Kebe(ragam)aan - Vol. 4 Issue 3
@kawanundip
@kawanserendipity
table. of content 1 2 3 4 5 6 7 8
Tau Gak Sih?!
Aliran Hindu di Indonesia
Ethno-Explorer
Menilik Kehidupan Biarawati di Susteran Gedangan Sebagai Kaum Selibat
Ethno-Explorer
Ritual Adat Karo dalam Masyarakat Tengger
Mono-Chronic
Perkembangan Agama di Indonesia
Rewind
Selayang Pandang Pelopor Monoteisme Jawa Kuno
Beyond Borders
Eksistensi Yahudi di Indonesia
Kilas Budaya Tradisi Penjor
Special Corner: Karya Antrop
01.
TAU GAk SIh?!
ALIRAN HINDU DI INDONESIA
irannya, Agama Hindu atau yang di tanah kelah nata yaitu India, dikenal dengan sebutan Sa ngan yang Dharma telah mengalami perkemba mencapai sangat pesat hingga penyebarannya peran para Nusantara, lho. Hal ini tidak luput dari sa kerajaan pedagang, Brahmana, serta pengua ama ini di Indonesia yang turut menjadikan ag berjalannya dominan sebelum abad ke-14. Seiring nya masih waktu, eksistensi dari agama ini rupa asi sesuai tetap lestari dengan berbagai modifik ng dengan dinamika iklim sosio-politik ya rafiliasi mengharuskan kepercayaan lokal be ditetapkan dengan 5 agama resmi yang sudah hwa proses sama pemerintah. Tahukah kamu, ba agama resmi integrasi kepercayaan lokal dengan kepercayaan terutama Hindu menghasilkan corak ru wilayah yang unik nan khas di beberapa penju Nusantara, lho. Mau tahu apa aja?
bALI Hindu Dharm a Tengg er
Hindu Jawa
KAlIMANT AN Hindu Kaharingan
HINDU HARmA
D
Aliran Hindu yang satu ini tentunya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Yap, Hindu Dharma yang dahulu bernama Tirtha merupakan sinkretisme antara animisme lokal, kepercayaan terhadap leluhur (Pitri Paksha), dan Hindu-Buddha. Oleh karenanya, masyarakat Bali yang dulunya telah memiliki kepercayaannya sendiri, mendadak dikuasai oleh Majapahit. Suka tidak suka, akhirnya raja-raja di Bali beserta rakyatnya mulai mengadopsi bentuk kepercayaan Hindu-Buddha ke dalam spiritualitas mereka. Beralih ke pertengahan abad-20, dirumuskanlah Pasal 29 UUD 1945 yang memberikan kebebasan beragama bagi rakyat Indonesia… Namun, Kementerian Agama mendefinisikan agama dengan konsep yang cenderung monoteistik, seperti harus memiliki kitab suci, ada utusan Tuhan yang menyampaikan pesan-pesan moral, serta terdapat objek sesembahan yang jelas dari agama tersebut. Hal ini menimbulkan kecemasan para penganut Tirtha jikalau kepercayaan mereka tidak diakui oleh negara. Akhirnya, mereka mulai mengintegrasikan diri dengan agama Hindu yang notabene secara konseptual dekat dengan keyakinan lama mereka, baik dari segi ritus maupun aspek teologis lainnya. Dengan demikian, lahirlah agama Hindu Dharma seperti yang kita kenal sekarang.
02.
Bali
h INDU JAWA Tengger Selanjutnya, ada Hindu Jawa
Saat ini, penganut Hindu Jawa
atau yang sering sekali
tersebar di wilayah Tengger
disamakan penyebutannya
dekat lereng Gunung Bromo dan
dengan Kejawen. Padahal
Osing di Banyuwangi, Jawa
terdapat perbedaan yang
Timur. Khususnya di Tengger,
signifikan di antara keduanya,
masih dijumpai aktivitas
lho. Kejawen lebih mengacu
keagamaan Hindu Jawa lengkap
pada pandangan filosofis yang
dengan beraneka macam
memuat tata laku mengenai
ritualnya (seperti Kasada dan
bagaimana seorang individu
Mecaru) yang sering digelar di
Jawa itu berperilaku yang baik
Pura Luhur Poten, tepat di kaki
dan benar agar selaras dengan
Gunung Bromo. Meski tergolong
alam, sedangkan Hindu Jawa
minoritas, Hindu Jawa rupanya
adalah akulturasi antara agama
masih memiliki daya tarik bagi
Hindu dari India dengan
penganut aliran Hindu lain yang
kepercayaan animisme-
terbukti dengan tingginya
dinamisme setempat yang
intensitas kunjungan ziarah
berpusat di wilayah bekas
keagamaan dari umat Hindu Bali
kekuasaan Majapahit.
