Skip to main content

TERAS PERS #19

Page 1

Kesetiaan tetap menjajakan mainan anak-anak tradisional di tengah arus modernisasi

Editorial

Redaksi

Bijak Menggunakan Gadget

Pemimpin Umum Angela Rianita

Pemimpin Redaksi Angga Purenda

Editor

Kunthi Damayanti Tane Hadiyantono

Redaktur

Angelica Senggu Verena Patricia Christi Mahatma Aryanto Wijaya Angga Purenda Tane Hadiyantono

Reporter

Alexander Ermando Wahyu Ratu Arum Katarina Tathya Selfy Sandra Sesilia Narendra Yohana Tika Bryan Melvin Andreas Ricky Vincensia Enggar Kristina Rintik Fransiskanes Tika

Fotografer Flori Sidebang

Antoni Yulian Paulus Darma

Endrianto S.N

mail.teraspers@gmail.com

Facebook

Teras Pers

RALAT!!!

Majalah Teras Pers edisi “Denyut Trans Jogja Di Tanah Istimewa” merupakan edisi ke-18 (XVIII), Mohon Maaf atas kesalahan pada penulisan di cover majalah yang tertulis XIX, seharusnya XVIII. Terima Kasih

Twitter

@TERASPers

Issuu.com

4-5 Liputan Utama

Warna-warni Perangkat Cerdas Bagi Anak

6-7 Liputan Utama 8-9 Disekitar Kita

Seribu Masalah, Satu Solusi: Komunikasi

Email

Copyright : Angga Purenda

DAFTAR ISI

Anak, Teknologi, dan Orang Tua

Desain grafis

Layouter

Kini Kemajuan teknologi tidak bisa dibendung lagi, keberadaannya sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat manusia. Hadirnya beragam gadget yang ada setiap genggaman kita menjadi salah satu dampak dari perkembangan teknologi itu sendiri. Sehingga kini gadget menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi dalam rangka memudahkan seluruh kegiatan kita sehari-hari, misalnya saja Handphone , benda yang dimiliki setiap orang ini membantu kita untuk berkomunikasi. Selain memberikan manfaat yang positif kehadirannya pun juga membawa permasalahan baru, jika kita tidak menggunakannya dengan bijak. Salah satu korban yang sering terjerumus pada hadirnya gadget adalah anak-anak. Mereka belum bisa menggunakannya sesuai kebutuhan dan hanya sebatas sebagai hiburan saja. Sehingga dikhawatirkan jika anak-anak tersebut menjadi individualis karena tidak bersosialisasi dengan teman sebayanya tapi justru asyik bermain dengan gadget-nya. Maka itu peran orang tua disini sangat dibutuhkan untuk mengarahkan dan mengajarkan anak dalam menggunakan gadget secara bijak. Maka itu untuk edisi Teras Pers kali ini, mencoba memberikan gambaran bagaimana dampak yang ditimbulkan jika si anak menjadi “pecandu” dalam menggunakan gadget. Tentunya Teras Pers juga mencoba memberikan berbagai solusi alternatif kepada orang tua untuk membimbing anak dalam menggunakan gadget. Terlebih lagi masih banyak hiburan yang menarik lainnya seperti permainan tradisonal Othok-othok, Teater Boneka Papermoon dan Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya yang juga dibahas pada edisi kali ini. Tak ketinggalan pula liputan khusus mengenai FISTFEST 2013 hadir untuk kalian. Selamat Membaca. Angga Purenda

issuu.com/teraspers

10-11 Spesial Page

Euphoria Muda, Berubah dan Berkreasi di Fistfest 2013

12-13 Spesial Page

Dansa Bareng Mocca di Malam Apresiasi Pemuda

14 Sudut

Teknologi Untuk Anak Jalanan Keserasian

15 Opiniku

16-17 Djendela Rana

Hidup Dalam Keselarasan dan

18-19 Politik Kita

Saatnya Bersikap Kritis Terhadap Peraturan Kampus

20-21 Sosok

Karmin: Cinta Othok-othok, Cinta Anakanak

22-23 Komunitas

Papermoon Puppet Theatre: Menjawab Kegelisahan Lewat Pengalaman Estetika dan Rasa

24-25 Jalan-jalan

Menikmati Fajar di Gunung Api Purba Nglanggeran

26-27 Seni Budaya

Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya Seni Budaya yang Melayani

28-29 Cerpen Algojo 65

Cepat-cepat Informasi Sudah Datang

| 3


Liputan Utama

Liputan Utama

Warna-warni Perangkat Cerdas Bagi Anak “Anak-anak itu ibarat kertas putih kosong yang nantinya akan diisi oleh orangtua dan lingkungan sekitarnya. Karena itu sebisa mungkin kertas tersebut diisi dengan hal-hal yang positif” -Dr. Y. Sari Widiyastuti, S.H., M.HumTulisan Alexander Ermando dan Vincensia Enggar

S

eorang bocah laki-laki bernama Rafa sedang asyik bermain dengan perangkat tablet PC (personal computer) di ruang tengah. Umurnya belum lagi sepuluh, namun jari-jarinya sudah begitu lihai dalam mengendalikan piranti berlayar sentuh itu. Menjelang pukul tujuh malam, sang Ibu muncul, dan terciptalah konversasi lumrah yang terjadi antara ibu dan anak. “Udahan ya, mainnya besok lagi. Sekarang PR (pekerjaan rumah)-nya dikerjain dulu,” ujar Ibu, mengingatkan si anak. Rafa yang masih duduk di Sekolah Dasar ini lantas merengek, “Bentar to, Bu. Ini biar aku menang dulu. Tinggal dikit lagi.” Ibu pun membiarkan anaknya bermain sebentar lagi. Selang beberapa menit, Ibu mengambil tablet tersebut secara halus. Itu pun dengan sedikit

4 |

rayuan. “Keseringan main itu nggak baik lho, dek. Ibu nggak ngelarang, cuma ya harus belajar dulu. PR-nya dikerjakan. Besok kan masih bisa main lagi,” jelas Ibunya. Akhirnya Rafa manut kepada Ibunya, lalu mulai mengambil buku-buku untuk belajar malam itu. Sang Ibu, sebut saja Win, kemudian bercerita kepada TERAS PERS bahwa ia sudah mengenalkan gadget pada putranya sejak dini. “Saya mengenalkan anak pada gadget memang bisa dibilang tidak sengaja. Saat itu usianya masih 5 tahun. Pemakaian sebatas games di iPad atau ponsel (telepon seluler) saja,” ungkapnya. Perangkat berteknologi canggih serta kelebihannya memang begitu mudah mencuri perhatian, terutama bagi anakanak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hal ini juga yang menjadi alasan Win untuk

memberikan perangkat tersebut kepada Rafa. Meski demikian, memberikan bukan berarti bebas menggunakan. “Pemakaian alat-alat berteknologi itu memang saya batasi waktunya. Seusai mengerjakan PR di malam hari selama dua jam maupun di hari-hari libur sekolah selalu dalam pengawasan saya,” jelas Ibu pekerja swasta ini. Batasan-batasan yang Win berikan tentu saja memiliki alasan yang jelas. Perangkat pintar saat ini tidak hanya bisa dimanfaatkan sebagai sarana hiburan untuk anak-anak, tapi juga sebagai alat untuk mencari informasi, dengan adanya internet. Win khawatir jika informasi yang didapat anaknya tidak sesuai dengan umur. Permainanpermainan yang ada juga bisa mempengaruhi keaktifan gerak anak. “Saat saya merasa games

semakin membuat dia malas dalam belajar atau mengerjakan PR, saya lebih sering memberikan pengertian untuk berhenti sejenak dari bermain atau bahkan sampai saya sembunyikan iPadnya, “ tegasnya. Rafa, bocah berambut agak ikal ini mengatakan bahwa bermain games lewat tablet sangat menyenangkan. “Aku bisa main tembak-tembakan, makan ikan-ikan kecil sampai dapet banyak poin. Tapi Ibu juga yang mengajariku cara bermainnya jadinya aku sekarang udah pinter mainnya,” ungkapnya dengan senyum polos. Fenomena seperti ini ternyata mengundang berbagai pendapat. Ratri Sunar Astuti, S.Psi ., M.Si tidak menganggap perkembangan teknologi digital sebagai ancaman bagi anak-anak usia dini. Pada dasarnya, manusia membutuhkan perangkat teknologi untuk meringankan pekerjaan atau aktivitas seharihari. “Saya sendiri kebetulan punya anak tingkat SD, yang dalam mengerjakan tugastugasnya perlu bantuan internet. Sebagai orangtua saya merasa dimudahkan. Sayangnya, pengawasan orangtua yang kurang bisa membuat anak lepas kontrol dalam memanfaatkan perangkat

Ilustrator Paulus Darma

cerdas,” jelas Ratri ketika ditemui TERAS PERS. Ratri yang merupakan Kepala Program Studi “APA” Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, menyatakan perangkat cerdas dapat berdampak buruk pada anak jika tidak dibarengi dengan pengawasan oleh orangtua. Salah satunya adalah sisi sosial anak menjadi individualis akibat kurangnya interaksi dengan anak-anak lain sebayanya. Oleh karena itu pengendalian sudah harus dilakukan orangtua sejak anak dikenalkan kepada perangkat teknologi mutakhir. Pada kasus tertentu, orangtua tidak hanya mengawasi tapi juga mengekang penggunaan teknologi bagi anak. Misalnya saja anak tidak dibelikan ponsel hingga usia tertentu atau dilarang untuk menggunakan perangkat game. Ratri berpendapat jika metode tersebut sah-sah saja untuk dilakukan. “Mungkin menjadi tidak nyaman buat anak, karena ia bisa jadi kurang update mengenai gadget terbaru. Tapi selama pengekangan itu dibarengi dengan pemahaman untuk anak, saya kira itu tidak apa-apa,” ujar wanita berkacamata ini. “Pada dasarnya anak-anak usia dini memang lebih mudah

menyerap teknologi dibanding orang-orangtua, namun memang mereka belum cukup memiliki tanggung jawab dalam menggunakannya. Di sinilah peran serta orangtua untuk mengingatkan. Juga perlu adanya keterbukaan di antara orangtua dan anak tentang games seperti apa yang boleh atau tidak boleh dimainkan,“ tuturnya lagi. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Yogyakarta Dr. Y. Sari Widiyastuti, S.H., M.Hum, ketika ditemui di kediamannya. Teknologi media dalam bentuk games atau tayangan video rentan bagi anak-anak karena mungkin terdapat unsur kekerasan di dalamnya. Orangtua pun cenderung menyalahkan teknologi yang berpengaruh buruk bagi anaknya. “Tayangan video atau games memang sebaiknya dibuat agar lebih ramah untuk anak. Namun orangtua juga wajib hadir untuk memberikan pengertian bagi anak mengenai konten tayangan yang ditonton,” kata Sari. Secara hukum, anak-anak berhak untuk mendapatkan hiburan dan informasi, salah satunya dengan menggunakan perangkat cerdas berteknologi tinggi. Tentu saja, dengan adanya hak tersebut bukan berarti anak memiliki kebebasan yang absolut. Sekali lagi, orangtua wajib menjadi benteng pertahanan bagi anak. “Pahami dulu fungsi teknologi bagi anak. Gadget yang digunakan anak-anak biasanya lebih sering untuk bermain games, namun perlu diikuti dengan pemberian nilai-nilai pemahaman sebagai kontrol dalam menggunakannya agar tidak terjadi ketergantungan dan mengabaikan kewajiban dan tugas sebagai anak sekolah,” ujar Sari yang juga merupakan Dekan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).-

