Skip to main content

Megezine Edisi #8

Page 1

1


EDISI #8, NOVEMBER 2020

Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Semangat terbitan ini adalah mengarsipkan praktik-praktik warga dan menghimpun ragam perspektif manusia sebagai bentuk merayakan perbedaan dan mengimani keunikan setiap manusia dalam merumus dan menyemarakkan perkembangan kota, terutama di Nabire, Papua.

SUSUNAN REDAKSI REDAKSI

MANFRED KUDIAI, FAUZAN AL AYYUBY, NOMENSEN DOUW, HAMSYUKUR FOTOGRAFI

NOMENSEN DOUW GRAFIKA DAN TATA LETAK

FAUZAN AL AYYUBY GAMBAR SAMPUL

ANISAH SEPTIANI BAKRIE Redaksi menerima materi esai, foto, gambar, puisi, dan lain-lain melaui email: stereokolektif@gmail.com

KOLABORATOR:

2


06 10 26 30 44

OPINI

MAAFKAN KAMI PARA MANUSIA oleh Zakaria Usman

S E R I C E R I TA

SERI CERITA MONOGATARI oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin

ARTWORK

oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin

RESENSI BUKU

LAUT BERCERITA BUKU-BUKU oleh Mario Hikmat

52

PUISI

KISAH DI PENGHUJUNG TAHUN

PUISI

CENDRAWASIH INDAH KINI BERDARAH oleh Oly Orgenes Bunay

54 56

PUISI

KAU DAN SEGALA PETUALANGAN DI BAWAH SENGKANG

TENGGELAM DALAM MALAM DAN PUISI-PUISI LAINNYA oleh Bertus Dogomo

SOLOMON “MOI”

oleh Muliana Ana

46

48

PUISI

PUISI

JUDI oleh Manfred Kudiai

PUISI

CINTA KUHARAP KEMBALI DAN PUISI-PUISI LAINNYA o l e h S i s i l i a Yo g i

62

KUMPULAN PUISI

HUJAN BUATAN oleh Fauzan Al Ay yuby

oleh Anisah Septiani Bakrie

3


4


5


OPINI

MAAFKAN KAMI PARA MANUSIA oleh Zakaria Usman

“....hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan. Kini ibu sedang lara, merintih dan berdo’a...” Penggalan lirik lagu ciptaan Ismail Marzuki, Ibu Pertiwi, adalah lagu yang seakan menjadi backsound ketika saya melihat hutan yang gundul. Lagu yang selalu saya nyanyikan dalam hati ketika melihat kepulan asap dari dalam hutan. Apa yang kelak akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Saya tidak pernah membayangkan cucu saya kelak akan mengagumi burung cenderawasih melalui gambar dalam “Ensiklopedia Hewan Surga”. Bagaimana berdosanya saya ketika cucu saya hanya mengetahui ungkapan lau-lau (sebutan untuk kangguru kecil endemik Papua dengan nama latin Dorcopsis veterum) sebagai kata umpatan. Beradaptasi, atau memaksa alam mengadaptasi pola hidup kita? Jika melihat dari beberapa kitab, misalnya, dalam kitab injil Kejadian 1:1: “Pada mulanya Allah menciptakan 6


‘‘

Apa yang kelak akan kita wariskan kepada anak cucu kita? Saya tidak pernah membayangkan cucu saya kelak akan mengagumi burung cenderawasih melalui gambar dalam “Ensiklopedia Hewan Surga”.

langit dan bumi...” mengisyaratkan bahwa manusia adalah ciptaan kesekian setelah langit dan bumi. Lantas kemana sopan santun kita kepada bumi yang notabene adalah tuan rumah? Atau jika dikaitkan dalam hubungan persaudaraan antar sesama ciptaan, bumi merupakan kakak pertama dan kita manusia sebagai adik durhaka yang ingin membunuh kakaknya secara perlahan. Saya juga tak bisa melakukan protes yang banyak. Sebagai bagian dari ras manusia yang memiliki post power syndrome setelah sekian lama berada di puncak rantai makanan, saya tidak layak untuk melakukan protes terhadap perusahaan logging ataupun perusahaan kelapa sawit. Selama puntung rokok dan bungkus permen masih saya buang secara bebas, saya sama bangsatnya dengan perusahaan-perusahaan yang tidak menghormati bumi. 7


‘‘

Selama puntung rokok dan bungkus permen masih saya buang secara bebas, saya sama bangsatnya dengan perusahaan-perusahaan yang tidak menghormati bumi.

Ingat ketika waktu kecil, saya menonton serial anime Captaint Tsubasa yang menganggap bola sebagai teman. Ketika itu saya tidak memiliki bola, dan hanya ada globe satu-satunya barang yang memiliki bentuk mirip bola. Dan mulailah pertemanan saya dengan “bumi kecil” waktu itu. Banyak yang selalu menganggap bumi berjenis kelamin perempuan. Saya pernah membuat penelitian sendiri, bahwa benar bumi adalah perempuan. Karena dari pembagian suku kata, bu-mi, “bu” berasal dari kata “Ibu” dan “mi” cenderung dengan kata “mi mi” yang merupakan isyarat seorang bayi meminta susu keibunya. Sebagai seorang laki-laki yang menghormati perempuan, mestinya saya malu ketika merusak bumi. Tak ada bedanya dengan merusak saudara perempuan sendiri.

