Bugi Biruloma L Avia Maulidina
Sampai Semua Kembali Normal
Sudut Pandang Warna Biru
edisi
01
2 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Sudah lama kamera analog itu kosong. Tidak ada foto baru—tidak ada yang ingin Biru foto. Rol terakhirnya sudah habis dua bulan lalu, ketika pergi keliling kota demi membunuh waktu masih merupakan hal yang normal. Ditiliknya kembali hasil foto-foto analog yang telah dicuci. Biru sudah tidak ingat apa yang tengah ia pikirkan saat memutuskan untuk menekan shutter. Pun mengenai kata-kata yang tengah menggantung di udara saat itu, semuanya sudah luntur. Daya ingatnya payah betul ternyata. Padahal sekarang yang Biru inginkan hanyalah memutar memori tentang hari-hari yang sudah lewat—hari-hari yang dihabiskannya di luar rumah bersama keluarga ataupun para makhluk sinting yang sukanya mencelakakan satu sama lain (baca: teman-teman). Maka, di antara detik-detik yang berjalan lambat, Biru mulai menerka narasi apa yang mungkin terjadi seandainya foto-foto tersebut direka ulang. Nanti, saat semua kembali normal.
3 Sampai Semua Kembali Normal
Alih-alih lautan, berada di SeaWorld justru mengingatkan Biru pada ruang angkasa. Selama ini laut yang dikenal Biru selalu identik dengan teriknya matahari, debur ombak, dan ramai perahu nelayan. Bukan gelap, dingin, dan penuh misteri seperti ini. Laut dalam, Biru teringat ensiklopedia yang pernah dibacanya waktu kecil. Ketika laut tidak lagi menjadi laut yang kita kenal, berarti kita telah sampai di laut dalam. Biru bergidik. Rasanya tidak menyenangkan melihat wajah lain dari sesuatu yang selama ini selalu menunjukkan sisi baiknya saja.
Yang ditanya pura-pura tidak mendengar pertanyaan Biru. Kingkin malah semakin dalam menelusuri labirin akuarium berisi ratusan hewan laut. Mata gadis itu memindai cepat setiap sudut, seolah mau memindahkan seluruh tempat ini ke dalam kedua bola matanya. ”Mending tersesat di lautan apa di ruang angkasa?” ulang Biru ketika mereka kembali bersebelahan. Kingkin berhenti di depan gerombolan uburubur yang berenang tak tentu arah. Mereka terlihat gemerlap, seperti lampu. “Laut,” jawab Kingkin akhirnya.
“Kingkin,” Biru memanggil adiknya. ”Mending tersesat di lautan apa di ruang angkasa?”
4 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
“Kenapa?”
Kingkin merentangkan kedua tangannya, berusaha menyadarkan abangnya akan pemandangan di sekeliling mereka. “Cantik.” “Lagian, apa serunya tersesat di ruang angkasa?” lanjut Kingkin. “Sini, Kingkin kasih tau sebuah rahasia.” Telunjuk Kingkin bergerak, memandu Biru untuk membungkuk dan mendekat. Ketika telinga Biru sudah sejajar dengan mulutnya, Kingkin membisikkan sesuatu. Sesuatu yang membuat Biru terdiam untuk waktu yang lama. Selama ini kita sudah tersesat di ruang angkasa. Kita tidak pernah benar-benar tahu di mana kita berpijak dalam alam semesta ini.
5 Sampai Semua Kembali Normal
6 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Setelah memasuki dunia perkuliahan, muncul teori yang menggunakan bingkisan snack sebagai parameter seberapa baik seseorang pada temantemannya selama satu sesi ke belakang. Kalau pertemuan sudah berada di kelipatan tujuh dan kamu pulangpulang tampak seperti juragan pemilik warung, selamat. Kamu pasti baik hati hingga teman-temanmu berjibaku memberi amunisi ujian. Tidak dapat apa-apa? Berarti kamu kurang baik. Makanya, lain kali cobalah memperbaiki sikapmu pada sesama. Ah, konyol sekali. Yang ada, kalau pertemuan sudah berada di kelipatan tujuh dan kamu pulang dengan tangan kosong, selamat. Kamu sudah sangat baik, sayang mereka kurang jeli hingga melewatkannya.
