1
Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Semangat terbitan ini adalah mengarsipkan praktik-praktik warga dan menghimpun ragam perspektif manusia sebagai bentuk merayakan perbedaan dan mengimani keunikan setiap manusia dalam merumus dan menyemarakkan perkembangan kota, terutama di Nabire, Papua.
Redaksi: Agus Shalim, Fauzan Al Ayyuby, Hamsyukur, Nomensen Douw Gambar Sampul: Aan Saputra
KOLABORATOR:
2
Grafika dan Tata Letak: Fauzan Al Ayyuby Redaksi menerima materi esai, foto, gambar, puisi, dan lainlain melaui email: stereokolektif@gmail.com
“
“Mungkin kita perlu jangkar: momen-momen, bendabenda, orang-orang—yang bisa mengikat ingatan lepas dan mengembalikan rumah menjadi sesuatu yang intim. Yang membuat betah dan memberi makna. Mungkin juga cinta.” - Avianti Armand
3
4
Sejak gerakan #dirumahaja digalakkan oleh Najwa Shihab untuk mengurangi penyebaran covid-19 atau yang kadung dikenal sebagai virus corona lewat Narasi TV, sudah 422,182 (per 23 Maret 2020, 20.40 WIT) postingan Instagram dengan tagar yang sama. Gerakan ini, mengutip Najwa pada postingan Instagram-nya, merupakan “Bagian dari upaya kita bersama untuk mencegah penyebaran virus corona‌ Covid-19 adalah virus yang sangat baru, ada banyak hal yang belum kita tahu soal virus ini. Tapi yang pasti virus ini punya kemampuan menyebar dengan sangat cepat dan orang yang terinfeksi walaupun tanpa gejala bisa menularkan ke siapa saja.â€? Dengan gerakan #dirumahaja, Najwa menghimbau untuk bekerja dari rumah dan keluar hanya jika ada aktivitas penting dan tidak bisa diwakilkan. Sebagai orang yang banyak beraktivitas di rumah, ini tentu bukan hal baru bagi saya. Bekerja dari rumah sudah saya tekuni kira-kira lima tahun belakangan. Tentu saja saya patuh. Juga mafhum pada orang-orang yang pekerjaannya tidak bisa dilakukan dari rumah: tukang sayur, kuli bangunan, dan lain-lain. Mereka mesti bekerja untuk hidup. Dan pekerjaan mereka tak pasti. Untuk itu, kesempatan bekerja di tengah wabah corona pun tak mengurungkan nyali mereka. Di tengah menjalani masa-masa #dirumahaja, saya teringat seorang teman. Namanya Katrin Sofia Ifana Sari Moko atau akrab dipanggil Moko. Ia adalah seorang penulis yang ide dasarnya bertalian dengan ‘broken home’: sebuah kondisi ketidakharmonisan dalam keluarga yang secara umum digambarkan karena kedua orang tua yang bercerai. Sejumlah buku bertalian dengan tema itu ia tulis pada buku: Broken Home (tidak sama dengan) Broken Dreams (2013), Sepayung Berdua (2014), Karena Hidup itu Indah (2015), Setiap Hati Pernah Patah (2017), Menata Luka (2018), dan Kamu Berhak Bahagia (2019). 5
Dari buku “Broken Home (tidak sama dengan) Broken Dreams” yang ditulis Moko, saya jadi tahu beberapa alasan perceraian: pernikahan dini, tidak adanya keterbukaan dan komunikasi yang lancar, ekonomi lemah, perbedaan keyakinan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan lain-lain. Moko sendiri merupakan seorang broken home. Ia merespons gerakan #dirumahaja dengan ucapan: “#dirumahaja tidak apa-apalah, kak, demi melawan virus ini, Tapi kakak tahu, ‘kan, anak-anak seperti saya ini huuhhfff ”. Tinggal di rumah jadi perkara yang sulit bagi anak broken home. Ini disebut Moko dengan: “Orang-orang disuruh #dirumahaja, sementara aku tidak punya ‘rumah’”. Bagi Moko, “rumah” bukan sekadar ruang arsitektur yang kenyamanannya bergantung atap, dinding, dan bentuk-bentuk tertentu. Ia beranggapan ini terjadi “Karena ‘rumah’ itu sudah hilang. Wujudnya masih nyata, namun rasanya manusia-manusia yang dikatakan sebagai keluarga itu tidak lagi menawarkan rasa nyaman sebagai sebuah keluarga. Kehilangan “rumah”, ya kehilangan makna keluarga. Entah, saya merasa seperti ada jarak yang tercipta dengan keberadaan keluarga yang patah ini. Tidak ada keterkaitan satu sama lain. Tidak bersinergi.” Arti rumah bagi Moko lalu bergeser ke sekop yang lebih kecil. Rumah, yang secara umum dihuni oleh beberapa orang dalam ikatan keluarga, tak punya tempat sebagai makna yang definitif. Pengertian rumah, dengan akumulasi pengalaman pribadi, ia gelandang ke dalam dirinya sendiri: “Bagi saya “rumah” itu adalah diri saya sendiri. Tempat pulang paling nyaman adalah diri saya sendiri, setelah kehilangan itu menimpaku.” Kehilangan membikin Moko menemukan pengertian rumahnya sendiri. Sesuatu yang tidak lagi menempatkan rumah dalam pengertian ruang, tapi
6
rumah dalam pengertian ranah; rumah sebagai ruang arsitektur yang dipercaya sebagai a space of staying, tidak memberikan Moko pengalaman spasial. Pada dirinya sendirilah pengalaman spasial itu terjadi. Indikasi ini pun terasa tatkala mengunjungi akun Instagram Behome.id, sebuah ruang yang diinisasi Moko dan dibantu oleh beberapa orang. Pada bio akun itu, terpampang sebuah pernyataan: “’Home’ for everyone”. Sebuah representasi dari pengertian rumah yang dimaknai oleh Moko. Kenyamanan dalam keluarga yang umumnya melingkung sebuah rumah, disajikan Moko dalam bentuk yang lain. Ia ‘membesarkan’ telinganya agar dapat mendengar banyak orang yang punya nasib sama sepertinya. Behome. id pada akhirnya menjadi ‘ruang dengar’ dan teman cerita anak-anak broken home yang jarang punya pengalaman spasial seperti itu di rumahnya. Ketika gerakan #dirumahaja digaungkan, Behome.id mencoba membuka pertanyaan di story Instagram dengan redaksi: “Bagi pengalaman kamu tentang #dirumahaja, yuk”. Moko mengirimi saya hasil tangkapan layar dari jawaban-jawaban followers Behome.id. Kemudian merangkumnya dalam dua jawaban: pertama, kebanyakan anak broken home masih mengalami ketidaknyamanan di rumah. Misalnya jawaban: “Ayah banting pintu mulu”, “Mending di luar rumah, ketemu teman, ketimbang di rumah, pertengkaran mulu”, “Aku jadi tahu, ayah masih berhubungan dengan wanita sialan itu”, “Aku dikekang di rumah”, dan lain-lain. Jawaban ini disebut Moko sebagai dampak yang kontra. Sedangkan yang kedua, yang menurut Moko sebagai jawaban pro, berisi jawaban-jawaban seperti: “Curhat-curhatan sama mama”, “Mama-papa mau rujuk sejak #dirumahaja”, “Aku senang banget, hari ini tiba-tiba ayah chat aku”, “Kak, hari ini aku senang banget, bokap telpon nanyain kabar aku setelah berbulanbulan sama sekali. Apalagi nanya langsung lewat telpon gitu, kak”, dan lain-lain.
7
Gerakan #dirumahaja tidak saja jadi pro dan kontra di kalangan pekerja. Hal ini juga dirasakan oleh anak-anak broken home, mereka yang kehilangan perasaan intim di rumah lantaran kondisi dan situasi tertentu. Di satu sisi, mereka mesti berdiam diri di rumah agar terhindar dari wabah dan tak ikut jika terjangkit, tak menyebarkan virus itu pada orang lain. Hal ini tentu efektif untuk memutus rantai infeksi virus ini. Di sisi yang lain, rumah yang harusnya jadi tempat ternyaman untuk mengisolasi diri, tak menawarkan rasa aman. Tak hanya jiwa, tak jarang fisik mereka pun terancam. Hal ini tentu saja berbahaya bagi psikologi mereka, terutama menyangkut trauma yang hadir sebagai konsekuensi pengalaman spasial mereka di rumah.