| 5


Liputan Utama

Liputan Utama

Anak, Teknologi, dan Orang Tua Tulisan Angelica Senggu dan Wahyu Ratu Arum

T

eknologi memiliki berbagai dampak terhadap anak-anak, baik positif maupun negatif. Namun berbagai dampak negatif itu hanya dapat dirasakan secara langsung oleh anak-anak jika tidak ada pengawasan dari lingkungan sekitarnya. Kali ini Teras Pers berkesempatan ngobrol dengan Pascalina Sukacita Alaman, seorang guru Bahasa Inggris di Preschool KinderStation Yogyakarta. Perempuan muda yang sering disapa Miss In ini sudah setahun mengajar intrakurikuler umtuk siswa yang rata-rata berusia 7-9 tahun. Berikut petikan wawancara Teras Pers (TP) dengan Pascalina (Ms.In): TP: Halo Miss In, apa kabar? Kita pengen nanya soal anak dan teknologi. Menurutmu, apa sih yang membuat anak-anak sekarang cenderung tergantung dengan teknologi? Ms.In: Menurutku karena orangtuanya sih. Pokoknya orangtua itu berpengaruh besar. Kelihatan sekali kayak di sekolah tempat aku ngajar itu, orangtua bawa gadget bermacam-macam. Jadi kadang-kadang mereka memberikan gadget itu kepada anak mereka. TP: Kalau sudah begitu, kira-kira bagaimana agar anak-anak tidak kebablasan dalam menggunakan teknologi? Apa hanya tanggung jawab orang

6 |

tua atau gimana? Ms.In: Kalau saya pribadi, ini semua memang kembali kepada orangtuanya masingmasing. Orangtualah yang bertanggung jawab karena guru yang ditemui pertama oleh anakanak adalah orangtuanya. Walaupun memang pada kenyataannya guru-guru di sekolah menghabiskan waktu banyak bersama anak-anak, tapi mereka mengalami pengenalan pertama akan teknologi itu di rumah. Jadi ketika orangtuanya seperti itu (menggunakan dan memberikan gadget.red.), jangan kaget kalau anak-anak mereka pun akan menjadi seperti itu. Orang tua pun kok menjadi kaget, lho kok anak-anaknya udah lancar ngoperasiin alat-alat teknologi yang canggih. Sebenarnya gak usah kaget karena di depan anak-anak mereka juga menggunakan gadget. Toh, anak-anak akan meniru. Tingkat imitasi anak-anak itu kan tinggi banget, jadi mereka bisa dengan cepat meniru apa yang dilakukan orangtuanya. TP : Terus, menurut kamu sendiri sebenarnya kapan saat yang tepat anak-anak bisa menggunakan teknologi? Ms.In : Mmm.. Mungkin sekarang anakanak itu harus diberi filter. Filter itu ya mana yang perlu, mana yang tidak perlu. Jadi saat yang tepat adalah ketika orangtua memberikan

alat-alat teknologi, tapi anak-anak itu juga dibatasi dengan kebutuhan yang seharusnya. Ya mungkin susah jika terlalu straight dalam membatasinya. Tapi menurut saya, kapan dan dimana itu harus digunakan adalah ketika teknologi itu digunakan dengan adanya pengawasan orangtua. Misalnya dibatasi mana yang baik atau perlu untuk anak, dan mana yang tidak baik atau tidak perlu untuk anak. TP : Lalu, bagaimana seharusnya orangtua berperan serta dalam mengawasi penggunaan teknologi pada anak-anak? Ms.In : Setiap kali anak menggunakan barang teknologi canggih, seperti gadget, seharusnya diawasi atau didampingi. Nah bisa juga tuh anak-anak diberikan permainan yang tidak harus pake teknologi . Di tempat saya ngajar, anak-anak pun lebih suka dengan permainan yang tidak selalu pakai teknologi. misalnya permainan tebak-tebakan, mewarnai, membaca. Itu kan lebih efektif. TP: Apa saran Miss In agar anak-anak tidak tergantung dengan teknologi itu sendiri? Ms.In : Sebagai orangtua agaknya perlu belajar bersikap tegas pada anaknya. Terlebih jika anaknya mulai bergantung pada teknologi dan selalu minta barang-barang canggih seperti gadget terbaru.

Jika kita berikan anak segala yang dia mau, hal tersebut tidak selalu yang terbaik untuk si anak. Harapannya orangtua bisa lebih bijaksana dalam memberikan fasilitas dengan teknologi canggih pada anaknya.

Pada akhirnya, bukan berarti anak usia dini tidak diperbolehkan menggunakan barang-barang berteknologi canggih, namun penggunaannya harus disertai pengawasan dari orangtua dan guru agar anak mendapatkan pendidikan seimbang. Kita pun sebagai mahasiswa yang peduli dengan anak-anak, terlebih jika memiliki adik atau saudara yang masih kecil, sebaiknya ikut mendampingi mereka dalam bertumbuh. Caranya bisa dimulai dengan membatasi penggunaan gadget, mengajak mereka belajar dengan buku, atau bermain berbagai permaianan yang bisa merangsang motorik mereka di luar ruang.-

Pascalina Sukacita Alaman

| 7


disekitar Kita

Disekitar Kita

Seribu Masalah, Satu Solusi: Komunikasi “Permasalahannya adalah kegiatan kampus yang sampai larut malam. Kegiatan kampus itu minimal ada surat tembusannya, lha ini nggak ada, kita mau ngadu kemana ngga tau, seolah kita kayak preman kalau langsung menegur.” Keluh pak Ketua RT 06 Tambak Bayan. Tulisan Christi Mahatma dan Bryan Melvin

M

enjadi bagian dari sebuah ekosistem merupakan hal yang membutuhkan kerja keras untuk mempertahankan keutuhan ekosistem tersebut. Dalam ekosistem yang di dalamnya terdapat beberapa populasi, tentunya akan terjadi beberapa gesekan. Inilah tantangan yang harus dihadapi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Atma Jaya sebagai populasi yang hidup dalam ekosistem Tambak Bayan. Banyak hal yang harus diperhatikan oleh FISIP untuk membangun hubungan baik agar terbangun ekosistem yang kondusif. Beberapa isu sempat muncul terkait dengan hubungan FISIP dengan masyarakat Tambak Bayan. Isu-isu ini menggelitik telinga TERAS PERS yang kemudian memaksa otak TERAS PERS untuk membedah apa yang terjadi. Isu-isu yang sebenarnya sudah tidak asing menyambangi gendang telinga mahasiswa FISIP. “Katanya sih, karena mahasiswa itu agak cuek dengan warga” ujar Anastasya seorang mahasiswa FISIP. Dia menjelaskan bahwa mahasiswa kurang bergaul dengan warga Tambak Bayan. Mahasiswa fokus pada kuliah dan kegiatan kampus, sehingga tidak terlalu memikirkan yang ada disekitarnya. “Tapi itu katanya lho, aku sendiri nggak melihat masalah apa pun” cepat-cepat ia menambahkan. Grace seorang mahasiswa FISIP angkatan 2011 memiliki pendapat lain. “Kayaknya ada tapi nggak begitu kelihatan, tergantung pribadinya masing-masing mau berbaur apa enggak. Kalau masalah sama kampus nggak begitu kelihatan.” Sedangkan menurut seorang mahasiswa lain, ia memilih bersikap netral. Ketiga mahasiswa tersebut kost di daerah Tambak Bayan, dan masing-masing memiliki

8 |

pendapatnya sendiri. Berawal dari ‘katanya’ yang dapat diartikan bahwa sebenarnya mereka tidak tahu. Mahasiswa yang menjawab demikian tidak benar-benar menyadari bahwa ada masalah yang sebenarnya membutuhkan bantuan. Kurangnya kepekaan yang dimiliki mahasiswalah yang menyebabkan sikap ketidakpedulian ini. Bagi mahasiswa FISIP, seharusnya isu-isu yang beredar diberikan perhatian khusus. FISIP merupakan fakultas yang di dalamnya menampung sekian ratus mahasiswa kritis, cerdas dan diharapkan berorientasi pada pengabdian kepada masyarkat. Tidak cukup penting kah isu mengenai hubungan FISIP dengan Tambak Bayan untuk dibahas? “Warga ingin mahasiswa menyapa, mahasiswa kan dianggap sebagai pendatang, ya setidakanya ada unggah-ungguhnya” menurut Dyah Ayu Retno, Kaprodi FISIP saat ditemui di kantornya. Inilah yang menjadi salah satu isu yang tak jarang menerobos lubang telinga. Bu Ayu kemudian mulai bercerita mengenai pengabdian masyarakat yang ia lakukan. “Saya sih cuma pernah menangani Dies Natalis FISIP ke-20, event yang dirancang untuk warga Tambak Bayan. Waktu itu berdekatan dengan 17 Agustus. Awalnya pendekatan dulu dengan masyarakat diwakili Ketua RT dan ketua RW membicarakan hubungan mahasiswa dengan warga”. “Pembicaraan itu kemudian ditindaklanjuti dengan malam tirakatan dengan mengajak mahasiswa terlibat ke sana. Baru terlibat itu istilahnya kula nuwun, belum dalam tahap berbagai. Tanggapan masyarakat sendiri positif, ya tentunya dengan pendekatan yang cukup lama” lanjutnya. “Sejak Bu Sundari sebagai dekan, kami sudah

mengundang sesepuh, pemimpin lokal, dan sampai sekarang masih meneruskannya. Sarasehan dengan bapak-bapak untuk pemilu, sarasehan bersama BNN, tetapi yang hadir sedikit karena ada acara lain diwaktu yang bersamaan” ungkap Pak Lukas Ispandriarno, Dekan FISIP UAJY menimpali Bu Ayu. Pak Lukas juga mengungkapkan bahwa FISIP pernah dalam kondisi yang kurang enak, yaitu saat persiapan inisiasi. “Waktu itu mengundang bapak untuk persiapkan program, disitu terjadi salah paham. Kata mereka, panitia inisiasi ada yang kerja bakti di sana, lha tapi warga kok malah tidak tahu ya. Ternyata tidak jadi, warga juga tidak tahu dengan perkembangannya, mereka semacam marah , kita dianggap ngapusi” tutur pak Lukas. Di sisi lain, sebagian warga Tambak Bayan merasa bahwa mahasiswa FISIP baik dan berlaku seperti normalnya mahasiswa. Tidak ada persoalan yang terlalu signifikan mengenai tindak-tanduk mahasiswa itu sendiri. Masalah yang terbesar yang menyelimuti warga Tambak bayan adalah kurangnya komunikasi. “Permasalahannya adalah kegiatan kampus yang sampai larut malam. Kegiatan kampus itu minimal ada surat tembusannya, lha ini nggak ada, kita mau ngadu kemana ngga tau, seolah kita kayak preman kalau langsung menegur,” keluh sang Ketua RT 06 Tambak Bayan.