untuk ikut serta merayakan upacara Kasada.
03.
HINDU
KAhARINgAN Kalimantan
Terakhir, terdapat Hindu Kaharingan yang menjadi aliran Hindu terbesar kedua di Indonesia setelah Hindu Dharma. Pemeluk agama ini terkonsentrasi di wilayah Kalimantan dan umumnya dianut oleh orang-orang Suku Dayak di Kalimantan Tengah & Selatan. Eksistensi Kaharingan sebenarnya sudah dapat dilacak sejak masa Kerajaan Kutai, ketika animisme dinamisme orang Dayak hidup berdampingan dengan ajaran Hindu dari India. Kaharingan yang secara etimologis punya makna ‘tumbuh / hidup’ , memuja sosok Ranying Hatalla Langit (Sang Pencipta) dengan kitab suci Panaturan yang berisi petuah-petuah dari para leluhur bagi masyarakat Dayak. Sejak 20 April 1980, Kaharingan dikategorikan sebagai cabang dari agama Hindu di Indonesia buat melindungi eksistensi dari kepercayaan lokal ini dari berbagai stigma seperti ‘antek komunis’ yang sering disematkan oleh masyarakat awam kepada para penganut kepercayaan lokal.
04.
E N E O T H O E TH N O H EXPLORER
"
Menilik Kehidupan Biarawati di Susteran Gedangan Sebagai Kaum Selibat
"
Muhammad Addifa Syahrie | Benedicta Ayu Aninditya | Devialuna Sandra Sukmono | Gading Addisty Prameswari | Nur Fadhillah Muharromah | Vanisha Cahya Kamila | Fransisca Fortunata Riana | Tiara Elfonda Melati
06.
ET O TH E O NO H HN EXPLORER
"M
enilik Kehidupan Biarawati di Susteran Gedangan Sebagai Kaum Selibat Video etnografi berjudul “Menilik Kehidupan Biarawati di Susteran Gedangan Sebagai Kaum Selibat” menceritakan dan menggali keberadaan biarawati yang unik dan sering disalahpahami untuk memilih hidup selibat dalam rutinitas sehari-hari para perempuan di lingkungan terpencil Biara Gedangan.
Selibat, sebagai bagian integral
Video etnografi ini sedikit
dari komitmen spiritual mereka,
banyak berupaya untuk
membentuk kehidupan mereka
menumbuhkan pemahaman
secara mendalam. Di dalamnya,
yang lebih mendalam
dijelaskan motivasi, tantangan,
mengenai kompleksitas selibat
dan manfaat dari menjalani gaya
dan signifikansinya dalam
hidup selibat dalam konteks
kehidupan individu-individu
ketaatan beragama. Dengan
yang berdedikasi, di mana
menelusuri kehidupan para
memberikan wawasan
biarawati di Biara Gedangan,
berharga mengenai titik temu
peneliti menyoroti praktik spiritual,
antara iman, pilihan pribadi,
dinamika komunitas, dan
dan kehidupan komunal.
pengorbanan pribadi yang melekat dalam panggilan mereka.