8
Di balik sisi kondisi pertama, gerakan #dirumahaja membantu anak-anak broken home untuk menghadapi situasi mereka. Ini bisa jadi berakibat lebih buruk, tapi pun bisa jadi lebih baik. Seperti apa yang bisa kita lihat pada kondisi kedua, di mana beberapa orang tiba-tiba bisa jadi lebih dekat dengan ayah dan ibunya di rumah, bisa bercerita, pun bisa merekatkan ulang jalinan kasih yang lama absen dalam rumah mereka. Segala sesuatu yang bisa jadi jangkar ingatan mereka tentang rumah, seperti, lagi-lagi yang pernah dibilang Avianti Armand dalam buku Arsitektur yang Lain: “Mungkin kita perlu jangkar: momen-momen, benda-benda, orang-orang—yang bisa mengikat ingatan lepas dan mengembalikan rumah menjadi sesuatu yang intim. Yang membuat betah dan memberi makna. Mungkin juga cinta.� (hal 12).
9
Pada akhirnya, gerakan #dirumahaja bukan semata memutus rantai virus yang saat ini ada di sekitar kita. Tetapi ia bisa memutus sekat cinta dan kasih yang terlanjur didepa oleh waktu, lantaran tak pernah diobrolkan dan dimaknai dalam ruang renung setiap orang yang kehilangan rasa nyaman dan aman di rumah. Bagi saya, di satu sisi, gerakan #dirumahaja jadi begitu berat ketika kita hanya meratapi nasib lantaran kadung memosisikan rumah sebagai sesuatu yang asing bagi diri kita. Sebaliknya, jika diterima dan hayati, gerakan #dirumahaja jadi semacam pecut untuk memacu dan memicu obrolan-obrolan singkat maupun panjang di rumah. Tetapi tentu saja, ini bisa berbeda bagi mereka yang mengalami langsung fenomena broken home. Saya bisa bilang begitu lantaran tak punya pengalaman spasial menjadi broken home, dan tidak fair rasanya mengukur perasaan mereka dengan neraca pikir dan perasaan saya. Sebenarnya, Behome.id pun bukan melulu ruang ratap bagi anak broken home. Ia justru menjadi rumah yang berusaha membantu anak-anak broken home keluar dari kerangkeng psikologis yang sudah lama terakumulasi dalam bentuk dendam, benci, dan lain sebagainya. Secara berkala, ruang bernama Behome.id itu jadi kenyamanan dalam bentuk yang baru. Ini disebut Moko dengan mengatakan bahwa “ketika saya bikin ruang temu untuk anak-anak broken home, mereka tak segan untuk bercerita. Meski barangkali mereka baru mengikuti akun Behome.id baru sebentar. Itu indikasi bahwa mereka nyaman dengan Behome.id dan nyaman dengan saya sebagai rumah untuk mereka�. Semoga, gerakan #dirumahaja dimaknai dan dijalan dengan sepenuh hati oleh mereka, anak-anak broken home yang berujung sebagai ruang rekonsiliasi. Semoga virus corona dan perasaan-perasaan tak nyaman dan aman segera berlalu. Semoga rumah yang kadung jadi a space of going bagi anak broken home, bisa kembali jadi a space of staying!
10
Ilustrasi Aan Saputra
“
Pada akhirnya, gerakan #dirumahaja bukan semata memutus rantai virus yang saat ini ada di sekitar kita. Tetapi ia bisa memutus sekat cinta dan kasih yang terlanjur didepa oleh waktu, lantaran tak pernah diobrolkan dan dimaknai dalam ruang renung setiap orang yang kehilangan rasa nyaman dan aman di rumah.
- Fauzan Al Ayyuby 11
Ilustrasi Aan Saputra 12
“
“Home’s where you go when you run out of homes.” - John le Carré
13
14
Aku menunggumu di pertigaan malam menuju pagi.
Setelah kalender mengakhiri masa di akhir bulan.
Setelah suara sirine ambulans mengantar jenazah ke rumah duka.
Kesunyian kembali dirayakan.
Suara tangisan memberi pelukan di ambang pintu. Bukan aku, belum waktunya. Kini kesepian telah menjadi selimut. Senyap menjadi nyata. Ketakutan berseliweran di kepala.
Doa-doa terapal menuju puncak langit. Sebanyak apa ketika waktu untuk ditalkinkan akan tiba. Sebanyak ingat tentang kematian yang akan menemui tubuh. Bangku-bangku kududuki.
belum
sepenuhnya
Membunuh kekhusyukan.
Di atas meja masih ada catatan tagihan buku, tangisan rindu yang belum tuntas.
Misteri, sebab maksud yang disamarkan.
Tak ada keberangkatan hari ini.
Akankah bumi marah, karena kita yang selalu banyak drama.
Aku belum ingin menemui yang terakhir kali.
Ini seperti Ababil, menghancurkan kesombongan Abrahah.
Gowa, 2020
Membinasakan keserakahan dalam diri. Lalu mata merangkak di cahaya samar.
15
Artwork Dini Utami 16
“
“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn’t supposed to look nice; it was supposed to make you feel something.”
- Rainbow Rowell, Eleanor & Park
17
18
Negara Cina dikagetkan dengan fenomena baru di kota Wuhan Provinsi Hubei, Tiongkok sebelah barat dari kota Hongkong. Muncul wabah baru virus Covid-19 atau Corona, dan dengan cepat menelan ratusan warga Negara Cina bahkan ribuan di kota Wuhan. World Health Organization (WHO) nyatakan Virus baru Covid-19 adalah penyakit pandemi dan dunia harus berwaspada. Virus ini menyerang hampir seluruh daerah di Cina. Karena virus yang menurut saya �katanya� ini ditemukan dari hewan kelelawar yang bermutasi dengan ular, akhirnya melalui lendir hewan kelelawar yang dikomsumsi manusia di kota Wuhan menjadi virus yang mematikan. Tinggal hanya satu bulan virus ini menyebar ke beberapa negara Eropa dan hampir seluruh negara. Di Italia, tragedi kematian miris sama dengan yang di Cina, malah sekarang sudah lebih dari Cina. Tapi karena di kota Wuhan dengan cepat pemerintah melakukan lockdown, Cina berhasil bebas dari virus Covid-19. WHO telah mengeluarkan perintah untuk Dunia berwaspada karena Virus Covid-19 ini pandemi dan virus sangat ganas. Kini telah membunuh berbagai manusia di beberapa Negara termasuk Indonesia karena sebelum virus masuk ke Indonesia belum ada kata di rumah saja atau tidak ada aksi menutup akses dari luar negeri oleh Pemerintah Pusat karena mungkin pertimbangan pada kebutuhan Negara. Dalam kurun waktu satu minggu, wabah virus corona sudah membunuh puluhan warga Negara Indonesia, dan kini setiap hari terus naik jumlah positif yang tertular dan yang meninggal. Pemerintah tidak berani lockdown, malah yang muncul idiom �dirumahsaja�. Menurut saya, pilihan tepat jika pemerintah mengintrusikan rakyat di rumah saja. Tapi bagaimana kalau kasus positif terus naik setiap hari. Apakah benar, rakyat sudah dirumah saja? Atau karena kebutuhan sehari-hari, misalnya soal makan dan minum, 19
ini soal karena tidak mungkin rakyat semua punya stok makanan di rumah, kos atau dikontrakan. Bagaimana kalau lockdown? Saya setuju jika Indonesia keluarkan perintah untuk lockdown untuk mewujudkan kata di rumah saja dengan cara yang lebih keras dan disiplin. Tapi bagaimana dengan soal kebutuhan sehari-hari tadi, dengan rakyat yang hidup di kota dengan bahan makanan distribusi dari luar daerah? Pemerintah siapkah untuk mengisi beban itu selama Pemerintah membasmi virus corona? Papua tidak lockdown, hanya Papua menutup akses udara dan laut oleh Forkopimda pemerintah daerah Papua. Rakyat dipertegas harus tinggal di rumah untuk menghindari menyebaran Virus. Ada tata tertib yang telah disepakati oleh pemerintah daerah demi berperang melawan wabah virus Covid-19 dan juga soal kebutuhan sehari-hari. Jika lockdown dipakai pemerintah pusat untuk menegaskan kata di rumah saja, saya pikir rakyat akan lebih banyak menggeluh soal kebutuhan makan dan minum tadi, dan juga soal psikologis juga akan menjadi persoalan yang mengakumusi dalam satu ruang yang sama. Saya rakyat yang memilih hidup di kaki gunung setelah pemerintah mengeluarkan perintah di rumah saja. Ada hutan dan pasti ada kebun sebagai tradisi suku saya yang diwariskan nenek moyang. Berkebun dan hidup di hutan adalah tradisi saya yang telah lama menjadi filosofis hidup suku saya. Soal di rumah saja dengan adanya situasi yang tidak kondusif ini, tidak masalah bagi saya yang kadang bepergian bersama keluarga untuk berkebun. Artinya, aktifitas baru yang diubah karena tragedi kematian itu tidak mengganggu masyarakat tani yang hanya butuh satu hari dalam seminggu untuk pergi ke kota. Ketika rakyat dipaksa Pemerintah harus berwirausaha di kota dengan modal kredit atau lainnya. Kebiasaan bertani menjadi taruhan. Banyak rakyat berbondong pergi ke kota untuk hidup dengan barang impor dalam hitungan uang. Banyak peluang ditawarkan Pemerintah agar sukses menggelola manajemen keuanggan di kota.
