1
EDISI #9, JULI 2022 Megezine merupakan terbitan bulanan yang merangkum essai, foto, puisi, gambar, curhat, dan lainnya. Zine ini diinisiasi oleh sekelompok pemuda dan pemudi yang ikut urun daya di Komunitas Nabire Membaca (KONAME) dan Kolektif Stereo. Semangat terbitan ini adalah mengarsipkan praktik-praktik warga dan menghimpun ragam perspektif manusia sebagai bentuk merayakan perbedaan dan mengimani keunikan setiap manusia dalam merumus dan menyemarakkan perkembangan kota, terutama di Nabire, Papua.
SUSUNAN REDAKSI REDAKSI
MANFRED KUDIAI, FAUZAN AL AYYUBY, NOMENSEN DOUW, HAMSYUKUR GRAFIKA DAN TATA LETAK
FAUZAN AL AYYUBY GAMBAR SAMPUL
AAN ZAPUTRA
Redaksi menerima materi esai, foto, gambar, puisi, dan lain-lain melaui email: stereokolektif@gmail.com KOLABORATOR:
2
Daftar Isi 6 Tabib Kampung oleh Topilus B. Tebai
18 Buah Saga
oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
22 Puisi-Puisi Amoigai Dumupa 26 Nilai dan Budaya dalam Suku Mee Papua oleh Laurensia Tebai
32
4 Peu Ekina: “Babi Tidak Baik” oleh Ricky Weĺerubun
13 Manusia yang Bermain, Bekerja, dan Belajar oleh Aan Zaputra
19 Bengkel Mom Agu oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
24 Dan Haruskah Terus Begini oleh Manfred Kudiai
28 Kesempurnaan di Luar Kontrol oleh Nomensen Douw
Wajah Kolonialisme, Konflik Horizontal dalam “13 Suku” dan Motto Damai Sejahatera Di Yahukimo oleh Renol Ishak Dapla
56 Proses Pembelajaran Daring oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
48 Menoken’s Environment oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
52 Makna Tahun Baru oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
58 Puisi Manfred Kudiai
59 Kutipan-kutipan Mia N Pigome
59 Kutipan-kutipan Agustina Doo
60 Gramatika Kebisuan
64 Kenapa Ko Kasih “Sa Harapan” Lalu Ko Pergi
oleh Fauzan Al Ayyuby
70 Kontributor
oleh Papuana Major
3
SEJARAH
Peu Ekina: “Babi Tidak Baik” oleh R icky Weĺerubun
Melihat saya memulai beternak babi Om saya mulai berbagi cerita sambil menikmati kopi di samping kandang yang baru saja saya bersihkan. Sambil duduk Om menyapa saya: ‘’Nama piiss koya uwata,’’ mengunakan bahasa daerah suku Mee yang artinya: “Selamat sore, om,” dengan kopi di teko dan dua gelas kopi yang sudah diputar oleh Mama. Sambil duduk om saya mulai bertanya, “Sejak kapan beternak babi, sudah lama ‘kah?” Saya sambil duduk membalasnya: “Beu, Om. Baru mulai,” sambil tersenyum melihat Om, saya pun duduk di sampingnya sampil menuangkan kopi. Lalu Om mulai bercerita. Dulu orang tua, “ikiya Muma“ (dalam bahasa daerah yang artinya “tete [kakek] kamu”) kalau beternak babi itu sangat tersembunyi dari orang. Jarang kami pun tahu kalau orang tua kami ada pelihara babi. Saya pun memandang om dan bertanya: “Kenapa harus tersembunyi dan yang pemilik saja yang tahu?” Setelah meminum kopi, om pun lanjut bercerita: “Semua orang boleh beternak babi tapi harus tahu tanda tanda bahwa babi itu baik untuk dipelihara atau tidak”. Saya pun semakin penasaran, “Wae wae, Om, kaweno? (dalam bahasa Mee yang artinya: “Bagaimana?” Om pun melanjutkan ceritanya lebih jauh. Jika ada tanda-tanda: babi bunyi gigi, babi kentut atau mengeluarkan gas, babi keluar dari kandang atau terjepit, babi mengeluarkan giginya dengan lidah kemudian memasangnya kembali, tumbuh bulu kuskus di babi, makan kotorannya sendiri, makan anaknya sendiri dan juga hewan
4
peliharaan misalnya ayam atau bebek. Saya pun termenung dan memikirkan apakah selama ini ada yang dialami oleh babi yang saya pelihara? Tapi rupanya tidak. Om melanjutkan ceritanya. Om melarang saya kalau sudah malam babi tidak boleh dikasih makan. Dan saat memberi makan jangan menutupi dengan bayangan kita. Karena melihat saya sedikit merenung, om saya mulai mengalihkan perkataan ke hal yang bercanda. Saya pun dibuat tertawa. Hari pun sudah semakin sore. Setelah membersihkan kandang, ada yang teriak dari dalam rumah, “Mau kasih makan babi jam berapa?” Suara mama saya yang lantang. saya pun membalas, “Iyo, ini mau kasih makan,” sambil bercanda dengan om, saya tidak rasa kopi pun sudah habis kerana asiknya cerita yang dibagikan Om saya itu. Karena sudah malam, saya pun mengantar om saya kerumahnya di Siriwini. Di dalam perjalan, om lanjut bercerita, “Oh benar, kalau ada tanda tanda yang tadi om bilang, babi itu tidak boleh dijual, tapi dipotong untuk dimasak atau dibagikan kekeluarga saja”. “Kenapa tidak boleh dijual, om?” Dalam perjalanan, saya bertanya. Om pun dengan suara yang agak keras sambil mengisap rokoknya menjawab: “Apa yang lagi ko kerjakan atau ko punya keturun kerjakan, akan banyak penghalang atau tidak berhasil,” dengan serius Om saya menjawab. Bersambung...
5
CERPEN
Tabib Kampung o l e h To p i l u s B Te b a i
Rumahnya berada di tengah kampung, dekat sebuah anak kali yang sangat jernih dan dijadikan sumber air minum penduduk. Karena berhalaman luas, makadi sore hari anakanak kampung menghabiskan waktu bermain di sini.
Pemiliknya, seorang perempuan tua. Dupimabi, begitulah orang-orang memanggilnya. Ia tak memiliki anak dan suaminya, konon katanya, meninggal saat Dupimabi muda. Setelah beberapa tahun menikah tanpa anak. Perempuan tua ini menguasai hampir semua mantra penyembuhan dalam tradisi leluhur. Saat ada perempuan di kampung melahirkan, ia membantu persalinan. Saat ada orang sakit, ia mendoakan dan mengobati. Saat ada orang kesusahan, ia orang pertama yang memberi bantuan. Ia tak memiliki kebun yang luas dengan aneka tanaman pangan untuk hidup. Oleh karena itu, ia hidup dari belas kasihan warga kampung. Namun seperti ingin membalas kebaikan warga, ia juga mengabdikan hidupnya demi warga kampung. Ia memberikan pengobatan gratis bagi semua warga kampung. Begitulah caranya perempuan ini hidup. Pagi-pagi, selesai makan seadanya, perempuan tua ini biasanya menyusuri hutan di pinggir sungai di utara kampung. Beberapa dedaunan, akar pohon, biji-bijian, dibawa pulang untuk menjadi ramuan. Siang hari, dari rumah, ia akan mengolah bahan-bahan itu menjadi ramuan. Sorenya, beberapa ibu, juga bapak, akan datang mengunjunginya. Mereka akan menceritakan perihal sakit yang diderita anak, isteri atau suami mereka. Keluhan-keluhan itu menjadi semacam diagnosa awal bagi perempuan tua ini. Beberapa sakit ringan, cukup diberikannya 6
ramuan. Beberapa yang perlu ia kunjungi, dikunjungi. Perempuan ini akan memegang dahi dan tangan, lalu memejamkan mata. Ia lalu akan membaca mantra. Ia tidak akan menyebutkan jenis sakit. Yang terlukis di wajahnya hanya senyum. Walaupun ada yang tidak tertolong, jumlah mereka yang berhasil ditolongnya lebih banyak. Oleh karena itu, perempuan ini disegani. Tapi, yang menarik bagiku bukan itu. Perempuan tua ini, sangat giat menjaga diri. Ia mengamalkan ajaran leluhur. Ada hal-hal yang harus diperbuat, ada halhal yang tak boleh ia lakukan. “Daa, itu yang tidak boleh kita lakukan. Hidup dengan diho dou,” begitulah ia memberi nasehat. Saya sudah lama mengikuti perempuan tua ini, menemaninya dalam pelayanan selama dua belas tahun terakhir ini. Ia yang memeliharaku sejak kedua orang tuaku meninggal dunia. Oleh karena itu, saya sudah mulai memahami seluk beluk dunia pengobatan sejak kecil. Tapi selama ini tak satu pun mantra ia ajarkan padaku. Padahal, menguasai mantra adalah harapanku sejak lama. Awalnya, Dupimabi mengenalkan padaku nama-nama tanaman obat. Telinga kiri dan kananku banyak bekas luka akibat kukunya menancap terlalu dalam. Sangat sakit rasanya. Saya harus menghafal nama-nama tanaman obat ini satu demi satu.
“Daa, itu yang tidak boleh kita lakukan. Hidup dengan diho dou,” begitulah ia memberi nasehat. Pernah saya mengusulkan untuk membudidayakan tanaman obat ini di pekarangan rumah. Dupimabi tersenyum, dan setelah duduk di sampingku ia berkata: “Idemu itu bagus, tapi kau saja yang lakukan itu nanti. Tapi yang perlu kau tahu, beberapa tanaman obat akan menurun khasiatnya bila kita memindahkannya di pekarangan.” Lalu, berikutnya saya diceramahi olehnya tentang rahasia alam. Menurutnya, semua yang menucul dengan sendirinya dari alam menunjukkan kecocokan dan keharmonisan alami. Termasuk tanaman obat yang ditumbuhkan alam hasil harmonisasinya itu berkhasiat sangat tinggi. Menurutnya, mengganggu harmonisasi alam artinya mengundang bencana. Sebagai seorang perempuan yatim piatu, saya belajar sebaik mungkin bagaimana mengelola diri, terutama dalam mengikuti ajaran Daa dan Diho Dou. Dupimabi mengajariku segalanya yang kuperlukan bagi hidup ke depan. Tapi, saya kini mulai mengenal seorang pria, dan dia membuatku memiliki perasaan yang sulit kuceritakan. Ingin rasanya selalu dekat dengannya. Itu membuat saya merasa, inilah waktunya saya mulai belajar mantra-mantra pengobatan, satu-satunya pelajaran yang belum saya kuasai. Dupimabi tersenyum saat kusampaikan maksud 7
ini. Ia merasa, saya belum siap dan belum memahami rahasia di balik ilmu-ilmu pengobatan yang diturunkan padaku. Sementara itu, penolakan ini membuatku mulai memandang Dupimabi dari cara pandang yang berbeda. Menurutku, ia menolakku dengan sengaja untuk tidak mengajari ilmu itu kepadaku. Ia sengaja mencari-cari alasan. Saya menikah dengan pria yang kucintai itu. Dupimabi mengurus segala sesuatunya, dan menasehatiku sebagai seorang nenek dan ibu, perihal bagaimana menjadi isteri yang baik bagi suami dan keluarga. Tak lupa Dupimabi memberikan berkatnya untuk kami. Saya masih menyempatkan waktu untuk meminta agar mantra-mantra itu diajarkan padaku. Ia menolak dengan alasan yang sama. Ini membuatku kecewa. Saya mulai menjaga jarak dengannya. Saya sudah tidak lagi mencari obat, dan mempraktekkan ilmu pengobatan lagi sejak menikah. Dan rupanya, ini membuat Dupimabi gusar. Ia datang ke rumahku dan menegurku untuk minimal sekali dalam seminggu mempraktekkan ilmu membuat ramuan obat dan mulai membantu sesama dengan obat-obat buatanku sendiri. Saya menolak dengan mengatakan saya belum menguasai mantra-mantra. Bersamaan dengan ini, perubahan dengan cepat terjadi. Jalan dari kota ke kampung telah jadi. Motor, mobil, mulai berdatangan. Gedung sekolah dasar dan gedung gereja didirikan, lebih besar dari rumah penduduk kampung. Setahun setelahnya, salah satu ruang kelas dipakai oleh petugas kesehatan untuk memberikan obat, memeriksa yang
8
sakit, dan pelayanan kesehatan lainnya. Walaupun pengobatan itu datangnya tiga bulan sekali saja. Semua penduduk desa berebutan menuju puskesmas. Rumah Dupimabi mulai sepi. Minat penduduk terhadap ramuan Dupimabi mulai berkurang. Dan sepertinya, Dupimabi juga mulai beralih profesi. Ia kini mendidik anak-anak usia SD, dan ibu-ibu, bagaimana membuat ramuan tradisional. Semua ilmu yang diajarkannya padaku diajarkannya pula kepada semua penduduk desa yang lain. Ini juga membuatku tidak nyaman. “Kenapa sekarang kamu beralih profesi menjadi guru? Kenapa semua ilmu yang kau ajarkan padaku sekarang kau ajari lagi kepada mereka? Apa karena saya tidak membuat ramuan lagi?” Dupimabi tersenyum. Wajahnya tenang, seperti biasa. Ia seperti tahu, hari ini, dan pertanyaan-pertanyaan ini akan terlontar. “Mengapa kau bertanya begitu?” “Karena saya ingin saya saja yang menguasai ilmu itu. Saya ingin sepertimu juga, menjadi satu-satunya yang dihormati,” ucapku jujur. “Tepat. Sudah kuduga hal ini terkandung dalam pikiranmu. Justru karena itulah saya masih belum menurunkan mantra-mantra itu kepadamu. Kamu masih egois. Kamu hendak memakai kemampuanmu untuk hal lain selain kebaikan bagi semua makluk.” Dupimabi berdiri dan meninggalkanku. Perkataannya menusuk hatiku dengan tajam dan keras. Tanpa berkata lagi saya kembali
ke rumah, dan menangis. Saya mendengar Dupimabi mengajari semua orang dan sekarang semua ibu-ibu tahu bagaimana membuat ramuan. Semua dapat menyembuhkan diri sendiri. Saya mulai bimbang. Oleh karenanya, saya mulai mawas diri, dan lebih kuat menjalankan ajaran daa dan diho dou. Bertahun-tahun berlalu, dan pada suatu ketika, saya mengunjungi Dupimabi. Ia tampak semakin tua.
“Tepat. Sudah kuduga hal ini terkandung dalam pikiranmu. Justru karena itulah saya masih belum menurunkan mantra-mantra itu kepadamu. Kamu masih egois. Kamu hendak memakai kemampuanmu untuk hal lain selain kebaikan bagi semua makluk.”
“Semua ibu-ibu tahu bagiamana membuat ramuan,” ujarnya kepadaku akhirnya. “Tapi sepertinya mereka tidak tertarik membuat ramuan sendiri. Mereka lebih memilih pil di Puskesmas,” lanjutku. “Kamu awalnya ingin menguasai mantra dengan maksud ingin menjadi sepertiku dan produktif melanjutkan tradisi pengobatan,” kata Dupimabi. “Sementara mereka menyimpan pelajaran untuk dirinya sendiri, hanya sebatas pengetahuan, tetapi tidak mempraktekkannya.” “Padahal, setiap talenta yang olehnya tidak digunakan, dari padanya talenta itu akan ditarik kembali,” lanjutku. “Dan setiap talenta yang dipraktekkan tanpa dilandasi rasa cinta dan demi kemanusiaan, dari padanya talenta itu akan ditarik kembali,” lanjut Dupimabi. Ia lalu memujiku karena telah mengikuti ajaran daa dan diho dou. Saya tidak menjadi penasaran, sebab kini saya telah mengembangkan satu ilmu lagi: ilmu melihat aura orang. Ia telah membaca aura saya. Saya tersenyum saja. “Mantra-mantra itu, akan kuajarkan padamu sekarang.” “Saya layak menerimanya?” tanyaku padanya. Dia tersenyum saja dan mengangguk. Dan, kini, perasaan aneh menjalar. Bukannya merasa senang karena cita-citaku tercapai. Saya justru merasa tak pantas dengan kemampuan ini.
9
Beberapa tahun kemudian, kampung kami dilanda bencana. Banyak orang kerasukan makluk alam. Banyak anak-anak sakit dan tingkat kematian mulai naik. Pengobatan modern tak mampu menangani masalah ini. Saya harus menghadapi masalah ini sebagai penerus tokoh Dupimabi, sebagai tabib kampung. Dengan beberapa warga, telah saya sampaikan. Semua perbuatan ini akibat keharmonisan alam yang terganggu. Pertambangan di pinggir sungai itu, penebangan hutan itu, dan asap penggilingan batu itu telah merusak harmonisasi alam. Begitu manusia menata diri dan lingkungan alam agar kembali ke harmoninya, semua akan baik-baik saja. Hal ini telah saya sampaikan. Tetapi, menurut desas desus yang sampai di telinga, beberapa orang mulai menyalahkanku. “Perempuan itu mempraktekan ilmu hitam. Ia mengguna-gunai orang demi kepentingannya akan uang bayaran.” “Dia tahu kalau kita tak mampu membayar biaya pengobatan di Puskesmas, kita akan memanggilnya. Dia senagaja mempermainkan kita untuk uang.” “Perempuan itu, usir saja dia.” Begitulah masyarakat bereaksi. Beberapa pemuka agama, tokoh pemerintah, intelektual, datang kepadaku sore itu. Saya menjumpai mereka di halaman rumah. “Bagaimana kamu yakin campuran dedaunan dan akar pohon bisa menyembuhkan orang? Padahal kau tak berpendidikan,” tegas sang intelektual. Ia langsung
10
Begitu manusia menata diri dan lingkungan alam agar kembali ke harmoninya, semua akan baik-baik saja. menekanku. “Saya berpendidikan. Saya murid Dupimabi,” kataku membela diri. “Memang saya tak memahami bagaimana campuran-campuran itu bisa menyembuhkan, tetapi semua itu telah dipraktekkan turun temurun dan terbukti berhasil memberikan kesembuhan,” lanjutku. Lalu sang intelektual menekanku bahwa kesembuhan itu kesembuhan sementara tetapi memberikan efek mematikan di kemudian hari. Bicaranya cepat, berbahasa Indonesia, dan dia telah berpendidikan. Ia lebih meyakinkan daripada diriku. “Saya tidak pernah melihatmu di gereja. Kenapa kau tidak pernah datang ke gereja setiap hari minggu?” tanya petugas gereja. “Saya melakini Ugatame dan mempraktekkan daa dan diho dou,” ujarku membela diri. Lalu petugas gereja itu juga menekanku. Ia mengatakan padaku bahwa kepercayaanku itu kepercayaan sesat, dan saya harus dibaptis dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai juru selamat dan penebus.