Masyarakat Tambak Bayan sering merasa terganggung dengan adanya kegiatan kampus hingga larut malam. Bukan berarti tidak memperbolehkan, namun warga Tambak Bayan membutuhkan informasi. “Apakah iya kegiatan kampus itu sampai jam 11 malam? Apakah iya pembangunagan FISIP sampai larut malam, sampai mengganggu. Ini lho yang membuat tidak harmonis,” jelas Pak Ketua RT 06 Tambak Bayan. Tantangan hidup bagi warga sekitar Berdekatan dengan kompleks Universitas tidak mutlak buruk, tentu saja ada hal positif yang juga diperoleh. Namun inilah yang menjadi tantangan bagi warga Tambak Bayan dan juga FISIP sendiri. Gesekan-gesekan kecil ini merupakan masalah yang harus diperhatikan kedu belah pihak. Untuk mengurangi gesekan itu tentunya dibutuhkan komunikasi yang baik antara Tambak Bayan dengan FISIP. Dalam sebuah hubungan, tentunya akan mengalami masalah dalam komunikasi. Sementara komunikasi adalah hal paling penting dalam sebuah interaksi. Bagaimana komunikasi yang hendak dibentuk oleh Tambak Bayan dengan FISIP? Dalam hal ini harus ada kerja sama dari berbagai pihak, dari pihak FISIP, mahasiswa, dan juga warga Tambak Bayan sendiri. Belajar tidak harus berada di kelas, belajar bisa bersama dengan masyarkat sekitar. Beberapa mata kuliah tertentu dapat dimodifikasi dengan mengadakan sesi di luar kelas dan belajar bersama dengan warga Tambak Bayan. Bisa dengan melakukan wawancara atau sekedar ngobrol yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas. Komunikasi yang dibangun sedikit demi sedikit pastinya akan membuka jalan bagi relasi yang baik antara FISIP dengan Tambak Bayan.Ilustrator Paulus Darma

| 9


Spesial Page

Euphoria Muda, Berubah dan Berkreasi di Fistfest 2013

Spesial Page

Salah satu suasana pertandingan 3 on 3

F

istfest adalah rangkaian kegiatan tahunan yang diadakan oleh para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Melalui Fistfest, UKM-UKM yang terdapat di FISIP Atma Jaya mendapat kesempatan unjuk kebolehan dalam rangkaian acara yang sudah disiapkan. Fisip Twisted Festival 2013 mengusung tema pemuda, dengan judul utama ‘Change of Evolution’. Tema ini sangat menarik mengingat Hari Kebangkitan Nasional diperingati tepat sehari setelah Fistfest berakhir. “Kami ingin menunjukkan semangat dan euphoria anak muda dalam melakukan perubahan yang bersifat positif. Senang Fisip Twisted Festival dan mampu berkreasi dengan film, gelar karya fotografi, musik, olahraga basket dan futsal” ujar Aji Bhatara Allore2013 kali ini mengusung rung, Ketua Fisip Twisted Festival 2013. tema pemuda, dengan judul Rangkaian acara Fistfest dimulai dengan Movie Monday yang melibatkan Kine Club, sebuah UKM film utama ‘Change of Evolution’. dan sinematografi di FISIP Atma Jaya. Kine Club bekerja Bagaimana keseruannya? sama dengan panitia mengadakan pemutaran film di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta (29/04). Movie Monday memutar empat film indie hasil karya anak bangsa, yaitu “Anoman” dan “Senyawa” karya Raphael Wregas Bhanuterja, serta “Badminton” dan “Wan An” karya Yandy Laurens. Keempat film ini dipilih oleh karena membawa pesan bagaimana pemuda Indonesia Tulisan Tane Hadiyantono, Yohana Tika memiliki kesempatan dan kemampuan yang besar untuk dan Selfy Sandra melakukan perubahan. Pada hari dan tempat yang sama, UKM Fotografi Jurnalistik Klub menggelar karya dalam pemeran bertema “Semangat Muda”. Para pengunjung dapat menikmati sekitar 20 foto yang dipajang apik di galeri LIP. Melalui gelar karya ini, para fotografer FJK berusaha menangkap sosok kebolehan anak muda Indonesia dalam berbagai kegiatan. Setelah Movie Monday dan pameran foto, rangkaian acara Fistfest selanjutnya adalah kompetisi basket 3on3 di Kridosono Sporthall (3-4/05). Kompetisi ini mempertemukan 22 tim putra dan 6 tim putri dari berbagai fakultas dan universitas di Yogyakarta. Sebagian besar tim yang bertanding menggunakan nama yang unik dan kocak, seperti Hulk, Terserah, Rindu Ibu, Subur, Eris n Friends, dan lain-lain. Movie Monday Photo Fistfest 2013

10 |

Juara I Futsal Competition Pada hari kedua, kompetisi final 3on3 bergulir hingga malam hari. Pertandingan final putra antara tim Eris n Friends (Fakultas Hukum UGM) melawan Fakultas Hukum Atma Jaya berlangsung seru selama 30 menit. Akhirnya tim Eris n Friends keluar sebagai pemenang, serta terbukti sebagai tim basket terkuat karena tidak pernah kalah dalam kompetisi ini. Di kompetisi putri, Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY memenangkan gelar juara pertama. Tidak lupa pula Fistfest menggelar pertandingan futsal di Pele Futsal, Babarsari. Babak penyisihan diadakan pada tanggal 6-8 Mei, sedangkan final perhelatan futsal diadakan pada tanggal 14 Mei. Terdapat 18 tim yang bertanding di kompetisi futsal. Nama tim yang mendaftar juga unik-unik, seperti AA TA, Home Knight, Mandau, Kampang, Twister, Labia, Koreri, dan tidak lupa PS I Love You dari FISIP Atma Jaya. Tim-tim tersebut kemudian dibagi dalam 4 kelompok. Pertandingan final futsal pun mempertemukan Koreri (Fakultas Hukum UAJY) dan Conio (Fakultas Teknik Informatika UAJY). Pertandingan berlangsung seru hingga akhirnya dimenangkan oleh Koreri. Call for Research Competition 2013 Tidak hanya bersenang-senang dalam kreativitas dan olahraga, BEM FISIP UAJY juga mengadakan Call For Research Competition 2013. Acara yang baru pertama kali diadakan ini bertemakan “Audiens, Publik dan Masyarakat: Tren dan Masa Depan”. Stephani Arum Sari, koordinator umum CFRC, menyatakan bahwa kompetisi ini muncul dari keprihatinan jajaran BEM atas minimnya budaya penelitian di kalangan mahasiswa dewasa ini, padahal penelitian adalah salah satu cara untuk membawa perubahan bagi bangsa. Penelitian juga suatu kegiatan yang penting karena dapat membuat mahasiswa peka terhadap lingkungan. “Semangat itulah yang ingin kami hidupkan kembali lewat CFRC ini,” ucap Teteph, begitu ia biasa disapa.

Game Final - Hukum Atma Jaya vs. Hukum UGM Kompetisi ini menarik perhatian mahasiswa dari seluruh Indonesia, terbukti dengan masuknya 44 proposal di tahap awal penjurian. Setelah seleksi awal, para juri yang terdiri dari Bambang K. Prihandono (Dosen Sosiologi UAJY), Josep J. Darmawan (Dosen Ilmu Komunikasi UAJY), dan Kris Budiman (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM), menentukan 10 proposal yang berhak masuk ke final. Para finalis pun diundang untuk mempresentasikan hasil penelitian yang mereka lakukan di Auditorium Kampus Teresa UAJY (17/05). Ada delapan tim yang datang untuk presentasi, yaitu dua tim dari Universitas Indonesia, tiga tim dari Universitas Gadjah Mada, satu tim dari Universitas Diponegoro, satu tim dari Universitas Negeri Semarang, dan satu tim dari UAJY. Kompetisi ini dilanjutkan dengan Seminar Nasional yang menghadirkan Andreas Harsono dan Dyna Herlina (18/05). Pada akhir seminar, pemenang CFRC 2013 pun diumumkan. Kompetisi ini dimenangkan oleh Nur Rosyid dkk (UGM) dengan judul penelitian “Rekontruksi Shalawatan: Komodifikasi Tradisi, Reproduksi Audiens, dan Sensory Anthropology”. Juara 2 diperoleh Sartika Intaning Pradhani dkk (UGM) dengan judul penelitian “Perlindungan terhadap Suami Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga menurut Perspektif Gender”. Juara 3 diraih oleh Jeany Hartriani dkk (UI) dengan judul penelitian “Bicara Politik melalui Film: Analisis Peran Anak Muda pada Film “Di Balik Frekuensi” sebagai Media Alternatif dalam Penyampaian Pesan Politik”. Rangkaian acara Fistfest dan CFRC 2013 ini menunjukkan berbagai kesempatan pada pemuda dan pemudi Indonesia untuk berkarya. Tidak hanya bersenang-senang dan menikmati euphoria muda, namun kita juga dituntut untuk berkontribusi bagi bangsa. Semangat Muda, Semangat Perubahan!-

| 11


Spesial Page

Spesial PAge

Dansa Bareng Mocca di Malam Apresiasi Pemuda Tulisan Kristina Rintik

P

uncak acara FISTFEST (FISIP Twisted Festival) 2013 kembali mewarnai Yogyakarta. Acara tahunan yang diselenggarakan BEM FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini bertujuan untuk memberikan ruang berkarya bagi para pemuda. Cuaca mendung pun tidak menghentikan langkah anak-anak muda menuju Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, tempat acara diselenggarakan, Minggu (19/5). “Malam Apresiasi Pemuda with Mocca” yang berlangsung malam itu menjadi acara temu kangen sekaligus ucapan perpisahan Mocca dengan para Swinging Friends (fans Mocca). Arina, Riko, Toma, dan Indra mengakui bahwa ini merupakan konser kedua terakhir mereka sebelum Mocca vakum lagi sampai waktu yang belum ditentukan. Sementara menunggu open gate, para penonton berfoto den-

