Skip to main content

Megezine Edisi #6

Page 1

1


Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Semangat terbitan ini adalah mengarsipkan praktik-praktik warga dan menghimpun ragam perspektif manusia sebagai bentuk merayakan perbedaan dan mengimani keunikan setiap manusia dalam merumus dan menyemarakkan perkembangan kota, terutama di Nabire, Papua.

Redaksi: Agus Shalim, Fauzan Al Ayyuby, Hamsyukur, Nomensen Douw Gambar Sampul: Mastuti Idris

Grafika dan Tata Letak: Fauzan Al Ayyuby Redaksi menerima materi esai, foto, gambar, puisi, dan lainlain melaui email: stereokolektif@gmail.com

KOLABORATOR:

2


Daftar Isi HAL 4-7

HAL 8-11

HAL 12-13

Pemujaan Terhadap Manusia

sungai dan orang dayak

puisi jauh dan apa mau dia

HAL 14-16

HAL 17

HAL 18

belajar dari pasar

Puisi Hari Baru

truth and trust

HAL 19-21

HAL 22-24

HAL 25-26

nikmat sehat

puisi ego dan aku ingin kembali

membuat vanilla regal

oleh Nomensen Douw

oleh Syahrani Said

oleh Soraya A. Ananda

oleh Andi Musran

oleh Alfred Dogomo

oleh Manfred Kudiai HAL 27-30

HAL 31

memahami new normal

kenapa kopimu terasa pahit?

oleh Fauzan Al Ayyuby

oleh Nina K Ratudillak

3

oleh Windy

oleh Mastuti Idris

oleh Hamsyukur


Dokumentasi Nomen

pemujaan terhadap manusia oleh Nomensen Douw

Kata pemuja manusia agak vulgar bagi kelompok monotisme seperti di Papua yang pada umumnya percaya satu Tuhan dalam satu agama yang dengan tegas menolak politeisme apalagi evolusioner yang pernah dipakai ideologi Nazi. Di abab 21 banyak ideologi lahir, seperti ideologi komunisme, leberalisme, sosialisme, kapitalisme, dll.

Nazisme bertumbuh luas namun banyak dalil pasif yang diterapkan oleh otoriter Hitler yang pada dasarnya adalah pemuja manusia dengan teori Darwinian. Sebelum perang dunia berakhir Hitler mendiskriminasi orang kulit hitam dengan tidak memberikan akses dan dibunuh. Kebijakan White Australia membatasi imigran orang- orang yang tidak berkulit putih ke Australia tetap berlaku sampai 1966. Orangorang Aborigin baru menerima hak-hak politik yang setara pada 1960-an, itu pun tidak semua.

Tulisan ini sebagai pengetahuan tentang ideologi yang bersebelahan dengan ideologi orang Papua yang fasih pada ideologi agama yang tentunya adalah Agama dalam ‘A’ besar. Di tahun 1960 an di abab 19-20, Ideologi 4


Memaknai Humanisme dan Papua

Ideologi manusia dapat melawan Tuhan seperti ideolgi Nazisme, karena pemahaman mereka tidak ada dalam monoteisme dan politeisme. Pemimpin totaliter Hitler membunuh 6 juta lebih manusia di luar ras Arya yang menurut Hitler adalah manusia superior dari manusia lainya dibumi. Jadi tidak penting jika manusia diluar ras Arya dibantai habis.

Memaknai kemanusian orang Papua selalu dan sangat menjujung tinggi nilai kemanusiaan. Tidak memandang ideologi manusia atau subjektivitas teori apapun, ini soal tradisi kehidupan orang Papua secara kolektivitas. Bersyukur orang Papua sudah menggenal Ideologi monoteisme, menganut Agama yang yang mengajarkan satu Tuhan, bukan Politeisme yang mengajarakan banyak Tuhan.

Mereka percaya terciptanya manusia bukan dari Tuhan namun dari suatu sistem evolusi (darwinian). Manusia dapat diciptakan melalui teori biologi seperti mutasi gen pria yang degenerasi. Nazi memerangi humanisme liberal, hak-hak asasi manusia, dan komunisme justru karena menggumi manusia dan mempercayai potensi besar spesies manusia.

Namun ada hal lain yang aneh, ketika dunia menghormati liberalisme, orang Papua digoyang dengan praktek-praktek teori yang membenci humaniter seperti tadi kita bahas di awal di era Hitler dengan ideologi humanisme evolusioner yang pernah diterapkan di masa perang dunia kedua 1945. Hitler dan beberapa komunitas yang mengikuti teori darwin membantai manusia berkulit hitam di Amerika dan Australia dan Afrika.

“

Meskipun dunia sudah tidak lagi seperti dulu, masih ada kelompok Negara yang mewarisi pemikiran yang hampir sama dengan Hitler. Soal ini saya singgung respon Negara melalui militer ketika rakyat protes suatu hak pada Negara. Negara harus berwenang menghargai suara rakyat dengan mengedepankan nilai humaniter. Seperti hak orang kulit hitam di Amerika, Autralia, Indonesia dan lainya di beberapa Negara tentang diskriminasi rasial.

Kebijakan White Australia membatasi imigran orangorang yang tidak berkulit putih ke Australia tetap berlaku sampai 1966. Orang-orang Aborigin baru menerima hak-hak politik yang setara pada 1960-an, itu pun tidak semua.

Masuk tahun wabah virus pandemi Corona atau Covid-19. Virus ini menyerang semua benua di seluruh dunia. Virus berasal dari Negara China di Provinsi Wuhan. Di bulan maret Virus pandemi ini menyebar ke seluruh

5


dunia dan China bebas virus karena melockdown seluruh kota. Ada beberapa Negara Lockdown, namun beberapa Negara yang berdampak parah tidak lockdown padahal virus semakin membunuh banyak jiwa.

