musim panas 2013
Seni & Budaya Korea
Kehidupan Keseharian di Kuil Buddha
m usimmerpan as 2013 vo l.n o2 . 2n o . 2 sum 2012 vo l. 26
Fitur Khusus
Jalan Menemukan Diri Sendiri Kehidupan Keseharian di Kuil Buddha Rumah Kuil, Tempat Praktik untuk Mencari Jati Diri; Cahaya dan Suara dari Kuil Hamparan Pinus
v o l. 2 NO. 2
ISSN 2287-5565
Penata Letak dan Desain
Negara di luar Amerika dan Kanada
© The Korea Foundatioon 2013
Direktur Editorial Zeon Nam-jin
Kim’s Communication Associates
(termasuk Korea)
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Pemimpin Redaksi
Koh Young Hun
384-13 Seogyo-dong, Mapo-gu, Seoul,
Korea Foundation
Dilarang memperbanyak sebagian atau
Penyunting
Mirna Yulistianti
121-839, Korea. www.gegd.co.kr
2558 Nambusunhwan-ro, Seocho-gu,
seluruhnya tanpa izin Korea Foundation.
Dewan Redaksi
Bae Bien-u
Telp: 82-2-335-4741 Faks: 82-2-335-4743
Seoul, Korea
Elisabeth Chabanol
Han Kyong-koo
Kim Hwa-young
Kim Mun-hwan
Kim Young-na
Koh Mi-seok
Song Hye-jin
Song Young-man
Werner Sasse
Pemimpin Umum
Yu Hyun-seok
Langganan
Telp: 82-2-2151-6544 Faks: 82-2-2151-6592
Biaya per tahun: Korea \18,000,
Percetakan Edisi musim panas 2013
Asia(udara) US$33, Negara di luar Asia(Udara) US$37
Samsung Munhwa Printing Co.
Harga per eksemplar (Korea): \4,500
274-34 Seongsu-dong 2-ga,
Informasi Berlangganan Amerika, Kanada
Koryo Book Company 1368 Michelle Drive St. Paul, MN 55123-1459
Seongdong-gu, Seoul, Korea Telp: 82-2-468-0361/5
Pendapat penulis atau pengarang dalam majalah ini tidak harus selalu mencerminkan pendapat editor atau pihak Korea Foundation. Majalah Koreana ini sudah terdaftar di Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata(No. Pendaftaran Ba 1033, 8 Agustus 1987), Korea sebagai majalah triwulanan, dan diterbitkan juga dalam bahasa Inggris, China, Prancis, Spanyol, Arab, Rusia, Jepang, dan Jerman.
Telp: 1-651-454-1358 Faks: 1-651-454-3519
Seni & Budaya Korea Edisi musim panas 2013
http://www.koreana.or.kr
Diterbitkan empat kali setahun oleh Korea Foundation 2558 Nambusunhwan-ro, Seocho-gu, Seoul, Korea
Perakitan panel “Potret Buddha Generasi Baru” karya Moon Bong-sun, menghiasi belakang dinding gambar Buddha Sakyamuni di aula utama kuil Myohyang di daerah Chilgok, Provinsi Gyeongsang Utara.
Genta bambu ( jukb i) adalah sebuah simbol meditasi anak dalam ajaran Buddha Korea. Dilakukan tangan kanan dengan bagian telapak tangan kiri memukul guna menciptakan bunyi hentakan keras sebagai penanda awal dan akhir sesi meditasi. © Ha Ji-kwon
Dari Redaksi
Sudah Musim Panas di Korea
Musim panas yang gerah, dan Koreana edisi Musim Panas ini menyajikan kehangatan dengan berbagai informasi yang menyejukkan. Bagi masyarakat Korea, kesadaran pada alam adalah filosofi hidup. Musim apa pun disikapi dengan gembira. Siasat untuk bercengkerama dengan alam menghadirkan berbagai kreasi. Pesta-pesta, festival, perayaan atau menu masakan yang berkaitan dengan perubahan alam adalah wujud kreativitas masyarakat Korea. Musim panas yang gerah pun dimanfaatkan untuk bersenang-senang, memanjakan keluarga dengan pergi ke pinggiran sungai, pantai, atau pegunungan. Koreana menyajikannya secara sejuk. Pada awal April yang lalu, saat Korea memasuki musim semi, ada kehebohan di Korea Utara (Korut). Terjadi manuver politik mengancam. Masyarakat dunia, termasuk Indonesia dan negara-negara ASEAN, terpancing dengan provokasi tersebut. Tetapi, Seoul, dan secara keseluruhan, warga Korea Selatan, sangat memahami gaya kegaduhan Korut yang seperti itu. Kehidupan di pusat perbelanjaan, suasana malam di tempat hiburan, kegembiraan di kafe tempat mangkal kawula muda, semua tetap semarak seperti biasa. Masyarakat Seoul dan warga asing menyambut pesta dan festival musim semi dengan kepercayaan penuh pada kebijakan pemerintah. Dinamika gaya hidup Gangnam, tak tersentuh berita politik. Bahkan, di garis demarkasi militer (Demilitarized Zone) Panmunjeom, perbatasan
Korsel—Korut, yang dijaga superketat setiap detik oleh militer kedua negara, para wisatawan mancanegara, asyik-masyuk menikmati pengalaman langka mereka. Penuh bahagia, tanpa cemas! Begitulah Seoul, begitulah Korsel. Dan Koreana edisi Musim Panas, tetap menyapa Indonesia dan masyarakat di kawasan Asia Tenggara dengan semangat menyajikan kesejukan yang nyaman. Lihatkah kemegahan Sang Buddha dalam kehidupan di kuil-kuil pegunungan dengan sejarahnya yang panjang. Bagaimana biarawan-biarawati, biksu-biksuni, bolak-balik di antara kehidupan duniawi dan asketisme. Ihwal seni budaya Korea, tradisional-modern, selalu menjadi menu utama Koreana. Maka, Koreana dengan segala kesungguhan menjaga kualitas, menjadi satu-satunya majalah dalam bahasa Indonesia yang khusus menyajikan itu. Koreana tak sekadar jembatan hubungan budaya Korea— Indonesia, tetapi juga sebagai pintu gerbang memasuki seni-budaya dan kehidupan sosial Korea. Sangat pantas kiranya Koreana jadi bahan rujukan terpercaya, koleksi berharga jagat seni-budaya Korea. Dengan bahagia, Koreana edisi Musim Panas ini menyapa Anda!
Koh Young Hun Pemimpin Redaksi Koreana Edisi Indonesia
Fitur Khusus Kehidupan Keseharian di Kuil Buddha
04 12 18 24
Fitur Khusus 1
Rumah Kuil, Tempat Praktik untuk Mencari Jati Diri
Moon Tae-jun
Fitur Khusus 2
Cahaya dan Suara dari Kuil Hamparan Pinus
Bae Bien-u 7
Fitur Khusus 3
Orang Biasa yang Mengalami Kehidupan Biara: Apa yang Didapat dengan Menjernihkan Pikiran Yoo Cheol-sang Fitur Khusus 4
Pekerjaan Dapur di Komunitas Bhikkhuni Terbesar di Korea
Kim Young-ock 18
36
30 36 42
wawancara 1
Yu Jin-gyu: Pelopor Festival Pantomim Internasional Chuncheon
Kim Jung-hyo
TINJAUAN SENI
Han Soon-ja: Bunga-bunga Anggun Bermekaran di Tikar Alang Karya Maestro Resensi Seni
Drama Musikal “Mencuci” Menyampaikan Kritik Sosial dengan Halus
Park Bo-mi
34
46 50 52
JATUH CINTA pada KOREA
Jurnalis UK, Pencarian yang Tak Kenal Puas Tim Alper untuk Eksplorasi Budaya
Charles La Shure
di atas jalan
Kehidupan yang Lambat di Pulau Cheongsan
56
Kang Je-yoon
Buku & lebih Charles La Shure Pengkajian Seorang Wartawan Inggris terhadap Korea
“Korea: Sebuah Negara yang Mustahil” Pengantar Praktik Buddhis untuk Pembaca Penutur Inggris
“Enam Jalan ke Hati: Intisari Praktik Buddhis Korea” Korea dari Perspektif Seorang Istri Duta Besar Amerika
“Surat dari Joseon” 69
58 60 62 64 68 72
ESAI
Musim Panas di Seoul
Maman S. Mahayana
wawancara 2
Demam Korea di Indonesia Luar Biasa - Wawancara dengan Revalina S. Temat Aktris Indonesia -
Kim Seong-hee
HIBURAN
TV Cinta Makanan
Lee Young-mee
KENIKMATAN GOURMET
Yukgejang : Panas, Pedas, dan Segar
Ye Jong-suk
gaya hidup
Di Tengah Keputusasaan Ekonomi, Warga Korea Gila Berkemah Perjalanan Kesusastraan Korea
Mimpi Buruk Siapakah? Uh Soo-wong Ruang Dansa Ivan Menshkov Lee Jang-wook
Kim Young-ju
Park Hyun-sook
Fitur Khusus 1 Kehidupan Keseharian di Kuil Buddha
Rumah Kuil, Tempat Praktik untuk Mencari Jati Diri
P
ada jam tiga pagi, kuil bangun dengan suara berirama gong kayu yang dipukul oleh seorang biksu, suatu ritual untuk membersihkan tanah sebelum ibadah pagi. Dimulai dari aula darma utama, di mana biksu penjaga aula darma dan mengawasi upacara menyalakan lilin, membakar dupa dan menawarkan air jernih kepada Sang Buddha, dan membaca sutra. Biksu itu memukul gong (moktak) dan menyenandungkan doa-doa sambil berjalan membuat satu lingkaran di kawasan kuil. Gong mulanya dipukul dengan lembut dan makin lama makin kuat sehingga semua makhluk hidup terbangun perlahan, tapi tidak terkejut. Biksu dan umat berdiri di dalam kuil dan mempersiapkan ibadah pagi. Ibadah dilaksanakan pada subuh hari, pada pukul 11 pagi, dan juga pada sore hari. Mereka mulai dengan memukul empat instrumen
4
perkusi (samul) - drum, kuningan berbentuk awan, gong kayu berbentuk ikan, dan lonceng – serta menaikkan pujian kepada biksu besar yang telah mencapai pencerahan dan pembacaan Sutra untuk merenungkan ajaran Sang Buddha.
Jalan Petapa Seorang biksu adalah seorang petapa yang telah terpisah dari dunia. Dia melakukan meditasi, belajar ayat-ayat suci, dan mempraktikkan cara yang tepat untuk mencari kebijaksanaan. Setelah mencapai kebijaksanaan itu, ia diharapkan untuk memimpin orang- orang di dunia fana untuk hidup benar, memberikan kembali kebijaksanaan yang telah dicapai kepada massa. S e n i & B u d a y a Ko re a
Penyair dan petapa India Kabir bernyanyi, “Janganlah pergi ke taman bunga! Wahai kawan! Jangan pergi ke sana; di dalam tubuhmulah terdapat taman bunga “. Demikian ia menyarankan kita untuk kembali ke diri kita sendiri dan mengandalkan diri sendiri, karena pikiran kita tidak berbeda dengan bunga mekar penuh. Demikianlah kesadaran akan jati diri dalam ajaran Buddha. Pada masa kini pun banyak orang mengunjungi rumah kuil untuk menemukan taman di dalam diri mereka. Ada yang melewatkan satu hari di sana, dan ada juga yang memutuskan untuk tinggal seumur hidup. Moon Tae-jun, Produser, Buddhist Broadcasting System (BBS) | Park Bo-ha, Ahn Hong-beom, Ha Ji-kwon, Na Sang-ho Fotografer
Petapa mencukur kepala dan wajah untuk melambangkan penghapusan semua emosi yang bersifat menghancurkan dan mengadaada. Dia kemudian memulai hidup baru dengan hanya tiga stel pakaian dan mangkuk sedekah. Pada awalnya ia dibimbing oleh seorang guru. Selama sekitar enam bulan sampai satu tahun, ia melakukan pekerjaan rumah seperti memasak nasi, bertani, dan mengumpulkan kayu bakar, mengembangkan karakter dasar yang dibutuhkan dari seorang petapa. Ada banyak ajaran yang harus diamati oleh petapa. Ia tidak boleh membunuh, tidak boleh mencuri, tidak boleh berbuat cabul, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh minum minuman beralkohol. Selain itu, ia tidak boleh makan di luar jam makan, tidak boleh menggunakan kosKo r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
Sebuah kelas sutra Buddha di Kuil Unmun dihadiri para siswa biarawan tahun pertama dan kedua. Ceramah ini diselenggarakan di Cheongpungyo (Asrama Angin Suci), ruang kelas dan tempat tidur para biarawan. Melalui pintu paling kiri tampak mangkuk kayu berjejer yang ditata rapi di rak-rak.
metik atau perhiasan, tidak boleh berbaring di tempat tidur yang nyaman, dan tidak boleh memiliki barang berharga seperti emas atau perak. Ia juga tidak boleh menerima hal-hal baru dari orang lain, ia hanya dapat memakan apa yang diterima dari orang lain, dan tidak boleh meminta tambahan. Ada ratusan aturan seperti itu dan bagaikan air dingin mereka ditakdirkan untuk membasuh kotoran dari tubuh dan pikirannya.
5
1
Para petapa belajar di sekolah keagamaan, yakni institusi pendidikan tradisional yang dapat ditemukan di sebuah biara besar dengan sejarah panjang. Di situlah, petapa mempelajari sutra dan belajar tata cara ritual. Di kuil, tempat para petapa berkomunitas, setiap orang diberi tugas yang sangat spesifik, seperti menderingkan bel, menyiapkan teh, memasak nasi, membuat lauk, mengumpulkan kayu bakar, mengajarkan sutra, melakukan ritual, atau merenungkan kesalahan.
Praktik Meditasi Kitab suci mengatakan bahwa petapa harus seperti bulan bertumbuh menjadi purnama. Seperti bulan, yang secara bertahap menjadi lebih bulat dan penuh, petapa harus memelihara cahaya kebijaksanaan. Praktik pertama yang menuju tujuan tersebut adalah meditasi, upaya untuk menenangkan dan membersihkan pikiran, sehingga menyadari bahwa sifat asli seseorang adalah sifat Buddha. Ketika melakukan meditasi, ia tidak boleh berbicara, banyak di antara mereka yang tidak berbaring sama sekali dan bermeditasi siang dan malam, selama berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Praktik merenungkan kata-kata dan tindakan Sang Buddha dan para patriark, atau juga yang disebut sebagai hwadu, untuk menyusun pikiran penuh dengan emosi yang bersifat menghancurkan dan mengada-ada, adalah bentuk yang paling mewakili meditasi dalam Buddhisme Korea. Dalam praktik ini, yang disebut Ganhwa Seon ini, hwadu adalah teka-teki atau “ungkapan kritis” yang dibuat untuk menyampaikan suatu makna. Misalnya, “Apa yang datang dan pergi dan berbicara?” atau “Anjing tidak memiliki sifat untuk menjadi seorang Buddha.”
6
Pertanyaan-pertanyaan ini dipertimbangkan di bagian terdalam dari pikiran untuk mencapai makna dasar dari perihal-perihal dengan membuang perbedaan yang relatif dan pertimbangan nilai seperti benar dan salah, baik dan buruk, diri sendiri dan orang lain, eksistensi dan noneksistensi, besar dan kecil, ini dan itu, serta datang dan pergi. Pertanyaan-pertanyaan polos ini adalah untuk mencari penyebab. Apakah seseorang bergerak atau tetap diam, duduk atau berbaring, berbicara atau berdiam, dengan mempertanyakan hal-hal seperti itu dengan intensif, kehidupan sehari-hari itu sendiri akan menjadi latihan meditasi. Melalui meditasi seperti itu, banyak orang awam juga berusaha untuk membebaskan pikiran dari segala diskriminasi dan kontrol, semua khayalan dan argumen, dan kembali ke pikiran yang bersih dan benar, melihat jelas sifat asli mereka seperti Sang Buddha. Dalam Ordo Jogye - denominasi terbesar Buddha di Korea – saja, lebih dari 2.000 petapa tahun ikut retret selama tiga bulan, dua kali setahun. Mereka dilarang meninggalkan kuil dan hanya boleh bermeditasi. Tradisi retret Buddha mulai di India. Pada awalnya, petapa yang telah terpisah dengan dunia tidak tinggal di satu tempat, tapi berkeliaran di sekitar saat mereka berlatih. Pada musim hujan, makhluk hidup kecil di bumi akan muncul ke permukaan, sehingga petapa menetap di kuil untuk berlatih, karena takut menginjak dan merugikan makhluk hidup kecil jika mereka melakukan perjalanan dan inilah yang membuat tradisi retret. Dalam transmisi Buddhisme ke Cina dan Korea, petapa juga datang untuk berlatih di satu tempat selama bulan-bulan musim dingin. Saat ini masa retret Buddha di Korea dihitung menurut kalender S e n i & B u d a y a Ko re a
2
1. Para siswa biarawan Kuil Haein pagi hari membaca sutra. 2. Biarawan berlatih meditasi guna membersihkan pikiran dan membangkitkan ke dalam diri mereka. Ko r e asifat n a murni | Mu sBuddha i m P a n as 2013
2
7
1. Para biarawan berjalan dalam baris tunggal di pelataran Kuil Songgwang, menyerupai sebuah “prosesi angsa�. 2. Seorang biksu berjalan melewati gerbang depan Kuil Magok.
1
bulan: retret musim panas dimulai pada tanggal 15 bulan keempat dan berakhir pada hari ke-15 dari bulan ketujuh, sedangkan retret musim dingin dimulai pada hari ke-15 dari kesepuluh bulan dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama pada tahun kemudian. Ketika dua masa retret tersebut berakhir, petapa berkelana ke sana dan kemari di seluruh dunia, mengajar orang awam apa yang telah mereka dapatkan dari latihan mereka. Mereka belajar dari pergumulan berat dengan diri sendiri, dan menyampaikan ajaran Sang Buddha. Ayat-ayat suci membandingkan penyampaian semacam ini dengan pembangunan jembatan atau perahu yang memungkinkan orang untuk menyeberangi sungai. Kini, sejumlah besar petapa menetap di kuil-kuil mereka bahkan setelah retret, dan banyak melayani di wadah kesejahteraan sosial. Di antara metode lain dari praktik yang dilakukan oleh petapa adalah Yeombul, yang berarti “Memikirkan Sang Buddha.� Hal ini dilakukan dengan meresapi nama-nama Buddha ke dalam pikiran, penampilan Sang Buddha, dan pikiran Sang Buddha. Ada orang yang merenungkan tindakan Buddha, kesempurnaanan Sang Buddha, dan keuntungan yang dibawa oleh orang-orang Buddha. Dengan cara ini, rasa kagum dan menghormati Sang Buddha terbentuk dalam pikiran, dan pikiran pun berusaha untuk menjadi Buddha. Obyek dari praktik ini termasuk Buddha seperti Amitabha dan Bodhisattva seperti Avalokitervara dan seperti Ksitigarbha. Ada juga kegiatan membaca sutra, yang berisi ajaran Sang Buddha.
8
Praktik ini mendorong pemahaman kata-kata Sang Buddha dan membersihkan pikiran melalui ajaran Buddha. Sebenarnya, dengan membaca sutra, seseorang mempelajari pikiran seseorang. Praktik lain adalah membaca kata-kata atau ayat-ayat yang merangkum isi dari sutra. Dengan mengucapkan mantra, seseorang menghapus karma di masa lalu dan menjernihkan pikiran. Praktik ini bertujuan untuk membasuh keserakahan, kebodohan, amarah, dan sifat alami yang merugikan, membimbing orang lain untuk menjadi seperti Sang Buddha dan juga terlahir kembali di dunia tanpa rasa sakit setelah kematian.
Moderasi dalam Makanan Etiket Makanan memerlukan perhatian khusus. Bagi mereka yang melaksanakan pelatihan, ada aturan untuk mengonsumsi makanan juga. Aturan utama adalah untuk mengonsumsi jumlah minimum makanan yang diperlukan untuk mempertahankan tubuh. Ini bukan berarti makan sebanyak apa yang dianggap cukup, melainkan makan dengan selalu tidak cukup untuk memuaskan nafsu. Jadi beberapa petapa akan makan hanya sekali sehari, sementara yang lain tidak akan makan setelah tengah hari. Namun, sebagian besar akan makan bubur di pagi hari, nasi pada tengah hari, dan makanan yang sangat ringan di malam hari. Setelah menerima makanan seseorang, si petapa mengulangi Lima Bait Pencerahan : “Dari mana makanan ini berasal? Kerja keras siapa S e n i & B u d a y a Ko re a
2
Kitab Suci mengatakan bahwa petapa harus seperti bulan yang semakin menjadi purnama. Artinya seperti bulan, yang secara bertahap menjadi lebih bulat dan penuh, petapa harus memelihara cahaya kebijaksanaan. Langkah pertama untuk mencapai tujuan ini adalah meditasi, upaya untuk menenangkan dan membersihkan pikiran, sehingga seseorang menyadari bahwa sifat asli dirinya adalah sifat Buddha.
yang telah membawa makanan ini pada saya? Saya malu bahwa kebajikan saya tidak cukup untuk menerima makanan ini. Tapi aku tetap menerimanya sebagai obat, bahwa aku mungkin meninggalkan semua keinginan, mempertahankan tubuh saya, dan mencapai pencerahan. “Melalui lagu ini, petapa mengucapkan terima kasih untuk proses pembuatan makanan itu dan keinginannya untuk berlatih lebih rajin dikuatkan kembali. Ini adalah tradisi yang sudah lama dalam Buddhisme Korea untuk selalu makan dari mangkuk yang sama, makan sejumlah kecil lauk, dan tidak meninggalkan apapun.
Jalan Penganut Orang awam yang tidak meninggalkan dunia tetapi terlibat dalam pelatihan karena mereka hidup di dalamnya adalah mereka yang telah bersumpah untuk menghormati dan percaya pada Buddha, ajaran Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
Buddha, dan komunitas monastik. Mereka pergi ke kuil dan menerima pendidikan dasar sebagai orang percaya, menjadi murid Sang Buddha, dan menerima nama (Buddha) yang baru. Mereka juga menerima ajaran yang harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, mereka menghadiri pertemuan-pertemuan di mana ajaran Sang Buddha yang dikhotbahkan secara teratur. Selain itu, mereka mengalami sendiri kehidupan monastik para biarawan dengan menginap semalam di kuil atau tinggal di kuil dengan jangka pendek selama tiga bulan untuk penyangkalan dunia. Selain dari berbagai pelatihan-pelatihan seperti merenungkan hwadu, berlatih yeombul, membaca dan melafalkan sutra, dan mengucapkan mantra, petapa paling sering berlatih bersujud. Bersujud adalah tindakan membungkuk di hadapan Sang Buddha. Ada berbagai jenis sujud, seperti membungkuk dengan menurunkan kepala dengan
9
1
10
1. Seorang biksu menabuh drum untuk menandai dimulainya ibadah malam di Kuil Buseok. 2. Senja di sebuah kuil gunung menandai kegelapan S e n i & B u d a y a Ko re a dengan bunyi ibadah malam
2
kedua tangan disatukan di bagian dada, dan membungkuk dengan menyentuh kedua lutut, kedua siku dan dahi menyentuh lantai untuk menunjukkan rasa hormat yang tinggi. Dengan mengulangi tindakan yang sama saat bersujud, seseorang mengesampingkan dirinya. Membungkuk adalah latihan berpikir melalui gerakan tubuh, dan latihan dikategorikan dengan jumlah sujud yang dilakukan, seperti membungkuk 1.080 kali dan membungkuk 3.000 kali. Para penganut yang pergi ke kuil juga mengambil makhluk ditangkap kecil seperti ikan dan melepaskan mereka kembali ke lingkungan dari mana mereka datang. Ini adalah kegiatan memberi dan menunjukkan kasih untuk semua makhluk hidup. Mereka juga memegang ritual untuk membimbing jiwa-jiwa almarhum ke tempat yang lebih baik. Ritual tersebut merupakan penghapusan kesalahan almarhum, dendam, dan hubungan yang buruk dengan orang lain, membantu almarhum untuk terlahir kembali di tempat yang lebih baik, dan didasarkan pada pandangan dunia yang melihat kematian bukan sebagai akhir tetapi bagian ke dalam kehidupan baru. Kurangnya perbedaan antara hidup dan mati adalah pandangan Buddhisme tentang waktu dan kehidupan.
Bagai Bulan Muncul ketika Awan Terbagi Ajaran Buddha menenangkan pikiran dan bermanfaat bagi dunia. Menenangkan pikiran untuk beristirahat adalah membersihkan pikiran Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
delusi dan keinginan. Jika seseorang melakukan kesalahan, ia harus segera mengaku, bertobat, dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Sama seperti bulan muncul hanya ketika awan terbagi, demikianlah pikiran yang murni akan diperoleh kembali hanya melalui pertobatan. Dalam ajaran Buddha, pikiran bukanlah sesuatu yang muncul atau menghilang, sehingga bentuk aslinya dapat dikatakan seperti kosong. Sehingga menenangkan pikiran adalah untuk tetap berada dalam pikiran keadaan tenang dan damai tanpa mengejar kesenangan sensual. Ini adalah bagian dari pengendalian diri, kata-kata dan keinginan seseorang. Ketenangan yang berasal dari pengendalian diri yang benar mengarah ke pencapaian kebijaksanaan agung. Buddhisme mengajarkan bahwa penderitaan dapat dihilangkan melalui sudut pandang yang benar, pikiran yang benar, ucapan yang benar, perbuatan yang benar, kehidupan yang benar, usaha yang benar, perhatian yang benar, dan konsentrasi yang benar. Buddhisme mengajarkan bahwa, dengan jalan mulia tersebut kita dapat mencapai kesempurnaan dalam memberi, kepatuhan pada ajaran, toleransi, tenaga, ketenangan dan wawasan. Tubuh manusia secara alami menjadi tua dan layu, tubuh adalah karung penyakit, dan pada akhirnya harus mati. Dan keinginan dunia menguasai pikiran manusia. Tujuan dari pelatihan Buddha adalah penghapusan penderitaan dan pencapaian kenyamanan dan kebahagiaan.
11
Fitur Khusus 2 Kehidupan Keseharian di Kuil Buddha
Cahaya dan Suara dari Kuil Hamparan Pinus Bae Bien-u Fotografer
12
S e n i & B u d a y a Ko re a
Rumpun bambu bergoyang diterpa angin di Kuil Songgwang.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
13
Para biksu berlatih menundukkan seluruh tubuh, menekan lutut, siku, dan dahi ke lantai, dalam ibadah pagi mereka di Kuil Songgwang.
D
alam kegelapan fajar, suara gong kayu memecah keheningan di halaman Kuil Songgwang yang dikelilingi pepohonan pinus tua dengan cabang-cabangnya yang terjulur. Tak lama, suara nyanyian sutra bergema melalui kuil yang tenang, lembut, dan khidmat, diiringi bunyi empat instrumen perkusi. Lantunan mistis doa pagi menyeruak menembus langit, seolah-olah terpencar menjadi seratus dan kemudian bersama-sama kembali menjadi satu, memanggil cahaya. Gemuruh angin menggetarkan ranting-ranting pohon, dan hutan pun mulai bergemerisik.
14
S e n i & B u d a y a Ko re a
Ketika fajar menyentuh atap paviliun kuno dan pohon-pohon pinus perlahan terbangun dari tidur mereka, semburat cahaya dan embusan angin melewati rerumpunan bambu. Sinar mentari pun mencairkan kesunyian malam. Saatnya semua makhluk menjawab panggilan hidup dengan suara mereka sendiri. Cahaya pagi membanjiri halaman kuil, mengajak pepohonan, burung-burung, dan berbagai makhluk hidup menyanyikan lagu-lagu mereka sendiri. Dedaunan yang diusik angin membuat gelombang hijau yang datang dan pergi di bawah langKo r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
15
Kuil Songgwang di hutan pinus yang lebat terletak di kaki Gunung Jogye di Suncheon, Provinsi Jeolla Selatan.