Terakhir, petugas gereja mengancamku, berkata bahwa mulai saat itu saya tidak boleh mempraktekkan ritual pengobatan dengan mantra yang menurutnya, menghujat Tuhan. Wakil pemerintah tak ketinggalan menekanku dengan bahasa yang halus. Ia mengatakan akan membuatkan rumah di pinggir kampung agar tidak menerima perlakuan tidak benar dari warga kampung. Rumahku dipindahkan di ujung kampung, dekat hutan. Lalu, dari desas-desus yang kudengar, semua anak-anak dan remaja diajak untuk tidak bergaul denganku lagi. “Perempuan itu murid Dupimabi, pewaris ilmu hitam yang membuat warga kampung sakit-sakitan dan meninggal,” ujar para orang tua mendidik anak-anaknya. Menurut tradisi, saya harus mewariskan semua ilmu pengobatan ini kepada satu orang yang tekun menekuni ajaran daa dan diho dou. Tapi kini, sepertinya, semua ilmu pengobatan ini harus kubawa menuju surge para peluhur. []
11
OPINI
Manusia yang Bermain, Bekerja, dan Belajar oleh Aan Zaputra
Bola menggelayut di kaki seorang bocah berkaus ungu dengan hiasan peci di kepalanya itu, begitu piawai ia meloloskan bola dari jerat kaki bocah berkaus oranye. Nampaknya ada pengajian rutin untuk anak-anak yang diadakan di masjid Baburrahmah, yang letaknya tak jauh dari rumah saya.
Di antara banyaknya anak-anak lain yang bertandang lalu lekas merapikan duduknya di dalam masjid seusai salatasar, malah Rusdi dan Rahmat, kedua bocah yang bermain di selasar itulah yang menarik perhatian saya. “Ka mau ki’”,jawab Rusdi, bocah berkaus oranye tersebut setelah saya iseng menanyai alasan mereka soal mengapa mesti bermain sepakbola di masjid, alih-alih di lapangan. Sungguh jawaban yang bagi saya tak menunjukkan impresi siasat atas ruang, selain spontanitas belaka. Apalagi, tak jauh dari masjid tersebut masih ada lapangan yang belum ditanami rumah-rumah, yang juga kerap dipakai anak-anak muda sekitar bermain sepakbola. Masa kanak-kanak memanglah masa bermain. Dunia yang mereka lihat sekadar taman bermain di sepasang bola mata mungil12
nya itu. Lalu, hal-hal bercorak spiritual serupa sesuatu yang bertengger di balik awan tebal yang, bagi tubuh pendeknya itu, masih begitu sulit digapai. Dunia yang belum mampu dipahami kecuali pemahaman atas kewajiban menaati perintah orang tua mereka. Hal ini mengingatkan saya pada gagasan filsuf Jerman, Max Stirner melalui tulisan Keiji Nishitani yang diterjemahkan oleh Rafdi Naufan, “Nihilisme Sebagai Egoisme”: “Anak-anak hidup hanya dalam hubungannya dengan hal-hal di dunia ini, ia tidak mampu membayangkan sesuatu seperti dunia spiritual di luarnya. Dalam pengertian itu anak-anak adalah seorang realis. Secara umum anak-anak berada di bawah kendali kekuatan alam, dan hal-hal seperti otoritas orang tua di hadapannya dianggap sebagai kekuatan alami daripada kekuatan spiritual.”
“Anak-anak hidup hanya dalam hubungannya dengan hal-hal di dunia ini, ia tidak mampu membayangkan sesuatu seperti dunia spiritual di luarnya...”
Omong-omong soal aktivitas bermain, terminologi “main” sendiri, jika ditinjau dari KBBI adalah, melakukan aktivitas atau kegiatan untuk menyenangkan hati (dengan menggunakan alatalat tertentu atau tidak); melakukan perbuatan untuk bersenang-senang (dengan alat-alat tertentu atau tidak); dan sebagainya. Saya merasa semacam ada kecenderungan pemikiran dalam masyarakat kita, khususnya bagi orang tua atau mereka yang merasa dirinya sudah dewasa bahwa acap kali aktivitas bermain semata dikonotasikan sebagai hal yang kekanakkanakan, remeh, mencari kesenangan belaka, tidak serius, hingga mendikotomikannya dengan aktivitas belajar atau aktivitas bekerja. “Jadi sekadar hiburan sekaligus pengisi waktu luang ji, sih. Nda sampai prioritas”, ujar Firdaus, salah satu teman tongkrongan yang suatu waktu pernah saya tanyai seusai baru saja menyele13
saikan sesi pertandingan game di smartphone-nya, hal yang saya lakukan guna mencari tahu motif tujuannya dalam bermain game. “Kadang kalau stres ka dengan apapun itu, seperti putus ka sama pacarku atau soal pekerjaan. Main game adalah solusi yang tepat untuk lampiaskan semua kekesalanku,” tandas Rifky, salah satu teman kampus yang juga hobi bermain game. Kendat idemikian, saya pikir ada hal yang tak remeh di balik aktivitas bermain, melebihi dari sekadar hiburan, relaksasi atau senang-senang belaka. Di Kabupaten Maros tempat tinggal saya, game online “Higgs Domino” di smartphone mulai marak dimainkan. Higgs Domino adalah game yang menawarkan sejumlah pilihan permainan di dalamnya, mulai dari domino, kartu, puzzle, dam, dan slot. Biarpun saya tak turut memainkan game tersebut, namun saya menemukan fenomena menarik. Semacam ada budaya baru yang terbentuk dalam ruang maya, kemudian dibawa menuju ruang nyata sejak Higgs Domino marak di14
“Kadang kalau stres ka dengan apapun itu, seperti putus ka sama pacarku atau soal pekerjaan. Main game adalah solusi yang tepat untuk lampiaskan semua kekesalanku”, mainkan. Acap kali saya mendengar istilah “sedekah”, dimaknai lain oleh para pemainnya menjadi pemberian chips (semacam mata uang dalam Higgs Domino yang digunakan untuk bermain) secara cuma-cuma. Saya pun kerap mendapati
warung-warung sekitar, kini tak semata menjual barang-barang kebutuhan konsumsi sehari-hari. Namun juga menjual chips. Kebudayaan baru tersebut menjadi semacam semesta simbolik lain yang semata dibagi, disepakati dan paling dipahami oleh para pemain Higgs Domino saja. Pun suatu waktu saya pernah memainkan game online lain bernama “Among Us”. Game tersebut menghendaki para pemainnya untuk dipilihkan peran secara acak, apakah ia akan menjadi seorang Crewmate atau Impostor. Crewmate ditugaskan untuk menyelesaikan misi (task) yang diberikan sekaligus mencari tahu dan menebak siapa pembunuh (Impostor) yang menyamar sebagai Crewmate lain. Sedangkan Impostor ditugaskan untuk membunuh sebanyak-banyaknya Crewmate tanpa ketahuan. Masing-masing, baik Crewmate ataupun Impostor diberikan hak yang sama untuk memulai dalam membuka ruang obrolan atau chat. Biasanya ruang chat digunakan untuk mencaritahu siapa pembunuhnya atau menyiasati alibi agar takketahuan. Ketika saya memainkan
Kebudayaan baru tersebut menjadi semacam semesta simbolik lain yang semata dibagi, disepakati dan paling dipahami oleh para pemain Higgs Domino saja. game tersebut, saya serupa diberi ruang untuk belajar mengasah siasat guna mempengaruhi orang lain. Berdasarkan dua fenomena tersebut, kian bikin saya yakin bahwa aktivitas bermain tak seremeh yang dipikirkan. Bahwa, ada yang bisa kita pelajari melalui aktivitas 15
bermain. Hal ini serupa asumsi dari seorang sejarawan sekaligus teoritikus budaya Johan Huizinga, bahwa permainan bukan semata hiburan, melainkan kodrat manusia sebagai “manusia yang bermain” (“homo ludens”, dari asal kata Latin “ludere” yang berarti “bermain”). Menurutnya, bermain bagi manusia sangat erat hubungannya dengan spontanitas, autentikasi, dan aktualisasi dirinya secara asali untuk menjadi manusia yang utuh. Pun, ia mengatakan bahwa permainan sudah ada jauh sebelum peradaban dimulai dengan mengidentikkan insting yang ada pada hewan– juga manusia– dengan aktivitas bermain.[1] Menyoal asal muasal game atau permainan, saya bahkan menemui semacam kesamaan antara apa yang telah diteliti oleh seorang profesor psikologi Amerika, Peter Gray, dalam tulisannya yang berjudul “Children Educate Themselves III: Wisdom of Hunter-Gatherers”, dengan yang ditemukan oleh seorang ilmuan Amerika Serikat, Jared Diamond, melalui buku“ The World until Yesterday”. Bahwa game nyatanya sudah dipraktikkan sejak 10.000 tahun lalu oleh nenek moyang kita sebagai masyarakat pemburu-peramu. Game atau permainan sudah dilakukan sebagai proses belajar–selain bersenang-senang–anak-anak masyarakat pemburu-peramu dengan cara meniru halhal yang dilakukan orang dewasa. Tujuannya agar melatih mereka dalam kerja-kerja yang kelak mesti mereka lakukan kala dewasa. Jika Johan Huizinga mengatakan bahwa kodrat manusia sebagai “makhluk yang bermain”, Karl Marx meyakini bahwa kodrat 16
manusia adalah sebagai “makhluk yang bekerja”. Menurut Marx, kerja merupakan aktivitas yang mencerminkan hakikat manusia. Melalui kerja, manusia mengobjektifikasi dirinya ke dalam alam. Kerja juga mestinya merupakan aktivitas yang menggembirakan sebab ada realisasi ide dan kemampuan memanfaatkan alam menjadi sebuah produk bermanfaat yang mampu diapresiasi.[2] Kalau saja saya menyandingkan kedudukan antara “kerja”, “belajar” dan “bermain”, barangkali serupa membayangkan jalin-kelindan seutas benang wol. Pasalnya setiap aktivitas kerja manusia juga punya unsur yang sama dengan yang lazim ditemukan dalam sebuah permainan, serupa: aturan, pemain, kompetisi, kerjasama, kesenangan, hingga ganjaran berupa hadiah dan hukuman. Di sisi lain, aktivitas bermain juga memiliki aspek edukatif salahsatunya serupa yang dipraktikkan anak-anak masyarakat pemburu-peramu. Hans-Georg Gadamer dalam buku “Kebenarandan Metode”, mengatakan bahwa, “Jika bermain hanya dimengerti sebagai bermain, ia tidaklah serius. Bermain mempunyai relasi khusus dengan keseriusan. Keseriusanlah yang memberi ’tujuan’ pada bermain….” Bagi saya, ucapan Hans-Georg Gadamer tersebut turut memperkaya perspektif mengenai aktivitas bermain. Saya menduga, bahwa keseriusanlah yang membuat aktivitas bermain menjadi kian edukatif. Lantas, bagaimana relasi antara belajar dan bekerja? Barangkali, manusia melalui kerja, mesti tak sekadar jadi proses objektifikasi diri
...game nyatanya sudah dipraktikkan sejak 10.000 tahun lalu oleh nenek moyang kita sebagai masyarakat pemburu-peramu. Game atau permainan sudah dilakukan sebagai proses belajar–selain bersenang-senang–anakanak masyarakat pemburu-peramu dengan cara meniru hal-hal yang dilakukan orang dewasa.
REFERENSI [1]Hendar Putranto, M.Hum., Mencari, Menemukan, danMengomunikasikanNilai-nilai Bermain dalam Konteks Pendidikan – Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume II, Nomor 1, Juni 2010. [2]Harrysj, https://harrysetiantosj.wordpress. com/2012/03/17/kerja-menurut-karl-marx /,diakses pada 29 Desember 2021, pukul 03.20 WITA.
ke dalam alam, namun juga proses subjektifikasi. Tak semata membuat “sesuatu”, namun membuat diri melalui “sesuatu”. Pun, hal ini berlaku bagi relasi antara bermain dan belajar. Selain menyenangkan, saya pikir tak ada yang lebih serius ketimbang itu.[] 17
FEATURE
Buah Saga oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
Pohon Saga dengan nama latin Adenanthera pavonina adalah salah satu pohon yang bijinya diambil dan dijadikan aksesoris pelengkap handicraft khas Sentani. Biasanya ditempel di mahkota. Pohon Saga mirip dengan pohon Petai karena daunnya yang kecil-kecil itu mirip. Biji Saga kecil-kecil dan berwarna merah. Jika sudah tua ia akan jatuh berserakan di tanah sekitar pohon itu tumbuh.
18
Mom Agu memiliki sebuah pohon Saga ini di samping “bengkel kerja”. Karena komplek rumah beliau adalah komplek sanak-saudara yang punya banyak anak cucu yang masih kecil-kecil, biasanya mereka ditugaskan untuk mengumpulkan biji Saga dan akan diberikan upah jika terkumpul dalam jumlah tertentu. Berbicara tentang Saga, hal pertama yang ada di kepalaku adalah sebuah nama mall + supermarket di bilangan Abepura. Saga Mall Abepura. Mungkinkah ada hubungannya dengan asal-usul mall tersebut menggunakan nama “Saga” dengan pohon Saga? Waktu masih kuliah arsitektur juga, dosenku, Pak Imbiri pernah bercerita bahwa komplek Saga Mall dulunya adalah hutan sagu. Makanya butuh timbu-
nan yang banyak untuk menutupi lahan yang sebelumnya adalah rawa-rawa. Hatiku miris. Rupanya di balik keteraturan kawasan sekitar Abepura ada hutan sagu yang dikorbankan. Terkadang saya berpikir, bahwa menjadi arsitek yang peduli lingkungan sekaligus kesejahteraan manusia itu akan susah nantinya. Walau saya belum menjadi arsitek, baru menjadi lulusan arsitektur, namun hal itu mengganggu pikiran saya bahwa kami merancang, membangun, merencanakan sebuah bangunan dengan mengorbankan atau menebang pohon. Saya jadi ingat tulisan di media sosial. “Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang menebang pohon kemudian menuliskan kalimat “save forest (selamatkan hutan)” di kertas yang terbuat dari pohon”. Biji Saga itu beberapa saya bawa pulang, berharap saya berhasil membibitkannya. Saya mau jadi arsitek tapi arsitek yang peduli akan keberlangsungan hidup manusia, hewan, tumbuhan dan pohon-pohon pencipta o-zone. Thurs, Dec 30, 2021
19
FEATURE
Bengkel Mom Agu oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
Cenderawasih, dan lain sebagainya. Kulit kayu pun tidak ketinggalan, benang-benang untuk membuat noken pun bervariatif bahkan bukan hanya berasal dari serat pohon Melinjo (pohon Genemo) namun serat dari tanaman lain seperti Mahkota Dewa, Sukun, dsb.
Bulu merak kiriman dari temannya di Bali. Mom Agu mengatakan bahwa harganya sedikit mahal karena limited edition. Mom Agu mengajak saya melihat bengkel tempat ia membuat semua karyanya. Mahkota bulu ayam dan kasuari, anting-anting khas Sentani dengan menggunakan bahan-bahan alam terlepas dari aksesoris yang bisa didapatkan di toko kemudian dikombinasikan dengan biji Saga, kulit kayu, buah pinus, kerang, bulu ayam yang mereplika bulu burung 20
Buah-buah pinus juga dikumpulkan dari Rindam yang diolah menjadi berbagai macam pernak-pernik, anting-anting atau kalung. Saya mendapati pula buah-buah pinus digantung pada tanaman di halaman tempat kami camping rupanya Mom Agu pernah menjadikan itu pohon Natal. Beliau pun memperlihatkan mahkota khas Wamena yang terbuat dari bulu ayam. Aslinya bulu ayam yang digunakan di Wamena berwarna lebih merah berbeda yang bisa didapat di Jayapura. Berbicara tentang pohon Natal, Mom Agu bercerita kalau ia tidak membeli lagi pohon Natal plastik. Sebelumnya ia masih menghias
dan membuat pohon Natal dari pohon atau tanaman hidup sekitar tapi Natal tahun ini sama sekali tidak ada pohon Natal. Hanya lampu hias yang dijejerkan pada pondok-pondok tepi sungai lokasi camping kami. “Mom sudah tidak pakai pohon Natal plastik lagi, tahun ini juga tidak ada pohon Natal karena Mom tidak mau ada sampah plastik lagi.” Terang Mom Agu. Bahkan anting-anting yang terbuat dari potongan kecil kulit kayu pun adalah salah satu yang beliau manfaatkan agar tidak menyisakan sampah. Lagi-lagi sampah. Beliau sosok yang sangat menginspirasi selain kepeduliannya terhadap lingkungan.
Thursday, Dec 30, 2021
21
PUISI
PUISI-PUISI AMOIGAI DUMUPA Ugatamee
Di Atas Bukit Luka
Ugatamee bolehkah
luka adalah deritaku
sa tutup semua derita
Tentang goresan penuh
yang kejam ini
darah dan derita
di sepanjang jalan tua
di sepanjang jalan tua
namun bertahan derita di atas hak kebebasan diriku
(menotaieniya)
bertahan demi kebenaran
ada dasar sejarah
akankah lahir kansa jiwa yang bebas
Tentang rasa sakit rakyatku bukti bukan hanya
Amoyeigai Dumupa
senjata tajam
Gubuk-derita
di atas pori-poriku
Jogja-28-12-21 Berjuang untuk hidup selanjutnya (watokaumitouubaite) Setan memakan manusia (Meenotaieniya)
22
Tertipu
Aluwan Sakit
Sa tertipu
Aluwan sakit
tentangmu sa bersemayam pada sejati janjimu sa terbelenggu hidup sa tambah hampa tambah sepi tak tertahan lagi
kesedihan bisa menjadi jalan, menyadari bahwa menderita bertahun-tahun tidak ada kehidupan tidak ada angin bertiup tidak ada hujan gerimis
sa terbaring di kasur janji palsu
sehingga pohon yang
binasakan dengan rindu
ada takkan berakar
dan hidup bukan hidup lagi
jauh di dalam bumi,
hancur-lalu sepi
agar tidak jatuh.
seketika berakhir
sebab musabab
akan tinggal kenangan di sini namun sayangnya tidak ada waktu untuk lelahkanmu AmoigaiDumupa
darimana aku pandang arah jalan pulang menggoyang agar melihat goyang dedaunan
Gubuk-derita slow solo-31-12-21
amoye.D# Aurah asdo-jogja-21-september-2021 23
REFLEKSI
Dan Haruskah Terus Begini oleh Manfred Kudiai
Dalam keheningan malam, terbayang akan alam nan kaya emas dan uranium. Teringat lirik Jhon Mofu artis Papua pertama yang mengungkapkan jeritan tangis orang Papua yang sampai akhirnya nyawa pun jadi taruhan.