12 |

gan latar backdrop bergambar personil band Mocca. Pertunjukan pantomim di selasar pun mengobati rasa bosan menunggu untuk diperbolehkan masuk ruang pertunjukan pada pukul 18.30. Pukul 19.00 WIB, acara dibuka oleh Marching Band Atma Jaya (MBA) dengan menampilkan dengungan lagu Bendera yang dipopulerkan oleh Band Coklat. Awalnya terdengar beberapa penonton yang mengutarakan kekecewaan mereka karena mengira acara tersebut eksklusif untuk Mocca sebagai pengisi acara. Untungnya penampilan MBA yang luar biasa mampu membuat penonton tersebut bertepuk tangan keras. Acara pun dilanjutkan dengan pertunjukkan dari Macan Perak. Sekumpulan pemuda berkumpul di panggung dan mulai menari diiringi lagu-lagu populer. Sekilas terlihat pergeseran dunia musik yang ditampilkan, dimulai dengan lagu nostalgia dan tembang kenangan, kemudian lagu dangdut, Gangnam Style, dan Harlem Shake yang ditarikan dengan sangat unik, konyol, dan lucu. Penampilan ini sukses membuat para penonton tertawa. Pertunjukan berikutnya mempertontonkan kemampuan bermusik dari UKM Mustika Maya, yang terdiri dari tiga penyanyi diiringi dengan pemain drum, gitar, bass, biola, dan lainnya. Mereka membuka penampilan dengan menyanyikan lagu daerah “Yamko Rambe Yamko”

dari Papua. Perpaduan suara para penyanyi dan aransemen lagu yang bergenre pop membuat lagu daerah ini terdengar unik dan segar. Decak kagum penonton menghiasi suasana malam itu. Pertunjukkan kemudian dilanjutkan dengan lagu “Bunga di Tepi Jalan” yang dipopulerkan oleh Koes Plus dan membuat penonton seakan bernostalgia. Pertunjukkan berikutnya dari Keluarga Besar Mahasiswa Dayak Atma Jaya (KBMDA) yang menarikan sebuah tarian daerah. Pertunjukkan menjadi sangat unik karena mampu membangkitkan semangat pemuda untuk mengingat kembali Indonesia yang kaya budaya. Acara ini sekaligus menjadi awarding night bagi para pemenang rangkaian lomba FISTFEST 2013 sebelum penampilan Mocca. Riuh suara para Swinging Friends, julukan bagi penggemar Mocca, menyeruak ketika Arina muncul dari belakang penonton sambil menyanyikan lagu “On the Night Like This” yang membuat malam itu menjadi sangat romantis. Satu per satu, Mocca menyanyikan lagu-lagu yang di-request para Swinging Friends via Twitter. Arina yang tampil dengan dress dengan dominasi warna pink dan obi sebagai pemanisnya terlihat anggun ditemani flute kesayangannya. Malam yang dingin itu pun terasa sangat hangat dan romantis. Dua jam berlalu, Mocca sukses membawakan 24 lagu

untuk menghibur seluruh Swinging Friends yang hadir. Teriakan Swinging Friends yang tidak ingin berpisah dengan Mocca setelah lagu penutup “Me and My Boyfriend” dibawakan, membuat Mocca tidak ingin mengecewakan mereka. Arina kembali menyanyikan tiga lagu terakhir sebagai hadiah untuk para Swinging Friends yang rela datang dari luar kota untuk menyaksikan penampilan mereka. “Life Keeps on Turning”, “Bundle of Joy”, dan “Swing it Bob” sukses mengobati rasa rindu Swinging Friends. Suasana Concert Hall TBY menjadi terasa hangat, dekat, dan akrab. Para penonton yang hafal

lirik lagu ikut bernyanyi dan menari di depan panggung. Arina pun tak segan mengajak beberapa penonton untuk naik ke panggung untuk bernyanyi bersama. Konser ini menjadi konser kedua terakhir Mocca sebelum Arina kembali ke Amerika Serikat. Dua jam menjadi waktu yang sangat singkat bagi Swinging Friends yang menantikan penampilan Mocca setelah vakum beberapa saat. Terlihat senyum kepuasan dari para penonton setelah acara selesai. Penampilan Mocca yang terbilang eksklusif ini menutup kesuksesan acara FISTFEST 2013. “Change Evolution” yang menjadi tema besar serangkaian acara FISTFEST 2013 ini menjadi

pembuktian bahwa pemuda mampu untuk bangkit dan menjadi agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. “Kita berusaha menciptakan ruang untuk memberikan apresiasi kepada pemuda melalui musik dan pertunjukan”, ucap Aji Bhatara Allorerung ketua Fistfest 2013. 1.100 tiket yang terjual di puncak acara merupakan pembuktian keberhasilan panitia dalam penyelenggaraan acara ini. Fistfest pun ditutup dengan pelukan, tawa kelegaan dan kebahagiaan seluruh panitia yang merasakan tanggapan positif dari penonton. Selamat untuk panitia FISTFEST 2013!-

Photo Angga Purenda

| 13


Sudut

Opiniku

Teknologi Untuk Anak Jalanan

Cepat-cepat Informasi Sudah Datang

Tulisan Angelica Senggu

“Di jalanan mereka mengkonsumsi hal-hal negatif dari teknologi, di sini kami mengarahkan mereka untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk dari teknologi itu sendiri tanpa membatasi kebebasan mereka menggunakannya.”

L

SM Rumah Impian di kawasan Sorogenen, Purwomartani, Kalasan, Yogyakarta, telah hampir empat tahun berdedikasi meningkatkan kehidupan anak-anak jalanan. Di bawah pimpinan Samuel Lapudooh, LSM yang di bangun pada tahun 2009 ini, sudah menampung 14 anak jalanan. Mereka semua disekolahkan dan kehidupan sehari-harinya pun dibiayai, walaupun tanpa bantuan langsung dari pemerintah. Namun sumber dana yang secara mandiri diperoleh itu, ternyata tidak membatasi penambahan jumlah anak jalanan yang akan dididik dan dibimbing. “Bulan Juni nanti, kami merencanakan untuk menampung 16 orang anak lagi,” ujar Yosua Lapudooh, Kordinator Divisi Hope Shelter dan Dolphin Shelter, LSM Rumah Impian. Visi dan misi mulia dari LSM inilah yang mengantarkan anak-anak jalanan untuk berprestasi di dunia pendidikan. “Keinginan utama kami ialah anak-anak bisa bersekolah. Itulah yang nomor satu,” ujar pria yang sering disapa ‘Kak Cua’ ini. Visi dan misi ini tentu bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Namun berkat usaha dan kerjasama para pelopor LSM, anak-anak jalanan yang saat ini dibimbing dan dididik, berhasil menjadi anak-anak berprestasi. Menurut Yosua, masyarakat

14 |

sering memberikan pandangan yang buruk terhadap anak-anak jalanan, dan di LSM ini, mereka ingin mengubah pandangan itu. Pihaknya berusaha menjadikan anak-anak untuk terus bersekolah dan memiliki prestasi yang baik. Untuk itu mereka menyediakan kebutuhan anak-anak baik kebutuhan belajar mereka untuk di sekolah maupun kebutuhan untuk menggunakan teknologi. “Terhadap teknologi, kami juga memperkenalkan mereka dengan internet. Kami siapkan komputer juga. Kami juga membimbing secara teknis bagaimana menggunakan komputer. Seperti Markus (Salah satu anak didik LSM Rumah Impian. red), memiliki keterampilan dalam Mixing Music yang dipakai untuk dance sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Markus pun belajar sendiri tentang Virtual DJ dan arrangements music. Markus yang dulunya anak jalanan paling nakal, per-

Ilustrator Paulus Darma

nah menjadi juara musik dan berhasil manggung dengan salah satu artis Indonesia. Berkaitan dengan ketakutan dalam mempergunakan teknologi secara berlebihan oleh anakanak didiknya, Yosua menambahkan pula, bahwa pihaknya juga memberikan bimbingan dan arahan terkait bagaimana menggunakan teknologi dengan bijaksana. “Pasti ada ketakutan, sehingga kami pun membatasi anak-anak untuk mengakses internet. Modemnya pun hanya boleh dipegang oleh kakakkakak pengasuh mereka. Jadi ada waktunya kapan mereka bisa menggunakan internet. Setiap orang memiliki jatah masingmasing untuk mempergunakannya,” ujar Yosua. Ketakutan itu memang bukan tanpa alasan, menurutnya, anak-anak mengakui sendiri selama masih di jalanan mempergunakan teknologi hanya untuk hal-hal negatif. Internet diakses untuk menonton film porno, menghabiskan waktu untuk game online, sehingga bekal tentang teknologi yang dibawa hanya hal-hal yang salah, yang seharusnya tidak dikonsumsi seorang anak. “Sebenarnya kami mencoba untuk tidak menghalangi mereka, tapi memberikan kebebasan, dan memberitahukan mereka memilih mana yang baik dan yang tidak baik.”-

Tulisan Nikolaus Sulistyo D.

“Jika alangkah baiknya kalau menggunakan seperlunya saja”. Siapa yang tahu seberapa perlu kita menggunakannya?

D

i saat orang-orang bergerombol datang ke tempat makan maupun tempat rekreasi. Di saat seorang kakak dan adik bertemu saat mudik ataupun ketika keluarga besar sedang berkumpul. Ketika duduk bersebelahan dengan orang lain, bercengkrama, tertawa, semuanya dilakukan tidak sambil melihat kepada wajah satu dengan yang lain. Semua itu karena telepon genggam yang semakin pintar yang berada di genggaman kita, alat itu biasa disebut gadget. Di zaman modern ini, teknologi terus berkembang dan semakin canggih. Memang definisi kita terhadap “modern” selalu berubah tiap tahunnya, karena itulah semakin lama kita semakin merasa perlu mengikuti perkembangan gadget paling modern tiap tahun. Bahkan kebanyakan orang merasa kalau hidupnya seakan tidak lengkap tanpa gadget yang dimilikinya. Itu pasti sudah dipikirkan oleh banyak orang. Bahkan, pernah saya mendengar masukan untuk para pengguna gadget, “Alangkah baiknya kalau menggunakan seperlunya saja”. Siapa yang tahu seberapa perlu kita menggunakannya? Saya sendiri menggunakan gadget untuk mengikuti perkembangan berita-berita yang muncul di jejaring sosial karena kecepatan updatenya yang cepat. Melalui aplikasi twitter misalnya, informasi apa pun dapat dengan cepat dan di mana saja bisa kita dapatkan. Gadget juga bisa membantu untuk mempermudah berkomunikasi dengan orangorang yang jauh dari kita. Namun, gadget juga bisa memberikan efek negatif, waktu kita banyak tersita oleh sang gadget sehingga aktifitas menjadi terganggu, kitapun mengalami penurunan konsentrasi, dan tidak jarang men-

jadikan kita malas beraktivitas. Padahal, seharusnya diri kitalah yang mengontrol gadget dan bukannya kita yang dikuasainya. Saya tidak akan menyalahkan gadget sebagai pengalih fokus kita akan suatu hal. Kenyataannya, sebelum fitur teknologi dan gadget meledak, kita memang sudah memiliki banyak pengalih perhatian. Anak-anak sering sekali melontarkan kalimat ajakan kepada teman-temannya, “Yo, dolan yo!” Dari situ, kita sudah sering memindah fokus kita untuk lebih pada bermain bersama teman-teman. Maka gadget tidak mutlak sebagai pengalih perhatian, namun teman-temanpun juga. Memang dengan bermain bersama teman-teman kita dapat berdiskusi dan merasakan kebersamaan, atau minimal dapat benar-benar merasakan bahwa ada orang lain yang sedang menjalin komunikasi dengan kita. Sebenarnya anak muda terlalu melebihlebihkan ketika membahas pentingnya gadget. Apalagi, jika sudah main perbandingan dengan zaman dahulu, yaitu ketika gadget belum ada dan seakan hidup kita menjadi lebih nyaman. Tetapi berdasarkan pengamatan saya akhirakhir ini, gadget membantu kita mendapatkan informasi cepat, sehingga kebenaran sumbernya jelas masih harus dipertanyakan. Selain sumber sering tidak jelas, minimnya konfirmasi dari wartawan kepada narasumber membuat kita kebanjiran informasi. Hal ini menyebabkan kita tak tahu harus mengikuti berita darimana dan terus mendugaduga berita mana yang paling valid. Seakan, kita dipaksa untuk menerima informasi begitu saja. Banjir informasi membuat melupakan prioritas dan kebingungan sendiri.-