16
S e n i & B u d a y a Ko re a
2
it biru yang segar. Berulang kali dedaunan itu bertautan dan berpisah dalam gemerisik. Ketika senja, saat mentari telah melintasi angkasa dan akan tenggelam di sebelah barat, halaman kuil terbungkus dalam nyala indah cahaya matahari terbenam. Sekali lagi, kuil terbalut dalam gema yang menggetarkan jiwa dari bunyi empat instrumen di tengah doa-doa malam. Malam turun dari pegunungan yang jauh. Kuil pun kembali diselimuti kegelapan yang biru. Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
17
Fitur Khusus 3 Kehidupan Keseharian di Kuil Buddha
Orang Biasa yang Mengalami Kehidupan Biara: Apa yang Didapat dengan Menjernihkan Pikiran Bangun pada pukul tiga pagi memfokuskan diri pada suara drum dan bel yang berasal dari kuil. Ia kemudian melakukan kebiasaan pagi, melakukan sujud sebanyak 108 kali, makan 4 mangkuk sarapan tanpa meninggalkan sebutir nasi atau sepotong cabe merah pun, bermeditasi kemudian berjalan dengan kaki telanjang menuju pegunungan. Dua hari satu malam yang sangat spesial yang ia habiskan di kuil Buddha. Yoo Cheol-sang, penulis perjalanan | Ha Ji-kwon, Ahn Hong-beom Fotografer
18
S e n i & B u d a y a Ko re a
P
rogram tinggal di kuil dimulai dengan menjauhkan telepon genggam, dompet, rokok, dan benda-benda pribadi lainnya untuk diletakkan pada sebuah keranjang besar. Satu hal terakhir yang boleh dilakukan para peserta dengan telepon genggam mereka adalah dengan melakukan panggilan terakhir yang berfungsi untuk melangsungkan ajang perpisahan dengan keluarga dan orang-orang tercinta atau untuk melakukan pemantauan terakhir atas pekerjaan yang belum diselesaikan. Kemudian kami berganti pakaian biksu dan duduk dengan canggung sambil mendengarkan penjelasan tentang aturan dasar dari kehidupan kuil. Ada dua hal paling penting, diantaranya adalah “melipat tangan” (chasu) dan “prosesi angsa” (anhaeng). “Kami diminta untuk melipat tangan kami kemudian meletakkannya di atas tangan lainnya tepat di bawah perut. Ketika Anda berkeliling kuil, Anda diminta untuk tetap dalam posisi ini. Ketika kami berjalan, kami diminta melakukannya dengan berjinjit seperti angsa. Kami menyebutnya dengan ‘prosesi angsa.’ Kami harus terus menjaga sikap dan pikiran kami, seperti sedang berjalan di atas es yang tipis.” Berjalan di atas es yang tipis? Ketika saya memikirkannya, itu dapat menggambarkan keseluruhan hidup saya yang mungkin telah begitu tinggi ketika harus dikembalikan pada titik tersebut. Bukankah kehidupan saya ini telah berjalan begitu cepat seolah-olah saya bersikap datar, selalu berjalan di atas jalan rata, melupakan atau mengabaikan tekanan-tekanan yang tidak nyaman?
Sujud Karena para peserta datang dari berbagai penjuru dunia, sebagian besar program kuil dimulai pada sore hari. Kegiatan yang telah dijadwalkan tergolong ringan. Kami minum teh dengan para biksu dan harus membiasakan diri dengan busana biksu yang kami kenakan. Setelah itu, kami diminta untuk menyiapkan makan malam dengan berjalan melalui pohon-pohon pinus wangi yang usianya telah berabad-abad di Gunung Taehwa. Setelah makan malam dengan gaya prasmanan (buffet), kami belajar “sujud,” sebuah latihan singkat untuk melakukan ibadah pagi. Hal yang pertama-tama dilakukan untuk bersujud adalah dengan menempelkan lutut ke tanah, kemudian merendahkan kedua lengan bersamaan serendah mungkin, sehingga dahi menyentuh tanah. Kami sering melihat tindakan itu di TV, namun sebagian besar dari kami sebenarnya baru melakukan itu untuk pertama kali. Ada sebuah kesalahpahaman umum bahwa sujud hanya dilakukan dengan lengan yang dikencangkan dengan posisi menyilang seperti yang dilakukan oleh umat Buddha di Tibet. Dalam hal ini, tindakan pendeta Katolik sebelum adanya salib sebagai simbol, tidak jauh berbeda dengan sujud yang dilakukan oleh umat Buddha. Ketika seorang biksu bermain kata dalam bahasa Korea, mereka
Keluarga yang berpartisipasi dalam program tinggal di kuil di Kuil Donghwa ketika beristirahat di beranda Pedepokan Stupa.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
berkata, “Kami menyebutnya kuil [jeol] karena kami banyak bersujud [jeol],” maka ia tidak bergurau. Tikar yang direntangkan di atas lantai terlihat telah dilapisi oleh jumlah sujud dengan lutut dan sikut yang tak terhitung. Sujud adalah sebuah tindakan merendahkan diri sendiri kepada sesuatu yang tidak terbatas; ini merupakan proses untuk menemukan diri kita yang sebenarnya yang tersembunyi di balik kesombongan dan kepura-puraan, segala kegelisahan dan ketakutan. Di kuil, tidur pun menjadi bagian dari latihan: meditasi sambil berbaring. Anda tidur dengan tenang dengan tangan melipat di bawah perut, merasakan nafas yang masuk dan keluar mengaliri tubuh Anda. Dengan cara ini Anda dapat melihat ke dalam pikiran Anda sendiri untuk melihat apa yang Anda pikirkan. Biksu berkata pada kami, jangan pernah membunuh kegelisahan terhadap dunia yang membanjiri kita ketika kita terbaring di kegelapan di kuil gunung yang sunyi ini, namun, sederhananya, hadapilah mereka. Kesunyian merayap sejak Anda berbaring hingga saat Anda menyelesaikan sarapan pagi di keesokan harinya. Anda tidak dapat melihat tanda dari orang lain atau sebaliknya. Cara ini dilakukan agar Anda dapat melihat lebih dalam ke dalam benak Anda sendiri. Di suatu tempat, seseorang sedang mendengkur pelan.
Ibadah Pagi Jam tiga lebih tiga menit di pagi hari, saya bangun untuk mendengarkan ikan-ikanan yang terbuat dari kayu yang tergantung mencoba mengusir kegelapan fajar. Setiap orang kemudian bangun, melipat alas tidur mereka, dan bersama-sama bersiap di depan lonceng kuil. Tidak ada suara ataupun saling memandang. Biksu bersiap membunyikan gong dan berdiri di depan drum kuil. Setelah itu dia akan membunyikan drum yang sangat besar, jauh lebih besar daripada dirinya sendiri, untuk membangunkan semua makhluk hidup yang masih tertidur di kegelapan. Suara drum memecah udara pagi dan menggema di Gunung Taehwa yang mengitari kuil. Bulan masih bersinar terang di atas pohon cemara yang tumbuh di Jembatan Surga. Ketika lonceng berbunyi 33 kali, kami berjalan dengan cepat, seperti angsa menuju ruang utama. Setelah ibadah singkat, kami bersujud 108 kali sambil membunyikan lonceng bambu. Seorang biksu berkata pada kami untuk terus mencari dalam benak kami masing-masing ketika kami sedang bersujud. Sayangnya, yang terjadi pada saya adalah ketika nafas saya semakin berat dan lutut saya mulai luka, saya tidak dapat memikirkan apapun. Kami menyelesaikan sujud lebih awal daripada yang saya pikirkan dan berlutut di lantai, sayangnya saya masih merasa kurang nyaman dan berpikir bahwa saya masih akan melalui hal-hal yang sulit. Setelah ibadah pagi, saya menggoyang-goyangkan kaki saya dan berjalan-jalan ringan di depan kuil. Tentu saja masih dalam kesunyian. Ketika saya berjalan menyeberangi batu-batu tajam yang ada di dalam arus dan sejalan dengan tebalnya alang-alang, saya mendengar suara kehidupan yang bangkit yang berasal dari surga maupun bumi. Pikiran dan tubuh saya nampakya bereaksi bahkan pada stimulus yang sangat kecil sekalipun, jauh lebih peka daripada saat saya berada di kota.
19
Perjalanan Berkeliling Kuil Dalam waktu singkat kuil sudah menjadi lebih terang. Kuil di pegunungan sudah diramaikan dengan suara burung-burung bernyanyi. Suara aneh “rat-tat-tat-tat” terdengar di sana-sini. Apakah itu suara penggalian ke dalam bumi? Segera saya mengamati asal suara dengan baik. Ternyata itu adalah suara woodpecker, seekor burung yang sering saya lihat di kartun sewaktu saya masih anak-anak. Saya melihat sekeliling dengan seksama, sayangnya saya tidak dapat melihat burung itu hinggap di pohon; saya hanya melihat kepakan sayapnya ketika dia pergi. Setelah sarapan pagi, ketika saya akhirnya diizinkan untuk membuka mulut kembali, biksu membimbing kami berkeliling kuil yang usianya telah mencapai 1000 tahun. Kuli Magok berdiri dengan indahnya di sebuah lembah. Bangunan ini dikelilingi oleh aliran air yang berasal dari Sungai Taehwa. Di satu sisinya, kumpulan bangunan sederhana digunakan untuk berlatih, sementara di sisi yang lain dikhususkan sebagai tempat untuk berdoa. Inilah yang merangkai Kuil Magok sebagai bagian dari kuil lainnya. Jalan masuk ke Kuil Magok cukup dekat namun harus melewati lembah yang berkelok-kelok. Sebelum akhirnya tiba di Gerbang Pencerahan – gerbang Utama – dan setelah itu Gerbang Empat Penguasa Surga. Setelah kami melewati Gerbang Pencerahan sebagai Gerbang Utama kami melewati sejumlah kecil koleksi stupa kemudian berkeliling melihat Aula Puncak Burung Nasar sebelum akhirnya melewati Gerbang Empat Penguasa Surga, menyeberangi Jenbatan Surga dan tiba di Precious Hall of Great Light, tempat bersemayamnya Buddha Vairocana. Selebihnya terdapat Great Hero Hall yang didedikasikan untuk Buddha Sakyamuni, sebuah tempat untuk pemujaan yang dilakukan tiga kali sehari. Kuil tempat menginap para peserta terletak di sebelah Precious Hall of Great Light (Daegwangbojeon). Dengan “harta nasionalnya” dan sejumlah properti budaya lainnya, Kuil Magok menjadi salah satu daerah yang menarik di lembah pegunungan, tempat banyak ruangan kuil dan pagoda dikelilingi pohon pinus dan ceri yang lebat.
Adegan praktik selama mengikuti program tinggal di kuil: peserta belajar ritual di kuil seperti gerakan seluruh tubuh membungkuk (1), mengelilingi pagoda (2), dan ritual waktu makan (3), mereka datang bertatap muka dengan mata batin mereka sendiri.
Ritual Waktu Makan Makan siang artinya makan sebanyak empat mangkok (baru gongyang). Di kuil, makan sekalipun dianggap sebagai bagian dari latihan. Kami meletakkan tangan kami bersama pada lonceng bambu kemudian menyusun empat mangkok di depan kami sesuai dengan ukurannya. Hal pertama yang kami lakukan adalah menuangkan air untuk mencuci semua mangkuk hingga yang terkecil, kemudian kami mengisi mangkuk yang ada dengan sop, nasi, kimchi, dan sedikit makanan cemilan. Porsinya disesuaikan dengan kebutuhan makan kita. Ada satu hal yang perlu dilakukan sebelum makan. Kami mengambil sedikit kimchi, kemudian celupkan ke dalam sop, dan meletakkannya di samping mangkuk nasi. Setelah itu kami diizinkan makan dengan suara sumpit yang sekecil mungkin – dan tentu saja tidak boleh bicara– dan ketika selesai, kami menuangkan air ke dalam mangkuk nasi untuk membersihkan nasi, sop, dan makanan cemilan sembari membersihkan kimchi. Kemudian kami makan kimchi tersebut dan minum. Tapi ini bukanlah bagian akhir. Kami harus mencuci semua mangkuk dengan air yang ada di mangkuk terkecil. Dua pertiga air tersebut dibuang, sisanya diisi dengan bumbu-bumbu dan sisa nasi, lalu diminum.
Epilog Program menginap di kuil berbeda-beda bergantung pada siapa pesertanya. Meski begitu, bagian yang paling berkesan bagi saya adalah program “melihat ke dalam pikiran” pada hari pertama dan berjalan di pegunungan dengan kaki telanjang pada hari kedua. “Melihat ke dalam pikiran” adalah ketika masing-masing peserta memperkenalkan diri mereka dengan singkat dan berbicara dengan jujur tentang pengalaman yang paling sulit atau tentang keinginan yang begitu ingin
Lokasi Kuil Magok terletak di Unam-ri, Sagok-myeon, Gongju, provinsi Chungcheong Selatan (www.magoksa.or.kr). Untuk mencapai kuil, Anda dapat naik Expressway 1 dari Seoul menuju Busan. Selanjutnya Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan Cheonan-Nonsan Expreeeway di pertigaan Cheonan. Turun di perempatan Jeongan dan kemudian menuju Local Road 604 sejauh kurang lebih 15 menit; tanda Kuil Magok ada di sebelah kiri jalan. Fasilitas Sebagian besar kuil yang memiliki program menginap menyediakan sebuah tempat untuk tinggal. Fasilitas yang disediakan berbeda satu sama lain bergantung pada kuilnya. Fasilitas yang disediakan Kuil Magok termasuk pada pengecualian. Terdapat sebuah kafetaria besar yang menyediakan makanan untuk kuil dengan gaya prasmanan, begitu juga dengan alat mandi modern yang dilengkapi dengan flush toilets . Tempat tidur lelaki dan perempuan dipisahkan dengan memberikan fasilitas sebuah ruang besar untuk masing-masing kelompok. Setiap ruangan dilengkapi dengan penghangat dan alas tidur yang bersih. Hanya saja, ruangan besar yang digunakan kelompok untuk berbagi tidur itu sedikit kurang nyaman bila dibandingkan dengan yang ada di Kuil Geumsan dan Kuil Naeso, yakni sebuah tempat yang dapat digunakan hingga lima orang bersama-sama. (Website berbahasa Inggris untuk program menginap di penjuru Korea di kelola oleh Cultural Corps of Korean Buddhism of the Jogye Order of Korean Buddhism. Semua itu dapat dilihat pada http://eng.templestay.com/.)
20
Seoul
Gunung Museong Magok Kuil
Cheonan JC Jeongan IC Gongju
Gunung Chilgap
Bus Ekspres Bus Antarkota
S e n i & B u d a y a Ko re a
“ Jika berpartisipasi dalam program tinggal di kuil, Anda akan meninggalkan hasrat meraih kepentingan pribadi. Semakin kuat tekad itu sebelum Anda datang, semakin dekat Anda meraihnya.� 1
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
2
21
3
1
2 ©Jogye Order of Korean Buddhism_Cultural Corps of Korean Buddhism
dicapai. Proses berbagi dengan diri sendiri di alam pikiran nyatanya mampu menyebabkan kami dapat melihat lebih jauh ke dalam pikiran kami. Berjalan kaki dengan telanjang kaki di pegunungan merupakan sebuah proses meditasi. Berjalan mengikuti jalur yang telah ada di Gunung Taehwa hanya dilakukan selama dua jam. Tetapi, ini bukanlah sebuah perjalanan serius dari awal hingga akhir. Setelah melakukan meditasi sepanjang perjalanan, kami berbicara tentang banyak hal yang belum pernah kami bagi bersama, berbincang, dan tertawa seperti anak-anak yang sedang melakukan perjalanan piknik. Perjalanan itu terdiri atas bagian yang datar dan terjal, bagian berbatu, tapi kami sama sekali tidak keberatan; ini justru saat bagi kami untuk meng-
1. Di Kuil Tongdo, meditasi hutan merupakan bagian dari program menginap di kuil. 2. Meracik teh di Kuil Geumsan. 3. Menyertai ibadah adalah ritual paling penting dari program tinggal di kuil.
3
22
endalikan pikiran dan pernafasan kami agar dapat bersatu dengan alam. Setelah berhasil melewati gerbang terakhir, ketika meninggalkan kuil keesokan harinya, saya berpikir tentang sesuatu yang dapat saya ungkapkan ketika saya menyelesaikan program tersebut. “Agama Buddha adalah sebuah paham yang tidak membatasi. Kami menyebutnya dengan ‘kekosongan’. Kami menerima siapapun tanpa melihat latar belakang. Ketika Anda mengikuti program menginap di kuil, Anda diminta untuk mengabaikan keinginan untuk meraih sesuatu bagi diri Anda sendiri. Semakin Anda mengabaikannya, semakin banyak yang akan Anda dapatkan.” Saya tidak tahu berapa malam yang perlu saya habiskan di bawah atap kuil untuk membersihkan semua debu yang telah ada dalam benak saya selama 30 tahun menjalani hidup, lapis demi lapis, tapi paling tidak, saya memutuskan untuk mencobanya program ini kembali di masa depan.
S e n i & B u d a y a Ko re a
Program Menginap di Kuil di Seoul Kuil Hwagye Kuil ini tidak jauh dari perem-
berlatih sujud sebanyak 108 kali. Di akhir program ini, para peserta akan diajak untuk minum patan Suyu. Bentuk gerbang depannya cukup teh bersama para biksu dan akan ditanya mengememikat. Di belakang gerbang depan, terdapat nai tujuan meditasi yang telah dilakukan. banyak pohon oak, elm, dan zelkova yang berfungsi mendinginkan jalan yang dilalui orang Telepon: 02-3672-5945 dengan bayangannya. Hanya dengan melihat Website: www.kilsangsa.or.kr air yang mengalir dari Gunung Samgak, yang Petunjuk: Dari pintu keluar keenam Stasiun Unimembentang di belakang kuil, sungai ini memversitas Hansung, pada jalur No. 4 terowongan bawa rasa damai bagi pikiran. Didirikan oleh bawah tanah, naiklah bus kota No.2 atau 3 kemuseorang Biksu Tanmon bernama Goryeo pada dian turun di depan komplek Seonjam. Kuil ini abad kesepuluh, kuil ini melestarikan sejarah dan berjarak sekitar lima menit dari komplek. tradisi Buddha yang tercermin melalui makam orang suci dan lonceng kuilnya. Para peserta yang menginap di kuil mendapatkan pelayanan Kuil Bongeun Ini adalah kuil berusia seribu penyambutan di sebuah halaman luas di dekat tahun yang dikelilingi oleh dataran tinggi Sampintu masuk, alih-alih pada aula yang semseong-dong di Gangnam, sebelah selatan Seoul. pit, dan mereka berlatih meditasi Seon di lantai Tempat ini ditemukan oleh Biksu Besar Yeonhoe empat International Zen Center. Banyak petapa dari Kerajaan Silla pada abad kedelapan. Kuil ini dari berbagai negara tinggal di sini dalam jangka juga merupakan sebuah tempat ujian para biksu waktu yang lama, sehingga salah satu program di zaman Dinasti Joseon. Bila Anda berjalan kaki Patung Kuil Gilsang dari Avalokitesvara mengingatkan menginap di kuil difokuskan pada proses medisepanjang jalur dari aula utama menuju tempat pada Bunda Maria. tasi sehari penuh. Program ini melibatkan para penyimpanan sutra, Anda akan melihat banyak petapa, kegiatan kelompok, meditasi, dan berorang berdoa di Aula Maitreya yang di dalamnya jalan. Program berjalan yang mengambil tempat menempuh perjalanan terdapat banyak patung Buddha masa depan. Sedikit ke atas jalur tersebut, berkelok melewati lembah rindang dan melibatkan proses Tanya jawab tepatnya di belakang tempat penyimpanan arsip, terdapat pusat meditasi hwadu. Program ini cukup terkenal. Seon, tempat dimana program menginap di kuil diselenggarakan. Program menginap semalam di kuil tetap diselenggarakan meskipun peserta yang Telepon: 02-909-2663 Website: www.hwagyesa.org mendaftar hanya berjumlah sepuluh orang atau lebih sedikit. Program ini Petunjuk: Dari gerbang keluar ke-3 Stasiun Suyu, pada jalur 4 terowongan biasa dimulai pada pukul 2:00 sore setiap Kamis dalam rangka mengizinbawah tanah, naiklah bus nomor 2 menuju Kuil Hwaye. kan para peserta agar memiliki pengalaman hidup di kuil. Program menginap meliputi prosesi makan empat mangkuk, meditasi, ibadah, dan proses Kuil Gilsang Berlokasi di Seongbuk-dong, sebuah permukiman di membuat olesan untuk lemari kayu untuk menyimpan sutra. Para biksu dapat berkomunikasi dengan bahasa asing dan bagi para peserta yang pusat kota Seoul, Kuil Gilsang adalah sebuah kuil terbuka bagi seluruh beragama Buddha serta memiliki wawasan yang baik mengenai agama penduduk. Tidak ada gunanya mendaki tangga ketika Anda dapat meliBuddha, kuil ini membuka kesempatan untuk menjadi relawan sebagai hat Buddha di kejauhan. Hanya dengan melalui beberapa pohon zelkova, asisten dalam program tinggal di kuil, baik yang ditujukan untuk peserta kita kemudian dapat melihat sebuah halaman yang luas dengan Paradise dalam negeri maupun luar negeri. Hall (Geungnakjeon). Di belakang aula utama terdapat sebuah jalan yang rindang yang akan membawa kita menuju asrama para biksu dan PaviTelepon: 02-545-1448 lion Portrait, yakni sebuah makam dengan perwujudan pilar spiritual Website: www.bongeunsa.org yang didedikasikan untuk biksu Beopjeong yang meninggal pada tahun Petunjuk: Dari pintu keluar 2010. Keindahan Gunung Bugak, yang membuai kota Seoul, terbentang Kuil Hwagye jalur 6 Stasiun Samseong, di kedua sisi kuil ini. Hal ini jugalah yang membuat kuil ini sangat dikenal di jalur bawah tanah oleh penduduk lokal sebagai tempat untuk berjalan kaki. Tidak seperti kuil Kuil Gilsang No.2, jalan lain yang telah berusia ribuan tahun, kuil ini ditemukan pada tahun 1995, lurus hingsetelah sebelumnya sempat berfungsi sebagai salah satu restoran kelas atas ga 100 meter terkenal; pemiliknya, seorang mantan gisaeng mendonasikan propertinya menuju tower pada tahun-tahun terakhir hidupnya. Program menginap di kuil digelar ASEM. Pintu masuk secara teratur pada hari akhir pekan setiap bulan. Ini merupakan sebuah Kuil Bongeun Kuil Bongeun ada program menginap semalam yang di dalamnya terdapat program delapan di seberang jalan jam melakukan meditasi Seon menggunakan hwadu, berlatih menggunaTower ASEM. kan potongan bambu dengan ritmik tertentu, berlatih untuk diam, dan Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
23
Fitur Khusus 4 Kehidupan Keseharian di Kuil Buddha
Pekerjaan Dapur di Komunitas Bhikkhuni Terbesar di Korea Kuil Unmun secara ketat menjunjung prinsip “Satu hari tanpa pekerjaan adalah satu hari tanpa makan�, yang menekankan pentingnya kerja produktif dalam keseharian hidup para penganut Buddha. Para bhikkhuni pemula mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, termasuk menyiapkan makanan harian bagi hampir 200 orang, dan bahkan menanam sendiri biji-bijian dan sayuran mereka. Kim Young-ock, Penulis Lepas | Ha Ji-kwon, Na Sang-ho Fotografer
24
S e n i & B u d a y a Ko re 1a
2
S
etiap kuil memiliki sebuah struktur tradisional yang disebut Iljumun, secara harfiah artinya adalah “gerbang dengan satu pilar� yang lebih sering diterjemahkan sebagai Gerbang yang Tiada Duanya. Gerbang pertama menuju kuil berdiri di antara dunia fana dan pembatas kuil. Sebenarnya nama gerbang itu tidak sesuai dengan keadaannya. Gerbang itu memiliki banyak pilar yang berdiri berjajar dalam satu barisan horizontal. Beberapa orang menyatakan bahwa nama gerbang itu berasal dari ajaran agar setiap orang yang memasuki kuil melalui gerbang itu menyatukan pikiran dan mengosongkan hati mereka dari hasrat duniawi untuk mencari kebenaran. Kuil Unmun atau Kuil Gerbang Awan berlokasi di Cheongdo, Provinsi Gyeongsang Utara di daerah bagian selatan Korea, dibangun sekitar 1.500 tahun yang lalu. Biara besar untuk para bhikkhuni ini juga memiliki gerbang satu pilarnya sendiri. Namun fungsi pembatas antara dua dunia yang berbeda disimbolkan oleh deretan pohon pinus yang besar, tinggi, dan menjulang lurus di pintu masuk menuju halaman kuil. Pepohonan yang spektakuler tersebut mempunyai kekuatan untuk membebaskan pikiran orang yang melihatnya dari permasalahan hidup. Konon, ada seorang wanita yang sangat terinspirasi saat melihat para biarawati mengenakan jubah warna kelabu berjalan keluar dari hutan pinus itu, sehingga ia pun melepaskan kehidupan keduniawian untuk menjadi seorang umat yang taat.
juga berfungsi sebagai seminari, tempat naskah-naskah suci diajarkan dan diteliti. Kuil ini memiliki 200 biarawati yang tinggal di sana dan sekitar 150 orang dari mereka adalah pelajar sekolah biara tersebut. Dari jumlah pelajarnya, kuil ini tidak hanya menjadi sebuah sekolah bhikkhuni terbesar di Korea namun juga di seluruh dunia. Salah satu tradisi sekolah biara yang masih dilaksanakan di kuil bersejarah ini ialah berlatih sehari penuh, yang mewajibkan para murid untuk melaksanakan kegiatan biara sepanjang waktu. Para biarawati pelajar menghabiskan empat tahun di kuil tersebut, sambil menempuh pendidikan wajib sebelum menjadi seorang biarawati yang ditahbiskan. Sepanjang periode menjalani hidup bersama, mereka membaca naskah agama dan mempelajari ritual-ritual untuk mempersiapkan diri di jalan hidup menyepi yang keras. Setiap hari, sejak pukul 3 pagi, mereka berkeliling Aula Utama Darma sambil melantunkan doa-doa diiringi suara gong kayu untuk menyucikan halaman sebelum ibadah dini hari. Setelah ibadah pagi, mereka bermeditasi atau belajar di ruangan masing-masing hingga waktu sarapan tiba. Mereka belajar di kelas selama dua jam sejak jam 2 sore, dan belajar lagi selama berjam-jam setelah ibadah malam hingga pukul 9 malam saat rutinitas harian sudah diselesaikan. Sesi malam hari terdiri atas diskusi, metode ajaran tepat waktu, dan persiapan untuk
Ordo Bhikkhuni dan Kuil Unmun Kuil Unmun bukan hanya sekadar kuil namun Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
3
1, 2. Para siswa biarawati sedang melaksanakan kerja bakti. 3. Sebuah jalan sunyi, memotong melalui hutan pinus yang lebat, mengarah ke Kuil Unmun.
25
hari selanjutnya. Melihat jadwal yang ketat itu, seorang pelajar berkata sambil tersenyum, “Di sini, Anda dapat melakukan 84.000 tugas dalam satu menit!” Buddhisme Korea telah mewariskan sesuatu yang istimewa bagi sejarah kaum Buddhist dengan pelestarian kuil yang berkelanjutan dan semangat hidup biara tersebut. Ordo Bhikkhuni di sana meninggalkan warisan bernilai tinggi dalam bentuk latihan disiplin yang ketat, maka tak terbantahkan jika ordo ini menjadi sebuah komunitas biara kaum wanita Buddha terbesar di dunia. Menurut sebuah cerita, Kuil Unmun dibangun pada tahun 557 oleh seorang biksu Kerajaan Silla yang mendapat pencerahan setelah mempraktikkan hidup bertapa selama bertahun-tahun dalam sebuah gubuk di Geumsu-Dong, Gunung Hogeo, atau “Gunung Harimau Mengaum”. Kuil ini mulanya adalah sebuah biara untuk biksu pria, kemudian sekolah biara pertama untuk wanita di Korea dibangun di tempat ini tahun 1958. Yang Dimuliakan Myeongseong, yang saat ini menjadi biarawati tertua di kuil tersebut, ditunjuk menjadi Guru Besar pada 1970. Sejak 1977 ia menjabat selama 20 tahun baik sebagai biarawati kepala asrama di kuil maupun kepala pengajar di sekolah tersebut. Pada waktu itu, ia menata ulang kompleks kuil dan sekaligus mendidik sejumlah besar biarawati pelajar pada waktu yang sama.
bakau liar, dan bayam. Tanaman pangan yang tumbuh saat ini di Kuil Unmun sedikit berbeda dari daftar tanaman pada masa China Kuno. Bahwa kuil ini telah mempelajari ajaran Baizhang Huaihai dengan sepenuh hati ialah sebuah kenyataan yang membedakannya dari kuil Buddha Korea yang lain.