Biasa, di Papua bagi siapa saja yang menyuarakan kebenaran, pasti di buruh. Seperti cerita tentang Mambesak, pimpinan Arnold AP dibunuh, tentang tokoh karismatik Papua, Theys H Eluway, Mako Tabuni, Norbert Jitmau, Pater Nato Gobai, serta aktivis-aktivis kemanusian lain yang tak dapat saya sebut satu per satu, sampai tuan Kelik Kwalik yang dengan gigi melawan keberadaan Freeport di Timika. Ia harus mati di tangan aparat hanya karena membelah kebenaran. Freeport. Terpapar jelas dalam demangan malam. Saat seluruh pikiran mengambil ahli pada suatu titik yang menjadi pertanyaan batin yang tak pernah terjawab.“kemanakah bumiku dibawa, akankah terus begini,” syair yang diungkap dalam lagu yang berjudul: Derita Negeri Papua, cipta Jhon Mafu artis asal Biak, asli Papua ini. Banyak coretan diding di Fb yang kutemukan pun terus mengait dengan syair Jhon dan isi hati para pecinta bumi dan manusia Papua 24
yang saya artikan dengan keberadaan Freeport tambang terbesar dunia. Bumiku dibawa..... Aksi tutup Freeport mulai ramai. Bumi yang di bawa ini ingin rasanya mereka ingin menarik kembali. Cukupkan semua dan katakan pergi dan angkat kaki dari tanah Papua. Aku terlarut dalam keadaan. Jari-jemari tak sepeti biasanya, kaku saat mengetik kata perkata. Semuanya berubah. Jari-Jemari tak hentinya menarik. Pikiran mulai berkecamuk. Otak memerintah jariku. Dan dari jari, semua yang dipikiran mengalir selayak sungai. Tentang Papua. Tentanag Bumi hijauh yang dihancurkan. Tentang masyarakat yang masih saja mendulan emas di sugai yang telah tercemartailing yang mengandung sianida dan zat beracun lainnya yang berdampak negatif terhadap kesehatan.
Semua karena orang Barat. Orang barat? Ah jangan rasis, katakan saja kepada yang bersangkutan, orang Eropa yang kaget melihat Papua. Surga bagi dunia. Dia. Johan Carensz. Cartensz belayar ke Papua pada 1623. Saat orang Papua hanya mengambil sedikit dari hasil alam. Hanya babi, sagu dan umbi yang paling banyak di ambil. Sejenak, ingin tahu yang lebih. Terjawab ketika membaca artikel yang dipoting oleh trito. id. ini membantu sekali meruruskan semua yang sedang aku pikirkan. Trito.id bilang Cartensz adalah orang eropa yang melihat salju di tengah daratan Papua. Apa yang dilihat itu menjadi bahan tawaan bagi koleganya. Pikir mereka , bagamana mungkin ada salju di dekat katulistiwa.?Ratusan tahun setelah Cartensz dianggap hanya mengingau. Sebuah tim yang yang dipimpin orang Belanda bernama Hendrikus Albertus Lorentz pun mencoba mendaki pengunungan salju ditengah Papua itu. Banyak cerita yang terjadi.
Pada 7 April 1967, atau tiga pekan setelah dilantik sebagai presiden Suharto pernah meneken “kontrak karya” kepada Freeport yang berlaku selama 30 tahun.Freeport perusahan asing yang menjadi aktor ekonomi politik utama Indonesia. Sejak 1967 gunung, hutan dan rawa Kab Mimika dicacah oleh PT. Freeport Indonesia menjadi ladang emas. Semuanya berubah. Nasib rakyat tidak dihiraukan lagi. Warga mengelolah tailing freeport untuk mendulang emas di sugai dekat kwamki lama, Timika. Menurut Jatam, organisasi pemantau pertambangan, lima sungai di Mimika telah tercemar sianida dan merkuri akut. Seperti kata kawan Novi, setelah hadirnya Freeport banyak sekali masalah-masalah: Diskriminasi tenaga kerja orang asli Papua, alam dirusak semaunya mereka, masyarakat diintiminasi oleh aparat Indonesia, limbah tidak tertata baik yang menimbulkan kesehatan masyarakat dan alam dalam kondisi yang memprihatinkan. Dalam keadaan seperti itu, tidak dapat berargumen lagi. Hanya satu solusi. Tutup Freeport. Harus angkat kaki dari Papua.
25
BUDAYA
Nilai dan Budaya dalam Suku Mee Papua o l e h L a u r e n s i a Te b a i Papua terletak di bagian ujung timur yang dikenal dengan Ras Melanesian. Wilayah yang terdiri dari 7 wilayah adat yakni, Domberai, Bomberai, Saireri, Me Pago, Mamta, La Pago, dan Ha Anim. Di mana masyarakat di sana tidak lepas dari budaya masing-masing wilayah adat dari pesisir sampai gunung. Namun dengan era modern mengancam warisan budaya leluhur masing-masing 7 wilayah adat, salah satunya bahasa ibu yang menjadi kepunahan di Papua.
Faktor kepunahan bahasa ibu salah satunya tingkatan pendidikan SD, SMP, SMK/SMA, serta perguruan tinggi yang tidak membudiyakan bahasa ibu, karena situasi sangat berbeda dengan orang di distrik sama di kota.
sosial. Secara warisan leluhur, setiap suku bangsa tertentu memiliki budaya sangat berbeda-beda. Budaya tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Papua, terlebih khususnya suku Mee.
Di samping itu beberapa alasan yang mendasari masyarakat Papua sendiri, di antaranya: masayakat Papua menjadikan budaya sebagai sesuatu yang memalukan, budaya bagi masyarakat Papua tidak akan memberikan keuntungan dalam kehidupan, budaya bukanlah waktu di era modern, dan budaya hanya masyarakat Papua bagian kampung.
Suku Mee merupakan salah satu suku dari jumlah 312 suku yang mendiami di Papua. Suku Mee (Meeuwodide) yang mempunyai ciri khas seperti danau Paniai, Danau Tage, Danau Tigi, Lembah Kamu (sekarang Dogiyai) dan pegunungan Mapiha/Mapisa. Letak geografi di pegunungan Tengah Papua Bagian Barat, wilayah adat Me Pago. Istilah Mee (Manusia), berarti manusia yang dipenuhi dengan akal budi; manusia yang berpikir logis, dapat mentaati amanat-amanat yang diwariskan oleh leluhur, dan amanat yang paling utama yang dilarang adalah perzinahan.
Maka, Budaya merupakan cara berpikir, berkarya, bergaul dan bertutur yang telah menjadi kebiasaan secara individu maupun kolektif. Secara aktifitas fisik maupun nonfisik yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan 26
Nilai dan Budaya Ada beberapa warisan leluhur yang merupakan budaya suku Mee dalam konteks menentukan dan menganalisis kehidupan. Di mana warisan tersebut perlu untuk dilestarikan, diantaranya Jiwa soSial sesama suku Mee maupun suku lain, segi ekonomi “Keitai/Ekowai” istilahnya bekerja pada bidang yang ditekuni, pendidikan telah diajar secara turun temurun melalui cerita, dongeng, mitos, hikayat, pantun. Adapun dalam bentuk lagu, seperti Uga, totauga, komauga, kotekauga, bedouyouga, yametegauwa, tuupe, gawai dan gaupeuga, seni Tari terdiri dari emaida (yosim), gaupe uga (pemberian nama), tegauwa, dll, aturan Hukum Adat. Dalam suku Mee mempunyai hukum, norma dan aturan-aturan adat yang mengatur, mengarahkan, mengendalikan, mengawasi dan mengontrol seluruh dinamika kehidupan masyarakat. Di samping itu masih ada warisan leluhur suku Mee dalam konteks kebudayaan yang terdiri dari: a) Koteka adalah pakaian tradisional yang digunakan oleh kaum laki-laki di papua khususnya Meeuwoo. Fungsinya untuk menutupi alat kemaluan. b) Mogee adalah sebutan pakaian tradisional yang digunakan oleh kaum prempuan untuk menutupi kemaluan. c) Ukaa Mapegaa, senjata tradisional yang biasa digunakan oleh kaum kali-laki. d) MeeMegee, sebutan uang tradisional turun temurun yang digunakan untuk berintraksi satu daerah dan daerah lain. e) Amapaa Kagamapaa adalah pakaian tradisional yang biasa digunakan oleh kaum laki-laki. f) Picii adalah sebutan tali ikat pinggang tradisional yang digunakan oleh kaum laki-laki untuk
mengikat Koteka. g) Yatoo adalah sebutan kain tradisonal yang digunakan oleh kaum prempuan, yang dibuat dari kulit kayu. h) Bebii Agiyaa adalah sebutan tas tradisional yang digunakan oleh masyarakat sendiri.i) Kaidoo adalah alat musik tradisional digunakan oleh kaum laki-laki suku, dimainkan untuk mengibur suasana yang kelam maupun kesedihan.j) Mee Tawaa adalah sebutan rokok tradisional yang selalu orang mee biasanya merokok sehabis kerja. k) Bekoo Mamoo adalah sebutan korek api tradisional suku Mee. Perkembangan era modern telah membawa ancaman terhadap budaya di Papua. Maka itu perlu adanya penanganan dalam melestarikan budaya di daerah sikitar Papua, terlebih khususnya suku Mee. Warisan leluhur suku Mee dalam konteks kebudayaaan maupun kehidupan sehari. Salah satu penanganan melestarikan warisan leluhur budaya, masing-masing daerah terapkan pembelajaran pengetahuan dan keterampilan tentang kebudayaan Mee maupun Papua dalam pendidikan SD, SMP, SMA/SMK, dan Perguruan Tinggi, serta keluarga.
DaftarRujukan Pakei, T. Pakage, N. 2013. Menggali nilai budaya tradisi lisan dar ipapua, “kajian cerita rakyat suku mee. Direktorat Sejarah, NilaiBudaya Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Diakses Februari 2021.
27
FEATURE
Kesempurnaan di Luar Kontrol oleh Nomensen Douw
“Manusia yang mampu menahan dirinya untuk hidup dalam batas yang ditetapkan Alam, tidak akan merasahkan miskin. Sebaliknya, manusia yang melewati batas-batas ini akan terus-menerus dikejar kemiskinan, tak peduli betapa kayanya dia,” ujar Seneca dalam On Shortness of Life.
Siang matahari di atas kepala. Duduk dengan teman lagi. Ketemu teman itu asik sekali, apapun kondisi, teman selalu membawa suasana yang dingin, asik. Teman Ini namanya Sepi, Dia kuliah S3 di Harvard Amerika jurusan Art, Film, and Visual Studies. Dia lagi berlibur ke kampung, Papua. Sedang dalam masa susun disertasi doktoral. Dia akan selesai tahun depan, 2023. Yepi teman SD saya. Kami sudah berpisah 20 tahun lebih dan bertemu hari ini selain melalui media sosial sebelumnya. Sepi asal Nabire bagian pesisir, saya Paniai, negeri di atas bukit. Saya dengan Sepi bersama lahir dan besar di Nabire Meepago, daerah kecil dari kejauhan mata Jakarta dan Amerika. Jauh dari pikiran solusi dari orang-orang kuat Ibu Kota. Terpencil oleh mata media. Sedikit tidak otonom di rumah sendiri walaupun banyak uang dan hilang, entalah. Kini mulai dikenal dengan nama Ibu Kota Provinsi Papua tengah dari RUU dijadikan UU di ruang DPR-RI Jakarta.
28
Tentu kontradiksi belum selesai hanya dengan makan dan minum. Kebutuhan manusia tidak terbatas seperti kata Plato sebagai cerminan teori politik tentang keberadaan manusia di dunia terdiri dari tiga bagian yaitu, pikiran atau akal, semangat/keberanian dan nafsu/keinginan berkuasa. Saya sudah duduk di bangku karet putih menghadap pantai yang indah dengan barisan kelapa, hadap lautan pasifik dan nampak pulau kecil seperti kura-kura depan mata. Hujan kecil sudah pergi tadi. Menunggu empat puluh menit setelah tadi janjian. Di bawah pohon kelapa, ada kolam renang dekat tempat saya duduk, lampu bergantung dari atas tali seperti telur ayam bergantung sebaris, speker JBL non aktif gantung seperti buah pepaya, tanpa suara lagu pada batang kepala. Kabel lari kiri kanan. Saya menunggu di Mayo, Pantai Holtecamp Jayapura Papua. Fisik tidak berubah, Sepi masih seperti waktu kami SD, hitam kurus: roti Amerika tidak
membuat dia gemuk. Berambut lingkar seperti kepala Bob Marley, baju kemeja kotak coklat putih, celana hitam jeans bersepatu merah terang. Sepi bergaya Afrika-Amerika, persis penyanyi rap. Wajar Dia bersih dan rapi; Dia sekolah di Amerika, tapi sebenarnya gaya bersih tidak bergantung pada keberadaan kota. Lifestyle dan kesehatan. Kami dua bersalaman setelah dia tiba, berpelukan senyum, saling bertanya kabar dan bercerita lanjut. Saya tanya soal keluarganya, privasi barangkali, tapi dia bukan bule. Bule sulit soal privasi tapi orang Papua tidak, seperti pandagan Profesor Paul Ekman dalam penelitiannya menghasilkan bawah Papua adalah “The last honest person on earth” atau “Papua adalah manusia terjujur terakhir yang disisakan di muka bumi ini.” “Sa maitua orang barat, kawan,” jawab Sepi dengan santai, rileks tubuhnya beri pesan, tidak ada yang luar biasa. Tapi, bagi saya luar biasa bertahan di AS dengan pasangan keluarga, mungkin karena kami di Indonesia? Cerminan wanita asia di Papua lebih melihat kondisi fisik dan kondisi dompet. Tapi tentu tidak semua. “Perempuan barat tidak muda suka laki-laki, mereka akan pastikan isi pikiran lebih dulu ketimbang yang lain,” cerita Agus sela-sela kami diskusi di pinggir Danau Sentani. Dia juga seorang kawan yang selesai kuliah S2 di Rusia. “Bagaimana kamu dua ketemu dan hidup sama-sama di sana?” Tanya saya. Pikir saya, pertemuan meraka butuh waktu dan biaya yang besar. Ribet dengan dogma dan budaya, ternyata tidak, hanya kesepakatan saling menyukai dan lahir cinta. Sesuatu yang sangat relatif.
“Di kampus. Dia suka cara saya berpikir,” singkat teman, menjelaskan pertemuan Dia dengan wanita barat di kampus mereka. “Pertemuan singkat dan biasa saja. Kami dua berbagi beban hidup sejauh ini, menyewa rumah dan pekerjaan kecil. Puji Tuhan kami sudah memiliki satu anak laki-laki,” lanjut teman dengan wajah begitu bangga. Dia bersyukur dengan keluarganya. Dia tanya saya dengan senyum, ”kawan rencana dengan bule ka?”, “Tidak kawan, saya belum semuanya. Semoga dalam waktu yang dekat, saya dengan wanita asli Papua, bukan bule,” balas saya, tidak menyinggung soal lain, jodoh bisa saja momen. Saya akan bertemu wanita Papua, bukan wanita asia sekalipun mereka lahir dan besar di Papua. Mereka tidak akan bangga dengan pria hitam selain pria jenis Korea dengan dukungancara pikir bentukan dunia entertaiment. Tapi itu tidak semua wanita. Pelayan wanita Papua di Mayo Cafe tiba dengan sopan, membawa pesanan teman. Dia jongkok sopan seperti wanita cantik di kerajaan keraton sedang meletakkan makan malam depan raja. Sepi pesan Americano panas, mungkin menu yang mengigatkan istrinya di Amerika bersama anaknya dari nama menu. “Teman sangat Amerikan, lebih Nasionalis dari Orang Amerika,” canda saya sambil mata lihat cangkir kopi dan teman Dia. Sepi senyum dan saya ikut ketawa kecil. ”Hanya sering saja teman, tergantung mood,” balas Sepi masih senyum, wajah tipis seperti dulu, hidung mancung khas pria Melanesia.
29
Kedai Mayo ini termasuk elit di Papua, suasana seperti kedai santai di Kuta Bali, tapi masyarakat kami (Papua) sangat jarang di sini, sunyi yang mencekam. Hidup mereka dan kami persis kami tahu, bagaimana menjadi masyakarat kita (dusun) dan masyarakat mereka (kota); mungkin salah satu cara pemimpin di Papua bisa melihat dari cara hidup masyarakat lokal (antropologi), tapi mungkin tidak. Saya selalu meragukan kepastian dan kemungkinan dalam kepala daerah di Papua. “Sobat kita cerita lain ya?” Ajak saya alihkan topik lain, saya ingin memastikan informasi dalam kepala saya dari ruang media yang saya ketemu. “Ekonomi AS sepertinya mulai kacau ka sobat?” Tanya saya, serius. “Iya, tapi cukup kamu tahu saja soal itu, kawan kan Intelektual, lebih dari itu mungkin Papua ini luaslah, orang bisa hidup tanpa uang. Makanya anak muda Papua harus mencintai yang sederhana dan hidup bersama, sebetulnya yang mempersulit kita anakanak generasi karena kita ingin hidup seperti orang barat, menurut saya ini tidak penting,” jawab Sepi. “Orang Papua sudah lupa kebun teman,” tanya saya dengar agak berbeda dengan yang saya paham dan melihat di Papua. “Itu karena kondisi saja teman. Sekarang anak-anak muda harus bangun sektor hidup sederhana, kontekstualisasi budaya lokal tapi berpikir global,” singkat teman Sepi berkepala mirib Bob Marley ini. Itu jawaban yang karoboratif dari cermin ekonomi dunia hingga di Amerika dan harapan kedepan bagi Papua. Ekonomi Eropa semakin ambruk dan 30
mungkin di Papua akan ada fase baru ”hidup dulu” dan itu kemungkinan debatebel, seperti prediksi peradaban baru dunia metaverse oleh Bill Gates, Co-founder Microsoft dll. Sepi bercerita sejarah krisis dan Dia merekomendasikan saya menonton beberapa film tentang krisis dan politik. Dia punya banyak koleksi film dan memiliki channel youtube yang bagus. Dia cukup piawai membahas isu sosial melalui desain animasi, tidak salah Dia sekolah di Amerika; Benua yang memiliki sejarah pendidikan yang cukup panjang. Sepi ajak saya belajar dari semanggat orang Afrika di Amerika hingga lahir Amandemen ke-13 era Presiden Abraham Lincoln (1 Januari 1863) Rasanya cepat duduk, padahal sudah hampir tiga jam. Waktu teman memang panjang tidak sadar, apapun bisa menjadi topik diskusi yang asik dan kemana-mana, apalagi di bibir Pasifik yang memanjakan raga tubuh yang nyaman di sini. Asik sekali dengan cangkir kopi, seduhan tanggan wanita Papua. Teman Dia tidak menyukai Alkohol walaupun Dia dari Amerika. Alkohol adalah sesuatu yang biasa saja selagi tidak mengganggu orang lain, sama juga dengan kopi ketika santai minum dan mengganggu orang lain. Apapun adalah hak, manusia hanya bisa mengontrol sesuatu yang ada dalam dirinya sendiri, seperti kata Marcus Aurelius dalam buku “Meditation”: “Kamu Memiliki Kendali atas Pikiranmu-Bukan Kejadian-kejadian di Luar Sana. Sadari ini, dan Kamu akan Menemukan Kekuatan”.