Nikolaus Sulistyo D.

| 15


Djendela Rana

Patung Sang Buddha duduk di bawah Pohon Bodi

Para Biksu ditengah-tengah padatnya pengunjung

Hidup Dalam Keselarasan dan Keserasian Tulisan & Photo: Angga Purenda & Flori Sidebang

Pagoda Avalokitesvara

, Pagoda tertinggi di

16 |

Indonesia

Patung Dewi Kwan Im di bawah pohon Bodi

Seorang Umat Budha berdoa dengan menghadap Sang Buddha

B

agi umat Budha makna Waisak adalah untuk memperingati hari kelahiran Pangeran Sidharta Gautama, keberhasilan Pangeran Sidharta Gautama bertapa sampai mencapai penerangan agung dan wafatnya Sang Budha atau yang disebut Tri Suci Waisak. Sehingga setiap hari Waisak tiba, umat Budha diajak untuk meneladani kembali sikap hidup Sidharta Gautama dalam keselarasaan dan keserasian. Terlebih lagi umat diminta untuk meningkatkan kesadaran untuk terus berbuat kebajikan kepada sesama. Beberapa waktu lalu Teras Pers berkesempatan untuk melihat prosesi perayaan hari raya Waisak yang dipusatkan di Candi Borobudur, Magelang serta mengunjungi Vihara Buddhagaya Watugong di Semarang. Perayaan Waisak yang dipusatkan di Candi Borobudur tersebut dihadiri Menteri Agama Surya Dharma Ali, Gubernur Jawa Tengan Bibit Waluyo dan tokoh-tokoh agama Budha. Acara diawali dengan ritual doa di Candi Mendut yang berlangsung khimad walaupun saat tiba di area Candi Borobudur para Biksu terganggu kekhusyukannya karena padatnya para pengunjung. Berbeda dengan Vihara Buddhagaya Watugong, vihara yang diresmikan pada tahun 2006 ini memiliki pagoda tertinggi di Indonesia dan masuk dalam MURI (Museum Rekor Indonesia) dengan tinggi 45 meter. Pagoda dengan dominasi warna merah ini memiliki tujuh tingkat yang bermakna seorang pertapa akan mencapai kesucian pada tingkat ketujuh. Terdapat juga patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) dan Sang Buddha yang duduk di bawah pohon Bodi. Semua bangunan yang berada di kompleks tersebut memiliki arsitektur Tiongkok sehingga sangat menarik untuk dikunjungi.-

Para Biksu bersiap memanjatkan doa bersama

| 17


Politik Kita

Politik Kita

Saatnya Bersikap Kritis Terhadap Peraturan Kampus Tulisan Paulus Darma dan Aryanto Wijaya

“Secara administratif, operasional aturan yang sudah ditetapkan tidak bisa diabaikan karena UAJY sudah diakui International Organization for Standardization (ISO). Berintegritaslah dan jangan membuat aturan itu menjadi penentu, tapi harus berkomitmen, sepanjang tujuan pembelajaran tercapai”, ucap Yudhi Perbawaningsih, dosen Ilmu Komunikasi FISIP UAJY

S

urat Keputusan Rektor (SK Rektor) No. 120/HP/BP/2012 mengenai peraturan, tata tertib, prosedur, bangun kurikulum (termasuk silabus setiap matakuliah), dan tahapan pengambilan mata kuliah, tidak hanya berlaku untuk mahasiswa. Secara keseluruhan, SK Rektor tersebut ditujukan untuk semua civitas akademik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Aturan yang dibuat itu berdasarkan keadilan, dimana tidak hanya mahasiswa tapi juga dosen atau tenaga pengajar harus menaati peraturan yang sama. Salah satu aturan tersebut adalah dosen memiliki standar kehadiran dalam mengampu mata kuliah. Kinerja dosen diatur dengan membuat Satuan Acara Perkuliahan (SAP). “UAJY telah mendapat ISO 9001 yang berarti pelaksanaan kegiatan perkuliahan harus sesuai SAP. Jika dosen terkait tidak mengikuti SAP maka mahasiswa berhak mengingatkan,” tutur Yudhi di ruangannya. Dosen yang pernah menjabat sebagai Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi ini menambahkan bahwa sesuai SK Rektor, dalam satu semester dosen mengadakan 14 kali pertemuan kuliah, paling sedikit 12 pertemuan. Peraturan yang mensyaratkan kehadi-

18 |

ran mahasiswa minimal 75% juga diberlakukan untuk dosen. Kinerja dosen juga dilihat dari waktu kedatangannya. Jika dosen terlambat 15 menit tanpa pemberitahuan, maka mahasiswa berhak meninggalkan kelas. Selama ini mahasiswa sering mempertanyakan keterlambatan dosen, penyebabnya karena ada dosen yang memiliki kesibukan di luar kampus atau bahkan kesalahpahaman penyampaian informasi dengan Bagian Tata Usaha. Mahasiswa juga perlu memperhatikan daftar absensi dosen (bersampul kuning) yang perlu ditandatangani mahasiswa. Waktu yang seharusnya ditulis dalam absensi bukanlah waktu sesi kuliah, tapi waktu kedatangan dosen. Hak mahasiswa adalah mengisi absensi dosen sesuai waktu kedatangannya, sehingga kinerja dosen dapat diawasi oleh Kantor Pengembangan dan Peningkatan Mutu Akademik (KP2MA). Banyaknya keluhan dari mahasiswa terkait dosen yang dianggap tidak berintegritas memunculkan opini tentang aturan yang berat sebelah. Menanggapi hal ini, muncul respon dari mahasiswa melalui Gerakan Intergitas Mahasiswa

(GIM). Gerakan ini sendiri berdiri secara independen melalui pertemuan singkat mahasiswa-mahasiswa FISIP dan Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada November 2012. Koordinator GIM-Fakultas Hukum, Theresia Nanda Indrawati memberikan pandangannya. “Sangat disayangkan karena perbandingannya bagi mahasiswa terkadang dikenakan sanksi teguran atau tidak diperbolehkan mengikuti kelas, namun keterlambatan dosen seperti menjadi urusan pribadi yang bisa diselesaikannya sendiri,” ungkap mahasiswi angkatan 2011 ini. Sayangnya, banyak mahasiswa yang masih bersikap skeptis terhadap absen atau keterlambatam dosen, seperti diungkap Tegar Pambudi, mahasiswa FISIP angkatan 2012. “Seharusnya kita itu merasa dirugikan bukannya berlega hati mendengar kuliah ditiadakan. Selain hak kuliah dan materi yang berkurang, kita juga akan rugi nilai poin keaktifan untuk menunjang Indeks Prestasi,” ucap mahasiswa asal Temanggung ini. Lukas Deni Setyawan, dosen FISIP UAJY, berpendapat bahwa diperlukan tindakan tegas dari

mahasiswa untuk mendapatkan haknya. “Mahasiswa yang harus aktif. Setidaknya mahasiswa harus menggunakan SK Rektor yang mengatur hal tersebut untuk melihat suatu pelanggaran,” ungkapnya. Dosen muda yang akrab disapa Deni ini menyatakan bahwa dosen juga seharusnya menerapkan peraturan yang sama kepada dirinya. “Jika dosen bersangkutan menerapkan aturan bagi mahasiswa, maka dosen itu harus memberikan contoh yang baik. Namun semua itu tergantung persepsi masing-masing dosen. Dosen juga seharusnya siap menerima keluhan atau kritik dari mahasiswa jika tidak menaati peraturan yang ada,” tambahnya. Mahasiswa harus kritis terhadap peraturan yang diberlakukan di kampus. Mahasiswa yang cenderung bersikap skeptis justru akan dirugikan, tidak bisa mengajukan keluhan karena tidak mengetahui tentang peraturan-peraturan di kampus. Dengan memahami peraturan, mahasiswa tidak hanya melaksanakannya namun juga bisa melakukan kritik terhadap civitas akademika yang melalaikannya.-

Ilustrator Paulus Darma


Sosok

Sosok

Karmin: Cinta Othok-Othok, Cinta Anak-anak

U

dara panas siang hari terasa begitu menyiksa, tatkala kami menggenjot sepeda melewati jalan raya Sidareja yang berlubang bak kubangan. Sepeda kami melaju mendahului bus dan motor yang berjalan lebih pelan, mencoba menghindar dari lubang-lubang yang menganga. Sederet pepohonan hijau kemudian mengantar kami menyusuri sebuah jalanan sempit berbatu di kampung Cibenon, Kedungreja, Cilacap. Mendekati ujung jalan, tampak sebuah pekarangan kecil dan sepeda motor yang terparkir di samping tembok. Sebuah rumah dengan warung kecil di depannya menjadi tempat perhentian kami. Sosok yang dinantikan menyambut kami dengan senyuman manis serta jabat tangan yang kuat. Karmin, begitulah panggilannya sehari-hari, sosok yang terkenal akan kecintaannya pada anakanak. Beliau mempersilakan kami masuk seraya

