Skip to main content

Majalah SawitPlus Edisi 8 Tahun 2018

Page 1

daftar isi

asian games 2018 tanpa asap

Hal. 05

Jokowi: Ada Kebakaran, Dicopot! Hal. 07

Ketua GAPKI Riau: Kita Sudah Siap Asian Games 2018 Bebas Asap Hal. 09

Gulat Manurung: Syamsuar Itu Hero yang Bertangan Dingin Hal. 15

Gapki RIau Gelar Sosialisasi Permen LHK Hal. 21

Wawancara Khusus

Syamsuar

Selamat Datang

Gubernur Sawit Hal. 12

Harga TBS Terjun Bebas, Apkasindo Gelar FGD TBS Berkeadilan

Hal. 22

Milad Desa Petala Bumi Dimeriahkan Turnamen Sepak Bola

Hal. 27

Mufid, Pengusaha Pupuk Organik Tabur Sulap Kotoran Jadi Pupuk Organik

Hal. 30

DR H Emrizal Pakis SE MM: Pertumbuhan Ekonomi Riau Mulai Terjadi Perlambatan

Hal. 36

Pimpinan Redaksi/Penanggungjawab: Djoko Suud Sukahar Pimpinan Perusahaan: Herlina, S.Sos Dewan Redaksi: Djoko Suud Sukahar, Herlina, S.Sos, Eli Suwanti, S.Kom.I, Fauzia, S.Sos, Hamdan Tambunan Cover/Desain: Makmur HM Sirkulasi/Distribusi: Hendra Gunawan IT Support: Afandi Kantor Perwakilan Jambi: Saman. 08117454949. Jl Sersan Anwar Bay No 1. Kenali Besar. Jambi Alamat Kantor: Jl. Bakti Perum. Bakti Indah No 3 Pekanbaru, Riau | Info Iklan: 0812 7698 0551 / WA: 0811 754 1174 E-mail: sawitplus@gmail.com | Website: www.sawitplus.co | No. Rek. Mandiri: 108-00-2018999-0 a/n PT. Media Sawit Indonesia

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

03


editorial

Asap Buatan Sengkuni Kebakaran terus terjadi. Hampir menjadi tradisi. Tiap tahun, di pemerintahan siapa saja, asap akibat kebakaran lahan itu tidak mampu diatasi. Sumatera dan Kalimantan gelap gulita. Juga negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura. Ini Bale Sigala-gala kontemporer, asap buatan Patih Sengkuni? Kemarau panjang belum selesai. Di berbagai kawasan kering kerontang. Hutan di Gunung Semeru terbakar. Gunung Lawu, Merbabu, Ciremai, sampai hutan jati di Banyumas bergantian membara. Lahan meranggas itu memerah saga, dan asap tebal mengepul memekatkan udara.

mati terkubur di dalamnya. Dia berpikir keponakan-keponakannya Kurawa akan berkuasa di Astina. Dan tidak ada lagi pemilik sah yang selama ini menjadi duri dalam daging. Asap di Sumatera dan Kalimantan adalah seperti itu. Moratorium yang digagas SBY kala itu diharap mampu menyelamatkan hutan, ternyata itu yang paling banyak terbakar. Lahan yang tidak terjaga merupakan sasaran empuk untuk dijarah. Tanah ‘tidak terjaga’ itu yang sekarang memberi sumbangan besar terhadap maraknya kabut asap.

Terbakarnya lahan di gunung-gunung itu tidak ada yang membakar. Itu faktor alam. Sebagai negeri tropis itu lumrah. Panas menyemai timbulnya percik api menjadi bara. Dan ranting kering, rumput serta semak membesarkan percikan itu menjadi api yang meluluh-lantakkan segalanya.

Pembakarnya memang rakyat. Cukong dari luar mendanai aksi kriminal ini. Dari lahan itu mereka kelak berkebun tanpa diawasi dan terawasi. Maka hingga kini ratusan ‘pembakar’ lahan yang tertangkap dan menghuni sel itu adalah rakyat perorangan yang datang dari berbagai daerah.