Ritual Waktu Makan
Setiap kegiatan yang dilaksanakan di kuil merupakan latihan spiritual. Terpisah dari ibadah melantunkan sutra bagi Buddha, ritual waktu makan tentunya merupakan ritual Buddhis yang paling simbolis karena memuat beragam makna yang sangat dalam. Seluruh petapa di kuil berkumpul di sebuah aula besar, mengenakan jubah tertutup, untuk makan dalam keheningan. Ritual makan dimulai dengan suara kentongan bambu. Pertama-tama, mereka mengambil makanan dalam empat mangkuk terpisah yang berbeda ukuran. Setelah menyantap seluruh isi empat mangkuk tersebut, mereka membilas masing-masing mangkuk dengan air yang setelah itu mereka minum. Proses ini dilakukan berulang beberapa kali sebelum mangkuk dikeringkan dengan kain dan ditumpuk. Empat mangkuk yang sebelumnya terpisah disatukan kembali dalam satu susun setelah selesai makan. Dari ritual ini para pemula belajar tentang kesederajatan, kecermatan, kemurnian, kesederhanaan, pengetahuan, dan tentang Menanam Tanaman Pangan Enam Kesesuaian, antara lain, 1 Kuil ini memiliki kebijakan prokesesuaian tubuh, perkataan, piki1. Kuil Unmun, rumah bagi sekitar 200 biarawati yang tinggal di sana, terletak di duksi swasembada pangan. Pekerran, moralitas, dan distribusi makatengah hutan lebat Gunung Hogeo atau “Gunung Harimau Berjongkok.” 2, 3. Dapur dikelola oleh para siswa biarawati. Mereka mempersiapkan daun teh (2) jaan memberi makan sebuah nan. dan nasi di atas tungku perapian kayu di bawah kuil untuk dewa dapur (3). komunitas besar dimulai pada Di setiap waktu makan, para awal musim semi, saat para pelapetapa mengingatkan diri mereka jar biara tahun kedua bertanggung jawab untuk bertani. Sepanjang akan pentingnya ritual dengan melantunkan doa sebelum makan yang waktu panen yang sibuk di musim gugur, para pelajar bahkan bisa dinamakan “Lima Tahap Pengetahuan” yang dimulai dengan pertabekerja lima jam sehari dengan bergotong-royong (ullyeok). nyaan, “Dari mana makanan ini datang?”. Nilai-nilai kebenaran di kuil Baizhang Huaihai (720-814), seorang guru Zen dari China yang tidak berhenti di kuil saja. Makanan di kuil dan cara menyiapkan serta membuat survei mendalam tentang organisasi dan lembaga Zen China menikmatinya telah membuat kagum bukan hanya orang Korea, tetapi dalam rangka menyusun tradisi Buddhisme China, menekankan penbanyak orang di seluruh dunia. tingnya pekerjaan yang produktif bagi orang yang sedang berlatih spiriPengaturan Dapur tual. Ia sendiri terus bekerja di ladang bahkan sampai masa lanjut usia. Khawatir tentang kesehatan guru mereka, murid-muridnya suatu hari Dapur di halaman belakang kuil dan segala urusannya menjadi menyimpan jauh-jauh cangkul sang guru, sehingga sang guru menolak tanggung jawab para pelajar tahun ketiga. Mereka bekerja sama untuk ikut makan bersama. menyiapkan makanan di bawah pengarahan dari kepala administrasi Saat mereka mengembalikan cangkul itu, sang guru meninggalkan (wonju) yang menangani urusan rumah tangga umum. Kepala adminissebuah peribahasa terkenal, yakni “Satu hari tanpa bekerja ialah satu trasi ini dibantu oleh petugas muda (byeoljwa), yang menyusun menu hari tanpa makan”. Jenis-jenis sayuran yang disarankannya untuk ditadan memasak. Karena harus menyediakan menu vegetarian secara nam para murid sepanjang tahun terbagi atas empat periode, termaketat, sumber protein yang penting berasal dari kuah sari biji-bijian suk selada hijau, terong, labu, mentimun, bunga matahari, lobak, tembaik yang disumbangkan oleh orang awam maupun yan dibeli, karena
26
S e n i & B u d a y a Ko re a
makanan ini sangat sulit untuk dibuat dengan tangan. Kecambah, yang harus sering disiram untuk memastikannya tumbuh tinggi tanpa akar, ditanam di dapur kuil. Halaman belakang kuil sangat sibuk sejak pukul 4 pagi, setelah ibadah hingga pukul 6 pagi, saat sarapan disajikan. Berdoa kepada Dewa Dapur (jowang) adalah sebuah kebiasaan yang dipraktikkan oleh para petapa dan menempatkan manusia sederajat dengan roh halus. Hal ini dipercaya dapat menyingkirkan kesialan dan membantu anggota keluarga agar tetap sehat. Kebiasaan harian ini menandakan pentingnya menjaga dapur sebagai sebuah tempat di mana makanan seharhari dimasak. Di Kuil Unmun, para biarawati membasuh mulut dan tangan mereka dan bersujud di hadapan Dewa Dapur sebelum memasuki dapur setiap pagi. Persembahyangan bulanan juga dilakukan dalam skala yang lebih besar. Pagi-pagi sekali pada hari terakhir setiap bulan pada penanggalan Bulan, lontong berlapis kacang merah tumbuk dipersembahkan di depan altar pada kompor kayu bakar di Aula Emas, bangunan tertua di kuil ini. Ritual waktu makan diselenggarakan pada saat sarapan dan seluruh anggota komunitas ikut membantu. Pada saat makan siang dan makan malam, enam atau tujuh orang makan bersama dalam meja yang sama. Peraturan yang sudah berumur sangat tua tentang perencanaan menu ini menyarankan penggunaan bahan pangan sesuai musim, menghindari terlalu banyak garam dan minyak, serta melarang pemakaian lima sayuran berbau tajam, termasuk bawang putih, bawang muda, dan daun bawang liar, yang diperkirakan dapat mengganggu pikiran. Pemakaian minyak diperbolehkan tiga kali sebulan, sewaktu mencukur rambut. Pengguntingan rambut ini menyimbol dibuangnya emosi dan khayalan yang merusak, sehingga diperlukan keberanian untuk melakukannya. Saat ini menu makanan yang disajikan termasuk makanan berlemak, seperti beras ketan yang dimasak bersama kacang merah, kacang mede, kurma, kacang pinus, dan bumbu lainnya (chalbap); sup rumput laut (miyeokguk) dengan jamur, jamur hitam goreng kering dengan saus (mogi-beoseot tangsu); mie bening dan sayuran tumis (japchae); ubi kayu goreng kering diselimuti dengan sirup gula (matang). Menu makanan disusun berdasarkan bahan-bahan yang tersedia, baik yang tumbuh di kuil atau yang disumbangkan, dan tidak terbatas pada makanan tradisional. Biarawati pelajar yang baru memiliki sedikit pengalaman seringkali kesulitan untuk menelan sarapan mereka, bahkan saat makanan sudah dimasak hingga halus untuk memudahkan pencernaan. Kesulitan mereka datang dari perubahan radikal dalam rutinitas harian setelah mengikuti tata tertib biara. Dalam hari-hari bertani, saat semua petapa ikut ambil bagian, mereka biasa mengonsumsi makanan ringan, seperti mi, lontong, atau roti. Saat merasa lapar di antara waktu makan, mereka menyantap lontong yang telah dipadatkan dari sumbangan orang awam, memotongnya menjadi bagian-bagian yang tebal yang dimasak ke dalam saus cabai pedas untuk membuat tteokbokki. Kadang mereka membuat semacam pizza menggunakan nasi yang telah matang sebagai adonan pokoknya dan segala jenis sayuran sebagai bahan isiannya. Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
2
27
3
Nilai-nilai kebenaran di kuil tidak berhenti di kuil saja. Kuliner kuil dan cara menyiapkan serta menikmatinya telah membuat kagum bukan hanya orang Korea, tetapi banyak orang di seluruh dunia, dengan makna spiritual yang kental pada cara makan yang khidmat.
Kehidupan komunal di kuil cenderung membuat para penghuninya rentan terhadap penyakit infeksi. Saat flu atau demam merebak, mereka minum sup panas yang dibuat dari kecambah, lobak, dan sejenis jamur bernama neungi (Sarcodon aspratus), dipetik dan dikeringkan pada saat musim gugur. Teh kayu manis dan teh jahe juga diketahui dapat melegakan gejala demam. Pada beberapa kuil lain, demam disembuhkan dengan cairan kekuningan yang didapatkan dari perendaman kecambah dalam sirup biji-bijian pada suhu yang hangat selama beberapa hari. Di sini, bahan-bahan untuk teh tidak terbatas pada dedaunan saja. Akar segel Salomo (Polygonatum officinale All), lobak, artichoke, dompet gembala, kurma, serta segala akar-akaran yang tumbuh di kuil atau dipungut dari pegunungan dapat dikeringkan dan disajikan sebagai teh. Sebuah pepatah tua mengatakan “Sebutir biji beras ialah sebuah hasil dari tujuh geun (sekitar 9 pon) keringat petani”. Dalam semangat ini, sampah dapur kuil digunakan untuk menghasilkan makanan lagi bagi tahun selanjutnya. Dicampur dengan dedaunan yang gugur, rerumputan, serbuk kayu gergaji dari pekerjaan merenovasi kuil, ditambah abu dan kotoran manusia, sisa-sisa makanan ini difermentasikan selama satu tahun dan diubah menjadi pupuk.
Tradisi dan Modernisasi Sebuah wadah bumbu yang dikelompokkan menurut jenis-jenisnya menjadi pemandangan unik yang indah di kuil ini ketika cahaya matahari menyinari mereka. Wadah besar maupun kecil diberi tanggal dan label dengan rapi -- adonan kedelai, pasta cabai merah, saus kecap, cuka buah persik, garam, dan sebagainya. Tampilan lain yang mengesankan dari dapur kuil ini ialah kuali besi besar yang digunakan untuk merebus kacang kedelai untuk membuat adonan kedelai, atau memasak nasi dan sup bagi orang-orang yang hadir pada acara besar di
kuil. Makanan yang dimasak di kuali itu memiliki rasa yang dalam dan tampilan elegan, yang tidak mudah dihasilkan dengan alat-alat dapur modern. Hal lain yang patut diamati ialah bangunan gudang di sisi sungai yang mengalir di samping kuil. Salah satunya memiliki alat pendingin berisi kimchi buatan para biarawati dari ribuan kubis setiap musim dingin, dan bubuk cabai merah, salah satu bumbu pokok masakan khas Korea. Gudang-gudang yang bersih dan kering karena memiliki lubang udara yang baik digunakan untuk menyimpan sayuran dari setiap musim gugur -- seperti cabai merah, kacang kedelai, biji wijen, biji perilla, zucchini, dan schisandra -- juga rumput liar beraroma wangi dari pegunungan, termasuk spesies lada gunung yang dinamakan sancho (Z. schinifolium) atau jepi (Z. piperitum) bersama dengan tanaman obat. Gudang yang lebih dingin dipakai untuk menyimpan sayuran yang diawetkan dalam saus kecap, pasta cabai merah, ataupun cuka, dengan menggunakan lobak, paprika hijau, deodeok (Codonopsis lanceolata), buah plum hijau, akar teratai, jamur, dan akar perilla. Bahanbahan pokok ini disiapkan dan dikumpulkan dengan rapi, memperlihatkan betapa besar komunitas yang mesti diberi makan oleh dapur di kuil. Salah satu gudang penyimpanan makanan memiliki beberapa kumpulan alat yang sedang dijemur, disandarkan pada satu baris di dinding --- cangkul-cangkul, sapu lidi yang tinggi, keranjang sayuran, bangku-bangku rendah, dan sepatu bot karet, sebuah pemandangan yang membuat seseorang tersenyum dan tersadar dalam waktu bersamaan. Pepatah Buddhis mengatakan, “Hati-hati terhadap hal yang ada di bawah kakimu”, yang juga diterjemahkan sebagai “Hati-hati terhadap tingkah lakumu,” tercermin tidak hanya dalam sepatu karet putih yang ditata rapi di depan Aula Dharma, namun juga peralatan yang digunakan di sekitar dapur.
1. Balok-balok untuk fermentasi kedelai (meju ) dikeringkan di bawah sinar matahari. Balokbalok itu digunakan untuk membuat saus dan pasta kedelai yang akan dikonsumsi di kuil sepanjang tahun. 2. Ritual waktu makan adalah praktik ketat yang dilakukan dalam keheningan.
1
28
S e n i & B u d a y a Ko re a
2
Tidak ada yang tahu seberapa lama lagi cara hidup tradisional para bhikkhuni ini akan bertahan. Perubahan zaman akan mensyaratkan sekolah biara untuk mengajarkan berbagai macam disiplin ilmu, sementara jumlah biarawati yang telah ditahbiskan terus menurun. Rata-rata umur bhikkhuni sewaktu penobatan menjadi makin tua (saat ini, di akhir usia 30-an). Karena hanya beberapa pelajar saja yang berpengalaman bekerja dengan ketat, menyiapkan makanan di dapur atau bertani di ladang seluas hampir 5 hektar tentunya sangat berat bagi mereka. Untuk menyesuaikan dengan kecenderungan ini, Kuil Unmun merencanakan untuk membangun dapur baru yang dilengkapi dengan tempat mencuci piring, kompor gas, dan alat masak modern ketimbang kuali tradisional. Selain itu, kehadiran seorang ahli nutrisi profesional dari masyarakat awam mulai dipertimbangkan untuk bekerja menangani perencanaan menu. Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
Yang Mulia Iljin, kepala asrama, menangani urusan umum sambil berdiskusi dengan biarawati yang lebih tua dan pengurus muda lainnya. Ia juga seorang Guru Besar yang mengajar Sutra Avatamsaka di sekolah biara tersebut. Suatu malam, sewaktu berjalan pulang dari Seoul, setelah menghadiri pertemuan di gedung pusat Ordo Jogye, ia terlambat kembali dengan tangan penuh bungkusan berisi kebutuhan dapur. Saat ditanya, haruskah seorang biarawati kepala asrama yang pergi berbelanja sendiri, ia menjawab, tersenyum, “Saya mungkin seorang kepala asrama biarawati, tapi saya lebih merupakan seorang pelayan dibandingkan pemimpin spiritual tertinggi di kuil ini.� Seseorang yang rendah hati dan seorang pemimpin berpikiran maju yang percaya bahwa sebuah masalah bukan harus dihindari namun diselesaikan. Ia adalah seseorang yang ingin melihat tradisi dipertahankan, namun dalam batas-batas yang realistis.
29
wawancara 1
Yu Jin-gyu:
Pelopor Festival Pantomim Internasional Chuncheon
Yu Jin-gyu menyajikan sebuah pertunjukan dari sepenggal pantomimnya yang berjudul “Tangan Kosong.� Gerakan pantomin sebuah tarian shamanisme dengan pisau yang dipakai untuk ritual adat Korea, ia menyatakan makna hidup manakala seorang pria mengada dan meninggal untuk selamanya tanpa harta.
30
S e n i & B u d a y a Ko re a
Di bulan Mei setiap tahunnya, sebuah kota di tepi danau Chuncheon bersiapsiap menghadapi musim yang sangat menarik yakni Festival Pantomim (Mime ) Internasional Chuncheon. Seorang artis pantomim Korea terkenal, Yun Jin-gyu telah mengatur kegiatan festival tahunan ini selama 25 tahun, tentunya di sebuah kota cantik yang telah dianugrahi danau, gunung dan sungai. Bersamaan dengan proses evolusi yang dilakukan oleh artis pantomim yang memiliki kreasi panggung sendiri, guna dapat berkomunikasi secara lebih mendalam dengan para penonton, festival ini juga terus berlanjut dan mengundang perhatian publik. Kim Jung-hyo, Kritikus Teater dan Professor, Universitas Keimyung | Ahn Hong-beom Fotografer
P
ada tahun 1968, seorang siswa sekolah menengah atas, Yu Jin-gyu telah terperanga oleh aksi panggung seorang artis pantomim asal Jerman, Rolf Scharre, yang tampil di Seoul. Meskipun dia menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran hewan, ia segera berhenti menekuninya. Ia memilih untuk mengejar karir panggungnya sebagai artis pantomim yang dimulai dengan berpartisipasi pada loka karya yang digelar oleh sebuah kelompok teater Ejotto, sebuah kelompok pantomim pertama di Korea, pada tahun 1971. Yu Jingyu kemudian menyelenggarakan Festival Pantomim Korea pertama pada bulan Mei 1989 di Space Theatre, Seoul. Selama dua puluh lima tahun berlangsung, acara ini berkembang menjadi sebuah festival seni yang paling banyak diminati baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak kritik menyamakan kisah kehidupan pribadi Yu Jin-gyu dengan perkembangan pantomim Korea sebagai satu aliran pada seni pertunjukan.
Pantomim Ditinggalkan Yu Jin-gyu: Saya telah mempertimbangkan cukup lama tentang adanya kemungkinan untuk menggunakan dan mempertontonkan tubuh dengan luar biasa di panggung. Saya ingin mencoba sesuatu yang baru. Inspirasi itu justru datang ketika saya dirawat di rumah sakit selama 6 bulan akibat kecelakaan mobil. Dalam masa penyembuhan akibat operasi berkali-kali di rumah sakit, saya tidak diizinkan bergerak. Sembari terbaring di atas tempat tidur, saya khawatir, “bagaimana mungkin saya dapat menampilkan pantomim dengan tubuh terikat?” solusi yang saya temukan adalah justru dengan membuat para penonton bergerak. Setelah pulih, saya menampilkan pertunjukan pertama, “Ruangan Merah” di Insa Art Center dengan konsep sebuah ruang pameran, alih-alih panggung teater konvensional. Pada pertunjukan “Ruangan Merah”, para penonton masuk ke ruangan satu persatu dengan interval satu menit. Mereka melewati sejumlah ruang hingga akhirnya memasuki ruangan terakhir di mana saya berada. Pada bagian ini penonton berperan sebagai aktor sekaligus pengamat. Ketika mereka menemukan kehadiran saya di ruang terkakhir, saya menyuguhkan mereka anggur dan teh sembari memperlihatkan apresiasi berupa gerak tubuh atas usaha yang telah mereka lakukan. “Ruangan Merah” tidak ditujukan untuk menunjukkan sesuatu pada penonton melainkan ini merupakan rangkaian waktu/tempat di mana para penonton diajak untuk berpikir bersama dengan sang artis dan mewujudkan agenda yang sederhana. Menurut pandangan saya, “Ruangan Merah” adalah teater itu sendiri. Adapun “Rangkaian Ruang” adalah sebuah rangkaian yang berusaha menampilkan kolaborasi dengan penonton. Berdasarkan pandangan kilas balik ke masa lalu, saya pikir kekurangan fisik seringkali berubah menjadi inspirasi yang begitu memukau bagi perkembangan dunia artistik. Sebagai contoh, pada tahun 1997 ketika saya didiagnosa menderita tumor otak, penyakit itu memberikan waktu untuk merefleksikan keangkuhan dan kegigihan saya, yang saya percaya sebagai penyebab rasa sakit yang saya alami. Seiring dengan proses penyembuhan, saya menampilkan sebuah pertunjukan pantomim yang berjudul: “Tangan Kosong” di tahun 1998 sebagai bagian dari usaha saya untuk melepas ego dan rasa keras kepala.
Pindah ke Chuncheon Kim: Anda lahir di Seoul dan sebagian besar kegiatan berkesenian Anda juga dihabiskan di Seoul. Apa yang membawa Anda untuk menetap di Chuncheon? Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
31
1. Sebagai direktur artistik Festival Pantomim Internasional Chuncheon, Yu mendiskusikan rencana logistik dengan stafnya untuk memaksimalkan potensi keterlibatan dan partisipasi warga dan pengunjung. 2. “Ah! Surajang!� Tanda dimulainya festival, menampilkan pertunjukan jalanan yang disorot oleh hujan busa sabun raksasa di pusat kota Chuncheon. 3. Sebuah atraksi pada penutupan Festival Pantomim Internasional Chuncheon 2010.
1
Yu: Saya cukup aktif di panggung selama sekitar satu dekade dimulai sejak awal 1970-an. Suatu hari saya menyadari bahwa apa yang telah saya lakukan sebagai artis pantomim adalah palsu dan tidak bermakna. Saya ingin menjalani kehidupan yang biasa saja. Dengan demikian, saya akhirnya memutuskan untuk mengakhiri karir saya di panggung saat masih di Seoul. Saya lalu pindah ke Chuncheon pada tahun 1981 dan membesarkan anak sapi. Pada suatu ketika, saya memiliki hingga 38 sapi dengan keadaan berhutang pada subsidi pemerintah. Nyatanya, hidup damai di pedesaan tidak berlangsung lama dan ini ditandai ketika harga sapi turun. Saya tak punya pilihan kecuali meninggalkan pertanian dan saya memutuskan untuk hidup sambil menjalankan sebuah kafe di dekat universitas. Di akhir tahun 1987, seorang jurnalis datang menjumpai saya di Chuncheon. Ia adalah seorang reporter budaya yang sangat antusias ketika saya masih aktif di dunia panggung di Seoul. Jurnalis itu membujuk saya untuk merangkum perjalanan karir saya, berkata bahwa ketiadaan saya dalam waktu lama sebagai generasi pertama pantomim Korea dapat beresiko pada hilangnya aliran ini di Korea. Terima kasih atas pengaruhnya hingga saya dapat kembali tampil di tahun 1988, yang pada akhirnya memberikan saya empat murid pantomim yang mampu memotivasi saya untuk mengadakan festival pantomim. Kami berkehendak untuk membuat perubahan pada lingkaran artistik Korea, di mana pantomim tidak lagi dikenal sebagai sebuah aliran yang diakui pada seni pertunjukan. Itulah bagaimana pertama kalinya festival pantomim Korea pertama diluncurkan. Sejak festival kedua di tahun berikutnya, kami memutuskan untuk memindahkan acara tersebut di Chuncheon. Kim: Festival Pantomim Internasional Chuncheon merupakan satu dari tiga festival pantomim paling terkenal, termasuk Festival Pantomim Internasional London dan MIMOS Festival Pantomim Perancis. Yu: Festival Pantomim Internasional London memanfaatkan teater model lama dengan tujuan untuk mendapatkan akses yang telah banyak diketahui penontonnya. Bandingkan dengan MIMOS, yang bertempat di sebuah kota kecil di selatan Perancis, MIMOS lebih mengutamakan nilai-nilai artistik dari aliran pantomim itu sendiri, dan berusaha untuk mendobrak batasan spasial yang bersifat konvensional. Berbeda dari dua festival yang telah disebutkan, Festival Pantomim Internasional Chuncheon [website resmi: http://www.mimefestival.com/main.asp] menekankan acaranya pada perayaan dan elemen-elemen karnival dengan perayaan nanjang yang digelar sepanjang malam sebagai puncak acaranya. Dengan demikian, Chuncheon akan dikelilingi oleh banyaknya seni pertunjukan termasuk pertunjukan pantomim. Inilah kunci yang membedakan Chuncheon dengan dua festival Eropa. Direktur artistik dari London dan MIMOS datang untuk menyaksikan festival yang diadakan di Chuncheon. Mereka sangat terkejut melihat kebesaran dan keanekaragamannya ter-
32
S e n i & B u d a y a Ko re a
kait dengan para peserta yang menggunakan ruang dan panjangnya musim festival. Saya pikir, kemasyhuran festival kami yang mengglobal lebih disebabkan oleh adanya kelompok internasional dan artis pantomim asing yang datang untuk berpartisipasi dalam acara ini. Kim: Dapatkah Anda menjelaskan program-program apa saja yang dapat dianggap sebagai bagian evolusi pada Festival Pantomim Internasional Chuncheon? Yu: Pada tahun pertama hingga kelima, festival ini diberi nama “Festival Pantomim Korea.” Yang terjadi adalah hanya ada sejumlah kecil kelompok teater yang bekerja sama guna mewujudkan aliran pantomim dengan dasar seni pertunjukan Korea. Sejak tahun keenam, kami mengganti nama acara ini menjadi Festival Pantomim Internasional Chuncheon. Sesuai dengan namanya, kami memperluas cakupan acara dan mengundang para peserta asing. Ternyata, transisi ini secara kebetulan memunculkan sebuah tren internasional atas acara budaya di negara ini. Dengan nama barunya, kami juga menambahkan titik tekan pada elemen karnival pada festival tersebut. Kami menganggap bahwa festival sebenarnya adalah sebuah tempat untuk “nanjang”, atau kegilaan. Berturut-turut kami meluncurkan serangkaian program untuk nanjang, termasuk semalam suntuk “Dokkebi Nanjang” dan “Kegilaan Jumat Malam” yang targetnya adalah para penonton dewasa. Sementara “Ah!Surajang” adalah sebuah pertunjukan jalanan yang dimeriahkan dengan adanya penembakkan bom air. Semangat festival dapat dilihat dari kalimat yang dilontarkan: “Festival! Pasti seru!” kami memperluas cakupan kegiatan festival, mulai dari pantomim hingga beragam jenis ekspresi tubuh lainnya, dan mengundang sejumlah artis dan kelompok-kelompok seni dari luar negeri. Tahun ini, ada lebih dari 900 artis dan 100 penari dan kelompok teater yang dijadwalkan akan menampilkan karya mereka. Selain itu, terdapat pula 100 orang relawan yang telah siap membantu terselenggaranya festival. Seperti tahun sebelumnya, festival tahun 2013 ini juga akan digelar acara “Ah!Surajang” yang bertempat di pusat Chuncheon, pada tengah hari tanggal 19 Mei. Kelompok tari Belgia “Les Ballets C de la B” akan mempersembahkan “The Old King” untuk membuka festival tahun ini. Tindakan ini menerima banyak sekali kritikan mengingat pada tahun 2012 banyak sekali orang yang mengelu-elukan festival d’Avignon, dan saat itu panitia festival berjanji akan memberikan kesempatan pada pertunjukan Asia untuk tampil pertama di festival Chuncheon.
2
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
3
33
1
34
S e n i & B u d a y a Ko re a
“ Inti dari Fetival Pantomim Internasional Chuncheon adalah nanjang , atau kegilaan – yakni sebuah kesenangan semalam suntuk dengan semangat tradisional komunal di Korea.”
Di Balik Ikon Kebudayaan Chuncheon
1. Dilapisi selembar hanji , kertas tradisional Korea, Yu berdiri telanjang, menyajikan sebuah pertunjukan bayangan. Ekspresi artistiknya bertujuan sebagai perwujudan spiritualitas daripada semata-mata sebuah capaian teknis. 2. Sebuah gambar dari Shevaka Production “Black Dragon Theater” disajikan sebagai bagian dari serial “Friday Night Madness” selama Festival Pantomim Internasional Chuncheon 2012.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
Kim: Anda mengungkapkan keinginan Anda untuk berhenti dari posisi Anda pada saat ini sebagai direkur artistik akibat adanya ketegangan yang terjadi antara panitia festival dengan pemerintah Chuncheon terkait dengan tempat pelaksanaan festival. Yu: Pemberhentian saya ditolak dan saya kembali merancang kegiatan untuk mempersiapkan festival. Sebenarnya, kami menghadapi beberapa permasalahan dalam hal pengamanan tempat untuk festi2 val. Dalam pencarian tempat yang mampu mengakomodasi hasil karya © Chuncheon International Festival Mime artistik baru yang lebih baik, kami berharap dapat memindahkan lokasi festival ke Pulau Nami. Pemerintah Kota Chuncheon menolak ide tersebut. Bagi kami ini merupakan peristiwa kritis untuk mendefinisikan identitas festival – apakah ini berkaitan dengan memperjuangkan ekonomi lokal atau terus mencari penghargaan terhadap nilai artistik. Perdebatan ini memanas ketika beberapa orang berkata bahwa festival ini bukan hanya untuk Yu Jin-gyu melainkan untuk Kota Chuncheon. Untuk menyelesaikan kontroversi yang tidak penting ini, saya berniat untuk mengundurkan diri. Kim: Insiden ini sebenarnya adalah bukti bahwa festival telah berhasil menjadi sebuah kebudayaan yang berpengaruh di Chuncheon. Yu: Itulah realitas dibalik panggung 25 tahun Festival Pantomim Internasional Chuncheon. Ketika kami mengubah namanya menjadi festival, pemerintah kota berjanji untuk memberi dukungan penuh pada pengelolaan dan pengaturan festival. Bagaimanapun, pemerintah kota seharusnya hanya berperan sebagai sponsor, bukan sebagai pengatur. Kota hanya mengalokasikan anggaran pemerintah untuk festival. Untuk membuat festival sukses dan tetap menarik, pengamanan tempat dan dukungan finansial menjadi hal sangat penting bagi kami. Ketika kami berjuang untuk memenuhi kebutuhan praktis, pemerintah Pulau Nami mengajukan tawaran yang menarik. Pada akhirnya kami menyimpulkan bahwa Chuncheon akan tetap meneruskan festival tanpa mempedulikan keputusan dari pengelolah festival. Kim: Lalu, apa rencana Anda di masa depan? Yu: Secara personal saya pikir pertunjukan saya telah melampaui batasan pantomim konvensional sebagai sebuah aliran namun masyarakat masih sering mengidentifikasi karya saya sebagai bagian dari pantomim. Contohnya, meskipun informasi untuk pertunjukan saya yang berjudul “Ruangan Merah” dilaporkan sebagai “Yu Jin-gyu berhenti berpantomim,” para jurnalis masih saja sering melaporkan bahwa, “Yu Jin-gyu akan menampilkan pertunjukan pantomim di bawah judul, ‘Yu Jin-gyu berhenti berpantomim.’” Apapun yang saya lakukan, saya akan terus melangkah sebagai artis pantomim dalam makna tradisional. Pada bagian saya, bagaimanapun, saya akan terus berusaha untuk menciptakan sebuah bentuk komunikasi baru dengan penonton. Saya juga akan terus menyumbangkan usaha saya untuk memperkaya aspek karnival pada festival pantomim internasional Chuncheon bila ini terus diadakan. Orang-orang Korea memiliki kegemaran tersendiri pada festival dan kebahagiaan kolektif, sebagaimana dapat disaksikan pada para relawan “Setan Merah” yang tetap mendukung tim sepak bola nasional Korea pada pertandingan Internasional. Saya harap semangat komunal ini dapat ditumpahkan pada festival pantomim di Chuncheon. Mengundang kelompok tari asing dan prosesi panggung merupakan sebuah obyek yang penting, namun tidak lebih signifikan dari tindakan untuk mewujudkan nilai atas ekspresi tubuh dan pantomim. Dalam hal ini,“Ah!Surajang” adalah sebuah versi modern dari ritual penyucian tradisional Korea yang terlahir dari hati masyarakat urban di pusat kota yang modern.