20
Dusun menjadi kosong dan menjadi primitif. Datanglah tragedi yang harus memisahkan kita dari kota untuk hidup bebas jauh dari keramaian kota selain keluarga. Banyak program kerja pemerintah yang selama ini telah melupakan pengembangan kearifan lokal dan peluang bagi petani untuk berkebun di dusun masing-masing. Padahal pengembangan ini penting untuk sebuah kemandirian hidup bagi rakyat. Ketika perusahan asing dan lokal membikin kebun sawit, tambang, gas dll. Bagaimana caranya rakyat menjadi raja tani di gunung mereka di dusun mereka dan menjadi tuan di atas negeri mereka? Bagaimana cara hidupnya ketika rakyat harus ke kota dan menggadu nasib di kota dan hari ini datanglah musibah wabah virus hingga harus tinggal di rumah. Bagaimana jaminan hidup rakyat? Dusun telah dihidupi industri milik negara- negara adidaya. Saya berpikir, “Okey Locdown saja�. Di kota mereka akan di rumah saja, saya tidak! Saya pernah hidup di dua cara hidup manusia klasik dan moderen di Papua. Saya pernah makan di MCDonald, KFC, CFC dan rumah makan elit lainya selama saya tinggal di kota. Di Jakarta, Jayapura. Setelah saya pulang ke Dusun, saya mengomsusi ubi, singkong, pisang dan sayuran tanpa ada garam dan bumbu suplemen lainya. Saya punya banyak pilihan soal kebahagian (Psikogi). Saya bahagia ketika duduk di kedai kopi dan minum V60, Vietnam Trip, Latte, Kopisusu sambil baca buku dan diskusi bersama teman di kota. Di dusun di gubuk kecil dengan modal menerang yang berkekuatan Aki dan Solarsel juga kopi tubruk ditungku api di dapur dan buku bacaan, tidak ada yang kurang. Kota dan dusun adalah kebahagian yang sama bagi saya. Bersama kopi dan bacaan di pagi hari di kota maupun di gubuk tua di dusun dan kota, saya tidak akan di rumah saja. Pemerintah mengeluarkan perintah di rumah saja di kota, boleh untuk rakyat lain di kota. Saya ganti saja dengan idiom versi saya, �di dusun saja�. Inilah barangkali setelah wabah virus Covid-19 atau Corona ini berlalu Pemerintah atau rakyat berkaca pada kehidupan hari ini yang menurut saya memberikan pelajaran hidup. 21
Kota maupun di kampung (dusun) dapat memberi kita hidup dengan banyak pilihan. Banyak pilihan namun banyak perbedaan, tergantung Pemerintah dan masingmasing rakyat untuk menciptakan ruang-ruang yang baik untuk kelangsungan hidup warga negara maupun kelangsungan hidup setiap diri masing-masing rakyat. Sebagai kesimpulan, masalah di rumah saja harus menjadi opsinya, soal kebutuhan hidup, mau apapun keputusan yang diambil, harus adil atau seimbang untuk menjaga kebutuhan Negara ke depan. Namun menurut saya, kemanusiaan lebih penting daripada kebutuhan ekonomi negara, politik, dan ideologi. Kita mesti ketahui ciriciri virus Covid-19. Kesimpulannya di rumah saja adalah pilihan rakyat kota untuk mengghindari keramaian manusia. Tapi bagi saya disini, �di dusun saja�.
“
Saya rakyat yang memilih hidup dikaki gunung setelah pemerintah mengeluarkan perinta dirumahsaja. Ada hutan dan pasti ada kebun sebagai tradisi suku saya yang diwariskan nenek moyang pertama.
- Nomensen Douw
22
Artwork Faizal Hafizh
23
24
Entah apa salahku. Entah apa yang membuatmu memblokir semua Whatsapp, telepon, dan sms. Kutak mengerti apa maksudmu; apa inginmu. Di sini kubertanya-tanya mengapa dan mengapa kau begitu. Apa yang kau fikir tentang hidupku? Sudah bosankah kau denganku? Sudah tak mau, ya, bilang. Bukan dengan cara seperti ini. Sakit memang kau buat seperti ini. Kenpa hadir dalam hidupku? Mengapa datang? Kalau ku tahu sejak kita kenal, aku tak mau menahan sakit seperti ini. Tega kau. Tak kusangka kau sejahat ini: melukai jiwaku. Kalau kau sudah tak sudi lagi denganku, bilang terus terang. Letaknya di mana hingga kau tak mau denganku? Aku bertanya-tanya seakan truma menerima kenyataan ini.
Ya aku harus terima. Biar saja. Aku ikhlas. Aku pasrah. Aku yang sudah kau sakiti sudah mmbuat kujatuh di pelukanmu. Semua sudah kuturuti. Inginmu sudah aku lakukan. Setelah kau dapatkan, kau tinggal begitu saja. Kurang apa aku? Kurang apa? Tolong jelaskan. Aku mengalah bukan berarti aku kalah. Bukan berarti aku tak mampu untuk membuatmu nyaman dan sebagainya. Aku mengalah karena aku sadar, aku bukanlah yang kau inginkan. Maaf kalau selama ini aku melakukan kesalahan. Mulai sekarang aku harus terima kenyataan ini. Kenyataan pahit ini ya aku harus terima.
25
26
Artwork Nina K Ratudillak
27
28
Antisipasi Karantina Wilayah, pulang dari sekolah saya bergegas ke kios sembako. Saya membeli beras, minyak goreng dan beberapa kebutuhan pokok lainnya. Wah, sudah diduga, semua harga barang sudah naik. Saya tancap gas pulang ke rumah, sengaja tidak singgah ke apotik untuk membeli masker, sudah pasti stok habis. Ini benar-benar masa-masa “gila�. Kita menyaksikan semua kengerian ini. Petaka Covid-19. Hal ini membuat semua orang panik dan kuatir. Virus ini menakutkan seperti hantu Suanggi. Seseorang bisa terjangkit tampa ada tanda-tanda. Serta orang yang menyebarkan bak hantu misterius. Sehingga, setiap orang yang habis bepergian bisa diberi label ODP (Orang Dalam Pantauan).
Musibah Virus Corona (Covid-19) dan hiruk-pikuknya juga sampai ke Tanah Papua. Negeri yang dianggap orang jauh, hutan belantara dengan segala keganasannya. Meski sebenarnya ada juga beberapa perkotaan. Namun, teknologi membuka pintu ke sini. Termasuk kesempatan wabah Corona berjangkit di Papua. Saya tidak bisa membayangkan kalau virus ini datang dari luar Papua lalu menjangkit warga di pegunungan dan lembah. Daerah pegunungan di Papua tentu adalah daerah yang sulit, terutama akses kesehatannya. Puskemas saja sangat sulit ditemukan di daerah pedalaman di Papua, apalagi rumah sakit. Belum lagi akses yang sulit untuk membawa masyarakat yang terjangkit ke rumah sakit. Bila itu terjadi, hal ini bisa sangat menakutkan. Masyarakat mungkin hanya bisa pasrah menunggu ajal. Apalagi rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya social distancing dan kebersihan. Apalagi masyarakat Papua identik dengan berkumpul-kumpul. Mereka suka duduk di para-para (sejenis gazebo di bawah kayu besar) sekedar mengisi waktu sore.