source: https://youtu.be/8v8vM7cPZfM?si=VUPIY44H5ouWGoeT
FEATURING ARE
ETH
O N
EXPLORER
"
Ritual Adat Karo dalam Masyarakat Tengger di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan
"
ETH
NO
EXPLORER
RITUAL ADAT KARO DALAM MASYARAKAT TENGGER Karo merupakan salah satu dari banyaknya tradisi yang ada di dalam kehidupan masyarakat Tengger. Ritual adat ini mempresentasikan mengenai asal-usul masyarakat Tengger atau yang biasa disebut Sangkan Paraning Dumadi. Tradisi ini menggambarkan asal-usul terjadinya manusia yaitu laki-laki dan perempuan yang turut merujuk kepada leluhur masyarakat Tengger sendiri (Roro Anteng dan Jaka Seger). Dalam hal ini, Ritual Adat Karo dapat dikatakan sebagai upaya yang dilakukan masyarakat terhadap rekonstruksi sosial atas keyakinan mereka kepada leluhur di tengah keberagaman kepercayaan. Masyarakat Tengger dikenal sebagai masyarakat yang menganut kepercayaan Hindu. Padahal nyatanya, mereka memiliki sistem keyakinan tersendiri yang bernama Budho Tengger, yaitu sebuah kepercayaan atas Gunung Bromo dan bagaimana mereka menerapkannya melalui tradisi-tradisi yang ada. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan kebijakan pemerintah tahun 1950-1960an yang bernama ‘revolusi hijau’.
Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan
08.
09. leh n Karo o a a k u b Kristen Pem ragama e b t a k Masyara
Pengantin So dor Memberhenti kan Tarian
Masyarakat Memberikan Penghormatan
M
asyarakat Tengger menganut kepercayaan Hindu karena keyakinan mereka dianggap lebih mendekati agama Hindu dibanding agama-agama konvensional yang lain. Hingga saat ini, terjadi banyak sekali perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Tengger, terutama kepada kepercayaan atau keyakinan yang ada. Desa Tosari saat ini didominasi oleh pemeluk agama Islam dengan jumlah 2.592 orang, 1.309 orang pemeluk Hindu, dan 124 pemeluk Kristen. Meskipun telah terjadi perubahan, masyarakat tetap mengimani dan melestarikan tradisi yang ada dengan beberapa penyesuaian. Dalam tradisi Karo terdapat keterlibatan penganut agama dengan dipimpinnya pembukaan Karo berdasarkan doa masing-masing agama sebelum oleh Dukun Pandhito. Bahkan, kami berkesempatan untuk menyaksikan sebuah tarian yang sangat sakral dihentikan demi menunjukkan penghormatan kepada salah satu warga yang meninggal dengan cara berdiri dan menunggu hingga jenazah dimakamkan.
10.
mono-chronic
PERKEMBANGAN AGAMA Pada kehidupannya, manusia tumbuh dan berkembang secara beriringan dengan segala hal yang mengikat kehidupannya. Agama menjadi salah satunya. Layaknya manusia yang berkembang, agama juga mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Menurut E.B Taylor, agama bermula dari kesadaran manusia akan adanya jiwa. Menurutnya, agama merupakan keyakinan atau ide yang dibangun oleh penganut agama untuk menjelaskan segala sesuatu yang mereka temukan dalam kehidupannya. Agama dan keyakinan bersifat komunal dengan keyakinan yang dibagikan kepada orang lain. Agama berkembang dengan tradisi yang merupakan wujud dari interpretasi dalam sejarah dan kebudayaan. Maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa domain agama adalah konstruksi kreativitas manusia yang bersifat relatif.
cara luas se n a ik is fin e id d a m a g A nganutnya. e p g n a d n a p t u d su g tergantun g diwariskan, dan n ya tu a su h la a d a a Agam k mengukur tu n u ra a c n a ik d ja n e m yyed Hossein Se i. ir d n se ya n n a a d kebera ahwa pada setiap b n ka ka u m e g n e m sr Na at kebenaran p a rd te ya n m la a d i d agama benaran karena ke i a p a c n e m a n ra sa dan ek tertentu dari menekankan pada asp n kebutuhan a g n e d i a su se n ra a n kebe a, serta untuk si u n a m is g lo ko si p n a spiritual d dan kepada siapa n ka ir kd a it d a m a g a siapa gan agama dan n a b m e rk Pe . n ka ju u it d irnya akan kh a a d a p n a n a h tu ke konsep definisi agama itu n a g n e d t ra e n a it a rk be sendiri.
S I M A N I D & E M S I M I AN POLITEISM
11.
