Skip to main content

Megezine Edisi #1

Page 1

Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Semangat terbitan ini adalah mengarsipkan praktikpraktik warga dan menghimpun ragam perspektif manusia sebagai bentuk merayakan perbedaan dan mengimani keunikan setiap manusia dalam merumus dan menyemarakkan perkembangan kota, terutama di Nabire, Papua.

Penanggung Jawab: Fauzan Al Ayyuby

Grafika dan Tata Letak: Fauzan Al Ayyuby

Redaksi: Agus Shalim, Fauzan Al Ayyuby, Hamsyukur, Nomensen Douw,

Redaksi menerima materi essai, foto, gambar, puisi, dan lain-lain melaui email: kolektifstereo@gmail.com

Penulis: Agus Shalim, Fauzan Al Ayyuby, Hamsyukur, Nomensen Douw

KOLABORATOR:

Alamat Redaksi: Sementara kami tidak punya kantor tetap. Tetapi kami bisa dihubungi melalui email yang tertera.


CATATAN REDAKSI Pertama, perkenankan kami memperkenalkan Megezine. Mege (kerang [cowry]) adalah “mata uang” kultural masyatakat Papua. Kami mencoba meredefinisi dan memaknai ulang kebutuhan masyarakat Papua atas literasi selain uang lewat bentuk zine. Kami juga coba pakai simbol “mege” sebagai “nilai tukar” yang awalnya uang, jadi pengetahuan. “Mege” secara simbolik kemudian kami beri makna sebagai “nilai tukar” yang sifatnya literat dalam proses produksi, reproduksi, distribusi. Secara lebih luas, kami menginterupsi pola pikir masyarakat pada umumnya yang melihat Papua sebagai “lahan basah” untuk meraup uang. Perlu pandangan lain. Perlu sesuatu yang lebih transformatif dari cara pikir yang “primitif ” itu: melihat Papua sebagai teks yang di dalamnya penuh dengan konteks, kemudian meredefinisi citra Papua yang dalam fragmen eksotisme yang jadi “dapur Indonesia”. Dengan dalih itu, kami membuat zine yang merekam praktik-praktik warga, pendapat warga, dan lainnya, untuk disajikan pada khalayak untuk melihat Papua dari ‘pandangan lain yang tidak eksotis. Pada edisi pertama, Agus Shalim, pegiat literasi yang bergerak bersama Komunitas Nabire Membaca, membuat catatan tentang urgensi perpustakaan di daerah sebagai penopang pengembangan sumber daya manusia. Ia menarik garis horizontal antara rendahnya kualitas sumber daya manusia dengan mangkraknya perpustakaan.


Kemudian ada Nomensen Douw. Pemuda Papua yang acapkali melempar argumentasi yang spekulatif atas kejadian-kejadian ydi Papua. Menarik melihat menyimak Nomen justru menawarkan solusi untuk memahami Papua dalam bingkai kemanusiaan. Ia meletakkan konteks Papua yang acapkali dinilai tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi lantaran media nasional seringkali terkesan menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya. Dengan bijak, ia menulis, “Bicara Papua: Anda Harus Duduk di Gubuk Saya�. Kemudian Fauzan Al Ayyuby membuka perban luka hidupnya untuk dibaca dan dipertimbangkan sebagai jalan memahami konstruksi sosial dan lebih personal, memahami pilihan-pilihan setiap manusia yang dibentuk dari habitusnya. Ia mengajukan berargumen, “Lama-lama kita jadi menyukai sesuatu semata fisiknya bagus.� Hamsyukur mencoba merangsang memori kolektif para pemuda dan pemudi di Nabire, Papua, yang semasa sekolah pernah menjadikan Terminal Oyehe sebagai ruang rayu, atau ruang penuh sesak kenangan. Ia membuat catatan yang apik tentang cinta masa sekolah. Catatan yang ditulis Hamsyukur memacu daya picu untuk memberi jeda pada pemuda-pemudi di Nabire untuk bernostalgia. Terakhir, kami juga merangkum definisi cinta dari percakapan seharihari dalam grup Whatsapp Komunitas Nabire Membaca. Kami percaya, mendialektikakan cinta justru membuat kami menerima perspektif yang lain: merayakan keunikan manusia. Pada akhirnya, selamat membaca!