29
Melihat bahaya wabah ini, saya membandingkan dengan wabah malaria. Sumber Tempo, Jum’at 24 April 2015, setidaknya menyebutkan bahwa rasio malaria di Papua mencapai angka 43 per 100. Artinya, 43 dari 100 orang terkena malaria. Resiko kematian karena malaria di Papua juga tidak bisa dipandang enteng. Malaria juga menjadi salah satu penyakit mematikan di Provinsi Papua Barat. Sekitar 15 persen penyebab kematian di Papua Barat disebabkan oleh malaria. Saya sering sekali melihat bayi dimakamkan di tempat pemakaman belakang sekolah. Umumnya keluarga mengaku bayinya meninggal karena malaria. Menurut Unicef, angka kematian bayi di Papua tiga kali lipat dibanding Jakarta. Apa yang terjadi pada kasus malaria adalah gambaran bahwa daerah ini sangat rentan bila wabah ini menyebar di Papua. Ketersedian fasilitas kesehatan, dan tenaga medis tidak memadai. Itu terlihat pada kasus-kasus yang pernah terjadi di Tanah Papua. Contohnya kasus malaria, AIDS, dan gizi buruk. Kondisi lingkungan dan terbatasnya akses kesehatan menjadi salah satu penyebabnya. Papua sangat berbeda dengan daerah lain yang mungkin memiliki tingkat responsif lebih baik, karena beberapa keunggulan dan keuntungan. Malaria mungkin seperti “mainan” bagi orang yang tinggal di Papua. Kata mereka, “yang penting perut jangan kosong”. Tapi, Virus Corona bukanlah wabah seperti malaria. Virus Corona dianggap hasil rekayasa manusia, walau juga disanggah oleh otoritas di Wuhan, Cina tempat virus ini mulai muncul. Di tengah kesimpangsiuran itu, nyatanya telah melumpuhkan Italia. Sebanyak 190 negara terjangkit, dan 37 ribu lebih sudah menelan korban nyawa. Angka-angka tersebut terus naik. Wilayah penyebaran tiap hari makin luas. Orang-orang dari luar datang ke gunung dan lembah di Papua untuk berbagai urusan. Apakah itu urusan dinas, tugas luar kota, ekspedisi, penelitian atau berwisata. Apalagi bulan Oktober akan diadakan PON di Papua. PON akan melibatkan banyak orang. Orang-orang lintas provinsi datang. Orang-orang datang ke gunung dan lembah melewati perjalanan panjang dan melelahkan. Tidak ada bus, atau kereta. Pilihan cuma naik mobil ‘ranger’ atau naik pesawat perintis. Lalu kehadiran mereka ternyata membawa penyakit. Dan, mereka kembali ke kota meninggalkan wabah pada penduduk gunung atau lembah. Sementara kita tahu, bahwa akses di tempat tersebut 30
sangat sulit, apalagi ketersediaan tenaga medis. Kekuatiran masyarakat Papua terasa sangat wajar. Hari Selasa, 31 Maret 2020, sekelompok masyarakat kawasan Bandara Rendani, Manokwari mengblokade jalan. Hal tersebut terjadi karena penumpang pesawat yang baru saja terbang dari luar kota diduga ada yang terjangkit, hal tersebut terlihat setelah dilakukan cek suhu badan. Masyarakat meminta penumpang tersebut dikembalikan ke daerah asal. Walau ketiga penumpang tersebut belum terbukti terjangkit saat itu. Namun, reaksi masyarakat sudah memperlihatkan kekuatiran dan mendesak dilakukan karantina wilayah di Manokwari. Walau karantina itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Manokwari awalnya tidak begitu resah saat Jakarta sudah mulai dihebohkan dengan Corona. Beberapa hari Manokwari dan Papua masih dianggap aman. Namun, setelah ada warga ODP (Orang Dalam Pantauan) dan orang yang positif terjangkit Corona, orang-orang mulai ketakutan dan panik. Setidaknya terdapat 2 kasus (hingga 30 Maret 2020) di Papua Barat (Sorong). Satu meninggal, satu lagi dirawat intensif. Saking paniknya, bahkan ada warga sekitar TPU di Sorong menolak jenazah yang diduga meninggal karena terjangkit Corona. Padahal masih berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan), belum sempat diambil sampelnya. Sekolah pun segera diliburkan di Manokwari, kecuali siswa yang sedang mengikuti Ujian Sekolah (US), dan PNS dilarang berkantor. Hingga 28 Maret 2020, Bupati Manokwari, Demas Paulus Mandacan mengeluarkan instruksi tertulis larangan bepergian keluar dan masuk ke daerahnya. Kegiatan barang dan jasa dibatasi. Bupati sangat menyadari kondisi daerahnya. Maka, terhitung 30 Maret 2020 siapapun dilarang melakukan perjalanan keluar dan masuk ke Manokwari dengan semua jenis alat transportasi. Sejak pertengahan Maret 2020, merupakan masa-masa sulit. Setidaknya begitu saya rasakan. Tidak ada lagi mengajar ke sekolah, padahal belum masa libur sekolah. Pelaksanaan Ujian Nasional juga sudah resmi ditiadakan. Di rumah biasanya sore hari anak-anak datang belajar membaca, sekarang tidak ada lagi. Bersama teman-teman komunitas literasi biasanya juga selalu ada kesibukan. Sekarang semua terhenti. Ini 31
menakutkan. Ini juga pertama kali Shalat Jum’at dilarang. Aktivitas di gereja juga ditiadakan. Saya berhari-hari di rumah, mengikuti ajakan “di rumah aja�. Sekali-kali menelpon keluarga, memastikan saya masih hidup dan mereka juga masih ada. Ada hikmah yang bisa diambil dari petaka ini. Setidaknya, sekaranglah kita berkesempatan menjadikan rumah sebagai istana. Menyadari pentingnya tanaman disiram pagi hari, perlunya bak mandi dikuras tiap hari, memperbaiki platfon rumah yang rusak, perlunya buku-buku yang sudah dibeli untuk dibaca, pentingnya menemani anak bermain, menyadari indahnya ada mushala atau gereja mini di rumah sendiri. Mungkin selama ini kita mengabaikannya.
“
Kondisi lingkungan dan terbatasnya akses kesehatan menjadi salah satu penyebabnya. Papua sangat berbeda dengan daerah lain yang mungkin memiliki tingkat responsif lebih baik, karena beberapa keunggulan dan keuntungan.
- Ricardo Safei Desima
32
Artwork Safei Ricardo Desima
33
Achmad Teguh Saputro
Senin lalu saya ingin makan batagor andalan di depan mantan kampus. Nah, karena kepatuhan saya terhadap negara, maka saya tetap #dirumahsaja dan meminta si kardus yang membelikan. Tapi ternyata dia malah ngobrol dengan mas batagor sambil makan batagor saya. Tapi sudahlah, setidaknya mengetahui obrolannya dengan mas batagor membuat saya bersyukur masih bisa di rumah saja di saat masih ada org yg harus di jalan saja. Sekian.
34
Artwork Achmad Teguh Saputro
35
36
Wabah Covid-19 kian meresahkan seisi dunia, bagaimana tidak, wabah yang pertama kali muncul di wuhan Cina ini, telah merambat lebih dari 182 negara tidak terkecuali di Indonesia dengan penularan yang sangat mudah, yang bisa terjadi hanya dengan bersentuhan fisik dari si penderita sehingga penyebaranya sangat cepat. Pada saat ini sudah meluas ke 31 provinsi dengan pasien terinfeksi positif terus bertambah begitu juga yang meninggal dunia. Kapan wabah ini akan berakhir? Tidak ada yang bisa menjawab pasti hal tersebut, namun sebagai upaya untuk membatasi penyebaranya pemerintah pusat telah mengeluarkan maklumat agar menghindari kerumunan publik dan untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah masing-masing (di rumah saja). Bagaimana harus dirumah saja? Berdiam diri di rumah diyakini mampu menghentikan laju penularan, namun untuk sebagian orang berdiam di rumah mungkin bukan sesuatu yang jadi masalah, tapi bagi beberapa orang yang lainnya akan menjadi masalah yang mengharuskan mereka utuk tetap bekerja di luar rumah, mencari nafkah di luar rumah, mau tidak mau hal itu harus dilakukan di tengah kebijakan tanpa solusi dari pemerintah. Bagaimana tidak jika setiap orang diharuskan berdiam diri di rumah tentu akan menjadi dilema bagi mereka masyarat ekonomi rendah,orang-orang yang tidak mampu, pengangguran atau mereka pekerja harian yang bisa hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya? “bekerja diluar rumah sangat riskan tertular C19 dan mungkin akan mati, berdiam diri di rumah bisa kelaparan dan juga bisa mati�.
37
Nah untuk itu pemerintah perlu memperhatikan aspek kesehatan dan aspek ekonomi agar mereka masyrakat bawah ini tetap bisa “di rumah aja� memastikan kesehatan mereka terjamin, dan kecukupan finansial bisa terpenuhi selama mereka di rumah aja. Penutup dari tulisan ini. Hilangkan ego, Mari bergandengan tangan, bersatu, bahu-membahu untuk memerangi virus mematikan ini.
“
Berdiam diri dirumah diyakini mampu menghentikan laju penularan,namun untuk sebagian orang berdiam dirumah mungkin bukan sesuatu yang jadi masalah...
