Skip to main content

Megezine Edisi #4

Page 1

1


Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Semangat terbitan ini adalah mengarsipkan praktik-praktik warga dan menghimpun ragam perspektif manusia sebagai bentuk merayakan perbedaan dan mengimani keunikan setiap manusia dalam merumus dan menyemarakkan perkembangan kota, terutama di Nabire, Papua.

Redaksi: Agus Shalim, Fauzan Al Ayyuby, Hamsyukur, Nomensen Douw, Kontributor: Agus Shalim, Fauzan Al Ayyuby, Hamsyukur, Jose Rizal Papuana Mayor, Manfred Kudiai, Nomensen Douw, Nunias Selegani

KOLABORATOR:

Grafika dan Tata Letak: Fauzan Al Ayyuby Redaksi menerima materi esai, foto, gambar, puisi, dan lainlain melaui email: kolektifstereo@gmail.com

Alamat Redaksi: Sementara kami tidak punya kantor tetap. Tetapi kami bisa dihubungi melalui email yang tertera.


KATA PENGANTAR Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Di edisi kali ini, seorang cerpenis muda, Didi Mochtar mengirimkan cerpen imajinatif yang menggugah; Manfred Kudiai mengirim tiga puisinya yang mencerminkan realitas dan perspektif orang di luar Papua ketika melihat Papua; Nomensen Douw menulis catatan apik ihwal idiom yang tercerabut dari akarnya lantaran ruang-ruang itu direbut oleh perusahaan; Jose Rizal Mayor Papuana mengajak kita kembali mengingat orang terkasih yang masih ada di dunia lewat tulisan kerinduannya pada Mamanya; Nunias Selegani menggurat catatan apik perihal dirinya menemukan cinta dan cara ia memandangnya; Agus Shalim menulis puisi yang menggambarkan situasi mama-mama pasar Papua dengan kelindan kata dan makan yang mengafiliasikan mama-mama dengan segala pertaruhan hidupnya; Hamsyukur menulis refleksi ihwal luka kemanusiaan sembari mengajak kita memikirkan kembali kata “rantau� yang penuh cinta; Terakhir, Fauzan menyelip catatan kecil soal anak-anak dan orang mabuk yang mesti kita pikirkan bersama.


Ilustrasi Megezine

C erita Pendek

I Built A Friend - Oleh Didi Mochtar


Seorang anak 8 tahun duduk termenung di sebuah kursi dan memandang lurus ke luar halaman melalui jendela. Tetes demi tetes air hujan beradu dengan atap rumahnya yang bercat putih dan menimbulkan suara yang menenangkan. Aroma hujan yang khas membuatnya semakin merasa kesepian. Hidup sendirian tanpa seorang teman kecuali keluarga, adalah hal yang sangat menyedihkan di dunia. Tiada seluncuran, tiada jungkat-jungkit, bahkan tidak ada petak umpet yang biasa dimainkan oleh anak seusianya. Ia adalah seorang anak kurus berkulit putih dengan rambut berwarna cokelat yang dicukur rapi. Ada begitu banyak bintik-bintik di sekitar hidungya. Matanya berwarna perunggu dan alis tebal yang menghiasi wajahnya membuatnya terlihat semakin tampan. Ia bernama Alec Benjamin. Sapaan akrabnya adalah Ben. Sekitar satu jam ia duduk di sana tanpa melakukan apapun. Matanya kemudian menangkap 3 buah kertas dan sebuah pulpen. Senyum terukir dari bibir tipisnya yang berwarna merah. Ia meraih kertas-kertas itu. Ia kemudian mengambil sebuah gunting dan membuat sebuah karakter dari kertas-kertas tersebut. Sekitar setengah jam, karakter danbo jadi. Ia hanya perlu menggambar mulut untuk menyempurnakannya. Setelah menggambar mulut, jadilah sebuah karakter yang membuat senyum lebar terukir di wajahnya. “Kau akan menjadi temanku,” katanya sambil memandangi karakter itu. “Tapi kau butuh sebuah nama,” lanjutnya. Ia memegang dagunya sambil memikirkan nama yang pas untuk karakter itu. Dia terlihat sedikit bingung. Di pikirannya terdapat dua nama yang sangat disukainya. Nama itu ialah Merrick dan juga Hanna. “Apa yang harus aku pilih?” katanya sambil menatap karakter itu. Tiba-tiba, kedua tangan karakter itu terangkat seolah berkata, “Pilih keduanya.” Entahlah, apakah itu nyata? Atau hanya ada dalam pikiran Ben. Tapi ketika ia sadar, tangan karakter itu


masih persis seperti tadi. Tapi Ben tetap tersenyum. Ia lalu memutuskan, “Merrick Hanna! Aku akan menamaimu Merick Hanna dan kau akan menjadi temanku.” Ben membawa Merrick ke ruang kaca dan menyimpannya di sebuah meja. Ben terus memandangi Merrick seolah karakter itu adalah orang yang nyata. Ia kemudian mengajak Merrick untuk berbicara. “Kau tau? Sebelum aku membuatmu, aku begitu kesepian,” katanya. “Selama aku hidup, aku belum pernah sama sekali memiliki teman kecuali keluargaku. Ya, ibuku adalah teman terbaikku.” “Syukurlah kau membuatku,” kata Merrick. Ben tersenyum. “Merrick,” panggil Ben pelan pada karakter itu. “Ada apa?” “Apa aku boleh menanyakan sesuatu?” tanya Ben. “Tentu saja. Kau boleh menanyakan apapun.” “Kau anak perempuan atau anak laki-laki?” “Menurutmu aku apa?” tanya Merrick. “Seorang anak laki-laki sepertiku.” “Tentu saja.” Semakin hari Ben dan Merrick, teman khayalannya semakin dekat. Suatu hari di penghujung bulan Juli, Ben memberikan telepon mainan pertamanya pada Merrick. Alasannya adalah agar ia dan Merrick bisa berbicara terus hingga mereka lelah. Pernah ibunya mendapati Ben sedang berbicara di ruang kaca. Ibunya bertanya dengan siapa Ben berbicara. Dengan polos Ben menjawab, “Dengan Merrick. Teman baikku.”