Megezine #1

Dokumentasi Koname - Agus Shalim

Hilangnya Peranan Perpustakaan sebagai Penopang Pembangunan SDM Perpustakaan adalah satu yang terpenting dalam mendorong memajukan pendidikan, dan keberadaanya sangat diharapkan ada di tengah tengah masyarakat untuk memberikan sumbangsi dalam memajukan sumber daya manusia. Dengan indikator peningkatan kemampuan literasi dasar agar tidak ada lagi buta aksara, sampai pada kemampuan di bidang ilmu pengatahuan teknologi agar mampu menghadapi kompetisi global yang semakin ketat. Jika perpustakaan melaksanakan perananya dengan baik, hal demikian tentu bukanlah hal yang sulit untuk terwujud. Nah! Untuk saat ini, Finladia masih dinobatkakan sebagai negara literasi tertinggi dan negara paling terpelajar di dunia, dan jepang sebagai negara dengan kualitas literasi terbaik. Sedangkan Indonesia sendiri masih menjadi salah satu negara dengan tingkat literasi terendah dengan barometer penilaian ditinjau dari perpustakaan dan sistem pendidikan. Melihat fakta-fakta ini kita dapat berasumsi bahwa 5


Megezine #1 mungkin ada yang bermasalah pada sistem pendidikkan atau perpustakaan kita sebagai penunjang pendidikan, terkait sistem pendidikan menurut saya memang perlu tetap dievaluasi karena sampai hari ini kualitas pendidikan kita masih dibawa negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Namun yang ingin saya soroti di sini bukan itu melainknn keberadaan perpustakaan yang merupakan salah satu penunjang pendidikan dan pembangunan kualitas manusia. Apa yang membuat negara kita tercecer di peringkat terendah dalam hal literasi tentu bukan dari jumlah perpustakaanya, mengingat Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak di dunia. Lalu peremasalahanya di mana? Permasalahannya menurut saya ada pada sistem pengelolahan perpustakaannya yang bisa dikatakan masih sangat buruk bahkan terkesan monoton. Contoh saja apa yang terjadi di Nabire, Papua. Perpustakaan

“

Permasalahannya menurut saya ada pada sistem pengelolahan perpustakaannya yang bisa dikatakan masih sangat buruk bahkan terkesan monoton.

Dokumentasi Koname 6


Megezine #1 Daerah yang mempunyai perananan mentransformasikan pengetahuan pada masyatakat luas, dan diharapkan mampu membangun sinergi dengan lembaga-lembaga masyarakat, tidak pernah dirasakan peranannya hingga wajar saja jika banyak yang mempertanyakan keberadaanya apakah Perpustskaan Daerah ini ada atau tidak? Dan saya rasa hal demikian juga banyak terjadi di daerah lain. Hal ini mengindikasikan bahwa permasalahan pengolalahan perpustakaan di daerah masih banyak yang belum termanajemeni dengan baik sehingga dampak yang terjadi berpengaruh pada rendahnya tingkat literasi di daerah dan Indonesia secara umum. Kalau boleh jujur, aktivitas literasi di daerah pelosok kebanyakan digerakkan oleh sukarelawan/komunitas literasi swadaya masyarakat yang tentu dengan segala keterbatasannya, tanpa dukungan pemerintah, tetap berusaha menebarkan virus - virus membaca sebagai bentuk bakti pada ibu pertiwi untuk sesama anak negeri. Inti dari tulisan ini yang ingin saya sampaikan bahwa rendahnya kualitas sumber daya manusia karena dipengaruhi rendahnya tingkat literasi yang harusnya dengan literasi kompetensi mereka bisa bertumbuh, dan karakter mereka bisa terbentuk untuk menghadpi tantangan di hari-hari akan datang, namun itu tidak terjadi. Rendahnya minat literasi bukan karena tidak ada perpustskaan namum karena perpustakaan tidak menjalankan fungsinya sehingga keberadaanya seperti tidak dirasakan dan membuat banyak akhirnya tersandera dengan keinginanya untuk belajar peningkatan kemampuan literasi karena keterbatasan media dan sarana-prasarana. Perpustakaan harus bertransformasi ke arah yang lebih moderen yang juga sekaligus bisa menjalankan peranannya sebagai wadah ilmiah tidak lagi monoton maka penting menurut saya ke depan agar perpustakaan mempunyai naungan kontrol dalam hal ini pengawasan dan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan program perpustakaan yang dikoordinir langsung perpustakaan nasional RI, dengan pemberian akreditasi perpustakaan misalnya sebagai indikator keberhasilan dan kelayakan perpustakaan yang selama ini tidak ada. Tentu hal ini penting guna menumbuhkan semangat literasi di setiap kalangan agar mereka mendapatkan akses informasi lebih luas melalui program perpustakaan daerah jika nanti terkelola dengan baik, dan tentu dengan harapan yang sama: manajemen perpustakaan yang baik itu akan memperbaiki kualitas manusia serta memperbaiki peringkat literasi agar mengalami perubahan signifikan. MARI BERBENAH, EVSLUASI SATUAN SISTEM PENDIDIKAN, EVALUASI PERANAN DAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN DAERAH UNTUK INDONESIA MAJU SDM UNGGUL.

