“...yang kau jerat adalah riwayat, tidak punah menjadi sejarah.” Sebuah penggalan kalimat milik Cholil Mahmud, yang kurasa satu-satunya kalimat yang mampu menjawab pertanyaan ; “ Buku ini apa dan untuk apa ? “ Tidak, buku ini bukanlah sebuah barang mati yang mungkin suatu saat akan tertutup debu, ataupun tercekik detik yang berloncatan gelisah tat kala satu persatu pergi meninggalkan sebuah sejarah---cerita yang akan terus mengalir lebih lama daripada semesta yang bertengger. Terbitan ini merupakan sebuah edisi spesial, barangkali memorabilia jika dikatakan, namun lebih dari itu buku ini adalah sebuah persembahan atas keringat, waktu, tenaga serta hati yang kalian serahkan, demi sebuah momen, momen untuk berkembang bersama layaknya saudara yang sedari dulu saling mengenggam dan menatap langit dengan tujuan dalam benak masing-masing. Lantas, 5 hari kemarin telah memberi kami dua hadiah, yaitu kenang dan lupa. Setidaknya memberi sebuah pilihan untuk memilah mana yang harus punya ruang khusus untuk diingat dalam kepala, dan mana yang pantas untuk dilupa. Segala sesuatu akan berlabuh pada saat dan tempat yang tepat. Hemat kata, mungkin saat ini, disini. di Rumahku. Tersesatlah teman, dalam angan serta segala rasa yang telah diukir sang waktu, tatkala pertama kali aku ucapkan ; “ Perkenalkan, aku temanmu. “ Selamat menikmati. Dengan segenap jiwa, Ketua Departemen Media dan Propaganda Ludy Imam M.P 14416022
Sila sisihkan waktu untuk beberapa menit kedepan, taruh segala permasalahan di bawah bantalmu itu, atau mungkin sebelum memulai.. Marilah sedikit memejamkan mata, mari menikmati kenangan ! * Buku ini lebih nikmat jika dinikmati dengan sedikit haru tangis masa lalu, serta segerombolan temanmu yang kau sayangi. Menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu ‘aku’ atau dapat kalian panggil ‘neo�. Seseorang yang lugu, dan ingin berkembang.
Illustrasi oleh Ludy imam ( MRI’16 )
Akan aku rayakan dengan sorak sorai dan teriak. Bila hanya dalam diam sepenuhnya aku memilikimu Semoga riuhnya bergemuruh di udara, membuatnya bertanya. Itu suara apa? dari mana?
Dari sini. Dari Kami.
24 Juli
P
rainteaksi dimulai , 167 dipecah menjadi sub-populasi biner dinaungi oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Industri. Ada yang menjadi bagian dari Teknik Industri pun ada mereka yang membawa panji Manajemen Rekayasa Industri. Semua berbeda, heterogen menantang
takdir berubah
jadi
homogen.
Semua kini terserah waktu, satu persatu menadah bertanya saat ini sedang apa? mereka berdiri membawa warna biru langit di badan, seakan mereka sedang terbang dan memandang pada aku yang terpaku di bumi. Ah benar seperti dugaanku, sudah pasti masa Kaderisasi akan dimulai, aku menjadi lebih usang dari biasanya. Aturan dibaca, tugas dikerjakan--sepertinya akan membosankan.
T
etapi ternyata tidak, diluar dugaanku mereka membuka bahu dan berusaha menyambut---aku yang bukan siapa-siapa, mereka bahkan tak tau namaku, atau luka yang aku toreh setahun lalu---Mereka banyak bertanya pikirku, tanpa kusadari nyaman terbit dari gelapnya kepalaku, detik berganti menjadi menit, menit bergulir menjadi jam. Kurasa mereka lebih daripada bukan siapa-siapa, seperti teman lama, mereka begitu terbuka. Mereka bertanya aku siapa, mereka bertanya aku mau apa, atau lebih dari itu mereka bertanya pada dugaanku--bahwa semua akan membosankan. Mereka adalah substansi baru dalam gulir kehidupanku, mereka adalah tahapan yang akan aku lalui, mereka adalah proses.