- Agus Shalim
38
Ilustrasi Aan Saputra 39
40
Saya terkurung dalam kamar. Segala aktivitas di luar terhenti. Pekerjaan harianku sebagai wartawan yang tak kenal waktu ikut terhenti. Sebab semua narasumber kembali berdiam diri dalam rumah. Kegiatan-kegiatan komunitas yang selalu menjadi headline di media online yang saya bekerja pun terhenti. Waktu bertemu kerabat, kolega, keluarga, teman komunitas pun seakan lenyap. Sulit bagi seorang wartawan berdiam diri dalam kamar. Sebab berdiam diri dalam kamar bukanlah hobiku. Bahkan istirahat malam, yang juga adalah kebutuhan setiap manusia untuk menjaga kebugaran tubuh pun sebelumnya sering saya hiraukan, sebab bagiku, waktu adalah Tuhan setelah Tuhan yang saya yakini memberiku pekerjaan ini. Memburu waktu. Kehilangan narasumber, bagiku adalah kehilangan segalanya. Dan sekarang saya harus bisa mengendalikan situasi ini. Sebab dalam diriku ada pikiran. Pikiran itu yang harus saya gunakan sebaik mungkin untuk mengisi hari-hari yang seakan mengurungku. Kenyataannya, yah. Saya terkurung. Apa sebabnya semua itu bisa terjadi? Tidak perlu lagi saya jelaskan. Sudah pasti! Gara-gara Corona. Corona mengurungku, tetapi haruskah saya menyerah? Tidak. Saya harus mengambil langkah lain untuk melawannya yaitu menghadapi ketakutan yang ada dalam diriku sebelum mengatakan menyerah pada situasi ini. Dan bangkit kembali lalu mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Ketakutan itu wajar sebab semua manusia dunia menghadapi satu fase yang sama. Menghadapi wabah virus Corona. Tetapi saya sadar, Corona tak berkuasa atas diriku jika saya mengenal diriku terlebih dahulu dan setelahnya saya mengenal Corona. Aktivitas baru segera dimulai. Dalam kamar, kutemukan ide. Menghubungi narasumber, mengikuti perkembangan epidemi Covid -19. Walau dalam kamar, selama internet masih jalan, saya bahkan meresa keliling dunia. Yah, keliling dunia 41
dengan membaca berita. Berita tentang tenaga medis yang menjadi garda terdepan dan bukan kekuatan militer. Tenaga medis yang kehilangan waktu istirahat bersama keluarga, APD yang kurang, bahkan berita tentang tenaga medis yang meninggal ketika menjalankan pekerjaan yang mulia ini. Juga mengikuti update terbaru tentang perkembangan virus Corona. Selain itu, waktu terbaik bagi saya untuk membaca berita tentang kenyamanan wartawan Indonesia ketika negara lalai menghormati profesi para wartawan. Publik minta data sesuai dengan yang di lapangan, wartawan tak mampu bergerak maju menyusuri ruas-ruas jalan, hanya karena tidak tersedianya APD yang layak bagi mereka. Wartawan meng-update situasi terkini dengan mengandalkan jaringan internet. Di situ saya sadar, walau virus Corona menguasai dunia, tetapi yang berkuasa adalah teknologi. Salah satu bukti adalah dengan teknologi, dapat dilakukan percakapan tatap muka dengan keluarga, kekasih dan sahabat tanpa sentuhan. Layar di android itu mampu menghilangkan segala kerinduan manusia antar manusia. Masih dapat tertawa dan berbagi cerita. Tapi, teknologi juga tidak berkuasa, buktinya, di daerah terpencil yang tak terjangkau belum bisa merasakan kehadiran teknologi. Di kota-kota, orang-orangnya merasa diri jiwanya telah merdeka, tetapi di kampung-kampung (tak terjangkau internet) dan perputaran informasi yang masih mengandalkan dari mulut ke mulut (lisan). Saya rasa prihatin dengan mereka, sebab saya pernah hidup di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk perkembangan dunia ini. Tentu, saat ini (mereka) dalam suasana yang panik. Yah, semua itu kerana Gara-gara Corona. * Segala sesuatu yang diciptakan adalah dua dimensi. Begitupun juga Corona, sisi negatifnya adalah memakan Jutaan ribu korban nyawa manusia. Dan Corona menjadi perbincangan panjang di kalangan inteltek-intelek dunia. Ada yang mengatakan 42
Virus Corona ciptaan manusia dan ada pula yang mengatakan kutukan Tuhan ketika manusia-manusia di dunia menghiraukan ciptaan Tuhan. Lagi-lagi perdebatan antara ilmu pengetahuan dan agama itu benar-benar terlihat. Terlihat, ketika orang-orang disekitarku menanggapi kehadiran waba virus ini. Tetapi, minta maaf, saya bukan mau bahas soal ini. Sisi positifnya, dengan kehadiran corona, bagi mereka yang sadar akan penyebaran virus ini, berkesempatan untuk duduk bersama dalam rumah. Lengkap (Ayah, Ibu serta anak-anak berdiam diri). Selain itu, bagi mereka yang terpisah (pelajar dan mahasiswa) yang merasakan dampak dari lockdown. Hanya bisa menghabiskan waktu dalam kediaman mereka masing-masing lalu luangkan waktu pada diri sendiri dan menemukan diri yang utuh. Ia, sudah cukup mengulas tentang mereka. Kerana edisi #5 Magazine menaruh tema: #dirumahaja. Saya ingin berbagai cerita kepada pembaca apa saja yang saya lakukan selama di rumah. Hal pertama yang saya lakukan waktu di rumah adalah tidur-tiduran. Sudah jelas, tidak berbuat apa-apa. Tetapi sabar dulu, masih ada kegiatan lain lagi, selain tidur doang, hehe. Nonton Film. Film tentang pengetahuan dan bukan drama Korea. Saya (pribadi) sudah muak nonton drama cinta-cinta yang diperagakan di layar TV yang tidak sejalan dengan kenyataan hidup manusia. Lebih baik bagi saya nonton film yang memberi edukasi dan motivasi. Jika saya mau jelaskan tentang Film-film yang saya nonton, maka itu akan memakan lembaran kertas sehingga saya cukupkan di sini. Selanjutnya, saya hambur buku di kamar tidur. Berantakan. Tujuan hanya satu, saatsaat tidak ada pekerjaan saya ingin membaca buku-buku yang berserakan. Walau tidak membaca sampai selesai, tetapi pada intinya, saya telah meluangkan waktuku pada buku. Yah, saya hampir lupa, update status di medsos (Fb dan WA) tentang isi kepala 43
(pikiran) yang muncul seketika yang mengandung kata-kata iseng, juga pengetahuan. Beberapa kali saya abadikan momen ketika duduk di tungku api dan mengajar adik laki-laki memasak. Setelah empat hari di rumah terhitung sejak 27 Maret lalu, saya chatingan dengan teman jurnalis di Jayapura. Kami berdiskusi banyak tentang persolan negeri-saling sapa memberi kabar. Tidak kehilangan ide. Setelah tidak ada bahan pembicaran lagi yang mesti di bicarakan, kami berdua merangkai kata, menulis puisi yang diberi nama sambung kata. Kegiatan ini kami lakukan selama tiga hari dan menghasilkan kurang lebih 10 puisi. Puis tentang cinta tanah air; tentang cinta dua insan manusia yang terbawa perasaan untuk jatuh cinta dan tentang Kehidupan. ...hanya dalam kata, perasaan terkuak dan tak terhenti kata-kata itu mengalir seperti sungai .. ado (aduh)... stop. Berikut adalah salah satu dari sekian puisi yang dihasilkan bersama: Hujan... barangkali mata pria itu dan matamu adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan serupa api kepada abu seperti aku kepada kamu Ketika diri Aku hadir dalam kata-kata Bisa jadi ujung lidah yang bercabang...
Ibarat mendung, Tak pasti turun hujan. Seperti aku kepada kamu Bertemu merangkai kata-kata di dumai
44
#Sambung Kata ... PUISI TERAKHIR... Akhir dari chat ini berakhir dengan puisi tentang Corona: Saya mengawalinya dengan mengetik kata “Corona�...
45
Setelah digabungkan: Corona... Senjatamu menikam Hidup Rutinitasku terhenti Seperti seorang tahanan bebas Kau hadir bak raja di bumi Semua manusia menakutimu Kau membunuh dalam waktu yang singkat Tetapi... Kau juga beri aku arti hidup Ternyata hidup mesti diperjuangkan.
#Sambung Kata Setelah digabungkan:
Corona... Senjatamu menikam Hidup Rutinitasku terhenti Seperti seorang tahanan bebas Kau hadir bak raja di bumi Semua manusia menakutimu Kau membunuh dalam waktu yang singkat 46
Tetapi... Kau juga beri aku arti hidup Ternyata hidup mesti diperjuangkan.