7


Megezine #1

Sebuah Pernyataan untuk Cinta “Cinta adalah suatu untuk mencintai yang seolah “tak dapat dicintai�. Cinta lahir dari kebebasan, dan tidak pernah dapat diperintahkan, apalagi dipaksakan.� - Slavoj Zizek Cinta adalah bahasa hakiki di mana ketika kita mendefenisikanya semakin jauh dari makna yang sebenarnya. Dari situlah mungkin kesepian muncul ingin sempurna menerjemahkanya. entahlah. - Agus Salim Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku melihat dirimu seperti netizen di Nabire. Pilu dan tidak berdaya ketika Telkomsel mematikan jaringannya. - Hamsyukur Cinta tidak bisa didefinisikan dong. Ketika memang cinta pada sesuatu, tidak akan ada katakata yang akan bisa mengungkapkannya ataupun alasan untuk memaknainya. - Anisah Septiani Bakrie

8


Megezine #1

"CINTA KITA BEDA DI ALAM YANG LAIN" Apa kabarmu kau di sana? Aku jujur, cintaku disertai kasih yang memberi hidup keharmonisan. Aku tidak tahu cintamu seperti apa dalam gempuran ini. Tapi sudah lama kita hidup bersama. Hidup bukan soal kau memberiku makanan tapi aku yang punya kebun, tapi soal bagaimana kau dan aku hidup dalam alam bebas yang tidak saling membatasi hidup. Hidup ini telah berubah sudah lama. Aku tidak percaya soal cintamu padaku lagi. Dahulu aku hanya ingin sendiri tapi karena cinta yang terus memaksamu untuk memiliki aku, akhirnya aku punya cerita yang seperti ini. Kau tidak pernah tanya soal cintaku pada hidupku yang semestinya kau hargai. Kau punya banyak mimpi tentang kita ke depan, tapi hidupku tidak butuh itu. Aku hanya ingin hidup yang sederhana di sini. Kau tidak perlu repot. Kapanpun aku akan begini dan inilah hidupku. Kau harus paham tentang definisi hidupku yang dasarnya tidak akan pernah seperti yang kau pikirkan hari ini. Disini surgaku, untuk apa kau bahwa segalanya datang. Aku hanya butuh sesuatu yang sederhana, seperti tungku api yang memasak air menjadi panas untuk secangkir kopi yang menghiasi cerita di sore hari, dalam pelukan dingin alam yang selalu membisikku kalau kita hidup lebih bersahabat dalam kesederhanaan hidup yang lebih biasa. Aku tidak mau sepertimu dan kau tidak mungkin menjadiku. Cintamu berbeda karena hidup kita bersama hanyalah dipaksa sejak itu. Untuk apakah aku harus mencintai kamu jika kau tidak mencintaiku. Aku hanya ingin mewarisi hidupku di dalam alamku. Biarkan aku hidup seperti ini apa pun konsekuensi hidupku di sini. Mr Nomen

