1
Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Semangat terbitan ini adalah mengarsipkan praktik-praktik warga dan menghimpun ragam perspektif manusia sebagai bentuk merayakan perbedaan dan mengimani keunikan setiap manusia dalam merumus dan menyemarakkan perkembangan kota, terutama di Nabire, Papua. Redaksi: Agus Shalim, Fauzan Al Ayyuby, Hamsyukur, Nomensen Douw Gambar Sampul: Asal Tindies Project
Grafika dan Tata Letak: Fauzan Al Ayyuby Redaksi menerima materi esai, foto, gambar, puisi, dan lainlain melaui email: stereokolektif@gmail.com
KOLABORATOR:
2
Daftar Isi
OPINI
artwork
Agresi Defensif Massa
Kuasa Wacana
puisi
artwork
Anakku, Pergi dan Jaga
Cephalon dan Macros
quotes
puisi
Adakalanya
Lamunan Singkat...
oleh Fauzan Al Ayyuby halaman 4
oleh Manfred Kudiai halaman 10
oleh Titania Nyanya halaman 14
oleh Aan Zaputra halaman 8
oleh Ansarina Rabiul Akhir halaman 12
oleh Anisah Septiani Bakrie halaman 16
Artwork Kenapa Kopimu Terasa Pahit oleh Nina K Ratudillak halaman 18
3
4
Sudah sejak beberapa bulan terakhir, di berbagai penjuru dunia, kerumunan manusia dipecah virus yang sampai saat ini belum mendapat lawan sepadan kecuali beritaberita ‘penenang hati’—yang kadang kala tak bertampuk bertangkai. Seperti berita-berita penangkal virus, atau boleh jadi leluconlelucon kering yang terlalu dipaksakan. Kerumunan manusia itu kini merasa terancam oleh sesuatu yang tak mereka kenali.
menjadi beringas. Bagi saya, tentu dengan tak menafikkan pertimbangan lemahnya ketelitian dan akurasi informasi itu, ada hal lain yang bisa kita rekatkan pada fenomena ini: depresi massa. Orang jadi mudah sekali marah. Lantaran tak kunjung menemukan pintu keluar dari kecemasan yang membelenggu dirinya, manusia melakukan mirip dengan apa yang disebut Erich From sebagai agresi defensif, yang merupakan, “tindakan ... tidak bertujuan untuk mematikan atau menghancurkan orang lain. Tindakan itu dilakukan untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri. Di sini kekerasan bukan sebuah upaya untuk menghancurkan, melainkan demi mempertahankan sesuatu yang vital bagi eksistensi manusia. Jadi, yang mendasari tindakan kekerasan bukan niat buruk, melainkan niat baik dari seseorang. Karena itulah Fromm menyebutkan agresi defensif sebagai ‘agresi yang baik hati.’ Kekerasan ini bersifat reaktif dan adaptif. Fromm menambahkan, tindakan ini merupakan sesuatu yang melekat dan terprogramkan secara filogenetis. Artinya, setiap orang pasti bereaksi secara keras entah dengan menyerang atau melarikan diri jika kepentingan hayatinya terancam.”1
Barangkali di saat seperti ini kerumunan manusia, massa dalam definisi Seth Godin, seorang blogger dan entrepreneur kelahiran Amerika, “... Massa adalah apa yang kita sebut mayoritas tak terbedakan, mayoritas yang mudah digapai, yang berusaha untuk menyesuaikan diri dan bertahan hidup” begitu nyata terlihat. Segala daya dan upaya dicurahkan setiap orang untuk menuju titik balik kemenangan manusia menghadapi virus. Meski begitu, banyak informasi yang hadir tidak mendudukkan akurasi dan ketelitian sebagai juru mudi kabar-kabar baik itu. Informasi jadi sekadar gelembung yang membesar dan pecah begitu saja, sebab keberlimpahan kata-kata penenang, sebaik apapun diramu dalam setiap informasi, tidak serta merta menghilangkan kecemasan begitu saja. Ketakhadiran akurasi dan ketelitian itulah yang menjadikan gelembung informasi itu hampa.