Polusi udara ini teramat parah. Menyamai letusan Gunung Agung, Bali di tahun 60-an yang ‘menyamarkan’ wajah Kota Surabaya akibat debunya. Atau letusan Kelud tahun 2015 yang ‘menghilangkan’ Kota Blitar, Kediri dan sekitarnya. Jika letusan gunung terdapat ke-tidakberdaya-an membendung lava yang ada di dalamnya, tidak begitu dengan kepekatan kali ini. Itu akibat titik api dalam tanah, gesekan antar-benda yang menimbulkan bara, sedang di Sumatera serta Kalimantan, ditambah pembakaran pembukaan lahan, dan pembakaran kebun akibat harga sawit yang murah. Kompleksitas itu yang membuat asap kali ini sangat pekat memenuhi udara. Di Kalimantan dan Sumatera, kebakaran itu menjadi-jadi. Lahan gambut yang menyimpan panas dan melahirkan titik api ribuan jumlahnya. Tersebar merata di setiap provinsi. Maka jika kemarau tiba seperti sekarang ini, kebakaran lahan tidak bisa dihindari. Asap mengepul memperpendek jarak pandang. Memaksa rakyat memasuki alam rayap. Gelap gulita mengganggu aktifitas semuanya. Namun kendati sama-sama kebakaran, tetapi asumsi melihat kebakaran itu ternyata berbeda. Di Jawa tidak disoal tesa dan antitesa kebakaran alamiah ini, tapi di Kalimantan dan Sumatera segalanya berubah. Ini menyulut berbagai problem, karena memang di kawasan ini punya simpanan masalah. Kalimantan dan Sumatera adalah ladang perseteruan. Berbagai kepentingan dari tingkat lokal hingga global bertemu di area ini. Intrik menjamur. Fitnah subur. Perang saling ‘membunuh’ kepentingan berlangsung.

04

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

Djoko Suud Sukahar Kolumnis dan Pemerhati Sosial Budaya. Penulis Tinggal di Jakarta.

Dan lahan yang terbakar itu sebagai senjata, untuk menjustifikasi siapa yang harus disalahkan. Tidak heran jika kebakaran ini identik dengan Bale Sigala-gala. Persekutuan jahat kontemporer. Bale Sigala-gala adalah kawasan indah yang dibangun untuk tujuan nista. Patih Sengkuni yang selalu gagal mencelakakan Pandawa, menjebak via undangan pesta. Resort megah diciptakan di atas bukit. Pocutana mewujudkan istana itu. Arsitek ini disuruh membuat lantai dan dinding kayu yang rentan api. Bahan-bahan itu mudah meledak dan terbakar jika terkena api. Namun Begawabn Abiyasa yang berhati suci melihat dengan mata batinnya, bahwa ini untuk mencelakai Pandawa, keponakannya. Ia pun diam-diam menyusupkan seorang ksatria untuk membangun terowongan dari dalam istana ini, menembus bukit pada arah yang jauh. Ketika istana ini dibakar dan Pandawa dikunci di dalam, terowongan ini jadi lorong penyelamat. Patih Sengkuni merasa yakin Pandawa