35
TINJAUAN SENI
M
eskipun Korea adalah negara yang relatif kecil, Korea memiliki berbagai variasi iklim dan geografis. Diberkahi dengan keanekaragaman flora dan fauna, Korea tampil sebagai masyarakat agraris berbasiskan pertanian padi. Latar belakang pertanian inilah yang menyebabkan perkembangan kerajinan menggunakan rerumputan dan jerami muncul. Batang rerumputan, catail dan kogon serta jerami padi, barli, gandum padi-padian dan tanaman ladang lainnya digunakan untuk membuat tikar, kotak dengan tutup, penutup jendela, keranjang dan barang rumah tangga lainnya. Semua kerajinan seperti tikar anyaman batang alang (Cyperus exaltatus var. iwasakii) dinilai tinggi untuk kebutuhan rumah tangga pada musim panas. Sifatnya yang sejuk memungkinkan udara lewat dan keempukannya menjadikan tikar alang sebagai barang keperluan rumah tangga yang tepat bagi mereka yang memilih untuk duduk di lantai daripada di kursi. Alang lembut seperti jerami dan sejuk seperti bambu, dan tikar alam mengkilap dan tahan lama. Tikar alang tidak terbelah atau terkelupas, juga tidak sekeras tikar bambu yang lama-kelamaan membuat orang yang duduk di atasnya tidak nyaman. Menenun tikar dapat dilakukan dengan atau tanpa alat. Kotak dengan tutup, keranjang, tikar dan alas duduk kecil dapat ditenun seluruhnya dengan tangan, sementara tikar besar memerlukan alat tenun dan alat-alat lainnya. Ada dua metode tenun untuk membuat tikar alang besar. Salah satunya dengan menggunakan alat tenun sederhana yang besar dengan bar horisontal tebal yang padanya tergantung benang lungsin dan dikencangkan dengan batu yang berada pada ujungnya. Sebuah tikar besar ditenun dengan menyilangkan benang pada batang horisontal setiap kali tangkai alang ditambahkan. Untuk menenun tikar bermotif, tangkai alang ditempatkan satu per satu pada bar horisontal alat tenun, di mana tergantung sekitar 140
benang lungsin, yang masing-masingnya ditahan dengan batu pada ujungnya. Semua benang dengan batu melingkari bar sebelum tangkai lain ditempatkan di atasnya, dan proses ini diulang ratusan kali. Metode lainnya adalah menggunakan bingkai besar di mana benang lungsin diikat. Tangkai alang ditambahkan di dalam arah pakan kemudian dipukul dengan menggunakan batang yang terpasang di alat tenun. Karena metode tenun yang berbeda, maka hasilnya pun memiliki tekstur yang berbeda, demikian juga namanya. Yang pertama, benang lungsin terlihat di permukaan dan disebut sebagai jari di Korea. Sedangkan yang kedua, benang lungsin tersembunyi di bawah tangkai pakan anyaman yang rapat dan disebut dotjari. Salah satu contoh yang terkenal dari jenis pertama adalah karpet alang bermotif yang disebut hwamunseok, yakni kerajinan khusus Pulau Ganghwa di lepas pantai barat Incheon. Semua jenis pola rumit ditenun menjadi tikar dengan menggunakan tangkai alang yang dicelup dalam berbagai warna. Proses tenun satu tikar membutuhkan sekitar 600.000 gerakan tangan, ini adalah proses melelahkan, mulai dari mendapatkan alang berkualitas tinggi untuk dijadikan batang, mempersiapkan tangkai, mengeringkan, proses pewarnaan dan menenun hasil akhir. Karena menuntut proses yang berat, banyak perajin memilih untuk berfokus pada keterampilan membuat tikar besar atau barang rumah tangga kecil, seperti keranjang. Tidak seperti kebanyakan, Han Soon-ja, Warisan Budaya Tak-Penting No. 16 Kota Seoul ini, telah memproduksi tikar dan beraneka ragam barang rumah tangga.
Menenun Alang adalah Takdirku Han yang kini berusia 67 tahun, lahir dan dibesarkan di Pulau Ganghwa, yang terkenal dengan kualitas alang asli serta kerajinan yang
Han Soon-ja: Bunga-bunga Anggun Bermekaran di Tikar Alang Karya Maestro Sebagai anak dari lima atau enam bersaudara, Han Soon-ja, maestro penenun dari tikar alang dan keranjang, terbiasa melihat ibu dan neneknya merajin, dan bermain dengan tangkai dari alang yang mereka gunakan. Menginjak usia sekitar 20 tahun, ia bekerja sebagai seorang profesional dalam kerajinan ini. Kini, hasil kerajinannya dipamerkan di banyak negara di seluruh dunia dan termasuk dalam koleksi Museum Inggris dan Museum Vatikan di Roma. Park Hyun-sook, Penulis Lepas | Ahn Hong-beom Fotografer
36
S e n i & B u d a y a Ko re a
Maestro penenum tikar, Han Soon-ja dengan silangan benang lengkung yang masing-masing dibuat kencang memakai alat tenun yang dipasang pada ujungnya, di atas balok horisontal setiap ilalang ditempatkan dalam posisinya.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
37
dihasilkan dari alang tersebut. Bebuyutnya, yang juga orang asli pulau itu, adalah seorang petani yang kaya dengan lahan pertanian yang luas dan keterampilan kerajinan alang yang sangat baik. Keterampilannya diturunkan kepada anaknya, dan pada generasi ketiga, tradisi kerajinan laki-laki ini diturunkan kepada perempuan di dalam keluarga. Nenek Han mempelajari kerajinan ini dari ayahnya dan kemudian diteruskan kepada ibu Han, kemudian kepada Han Soon-ja, yakni generasi kelima perajin alang di keluarga. Han tidak memiliki anak perempuan, ia hanya memiliki dua anak laki-laki yang bekerja di bidang perdagangan, sehingga silsilah kerajinan kembali beralik kepada keturunan lakilaki. Sebagai anak dari lima atau enam bersaudara, Han terbiasa melihat ibu dan neneknya bekerja di perajinan keluarga, dan bermain deng-an potongan alang yang mereka gunakan. Pada saat ia di Sekolah Dasar, ia mendapat pujian luar biasa dari gurunya karena hasil kerajinan alang yang dibuatnya sebagai tugas liburan panjang. Sejak kecil, ia senang merajin alang, merasakan tekstur kering dan mencium wanginya rumput. Ia merasa paling puas jika ia menggambarkan kerajinan alang dalam pikirannya dan melihat kerajinan itu terwujud di depan matanya, inilah yang memberikan kekuatan luar biasa yang membuatnya mengabdi pada kerajinan. Ibu Han meragukan semangat anaknya di kerajinan ini, ia khawatir jika anak berharga pertamanya mempertaruhkan kesehatannya dengan bekerja berjam-jam untuk menenun tikar alang, yang sangat dikenal sebagai sumber penyakit. Namun demikian, pada usia sekitar 20 tahun Han sudah bekerja sebagai perajin profesional. Meskipun tidak satupun dari empat saudara perempuan dan satu saudara laki-lakinya ingin mempelajari kerajinan, ia merasakan daya tarik yang kuat yang tak dapat diuraikan. Jadi, ketika ia menikah di usia pertengahan 20-an dan pindah ke Seoul, ia membawa peralatan tenun dan pembuat tikar lainnya. Ia tetap bersemangat walaupun ibunya memberi peringatan bahwa wanita terampil ditakdirkan untuk menjalani hidup keras. Kini, ia memang akhirnya
bekerja keras, merajin selama hampir 50 tahun. Ketika ia masih muda, ia membuat lebih banyak pesanan dan berpartisipasi dalam lebih banyak kegiatan kesenian dan kontes kerajinan, ia biasa menghabiskan seluruh waktunya untuk menenun. “Bahkan sekarang pun, saya bekerja selama setidaknya enam jam sehari. Kalalu menenun, Anda harus duduk bersila di lantai selama berjam-jam. Radang sendi lutut dan berbagai masalah punggung adalah hal yang lazim di kalangan perajin yang bekerja dengan alat tenun,� kata Han. “Kedua pinggul saya pun juga sudah dioperasi, satu pada usia 61 dan yang satu lagi pada usia 62. Sekarang, saya mengerti mengapa ibu saya begitu khawatir. Tapi, kenyataannya sangatlah aneh. Terlepas dari kerja keras, saya selalu menyukai pekerjaan itu sendiri. Bahkan sekarang, saya ingin tetap merajin alang selama mungkin. Alang tenun adalah takdir saya.�
Menanam Alangnya Sendiri Hasil karya Han sangatlah indah dan rapi, semua alangnya terjalin dengan seksama. Menggunakan permukaan tikar sebagai kanvas, ia menggambarkan pola dengan komposisi sederhana dan alami. Sejak awal ia tertarik untuk menciptakan berbagai teknik untuk membuat pola yang lebih menarik. Salah satu tekniknya adalah mengkombinasikan kayu dengan tangkai alang. Keterampilan dan upayanya diakui pada Kontes Kesenian dan Kerajinan Tradisional di tahun 1987, di mana ia memenangkan Penghargaan Presiden. Pada tahun 1992 ia menjadi wanita pertama yang mendapatkan gelar maestro di bidang kerajinan bambu/rotan dari Departemen Tenaga Kerja yang bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Korea. Pada tahun 2003, ia menerima Penghargaan Pagoda dari pemerintah atas kontribusinya terhadap perkembangan kesenian dan kerajinan tradisional. Dia telah mengadakan pameran di seluruh dunia, dan beberapa karyanya termasuk dalam koleksi Museum Inggris dan Museum Vatikan. Ketika ditanya mengapa karya-karyanya begitu dihargai, ia men-
Han paling senang menenun adegan-adegan dari cerita rakyat Korea, yang menggambarkan kejujuran orang Korea seperti gambar harimau merokok sementara di sampingnya ada kelinci yang menyalakan rokok tersebut atau juga gambar anak-anak berangkat untuk menurunkan bulan serta motif tradisional simbolis lainnya. 1
38
S e n i & B u d a y a Ko re a
jawab,� Yang penting pada sebuah karya seni adalah desain dan fungsinya. Untuk memenuhi persyaratan ini, kita harus menggunakan bahan-bahan berkualitas baik. Tukang masak profesional pun tidak mampu mempersiapkan hidangan yang baik jika bahan-bahan yang tidak segar. Yang membuat tikar alang tradisional memiliki daya tarik adalah warna kehijauan tipis yang tersebar berjarangan di seluruh permukaannya. Batang alang diikat dan dikeringkan di bawah matahari sehingga melahirkan nuansa halus dan warnya hijay yang beragam. Ini adalah proses yang cukup rumit, sehingga terkadang para perajin tergoda untuk mengeringkan dengan mesin untuk mempermudah dan menghemat waktu. Ada beberapa pembeli yang mengira bahwa warna hijau itu adalah noda dan meminta saya untuk membersihkannya. Karena itulah, beberapa penenun memilih untuk menggunakan pemutih sejak awal. Namun, saya selalu ingin menjaga kualitas alami alang, jadi saya membuat karya-karya saya dengan menggunakan batang yang saya tanam sendiri.� Alang merupakan tanaman tahunan yang tumbuh hingga ketinggian dua meter, bersifat lentur, mengkilap, dan memiliki batang yang kuat. Alang ditanam di sawah di musim semi dan dipanen pada bulan Agustus. Batang dibagi menjadi tiga tangkai sebelum dikeringkan, dibersihkan, dikelantang matahari, kering lagi, dan dicelup. Proses pengeringan akhir biasanya memakan waktu tiga sampai empat hari, dalam proses pengeringan, batang alang berulang kali dijemur di bawah sinar matahari siang dan ditinggalkan untuk menyerap embun di malam hari. Proses pengeringan akhir ini sangatlah penting untuk menciptakan tangkai berbintik-bintik kehijauan yang indah, sehalus warna biru keabu-abuan dari pembaka-
1. Han mengembangkan sendiri kerajinan tikar ilalang, dan tidak pernah bergantung pada kemudahan mesin pengering dan bahan pemutih kimia. 2. Satu set dari tiga alat tenun tangan ilalang ditutupi kotak. Berbagai simbol keberuntungan dibuat menggunakan celupan serat ilalang.
ran kayu kiln tradisional, demikian jelasnya. Pemutihan dengan bahan kimia dihindari bukan hanya karena alasan estetika, akan tetapi juga karena merusak daya tahan produk yakni dengan melemahkan jaringan serat batang. Han menanam alangnya sendiri di Ganghwa, kampung halamannya dimana ia sering berkunjung dari rumahnya saat ini di Seoul. Dia menanam tanaman alang di sawah yang memiliki saluran yang baik dengan sumber air yang bersih dan melimpah. Ia berusaha untuk tidak menggunakan terlalu banyak pestisida, karena dengan pestisida walaupun alang dapat tumbuh tinggi rongganya lemah pada saat dipanen.
Asal-usul Kerajinan Han bangga akan sejarah alang tikar bermotif, yakni kerajinan khusus yang terkenal dari kota kelahirannya, Ganghwa. Pada jaman Dinasti Goryeo (918-1392) merelokasi sementara ibukotanya ke pulau ini pada abad ke-13 karena invasi Mongolia. Orang-orang yang berpindah dari ibu kota Gaegyeong [saat ini dikenal sebagai Kaesong, atau Gaeseong] mulai membuat tikar alang untuk mata pencaharian mereka. Seiring dengan berjalannya waktu, kerajinan itu dialihkan ke penduduk asli pulau. Sejak saat itu, hasil karya tenunan alang menjadi salah satu kerajinan khusus pulau yang paling terkenal.
2 Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
39
1
40
S e n i & B u d a y a Ko re a
Asal usul kerajinan ini dapat ditelusuri lebih jauh daripada masa Goryeo: Ada catatan sejarah yang menyatakan bahwa Kerajaan Silla (57 SM - 935 M) memiliki sebuah badan pemerintah yang menangani produksi tikar alang. Di Goryeo, keindahannya sangat dihargai oleh negara-negara tetangga setara dengan ginseng, alang tikar bermotif dari Korea dikenal sebagai cindera mata berharga untuk pertukaran diplomatik. Mengkilap dan tahan lama, tikar alang biasanya memiliki warna gading dengan bintik-bintik hijau. Di masa lalu, tikar alang digunakan untuk acara-acara khusus, seperti pada kunjungan dari sahabat dan kerabat atau ritual leluhur keluarga. Pada acara-acara tersebut, tikar alang bermotif anggun ditebarkan di lantai untuk menunjukkan rasa hormat yang tinggi pada keluarga ataupun tamu atau juga melambangkan pengabdian mereka pada acara tersebut. Tikar alang bermotif juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hadiah pernikahan dari mempelai wanita kepada keluarga mempelai pria. Mempelai wanita membawa dua tikar - satu untuk mertuanya dan yang lainnya untuk pasangan tersebut. Karena keawetannya yang handal, tikar alang berkualitas baik ini biasa diturunkan dari generasi ke generasi. Untuk menenun tikar bermotif, tangkai alang ditempatkan satu per satu pada bar horisontal alat tenun, di mana tergantung sekitar 140 benang lungsin, yang masing-masingnya ditahan dengan batu pada ujungnya. Semua benang dengan batu melingkari bar sebelum tangkai lain ditempatkan di atasnya, dan proses ini diulang ratusan kali. Dalam proses tersebut, pola yang indah dibuat dengan menggunakan tangkai yang sudah diwarnai yang ditenun dengan hati-hati menjadi tikar sesuai dengan desain yang telah ditentukan. Motif khas digambar di atas tikar alang seperti karakter Cina yang melambangkan kekayaan dan kemakmuran, binatang pembawa keberuntungan seperti bebek mandarin, naga, dan harimau, dan bunga-bunga seperti bunga aprikot dan peony, disertai dengan kupu-kupu. Seorang perajin yang terampil mampu menenun hanya sebagian kecil dari tikar, yang panjangnya sekitar 30 cm, dengan kerja keras sepanjang hari. Untuk membuat salah satu hasil karyanya, yaitu tikar alang dengan ukuran 210 cm x
300 cm dan bordiran sepuluh simbol umur panjang, Han menghabiskan satu bulan penuh.
Lebih dari Kesabaran “Menenun tikar alang membutuhkan waktu dan pengabdian. Seringkali, walaupun dua atau tiga orang menenun bersama, mereka tetap membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk menyelesaikannya. Bahkan untuk membuat wadah buah persegi yang katakanlah panjangnya 15 cm dan lebarnya 8 cm, saya harus menghabiskan setidaknya tiga hari jika saya bekerja sendiri” katanya. Han juga menambahkan,” Untuk menjaga benang lungsin agar tetap sama juga memakan waktu. Jika Anda salah, jarak antar tangkai akan terlalu ketat atau terlalu longgar, dan Anda harus mengulang lagi dari awal. Anda harus tepat dan cekatan. Ketika saya masih muda, saya selalu mendengar orang mengatakan bahwa untuk menenun tikar alang butuh banyak kesabaran. Tapi saya pikir yang dibutuhkan lebih dari itu. “ Menurut Han, kesabaran dapat mudah habis jika kita tidak menikmati setiap langkah dari pekerjaan yang dilakukan. Kesabaran dapat dimiliki untuk sementara waktu, tetapi pengabdian pada kerajinan untuk jangka panjang berasal dari sukacita yang dirasakan pada saat menyentuh batang alang dengan ujung jari Anda dan melihat desain yang ditetapkan terbentuk sembari pekerjaan berlangsung, meskipun dengan sangat lambat. Han paling senang menenun adegan-adegan dari cerita rakyat Korea, yang menggambarkan kejujuran orang Korea seperti gambar harimau merokok sementara di sampingnya ada kelinci yang menyalakan rokok tersebut atau juga gambar anak-anak berangkat untuk menurunkan bulan serta motif tradisional simbolis lainnya. Kenikmatan dan kepuasan itulah yang memberikan kekuatan baginya untuk merajin seharian di tempat kerjanya di Bukchon, bernama Godeuratdol (batu tenun). Ia juga sering menunjukkan keahliannya bagi pengunjung di Pusat Pendidikan dan Pameran Kerajinan Budaya Seoul, sebuah organisasi yang mempromosikan pelestarian kesenian tradisional dan kerajinan yang terletak di dekat pintu masuk utama ke Istana Changdeok.
1. Di Korea, duduk di lantai adalah aspek dasar kebiasaan hidup yang berpola pada tikar ilalang yang sangat dihargai sebagai kerajinan indah dan praktis. 2. Ketika Han menikah dan pindah ke rumah barunya, ia mengambil alat tenun tua yang baginya sangat berharga. Rumah tenunnya di Bukchon juga dinamai alat tenun - godeuraetdol , yang berarti “alat tenun.” Dulu alat tenun itu terbuat dari batu, tapi sekarang, biasanya terbuat dari logam.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
41
2
Resensi Seni
Drama Musikal “Mencuci� Menyampaikan Kritik Sosial dengan Halus 42
S e n i & B u d a y a Ko re a
Drama musikal berjudul “Mencuci” merupakan karya asli Korea yang telah dipentaskan selama lebih dari delapan tahun terakhir di sebuah teater kecil tanpa artis terkenal atau tata panggung yang rumit. Pementasan ini terus menarik minat penonton dengan cerita tentang tetangga yang berbagi pengalaman sehari-hari mereka saat menjemur pakaian di jemuran umum. Percakapan mereka mengungkapkan sukaduka kehidupan sehari-hari di tengah diskriminasi sosial terhadap penyandang cacat, buruh migran, dan orang-orang yang kurang beruntung lainnya.
Park Bo-mi, Wartawan, The Hankyoreh
P
ada 14 Maret 2013 drama musikal asli Korea “Mencuci” dipentaskan pada musim ke-13nya di Teater Artwon Daehangno, pusat Kota Seoul. Sehubungan dengan ditutupnya Teater Hijau Hakchon yang bersejarah, tempat pementasan sejak 2008, drama ini terpaksa mencari rumah baru. Tapi kepindahan tersebut tidak mempengaruhi kualitas dan daya tarik emosional dari drama musikal yang sudah berjalan lama ini. Drama ini bercerita tentang seorang pegawai toko buku, Seo Na-yeong, yang tinggal di Seoul selama lima tahun setelah meninggalkan kampung halaman di pedesaan Provinsi Gangwon. Berkisah tentang Seo dan tetangganya: induk semang, seorang wanita tua yang mengumpulkan kertas bekas, dan Solongos, buruh migran asal Mongolia yang menjadi kekasih Seo.
Pendekatan yang Halus Drama musikal Korea “Mencuci” dapat disejajarkan dengan pementasan “Kereta Bawah Tanah Jalur 1” yang pertama kali dimainkan pada 1994. “Kereta Bawah Tanah Jalur 1” telah menarik perhatian penonton dan dipertunjukkan selama lebih dari 10 tahun. Drama musikal rock yang diadaptasi dari Jerman oleh Volker Ludwig dengan situasi Korea ini menggambarkan orang-orang Seoul melalui mata seorang wanita Korea-China bernama Seon-nyeo (berarti “peri”) dari Yanbian di Timur Laut China, sebuah daerah bagi populasi besar etnis Korea. Sorot lampu panggung pada berbagai macam karakter seperti seorang ayah pengangguran, gadis pelarian, pria yang bunuh diri, dan para penginjil jalanan—kelompok yang sering diabaikan masyarakat Korea—menjadi pertunjukan yang banyak dibicarakan. Meskipun memiliki kemiripan kritik sosial dengan “Kereta Bawah Tanah Jalur 1”, drama “Mencuci” mengadopsi pendeka-
Seo Na-yeong, tokoh utama musikal “Washing” adalah seorang wanita muda yang sudah tinggal di Seoul selama lima tahun.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
tan yang lebih sederhana daripada tudingan tajam. Dipuji karena “kehangatan,” “keindahan,” dan “ketenangan”, drama musikal ini mengedepankan “kekuatan lembut” untuk menyentuh hati para penonton. Latar pertunjukan ini disebut “Desa Bulan”, lingkungan berpenghasilan rendah di lereng bukit pinggiran Seoul. Warganya adalah pekerja paruh waktu, buruh migran, pemilik bisnis kecil, dan orang-orang tua yang mengumpulkan sampah kertas bekas. Dalam adegan pembuka, karakter wanita utama Na-yeong berbicara kepada ibunya di telepon setelah baru saja pindah ke kamar yang mungil di Seoul, mengungkapkan cinta dan kepedulian terhadap ibunya, yang menyentuh rasa simpatik penonton. Adegan berikutnya menarik perhatian terhadap beberapa masalah masyarakat Korea saat ini, seperti pemutusan pekerjaan yang tidak adil, pembayaran upah yang tertunda, diskriminasi terhadap pekerja migran, dan prasangka buruk terhadap orang cacat. Meskipun mengemukakan masalah sosial yang serius, drama musikal ini tidak terasa berat atau muram. Cerita diungkapkan dengan cara yang ringan dan alami berkat dialog cerdas dan humor yang halus, yang merupakan atribut kunci dari pementasan ini.
43
1
Simbolisme Mencuci Kegiatan mencuci pakaian merupakan pekerjaan yang menghubungkan satu tetangga dengan tetangga yang lain, meskipun mereka tidak memiliki kesamaan latar belakang. Jemuran merupakan perangkat yang mewakili kelas sosial yang lebih rendah dan hal inilah yang ingin dikemukakan oleh drama musikal ini. Di Korea, dengan arus urbanisasi yang cepat, simbol paling menonjol dari kelas menengah saat ini adalah kompleks apartemen bertingkat tinggi. Bagi mereka yang tinggal di apartemen, “merek” apartemen mereka adalah kriteria untuk menilai kelas sosial. Jemuran merupakan simbol status sosial kelas bawah, yaitu mereka yang tidak tinggal di apartemen tersebut. Ironisnya, hal ini menjadi “hak istimewa” dari orang-orang yang tidak mampu tinggal di apartemen untuk menjemur pakaian mereka di atap bangunan yang mereka sewa pada hari Minggu yang cerah sambil bersenandung bersama. Jemuran dan motif pakaian berasal dari pengalaman hidup penulis-sutradara Chu Min-ju sendiri. Seperti karakter utamanya, Na-yeong, Chu lahir dan dibesarkan di daerah urban dan kemudian pindah ke Seoul. Pada awal 2000-an, ketika masih mahasiswa, dia mengatakan tidak ada tempat di kamar sewaannya untuk menjemur cucian, jadi dia “menyewa” jemuran dan sinar matahari di atas atap dekat tempat seorang teman. Dalam semua keadaan, ia menerima hidup apa adanya, sambil menjemur cucian, dan memimpikan masa depan yang cerah. Pengalaman hidup dan kepribadiannya tercermin dalam karakter lingkungan, adegan di toko buku, dan minat Na-yeong pada puisi, yang menyatu membangkitkan rasa empati yang kuat dari penonton. “Saat saya mencuci pakaian, saya menghapus noda kemarin,
44
1. Solongo (kanan), seorang pekerja migran dari Mongolia, menjadi teman tetangganya. 2. Solongo malu-malu memegang tangan Na-yeong ketika menggantung cucian di atas atap.
seperti debu yang saya sikat hari ini, dan kerutan yang saya setrika besok. Jadi hari ini saya hidup dengan tekanan esok hari” nyanyian Na-yeong pada bagian solonya berjudul “Mencuci”. Baris puitis yang indah diekspresikan dalam bahasa Korea asli, dan melalui tema “mencuci” disampaikan ketenangan dan harapan yang tulus. Komposer musik Min Chan-hong mampu mengungkapkan emosi dan pesan meski tanpa lirik, dan dengan artistik menonjolkan keindahan puitis. Dalam drama musikal Korea, yang didominasi oleh pertunjukan teater besar dengan bintang dan tata panggung yang mewah, keberhasilan “Mencuci” dengan delapan tokoh (14 peran dimainkan berganda) dan biaya produksi rendah sejumlah $ 900.000 (pada musim ke-13) benar-benar prestasi luar biasa. Sejak tampil perdana pada April 2005 di Teater Nasional Seoul, teater musikal memasuki pertunjukan ke-2.000 pada Desember tahun lalu. Sejak 2008, pertunjukan ini telah dipentaskan terutama di Daehangno, di tempat biasanya, dan sesekali tur pertunjukan di Busan, Daegu, serta kota-kota besar lainnya. Sejauh ini, sekitar 320.000 orang telah menikmati drama musikal ini dengan tiket yang selalu habis terjual dari teater kecil dengan 100 kursi, tanpa banyak publisitas. Drama musikal ini juga telah diterima baik oleh media dan kritikus teater. Beberapa penghargaan pun diraih untuk lirik dan skrip termasuk dari Korea Musical Awards pada 2005 dan Foreign Press Award pada 2008. Liriknya juga telah dimasukkan dalam buku pelajaran sekolah menengah. S e n i & B u d a y a Ko re a
Daya Tarik Universal “Mencuci” juga populer di tengah masyarakat Jepang. Pada Februari, Mei, dan Agustus tahun lalu, diadakan empat kali pertunjukan di Osaka dan Tokyo, dengan tiket yang terjual habis setiap pertunjukannya. Choe Se-yeon, presiden Teater Myungrang Soobak, perusahaan produksi drama musikal, mengatakan bahwa, “Jepang juga mengalami pengangguran kronis dan lapangan kerja non-reguler, situasi buruh migran telah lama menjadi masalah sosial yang serius. Jadi, orang Jepang dapat dengan mudah mengidentifikasi karakter tersebut”. “Drama musikal itu mengungkapkan tekad individu yang kuat untuk kehidupan yang lebih baik dan komunikasi yang bernilai penting antartetangga atau dalam komunitas,” demikian catatan Won Jong-won, seorang kritikus musik dan profesor di Soon Chun Hyang University, ketika menjelaskan respons positif dari penonton Jepang. “Lirik tersebut, mengajak penonton untuk langsung melihat kembali kehidupan mereka dan mendapatkan hiburan pada saat yang sama,” tambahnya. Bahkan di Jepang, di mana kesejahteraan sosial dan jaringan keamanan relatif mapan, pesan dalam drama musikal “Mencuci” bergema secara luas karena empati masyarakat untuk masalah ketidakstabilan tenaga kerja, penyakit kehidupan perkotaan, malapetaka mendasar saat ini yang disebut sebagai “risiko masyarakat”.
