1
Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Semangat terbitan ini adalah mengarsipkan praktik-praktik warga dan menghimpun ragam perspektif manusia sebagai bentuk merayakan perbedaan dan mengimani keunikan setiap manusia dalam merumus dan menyemarakkan perkembangan kota, terutama di Nabire, Papua.
Redaksi: Agus Shalim, Fauzan Al Ayyuby, Hamsyukur, Nomensen Douw, Kontributor: Agus Shalim, Anisah Septiani Bakrie, Fauzan Al Ayyuby, Mastuti Mais, Nurasiyah, Nomensen Douw
KOLABORATOR:
Grafika dan Tata Letak: Fauzan Al Ayyuby Redaksi menerima materi essai, foto, gambar, puisi, dan lain-lain melaui email: kolektifstereo@gmail.com
Alamat Redaksi: Sementara kami tidak punya kantor tetap. Tetapi kami bisa dihubungi melalui email yang tertera.
KATA PENGANTAR Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Pada edisi kali ini, Anisah Septiani Bakrie mengekspresikan perasaannya lewat artwork-nya. Lewat dua sketsa seorang perempuan Anisah menumpahkan ekspresi dan pertanyaan-pertanyaan yang tersembunyi di balik artwork-nya itu. Agus Shalim membuat penawaran dalam tulisannya untuk menjadikan budaya sebagai investasi daerah. Ia memaparkan bagaimana kebudayaan menjelma aset dan ciri khas yang punya daya tawar tinggi. Kemudian Fauzan Al Ayyuby membuat catatan pendek berisi pengalamannya mengalami “cinta buta� lewat tulisan pendeknya. Ada juga Nomensen Douw yang mengajak pembaca menilik kembali uang Otonomi Khusus di Papua. Apakah sudah tepat guna? Kemudian ada sepasang puisi Mastuti Mais. Ia membuat puisi tentang kegelisahannya, juga sebuah rasa terima kasih pada gurunya yang ia jahit dengan kata-kata magis. Terakhir, Nurasiyah. Ia menulis imajinasi dan pandangannya tentang Papua sebagai orang yang baru akan ke sana pertama kali. Pada akhirnya, selamat membaca!
CINTA ITU BUTA DAN KITA TAK PERNAH MAMPU MELIHAT OLEH FAUZAN AL AYYUBY
4
Sering sekali saya mendengar curhatan kawan-kawan dekat saya. Tentang mereka yang ditolak berkali-kali, diselingkuhi, sekadar dijadikan tukang antar jemput, atau lainnya. Ragam curhatan itu saya serap dan dengan saksama berusaha memahami tiap katanya. Mencintai dan dicintai memang perkara yang tak pernah habis sebab perasaan manusia tak kenal musim. Ia ikut tumbuh di setiap masa tumbuh dari generasi ke generasi. Di dada sebelah kiri manusia, perasaan sakit dan sembuh bergantian datang. Seolah ada rumah di sana, tempat perasaan berwujud. Mencintai dan dicintai punya bentuk khas di setiap tempatnya bertumbuh. Siapa bisa sangkal, misalnya, ketika anak kecil saling suka, mereka biasanya menyatakannya dengan cara yang “keras�. Mereka mengintimidasi, bahkan memukul. Tetapi itu cuma konteks paling kecil dari pertumbuhan cinta, yang pada kasus anak kecil tadi, dilihat dari usia dan pengalaman hidup mereka. Ada konteks yang mengikat imajinasi kita tentang cinta. Konteks itu diikat lagi oleh fenomena lokal, nasional, dan global yang tumpah dalam fragmen kebudayaan: dari sosio-psikologis, komunikasi, mitos, ritus, dan lainnya. Cinta kemudian jadi teks yang ditulis dengan tafsir individu atas kebudayaan yang ia jalani. 5
“
Ada konteks yang mengikat imajinasi kita tentang cinta. Konteks itu diikat lagi oleh fenomena lokal, nasional, dan global yang tumpah dalam fragmen kebudayaan: dari sosio-psikologis, komunikasi, mitos, ritus, dan lainnya. Cinta kemudian jadi teks yang ditulis dengan tafsir individu atas kebudayaan yang ia jalani. Ambil contoh, di salah satu suku Amazon, perempuannya akan merasa diperhatikan dan dicintai ketika mereka dipukuli (baca kisahnya di buku “Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir”). Cinta pada konteks ini tumbuh bersama peperangan. Hingga materialnya pun dibentuk dengan “cara” yang keras. Bisa dibayangkan, bagaimana peperangan antar kubu itu selalu mengambil perempuan yang komunenya dikalahkan. Hingga laki-laki yang ikut berperang memperistri mereka lagi. Mungkin di titik ini dapat dipahami mengapa perempuan di suku itu merasa dicintai ketika dipukuli. Di peradaban kita, cinta dibentuk oleh ragam definisi. Sudah sering kita dengar istilah yang cantik itu putih, yang tampan itu tinggi, atau atletis, dan bla… bla… bla… hingga imajinasi dan tafsir kita pada cinta kadung materialis. Kita menyukai sesuatu sesuai definisi yang dipasok oleh obrolan kawanan kita, televisi, internet, dan lainnya. Di titik ini, mari kita baca ulang dengan saksama judul dari tulisan ini: “Cinta itu Buta dan Kita Tak Pernah Mampu Melihat”. Cinta pada fitrahnya memang buta. Ia seperti abstraksi dalam hidup yang mesti kita telaah berkali-kali. Ia netral sebelum mencari wujud dan bertemu dengan konteks.