8


‘‘

Saya pernah membuat penelitian sendiri, bahwa benar bumi adalah perempuan. Karena dari pembagian suku kata, bu-mi, bu berasal dari kata “Ibu” dan mi cenderung dengan kata “mi mi” yang merupakan isyarat seorang bayi meminta susu keibunya.

Sejarah selalu mencatat, manusia merupakan pemusnah massal terbaik sepanjang sejarah manusia. Sebut saja banjir bandang terbesar pada masa Nabi Nuh, jika manusia mengikuti perintah dari Nabi Nuh maka azab banjir besar tidak akan diturun dan memusnahkan lebih dari jumlah seluruh penduduk di dunia. Perang dunia, mulai dari manusia, pohon, hingga tanah yang tidak bersalah pun ikut mengalami kepunahan akibat pertempuran abadi iblis dan mereka yang mengaku malaikat. Jika seandainya seluruh ciptaan berkumpul dan ingin menerbitkan daftar 5 Besar Ciptaan yang berpengaruh mempercepat proses kiamat, mungkin 3 posisi teratas akan diisi oleh manusia.[]

9


S E R I C E R I TA

SERI CERITA MONOGATARI oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin

MONOGATARI #1 Ka Ka En Tujuh: Good Night “Bakar! Bakar! Kasih keluar dorang dari rumah itu!” Teriak seseorang yang dari suaranya adalah seorang bapak memecah keheningan malam. Sekitar jam dua pagi. “Bakar! Keluar dari sa punya rumah itu! Susah-susah sa kasih besar dan kasih makan dorang malah dorang kasih begini saya! Bakar! Dorang tra pantas di sa punya rumah lagi!” Lanjut bapak itu. Baru saja menginap semalam, sa pikir tadinya mau mengganggu posko kami karena tempat dia ‘berorasi’ di depan Gereja Tua dan Posko Ka Ka En kami. Rupanya masalah keluarga dan dilihat dari sikapnya, bapak itu dalam pengaruh minuman keras serta menurut keterangan teman-teman laki-laki yang langsung menyaksikan bapak itu membawa busur dan panah. 10


INFRAME: Megawati Emeyauta | DOC: Dave M. P. Tiba

Saya hanya spontan bangun dan mengintip di balik jendela yang sudah saya tutupi kertas koran untuk membuat “hijab buatan”. Bersegeralah saya memakai kerudung was-was jika terjadi hal yang tidak diinginkan sedang saya belum menutup aurat secara sempurna rasanya malu bukan hanya pada manusia tapi sama Allah juga. Paginya hal tersebut jadi trending topic ala anak-anak ka ka en. Memang tidak semua langsung menyaksikan tapi beberapa pun terganggu istirahatnya karena kejadian ini. Saat mengantre kamar mandi pagi-pagi untuk keperluan alam pun “midnight story” tersebut jadi pembahasan “selamat pagi”. Saya yang sok bijak pun melibatkan diri dan memberi tanggapan.

11


‘‘

Kejadian itu memperingatkan kita bahwa setinggi-tinggi ilmu yang kita punya jangan pernah merasa tinggi di depan orang tua kita.

“Sebenarnya kejadian tadi malam itu ada pesan moral yang disampaikan pada kita. Kejadian itu memperingatkan kita bahwa setinggi-tinggi ilmu yang kita punya jangan pernah merasa tinggi di depan orang tua kita. Karena percuma ilmu yang kita dapatkan setinggi-tingginya tapi terhadap orang tua, kita menjadi manusia yang tidak beradab.� Maka saya pun berlalu meninggalkan mereka yang masih bercakap-cakap karena keperluan cuci-cuci kelas ringan telah selesai. Sat, Jan 25, 2020. Agenda: Pelepasan Mahasiswa Kukerta Angkatan XI USTJ - Jayapura, Papua|Tue, Jan 07, 2020

12


MONOGATARI #2 Ka Ka En Sembilan: Nene Piter Jalan pagi perdana, lewati jalan arah selatan sampai irigasi. Tidak lupa menyapa beberapa warga yang sudah bersua di depan rumah mereka. Sebelum kembali ke ‘kandang’ saya menyangkutkan diri dulu di salah satu rumah warga. Rumah yang dihuni oleh Nene Piter atau Mama Nona. Nene Piter asal dari Pegunungan Bintang yang sekarang hanya menikmati masa tua dengan cucu-cucunya. Anaknya tiga (3) orang dan semua sudah sarjana. Dua perempuan dan satu laki-laki. Nene Piter bercerita tentang anak perempuannya yang sedikit lagi wisuda tapi telah dipanggil duluan sehingga membuat badan Nene Piter mengurus.

13


‘‘

Saya yang mendengar itu, tertegun dan nampak terasa derai air mata namun segera saya kendalikan agar tidak drama obrolan ini.