Terus siapa cukong itu? Jangan terlalu jauh menduga. Cukong itu juga rakyat. Rakyat yang hidupnya sudah mapan, memanfaatkan sebagian dana sisa yang dipunyai untuk melakukan ‘investasi hitam’. Ini semacam diversifikasi usaha yang tidak menghitung untung rugi, apalagi harus pakai studi kelayakan. Tetapi kenapa sekarang ini asap yang sudah bertahun-tahun menjadi masalah mulai tidak ada? Padahal harga tandan buah sawit sedang anjlok di bawah harga rata-rata? Itu karena hukum mulai direvisi dan dipatuhi. Petani-petani dilarang bakar lahan, perusahaan diberi batas dan garis jelas, maka tidak perlu banyak koar, aturan itu akan tegak dengan sendirinya. Sebab segalanya akan mengikuti tonggak itu. Bulan-bulan ini Indonesia akan punya gawe internasional. Asian Games 2018 diselenggarakan di dua kota, Jakarta dan Palembang. Jakarta tidak masalah, tetapi Palembang yang sering ‘berasap’ perlu diberi kewaspadaan ekstra. Tapi saya yakin, bahwa asap akan bisa dijauhi. Itu karena para Sengkuni sudah mulai banyak yang jinak, juga mulai banyak yang takut kembali menciptakan huru-hara yang mrnjatuhkan martabat bangsa. Semoga Asian Games 2018 bebas asap benarbenar terbukti.*


laporan utama

Asian Games 2018

Tanpa Asap Hari-hari ini seluruh pihak yang terlibat dalam hutan dan perkebunan siaga penuh. Musim kemarau yang mencapai puncaknya hingga bulan Oktober melahirkan titik panas (hotpot) dan titik api (firespot). Titik-titik itu sudah ratusan jumlahnya, dan bertebaran dimana-mana.

Sisi lain di bulan Agustus, ada gawe nasional yang berskala internasional, yaitu gelaran Asian Games 2018. Event olahraga ini diadakan di dua kota, yaitu Jakarta dan Palembang, sebuah area yang banyak menyimpan tanah gambut, terbentang hingga Jambi, Sumatera Utara, dan Provinsi Riau. Tanah gambut memang menyimpan bara. Tanah yang lunak dan lembab itu gampang bergesek ketika kandungan airnya mengering. Gesekan itu yang menimbulkan titik panas dan titik api. Ini yang rawan terjadinya kebakaran lahan atau hutan. Dari tahun ke tahun negeri

ini berkutat untuk menjinakkan alam yang memanas itu. Solusi untuk mengatasi ‘panasnya’ tanah gambut itu belum ada konklusi akhir. Kita masih berdebat soal penanganan tanah gambut ini, yang di dalamnya lebih bersifat politis ketimbang berpikir jernih, mencari jalan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini. Ada banyak keterlibatan asing dalam penanganan tanah gambut ini. Dana siluman mengalir pada pihak-pihak, juga dana lain yang bertopeng sigi serta penelitian.

Ada nuansa ‘bargaining’ agar kerusakan di belahan dunia sana bisa direcoveri alam yang ada di negeri ini. Tapi secara nasionalisme, semua itu adalah langkah memperlambat kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini. Gara-gara penanganan tanah gambut yang tidak jelas itu, maka kita terus menunggu saban tahun untuk menjinakkan api yang ditimbulkannya. Kita seperti aktor dalam ‘Waiting for Godot’, menunggu kesia-siaan. Mengapa disebut begitu? Lihat tetangga kita Malaysia, Serawak.

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

05


Laporan utama

DR Lulie Melling yang berperan sebagai kepala penelitiannya dengan bangga menyebut Serawak tidak pernah dilanda kebakaran. Padahal tanahnya hampir semua adalah tanah gambut. Malah tanah gambut itu semuanya ditanami kelapa sawit. Minyak kelapa sawit itu yang memberi pendapatan tinggi Pemerintah Malaysia, mensejahterakan, serta memakmurkan rakyat Serawak. Hanya dengan tanah tidak seberapa luas dibanding Indonesia, Malaysia mampu menempatkan diri sebagai penghasil minyak sawit nomor dua di dunia. Kita, bulan-bulan ini, di musim kemarau ini, kembali bersiaga agar tanah gambut tidak kering. Kita harus menyiram dari darat maupun udara, tanpa perlu berpikir efekti atau high cost tidaknya. Helikopter water boombing berseliweran tanpa henti, dan seluruh pihak dilibatkan dalam kerja keras tanpa kenal waktu.