Ibunya memandangi Ben heran. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada berbagai kaca dan juga sebuah mainan dari kertas yang telah dilapisi oleh lilin agar tidak muda basah. Di dada mainan itu terdapat huruf M dan H yang begitu besar. “Apakah Merrick adalah teman sekolahmu?” tanya ibu Ben. “Kau tahu, mom, aku sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan anak-anak di sekolahku. Aku kan bangkai menjijikan kata Joe,” ucap Ben terlihat sedih. Ibunya berjongkok berusaha mensejajarkan tinggi badannya dengan Ben. “Oh sayang, jika kau adalah bangkai, beruntunglah aku yang memiliki bangkai seindah kau.” Ibunya meneteskan air mata lalu memuluk Ben erat-erat. Merrick yang melihatnya mengedipkan sebelah matanya pada Ben yang sedang dipeluk ibunya. Ben telah berumur 12 tahun. Merrick masih menemaninya walau karakter itu sudah terlihat lusuh. Hari-hari Ben semakin bernilai semenjak Merrick dibuatnya. Merrick adalah teman khayalan yang sangat dicintai Ben. Merrick selalu ada ketika ia di-bully di sekolah. Dan saat ia tiba di kamarnya, ia akan menceritakan kejadian itu pada Merrick sambil menangis tersedu. I built a friend with three pieces of plastic and a pen I made him on the table in the dim I gave him my old cellphone for ahead, for ahead And we spent holidays at my house and we left Presents in the stocking and we bought Bolton things and new strings and a new watch


That’s what he got And we had so much fun together We knew we’d be friends forever And we had so much fun together “Kau tahu, Merrick, aku seperti ingin hilang ketika Joe menghampiriku. Ia selalu saja menjahiliku dan membuatku menangis,” ucap Ben. “Kalau begitu kau harus melawannya,” kata Merrick. “Melawannya? Apa kau gila?” ucap Ben. “Bagaimana aku melawannya dengan badan kurus seperti ini? Lagipula dia memiliki banyak teman yang bisa membantunya.” “Lawan dengan caramu seperti kau membuat sebuah temanmu ini hidup.” Ben tersenyum pada karakter yang dia ciptakan dalam pikirannya. Saat itu ia berpikir bahwa dia adalah orang yang paling beruntung karena memiliki Merrick Hanna. We had so much fun Then I left for college in September and we wept ‘Cause we can’t be together and I kept Pictures to remember my old friend, my old friend Then I met this girl at graduation and forget my oldest creation And I guess I’ll see him next vacation, send my best I send my best And we had so much fun together


We knew we’d be friends forever And we had so much fun together We had so much fun Ben sudah berumur 18 tahun. Selama itu pula Merrick setia menjadi temannya. Ia sudah menjadi seorang remaja yang sangat tampan tapi tetap saja ia tidak memiliki teman selain Merrick dan Ben masih terkenal sebagai pecundang sekolah. Ia sudah mengerti siapa itu Merrick. Merrick tidak pernah nyata tapi selalu hadir dalam pikirannya dan berbicara layaknya orang yang hidup. Ben sama sekali tidak mau menghapus pikiran itu. Dia selalu menganggap Merrick adalah orang yang paling dekat dengannya setelah ibunya. “Hey Buddy!” sapa Ben saat baru saja masuk ke dalam kamarnya. “Bagaimana harimu?” Merrick yang ada di atas meja belajarnya tersenyum sambil memandangi Ben yang melompat ke atas tempat tidurnya. “Baik. Kau terlihat bahagia. Ada apa?” tanya Merrick. Ben melepas sweater-nya. “Kau tahu? Aku beberapa hari lagi akan lulus dari SMA.” Merrick terlihat murung mendengar cerita Ben itu. Merrick menunduk tanpa memandangi sahabat yang telah membuatnya. “Ada apa?” tanya Ben. “Kenapa kau terlihat sedih?” Merrick masih menunduk. Ben sedikit lagi lulus SMA dan akan pergi untuk berkuliah. Entah mengapa hal itu membuat Merrick sedih. “Hey,” ucap Ben sembari mendekati Merrick yang berdiri di atas meja belajarnya. “Ada apa M? Kenapa kau terlihat sedih?” tanya Ben.


Merrick menatap mata berwarna perunggu Ben. “Kau akan pergi berkuliah,” katamya. “Lalu kenapa jika aku pergi berkuliah?” tanya Ben. Setetes air mata jatuh di pipi kertas berbentuk danbo itu. Tentu saja dalam khayalan Ben saja. Terlihat gila tetapi itu yang Ben lihat. “Kau meninggalkanku dan akan melupakanku,” ucap Merrick sedih. Ben tersenyum tipis sambil meraih Merrick. “Mengapa kau berpikir seperti itu?” tanya Ben. “Karena kau akan memiliki teman baru dan akan asyik bersama mereka sehingga melupakanku. Ben tersenyum lagi. “Merrick sahabat imajinerku, kau tahu? Aku tidak akan melupakanmu meski aku memiliki teman baru. Lagi pula siapa yang mau berteman dengan seorang pecundang sepertiku?” Merrick menatap Ben. Ia heran, mengapa Ben berkata seperti itu? Padahal sahabatnya itu memiliki wajah yang sangat tampan. Mustahil tidak ada yang ingin berteman dengannya. “Aku hanya khawatir,” ucap Merrick akhirnya. Di suatu pagi yang cerah di Bulan September, Ben mengemasi barang-barangnya. Ia memasukkan apa yang ingin dibawanya. Sejenak, Ben memandangi Merrick yang berdiri di atas Mejanya. Haruskah ia membawa Merrick juga? Tapi jika ia membawa Merrick, ia takut teman-teman asramanya akan merusak Merrick karena Merrick sudah semakin rapuh. Merrick tersenyum ke arah Ben yang sedang memandanginya. Goresan pulpen yang membentuk sebuah mulut, sudah mulai memudar. “Ada apa?” tanya Merrick kepada Ben yang masih memandanginya dengan tatapan


yang sangat menyedihkan. “Mengapa kau memandangku sepertu itu?” Ben menjatuhkan air matanya. “Aku tidak bisa membawamu,” ucap Ben sedih. Ia tidak tega meninggalkan sahabat yang sudah menemaninya selama 10 tahun lebih. Begitu banyak kenangan yang telah mereka lewati bersama. Merrick yang selalu menghibur Ben saat Ben mendapat bulian di sekolahnya. Merrick tersenyum. “Kau pernah berkata kepadaku bahwa kau ingin menjadi guru, kan? Tanya Merrick. Ben mengangguk. “Apa alasanmu dulu hingga mau menjadi guru?” tanya Merrick lagi. “Aku tidak ingin anak-anak mengalami kesepian seperti yang aku alami, maka aku akan jadi guru dan menjadi teman mereka,” ucap Ben. “Maka pergilah. Pergilah untuk meraih mimpimu itu. Tinggalkan aku di sini. Aku akan menunggumu hingga kau pulang nanti,” ucap Merrick dengan nada yang berusaha tegar. “Tapi Merrick, aku sungguh menyayangimu.” “Begitu juga aku.” “Maafkan aku,” ucap Ben sambil mencium karakter danbo itu. “Letakkan aku di dekat jendela itu dan menghadap ke jalanan agar aku bisa melihatmu pergi dan bisa memantaumu kalau-kalau kau pulang nanti.” “Siap bos!” ucap Ben menuruti permintaan Merrick. 5 menit kemudian, Ben sudah berada di samping mobil biru yang akan membawanya pergi. Koper-kopernya telah dimasukkan ke dalam bagasi. Di situ ada ibu dan neneknya. Ben meneteskan air matanya dan dan memeluk ibu dan neneknya secara bergantian. Setelah itu, ia memandang ke arah jendela kamarnya untuk melihat Merrick yang terakhir kalinya. Ben menjatuhkan air matanya dengan deras saat