“Sa sayang dia sekali, sa berjuang sekali untuk sa punya anak perempuan itu supaya bisa sarjana tapi dia meninggal duluan makanya sa duduk menangis sampai badan habis,” Kenang Nene Piter. Saya yang mendengar itu, tertegun dan nampak terasa derai air mata namun segera saya kendalikan agar tidak drama obrolan ini. Nampak Kaka Nona, anak perempuan pertama Nene Piter yang duduk mendengarkan obrolan kami dan hanya menyimak. Kaos merahnya membuatnya nampak ‘anggun’ bagiku. Usai bercerita tentangnya, Nene Piter pun menunjukkan kakinya yang ada beberapa luka kering yang katanya asam urat. Karena mungkin tetarik dengan obrolan kami, 14


INFRAME: (Right to left) Mama Silva, Elce Bayage, Jeni, Ika Komba, Nene Piter, Cucunya Nene Piter (maaf lupa nama, hehe) | Groufie Mode

anak-anak kecil pun datang menghampiri. Di antaranya ada Amandus. Jan 27, 2020 Agenda: Anti Kapal Kayu (Menyapa Warga Kampung) Kukerta Univ. Sains dan Teknologi Jayapura Angkatan XI - Kampung Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua | Fri, Jan 10, 2020

15


MONOGATARI #3 Ka Ka En Sembilan: Akom Koteng (Anak-anak Komplek Koya Tengah) Amandus datang mengunjungi kami rupanya. Dia membawakan kami sekantung penuh mangga macan. Anak ini hiperaktif. Semua pertanyaan yang kami lontarkan ke dia dijawabnya tanpa malu-malu dan selalu ada tambahan cerita. Dari cerita dan jawaban-jawabannya, dia adalah dokter kecil, siswa SDN INPRES KOYA TENGAH kelas 4 yang tidak suka dengan Pak Kepsek Agaki yang katanya jahat dan suka memukul di testa (dahi/jidat) anak-anak. Disusul teman-teman yang kebetulan lewat, Mesak yang badannya bongsor sendiri dan memakai kaus “Dokter Kecil” lalu ada Riko yang adalah kakak dari Amandus namun badannya lebih kecil dari Amandus. “Kenapa adiknya lebih besar daripada kakaknya?” Tanyaku.

16


INFRAME: (Left to Right) Amandus, Riko, Mario dan Mesak | DOC: Ansarina Rabiyah Ali Nurdin

“De badan ikut nenek, kalau sa, sa ikut sa bapa,” jelas Amandus. Dengan bertambahnya satu personil lagi yakni Mario yang duduk di kelas 2 makin banyak pembahasan kami. Ketapel, panah busur, ikan di rawa, dan masih banyak sekali cerita. Mengobrol dengan anak-anak memang selalu menyenangkan untukku. Karena psikologi anak masih sehat dan imajinasinya luas serta murni. Akan terhibur bila kita memiliki rasa ingin tahu dan mau mendengarkan. Seperti kita ‘mengajakkan’ diri terbenam dalam petualangan mereka. Jan 27, 2020 Agenda: Anak Komplek Pertama - Kukerta Universitas Sains dan Teknologi Jayapura Angkatan XI - Kampung Koya 17


‘‘

Mengobrol dengan anak-anak memang selalu menyenangkan untukku. Karena psikologi anak masih sehat dan imajinasinya luas serta murni.

Tengah, Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua | Thurs, Jan 09, 2020 Loc: Kantor Kampung Koya Tengah, Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua

18


MONOGATARI #4 Ka Ka En Sepuluh: Hujan diudik dan Kaki Panjang Pagi hujan. Jumat yang diberi berkah oleh hujan. Setelah segala urusan dan drama, saya duduk menyamankan diri di depan balai kampung. Ada yang duduk di atas tumpukan batu tepat di luar batas pagar Balai Kampung. Ternyata dia adalah Amandus. Mengenakan jaket bertudung, saya datang menghampiri. Saya sentuh tudung jaketnya yang basah oleh hujan. “Amandus, ko bikin apa pagi-pagi sekali ini? Ko tra sekolah?� Dari keterangannya dia tidak ke sekolah karena pasti tidak belajar. Hanya main lalu pulang. Pagi itu dingin karena suhu memang dipengaruhi oleh turunnya hujan. Membayangkan bocah itu yang entah duduk dari kapan merasakan dinginnya suhu pagi 19


‘‘

Membayangkan bocah itu yang entah duduk dari kapan merasakan dinginnya suhu pagi sekaligus basahnya hujan di pakaian bertudung yang ia kenakan, saya merasa iba.

sekaligus basahnya hujan di pakaian bertudung yang ia kenakan, saya merasa iba. Tidakkah dia kedinginan? “Iyo, ini masih pagi sekali baru hujan begini. Mending ko pulang sudah, kasihan bajumu su basah ini. Nanti ko sakit.� Pintaku. Amandus mengiyakan pertanda ia menuruti perintahku. Tanpa kalimat sanggahan selanjutnya ia pun bergegas kembali ke rumah yang belum saya tahu di mana itupun setelah menganjurkan ia boleh bermain setelah jam pulang sekolah karena di pagi itu pun tidak mungkin mengajak kakak-kakak di Posko untuk berinteraksi dengannya, masih berbaring di zona yang dinyaman-nyamankan masing-masing. 20


INFRAME: Amandus DOC: Ansarina Rabiyah Ali Nurdin

21


‘‘

Bermain dengan mainan epik ini rasanya lupa kalau banyak model permainan yang tersedia pada gawai.