7 Sampai Semua Kembali Normal
Tumben sekali Biru minta dibonceng orang ke kampus. Alasannya sederhana, dia mau coba memfoto jalanan kampus dengan kamera analognya. “Gua pernah mimpi kampus kita jadi kayak dufan gitu, Bi, banyak wahananya,” cerita Mauli, gadis yang Biru tugaskan untuk membonceng dirinya. Mereka berbelok, mengarah ke gedung yang biasa dipakai untuk acara wisuda. “Di rektorat ada roller coaster tinggi banget, dari sini bisa kelihatan.” “Terus bapak rektor bilang, ‘Ini adalah inovasi buat branding IPB’.” Dari spion, Biru bisa melihat dahi Mauli berkerut, heran sendiri dengan mimpi
8 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
absurdnya. Biru setuju, mimpi Mauli memang aneh. Buat apa di kampus ada wahana? Padahal menurut Biru, kampus sendiri sudah menjadi wahana paling menarik dalam kehidupannya.
Ada percakapan yang tanpa sengaja terdengar di acara wisuda hari itu. “Setelah ini apa?” “Nggak tahu. Kita lihat saja hidup membawa kita ke mana.”
9 Sampai Semua Kembali Normal
10 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Aneh rasanya menjadi saksi hidup perjalanan seseorang untuk waktu yang sangat lama. Dalam kasus ini, bukan seseorang malah. Lima.
seperti sedia kala. Ya sudahlah. Mungkin memang tak perlu dipertanyakan. Kalaupun Biru jadi bertanya, dia juga ragu ada yang bisa menjawab.
“Kayaknya waktu kita SMP nggak ada tembok merah ini deh,� celutuk salah satu dari mereka. Biru memandang sekelilingnya. Iya, seingatnya juga begitu. Sudah lama sejak ia terakhir kali mengunjungi bangunan yang mengisi hari-hari putih-birunya. Tempat ini jadi terasa familier sekaligus tidak familier pada saat bersamaan. Sama seperti hadapannya.
lima
orang
di
Meski banyak yang telah mereka lewati bersama, semakin bertumbuh dewasa banyak pula hal yang harus dihadapi tanpa satu sama lain. Baik mereka maupun Biru, semua mengalami rangkaian peristiwa yang sedikit demi sedikit telah mengubah diri masing-masing. Tentu saja tidak semua bisa diceritakan. Seberapa jauh Biru masih mengenal mereka? Seberapa jauh mereka masih mengenal Biru? Pertanyaan tersebut tersangkut di kerongkongan Biru, didahului oleh ajakan temantemannya untuk jajan es podeng
11 Sampai Semua Kembali Normal
12 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
“Chika, foto di situ yuk.” Hari Minggu. Cocok buat pacaran. Sayangnya sudah lama Biru tidak mengenal kata pacar, jadi dia mengajak Chika jalan-jalan buat berburu foto. Selain sama-sama suka fotografi, Chika juga bisa dijadikan model gratis. Lumayan, kalau bakatnya diasah terus, Biru yakin Chika bisa jadi penerus Gigi Hadid. “Lucu banget,” kata Chika.
Gelap sedikit, dia bakal kehilangan jati dirinya. Nggak bisa lagi dibilang kuning. Kuning akan selalu dan harus selalu cerah. Cerah, senang, bahagia. Dia seolah-olah dipaksa jadi warna perlambang suka cita.” Chika menatapnya penuh selidik. Penasaran, otak Biru bagian mana yang sedang bekerja. Bisa-bisanya cowok di hadapannya mendadak kepikiran hal yang seperti itu?! “Jangan-jangan, filosofi itu lo dapatkan berdasarkan pengalaman pribadi ya?”
“Apanya?” “Warnanya.” Chika menunjuk jendela take away tempat Biru menyuruhnya berpose. “Kuning.” Biru mengangkat alis. Jujur, yang tadi menarik perhatiannya justru plang dilarang parkir yang sudah pudar. Setelah mendengar komentar Chika, dia jadi ikut memperhatikan warna kuning menyala itu. Sibuk mencari lucunya di mana. Tepat ketika Chika mau menegurnya karena terlalu lama bengong, Biru mengutarakan pendapatnya, “Menurut gua kuning justru warna yang paling menyedihkan.” Mata mereka bertemu. “Di antara warna lainnya—kecuali hitam putih, ya, karena bagi gua mereka warna mutlak—cuma kuning aja yang nggak bisa punya nuansa gelap.