#Sambung Kata ---------------------Ini adalah keseharian saya selama di rumah untuk mencegah penyebaran COVID-19. yaitu bisa berkumpul dengan keluarga. Saat-saat di rumah saat yang tepat untuk mendapatkan waktu bersama keluarga yang sering hilang karena kesibukan seharihari. Sekarang kesempatan untuk bersama lagi. Walau tanpa kekasih (oh no) walau kadang-kadang melelahkan tapi wajarlah namanya di rumah 24 jam. Yang penting jaga diri, jaga keluarga dan atau selamatkan diri, selamatkan keluarga. Maka di rumah lebih baik. Yang pasti, kekasih di seberang sana... beri kabar...Sssstop.
47
48
Saya tiba-tiba teringat ucapan seorang pengajar kosmolog di Universitas Indonesia, Premana W Premadi: “Kita baru berhenti menertawakan krisis global bila krisis itu telah mendarat di rumah kita�. Kalimat ini sepadan dengan situasi di mana pemerintah Indonesia sempat meremehkan wabah itu saat masih di Wuhan, lalu ke Korea Selatan, Iran, dan kemudian Italia hingga berjalan sampai ke 114 negara. Sikap meremehkan itu hadir dalam umpatan dan sikap-sikap yang menandakan anti-sains. Seolah-olah wabah ini hanya bisa dihadapi dengan mantra-mantra, sungguh sikap ini menistakan nalar. Sangat mengecewakan. Sebab seharusnya negara adalah pintu utama di mana setiap kebijakan lahir melalui dewan rakyat untuk melindungi rakyatnya. Sejak terdengar kabar dunia sedang menghadapi wabah penyakit yang menular dengan cepat, saya mulai menepi dari ragam aktivitas di luar rumah. Tentu hal itu saya lakukan jauh sebelum #dirumahaja mulai memenuhi langit-langit sosial media. Alangkah baiknya memang, orang-orang memahami ini berangkat dari kesadaran terhadap kerja-kerja sains, wabah dapat menyebar cepat melalui kontak fisik. Kalaupun mereka terpaksa beraktivitas di luar rumah, sebaiknya negara hadir dalam memberikan solusi, sebab rakyat memilih perwakilan rakyat adalah untuk menjawab permasalahan sosial. Namun di waktu bersamaan, tagar itu menemui kritikan tajam dari sebagian orang terutama buruh harian. Tagar di rumah aja mungkin bisa efektif pada mereka yang ekonomi berada di atas rata-rata. Lalu bagaimana dengan buruh harian? Tidak banyak yang saya bisa kerjakan dirumah, selain membantu Ibu memasak, mencuci pakaian, merapikan pekarangan rumah, memperbaiki akhlak terhadap lingkungan, menulis, membaca, nonton tv, dan rebahan. Oh ya, sesekali mengumpat ke pemerintah yang saya percaya dapat mengambil keputusan cepat tanggap saat 49
situasi darurat ini, tapi malah mengecewakan. Saya mengumpat lewat status Whatsapp, Instagram ataupun Twitter dan itu kadang bikin ambyar. Saat berada di rumah saya membuka kembali beberapa catatan pelajaran Tarikh sewaktu duduk di pondok pesantren. Di catatan itu saya membaca kembali bagaimana Abu Bakar–sahabat Rasulullah saat menghadapi musim dingin dan badai gurun yang berkepanjangan. Di mana situasi saat itu, tentu untuk mendapatkan makanan sangat sulit. Ternak-ternak mati kelaparan dan kebun tidak berbuah. Hewan ternak dan buah-buahan yang masih tersisa, tidak ditimbun untuk keperluan seorang atau sekelompok, melainkan dibagi rata keseluruh warga. Abu bakar sebagai pimpinan negara mengambil inisiatif membagikan selimut, gandum dan daging onta, domba yang dia kumpulkan dari para hartawan, dermawan untuk diperolah kelompok yatim piatu, para janda, perantau, dan mereka yang hidup serba keterbatasan. Sementara para cendikiawan dibiarkan memikirkan bagaimana cara mengatasi masalah ini, para dermawan tidak pernah berhenti bekerja membantu Abu bakar. Saya memahami sikap itu sebagai sebuah kesadaran komunal untuk saling menjaga. Apakah sikap itu hadir hari ini, ya? Tentu apa yang terjadi di masa Abu bakar juga terjadi pada masa kini. Banyak para dermawan melalui kotak-kotak donasi bekerja untuk kemanusiaan. Namun, jauh sebelum kita bicara bagaimana menghadapi wabah ini, atau berfikir bagaimana bisa makan dan terus hidup disituasi rumit ini, ada baiknya kita memikirkan kembali pola hidup manusia pasca revolusi pertanian, industri, teknologi dan bahkan revolusi saintifik di mana pola hidup kita benar-benar telah mengeksploitasi alam. Yuval Noah Harari menulis dalam Sapiens Sejarah Ringkas Umat Manusia Dari Zaman Batu Hingga Perkiraan Kepunahannya bahwa “binatang-binatang yang sangat mirip manusia modern ada sekitar 2,5 juta tahun lalu. Namun, sepanjang banyak generasi yang tak terhitung jumlahnya, mereka tidak mampu mengungguli kedigdayaan organisme-organisme lain yang berbagi habitat dengan mereka�
50
Manusia menjadi satu-satunya spesies yang mendominasi Bumi. Mendengar dan atau, membaca ceramah ilmiah yang sangat penuh analisa fakta, saya terbangun dari tidur panjang tentang peradaban yang dipimpin oleh spesies manusia. Sebab sebelumnya saya tidak pernah mengalami kondisi nyata di mana wabah virus itu seolah-olah datang menyatakan perang dengan manusia. 1918 pernah ada wabah flu Spanyol yang melanda Hindia Belanda, Indonesia sebutan saat ini. Tentu saya tidak mengalaminya, karena saat itu saya belum lahir. 2009 pernah ada wabah flu babi, namun itu tidak menggemparkan Indonesia sebab dampaknya tidak separah saat ini. 2020, wabah covid-19. Saya benar-benar ada di kondisi di mana #dirumahaja menjadi reaksi kongkrit yang berdampak secara psikis. Benar apa yang dikatakan Premana W Premadi, bahwa kita baru akan merasakan krisis lingkungan bila dia telah mendarat di rumah kita. Covid-19 telah berada di tengah-tengah kita tanpa satupun dari kita tahu keberadaannya. Apakah ini ancaman bagi umat manusia? Tagar di rumah aja bagi saya adalah slogan yang tidak hanya mengajak orang menghindari penularan wabah itu, melainkan adalah jeda iklim. saya kadangkadang tidak menyadari bahwa aktivitas keluar rumah dengan berkenderaan juga turut menyumbang polusi udara dan penipisan lapisan ozon. Salah satu situs online airquality.com memberi saya informasi tentang kadar polusi udara di Indonesia yang mulai membaik diangka 89 %. Di beberapa provinsi selain Jakarta, kondisi udaranya berada di warna hijau. Itu artinya, udara kita dalam kondisi bersahabat. hal ini tentu dampak dari aktivitas berkendaraan yang mulai berkurang. Semoga situasi ini adalah pelajaran baik untuk kita semua dalam memperhatikan lingkungan. Namun bukan berarti laju krisis lingkungan bisa berhenti dalam sekejap. Masih banyak pekerjaan rumah soal lingkungan yang mesti kita jawab bersama. Pekan ketiga dan keempat di bulan maret, saya stress. Profesi saya sebagai pekerja industri rumahan. Saya bekerja di @nanomadekor sebuah industri yang memproduksi cetakan undangan pesta, dekorasi ruangan, yang sifatnya pesanan. Ada Beberapa situasi yang mengharuskan saya keluar rumah, misalkan ketika harus mendekorasi pesta, dan itu harus dikerjakan di luar rumah. Berbeda halnya dengan pesanan cetak undangan, itu dikerjakan dirumah. 51
Secara pribadi saya sebagai pekerja harian tentu terganggu dengan #dirumahaja. Pendapatan saya setiap pesanan, 100 rb sampai 150 rb. Dalam sebulan, jumlah pesanan bisa sampai lima atau enam pesanan dekorasi pesta. Bulan Maret, 4 dari 5 pesanan itu dibatalkan. Kami tidak bisa protes sebab situasi yang tidak diinginkan. Secara ekonomis tentu saya rugi. Namun tidak ada yang bisa dituntut. Bagaimana dengan buruh harian semacam ojek online, tukang sapu jalan, pedangan asongan, dan seterusnya? Apakah kebutuhan ekonomis mereka terjawab? Beruntunglah yang masih punya kebun atau lahan bertani, masih ada pilihan. Bagaimana jika mereka adalah masyarakat urban yang tidak lagi punya lahan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini, butuh jawaban teknis dan kongkrit. Tidak butuh jawaban retorik. Meski Gorontalo, kota tempat saya tinggal dan bekerja belum masuk dalam catatan BNPB sebagai wilayah yang terdampak penularan wabah ini, pembatasan sosial berskala besar tetap dijalankan. Kondisi pencegahan ini semestinya berbanding lurus dengan langkah-langkah pemerintah untuk menemukan vaksin/anti virus. Langkah medis merupakan langkah tepat untuk menghentikan, dan sekaligus mencegah penularan. Orang-orang tidak bisa berlama-lama di dalam rumah, terlebih mereka yang adalah masyarakat urban. Kebutuhan ekonomis merupakan hal yang utama. Oleh sebab itu, negara dibutuhkan dalam menjawab masalah ini. Terhitung sejak 25 maret hingga saat ini, saya sudah tidak lagi bekerja. Sejauh ini saya bergantung pada tabungan, dan sudah mulai menipis. Sebenarnya saya tidak ingin terlihat cemas atau merasa cemas. Apakah nanti akan kelaparan? Semoga saja banyak dermawan yang mau berbagi. Tapi tidak juga bergantung dengan mereka, saya berinisiatif menanam ubi atau jagung di halaman rumah. Saya mulai memperhatikan rencana-rencana sebelumnya yang tertunda, menanam rempah-rempah kebutuhan dapur di pekarangan. Sepertinya di minggu pertama bulan april ini, niat itu akan terealisasi. Tidak hanya menanam di pekarangan rumah, namun rencana lainya semacam membangun instalasi mini perpustakaan akan saya selesaikan di masa-masa #dirumahaja.