Waktu tak lagi kompromi, begitu cermat dan hati-hati. Gemericing arloji menandakan detak sang detik. Tak lagi dapat disumpal, untuk sekedar terdiam.
Detik gerah berloncatan kesana-kemari, menandakan perjalanan harus dimulai kembali.
31 Juli
B
aliho dibuka, aku berjalan menunduk, bingung juga ini acara apa sebenarnya, tadi aku berkenalan dengan beberapa anak TI dan MRI, ya formalitas ajasih. daripada gapunya temen, siapatau nanti mereka mau bantuin aku. Tapi kayaknya hari ini seru deh, soalnya entah tadi ada seseorang berteriak bahwa osjur kami akan berbeda, tetapi berbeda seperti apa? bukankah setiap osjur gitu-gitu aja?
Entah kenapa kurasa langit pagi ini begitu cerah, mungkin ia menjadi penanda betapa bahagianya semesta menyaksikan perjamuan ku dengan mereka yang pada suatu saat nanti adalah ‘aku’. a k a nm e m u l a i perjalanan yang kutahu akan panjang dan begitu melelahkan, tapi kita tidak selemah itu kan ? kita selalu tahu tak ada hal berharga yang dapat didapatkan dengan mudah, atau bahkan tanpa pengorbanan?
Kita
D
an di semerbak yang sama diantara peraduan serta segala keluhan.
Aku ingin senantiasa menjadi pelipur lara. Namun entah, dimana aku dapat menghiburmu. ketika kamu bahkan, selalu membuat ku tertawa, ceria. Mungkin aku terlalu sibuk, memerhatikan warna bajumu hari itu, gelagapmu yang lucu ketika kakak itu bertanya, warna matamu yang seakan menggoreskan tanda tanya, Aku meng-amini, kita begitu berbeda.. hanya kain berwarna kuning di tangan kiriku, yang mampu membuat kita setidaknya... sama ? Namun entah, dimana aku dapat membantu mu. ketika kamu bahkan, selalu menawarkan minum tatkala haus menggoda kerongkongan. kau begitu melekat di hati serta pikiran ku, menjadi penanda, suatu hari nanti... atau esok mungkin.......... kita benar-benar bersama.
1 Agustus
K
emarin memang mengejutkan, sangkaan ku tidak bersandar pada gelagap benak ku. Aku terlalu terburu-buru menilai padahal siapa aku? bila kukatakan pandangan ku beranjak pergi dari “ ku kira “ menjadi “oh ternyata” semua semakin jelas rasanya. 1 Tahun itu benarlah hanya luka, aku tahu bahwa aku tidak benar-benar tahu dan lebih lagi aku kira aku tahu padahal tak sama sekali tahu. Aku kosong seperti diskotik di siang bolong
Tetapi siang ini, kantuk tiba-tiba saja menyerang, bukan berarti membosankan, namun anganku berlayar dari mimpi menuju mimpi sampai padanya aku berlabuh pada frasa tanya “ Bila aku benar-benar dewasa nanti hendak jadi apa aku ? “ Aku tak memiliki tujuan apapun, bahkan aku tak tahu menahu siapa aku dibalik riang tawaku, aku tak tahu mau apa dan mau kemana, aku hilang dan hilang semakin hilang, Meredup menjadi gelap malam.
kau menuntun ku pada sebuah rumah, yang ku tak tau untuk siapa dia bertuan. Kau menuntun ku pada sebuah rumah, entah untuk sekedar hinggap atau merebah. Kau menuntun ku pada sebuah rumah, yang terlihat usang, namun kurasa begitu banyak ceria didalamnya. Kau menuntun ku pada sebuah rumah, yang kuharap aku dapat berdiam di dalamnya, atau bahkan sekedar berbagi tawa dan canda. Kau menuntun ku pada sebuah rumah, yang semoga adalah tempat berpulangku.