KONSEP AGAMA DARI MASA KE MASA
e M s I ANIm Definisi animisme berasal dari bahasa latin, yaitu anima yang berarti jiwa atau roh. Masyarakat primitif pada pandangan animisme menganggap bahwa seluruh benda memiliki roh di dalamnya. Mereka beranggapan bahwa roh tersusun dari suatu zat atau materi yang halus seperti uap atau udara serta bagi mereka roh membutuhkan makan, mempunyai bentuk, dan mempunyai umur. Oleh sebab itu, roh perlu diberi makan. Selain itu, roh juga memiliki kekuatan dan kehendak sehingga dapat menimbulkan perasaan marah dan senang di mana kemarahannya dapat membahayakan hidup manusia sehingga masyarakat primitif perlu berusaha membuat roh senang melalui pemberian makanan berupa korban, pestapesta keagamaan dan ritual lainnya. Kepercayaan mengenai roh muncul pada masyarakat primitif karena kondisi masyarakat yang belum mampu membedakan antara materi dan roh.
dINAMIsME
POLItEIsME Perkembangan pemikiran manusia memunculkan peningkatan konsep ketuhanan yang berkembang dari pemujaan roh gaib menjadi pemujaan Tuhan atau dewa. Evolusi agama memunculkan konsep politeisme yang memercayai adanya kekuatan yang Supra Empiris dari banyak dewa dan kaitannya dengan kehidupan. Manusia meyakini gejala gerak alam yang disebabkan oleh roh yang mereka anggap sebagai dewa. Politeisme berkaitan dengan henoteisme di mana di dalamnya terdapat satu Tuhan utama dengan kekuasaan tertinggi namun tetap terdapat banyak dewa lainnya yang berkuasa.
MONoTEIsME Berkembang melalui henoteisme, monoteisme menganggap bahwa tidak adanya tuhan yang lain selain Tuhan Yang Esa. Hal ini menjadikan masyarakat beragama memiliki satu titik acuan untuk disembah. Konsep monoteisme dijabarkan melalui kitab suci seperti Injil dan Alquran yang di dalamnya terdapat pengakuan secara jelas bahwa Tuhan hanya satu dan tidak ada yang lain.
Source: Patsun. Sejarah Perkembangan Agama dan Konsep Ketuhanan dalam Masyarakat dari Masa ke Masa. Jurnal Lentera: Kajian Keagamaan, Keilmuan dan Teknologi. Tampubulon, Ichwansyah. (2016). Teori Evolusi Agama. AlMaqasid, 2(1), 220 - 238.
12.
13.
Rewind
SELAYANG PANDANG Pelopor Monoteisme Jawa Kuno
Kapitayan merupakan salah satu agama kuno yang hadir dan dianut
oleh masyarakat Nusantara di daerah pulau Jawa, bahkan diyakini sebagai agama asli dan tertua di Nusantara. Sebagaimana agama ini diyakini sebagai agama asli Nusantara, maka kehadiran Kapitayan tidaklah dipengaruhi oleh agama Hindu maupun Buddha. Kapitayan mematahkan adanya konsepsi yang menyebut para leluhur Jawa menganut tradisi animisme dan dinamisme, sebab konsep monoteisme tampil secara eksplisit dalam ajaran agama Kapitayan melalui adanya kepercayaan terhadap entitas Sang Hyang Taya sebagai sesembahan utama para penganut agama Kapitayan. Kapitayan memiliki konsep dan ajaran agama yang terhitung lengkap serta kompleks. Dimulai dari pemahaman terhadap Sang Hyang Taya sebagai suatu Zat yang hampa dan/atau kosong, namun absolut. Hal ini dapat dimaknai bahwa ketiadaannya yang ada tersebut justru merupakan satu-satunya sumber kekuatan, sehingga menjadi fokus untuk mengenal dan menyembah Sang Hyang Taya melalui ibadah yang percaya serta mengakui dalam nama dan sifat "Tu" atau "To" yang bersifat gaib dan adikodrati. Di luar itu, Kapitayan juga mengusung konsep kerukunan dan harmoni dalam membangun relasi antar umat beragama. Para penganut agama Kapitayan tidak menafikan eksistensi agama serta kepercayaan lain di luaran sana selama masih mengadopsi konsep ajaran monoteisme atau memercayai bahwa Tuhan itu satu dan tidak mewujud dalam sesuatu yang dapat diradar oleh panca indera. Oleh karena itu, para penganut agama Kapitayan cenderung ketat dalam menyeleksi pengaruh agama yang silih berganti masuk ke Nusantara. Beberapa ajaran agama yang diterima oleh Kapitayan adalah Hindu Wisnu, Hindu Siwa, dan Islam. Akan tetapi, pada akhirnya Hindu Wisnu ditolak oleh para penganut Kapitayan karena diketahui bahwa terdapat keyakinan yang memercayai Dewa Wisnu dapat mewujud sebagai seorang manusia.