Selain urusan hidup mati karena virus ini, ada hal-hal lain yang turut memicu agresi semacam ini. Sebagai contoh, dalam bidang pendidikan, belakangan peran orang tua dalam mendidik anak mengalami titik balik lantaran sekolah diliburkan. Tetapi banyak orang tua yang tidak punya pengalaman
Segendang sepenarian, belakangan Erdian Aji Prihartanto alias Anji menyadarkan saya betapa informasi bisa membikin massa 1
Kasdin Sitohang, Kekerasan: Wujud Kehampaan Eksistensi Sebuah Tinjauan Etis atas Pemikiran Erich Fromm, RESPONS volume 14 no. 2 (2009): 177 – 196.
5
akademis, pengetahuan metode mengajar, juga fasilitas akses bahan ajar untuk anak-anaknya. Alih-alih menyenangkan, belajar di rumah boleh jadi lebih punya tekanan tinggi lantaran gagapnya orang tua menghadapi anaknya.
guru mereka di sekolah. Padahal, melatih kemampuan emosi anak turut menajamkan imajinasinya. Boleh jadi paket lengkap jika di sekolah anak-anak mendapat porsi intelektual lebih banyak dan di rumah dibarengi dengan kemampuan emosinya. Tapi apa daya, kebanyakan kita sudah meyakini, anak-anak lebih butuh pintar daripada bahagia.
Penghayatan eksistensinya sebagai orang tua lalu mengalami guncangan. Sentrum pendidikan yang selama ini dipercayai orang tua bisa diakses hanya lewat sekolah, membikin banyak orang tua tak pernah membayangkan mesti menjadi guru untuk anak-anaknya di rumah. Kepercayaan itu tak sepenuhnya salah, tapi tak juga bisa dibenarkan, sebab mendidik merupakan aktivitas harian yang tak hanya berlaku di sekolah dengan cara-cara formal.
Dorongan menjadi pintar itu yang membikin banyak orang tua tak sabaran menghadapi anaknya ketika belajar di rumah. Setelah pengumuman sekolah diliburkan, lalu tugas mendidik diserahkan pada orang tua, banyak meme-meme berseliweran. Salah satu yang paling sering tampil adalah momen ketika anak ditanya pada temannya, “Gimana rasanya belajar di rumah?”, lalu si anak menjawab, “Aku tak sanggup lagi. Mamaku lebih galak dari guru di sekolah. Bawaannya marah-marah melulu”.
Di rumah, misalnya, para orang tua bisa mengembangkan kemampuan emosi anakanaknya yang oleh Alexander Sutherland Neill dalam “Summerhil School” dianggap lebih penting ketimbang kemampuan intelektual: “... ruang-ruang mirip penjara itu membatasi pandangan guru dan menghalanginya untuk melihat esensi pendidikan. Guru hanya mengurusi anak sebatas leher ke atas, sehingga ranah emosi sebagai bagian vital anak justru menjadi wilayah asing baginya... yang anakanak butuhkan adalah tiga M (Membaca, Menulis, Matematika [aritmetika]), dan alatalat, tanah liat, olahraga, teater, cat, serta kebebasan” (Hal 245).
Tentu saja, boleh jadi hal ini lantaran kekhawatiran orang tua pada anaknya yang tak jadi pintar. Kekhawatiran yang tak sepenuhnya berbeda dengan para orang tua yang tak mampu memfasilitasi proses belajar anak di rumah. Misalnya, ketika tugas-tugas yang diberikan guru menuntut para orang tua mencari jawaban di mesin pencari seperti Google. Beberapa hambatan seperti gagap teknologi, atau yang sama sekali tak punya akses teknologi, mengalami guncangan merasa gagal sebagai orang tua. Alhasil, jalan satusatunya adalah berharap anak mereka segera kembali ke sekolah.
Tetapi alih-alih melatih kemampuan emosi, banyak orang tua memilih jalan intelektual untuk mendidik anak-anaknya di rumah lantaran menjadi sebuah keharusan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-
Fenomena ini hanya salah satu sebab dari apa yang sudah diurai sebelumnya, agresi defensif.