Palembang, maka muka Indonesia dipertaruhkan di dunia internasional. Jangan sampai ada kebakaran. Jangan sampai ada asap. Sebab itu bakal mencoreng muka negeri ini di dunia internasional.

Apalagi ditambah dengan penyelenggaraan Asian Games 2018 yang berada di

Adakah kita harus terus begini, menunggu saban musim kemarau tiba

06

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

agar tanah gambut tidak mengering dan terbakar? Oh, berpikir tentang ini saja sudah melelahkan, apalagi harus mengerjakannya secara phisik. Padahal ini sudah zaman digital lho, zaman dengan teknologi yang menyediakan segalanya menjadi bisa. (Djoko Su’ud Sukahar)


laporan utama

Jokowi:

Ada Kebakaran,

Dicopot! “Kalau di wilayah saudara ada kebakaran dan tidak tertangani, aturannya masih sama, masih ingat? Dicopot!� itu kata Jokowi dalam rapat soal Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Istana Negara, Selasa (6/2/2018) lalu.

Dan di bulan Agustus ini, ancaman itu kian bergema. Soalnya mendekati gawe internasional Asian Games XVIII di Palembang dan Jakarta, kemudian Annual Meeting World Bank-IMF 2018 bulan Oktober di Bali, dan pesta demokrasi pada April tahun 2019. Gawe ini harus dijaga. Jangan lagi ada asap mengepul yang akan menjadi perhatian dunia. Sebab beberapa tahun ini Indonesia sudah mendapat pujian. Pemerintah mampu mencegah asap dan mengendalikan kebakaran di tahun 2017 kemarin. Pujian itu terangterangan dilontarkan Malaysia. Taruhan gengsi dan harga diri bangsa itu terlihat dari sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dengan kalimat lugas tapi tegas, sang presiden tidak mau kompromi. Jika ada kebakaran hutan dan lahan untuk tahun 2018, maka taruhannya adalah dicopot dari jabatannya. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dalam Rapat Persiapan Pemantauan Karhutla 2018, Rabu (25/7/2018) di Bina Graha, Jakarta juga meminta pemerintah daerah, KLHK, Polri, TNI, BIN, BMKG, Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

07


Laporan utama BNPB, Kementerian Perhubungan, dan instansi terkait untuk bekerja keras menuntaskan masalah ini. “Saya minta, agar kita semua mengerahkan kemampuan maksimal dan bekerja bersama untuk menanggulangi kebakaran hutan,” tegasnya. Tujuan rapat ini untuk memperkuat sinergi dan perbaikan proses kerja masing-masing kementerian dan lembaga. Dalam laporannya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengungkap, bahwa kementeriannya melakukan monitoring langsung di wilayah-wilayah yang kerap dilanda kebakaran hutan dan lahan, seperti Kalimantan Tengah, Jambi, Sumsel, Kalimantan Barat, dan Riau. “Dari pengalaman selama ini, manajemen penanggulangan kebakaran hutan dan lahan sudah lebih tertata, “ katanya. Sedang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memberi prediksi, bahwa puncak kemarau tahun ini akan terjadi pada bulan Juli hingga September. “Di situ akan terlihat tingkat curah hujan, kelembaban udara, dan kecepatan angin, yang bisa dipakai untuk melihat sampai sejauh mana tingkat hotspot di lapangan. Jika sudah sebesar 50 persen, maka dalam kategori membahayakan dan mudah terbakar,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Untuk mencegah agar titik api tidak meluas, maka salah satu cara yang diusulkan adalah dengan meningkatkan kelembaban lahan gambut. “Saya mengusulkan adanya hujan buatan yang efektif dilakukan di minggu ini dan minggu depan, karena ada kiri-