6
â€œâ€Ś Kita Tak Pernah Mampu Melihatâ€? lantaran konteks membalut cinta dengan sangat materialis. Padahal, jika ingin digugat, cinta karena material adalah hal yang rentan. Fisik manusia, misalnya, atau di kasus ekstrem hartanya, akan selalu berubah bentuk dan tidak stabil. Tetapi bukan berarti konteks tidak penting. Justru kontekslah yang mewujudkan cinta. Tetapi, konteks itu mesti dibarengi dengan motif dan kesadaran individu menafsir pilihan-pilihannya. Pada akhirnya, teman-teman saya yang curhat itu menjadi “orangorang kalahâ€?. Mereka dikalahkan oleh definisi-definisi yang mengisi dan membentuk konteks secara dominan, lantaran masih banyak juga yang memahami cinta dengan konteks yang lain, yang diisi oleh definisi-definisi alternatif. Mungkin saja teman-teman saya belum menemukan mereka yang punya konteks minor itu. Tetapi hidup terus berlanjut dan hanya itu yang kita tahu.[]
7
Artwork by
ANISAH SEPTIANI BAKRIE
8
PUISI
MASTUTI MAIS TAPI MUNGKIN... menampung lara di ujung mata senandung lirih menaruh rasa
matanya mungkin berbinar tapi hatinya nanar matanya mungkin sendu tapi hatinya teduh
engkau mungkin mampu menebak dari sorotan mata tapi tidak dengan hati
9
MERAWAT BUDAYA SEBAGAI NILAI INVESTASI DAERAH OLEH AGUS SHALIM
10
Kebudayaan merupakan simbol identitas yang menjadi pandangan hidup suatu masyarakat yang diwariskan dari generasi-kegenerasi. Untuk itu sebagai identitas suatu masyarakat, merawat nilai-nilai kebudayaan adalah suatu keharusan agar eksistensinya tetap terjaga. Lalu bagaimana dengan Kabupaten Nabire? Sebagai daerah transmigrasi dan imigrasi dari beberapa daerah luar Papua yang terus meningkat pertahunnya, potensi akulturasi sangat dimungkinkan untuk terjadi. Itu artinya akan ada pergeseran kebudayaan lama dan membentuk suatu kebudayaan baru. Nah, tentu hal ini harus diantisipasi agar identitas kebudayaan lokal tetap pada kekhasannya. Apa yang harusnya dilakukan? Untuk merawat kebudayaan lokal baik kebudayaan pegunungan maupun pesisir dibutuhkan komitmen secara bersama. Bukan hanya masyarakat lokal Nabire, tapi juga masyarakat “non-lokal� Nabire dengan berupaya mengintegrasikan kebudayaan lokal dalam kehidupan sehari-hari dengan sama-sama menghindari sikap primordialisme maupun etnosentrisme. Kemudian harus didukung oleh pemerintah daerah dengan komitmen kebijakan dalam merawat eksistensi kebuyaan lokal yang juga nantinya akan terintegrasi pada pembangunan tata ruang ekonomi masyarakat dan daerah.
11
“
Untuk merawat kebudayaan lokal baik kebudayaan pegunungan maupun pesisir dibutuhkan komitmen secara bersama.
