat sorotan mata tajam “Kalau kamu gimana?”, aku malah balik bertanya. “Aku tanya, kok malah balik nanya ke aku sih?”, ia bertanya dengan nada agak ketus. “Aku sanggup, Santi”, tegasku. Akhirnya dia tersenyum juga. Eksanti berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di

sampingku Aku lalu merangkul tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur

“Janji ya, Mas !”, ujarnya lagi Aku mengangguk

Kini aku memeluk tubuh indah Eksanti dengan posisi menyamping, sedang Eksanti

rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. Aku mencium pipinya, sambil jemariku

membelai-belai bagian belakang telinganya. mata terpejam seolah menikmati kamiapan kami. Aku menatap wajah yang manis, hidungnya yang mancung, lalu memandang. Aku

tidak tahan untuk berlama-lama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menciumnya Aku melumat bibir tipis itu dengan mesra, lalu aku mulai

menjulurkan lidahku ke dalam mulut Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku

Cukup lama aku mempermainkan lidahku di mulutnya Lidahnya begitu menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua tidak tersengal-sengal tidak

beraturan Sesaat kemudian, ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi

Aku mendekat, meremasi pangkal lengannya yang terbuka. Aku membuka telapak

tangan, sehingga jempolku bisa menyentuh permukaan sambil menjaga lembut pangkal lengannya Bibirku kini turun menyapu kulit putih di lehernya dengan tangan kita meraup bukit indah payudaranya Eksanti menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik

mentari Suara rintihan berulang kali keluar dari mulut, lidahku menjulur, menjilat, mengamati, menikmati batang lehernya yang jenjang “Mas, jangan !”, Eksanti mencoba menarik tangan kami yang kini sedang mereMas, menggelitik payudaranya Aku tidak peduli lagi Lagi pula dia juga menyatakan tidak sungguh-sungguh untuk melarangku Hanya saja, yang seolah-olah membatasi, hanya sebatas berbagi tangan,

Suasana angin pantai yang dingin di luar sana, sangat kontras dengan keadaan di kamar tempat kami bergumul Aku dan Eksanti mulai merasa kegerahan Aku akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada “Santi, Mas sangat ingin melihat payudaramu, ‘ yang ” , ujarku sambil mengusap bagian puncak puting payudaranya yang

menonjol Eksanti kembali melihat tajam Mestinya aku tidak perlu memohon kepadanya

karena saat itupun aku sudah membelai dan meremas-remas payudaranya Tetapi entah

mengapa saya lebih suka jika Eksanti yang membuka kaosnya sendiri untukku “Tapi

janji Mas yaa , cuma yang ini aja”, katanya lagi

Aku cuma mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang harus aku janjikan lagi. Eksanti

akhirnya membuka kaos ketat warna orange-nya di depan mataku. Aku terkagum-kagum

ketika mengungkapkan dua gundukan daging di belakang, yang masih tertutup oleh

sebuah bra berwarna hitam Payudara itu begitu membusung, menantang Bukit-bukit di dada Eksanti naik turun seiring desah nafasnya yang mengejar Sambil fenomena

Eksanti membuka pengait bra di punggungnya Punggungnya melengkung indah Aku menahan tangan Eksanti ketika mencoba menurunkan tali bra-nya dari atas pundaknya

Tepat dengan keadaan bra-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu, membuat payudaranya semakin menantang

Payudaranya sangat putih kontras dengan warna bra-nya, sangat terawat dan kencang, seperti yang selalu aku bayang-bayangkan “Payudaramu masih tetap bagus sekali

Santi, kamu pintar merawat, yaa ” , aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya “Pantes si Yoga jadi tergila-gila sama dia,”, pikirku Lalu, perlahan-lahan aku

menarik turun cup bra-nya Mata Eksanti terpejam perhatianku terfokus pada puting susunya yang berwarna merah kecoklatan Lingkarannya tidak begitu besar, namun ujung-ujungnya begitu runcing dan kaku Aku mengusapnya lalu aku memilin dengan jemariku Eksanti mendesah

mulutku ingin payudaranya “Egkhh ” , rintih Eksanti ketika mulutku melumat puting susunya Aku mempermainkan dengan lidah dan gigiku Sekali-sekali aku menggigit lembut putingnya, lalu aku hisap kuat-kuat sehingga membuat Eksanti menarik, menjambak rambutku Puas menikmati buah dada yang sebelah kiri, aku mencium buah dada Eksanti yang satunya, yang belum sempat aku nikmati Rintihan-rintihan dan

desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Eksanti Sambil mencium payudara