Sore harinya saya mendapatinya bermain sesuatu yang saya kecil dulu menyebutnya ‘enggrang’ disaksikan beberapa akom (anak-anak komplek) dan teman-teman ka ka en yang duduk santai di depan Gereja. Ada Elce, Dave dan lainnya. Bermain dengan mainan epik ini rasanya lupa kalau banyak model permainan yang tersedia pada gawai. Hal inilah yang memancingku keluar dari Posko untuk menyapa Amandus. Ada beberapa anak juga di sekitarku yang bingung dan asing ketika saya menyebutkan kata “enggrang”. “Amandus dia main siapa pu enggrang itu?” Tanyaku pada anak-anak di sekitar dan mereka terheran lalu salah seorang di antara mereka merespon. “Oh, itu mainan “Kaki Panjang” tong biasa pake main juga.” Katanya. 22


‘‘

Ada beberapa anak juga di sekitarku yang bingung dan asing ketika saya menyebutkan kata “enggrang”.

Jadilah saya dapat sebutan lain permainan ini, enggrang yang anak-anak komplek Koya Tengah sebut sebagai “Kaki Panjang”. Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman bermain dengan alat ini sewaktu kecil dulu dan kalian menyebutnya apa? Thu, Jan 30, 2020 Agenda: Suasana santai saat sore - Kukerta Universitas Sains dan Teknologi Jayapura Angkatan XI Kampung Koya Tengah | Fri, Jan 10, 2020 Loc: Kampung Koya Tengah, Distrik Muara Tami, Jayapura, Papua

23


24


25


ARTWORK

SOLOMON “MOI” oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin

Solomon “Moi” adalah original character-ku, salah satu duo dari karakter FOI MOI dan gambar ini merupakan style dari mascott PON PAPUA 2020 bernama Drawa.

26


27


28


29


RESENSI BUKU

LAUT BERCERITA BUKU-BUKU oleh Mario Hikmat

Judul : Laut Bercerita Penulis : Leila S. Chudori Penerbit : Penerbit KPG Tahun terbit : Oktober 2017 Jumlah halaman : 389 halaman Sejarah menempatkan buku di tempat yang tak receh. Kehadiran buku bahkan, seringkali mengiringi meledaknya revolusi. Saya beberapa kali mendapati bukubuku penting bagi sebuah bangsa. Buku beserta kisahnya diabadikan sejarah karena berkontribusi dalam perubahan sosial. Dalam pengisahan tentang buku, benda berukuran 14 x 21 cm itu tak sekedar susunan teks, lembaran kertas, atau kata-kata yangtak punya makna. Buku punya daya tak kasat mata yang mampu merubah cara orang melakukan sesuatu; bergerak dalam dunia. Tak ada perubahan yang terjadi di masyarakat tanpa kontribusi sebuah gagasan. Saya percaya itu. Sejarah 30


‘‘

Buku punya daya tak kasat mata yang mampu merubah cara orang melakukan sesuatu; bergerak dalam dunia.

melihat bagaimana catatan para filsuf Yunani kuna dan beberapa karya klasik filsuf Timur, di beberapa milenium setelahnya, diterjemahkan, dipelajari dan mempengaruhi perubahan kesadaran yang akhirnya menciptakan aral baru kebangkitan (renaisance) di seluruh dunia. Buku garapan Karl Marx berjudul Das Kapital merupakan salah satu contoh kecil. Marx menulis analisa terhadap kapitalisme secara mendalam dan kritis. Ia menggambarkan bagaimana terjadinya penghisapan dan pencurian nilai oleh si kapitalis. Dari buku itu inspirasi pemberontakan di pabrik-pabrik menggema. Selanjutnya, secara bergantian beberapa revolusi yang lain pecah menghiasi konstalasi gerak dunia. Lagi-lagi, hal itu bersebab dari munculnya kesadaran baru setelah membaca dan memahami sebuah gagasan dari buku. Barangkali tak ada revolusi tanpa buku. Pentingnya buku-buku dalam hidup seseorang –terkhusus dalam 31


perubahan sosial-, lantas menginspirasi beberapa penulis untuk mengisahkan pengalaman intimnya berinteraksi dengan buku. Namun, sejarah perbukuan di Indonesia tidak baik-baik saja. Pelarangan hingga pembakaran buku pernah terjadi dalam perjalanan hidup negara kita. Meski demikian, beberapa kejadian itu tak pernah dimuat secara sengaja dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah. Itu sebab, yang membuat kita buta tentang fungsi hebat buku mengiringi gerak sejarah negara kita. Narasi kebencian terhadap buku-buku, kemudian tercatat pada novel teranyar garapan Leila S. Chudori yang berjudul LautBercerita(KPG, 2017). Laut Bercerita mengisahkan anak muda bernama Laut. Ia adalah mahasiswa Sastra Inggris UGM yang juga seorang aktivis. Ia hidup di zaman Orba; zaman yang mengutuk keras buku-buku pemikiran progresif-revolusioner. Rezim totaliter Orba yang dipegang oleh Soeharto, 32