Kau persilahkan aku untuk masuk, kau mengingatkan jangan lupa kau copot sepatumu, supaya selalu ingat tak semua orang dapat memakai sepatu yang sama bukan? Langkah ku perlahan jatuh di ribaanmu. Sejenak kau menatap dengan tajam sebelum kau lempar dengan senyum selamat datang. Kau begitu lucu, kataku. Kau tidak berkata apa-apa, atau bahkan bertanya aku ini siapa. Tetapi kau sibuk untuk bergegas menghidangkanku semua hal mewah dalam perjamuan bulir darahku. Kau tak bertanya aku ini siapa, atau hendak kemana. Kau hanya bertanya apa aku lelah dan ingin meminjam sedikit waktu untuk beristirahat. Kau tak bertanya apa-apa. Kau tak bertanya apa-apa. Padahal, aku hanya menumpang dan mungkin tak bisa memberi apa-apa. Dan dengan Ikhlas kau beri segala yang kau punya, seraya berkata ; “ Kau boleh menetap disini, sehari dua hari atau boleh selamanya. Jika hendak kau pergi, silahkan. Tetapi satu hal yang pasti, bila nanti itu terjadi dan yang kau dapat hanya lelah. Kunci kutaruh di kotak surat, kau hanya tinggal mengetuk, dan semoga aku akan selalu ada disitu. Tak beranjak, menunggumu. “
2 Agustus
B
ila menantang masa depan, aku akan berhadapan pada waktu yang tak pernah menunggu--apapun. Waktu tak pernah bisa mengalah, tetapi aku selalu kalah dalam belenggu malas serta tekanan kecemasan yang memojokkan diri. Cemas dan cemas, aku bukan lagi si lugu tetapi aku adalah ia yang akan selalu ditanya tentang ilmu. Akan kujawab apa semua itu? bila aku bahkan tak tahu apa arti sebuah nama jurusanku.
Karena waktu takkan bisa mengalah.
3 Agustus
K
an sudah kubilang, aku tak lagi lugu namun diharapkan penuh ilmu. Bertanggungjawab menjadi pelajar seutuhnya, mempelajari serta menerapkan apaapa yang telah diketahui. Lagipula, suatu saat nanti ilmu ini akan memudahkan, bukan hanya pribadiku tetapi mungkin bahkan kehidupan yang lain. Begitu sempit nya isi kepalaku ini, kreativitas ku tidak dibentuk berdasarkan gagasan, tetapi hanyalah berdasar pada tekanan.
Kalau tuan bertanya, untuk apa aku ada disini? kehendaku telah lahir dari gagasan dalam kepalaku bahwa aku berdiri disini tanpa adanya paksaan, tuan bertanya mengapa yang lain pun berdiri disini... percuma saja. Aku tidak tahu. Apalagi sok tahu. Barangkali ada yang berdiri disini karena yang lain melakukan hal serupa barangkali ada yang bermimpi untuk merubah sesuatu bersama, atau setidaknya berjalan bersama.
Dan dalam bayang rembulan, malam itu tanda tanya menyeruak seakan menuntut jawaban
Terimakasih, terimakasih.
4 Agustus Kurasa usaha ku tak siasia, gagasan telah menjadi ide, ide telah menjadi bentuk, dan bentuk menjadi ruang-ruang konstruk. Bilamana aku berkata saat ini kita bersama, maka kita benar benar ber sama - sama. Bukan romantisme masa lalu yang aku banggakan, atau picisan kesalahan yang lalu. Aku bangga dan benar-benar bangga dengan diriku saat ini, pun jua begitu bangga dengan apa yang berubah dari dirimu.
5 hari bukan hanya menjadi sebuah kapsul waktu, lebih dari itu ia mampu mensintesa apaapa yang aku pikirkan, tentang ekspektasi serta pandangan. Lebih dari itu ia selalu menjadi penanda yang akan kusimpan begitu mendalam dalam relung hatiku. Setidaknya aku pernah bersama mereka yang hebat, yang tak bersahabat dengan lelah, serta tidak berteman baik dengan kata ‘ Tak mampu’, lagi pula bukankah kita ini selalu lebih hebat dari yang kita pikirkan, bukan?