Eksanti, tangan kita turun ke bawah perutnya yang datar, berhenti di hadapannya lalu

perlahan turun mengitari lembah di Eksanti Akui pahanya terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba bagian kewanitaannya yang masih tertutup oleh celana

jeans ketat yang dikenakan Eksanti

tiba-tiba, aku akhirnya kegiatanku, lalu berdiri di samping samping ranjang. Eksanti

memandang memandangku, lalu membocorkan ke belakang aku membuka pantalon

warna hitam yang aku kenakan Sengaja aku membiarkan lampu kamar cottage itu

menyala terang, agar aku bisa melihat detil dari setiap inci tubuh Eksanti yang selama ini sering aku jelas fantasi seksualku Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Eksanti yang tergolek di ranjang, menantang Kulitnya yang putih membuat pandangan mata

tidak terlihat Perutnya begitu datar Celana jeans ketat yang dipakai telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk

menunjukkan lekuk pantat yang sempurna

Puas memandangi tubuh Eksanti, lalu aku membaringkan tubuhku di sampingnya Aku merapikan untaian rambut yang untuk menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Eksanti aku menyayanginya Aku mencium aku memasukkan air liurku ke sambil mulutnya Eksanti menelannya Tanganku turun ke bagian perut dan masuk melalui pinggang celana jeans-nya yang memang agak longgar Jemariku bergerak dengan lincah dan membelai selangkangan Eksanti yang masih tertutup celana di dalamnya Eksanti menahan kami, ketika jari tengah menyentuh permukaan celana tepat di atas kewanitaannya Ia telah basah Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi pada tubuh Eksanti

Pinggul Eksanti perlahan bergerak ke kiri , ke kanan dan bergoyang untuk menetralisir pengalaman yang dialaminya “Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas ” , ujarnya sambil perlahan mengungkapkan sayu ke arahku yang sayu ditambah dengan rangsangan yang

tengah dialaminya, menambah bola mata Sungguh, aku semakin bernasu melihatnya

Aku tersenyum lalu tersenyum, bahkan aku menyuruh Eksanti untuk membuka celana

jeans yang dipakainya Tangan kanan Eksanti berhenti pada permukaan kancing celananya Ia terlihat ragu-ragu Aku lalu berbisik ke telinganya, jika aku ingin

memeluknya dalam keadaan seperti ini mimpiku Eksanti lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana jeans-nya Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga rambut-rambut pubis yang tumbuh di sekitar kewanitaannya hampir

sebagian besar keluar dari pinggir celana di dalamnya Aku membantu menarik turun celana jeans Eksanti. Pinggulnya agak sedikit menarik celana jeans itu. Posisi kami kini

sama-sama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya tampak seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus akui tubuhnya begitu menarik dan penuh dengan daya tarik seks.

Eksanti menarik untuk menutupi permukaan tubuhnya Aku beringsut masuk ke dalam

selimut lalu memeluk tubuh Eksanti Kami berpelukan Aku menarik tangan kirinya untuk menyentuh kepala kejantananku Dia terkejut ketika mendapatkan kejantananku yang

tanpa penutup lagi Memang, sebelum aku masuk ke dalam selimut, aku sempat

melepaskan celana dalamku tanpa pengetahuan Eksanti. Aku tersenyum nakal.

“Occhh..”, Eksanti kaget ketika menyentuh kejantananku yang telah tegak menegang.

“Kenapa, Santi?”, aku bertanya pura-pura tidak mengerti.