“Mencuci” terpilih sebagai salah satu dari sepuluh produksi terbaik tahun 2012 oleh jurnal Jepang Musical. Dengan demikian, wisatawan Jepang pun semakin banyak mengunjungi Daehangno untuk menonton pertunjukan drama musikal ini. Sebagai apresiasi untuk mereka, lirik lagu dilengkapi dengan teks bahasa Jepang pada monitor video di kedua sisi panggung. Pada tahap awal dan selanjutnya, karakter drama sering saling bertanya: “Berapa lama Anda tinggal di Seoul?”. Sering pindah mencari harga sewa yang terjangkau, menguras tabungan mereka yang tidak seberapa untuk memenuhi kebutuhan hidup, beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain setelah diberhentikan karena berbagai alasan, tokoh yang sama terus bekerja keras, sampai batas tertentu, untuk semua penonton. Pertanyaan tersebut dapat bervariasi—“Berapa lama Anda tinggal di Tokyo?” atau “Berapa lama Anda tinggal di New York?, dengan makna ketajaman yang sama. Dalam hal ini, bagaimanapun juga, luka yang tersirat yang mendasari pertanyaan diubah menjadi harapan melalui tekad mantap seperti, “Saya tidak akan pernah menyerah” (Na-yeong) dan “Saya akan hidup sehat dan panjang umur” (wanita lansia). Tidak ada keraguan bahwa “Mencuci” adalah salah satu drama musikal Korea paling luar biasa dari tahun 2000-an, yang menampilkan bekas luka masyarakat melalui semangat bukan kemarahan, melalui kehangatan hati bukan pengawasan yang semena-mena.
“ Saat mencuci pakaian, saya menghapus noda kemarin, seperti debu yang saya sikat hari ini, dan kerutan yang saya setrika besok. Jadi, hari ini, saya kenakan pakaian yang dirapikan dengan tekanan esok hari.”
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
45
2
JATUH CINTA pada KOREA
Jurnalis UK, Pencarian yang Tak Kenal Puas Tim Alper untuk Eksplorasi Budaya Kisah cinta Tim Alper dengan Korea tidak bermula dari ketertarikannya kepada persepakbolaan Korea, melainkan karena ia mendapat pekerjaan sebagai reporter dan komentator sepak bola online hingga membawa namanya terkenal. Setelah dua kali kunjungan singkatnya ke Piala Dunia 2002, seorang jurnalis lepas asal Inggris pindah ke Seoul enam tahun yang lalu. Sejak saat itu, ia terus mengembangkan ketertarikannya pada makanan Korea, musik Korea, dan seperti yang ia katakan, “segalanya adalah hal baru.” Charles La Shure, Profesor, Graduate School of Interpretation and Translation, Hankuk University of Foreign Studies Ahn Hong-beom Fotografer
T
im Alper yakin bahwa cara terbaik untuk hidup adalah dengan menghadapi masalah yang sulit. Sejak tiba di Korea enam tahun yang lalu, ia banyak berhubungan dengan beragam topik yang muncul di media, seperti di media Chosun edisi Mingguan, Alper menulis sebuah kolom mengenai pendidikan Bahasa Inggris dan bahaya dari “Konglish” (Bahasa Inggris yang di-Korea-kan). Selain itu, Alper juga mengisi kolom olahraga, seperti sepak bola, baseball, golf, sumo, dan K-1. Untuk majalah gaya hidup, Essen, Alper menulis pada kolom makanan budaya Korea; dan ketika ia bekerja sebagai produser di Radio TBS selama empat tahun, ia menemukan dunia musik Korea. Banyak waktu yang Alper habiskan untuk mendalami budaya Korea sebanyak mungkin. “Bila Anda ingin hidup di sebuah negara, Anda harus mendalami budaya lokal – yang meliputi bahasa, musik, makanan, semuanya,” ucap Alper ketika kami menemuinya dekat kantor Design House, sebuah kantor tempat ia bekerja saat ini sebagai editor untuk Morning Calm, sebuah majalah penerbangan Korea. “Bagi saya, hal yang terbaik adalah ketika saya berada di negara lain: untuk hidup dan belajar hal yang baru. Saya tidak ingin terjebak di tengah-tengah penutur Inggris dan merasa saat ini sedang jauh dari rumah. Yang saya inginkan adalah menemukan hal baru, seperti halnya mendapat kejutan setiap hari.”
Sepak Bola sebagai Gerbang menuju Korea Lahir dan besar di UK, Tim Alper selalu merasa tertarik dengan sepak bola. Oleh karena itu, topik itulah yang selalu ingin ia tulis ketika ia masuk ke dunia jurnalistik. “Itu adalah hal yang selalu diinginkan oleh setiap jurnalis laki-laki yang baru memulai karirnya,” katanya dengan senyum masam. Dengan kata lain, ada persaingan ketat di dalamnya; begitu sulit untuk mendapatkan kedudukan dalam industri tersebut. Alihalih menyerah untuk meraih mimpinya, Alper malah memilih jalan yang tidak konvensional untuk mencapai tujuannya: “Saya pikir, saya akan mencoba untuk menjadi seorang spesialis daripada seorang generalis. Berdasarkan perjalanan yang saya lalui, saya dapat mengetahui lebih banyak mengenai persepakbolaan Korea dengan hanya berbincang dengan orang-orang Korea yang saya temui. Selanjutnya, ketika Piala Dunia 2002 digelar, saat setiap orang memfokuskan pengamatan mereka pada Korea dan Jepang, saya malah masuk
46
S e n i & B u d a y a Ko re a
Tim Alper, juga kolumnis kuliner, menikmati suasana tenang di toko-toko kecil tempat minum teh dekat kantornya di Jangchung-dong.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
sedikit lebih dalam membahas tentang persepakbolaan Asia.� Tim Alper mulai menulis pada sebuah kolom sepak bola Asia di sebuah koran yang ditujukan untuk orang-orang Korea di UK. Koran yang ia tulis merupakan sebuah koran gratis, namun memiliki sirkulasi yang luas. Jalan inilah yang mendatangkan pekerjaan baginya menjadi seorang reporter yang melaporkan jalannya sepak bola Korea untuk sebuah website. Sudah barang tentu, lokasi jalannya pertandingan sepak bola di Korea menjadi hal yang menantang: siaran langsung online tidak selalu dalam kualitas baik, perbedaan waktu juga menuntut Alper untuk tetap terjaga pada jam-jam tertentu. Tim Alper pertama kali menginjakkan kaki di Korea pada tahun 2005 dalam kunjungan singkat. Tahun berikutnya, ia pun melakukan hal yang sama. Pada tahun 2007, Alper memutuskan untuk hijrah ke Korea agar ia dapat lebih dekat dengan subjek yang diamatinya. Meskipun ia tak lagi melaporkan jalannya pertandingan sepak bola Korea secara langsung, ia masih berusaha untuk meliput pertandingan sebanyak mungkin. Tim Alper bercerita pada kami bahwa ia seringkali ditanya mengenai perbandingan sepak bola Korea dengan Jepang. “Terdapat lebih banyak kemiripan daripada perbedaannya. Keduanya sangat bersifat tek-
47
Ia adalah seorang penggemar berat musik Korea. Tapi jangan berpikir tentang K-pop dan Gelombang Korea, musik Korea favorit Alper adalah trot (atau ppongjjak ) – sebuah musik hasil fusi antara gaya Korea, Jepang, dan Barat yang akhirnya menjadi akar dari musik pop Korea.
nis. Baik Korea maupun Jepang lebih sering menjaga bola agar tetap berada di lapangan dan sangat sedikit melakukan kecerobohan dalam bermain ketimbang yang sering dijumpai pada permainan Eropa. Satu hal yang ingin saya katakan tentang sepak bola Korea adalah tingkat stamina para pemainnya sangat tinggi – termasuk dalam beberapa yang tertinggi di dunia. Contohnya saat Anda menonton Korea di Piala Dunia, stamina mereka tak henti mengejutkan saya terkait dengan berapa lama para pemain mampu tampil dalam keadaan seratus persen.” “Meskipun sepak bola telah menjadi topik perbincangan di Korea pada waktu-waktu tertentu, Piala Dunia 2002 telah mengubah infrastruktur negara yang terkait dengan sepak bola,” papar Alper. “Sebelum Piala Dunia, hanya ada satu stadion di negara ini yang dapat digunakan untuk bermain sepak bola, tapi sekarang, sudah terdapat beberapa. Anda dapat melihat beberapa stadion dengan kapasitas penonton lebih dari 60.000 orang,” lanjutnya. Infrastruktur yang diimbangi dengan latihan intensif dan sikap tak ada matinya menghasilkan: “Sekarang Korea punya nama besar di panggung internasional. Peringkat Korea meningkat dengan pesat. Mereka memenangkan medali perunggu pada Olimpiade tahun lalu – itu merupakan satu kehormatan besar bagi tim sepak bola Asia – dan terdapat begitu banyak nama besar pemain sepak bola Korea di luar negeri. Katakanlah Anda menyebut nama Ki Sung-yueng dan Park Ji-sung, maka sebagian besar penggemar sepak bola Eropa akan tahu pasti mengenai siapa mereka.” Sesuatu yang Tim Alper sesalkan adalah kurangnya dukungan para penggemar bola yang ada di rumah. “Sangat disayangkan bahwa ada lebih banyak orang Korea yang enggan untuk keluar rumah dan menonton pertandingan sepak bola domestik,” keluh Alper. “Banyak orang lebih memilih untuk menonton EPL (Liga Inggris Premiere) di TV. Kadang-kadang penonton pergi ke stadion, sebuah stadion kecil tepatnya, itupun hanya untuk menonton jalannya setengah pertandingan. Para pemain sepak bola di Korea adalah para pemain profesional, tiket dijual dengan harga yang sangat murah, namun tetap saja orang-orang hanya berjalan melewati stadion, tidak tertarik, karena pertanding-an itu bukan Liga Inggris Premiere. Meskipun demikian, pertandingan sepak bola Korea tetaplah tergolong pertandingan tingkat tinggi. Anda tidak akan menyesal untuk menonton langsung sebuah pertandingan sepak bola di Korea.”
Titik Pertemuan Makanan dan Kebudayaan Alper menjelaskan pada kami bahwa ia dapat berbincang tentang sepak bola berjam-jam, namun itu bukan berarti ketertarikannya pada
48
Korea berhenti sampai di situ. Ia telah lama merasa tertarik dengan makanan. Saat ia masih duduk di universitas di UK, ia berkerja sebagai koki pada sebuah restoran. “Saya sangat menikmatinya, hanya saja kegiatan itu sangat memusingkan. Jadi, saya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Meskipun begitu, saya masih terus memupuk ketertarikan saya terhadap makanan. Jadi, begitu saya tiba di Korea, saya mulai menjelajah tentang makanan juga.” Alper menyebutkan bahwa makanan Korea favoritnya adalah chueotang, sebuah sup yang berisi daging ikan glodok (mudfish). “Saya suka rasa tang (sup) yang kuat,” urainya sembari tertawa. Salah satu hal yang membuat Alper kagum terhadap makanan Korea adalah mengenai bagaimana setiap makanan dapat diatur agar mampu menciptakan satu karakter unik tertentu. “Anda dapat melihat aspek kecil dari makanan Jepang dan Cina di sini, namun mereka hidup berdampingan. Korea tidak pernah mengambil alih semuanya. Ini bukan pula berarti bahwa mereka yang telah datang kemudian menjadi bagian yang dominan juga di Korea.” Bagi Tim Alper, ini merupakan sebuah manifestasi penting atas budaya Korea: “Saya merasa di dalamnya terdapat ‘semangat Korea’ dan inilah makanan Korea.” Kolom yang Alper tulis untuk Essen, memberinya kesempatan untuk mewujudkan rasa cintanya terhadap makanan dengan cita rasa Korea, dengan memfokuskan diri pada pembahasan mengenai bumbu-bumbu, hidangan spesifik, atau aspek-aspek tertentu yang sangat budaya yang ada pada makanan Korea. “Saya menemukan hal yang sangat menarik pada makanan Korea, yakni mengenai bagaimana makanan dapat berinteraksi dengan budaya. Menulis tentang makanan Korea memaksa saya untuk mengalami dan berpikir tentang bermacam-macam hal dari sudut pandang yang berbeda.” Sudut pandang pemikiran Alper tentang makanan berangkat dari pandangannya atas makanan budaya Inggris yang tidak selalu memiliki reputasi yang baik di kancah internasional. Ia melihat ada beberapa koki selebriti seperti Jamie Oliver dan Gordon Ramsay yang dapat naik daun seiring dengan munculnya makanan khas yang bersifat budaya. Keadaan ini menjadi pertanda bahwa keadaan dunia makanan mengalami perkembangan yang semakin baik, meskipun Alper sendiri masih melihat adanya kesempatan untuk melakukan perubahan. “Makanan Inggris sangat bersifat rumus. Bila kita bicara tentang ‘daging dan dua sayuran’, maka Anda dapat mengambil sepotong daging, kentang, dan satu jenis sayuran lainnya – mungkin semuanya kemudian akan direbus. Saya sedang mengkarikaturnya sekarang, tapi jangan salah, di dalamnya mengandung kebenaran.” Dengan demikian, sangat tidak mengejutkan bahwa Alper begitu S e n i & B u d a y a Ko re a
terkesan pada keankeragaman da dari musik Korea dan cara makanan Korea: beraneka jenis menyanyi yang berbeda yang bumbu yang digunakan dan berasal dari gaya musik Korea bagaimana makanan disugtradisional seperti pansori [opera uhkan. Hal ini tercermin dari naratif] dan minyo [lagu rakyat].” bahasa Korea juga: “Kosakata Selanjutnya, tentu saja, adauntuk makanan Korea begitu lah bahasa Korea. Alper telah beragam. Ada beberapa kata lama tinggal di Korea namun sifat tertentu yang dapat Anda belum pernah secara formal temukan untuk menggambarbelajar bahasa Korea di kelas. kan makanan Korea namun “Saya belajar beberapa bahatidak ditemukan padanan katasa ketika saya masih sekolah nya dalam bahasa Inggris.” dan saya tidak suka suasana Dan tentu saja, ini meruparuang belajar. Saya per nah “Jika Anda akan berada di sebuah negara,” ujar Alper, “Anda perlu melibatkan diri dalam kan cerminan dari pendekatan tinggal di Spanyol dan Rusia, budaya lokal—termasuk bahasa, musik, makanan, dan semuanya.” yang berbeda terhadap apa dan saya belajar bahasa langyang budaya Barat lihat sebagsung di tempat. Saya pikir, saya ai makanan-makanan dasar. “Di Inggris, kentang hampir selalu hadir dapat melakukan hal yang sama di Korea. Secara pribadi, saya sering pada setiap jenis makanan, kecuali pada menu sarapan. Tapi, untuk merasa berada dalam situasi yang mampu memaksa saya untuk belaapa orang Korea menggunakan kentang? Mereka menggunakannya jar dan berbicara bahasa Korea. Keadaan inilah yang sangat berpengsebagai hiasan, atau sebuah banchan [makanan tambahan]. Anda aruh pada saya,” paparnya. Alper seringkali mendapati dirinya seperti dapat meletakkan kentang ke dalam sebuah sup ketika Anda meresedang tenggelam dan harus berenang dalam situasi-situasi seperti nung, atau mungkin ketia Anda membuat kimchi bokkeumbap [nasi ini. “Di manapun saya bekerja, orang Korea selalu dilibatkan. Mulai dari goreng dengan kimchi] dan Anda hanya ingin mencincang kentang berbicara dengan para kenalan, melihat teks-teks Korea kemudian kemudian meletakkannya di sembarang tempat pada makan tersemembandingkannya dengan teks-teks bahasa Inggris, dll. Bahkan ketibut. Itu adalah sebuah cara yang berbeda untuk makan kentang di UK ka saya pertama kali mulai bergelut dengan sepak bola, saya langsung – Anda memakannya sebagai bentuk sebuah rezeki untuk membuat dipaksa untuk memasuki dunia tutur berbahasa Korea, seperti menonAnda kenyang.” ton berbagai hal di televisi dan membaca artikel tentang sepak bola dalam bahasa Korea. Saya tidak punya pilihan.” Terpikat oleh Trot, sebuah Jenis Pop Korea yang Unik Gagasan terjun langsung merupakan filosofi hidup bagai Alper. Hidup di negara lain selalu menghadirkan tantangan. Bagi Tim Menghabiskan waktu enam tahun di Korea sama artinya dengan Alper, sebuah tantangan adalah ketika ia menerima fakta bahwa diriberhenti menjadi seorang turis dan mendekati kehidupan di Korea nya berbeda. “Anda menonjol,” katanya. “Saya ingat ketika pertama kali seperti seorang tamu yang begitu lahap saat jamuan makan. “Anda saya tiba di Korea. Semua orang menunjuk pada saya dan anak-anak harus aktif keluar dan menemukan makanan yang baru yang belum akan berteriak kemudian tertawa. Sikap mereka menunjukkan sama pernah Anda coba sebelumnya, dan menemukan jenis musik baru sekali rasa tidak bersalah, tentu saja tanpa tindakan yang menyakitkan. yang belum pernah Anda dengar sebelumnya, begitu pula halnya dengNamun berdasarkan fenomena itu, orang-orang sebenarnya menghaan aspek-aspek budaya, sejarah, dan cerita rakyat yang belum perrapkan hal yang berbeda dari diri Anda.” nah Anda ketahui sebelumnya. Itu merupakan bagian dari pengalaman Hal tadi tidak menghalangi dia untuk menjelajah sebanyak mungtinggal di Korea yang lebih dari sekedar berjalan-jalan berkeliling untuk kin budaya Korea. Selain sepak bola dan makanan Korea, Alper juga berfoto. Anda akan menjadi lebih dari sekedar turis biasa bila Anda seorang penggemar berat musik Korea. Jangan berpikir tentang K-pop tinggal di Korea dalam waktu lama. Menemukan hal-hal baru adalah dan Gelombang Korea, musik Korea favoritnya adalah trot (atau pponsalah satu motivasi saya untuk tinggal di Korea,” jelasnya. gjjak) – sebuah musik hasil fusi antara gaya Korea, Jepang, dan Barat Keadaan tadi tidak menutup kemungkinan bagi Alper untuk berada yang akhirnya menjadi akar dari musik pop Korea. “Saya tidak mengdi tempat lain di kemudian hari. “Siapa yang tahu tentang hari esok?” atakan tidak menyukai lagu-lagu pop pada genre yang lain. Hanya katanya sembari mengangkat bahu. “Meskipun demikian, saya sangat saja, saya tidak melihat sesuatu yang unik yang terkait dengan Korea menikmati keberadaan saya di Korea. Saya sangat senang berada di di dalamnya. Bila Anda menyanyi kemudian menyisipkan bahasa sini dan saya sudah menganggap Korea sebagai rumah saya sendiri.” yang berbeda di dalam sebuah lagu, maka lagu tersebut dapat beraMelihat semangat pendekatan yang Alper lakukan pada budaya Korea, sal dari mana saja. Berbeda dari trot. Trot itu unik. Ini merupakan benmungkin perjalanannya di Korea akan terus berlanjut hingga beberapa tuk gabungan ketukan Barat yang ditambahkan dengan suara berbetahun ke depan. Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
49
di atas jalan
Kehidupan yang Lambat di Pulau Cheongsan Di Pulau Cheongsan, cara terbaik untuk melakukan perjalanan dengan cepat adalah dengan mengikuti langkah-langkah lambat sekelompok gembala lembu sambil menikmati pemandangan alam. Pemandangan dan suara-suara kehidupan pulau dapat ditemukan di sepanjang pesisir dan tidak akan mungkin dapat ditemukan lagi pada saat-saat sekarang ini. Kang Je-yoon, Penyair dan Kepala Sekolah Pulau, Institut Kemanusiaan Pressian | Ahn Hong-beom Fotografer
1 50
S e n i & B u d a y a Ko re a
“S
eorang gadis muda di Pulau Cheongsan tidak boleh makan tiga mal beras sebelum dia menikah.” Satu mal setara dengan 8 kilogram, dan ukuran ini telah diwariskan secara turun temurun di daerah sebelah selatan pulau yakni di Kabupaten Wando yang mencerminkan sebuah wilayah yang langka akan bahan makanan utama. Peraturan larangan gadis muda tidak boleh memakan lebih dari tiga mal ini mengingatkan masa ketika beras dianggap lebih berharga daripada uang. Dari seluruh pulau yang menjadi bagian Provinsi Jeolla Selatan, di ujung sebelah barat daya Peninsula Korea, Pulau Cheongsan merupakan sebuah wilayah yang terkenal sering mengalami kekurangan beras. Sebenarnya, situasi di beberapa pulau lain juga tidak jauh berbeda; beras menjadi barang langka di sepanjang wilayah yang penduduknya menggantungkan hidup mereka dari laut. Saya lahir di Bogildo, sebuah pulau di Kabupaten Wando. Saya dapat menghitung banyaknya hari ketika saya makan nasi saat masih anak-anak. Kami biasanya makan nasi putih terutama pada hari-hari spesial, seperti hari Tahun Baru, Perayaan Panen Chuseok, atau beberapa hari lain dalam rangka memperingati kematian para leluhur. Pada kondisi demikian, tidak ada perempuan muda yang ingin menikah dengan keluarga yang berasal dari Pulau Cheongsan, sebuah tempat dengan reputasi wilayah penghasil beras lebih rendah daripada pulau perempuan muda tersebut. Wilayah Pulau Cheongsan merupakan hasil adaptasi lingkungan dengan pembentukan kembali kemiringan gunung, menciptakan area persawahan di atas pantai dan irigasinya menggunakan batu-batu rata. Sistem persawahan yang unik disebut gudeuljang-non, yang memungkinkan para penduduk pulau dapat menghasilkan beras yang nilainya lebih berharga dari uang di pulau mereka. Sistem persawahan teras ini diangkat Sebagai Warisan Pertanian Penting Negara yang pertama pada awal tahun ini.
Berjalan Di Sekitar Pulau Perjalanan dengan menggunakan kapal ferry membutuhkan waktu sekitar 50 menit dari kota Wando menuju pulau Cheongsan. Waktu tersebut dihitung dari stasiun jalur laut yang terdapat di antara Wando dan sebuah pulau Provinsi Jeju. Luas Pulau Cheongsan adalah 33.3 kilometer persegi dengan puncak gunung Maebong pada ketinggian 385 meter, bagian selatan pulau merupakan titik tertinggi. Luas pulau ini kurang dari setengah Pulau Manhattan (87.5 kilometer persegi) New York, namun luasnya tiga kali ukuran Yeouido di Seoul. Pulau ini menjadi terkenal pada tahun 1993 karena film “Seopyonje,” yang disutrdarai oleh Im Kwon-taek, seseorang yang memberikan alasan untuk menghidupkan kembali pansori, lagu naratif tradisional warisan budaya Korea. Pengambilan gambar film Im dilakukan di Pulau Cheongsan yang membuat keindahan luar biasa pulau itu terekam dan menjadi terkenal di seluruh penjuru Korea. Setelahnya, banyak drama-dra-
ma televisi seperti “Spring Waltz,” pengambilan gambarnya juga turut dilakukan di pulau ini. Terdapat alasan lain mengapa pulau ini menjadi terkenal seperti sekarang. Pada bulan Desember 2007, Cittaslow, sebuah organisasi internasional yang mendokumentasikan tentang perubahan yang lambat, menjuluki Pulau Cheongsan sebagai kota lambat pertama di Asia. Lima “kota” lain di Korea juga mendapat julukan yang sama. Akibatnya, sebuah jalan bebatuan yang disebut Cheongsan-Yeosu-gil, diberi nama Seullogil (Slow Path), dibangun di pulau ini akibat pengaruh besar Jeju Olle yang terkenal, yakni sebuah rute perjalanan yang mengitari Pulau Jeju. Sejak saat itu, jalur pejalan kaki Slow Path banyak dilalui pengunjung. Slow Path memiliki 11 anak jalan yang masing-masing sejauh lebih dari 42 kilometer, bukan sebuah jalur yang sangat panjang untuk seorang pejalan kaki. Keindahan alamnya yang luar biasa yang dapat dinikmati ketika berjalan kaki di sepanjang pantai di pulau tersebut, membuat Pulau Cheongsan dengan cepat memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan nasional. Sebagai seorang penduduk pulau, saya merekomendasikan anda untuk melakukan perjalanan ketika pertengahan musim dingin. Musim dingin di pulau ini bernuansa sejuk hingga bayam, bawang putih, sawi, dan kembang kol Korea dapat tumbuh di luar kebun. Pemandangan lahan hijau yang ditumbuhi oleh jewawut memberikan pemandangan tersendiri pada pertengahan musim dingin apalagi keadaan ini didukung oleh ketenangan kehidupan desa yang tidak mudah dirasakan pada musim semi.