Merrick tersenyum dari atas sana. Ben tidak kuasa menahan tangisnya lalu berlari kembali menuju kamarnya. Ibu dan neneknya heran melihat Ben. Ya, mereka belum tau tentang teman khayalan Ben yang disebutnya Merrick Hanna. Sesampainya di kamar, Ben lagsung mengeluarkan ponselnya lalu membalik Merrick menghadapnya. Ben lalu memfoto Merrick agar nantinya bisa ia gunakan untuk melihat Merrick jika ia rindu sahabatnya itu. “Jangan berlebihan Ben. Pergilah. Aku akan menunggumu di sini,” ucap Merrick. “Baiklah. Sampai jumpa.” Kemudian Ben barlik dan berjalan menjauhi Merrick. “Ben!!” teriak Merrick. Ben berbalik dan berkata, “Ada apa?” “Balik aku seperti tadi. Aku kan ingin menumggumu.” Ben menggaruk belakang kepalanya lalu membalik Merrick seperti tadi. Untuk terakhir kalinya, Ben memandangi jendelanya yang di sana ada Merrick sedang berdiri dan melambai kepadanya. Gerakan bibir Merrick mengatakan, “Sampai jumpa lagi.” Setelah itu Ben masuk ke dalam mobil dan mobil itu membawanya pergi hingga rumahnya yang bercat putih sudah tidak terlihat lagi. I came home to find him on the table with a note Scribbled out in pencil, and he wrote That he just wasn’t stable all along, all along Next to him an empty glass of water that he spilled All over the body that I built It fizzled, and it popped, and then it killed And then it killed


And we had so much fun together We knew we’d be friends forever And we had so much fun together We had so much fun I built a friend. 4 tahun sudah Ben meninggalkan Merrick. Hampir setiap hari ia merindukan sahabatnya itu. Ia penasaran, bagaimana kabar Merrick saat ini. Begitu banyak yang ingin diceritakan Ben kepada Merrick. Di sini, ia memiliki begitu banyak teman yang sangat baik kepadanya. Bahkan ia sudah memiliki seorang pacar yang sangat cantik dan baik kepadanya. Namanya Celine. Gadis berwajah oriental yang sangat cantik di mata Ben. Ben mengeluarkan ponselnya dan mencari foto Merrick. Ia tidak terlalu sulit untuk menemukannya karena hanya ada beberapa foto di ponselnya. “Aku sangat merindukanmu, kawan,� ucap Ben. Dalam beberapa hari ini Ben akan diwisuda dan akan pulang untuk menemui Merrick. Tepat di hari wisudanya, keluarganya datang dan hadir untuk melihat Ben di wisuda. Saat Ben naik ke atas panggung untuk memberikan pidato kelulusannya, ia melambai ke arah keluarganya. Ia tersenyum miris, andai saja Merrick ada bersama mereka. Ia pasti akan sangat bahagia. Ben menarik napas dalam-dalam sebelum berucap, “Terima kasih. Aku sangat ingin berterima kasih kepada keluargaku. Aku juga ingin berterima kasih kepada sahabatku sedari kecil. Ia bernama Merrick Hanna.� Ibu Ben terkejut mendengar nama itu. Nama yang pernah ia dengar disebutkan oleh Ben saat Ben masih berumur 8 tahun.


Ben tersenyum kemudian memberikan kata-kata indah untuk Merrick meski Merrick tidak bisa mendengarnya, tapi Ben yakin kata-katanya akan sampai ke Merrick. “Jangan pernah memandang rendah arti dari persahabatan, karena dalam hidup ini kau tidak akan bisa melangkah tanpa seorang sahabat. Sahabat sejati adalah orang yang akan selalu mencintaimu meskipun telah mengenal baik dan burukmu. Cinta dan persahabatan bukanlah sebuah pilihan, kau bisa memiliki atau kehilangan keduanya secara bersamaan. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan tersebut bahkan tumbuh bersama. Sahabat sejati akan selalu ada untukmu, meskipun terkadag akan memberikan saran yang bodoh hanya untuk melihatmu tertawa.� Auditorium itu hening. Hanya suara Ben yang terdengar mengatakan kata-kata indah tentang persahabatannya dengan Merrick. Di bawah sana, ibu Ben berkaca-kaca mendengarkan anaknya berpidato tentang persahabatannya dengan teman khayalan yang dia ciptakan. “Seorang sahabat akan mendengar apa yang kau katakan, dan seorang sahabat sejati akan mendengar apa yang tidak kau katakan. Sahabat sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak persamaan, tapi mereka yang memiliki pengertian terhadap suatu perbedaan. Sahabat sejati adalah seseorang yang tahu akan kekuranganmu, namun akan tetap memilih untuk bersamamu ketika orang lain meninggalkanmu.� Terbayang kembali ketika Ben duduk sendirian di dekat jendela sambil memandangi halaman rumahnya yang diguyur hujan. Saat itu ia benar-benar kesepian dan saat itu ia melihat 3 buah kertas dan sebuah pulpen. Dari ketiga kertas dan pulpen itulah Merrick tercipta. “Sahabat adalah seseorang yang akan mendengarkan kisahmu, disaat angin membawa berita buruk tentangmu. Sahabat adalah dia yang tahu kekuranganmu, tapi akan menunjukkan kelebihanmu. Sahabat juga adalah dia yang tahu ketakutanmu, tapi akan menunjukkan keberanianmu. Apa yang kita alami demi seorang sahabat terkadang