6
Dalam kasus ini, ketidakmampuan banyak orang menghayati eksistensi sebagai orang tua dalam mendidik anak lantaran kondisi lingkungan yang saat ini mensyaratkan berdiam diri di rumah, tak terkecuali dalam proses pendidikan anak di sekolah, ditambah seliweran informasi yang tak bertampuk bertangkai itu, banyak orang melampiaskan kekesalannya dengan nada-nada yang tak kalah menyakitkan dari kata putus mantan kekasih.
masyarakat yang berharap ini dicecar dengan kepalsuan, yang tak jarang hanya untuk memperoleh pundi-pundi uang, atau jika ia politisi, hanya untuk membuat masyarakat percaya segalanya baik-baik saja. Yang tak diperhitungkan oleh para informan macam ini, massa telah menjadi begitu reaktif lewat sengkarut proses yang melewati kepalsuan satu ke kepalsuan lainnya.
Tak hanya para orang tua, banyak anak muda yang melakukan agresi defensif dengan motif ekonomi, atau boleh jadi eksistensi. Jumlah Pemutusan Hubungan Kerja yang belakangan mengalami peningkatan, barangkali bisa jadi satu sebab depresi massa. Atau dalam kasus eksistensi, banyak orang yang tidak sanggup mengadakan hubungan normal dan memuaskan dengan dunia, lantaran hambatanhambatan yang secara otomatis terbentuk dengan berubahnya kondisi lingkungan.
Sesuatu di dalam diri mereka telah dibangkitkan sebagai akibat dari kecemasan dan harapan palsu yang bagaimanapun tidak akan pernah akur. Keduanya bertempur di dalam diri setiap orang dan tumbuh menjadi agresi yang tak pernah habis sebelum harapan itu berbuah jawaban. Untuk memperjelas, posisi orangorang seperti Anji bukanlah sepenuhnya tersangka dan korban. Juga sebaliknya, masyarakat tak sepenuhnya jadi tersangka juga korban. Keduanya hanya terjebak dalam satu depresi yang melibatkan begitu banyak harapan dan kepalsuan.
Untuk bisa keluar dari depresi ini, tentu saja harapan dibutuhkan. Harapan yang benarbenar utuh dan penuh. Sayangnya, kondisi
Terbit pertama kali di dialektikareview.org
7
8
9
10
Bapak di sini... Tumbuh bijak di luar sana Kelak anak akan mengerti Alasan bapak dikurung di sini
Jika bapak masih lama Jangan rindu bapak lama-lama Semua itu nyata Seperti sedang kau tatap sejak dini
Pergi dan jaga lahan pemburuan kita Cari pohon yang tangguh akarnya Tanam pohon setiap perbatasan Agar tak tumbang diterpa badai
Jangan lupa: “Alam itu yang kasih makan kita, Jangan biarkan lahan berkebun digusur Dan ingat, anakku Jangan terima suap.�
Dari sekarang... Belajarlah berburu Kuatkan ototmu
Lalu, anakku asa tatapmu Berburu membutuhkan strategi, Maka... Asa pula otakmu. Bapak di sini baik-baik saja Sebab di sini, tempat bagi para pencari kebenaran. Tapi, tidak semua tempat, Hanya di Papua.
(Manfred Kudiai) Nabire, 24 Juni 2020
11
12
Gambar ini hasil fantasi dan original character saya dari Cerita Rakyat Papua, "Mengapa Burung Maleo Betina Tidak Mengerami Telurnya?�. Desainnya adaptasi dari Burung Maleo itu sendiri. Maleo Betina bernama Cephalon dan Maleo Jantan bernama Macros. 13
14
15
16
Aku terjaga dari tidurku
Duniaku hanya sementara
Malam yang sunyi mengiringi lamunanku
Duniaku hanya titipanMu
Suara jangkrik pun tak kalah terdengar di balik jendela kamarku
Aku selalu meminta lebih tanpa memenuhi kewajibanku
Ada rindu yang tertata rapi di hatiku
Aku selalu berkeluh kesah tanpa bersusah payah terlebih dahulu
Rindu akan doa yang selalu kulantunkan
Ijinkan aku merindu surga yang kuimpikan
Rindu akan dunia yang selalu kubayangkan
Ijinkan aku menggapai surga yang kuimpikan
Tuhan
Ijinkan aku bertemu surga yang kuimpikan
17
18
19
20
21
22