Mungkin orang Papua mudah sekali dipengaruhi tapi bukan dengan ideologi yang sangat merusak kelompok lain, apalagi ada kaitanya dengan kekejaman di dalamnya. Orang Papua adalah humanisme sosialis kolektif tapi kadang pejabatnya berpikir humanis liberal individu tapi tidak bisa pergi dari humanis sosialis kolektif. Teori darwin mengemukakan kalau homo sapiens dapat berevolusi dengan kondisi hidup lingkungan, sehingga orang Papua dibentuk dengan kondisi antropologis dengan humaniter sosial kolektif.

Indonesia sampai kini terbanyak kedua penderita virus, di Negara kawasan Asia Tenggara. Semakin hari semakin naik. Soal kemanusiaan tadi dan kita kembali ke kemanusia di tengah memerangi pandemi ini. Walaupun kebanyakan kota di Indonesia belum Lockdown, Papua sudah lockdown karena soal kemanusian tadi, tapi Negara tidak menyetujui hal itu pada mula pewacanaan.

“

Mungkin orang Papua mudah sekali di pengaruhi tapi bukan dengan ideologi yang sangat merusak kelompok lain, apalagi ada kaitanya dengan kekejaman didalamnya.

Jakarta masih terus ngotot sampai ada surat pembatalan lockdown masuk ke pemerintah daerah Papua, namun pemimpin Papua tetap pada keputusan awal yaitu lockdown akses bandar udara dan pelabuhan. Seluruh orang Papua menolak keras permintaan pemerintah pusat untuk open lockdown. Orang Papua menjunjung tinggi humaniter dan ini bukan soal ekonomi ataupun politik. Di Era ini setelah berbagai isme lahir, bagi orang Papua tidak ada teori yang baik selain mereka percaya Agama dan Tuhan mereka sepanjang hidupnya.

Orang Papua tidak juga dari Afro-Asia tapi saya tidak punya data untuk membantah soal itu namun hanya dapat berasumsi dengan logika dan kebudayaan yang ada kalau orang Papua punya peradaban sendiri yang mesti dibuktikan dengan narasi sejarah yang objektif. Ada anugerah lain terjadi soal sejarah, waktu di masa penjajahan suku Arya dengan ideologinya untuk tidak masuk Papua yang pada waktu itu di bawah kekuasaan Ratu Inggris. Jika tidak, orang Papua bisa senasib dengan suku Aborigin dan Indian di tanah Mereka.

Dari optik antropologi manusia Papua, tentu ini tidak dari teori antopologi umum, anda boleh pelajari di sumber lain tentang antropologi manusia umum. Narasi tentang orang asli Papua dalam ideologi orang Papua masih belum, dan soal ini tidak butuh teori barat untuk menjawab, cukup kajian ringan yang realistis. Orang Papua tidak bisa dipisahkan dari pola pikir sekularisme karena budaya sangat dekat dengan hukum kodrat. 6


Memaknai Revolusi Humanisme dan Papua

suku di Papua mengajarkan tentang makna humanisme yang nilainya adalah manusia lebih penting dari meterial, soal kebutuhan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup urusan Tuhan secara person.

Yuvan Noah Harari dalam bukunya “Homo Deus� menulis: �Obat penangkal untuk eksitensi tanpa makna dan tanpa hukum disediakan oleh humanisme, sebuah kredo baru revolusioner yang menaklukan dunia dalam beberapa abab terakhir. Agama humanis menyembah kemanusiaan, dan mengharapkan kemanusiaan menggantikan perang yang dimainkan Tuhan dalam Buddha dan Daoisme� (h.255)

Pada tahun 1300 orang-orang di London,Paris dan Toledo tidak percaya bahwa manusia bisa menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang indah dan mana yang buruk. Hanya Tuhan yang bisa menciptakan dan mendefinisikan kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Sebelum Ideologi lahir, Tradisi menjadi Agama dan Tuhan, seperti Suku Mee di Papua dalam kebudayaanya sebelum Agama lahir, mereka sudah mengenal nama Tuhan dalam bahasa mereka, Poyame, Ugatame, Toutome.[]

Tentu orang Papua bukan Buddha, Daoisme, Komunisme atau pun Nazisme. Orang Papua adalah monotisme, Manusia humanis yang menyembah Tuhan bukan manusia. Agama lahir bersama kehidupan orang Papua dalam manusia yang kaya berbudaya. Sekitar 272

7


Dokumentasi Andi Musran

sungai dan orang dayak oleh Andi Musran

Dulu waktu kecil saya sering melihat anakanak berenang di sungai dekat rumah Nenek saya. Ketika sore tiba, saya ke sungai melihat mereka berenang. Waktu itu saya masih kecil, jadi harus mendapat pengawasan ketika mendekati sungai. Saya selalu iri melihat mereka yang masih kecil tapi sudah pandai berenang. Kejar-kejaran tanpa pakaian. Berlari dan melompat ke sungai.

ke dasar sungai. Arus sungai yang deras tidak membuat mereka takut untuk bersenangsenang. Semakin sering melihat mereka, rasa penasaran saya tentang sungai semakin besar: Bagaimana rasanya meloncat dan berenang di sungai. Hal-hal seperti itu yang selalu ada di kepala saya. Satu waktu sepulang sekolah bersama sepupu, saya pergi ke sungai tanpa sepengetahuan orang tua. Meski hanya anak sungai yang menuju ke sawah, tetapi kami tetap gembira bisa merasakan air sungai.Tindakan

Ada perasaan ingin melakukannya juga: berlari dari jalanan lalu terjun menembus deras air sungai kecoklatan hingga menghilang masuk 8


tanpa pengawasan ini awalnya berjalan mulus sampai akhirnya ketahuan dari raut muka yang mengkilap akibat lama terendam air sungai dan terkena terik matahari. Dan hari itu juga kayu mendarat di betis kami hingga patah.

Di Kampung Long Ayap, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, tepatnya belakang sekretariat Sekolah Rakyat Petani (SRP) Payo-Payo, terdapat sungai yang begitu besar. Sungai itu menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat yang ada di Long Ayap. Sungai Segah digunakan mencari ikan, mandi, mencuci, dan jalur penghubung dengan kampung sebelah.