Padahal aku tahu dia pasti terkejut karena merasakan keras dan kokohnya kejantananku saat ini Eksanti tersenyum malu sentuhan kejantananku di tangan membuat Eksanti merasa malu, tetapi hati kecilnya mau, ditambah sedikit rasa takut, mungkin Kini, Eksanti mulai berani mencoba dan menggenggam kejantananku Belaiannya begitu mantap menandakan Eksanti begitu piawai dalam urusan yang satu ini. “Tangan kamu semakin pintar yaa.., Santi”, ujarku sambil memandang yang mulai mengocok-ngocok lembut sekujur kejantananku. “Ya, mesti dong..,’kan Mas yang dulu ngajarin Santi!”,

sambil cekikikan Mendapat jawaban seperti itu, entah mengenapa hasrat birahiku

tiba-tiba menjadi pembohong Cerita Hot

Namun aku tetap berusaha bertahan untuk sementara waktu, sebelum aku merasakan ia

benar-benar siap untuk berpaducinta denganku. Sambil meresapi kenikmatan

usapan-usapan yang aku rasakan di sepanjang kulit batang kejantananku, jari-jemariku

yang nakal mulai masuk dari celah celah celana dalam Eksanti. Telapak langsung

menyentuh bibir kewanitaannya yang sudah merekah basah Jari telunjukku menunjukkan-belai sejumput daging kecil di dalam lepitan celahnya, sehingga

Eksantipun semakin merasakan nikmat “Kamu mau dicium kejantananku nggak, Santi?”, tanya tanpa malu-malu lagi Eksanti tertawa sambil mencubit batang kejantananku aku tersenyum “Kalau punya Mas yang sekarang, sepertinya Santi nggak bisa?”, ujarnya “Kenapa memangnya, apa bedanya punya Mas yang dulu dengan yang sekarang?”, penasaran “Yang sekarang sepertinya tidak masuk ke mulutku, soalnya

rasanya tambah besar dari yang dulu ” , selesai berkata demikian Eksanti langsung tertawa kecil “Kalau yang di bawah, bagaimana?”, bertanya lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang kewanitaannya

Eksanti merintih sambil menahan mata oleh majalahsex com Tetapi jariku sudah

terlanjur tenggelam ke dalam liang senggamanya Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku Oooch , pasti nikmat sekali kalau saja kejantananku yang diurut, pikirku Tiba-tiba, memandang tajam ke arahku, dengan muka yang agak berkerut masam “Kenapa, Santi, ada apa ‘yang?”, saya bertanya sambil menarik kami dari liang kewanitaannya Aku tahu dia marah, tapi apa sebabnya ? “Anak ini, kok aneh banget, jual mahal lagi”, pikirku “ atau dia ingat Yoga, sehingga tiba-tiba ia merasa bersalah?” “..terus ngapain dia mau aku cumbu sejak kemarin?”, aku masih penasaran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.“Mas ‘kan sudah janji untuk tidak melakukannya, ‘kan?”, tiba-tiba Eksanti berbicara. Aku terdiam.

“Aku tadinya tidak mau kita masuk ke kamar ini, karena aku takut kita tidak bisa

menahan keinginan untuk melakukannya lagi, Mas”, memberikan pengarahan kepada saya “Bagaimanapun juga khusus untuk yang satu ini, Santi tidak dapat memberikan buat Mas lagi Bukan hanya Mas yang nggak tahan, aku juga nggak tahan Aku nggak

munafik, Mas Tapi kumohon, tolong Mas mau mengerti posisiku sekarang”, sambil berkata demikian Eksanti mencium keningku Aku tidak tahu harus melakukan apa saat

itu Dalam posisi yang sudah sama-sama, kecuali Eksanti yang masih mengenakan

celana di dalamnya, berdua di dalam sebuah kamar di tepi laut yang romantis, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Tetapi kali ini demikian.