31
REFLEKSI
Wajah Kolonialisme, Konflik Horizontal dalam “13 Suku” dan Motto Damai Sejahatera Di Yahukimo oleh Renold Ishak Dapla
Latar belakang 13 suku dan konsentrasi produksi sebelum kehadiran kabupaten Yahukimo Pada waktu Zaman komunal (kera/ paleolitikum), 13 suku yang [sekarang] tergabung dalam satu peta di bumi Yahukimo ini memiliki potensi konsentrasi pada basis material yang ada. Esensi Keutuhan basis memang ada dan eksis sejak dahulu kala, maka di dalamnya terdapat kefokusan manusia setempat dengan basis material yang ada di ragam suku ini untuk memproduksi segala bentuk makanan dan lainya sebagai pemenuhan kebutuhanya.
Karena, adanya landasan materi, sehingga dalam benak pikiran serta pandangan manusia setempat, munculah ragam ide dan gagasan dalam otaknya. Lalu kemudian bermeditasi serta berkontemplasi secara sadar atas adanya basis materi secara objektif. Setelah itu melahirkan suatu kensep yang matang untuk memproduksi sesuatu sesuai kebutuhanya. 32
Landasan yang dikonsentrasikan oleh 13 suku untuk memproduksi kebutuhanya adalah semacam jenis tumbuhan, hewan, binatang, hutan, sungai, gunung, lembah, daratan, kolam, air, dan segala macam bentuk material yang dapat diraba dan lihat maupun tidak dapat diraba dan lihat, yang ada di masing-masing daerah.
Mayoritas dari 13 suku dan manusia yang tergolong ini berada di wilayah pegungan, sedangkan minoritasnya adalah suku di wilaya daratan, misalnya adalah seperti suku Momuna, Togup, Beyono, Obukain, Duwedan Kopkaka Bese. Suku-suku yang berada di wilayah pegunungan terdapat potensi material yang cukup tinggi dan banyak. Materi yang tergolong di dalamnya adalah tenaga manusia setempat, kayu, tali, batu, sungai, kelapa hutan, buah merah, ubi, sayur-mayuran, babi, burung, ayam, babi hutan, kus-kus pohon, tebu, sayur lilin, dan pisang. Sedangkan, suku-suku yang berada di wilaya daratan pun terdapat banyak sekali material yang ada di sana, misalnya adalah kayu, ikan, kasuari, babi hutan, pisang, manusia, sungai, ragam burung-burung, kelapa, sagu, tali dan lainnya. Beberapa material dari masing-masing daerah sebagai “sentral konsentrasi” manusia untuk memprodukasi kebutuhanya adalah api. Api ini sebagai tempat penyandaran kepala di rumah mereka masing-masing. Konsentrasi manusia untuk membuat api adalah yang pertama dengan mengosok batu, kemudian yang ke dua adalah dengan mengambil kayu terdekat yang layak untuk dipakai sebagai pembuat suatu kepe kecil dengan tali rotan kemudian menaruh bahan-bahan kering yang kemudian mudah untuk medapatkan api dari penarikan tali pada sebuah kepe kecil. Kemudian, pusat konsentrasi perempuan di 13 suku adalah dengan pembuatan noken. Noken dibuat dengan basis material yang di daerah setempat, dengan tujuan untuk membawa anak-anak usia dini, ubi, kayu, sayuran, buah-buahan, serta sesuatu yang telah
dimasak yang siap di konsumsi, maupun juga sesuatu materi yang bahannya mentah, akan masak ketika tiba di rumah untuk dapat di konsumsi oleh keluarga di daerah tersebut. Di sisi lain, konsentrasi dan kefokusan laki-laki di 13 suku ini sebagai sentral produksi adalah melakukan pekerjaan, pekerjaan yang di maksud adaah membuat kebun. Pembuatan kebun yang sifatnya pribadi maupun juga umum. Lalu, pembuatan panah dan busur panah sebagai alat berburuh di hutan untuk mendapatkan burung, babi hutan, berperang serta yang lainnya. Marx dengan tegas menyatakan bahwa kesadaran sosial itu lahir dari keadaan sosial. Kesadaran sosial yaitu ide, gagasan, dan pikiran yang ada pada manusia. Itu adalah merupakan realisasi dari interaksi antara manusia dalam kegiatanya memproduksi barang-barang material atau dalam keadaan sosial atau dalam kehidupan riil. Karena melihat dengan kondisi objektifnya seperti itu, sehingga manusia di zamanya melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencukupi kebutuhannya. Produksi gagasan-gagasan serta gambaran-gambaran terjalin dengan kegiatan-kegiatan material dan hubungan sosial antara manusia. Jadi, manusia-manusia yang ada di setiap suku di kabupaten Yahukimo adalah tenaga produsen gagasan-gagasan rohaniah yang dinyatakan dalam setiap kata-kata, misalnya adalah ajaran-ajaran moral, ideologinya/suatu kepercayaan yang telah di tanamkan serta yang lainya. Itulah penjelasan [sedikit] soal bagaimana cara hidup orang-orang di 13 suku ini, gaya
33
hidup ini pun sesuai dengan esensi basis materi yang eksis di sejak dahulu kala.
ka juga layak sebagai manusia yang punya bekerjaan sebagai hasil produkasi untuk memenuhi kebutuhan.
Bagian II: Eksistensi kabupaten Yahukimo sebagai sumber produksi konflik horizontal di 13 suku
Melihat dari kaca mata intelektual pendiri kabupaten di setiap daerah otonomi baru bahwa apa yang diperjuangkan untuk mendapatkan kabupaten baru adalah usaha sempurna (berkat dari pada Tuhan), akan tetapi, melihat dari kaca mata penjajah adalah permintaan spontan intelektual itu adalah momen yang pas untuk dimekarkan daerah-daerah otonomi baru (DOB), malah penjajah paling senang lagi ketika ada keterlibatan orang-orang Papua untuk memekarkan kabupaten baru.
Melihat kenapa adanya kabupaten Yahukimo dari sini, yaitu dari kota Wamena. Berbicara tentang Wamena tidak dapat dilepaskan dari kehadiran Pemerintah Belanda dan Misionaris yang memulai penyebaran injil di wilayah Irian Jaya umumnya dan pedalaman Irian Jaya pada khususnya yang ketika itu masih dikenal dengan nama Nederlandsch Nieuw Guinea. Ada sebuah cerita yang selalu saya dengar semenjak SD di telinga saya adalah, orangorang dari Lembah Baliem menyebutkan orang-orang yang ada di 13 suku inidengan frasa “yali bulat”. Penyebutan ini adalah hal yang kemudian tidak di terima oleh orangorang yang tergolong dalam 13 suku ini. Kemudian dipertanyakan lagi kembali atas slogan yang muncul di media nasional nama kabupaten Tolikara (tolong lihat kami rakyat). Hal-hal ini adalah basis konsentrasi kedok yang mana berdiri di belakang orang-orang di lembah Baliem Wamena untuk menyudutkan orang-orang dari suku lain. Perbedaan-perbedaan ini membuat marjinalkan soal pekerjaan birokrasi serta politik praktis di kota Wamena, sehingga jalan alternatif lainya adalah orang-orang di 13 suku dan suku-suku lainya mempersatukan suara untuk meminta kabupaten baru agar mere-
34
Dahulunya, 13 suku adalah orang-orang yang penuh makna, martabat dan punya harga diri yang kemudian eksis di setiap kampung-kampung yang ada. Dan saat ini, kampung-kampung itu di modifikasi dengan nama distrik. Distrik-distrik yang ada di dekai saat ini adalah seperti Dekai, Obio, SuruSuru, Wusama, Amuma, Musaik, Pasema, Hogio, Mugi, Soba, Werima, Tangma, Ukha, Panggema, Kosarek, Nipsan, Ubahak, Pronggoli, Walma, Yahuliambut, Hereapini, Ubalihi, Talambo, Puldama, Endomen, Holuon, Lolat, Soloikma, Sela, Korupun, Langda, Bomela, Suntamon, Seradala, Sobaham, Kabianggama, Kwelamdua, Kwikma, Sumo, Silimo, Samenage, Kurima, Anggruk, Nalca dan ninia. Dan pada akhirnya, permintaan borjuis lokal asal 13 suku dan kesenang serta senyuman manis penjajah telah terjadi, yaitu kabupaten Yahukimo secara adminitratif pemerintah telah ditetapkan berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2002 dan diresmikan pada 11 Desember 2003. Kabupaten ini mer-
upakan kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Jayawijaya yang berawal dari sebuah distrik, yakni Distrik Kurima yang dimekarkan menjadi Distrik Ninia, Distrik Anggruk dan Distrik Apalahapsili, sesuai dengan UU No. 22 Tahun 2000 tentang persyaratan pembentukan Kapubaten, minimal terdapat 3 distrik. Ketika Yahukimo disahkan dan memindahkan pemerintahan dari Jayawijaya ke ibu kota Dekai, maka realitasnya para intelektual borjuis lokal kabupaten Yahukimo telah bersepakat bersama untuk membangun daerah kabupaten Yahukimo dengan semboyan atau Motto “damai-sejahtera”. Moto ini telah mengikat-dari dan mempersatuka-ke dalam 13 suku “Tokuni, Beyono, Obukain, Siranut, Togup, Yali, Hubla, KImyal, Mek, Momuna, Kopkaka bese, Duwe, dan Ngalik” dalam satu honai (youe) di kabupaten Yahukimo. Katanya, unik dalam penyebutan nama kabupaten Yahukimo, karena memang dalam tubuh nama Yahukimo terdiami segala macam bentuk dan jenis-jenisnya, di antaranya adalah manusia, hewan, tumbuhan, budaya (perang, ternak,pertani, berburuh), Bahasa, politik, agama, gereja (denominasi), dance (damen mos/yunggul) serta lainya. Tidak hanya itu, namun penghuni ibu kota dekai di Yahukimo tidak dihuni oleh orang berkulit hitam ras melanesia dan berambut keriting yang tergabung dalam 13 suku, namun, ketika disahkan sebagai kabupaten yang administratif secara pemerintahan tersendiri, maka ibu kota Dekai ini pun dihuni juga oleh berbagai orang/suku, salah satunya adalah orang-orang melayu.
Sebagian dari multi ras yang menghuni sejak tahun 2002 di Yahukimo adalah seperti Ras Malayan Mongoloid, Ras Malayan Mongoloid terdapat di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Adapun ciri-ciri ras ini antara adalah Warna kulit sawo matang, mata hitam, rambut hitam, lurus, dan berombak, hidung dan bibir tebal, memiliki tinggi badan rata-rata 150-165 cm. kemudian, ada juga yang terdapat Ras Melanesoid, Ras Melanesoid tersebar di Papua pesisir dan lembah, Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Ras Melanesoid dapat dibedakan dengan ciri-cirinya adalah warna kulit hitam, rambut hitam dan kering, bibir agak tebal, badan tegap, hidung lebar cenderung pesek, dan memiliki postur Tinggi badan rata-rata 160-170 cm. Tidak hanya itu, namun di Yahukimo juga telah ada sejak sebelum dan atau setelah hadirnya kabupaten, yaitu seperti Ras Asiatic-Mongoloid dan Ras Kaukasoid. Kedua ras ini adalah orang-orang yang termasuk di dalam misionaris, kemudian juga orang-orang yang kemudian berkunjung sebagai tourist untuk ekplorasi daerah-daerah di 13 suku, dan juga mereka melakukan ekploitasi alampula, salah satunya adalah tambang-tambang illegal yang di lakukan sejak 2009 hingga saat ini. Begitu banyak modifikasi kebudayaan yang menjadi ciri khas kemudian kekuasaan dan kebudayaan itulah menjadi pemicu konflik horizontal di Yahukimo yang berada di sebelah selatan perbatasan dengan kabupaten Asmat, sebelah timur dengan kabupaten pegunungan bintang, dan bagian barat dengan kabupaten nduga, barat daya kabupat-
35
en jayawijaya, tenggara kabupaten mappi, sebelah utara kabupaten yalimo serta timur laut kabupaten kerom dan jayapura. Memiliki beberapa sungai panjang yang ikut menyumbangkan kekayaaan terbaik bagi west papua. (Kutipan dari luis Kobak on facebok 2020). Ketika bawah keluar kabupaten oleh 13 suku “dari” kabupaten Jayawiaya dan masuk “ke”, di sana telah berubah drastis bawah kata awal yaitu persatuan satu suara dari 13 suku yang mutlak. Penanaman primodialisme dalam politik praktik sangatlah nyata di kabupaten Yahukimo. Penanaman primodialisme di Yahukimo sangat kental, baik itu di dalam partai politik, ekonomi, sosial serta budaya. Dari sinilah pendendaman emosi yang sangat tumbuh, subur berkembang menjadi sebuah infeksi baru dalam tubuh serta otak orang Yahukimo. Pada akhirnya pecahlah peperangan. Ketika pihak ‘tertentu’ melihat akan hal ini, pihak itu pun mengkonfrontasi orang-orang setempat. Perlakuan oleh pihak-pihak ini adalah bagaimana mereka membuat strategis yang matang untuk memuat masyarakat Yahukimo itu harus pecah bela, itu adalah awal mula pembentukan basis pihak lain yang kemudian menjadi jalan untuk membuat onar, mengkambing hitamkan serta menanamkan narasi provokatif terhadap orang asli Yahukimo (OAY). Rencana pihak ketiga sangatlah nyata, adalah bahwa mereka (pihak ketiga) harus membuat konflik horizontal antara suku yang satu dengan suku yang lainya, marga yang satu dengan marga yang lainya, penkerja yang satu dengan pekerja yang lainya. Ketika terjadi hal ini (Konflik horizontal), pasti di sana 36
tawaran masuknya pemekaran kabupaten baru, misalnya kabupaten Yalimek, Eroma, Kimyal dan yang lainya. Tujuan penjajah memang sangat jelas, bahwa pemberian kabupaten adalah bukan untuk meredamkan masalah-masalah sosial tersebut, namun tujuan kolonial adalah menghubungkan jalan dari satu kabupaten ke kabupaten yang lain di wilayah yang satu ke wilayah yang lainya untuk terus mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumberdaya alam.
Bagian III: Paket Otonomi khusus (OTSUS)dan daerah otonomi baru (DOB)di Yahukimo Hendaknya saya ingin memulai dari sini untuk melihat bagaimana berkembangnya otonomi khusus di wilayah Yahukimo, saya lahir di kampung saya Korupun. Korupun adalah salah satu distrik yang berada suku Kimyal dalam wilayah pemerintahan kabupaten Yahukimo. Saya lahir di tahun 1998, di tahun yang kemudian memenangkan demokrasi di Indonesia. Saya di waktu itu belum tahu bahwa indonesia adalah “penjajah” atas orang Papua dan alam Papua, karena memang saya kecil. Berjalanya waktu, saya melihat di kampung saya ada satgas Papua, kelompok ini adalah kelompok yang mana memperjuagankan untuk kemerdekaan bangsa Papua Barat di bawah pimpinan alm. Dortheys Hiyo Eluay. Lama-lama kemduian, tiba-tiba ada berita duka yang melanda di telinga saya di saat waktu kecil. Teriakan yang muncul dari orang-orang Korupun yang posisinya berada di Gedung radio di samping bandara ko-
rupun, bahwa bapak Dortheys Hiyo Eluay, ketua Presidium Dewan Papua (PDP) telah meninggal dunia. Kabar meninggal ini didengar sekitar tanggal 12, walaupun ia meninggal pada tanggal 10 November 2001 di waktu malam, karena memang agen penjaga radio tidak buka di tanggal 10 november. Waktu itu, tentunya belum ada kabupaten Yahukimo, 13 suku yang berada di kabupaten Yahukimo sedang berada dalam wilayah pemerintahan Jayawijaya. Ketika Dortheys Hiyo Eluay telah dibunuh oleh militer, kemudian otsus diberikan kepada orang Papua, seakan negara Indonesia adalah negara pemaaf dengan uang. Padahal, nyatanya adalah pembawa malapetaka. Berjalanya waktu, di posisi saya yang terlihat inguasan, kemudian disaat itu beradar dengan isu meninggalnya tuan Dortheys Hiyo Eluay, namun tiba-tiba muncul lagi sebuah isu, bahwa pada tahun 2003 akan mendapatkan “uang miskin”. Uang miskin ini adalah rounde pertama dari otsus jilid 1, di waktu itu, kelompok yang tergabung dalam tim otsus mengeluarkan berbagai macam statemen untuk mendapatkan uang miskin, di antaranya adalah mengumpulkan nama-nama keluarga, data kampung-kampung, data penduduk setempat secara kilat. Sedangkan, isu meninggalnya bapak alm Dortheys Hiyo Eluay yang marak di waktu itu diabaikan. Kemudian juga situasi pelatihan anggota satgas di distrik Korupun yang dipimpin oleh tuan alma Abock mirin itu diabaikan. Itulah situasi yang mana otonomi khusus masuk menguasai akal sehat, seluruh sum-sum dan pikiran seluruh orang Papua secara perlahan untuk dapat mempengaruhi dengan nasionalisme sempit melalui otsus.