Dalam hal tata ruang, pemerintah daerah harus melihat potensi kebudayaan yang dijadikan sebagai identitas kota, pembangunan fasilitas pendukung museum sejarah, rumah adat/balai adat harus ada di tengah-tengah kota, dan fasilitas lain yang dianggap sebagai kebutuhan. Dalam hal ekonomi, karunia Tuhan yang luar biasa dengan anugrah alam yang indah, dengan banyak potensi wisata, hal ini harus dilihat sebagai nilai investasi yang bisa dieksplorasi sebaik mungkin, dan harus didukung dengan nilai-nilai kearifan budaya lokal masyarakat daerah. Misalnya dengan karya seni noken dan batik yang dimiliki. Arus pembangunan harus bergerak dinamis. Maju tanpa meningglkan nilai-nilai kearifan lokal. Dengan tidak berpuas diri atas capaian yang sudah didapatkan sebelumnya, atas apresiasi sebagai salah satu daerah percepatan inovasi terbaik pada daerah tertinggal, tapi membuat target-target baru dengan pemanfaatan segala potensi yang dimiliki. Termasuk di dalamnya kearifan budaya lokal yang harusnya bisa dijadikan nilai investasi dalam pembangunan daerah.[]
12
Artwork by
ANISAH SEPTIANI BAKRIE
13
SEBUAH PERTANYAAN UNTUK UANG OTSUS DAN SOLUSINYA OLEH NOMENSEN DOUW
14
“Kenapa Mama Papua masih berjualan di pinggir jalan, di luar gedung pasar? Kemana pergi uang Otsus senilai Rp. 8,03 triliun itu? Otonomi khusus sebagai solusi bagi ragam masalah Papua yang dirancang oleh Pemerintah Pusat dan beberapa orang terdidik Papua disahkan lewat Undang-Undang nomor 21 Tahun 2001. Namun di dalam implementasinya, tidak sesuai dengan urat nadi dan nafas otonomi khusus itu sendiri. Sesungguhnya Otsus tidak berjalan apa yang diharapkan, yaitu segala prioritas untuk kepentingan orang asli Papua. Undang-undang Otonomi Khusus sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah, tetapi Otsus itu sendiri telah menjadi masalah. Dalam prakteknya tidak pernah menyelesaikan masalah mendasar orang asli Papua. Seperti persoalan mama Papua yang hingga kini masih berjualan di pinggir jalan raya. Indikasi dana otsus yang bermasalah. Sudah 19 tahun lebih Otsus menjamin hidup orang asli Papua di tanah Papua, namun sejauh ini mama Papua masih berjualan di jalan-jalan ditemani terik matahari yang begitu membakar kulit. Sudah lama mama Papua berdagang dan telah menjadi rutinitas mama Papua untuk memenuhi kebutuhan seharihari dirumah, dan membiayai anaknya bersekolah dari hasil berjualan. Ada aneka ragam mama Papua yang berjualan di jalan seperti hasil jahitan Noken, sayur, ubi, dan hasil kebun lainnya.
15
Kehadiran Pemerintah di Papua, sudah 50 tahun lebih. Namun belum ada perhatihan yang signifikan terlihat secara mendasar untuk mama Papua. Mama Papua masih berjualan di tempat yang tidak layak dan ada sebagian kecil mama berjualan di tempat yang cukup baik, namun ada pajak retribusi. Mama Papua harus berjualan di tempat yang layak tanpa ada pajak yang mesti dibayar. Jika mama Papua harus membayar dan tidak memiliki tempat jualan yang layak, kemana Uang Otsus senilai 8,03 triliun itu pergi? Melihat di sekitar mama Papua berjualan di pasar dan di pinggir jalan, tempat di mana mama menggantung hasil jahitannya dan meletakkan hasil panen dari kebun, kesedihan saya timbul saat itu. Melihat mama Papua berlindung di bawah terik matahari yang membakar kulit. Sungguh, bagi saya sangat menyakitkan, sebab mama saya pun adalah seorang pedagang yang berjuang demi nasib hidup keluarga kami seperti mereka. Dimanakah hati pemerintah untuk mama kita? Dari tahun 2001 UU Otsus berlaku untuk orang Papua. Di mana Otsus itu berlaku? Melihat dari perbandingan mama Papua dan mama non Papua di pasar, seperti di Pasar Karang, Pasar Kalibobo, Pasar Oyehe, dan Pasar Sore, sangat jauh perbedaanya. Artinya, lebih banyak mama non Papua berjualan di tempat yang layak dari pada mama Papua. Coba saja ke pasar, pasti kita akan bertemu dengan mama Papua yang berjualan di luar gedung pasar, tepatnya di jalan sepanjang jalan ke masuk pasar. Jika demikian, ada apa dengan Pemerintah? Persoalan sudah kita lihat tanpa kita riset lebih dalam. Ada sebuah kesalahan yang terjadi, namun Pemerintah tidak simpati pada keterbelakangan itu. Makanya kadang saya berpikir lalu bertanya pada diri saya sendiri, “Untuk apa kita minta uang Otsus setiap tahun?� Percuma jika mama Papua masih berjualan di samping jalan raya di bawah sinar matahari yang membakar. Jika mama Papua masih berjualan di jalan dan di tempat yang tidak layak, apa buktinya kalau otusus 19 tahun sudah berlaku bagi orang asli Papua? Apakah 16
“
Kehadiran Pemerintah di Papua,sudah 50thn lebih namun belum ada perhatihan yang siknifikan terlihat secara mendasar untuk mama Papua.Mama Papua masih berjualan di tempat yang tidak layak dan ada sebagian kecil mama berjualan di tempat yang cukup baik namun ada pajak retribusi.