melelahkan dan menjengkelkan, tapi dari situ persahabatan jadi akan memiliki nilai yang indah. Sahabat adalah mereka yang mampu untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dalam dirimu, karena mereka akan selalu memberikanmu semangat. “Teman akan sanggup untuk merampas orang yang kamu cintai, tapi seorang sahabat akan selalu menjadi mata-mata yang menjaga orang yang kamu cintai. Indahnya persahabatan adalah saat kita memberi tanpa mengharapkan suatu pembalasan, dan ada tawa saat kesedihan. Seorang ibu akan selalu berkata, ‘Jika kau memiliki seorang sahabat, maka kau akan memiliki kehidupan yang indah,’ itulah yang aku percaya saat Merrick datang ke kehidupanku saat aku berumur 8 tahun.” Terbayang ketika Ben dibuli oleh Joe di sekolahnya. Saat itu Ben menangis di hadapan Merrick yang juga sedih melihat Ben menangis. Terbayang ketika Ben memberikan mainan telepon pertamanya kepada Merrick dengam tujuan agar ia dan Merrick bisa berbicara hingga mereka lelah untuk berbicara. Terbayang ketika hari dimana Ben memberitahu Merrick bahwa ia akan segera lulus dari SMA, dan saat itu Merrick menunduk dengan sedih. Merrick tidak siap untuk ditinggalkan oleh Ben. Ben masih melanjutkan kata-kata indah yang dia buat untuk Merrick. “Sahabat sejati akan terlihat seperti pelangi yang akan mencerahkan hidupmu setelah kau berhasil melewati badai. Jangan pernah menyakiti sahabatmu, karena sahabat adalah cara Tuhan untuk menunjukan bahwa Ia tak ingin kau berjalan sendirian. Sahabat itu akan sama seperti bintang, meskipun terkadang ia tak terlihat ada tapi kita akan tahu bahwa ia selalu ada di sana. Dan sekali lagi aku ingin berterima kasih kepada sahabatku, Merrick Hanna. Tunggulah, aku akan pulang dan menemuimu.” Kata-kata itu menutup pidato Ben. Seluruh orang yang ada di Auditorium berkacakaca dan menjatuhkan airmatanya karena kata-kata indah Ben untuk sahabatnya. Sesaat kemudian, tepuk tangan bergemuruh memenuhi auditorium itu. Ya, tepuk tangan itu untuk Ben.


Sedikit lagi Ben akan sampai ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar untuk menemui Merrick. Sesaat setelah mobil memasuki pekarangan rumahnya, Ben langsung melompat keluar dari mobil dan memandangi jendela kamarnya. Ia tidak mendapati Merrick di sana. Ia kemudian berlari kencang menuju ke kamarnya. Ia merasa ada yang tidak beres. Seingatnya, Merrick memandang ke halaman agar bisa mengawasi jika ia pulang nantinya. Tapi Merrick tidak ada di sana. Saat tiba di depan kamarnya, ia langsung membuka pintu dengan terburu-buru dan memandang meja yang dulu digunakan Merrick untuk berdiri dan memandang ke halaman. Di meja itu tidak ada Merrick. “Mom!!” teriak Ben dengan kencang. Suara langkah kaki terburu-buru ibunya terdengar. “Ada apa?” tanya ibunya cemas. “Dimana boneka kertas yang ada di atas meja itu, Mom?” tanya Ben. Ibunya diam. Ia tidak tau harus menjawab apa. “Mom! Jawab aku!” Ibunya langsung memeluk Ben dengan erat sambil menangis. “Di sini,” ucap ibunya sambil berjalan ke arah ranjangnya. Ben mengikuti. Ibunya menarik sebuah karton di bawah ranjang Ben dan memperlihatkannya kepada Ben. Ben mengambilnya dan melihat isi kotak karton itu. Di sana ada Merrick yang sudah sobek dan hancur. Ben terkejut melihatnya. Air matanya jatuh sejadi-jadinya. “Saat itu musim dingin dengan angin yang sangat kencang. Besi kain gorden yang ada di jendelamu jatuh dan menimpa bonekamu itu. Kemudian Mom mendapatkan sebuah kertas di samping boneka itu. Ini,” ucap ibunya sambil menyodorkan kertas lusuh dengan tulisan yang tidak rapi. Dear Ben…


Sudah 3 tahun kau pergi. Apa kabar kau di sana? Aku yakin kau baik-baik saja. Mungkin saat kau membaca ini, aku sudah hancur dan menjadi kertas lusuh dan rapuh. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa hari-hariku tanpamu begitu kosong. Tidak ada orang yang bisa aku ajak berbicara. Dan saat itu aku merasakan apa yang kau rasakan saat kau belum menciptakanku dalam kepalamu. Aku mengerti kesepian dan kesedihan yang kau rasakan. Untuk itu, berbahagialah. Ingatlah aku yang seorang teman imajinermu ini. Ingatlah saatsaat ketika kita bersama dan ingatlah kita akan menjadi teman selamanya. Ada atau tanpa aku. Sahabat yang menyayangimu, Merrick Hanna. Ben menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibunya setelah membaca kertas lusuh yang sebenarnya tidak terdapat tulisan apapun. Hanya Ben yang bisa membaca surat imajiner dari sahabat imajinernya. *** Kontemplasi - Oleh Hamsyukur

Merantau dengan cinta. Apa tujuan kita merantau? Harta, pengalaman, bertahan hidup? Jangan lupakan satu, kita harus merantau dengan cinta. Maka jika kita kaya, kita akan kaya penuh cinta, pengalaman tanpa benci, dan akan mati dengan damai. Tanah, air, tumbuhan, cintai di tempat rantauan kita. Jangan dicemari! Masyarakat, adat, budaya, cintai di tempat rantauan kita. Jangan dicaci! Pergi sebagai manusia dengan cinta, maka kita seharusnya menjadi manusia yang membawa cinta di rantauan, memanusiakan manusia dengan cinta di rantauan, lalu pulang sebagai manusia rantau yang tidak dihinakan oleh cinta


Ilustrasi Megezine

Puisi

Nabire Baru dan Puisi-puisi Lainnya - Oleh Manfred Kudiai


Nabire Baru

Kupingku menangkap: “Mbak Jangan takut di Nabire, Nabire itu stengah dari Jawa”

Tetapi birokrat terpenting lainnya diambil orang luar daerah

Di tempat lain: “Nabire banyak orang Jawa, Dari Kampung-kampung (SP), sampai kota banyak kok, orang luar Papua?”

Susunan Laporan LPJ APD dibantu orang luar daerah, bahkan orang asli Papua (Nabire) yang pandai menulis, Itu membuat pemimpin dibanggakan di jakarta,

Hati kecil bertanya: Kemana manusia pemilik tanah, Titisan para leluhur?

TV-TV menyiarkan, Ditonton jutaan penduduk di nusantara, Padahal semua yang ditayang adalah palsu.

Tersirat: Jalur laut pintu masuknya orang Luar, Pemerintahan setempat menutup mata, Dibanggakan di Jakarta, Tak berbuat apa -apa di daerah Martabatnya dibabat habis,

Rakyat bertanya: Untuk siapa pembangunan isolasi daerah tersebut?