Dalam pendataan tim uang miskin di kampung waktu itu telah terjadi kemarahan antara kampung yang satu dengan kampung yang lain, distrik yang satu dengan distrik yang lain, karena memang pendataan tim uang miskin yang mana mengambil data penduduk tidak secara netral dan terpusat. Pada akhirnya dalam ajang penerimaan uang miskan yang mana per kk (kepala keluarga) dengan seharga rp300.000; (tiga ratus ribuh rupiah) itu membuat konflik pula. Di saat orang Papua memfokuskan atas uang miskin, maka di saat itu pun kabupaten Jayawijaya dan negara telah memekarkan beberapa kabupaten, di antaranya adalah kabupaten Yahukimo, kabupaten Tolikara dan kabupaten Pegunungan Bintang. Kemudian, uang miskin yang di namakan otsus plus di tahap kedua-ke empat, maka di situasi saat itu pun kabupaten Wamena telah memekarkan beberapa kabupaten di wiliayah adat Laapago di tahun 2008, di antaranya adalah kabupaten Nduga,Yalimo, Lani Jaya, Puncak Jaya dan Mamberamo Tengah. Pengalihan isu semacam itu tidak jauh beda dengan isu yang beredar saat ini di Papua, yaitu ketika borjuis Papua serta masyarakat Papua sibuk dengan Pon di beberapa waktu lalu, maka di saat-saat ini pula negara sahkan uu otsus papua jilid 2, kemudian memindahkan smelter pt freeport di Gresik, Jawa Timur, meloloskan salah satu Universitas di kabupaten Pegunungan Bintang melalui bupati pegunungan bintang dan peristiwa pengungsian diabaikan. Semenjak hadirnya otonomi khusus, maka konsentrasi masyarakat Papua telah berubah menjadi orang-orang yang wataknya
37
mendapatkan sesuai yang sifatnya instan, keterganungan pada produksi pemerintah daerah setempat, permusuhan pekerjaan di birokrasi daerah, permusuhan antara lawan politik praktis, mencurian uang, baku perang ketika uang desa tidak sesuai keinginan warga, perang politik media, dan pada akhirnya menciptakan konflik besar-besar antara suku serta kabupaten. Pemberian otonomi khusus (otsus) secara umum di Papua, aksi Tim 100 adalah tindakan yang kemudian meminta merdeka oleh intelektual Papua di tahun 2001 di Jakarta, kemudian reaksi Jakarta adalah tawaran pemberian otonomi khusus (otsus) papua. Pemberian otsus ini adalah tindakan Jakarta terhadap orang Papua yang mana tidak sesuai dengan kemauan intelektual serta mayoritas masyarakat Papua yang hendaknya merdeka sebagai bangsa yang berdauat. Agenda negara atas orang Papua untuk pemberian otonomi khusus (otsus), yang kemudian di dalamnya terinstalasi daerah otonomi baru (DOB) ini bukanlah agenda secara spontanitas terhadap hasil tawaran tim 100 di Jakarta, namun, agenda ini memang agenda yang sesungguhnya telah diatur secara matang dan misterius oleh negara colonial Indonesia sesuai keinginanya. Karena memang langkah-langkah yang kemudian di ambil oleh negara dalam dua agenda (OTSUS dan DOB) ini adalah keutuhan paketan negara serta kolegenya. Pemberian otonomi khusus ini adalah kedok dan tameng wajah penjajah, karena ia datang dengan senyuman istimewa secara fisik, namun bukan dengan hati, sebab hatinya penjajah ialah api pembakaran sumber 38
daya alam Papua. Jakarta hanya menyerahkan nama UU Otonomi Khusus, namun soal kewenang dikendalikan oleh Jakarta sendiri, ini adalah suatu hal yang di mana sangat berkontradiksi dengan apa makna otonomi khusus itu sendiri. Pertanyaanya, setelah otonomi khusus apa agenda berikutnya? Tentu saja agenda berikutnya adalah daerah otonomi baru (DOB). Di daerah otonomi baru, di sana akan membangun Polres, mako Brimob, Koramil dan Kodim dengan narasi bahwa tujuan membangun semuanya ini untuk memproteksi dan mengayomi masyarakat setempat agar keadaan sosial masyarakat itu aman. Ungkapan semacam ini adalah bukan untuk mengayomi, namun untuk menjaga konsentrasi proses produksi pembangunan infrastruktur, jalan trans dan markas militer. Waktu otsus jilid 1, Pemekaran-pemekaran yang di mekarkan berdasarkan undang – undang Nomor. 26 tahun 2002 tentang pembentukan adalah seperti Kabupaten Tolikara, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Kerom, Kabupaten Sorong selatan, Kabupaten Raja ampat, Kabupaten Pengunungan bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven digoel, Kabupaten Mapi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk bintuni, Kabupaten Teluk wondama. Inilah wajah penjajah yang kemudian menjadi jalan alternatif untuk eksplore daerah-daerah yang potensi mineral yang padat. Jalan trans Papua adalah jalan yang mana menghubungkan dari kabupaten yang satu kabupaten yang lainya, agar dimudahkan negara serta investor untuk mengambil segala bentuk dan bermacam
jenis sumber daya alam di Papua, dan lebih khususnya di Yahukimo. Salah satu dari beberapa kabupaten yang di mekarkan adalah kabupaten Yahukimo. Sekarang, dalam tubuh kabupaten Yahukimo dan moto “Dami Sejahtera” ini bukan lagi persatu 13 suku, namun yang saat ini terjadi di dalam tubuh kabupaten Yahukimo adalah sarang konflik horizontal. Pertanyaanya, apakah ulah konflik horizontal ini karena ke 13 suku ini baku musuh sejak awal? Jawabanya tidak, karena perusuhan yang pada akhirnya korban nyawa ini terjadi ketika ada kehadiran kabupaten Yahukimo melalui Otonomi Khusus Papua. Dahulunya, dari suku yang satu ke suku lain hidup berdampingan, walupun di sana ada perang suku, namun perang suku itu tidak berlarut-larut, namun perang suku yang biasanya di lakukan di dalam 13 suku pun sesuai hukum adat yang ada. Hukum perang di 13 suku ini harus memakai panah dan busur, bukan kampak, senjata dan parang. Harus memakai etika perang yang ada untuk membunuh orang yang tertentu, bukan membunuh anak-anak, ibu-ibu, orang tua atau masyarakat lain dengan sembarangan. Ketika pembunuhan terjadi kepada anak-anak, ibu-ibu serta orang yang sudah berumur, maka itu adalah perang yang mana kemudian melanggar etika perang. Ketika membunuh orang secara tidak terhormat dan tidak terencana, maka itu adalah pelencengan nilai dan norma adat orang Papua Yahukimo. Dalam hukum perang di 13 suku, di sana ada nilai dan norma perang. Di setiap suku, harus melakukan perang sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Di setiap 13 suku, memili-
ki honai yang berbeda, di dalam honai laki-laki, disitulah menceritakan tentang strategis perang, kemudian memfokuskan dan konsentrasikan orang-orang yang punya masalah yang harus dibunuh. Akan tetapi, ketika melanggar hukum perang, maka itu adalah tindakan yang dimana kemudian mencederai hukum perang. Perbuatan yang melanggar hukum perang, maka itu di sebut bukan lagi seorang jantan yang membunuh jantan. Perang dilakukan ketika laki-laki menggangu perempuan yang sudah bersuami, dan juga ketika pencurian terhadap material yang sifatnya milik orang lain, semisal kelapa hutan, kebun dan hutan orang lain, sebab di sana telah ada pagar dan batasan kebun milik orang lain/ marga lain. Pagar yang ada di sana adalah sungai, kayu-kayu tertentu yang dikenal oleh orang-orang setempat, atau kayu yang sudah dibelah dengan rapi untuk menanam sebagai bukti bahwa itu adalah pagar patokan perbatasan antara kebun atau hutan milik marga yang satu dengan marga lainya.
Bagian IV: Wajah kolonialisme dalam tubuh pendidikan di 13 suku Pendidikan berbasis adat Anjing-anjing peliharaan di 13 suku itu sudah mulai hilang, karena mayoritas anak-anak dari 13 suku yang kemudian layak meneruskan untuk pelihara anjing sebagai teman berburuh di hutan, sekarang anak-anak laki-laki (nengabo) semua di dekai ibu kota Yahukimo.
39
Orang dari 13 suku ini mencari-cari panah dan busur panah untuk bunuh babi (meiya’) di bulan Desember ketika anak-anak itu balik dari kota ke kampung. Orang-orang tua di honai sudah mulai tidak ada akibat bedahalam, akhirnya pengajaran khusus di honai laki-laki itu sudah sempit (kosong). Tongkat penusuk umbi-umbian (kwaneng) di kebun (we) itu hilang, sebab perempuan dari 13 suku yang meneruskan untuk memegang tongkat (mega’) itu tinggal di Wamena, Dekai dan Jayapura. Sali (ble) yang tanam di kolam-kolam itu sudah tidak ada, akibatnya mama-mama di kampung-kampung itu memakai rok semua. Pikul kayu di belakang itu sudah kosong, akibat selimut serta kain-kain lainya di rumah perempuan. Pembuatan tali untuk mengikat babi di hutan sudah semakin punah, akibat tali rafia telah ada di setiap suku. Makanan babi di kandannya itu sudah ada beras satu sampai lima karung, sedangkan ubi-ubi yang biasanya mama-mama menyiapkan untuk babi itu sudah tidak ada, itu terjadi juga ketika orang di setiap suku yang dulunya berbanyak kerja kebun itu sekarang menjaga uang kertas di Dekai serta beberapa kota lainya, bahkan juga diakibatkan karena kaum hawa semua berada di kota-kota besar makanya kebun-kebun di kampung itu tumbuhlah rumput dan kayu. Arsitektur Noken yang biasanya di buat dari racikan kulit kayu, kemudian dihaluskan serta digulungkan lalu kemudian di anyam secara tertruktur kini tiada, yang ada saat ini adalah gulingan benang yang cukup panjang dengan sebuah besi kecil yang di lobangi untuk menganyam noken dari bahan-bahan baru. 40
Kebun-kebun itu sudah rumputan hijau, biji penanaman koteka tidak kelihatan, orangorang tua memakai koteka kemudian badannya memakai baju lengan panjang serta jaket pada akhirnya tidak terlihat orang tua itu sedang memakai koteka. Dansa-dansa disaat acara besar-besaran itu dilapisi dengan baju serta celana yang berwarna, bahkan dalam tarian local itu pun mayoritas anak-anak tidak satu pun yang berani untuk mengangkat pujian lokan yang adalah logika dasar untuk menceritakan masala serta cintanya melaluhi lagu-lagu. Bunyi lonceng untuk beribadah di setiap sore yang di ajarkan oleh misionaris itu sudah tidak terdengar lagi. Yang sedang ada di honai kaum mudah itu hanya ada sebatang kaplek, joker serta penumpukan handphone untuk berjudi dengan berbagai aplikasi yang bergerombol di dalamnya. Berjudi hingga kalah pada akhirnya babi-babi serta perempuan pun telah menjadi sasaran untuk penukaran uang. Rumah-rumah di kampung-kampung kecil itu ditutupi dengan seng-seng, kemudian daun penutup atap honai itu tidak Nampak, bahkan sampai di tutupi dengan terpal. Itulah fakta dan realitas penurunan budaya pendidikan berbasis lokal, karena semua anak-anak yang ada dalam 13 suku sedang di kota besar, pada akhirnya orang tua pun tidak dapat meneruskan ajaran-ajaran itu kepada anak-anak secara maksimal serta sempurna.
Masuk pada Pendidikan formal Penulis tertarik ketika membaca dan merenungkan kembali atas hasil rubrikan kawan
Victor Wenda dan Soleman Itlay yang di terbitkan oleh laolao-papua.com pada,28/09/21 dengan judul Penjajahan Lewat Pendidikan di Papua. Kawan berdua telah menjelaskan bagimana kolinialisme itu hadir lewat Pendidikan di papua secara umum, namun kali ini, saya juga akan menjelaskan lebih detail tentang wajah pendidikan di 13 suku yang dimana dalam tubuh pendidikan itu telah ada penjajahan. Dan realitasnya, kebanyakan orang Yahukimo belum mengetahui akan hal ini kemudian orang-orang di dalam 13 suku ini lebih tertarik pada praktik politik kolonial di Papua pada umumnya dan lebih khususnya di kabupaten Yahukimo Papua. Saya ingin memulai dari sudut pandang konsep dasar pendidikan. Arti Pendidikan dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pendidikan/pen•di•dik•an/ n proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik; sedangkan, Pendidikan adalah “education /ˌedʒuˈkeɪʃn/ /ˌedʒuˈkeɪʃn/ a process of teaching, training and learning, especially in schools, colleges or universities, to improve knowledge and develop skills” Definisi KBBI serta the ocxfort dictiory ini memang harus pakai dan melihat kondisi Pendidikan hari ini di 13 suku ini walupun kedua bahasa ini tidak terlepas dari kebudayaan serta kekuasaan, karena memang budaya setempat sesungguhnya ditaklukkan oleh bahasa-bahasa ini, yang mana kemudian di jadikan sebagai bahasa raksasa di bumi. Tidak hanya bahasa saja, namun di dalamnya manusia juga mendominasikan dirnya se-
bagai manusia, kemduan orang dari 13 suku ini bukanlah manusia (it,flat,budak dalam film doumenter bumi manusia dan the 12 years slaver). Pendidikan berpola asrama yang dibangun oleh belanda sebagai tempat menempuh ilmu untuk meningkatkan keimanan Kristen itu sudah lenyap. Ketika sistem Pendidikan formal Belanda tiada, kemudian sistem Pendidikan formal Indonesia itu eksis. Ini adalah tahap-tahan penjajahan yang mana melengserkan budaya di 13 suku. Guru-guru perintis suku mee yang hadir di beberapa suku di Yahukimo itu kini tiada. Asrama-asrama yang dibangun oleh penginjil di setiap suku itu kini tiada, memindahkan sekolah-sekolah itu di kabupaten dan menerapkan sistem dan metode Pendidikan formal Indonesia. Mata pelajaran mulok, Bahasa local, dan kemudian beberapa metode yang di terapkan sesuia budaya itu lama-lama tenggelam. Melihat dari kaca mata negara terhadap orang-orang di 13 suku ini sangatlah primitive, buta huruf dan keterbelakangan. Diksi dan narasi ini dibangun melalui sistem untuk mendominasi budaya serta kekuasaan di dalam 13 suku ini. Kehadiran kabupaten melaluhi otsus papua adalah jalan menuju propaganda dan konsetrasi negara untuk wilayah-wilayah di 13 suku ini terus terpatok bahkan terus berpegang teguh pada suprastrukturnya. Paulo friere telah dengan jelas menjelaskan soal hal-hal tentang buta huruf dan marginal, bahwa memang sifat penguasaan budaya asing adalah melalui Pendidikan formal yang arahnya memandang suatu wilayah (orang) dengan primitive, buta hurut dan danggal. Ia juga menjelaskan ten-
41
tang Status quo dominasi yang adalah logika kekuasaan dominasi gaya baru, ia tidak hanya bicara untuk orang Brazil, namun ia juga melihat kondisi objektif yang ada di Chili dan Afrika dan negara berkembang saat ini di kenal dengan dunia ketiga, dengan pengalaman ini, sehingga Friere dengan tegas kritisi moderenisasi melaluhi pendidikan formal penjajah. Proyek dominasi ini telah ada, ia subur, perkembang biak secara kronis. Ia masuk dalam tubuh, menjadi darah dan daging, ia berjalan secara terstruktur, sudah teraplikasi menjadi sum-sum, sel darah dan menduduki di otak manusia di dunia ketiga ini untuk menguasainya. Lanjut Friere, bahwa orang orang yang buta huruf sebenarnya tahu bahwa mereka adalah manusia yang pada dasarnya mempunya hak dan kebudayaan yang sama. Mereka hanya tahu bahwa dirinya harus bekerja, yaitu bekerja sesuai dengan material yang ada. Pandangan yang mengarah pada buta huruf adalah dominasi budaya barat yang kemudian mengakui sebagai negara yang lebih tinggi dan super power untuk mengatur segala tatanan kehidupan. Paulo Freire (2016: 53) menjelaskan bahwa: Dalam konsep gaya bank, pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Menganggap bodoh secara mutlak orang lain, sebuah ciri dari ideologi penindasan, berati mengingkari pendidikan dan pengetahuan sebagai proses pencarian. Guru menampilkan diri di hadapan murid-muridnya sebagai 42
orang yang berada pada pihak yang berlawanan; dengan menganggap mereka mutlak bodoh, maka dia mengukuhkan keberadaan dirinya sendiri. Para murid bagaikan budak terasing dalam dialektikanya. Pendidikan formal yang saat ini adalah guru-guru lebih superior, kemudian murid-muridnya datang duduk diam dan pulang, metode dialogis secara dialektik yang di maksud oleh Freire ini tidak kentara. Sistem negara kesatuan republic Indoensia (NKRI) memandang, bahwa mereka yang tidak baca adalah buta huruf dan kemudian itu sangat kampungan, sedangkan, melihat dari sisi kampung, mereka adalah orang-orang yang punya bakat dan minat dalam memproduksi sesuatu dengan pemahaman mereka yang timbul dari benak mereka. Di kota, penggunaan kosa kata-kota dalam bahasa iIndonesia dengan kata yang baku, kemudian orang di kampung tidak sedemikian rupa. Orang di kampung bisa dapat memanjat kelapa hutan dengan metode budaya setempat, sedang orang di kota yang tadinya memakai Bahasa Indonesia yang baku itu tidak bisa, ini adalah perbedaan kedua pandangan, yaitu ada yang menilai dari kaca mata kota maju bahwa orang di kampung itu hidupnya masih dalam zaman kuno, sedangkan orang dari kampung menilai dirinya bahwa apa yang dapat ia lakukan di kampung itu adalah kewajiban, maka dia harus melakukanya. Ilutrasi ini adalah sebuah fakta yang terjadi di kalangan ini, yang harus melihat, bahwa ternyata orang di kampung itu bukanya primitive, namun itu adalah pengetahuan dasar yang telah di miliki oleh 13 suku di setiap daerah yang ada.
Pembacaan Situasi Oleh Internal Ikatan Pelajar Dan Mahasiswa Yahukimo Daerah Istimewah Yogyakarta (IPMY_ DIY) soal Perusuhan pada 03 oktober 2021 lalu di Yahukimo Perusuhan terjadi di ibu kota dekai kabupaten Yahukimo itu adalah reaksi ketidak terimaan meninggalnya bapak mantan bupati Yahukimo alm. Abock busup oleh keluarganya. Hal ini dilakukan secara sponaitas, karena memang sesungguhnya adalah keluarga almarahum tidak terima kenyataan ini. Peristiwa terjadinya penyerangan di Yahukimo ini tidak terlepas dari kecurigaan-kecurigaan peristiwa perlawanan politik praktis di Yahukimo sebelumnya, dan memang hal ini tidak pastikan, apakah hilangnya nyawa bapak alm. Abock ini penyebabnya karena serangan senjata biologi (racun) atau gagal jantung secara tiba-tiba ataukah yang lainya. Sesungguhnya penyerangan ini tidak di rencanakan, namun sifatnya adalah secara spontanitas yang mana kemudian telah memakan korban, di antaranya adalah 6 orang, kemudian dikabarkan beberapa luka-luka, luka yang kritis maupun juga ringan. Penyerangan di lakukan di dalam gereja maupun juga di rumah yang kemudian membakar rumah sebagai pelampiasan emosi dari pada keluarga alm. Bapak abock busup. Ketika itu, pihak gabungan militer menangkap 60an orang lebih yang kemudian di tangkap sebagai pelaku penyerangan pada tanggal 3 oktober lalu, namun dalam hal ini pun tidak terdengar siapa dalang sebenarnya.