kita mesti berkata, �Otsus gagal�, karena secara realitas tidak membawa perubahan bagi orang asli Papua, lebih khususnya bagi mama Papua yang masih berjualan di pinggiran jalan dengan cara yang sengsara. Dalam pelaksananya, dana otsus dibagi dengan porsi 60:40,yaitu 60 persen dikelola provinsi dan 40 persennya dikelola Kabupaten/Kota, lalu format baru dengan porsi, yakni 80 persen dikelola Kabupaten/Kota, dan 20 persen dikelola oleh provinsi. Perubahan format dalam porsi ini demi peningkatkan perhatian namun tidak menjadi tolak ukur yang baik karena masih banyak yang bekerja setengah hati dengan kepentingannya sehingga yang terjadi adalah kesenjagaan sosial masih terus meningkat di tanah Papua. Salah satunya mama Papua masih berjualan di pinggir jalan. Semestinya banyak langkah yang perlu diambil Pemerintah Daerah namun tidak membawah sedikit perubahan dalam sosial ekonomi orang Papua, seperti reformasi yang terjadi pada tahun 1998. Pada era reformasi, pemerintah telah mengeluarkan dua kebijakan tentang otonomi daerah: UU Nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan UU Nomor 25 tahun 17
“
Jika mama Papua masih berjualan di jalan dan ditempat yang tidak layak,Apa buktinya kalau otusus sudah 19tahun sudah berlaku bagi orang asli Papua? 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Ternyata itu tidak dipahami oleh pemegang kebijakan di daerah. Yang ada hanya manipulasi laporan dll dan esensinya mama Papua masih berjualan di pinggir jalan, di tempat yang tidak layak. Program kerja Gerakan Bangkit Mandiri dan Sejahtera yang dicetuskan oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe, pun tidak menjadi langkah yang sukses untuk kemajuan ekonomi rakyat Papua. Karena, secara konferensif tidak menyentuh dan tidak mengubah angka kemiskinan di Papua.Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kemiskinan di Papua meningkat dari sebelumnya 27,43% dari September 2018 menjadi 27,53% pada meret 2019. Salah satu bukti dari angka kemiskinan yang kita bisa katakan benar adanya, yakni mama Papua masih berjualan pinang, hasil jahitan noken dan hasil kebung tanpa kelayakan tempat yang disiapakan oleh Pemerintah Daerah. Ada alternatif yang diambil Pemerintah Pusat di Era Jokowi-JK setelah ada tuntutan masyarakat Papua pada 7 Meret 2018. Pasar tradisional mama Papua telah diresmikan dengan sumber dana BUMN, tepatnya di kota Jayapura, Provinsi Papua. Namun itu bukan menjadi ukuran bagi mama Papua di beberapa daerah lainya di kabupaten kota. Masih banyak mama Papua yang berjualan di jalan dan di tempat yang tidak layak. Pemerintah Daerah harus lebih lmembuka mata hati dan pikiran, menggambil contoh pasar yang sudah dibangun di Jayapura. Dana otsus harus benar-benar dipakai untuk kebutuhan rakyat daerah.