Ekspresi Chika bagus, jadi Biru foto dulu sebelum menjawab, “Nggak.” Biru mengangkat bahu. “Gua kan biru. Bisa cerah, bisa gelap,” katanya sambil tersenyum lebar. “Ayo, pindah tempat Chik,” ajak Biru cepat-cepat. Dia tidak mau Chika terlalu lama berpikir. Bisa-bisa Chika tahu kalau dia baru saja berbohong. Bisa-bisa Chika sadar penyebab Biru pernah merasa seperti warna kuning adalah gadis itu sendiri—sewaktu mereka masih pacaran dulu.
13 Sampai Semua Kembali Normal
14 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Ada sesuatu yang terasa magis di tokotoko tua daerah pecinan. Tentang bagaimana mereka tidak mau, tidak bisa, dan tidak akan tergantikan oleh toko-toko baru berenergikan genset. Mereka akan tetap berdiri—renta, tapi setidaknya berdiri—meski sudah dicat ulang seratus kali.
15 Sampai Semua Kembali Normal
“Fotoin dong, ceritanya kita lagi ada di welcoming party mahasiswa baru di drakor,” pinta Alma selesai rapat organisasi yang hari itu diadakan di kedai kopi. Dia mengangkat gelas ke depan wajahnya dan langsung memandang ke lensa kamera Biru tanpa menunggu persetujuan. Biru memiringkan kepalanya. “Welcoming party mahasiswa baru di drakor?” ulangnya. Dia belum pernah nonton drama korea. “Iya, biasanya mereka tuh satu angkatan diajak ke restoran bareng seniornya, terus minum-minum.” Alma menunjuk ke arah gelas dengan lirikan matanya. “Ini ceritanya soju.” Biru mengangguk-angguk. Dia beralih pada Janjani yang malah sibuk membereskan tisu di sebelah Alma. “Jan, buruan mau foto gak?” Alma menyikut temannya itu. “Jan, buru foto bareng. Gayanya tipsy-tipsy gitu ya.” Janjani langsung semangat. “Oke!” Alma tampak puas begitu Biru menekan shutter. “Pasti oke sih hasilnya, gue yakin. Nanti kalau filmnya udah dicuci kasih tau gue ya,” katanya. Sama sekali tidak sadar dengan bagaimana Janjani mengartikan pose ‘tipsy’ arahannya tadi.
16 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
17 Sampai Semua Kembali Normal
Seharusnya Biru menolak ajakan Ray buat ditembak di depan Monas. Bukan, bukan ditembak secara harfiah (dengan pistol) maupun nonharfiah (dengan perasaan)—Ray cuma mau membuat semacam simulasi pernyataan cinta. Sudah dua tahun Ray menyukai teman sejurusannya, selama itu pula dia tidak berani mengungkapkan. Kata Ray, kalau di depan cewek itu, rasanya dia berubah menjadi lumba-lumba seketika. “Gua langsung nggak ngerti bahasa manusia, Bi,” kisahnya. “Tapi gua tetap pintar, soalnya lumba-lumba hewan dengan IQ tertinggi sedunia.” Biru juga tidak mengerti apa maksud kalimat terakhir, tapi terserah Ray sajalah. Waktu diajak pergi ke Monas untuk simulasi ini, Biru iya-iya saja. Dia tidak pernah menolak kalau diajak jalanjalan. Tapi, begitu melihat Ray hampir frustrasi dan dia sendiri tidak dapat membantu, Biru jadi dilema juga. Yang bisa dia lakukan cuma berdiri dengan wajah datar sambil memegangi foto pujaan hati Ray. Mereka tidak punya budget untuk menjadikan Biru cosplay yang sesungguhnya, jadi beginilah hasilnya. “Jadi… lo mau ngomong apa, Ray? Kenapa ngajak gue ke sini?” tanya Biru setiap dua menit sekali, meniru cara bicara si pujaan hati Ray.