eksist e nsi BEYOND yahudi BORDERS DI INDONESIA
Menurut Romi Zarman, seorang penulis buku berjudul “Di Bawah Kuasa Anti Semitisme”, dalam wawancaranya dengan BBC News Indonesia, Ia menjelaskan bahwa orangorang Yahudi datang ke Indonesia dalam tiga gelombang.
1
2 3
Diawali dari motivasi berdagang ke wilayah nusantara (Sumatera), lalu pada abad ke-16 datang ke wilayah Nusantara karena politik inkuisisi Spanyol yang membuat orang-orang Yahudi terusir. Terjadi pada tahun 1602 hingga zaman kolonial Belanda tahun 1819. Sebagian besar dari orang-orang tersebut merupakan Yahudi Sefardi (Spanyol dan Portugis) yang menjadi penerjemah untuk Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) British East India Company (EIC). Ada pula Yahudi Ashkenazi (Eropa Timur) yang menjadi serdadu dan administrator VOC. Ditambah lagi, Yahudi Mizrahi (Timur Tengah) yang mau bekerja sama dengan siapa saja. Pada awal tahun 1920-an, orang Yahudi tersebar di berbagai wilayah seperti Medan, Padang, Kutaraja, Deli, Batavia, Bandung, Semarang, Jogja. Hal ini dapat terlihat melalui batu nisan di pemakaman yang terdapat Bintang Daud dan aksara ibrani di permukaanya.
15.
I U k dIA atau
I U K A I d K A D I T
Menurut Ferimeldi kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama dalam wawancaranya dengan CNN Indonesia, ia menjelaskan bahwa “Pemerintah tidak hanya mengakui enam agama, tetapi juga agama-agama lain, yang lain seperti Yudaisme dibiarkan apa adanya” hal ini karena sejalan dengan UUD pasal 9 ayat 2. Dijelaskan pula bahwa penyebutan enam agama nasional pada penetapan presiden nomor 1 tahun 1965 bukan berarti agama lain dilarang, melainkan berkaitan mengenai tugas pemerintah dan hak rakyat yaitu dalam sektor pendidikan. Berdasarkan Undang-undang tahun nomor 20 tahun 2003 peserta didik berhak untuk mendapatkan ajaran agama sesuai dengan yang mereka anut.
Source: https://www.cnnindonesia.com/nasional/201608031558 47-20-148965/pemerintah-tidak-melarang-agamayahudi-di-indonesia https://nkripost.co/2023/11/05/jarang-diketahui-inikota-di-indonesia-basis-penganut-agama-yahuditerbesar-nomor-3-di-jakarta/
Eksistensi Yahudi Di Beberapa Wilayah Indonesia
1 Surabaya Menurut data tahun 2021, penganut agama Yahudi di Surabaya berjumlah sekitar 20 orang. Dahulu (Pada Zaman Kolonial) di surabaya diperkirakan oleh para peneliti memiliki sekitar 500 orang beragama Yahudi. Di Surabaya juga sempat berdiri sebuah Sinagoge (tempat ibadah umat Yahudi) yang bernama Beth Hashem (Rumah Tuhan) tetapi pada tahun 2009 sempat terjadi demo di depan Sinagoge tersebut dan tahun 2013 Sinagoge itu ditutup dan menjadi bangunan hotel.