Di kota yang berbeda, menjelang masuk sekolah menegah pertama, kesenangan main di sungai semakin menjadi-jadi. Pernah bersama teman-teman berenang di sungai yang biasa kami jumpai muncul seekor buaya di hilirnya ketika pulang sekolah, tetapi kami tidak memedulikan, toh itu di hilir, sedangkan kami berenangnya di hulu. Begitu kira-kira yang ada di kepala kami saat itu. Kami tetap asik dan saling menantang berenang jauh ke tengah sungai yang lebih dalam. Dan lagi, setelah ketahuan saya kena marah dan syukurnya sudah tidak ada kayu mendarat di betis.

“

Setelah satu dekade lamanya, saya kembali ke kota itu bertemu temanteman yang dulunya saya temani berenang. Mereka bercerita, buaya yang dulu menjadi tontonan di hilir saat pulang sekolah kini begitu besar.

Setelah satu dekade lamanya, saya kembali ke kota itu bertemu teman-teman yang dulunya saya temani berenang. Mereka bercerita, buaya yang dulu menjadi tontonan di hilir saat pulang sekolah kini begitu besar. Mereka menyakini buaya besar yang belakangan muncul menggemparkan orang-orang di kota itu, buaya yang dulu sering muncul sepuluh tahun lalu.

Saat tiba di Long Ayap mesin air di sekretariat lagi rusak memaksa saya harus mengangkut air dari sungai menggunakan jeriken. Kirakira jauhnya 40-anmeter dari sekretariat.

Dua pengalaman di atas waktu saya masih anak-anak yang tahunya hanya bermain ditunggangi rasa penasaran. Kini mendekati sungai saja saya begitu takut. Apalagi harus berenang di sungai.

Cobaan pertama waktu itu, siangnya saya mau buang air besar. Kenapa tidak buang air langsung di sungai? Tidak semua dan secepatnya itu melakukannya. Dan bingung juga saya harus di bagian mana. Saya takut salah tempat. Lagian di Long Ayap masyarakat sudah buang air di rumah masing-masing. Hari itu usaha saya berjalan mulus.

***

9


Besoknya saya menonton warga bermain voli. Sepertinya lapangan voli memang menjadi lapangan wajib di desa, karena lebih banyak peminatnya. Tua-muda perempuan dan lakilaki bisa bermain bersama. Meskipun di Long Ayap ada lapangan sepak bola, tetapi laki-laki yang ada memilih ikut bermain voli. Di Long Ayap sebagian laki-laki yang bermain sepak bola banyak pergi bekerja di perusahaan sawit—Anak muda yang dulunya mencari penghidupan di hutan, kini bergantung pada perusahaan sawit yang menghancurkan hutan. Padahal sore itu harusnya masing-masing tim cabang olahraga (voli dan sepakbola) latihan persiapan 17-an di ibu kota kecamatan.

terlihat hanya kepalanya. Dia begitu menikmati mandi di sungai seperti akamsi (anak kampung sini). Saya masih ragu-ragu, perlahan turun ke sungai, itu pun hanya sebatas betis.

Sehabis melihat mereka latihan, saya menuju ke sungai untuk mandi. Di tepi sungai yang penuh bebatuan ada anak kecil umurnya kira-kira 3 tahunan sedang berenang di tepi sungai. Bapaknya sedang memoles perahunya seperti orang yang baru saja membeli sedan lamborgini. Sesekali meneriaki anaknya melarang jangan terlalu jauh ke tengah. Namanya anak-anak, dia tetap bandel dengan sesekali mengetes kemampuannya di arus sungai yang deras.

Anak muda yang dulunya mencari penghidupan di hutan, kini bergantung pada perusahaan sawit yang menghancurkan hutan.

Saya menaktisi ketakutan saya, kalau Chivas menjauh dari tepi sungai satu meter, saya memilih setengah meter untuk tetap berjaga-jaga. Hal itu cukup membantu saya menghilangkan sedikit rasa takut. Melihat saya cuma di tepi sungai, bapak yang tadi menegur saya:

“

“Kenapa Dek, tidak ada buaya di sini!” serunya sambil tersenyum. Saya pun membalas senyumnya. Bapak itu sepertinya tahu kalau saya takut turun ke sungai. Setelah itu kembali menimpali.

Ketinggian air sungai sore itu masih normal, karena masih bisa mandi di tepi bebatuan. Biasanya kalau musim hujan, air begitu tinggi sampai mengharuskan orang menimba air di dermaga kecil yang dibuat warga.

“Di sini tidak buaya, Dek, ada … tapi anaknya!” Mendengar itu, ketakutanku semakin menjadijadi. Sembari menerka maksud ucapan bapak itu, saya menyelesaikan mandi bermodal timba yang saya bawa. Saya hanya mampu sampai air sebatas betis.

Melihat sungai Segah yang besar, saya langsung ragu untuk mandi. Ketakutan saya langsung muncul, padahal sudah ada anak kecil lebih dulu berenang. Teman saya, Chivas, lebih dulu masuk ke air dan perlahan ke tengah sampai 10


Pengalaman dipertemukan kembali sungai pada saat di Kalimantan menjadi refleksi saya dengan alam yang tidak akrab. Sudah lama saya menjauhi sungai. Kalau berkunjung ke rumah nenek saya, sungai sudah tidak menarik lagi di mata dewasa saya. Keinginan berenang ketika melihat sungai sudah tidak ada lagi. Sore itu keberanianku hanyut bersama air sungai ke hilir. Bahkan saya harus mengakui keberanian anak kecil itu.

berdampingan. Ancaman hewan buas sudah menjadi hal biasa ketika lagi berburu di hutan. Begitulah alam dan isinya bekerja, tergantung cara kita memperlakukannya. Kalau sekadar memanfaatkan tanpa usaha kembali merawat, maka akan berdampak buruk bagi manusianya begitupun sebaliknya.