‘‘

Barangkali tak ada revolusi tanpa buku

menilai beberapa buku tertentu harus dibredel dan di bumi hanguskan, termasuk buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia yang pernah di asingkan Orba ke Pulau Buru. Pasalnya, ia dianggap bisa membangkitkan kesadaran untuk melawan, memberontak dan menganggu stabilitas negara. Hal yang ini kemudian bertolak belakang dari kegemaran Laut serta kawankawanya dalam berinteraksi dengan buku-buku berlabel “kiri”. PELARANGAN BUKU “Membawa-bawa fotokopi buku karya Pramoedya Ananta Toer sama saja dengan menenteng bom: kami akan dianggap berbahaya dan pengkhianat bangsa”. Begitu salah satu kutipan dari buku Laut Bercerita. Segala hal yang dilabeli berbahaya oleh pemerintah merupakan pelanggaran jika dilakukan. Dan setiap pelanggaran sudah semestinya mendapat hukuman. Akan tetapi, pelabelan 33


‘‘

Pelarangan buku adalah bahasa lain dari pembungkaman terhadap suara-suara parau para penyeru perlawanan.

berbahaya dan pengkhianat bangsa itu tak memiliki dasar argumentasi yang jelas, ia dilakukan dengan seenaknya, yang sesuai dengan nafsu politik dan hasrat represif pemerintah. Pelarangan terkait buku-buku tertentu menjadi polemik yang memaksa Laut dan kawan-kawanya harus secara sembunyi-sembunyi untuk sekedar mendapatkan buku dan mendiskusikan hasil bacaan mereka. Winatra, organisasi mereka, memiliki sekretariat baru. Sekretariat itu lokasinya berada jauh dari kota, dianggap aman dan strategis untuk tetap bisa melakukan konsolidasi atau sekedar mendiskusikan sesuatu. Meskipun tempat itu lebih mirip rumah hantu, di sana mereka bisa lebih leluasa merasakan pengalaman berbuku. Sebab di luar sana, buku menjadi momok yang mengerikan dan karenanya mesti dilarang. Pelarangan buku adalah bahasa lain dari pembungkaman terhadap suara-suara parau para penyeru perlawanan.

34


‘‘

Hal yang dilarang sepertinya selalu diiringi dengan pembangkangan.

Sejak awal beralihnya kekuasaan dari Soekarno ke tangan Soeharto, pelarangan buku berhaluan kiri adalah strategi kebudayaan yang dipilih untuk memukul mundur ideologi yang dianggap berlawanan. Drs. K. Setiadi Kartohadikusumo, Pembantu Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Bidang Teknis Pendidikan, mengeluarkan maklumat pelarangan terhadap 70 buku pada 30 November 1965. Hal itu memancing reaksi keras dari para intelektual dan sastrawan Indonesia. Hingga beberapa tahun setelahnya, sampai masa-masa terakhir sebelum Soeharto tumbang, bukannya dicabut, daftar buku terlarang itu bertambah panjang dan disertai dengan daftar penulis yang bukunya tak boleh dibiarkan beredar. YANG TETAP MEMBACA Hal yang dilarang sepertinya selalu diiringi dengan pembangkangan. Laut, beserta Kinan, Bram dan kawankawanya yang lain bukannya mematuhi aturan pemerintah 35


‘‘

... buku dapat menggugah kesadaran karena ia menawarkan kebenaran, yang dalam bahasa Seno Gumira Ajidarma, tak tergugat dan tak tertahankan. untuk tidak mengonsumsi bacaan yang dianggap “haram”, mereka dengan tanpa rasa takut yang begitu besar tetap nekat membaca dan mendiskusikan buku-buku tersebut. Padahal, beberapa kawan Laut pernah diintimidasi dan ditangkapi oleh aparatus negara gara-gara kedapatan membaca buku-buku kiri. Tiap orang memiliki motivasi tersendiri dalam membaca buku. Salah satunya adalah buku dapat menggugah kesadaran karena ia menawarkan kebenaran, yang dalam bahasa Seno Gumira Ajidarma, tak tergugat dan tak tertahankan. Pengalaman berbuku adalah pengalaman eksistensial seorang manusia. Banyak orang yang diamdiam membaca buku bukan hanya karena sekedar untuk memuaskan dahaga intelektual mereka, tetapi karena ada hal lain yang diperlukan untuk memahami realitas disekitarnya. Kinan misalnya, ia berujar “sejak berusia dini, saya merasa ada problem besar dalam situasi ekonomi” (hal 19). Hal itulah yang membuat Kinan “Lapar” untuk

36


‘‘

Banyak orang yang diam-diam membaca buku bukan hanya karena sekedar untuk memuaskan dahaga intelektual mereka

melahap semua buku terkait teori politik ekonomi agar bisa membawa perubahan pada realitas di negerinya yang kacau. Hal itu kurang lebih sama dengan apa yang di alami oleh Bram. Orang tua bernama Mbah Mien yang tinggal di belakang rumah kakeknya Bram memutuskan untuk gantung diri, entah karena apa. Namun di kemudian hari, setelah banyak membaca buku, Bram memahami kenapa Mbah Mien melakukan tindakan yang mengejutkan itu. Mbah Mien ternyata terlilit utang. “Semakin aku tumbuh dan semakin melahap banyak bacaan perlahan aku menyimpulkan bahwa ada dua hal yang selalu menghantui orang miskin di Indonesia: kemiskinan dan kematian� (hal 28). Ucap Bram. Kisah lain tentang Bram dan buku-bukunya yang memprihatinkan adalah ketika ia harus menyembunyikan karya Das Kapital-nya Karl Marx, Madilog-nya Tan 37


‘‘

Keberadaan buku dalam perubahan sosial merupakan hal penting, dan saya beranggapan dua hal itu tak bisa dipisahkan.