Slow (Lambat), Sebuah Jalur Berliku Slow Path dimulai dari desa Docheong-ri, sebuah tempat di mana para penumpang perahu menjangkarkan kapal. Dari dermaga ini, kita dapat melihat beberapa nelayan yang sibuk mengais rumput laut dari tambak mereka. Mereka menarik tali yang telah terbebani oleh hasil panen dari laut untuk kemudian mengosongkannya. Setelah itu, mereka akan menempelkan spora rumput laut di atasnya dan kembali membenamkan tambang ke dalam air. Sebagian besar rumput laut yang tumbuh di sekitar pulau digunakan untuk memberi makan abalon. Hal ini dikarenakan sumber pendapatan terbesar para penduduk pulau berasal dari pertambakan abalon. Dulu, Docheong-ri dikenal dengan pasi-nya, yakni sebuah pasar musiman untuk berdagang makarel. Pasi yang berarti “pasar di atas
1. Teras sawah berdinding batu yang dibuat oleh penduduk pulau untuk menghasilkan beras sebagai kebutuhan dasar mereka. Sawah Gudeuljang adalah sawah yang ditunjuk sebagai Warisan Pertanian Penting Korea yang pertama awal tahun ini. 2. Sebuah desa di bentangan pantai dan laut dilihat dari bukit di sepanjang Jalan Sopyonje.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
51
2
1
gelombang� merupakan sebuah pasar dagang musiman untuk berjualan ikan. Selama musim makarel, toko-toko yang bersifat sementara untuk memenuhi kebutuhan para nelayan dan pelaut seperti barangbarang kebutuhan kapal dan jam tangan, bar, restoran, hostel, tempat pangkas rambut, dan beberapa kamar mandi umum sengaja disediakan untuk memberikan kenyamanan berbisnis. Armada pemancing yang mengkhususkan diri untuk menangkap makarel akan membawa hasil tangkapan yang sangat banyak kapanpun mereka pergi memancing. Jika hasil tangkapan mereka melebihi kapasitas yang dapat dimuat di perahu, mereka akan membuang sisanya di laut. Bau busuk ikan makarel yang mengambang di dekat pantai merupakan sebuah masalah besar. Para penduduk desa akan mengambil makarel-makarel tersebut kemudian menggaraminya dan memasukkan ikan-ikan itu ke dalam toples. Apabila masih terlalu banyak makarel yang tersisa, para penduduk akan mengolahnya menjadi kompos. Sebuah kisah yang terdengar seperti dongeng saat ini, saat harga ikan menjadi begitu mahal. Pasar makarel di Pulau Cheongsan tutup pada pertengahan tahun 1960an, ketika populasi makarel menurun. Setelah itu, muncullah pasar ikan tongkol, tentunya ketika jumlah ikan tongkol di lautan masih melimpah. Sayangnya, pemancingan ikan tongkol secara besar-besaran rupanya memicu penurunan jumlah ikan tongkol juga. Akhirnya, pasar ikan tongkol juga ikut tutup pada pertengahan tahun 1980-an. Seiring menurunnya persediaan ikan, perahu-perahu dan para nelayan
52
pun ikut menghilang. Populasi pulau yang pada tahun 1973 mencapai jumlah hingga 13.500 orang menyusut hingga jumlah 2.000 orang saat ini; lagi-lagi Cheongsan menjadi pulau yang sunyi. Pada era saat ini, para penduduk pulau Cheongsan melakukan usaha tambak abalon, laver (sejenis alga), dan rumput laut sebagai usaha untuk bertahan hidup, daripada pergi melaut. Setelah melewati Docheong-ri, kita melanjutkan perjalanan menuju Donggujeong di Dorak-ri. Donggujeong adalah sebuah nama sumur yang digali pada abad 17 oleh sekelompok orang yang datang kemudian tinggal di pulau ini. Bahkan ketika puncak musim dingin tiba, saat semua membeku, sumur ini tetap berair. Kisah air yang berasal dari sumur yang berusia berabad-abad ini merupakan kisah dengan cita rasa sejarah. Semua penduduk pulau minum dari sumur ini. Oleh karena itu, sumur ini disebut dengan sumur kehidupan. Sekarang, tidak semua orang melalui jalur ini. Itu sebabnya para pejalan kaki yang melewati jalur ini dianggap sebagai petualang yang beruntung. Berjalan kaki merupakan olahraga bagi pikiran dan tubuh. Berjalanlah dengan tenang sambil membiarkan kekuatan dalam diri kita berhubungan dengan alam. Proses refleksi pada akhirnya dapat dimulai dari langkah ini. Puncaknya adalah ketika kita dapat mendengarkan suara hati kita sendiri. Itulah nilai berharga yang ditawarkan dari kegiatan berjalan kaki dengan lambat. Setelah tiba di sebuah jalur tanjakan, kita akan dapat melihat jalan berliku yang sering muncul dalam film “Seopyonje.� Panjangnya jalur S e n i & B u d a y a Ko re a
2
beton beraspal disebut dengan “Seopyonje Path” dan salah satu adegan drama dilakukan di tengah-tengah ladang jewawut yang saat itu merekam adegan ada seorang penggemar yang pingsan di atasnya. Bagaimanapun, tempat yang paling signifikan – dan paling indah – dari jalur ini adalah sebuah kuil yang ada di Dang-ri. Kuil ini merupakan sebuah bangunan sederhana yang dikelilingi oleh dinding batu yang kokoh dan tinggi, berdiri di tengah-tengah pepohan pinus yang berada di awal jalur Seopyonje. Tempat ini merupakan sebuah tempat yang dianggap suci oleh para penduduk pulau dan termasuk dalam asset budaya. Selama lebih dari ribuan tahun, di tempat ini telah diabadikan satu roh yang dipercaya menjadi santo pelindung pulau. Saat ini, banyak orang mengunjungi tempat ini karena keberadaannya telah terekam baik di drama-drama maupun dalam film. Nampaknya, kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang bersifat takhayul mulai diabaikan semenjak masuknya agama Kristen di Korea. Roh suci yang diabadikan di kuil tersebut didedikasikan untuk Han Nae-gu, sebuah sosok legendaris dari kerajaan Silla. Menurut tradisi lisan, Jenderal Han adalah bawahan dari Jang Bo-go (787–846), yang
memiliki pasukan khusus yang diperintahkan untuk melintasi laut melalui Sungai Kuning. Pasukan tersebut adalah pasukan yang biasa ditempatkan di kota Cheonghaejin di Pulau Wan. Jenderal Han memimpin Pulau Cheongsan dan mendapat kehormatan dari para penduduk pulau. Ketika ia meninggal di usia senja, para penduduk membuatkan sebuah batu nisan untuknya. Selain berfungsi sebagai penanda untuk memuliakannya sebagai santo penlindung, batu tersebut dianggap sebagai tempat beribadah; dan itu telah berlangsung selama lebih dari ribuan tahun. Sebuah hal yang mengagumkan bagi sebuah kuil tua di pulau kecil. Kuil yang ada di pulau Cheongsan merupakan satu-satunya tempat suci para penduduk. Oleh sebab itu, hal-hal yang tidak bersih tidak diperkenankan untuk berada di sini, seperti tandu jenazah yang dila-
1. Jalur Sopyonje yang berliku di tengah keharmonisan alam bunga lobak, sebuah ladang gandum hijau, dan dinding batu. 2. Sebuah dolmen dan sebuah lempengan batu yang menginstruksikan Anda agar turun dari kuda, diukir dengan gambar Buddha, terletak di sisi jalur jalan melewati Eup-ri. 3. Wisatawan yang berjalan jalur Sopyonje dapat melihat para pemain mengulang adegan dari film.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
53
3
Daerah Pulau Cheongsan merupakan hasil adaptasi dari lingkungan mereka yang sulit, yaitu dengan membentuk kembali kemiringan gunung, menciptakan persawahan di pinggir pantai dan irigasinya menggunakan batu-batu yang datar. Sistem persawahan yang unik, disebut gudeuljang-non memungkinkan para penduduk pulau menghasilkan beras yang memiliki nilai lebih berharga daripada uang di pulau mereka.
1
rang untuk melintas di depannya. Orang yang sedang mengendarai kuda atau sedang berada di atas tandu harus turun terlebih dulu lalu berjalan kaki sejak sebelum mencapai kuil. Penduduk desa setempat masih melakukan ritual untuk menghormati jenderal penjaga pada hari ketiga di bulan purnama pertama setiap bulan. Dahulu kala, hanya
seseorang yang telah menjalani ritual penyucian diri sepanjang tahun yang dapat menjadi pemimpin upacara ritual. Saat ini, kepala desalah yang memimpin upacara tersebut. Panitia pemujaan terdiri atas lima orang, termasuk pemimpin upacara. Kelima orang tersebut tidak boleh melakukan tindakan yang dianggap dapat mengotori selama 15 hari
Seoul
Bagaimana mencapai Pulau Cheongsan dari Seoul: Sebuah bus ekspres melintas bolak-balik dari Seoul menuju Wando empat kali sehari, sementara perjalanannya akan memakan waktu sekitar lima jam. Agar dapat tiba di pulau siang hari, Anda dapat menggunakan bus malam ekspres menuju Gwangju kemudian ganti dengan bus antar kota agar dapat tiba di Wando saat pagi hari. Dengan menggunakan kereta api, Anda dapat melakukan perjalanan menuju Gwangju atau Mokpo kemudian pindah ke bus antar kota dengan tujuan pulau. Dari terminal bus antar kota di Wando, bagi para penumpang yang berangkat dengan mengemudi mobil, maka jaraknya hanya berkisar 3 menit ke kapal feri, sementara bagi pejalan kaki akan mencapai waktu hingga 20 menit. Di kota Wando, Anda juga dapat menikmati hutan hujan Judo, sebuah monumen alami, dan sebuah pasar ikan ketika Anda menyusuri jalan di sepanjang pinggir pantai. Jadwal keberangkatan feri antara Wando dan pulau Cheongsando bervariasi bergantung pada kondisi cuaca. Untuk perjalanan menuju pulau, cuaca menjadi faktor yang penting. Oleh karena itu, Anda disarankan agar memeriksa terlebih dahulu ramalan cuaca guna menghindari masalah. Untuk melihat jadwal keberangkatan feri, lihat laman Wando Cheongsan Agricultural Cooperatives: http://www.cheongsannh.com (hanya untuk yang berbahasa Korea). Untuk ramalan cuaca, hubungi: (82) 016-131 (tersedia layanan dalam bahasa Inggris dan Cina).
54
Gwangju Mokpo Pulau Wan Pulau Cheongsan
bus pulang-pergi bus ekspres bus antarkota Kereta api Kapal
S e n i & B u d a y a Ko re a
sebelum ritual dilaksanakan, seperti berziarah ke makam orang yang telah tiada dan melakukan hubungan seksual. Hal-hal tabu yang pada hari pelaksanaan bahkan dikategorikan lebih banyak lagi, misalnya jika salah satu dari kelima panitia bertemu dengan seseorang di jalan ketika menuju kuil, maka ia harus kembali dulu ke rumah untuk menyucikan diri.
ran siapakah yang ada di atas rumput. Kuburan rumput, disebut juga dengan chobun, adalah sebuah makam sementara yang digunakan untuk upacara tradisional pungjang, atau “penguburan angin,� yakni sebuah langkah pertama pembusukkan yang dialami tubuh. Proses ini biasanya dilakukan sebelum proses penguburan di dalam tanah. Kuburan ini nampak seperti perahu dengan atap rumput – peti berisi tubuh yang mati ditutup oleh atap yang terbuat dari jerami yang telah kering. Dinding Batu dan Sebuah Feri Menuju Akhirat Keluarga menutupi atap tersebut dengan sangkar hijau dan mengikatJalur pejalan kaki membawa kita pada pemandangan yang luar nya dengan tambang nilon yang masih baru. Di atas atap, beberapa biasa indah ketika menuju desa-desa yang ada di Cheonggye-ri, tangkai pinus disebarkan, mungkin untuk memperlambat pembusukBuheung-ri dan Wondong-ri: terasering sistem persawahan yang berkan simbolis, dengan menggunakan jarum pinus yang tak mudah dinding batu pada sisi lereng bukit, menghijau karena musim tanam rusak. Di dekatnya, pohon-pohon pinus bergoyang lembut dalam hempadi telah dimulai. Ini merupakan sistem persawahan gudeuljang yang busan angin yang sepoi-sepoi. terkenal di Pulau Cheongsan, yang merupakan hasil bentukan di lansJenazah nantinya akan ditempatkan pada pemakaman keluarga. kap perbukitan. Selain itu, terasering ini diolah dan diairi melalui pengUpacara penguburan di dalam bumi hanya boleh dilakukan setelah aturan batu yang datar. Saya curiga bahwa tiga tahun usia kematian. Seorang ahli feng warisan teknologi pertanian sejak adanya shui juga turut berperan untuk menentukan sebuah masyarakat dimulai dari bentuk terahari baik, jika tidak ada hari baik pada tahun sering semacam ini. Pertama kali dibangtersebut, maka keluarga harus menunggu un pada abad ke-16, sistem persawahan hingga tiga tahun mendatang. Hal ini menini diciptakan dengan batu-batu datar yang jelaskan alasan mengapa kuburan rumput terletak di bawah pematangnya. Kemudian tidak diperbolehkan lagi dilakukan sejak batu-batu tersebut dilapisi lumpur agar berbeberapa dekade lalu. Tradisi dua kali pengsifat anti air. Baru setelah itu, tanah dileuburan seperti ini telah hilang di daratan, takkan di atasnya agar dapat menahan air. namun masih terus berlangsung di pulai-puDi bawah bebatuan datar, sebuah saluran lau sebelah barat daya laut. Hal ini mungkin air diatur untuk mengairi sawah. Dibangun dikarenakan masih adanya sistem keperdengan kearifan petani zaman dahulu, siscayaan yang masih berhubungan dengan tem ini mampu membuat nilai padi masih pulau (insular). Meskipun demikian, Pulau berharga di pulau ini, meskipun harga padi Cheongsan adalah satu-satunya tempat di saat ini telah menjadi lebih murah dibandingmana kuburan rumput masih dapat dilihat. kan dengan ramyeon. Di beberapa tempat di dunia, orang2 Pulau Cheongsan adalah sebuah temorang masih meyakini bahwa untuk menca1. Pesawahan berdinding dan adegan di pinggir pantai saat pat yang didefinisikan dengan bebatuan dan pai alam akhirat, orang mati perlu menyematahari terbenam. Pulau Wan terlihat di seberang laut. angin. Sangseo-ri dan Dongchon-ri adalah brangi sungai yang terbentang antara dunia 2. Di Gukhwa-ri, hasil tangkapan ikan teri lokal dikukus dan dikeringkan di atas nampan. desa-desa yang memiliki dinding-dinding ini dengan dunia lain terlebih dahulu. Contobatu yang masih dilestarikan bentuk keashnya seperti yang dilakukan oleh suku Yoruliannya. Dinding-dinding batu yang kuat pada pulau yang berangin ini ba di Afrika Barat. Berdasarkan keyakinan suku ini, orang mati dikuburtidak dibentuk oleh batu-batu yang disusun kemudian disatukan dengkan di atas perahu untuk melintasi sungai menuju dunia lain. Bagi para an palu, sebuah fenomena yang sangat jauh berbeda dengan yang penduduk pulau, fungsi laut bukan hanya sekedar ruang kehidupan di ada di daratan. Semua rumah yang ada di sini berdinding batu. Fungdunia ini. Badai laut yang tinggi yang pada suatu hari dapat mengansi dinding tersebut bukanlah sebagai penghalang angin, bukan pula cam pulau dapat berubah menjadi begitu tenang keesokan harinya. untuk meredam suaranya. Penduduk desa berpikir, bahkan dinding Laut dapat memberi kehidupan namun juga dapat membawa kemakokoh sekalipun tidak akan mampu menghalau angin dalam waktu tian tiba-tiba. Tidak hanya untuk keperluan mencari ikan untuk bertalama. Fungsi dinding tersebut adalah agar angin tetap dapat melewati han hidup, perahu juga dibutuhkan untuk menyebrangi batas kematian. celah-celahnya, agar kekuatan angin tersebut dapat menyebar. Hal ini Laut yang sama yang ada untuk konsep hidup dan mati. Apakah pada menjelaskan mengapa dinding-dinding batu tersebut memiliki jarak, masa lalu para penduduk pulau memanfaatkan kuburan rumbut sebagsebuah bentuk kesepakatan damai antara angin dan penduduk pulau. ai kapal feri untuk melintasi lautan? Saat ini, dalam lamunan, saya Dinding batu merupakan sebuah lintasan bagi angin. melihat perahu putih mengambang di atas bukit besar Gujang-ri, di Di atas bukit besar Gujang-ri, Anda mungkin bertanya-tanya kubuPulau Cheong-san. Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
55
“Korea: Sebuah Negara yang Mustahil” Penulis: Daniel Tudor. Tebal: 320 halaman. Harga: US$22.95. Penerbit: Tuttle Publishing (2012), Vermont.
Daniel Tudor, seorang wartawan Inggris majalah The Economist, sekaligus kontributor majalah Newsweek Korea, yang tinggal di Korea, mencoba menjawab beberapa pertanyaan mengenai Korea zaman sekarang melalui buku ini. Adapun pertanyaannya antara lain, “Seperti apa hubungan Korea Selatan dengan Korea Utara?”, “Bagaimana pengaruh pendidikan bahasa Inggris pada masyarakat Korea?”, “Apa makna kecenderungan multikulturalisme di Korea?”, dan “Di manakah kedudukan wanita Korea di masyarakat Korea pada zaman sekarang ini?”. Sebelum pembaca membuka buku ini, judul buku memunculkan rasa ingin tahu. Mengapa Korea adalah “Sebuah Negara yang Mustahil?”. Pengarang buku ini memberikan dua jawaban. Pertama, meskipun kelihatan mustahil, Korea dapat bertahan. Korea ternyata memiliki dua keajaiban, yaitu perkembangan ekonomi yang luar biasa dan tercapainya demokrasi dari diktator militer. Kedua, masyarakat Korea menekan orang Korea sendiri untuk harus sukses. Namun mereka melihat tidak mungkin orang Korea mencapai tujuan kesuksesan dilihat dari banyak sisi dalam masyarakat Korea. Buku ini dimulai dengan ringkasan yang pendek mengenai sejarah Korea dari masa prasejarah sampai akhir perang Korea (1950-1953). Meskipun ringkasan tersebut berhalaman tidak banyak, bagian ini menyajikan pengertian dasar sangat penting untuk memahami bagian-bagian lain dalam buku ini. Pada bagian pertama, para pembaca diantarkan ke enam tiang yang menunjang masyarakat Korea modern: shamanisme, Buddhisme, Konfusianisme, Kristianitas, kapitalisme, dan demokrasi. Hal itu menarik sekali karena empat tiang religius tradisional dibicarakan bersama dengan dua tiang ideologis modern. Kombinasi seperti itu kelihatan cocok. Penulis tidak berhenti pada deskripsi sederhana mengenai empat sistem religius tradisional tetapi melanjutkan diskusinya mengenai bagaimana empat sistem religius tradisional itu terus-menerus berpengaruh pada pemikiran Korea modern. Diskusi ini memiliki sudut pandang yang sangat tajam dan menarik. Pada bab kedua dijelaskan beberapa kode kebudayaan Korea yang sebenarnya sulit diterjemahkan ke dalam bahasa asing misalnya jeong dan han. Pada bab ketiga dijelaskan beberapa isu modern yang muncul dalam masyarakat Korea, yaitu politik, pekerjaan, industri perkawinan, dan pendidikan bahasa Inggris. Pada bab keempat diulas gaya hidup dan fenomena kultural seperti sikap orang Korea terhadap lingkungan hidup (living space), kuliner lokal, sinema, musik pop, dan budaya minum minuman keras sampai larut malam. Pada bab yang terakhir ditemukan koleksi pemikiran terhadap identitas orang Korea, yaitu nasionalisme, multikulturalisme, gelombang Korea, impor kebudayaan Korea, sikap orang Korea yang berubah terhadap homoseksualitas, dan perubahan kedudukan wanita Korea. Bab-bab tersebut merupakan ringkasan yang sederhana (masing-masing hanya 10 halaman), namun dapat dianggap sebagai esei yang memadai, khususnya bab tiga dan empat yang lebih diutamakan pada pemahaman pembaca daripada konsistensi penjelasannya.
56
Buku & lebih
Pengkajian Seorang Wartawan Inggris terhadap Korea
Charles La Shure, Profesor, Graduate School of Interpretation and Translation, Hankuk University of Foreign Studies
Pengantar Praktik Buddhis untuk Pembaca Penutur Inggris
Korea dari Perspektif Seorang Istri Duta Besar Amerika
“Enam Jalan ke Hati: Intisari Praktik Buddhis Korea”
“Surat dari Joseon”
Penulis: Seong Jae-hyeon. Penerjemah: Hong Yon-ju. Korektor: Ross Chambers. Fotografer: Ha Ji-kwon. Tebal: 192 halaman. Harga: 20,000 won, US$18.00. Penerbit: Bulkwang Publishing, Association of Korean Buddhist Orders (2011), Seoul.
Penulis: Robert Neff. Tebal: 431 halaman. Harga: 19,000 won, US$30.00. Pe-
Buku ini merupakan volume kedua dari tiga seri yang memperkenalkan Buddhisme Korea untuk pembaca penutur Inggris. Volume pertama Buddhisme Korea yang diterbitkan 2009 menyajikan pengantar umum. Sementara volume ketiga yang berjudul Pertemuan dengan Keindahan Buddhisme Korea diterbitkan 2013 dan memperkenalkan warisan kebudayaan Buddha di Korea. Sedang volume kedua berfokus pada enam praktik utama Buddhisme Korea: meditasi dengan cara focus pada topik tertentu (ganhwa seon), zikir Buddha, mantra, pembacaan sutra, dan ibadah. Buku ini memberikan sebuah pengantar praktis kepada para pengunjung candi yang berminat pada hal-hal yang lebih dari sekadar sejarah dan candi-candi Buddisme di Korea. Buku ini, sebagaimana tersurat pada judulnya, menyajikan praktik pokok dalam Buddhisme Korea. Sangat praktis dan memberi kesan buku yang hampir sama dengan sebuah meditasi. Pada kata pengantar berjudul “Perjalanan Pulang” (A Way Home)” digambarkan sebuah citra yang jelas dan intuitif terhadap konsep “rumah”. Terdapat sebuah pernyataan bahwa buku ini akan mengantarkan para pembaca ke sana, ditambah sebuah lirik lagu yang menggambarkan musim bunga di kampung halaman. Citraan berdasarkan konsep dan harapan Korea tradisional terhadap kampung halaman itu menimbulkan perasaan haru bagi para pembaca Korea. Dengan muatan yang sangat konkret dan praktis, buku ini mengemukakan suasana damai saat meditasi, proses pembacaan buku ini pun terasa sebagai meditasi. Setelah membaca kata pengantar yang bersifat tafakur, para pembaca diberikan sebuah pertanyaan: “bagaimana hati Anda sekarang?”. Pertanyaan itu mengantarkan pembaca ke diskusi mengenai penyakit manusia, bukan sebagai penyakit fisik, tetapi sebagai penyakit batin. Penyakit batin manusia itu diakibatkan oleh tiga racun, yaitu serakah, amarah, kebodohan manusia. Praktik Buddhis dapat menjadi obat penawar racun sekaligus ramuan pokok terhadap penyakit batin manusia. Enam bab berikutnya mengandung enam cara praktik. Setiap bab memiliki kerangka yang sama: penjelasan mengenai praktik, diskusi mengenai prinsip praktik dalam doktrin Buddhis, ikhtisar mengenai sejarah Buddha, penjelasan mengenai bagaimana praktik Buddhis dijalankan pada masa modern Korea, lalu pengantar mengenai pelaksanaan praktik secara bertahap. Setiap bab berakhir dengan bagian berjudul “renungan dari pemantau” yang mendorong para pembaca untuk mawas diri dan introspeksi.
Buku dengan subjudul yang agak panjang: Abad ke-19 Korea Melalui Mata Seorang Istri Duta”, menyajikan sudut pandang yang unik terhadap Korea pada abad ke-19. Pada masa itu kekuatan dari luar negeri yang dominan dalam masyarakat Korea mengalami perubahan berturut-turut. Perjalanan penulis ini mulai saat melihat koleksi terbitan John M. B. Sill yang bekerja sebagai duta besar Amerika di Korea (1894-1897), sampai penelitiannya yang ditulis tangan setebal 750 halaman oleh keluarga John M. B. Sill, disimpan di Universitas Michigan berupa microfilm. Kemudian penulis sampai pada pelucuran buku yang menarik, yang memperlihatkan seluk-beluk sejarah Korea. Buku ini tidak hanya mengandung surat Sally Sill, seorang istri duta besar, tetapi juga mengandung sejumah surat yang dikirimkan kepada adiknya, Liliy pada 1894 saat Sally mengalami kesulitan menulis karena penyakit reumatik yang diidapnya Bersama surat diplomat resmi dan surat pribadi, isi surat dalam buku ini memperlihatkan berbagai rekaman berbeda dengan catatan sejarah yang formal. Pada surat-suratnya tentang sejumlah peristiwa sejarah yang penting, misalnya perang Sino-Jepang, pembunuhan Ratu Min (sekarang lebih dikenal sebagai Ratu Myeongseong), dan pelarian Raja Gojong ke kedutaan Rusia, ditemukan sudut pandang keluarga asing yang menarik dan segar. Selain peristiwa sejarah yang penting, juga terdapat hal-hal kecil, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya masalah sistem pos, acara olahraga diplomat asing, dan gosip dalam komunitas Barat. Sebagian besar foto dalam buku ini memperlihatkan keadaan Korea pada 100 tahun lalu. Di sana-sini dalam buku ini ditemukan biografi beberapa tokoh yang berperan penting dalam kehidupan keluarga Sill. Hal itu sangat membantu para pembaca untuk memahami para tokoh dalam buku ini. Semua dirangkai dalam narasi Robert Neff yang sangat lancar. Narasi itu juga memberikan latar belakang yang diperlukan untuk memahami isi cerita dalam surat. Terkadang terdapat kutipan yang panjang. Meskipun rentang waktu yang terkandung dalam buku ini tidak panjang, namun periode itu merupakan sebuah masa yang sangat kompleks. Masa ketika Korea kehilangan kedaulatannya. Masa dan peristiwa seperti itu kadang-kadang mesti diperlihatkan dengan lensa yang luas karena sisi sejarah tidak dapat dimuat dengan lensa yang kecil. Namun buku ini menunjukkan bahwa sebuah catatan pribadi dapat menjadi lebih realis daripada catatan resmi dan bahan sejarah.
nerbit: Seoul Selection (2012), Seoul.