Seorang pemuda Dayak bernama Maret pernah mengatakan ke saya di sela-sela menemani dia menjala ikan: “kalau kita sudah di hutan, kita Kedekatan orang Dayak dengan alam sangat tidak perlu takut lagi, karena hutan menyediakan kuat. Mereka saling menjaga dan hidup saling semuanya.�[]

11


jauh oleh Windy

Kubulatkan pandangan

Jangan ia melukai masa kini

Menepi pada dermaga berkapal kayu,

Masa depan akan jadi indah

Terbersit pikiran dalam hampanya udara laut,

Biarkan kuukir indah masa kini,

Sarat dalam kilat nan pekat

Tanpa masuk makin jauh kemasa kini

Berjalanku tertatih

Tak kumau rusakkan indah rasa dan asa

Entah sampai hati yang terlunta sirna,

Tanpa tanda dan tanya lagi

Membara dan hilang dalam bayang dikejauhan..

Sudah sejauh ini, Jauh dengan keindahan dan kearifan

Laju dan maju Mkin jauh

Jauh pada langit malam yang menyediakan bulan dan bintang

Lalu, jauh ini pun dimulai

Jauh pada bumi yang memberi hidup

Pada masa lalu, pada masa kini,

Hidup kini harus jauh lebih indah

Andai mampu kutahan masa lalu,

Itu inginku, sambil terus melaju jauh

12


apa mau dia oleh Windy

Aku pergi, dia datang

Tetapi waktu laku dia bawa ke sini

Aku diam, dia mengganggu Lalu aku beranjak, dia merajuk

Aku tak mau, aku luka Aku lara, durjana

Kemana lagi aku harus sembunyi Mengadu sudah tak ada siapa

Apa mau dia Menembak duka dalam nestapa

Lalu dia bergumam Aku berikrar

Baik, aku menyerah

Dia mara, aku meraih

Biar dia menang Lalu kami imbang

Kemudian Dia masih mau kupuja

13


Dokumentasi Kolektif Stereo

belajar dari pasar oleh Syahrani Said

Seperti biasa, hari-hari penghujung ramadan seluruh umat muslim menyambut lebaran penuh suka cita. Meski di tengah kondisi wabah Corona sekalipun, keramaian tak terbendung seperti di pasar. Ribuan pasang kaki menjajaki pusat belanja bahan baku dapur tersebut, pembeli mengalir dari fajar hingga ke petang.

saya ke pasar di waktu subuh selama Ramadan, hingga datang kabar bahwa salah satu penjual di pasar dinyatakan positif corona beredar di masyarakat luas. Saya sempat panik dan enggan ke pasar lagi, namun kebutuhan tidak memberikan kita pilihan untuk menghindar. Saya lalu melarang mama’ ke pasar karena khawatir, namun mama ‘ justru marah dan berkata: “Bagaimana to mi jek kalo tidak ke pasar ki, apa mau dijual, lari maneng matu pelanggan jalangkote e.” (Bagaimana jadinya jika tidak ke pasar, kita mau jual apa, nanti semua pelanggan jalangkote pergi).

Sejak pertama Ramadan tahun ini, saya ke pasar tiap tiga hari sekali mengantar mama’ berbelanja, lebih tepatnya membantu mama’ mengangkat belanjaannya yang berat- berat seperti ubi jalar dua wortel dalam jumlah yang banyak. Setidaknya ada sekitar sepuluh kali 14


banyak. Saya membeli ikan “kadapangeng” (saya tidak tahu nama familiar ataupun nama latinnya) sebanyak sembilan ekor. Ikan berbentuk pipih dan berdaging tebal ini ukurannya bisa mencapai satu meter, katanya sangat cocok untuk dijadikan bahan baku pembuatan “bajabu” (sejenis abon, ikan disangrai bersama perasan santan hingga kering).

Setelah berita itu tersebar, beberapa hari pasar tampak sepi, namun kondisi itu tak bertahan lama, hingga tiga hari menjelang lebaran, dari sejak fajar hingga matahari mulai mengitari hari, pembeli dan pedagang bertambah, makin hangat matahari, maka makin hangat pula suasana di dalam pasar karena desakdesakan. Salah seorang penjual ikan berkata dari kejauhan “corona, corona, onro ko bolae de’ muanre.” (Corona, corona, jika tinggal di rumah saja, kamu tidak makan). Sebuah pernyataan optimis yang membuat beberapa penjual lainnya ikut tertawa. Barangkali ini ekspresi bahagia ketika mereka khawatir pembeli di akhir Ramadan pasti sepi dan tidak akan sama ramainya seperti tahun-tahun sebelumnya.

“

Barangkali ini ekspresi bahagia ketika mereka khawatir pembeli di akhir ramadan pasti sepi dan tidak akan sama ramainya seperti tahun-tahun sebelumnya.

Keseringan ke pasar, membuat saya terbiasa oleh beberapa hal seperti, pedagang sayur mana saja yang lebih murah seribu rupiah dibanding pedagang lainnya, para tukang parkir dan petugas dinas perhubungan yang sering datang telat dan marah-marah karena parkiran mobil berbaur dengan parkiran motor, penjual toge yang agak tomboy tapi punya kebiasaan meninggalkan lapakannya, ibu-ibu penjual ikan dari Lero yang berusaha berbahasa bugis menggunakan dialek Mandar dan beberapa anak kecil, juga seorang ibu-ibu lansia yang menjual plastik dan menawarkan jasa membawa barang belanjaan.