18 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Ray mengambil napas. Posturnya sudah oke. Ekspresinya juga termasuk ekspresi tersyahdu yang pernah Ray buat. Ditunjang dengan pemandangan indah Monas, Biru yakin perasaan Ray akan diterima kalau saja Ray bicara. Itu masalahnya. Bicara. Tiap kali mata Ray mulai fokus pada foto yang Biru pegang, mulutnya terbuka tapi dia tak bisa bicara. Atau mungkin bisa, hanya saja bicaranya dalam bahasa lumbalumba. Mustahil terdengar manusia. Pada akhirnya, sampai mereka berada di kereta dalam perjalanan pulang pun, Ray tetap tidak bisa mengungkapkan perasaannya—bahkan dalam sebuah simulasi. Biru tidak bisa menahan rasa prihatinnya ketika Ray bersandar di pintu kereta, tertawa menyedihkan. “Emang paling bener gua menghayati kehidupan sebagai lumba-lumba aja.”
19 Sampai Semua Kembali Normal
“Kenapa sih lu pake jas hujan oren mentereng kayak gini?!” protes Upi begitu Biru tiba di Lapangan Sempur. “Mana ada jas hujan.” Biru tidak terima. “Ini semi transparent hoodie!” “Iya semi transparent hoodie, tapi lu sendiri malah jadi sangat sangat tidak transparan.” Upi menunjuk orangorang di sekeliling mereka yang pandangannya tertancap pada Biru dan hanya Biru seorang. “Udahlah, jadi nggak mood lari pagi gua.” Raut wajah Biru langsung berubah kecewa. “Jangan gitu lah, Pi. Masa lu gak suportif sama selera fashion sobat sendiri.” “Ya mau gimana, nggak enak lari sambil diliatin satu kota Bogor,” Upi bersikeras. “Cari sarapan aja yuk, kebetulan gua lagi pengen bubur langganan kita.” “Yaudah hayuk.” Satu langkah, dua langkah. Biru mendadak berhenti di langkah ketiga. “EH! Lu sendiri mau lari pagi malah pake sendal Swallow!” pekiknya sambil menunjuk kaki Upi. “Lu dari awal emang nggak niat lari pagi kan, Pi?!” Upi menyeringai. Buru-buru dia mendahului Biru pergi ke tukang
20 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
bubur dan berlindung di balik badan si mamang. Mampus—alibinya ketahuan.
21 Sampai Semua Kembali Normal
22 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Akhir-akhir ini banyak kuliner nusantara yang dikemas secara instan. Tapi, nggak ada yang bisa mengalahkan rasanya jajan langsung di pedagang kaki lima. Kursinya berupa kursi plastik (merah, hijau, biru) atau kursi kayu panjang yang sudah lapuk. Mejanya cukup untuk delapan orang, bahkan lebih, dengan palang di bagian bawah untuk kaki bertumpu. Kalau datang bergerombol, mau tidak mau suka ada wajah asing yang menyempil di antara tempat duduk kita. Kalau sudah begitu, jangan diambil pusing. Toh, semuanya sama-sama pembeli kelaparan yang menunggu makanan disuguhkan.
23 Sampai Semua Kembali Normal
Biru tidak mengerti kenapa temanteman perempuannya sering sekali mengeluh tentang rasa tidak percaya diri mereka. Meski begitu, dia tetap mencoba mendengarkan dengan sopan setiap kali dijadikan tempat bercerita. “Jelek banget deh gue kalau senyum lebar-lebar. Kayak orang bodoh.” (Padahal menurut Biru senyumnya manis.) “Bi, gua insecure banget gara-gara break out.” (Ah, tetap cantik seperti biasa.) “Sumpah bisa nggak sih gua lebih tinggi sedikit aja? Capek dikatain boncel.” (Berani-beraninya ada yang mengatai orang seimut ini!)
24 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Bagi Biru, para perempuan selalu hebat dan memesona dengan satu atau lain cara. Dan pandangan siapa pun tak akan mampu mematahkan hal tersebut. Termasuk pandangan mereka sendiri.