Itu terjadi dari waktu ke waktu Dari pergantian kepala daerah yang satu ke yang lain... Nabire tetap seperti itu, Dan itu dipermainkan oleh putra daerah Biarlah kepala daerah putra daerah,

Untuk mereka, orang luar: “Jangan takut Nabire itu stengah dari Jawa.”

Deck 4 KM Gunung, Dempo ketika sandar di dermaga Port Of Sorong, 25 Oktober 2019


Wahyu yang Digenapi

Tapal Batas

Cinta dan cita musnah, Di lereng bukit berbatu, Mama menunggu si buah hati, Datang dalam peti mati

Di ujung tapal batas belantara lebat Diawali nyanyian sunyi di ujung ufuk timur Kala sang surya menerang Kobar sudah darah mudah berjuang Selangkah maju, aparat menghadang

Komplotan loreng di bukit, Garuda di dada berbakti, Ujung moncong senjata berapi, Peluru keluar berapai-api, Di ujung api menjerit, Hilang sudah nyawa di bukit, Tak ada lagi nyayian di bukit, Mereka telah tertidur selamanya, Di negeri serba ada, Pemiliknya tangis mengada-ada, Genap sudah wahyu Yeremia (Matius, 2:18): “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih, Rahel menangisi anak-anaknya, dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi,� MK, pinggiran kali cemara, 19 November 2019

Amanah hati dilaksanakan Dipaksa baris bercaping di hadapan moncong senjata, Memikul beban tiada terucap Hati menagis, mengikisi sukma tiada kata Mentari terus membakar Bermandi terik mentari derita panjang menjadi-jadi Menunggu angin membawa hujan Bersamaan hujan, terbitlah pelangi. Kalibobo, 18 September 2019


Curhat

Anak Semua Bangsa - Oleh Fauzan Al Ayyuby

Ketika duduk di Pantai Nabire saya selalu memerhatikan lalu lalang anak-anak. Kaki-kaki mungil mereka ibarat air tumpah dari bak kamar mandi yang lupa kita matikan saklarnya. Mereka terus berlari. Dari pantai ke tepi, dari tepi ke pantai. Tumpah ruah bahagia itu kerap disela orang ma-

Dengan idiom, “Tuhan ciptakan kaki dan tangan

buk. Mereka sering minta rokok. Jika punya, saya

itu untuk kerja. Bukan minta-minta”, saya tak tahu

tak pernah menolak berbagi. Bahkan sering men-

harus tertawa atau marah.

yulut api sementara rokok terjepit di sela bibirnya. Setelah itu mereka pergi. Tak jarang, beberapa

Saya tak pernah menceramahi orang-orang mabuk.

orang mabuk kembali dengan permintaan yang

Selain kesadaran yang tidak stabil, menceramahi

sama. Padahal saya tidak berpindah tempat.

mereka tanpa memberikan solusi atas, “..kaki dan tangan untuk kerja”, rasanya berat. Apalagi ruang

Melihat orang-orang mabuk itu, saya bayangkan

produksi menganeliasi mereka, orang-orang Papua,

bagaimana anak-anak kecil itu tumbuh kelak. Apa

di atas tanah mereka sendiri. Tantangan ini mesti

tungkai kaki mereka tetap tegak, atau tak teratur

melibatkan banyak kalangan.

lantaran minuman keras habis ditenggak. Anak-anak kecil itu, yang tungkai kakinya masih Kadang saya dengar ceramah menghambur dari

tegak, mesti ditopang oleh kita semua. Seperti

beberapa orang yang jengkel dengan orang-orang

kata Pramoedya Ananta Toer dalam “Anak Semua

mabuk itu. Atau barangkali iba. Saya tak tahu.

Bangsa: “Semua yang terjadi di bawah kolong langit

Sebab begitu tipis jengkel dan iba kerap berwujud.

adalah urusan setiap orang yang berpikir”.


Ilustasri Megezine

Puisi

Idiom yang Hilang - Oleh Nomensen Douw


Soal Pantai yang indah di Wilayah Papua dan Papua Barat, menurut Saya kota Nabire Papua tak kalah dari Raja Ampat, Provinsi Papua. Namun ada perbedaan yang signifikan tentu saja, dan ada pula persamaannya: Pantai di Raja Ampat punya pasir putih, seperti beberapa Pantai yang memiliki pantai yang pasirnya putih seperti Pantai Monalisa, Pantai Kwatisore, Pantai Kumis Yaro II, Pantai Nusi, dan Pantai Mandobo Samabusa. Di wilayah Meepago, khususnya di kota Nabire, sudah dikenal dengan beberapa destinasi yang memikat hati para trevelling dan para wisatawan yang berlibur ke kota Nabire, seperti Pantai Gedo, Pantai Budi, Pantai Naomi, Pantai Merry, Pantai Monalisa dan masih banyak Pantai lainya yang tidak kalah dengan Pantai lainya di luar kota Nabire.


Dari Pantai Waroki muncul Pantai Tiba Lakukan, pantai yang agaknya jadi idiom untuk mengindikasikan tempat untuk sembunyi untuk berhubungan badan. Pantai ini terletak di Kabupaten Nabire Provinsi Papua. Dari pusat Pemerintahan kota sekitar 5 KM dan Pantai Waroki atau Pantai Tiba Lakukan ini terdapat di Kampung Waroki. Sekitar 11 rumah warga asli Nabire berdiri di sekitar Pantai Waroki atau Pantai Tiba Lakukan ini dan non Papua sekitar 8 buah rumah. Menurut KBBI, Idiom adalah ungkapan bahasa berupa gabungan kata (frase) yang maknanya sudah menyatu dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna unsur yang membentuknya. Dari Pantai Waroki muncul idiom Pantai Tiba Lakukan semenjak tahun 2015 tapi hilang ketika sampai pada tahun 2019 dan kini tinggal Pantai Waroki. Kemana Pantai Tiba Lakukan dan Bagaimana cara menghilang ya? Pada umumnya nama-nama Pantai di Nabire berasal dari idiom yang di pakai dalam tradisi hidup di lingkungan Masyarakat Nabire, Seperti kesaksian bapak Ruben sebagai warga yang rumahnya di pinggiran Pantai Gedo Nabire, ”Nama Pantai Gedo itu berasal dari kebiasaan masyarakat menyebutnya menjadi nama Pantai”, ceritanya. Ada juga dari nama keluarga dari pemilik tanah, seperti Pantai Naomi, ”Nama Pantai Naomi itu diambil dari anak Pak RT punya nama yang dong kasih nama Pantai,” cerita petugas Pantai Naomi kepada saya. Bagaimana dengan Pantai Tiba Lakukan yang telah hilang hari ini? ”Dulu dong sebut Pantai Tiba Lakukan karena kebiasaan orang-orang yang berkunjung, dong punya sebutan gaul saja jadi nama Pantai itu,” cerita seorang pemuda kepada saya yang rumanya 1 km lebih dari Pantai Tiba Lakukan. Pantai Tiba Lakukan tidak asing lagi bagi masyarakat Nabire hanya karena aktifitas orang-orang yang datang ke Pantai Tiba Lakukan hingga pulang kerumah. Sebutan Nama Pantai Tiba Lakukan ini berawal dari idiom sosial pada kehidupan/ aktivitas di lingkungan Pantai Tiba Lakukan, sebelumnya Pantai Waroki. Dari tahun 2012-2015 Pantai Tiba Lakukan menjadi pilihan paling tebat untuk berkunjung semenjak sedianya jalan tikus, Pantai Tiba Lakukan ini sangat indah di pandang oleh