Sementara menunggu ikan selesai dipotong oleh si penjual, tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri dan menawarkan saya kantong plastiknya, anak laki-laki itu juga berkata “mau ki saya angkatkan juga?” Saya menjawabnya dengan berkata tunggu sambil berpikir bahwa betapa beratnya ikan ini, dan saya pasti akan kesulitan membawanya dalam keadaan kaki pincang, apalagi kendaraan terparkir lumayan jauh. Saya mengiyakan dan anak laki-laki itu tersenyum. Sekiranya di bagian belakang Pasar Lakessi, ada tiga anak laki-laki tanpa alas kaki yang mondar-mandir menjajakan kantong plastik dan jasa membawa barang

Kemarin sore, saya tak sengaja menginjak paku hingga tertusuk sekitar 1 cm di bagian tumit kaki kanan, rasanya lumayan ngilu hingga membuat saya pincang keesokan paginya. Dalam keadaan terpaksa saya harus menemani mama’ ke pasar karena belanjaannya lumayan 15


belanjaan. Saya tidak pernah berpikir untuk menggunakan jasa mereka, karena saya masih merasa lebih bisa mengandalkan kekuatan sendiri dibanding menyuruh salah satu diantara mereka membawa belanjaan saya.

Saya banyak belajar dari berbagi sisi-sisi lain kehidupan banyak orang, pagi ttadi merupakan pelajaran baru, bahwa sekalipun saya memiliki uang ratusan ribu rupiah untuk membayar jasa membawa barang belanjaan, jika ketiga anak laki-laki itu tidak ada maka kesulitan akan tertimpa kepada saya, berjalan jauh dengan kaki pincang, membawa belanjaan yang berat pula.

Kami berdua jalan menuju parkiran kendaraan. Dua kantong ikan terisi penuh, kira-kira masing-masing memiliki berat lima kg tiap kantongnya. Anak laki-laki itu membawanya dan hanya sekali berhenti untuk mengambil ancang-ancang posisi pegangan yang nyaman. Sesampainya di parkiran kendaraan, saya mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah sambil bertanya berapa tarif yang biasa dibayarkan oleh pengguna jasanya, katanya kadang dua ribu hingga lima ribu rupiah. Saya lanjut bertanya mau diapakan uangnya, katanya mau beli baju sama petasan dan tembak-tembak. Saya menyambung jawabannya “saya kira lem mau ko beli” dia tertawa tipis lalu mengambil uang yang saya sodorkan. Anak laki-laki itu berucap terima kasih lalu berlari kembali ke kerumunan.

Ketika di jalan pulang, saya menceritakan kejadian tadi kepada mama’ dan dia bereaksi heran, “kenapa banyak sekali uang mukasih i?” Saya tertawa dan memandang lurus kedepan “Ma’ berapa ji kasian itu sepuluh ribu, dari subuh i jek tadi itu anak-anak e sappa pangelli kompe’, Alena meni Melo na aga dui’naa, pada moi pejabat e, massikola matanre, Maccani matu, macca to ni mala dui’na tauwwe”.[] Parepare, 21 Mei 2020

16


hari baru oleh alfred Dogomo

Di tepi pantai yang sunyi senyap Malam berangkat menuju pagi Langit menangis tak kenal lelah Memberi nutrisi pada tiap ranting pepohonan Burung-burung bernyanyi menyambut hari Gulungan-gulungan ombak menyiagakan diri Siap menghantam tiap karang yang berjejeran rapi di tepian Sang suryapun mulai menampakkan rupah Untuk memberi kehidupan pada tiap insan

Djogja,04 Juni 2020

17


Artwork by

Mastuti Idris

18


Nikmat Sehat oleh Soraya Ayu Ananda

“Timang-timang, anakku sayang jangan menangis ayah disini...� Sore ini setelah menutup telpon dari ayah dan mama, ada sejumput rasa perih di dada, bukan karena rindu. Bukan sama sekali. Cuma sebuah rasa “kasihan pada diri sendiri� dan rasa sadar, betapa mereka berharap anak perempuannya selalu berkirim kabar ataukah bertanya mengenai perihal kesehatan mereka.

dilakukan dengan banyak gerakan. Padahal aku ini manusia banyak gaya, eh, manusia banyak gerak, terlalu aktif memang. Nikmat Tuhan yang paling nikmat itu adalah kesehatan. Sebab bila kau punya nikmat istri/ suami yang saleh dan saleha, kau tak bisa saling membalas kebaikan jika nikmat sehat yang Tuhan beri dicabut, atau jika kita punya nikmat rejeki melimpah. Dollar maupun rupiah tak lagi bisa menjadi nilai tukar yang pas untuk rasa sakit. Nikmat sehat memang punya posisi

Sudah 48 jam lebih kuhabiskan berbaring kadang mengusir jenuh dengan duduk dan bermain game, kemudian duduk lagi dan memenuhi kebutuhan lainnya yang tidak boleh 19


“

teratas. Jadi tolong syukuri mereka dengan senantiasa memenuhi kewajiban mereka, yang simpel-simpel saja seperti: ketika sudah pukul 12.30 silakan makan siang atau ketika kau sudah berpeluh sana sini sehabis bermain futsal ataukah ber-gym mandilah, sebab tubuhmu telah memberikanmu hakmu. Tentu jika kau tak melaksanakan kewajibanmu terhadapnya maka, dia akan mogok dan mencabut nikmat sehat yang ada padamu.

Nikmat Tuhan yang paling nikmat itu adalah kesehatan. Sebab bila kau punya nikmat istri/suami yang saleh dan saleha, kau tak bisa saling membalas kebaikan jika nikmat sehat yang Tuhan beri dicabut, atau jika kita punya nikmat rejeki melimpah.

Seperti sekarang, yang aku rasakan... Jauh dari rumah--meskipun masih tinggal bersama keluarga, [re: tante dan om]-tentu ada haru yang dramatis manakala kita sedang sakit. Kita butuh dihiburlah, diberi perhatian lebihlah dan tidak boleh makan sembarangan (aku benci yang terakhir ini). Sakit membuat kita merindukan sentuhan dan kekuatan lain agar kita bisa bangkit dan melewatinya. Sebenarnya sakit bukan untuk kita lawan, makanya aku lebih senang memaknai “melewati” sakit adalah titik balik di mana kita melihat perlakuan kita sendiri pada diri kita sendiri. Kesemena-menaa-an kita atas “milik” Tuhan setelah itu, kita akan melewatinya melalui proses penyembuhan dan belajar tentang hukum tarik menarik: jika kau ingin sehat maka perlakukan tubuhmu seakan memang kau menginginkan kesehatan itu melekat pada jasad dan jiwamu.

mama sakit. Namun tak jarang kuacuhkan laporan mereka. Biasanya hanya ku kirimi SMS dengan jawaban, “syafakillah ma/ayah sakit itu adalah momen pencuci dosa”, ah betapa jahatnya aku.. Sementara tadi mereka sampai amat sangat khawatir mendengar anaknya yang paling tua tengah lagi diuji nikmat sehatnya.