Malam itu gemuruh angin
menghempas angan, segala apa yang akan aku kenang akan tertidur di dalam kening. Gelap dan gelap semakin berkelip, malam seakan membiru ditemani mereka yang meragu. Ragu bahwa kita sebenarnya mampu, berjalan beriringan seraya menggandeng tangan. Menadah pada langit, melihat rembulan yang seakan tersenyum, kepada kita...
Malam itu terasa begitu syahdu, nada-nada terdengar begitu nyaring masuk kedalam kepalaku.
Sembilu ku pergi, lenyap dibawa sepi. Bukan sepi yang menyayat hati, tetapi sepi yang menggugah pertanyaan dalam diri ; Bila malam ini, kepuasaan menghampiri Lalu untuk apa aku terus berlari, dan mengejar arti, yang sebetulnya belum tentu berarti?
Permulaan Perjalanan yang
atas
lain Bila 5 hari akan menjadi selamanya, maka selanjutnya kita menuju kemana? Bukankah, pencarian itu baru dimulai menjawab Siapa aku? Mau jadi apa aku? atau bahkan Aku ini untuk siapa? Bukankah, semua itu tak dapat ditentukan dalam 5 hari belaka ?
///// Barangkali mungkin, ada setitik rasa muak dalam diri, ada sekelibat kehadiran lelah dalam hati, ataupun bahkan rasa putus asa yang menghampiri. Ribuan aksara tak akan mampu mewakili isi hati, tentang bagaimana semua ini terjadi. Antara aku, kamu dan mereka. Melayang begitu saja dalam angan, dimakan pekat sang malam, merudung pekik kerinduan akan sebuah kehadiran. Namun, bukankah esok mentari terbit kembali? Dan langit akan kembali membiru seperti sedia kala? Bukankah kita sudah mengamini, 1000 Candi tak pernah mampu dibangun dalam semalam, apalagi pondasi diri? Begitu juga dengan semua ini.
//// Malam berganti menjadi pagi, kemudian ufuk timur bergulir tanpa henti, detik gelisah berloncatan kesana kemari, seraya lelah menagih janji. Tak ada lagi yang bicara, apalagi mendengarkan, semua sibuk dengan diri sendiri. Lalu..Apa arti sebuah lima hari? Jika semua terasa berjalan dalam sepi? Lalu..Apa arti sebuah perkenalan? Jika pada akhirnya saling mengacuhkan? Mungkin... Kita semua sedang berada dalam ruang hampa, semua memang hadir, namun sejatinya tiada. Ada yang tertawa riang seakan tidak ada apa-apa, pun jua, ada yang begitu lelah ingin merebah. Sejenak, semua terdiam. Hening menangis, ribuan aksara menatapmu dengan begitu tajamnya, tak kuasa kau kini terserap, menjadi sebuah tanda tanya ; “ Apa benar kita ini...Berjalan bersama? “
Selalu ada mereka yang meragu. Ragu bilamana ketepatan mampu mencapai sebuah tujuan. ragu untuk diragukan. ragu untuk berjalan. Bahkan ragu untuk sekedar memilih--apa yang akan dipilih runtuh seketika sesaat terdapat suara sumbang yang menemui kecemasan pribadi. Kita tahu, tidak ada mereka yang hebat tanpa pernah berani, berani untuk hancur atau bahkan jatuh terinjak di atas lantai retak. Mereka yang berani mendefiniskan ‘Aku adalah ia yang---’ atau bahkan berbondong-bondong mengajak mereka menemui suatu suara kolektif dan berhasil menyumpal pekik pandangan sebelah mata dengan sebuah senyum prestasi---atas apa yang berhasil dicapai. Mereka berdiri dengan tegap, bilamana jatuh ya silahkan berjatuhan, bilamana gagal biarkanlah terpuruk, lagi pula mereka selalu percaya tak ada awan tergelap sekalipun yang tidak mampu ditembus sinar mentari. Tetapi ragu semakin mengambil tempat, ia mengambil peran keyakinan agar supaya pikiran menutup gerbang pemikiran. Agar semua pembelajaran terkesan omong kosong belaka, dan tak pernah dirasakan. Semua itu tidaklah heran, semua itu dimulai semenjak kita membiasakan untuk berkata “ Sudahlah, nanti juga bisa “ atau bahkan “ Bagi aku itu tidak penting “. Pembelajaran semakin terhimpit, pembelajaran terpisah menjadi dua ruang belaka, ruang keberhasilan atau kegagalan dikala seharusnya tidak untuk dikotomikan, yang seharusnya keberhasilan dan kegagalan adalah satu nafas. Kita menjadi mengamini bahwa kita haruslah menerima mentah-mentah apaapa yang diberi, namun begitu gagap untuk mempertanyakan. Kita menjadi mengamini bahwa apapun adalah benar, namun menjadi gagal ketika harus memeriksa. Hal ini menjadi musibah, bagi setiap perkembangan, termakan oleh penganut “ segala sesuatu harus instan “. Kepraktisan mendorong semua terlihat biasa saja, dialog-dialog dihindarkan, imajinasi menjadi terbatas, kreativitas menjadi tabu untuk dibicarakan. Semua, hanya terlihat Hitam dan Putih. Kita, perlahan menutup sebuah sintesa akan kedua hal tersebut dan meyakini segala sesuatu harus berhasil atau ekstrimnya harus benar-benar gagal dan tidak memiliki arti.