20 |

Tulisan Aryanto Wijaya dan Fransiskanes Kartika mengisyaratkan kepada cucu-cucunya untuk tidak ribut sejenak. Logat Jawa Ngapak khas Cilacap yang dicampur dengan sedikit kosa-kata bahasa Sunda, begitu kental menyapa telinga kami setiap kali Karmin dan istrinya, Mu’Inah bertutur. “Saya ya senang sama anak-anak, makanya sekarang saya punya cucu sembilan,” ucap Karmin terkekeh. Kecintaannya kepada anak-anak membuatnya tetap setia menjadi pengrajin othok-othok. “Dulu saya mulai bikin othok-othok itu tahun 1977, sempat beralih jadi buruh di Bandung, tapi pabriknya kebakaran terus saya kembali lagi ke Sidareja dan bikin othok-othok lagi,” jelas Karmin. Othok-othok merupakan mainan tradisional untuk anak-anak yang terbuat dari kayu, bambu, dan kaleng susu bekas. Kayu tipis dengan panjang sekitar tiga puluh sentimeter digunakan sebagai pegangan, lalu kaleng susu bekas digunakan seb-

agai badan, dan di kedua sisinya diselipkan roda yang direkatkan dengan paku. Lalu dengan menggunakan bendrat (kawat kecil. red) disusupi trik rahasia, sehingga setiap kali othok-othok dijalankan mengeluarkan bunyi thok..thok..thok.. Bahan baku membuat othok-othok diperoleh sendiri oleh Karmin. Ia membeli satu kaleng susu bekas dengan harga seratus rupiah. Kayu yang digunakan adalah kayu waru yang ia beli sepuluh ribu rupiah tiap ikatnya. Kaleng susu bekas tersebut kemudian dihias, diberi warna, ditempeli burung-burungan dan sayap agar terlihat lebih menarik. Biaya yang dikeluarkan Karmin untuk memproduksi satu buah othok-othok berkisar seribu tujuh ratus rupiah, lalu Karmin menjualnya dengan harga lima ribu rupiah. “Sehari bisa laku dua puluh sampai tiga puluh biji othok-othok. Kadang kalau ada hajatan bisa lebih banyak lagi yang kejual. Kalau ada yang ngeborong, saya jual satu kodinya empat puluh ribu,” tutur Karmin. Berbekal sepeda motor bebek, Karmin mengikatkan mainan kreasinya di belakang jok lalu berkeliling ke sekitar wilayah Cilacap, dari Sidareja hingga ke Tambaksari. Bagi Karmin, keberadaan sepeda motor tersebut amatlah penting, karena tanpanya Karmin tak bisa memasarkan othok-othok karyanya ke desa di luar Sidareja. Itulah sebabnya, Karmin amat baik merawat motor kesayangannya tersebut, sehingga walaupun usia motornya sudah di atas 15 tahun, tapi tetap gagah perkasa. Sebenarnya, Karmin juga menjual beragam mainan anak lainnya. Ada pistol-pistolan dari bambu, kuda lumping, burung-burungan, juga kapal-kapalan. Tetapi yang paling diminati adalah othok-othok, karena suaranya yang khas ketika dimainkan. Sekolah Dasar selalu menjadi tempat perhentian Karmin. Ketika jam istirahat, anak-anak pun mengerubungi motor bebeknya. “Kadang ada anak yang merengek pengen othok-othok tapi nggak punya uang. Karena saya nggak tega, saya kasihkan saja karena saya senang sama mereka,” ujar kakek bercucu sembilan ini. Dari pekerjaannya sebagai pengrajin othokothok, Karmin sanggup menghidupi istri dan keempat anaknya yang kini masing-masing bermukim di Surabaya, Jakarta, dan Maos. Istrinya, Mu’Inah turut membantu Karmin dengan membuka warung kecil-kecilan di depan rumahnya. Sebagai satu-satunya pengrajin othok-othok di kampung Cibenon, mainan buatan Karmin dikenal awet alias tak mudah rusak. Apalagi othokothok buatannya selalu laris di segala musim. Mulai dari musim hajatan sampai musim libur sekolah, othok-othoknya selalu laris diborong oleh anak-anak desa.

“Jualannya ya cuma di daerah Sidareja, paling-paling ada yang ngeborong terus dibawa ke Cilacap,” ungkap Karmin ketika ditanya mengenai pemasaran othok-othoknya. Makin berkurangnya minat orang tua untuk mengenalkan othok-othok menjadi kendala mengapa mainan buatan Karmin tak mampu menembus kota. “Dulu ingat waktu musim tamiya. Wah di mana-mana mainannya tamiya, di sekolah juga yang laku cuma tamiya. Sempat bingung juga sih, tapi alhamdullilah tamiya sudah tidak ngetrend lagi..he..he,” tutur Karmin sembari terkekeh. Ketika disinggung mengenai pudarnya mainan anak tradisional di kalangan masyarakat, Karmin tersenyum dan mengatakan bahwa hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi, sebagai orang tua yang cinta terhadap anak-anak, ia tetap bertekad melestarikan mainan anak tradisional lewat kerajinannya sampai akhir hayat. “Anak-anak itu suka cita buat saya, kalau bukan saya yang lestarikan mau siapa lagi?” ungkapnya. Di akhir perbincangan hangat Teras Pers dengan Karmin, ia mengucapkan terima kasih seraya menyambangi sepeda motor kesayangannya. “Othok-othok itu mainan yang awet, seawet semangat saya untuk melestarikan mainan anak,” jelasnya kemudian sembari menggerakkan othokothok hingga bunyi khasnya menyeruak. Itulah sepenggal kisah pahlawan pelestari mainan anak dari tanah Ngapak.Salah satu othok-othok buatan Pak Karmin

Dok. Teras Pers

| 21


Komunitas

Komunitas

Papermoon Puppet Theatre: Menjawab Kegelisahan Lewat Pengalaman Estetik dan Rasa “Karena ketertarikan kami pada seni rupa dan seni pertunjukan, kami melihat mix yang paling asik itu ternyata ada di teater boneka” ujar Ria, perempuan yang bertubuh mungil ini.

S

ore itu langit terlihat mendung, awan hitam menemani TERAS PERS selama perjalanan menuju sebuah rumah sederhana di Jl. Langensuryo KT II/176 Yogyakarta. Rumah tersebut termasuk kawasan Kraton dan tidak jauh dari alun-alun selatan Yogyakarta. Terlihat sebuah plang di depan rumah tersebut yang menunjukan tempat tersebut rumah produksi dari teater boneka Papermoon yang telah mendunia itu. Tak lama kemudian, kami pun disambut oleh seorang laki-laki bernama Okto, ia mempersilakan kami menunggu di depan halaman rumah tersebut. Kebetulan ketika kami datang, Ria sang kreator teater boneka Papermoon sedang bersama tamu. Sambil menunggu Ria, kami melihat produksi pembuatan boneka Papermoon yang sedang dikerjakan oleh beberapa pemuda di depan halaman rumah tersebut. Terlihat Okto sedang membuat sandal yang disiapkan sebagai pijakan untuk boneka. “Ini aku lagi buat sandal lho, bagian yang penting juga dari boneka untuk pijakan waktu mainin” ujarnya sambil diikuti dengan senyuman. Laki-laki yang memiliki background fotografi ini sangat menikmati pekerjaannya dalam proses pembuatan boneka papermoon. “Sebelum aku tahu kalau Ria dan Iwan menggabungkan seni rupa dengan seni pertunjukkan jadi satu itu, aku udah ada keberanian di sini. Mulai dari eksplorasi material, ekplorasi tekniknya, ya secara teknik sampai ke temanya juga kita” ujar Okto sambil terus memberikan lem di beberapa bagian sandal tersebut. Ketika sedang asyik mengobrol dengan Okto, akhirnya Ria datang juga menyambut kedatangan kami. “Kita ngobrol di luar aja ya, kalau di dalam

22 |

Tulisan Angga Purenda dan Sesilia Narendra panas soalnya” ujar Ria, perempuan lulusan jurusan ilmu komunikasi UGM ini. Papermoon sendiri pada awalnya merupakan sebuah sanggar bagi anak-anak. Ia terlahir dari kegelisahan Ria terhadap kurangnya ruang eksperimen dengan media seni untuk anak-anak. “Jadi kita ingin memberikan ruang alternatiflah buat mereka, ketika pulang sekolah, mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan” ujarnya. Hingga akhirnya ketertarikan Ria pada seni rupa dan seni pertunjukan melahirkan sebuah teater boneka bernama Papermoon di April 2006. “Karena ketertarikan kami pada seni rupa dan seni pertunjukan, kami melihat mix yang paling asik itu ternyata ada di teater boneka” ujar perempuan yang bertubuh mungil ini. Kelahirannya diawali dengan diadakannya pementasan teater boneka dari Papermoon itu sendiri. Satu bulan setelah kelahiran Papermoon, terjadi gempa bumi di sekitar DIY-Jateng, sejak saat itu Papermoon mulai banyak membuat proyek bantuan. Bagi Ria sendiri, yang hanya bisa dilakukan oleh Papermoon saat itu adalah mengunjungi beberapa tempat di Bantul dan Klaten. Ria dan Papermoon mengadakan workshop, pementasan dan mendampingi anak-anak sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap kondisi saat itu. Papermoon terus mengalami perkembangannya hingga memiliki 15 sukarelawaan. Namun kegelisahan Ria terhadap masa depan Papermoon memunculkan beberapa pertanyaan di benaknya. “Papermoon mau gini terus? Aku pengen jadi LSM buat anak-anak? Enggak deh, terus semakin hari anak-anak yang setiap hari datang ke Papermoon itukan makin gede” ujar perempuan yang

Dok. Papermoon Puppet Theatre memiliki ketertarikan pada dunia teater ini. Terlebih lagi beban yang ia terima semakin berat ketika mendengar curahan dari anak-anak yang bermain di sanggarnya. Hal ini membuat Ria merasa tidak sanggup mendampingi anak-anak karena energinya sudah terkuras dengan berbagai hal. Ditambah pula dengan hilangnya para sukarelawan yang kembali dengan kesibukan masingmasing sebelum bergabung bersama Papermoon. “Karena format kami dulu juga masih komunitas jadi memang semuanya loose” tambahnya. Tinggallah Ria dan Iwan yang saat itu statusnya pacaran akhirnya memutuskan menikah di bulan Juni 2007. Status Iwan yang merupakan seorang visual artist dan Ria yang memiliki latar belakang teater, membuat mereka berdua fokus mengelola teater boneka Papermoon tersebut. Hingga akhirnya teater boneka Papermoon menjadi sebuah puppet theater company yang mendapatkan banyak apresiasi dari masyarakat baik di dalam maupun diluar negeri. “Awalnya sih gitu, terus ya udah sanggarnya lambat laun kami tutup akhirnya” ujarnya. Ria menganggap teater boneka Papermoon sebagai anak pertamanya sehingga membuat dirinya begitu setia, terlebih lagi dengan datangnya banyak apresiasi dari masyarakat. “Respon publik tentang apa yang kami lakukan sebenarnya jadi yang bikin kami selalu setia dan melakukannya lagi.” ujar Ria sambil tersenyum. Kini Papermoon Puppet Theater Company memiliki 6 orang yang benar-benar fokus pada penggarapan pementasan, termasuk Ria dan suaminya. Mulai dari pembuatan ide cerita, pembuatan boneka hingga membungkus merchandise dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh Ria. Ditengah-tengah asyiknya obrolan kami dengan Ria, datanglah Iwan sang kreator dari boneka papermoon dan suami Ria. Rasa penasaran kami terhadap wajah khas pada boneka papermoon yang flat terjawab dari perbincangan bersamanya. “Aku ngebayangin kayak orang melamun itu lho, orang melamun kan dia itu