Sakit kadang membuat kita menjadi lebih bijak, jika memang kita ingin mengambil positifnya. Lalu untuk apa ada lagi Anang di awal tadi?

Randomly tulisan ini hanya ingin mengingatkan untuk senantiasa berbuat baik pada diri sendiri, orang lain boleh saja bilang apa soal kesehatanmu akan tetapi, penting untuk menggunakan insting pada dirimu sendiri, maksudnya yang tahu sakit dan obat untuk dirimu sendiri adalah dirimu sendiri juga:)

Sebab aku rindu sekali pada orang rumah dan sedikit merasa bersalah manakala ayah dan

Dalam artian, kau sakit demam tapi perasaanmu bilang “aku butuh istirahat saja”

20


ikuti perasaan itu, karna kadang insting lebih benar ketimbang meminum obat (ini aku... Aku yah)

dan menatap wajahnya penuh kantuk saat membuka pintu. Meringis rasanya mengingat yang kemarin.

Yang kedua, sering-seringlah menjalin hubungan dengan orang tua kita, demi apapun mereka takkan minta sepersen dari hasil keringat kita selain rasa kepedulian kita yang memang kadang tergadai sama yang namanya pekerjaan: saya pernah tidak saling bicara sama dengan ayah hanya karna telponnya saya reject ketika siaran, pernah marah karna diganggu saat menghitung pemasukan cafe, ayah yang tempramen menyimpan amarah atas itu, dan demi apapun beliau tak pernah ada salah atas marahnya. Akulah yang salah. Beliau tak pernah marah ketika kutelpon tengah malam saat motorku mogok, atau tak pernah marah ketika dulu jaman kuliah aku harus pulang tengah malam hanya karena harus menemani editor, mengetuk pintu pukul 02.00 dini hari

Untuk itu, sementara badanmu menjalankan haknya jangan lupa untuk melaksanakan kewajibanmu terhadapnya. Sebab bisa saja ada nikmat yang dicabut Tuhan di saat kita tidak sadar. Yuk sayang-sayang-an sama diri sendiri dan jangan lupa keep in contact juga sama orang tua. Sudah jamnya makan obat. Awalnya saya menolak. Tapi tubuh saya harus dimanja. Berbaring lebih lama lagi tak masalah. Asal dia tak lagi mogok dan Tuhan kembali menaruh nikmat sehat yang sempat diabaikan olehku.[]

21


aku ingin kembali oleh Manfred Kudiai

Aku terasa mengantuk dan ingin tidur sekarang

Aku cemas tombak kata-kata yang keluar kembali menikam diriku

Aku bayangkan seorang kekasihi datang

aku menangis karena tak dapat tarik kembali

menemani bunga tidurku

Aku sedang kehilangan arah

Aku mendengar gemuruh ombak dalam hatiku

dan aku ingin kembali

Aku melihat pasir putih dan ombak memukul pantai

Aku tahu bahwa cinta tidak mesti dimiliki

Aku ingin hidup bersamamu mengiasi harihari

Aku katakan datanglah mengisi hari yang makin sunyi

Aku terasa mengantuk dan ingin tidur sekarang

Aku bermimpi kita bertemu lagi yang kedua kali Aku mencoba menjelaskan apa yang terjadi

Aku Ingin Kembali

Aku berharap ombak tak lagi ada

Aku menjadi apa yang mereka inginkan

Aku sedang kehilangan arah

Aku merasa ada sesuatu yang hilang

dan aku ingin kembali

Aku sentuh bibirku dan inilah ujung tombak kata-kataku

22


ego oleh Manfred Kudiai

Tak ada untungnya, ketika kurenungkan kembali.

uang dipandang pedang bermata dua gambaran setiap diri orang memiliki dua sisi yang berbeda

rasa malu menghampiri,ketika egoku membara.

keterkaitan dua sisi itu sendiri padasatu benda,

Semestinya itu yang ku padamkan

dua sifat yang saling berbeda tetapi dimiliki oleh satu benda

Aku sudah banyak melakukan tindakan yang keliru

subjectyaitu mata uang itu sendiri

ketika tidak mengontrol atas apa kata kata

Tetapi uang memiliki nilai yang sama

yang keluar secara spontan

Alat tukar.

yang membenarkan diri secara spontan Sedangkan aku? Aku malu mengaca, takut tampangku itu muncul lagi

Kadang tampil sebagai pembantu

padahal dibalik wajah ketampangan itu

kadang tampil sebagai pemalsu

tampil tampangan paksa diri

palsukan diri, tampil beda dari yang semestinya.

masih ada tanduk kambing yang menyerupai

Sudah cukup...

bukan maksudku mengucilkan diri

Aku bukan apa-apa

aku memang manusia yang punya akal

hanya debu kecil yang beterbangan

tetapi tingkaku seakan berwujud binatang

Yang datang mewujudkan misi

Masih baik...

misi sang pencipta di bumi,kini 23


Aku hanyalah bayangan yang hendak jalanjalan

Aku seperti pelita tanpa bahan bakar samar-samar memberikan penerangan

ketika tidak mengatakan: “salah tetap salah.�

bahkan tidak sama sekali!

aku hanyalah debu kala angin menerpa terbang tak tahu arah

Ya, itu adalah aku

Arahnya ada tetapi jiwayang tak paham ke dermaga mana ia berlabu

aku yang menulis

Dalam sudut pandang yang keliru

dan ‘mungkin’itu adalah aku

Selama jiwa masih menyalahkan orang lain

aku yang lagi baca.