mata saya jika siang tiba dan menembus sore jingga. Waktu hari libur datang, banyak kalangan muda maupun dari kelompok keluarga bertamasya di Pantai Tiba Lakukan dengan cara mereka sendiri, diantaranya bermain bola di pinggiran bibir pantai, bakar-bakar ikan, ayam dan beberapa daging lainya, ada juga aktivitas lain seperti berpose bersama dalam pasangan selingkuan dan pula jodohnya. Bentuk dari Pantai Tiba Lakukan ini memiliki karakteristik tersendiri dengan memiliki pepohonan kelapa yang cantik dan beberapa pohon mangga yang dapat berbuah dan buah kelapa dapat dikomsumsikan oleh para penggunjung pantai tersebut. Pantai ini unik karena hasil dari pohon kelapa siapapun yang berkunjung boleh memanen tapi tidak dibawa pulang, minum di pantainya sebagai obat ketika dahaga datang karena teriknya matahari Nabire


Jika hari libur tiba, seperti hari minggu dan hari libur lainya, sebagian warga Nabire memilih Pantai Tiba Lakukan karena Pantai ini serba gratis, apapun Anda bisa dilakukan kecuali menggambil sebidang tanah maka harus bayar karena menggambil hak hidup warga asli Papua. Pantai tiba Lakukan ini berukuran panjang kurang lebih 2 KM lebih dan lebar 200-400 meter dari jalan raya hingga di bibir pantai. Pantai Tiba Lakukan bertetangga dengan sebuah Industri kayu PT.Eka Dwika Perkasa yang sudah lama berdiri. Perusahan itu menggelolah kayu setelah mengeksport kayu batangan melalui kapal yang hampir setiap minggu berlabuh di pelabuhan mini di ujung Pantai Tiba lakukan. Perusahan kayu ini sudah peroperasi sekitar 20 tahun lebih setelah berhasil meraup sebidang tanah milik warga pesisir Pantai Taluk sebelah dari Pantai Tiba lakukan dengan transaksi pembelian dan memiliki izin Industri No:SK.522.2/1538.


Pada tahun 2012 waktu saya masih duduk di bangku SMA, jalan masuk Pantai Tiba Lakukan sangat cantik dan indah di pandanggi, dipenuhi dengan pepohonan kelapa yang berbaris cintik dan indah, namun pada akhirnya di tahun 2017, Idiom Pantai Tiba Lakukan mulai di hapus dengan cara diratakan dengan alat berat milik industri PT. Eka Dwika Perkasa. Jika dilihat dari kehidupan sehari-hari warga pesisir Nabire pohon kelapa menjadi mata pencarian masyarakat lokal, menjual buah kelapa muda dan membuat sapu lidi dari daun kelapa kering semua itu untuk menghasilkan uang. Bukan saja kelapa tapi berbagai pepohonan seperti buah mangga, nangka, rambutan dan beberapa pohonya lainya yang bertumbuh di wilayah Pantai Tiba Lakukan ditebang semua. “Kenapa dong tebang pohon kelapa semua itu.� tanya saya dengan sedikit keresahan kepada warga yang sedang menontong alat berat ratakan berbagai pepohonan yang sudah lama ada.� Itu perusahan kayu sana, dong sudah beli mau perluas dong punya meubel itu.� Tidak banyak pikir jawab warga tadi kepada saya dengan tak rela. Dengan penebangan pohon yang dilakukan oleh perusahan kayu, Pantai Tiba Lakukan menjadi Pantai yang tidak elok di mata Warga Nabire secara kolektif.. Pantai Tiba Lakukan menjadi kotor sebab beberapa pohon kelapa kumpul di pinggiran laut sehingga ketika datangnya gelombang laut yang tinggi membawah beberapa pohon tadi dan menjadi tumpukan sampah di ujung Pantai Tiba Lakukan yang kini telah mengecil dan rusak akibat perusahan kayu yang tidak solutif dalam menjaga cagar alam bagi warga di tempat untuk menikmati udara yang baik. Idiom Pantai Tiba Lakukan belum hilang walaupun keindahannya telah ditelan oleh Industri. Warga Nabire masih menggunakan Pantai Tiba lakukan sebagai tempat melepas pekat dan melepas hasrat. Kehidupan Warga Nabire telah sampai di tahun 2018, Pantai Tiba Lakukan masih menjadi Pantai yang masih diminati warga Nabire. Di tahun yang baru di pertenggaan tahun 2018, datanglah sebuah Proyek PLTMG MPP PAKET 2 PAPUA NABIRE 10MW yang di bangun dengan tiga kontraktor Nasional PP (PT Pembangunan Perumahan),


MPP (Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia), EPC (Engineering-ProcurementConstruction) mulai dibagun bersebelahan dengan Industri PT. Dwi Dwika Perkasa, dalam proses dibangun semua yang menjadi keindahan Pantai Tiba Lakukan dibabat habis tanpa sisa. Dengan adanya dua tangan besi yang datang melalui hukum yang dibayar, telah menghantam berbagai pohon yang ada di bibir Pantai. Kali ini, hilang sudah Idiom Pantai Tiba Lakukan, sebab warga Nabire telah kehilangan satu tempat yang indah sebagai salah satu tempat yang dapat menghidupi di hari-hari berjalannya waktu. Semua cerita bersama Pantai Tiba Lakukan tinggallah kenangan yang telah ditimbun oleh besi dan kayu yang datang melalui dua pelabuhan kayu dan minyak. Seperti pohon kelapa yang melintang di tumpukan sampah di leher Pantai Tiba Lakukan, sudah tidak ada harapan untuk menikmati Pantai Tiba Lakukan yang bersih seperti dahulu kelak. Hari ini Pantai Tiba Lakukan telah hilang, tinggallah sampah entah darimana berserakan di bibir laut yang sudah tercemari. Mengenal idiom Pantai Tiba Lakukan dari aktivitas kaum milenial di Pantai Tiba Lakukan. Banyak pasangan milenial berbagi cerita ketika sore datang di antara pepohonan yang menggamankan pandangan pasangan lain yang sedang bermesraan, namun semua itu telah berlalu dibawa pergi oleh air laut yang bersih dan pepohonan kelapa dan beberapa pohon lainya yang cantik dan indah. Kini, tinggalah Pantai yang buruk, menikmati Ikan yang telah tercemar oleh sampah Industri dan Perusahaan, Idiom Pantai Tiba Lakukan telah hilang.