Esai
Musim Panas di Seoul Maman S Mahayana, Dosen Tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul
M
usim panas di Seoul laksana sebuah kontras dengan suasana musim dingin. Jika pada musim dingin, di jalanan orang-orang berselimut jaket tebal dan syal menutupi leher, pada musim panas, mereka seperti berlomba memamerkan model baju-baju tipis dan celana atau rok pendek di atas lutut. Bunga mawar warna-warni bermekaran di ujung musim semi atau awal musim panas. Tampak, kelompaknya besar-besar. Semua seperti melengkapi pemandangan indah itu. Musim panas di Seoul adalah panorama tentang dinamika masyarakat Korea. Mereka begitu akrab dengan perubahan alam. Dari sanalah lahir kreativitas sebagai wujud persaudaraan masyarakat dengan alam. Bendera Korea yang disebut Taegeukki secara filosofis sesungguhnya representasi kesadaran bangsa Korea terhadap alam dan perubahan musim. Pada musim panas, pepohonan yang tumbuh di hutan-hutan kecil di tengah kota atau di perbukitan dan pegunungan, daun-daunnya mencapai puncak kerindangan. Nanti, pada musim gugur, dedaunan itu akan rontok dan tinggal menyisakan rerantingan dan dahan-dahan. Meski begitu, hawa panas menyengat dan hempasan angin kering, tetaplah menjadikan musim panas tak mau meninggalkan kegerahannya. Maka, memasuki stasiun, gedung, atau tempat-tempat publik, penyejuk udara akan tetap hidup sepanjang hari. Pemerintah sengaja menyediakan beberapa galon air dingin. Sesiapa pun bebas mengambilnya dalam botol-botol kecil atau sekadar minum dua-tiga gelas untuk menghindari tenggorokan kering dan rasa haus. Melengkapi usaha mengurangi hawa panas, air mancur dihidupkan di berbagai tempat dan taman-taman. Lalu, pada siang hari, suku dinas taman kota akan menyebarkan ke pelosok Seoul mobil-mobil air, mirip branwir, menyirami setiap jalan raya yang cukup padat lalu lintasnya. Tak ada debu beterbangan. Jalanan tak lagi terlalu menguarkan hawa panasnya. Jika angin kuning dari China— yang membawa debu berbahaya bagi mata dan pernafasan— akan datang menerpa Seoul dan sekitarnya, pemerintah melalui berbagai media massa, tidak bakal lalai memperingatkan warganya agar berhati-hati atau menganjurkan memakai masker. Pada musim panas, sekolah di semua tingkatan, memasuki masa libur panjang (Juli—Agustus). Masyarakat Seoul, jika tidak memanfaatkan masa liburannya ke luar negeri, mereka akan menghabiskannya di pantai, sungai, atau daerah pegunungan. Pantai Oido di pinggir Seoul, Guryongpo di Pohang, Gwangalii di Busan, Yeosu, Daejon atau Pulau Jeju adalah tempat favorit liburan musim panas; atau mereka datang ke pantai-pantai itu untuk sekadar menikmati ikan segar, sushi atau binatang laut yang dimasak hidup-hidup. Pantai-pantai itu akan dipenuhi mereka yang sengaja berjemur atau bercengkrama dengan segenap anggota keluarga di tenda-tenda yang mereka pasang. Pemandangan serupa akan tampak di sepanjang pinggiran Sungai Han yang membelah Seoul menjadi dua wilayah. Tenda-tenda, payung pantai, dan kursi santai berjejer di sepanjang sungai itu. Para orang tua berjemur bertelanjang dada dan ibu-ibu muda mengawasi anak-anaknya yang berkecipak di kolam karet. Bahkan, para lansia pun, seperti tidak mau ketinggalan. Dengan tongkat di tangan, mereka berjalan-jalan perlahan mengiringi lari-
58
S e n i & B u d a y a Ko re a
lari kecil cucu mereka. Selalu, di tempat-tempat yang banyak dikunjungi warga itu, pesta musim panas, festival kuliner, karnaval, atau berbagai macam pentas hiburan, melengkapi kemeriahan musim panas yang gerah. Selain pantai dan sungai yang menjadi tempat favorit warga Seoul, bahkan masyarakat Korea umumnya, dalam rangka menyiasati kegerahan musim panas, perbukitan dan pegunungan menjadi pilihan utama. Sedikitnya ada 12 gunung yang menjadi tujuan mengisi liburan musim panas. Satu di antaranya yang hampir mustahil dilewatkan para penggemar naik gunung adalah Gunung Seorak, di Kabupaten Sokcho, Provinsi Gangwon. Gunung yang separohnya berada di wilayah Korea Utara ini, dalam musim apa pun, tetap menampilkan keindahan alamnya yang khas dan memukau. Di sana, disediakan kereta gantung. Maka, siapa pun yang ingin mencapai puncak Gunung Seorak, dapat memanfaatkan kereta gantung ini tanpa harus bersusah payah melewati jalan pendakian di antara bukit terjal dan tebing curam. Pilihan utama pada Gunung Seorak, bukan hanya lantaran di kaki gunung itu ada patung raksasa Sang Buddha yang megah seolah-olah hendak menjangkau langit dan kuil Shin Heung yang menyediakan sejenis air suci, tetapi juga lantaran Sokcho dianggap kota unik. Di sana ada Danau Young Rang yang berhadapan dengan laut dan hamparan pantai Sokcho. Jadi, di sana ada gunung (Seorak), danau (Young Rang), dan pantai (Sokcho dan Naksan). Di sekitar Seoul, juga ada gunung yang dalam setiap musim apa pun ramai dikunjungi para penggemar pendakian. Itulah Gunung Bukhan dan Gunung Dobong dengan Taman Nasional yang luasnya mencapai sekitar 80 km2. Gunung lainnya yang selalu menjadi perburuan para peminat keindahan alam, di antaranya, Gunung Taebaek (Gangwon), Gunung Songni (Chungcheongbuk), Gunung Naejang (Jeollabuk), dan tentu saja Gunung Halla yang berada tepat di tengah Pulau Jeju. Unesco menempatkan gunung ini sebagai warisan alam dunia. Beberapa gunung lainnya tentu saja tidak kalah menariknya, karena memang dirancang dan disiapkan sebagai tempat tujuan wisata. Jadilah musim panas yang sebenarnya tak nyaman itu, tetap dapat dinikmati dengan meriah dan suka cita. *** Musim panas di Seoul, tak menyurutkan aktivitas warganya. Kehidupan di pusat-pusat perbelanjaan, seperti Insadong, Dongdaemun, atau Myeongdong, tetaplah semarak meski tidak sedikit orang yang tiada henti menggerakkan kipas kertasnya yang dibeli dengan harga murah-meriah. Kehidupan malam di daerah fesyen Gangnam, pusat berkumpulnya warga asing di Itaewon, warung-warung tenda di pojok-pojok stasiun atau di taman-taman kota yang tersebar di pelosok Seoul, juga berlangsung semarak di antara gelak tawa dan denting botol soju. Begitulah musim panas di Seoul. Sepenggal kisah tentang sebuah masyarakat yang tak menentang alam, tetapi menyiasatinya menjadi momen indah. Musim yang cocok untuk menciptakan keakraban segenap keluarga, sepasang kekasih, atau sesama sahabat.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
59
wawancara 2
Demam Korea di Indonesia Luar Biasa - Wawancara dengan Revalina S. Temat Aktris Indonesia Kim Seong-hee, Pembahas Buku
R
evalina S. Temat adalah satu di antara jelita Indonesia. Wajah mungil dengan mata, hidung, dan bibir yang jelas membuatnya terlihat bagai boneka Barbie. Jelas saja begitu. Ia adalah aktris kelas atas Indonesia. Perannya di televisi dan film membuatnya pernah dua kali mendapatkan penghargaan, membuktikannya sebagai aktris terbaik. Tak mengherankan karena ia adalah seorang bintang Indonesia yang sering muncul di musik video, iklan kosmetik dan lain - lain yang menargetkan konsumen kalangan wanita muda. Koreana bertemu dengannya pada 12 Maret lalu di Lounge Bisnis Hotel Plaza Hotel lantai 5 dalam rangka memenuhi undangan sebagai ‘tamu istimewa’ Korea Foundation. Sudah selayaknya ia disebut sebagai ‘tamu istimewa’ karena ia telah ditunjuk oleh Kementerian Luar Negeri Korea Selatan sebagai “Duta Diplomasi Publik”. Revalina memulai kariernya di televisi pada tahun 2001. Waktu itu usianya 16 tahun. Usia yang cukup belia baginya untuk memulai karier itu membuat kami bertanya - tanya apa latar belakang yang mendasari awal kariernya itu. “Ibu dan kakak saya sudah lama menganjurkan saya untuk ikut dalam kontes kecantikan. Tapi saya sendiri merasa sifat saya introvert, jadi kurang cocok dengan dunia artis. Akhirnya kakak saya mengirim foto saya ke majalah GADIS, dan itulah yang membuka pintu kegiatan saya di dunia ini.” Revalina berhasil lolos dalam persaingan cukup sengit 1:13 untuk menjadi gadis sampul majalah GADIS. Revalina muncul dalam 10 lebih drama dan memulai debut kariernya di perfilman melalui sebuah film horor pada tahun 2006. Ketika ditanya mengapa agak terlambat muncul di film, ia menjawab bahwa ia tidak terlalu berminat pada tawaran film yang skenarionya kurang mantap. Suatu keputusan yang penuh percaya diri. Sebagai seorang pelajar yang menekuni jurusan Studi Press di London School, ia tidak hanya mengejar kegemerlapan seorang bintang, tetapi ia mempunyai pandangan yang jelas. Karena pandangan inilah, sampai saat ini ia baru membintangi 9 buah film. Terhitung rata - rata satu film per tahun, bisa disebut ia cukup serius dalam membintangi film. “Saya termasuk pemilih dalam menentukan mau muncul dalam karya apa. Pertama saya melihat skenario dan tokoh yang akan saya perankan. Dan juga saya melihat siapa sutradara dan pemain yang akan muncul bersama saya.” Walau termasuk pemilih, ia berhasil meraih penghargaan tertinggi sebagai aktris terbaik dalam Festival Film Bandung 2009 dan Indonesian Movie Awards 2010. “Film itu berjudul ‘Perempuan berkalung Sorban’ yang isinya menceritakan seorang wanita yang berjuang membela hak - hak perempuan muslim” jelasnya dengan nada bangga. Latar belakang ia terpilih menjadi duta kehormatan Korea juga ada hubungannya dengan perannya di sebuah karya. “Tahun lalu saya muncul di sebuah drama kolaborasi Indonesia - Korea. Pada awal tahun 2012 saya mendapat tawaran untuk bermain dalam sebuah drama berjudul ‘Saranghae, I love you’, langsung saya jawab ‘oke’. Karena memang saya sangat berminat pada Korea.” Drama itu terbagi menjadi 30 episode dengan durasi 45 menit yang merupakan satu drama romantis. Drama ini bercerita tentang seorang penyanyi top Korea yang juga merupakan anak lelaki dari sebuah direktur sebuah perusahaan teratas di Korea bernama Young Min ( diperankan oleh Tim Hwang ). Young Min berkunjung ke Jakar-
60
S e n i & B u d a y a Ko re a
ta untuk mempromosikan departmen store dan juga mengerjakan album musiknya. Drama ini menggambarkan lika - liku kisah cinta Young Min dengan Ayu yang adalah adik dari seorang pengarang lagu. “Bulan Maret ambil gambar di Pyongchang, Korea, bulan Mei di Bali. Dan setelah melewati pengambilan gambar yang cukup ketat jadwalnya maka mulai bulan Juli tahun lalu drama ini sudah disiarkan di Indosiar.” Mungkin dikarenakan oleh demam K - Pop, drama yang ditayangkan mulai jam 9 setiap malam ini cukup mendapat perhatian pemirsa. “Ada cukup banyak permintaan untuk memperpanjang episode. Dan sampai - sampai terbentuk fan club dengan nama ‘Tim - Reva Samo ( Kelompok pecinta Tim dan Revalina ).” Katanya bersemangat membuat wajahnya kemerahan. “Sayang drama ini tidak ditayangkan di Korea” tambahnya. “Tahun ini adalah 40 tahun Persahabatan Diplomatik Indonesia-Korea. Saya dengar Korea Foundation sedang merencanakan ‘Korea Festival in ASEAN ( 21 Mei – 10 Juni ), saya akan aktif berpartisipasi. Seberapa banyak pengetahuan Revalina sebagai ‘Duta Korea’ tentang Korea? “Terus terang sebelum tampil di drama kolaborasi itu saya kurang tahu tentang Korea. Sekarang saya sudah menjadi fan Lee Min Ho yang muncul di ‘Flower Boys’ dan juga jadi suka pada drama ‘Winter Sonata’.” Rupanya Revalina adalah seorang penggemar kisah romantis yang manis. “Tetapi cara orang Korea berpacaran sepertinya berbeda dengan di Indonesia. Waktu ada pengambilan gambar di Lotte World, saya melihat pasangan - pasangan yang memakai bando dengan karakter binatang di kepalanya. Hal seperti itu sangat sulit ditemukan di Indonesia.” Kenangan Revalina tentang Korea adalah sewaktu harus bertahan dalam cuaca dingin pada pengambilan gambar di lapangan ski Pyongchang, keramahan dan kehangatan staf Korea, ttokboggi pedas di jalan Shinsa dong, dan sebagainya. Waktu ditanya apa reaksinya jika sekiranya ada tawaran dari Korea, Revalina menjawab “Kalau ada kesempatan seperti itu, saya akan berusaha semaksimal mungkin.” Satu jawaban yang mungkin sebenarnya tidak usah lagi ditanyakan. Mungkin karena itulah Revalina menyatakan berencana untuk belajar bahasa Korea. Untuk memenuhi undangan Korea Foundation orang - orang di bidang budaya dan olah raga, Revalina sengaja mengatur jadwal ketatnya untuk bisa mengunjungi Seoul, menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap Korea. Dalam kunjungan kali ini, ia berencana akan mengunjungi Cheonggye - cheon, museum, berbagai tempat menarik untuk memenuhi rasa ingin tahunya terhadap Korea, bertemu dengan Tim Hwang dan staf drama Korea. Tampak jelas, Revalina sangat menanti - nantikan semua itu. “Saya berpendapat bahwa seorang aktris adalah seorang yang membawa kebahagiaan bagi orang lain. Rasanya menjadi aktris itu adalah merupakan suratan takdir buat saya. Jadi sudah sepatutnya saya tekun di dalamnya.” Jiwa profesionalis Revalina yang bercita - cita menjadi aktris internasional cemerlang sebanding dengan kecantikan parasnya. Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
61
HIBURAN
1
2
TV Cinta
Makanan Program gaya hidup, terutama semua yang menyangkut makanan, mendominasi program televisi sejak pagi hingga malam, dan sangat populer di antara penonton TV. Program edukasi dan seri dokumenter tentang makanan –bagaimana program tersebut diproduksi, dipersiapkan dalam berbagai cara, dan dinikmati berbagai kalangan - juga berkembang dengan pesat. Lee Young-mee, Kritikus Budaya Pop dan Pengajar, Universitas Sungkonghoe 3 © KBS
K
epopuleran panggung makanan telah berpartispasi dalam memajukan budaya kuliner yang kental. Para selebriti ikut memeriahkannya di media massa dan dunia online yang begitu bebas. Meokbang, kata yang muncul dari tren masa kini, mengacu pada cuplikan film atau video klip yang memiliki adegan makan. Jika mencari kata tersebut di internet, maka Anda akan dengan mudah mendapatkan banyak video klip dari acara TV atau film yang meng-close-up selebriti
sedang makan. Selama beberapa dekade, program TV telah memanfaatkan makanan sebagai materi populer. Program ini mengembangkan dan mendukung selera penonton terhadap petualangan makan mereka, baik masyarakat umum maupun selebriti. Dengan akses bebas dan proses editing yang mudah dari video klip di internet, publik secara antusias ikut mengonsumsi, berbagi, dan menikmati cuplikan film ini sendiri.
Dari Kelas Memasak ke Perjalanan Kenangan 1. Lukisan-lukisan mural dari Istana Suan Pakkad di Bangkok, Thailand, yang diperkenalkan dalam film dokumenter “Noodle Road” memberikan petunjuk tentang bagaimana orang zaman dulu membuat mie. 2. Sebuah adegan dari film dokumenter “Noodle Road”. 3. Sebuah adegan dari KBS 1 ini “Korean Cuisine and Dining.”
62
Sampai pada tahun 1970-an, program masak di TV Korea pada umumnya pendek dan instruksional; seorang ahli masak mendemonstrasikan seluruh proses memasak dalam sebuah studio seperti acara “Home Cooking.” Di luar mengajar masak sebagai fungsi utama, proS e n i & B u d a y a Ko re a
gram ini juga merupakan pertunjukan aspiratif yang melecut hasrat penonton untuk gaya hidup modern yang disampaikan dengan adegan memasak menggunakan peralatan masak modern dan bahan-bahan premium dalam dapur gaya-Barat. Semakin banyak film dokumenter diproduksi pada 1980-an, program masak dirombak kembali sebagai subyek dari ciri lokal dan alam Korea. Pada hari libur nasional seperti Chuseok (Festival Bulan Musim Semi) dan Hari Tahun Baru, dokumenter khusus dengan judul seperti “Tastes Created by Mother’s Hands” dan “Korea’s Major Holiday Foods” penuh adegan naratif lirik alam pedesaan, menjadi acara TV khas yang ditayangkan pada hari libur nasional. Sejalan dengan itu program acara masak yang lebih serius dan melibatkan travelling dan pengambilan gambar di lokasi juga mulai diproduksi. Misalnya program dokumenter Korean Broadcasting System’s (KBS) seperti “Taste Show, Style Show” (Mat Jarang Meot Jarang), yang mulai disiarkan pada 1984, dan “Along the Taste, Along the Path” (Mat Tara Gil Tara), yang mulai disiarkan pada 1993. Semakin maju peralatan penyiaran, maka semakin mudah mengambil gambar di lokasi, sehingga memungkinkan untuk memproduksi program masak yang direkam dengan mengunjungi lokasi cerita sebenarnya. Sebagai hasilnya, makanan menjadi wakil sebuah kebudayaan, tidak hanya sebagai bagian dari pekerjaan rumah bagi ibu rumah tangga. Terlebih ini adalah periode ketika bahan dan makanan asli yang dibuat secara tradisional menghilang karena perubahan sosial dan gerak perkotaan yang cepat. Hal itu juga yang menjadikan penulisan resep makanan mendapat ruang dalam media massa, sebagaimana kolom “wisata kelezatan makanan” di surat kabar dan majalah memperoleh perhatian besar dari khalayak ramai. Mengaitkan makanan dengan daerah lokal atau kebudayaan tradisional masih menjadi formula umum bagi acara program televisi yang berhubungan dengan masakan. Dengan keunggulan budaya yang terfokus pada Seoul yang kosmopolit, membangkitkan nostalgia akan “good old days food” adalah cara termudah untuk memicu perasaan rindu kampung halaman di kota-kota provinsi dan daerah pedesaan.
Dari Kesejahteraan ke Food Porn Pada tahun 2000, program TV tentang makanan mulai mendorong selera penontonnya. Dengan munculnya trend “kesehatan” baru di Korea, program yang menayangkan minat publik yang tinggi terhadap kesehatan seperti “Vitamin” dari KBS 2 dan “How to Eat and Live Well” dari Seoul Broadcasting System (SBS) menjadi trendsetters utama di TV. Film Taiwan Eat Drink Man Woman (1994) menarik perhatian pada efek menyehatkan dari gambar visual makanan; tanpa memperhatikan jalan cerita, film tersebut mendorong selera makan penonton. Khususnya, makanan China dalam film divisualkan secara dinamik dan penuh warna, serta kebanyakan dari makanan tersebut dimasak cepat pada suhu tinggi. Hanya dengan menonton adegan dalam film, selera makan penonton menjadi terpacu, membayangkan aroma minyak dan bumbu makanan China. Sementara itu, buku komik masakan Jepang Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
seperti “Shota no Sushi” (Raja Aliran Shushi) menjadi karya terkenal yang fokus pada rasa dari makanan. Dua program utama yang diputar pada era drama TV bertema-masakan adalah “Delicious Proposal” (2001, Munhwa Broadcasting Corporation or MBC), yang berkisah mengenai konfrontasi antara dua restoran China, dan “Dae Jang Geum” (atau “Jewel in the Palace”, 2002, MBC), yang diangkat dari tulisan mengenai masakan istana Dinasti Joseon. Keduanya dikonsep sebagai kontes bagi para koki, mereka menunjukkan pengaruh dari “Eat Drink Man Woman” dan “Shota no Sushi.” Persaingan yang muncul dari arus konflik, konfrontasi, dan kontes masak memang berkontribusi pada kepopuleran drama-drama tersebut, tetapi pertunjukan visual yang-mendorong-selera dari makanan dalam drama itu juga sangat penting. Segera setelahnya, makanan menjadi materi yang penting dalam program dokumenter ringan seperti “VJ Special Forces” (KBS 2) dan program hiburan seperti “Decide! Taste vs. Taste” (2003, SBS); focus selebihnya ada pada asyiknya menonton panel tamu yang berjuang menahan selera makan dalam mengobservasi makanan yang berada di depan mereka. Hal itu berarti bahwa akhirnya masyarakat kita terbuka tentang hasrat dan nafsu dasar kita tanpa merasa bersalah ataupun malu. Memang, nafsu makan merupakan hasrat fisik dasar sama seperti nafsu seksual. Maka, adegan yang memperlihatkan orang menikmati makanan lezat hampir sama provokatifnya seperti pornografi. Makanan merupakan materi yang dapat dengan mudah menstimulasi hasrat dasar penonton. Meokbang, yang telah disebutkan sebelumnya, jadi seperti sebuah food porn sebanding dengan video seks, memberikan penonton sebuah tayangan selebriti yang glamor namun bagaimanapun juga sama seperti manusia lain dengan kebutuhan untuk berbagi dan menstimulasi selera mereka sendiri.
Jurang Rasa Antar Generasi Kebanyakan kaum muda dan paruh-baya yang cenderung memiliki pikiran terbuka dan sikap lugas anti-otoriter, memandang selera itu sendiri sebagai suatu hal yang positif dan menyebarluaskan meokbang dalam bentuk komik melalui internet. Penonton usia lanjut masih belum terbiasa menonton orang secara kasual menikmati hasrat fisik dasar. Oleh karena itu, dengan memegang teguh nilai pendidikan dan norma publik, program seperti “Korean Cuisine and Dining” yang memadukan fitur lokal, nasionalisme, dan tema hidup sehat ditayangkan pada malam hari saat pemirsa usia lanjut banyak menonton. Sebelum program tersebut, ditayangkan “My Hometown at 6” yang isinya sebagian besar memperlihatkan kehidupan petani dan nelayan biasa, yang mengenalkan keahlian lokal mereka. Dalam program ini, tentu saja juga meng-close-up orang sedang makan makanan lezat, menstimulasi nafsu makan penonton, yang juga menjadi bagian utama dari program. Untuk menarik minat para senior, bagaimanapun juga, mereka memerlukan isi yang lebih menarik minat publik. Perbedaan generasi jelas ada di antara mereka dan meokbang. Program masak menjadi lebih beragam seiring dengan selera terhadap hiburan yang juga berkembang sejalan dengan waktu.
63
KENIKMATAN GOURMET
Yukgejang: Panas, Pedas, dan Segar
Šyoanna
64
S e n i & B u d a y a Ko re a
Yukgejang adalah sebuah masakan yang baik yang menyediakan nutrisi seimbang dengan daging dan sayur sekaligus. Masakan itu dianggap sebagai makanan yang dapat menyegarkan kembali organ tubuh yang lemah selama musim panas. Ye Jong-suk, Kolumnis Makanan dan Profesor Pemasaran, Universitas Hanyang
O
rang Korea biasanya mencari makanan yang berupa sup panas untuk menanggulangi kepanasan selama musim panas. Musim panas di Korea dihebohkan oleh foto-foto yang memperlihatkan antrean panjang dan keramaian orang yang menunggu giliran di depan restoran, tempat jualan masakan sup kesukaan banyak orang. Sekitar sambok, atau hari makan daging anjing pada bulan Juni dan Agustus, orang-orang Korea menyantap masakan sup yang dapat disebut kelezatan musim panas sambil berulang kali berseru, “Aduhai segarnya!” meski keringat memenuhi badan mereka. Adegan paradoks seperti itu membuat orang asing benarbenar kaget. Hal tersebut menjelaskan budaya Korea, bahwa kepanasan dapat ditanggulangi oleh kepanasan. Menurut hasil survei yang berhasil mengumpulkan pendapat 1.000 orang asing yang tinggal di Korea, separuh dari responden menyatakan bahwa orang Korea yang mencari masakan panas pada hari makan daging anjing merupakan salah satu aspek budaya Korea yang paling sulit dipahami mereka. Lagi-lagi, pada musim panas kebanyakan orang Korea menyantap masakan sup yang sangat panas di dalam ruangan, sementara selama musim panas bagi orangorang yang tinggal di berbagai negara biasanya menyantap barbekyu, daging panggang, dan makanan piknik (atau sup) di ruang terbuka. Maka, kebiasaan orang Korea yang seperti itu, yaitu mengatasi kepanasan selama musim panas dapat dianggap sebagai sesuatu yang sangat istimewa
Sup Panas memertahankan Tubuh menjadi tetap seimbang Aspek budaya Korea tersebut, “kepanasan dapat ditanggulangi oleh kepanasan” berdasarkan teori China kuno, yaitu lima unsur Yin dan Yang. Teori tersebut dapat ditafsirkan sebagai pertahanan keseimbang. Pada musim panas, biasanya orang-orang cenderung mencoba memertahankan suhu badan dengan cara makan masakan yang dingin karena cuaca panas. Namun jika orang terus-menerus makan makanan dingin, perut akan dingin dan makanan sulit dicerna yang berakibat badan menjadi lemah. Oleh karena itu, pengobatan tradisional Timur menganjurkan bahwa pertahanan keseimbangan dalam tubuh sebaiknya dilakukan dengan menghangatkan badan melalui masakan sup yang panas. Logika “kepanasan dapat ditanggulangi oleh kepanasan” itu dapat diidentifikasikan dengan pengobatan alternatif yang digunakan di Eropa, Amerika Selatan, dan India, yang dikenal dengan sebutan homeopathy. Pengobatan homeopathy adalah perawatan yang sengaja membuat gejala yang persis sama dengan gejala yang muncul pada penderita, tujuannya agar tubuh sendiri memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit. Berkenaan dengan hal itu, di antara berbagai masakan sup yang digemari orang Korea, yukgejang-lah yang paling bagus. Meskipun samgyetang, sup ayam dengan ginseng juga merupakan masakan kesukaan orang Korea selama musim panas, yukgejang mempunyai daya tarik yang tersendiri karena masakan itu, tidak hanya panas, tetapi juga pedas sekali, sehingga dapat menghilangkan kepanasan selama orang menyantapnya.
Masakan Sup Single-pot yang Bervariasi Sebenarnya terdapat berbagai cara untuk memasak yukgejang, tetapi yang baku adalah sebagai berikut. Daging sapi (biasanya brisket atau bagian dada) dengan bawang Bombay dan Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
Semangkuk yukgaejang yang panas dan pedas dengan nasi sebagai makanan penyeimbangnya
65
Daging sapi (biasanya brisket atau bagian dada) direbus dengan bawang bombay, bawang putih, dan air secukupnya. Jika daging sapi sudah empuk, keluarkan kemudian iris-iris, biarkan kuah daging sampai dingin, hilangkan lemaknya. Bumbui daging sapi yang telah diiris-iris itu, lalu masukkan lagi ke dalam kuah yang sudah didinginkan tadi, kemudian rebus kembali dengan bawang bombay dan sayur-sayuran. bawang putih, direbus dalam air secukupnya. Jika daging sapi sudah empuk, keluarkan kemudian iris-iris, biarkan kuah daging sampai dingin, hilangkan lemaknya. Bumbui daging sapi yang telah diiris-iris itu, lalu masukkan lagi ke dalam kuah yang sudah didinginkan tadi, kemudian rebus kembali dengan bawang bombay dan sayur-sayuran. Daging sapi yang telah diiris-iris tadi dibumbui dengan akar talas, pakis-pakis dan kecambah kacang ijo, direbus setengah matang bersama bubuk cabe, minyak cabe, bawang putih, dan lada. Semua itu dimasukkan ke dalam kuah daging yang telah telah didinginkan tadi kemudian direbus kembali dengan bawang bombay. Jika dihidangkan dengan nasi putih, itu saja sudah cukup dan tidak memerlukan lauk-pauk yang lain. Menurut sebuah resep dalam Sieui Jeonseo, buku masak pada akhir abad ke-19, dalam yukgejang juga dimasukkan kerang (abalone) dan tripang laut (sea cucumber), selain daging sapi, maka yukgejang yang dimasak pada masa itu, rasanya jauh berbeda dengan yang sekarang. Sementara dalam Joseon Yori (Masakan Korea) yang diluncurkan pada tahun 1940 oleh Son Jeong-gyu, yukgejang ternyata tidak berbeda dengan yang sekarang. Berdasarkan hal tersebut, sejak masa itu pula resep tersebut ditetapkan. Yukgejang, secara tradisional disajikan kepada orang-orang yang berkunjung ke rumah duka, bukan hanya karena dianggap sebagai masakan yang dapat dihidangkan dengan mudah, tetapi juga karena alasan shamanistic, yaitu masakan yang berwarna merah dipercaya dapat mengusir jin jahat. Pada kenyataannya yukgejang masih merupakan makanan yang dihidangkan di rumah duka. Yukgejang mempunyai beberapa saudara sepupu, misalnya, Daegu-tang (Daegu rebus) dan ddaro gukbap (secara harfiah berarti “nasi dan sup yang terpisah�). Kedua masakan tersebut berkaitan erat dengan kota Daegu, terletak di Provinsi Gyungsang Utara, sebuah kota
1
66
Šyoanna
S e n i & B u d a y a Ko re a
nomor tiga di Korea. Choe Nam-seon (1890–1957), seorang pengarang sekaligus sejarawan, dalam bukunya, Joseon Sangsik Mundap (Sejumlah Pertanyaan dan Jawaban mengenai pengetahuan umum di Korea, diterbitkan tahun 1946), menyebut, bahwa Yukgejang sebagai makanan lokal yang terkenal di kota Daegu tidak lain sebenarnya Daegu-tang. Kota Daegu adalah sebuah kota yang menyerupai bentuk baskom, sehingga cuacanya sangat panas selama musim panas. Untuk menahan cuaca yang panas seperti itu, diciptakanlah masakan Yukgejang yang dibuat dengan cara Daegu, atau Daegu-tang. Professor Yi Seong-u, seorang sarjarawan bidang kuliner, berasal dari Daegu, menjelaskan, “Untuk Daegu-tang, daging sapi tidak diiris-iris, tetapi gumpalan daging direbus sampai gumpalannya terpisah. Itulah yang kemudian menjadi makanan yang meriah.” Seorang pengarang yang terkenal, Kim Dong-ri pernah mengungkapkan ingatnya kembali terhadap Yukgejang, “Dari ingatan saya yang samar-samar, yukgejang itu sebuah sup daging sapi yang direbus dengan banyak cabe, kucai, dan daun bawang.” Bagaimanapun terdapat berbagai pandangan yang bersimpang-siur mengenai asal nama Daegu-tang. Yang dianggap lazim adalah Yukgejang disebut Daegu-tang pada masa penjajahan Jepang, tetapi ada juga pendapat bahwa masakan itu tidak dikenal oleh orangorang yang tinggal di kota Daegu. Seorang jurnalis, Jo Pung-yeon (1914–1991) dalam bukunya Seoul Japhak Sajeon, yang diterbitkan tahun 1989, menyatakan, “Pada tahun 1930-an, Daeyeongwan, sebuah restoran di Jeong-dong di Seoul menyajikan Daegutang untuk pertama kali. Masakan itu sangat mirip dengan yukgaejang, tetapi di sana terdapat banyak daun bawang. Dari namanya, orang-orang berasumsi bahwa barangkali masakan itu berasal dari kota. Namun orang-orang Daegu tidak tahu itu. Maka sebuah nama baru diberikan kepada masakan itu. Dalam sebuah majalah bulanan, Byeol Geon Gon yang diterbitkan tahun 1929, di masa penjajahan Jepang tertulis, “Daegu-tangban, nama aslinya yukgaejang,” dan “masakan yang berasal dari kota Daegu pada akhirnya memasuki Seoul.” Ditinjau dari hal-hal tersebut, muncullah sebuah gagasan bahwa sebenarnya Daegu-tang adalah sejenis yukgaejang, tetapi setelah memasuki Seoul, masakan itu diberikan nama Daegutang untuk membedakannya dari yukgaejang Seoul. Ironisnya, tak dapat ditemukan masakan yang bernama Daegu-tang di sejumlah restoran yang terkenal di kota Daegu. Dalam hal masakan ddaro-gukbap, nama itu dipakai karena Daguyugejang disajikan dengan memisahkan nasi dan sup sesuai permintaan tamu. (ddaro-gukbap secara harfiah berari “nasi dan sup terpisah”). Penamaan makanan Korea, pada umumnya dilakukan sesuai dengan nama rempah-rempah dan ramuan pembuat makanan, tetapi yang istimewa adalah nama ddaro-gukbap diberikan sesuai cara penyajian makanan itu. Bagaimanapun, pokoknya dengan semangkok Yukgejang yang panas dan pedas kepanasan dapat dihilangkan. Yeokjeon Hoegwan di Mapo dan Pyeongnaeok di Jeo-dong di Seoul adalah restoran yang terkenal sebagai yukgaejang, dan Joseonok di Uljiro 3-ga masih menghidangkan Daegu-tang, sebuah masakan yang tidak dihidangkan di daerah asalnya. Di kota Daegu, Yetjip Sikdang (Old House Restaurant) terkenal sebagai yukgaejang, dan Gugil Ddaro Gukbap berbangga hati sebagai asalnya pembuat masakan ddaro-gukbap, dengan menyajikannya selama 60 tahun. Di Seoul, orang-orang dapat menikmati ttarogukbap di Gangnam Ddaro Gukbap di Jamwondong.