Pada hari minggu, 03 oktober 2021 di waktu Indonesia barat, kami anggota IMPY berada di kota istimewa Yogyakarta, kami sedang dalam ibadah, berita yang mana muncul adalah ada kerusuhan di Yahukimo akibat meninggalnya alm. Abock busup. Jika demikian, kami pun bertanya-tanya dalam hati kami mahasiswa Yahukimo di Yogyakarta, bahwa kenapa berita duka didengar langsung secara kilat oleh keluarga di Dekai, sedangkan kami di Yogya sampai di Jayapura saja belum dengar? Siapa yang memberitahu lebih dahulu di Dekai? Pelaku sumber informasi dari Jakarta kemudian kepada keluarga di Dekai itu siapa, sampai saat ini belum di dengar secara clear, apakah pengabar berita duka ini adalah dari keluarga alm. Ataukah dari siapa? Hal Ini dinilai, bahwa ada pihak tertentu yang kemudian bermain secara konspirasi. Akibat terjadinya peristiwa ini di Yahukimo, aktivitas sosial di ibu kota Dekai pun hilang. Di posisi itu, penyiraman yang yang di lakukan oleh militer gabungan dengan dalil bahwa “kami mencari pelaku penyerang pada tanggal 03 oktober lalu”. Masyarakat Kimyal trauma akibat perlakuan aparat, pada akhirnya mengungsi di daerah-daerah hutan. Pengungsian ini tidak hanya orang Yali (ninia) saja, namun orang-orang kimyal pun melakukan pengungsian yang serupa. Respon dari peristiwa ini 12 oktober 2021, bupat Yahukimo dengan berani berdiri di mimbar gereja GIDI, kemudian mengungkapkan bawah dari suku ini ‘Kimyal’ melakukan penyerangan 7 kali kepada suku lain di Yahukimo, jika terjadi hal yang serupa, maka kami seluruh kepala suku di Yahukimo bersepakat untuk melawan mereka (suku
43
kimyal). Sungguh, keluarbiasaan emosi bupati Yahukimo Didimus Yahuli terhadap pelaku penyerangan suku Kimyal ini terbukti bahwa pemimpin perpanjangan borjuis yang mana merugikan, kemudian tuduhan ini pun tidak disertakan dengan suatu data yang valid. Bupati Yahukimo pun telah mengizinkan bahwa di Yahukimo harus membangun Mako Brimob, kemudian juga ibu kota Dekai harus dipindahkan jauh dari yang saat ini, yaitu di tempat yang kemudian orang Kimyal tidak dapat melakukan penyerangan lagi;katanya. Di situasi yang marak ini, para borjuis local telah melakukan kampanye politik di situasi kedukaan, bantuan yang atas namakan pengungsian, perlakuakn politikus Papua tersebut di nilai kampanye untuk ajang pilkada gubernur di tahun 2024 mendatang. Ini adalah penanganan yang mana tidak serius terhadap masyarakat yang mengungsi akibat trauma dan gangguan psikologis warga sipil di Yahukimo. Para pemimpin wakil rakyat Yahukimo tidak melihat secara jeli kepada sejumlah besar warga yang sampai saat ini mengungsi. Kebanyakan dari pada pengungsi ini adalah anak-anak sekolah yang sedang berstudi di ibu kota Dekai Yahukimo. Hal ini di perliahatkan bahwa generasi milenial Yahukimo saat ini kerugian besar dalam kegiatan sekolah. Hal ini dilihat sebelah mata oleh wakil rakyat Yahukimo. Namun ini mempunya dampak yang besar, yang mana [anak] terjadi ketergantungan akibat tidak belajar, kemiskinan, buta huruf dan miskin dalam melihat masalah secara kritis. Dalam posisi trauma healing, pastinya militer di posisikan dirinya sebagai guru bagi anak44
anak sekolah yang mengungsi. Watak militer yang mana menjadi guru di tempat pengungsian adalah untuk mengkontruksikan pikiran anak-anak sekolah dengan nasionalisme sempit. Militer diposisikan dirinya dan kemudian memanfaatkan bupati serta seluruh wakil rakyat di Yahukimo untuk memberikan materi-materi formal yang mengarah pada NKRI harga mati. Selanjutnya, dalam aksi penyerang, Pembiaran yang dilakukan oleh militer disaat penyerangan di gereja Efanastia Dekai itu absurd, sebab jemaat yang diserang oleh sebagian kelompok itu memang jemaat yang kemudian sangat dekat dengan kontor polres Dekai Yahukimo. Hal ini mahasiswa Yahukimo yang berada di kota studi Yogyakarta menilai bahwa pembiaran polisi ini adalah suatu kesan polisi yang tidak terpuji terhadap tugasnya. Polisi setempat membiarkan dan abaikan kejadian ini, istilahnya polisi memberikan waktu kepada pihak yang menyerang gereja dan pihak yang ada di gereja setempat untuk tetap berperang. Banyak sekali militer yang kemudian di kirim ke Yahukimo sebelum terjadi penyerangan ini, namun militer-militer itu sembunyi tangan, atau tidak mengamankan situasi kedua pihak yang sungguh brutal ini. Kemudian, dalam agenda pembacaan situasi ini, mahasiswa menilai bahwa pemimpin wakil rakyat Yahukimo pun tidak netral dalam kericuan ini, bupati pun membela pada pihak yang satu, DPR tidak angkat bicara soal kejadian ini, Lembaga gereja GIDI juga melihat di satu sisi/suku, sedangkan di suku yang satu di pandang sebelah mata. Mahasiswa Yahukimo kota studi Yogyakarta juga menilai, bahwa pihak lain memanfat-
kan kesempatan untuk melakukan kampanye politik, ini adalah perlakuan yang tidak manusiawi. Bahasa tubuh (body languege) memperlihatkan terhadap kami mahasiswa Yahukimo atas bantuan dari pihak lain, bahwa hal itu adalah tindakan yang kemudian di lakukan untuk kepentingan dan kekuasaan politik praktis di provinsi Papua. Bantuan-bantuan semacam ini melihat bahwa bukan untuk membantu dan melengkapi orang-orang yang pengungsi, namun hal ini adalah permintaan sesuatu kepada orang Yahukimo. Rakyat Yahukimo sedang dalam kesakitan, malah datang lagi untuk membuat orang Yahukimo itu harus sakit-sakit terus. Konklusi sebagai tuntutan kepada pemerintah dari agenda pembacaan situasi yang lalu adalah pemerintah harus persikap netral terhadap warga sipil di kabupaten Yahukimo. Menyediki ulang lagi terkait orangorang yang sebarkan informasi dari Jakarta ke dekai Yahukimo. Tegas bahwa kami mahasiswa Yahukimo yang ada di kota Yogyakarta menolok dengan tegas soal rencana pembangunan mako Brimob di Dekai yang di lontarkan oleh bupati Yahukimo. Kami membantah pernyataan bupati kabupaten Yahukimo dengan narasi “Ketika suku yang sama melakukan hal yang sama di kabupaten ini, maka kami seluruh suku bergabung untuk lawan mereka”.
Bagian V: Kesimpulan 13 suku yang tergabung dalam satu moto Yahukimo “damai sejahtera” ini dahulu hidup berdampingan. Hidup di atas tanah airnya dengan semangat serta gairah hidup yang
kemudian melahirkan produksi sebagai memenuhi kebutuhanya secara umum. Hal ini di perlihatkan bahwa orang-orang dalam 13 suku ini tidak ada perbedaan, mempunya hukum perang yang di hargai, tidak menghilangkan nyawa orang-orang di daerah setempat dengan sembarangan. Pendidikan budaya yang kemudian hilang sekejap ini adalah akibat masuknya negara colonial Belanda serta Indonesia. Bahasa dan budaya saat ini turun secara cepat akibat Pendidikan formal yang telah eksis sejak awal masuknya kolonial. Berbagai masalah yang terjadi di kabupaten Yahukimo adalah tidak terlepas dari bagaimana wajah kolonial itu berkembang biak, subur meluas. Pendidikan ala Paulo Freire yang dimaksud dari kampung ke kota itu tidak nampak, akibatnya melihat orang-orang Yahukimo dianggap buta hurap, terbelakang dan primitive. Hal-hal ini ialah jalan dan metode yang mana kemudian menyebar luaskan program-pragram kolonial yang telah ditetapkan sejak awal secara misteri dan matang. Kabupaten Yahukimo adalah lembaga negara yang dalam tubuhnya terdapat berbagai macam suprastruktur, di anataranya adalah agama, hukum, sekolah yang berbasi formal, birokrasi yang mana memarjinalisasikan orang-orang Yahukimo, maka terjadi permusihan antara individu yang satu ke yang individu yang lainya, suku yang satu ke suku yang lainya, marga yang satu ke marga yang lainya. Ketergantungan orang Yahukimo saat ini adalah kepada pemerintah, karena memang sejak awal di manjakan dengan produksi negara. Terakhir, sumber konflik saat ini adalah neg45
ara melaluhi militer, karena itu kita saling bergantengan tangan untuk lawan arah. Kita orang Papua biasa bilang, bahwa kalau bukan kita yang lawan, siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi? Mari kita mulai untuk mejaga kita dengan kita, kemudian maju bersama dalam tali bersatuan kebangsaan Papua.
Reference:
“Bersama kebenaran sang bintang kejora dan persatuan tanpa batas berjuang sampai menang”.
2. Kutipan dari acoun facebok diluis Kobak 2020 yang menjelaskan tentang posisi keberadaan kabupaten Yahukimo dan penghuni kabupaten Yahukimo https://www.facebook.com/inghia.werene
Penulis Adalah Renold Ishak Dapla, Mahasiswa Asal Papua, Anggota Aktif AMP KK Yogyakarta
1. Ragam ras manusia yang menguni di Yahukimo, ras yang domisili maupun juga orang asli Yahukimo (oay) https://kumparan.com/berita-hari-ini/ pengertian-ras-dan-penyebarannya-di-indonesia-1wEZ19c7Rwc/3
3. Distrik-distrik, goegrafis, topografi, sejarah dan pembangunan pemerintahan kabupaten Yahukimo https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Yahukimo 4. Slogan kabupaten tolikara https://nasional.tempo.co/read/684902/ tolikara-itu-singkatan-tolong-lihat-kami-ini-rakyat-artinya/full&view=ok 5. kabupaten yang telah di sahahkan sehak otsus jilid 1 https://tolikarakab. go.id/?mod=halaman&id=6364d3f0f495b6ab9dcf8d3b5c6e0b01 6. kawan john gobay menulis soal alm abock serta beberapa pejabat papua yang begitu meninggal tanpa sakit https://m.facebook.com/story. php?story_fbid=392725349139482& id=100052060590961
46
Referensi Diskusi: 1. Pendidikan kasih sayang pada 28-03 oktober 2021 di asrama dogiai Bersama paguru Daniel indra kususma: tentang MDH, PPMH, asal ususl manusia serta budaya barat dan kekuasaan, upah buruh, petani, konsentrasi, alat produksi, basis material 2. 14/10/2021 pertanyaan melaluhi via whatsapp tentang konsentrasi dan basis material kepada kawan jupe,maxi,asael dan yance.
oleh pdt. Socratez yoman. Tentang otonomi khusus dan daerah otonomi baru 3. Friere. Paulo. 2004.2007. Pendidikan politik. Kebudayaan kekuasan dan pembebasan 4. Wonda.sendius. cetakan 1. 2007. tenggelamnya rumpun Melanesia. Jayapura. Di redaksikan oleh pdt Socratez sofyan yoman
3. 17/10/2021 pembacaan situasi di honai IPMY DIY Bantul jawa tengah
Reference Cuplikan video: 1. Video pendek sebagai Respon bupati Yahukimo atas orang suku kimyal 2. Kompastv. Kerusuhan di Yahukimo Dipicu Kematian Mantan Bupati Abock Busup https://youtu.be/8pJjvqheCoU 3. Beritasatu: Bupati Pastikan Kondisi di Yahukimo Kondusif https://youtu. be/1vCfLk6TNK8
Referensi buku: 1. marx, karl. 2012. ekonomi politik dan aksi revolusioner. Resist Book: Yogyakarta. Diterjemahka darsono prawironegoro 2. Wonda, sendius. 2009. Jeritan bangsa. Yogyakarta. Di pengantarkan
47
FEATURE
Menoken’s Environment oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
Sungai, pohon-pohon besar yang tumbuh alami di sekitar pohon, bukit yang siap ditumbuhi bibit-bibit pohon kayu, ‘wajah’ Pegunungan Cycloop yang meninggalkan bekas luka di sana dan upaya-upaya untuk tidak membuatnya marah lagi.
48
Pegunungan Cycloop yang mengelilingi sebagian besar Sentani diberi nama oleh leluhur Sentani dengan sebutan Dofonsoro atau Dobonsolo. Leluhur Mom Agu menyebutnya Robong dan Holo (Robongholo) nama yang konon berasal dari dua anak perempuan menurut legenda. Tepi sungai banyak berjejer pohon-pohon kayu yang besar. Menurut cerita Mom Agu, bapaknya sebelum meninggal sering berpesan bahwa jangan menebang tpohon di pinggir sungai karena ia seperti membaca pegunungan Cycloop suatu saat akan mendatangkan bencana di Sentani. Hal itu merupakan nasehat turun-temurun di keluarganya dan benar saja sewaktu banjir bandang terjadi banyak yang kehilangan dan mengungsi sementara Mom Agu tetap bertahan di kediaman karena menurutnya masih aman untuk tidak mengungsi. Ker-
abat Mom Agu juga diceritakan terjebak banjir bandang saat itu dalam sebuah bangunan sambil membenarkan kitab yang berisi kisah Nabi Nuh dan bahteranya. Mereka terjebak dari pukul 01.00 pagi hingga siang hari keesokan harinya saat air mulai surut. “Makanya, kamu kan sudah dibilang kalau masuk jam malam sudah harus pulang ke rumah. Nah, ini yang terjadi, kamu terjebak saat malam hari.” Kata Mom Agu pada kerabatnya. Pohon-pohon di hutan, lereng atau
49
di gunung dari yang saya pelajari dulu ialah akarnya mampu menahan material yang dicengkramnya di tanah serta mengikat air yang dibutuhkan untuk pohon itu sendiri dan ekosistem sekitarnya. Maka tidak heran banyak ditemukan aliran kali di sekitar pohon-pohon yang tumbuh rimbun. Jejeran pohon-pohon jugalah yang menjadi “pagar” bagi material-material yang meluncur ke bawah gunung bisa dibayangkan jika hutan itu gundul. Maka yang terjadi kemudian adalah rusaknya lingkungan di lereng atau sekitar gunung.
tertentu. Bisa 50-100 tahun sekali, tapi bisa lebih cepat dan memiliki dampak yang lebih buruk jika tidak ada keseimbangan dan kesadarannya.
Filosofi masyarakat asli Sentani yang berbeda dengan masyarakat pendatang lainnya disinyalir sebagai penyebab banyaknya korban saat banjir bandang. Padahal proses tersebut adalah proses alam dalam periode
Padahal banyak manfaat dari hutan yang mempengaruhi kultur Sentani. Selain Pohon Saga, Pohon Khombow, tanaman pandan hutan yang seratnya bisa dijadikan noken, saya pernah mendengar pohon kayu
50
Filosofi masyarakat Sentani yang percaya bahwa pegunungan Cycloop/Dofonsoro itu adalah “ibu” bagi mereka sehingga pohon-pohon tidak boleh ditebang sembarangan karena akan menimbulkan bencana besar. Namun, masyarakat yang tinggal di lereng gunung tidak menganut paham itu karena bukan keturunan leluhur Sentani.
“Swam”. Pohon itu digunakan masyarakat Sentani yang tinggal di danau untuk dijadikan pilar-pilar/kolom rumah. Pohon “Swam” mampu bertahan dalam air danau hingga berpuluh-tahun lamanya bahkan ada yang sampai 100 tahun. Menurut cerita juga pohon kayu “Swam” ini memiliki pucuk daun berwarna merah muda. Saya belum pernah melihat langsung pohon ini, makanya ketika melintas hutan atau tempat yang rimbun dengan pohon saya selalu mencari pohon yang puncaknya berwarna merah muda karena bisa jadi itu adalah pohon “Swam” yang mengagumkan. Sepuluh bibit pohon kayu diangkut temanteman camping untuk ditanam di bukit. Berbekal “dodos” sebagai alat bantu menggali tanah. Semoga bibit-bibit itu bisa tumbuh hingga 50 tahun ke depan. Agar bukit tidak lagi dibilang ‘gunung botak’. Bukit itu terdapat bukit yang bernama “Bukit Salib” dan kami menuju ke sana untuk menikmati lebih luas pandangan tanpa dihalangi hutan beton di bawah. Perumahan, pemukiman, stadion, gereja, masjid, sekolah, pulau-pulau di tengah danau, batas-batas Sentani Timur, Sentani Tengah dan Sentani Barat yang diterangkan Mom Agu.
obat konvensional masyarakat Sentani bahkan daunnya. Daun Mengkudu dipakai untuk menyembuhkan luka basah, ditumbuk kemudian dicampur ludah (saliva) dan diberikan pada luka. Saya pernah baca buku tentang Mengkudu di perpustakaan waktu SMP. Jika tidak salah, Mengkudu merupakan buah antioksidan tinggi pencegah kanker sama seperti buah Naga atau buah Manggis. Mom Agu memakan buah Mengkudu yang bau buahnya khas. Mengdeskripsikan rasanya seperti asin yang dicampur asam, saya bilang “Nano-nano”. Kalau saja tidak bertepatan dengan puasaku, sudah saya coba juga memakan buah Mengkudu.
“Waktu Mom muda dulu suka tanam pohon-pohon di bukit, tapi anak-anak nakal yang naik di bukit bakar rumput yang di bukit pohon-pohon itu juga kena dampaknya.” Tiap menanam pohon banyak yang mati karena dibakar orang. Tapi menurut Mom Agu, pohon Mengkudu yang ditanam tetap bertahan dan pohon Mengkudulah yang membantu pohon-pohon lain untuk bertumbuh karena Mengkudu teduh. Buahnya dipakai sebagai 51
FEATURE
Makna Tahun Baru oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
Makna tahun baru untuk orang yang suka duduk tenggelam dalam ranah buah-buah pikir. Menjelang tahun baru setidaknya untuk yang Muslim pasti banyak dikirim atau menjelajah konten-konten menyuarakan tentang keharaman merayakan tahun baru Masehi. Saya tidak akan membahas jauh tentang ini tapi “jauh” sebelum berita ini menumpuk dalam memori saya mengingat saya yang masih kecil.