Idiom yang Hilang Dokumentasi

Nomensen Douw


Ilustrasi Megezine

Puisi

Perempuan Hebat: Mama-mama Pasar Papua - Oleh Agus Shalim


Waktu belum juga pagi Namun ayam berkokok menjadi pengigatmu,bahwa rutinitas siap untuk dimulai. Bangunmu awal dengan nyalang, Mempersiapkan sayur, buah, pinang, keladi, dan petatas. yang nanti siap dijajakan di antara ruang-ruang kota, emperan toko, dan lorong di sepanjang pasar karena tidak ada tempat untukmu. Hitam Jalan yang masih basah, karena renjis hujan semalam, menjadi santapan pagi di atas kirap langkah penuh renjana, dengan banyak mimpi yang ingin diwujudkan dalam Noken yang kamu pikul dan junjung di atas kepalamu, Seolah menjadi biasa dan tidak membuat lelah dan menyerah tubuhmu. Di bawah terik matahari Di atas tanah yang tak beralas kau duduk menjajakan dagangan, sambil memeluk noken dengan senyum penuh harsa atas rezeki hari ini. Semangat yang tak pernah luntur meski hujan kadangkala membuat kuyup tubuhmu Namun asamu tak urung, jiwamu tetap sumarah. Aku bangga kepadamu,tapi aku tidak tahu bagai mana harusnya berdiri bersamamu di tengah keadilan yang tak berpihak padamu. Tak harusnya seperti ini menjadi asing di tanah leluhurmu, para pemimpin jangan jadi bedebah dan buta, sudah seharusnya mereka diberi hak tempat yang layak, untuk mengais rezeki di tiap harinya perempuan hebat mama-mama pasar Papua. 2020


Doc Nunias Selegani

C erita Pendek

Hapus Cinta dan Tempelkan Kepercayaan Kalau Ingin Menua Bersamaku di Intan Jaya - Oleh Nunias Selegani


Kau lihat, sudah banyak orang yang retak setiap hari karena memuja cinta terlalu berlebihan. Mereka tertipu oleh film - film romance yang dikendalikan oleh aktor dan sutradara hebat. Semakin dalam mereka menghirupnya, semakin ingin juga mereka memiliki kisahnya. Aku tidak datang mengunjungimu pertama kali dengan budaya romance. Hatiku tak memiliki cinta, hatiku tak memiliki rindu, hatiku tak meniliki rencana dan hatiku tak memiliki apapun. Hatiku hanya menempel pada kulit dalam tubuhku yang kuantarkan di muka dirimu dengan percaya diri agar tak ditawar oleh hatimu yang asing. Kau menilaiku dari kerja kerasku dan kepintaranku. Kau campakan masalah hati dan lebih memekahkan pikiranmu pada kemampuanku menjahit masa depan. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku melihat sosok perempuan ‘90-an dalam dirinya. Itulah alasannya aku hadir sebagai pelindung jiwa perempuan Papua yang telah punah di masa ini yaitu dirimu. Aku mencintaimu karena pembawaan dirimu. Aku mencintaimu karena sikap dan pola bicaramu selalu positif. Di manapun dirimu hadir, di situ kau akan memberikan dampak positif Awan mendung di langit Jayapura, informasi beredar di sosial media. Siapakah laki-laki yang beruntung ini, yang mendapatkan bunga bertangkai emas di pingiran pintu masuk Danau Sentani, yang akarnya menjalar masuk menahan bumi ujung kali Kemabu Intan Jaya, hingga menancap tepat pada jantung laki - laki pemilik Selopigu. Jangan membangun cinta jika bermimpi menua bersamaku. Jangan membangun hati yang besar, jika ingin melihat masa depan bersamaku. Bangunlah kepercayaanmu pada diriku. Karena dengan kepercayaan, cinta akan menajadi budak bukan penguasa dan kita akan terjaga sepanjang siang dan malam seperti awan dan matahari yang tak pernah bertukar posisi. #NER


Ilustrasi Freepik

Kontemplasi

Mama, Saya Rindu - Oleh Jose Rizal Papuana Mayor


Apa Mama baik-baik saja di sana? Bagaimana rupa nenek sekarang? Apakah masih sama seperti ketika sedang bercengkrama dengan saya untuk yang terakhir kalinya? Yah, aku harap mama sedang tersenyum menatapku sembari ditemani para malaikat surga. Sejak kepergian mama, ada banyak hal yang terjadi di dunia ini. Saya juga sudah menyelesaikan studi dan sungguh, saya ingin Mama masih ada di sini. Menjadi saksi pertumbuhan serta perjalanan hingga menjadi apa yang saya perjuangkan dan selalu menjadi doa mama setiap saat. Saya rindu usap tangan Mama yang membelai lembut rambutku. Rindu juga dengan candaan ringan yang selalu Mama lontarkan. Bahkan, saat Mama menegur saya ketika berbuat salah. Ah, andai saja Mama masih ada di sini. Kita pasti masih bisa saling bertukar cerita. Nenek pasti akan Mendongengkan cerita tentang Kota Emas. Mam, masih ingatkah dulu mama, Mama gemar menceritakan Kota Emas kepada saya dan Adik Chorazon? Ya, dongeng yang menceritakan tentang perjalanan dua orang sahabat, Tom dan Regi menuju kota Emas, walau sering kami meminta Mama untuk mengulangi cerita itu, Mama akan selalu menceritakan itu dengan baik bagi kami, sebagai bentuk rasa sayang Mama kepada kami. Saya masih ingat ketika hari libur tiba dan berkumpul bersama di rumah. Mama tidak pernah alpa menyiapkan hidangan, dari camilan hingga makan malam. Camilan yang mama buat selalu enak karena dibuat dengan takaran kasih sayang yang pas. Sama halnya dengan masakan yang Mama racik, membuat mulut ini tidak berhenti mengunyah. Bahkan, tidak hanya sewaktu libur saja, Mama selalu yang menjadi tujuan utama ketika saya sakit, saya akan memberitahu Mama terlebih dahulu, Mama juga selalu mau merawat saya, hingga mengorbankan banyak kesibukan lain.