Bayanganku tentang kenikmatan saat bercinta dengan Eksanti sirna sudah, atau

setidaknya tidak dapat aku rasakan saat ini Tapi sampai kapan? Aku jadi menciptakan

untuk memaksanya saja melakukan persetubuhan, tetapi hal itu bertentangan dengan hati nuraniku Akhirnya aku cuma bisa pasrah dan diam Kejantananku yang tadi saya

rasakan tegang, tiba-tiba menjadi lemas dalam genggaman tangan Eksanti Eksanti meminta maaf kepada saya, menyadari kalau saya kecewa dengan pernyataannya Aku merasa sudah tidak mungkin bisa untuk melanjutkan permainan cinta lagi

Aku akhirnya meminta izin kepada Eksanti untuk mandi Sungguh, aku merasa kecewa

sekali Di dalam kamar mandi, aku lama terdiam Aku cermin cermin di depan cermin

Kemudian aku guyur tubuhku dengan air yang mengalir deras dari pancuran di atas

monitor Aku ingin suhu suhu Tiba-tiba, aku merasakan ada orang lain yang memelukku

dari arah belakang aku terkejut, namun seketika setelah menyadari, ternyata Eksantilah yang ada di belakangku Dia tersenyum memandangku “Ecchh kamu Santi, jangan deket-deket acchh , aku kesel nih!!”, gumamku sambil mencoba membalasnya

“Aku ingin mandi menggoda, Mas, boleh?”, pintanya manja Aku tidak menjawab permintaannya Aku langsung menarik tubuhnya untuk berhadapan denganku Masih di bawah guyuran air yang mengalir dari shower, aku menangkap lengannya, dan

memandang tajam ke arahnya Berulang kali mencoba mengusap wajah cantik

sensualnya dari guyuran air Rambutnya yang basah semakin menambah keerotisan

wajahnya Dengan menangkap payudaranya dan mengusap, meremas kuat Eksanti

Bukannya melarang, Eksanti malah mengambil sabun, dan mulai menyabuni tubuhku

Mula-mula dari dada, ke belakang punggung lalu menuju ke bawah, ke batang kejantananku

Aku merasa aneh atas sikapnya yang berubah-ubah dan suka menggoda Diusapnya lembut batang kejantananku yang sedikit demi sedikit mulai mengeraskan kembali

Tangannya yang penuh dengan busa sabun, begitu lembut mengocok batang kejantananku sehingga aku merasa sangat nikmat Aku tidak tinggal diam, aku

membalas menyabuni sekujur tubuh Eksanti Aku mengikuti setiap gerakan yang

dibuatnya terhadap tubuhku lalu aku mempraktekkannya kepadanya Aku tubuh Eksanti, sehingga kini membelakangiku Sengaja aku memposisikan tubuhnya berada di melihat bagian depanku, agar aku dapat di depan pada permukaan di melihat bagian bawah

Aku ekspresi wajah Eksanti pada permukaan melihat cermin Mata kami beradu pandang, sambil mengungkapkan-belai payudaranya yang mulai mengeras Aku mempermainkan puncak-puncak putungnya dengan jemariku, tangankan yang satunya

dari bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Eksanti Dengan sedikitkan tubuh, aku meraba permukaan kewanitaan Eksternal Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeraskan terkena siraman air Batang kejantananku yang kini sudah siap tempur, berada dalam genggaman tangan Eksanti

Sementara aku merasakan, celah kewanitaan Eksanti juga mulai mengeluarkan cairan cinta yang melewati jemari kita yang kini sedang tersembunyi lorong di dalamnya Aku tubuh Eksanti kembali, sehingga kini berhadap-hadapan denganku Aku memeluk tubuh

Eksanti sehingga batang kejantananku menyentuh pusarnya Tanganku membelai punggungnya, lalu turun meraba bukit-bukit pantatnya yang indah Eksanti membalasku

dengan memanfaatkan di pundakku Kedua tangan meraih pantat Eksanti Aku meremas

dengan sedikit kasar, lalu mengangkat sedikit ke atas, agar batang kejantananku berada

tepat di depan gerbang kewanitaannya Kaki Eksanti kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi

Kaki Eksanti dengan sendirinya mengangkang ketika saya mengangkat pantatnya. Meski agak sulit namun saya tetap berusaha agar batang kejantananku bisa merasakan jepitan

kewanitaan Eksanti Aku merasakan kepala kejantananku sudah menyentuh bibir

kewanitaan Eksanti Aku menekan perlahan, seiring dengan menarik buah di pantatnya

ke arah tubuhku Eksanti menggeliat Saya merasa kesulitan untuk memasukkan batang kejantananku ke dalam liang kewanitaan Eksanti, karena kejantananku yang

terus-terusan basah terkena air shower Akhirnya, aku mengangkat tubuh Eksanti ke luar

dari kamar mandi juga aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, hanya apalagi

terbukti sebelumnya, Eksanti diam saja ketika aku berusaha menyusupkan batang

kejantananku ke liang senggamanya Pada saat aku membawanya menuju tempat tidur,

Aku membaringkan tubuhnya di atas kasur Lalu, denhan hati-hati saya menyusul

menimpa ke atas Kami tidak mempedulikan butiran-butiran udara yang masih menempel di sekujur tubuh kami, sehingga permukaan kasur Aku menciumi lagi

lehernya yang jenjang lalu turun melumat puting payudaranya Telapak kami terus membelai dan meremasi setiap lekukan dan tonjolan tubuh Eksanti Aku kembali

melebarkan kedua pahanya, sambil mengarahkan batang kejantananku ke bibir

kewanitaan Eksanti Eksanti mengerang pelan matanya perlahan terpejam Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat Aku mengungkapkan mata Eksanti penuh hasrat nafsu Bola memohon untuk segera mendekatinya.

“Aku ingin bercinta denganmu, Santi”, bisikku pelan, sementara kepala kejantananku masih menempel di belahan liang kewanitaan Eksanti Kata-kataku yang terakhir ini

ternyata membuat wajah Eksanti memerah Mungkin, ketika bersama Yoga, dia jarang

mendengar permintaan yang terlalu to the point begitu Aku bisa memastikan, Eksanti

agak malu Aku sewaktu-waktu untuk menunggu jawaban dariku kepadanya, karena bagaimana pun aku tidak mau melakukan persetubuhan tanpa persetujuan darinya Aku

bukan tipe laki-laki yang demikian Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan Eksanti melihat lalu

mengangguk sebelum membuka matanya Bukan main rasa senangnya hatiku

Akhirnya “ yes!” Aku akan memperlakukannya dengan hati-hati sekali, begitu yang ada dalam fikiranku Kini aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun batang kejantananku yang perlahan mulai menyusup melesak ke dalam liang kewanitaan Eksanti Mula-mula terasa seret memang, namun aku malah semakin menyukainya Perlahan namun pasti, kepala kejantananku memuji liang kewanitaannya yang ternyata begitu menjepit batang kejantananku Dinding dalam kewanitaan Eksanti ternyata begitu licin, sehingga agak

memudahkan kejantananku untuk menyusup lebih ke dalam lagi Eksanti memeluk erat sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku, hingga agak terputus Namun aku tak peduli “Mas, gede banget, occhh ” , Eksanti berteriak pelan Tangannya turun menangkap batang kejantananku. “Pelan maas..”, ujarnya kali, padahal aku merasa sudah melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang kewanitaannya tidak pernah dimasukkan lagi ke dalam batang video seperti milikku ini. Soalnya aku tahu pasti ukuran kejantanan Yoga, pacar Eksanti harga yang aku miliki.

agak merasa nyaman Akhirnya batang kejantananku terbenam juga di dalam kewanitaan Eksanti Aku berhenti menikmati untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding kewanitaan Eksanti Denyutan itu begitu kuat, sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Aku melumat bibir Eksanti sambil perlahan-lahan menarik batang kejantananku,.. untuk selanjutnya aku benamkan lagi, masuk.., keluar.., masuk.., keluar.. Aku meminta Eksanti untuk membuka kelopak mata. Eksanti menurut. Saya sangat

senang melihat matanya yang semakin mengatakan Anda menikmati batang kejantananku yang keluar masuk di dalam kewanitaannya

“Aku suka kewanitaanmu, Santi, kewanitaanmu masih tetap rapet, ‘yang”, ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Eksanti masih terasa enak sekali. “Icchh.. Mas ngomongnya sekarang vulgar banget”, balasnya sambil tersipu malu, lalu ia mencubit pinggangku. “Tapi enak ‘kan, ‘yang?”, bertanya, yang dijawab Eksanti dengan sebuah anggukan kecil Aku meminta Eksanti untuk menggoyangkan pinggulnya Eksanti langsung gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya “Suka batang kejantananku, Santi?”, tanya lagi Eksanti hanya tersenyum