Jika hal itu terus saja kita amini, jika kita terus menutup diri akan adanya sebuah kemungkinan, segala ruang untuk berkembang atau lambat laun menutup mata pada apa-apa yang memudahkan masihkan kita pantas untuk menagih kata ‘Perkembangan’ ? Bilamana memang, semua terasa tidak memiliki harga yang sama dengan segala materi,waktu, keringat bahkan sedu sedan. Bilamana memang, semua terasa melelahkan dan seakan berjalan dalam sepi yang menyayat diri. Bilamana memang, semua terasa tidak ada lagi yang pantas diperjuangkan. Maka, tengoklah kebelakang. Mungkin, kita berjalan terlalu cepat hingga tak tersadar semua orang sama-sama ingin berkembang. Mungkin, kita terlalu fokus pada hal yang kita tuju sendiri, hingga lupa bahwa semua orang memilii tujuan, yang jauh lebih mudah jika dijalankan bersama-sama. Pandangan kita terlalu lurus, terlalu ingin praktis, semua harus serba cepat untuk bahkan mengembangkan diri sendiri. Tetapi sudah barang tentu bukan, bilamana hal yang berharga tidak pernah didapatkan dengan mudah? dan apabila kita terus memaksa untuk mendapatkanya sendiri, tentu yang didapat bukanlah kepuasan, namun hanyalah kelelahan. Mendorong diri sendiri memang baik, tetapi kita lupa tak kita tidaklah bisa mendorong diri sendiri, dibutuhkan uluran tangan ‘mereka’ untuk sama-sama mendorong ketika berjalan melambat, untuk menarik ketika jatuh tersungkur dan tak sanggup untuk bangkit kembali. Rasa lelah akan selalu ada, namun rasa lelah akan selalu hilang bila terdapat canda tawa bukan? Memang selalu lebih menarik menertawakan segala hal bersama dibanding sendiri, bukan?
Terimakasih Terimakasih
#KitaTouring #KitaTouring
Cover Design by Ludy Imam M.P Layout by Ohobob™ Editor by Tim Media dan Propaganda Photo by Tim Media dan Propaganda Content Writer by Senjakepleset Poem by Senjakepleset Illustration by Ohobob™ Special Thanks to ; Allah S.W.T BP MTI ITB 2018/2019 Seluruh Anggota MTI ITB Panitia PABRIK MTI ITB 2018 Departemen Media dan Propaganda Pabrik MTI ITB 2018 Neoagrata Industria Kreiton Sitorus Febri Setiyawan Yafie Fauzan Rian Aristio Antonius Reynard Ring 1 Pabrik MTI ITB 2018 Divisi Arsip - Departemen Kesekjenan PABRIK MTI ITB 2018 Ayam-ayaman.com Atho Serta yang kami sayangi, MTI ITB 2017.
Departemen Media dan Propaganda PABRIK MTI ITB© 2018