Proses pembuatan boneka flat tapi bisa kamu naikan jadi senang, bisa kamu turunkan jadi sedih atau marah, kayak gitu doang sih” ujar Iwan. Sangat menarik jika kita mengikuti perjalanan Papermoon hingga terkenal di mancanegara. Terlebih lagi teater boneka Papermoon misi utama mereka adalah menyampaikan pengalaman estetik dan rasa. “Kami selalu bilang yang pertama itu pengalaman estetik, lalu emosional dan itu juga dibutuhin sama semua orang. Kami memilih diranah yang itu, ketika semua orang merasa ada pesan moralnya, ya itu bonus saja” ujar Ria. Meskipun teater boneka Papermoon terus mengalami perkembangan yang baik ternyata ada beberapan harapan tersembunyi yang dimiliki oleh Ria. “Ya saya tidak ingin pensiun saja. Saya ingin bikin karya sampai saya mati!” ujarnya sambil tertawa. Rasa cinta dan kesetiaannya terhadap teater boneka Papermoon membuatnya menaruh harapan agar apa yang dia lakukan selama ini bersama Papermoon dapat menginspirasi banyak orang sehingga muncullah kelompok teater boneka yang baru dan kreatif di Indonesia.Salah satu proses pembuatan boneka

| 23


jalan-jalan

jalan-jalan

R A J A F I T A M K I MEN A B R U P I P A G N DI GUNU N A R E G G N A L G N

Tulisan Aryanto Wijaya

D

i Daerah Istimewa Yogyakarta, dapat digunakan sebagai tempat untuk melepas Gunung Api Purba Nglanggeran lelah. menawarkan cara yang baru untuk Pendakian dari pos awal hingga puncak menikmati pagi. Bebas dari kebisingan dan polusi memakan waktu sekitar satu hingga dua jam, udara serta memberikan sensasi damai. Gunung tergantung dari kemampuan masing-masing Api Purba Nglanggeran berada di Kabupaten orang. Maklum, namanya juga mendaki, tentunya Gunung Kidul, terletak tidak jauh dari destinasi berbeda dari sekedar hiking. Jalan setapak yang wisata favorit Bukit Bintang. Jalan akses semula datar perlahan berubah curam yang mulus hingga lokasi disertai disertai dengan tanah berpasir Pagi papan penunjuk jalan yang yang licin. Pengunjung perlu berselimut kabut lengkap tentunya tidak akan berhati-hati, jika tidak maka membuat pengunjung terpeleset menjadi bahaya dan udara segar nampaktersesat. pertama yang mengintai. nya sudah menjadi barang langka Berada di ketingDi sekitar pos gian 200-700m dpl pemberhentian perbagi warga perkotaan Yogyakarta. tentunya membuat tama, menghampar Gunung Api Purba Hiruk pikuk kendaraan disertai kepulan luas panorama khas Nglanggeran beralam Yogasap kendaraan bermotor memudarkan bentang hawa sejuk sekaliyakarta. Jika malam pun disengat oleh kesan pagi hari yang damai dan segar. terlihat beberapa teriknya mentari. kerlip lampu yang Belum lagi ditambah sederet kemacetan berpendar seolah Karakteristik gunung yang terdiri atas bememandang genit. serta lengkingan klakson bercambatuan cadas memAngin yang berhempur menjadi satu menghadirkan buatnya terkesan begitu bus sepoi-sepoi wajib kokoh. Diatas bebatuan diwaspadai karena akan kesan pagi yang tak lagi yang kokoh tersebut penmembuat pengunjung terlesyahdu. gunjung dapat duduk-duduk na hingga enggan melanjutkan sekedar menikmati alam hingga pendakian menuju puncak. berkemah disana. Selepas pos pertama, papan Perjalanan mendaki Gunung Api Purba penunjuk jalan mulai jarang terlihat, ditambah Nglanggeran dimulai dari pos masuk awal yang lagi jalan setapak yang mulai banyak bercabang. menjadi satu dengan area parkir. Dikenakan tarif Pengunjung diharuskan pandai-pandai memilih per pengunjung Rp 5.000,- untuk siang hari dan jalan, karena jika tidak demikian bisa dipastikan Rp 7.000,- untuk malam hari. Perjalanan pendaakan menempuh jalan yang lebih panjang menuju kian dimulai dengan melewati sebuah Joglo yang puncak. Di beberapa bagian terdapat jalan sempit

24 |

yang hanya muat dilalui satu orang saja. Terhimpit dua tebing batu kokoh, membuat pengunjung harus berjalan merunduk seraya menjaga langkah agar tidak terperosok. Di beberapa bagian terdapat jalan setapak yang nyaris vertikal, tetapi jangan khawatir karena sudah disediakan tali tambang yang terikat kuat pada dahan pohon. Pengunjung dapat berpegangan pada tali tersebut seraya memantapkan langkah menyusuri pendakian. Menjelang akhir pendakian menuju puncak, jalan setapak lebih datar dan nyaman dilalui pengunjung. Jika sebelumnya harus ngos-ngosan, kini dapat bernafas santai seraya menghirup aroma pegunungan. Terdapat dua puncak, yaitu puncak I dan II. Di kedua puncak tersebut pengunjung diperkenankan mendirikan tenda dan menikmati hangatnya mentari terbit secara langsung. Ketika Teras Pers tiba di puncak pada pukul 02:00 WIB udara dingin terasa mencekam. Di tengah kegelapan malam, semburat cahaya bulan samar-samar menembus lebatnya dedaunan. Menjelang pukul 04:30, Teras Pers yang berkemah 100 meter di selatan puncak pun bergegas mendaki kembali guna tidak ketinggalan moment paling elok di Gunung Api Purba Nglanggeran yaitu Fajar menyingsing. Perlahan di ufuk timur yang semula pekat berubah samar menjadi kemerahan, pertanda sang surya segera menampakkan kehadirannya. Angin pagi berhembus begitu kencang, menggoyang dedaunan yang masih basah oleh embun. Warna merah yang semula padam perlahan tetapi

pasti semakin bercahaya hingga muncullah sang surya dengan cahayanya yang merontokkan kegelapan malam. Momen menikmati matahari terbit itu pun tidak begitu saja dilewatkan. Pengunjung mengeluarkan persenjataannya masing-masing, yaitu kamera. Cahaya matahari yang belum terang sempurna jika dipotret akan membentuk siluet yang jika dilihat hasilnya begitu menakjubkan. Para penikmat fajar yang kebanyakan para pemuda ini pun mengaku puas dengan pemandangan yang tersaji dari puncak Gunung Api Purba Nglanggeran ini. “Wah, terbayar lunas perjuangan mendaki capek-capek sepanjang malam tadi. Sunrise-nya keren banget,� ujar Angie, seorang mahasiswi pengunjung Gunung Api Purba Nglanggeran. “Keren sih pemandangannya, tapi sayang sekali, pengunjung yang lain masih belum sadar lingkungan. Mereka masih suka buang sampah sembarangan, padahal tempat ini kan milik kita bersama,� ucap Tegar, seorang mahasiswa pecinta alam dari Temanggung. Tingkah laku pengunjung yang kurang menjaga lingkunganmemang selalu menjadi kendala di berbagai tempat. Sampah-sampah plastik yang dibuang sembarangan tentunya selain mengotori pemandangan, akan membuat polusi tanah. Nglanggeran cocok dikunjungi ketika hari libur tiba. Selain menikmati matahari terbit, pengunjung dapat berkemah dan melakukan acara kebersamaan bersama kerabat ataupun keluarga. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.-

| 25


Seni dan Budaya

Seni dan Budaya

Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya Seni Budaya yang Melayani Tiga belas tahun merupakan usia yang bisa dikatakan cukup matang bagi suatu kelompok kesenian. Selama tiga belas tahun kelompok ini mengalami jatuh bangun bahkan sempat “Pamit Mati” namun tetap tidak mendapat jawaban dari pihak yang dipamiti yaitu pemerintah. Walau begitu, Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya akhirnya memutuskan berusaha tetap menjaga eksistensinya Tulisan Katarina Tathya dan Verena Patricia

K

etoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya adalah salah satu kelompok ketoprak berpindah yang tersisa di Pulau Jawa saat ini. Lokasi pentasnya berada di Balong Bayen, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Sebelum mereka menetap di lokasi yang sekarang, mereka memang sempat berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Seperti namanya, “kelana”, mereka pun berkelana atau mengembara dari Kediri hingga Yogyakarta. Sebuah rumah dengan gaya etnik tampak terlihat dari gang menuju ke kediaman Keluarga Dwi Tartiasa. Bersebelahan dengan makam, rumah Keluarga yang Teras Pers datangi ini menjadi salah satu pemimpin dan terlibat dengan kelompok ini selama 13 tahun. Seorang perempuan paruh baya yang menyapa kedatangan Teras Pers dengan logat jawanya yang kental membuat Teras Pers harus siap apabila ditanyai dengan bahasa Jawa alus. ,Kemudian Teras Pers disambut oleh Dwi Tartiasa yang merupakan pendiri dari Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya yang sebelumnya bernama Ketoprak Tobong Candra Kirana. Di dalam rumahnya yang juga banyak didapati foto-foto hasil karya anaknya Risang Yuwono, Dwi menceritakan suka dukanya mengurus tobong. “Saya ini bukan seniman, bukan budayawan, bukan juga pengusaha, saya hanya rohaniawan (Pendeta) yang menyukai ketoprak,” katanya sambil tersenyum memperlihatkan fotofoto ketoprak tobongnya. Walau jarang mendapatkan profit secara materi, Dwi mengaku bahwa Ketoprak Tobong

26 |

Kelana Bhakti Budaya ini adalah wujud kecintaan dan pengabdiannya sebagai anak bangsa untuk ikut berkontribusi dalam pelestarian budaya Jawa yang nyaris punah. “Kami mencoba untuk secara sukarela dan tidak mementingkan profit berusaha melestarikan budaya asli Jawa, dengan beranggotakan 40 sampai 50 orang dalam Ketoprak Tobong ini, kami sudah menjalankan tugas kami secara baik, baik untuk masyarakat, bahkan kepada Tuhan,” papar Dwi yang mengaku mengandalkan Tuhan dalam setiap tindakannya. Walau jumlah pemainnya tidak sebanyak dulu, namun ketoprak ini sudah cukup dikenal. Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya sudah 11 kali diundang untuk pentas saat Natal dan tujuh kali saat Paskah. Tidak hanya itu, mereka juga akan memenuhi undangan di Semarang dan Banjarnegara dalam rangka pentas pelayanan. Bahkan pada bulan Oktober mendatang salah satu perwakilannya diundang ke Inggris untuk menyampaikan orasi tentang ketoprak tobong. Dengan nada yang sumringah,

Dwi menjelaskan bahwa anaknya, Risang Yuwono, sedang menjalin kerja sama dengan British Council (Lembaga Pengembangan Seni Budaya Inggris) demi menggalang simpati untuk eksistensi ketoprak tobongnya. Ketoprak tobong sendiri biasanya menggunakan cerita rakyat yang selalu memuat pesan moral ditiap pementasannya. Salah satunya adalah “Suminten Edan” yang dimainkan dua tahun lalu. Pementasan tersebut menceritakan tentang seorang perempuan yang dibohongi oleh suaminya yang merepresentasikan rakyat dengan pemerintah beserta janji-janjinya. Selain itu, tahun lalu mereka juga pernah pentas di depan 200 mahasiswa fakultas keguruan jurusan kesenian. Lucunya, mereka harus melakukan dialog menggunakan bahasa Indonesia sehingga terdengar wagu karena biasanya menggunakan bahasa Jawa. “Kami kan setiap pementasan selalu menggunakan bahasa Jawa, namun, ketika kami diminta untuk menggunakan bahasa Indonesia selama pementasan, itu kami anggap sebagai tantangan buat kami,” lanjut Dwi. Pementasan yang diselenggarakan setiap Rabu dan Sabtu malam tersebut, bukan sekadar pementasan seni budaya, namun di balik itu semua ada tujuan pelestarian budaya dan pelayanan bagi masyarakat. Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya berusaha memberikan yang terbaik di tengah ketidakpedulian pemerintah Indonesia sendiri. Pementasan yang mengandung makna ditiap ceritanya ini, pernah dijadikan sebagai sarana penyampai pesan untuk pemerintah pada saat itu. “Ketika belum banyak televisi yang dimiliki masyarakat, dan belum lengkapnya media komunikasi yang ditujukan untuk pemerintah, Ketoprak Tobong pada zaman dulu dijadikan sebagai media untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang dirasa perlu diperhatikan lagi,” lanjut Dwi.