18
Papua memiliki masalah yang sangat kompleks namun hal ini tidak menjadi masalah yang besar jika pemimpin mau bekerja keras dan jujur terhadap rakyat. Hanya saja saat ini orang Papua tidak memiliki pemimpin yang mau bekerja keras dan jujur terhadap rakyatnya sendiri.Sehingga,sampai hari ini mama Papua masih berjualan di jalan karena pemimpin masih memandang persoalan mama Papua ini sesuatu yang tidak penting dan biasa saja. Hampir secara umum pemimpin Papua tidak memiliki hati yang empati kepada masyarakatnya, sehingga pembagunan dari tahun ke tahun tidak pernah ada perubahan. Pelayanan tanpa hati inilah yang menjadi masalah besar di Papua. Jika saja Pemerintah Daerah mau melayani masyarakat dengan sepenuh hati yang tulus, jujur, dan transparan dengan penuh hati yang empati, maka masalah Papua bukan sesuatu yang besar. Mama Papua harus dimenangkan dengan Otsus apapun konsekuensinya, sebab sudah di jamin UU No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Daerah Khusus (Otsus). Pemerintah Daerah harus melayani, menggayomi, dan mengajak. Tidak bisa Pemerintah hanya membagun infrastuktur lalu dibiarkan begitu saja. Pemerintah harus lebih kreatif berpikir dan harus mendorong rakyak menjadi kompeten dan punya kapabilitas yang tinggi. Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip Noam Chomsky: “Musuh sesungguhnya yang selalu ada adalah orang miskin melihat orang kaya sebagai perampok�. (1986-2011,Hl.60) 19
SAYA HARUS BISA KE PAPUA OLEH NURASIYAH
Tulisan sederhana sebagai bentuk pelunas hutang untuk Kak Ochank. Semoga tetap istiqamah di jalan literasi yang memerdekakan! Dalam hati saya, “Saya harus bisa ke Papua.” Saya mulai menikmati hidup di perantauan di usia 22 tahun. Seiring dengan saya bebas dari kampus setahun yang lalu, kemudian memutuskan untuk menginvestasikan setahun waktuku untuk menjadi relawan di sebuah yayasan yang dikenal dengan Indonesia Mengajar. Sebuah gerakan inisiatif masyarakat untuk sama-sama bergerak menuju perubahan baik pada sektor pendidikan di pelosok Indonesia. Semasa pelatihan di ibu kota, dalam hati saya selalu berharap agar ditempatkan di Papua. Di mata saya saat itu, Papua adalah bagian Indonesia yang “sangat membutuhkan”, tapi mungkin di mata Negara, “kami butuh Papua.” Saya teramat sadar Papua bukan jadi ajang gayagayaan untuk membuktikan pengabdian sesunggguhnya. Di dalam pikiranlah sebenarnya pengabdian itu ada, bukan hanya sekadar aktivitas. Tiba masa pengumuman penempatan kala itu. Saya tidak berjodoh untuk menginjakkan kaki ke Papua selama setahun kemarin. Saya mendapat amanah hadir membersamai arah dan langkah pendidikan di Kabupaten Aceh Singkil. Layaknya tumbuhan, kita harus tumbuh dan berkembang di manapun kita ditempatkan. Tapi siapa yang sangka, setahun berikutnya, saya mendapat tawaran lewat sambungan telepon genggam. Tawaran yang datang dari kantor yang menawarkan untuk kembali bertugas. Dalam hati saya, “Kali ini saya harus bisa ke Papua.” 21
Saya menelepon bapak dan ibu di Makassar, “Saya mau minta izin, mau lanjut tugas ke Papua.”, jawabannya tegas tanpa pertimbangan, “Tidak! Ke Makassar saja pulang untuk cari pekerjaan. Sekarang lagi ada pendaftaran CPNS juga. Papua tidak pernah aman. Sekarang sedang konflik. Nanti kalau ada apa-apa susah pertolongannya. Di sana tidak ada sinyal. Nanti kalau sakit, syukur kalau dokternya ada di tempat.” Begitulah kira-kira rangkuman kecemasan orang tua. Tapi yang membuat saya lebih cemas adalah cara pandang orang tuaku memandang Papua. Menyimpulkan semuanya lewat media dan berita online. Seolah papua adalah sarang masalah dan keterbatasan. Dua hari waktuku membujuk orang tua agar mempermudah langkahku menuju Papua. Cukup panjang dan penuh negosiasi. Sangat wajar jika orang tua bersikap demikian. Saya mengabarkan pada mereka bahwa saya akan bertugas 14 bulan di Kabupaten Pegunungan Bintang, yang berbatasan dengan Papua Nugini. Pikirannya sudah