52
Sisi lain yang ingin saya sebutkan sebagai bentuk kritik terhadap #dirumahaja adalah sebuah sikap reaksioner. Rumah tidak menjawab apakah kita bisa terhindar dari wabah ini. Rumah adalah satu dari sekian banyak cara agar kita terhindar dari wabah. Semestinya kita menemukan cara-cara lain dengan nalar kritis. Misalkan dengan mulai memperhatikan lingkungan yang kian hari menghadapi masa kritis. Laut yang penuh sampah plastik. Longsor karena deforestasi. Abrasi karena reklamasi. Dan masih banyak, tindakan praktis demi hasrat dan kebutuhan pembangunan yang mengabaikan resiko-resiko berdampak langsung pada perubahan iklim. perbuatan ini harus segera kita hentikan. Bukankah pergerakan alam yang sangat kausalistik itu berangkat dari keputusan manusia? Data Asosiaasi Industri Plastik Indonesia [INAPLAS] dan Badan Pusat Statistik [BPS] menunjukkan sampah plastik di Indonesia tembus dengan angka 64 Juta ton/tahun. Sebanyak 3,2 juta ton jatuh ke laut. (Sumber: Indonesia.go.id [31/7/2019]) Tagar di rumah aja, bagi saya seharusnya menjadi ajang buat kita semua melihat dunia, semesta raya ini dari kamar kita, perenungan. Saya ingin mengajukan pertanyaan yang sifatnya praktis dan butuh jawaban teknis. Pertanyaan ini akan mengarah pada proses menjawab kecemasan dari dalam diri kita. Bagaimana jika pemerintah menambah masa PSBB ini hingga Mei-Juni-Juli, dari masa yang sudah diputuskan oleh presiden tertanggal 1 April? Bagaimana aktivitas warga kecil yang tersedak karena kebijakan ini? Di sisi yang lain saya ingin bilang bahwa bencana selalu menjadi ingatan pendek. Artinya, manusia selalu abai untuk belajar dalam mengantisipasi setiap kemungkinan bencana yang mengancam. Hal yang selalu berulang adalah sikap reaksioner yang tiba-tiba juga dianggap langkah pencegahan yang solutif, padahal tidak. Ahmad arif menulis di Kompas online yang terbit 1 April. Tema tulisannya, “Pagebluk�. Adalah nama lain dari wabah flu spanyol di tahun 1918. Kurang lebih setengah juta manusia di Indonesia saat itu, tewas. Sebab diawal mereka menganggap ini hanya flu biasa bahkan lebih ringan. Setelah seminggu mewabah flu spanyol dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya, barulah semua bergegas. Kondisi hari ini juga tak 53
jauh berbeda-beda dengan tahun 1918. Tindakan preventif lahir setelah menelan korban jiwa. Sebelas Maret WHO menetapkan covid-19 menjadi pandemi dengan wilayah penyebaran 114 negara terinfeksi wabah. Itu artinya seluruh negara harus membunyikan alarm darurat agar semua warga bisa waspada terhadap penyebarannya. Bagaimana Indonesia? 3 April: 1.986 positif, 181 meninggal, dan 134 sembuh. Achmad Yurianto (Sumber @narasinewsroom): “Semestinya bukan alarm darurat wabah penyakit saja yang dibunyikan melainkan nalar sehat kita juga dibangkitkan untuk tidak mengambil, mengeksploitasi alam secara berlebihan. Hukum dan aturan adat yang pernah diterapkan oleh orang tua kita dahulu, adalah bentuk komunikasi yang seimbang antara manusia dan alam raya agar harmoni hingga seterusnya. Akhir kata, barangkali manusia tidak perlu lagi merasa menjadi satu-satunya makhluk paling hebat di atas dunia ini, mereka harus sadar bahwa ada organisme lainya yang lebih cerdik bertahan hidup dan memiliki cara untuk eksis di jagat raya.
“
Tagar di rumah aja, bagi saya seharusnya menjadi ajang buat kita semua melihat dunia, semesta raya ini dari kamar kita, perenungan
- Musyawir
54
Artwork Desi S. R
55
56
Kau Dalam keramaian menghampiri Dalam sunyi menghantui Dalam gelap menerangi Dalam terang membayangi
Kau Aku rindu tawamu Aku rindu wajahmu Aku rindu wangimu Aku rindu suaramu
Dari aku yang sedang merindu
57
Artwork Anisah Septiani Bakrie
58
“
“Listen to the mustn’ts, child. Listen to the don’ts. Listen to the shouldn’ts, the impossibles, the won’ts. Listen to the never haves, then listen close to me... Anything can happen, child. Anything can be.”
- Shel Silverstein
59
60
Sekitar tiga tahun lalu ketika saya menyortir beberapa buku di simpul pustaka KONAME, Nabire, saya banyak mendapat buku-buku bacaan menarik bagi saya. Salah satunya adalah buku catatan perjalanan dari benua hitam “This Is Africa” oleh Jhon Erickson Ginting yang diterbitkan Penerbit Pastel Books pada tahun 2015. Buku ini kemudian saya pinjam dari simpul pustaka KONAME sampai terbawa ke kampung halaman di Sulsel, dan sampai hari ini bukunya masih di Sulsel karena setiap kembali ke Nabire saya tidak pernah mengingat untuk memasukkannya bersama buku-buku lain yang akan saya bawa ke Nabire. Saat Indonesia mulai waspada wabah Covid-19, saya sedang berada di Sulsel. Sampai kemudian keadaan semakin memburuk dan kita harus #dirumahaja saya masih berada di Sulsel. Beberapa aktifitas saya di luar rumah harus ikut terhenti untuk turut melakukan pencegahan penyebaran Covid-19. Ketika #dirumahsaja saya mulai melirik buku-buku lama yang ada di rumah, salah satu buku yang menarik perhatian saya adalah ‘This Is Africa’ yang saya sebutkan di atas. Buku ‘This Is Africa’ ini memang selalu membuat saya rindu untuk kembali membacanya, penjelasannya yang sederhana, detail dan kocak membuat saya merasa ikut bersama Jhon ke dalam perjalanan ekstrimnya di beberapa bagian Benua Hitam dalam buku ini. Kisah-kisah dalam buku ini adalah catatan perjalanan Jhon saat “nyasar” di Mesir, Tanzania, dan Malawi. Menurut Jhon, tidak mudah melakukan perjalanan di Afrika. Kriminalitas yang tinggi, penyakit-penyakit yang berbahaya dan konflik yang berkepanjangan sering menjadi kendala. Selama empat bulan melakukan perjalanan di Afrika, Jhon sudah sering menjadi incaran perampok, penipu, penodong, calo dan sebagainya. Namun ia memang sengaja tidak mengambil jalan mudah dalam perjalanannya karena 61
menurutnya sebuah perjalanan haruslah punya makna dan bukan sekedar melihat pemandangan dan hal-hal “remeh-temeh” lainnya. Kalau tidak, perjalanan itu bukanlah perjalanan, melainkan menurutnya hanya sekedar darmawisata. Jhon sangat detail menceritakan beberapa pertemuannya dengan sesama traveller selama perjalanannya. Baru di bagian satu sub dua, saya sudah terbawa emosional dan dibikin melongo dengan teman Koreanya yang sangat hemat, atau lebih tepatnya pelit. “Hanya gara-gara EP 1-2 (sekitar Rp 5000) lebih murah, kami terpaksa berjalan selama dua jam keliling Dahab dengan ransel di punggung sambil bertanya sana-sini. “Dasar Korea Kedekut (pelit)!” (hal. 25). Beberapa kisah dan bahasa kocak Jhon dalam buku ini sangat sinkron dengan selera humor saya, tidak jarang saya bisa dibuat ketawa sambil membaca, salah satunya ketika ia naik mobil angkutan umum dari perbatasan Malawi ke kota Karonga. “Satu jam kemudian, seorang pria tua menyetop taksi. Dia bercakap-cakap sebentar dengan Simon sang supir sambil melirik terus ke arahku. Tak lama kemudian Simon tancap gas kembali meninggalkan