52
Paceku (Bapak) melarang kami membeli petasan. “Bakar uang”, katanya. Pace tidak serta-merta menjelaskan sangkut paut agama dengan tahun baru tapi menanamkan pemikiran logis bahwa membeli petasan (mercon), kembang api atau sejenisnya hanyalah buang-buang uang saja dan hal itu hanya meniru orang-orang dengan kantong tebal. Kalau sekarang bisa saja saya menyebutnya korban kapitalis. Taman Gizi di Kabupaten Nabire kala itu masih menjajakan makanan-makanan yang memang mencerminkan namanya. Salah satunya “Ikan Bakar”. Pace membelikannya tengah malam sebagai pengganti petasan atau kembang api. Saya ingat menu Ikan Bakar itu sausnya sambal kacang yang banyak sekarang menu Ikan Bakar tidak dihidangkan dengan itu.
Saat remaja, seingatku masih duduk di SMA, saya membaca ulasan tentang sejarah kembang api. Kembang api awalnya berasal dari dataran Cina, petasan/ mercon pun adalah awal dari kembang api. Saya biasa melihatnya di film-film Cina yang ada adat pernikahannya. Petasan yang digantung itu adalah bagian dari pesta adat pernikahan Cina. Bahan utama petasan pun merupakan bubuk mesiu yang lagi-lagi ditemukan di Cina. Bubuk mesiu yang sekarang dipakai sebagai bahan utama peluru pada senjata api ialah revolusi dari petasan itu. Formula bubuk mesiu tidak sengaja ditemukan oleh koki Cina dahulu kala. Formula itu menghasilkan ledakan yang kemudian dipercaya untuk menakut-nakuti roh jahat. Makanya orang Cina menggunakan petasan diperayaan sakral seperti tahun baru atau pesta pernikahan untuk mengusir roh jahat. Sekarang, ketika tahun baru masehi yang identik dengan terompet dan kembang api mengapa dikaitkan dengan perayaan Majusi? Majusi menyembah api, kembang api dianggap sebagai inovasi ritual penyembahan Majusi tapi asal muasal kembang api saja dari Cina kenapa bisa ke Majusi? Secara umum, penyambutan tahun baru di seluruh dunia saja berbeda-beda bahkan cara merayakan-
53
nya pun berbeda-beda. Era ini, tidak bisa dipungkiri seperti saling kolaborasi dari sekian banyak pengaruh budaya di dunia. Makna tahun baru. Apa harus tahun baru dengan kembang api atau petasan? Tidak pernah tidak menonton atau melihat isu tentang lingkungan dan kesehatan ‘kan? Terlepas dari isu tahun baru versus agama coba kita telusuri dulu dampak dari petasan dan kembang api kemudian simpulkan bahwa petasan dan kembang api apakah perlu ada untuk menyambut dan merayakan sesuatu? 1. Bahan-bahan penyusun kembang api dan petasan adalah bahan-bahan kimia yang beracun. Sama sekali tidak baik untuk makhluk hidup di sekitarnya terutama manusia. 2. Asap yang dihasilkan dari kembang api sudah jelas beracun juga. 3. Pembungkus dari petasan dan kembang api terbuat dari kertas yang menghasilkan sampah di jalan-jalan umum. Masyarakat yang tidak sadar akan lingkungan acuh akan hal ini. Habis manis, sepah dibuang. 4. Menyia-nyiakan dana. Uang yang digunakan untuk membeli petasan atau kembang api menjadi habis percuma. Bukan digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat malah menghasilkan racun di udara dan semakin merusak lapisan oksigen bumi (O-Zone). 5. Sangat menyebabkan kebisingan bahkan resiko terjadi kebakaran. 6. Selain manusia, membahayakan untuk burung-burung di udara.
54
Saya tidak merayakan atau menyambut tahun baru dengan prinsip yang ditanam Paceku dan juga ketika saya mendapat tambahan pengetahuan lainnya yang memperkuat prinsip itu. Tahun ini saya memilih menghabiskan malam tahun baru masehi (mencoba) seperti malam biasa menginap bersama keluarga sepupuku. Tidak ada kembang api atau petasan. Hari yang saya lalui ialah salah satu quality-time. Bakar ayam, mengaduk es buah naga dan membuat buras bersama sepupu di rumah yang jauh dari kos-kosan kami berharap jauh dari kebisingan dan suara nyanyian karaoke perkumpulan orang-orang. Lepas jam makan malam dengan menu ala lebaran kami, semua penghuni mencoba tidur tapi tak terelakkan di tengah malam ternyata riuh suara petasan, kembang api dan berisiknya karaoke orang dari kejauhan, kucing yang terkaget-kaget pula sama dengan penghuni rumah di Koya Barat itu. Saya yang jengkel mencoba fokus untuk tidur kembali menghiraukan suara-suara ‘setan’ dan dentuman layaknya medan perang. Setidaknya di Koya Barat ini, masih sedikit sunyi dibanding saya yang mencoba tetap bermalam di kos-kosanku. Kemudian rasa damai karena mementingkan berkumpul bersama keluarga dan menolak undangan-undangan lain karena saya merasa, “mungkin ini kali terakhir saya berkumpul bersama keluarga.” Saya pun menghindari dan menarik diri dari perkumpulan tidak pantas dan buang-buang waktu karena saya berfikir ibadah Subuh keesokan harinya. Nah, apakah tahun baru itu harus dengan kebisingan dan racun? Apakah tidak ada cara lain untuk menyambut dan merayakan sesuatu yang lebih berfaedah? . .Mon.、 03 Jan, 2022
55
FEATURE
Proses Pembelajaran Daring oleh Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
Student Perspective: Kuliah daring memang masih efektif dalam situasi pandemi. Namun dampak negatif yang saya rasakan dari kuliah daring selama ini adalah kelelahan secara mental, lebih sering mengantuk karena berjam-jam menatap layar monitor. Bahkan terkadang melakukan kuliah daring sambil mengerjakan tugas dalam satu waktu membuat fokus benar-benar di depan monitor tanpa peduli interaksi langsung dengan orang lain.
56
Kulon (kuliah online) juga seperti mengambil jatah waktu istirahat yang seharusnya juga. Sebab terkadang pengajar memanfaatkan waktu saat malam hari untuk kulon berturut-turut guna mengejar absensi dan tugas yang beturut-turut pula. Berbeda dengan kuliah luring yang memerlukan interaksi langsung dan minim peserta kuliah untuk ‘membolos’ atau tidak memperhatikan kelas yang diberikan pengajar. Dengan pembelajaran yang semi daring sekarang ini atau tatap muka terbatas dengan memperhatikan prokes walaupun kenyataannya sudah banyak yang acuh dengan prokes, menimbulkan masalah baru. Karena adaptasi daring sebelumnya maka beradaptasi pula dengan kuliah semi daring. Jika seharian sudah melakukan kuliah luring kemudian dilanjutkan kuliah daring di rumah/tempat tinggal masing-masing maka yang saya (pribadi) rasakan adalah kelelahan fisik sekaligus psikis. Sebelum pandemi, kuliah luring terjadwal dengan baik dan masih punya waktu libur serta istirahat saat malam dan weekend namun pandemi di era teknologi ini benar-benar membuat jadwal dipaksa untuk produktif.
Pengalaman presentasi daring era pandemi: Berbeda dengan memberikan materi secara langsung pada audiens. Jika offline, suasana emosionalnya berhasil didapatkan tanpa peduli ada beberapa orang yang memperhatikan materi atau tidak karena ada interaksi langsung di ruangan. Presentasi saat daring justru lebih tertekan karena kita seperti memamaparkan materi kepada diri sendiri, menjadi resah apakah orang lain memperhatikan pemaparanku atau tidak, atau bila ada yang off camera apakah dia benar-benar menyimak atau tidak? Kesimpulannya sejauh ini memaparkan materi secara daring sungguh pengalaman yang kurang menyenangkan.
57
PUISI
Puisi Manfred Kudiai Kegelapan Tak Bertepi Terang bulan bagai selimut
Terang bulan seperti mata
Aku lewati ruas jalan berbukit
Dalam diam aku temui arti
berhenti di bukit doa, sesaat
bulan buka sisi lain dari mata
Lepas beban, agar tak terpeleset.
mataku mampu menatap marka
Lama, rasanya aku termenung
Jalan terlalu ke kanan, tertabrak
Pada kegelapan tak bertepi,
Jalan terlalu ke kiri, terpeleset
Pada kesunyian cahaya terang
Jalan sesuai jalur, agar selamat.
Aku tersungkur di tepi sunyi Uwapa, 17 Januari 2022 Dalam nyanyi-nyanyi dedaunan Gemuruhnya menampar rautku Ketika aku dalam ketakutanku...
58
21:49WP
QUOTES
Kutipan-kutipan Mia N Pigome Quotes (1) “ Jadilah orang yang kehadirannya dinanti dan kepergiannya dirindukan. Karena mencari seseorang yang baik, jujur dan tulus itui barat mencari sebutir permata di balik timbunan kaca.” Mia Pigome
Kutipan-kutipan Agustina Doo Apapun kesalahan di waktu silam sebaiknya jangan dipendam sendiri, tetapi mencoba untuk tenang dan perlahan terbuka dengan sang Khalik segera meminta maaf atas kesalahan itu. Setelah itu usahakan jangan membayangkankesalahan itu ataupun mengira bahwa kesalahan-kesalahan yang kita buat pasti akan terulang lagi, tolong dengan sangatbahwa pikiranpikiran begitu sebaiknya dihentikan. Sebab, segala sesuatuterlebih kesalahan yang telah kita sadari dan meminta pengampunan kepada-Nya yakindan percaya telah diampuni.
Jangan terus-menerus mengingat kesalahan yang kita telah meminta ampun di waktu silam, sebab Sang pemilik hidup tidak pernah memperhitungkan itu, Ia maha penyayang dan pengampun. Tuhan tidak pernah mengingat kesalahan kita. Oleh karena itu, kita juga tidak boleh mengingat-ingat kesalahan kita.
59
ESAI
Gramatika Kebisuan oleh Fauzan Al Ay yuby
“Tinggalkanlah pikiran rumit, agar dapat melihat jawab yang tersembunyi. Diamlah dari kata-kata, agar memperoleh percakapan abadi.” – Rumi
Ada satu esai Goenawan Muhamad dalam “Catatan Pinggir I” yang membikin saya penasaran. Esai berjudul Kebisuan itu dimulai dengan ajakan, “Mungkin kita memang perlu mempelajari gramatika kebisuan”. Dalam kepala saya sekelebat melintas momenmomen bisu. Suatu ketika, salah seorang senior mengerjai saya di kampus. Ia tahu, saya menyukai seorang perempuan yang juga teman seangkatan. Hari itu sudah malam. Kami baru selesai rapat organisasi. Kebetuluan, selain seangkatan, kami juga satu organisasi. Entah apa yang terjadi hari itu, senior saya itu tiba-tiba membawa saya duduk tepat di sebelah perempuan itu dengan dalih mengobrolkan program kerja. Ada hawa panas yang entah darimana. Meski sesekali lembab angin coba menyadarkan, tetapi tubuh seperti sedang merayakan sesuatu. Butir-butir keringat berbaris membentuk jalur di sekujur tubuh. Meliuk melewati lekuk lalu jatuh dari ujung kuku. Sialnya, perempuan itu juga tak berbicara. Ia hanya 60
tersenyum. Beberapa kawan yang daritadi mengelilingi kami, sialnya juga berpencar entah kemana. Dalam momen itu, saya ingat, tak ada yang kami bicarakan. Setiap kali ia tersenyum, saya sibuk menghapus keringat dengan lengan baju—andai saja lengan baju juga bisa menghapus kebisuan. Tapi saya, juga dia, seperti tahu apa yang sedang terjadi. Barangkali kebisuan itu terdiri dari seorang anak yang sejak kecil terbiasa memendam. Ia pakai tubuhnya untuk bicara ketika permintaannya tak diterima. Bunyi bantingan pintu, lauk pauk yang tak disentuh, atau mimik wajah sayu. Masa lalu itu, mengisi ruang-ruang kosong yang membentuk laku—hal yang pada akhirnya memberi arti pada tubuh dewasa saya ketika berhadapan dengan orang yang saya sukai. Dalam kebisuan itu, agaknya kami hanya berbicara dengan gerak tubuh, “Komunikasi memang tidak selamanya terjadi hanya karena dua mulut menerocos bersahutsahutan. Ada sesuatu yang disebut oleh Ivan Illich sebagai
‘the eloquency of silence’. Yakni, kefasihan dari diam. ‘Katakata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi,’ tulisnya dalam Celebration of Awareness,” tulis Goenawan Muhammad mengutip Ivan Illich dalam esai itu, “Baginya, bahasa adalah ibarat seutas tali kebisuan, bunyi hanya menjadi simpul-simpulnya. Bahasa adalah ibarat sebuah roda: yang menjadi pusat adalah katakata yang terucapkan—tapi yang membentuk roda adalah justru ruangruang kosong di antara itu”. Agaknya yang bisa dibaca dari pengalaman saya hanyalah gejala. Ada keringat yang jatuh saat suhu udara justru dingin. Atau taruhlah gejala itu sebagai pusat dan perasaan terpendam yang mengelilinginya. Gejala itu dibentuk tentu saja oleh sejarah kepribadian saya sebagai manusia. Sedangkan perasaan seperti roda yang mengisi ruang-ruang kosong di antara itu. Barangkali inilah yang dimaksud Jacques Lacan sebagai “ketidaksadaran”. “Menurut Lacan, ketidaksadaran muncul dalam bentuk mimpi, kelakar, keseleo lidah, dan gejala. Ketidaksadaran memiliki struktur yang mirip bahasa. Bahkan Lacan mengatakan bahasa merupakan kondisi bagi ketidaksadaran. Seperti wacana sadar, ketidaksadaran mengatakan sesuatu yang berbeda (mimpi dan lain-lain) dengan apa yang tampaknya disampaikan,” tulis Madran Sadrup dalam Postrukturalisme dan Postmodernisme, “Ujaran yang asli— ketidaksadaran—biasanya menyeruak ke permukaan dalam bentuk yang terselubung dan sulit dipahami”. Saya teringat satu adegan dalam novel Gagal Menjadi Manusia karya Osamu Dazai
yang saya baca akhir-akhir ini. Oba Yozo, karakter utama dalam novel ini, tiba-tiba mengatakan sesuatu tanpa sadar pada Takeichi, kawan sekolahnya, “Aku juga mau melukis. Akan aku lukis gambar hantu, iblis, dan kuda dari neraka,” ia melanjutkan, “biasanya aku membuat orang tertawa; tetapi ini kenyataan yang mengerikan. Aku diam-diam menegaskan diri lewat lukisan yang kubuat, meyakini bahwa tak ada jalan keluar darinya”. Hantu, iblis, dan kuda dari neraka agaknya menggambarkan ketidakpercayaannya pada manusia. Ia membingkai dirinya sendiri dengan kekonyolan yang tak putus-putus sebagai upaya pencarian terakhir pada cintanya untuk manusia. Ia menganggap manusia “menyembunyikan sifat asli, tetapi bakal muncul momen (tak ubahnya seekor lembu yang sembunyi di padang rumput mendadak melecut ekor untuk membunuh lalat di pinggulnya) takkala kemarahan membuat mereka men-
Bahasa adalah ibarat sebuah roda: yang menjadi pusat adalah kata-kata yang terucapkan—tapi yang membentuk roda adalah justru ruang-ruang kosong di antara itu”. 61
gungkapkan sifat asli manusia dalam sekejap dengan segala kengeriannya”. Bukankah kemarahan adalah juga adalah bagian dari ketidaksadaran, kebisuan, roda yang membentuk ruang-ruang kosong di antara itu.
Apa yang Kita Hadirkan dalam Kebisuan? Saya pernah disuruh berdoa oleh seorang kawan setelah kami melihat ke arah langit lewat sekelebat cahaya yang ia simpulkan sebagai bintang jatuh. Ia lalu menutup mata. Saya hanya mengangguk mengiyakan. Tak pernah saya tahu darimana juntrungannya doa yang terkabul dan bintang jatuh. Tak juga sempat saya tanyakan padanya. Yang saya tanyakan justru isi doanya. Ia enggan menyebutkan dengan dalih, “Kalau dikasih tahu ke orang lain, nanti tidak terkabulkan”. Dua hal itu baru kali ini saya pikirkan dengan serius. Waktu itu, saya hanya menggodanya, “Kenapa? Takut kalau nama yang kita sebut dalam doa rupanya orang yang sama?” Tentu saja ia hanya tertawa. Mengapa kita menghadirkan kebisuan ketika meminta sesuatu, justru lebih membikin saya tertarik. Agaknya bagi mereka yang muslim, sudah bukan hal yang lumrah anakanak yang riuh di masjid mendapat teguran bahkan pukulan. Mengapa keheningan begitu penting dalam beribadah juga agaknya dijawab oleh Ivan Illich, “There is no greater distance thet between a man in prayer and God. Only when the distance dawns on consciousness can the grateful silence of patient readiness develop,” tulis Illich dalam Celebration of Awareness. 62
Keheningan menciptakan jarak, ia membawa kita pada ruang-ruang kosong di antara kata-kata dan kalimat yang selama ini menjadi konsep pada diri manusia untuk kehadiran “Yang Lain”. Barangkali ruang-ruang kosong itu dapat dipahami seperti “dalam sebuah bejana, yang hampa itulah yang berarti—bukan tanah liat yang melingkupinya. Bahwa pintu ada berkat bolong pada dinding—bukan penutupnya,” tulis Avianti Armand dalam Arsitektur yang Lain.