9


Megezine #1

Dokumentasi Fauzan Al Ayyuby - Fauzan Al Ayyuby

Luka-Luka Kita Dunia ditimbun dengan perasan darah dari luka-luka lama. Luka itu diperban. Ditutup dengan perban putih yang polos. Kemudian luka itu tertutup selamanya. Luka yang masih punya aroma, tapi kehilangan warna, walau sesekali darah dari luka itu meresap menembus perban putih polos itu. Tapi setelahnya, ia dibalut perban lagi. Perban yang lebih halus. Perban yang kadung menutup mata banyak orang dan mendistorsi arti cinta yang sebenarnya. Luka-luka dunia meski ditimbun dengan rapi, punya bekas yang tak pernah hilang. Luka-luka itu senantiasa menenami kita tumbuh, lalu berbuah. Buahnya kita makan dipadu-padankan segelas susu dan kudapan yang telah dingin. Luka-luka masa lalu. Luka-luka yang mengonstruk dunia jadi punya katup mata. Luka-luka yang melapisi makna dari waktu ke waktu jadi sekadar benda, warna, juga rasa. Siapa sangka, perbudakan oleh kaum kulit putih pada kaum kulit hitam di masa lampau jadi ‘rule model’ dari mental kita merespons mereka yang berkulit hitam. Dari perbudakan itu, kulit putih punya sejarah yang lebih superior daripada mereka yang berkulit hitam. Bahkan jadi sebuah gerakan dan ideologi bernama ‘supremasi kulit putih’. 10


Megezine #1 Di Indonesia, supremasi kulit putih digencarkan oleh media seperti televisi. Mereka dengan sengaja mendefinisikan ‘cantik’ dan ‘tampan’ dalam frame yang sangat bendawi. Bisa dilihat, bagaimana produk-produk kecantikan dan ketampanan menjelma membangun pemahaman bahwa cantik dan tampan itu mesti putih, mulus, dan bersih. Definisi yang dibangun media kemudian tersebar luas dengan massif dan jadi ‘rule model’ untuk menilai cantik dan tampan. Banyak manusia kemudian melupakan kesyukurannya menjadi ‘manusia’ dengan berusaha mirip seperti apa yang ditampilkan media-media kita. Segala macam produk dicoba. Bahkan kadang, harga produk yang dicoba melebihi dari harga yang harus ia keluarkan untuk biaya hidup. Tapi demi kecantikan dan ketampanan, manusia berlomba-lomba mendandani dirinya semenarik mungkin. Lantaran jadi ‘rule model’, pemahaman ini tumbuh jadi ‘nilai’ yang berpengaruh pada cara ‘manusia’ menilai ‘manusia’. Bukan hanya pada nilai ‘cantik’ dan ‘tampan’, nilai ini berevolusi jadi nilai ‘fisik’, di mana orang-orang menilai sesuatu semata fisiknya ‘bagus’. Sebagai contoh, pasca pemilu tahun 2019, seorang caleg DPR RI dari NTB berinisial EA, diprotes oleh lawannya berinisial F sebab fotonya yang kata F diedit terlalu cantik. F percaya, foto EA yang digunakan sebagai alat peraga kampanye (APK) memanipulasi pilihan calon pemilih sehinga memilih EA. Bisa dilihat, bagaimana F percaya bahwa banyak dari masyarakat kita yang masih menilai secara fisik. Apalagi konteks pemilihan yang punya konsekuensi ‘jarak’ antara pemilih dan calon yang tidak saling mengenal. Akhirnya, keputusan-keputusan ‘memilih’ diletakkan pada nilai ‘fisik’. Lamat-lamat, takdir kita pun diikat pada sesuatu semata-mata ia ‘bagus’ secara fisik. 11

“

Lantaran jadi ‘rule model’, pemahaman ini tumbuh jadi ‘nilai’ yang berpengaruh pada cara ‘manusia’ menilai ‘manusia’. Bukan hanya pada nilai ‘cantik’ dan ‘tampan’, nilai ini berevolusi jadi nilai ‘fisik’, di mana orang-orang menilai sesuatu semata fisiknya ‘bagus’.


Megezine #1 Jika sudah seperti ini, jiwa jomlo saya meronta. Sebab bukannya apa, yah, tapi memikirkan takdir anak-anak saya. Mereka diambang ‘lahir’ atau ‘tidak’ semata-mata takdir ayahnya diikat oleh konstruk ‘nilai fisik’ yang akut. Calon ibunya bahkan sampai sekarang hanya sekadar ‘calon gebetan’ belum jadi gebetan, sebab kadang ketika baru didekati, calon ibunya kadung sudah persiapkan alasan-alasan yang muskil ditembus. Misalnya: “Saya tidak punya waktu untuk pacaran. Saya sibuk belajar.” Atau yang alasan yang sedang fenomenal: “Saya tidak pacaran, kak.” Hmmm. Pasal ‘nilai fisik’ itu, kemudian saya tumbuh jadi pribadi yang tidak sabaran. Jika ada perempuan yang saya dekati merespons dengan baik, saya langsung tancap gas. Padahal responsnya sebenarnya pada hal-hal maknawi semisal, desain atau tulisan-tulisan saya yang ia sukai. Sebenarnya ini hal yang baik. Masih ada perempuan yang merespons ‘makna’ ketimbang ‘fisik’ yang di luar kendali manusia. Perihal tubuh kita, misalnya, tidak ada satupun manusia yang bisa menentukan fisiknya dari lahir akan seperti apa. Manusia baiknya mensyukuri seperti apapun fisik yang diberikan kepadanya. Bukan malah mengklasifikasikan ‘nilai’ bahwa yang satu lebih baik daripada yang lainnya, seperti apa yang selalu dicitrakan media-media kita.