Mama, ketika Mama terbaring sakit, Mama masih saja, menelpon saya, menanyakan kabar, sudah makan atau belum dan perkembangan studi. Mama semua proses perkuliahan telah saya selesaikan dan hari ini saya akan diwisudakan. Mama saya sangat ingin memakai toga wisuda dan foto bersama Mama, Bapak dan Adik-adik, tapi apalah daya Mama telah tiada. Mama, sejak tanggal 23 Desember 2019 saya dan Chorazon tiba bandara Sorong serta melanjutkan perjalanan ke Katapop, saya lebih memilih memakai motor, agar bisa lebih cepat untuk bertemu mama dan adik-adik. Tapi di sana Mama telah terbaring lemah karena sakit. Saya semakin bisa melihat dengan jelas jejak guratan di wajah Mama. Mama tidak lagi nampak sehat dan bisa membuatkan kami camilan. Mama lebih banyak tergolek lemah di atas pembaringan. Bahkan, saya dan adik-adik harus berada di samping kasur Mama demi bisa bercengkerama. Saat Mama terbaring lemah, saya mulai menyadari bahwa saya tidak memanfaatkan waktu pertemuan kita di dunia dengan sebaik-baiknya. Saya membuang waktu yang berharga hanya demi bersenang-senang bersama kawan atau bahkan sibuk berkutat dengan dunia maya yang dirasa kurang perlu. Mama, tanggal 2 Januari 2020 (00.15) jam 12.15 menit, adalah hari paling buruk yang saya tidak pernah bayangkan akan ada dalam hidup ini Mama, di mana saat terakhir saya memegang erat tangan Mama dan Mama menghembuskan Nafas untuk yang terakhir kalinya. Sampai detik ini pun saya masih mengutuki diri sendiri. Saya masih menyesal kenapa saya tidak selalu berada di samping Mama. Kenapa saya memilih mengabaikan daripada menemani? Ya, mungkin rasa sesallah yang kini menjadi alarm penanda bahwa saya tidak boleh mengabaikan lagi orang-orang kesayangan di dalam hidup ini. Ah, ya Mama, tahukah bahwa terkadang saya juga selalu cemburu jika ada satu dua teman yang masih memiliki seorang Mama hingga detik ini? Ya, saya cemburu dengan kedekatan mereka, kenapa mereka masih memiliki Mama dan Mama sudah


dipanggil terlebih dahulu? Pada kenangan yang pernah kita lalui bersama. Kenangan saat kita saling berbagi cerita, atau saat Mama selalu menuruti kemauan saya dengan selaku membelikan barang-barang yang kuinginkan. Sio, kenangan bersama Mama tidak akan pernah ada habisnya jika kutuangkan semua di tulisan ini. Tapi supaya Mama tahu, kenangan manis bersama Mama akan selalu tersimpan rapi di lingkar kepala dan juga dalam hatiku. Bahkan mungkin, esok saat tiba waktuku berperan sebagai seorang Pemimpin, saya akan mempraktekan penuh sifat bijak Mama. Ya, saya belajar banyak dari Mama, belajar mengorbankan keinginan diri sendiri untuk kepentiangan banyak orang dengan tulus. Mama, saya belum sempat membalaskan semua jasa Mama untuk saya dan mengatakan terimakasih atas jasa baik itu. Namum Mama telah pergi untuk selamanya. Mama satu hal lagi Mama saya sangat mengagumi dan menyayangimu, Mam. Terimakasih Mama telah memberikan masa kecil yang membahagiakan bagi saya. Mama saya rindu mama...


Kontributor Jose Rizal Papuana Mayor, lahir di Sorong, 25 Mei 1995. Saat ini menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan, Universitas Papua. Ia adalah seorang Aktivis kemanusiaan dan lingkungan hidup, juga sering bergerak menyuarakan aspirasi masyarakat yang di pedalaman terkait pendidikan, kesehatan ekonomi dan lain-lain. Sehari-hari, ia melakukan aksi-aksi lingkungan, kebersihan dan serta edukasi lingkungan kepada anak anak. Ia menyukai diskusi sembari mengunyah pinang.

Manfred Kudiai atau yang kerap disapa Maku adalah seorang editor di media kabarmepagaa.com. Ia lahir pada 15 Maret 1994. Lelaki yang hobi membaca ini bergabung dalam beberapa organisasi: Satmabhara Akprind, Ipmanapandode, Crew Multimedia OMK Baciro Yogyakarta, dan Ipmanapandodw Joglo. Ia telah menyelesaikan studinya di Institut Sains dan Teknologi Akprind, Yogyakarta, Fakultas Teknologi Industri. Ia menempuh jenjang pendidikan formal SD YPPK Tilemans Komopa, Paniai; SMP YPPK Lecoc D’arman Ville Kokonao; dan SMK N 1 Kuala Kencana, Timika.

Nunias Selegani lahir di Waisiga, 15 Desember 1994. Lelaki yang hobi menggalau ini telah menerbitkan sejumlah buku.

Fauzan Al Ayyuby adalah seorang warga biasa yang suka memburu dan meramu.


Kontributor Didi Mochtar saat ini menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Nabire. Ia hobi menulis, membaca, dan karate. Ia bisa dihubungi di Insagram: @didimochtar

Nomensen Down atau yang kerap disapa Nomen lahir di Idakebo pada tanggal 14 November 1993. Ia kerap berkeliling menangkap fenomena yang terekam lewat lensa dan matanya. Ia juga punya situs blog pribadi yang bisa dikunjungi: mrnomen.wordpress.com, yang memuat opini dan essai-essainya soal Papua.

Agus Shalim lahir di Bone pada tanggal 17 Juli 1992. Semasa kuliah, ia pernah mengemban beberapa jabatan organisasi: HMI Kom. Mipa STKIP Muh. Bone, Sekum SSBM Towarani STKIP Muh. Bone (2013-2014), Menteri kesenian dan kebudayaan BEM STKIP Muh. Bone (2014- 2015), Ketua ikatan mahasiswa Bombana watampone (2014-2015), Organisasi kemasyarkatan, Wakil ketua Lembaga Aliansi indonesia DPC Bombana (2016-2018).

Hamsyukur lahir di Manggulang 28 Desember 1991 silam. Ia adalah seorang alumni Universitas Negeri Makassar Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan di tahun 2016. Selain berkecimpung dalam geliat literasi dengan menahkodai Komunitas Nabire Membaca (Koname), ia juga seorang home brewers berlisensi.


KOLABORATOR:


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Megezine Edisi #4 by Kolektif Stereo - Issuu