sejauh itu aku adalah diriku yang gelap terlalu cepat mengatakan benarpada kebenaran walau kenyataan akan kebenaran itu masih samar-samar

24


Dokumentasi Cookpad

tips dan trik membuat minuman kekninian vanilla regal oleh Hamsyukur

Masih ada yang #dirumahaja kan walaupun (katanya) #newnormal sudah diterapkan? Keenakan di rumah atau belum yakin di luar sana belum aman? Ada yang sudah tidak sabar kepingin nongkrong sambil menikmati menu-menu minuman baru dari kedai kesayangan tapi rasanya masih ragu untuk ikut merayakan #newnormal yang masih absurd ini? Tetap bersabar dan tetap di rumah aja ya, kakak. Di rumah juga bisa nongkrong kan. Nah, agar nongkrong di rumah tidak kalah manisnya dengan di kedai-kedai, yuk kita sama-sama coba membuat minuman kekinian sebagai pemanisnya. Kali ini saya akan mengajak membuat minuman ‘Vanilla Regal’ ala saya.

25


Bahan:

Catatan tambahan:

-Syrup rasa Vanilla (65 ml.)

*Syrup vanilla bisa menggunakan syrup yang banyak di pasaran, takaran yang saya cantumkan di atas juga adalah jika menggunakan syrup yang mudah ditemukan di pasaran sesuai daerah kita (Papua). Jika menggunakan syrup perasa yang premium, sebaiknya takarannya dikurangi, cukup dengan 30-40ml.

-Fresh Milk (250 ml.) -Simple Syrup (50 ml.) -Biskuit Regal (2-3 keping/sesuai selera) -Es Batu (secukupnya).

*Simple syrup bisa diganti dengan gula cair, dengan cara melarutkan satu-dua SDM gula pasir dengan air panas secukupnya.

(Jumlah bahan untuk satu cup/gelas, selanjutnya bahannya tinggal digandakan sesuai kebutuhan berapa gelas)

*Fresh milk bisa diganti SKM yang sudah dilarutkan ke dalam air dengan mengatur kadar manisnya, jika menggunakan SKM sebaiknya tidak perlu lagi menggunakan simple syrup dengan menyesuaikan kadar manis susu.

Cara membuat: Siapkan gelas ukuran 550 ml. Tuang syrup rasa vanilla dan simple syrup. Masukkan es batu. Disusul dengan fresh milk, tuang secara perlahan agar tampilan minuman lebih menarik sebelum diminum jika susu dan syrupnya kelihatan terpisah. Letakkan biskuit regal di atas permukaan minuman sebagai garnis sekaligus bagian dari minuman, biskuitnya boleh diremukkan sebelum diletakkan, boleh juga secara utuh.

*Cara membuatnya juga bisa diganti dengan metode blend, dengan cara mencampur semua bahan (kecuali biskuitnya) lalu diblend menggunakan blender. *Setelah penyajiannya selesai, jangan lupa diaduk sebelum diminum ya. Jika meminumnya menggunakan sedotan, gunakan sedotan yang diameternya agak lebar agar biskuitnya bisa ikut tersedot. Selamat mencoba dan selamat menikmati. :)

26


Memahami New Normal dari Pengalaman Berinternet dan Bermain Domino oleh Fauzan Al Ayyuby Saya betul-betul tak banyak paham soal New Normal. Hanya satu kata kunci dari pelbagai indikator yang bisa saya pahami: adaptasi. Itupun bekal dari pengalaman berhadapan dengan situasi peselancaran internet di Nabire, Papua.

banyak yang berubah. Palingan hanya markah jalan yang baru—itupun sudah memudar. Hanya saja di beberapa titik, utamanya pusat kota, jaringan 4G bisa diakses. Tetapi tak seperti pengalaman mengakses jaringan 4G di Makassar, jaringan 4G di Nabire ketika itu sebatas padahan huruf dan angka di layar handphone. Ibarat bunga plastik di meja-meja cafÊ yang tak bisa tumbuh. Meski di beberapa titik, seperti di depan pemancar

Pada tahun 2017 setelah menyelesaikan perkuliahan di salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar dengan nilai IPK biasa saja, saya pulang ke kota kelahiran saya itu. Tak 27


“

jaringan—radius lima puluh sampai seratus meter, jaringan 4G bisa diakses dengan lancar.

Agaknya perkembangan cafe pun sepahit manis dengan perkembangan internet di Nabire. Bahkan boleh dibilang, keduanya tumbuh saling melengkapi.

Lantaran tinggal agak jauh dari pusat kota, saya tak kebagian keistimewaan itu. Di tempat yang saya tinggali, hanya ada jaringan 2G. Tak bisa dipakai untuk sekadar mengirimi kabar via Whatsapp atau melihat seliweran unggahan terbaru dari jaringan perkawanan di Facebook. Saya pun mesti memasrahkan color bomb dan striped & wrapped sebagai bonus ketika memainkan game Candy Crush secara daring atau dengan menonton iklan. Kondisi ini membikin saya dan beberapa teman bersiasat untuk pergi ke kota tiap malam. Dengan bekal autan dan teh gelas, kami duduk persis di depan pemancar untuk mendownload sebanyak mungkin konten yang bakal jadi teman begadang setelah pulang ke rumah. Bagi kawanan saya, kecepatan jaringan 4G itu limpahan berkah. Bagi saya, kecepatan jaringan 4G itu terlalu lambat sepengalaman mengakses 4G di Makassar.

ini berkembang dengan menjual minuman dan voucher internet secara bersamaan. Satu jam akses internet dikenai tarif sepuluh ribu, tiga jam dua puluh lima ribu, tujuh jam lima puluh ribu. Tiap voucher punya masa berlaku yang durasinya selaras dengan harga voucher. Di bulan Februari tahun 2018, Nabire Cyber tiba-tiba disesaki massa. Pemicunya, satusatunya provider di Nabire mengalami gangguan yang entah apa. Jaringan internet mati total. Tak jelas penyebabnya. Tapi internet masih bisa diakses lewat jaringan Nabire Cyber lantaran jaringannya ditembak dari Tanggerang.