“

Saya percaya, obat yang baik, gagasan yang baik, tumbuh secara organik. Jika instan, obat itu tidak akan bertahan lama atau justru hanya menahan sementara, tapi punya efek samping yang tidak kalah sakit dari luka yang sekarang.

Rasialisme yang terjadi belakangan di Indonesia adalah wujud dari klasifikasi ‘nilai’ itu. Di mana segelintir orang merasa lebih manusia karena warna kulit dan bentuk fisiknya yang ‘bagus’ daripada manusia lainnya. Ini luka kita bersama. Luka-luka dari kegagalan kita memaknai ‘nilai’ dari perbedaan. Luka-luka dari ketidaksyukuran kita pada Tuhan yang menciptakan kita dengan banyak suku, agama, dan ras di dunia. Selain rasialisme, masih banyak luka-luka kita yang lain. Berlapis-lapis. Butuh obat mujarab untuk menyembuhkan itu semua. Dan obat itu diramu di 12


Megezine #1 kepala kita, jadi gagasan yang menyembuhkan luka tanpa harus menaruh perban putih yang kadang membuat lukanya justru membusuk dan aromanya masih menyeruak ke mana-mana. Saya percaya, obat yang baik, gagasan yang baik, tumbuh secara organik. Jika instan, obat itu tidak akan bertahan lama atau justru hanya menahan sementara, tapi punya efek samping yang tidak kalah sakit dari luka yang sekarang. Perlu ketelatenan dan keterampilan dari diri kita masing-masing untuk menumbuhkan obat berupa gagasan untuk luka-luka yang ada. Mungkin tidak cepat, tapi untuk apa cepat jika itu hanya sementara? Deny Setiawan dan Bahrul Khoir Amal (2016) menawarkan sebuah cara untuk mengobati luka-luka itu dalam tulisan “Membangun Pemahaman Multikultural dan Multiagama Guna Menangkal Radikalisme di Aceh Singkil” dengan menawarkan paradigma pendidikan multikultural: “Paradigma pendidikan multikultural dapat dikatakan bahwa sebenarnya paradigma yang telah muncul sampai saat ini adalah paradigma teosentrisme, kosmosentrisme, dan antroposenirisme. Suatu paradigma yang rnemandang segala sesuatu ada yang memiliki kekuatan yang paling menentukan segala sesuatunya, yaitu Tuhan. Tuhan diposisikan sedemikian sentralnya menjadi acuan seluruh perilaku manusia. Sebagai bukti ke maha kuasaannya Tuhan memberikan alam dan segala isinya untuk menjadikan manusia hidup dengan bergantung pada kemampuan kosmos. Atas ketergantungan tersebut manusia hendaknya memiliki kesadaran kosmosentrisme untuk memanfaatkan, mengembangkan, dan melestarikan seluruh tatanan bumi dengan arif dan bijaksana. Paham antroposentrisme yang mengakui ukuran kebaikan dan kebenaran itu terletak pada akal budi manusia. Untuk meraih kebaikan hidup, baik individu maupun sosial, manusia harus mengembangkan akal budinya.” Apa yang ditulis Deny Setiawan dan Bahrul Khoir Amal menjadi penting mengingat luka-luka yang kini kita rasakan berasal dari ‘salah tafsir’ akal budi banyak orang tentang ‘multikulturalisme’. Sehingga, kebijaksanaan manusia dalam menafsir perbedaan jadi salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan ‘toleransi’ yang kompleks terhadap suku, agama, dan ras. Lebih lanjut, Deny Setiawan dan Bahrul Khoir Amal menulis: “Dengan totalitas ketiga paradigma tersebut diharapkan dapat menerbitkan manusia yang mampu menjalankan tugas hidup manusia yang saling bekerjasama sehingga mampu hidup (to make a living), mengembangkan kehidupan yang bermakna (to lead a meaningful life), dan untuk turut memuliakan kehidupan (to ennoble life).” Pada akhirnya, persoalan ini dikembalikan pada kita masing-masing. Lantaran setiap manusia diciptakan dengan akal budi yang mampu memahami bagaimana seharusnya ia menafsir kehidupan yang lebih manusiawi dan berusaha mengobati luka-luka dunia. Luka-luka kita. Minimal dari dirinya sendiri![]