Rumah yang juga didapati tumpukan-tumpukan peti disertai hiasan dari cat bergambar ini, biasa dijadikan tempat pemain Ketoprak Tobong untuk sekadar berkumpul dan bersenda gurau. “Kami juga pernah melakukan latihan di rumah ini. Meskipun ruangan ini tidak terlalu luas untuk dijadikan tempat latihan, kami sudah cukup terbantu dengan peralatan gamelan yang membantu proses latihan kami,” tutur laki-laki yang mengaku mengurangi untuk mengkonsumsi teh ini. Peralatan gamelan yang tidak terhitung banyak namun cukup sebagai dasar ini, pernah sesekali digunakan pemain Ketoprak Tobong pada saat pentas. “Lebih sering digunakan pada pementasan yang jarak dekat dan di lokasi itu tidak menyediakan peralatan gamelan,” papar Dwi. “Sebenarnya tidak harus menggunakan gamelan, namun, pengadaan musik untuk sebuah pementasan bisa menambah suasana yang lebih enak untuk dinikmati,” lanjutnya. Seorang rohaniawan yang sudah menginjak usia 50 tahun ini, menjelaskan mengenai keberadaan Ketoprak Tobong yang hingga kini masih dijalaninya. Ketoprak Tobong tidak hanya sebuah kumpulan orang-orang seni yang berlenggak di atas panggung, namun kumpulan ini dijadikan sebagai alat untuk menghibur masyarakat tanpa mengesampingkan pesan rohani yang terkandung dalam setiap cerita. “Meskipun sudah banyak media penyampai hiburan, pesan dan seni yang bisa didapati dengan mudahnya, kami meyakini jalannya Ketoprak Tobong sampai detik ini bisa terus diterima masyarakat lokal bahkan mancanegara. Lewat penyampaian pesan yang unik dengan berlagak di panggung, dirasa penonton mendapatkan informasi sekaligus hiburan yang diselingi dalam pementasan ini,” tutup Dwi mengakhiri perbincangannya dengan Teras Pers.-

Dok. Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya

| 27


Cerpen

Cerpen

ALGOJO 65 Tulisan Andreas Ricky

“Aku segera masuk, kemudian duduk dan menunggu kereta berangkat........�

S

ekiranya, waktu menunjukkan pukul 22:40 kala peluit kereta api tersebut berangkat dari stasiun di Magelang. Hari ini aku sangat beruntung, sebelumnya tersiar kabar bahwa beberapa orang yang sempat terhubung dengan jaringan partai komunis telah digiring dan dibawa ke sungai Elo untuk diamankan. Setelah kejadian panas di stasiun tadi, aku semakin menyadari bahwa waktuku untuk menghindar dan berharap dapat hidup lebih lama menjadi semakin tipis. Tentara ada di mana-mana. Kota Magelang yang sebelumnya tenang, kini menjadi sedikit panas, kisruh 65 ini merebak di sini. Para tentara menangkapi segala yang mereka curigai terkait dengan PKI, dan tidak cuma itu, mereka menghajar pula masyarakat etnis Tionghoa yang mereka yakini sebagai penyebar ajaran komunisme di Indonesia. Kereta yang aku naiki ini sangat sepi. Hanya 4 sampai 5 orang yang ada di dalam gerbong yang aku naiki. Tidak ada tentara di dalam kereta, mungkin karena malam hari atau para petinggi di Angkatan Darat yang bermarkas pusat di Magelang ini masih bingung dan saling curiga. Mereka masih bertanya-tanya siapa saja perwira yang terkait dengan Komunis, sehingga mereka belum optimal menurunkan komando untuk menghajar kami. Kereta berangkat ke Yogyakarta, tidak ada senandung yang dilantunkan pengamen yang biasanya

mengisi setiap gerbong kereta ini. Tiba-tiba aku teringat Lilis Soeryani yang melantunkan gendjer-gendjer, lagu yang kerap didendangkan Lekra ketika melakukan pementasan di kampung-kampung, matikah ia? Seketika semua hal yang berbau komunis kiranya menjadi lalat penganggu yang harus dimusnahkan sampai ke segala hal yang paling detail sekalipun. Mungkin bangsa ini akan membakar warna merah dari bendera merah putih mereka, agar sama sekali tidak ada warna yang mewakili semangat keberanian sosialis, semuanya karena komunis. Sebelum geger mereka melarang Beatles dengan dalih Neokolim, setelah ini apakah Ronggeng yang kerap dipentaskan Lekra akan diberangus juga? Aku berharap aku ditembak mati ditempat, itulah cara yang paling cepat, daripada harus mengalami siksaan dari rakyat dan masyarakat sipil yang digerakkan tentara. Mereka lebih kejam dari tentara, algojo jalanan ini adalah salah satu mesin pembunuh yang ampuh. Angkatan Darat merekrut masyarakat sipil, namun tidak mempersenjatai mereka dengan senjata api. Mereka menenteng kelewang, samurai, golok, sampai pentungan dan berjalan bergerombol. Mereka meluapkan amarah mereka kepada PKI karena kelaparan yang mereka dera. Seperti yang aku lihat hari kemarin di dekat bioskop di Kota Magelang, ketika segerombo-

lan pemuda dan tentara yang membawa senjata tajam dan tumpul ini menggiring sekitar 8 pemuda dan wanita yang disinyalir sebagai Barisan Tani dan Gerwani. Mereka dikumpulkan dan diperintahkan membentuk barisan 2 shaf. Tidak dipisahkan yang laki-laki dan perempuan, semua dicampur. Kemudian pemimpin mereka yang mengenakan setelan warna khaki yang membawa samurai memanggil satu per satu nama mereka untuk ditanyai beberapa pertanyaan oleh serdadu yang ada di sebelah kanan barisan. Aku memperhatikan semua ini dari kerumunan warga yang menyoraki mereka dengan teriakan makian. Tontonan ini menjadi semacam pengadilan massal bagi para komunis tersebut, beberapa pukulan melayang ke muka mereka, sesekali tendangan ke perut dan pukulan benda tumpul ke arah leher bagian belakang. Mereka yang sudah tersungkur dibantu berdiri oleh pemuda yang bersama tentara ini, untuk dapat dipukul dengan popor senjata oleh serdadu muda-serdadu muda yang berlagak seperti interogator kawakan. Setelah puas dengan pertanyaan dan pukulan maut, yang “terpilih� dinaikkan ke truk yang ada sekitar 50 meter di kanan barisan ini bersama tentara. Sedangkan sisanya diserahkan begitu saja kepada para pemuda ini. Hal yang mengerikan pun terjadi. Kerumunan semakin

mendekat dan membentuk lingkaran, aku sebenarnya tidak sampai hati melihatnya, dan sempat berpikir aku akan mati. Namun kerumunan ini berdesak-desakan maju kedepan dan aku pun terdorong ke depan. Kukuatkan hatiku untuk melihat ini, tubuhku sebenarnya sudah lemas sekali, tapi bila aku kabur sekarang mereka akan mencurigaiku. Para tawanan ini diteriaki dengan hebat kemudian diludahi. Mereka sudah lebam di sana-sini, para wanitanya memohon ampun dengan menyembah-nyembah para pemuda nya. Pertama pemudapemuda itu tertawa lepas, kemudian menyumpahi komunis, para tawanan diberdirikan satu persatu, kemudian pentungan melayang ke tubuh mereka dengan cepat. Beberapa pemuda eksekutor ini bahkan menyasar kepala para tawanan dengan pentungan. Beberapa diperintahkan untuk membungkuk, kemudian dipukuli kepalanya dengan benda tumpul, setelah tersungkur mereka kemudian diinjak-injak oleh para algojo ini. Setelah tidak bergerak mereka dimasukkan ke karung goni yang ada dibelakang para algojo, entah dalam mati ataupun hanya pingsan. Dengan cepat mereka dimasukkan ke karung goni, sang pemimpin yang memakai seragam safari berwarni khaki tadi adalah jagoan mereka, 2 orang laki-laki diberlututkan, dan ditebasnya dengan kelewang. Kepala manusia mengelinding kemudian dihentikan dengan

kaki oleh anak buahnya, kepala tersebut diangkat dan ditunjukkan ke arah kerumunan massa yang menonton, sambil berteriak “Komunis Anjing!� Tubuh yang tak berkepala segera dimasukkan ke karung goni, kepalanya dilemparkan begitu saja seperti bola sepak.

Ada seleksi bagi para gerwani, beberapa wanita dipilih dan kemudian dibawa turun menuju ke arah perkebunan yang ada di sebelah barat Bioskop Magelang. Sedangkan yang tidak terpilih, mereka segera ditusuk dengan kelewang sambil meneriaki makian “lacur-lacurlacur!� Mereka dimasukkan ke karung goni, kemudian sisa-sisa manusia ini ditumpuk ke sebuah gerobak yang ditarik dua ekor kerbau ke arah selatan, ke arah Sungai Progo. Seketika keringat dingin turun dari dahiku, aku takut mati di tangan para rakyat lapar yang menyalahkan Komunis sebagai biang keladi dan menganggap kami pantas makan tikus liar. Seketika teringat 3 tahun yang lalu ketika aku di kantor rekruitmen CC PKI Semarang. Aku mendaftarkan diri sebagai kader, seorang pemuda yang sangat bersemangat dan berimimpi mencapi puncak karirku dalam partai dalam kurun waktu 3 tahun. Namun saat aku mencapi puncak, partai ini menggiringku ke kesudahan yang paling sudah. Air mataku turun, seketika teringat rosario pemberian ibu ketika aku mendaftar di sekolah menengah. 4 tahun lamanya aku tidak pulang dan bertemu ibu, aku selalu membawa rosario tersebut sebagai benda kenangan dari ibuku. Seketika aku mencari Tuhan di saat seperti ini, bukan angkatan ke lima ataupun para petani bersenjata, mereka yang merah, pasti mati minggu ini.... Bersambung ke TERAS berikutnya....

Ilustrator Andreas Ricky

28 |

| 29


Tidak hanya anak muda saja, kini orang tua pun menjadi generasi merunduk

Karikatur

Ilustrator Paulus Darma

30 |

Copyright : Serafica Gischa P


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
TERAS PERS #19 by TERAS Pers FISIP UAJY - Issuu