3
©yoanna
2
1. Bahan untuk yukgaejang bervariasi. Mereka di forum ini tidak hanya menekankan rasa jamur—jamur tiram, jamur musim dingin, dan shiitake — tetapi juga kecambah kacang hijau, pakis-pakis, dan daun bawang. 2. Sayuran setengah matang dan potongan daging sapi tebal yang direbus dengan parutan gandum. 3. Setelah lunak campuran bahan-bahan yang direbus tadi, masukkan bawang putih, merica hitam bubuk, lada merah bubuk, dan minyak cabai merah, biarkan campuran direbus selama dua atau tiga jam sehingga rasanya merata.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
67
gaya hidup
Di Tengah Keputusasaan Ekonomi, Warga Korea Gila Berkemah Sebuah tren baru sedang melanda Korea: berkemah di luar. Klub-klub berkemah di internet bermunculan. Masing-masing klub anggotanya mencapai hingga 200,000 orang. Para ayah rela memotong anggaran mereka untuk hiburan dengan mengalihkan dana tersebut untuk melakukan perjalanan berkemah dengan anak-anak mereka sehingga mereka dapat menikmati pemandangan langit dimalam hari, ketika cahaya bintang yang tidak terhitung bertaburan di atas kepala mereka.
H
Kim Young-ju, Reporter Olah Raga Harian
obi saya adalah naik gunung sendirian sampai bertemu dengan orang lain di perjalanan. Saya sangat senang berkemah larut malam untuk kemudian dapat menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Kegiatan ini saya lakukan bersama dengan beberapa orang teman dekat. Sayangnya, belakangan ini hal tersebut menjadi hal yang semakin sulit, yaitu untuk mencari tempat yang sepi. Akhirakhir ini, saya melihat jumlah keluarga yang begitu cepat meningkat yang berkemah pada hari kerja, apalagi di akhir pekan. Sebagai seorang pria lajang, saya terkadang bergabung dengan keluarga saudara perempuan saya ketika berkemah. Saya merasa senang ketika dapat memanggangkan daging babi atau sapi, atau ubi saat barbecue untuk keponakan-keponakan saya. Saya pikir, lain kali saya akan membelikan ikan di pasar terdekat sebelum saya tiba di perkemahan mereka kemudian memasaknya untuk anak-anak. Pengalaman yang sangat berkesan saat berkemah adalah ketika Anda dapat merasakan lingkungan alam yang sebenarnya yang melingkupi Anda di malam hari. Ketika Anda terlentang di dalam tenda, Anda akan dengan segera dapat merasa bersatu dengan alam. Ditambah lagi, ada sebuah pengalaman fantastik yang dapat dialami langsung yaitu ketika anak-anak dapat melihat cahaya bintang yang tidak terhitung yang tersebar di atas kepala mereka. (Faktanya, beberapa sekolah mengidentifikasi pengalaman para siswanya yang berkemah dengan keluarga sebagai sebuah aktivitas ekstrakurikuler, namun ini berlaku apabila para siswa tersebut memberitahukan terlebih dahulu rencana pelaksanaannya.)
Berkemah Sepanjang Tahun Pada sebuah kunjungannya ke Korea, Richard L. Guilfoile, presiden
68
1
cabang regional Asia-Pacifik perusahaan outdoor internasional untuk produk peralatan berkemah, menyebut fenomena gila berkemah di Korea dengan “dinamika.� Ia berkata, “Korea mungkin satu-satunya negara yang penduduknya menikmati suasana berkemah saat hujan atau bersalju. Amerika dan Jepang punya sejarah yang lebih panjang terkait dengan berkemah dibandingkan dengan Korea, namun antusias para penduduk Korea sungguh tidak ada duanya.� Bersyukur atas adanya tren baru di Korea, yakni berkemah. Akibat tren ini, dalam beberapa tahun belakangan, para ayah di Korea menjadi lebih sering menghabiskan waktu mereka di rumah. Orang Amerika biasanya akan mulai mendirikan tenda ketika mulai turun hujan atau salju. Namun, kondisi yang begitu mengejutkan terjadi di Korea. Di Korea, sebaliknya, para penduduk Korea malah mendirikan tenda untuk menunggu salju turun dan menikmati proses melarikan diri keluar dari lahan yang telah tertutup salju, tambah Guilfoile. Sebenarnya, beberapa orang yang gemar berkemah memimpikan untuk dapat berkemah di sebuah tanah lapang yang tertutup salju, sebuah tempat yang telah terbukti ideal untuk tempat bermain anakanak. Seorang ayah akan memenangkan banyak poin Brownie bersama dengan anaknya apabila ia dapat menyiapkan beberapa perlengkapan untuk mereka sendiri, seperti kereta salju (sledge). Kim Tae-hyun, yang menikmati petualangan berkemah dengan keluarga, memiliki tenda dome berukuran sedang dengan atap yang dirancang untuk berkemah saat musim dingin. Siap dengan tenda semacam ini, Tae-hyun dapat dengan cepat membuat tempat berlindung sementara bagi keluarganya di lahan yang tertutup salju jika matahari terbenam dengan cepat. Terdapat 400 hingga 500 tempat berS e n i & B u d a y a Ko re a
2
kemah yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini. Area yang memiliki banyak pepohonan dijadikan sebagai tempat yang menyenangkan untuk berkemah sejak dua atau tiga tahun lalu. Baru-baru ini, sejumlah tempat berkemah yang menyediakan fasilitas pengalaman berkemah dan kegiatan olah raga, bermunculan satu persatu. Tempat berkemah seperti Cheondong Auto Camping Resort yang terletak di kaki gunung Sobaek di Danyang, Provinsi Chungcheong Utara, malah dilengkapi dengan miniatur lapangan golf. Beberapa tempat berkemah yang berlokasi dekat Sungai Bukhan yang alirannya melewati Provinsi Gyeonggi dan Gangwon memiliki fasilitas olah raga air.
Backpacking Jumlah orang yang gemar berkemah di Korea meningkat dalam lima tahun belakangan ini. Jumlah peningkatan diperkirakan mencapai 1 hingga 1,5 juta orang. Masing-masing dari mereka memiliki gaya berkemah yang berbeda satu sama lain. Orang-orang yang telah berpengalaman berkemah memilih cara backpacking untuk menghindari tempat berkemah yang terlalu penuh. Mereka akan membongkar perlengkapan backpack ketika mereka menemukan tempat yang cocok untuk berkemah, tepatnya saat senja mulai merayap. Anda hanya perlu membawa perlengkapan dasar dan bersifat penting ketika bepergian dengan cara backpacking. “Biaya backpacking hanya mencapai setengah biaya berkemah di auto camping. Anak-anak dapat belajar kemandirian dan tanggung jawab, seperti ketika mereka harus membawa perlengkapan mereka Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
1. Berkat tren berkemah baru-baru ini, para orang tua Korea, terutama ayah, menjadi lebih akrab dengan anak-anak mereka. 2. Yang paling menarik saat berkemah adalah keluar tenda pada malam hari. Itu adalah pengalaman memesona bagi anak untuk “merasakan kerlap-kerlip cahaya bintang-bintang yang bertaburan di atas kepala mereka,” seperti yang sering dikisahkan dalam dongeng.
sendiri. Anak-anak juga belajar untuk menghargai alam,” papar Kang Yeong-seok, seorang backpacker veteran. Lee Jeong-hwa, seorang pekerja kantoran wanita, mendaki gunung sebulan sekali. Ia membawa kompor gas, teko dan wajan portable di tas backpack-nya. Jeong-hwa lebih senang mendaki gunung yang belum banyak diketahui orang dibandingkan dengan pergi ke taman nasional atau gunung-gunung terkenal dimana kegiatan berkemah dan memasak tidak diperbolehkan. Ia sangat menikmati kunjungannya ke pulau-pulau tetangga, seperti Sindo, Sido, Jangbongdo, atau Gureupdo yang jauh dari Incheon. Jeong-hwa menerangkan, “Tiap pulau memiliki satu hingga dua bukit. Setelah tiba di dermaga, saya biasanya berjalan-jalan terlebih dahulu selama lima atau enam jam kemudian berkemah di suatu tempat yang saya rasa sesuai. Jika saya berkemah agak jauh di sebelah barat pantai, saya dapat menikmati keindahan matahari terbit yang luar biasa di pagi hari dan pemandangan matahari terbenam yang fantastis di sore hari. Tempat berkemah yang sempurna bagi saya adalah sebuah tempat dimana saya dapat membuat dan menyeduh secangkir kopi di sebuah pulau terpencil.
69
1
“ Tiap pulau memiliki satu atau dua bukit. Setelah tiba di dermaga, saya biasanya berjalan-jalan terlebih dahulu selama lima atau enam jam kemudian memilih tempat berkemah yang saya rasa cocok. Jika saya berkemah agak jauh di sebelah barat pantai, saya dapat menikmati keindahan matahari terbit yang luar biasa di pagi hari dan pemandangan matahari terbenam yang fantastis di sore hari. Tempat berkemah yang sempurna bagi saya adalah sebuah tempat dimana saya dapat membuat dan menyeduh secangkir kopi di sebuah pulau terpencil.”
Jeong-hwa membawa sebuah tenda yang beratnya hanya sekitar 2 kilo yang ia sebut sebagai “Tenda Indian.” Harganya sekitar 100,000 won (atau sekitar US$900).
Memilih Produk Berkemah Hampir semua produk berkemah adalah barang impor. Oleh karena itu, menyesuaikan produk guna keperluan berkemah dapat menghasilkan harga yang mahal. Meskipun demikian, kegemaran berkemah ternyata memiliki efek menyehatkan terutama bagi para pekerja kerah putih. Terdapat beberapa kemungkin penyebab munculnya fenomena baru ini, di antaranya adalah kondisi resesi ekonomi yang berkepanjangan dan orang-orang cenderung menghindari alkohol untuk kehidupan yang lebih sehat. Saya pribadi melihat para ayah memilih cara rekreasi yang lebih sehat dengan memotong anggaran hiburan pribadi mereka untuk mengalihkannya dengan membeli perlengkapan berkemah untuk keluarga. Ada beberapa cara untuk membeli perlengkapan berkemah. Seo-
70
rang pekemah veteran menyarankan para pemula yang ingin berkemah dengan keluarga di luar, “Anda sebaiknya membeli perlengkapan berkemah dari toko barang bekas yang ada di internet, kecuali untuk teko dan wajan portable.” Anda perlu berhati-hati ketika membeli tenda yang mahal, karena Anda baru akan tahu kualitasnya ketika Anda telah menghabiskan satu malam di dalamnya, tambahnya. Para pemula biasanya senang mengunjungi festival yang diadakan oleh sebuah merek produk berkemah atau klub-klub berkemah untuk belajar mengenai perlengkapan yang dibutuhkan. Festival semancam itu, yang mampu menggiring ratusan pekemah, membuat acara tersebut menjadi pameran perlengkapan berkemah. Di sana, para pemula dapat melihat dengan singkat bagaimana para pekemah veteran menangani beberapa perlengkapan yang ada dan bagaimana mereka membuat perencanaan berkemah. Pengalaman para pekemah veteran dapat menjadi sebuah saran yang berharga ketika Anda memutuskan untuk membeli perlengkapan sendiri. Kafe-kafe berkemah, seperti Naver dan Daum, mengadakan kontes berkemah pada musim semi S e n i & B u d a y a Ko re a
dan musim gugur. Sementara, merek-merek perlengkapan berkemah biasanya menggelar kontes berkemah saat musim semi dan musim panas. Satu merek terkenal biasanya membatasi pesertanya hanya sebatas 10 keluarga dalam satu kontes setiap tahunnya. Pelatihan berkemah singkat juga digelar untuk para pemula. Banyak pembeli bijaksana mengambil keuntungan dari pasar online untuk mendapatkan perlengkapan berkemah dengan harga terjangkau. Faktnya, banyak merek produk berkemah dalam negeri yang memulai bisnisnya lewat internet. Lee Seok-jung, seorang staf merek produk berkemah domestik berkata, “Mungkin pasar online lebih besar daripada pasar offline.”
Berkemah di Karavan Jumlah para pekemah di karavan juga meningkat dengan cepat. Terdapat dua jenis karavan, bergerak dan tidak bergerak. Karavan yang dapat bergerak dibedakan lagi menjadi dua jenis berbeda: karavan auto, yakni karavan yang memiliki semua fasilitas seperti mobil; dan trailer, yakni karavan yang ditarik oleh kendaraan. Dengan kata lain, karavan auto adalah sebuah mobil yang digunakan untuk berkemah sekaligus sebuah tempat berkemah. Sementara trailer adalah sebuah miniatur rumah yang ditarik oleh mobil. Semua jenis karavan merupakan produk impor. Jeong Han-yeong, pria berusia sekitar lima puluh tahunan, memutuskan pindah dari pusat Seoul ke daerah pinggiran beberapa tahun lalu. Dia membeli sebuah trailer dengan keyakinan bahwa kenyamanan trailer dapat membawa kepuasan baik untuk dirinya maupun sang istri dalam perjalanan berkemah. Bagaimanapun, jenis berkemah semacam ini merupakan cara yang akarnya berasal dari Amerika. Sehingga, Anda perlu memiliki seorang pengemudi yang memiliki surat ijin mengemudi khusus jika Anda ingin mengemudikan sebuah mobil penarik trailer. Selain itu, tidak mudah untuk merawat sebuah trailer besar di area padat penduduk yang sebagian besar wilayahnya dipenuhi oleh apartemen. Meskipun demikian, para pengimpor tetap saja memberikan gambaran yang menyenangkan. “Pasar trailer meningkat sekitar 20 hingga 30 persen setiap tahunnya melibihi jumlah tiga hingga empat tahun yang lalu.” Oh Seong-sik, seorang pengimpor trailer kelas atas menyatakan, “Terdapat lebih dari 100 orang pembeli trailer setiap tahunnya.”
rhana akan memilih tempat yang ia sukai kemudian akan menggelar tikar, lalu masuk ke dalam sleeping bag dan tidur di tengah udara terbuka. Seperti para backpacker dan orang yang berkemah sendirian, pekemah tidur di alam bebas, namun yang berbeda adalah orang berkemah dengan bivak tidak membutuhkan tenda. Dengan kata lain, metode berkemah dengan bivak sama halnya dengan tidur di alam bebas tanpa ada apapun yang menutupi Anda. Perlengkapan terpenting dalam berkemah dengan metode bivak adalah sleeping bag. Alas tidur dapat diganti dengan dedaunan yang jatuh sehingga dapat berfungsi sebagai tikar; cara ini juga sangat berguna sebagai bantalan dan perlindungan dari basahnya tanah. Anda sebaiknya mengetatkan sleeping bag agar Anda terlindung dari angin dan kelembapan tanah. Anda perlu memastikan bahwa bagian tubuh yang tidak berada di dalam sleeping bag hanyalah bagian wajah. Anda akan dapat merasakan udara malam yang sejuk yang akan menyentuh wajah. Hal yang paling berkesan saat tertidur di alam tanpa apapun adalah Anda dapat merasakan hubungan yang terjadi antara Anda dengan suara-suara alam. Anda dapat menghabiskan sepanjang malam untuk mendengarkan gemerisik dedaunan, angin yang menggoyangkan dahan-dahan pohon cemara, suara jangkrik, dan suara beberapa hewan yang mengaum. Tanpa memperhatikan kegilaan berkemah yang sedang terjadi di Korea, Anda akan terkejut ketika mengetahui ada banyak cara untuk menikmati alam dengan berkemah. Banyak orang menemukan vitalitas baru ketika berhadapan dengan tantangan yang sulit yaitu berkemah dengan keluarga. Sebuah dampak menguntungkan akibat periode kesulitan ekonomi yang berkepanjangan.
Bivak Dengan peningkatan populasi pekemah, orang-orang makin merasa tertarik dengan metode bivak, yakni sebuah cara berkemah dengan tidak menggunakan tenda. Seorang pemanjat gunung dengan sede-
1. Kemping menciptakan suasana yang ideal untuk menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama keluarga dan teman-teman di alam terbuka. 2. Perkemahan mobil di Taman Nasional Gunung Deogyu di Muju, Provinsi Jeolla Utara, dikelilingi warna-warni dedaunan musim gugur. Selama musim gugur, pada pertengahan hingga akhir Oktober setiap tahun, masyarakat bergerombol berlibur saling bertemu di perkemahan yang terletak di dekat pintu masuk ke lembah yang indah sepanjang empat kilometer.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
71
2
Perjalanan Kesusastraan Korea
Kritik
Mimpi Buruk Siapakah? Uh Soo-woong, Redaktur Seni Budaya, Harian Chosun
K
ali pertama saya jumpa dengan pengarang Lee Jang-wook terjadi tiga tahun yang lalu di Grup Penerbitan Munhak Dongne [Komunitas Sastra] saat upacara penghargaan untuk “Penulis Muda Terbaik 2010.” Pada saat itu, Lee berusia 42 tahun, usia yang jarang berhubungan dengan “penulis muda.” Ada tujuh penerima penghargaan, dan dari semuanya, Lee dengan mudah dapat ditempatkan sebagai yang tertua. Munhak Dongne menjelaskan keputusannya dengan mengatakan begini: “Kualifikasi untuk penghargaan ini berdasarkan tahun debut sastra penulis dalam 10 tahun terakhir.” Lee Jang-wook memulai kiprahnya pada tahun 1994 sebagai penyair, dan tahun 2005 debutnya sebagai penulis fiksi dengan novel tebalnya Hantu-hantu Menyenangkan dari Callot. Ini novel pertama penerima Penghargaan Tahunan Ketiga Munhak Sucheop [Notebook Sastra], dan Lee mendapat banyak dorongan untuk terus memenangkan penghargaan sebagai “penulis muda” karena ia masih memenuhi persyaratan itu. Terima kasih, Lee bersyukur atas dorongan ini (meskipun tentu saja tidak karena itu), dan mungkin ia akan memenangkan penghargaan lain sebagai “penulis muda” tahun berikutnya. Sebagai sebuah cerita, “Ruang Dansa Ivan Menshkov” membawa label “fiksi biografis.” Kebanyakan cerita yang diidentifikasi “biografi” bagaimanapun, cenderung menumpukan sesuatu yang dipercaya sebagai suara dan kontemplasi pencerita orang pertama (aku) dan dalam bentuk renungan yang agak bersifat pengakuan, potongan cerpen itu pun memperlihatkan hal yang semacam itu. Sementara itu, penceritaannya dapat dicirikan sebagai kabur, bahkan ambigu, di situlah kita sulit memastikan apa dan siapa yang sebenarnya sedang berkata. Inilah kisah yang dibaca jika penulis berusaha menjaga sesuatu yang tersembunyi, ia sekaligus berharap, bahwa sesuatu itu dapat ditemukan. Tokoh utama dan pencerita “aku”, pemilik apartemen tersebut, penulis Ivan Menshkov, dan Andrei, teman yang mendirikan apartemen bersama pencerita: itulah tiga tokoh yang membangun cerita ini. Meminjam pernyataan kritikus sastra Kim Hwa-young, “Ketiganya adalah pembuat, perakit; mereka adalah penulis cerita horor.” Kim melanjutkan: “Cara melepaskan lapisan cerita ini seperti mengupas kulit bawang dan pusat yang Anda dekati terletak dalam novel horor Ivan Menshkov sendiri itu, “Mimpi.” Boleh jadi bahwa Ivan Menshkov sendiri adalah sosok bayangan
72
atau hantu. Atau, mungkin, ia sebenarnya berasal dari figur nyata dunia sastra Rusia. Pembaca tidak pernah dibawa pada kepastian, apakah ia benar-benar ada, atau sudah mati, kita tidak pernah yakin bagaimana dia dibunuh, jika mati, atau, kalau masih hidup, apakah dia benar-benar telah pergi pada beberapa perjalanan bunuh diri yang aneh di seluruh Eropa. Kami tidak pernah mencari tahu mengapa atau bagaimana benda-benda di apartemen Ivan Menshkov itu terus bergerak di sekitar, dan kita tidak pernah diberi tahu, atau tidak, siapa yang menari di lantai enam. Andrei adalah orang yang menceritakan kisah Ivan Menshkov untuk pencerita “Aku”. Pencerita sudah tinggal di St Petersburg sebelumnya, kembali pada tahun 1994, sebagai bagian dari program pertukaran mahasiswa. Pada saat itu, Andrei baru berusia 29 tahun. Andrei ketika itu bekerja paruh waktu di sebuah restoran sushi dan mengaku bekerja untuk novelnya: sebuah cerita horor. Ia juga mengklaim menjadi teman Ivan Menshkov yang terkenal. Namun selebihnya, lebih jauh Andrei mengatakan, kemalaman di kota St Petersburg, lalu pencerita menemukan dirinya semakin terganggu insomnia dan halusinasi. Untuk memberi pembaca semacam panduan, Lee Jang-wook sendiri mempersembahkan “catatan penulis” beberapa di antaranya untuk menyertai edisi cerita aslinya – penggalannya diambil dari buku hariannya sendiri, ditulis pada tahun 2007. Berikut adalah beberapa kutipan:
Senja. Aku duduk di sebuah gedung apartemen kecil di St Petersburg, Rusia. Sebuah bangunan tua, dengan pintu kayu tebal di lantai pertama Anda harus mendorongnya ke dalam, yang mengarah ke tangga remang-remang dan berbau apek, Anda harus naik. Pintu apartemen memerlukan tiga kunci berkarat yang akan dipasang pada tiga lubang kunci terpisah sebelum membukanya, dan duduk dalam kesuraman di kursi ini, [saya mendengar] suara tangga berderit. Ini saringan dalam melalui celah-celah di pintu. Ada beberapa museum cokelat di kota ini. Di sana, Anda dapat bertemu dengan Lenin yang terbuat dari cokelat. Figur-figur ini untuk dijual, sehingga wisatawan bisa juga dengan mudah merasakan manisnya Lenin ini. Sebuah Lenin yang terbuat dari cokelat. Atau, tidak ada. Sebuah cokelat terbuat dari Lenin. Seni pop yang terbuat dari sosialisme. Atau mungkin hanya pembalikan komedi S e n i & B u d a y a Ko re a
Lee Jang-wook, penyair produktif, novelis,
dari simbol paling mulia yang dulunya sangat terhormat.
dan kritikus, mengangkat estetika kiasan dari
Lee menghabiskan sekitar 20 hari di apartemen St Petersburg. Meninggalkannya, ia menulis:
“rumah hantu” dan menjadikannya sebuah lingkaran cerita asli dan sangat intelektual.
Lee Jang-wook
Aku menemukan bahwa tangga itu bukan kayu; tangga-tangga itu terbuat dari batu. Tangga batu yang keras dan kering, dan diam. Jadi apa yang berderit yang berlangsung sepanjang malam? Suara itu bekerja dengan cara menjadi mimpi yang aku banget – berasal dari manakah? Dan bagaimana dengan Raskolnikov, berdiri di tangga dengan kapak tergenggam tangannya, menatap tepat ke arahku – ke mana dia pergi? Membaca prosa pribadi Lee bersama dengan fiksinya, menjadi mungkin untuk mulai membaca ke dalam pertanyaan dan kekhawatiran yang sebagian besar menarik baginya sebagai penulis. Dalam cerita itu, pembaca belajar bahwa gelombang kapitalisme telah menyapu tanah Soviet ini. Setelah seorang seniman antikemapanan, Menshkov memilih menjadi seorang penulis genre fiksi populer, dan Andrei, setelah seorang teolog ateistik dalam pelatihan, asistenmengelola sebuah restoran sushi sementara ia sendiri juga bekerja untuk buku horor terlaris. “Aku” yang anonim juga tak berbeda, bahkan saat ia menemukan dirinya terjebak dalam misteri Andrei, dan mungkin Menshkov mati, mungkin hidup. Sebagai kritikus sastra Noh Daewon mengatakan: “Ambillah kisah mereka yang pernah membenci kapitalisme, hanya untuk menemukan diri mereka berinvestasi di pasar saham - ini pengkhianatan yang disengaja dari Anda semua yang pernah berdiri untuk itu. Ini adalah mimpi buruk yang juga berlaku untuk yang disebut generasi 386 (orang Korea yang lahir pada tahun 1960an, mendatangi usia di tahun 80-an, dan mencapai usia 30-an mereka pada saat label mata uang itu).” Lee Jang-wook sendiri lahir pada tahun 1968, membuatnya sebagai prototipe anggota generasi 386, sehingga wajar bertanya, apakah mungkin melihat sekeliling dia sebagai sesama penulis yang berusia 40-an, dan mendapati dirinya - duduk di gedung apartemen bobrok St Petersburg dengan gaya abad ke-19 dengan cahaya redup tampak gelisah sendiri- tergerak untuk menulis realitas mereka yang pernah berusaha untuk mengatasi kapitalisme dan sekarang berjalan tegang di garis depan kapitalisme. Memang, pembaca individu, dipaksa untuk mengandalkan dan mengalami sensasi cerita orang pertama (aku) yang jelas tidak bisa dipercaya, tidak bisa tidak mengambil bagian dalam kebingungan dan mempertanyakan cerita “aku”. Klimaks kisah ini terjadi dalam adegan ketika “aku” mengatasi horor yang menghantui apartemen, memasuki ruangan biru-muda penulis Menshkov dan, entah mengapa, menemukan dirinya mulai memanfaatkan tari. Menari dengan mengambil tempat terjadinya ribuan kilometer jauhnya dari rumahnya di Seoul. Untuk pembaca, mengatasi dengan horor dan kecemasan, bahkan saat dia tinggal di garis depan neoliberalisme, keran tarian ini menawarkan kesempatan mengamati sebuah proyeksi sejati.
Ko r e a n a | Mu s i m P a n as 2013
73
citra korea Apa jenis tempat ini? / Apa yang ada di dalamnya? / Apakah seseorang tinggal di sini? / Apakah Anda dapat melihat sesuatu? Keingintahuan dan rasa penasaran memancar dari mata anak-anak saat mereka mengintip melalui celahcelah sempit lubang pintu. Tak ada yang mesti dilihat. Meski begitu, ruang tak berbatas yang membentang di balik pintu seperti bergaung dengan pertanyaan utama. “Siapakah aku?” Tergantung tinggi di atas kepala anak-anak, sebuah papan besar bertuliskan nama gedung itu, dalam empat karakter China yang misterius, jalinan yang tergores dengan makna berlapis: “Aula meditasi, jauh di pegunungan, tempat kehidupan abadi.” Pada pilar di sebelah kanan pintu tertera dua karakter lebih sederhana menegaskan: “Pusat Meditasi.” Begitulah, anak-anak belum merasa puas dengan rasa ingin tahu mereka. Jadi tanda itu telah dipasang jelas dalam huruf Korea pada pintu besar bercat merah: “Ini kawasan terlarang, pusat meditasi, tempat latihan mengabdikan diri.” Orang-orang yang lewat melalui pintu itu tidak keluar lagi sampai jawaban pertanyaan mereka menyentuh hati dan bergema di sana. Sebuah pintu tempat bertemunya dunia dalam dan dunia luar, pintu merah adalah tempat kehidupan duniawi dan asketisme diam-diam mendorongnya terhadap yang lain. Salah satu dari sepuluh kuil Buddha terbesar di Korea, Beomeosa terletak di lereng Gunung Geumjeong di pinggiran Busan, sebuah kota terbesar kedua di Korea. Dikisahkan, bahwa suatu hari pada abad ke-7, raja bermimpi melihat ikan turun dari langit dan berenang di mata air emas yang mengalir dari bawah batu besar di puncak gunung; setelah itu ia mendirikan kuil yang diberi nama Beomeosa, Kuil Ikan Surgawi. Pusat meditasi terselip jauh di dalam kuil itu, tempat para biarawan tetap mengabdikan diri dalam praktik asketisme. “Siapakah gerangan aku?” Pertanyaannya bergema seperti gemuruh drum dan memuliakan ruang di sekelilingnya. Anak-anak mengintip melalui celah-celah lubang pintu dan tidak mendengar suara drum. Mungkin itulah kesucian hati anak-anak karena saat mereka berpaling dari pintu, datanglah jawaban untuk pertanyaan kami.
Mengintip dari Dalam: Siapakah Gerangan Aku? Kim Hwa-young, Kritikus Sastra, Anggota Akademi Seni Nasional, Korea Ahn Hong-beom Fotografer