13


Megezine #1

Komunitas Nabire Membaca (Koname) dan Honai Book Papua menjadi responden atas uji kelayakan Perpustakaan Daerah Kab. Nabire oleh UNPATTI Ambon. - 15 oktober 2019 | Hotel Delavista

Foto bersama peneliti Markplus.inc setelah wawancara terkait uji kelayakan Perpustakaan Daerah.

Mastuti Idris menerima merchandise dari peneliti Markplus.inc setelah wawancara

Ika Purwinda dan Anisah Septiani Bakrie menerima merchandise dari peneliti Markplus.inc.

Dina Destantya Duma menerima merchandise dari peneliti Markplus.inc setelah wawancara

Foto bersama peneliti Markplus.inc setelah wawancara terkait uji kelayakan Perpustakaan Daerah.

Hamsyukur diwawancarai peneliti Markplus.inc terkait kelayakan Perpustakaan Daerah

14


Megezine #1

Nunias Selegani menerima merchandise dan memberi buku pada peneliti Markplus. inc setelah wawancara.

Agus Shalim diwawancarai peneliti Markplus.inc setelah wawancara terkait kelayakan Perpustakaan Daerah.

Hamsyukur menerima merchandise dari peneliti Markplus.inc setelah wawancara.

Mr Nomen diwawancarai peneliti Markplus.inc terkait kelayakan Perpustakaan Daerah

15

Mr Nomen menerima merchandise dari peneliti Markplus.inc setelah wawancara


Megezine #1

Dokumentasi Fauzan Al Ayyuby - Mr Nomen

Bicara Papua: Anda Harus Duduk di Gubuk Saya Selama 50 tahun lebih Anda ditanya tentang saya. Di Jakarta tidak pernah Anda bicara tentang kebebasan hidup saya di sini. Semua keterangan yang Anda berikan tentang saya di media, berawal dari media nasionalmu yang meliput untuk kepentingan Anda. Saya paham itu karena saya pelajari. Saya agak skeptis tentang itu. Tapi semoga ke depan Anda punya niat positif tentang saya. Yang lebih penting bagi saya adalah Anda harus ke Papua, duduk melihat lalu berbicara bersama di gubuk. Secara personal saya tidak sama dengan mereka di luar sana. Personal saya murni soal kemanusiaan bukan soal isi perut dan isi dompet. Anda terlihat memaksa soal perut dan dompet tapi itu bukan solusi yang kami tunggu. Anda dan saya sudah hidup lama dan hidup bersama, tidak didukung oleh isi perut dan isi dompet saja. Yang lebih penting dan mendasari itu semua adalah soal nilai kemanusiaan yang dihempas ketidakadilan hidup bagi manusia. 16


Megezine #1 Anda tidak boleh berpendapat tentang persoalan hidup saya jika tidak pernah duduk agak lama di gubuk saya. Bersama saya. Persoalan hidup saya rumit. Mungkin Anda tahu tentang itu hari ini, dan mungkin juga tidak. Tapi yang pasti, Anda harus ke gubuk saya jika ingin berpendapat tentang hidup saya di sana. Saya adalah rakyat yang menghormati Konstitusi Negara. Saya tidak bermaksud membatasi demokrasi Anda tapi inilah cara mengkritisi cara pandang Anda tentang saya di sini. Umur saya sudah lebih dari 60 tahun bersama Anda. Persis hampir sampai umur Anda ketika lahir. Saya melihat hidup kita ini sudah lama bergulat tentang nasib hidup Anda dan saya di rumah saya. Sebut saja Anda dan saya hidup seperti Tom dan Jerry. Saya adalah Tom dan kamu adalah Jerry: karakter film karton itu, saya percaya Anda lebih paham dari saya. Tentu hidup bukan selalu soal menang dan kalah, tapi tentang makna hidup sebagai seorang manusia yang memerlukan sebuah nilai keadilan dan kebebasan. Anda harus mengerti bagimana dasar negara Anda memberikan kepastian hukum tentang kebebasan hidup manusia. Saya adalah rakyat Papua, semestinya Anda dan saya perlu duduk dalam satu atap lalu meletakkan kepentingan Anda dan berdialog. Saya ingin Anda tidak perlu seperti Tom: terus mengejar Saya. Anda harus datang di gubuk dan duduk bercerita, juga melihat. Anda harus jujur dengan akar persoalan ini. Saya ingin Anda datang sekali untuk duduk bicara dengan hati bukan dengan kepala yang panas. Anda perlu tahu bahwa ada beberapa hal yang secara sinis menolak tentang Saya. Anda berpadigma di sana: 1. Saya tidak paham kalau Anda berkata Papua daerah konflik dari kejauhan hati. Maka Anda menggambil solusi pendekatan Militer. Makanya saya mengulang lagi, Anda harus ke Papua dari Jakarta dan duduk di kampung dan diskusi bersama masyarakat di gubuk 17