si pria tua tadi. Aku penasaran kenapa dia tidak jadi naik. Simon bilang bahwa pria tua tadi takut melihatku. Orang tua itu berpikir bahwa aku berencana membunuhnya. Bah, dari mana pula dia dapat ide seperti itu? Kalau dilihat-lihat, wajahku sama sekali tidak menyeramkan. Aku jelas tak mengerti alasan pria tua tadi mengambil kesimpulan sangat ekstrem mengenai diriku” (hal. 359). Membaca dan mengenali karakter Jhon dari awal perjalanan, saya berpikir tidak akan menemukan kisah cinta di dalam catatan perjalanan ini, ternyata di Tanzania ada bagian “cinta lokasi” yang diabadikan Jhon bersama wanita asal Swedia yang bernama Sarah. “Aku tak pernah berpikir sebelumnya bahwa aku akan jatuh cinta di sebuah tempat seromantis Zansibar, rencanaku hanya keliling dunia selama setahun dan bukan untuk jatuh cinta. Kisahku dengan Sarah menyadarkanku bahwa aku masih manusia biasa yang bisa terjebak dalam urusan perasaan selama pertualanganku. Aku rasa tak ada yang salah dengan itu. Aku dan Sarah berusaha menikmati kedekatan selama kami bisa. Besok adalah milik sang waktu. Kalau kami memang berjodoh, pasti bertemu lagi. Kalaupun tidak, tak apalah. Biarkan saja kebersamaan 62
kami selama enam hari ini sebuah kenangan yang indah yang pernah singgah dalam kehidupan kami.� (hal. 233). Jhon dan Sarah sadar mereka sudah sama-sama dewasa, bukan anak remaja yang baru kenal cinta. Tapi menurut Jhon, tetap saja berpisah kala dimabuk cinta adalah sesuatu yang menyakitkan. Duh, di bagian ini Jhon sepertinya ingin menyadarkan para traveller yang suka baper, bahwa jika tidak ingin merasakan galau saat melakukan perjalanan, jangan jatuh cinta! Namun kembali lagi dalam soal waktu, bahwa kita tidak pernah tahu kapan dan di mana urusan perasaan itu akan datang. Pertama saya menjelajah ke dalam buku ini, saya belum mengenal Jhon dan belum pernah berkunjung ke blognya. Belakangan saya baru tahu ternyata Jhon bukan traveller maupun backpacker, ia hanya gemar “berpergian nyeleneh� saat dia merasa bosan dengan kerjaannya. Sebelumnya ia pun tidak pernah berniat menerbitkan buku ini sampai kemudian penerbit meminta catatan-catatan perjalanannya dari blog untuk dibukukan. Di dalam buku ini Jhon tidak hanya menuturkan beberapa tempat yang ia kunjungi, ada banyak istilah-istilah orang Afrika yang nyeleneh, kelakuan-kelakuan orang Afrika yang bikin melongo, juga para traveller unik yang ia temui dalam perjalanan sampai yang memilih untuk menetap (stay) di Afrika. Sampai hari ini saya masih intens saling sapa dengan Jhon di facebook. Saat saya membahas bukunya, dia pernah mengatakan bahwa kadang ia tidak percaya pernah menulis catatan perjalanan itu setelah sekian lama tidak melakukan perjalanan dan menulis lagi. Dari jawaban Jhon tersebut saya kemudian berpikir bagaimana pengaruh kita membuat jurnal, catatan, atau tulisan saat melakukan perjalanan, selain bisa membawa orang berimajinasi ke dalam perjalanan kita, kita sendiri bisa mengulangi perjalanan tersebut walaupun hanya #darirumahsaja.
“
Beberapa kisah dan bahasa kocak Jhon dalam buku ini sangat sinkron dengan selera humor saya..
- Hamsyukur
63
64
Suara kecipak air pada kaki-kaki telanjang di atas kapal dan wajah-wajah yang digelapkan oleh rasa lapar. Di balik hujan dan jendela ada duka yang ingin dipeluk. Sepasang mata sekarat, seiiring perjalanan menuju penghabisan. Doa-doa menopang tubuh dengan tabah, setiap hari menunggu perantara menuju kepulangan hakiki. Kata terangkum dalam perbincangan, mencoba mengelabui waktu yang selangkah lagi menuju tanggal. Sebaris paragraf terakhir.
adalah
penanda
Tanah gembur, kamar sunyi penuh ketakutan. Aroma kabung menyelinap di manamana. Mereka berbaris menatap sebelum kesendirian benar-benar merampas sesosok tubuh. Adakah yang lebih tabah dari sebuah jazad yang menunggu pertanyaan? Aku masih mengakui ketakutanku. Tentang pulang dengan cara yang tidak diduga-duga. Gowa, 23/03/2020
Pada tubuh nisan ataupun ingatan di kepala.
65
#DiRumahSaja Mengapa sebaiknya di rumah saja? Wabah virus Corona yang semakin meningkat di Negara kita (Indonesia) tentunya membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk tetap Stay at home bagi warganya. Hal ini dilakukan dalam rangka menekan angka penularan virus. Namun jangan khawatir, karena ada banyak hal yang dapat kita lakukan selama #dirumahsaja.
#Yuk‌.apa saja hal penting yang dapat dilakukan di Rumah?
1. Menonton dan berdiskusi Bersama keluarga di rumah
KELUARGA adalah hal terbaik yang dapat anda harapkan. Kebersamaan dengan keluarga itu lebih berharga dibanding apapun, karena “Ttidak ada tempat yang penuh dengan cinta selain di tengah keluarga�. #DiRumahSaja tentu mengajarkan banyak hal tanpa kamu sadari. Kamu dapat menghabiskan waktu bersama dengan Keluarga Tercinta. Menonton, berdiskusi, bermain bersama dan banyak hal yang akan menjadikan banyak moment indah dan tak akan pernah kamu lupakan bersama dengan keluarga.
2. Membaca buku pelajaran atau hiburan bersama keluarga
Membaca adalah hal yang paling penting dalam memajukan setiap pribadi manusia. Dengan membaca, kita dapat memperluas wawasan dan mengetahui dunia.
So, membaca buku sangat baik untuk pengetahuan anak66
anak zaman sekararang, mendapatkan Informasi yang sangat banyak dan berlimpah dari membaca. Nah‌.. Selama kamu #DiRumahSaja, kamu bisa menghabiskan waktu kamu untuk membaca buku pelajaran, buku cerita atau buku apa saja bersama keluargamu. INGAT ! Bahwa membaca sangatlah penting.
KELUARGA adalah hal terbaik yang dapat anda harapkan. Kebersamaan dengan keluarga itu lebih berharga dibanding apapun, karena “Ttidak ada tempat yang penuh dengan cinta selain di tengah keluarga�. #DiRumahSaja tentu mengajarkan banyak hal tanpa kamu sadari. Kamu dapat menghabiskan waktu bersama dengan Keluarga Tercinta. Menonton, berdiskusi, bermain bersama dan banyak hal yang akan menjadikan banyak moment indah dan tak akan pernah kamu lupakan bersama dengan keluarga.
2. Membaca buku pelajaran atau hiburan bersama keluarga
Membaca adalah hal yang paling penting dalam memajukan setiap pribadi manusia. Dengan membaca, kita dapat memperluas wawasan dan mengetahui dunia.
So, membaca buku sangat baik untuk pengetahuan anakanak zaman sekararang, mendapatkan Informasi yang sangat banyak dan berlimpah dari membaca. Nah‌.. Selama kamu #DiRumahSaja, kamu bisa menghabiskan waktu kamu untuk membaca buku pelajaran, buku cerita atau buku apa saja bersama keluargamu. INGAT ! Bahwa membaca sangatlah penting.
[And The Last, Masih banyak hal yang dapat kamu dan keluarga lakukan selama #DiRumahSaja].
FAMILY where life begins and Love never ends #DiRumahSaja #SocialDistancing #IndonesiaMelawanCovid-19
#dirumahsaja Amelia
67
68
di
69
70
“But I know, somehow, that only when it is dark enough can you see the stars.� - Martin Luther King, Jr
71
72