Bacot: Masa depan Kebisuan “Bacot!” kata itu kerap dilontarkan pada seseorang yang terlalu banyak bicara. Namun tak semua orang yang kerap bicara dicerca kata ini. Ada kondisi kata-kata yang lepas dari realitas, bagai api jauh dari panggang; tak segendang sepenarian. Namun apakah relitas yang lepas dari kata-kata mempengaruhi kebisuan, apalagi di tengah masyarakat yang teknologikal. Mari bayangkan berapa banyak hal yang kemudian disalin-gandakan dengan teknologi. Kepungan bernama tren, sosial media, dan lain-lain. “Dalam setiap masyarakat yang maju teknologinya, nasib individual harus ditentukan oleh keputusan-keputusan yang mayoritasnya tak dapat ditentukan oleh dirinya sendiri. Sebuah masyarakat teknologikal tak dapat dipecah ke dalam komuniti-komuniti otonom yang kecil, karena produksinya tergantung atas kerjasama sejumlah besar orang,” tulis Ted Kaczynski dalam Manifesto Unabomber, “… dengan demikian kebanyakan individual tak akan mampu memberi pengaruh besar pada keputusan umum yang
mempengaruhi hidup mereka”. Keputusan-keputusan yang dimaksud bukan saja oleh otoritas, taruhlah barangkali halhal yang bersifat umum. Cita-cita, pekerjaan, bahkan gaya hidup. Meskipun tak dimungkiri teknologi pula yang mengalirkan begitu banyak pilihan, tetap saja, ada daya beli yang ditebar di depan wajah manusia. Apa salahnya? Belakangan setelah ditangkapnya Doni Salmanan dan Indra Kenz ditangkap, ada begitu banyak hujatan dilontarkan. Hujatan ini bukan hanya datang dari pengguna aplikasi yang memakai dua orang ini sebagai alat peraga “kesuksesan”. Mereka, yang bahkan pasif dengan hanya melihat dan mendengar tentang mereka, juga urun rembuk melontarkan kata-kata singgungan bahkan makian. Flexing atau pamer kekayaan adalah ujung pangkal dari fenomena ini. Barangkali ada yang dengan bijak mengatakan ia sama sekali tidak iri dengan laku ini. Tetapi lagi-lagi, flexing bukan hanya semata soal dirinya sendiri. Ia turut memengaruhi keputusan banyak orang untuk menentukan standar pada banyak hal. Barangkali seseorang boleh tak ikut memaki ketika dua orang ini ditangkap. Tetapi ia bisa saja memaki pengendara mobil mewah yang ugal-ugalan. Sementara ia bisa diam saja ketika disenggol pengendara motor butut di tengah jalan.
kecenderungan- kecenderungan depresif, keyakinan akan kekalahan, perasaan bersalah, rasa benci terhadap diri sendiri, dsb”. Lalu apa hubungannya dengan kebisuan? Kebisuan kita barangkali dibentuk atas respons realitas. Ia membentuk gramatika yang menyusun sejarah kepribadian kita. Ia tak lagi dibaca sebagai sebuah kata yang pasif. Ada proses penundaan, pengolahan, dan lain-lain sebelum akhirnya menuju pusat yang oleh Illich disebut sebagai kata-kata yang terucapkan, tapi ruang-ruang kosong itu oleh Lacan disebut “ketidaksadaran, mengatakan sesuatu yang berbeda (mimpi dan lain-lain) dengan apa yang tampaknya disampaikan”. Masa depan kebisuan agaknya akan berkutat pada diri kita hanya dalam porsi yang mungkin diperkecil. Teknologi menyediakan begitu banyak bahu untuk bersandar dan mengatakan sesuatu yang mengganjal pada dirinya. Jarak dipangkas. Kita tak diberikan banyak waktu lagi untuk berkomunikasi dengan diri sendiri, menyelami lautan kebisuan itu. Tapi bukankah itu juga yang akhirnya membentuk sejarah kepribadian kita? Barangkali agaknya keheningan belakangan akan lebih banyak menghadirkan gejala. Gejala yang akhir-akhir ini selalu kita lihat dan rasakan: kemarahan![]
Dengan kata lain, fenomena flexing melahirkan “perasaan-perasaan inferior” yang oleh Ted Kaczynski disebut sebagai: “…sebuah spektrum yang menyeluruh dari ciri-ciri pembawaan berikut: rendahnya rasa percaya diri, perasaan-perasaan ketidakberdayaan,
63
CERPEN
Kenapa Ko Kasih “Sa Harapan” Lalu Ko Pergi oleh Papuana Major
Sepulang dari kampus, kira-kira waktu menunjukkan pukul 16.30 (waktu Manokwari, Papua Barat) jalanan masih tampak ramai dengan aktifitas warga dan juga para mahasiswa, langit yang tampak dipenuhi awan gelap serta hujan gerimis yang telah turun, membuat Tinus memutuskan untuk berteduh di salah satu pondok pinang yang berada di pinggiran jalan, sambil mengunyah buah pinang, tiba-tiba seorang gadis, menghentikan motor maticnya persis di hadapan Tinus.
Sambil mengeluarkan Jas hujan dari dalam bagasi motor matic-nya, dengan senyuman di wajahnya, Ia berkata, “Kaka, permisi, numpang parkir mau pakai jas hujan”. “Silakan, tidak perlu permisi, karena saya juga numpang berteduh di sini,” balas tinus yang hanya dibalas tawa kecil oleh gadis itu. Setelah selesai memakai jas hujan, Ia pamit pada Tinus lalu mengegas motornya. Selang beberapa hari Tinus yang berkecimpung di dunia aktivis pun berkumpul dengan kawan-kawannya di sebuah kedai kopi, sembari ngopi dan berdiskusi tentang beberapa topik hangat baik di Manokwari bahkan hingga kejadian-kejadian besar yang sedang terjadi di belahan dunia.
64
Tiba-tiba Tinus tampak kaget, ketika melihat seorang gadis cantik yang duduk sendirian di meja paling sudut kedai itu. Tinus dengan teliti memandang gadis itu, ternyata ia adalah gadis yang Tinus jumpai beberapa hari lalu, ketika sedang turun hujan di sekitaran Amban, Tinus langsung menghapirinya “Hi, masih ingat saya kah?” Sapa Tinus, “Iyo, yang waktu itu di pondok pinang to?” jawab gadis itu.” “Iyo benar, nama saya Tinus,” Tinus memperkenalkan diri, “Nama saya Wandy,” balas gadis itu. Setelah berkenalan dengan gadis itu Tinus kembali berkumpul dengan teman-temannya lalu melanjutkan diskusi, sempat beberapa
kali mengajak Wandy untuk bergabung dalam diskusi mereka, namun Wandy menolak untuk bergabung, dengan alasan lagi tunggu teman untuk kerja tugas. Batin Tinus pun dirusak oleh paras cantik wanita berlesung pipi yang gemar memakai jaket jeans itu. Tinus mulai berpikir keras bagaimana caranya agar dapat memiliki Wandy gadis Cantik itu. Keesokan harinya, Ia kembali ke kedai itu sembari menunggu Wandy, selang beberapa waktu nampak Wandy menghentikan motornya di parkiran dan melangkahkan kaki menuju ke kedai, baju warna putih lengan hitam, rok, jaket jeans serta topi hitam yang melekat di atas kepalanya, “Sungguh mati! Wandy nampak sangat cantik malam itu,” batim Tinus yang seketika menghampirinya. Tinus: “Hi, Wand” Wandy: “Hi, Tinus, lagi bikin apa di sini?” Tinus: “Tunggu kamu Wand” Wandy: “Ah, serius?” Tinus: “Iya.” Sembari mengajak Wandy duduk dan Ia langsung menanyakan kepada Wandy, mau minum apa biar saya pesankan. Dua gelas chocolatte, menemani mereka malam itu, cerita bebas hingga tentang latar belakang mereka masing-masing, Tinus yang menatap wajah Wandy, dengan spontan, “Ko, cantik sekali Wandy”. Wandy yang mendengar itu langsung terdiam dan malu, Tinus yang sadar akan apa yang
terjadi langsung berkata: “Maaf Wandy, sa tra bermaksud apa-apa, maaf sekali Wand”. Hari berganti hari, mereka berdua semakin akrab, mereka sering menghabiskan waktu berdua, hingga jarak antara mereka berdua hampir tak terlihat. Tinus yang mengetahui latar belakang Wandy, membuatnya tidak ragu menaruh harapan pada gadis cantik dari kepulauan Saireri, berdarah Perancis (akronim “Peranakan China Serui”) itu. Tepat pukul 12.00 waktu Manokwari (Sabtu siang), Ia mengajak Wandy untuk jalan bersama nanti malam, pas malam minggu. Sepanjang jalan, dari ramainya Wosi hingga reremi puncak, kilauan warna-warni lampu kota manokwari dari Bukit Doa, Manggoapi, hingga akhirnya mereka berdua pergi untuk bersantai menikmati cahaya bulan Purnama dari puncak Amban, Kampung Insirifuri tepatnya di Keday Naek’Srar Coffee, sekitar 500 meter dari ex-puskesmas Amban. Dari Naek’Srar Coffee, menikmati cahaya rembulan yang berkilauan di atas laut pasifik serta kerlap-kerlip lampu di Pantai Amban, hembusan angin malam yang lembut dan racikan spesial vietnam drip ala anak mudah Papua yang setia membarista di Naek’Srar Coffee, sungguh menambah kemesraan mereka berdua. Dengan nyali yang cukup kuat bagaikan batu karang yang kokoh, lelaki asal Biak itu, mengungkapkan isi hatinya: Tinus: “Wand, Sa suka sama ko.” Wandi: “Terdiam, tak menjawab.”
65
Tinus: “Wand, kalau ko tra suka sama sa, trapapa ko bilang saja, jang ko diam begini boleh.” Telepon Wandy berdering, “Tinus sa punya Mama ada telepon saya, antar sa pulang sekarang. Tinus, mulai sekarang ko tra usah dekati sa lagi, sa pu orang tua, tidak suka ko punya kebiasaan demo-demo, karena nanti sa bisa jadi korban kalau dekat dengan ko,” jawab Wandy. Tinus: “Wand, sa sayang ko sekali, sa tidak mungkin mau buat ko celaka, sa akan kasih tunjuk ke ko punya orang tua, Wand, kalau betul sa sayang ko, sa ini penggiat sosial, orang lain yang sa tidak kenal saja saya jaga dan perjuangkan, apalagi ko, yang sa sayang, tra mungkin sayang, tra mungkin sa mau lihat ko susah.” Hari kian berlalu, hubungan Tinus dan Wandy yang dahulu sahabat, kini telah berubah menjadi sepasang kekasih. Tinus mulai mengajak Wandy mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, mulai dari diskusi hingga aksi-aksi amal, kehidupan Wandy berubah. Ia sering membantu Tinus dalam melakukan aksi kemanusiaan, mereka saling melengkapi, menyuport saat down dan saling menegur ketika salah. Kedekatan itu membuat orangtuanya mulai curiga, tentang hubungnnya dengan Tinus. Hingga akhirnya mereka tahu bahwa Wandy sedang menjalin hubungan asrama dengan Tinus, orang tua Wandy yang tidak menyukai Tinus, langsung memaksa anak gadis mereka untuk menjauhi dan segera mengakhiri hubungannya dengan lelaki asal kota karang panas (Biak) itu. Namun tekad dan cinta yang kuat, walau kadang orang tua memakai cara kasar untuk menegurnya, namun hal itu tidak berhasil menjauhkan anak gadis mereka dari Tinus, hingga akhirnya orang tua Wandy, merelakan anak mereka jatuh dalam pelukan Tinus. Pada suatu hari Tinus harus berangkat beberapa 66
bulan meninggalkan kota Manokwari untuk misi kemanusiaan di daerah pedalaman, Wandy yang juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan, menyetujui keberangkatan Tinus. Hingga waktu keberangkatan tiba, di pelabuhan, Manokwari, “Sungguh mati, KM. Ngapulu ko jahat!” batin Wandy. Stom sudah bunyi tiga kali, tanda kapal akan lepas tali, walau sudah menyetujui keberangkatan Tinus, namun hati tidak bisa bohong, Wandy tidak mau jauh dari Tinus. Dengan memeluk Wandy, untuk terakhir kali sebelum naik ke kapal, Tinus memegang erat jemari Wandy, sembari berpamitan. “Sayang sa naik kapal dulu,” pamit Tinus. Tidak ingin secepat itu, dengan air mata, perlahan Wandy melepas jemarinya dari genggaman Tinus, “Tuhan Lindungi ko di sana sampai kitong jumpa kembali di sini sayang.” “Sa jalan dulu sayang, jang lupa kasih kabar eh, dari Manokwari transit di kota “Jerman (Jeruk Manis) Nabire” lalu melanjutkan perjalan menggunakan mobil ke pedalaman. Tinus dan Wandy selalu berkomunikasi, lancar seperti waktu di Manokwari, namun hanya bisa bersua lewat telepon, tidak bisa video call karena jaringan Internet belum masuk sampai ke pelosok kampung. Tinus berjanji pada Wandy, Ia akan kembali pada awal Tahun 2020, namun Covid-19 yang menyebar cepat ke seluruh dunia, akibat pergerakan manusia, memaksakan beberapa negara harus membatasi pergerakan manusia “lock down”. hal ini berdampak hingga ke Provinsi Papua dan Papua Barat, demi kesehatan dan keselamatan banyak orang, lock down juga di berlakukan di sini, membuat Tinus tidak dapat kembali ke Manokwari, karena ter-lock down di daerah pedalaman, Sungguh mati, lock down bukan hanya bagaikan penjara raksasa yang mengurung seisi bumi, namun lock 67
down juga bagai api asmara yang kian hari makin membara serta tidak bisa di padamkan, karena penawarnya hanyalah berjumpa, sungguh mati merindu itu menyiksa. Hingga di awal bulan Maret, Wandy menelpon Tinus, mereka melepas rindu lewat suara, hampir tiga jam lebih mereka saling berbagi bercerita lewat telepon, Wandy dengan sebuah pertanyaan sembari ia akan mengakhiri perbincangan itu. Wandy: “Tinus, ko sayang sa ka tidak?” Tinus: “Bo.. sa sayang sekali, sungguh mati.” Wandy: “Sa tra percaya.” Tinus: “Bah kenapa ko pikir begitu sayang, sa harus buat apalagi baru ko bisa percaya, kalau betul sa ini sayang ko?” Wandy: “Kalau betul ko sayang saya, bisa ka tidak kitong tidak saling komunikasi lagi, sampe ko balik ke Manokwari baru kitong ketemu? Setelah sa ceritakan ke sa punya orang tua, dong sangat kagum dengan ko punya keputusan, ingin melayani masyarakat, dong setuju untuk menjodohkan kitong dua, nanti saat ko su kembali ke sini.” Tinus: “Serius, Mama dan Bapa terima saya?” Tapi masa, harus tanpa komunikasi lagi, terlalu berat sekali, sayang” Wandy: “Kalau ko tidak mau, berarti ko tidak sayang saya.” Dengan berat hati Tinus mengiyakan permintaan Wandy itu. Minggu berganti minggu, ibarat ingin yang terus berlalu, mereka berdua saling merin-
68
du, namun terpisah karena jarak dan dibatasi untuk tidak saling menelpon, membuat rasa rindu itu memaksa, agar Tinus harus segera pulang menemui Pujaan hatinya itu. Tinus nekat menumpang di mobil truk yang memuat bahan-bahan proyek, melintasi 250 KM hingga sampai di Kota Jerman (Jeruk Manis) Nabire. Setelah itu mengikuti mobil Hillux dari Nabire, melewati Kaimana, Teluk Wondama, Bintuni, Manokwari Selatan hingga sampai di Kota Manokwari. Demi cinta, Tinus rela menghambiskan waktu di jalan, melihat mentari berganti bulan dalam perjalanan selama beberapa hari. Setelah sampai di Manokwari, Tinus langsung pergi ke Amban Pantai, hendak berjumpa dengan Wandy, namun ketika Tinus sampai di rumah, Orang tua Wandy menyambutnya dengat isak tangis, membuat Tinus bingung. Dengan tangis haru, suara terputus-putus, ia menjelaskan sesuatu yang membuat harapan Tinus berputar 180 derajat (sirna). “Beberapa waktu lalu, saat kami sedang tidur di malam hari, Wandy berteriak histeris di dalam kamarnya, hingga membuat seisi rumah kaget serta berlarian ke kamar Wandy, namun Wandy sudah tidak sadarkan diri, karena Panik kami langsung membawanya ke RSUD Manokwari, dari sanalah rahasia yang di jaga Wandy akhirnya terbongkar, ketika dokter mengatakan, Wandy mengalami gagal ginjal, penyakit yang sudah lama dideritanya, membuat Ia tidak bisa tertolong. Ada selembar surat yang Mama dapat di dalam kamar Wandy saat merapikan kamarnya, isi surat ini untukmu Tinus, sambil menyerahkannya kepada Tinus.”
Isi surat itu membuat Tinus menangis histeris. “Tinus sayang, terimakasih ko sudah jaga kitong dua punya hubungan ini, walau kitong terpisah jarak hampir setahun, namun ko tetap setia, sa minta maaf sa sembunyi sa punya kesakitan ini dari ko, karena sa tidak mau ko kawatir. Sa harap saat ko baca tulisan ini, ko bisa maafkan saya. Terimakasih sekali lagi Tinus, karena dalam waktu beberapa saat ko bisa penuhi sa punya permintaan, untuk tidak berkomunikasi. Ko sudah berhasil, sayang, sekarang, sa percaya ko sayang saya, karena ko su penuhi sa punya permintaan. Sayang, ko bisa bertahan tanpa saya untuk beberapa waktu, seperti yang sa pinta saat ko di pedalaman dan sa di Manokwari, sa yakin, ko pasti bisa bahagia, tanpa saya untuk selamanya.”
Hari terus berganti, namun Tinus masih tetap terjebak dalam kenangan bersama Wandy, yang Ia tidak tau jalan untuk keluar karena Wandy lah petunjuk untuk bisa keluar dari kenangan itu.[]
Cerita ini hanya Fiktif, di tulis Oleh Papuana Major, seorang Masyarakat biasa yang kerjaannya jalan menendang kaleng, suka menyeruput Kopi, berdiskusi sembari mengunyah buah pinang.
[Wandy yang sudah tau hidupnya tidak akan lama lagi, menyuruh Tinus agar mencoba tidak berkomunikasi dengannya, ya alasannya agar ketika nanti Wandy tidak ada, Tinus tetap bisa bertahan tanpanya] Tinus tidak mampu menahan tangis saat membaca surat terakhir dari Wandy, hati kecil Tinus Hancur, bagai disayat penggal-penggal saat itu, luka yang akan selamanya membekas dan tidak akan pernah hilang dari dasar hatinya. “Wandy, kenapa ko bikin sa begini, wandy, ko su bikin sa nyaman, ko su kasih sa “harapan” baru kenapa ko pergi untuk selamanya, Wandy sa tidak bisa hidup tanpa ko, Wandy sayanggg e…..”
69
KONTRIBUTOR
Manfred Kudiai
Ricky Welerubun
Aan Zaputra
Renol Ishak Dapla
Laurensia Tebai
70
Topilus B. Tebai
Fauzan A
KONTRIBUTOR
Agustina C. Doo
Nomensen Douw
Al Ayyuby
Ansarina Rabiyah Ali Nurdin
Mia Pigome
Yatri Dumupa
Papuana Major
71