Malaka, dan buku-bukunya yang lain di balik lemari dapur agar tak mudah di dapat oleh polisi. Ia diinterogasi karena dituduh telah menyelenggarakan diskusi bukunya Pramoedya Ananta Toer. Bram tetap membaca meski ia harus menerima konsekuensi di perlakukan kasar oleh aparat karena selera bacaannya adalah buku-buku yang dilarang. Keberadaan buku dalam perubahan sosial merupakan hal penting, dan saya beranggapan dua hal itu tak bisa dipisahkan. Oleh karena itu Laut, Kinan, Bram, dan kawan-kawannya yang lain tetap melahap semua buku untuk memperkaya gagasan perjuangan, meski beberapa buku yang mereka baca diberi label berbahaya dan sangat keras dilarang. Berbeda dengan adiknya, Asmara Jati yang tidak terlalu suka membaca buku, Laut disela-sela membaca buku pemikiran progresif-revolusioner karya Ernesto Laclau, 38


‘‘

Pelarangan buku melonggar ketika reformasi 98 meledak.

Ben Anderson, dan Ralph Miliband, ia juga adalah seorang penggemar berat sastra dari penulis Amerika Latin. Ia memperkaya pandangan politiknya dengan kemurnian yang ditawarkan olehkarya sastra. Politik tanpa ditambahkan bumbu-bumbu sastra barangkali akan tampak kering. Laut membaca karya Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, Isabel Allende dan juga Julio Alvarez. Dan ketika Laut dinyatakan hilang, keluarganya sangat terpukul dan merasa kehilangan. Ayah Laut membersihkan dan membaca kembali buku-buku peninggalan Laut untuk mengenang sekaligus mengetahui semesta cara pandang Laut terhadap dunia. Pelarangan buku melonggar ketika reformasi 98 meledak. Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai seorang presiden. Beberapa buku yang dulunya dilarang terbit, sekarang bisa dengan bebas diterbitkan. Meskipun kebebasan berbicara, berdiskusi, berkumpul dibuka seluas-luasnya, kebijakan pemerintah terkait pelarangan 39


‘‘

Kebencian terhadap hal-hal berbau kiri yang dikonstruksi Orba melalui strategi kebudayaan (pelarangan buku)...

buku tak pernah betul-betul ditarik. Peredaran buku berlabel kiri mendapat ruang yang cukup bebas, akan tetapi orang-orang yang phobia terhadap pemikiran kiri masih ada sampai sekarang. Kebencian terhadap hal-hal berbau kiri yang dikonstruksi Orba melalui strategi kebudayaan (pelarangan buku), menjadi phobia yang tak pernah betul-betul berhenti membayang-bayangi isi kepala sebagian masyarakat kita. Dan sadar atau tidak, hal itu pula yang ternyata menjadi salah satu faktor penghambat revolusi mental orangorang Indonesia. Buku-buku yang harusnya menjadi senjata utama revolusi harus terhambat oleh kepicikan yang diwarisi oleh rezim kegelapan Orba.

40


‘‘

Barangkali, kita lebih baik mengubur dalam-dalam mimpi tentang revolusi jika pengalaman berbuku tak kunjung kita lakoni.

Novel Laut Bercerita, saya kira cukup bagus menggambarkan bagaimana proyek politik Orba menganggap buku tertentu sebagai sebuah ancaman. Selain itu, novel ini juga banyak menitip pesan penting–meski tak secara langsungbagaimana peran buku dalam laku aktivisme. Tanpa pengalaman berbuku, kita tak bisa menawarkan apa-apa. Kita akan miskin gagasan, tak kreatif, dan cenderung tumpul dalam menganalisa konteks persoalan yang ada disekitar kita.Barangkali, kita lebih baik mengubur dalamdalam mimpi tentang revolusi jika pengalaman berbuku tak kunjung kita lakoni.[]

41


42


43


PUISI

KAU DAN SEGALA PETUALANGAN DI BAWAH SENGKANG oleh Muliana Ana

Di bawah Sengkang Matamu pernah menjadi sepasang api yang memuja kota Menjaga angin yang suka menjilat Merawat usia yang suka menjauhimu Menguasai letak tubuh dan tugu-tugu Mengawasi Aroma, jumlah-jumlah, jalan, dan seorang laki-laki

Di bawah Sengkang Ingatan mudah dibentuk oleh pintu toko dan pasar Kau sanggup mengenang apapun dari dalam Meski matamu jatuh sepenuhnya ke wajah orang kau suka atau yang paling tidak kau sukai

44


‘‘

Di bawah Sengkang Ingatan mudah dibentuk oleh pintu toko dan pasar

Lalai bisa menyeretmu kapan saja Tapi di Sengkang, pintu dan barang-barang akan dipuja Setelah mengingatkanmu sesuatu.