2 Kabupaten Minahasa Terdapat sekitar 100 orang penganut agama Yahudi di Kabupaten Minahasa. Terdapat pula bangunan Sinagoge bernama Sha’ar Hashamayim yang menjadi satu-satunya Sinagoge yang masih berdiri di Indonesia. Terdapat dua aliran di Minahasa yaitu aliran Ortodoks yang dipimpin oleh Rabbi Yacoov Baruch dan juga aliran campuran Ortodoks dan Liberal dengan seorang Rabbi bernama Yobbi Ensel (Abidin 2015). Di Kabupaten Minahasa juga terdapat Menara Kaki Dian yang memiliki tinggi kurang lebih 19 Meter dan juga museum Holocaust.
3 Jakarta Umat Yahudi di Jakarta berjumlah kurang lebih 100 orang. Jakarta tidak memiliki Sinagoge tetapi terdapat komunitas UIJC (United Indonesian Jewish Community) yang dipimpin oleh Rabbi Benjamin Meijer Verbrugge. Karena tidak memiliki sinagoge, umat Yahudi di Jakarta beribadah dari rumah ke rumah dalam satu komunitas.
Source: Abidin, Z. (2015). Eksistensi Pemeluk Agama Yahudi di Manado. Harmoni, 14(3), 99-113. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42422076
16.
17.
Kilas Budaya
I S I D A R T R O J N E P Indonesia kaya akan kebudayaan yang tersebar di seluruh pulau yang ada, tak terkecuali Pulau Bali. Bali merupakan pulau dengan budaya Hindu yang kental dan menjadi acuan dalam dinamika kemasyarakatannya. Salah satu tradisi unik sebagai bentuk akulturasi budaya adalah Tradisi Penjor saat perayaan Natal di Bali. Tradisi Penjor dilakukan oleh umat Kristiani di Desa Blimbingsari, Kabupaten Jembrana. Tradisi ini merupakan pemasangan bambubambu tinggi melengkung yang berisikan hiasan seperti janur atau daun ental. Penjor yang digunakan warga setempat tidak jauh berbeda dengan yang digunakan ketika sembahyang, yang membedakan adalah penjor untuk perayaan Natal tidak memiliki tempat banten (sesajen). Umumnya, penjor digunakan sebagai sarana sembahyang oleh umat Hindu di Bali dan biasanya diletakkan di depan rumah maupun pura. Sama halnya ketika Natal, penjor dipasang di depan rumah umat Kristiani hingga di depan gereja. Hal ini menciptakan suasana yang tidak jauh berbeda ketika perayaan Hari Raya Galungan umat Hindu.
n a a n k a m Pe Tradisi Penjor Pemaknaan penjor pada setiap kegiatan keagamaan memiliki arti yang berbeda. Pemaknaan ini digunakan sebagai pengingat akan identitas masyarakat Bali. Dalam konteks gereja, penggunaan penjor dilihat dari segi seninya karena dalam dinamika peribadatan gereja tidak ada panduan secara khusus mengenai penjor itu sendiri. Gereja menggunakan penjor bukan untuk meniru apa yang sudah dilakukan oleh umat Hindu disana, namun karena penjor memberikan simbol atas situasi yang ada di dalamnya, seperti rasa syukur, suka cita, dan kegembiraan. Pemaknaan tersebut ditegaskan melalui bahan yang digunakan untuk membuat penjor menggunakan simbol-simbol Kristiani berdasarkan apa yang dituliskan dalam Alkitab. Selain itu, umat Kristiani di Bali memakai pakaian adat mereka ketika pergi beribadah ke gereja, sama halnya ketika ada perayaan keagamaan Hindu pada umumnya. Hal ini semakin memperjelas mengenai identitas warga Bali yang sangat terikat dengan kebudayaannya sehingga memicu adanya akulturasi budaya untuk mempertahankan identitasnya yang baru tanpa menghilangkan citra yang lama.
ref. Juliawan, K. A. (2019). Kajian Sosio-Teologis Penggunaan Penjor pada Hari Raya Gerejawi bagi Gereja GKPB Jemaat Pniel Blimbingsari (Doctoral dissertation, Program Studi Teologi FTEO-UKSW). Budistrawan, I Putu Adi. 2023. Tradisi Natal Unik di Bali: Warga Pasang Penjor, Sarana Ibadah Umat Hindu. Detik.com. Diakses melalui: https://www.detik.com/bali/budaya/d-7106906/tradisi-natal-unik-di-baliwarga-pasang-penjor-sarana-ibadah-umat-hindu/amp
¹18.