08

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

man awan dari Filipina,” tambahnya. Apa yang diungkapkan BMKG itu sangat penting. Sebab pengamatan Badan Restorasi Gambut (BRG) pertengahan Juli lalu, selama dua minggu tampak adanya variasi permukaan air pada gambut dari < 0,5 m - -1,5 m. Sedang kondisi yang masih bisa diterima, tinggi permukaan air < 0,5 m. Jika permukaan > 0,5 hingga -1,4 m di bawah gambut, maka itu

menandakan, bahwa kelembabannya mulai berkurang, tinggal 20 – 30 persen yang mudah terbakar. Menurut Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead , untuk mengatasi itu, maka langkah yang mesti dilakukan adalah dengan mempersiapkan sekat-sekat air yang harus dikerjakan masyarakat. Dalam rapat koordinasi itu, perwakilan pemerintah daerah yang hadir adalah dari Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Kalimantan Barat. Semuanya sepakat untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan itu semaksimal mungkin. Maka, kalau hari-hari ini Anda bertandang ke provinsi di atas itu, selain akan tampak adanya pergerakan hotspot dan firespot yang menaik, juga akan tampak di udara, helikopter berseliweran tak kenal jeda. Helikopter itu tak cuma untuk memadamkan api dengan menyemprotkan air, tetapi juga untuk menabur garam, membuat hujan buatan. Ini agar api tak terdeteksi dan berkobar, dan asap tidak mengepul. Sebab jika sampai itu terjadi, tidak hanya negeri ini akan malu di mata dunia, tetapi jabatan-jabatan para penanggungjawab itu juga ikut sirna. Ini sebuah taruhan yang wajib untuk dimenangkan. (ass/jss)


laporan utama

Ketua GAPKI Riau:

Kita Sudah Siap Asian Games 2018 Bebas Asap

K

ebakaran mulai terjadi disanasini. Hampir semua yang terbakar itu adalah kebun rakyat. Selain tanah gambut di hutan taman nasional yang menjadi tanggungjawab pemerintah. Menyambut Asian Games 2018 ini, pemerintah bertekad untuk menjadikan bulan bebas asap dan bebas api. Itu untuk menjaga martabat bangsa di mata dunia. Tekad itu disambut baik oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau. Ketua GAPKI Riau, Saut Sihombing mengatakan, bahwa seluruh stakeholder sudah melakukan langkah itu bertahun-tahun. Dan hasilnya bisa dilihat, bahwa sejak tahun 2014 tidak lagi ada kebakaran lahan. Menurutnya, untuk mensukseskan Asian Games 2018 tanpa asap itu sudah diupayakan semua stakeholder. â&#x20AC;&#x153;Jadi bila masih terjadi kebakaran, itu namanya di luar kemampuan manusia. Kita sudah malang-melintang. Semua pihak sudah melakukan upaya maksimal agar tidak terjadi kebakaran api di Riau,â&#x20AC;? katanya. Upaya ini sudah diakukan maksimal selama bertahun-tahun. Hasilnya bisa dilihat, dari tahun 2014, 2015, 2016 dan 2017, tidak satupun perusahaan perkebunan lahannya terbakar.

Saut Sihombing Ketua GAPKI Riau

"Dan ini adalah kenyataan, bukan mendiskreditkan pihak lain ya. Bisa dilihat di data, perusahaan mana yang kebunnya terbakar, tidak ada satupun," terangnya. (ezy) Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

09


Laporan utama

M. Marwan: Demi Suksesnya Asian Games, PT AAL Andalas II Siaga 24 Jam

M

usim kemarau, semua pemangku kepentingan di industri kelapa sawit melakukan siaga penuh. Itu agar tidak sampai terjadi kebakaran. Apalagi Agustus bulan depan diselenggarakan Asian Games 2018 di Palembang dan Jakarta.

alat canggih,” tambahnya.

“Ini menyangkut harga diri bangsa. Jangan sampai dalam acara Asian Games 2018 itu ada asap. Tak eloklah di mata dunia,” itu dikatakan Mohammad Marwan, Senior Vice President PT Astra Agro Lestari Tbk (PT AAL) pada Sawitplus.co.