Batang kejantananku terasa seperti diremas-reMas. Masih ditambah lagi dengan jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otot-otot kejantananku. “Makin pintar saja dia menggoyang”, batinku dalam hati. “Occhh..”, teriakku panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan bebas untuk mengeluar-masukkan batang kejantananku ke dalam liang senggama Eksanti Aku memperhatikan dengan hati-hati kejantananku yang keluar dengan lincah di sana Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan Eksanti memperbesar kedua pahanya, sambil membantu erat di pinggangku

Gerakan naik turunku semakin cepat goyangan pinggul Eksanti yang semakin tidak terkendali. “Santii.. enak banget, ‘ yang, kamu makin pintar, ‘yang..”, ucapku merasa tertarikakan. “Kamu juga, Mas.., Santi juga enakk..”, agak malu-malu. Eksanti merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatannya Berulang kalih mengeluarkan kata-kata, “aduh occh ” , yang diucapkan terputus-putus Aku liang senggama Eksanti semakin berdenyut sebagai pertanda Eksanti akan mencapai puncak pendakiannya Aku juga merasakan hal yang sama dengannya Namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan-pelan, untuk menurunkan daya

rangsangan yang aku alami Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini dengan tergesa-gesa

Aku mempercepat goyanganku ketika aku menyadari Eksanti hampir mencapai

orgasmenya. Aku meremas payudaranya kuat-kuat, seraya mulutku menempel dan menggigiti puting susu Eksanti. Aku masuk dalam-dalam. “Occhh.. Mas..”, jerit Eksanti panjang. Aku membenamkan batang kejantananku kuat-kuat ke liang senggamanya hingga mencapai dasar rongga yang terdalam. Eksanti mendapatkan kenikmatan yang sempurna Tubuhnya indah dan indah untuk beberapa saat tubuhnya mengejang

Kepalaku ditarik kuat-kuat hingga terbenam di antara dua bukit payudaranya Pada saat menghentak-hentak, ternyata saya merasa tidak tahan lagi untuk bertahan lebih lama

“Saanntii aakuu mau keluaarr saayang occhh hh ” , jeritku Aku ingin menarik keluar batang kejantananku dari dalam liang senggamanya Namun Eksanti masih ingin merasakan orgasmenya, sehingga tubuhku serasa terkunci oleh kakinya yang tegak di

pinggangku Saat itu juga saya merasa hampir saja memuntahkan cairan hangat dari ujung kejantananku yang hampir meledak Aku merasakan seolah-olah layang-layang putus yang melayang terbang, tidak berbobot Aku tidak perlu menarik keluar batang

kejantananku lagi, karena secara spontan Eksanti juga menarik pantatku kuat untuk tubuhnya, berulang kali.

Mulutku yang berada di belahan dada Eksanti memasang kuat kulit putihnya, sehingga meninggalkan bekas disana Telapak tangan mencengkram buah dada Eksanti Saya meraup semuanya, sampai-sampai Eksanti merasa agak senang Aku tak peduli lagi Hingga akhirnya plash plash plash (8X), spermaku akhirnya muncrat menyiram lubang sorganya Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Eksanti pada saat aku mengalami orgasme. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Eksanti. Batang kejantananku masih berada dalam kenikmatan Eksanti.

Eksanti mengusap-usap permukaan punggungku “Kamu menyesal, Santi?”, ujarku

sambil mencium pipinya Eksanti sambil pelanpelan membocorkan rambutku Aku

tersenyum kepadanya Eksanti membalas Aku meyandarkan penjagaan di belakang oleh majalahsex com Jam telah menunjukkan pukul 21:00 dan aku harus cepat pulang

ke rumah, karena tadi aku tidak sempat membuat alasan untuk pulang terlambat Begitu pula dengan Eksanti, yang saat itu telah memiliki kebiasan baru selayaknya calon pasangan suami istri, yaitu makan malam bersama Yoga di rumah kost mereka

Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat Itu adalah ciuman kami yang terakhir.., percintaan kami yang terakhir.., sebelum akhirnya Yoga menikahi Eksanti, 2 bulan kemudian.

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
cerita dewasa by Farah 77 - Issuu