KARYA ANTROP
etnofotografi.
Anyaman Bambu
sepuhan a K t a k a r a y Mas Cipta Gelar
Pertunjukkan wayang wong lakon
Bandunga n, Semara ng 2022
Sukabumi
19.
Yogyakarta
Semarang
20. etnofotografi.
PERJALANAN LINTAS ZAMAN [Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar Dalam Mempertahankan Nilai Budaya Luhur]
Banyak yang berfikir bahwa keberadaan masyarakat adat selalu dikaitkan dengan tertutup dan konservatif, terbantahkan dengan adanya kenyataan masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. Mereka seakan berada dalam perjalanan lintas zaman dan mampu menempatkan nilai-nilai tradisional yang dimiliki tumbuh berdampingan dengan dunia modern. Bukan hanya itu, mereka juga mengajarkan kita bertapa pentingnya melestarikan dan menghormati warisan budaya serta menjalin hubungan yang seimbang dengan keberadaan alam. Bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, padi merupakan simbol dari kehidupan yang sangat dihormati keberadaannya. Mengapa demikian? karena masyarakat adat disana mempercayai bahwa padi merupakan perwujudan Nyi Pohaci Sanghyang Asri Sehingga terdapat pantangan, bila seseorang menjual beras atau padi, berarti ia menjual kehidupannya sendiri. Maka dari itu mereka dianjurkan untuk meminta beras atau padi dengan cuma cuma. Oleh: Rafi Rendian
etnofotografi.
WAYANG WONG GANA KALAJAYA
? Oleh: Anastacia Annette
Wayang Wong lakon "Gana Kalajaya" yang tercipta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Bawono ke-10 merupakan sebuah narasi klasik mengenai kelahiran Bathara Gana atau Dewa Ganesha dalam versi Keraton Yogyakarta. Dalam pertunjukan ini, Batara Gana sebagai tokoh utama digambarkan sebagai dewa sakti berwujud manusia dengan kepala gajah dan gading yang kuat. Melalui jasanya dalam menaklukkan raja raksasa Prabu Nilarudraka dari Kerajaan Glugutinatar yang mengacaukan kahyangan Jonggring Saloka karena berhasrat untuk meminang Bethari Gagarmayang, Ia diangkat sebagai dewa dengan gelar Bathara Gana atau Dewa Ganesha. Bathara Gana sendiri dianggap sebagai simbol keagungan, perlindungan, kebijaksanaan, dan juga dikenal sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan. Pada kesempatan ini, pertunjukan Wayang Wong lakon "Gana Kalajaya" dihadirkan dalam pembukaan Pameran Lenggahing Harjuno: Sultan, Takhta, dan Kedaulatan di Kagungan Dalem Pagelaran Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
21.
etnofotografi.
CULTURAL TAPESTRY in Desa Candi, Bandungan Kabupaten Semarang
Foto ini diambil pada saat EduTrip tahun 2022 kemarin ketika pergi ke Desa Candi di Bandungan, Kabupaten Semarang. Saya melihat seorang ibu yang sedang menekuni kebudayaan yang ada di Desa Candi, yaitu anyaman bambu. Pada foto ini, sang ibu sedang membuat keranjang dari anyaman bambu, terlihat bahwa sang ibu sudah sangat lihai dan pandai dalam membuat keranjang anyaman bambu ini karena sudah menjadi kegiatan sehari-harinya.
menganyam bambu 2022
Oleh: Muhammad Robbi Sofyan
22.
Monolog Team Edisi 3
ksi Ketua Reda
Penulis
Penulis Desig n lis Penu
Design
Penuli s Design
meet our
caretakers. Dinara Tsafina Asmarani | Ahimsa Dhiya Kamilia | Cristian Arjun | Siraj Fadil Hadi Putra | Rafaela Tiara Devitasari | M. Ahsan Haritsah | Ratih Fitria Ahmadhi | Anastacia Annette Yudanti See ya, di edisi Monolog selanjutnya!
scan me if you want to know more about Monolog!
@kawanundip @kawanserendipity