Berada di dalam bus membuat Biru teringat khayalannya waktu masih jadi anak sekolahan. Tiap kali study tour, Biru diam-diam berharap mereka bisa berada lebih lama lagi di dalam bus. Baginya, bagian terseru dari study tour adalah menghabiskan waktu bersama temanteman sepanjang perjalanan menuju tempat wisata. Harapan itu membuat Biru membayangkan sebuah bus yang tak pernah berhenti untuk menurunkan penumpang. Sebab, destinasinya adalah alam setelah kematian. Selama dunia belum kiamat, bus itu akan terus melaju dari kota ke kota—menaikkan penumpang tak kasat mata hingga beribu-ribu banyaknya.
25 Sampai Semua Kembali Normal
26 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Di hadapan Mustika, Biru matimatian mencoba menelan segalanya. Berhasil, meski kepalanya tetap berdengung. Menyuarakan apa yang ingin ia katakan sejak hari mereka tidak lagi bertukar pesan. Rasanya aneh— Melewati hari yang panjang Tanpa bisa bercerita padamu Hari ini aku: lupa sarapan, kuliah sampai jam tiga, turun lapang ke lahan, megap-megap menyelesaikan tugas! Lalu mendadak rapat padahal sudah dalam piyama Di titik ini bahkan bernapas terasa buang-buang waktu. Di titik ini aku mau semuanya terus berdengung hingga kepalaku beku. Di titik ini ternyata kesibukanku membuatku ingin mencarimu.
27 Sampai Semua Kembali Normal
“Makasih ya buat hari ini,” kata Biru pada Mustika ketika mereka keluar dari McD. Gadis di hadapannya tersenyum. Senyum yang sama seperti yang Biru kenal ketika SMA. Jantung Biru masih harus memompa lebih cepat tiap kali melihatnya. “Iya, Bi. Makasih juga udah ngajak ketemu.” “Sebelum balik, gua pengen ngefoto lu dulu. Boleh ya?” “Buat apa?” Kemudian, melembut. “Boleh.” “Buat kenang-kenangan.” Biru mencoba terdengar sesantai mungkin. Ia melanjutkan, “Kita mungkin nggak akan ke McD bareng lagi.”
28 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
29 Sampai Semua Kembali Normal
Lama Biru memperhatikan Dinda dan Ian di hadapannya. “Kok bisa, ya, ada yang bilang kalian kayak kembar?” komentar Biru. “Menurut gua gak mirip loh.” “Sama, menurut gua juga nggak!” sambut Ian bersemangat. “Masa sih nggak mirip?” Dinda bersandar pada Ian dan mengidentikkan ekspresi mereka. “Padahal gua senang tau kembaran sama Ian.” Ian langsung menarik diri dari Dinda. “Dih, kenapa?” “Katanya kan setiap orang di bumi tuh kembar tujuh,” cerita Dinda. “Pas dengar hal itu, gua sedih banget ngebayangin ada orang-orang yang kembaran sama gua. Kasian mereka, harus mengalami cobaan-cobaan yang gua alami.” Dinda kemudian menatap Ian dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Tapi begitu tau Ian salah satunya, gua langsung kayak, ‘Oh yaudah gak apaapa.’”
30 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
31 Sampai Semua Kembali Normal
32 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Tangga selalu menjadi sesuatu yang misterius. k dan tahu-tahu tidak tiba di tempat yang dituju? i a Bagaimana kalau kita n
33 Sampai Semua Kembali Normal
34 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
“Ma, beneran nggak apa-apa bawa motor sendiri malem-malem kayak gini?” tanya segerombolan anak cowok jurusan Biru pada Ema. Khawatir, soalnya jam sudah menunjukkan angka 22.59. “Mau bonceng tiga sama yang lain aja nggak?” Ema nyengir. “Udah, tenang aja,” katanya. “Kalian boncengin cewekcewek yang pada nggak bisa bawa motor aja.” Teman-teman Biru masih memandangi Ema dengan was-was. Biru sendiri sih tetap tenang, dia yakin Ema bakalan baik-baik saja. “Ma, gua nggak mau ngomong gini sebenernya,” kata salah satu teman Biru. “Tapi jalanan kostan lu rawan begal. Mana badan lu kecil, pula.” “Nggak apa-apa, yang penting keberanian gua besar.” Ema mengacungkan jempolnya. “Udah sana, pada anterin anak-anak cewek! Nanti keburu jamal kostan.”