“

Anda dan Saya hidup sudah lama, dan hidup bersama tidak bisa didukung oleh isi perut dan isi dompet saja. Yang lebih penting dan mendasari itu semua adalah soal nilai kemanusiaan yang dihempas ketidakadilan hidup bagi manusia.


Megezine #1 Saya jujur, Anda akan melihat relasi lingkungan sosial yang berbeda di Papua. Jauh beda dengan apa yang ditulis oleh media nasionalmu di Jakarta. 2. Anda perlu tahu bahwa rasis hanya ada di Pulau Jawa. Tidak ada di Papua: antara masyarakat Papua dan masyarakat asli Papua. Saya ingin beritahu, siapa pun orang luar Papua ke rumah saya, mereka pasti jatuh cinta dengan kehidupan saya kepada mereka. Sudah lama tidak ada rasis di Papua tapi karena pelaku rasisme yang berseragam di depan Asrama Papua belum pernah di proses oleh hukum negara menimbulkan rasisme baru di Papua. Hal itu menjadi personal baru di rumah Saya. Tapi yang terpenting bagi kami adalah Anda harus ke Papua dan duduk bersama lalu cerita banyak tentang Anda dan saya. 3. Selama ini saya melihat Anda lebih banyak percaya orang lain yang tidak pernah ke rumah saya tapi banyak berbicara di media. Anda jangan melihat saya dari pikiran media yang diolah di tempat lain, tapi nyatanya sangat berbeda. Anda harus ke Papua, di rumah saya. Tetang hal lain misalnya, jika Anda berkata Papua di kasih banyak uang, maka itu saya letakkan di nomor tiga. Anda perlu tahu bahwa ada persoalan yang paling penting, nomor satu bagi saya, yang semestinya Anda lagi-lagi harus duduk di gubuk(rumah) saya dan berdialog.

“

Anda dan Saya hidup sudah lama, dan hidup bersama tidak bisa didukung oleh isi perut dan isi dompet saja. Yang lebih penting dan mendasari itu semua adalah soal nilai kemanusiaan yang dihempas ketidakadilan hidup bagi manusia.

Anda mungkin belum memahami, kenapa kami terus merasa tidak nyaman dengan kehadiran Anda di rumah kami. Saya pelajari sejarah hidup saya sejak tahun 19611969. Apapun kebijakan Anda tentang saya selama kurung waktu 50 tahun lebih adalah urusan nomor dua dan tiga. Anda perlu tahu sejarah hidup kita semenjak kita hidup bersama dalam satu atap rumah. Ada persoalan yang besar yang hingga hari ini terus memicu konflik horizontal.