Di bawah Sengkang Jalan pintas terlalu banyak tuk menemukan diri kita sendiri Jalan gelap masih ada tuk menyembunyikannya sekali lagi Tapi, jalan buntu yang tersisa suka memburu Membunuh kita dalam kepala berkali-kali

Wajo, 25 agustus 2020

45


PUISI

KISAH DI PENGHUJUNG TAHUN oleh Anisah Septiani Bakrie

Akulah bayangan semu yang selalu menguntit Segala gerak dan jejak Akulah harapan semu yang membebani Penuh dengan rupa dan kepalsuan Engkaulah secercah cahaya kala gelap melanda Menerangi dengan harapan tanpa arah dan kepastian

Apalah makna sebuah pertemuan Genggaman dan harapan perlahan memudar tergerus derasnya waktu

46


‘‘

Akulah bayangan semu yang selalu menguntit Segala gerak dan jejak

Segala kehampaan dan kekosongan sungguhlah sangat terasa Yang tersisa hanya jiwa yang penuh dengan angan-angan serta keinginan semu Lantunan nama tak luput dalam setiap doa Alam semesta akan selalu bersama dengan segala langkah dan tujuan Merestuimu dan menjagamu Engkaulah kisah di penghujung waktu Karena ku ingin kau tahu Kisahmu selalu ku ceritakan dengan penciptaku

47


PUISI

TENGGELAM DALAM MALAM DAN PUISI-PUISI LAINNYA oleh Bertus Dogomo

TENGGELAM DALAM MALAM Jangan tanya kenapa saya diam sebelum kau tanya, saya sudah diam sebelum kau berpikir, saya sudah tutup mulut

bukan karna bosan denganmu bukan pula egois tentang kita tetapi lihatlah yang terjadi

Kebun yang dulu kau cangkul kandang yang dulu kau piara hewan hutan yang dulu kau rawat 48


‘‘

Jalan perkotaan semakin lebar bangunan mewah kian berdiri tanah sebagai ibu, telah kau jual

kali yang dulu bersih

perlahan kau keluar dari rumahmu

kini tingal cerita dongeng

kau mulai keluar dari tanahmu hingga sudut pinggir tempat kumal.

Bahasa ibu telah kau lupa pakaian tanahmu pun kau malu pakai kau semakin bebas dan liar budaya luar kau terima dengan senang hati aku terasa hilang didalam suram

Sepasang mata melotot dari tumpukan sampah mencium aroma masakan padang ia tinggal mimpi kata tanpa cerita

Jalan perkotaan semakin lebar bangunan mewah kian berdiri tanah sebagai ibu, telah kau jual

rasa tanpa suara bisu diam, tenggelam dalam kelam malam 24 September 2020

perlahan kau mulai keluar dari budayamu 49


AKAN KUKENANG Seperti biasanya malam selalu datang dengan dinginnya tetapi kami selalu duduk dengan kehangatan karna kebersamaan identik kehangatan

kau tidak akan tahu isi malam bukan mengada tetapi kiranya benar kalau malam semua semakin lepas dan ada juga yang unik saat itu

ada tema yang berbicara saat itu ada yang mendengar juga ada juga yang nikmati bulan 50


‘‘

ada yang berbaring sembari berandai... ada lagi yang tertawa sendiri.... memang malam serba unik dan aneh...

ada yang berbaring sembari berandai

lepas dari suasana itu

ada lagi yang tertawa sendiri

mungkin tidak ada pesan

memang malam serba unik dan aneh

mungkin juga tidak ada pelajaran

tapi itu reaksi yang wajar saja saat malam

tapi jujur, saya akan merindukan malam seperti itu lagi

kadang bercerita lalu tertawa sama-sama ada makanan, mereka makan bersama ada minuman, mereka minum bersama

bersama kalian kawan-kawanku

Jogja, 22 September 2020

lalu ketika tak ada makan dan minum mereka menghibur diri dengan cerita-cerita

51


PUISI

CENDRAWASIH INDAH KINI BERDARAH oleh Oly Orgenes Bunay

Cendrawasih Papua, Elok rupamu menawan hatiku Sayapmu terkepak di segala penjuru terbentang di Samudera Pasifik

Tanah yang subur kaya akan susu dan madu pemiliknya berambut berkeriting dan berkulit hitam.

manusianya berpaikan kulit kayu memilih ciri berkasta tanah lihat mengoda rupawan 52


‘‘

Cendrawasi yang indah kini terputus leher beramburan darah

Namun kini berdarah

Tak terhitung seperti padang pasir

Cendrawasih yang indah

Sungguh, manusia gagah dengan kehidupan hamonis

kini terputus leher berhamburan darah

bercerai berai hilang dalam kesuyinaan

Kini tanah yang berkias: emas perak nil dan tembaga hilang dalam pusaran waktu

Cendrawasihku yang indah Selamat jalan bersama kehancuran Salam derita alam cendrawasih Papua

Kehindahan cendrawasih Luntur lalu tersapu rata 53


PUISI

JUDI oleh Manfred Kudiai

Kumenepi lorong jalan yang sunyi di tengah sudut hari yang makin sepi Suara-suara tak mau menyerah menyusuk masuk di kuping telinga Mereka tak mau kalah adu judi

“Kampret...”

Gemuruh si pria melihat si joker menutup kartu, rekannya menang.

Gulungan kertas hijau dilipatnya Sebagian masuk kantong saku Lalu ia menarik sebatang rokok Seraya berkata:

“Syukur...”