Lambat laun kecepatan jaringan 4G mengalami perluasan daya jangkau. Kami pun beralih dari depan pemancar menuju kursi-kurci cafĂŠ yang empuk tanpa mesti mengoleskan autan yang membikin kulit terasa panas. Bukan lagi teh gelas, kami menikmati es teh dengan porsi yang lebih banyak dan agak mahal meski sama-sama teh.

Tak jarang, kerumunan massa itu sekadar bermain game Clash of Clans yang ketika itu jadi primadona di kalangan muda. Kondisi ini membikin saya heran. Padahal sebelumnya internet bukan hal yang mesti kami takuti jika hilang. Kami lebih takut bola yang biasa kami pakai untuk latihan dan bermain tiba-tiba pecah. Atau gitar yang tiap malam mengiringi nyanyian kami tiba-tiba putus senarnya.

Agaknya perkembangan cafe pun sepahit manis dengan perkembangan internet di Nabire. Bahkan boleh dibilang, keduanya tumbuh saling melengkapi. Nabire Cyber, salah satu cafe yang berperangai persis dengan fenomena

28


Rupanya saya tak sendiri. Salah seorang kawan saya mengaku keheranan dengan cara berkawan baru yang dibentuk perilaku maya. Ia mengalami sendiri tiba-tiba dimusuhi lantaran ia pindah ke clan lain—sebutan untuk kesatuan beberapa orang yang membentuk tim dalam permainan itu. Ia bahkan tak diajak bicara. Bahkan oleh teman sekantornya yang juga termasuk dalam clan itu.

masih sering terjadi secara bergiliran. Meski kami masih tetap nongkrong seperti biasa, semacam ada yang berubah. Obrolan-obrolan kami hanya seputar jaringan. Kartu domino yang sering kami pakai untuk menghabiskan waktu mulai terkelupas dan perlahan intensitasnya berkurang. Kami tak lagi memainkannya seperti resep dokter: tiga kali satu. Kami menggantinya dengan game Ludo yang bisa dimainkan secara luring. Dan itu berlangsung cukup lama. Untuk menambah sensasi, kami menerapkan hukuman kutik tangan ketik pion ditendang oleh lawan.

Perilaku maya ini pun sempat saya alami lantaran sering tidak bisa ikut ngobrol dengan kawanan saya yang kebanyakan bermain game itu. Kami tidak lagi berkumpul dan berkomunikasi ala tongkrongan sebelum internet menjembatani permainan mutakhir. Lebih tepatnya saya yang tak bisa nyambung lantaran tidak bermain game itu. Alhasil, karena kesepian dan kawanan saya lebih sering membicarakan game itu, saya jadi ikut mengunuhnya dan bergabung dalam clan kawanan saya. Meski tak lama setelah itu saya menghapusnya sebab menemukan Candy Crush.

Bagi saya, Ludo dan domino juga menandai proses percepatan internet. Utamanya di lingkungan perkawanan. Sebelum Ludo, bermain domino jadi syarat mutlak dari pergumulan menghabiskan waktu. Bukan tanpa alasan, setidaknya domino menjanjikan dua hal: sensasi berpikir dan hadiah. Alasan kedua itulah yang membikin kami begitu sering memainkannya.

“

Hari itu, ketika jaringan internet hilang, begitu banyak caci maki yang saya dengar. Seperti mengabsen nama-nama binatang. Dari yang umum seperti anjing dan babi, sampai yang khusus dan khas Papua seperti lao-lao— Dorcopsis veterum atau Kangguru Papua. Jaringan di Nabire Cyber pun tak cukup kuat mengangkat seluruh pengguna yang berkerumun di tempat itu. Alih-alih membuka Facebook dan menulis status, menunggu satu laman dengan cepat saja jadi berkah tersendiri.

Perilaku maya ini pun sempat saya alami lantaran sering tidak bisa ikut ngobrol dengan kawanan saya yang kebanyakan bermain game itu. Kami tidak lagi berkumpul dan berkomunikasi ala tongkrongan

Hari-hari semasa jaringan internet hilang begitu suram. Ditambah mati lampu yang 29


Ketika mendengar akan ada yang menikah, kami bahkan tak berpikir siapa yang menikah atau setidaknya memberi selamat lebih dulu. Kami lebih sering bertanya, “ada acara gaplenya ka tidak?� sebagai motif utama kami senang dan berbahagia ketika ada yang menikah. Tak jarang, kami tak mengenal orang yang melangsungkan pernikahan tapi turut ikut andil dalam pertandingan gaple itu. Pertandingan gaple sering berlangsung hingga subuh hari. Ketika ada dari kawanan kami yang masuk final, kami akan menunggunya sampai selesai. Dari acara gaple, saya cukup banyak memenangkan pertandingan. Hadiah paling mahal yang pernah saya peroleh adalah kipas angin. Meski dijual kembali untuk dibelikan makanan pada kawanan yang menunggu hingga pertandingan selesai.

Saat ini internet di Nabire sudah cukup memadai. Bahkan rumah saya sudah kebagian 4G dan terhitung lebih bagus ketimbang yang ada di pusat kota. Teman saya sempat mengenang fenomena ini: “Dulu waktu tong masih cari jaringan di kota itu, biar download kecepatan 100 kb saja sudah senang sekali. Sekarang su cepat tapi kandas sedikit itu tong su baku maki dengan jaringan�. Kenangan ini pun segendang sepenarian dengan domino yang tak lagi bikin kami bersemangat mendengar acara nikah.[]

30


Artwork

Nina K Ratudillak

31


KOLABORATOR:

32


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Megezine Edisi #6 by Kolektif Stereo - Issuu