18


Megezine #1 Anda perlu baca riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia( LIPI) tentang saya selama 4 tahun. Lembaga itu meliris empat dasar persoalan akut Papua yang saya tulis dalam bahasa saya: 1. Sejarah hidupku harus diluruskan; 2. Anda harus akui kekerasan pada tahun 1965 pada saya yang masih tercium amis; 3.Saya dicatat termarjinalisasi di rumah Saya. Anda harus berubah; 4.Soal Pembagunan ekonomi, Freeport, lebih banyak Anda bawa pergi tapi sedikit yang Anda kembalikan. Anda pasti tahu laporan LIPI tentang saya. Ada analisis kebijakan bagi Papua yang mungkin saya harus tulis ulang di sini. Menurut Carl V.Patton, “policy analysis is the process through which we identify and evaluate alternative policies of programs that are intended to lessen or resolve social, economic, or physical program” (Patton,2012). Mengacu pada definisi Patton, analisis kebijakan terkait saya mencakup dua hal utama: (1) Identifikasi masalah dan pemahaman bersama atas akar masalah Saya; (2) Anda perlu evaluasi atas kebijakan Anda untuk saya selama ini menyangkut aspek politik keamanan, sosial, dan budaya. Misalnya UU Otsus dan pembentukan UP4B, kebijakan pembebasan tahanan politik (tapol), pembentukan akses bagi jurnalis internasional, dan penyelesaian kasus pelanggaran HAM. Sebetulnya sudah jelas di mata Anda, tuan. Banyak data tentang akar persoalan yang koheren, dan solusi yang kredibel sudah Anda kantongi. Semestinya hari ini panambahan militer di rumah saya adalah langkah yang salah. Aksi tangkap-menangkap aktivis Papua juga menumbuhkan rasa deskriminasi pada Saya. Seluruh ruang publik Anda blokade di rumah saya. Metode seperti itu membuat Anda rasis kepada Saya Sebenarnya Anda harus lebih beradab ketimbang biadap. Anda Jangan takut sebelum memulai. ”MARI DUDUK BERSAMA BUKU DAN ALAT TULIS DI SATU MEJA DAN MULAI BERDIALOG.LETAKKAN DULU ATRIBUT PERANG DAN PULANG DULULAH”

19

“

Sebetulnya sudah jelas di mata Anda, tuan. Banyak data tentang akar persoalan yang koheren, dan solusi yang kredibel sudah Anda kantongi.


Megezine #1 Dokumentasi Fauzan Al Ayyuby

Hamsyukur

Su Trada Cinta di Terminal Oyehe Seperti namanya, Terminal Oyehe berada di Kelurahan Oyehe, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire. Di Kota Nabire, bagi anak yang tidak mampu mengakses kendaraan secara pribadi di masa sekolah seperti saya, pasti sangat akrab dengan Terminal Oyehe. Setiap hari kami transit di sana baik di pagi hari ketika berangkat maupun pada saat jam pulang sekolah. Jika mengenang di masa saya sekolah, Terminal Oyehe seperti sekolah ke dua bagi kami. Kalau sudah terlambat ke sekolah, maka kami akan tinggal di terminal saja menunggu jam pulang sekolah. Terminal Oyehe akan dipadati anak sekolah ketika jam pulang sekolah. Anak sekolah yang di waktu paginya ke sekolah diantar orang tua pun, pulangnya akan ikut bergabung dengan kami di terminal untuk kemudian memilih taksi ke jurusan wilayah masingmasing. Hampir setiap hari, kami sengaja berlama-lama saat jam pulang sekolah di sana, salah satu alasannya adalah demi kepentingan mengamati “bebebs-bebebs� dari sekolah lain. 20


Megezine #1

Tidak jarang cinta bertumbuh di sana, dari anak sekolah satu misalnya, tidak sengaja ketemu dengan anak sekolah dua dan langsung kepincut. Mencoba mendekati dengan naik taksi yang sama, walaupun rumah mereka berbeda jalur. Namun, jaman sudah berubah, terminal Oyehe saat ini sudah sunyi dengan seragam putih biru maupun putih abu-abu, berganti dengan padatnya penjual kertas berwarna putih hijau dan merah Fungsi terminal seolah bergeser, cinta-cinta anak sekolah yang pada masanya sangat wangi di sana berubah menjadi aroma amis bau sampah yang menumpuk tidak karuan dan bau ikan yang dijual dadakan di area terminal. Padahal, terminal sendiri punya regulasi tentang kenyamanan penumpang. Siang tadi, kebetulan saya kembali menggunakan jasa taksi dan transit di Terminal Oyehe, masih terbayang wajah teman-teman sekolah saya yang sering menggunakan jasa terminal itu. Juga wajah seseorang yang sering menolak dijemput bapaknya demi naik taksi dengan saya. Hmm..

21

“

Jika mengenang di masa saya sekolah, terminal Oyehe seperti sekolah ke dua bagi kami, kalau sudah terlambat ke sekolah, maka kami akan tinggal di terminal saja menunggu jam pulang sekolah.


Megezine #1

22


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Megezine Edisi #1 by Kolektif Stereo - Issuu