54


Hari makin malam

Sesampainya di rumah,

Setiap ruas jalan makin sunyi

kudengar suara-suara kelaparan

Mengikuti arus hati yang senyap Gerimis di malam hari turun lagi

“Pa... dari mana? Kami lapar!�

Kata dokter tak sehat bagi kesehatan

Segerombolan penjudi makin asik Hujan selayak berkat, menghindar dari kenyataan: Istri tak bakal nyari

Sebatang rokok kutarik perlahan Menghayati hidup yang makin melarat Halte tua jadi saksi di temani sebotol minuman kemasan Genteng bocor, airnya memenuhi kedua pipi Seperti baru tangisi realita negeri

Suara seorang perempuan di sebelah rumah Keributan tetangga makin menggila Di tengah gerimis yang berubah jadi hujan lebat, Ratap tangis samar-samar Kudengar bersamaan bunyi hujan di atas genteng

Suara pria itu mirip sekali dengan suara pria tadi, Yang berseru: ‘Kampret’

Kumelangkah tengah gerimis Derap langkah Pria berkepala tiga mendahului langkahku

(Halte tua di ruas jalan Trans Nabire-Ilaga

55


PUISI

CINTA KUHARAP KEMBALI DAN PUISI-PUISI LAINNYA o l e h S i s i l i a Yo g i

KERJA KERAS IBU TANPA KATA Oh ibuku yang kucinta engkau tak pernah lelah, mencari uang dan makan untuk anakmu ini Engkau keluar pagi, pulang malam demi mencari nafkah hidup dalam keluarga Tanpa mengawatirkan kesehatan ataupun lapar dan haus engkau pada perjuangan Oh ibu engkau melewati gunung-gunung sungai-sungai hanya untuk mendapatkan sesuap ubi Engkau rela mengorbankan dirimu Untukku betapa berharganya anakmu di matamu dan keluargamu 56


‘‘

Oh ibu engkau melewati gunung gunung sungai sungai hanya untuk mendapatkan sesuap nasi/ubi

Ibu, engkau tahu bahwa anakmu Pergi ke kota engkau membanting tulang bekerja persiapan bekal untukku Engkau pahlawan tanpa tanda jasa Pengorbananmu tak mungkin sia-sia masa depanmu Betapa berharganya jasamu, ibu, padaku Aku mencintaimu, aku menyanyangimu Oh ibu perempuan berkekuatan super Aku jatuh padamu di atas perjuangan dan kerja keras tanpa banyak kata.

57


CINTA KUHARAP KEMBALI Kini telah tiba saatnya, rembulan pun tiba, untuk menerangi gelapnya malam. Kini tahun pun berganti bulan pun berlalu. Jam dan detik pun tak terasa berpindah Betapa lamanya cintaku pergi meninggalkan luka, tanpa ada kabar Tanpa ada sepatah kata. Entahlah, kapan engkau kembali, Dan menghibur isi hatimu untukku Kuharap engkau kembali kedua kalinya untukku Kini kuingin ungkapkan padamu lagi “I love you� 58


‘‘

Betapa lamanya cintaku pergi meninggalkan luka, tanpa ada kabar Tanpa ada sepatah kata.

Engaku tahu bahwa silih berganti bagaikan siang dan malam. Tibalah saatnya sekarang kutinggal hitung hari saatnya menghadapi. Mengapa? bila ini nasibku Aku akan hadapi dengan penuh sabar Meski hanya lika-liku dan rintangan dalam hidupku Kuharap engkau selalu bersamaku Setiap saat aku membutuhkanmu Oh pelengkap hidupku Hingga sampai ajal tiba saatnya nanti Aku cinta kamu.

59


60


61


KUMPULAN PUISI

HUJAN BUATAN oleh Fauzan Al Ay yuby

PENGANTAR

62


63

ARTWORK AAN ZAPUTRA


64

ARTWORK DWI UTAMI


65

ARTWORK AAN ZAPUTRA


66

ARTWORK DWI UTAMI


67

ARTWORK AAN ZAPUTRA


kon. tri.bu. tor. Manfred Kudiai, seorang pemulung kata yang lahir 15 Maret 1994 di Wopa. Bergelut di dunia literasi.

Sisilia Yogi adalah seorang siswi yang saat ini berdomisili di Manokwari, Papua Barat.

Mario Hikmat, alumnus FKM UNHAS. FB: Muhammad Mario Hikmat Anshari. Instagram: mariohikmat, Hp/WA: 085244709925.

Bertus Dogomo, saat ini tinggal di Jogja. lelaki asal Papua ini hobi bermain bola takraw dan menulis puisi.

Oly Orgenes Bunay, lelaki yang lahir di Tegiye, 31 Oktober 1996. Gemar membaca.

68


kon. tri.bu. tor. Aan Zaputra adalah seorang perancang grafis yang kerap bersentuhan dengan isu buruh dan perempuan.

Ansarina Rabiyah Nurdin Ali adalah seorang komikus yang bercita-cita jadi presiden.

Zakaria Usman, saat ini berdomisili di Kota Jayapura.

Anisah Septiani Bakrie, seorang yang doyan kerja. Lebih tepatnya menyibukkan diri dengan mengajar.

Mauliana Ana, saat ini masih menjadi mahasiswa Universitas Puangrimaggalatung.

Fauzan Al Ayyuby, bergiat di Komunitas Nabire Membaca dan Kolektif Stereo..

69


70


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Megezine Edisi #8 by Kolektif Stereo - Issuu