mengkhayal ke mana-mana. Kata pertamanya selalu saja, “KONFLIK!” Sebelum menyelesaikan tugas di Aceh Singkil, saya diberi arahan oleh beberapa orang desa tempatku bertugas, “Tahu ibu Ica, kalau Aceh dan Papua adalah saudara senasib di Indonesia ini. Kalau ada konflik yang mengatasnamakan OPM, bilang saja ibu adalah orang Aceh.” Saya memasang senyum, setidaknya keselamatanku masih banyak yang mengkhawatirkan. Setelah menyelesaikan dengan terburu-buru tugas di Aceh Singkil, saya segera pulang ke Makassar. Saya hanya memiliki waktu sepuluh hari bersama keluarga, kerabat, dan teman untuk bertemu sebelum kembali memulai petualangan 14 bulan di Pegunungan Bintang, Papua. Pada titik inilah saya mulai diserang banyak kecemasan yang hadir dari banyak pihak, 22
“Kenapa mau ke Papua?” Jawaban yang paling sering saya lontarkan adalah karena saya ingin melengkapi perjalananku dari Sabang-Merauke. Dari barat ke timur Indonesia. Jawaban ini sebenarnya adalah jawaban yang berusaha memancing mereka untuk mengeluarkan pendapat tentang Papua. Biar kurangkum semuanya. Jangan lupa suntik dulu sebelum ke sana, di sana banyak nyamuk malaria. Di sana adalah bagian Indonesia yang masih sangat tertinggal dari segi sarana dan prasarana. Di sana adalah bagian Indonesia yang berkonflik. Di sana adalah tempat HIV/AIDS bekembang. Di sana masih adat, pendatang nanti dibenci lalu keselamatan mereka diancam. Di sana tidak bersinyal. Di sana barang-barang mahal. Di sana adalah sarang ketertinggalan pikiran orang-orang. Bukan yang di sana yang tertinggal, tapi pikiran kita yang suka meninggalkan Papua. Pertemuanku di cafe dengan salah satu teman, berakhir dengan sedikit tegang, pertanyaannya sedikit mengganggu kenyamananku, “Ca’, kenapa kamu mau ke sana? Sudah nyaman di sini. Di sana nanti susah. Nanti sering ketemu orang-orang adat yang tidak pakai baju.” Saya hanya menjawab, “Sebenarnya bukan isu Papua merdeka itu tidak benar. Melainkan yang benar itu adalah pikiran kita yang belum merdeka melihat keberagaman.” Ini bukan kali pertama saya akan bertemu dan berinteraksi denga orang Papua. Teman seperkuliahanku juga orang Papua dan ia sangat baik dan santun. Adik kelasku di kampus juga orang Papua, dan dia lucu serta ulet bekerja. Teman yang memintaku menulis tentang ini juga orang Papua. Dia baik dan begitu peduli dengan sekelilingnya. Kata orang, kita bisa menilai sesuatu kalau sudah berinteraksi di dalamnya. Kupikir ini sudah cukup untuk itu. Hampir lima tahun hidup berdampingan dengan mereka di kampus dan 23
“
Bukan yang di sana (Papua) yang tertinggal, tapi pikiran kita yang suka meninggalkan Papua.
lingkup pergaulan lainnya. Tidak ada yang membuatku ingin menjauh. Tidak hanya itu, cara pandang saya tentang Papua dibangun lewat kesenangan membaca tulisan positif orang-orang yang ada di blog, mereka sangat jatuh hati dengan toleransi yang ada di sana. Rasa kekeluargaan dan rasa saling memiliki selama hidup di sana. Ketertinggalan sarana dan prasarana masih bisa kita terima dengan bersabar untuk pemenuhannya, tapi saya merasa hidup lewat cerita yang hadir dari hati warga desa yang ada di Papua, bahwa mereka juga ingin sama dengan kita. Sama-sama saling memiliki dan menjalin keterikatan karena kita makan dan minum dari tanah ibu pertiwi. Semakin dekat waktu pemberangkatan menuju Papua, saya semakin tidak sabar menjumpai keberagaman. Papua dan Aceh bagi saya sama saja. Samasama tempat bertumbuh dan belajar. Toh barat dan timur adalah sama-sama arah.
24
PUISI
MASTUTI MAIS TERIMA KASIH, GURUKU
sekian tahun telah berlalu tatapanku tak pernah berubah matanya yang teduh ucapannya yang lembut membuatku tak pernah menemukan celah untuk berkedip dan berucap melihat dan mendengarnya masih membuatku beku beku dalam kebanggaan bangga pernah mendapatkan sejuta ilmu darinya bangga pernah menjadi bagian dari sepenggal perjalanan hidupnya dialah awal semulaku terima kasih guruku
25
26