35 Sampai Semua Kembali Normal
Kadang Biru heran kenapa temannya ada banyak ya? Setahunya dia tidak pernah pandai berteman. Tapi, tahu-tahu selalu ada orang-orang yang menempel lengket di sisinya.
36 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
37 Sampai Semua Kembali Normal
38 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Di hari terakhir masuk kuliah, Biru pamitan paling lama dengan Iqbal. Mereka juga foto bersama di depan plang yang ada di jalur keluar gedung fakultas. Monumental betul rasanya perjalanan keluar kampus kali ini.
Kali ini Iqbal tidak menjawab. Keduanya sama-sama memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan dan beralih memandangi langit yang terus menerus menggelap.
“Bal, kalau ternyata ini terakhir kali kita ketemu, gimana?” tanya Biru. “Tau dari mana?” “Ya kan siapa tau. Gua takut tiba-tiba kiamat.” “Tenang, Bi. Nggak semua yang lo khawatirkan bakal jadi nyata, kok.” Mata Biru langsung berbinar. Kalau Iqbal—orang terpintar sejurusan yang sampai sekarang IP-nya 4.00—sudah angkat bicara, Biru selalu percaya. “Ya paling cuma 1%-nya aja yang kejadian,” tambah Iqbal. Sinar mata Biru meredup seketika. “Kan cuma satu persen aja!” Iqbal kaget sendiri melihat perubahan semangat temannya. “Masih ada 99% yang nggak akan kejadian.” Biru menghela napas. Benar juga, sih, masih ada 99% lagi. “Tapi kalau yang paling gua takutkan justru ada di 1% itu, gimana?”
39 Sampai Semua Kembali Normal
40 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Ketika pertama kali mencoba kamera analog, Biru tanpa sengaja menemukan rol film lama yang masih tersangkut di sana.
41 Sampai Semua Kembali Normal
42 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
“Kenapa nama Kingkin bukan Merah? Biar sama-sama warna, seperti Abang Biru,” tanya Kingkin pada ibu mereka. Sore itu, dia dan Biru sedang bermainmain di halaman rumah sambil disuapi nasi dengan telur dadar. “Kenapa harus sama?” protes Biru. Namaku ya punyaku, namamu ya punyamu! Hampir saja Biru membentaknya begitu. Untung tidak jadi. Soalnya, beberapa detik setelah itu, ibunya berkata sambil menyuapi Biru, “Biru, nggak apa-apa kalau adikmu selalu ingin sama denganmu. Abang yang keren seperti Biru memang akan diikuti terus oleh adiknya.” Ibu mengedipkan mata. “Jadi, kamu juga harus selalu hati-hati dalam bertindak—supaya Kingkin tidak mengikuti yang buruk-buruk. Tuh lihat, sekarang saja dia sedang mengikuti caramu berjalan, kan.”
43 Sampai Semua Kembali Normal
44 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
“Lihat, lihat! Kita ada di Kutub Utara!” Mulut Biru membentuk huruf ‘O’ besar. Kemudian, sebuah tarikan napas tercekat. “Kingkin, KITA DICULIK PENGUIN RAKSASA!” teriak Biru sambil menunjuk ke atas. Kingkin diam saja. Terlalu mengantuk untuk mengacuhkan abangnya.
45 Sampai Semua Kembali Normal
Jadi anak kecil menyenangkan, ya. Bisa muat di ember dan hal-hal kecil lainnya. Kepingan dunia yang mereka lihat juga kecil—hanya berisi yang bahagia-bahagianya saja.
46 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
47 Sampai Semua Kembali Normal
48 Sudut Pandang Warna Biru edisi 01
Semua cerita dalam zine ini adalah karangan fiksi. terimakasih untuk teman-teman yang telah kami pinjam namanya. terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca sampai halaman ini. “Sudut Pandang Warna Biru� edisi satu kami akhiri di halaman ini. sampai jumpa. @sudutpandangwarnabiru
Film Photography by Bugi Biruloma L Story by Avia Maulidina
49 Sampai Semua Kembali Normal
Juli 2020