“Jadi dengan antisipasi dini ini, Insyaallah tidak akan terjadi kebakaran. Jangan lagi di lahan kita. Di luar lahan kita saja, kalau sampai ada percikan api, kita langsung turun tangan mengatasinya,” kata Marwan.

Menurutnya, tiap kebun PT AAL sudah dilengkapi organisasi Fire Protection. Tugasnya mulai dari melakukan pencegahan hingga melakukan tindakan jika sampai ada percikan api. “Ini standby 24 jam. Mereka piket dengan dilengkapi alat-

10

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

Untuk lapis kedua, PT AAL melibatkan masyarakat kampung dan masyarakat seputar kebun. Perusahaan membentuk tim tanggap darurat yang disebut dengan Masyarakat Peduli Api. Mereka sudah diedukasi tentang bahaya kebakaran lahan.

Berdasar keterangan dari BMKG, mulai Juli hingga bulan Oktober mendatang merupakan puncak musim panas. Kendati di Provijnsi Riau dan Palembang masih sering diguyur hujan, tetapi ratusan titik panas (hotspot) masih terus bermunculan. (jss)


wawancara khusus

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

11


wawancara khusus

Wawancara Khusus Syamsuar

Selamat Datang

Gubernur Sawit Ada banyak harapan petani sawit dan perusahaan kelapa sawit sejahtera di tahun depan. Sebab tahun 2019 itu Riau akan diperintah Gubernur Syamsuar yang secara definitif akan memerintah Provinsi Riau selama lima tahun.

12

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018


wawancara khusus

Gubernur ini adalah â&#x20AC;&#x2DC;Bupati Siakâ&#x20AC;&#x2122;. Di kabupaten Siak, sepak terjang beliau sudah banyak diketahui. Bagaimana mengelola kota pariwisata, dan memberi solusi terhadap berbagai problem yang dihadapi petani kelapa sawit. Majalah Sawit Plus dan Sawitplus. co mengajak beliau untuk berbincang tentang ini. Tak banyak pertanyaan yang disodorkan. Sebab ada wawancara khusus berikutnya ketika Sang Gubernur nanti dilantik bulan Februari 2019 mendatang. Ini wawancara itu : Sawitplus : Selamat datang Gubernur Sawit. Itu yang diucapkan para petani kelapa sawit, ketika KPU mengumumkan Anda sebagai pemenang dalam Pilkada serentak yang diadakan tahun 2018 ini. Anda mendapatkan suara 799.289 atau 38,20%, unggul dari para penantang anda. Komentar Anda? Gubernur Syamsuar : Ya kalau itu ucapan rakyat, saya berterimakasih dengan Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

13


wawancara khusus

ucapan itu. Saya tersanjung dengan ucapan itu. Sawitplus : Kegembiraan para petani kelapa sawit menyambut kemenangan Anda bukanlah tanpa sebab. Ada banyak sebab, tetapi yang utama adalah gerak langkah Anda ketika menjadi Bupati Siak. Memerintah daerah indah, sebagai representasi dari kejayaan Kerajaan Melayu di Provinsi Riau, dan atensi Anda terhadap rakyat, utamanya petani sawit. Apa yang melatari Anda begitu gigih memperjuangkan nasib rakyat (petani), dan apa yang Anda idamkan untuk kehidupan mereka ke depan? Gubernur Syamsuar : Sawit tidak bisa dihindarkan dengan kehidupan masyarakat Riau itu sendiri. Sawit harus kita pertahankan, sekaligus mencari bagaimana ke depan harga sawit ini kita harapkan tidak terus menurun. Tentang harga sawit, kita akan terus mencari jalan serta terobosan baru agar harga sawit tidak cenderung menurun. Tentang harga yang saat ini terus menurun perlu nantinya dicarikan jalan keluarnya. Cari terobosan agar tidak cenderung menurun yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada masyarakat.

14

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

Sawitplus : Saat memerintah Kabupaten Siak, Anda melakukan beberapa terobosan. Menciptakan kabupaten ini sebagai destinasi utama pariwisata, dan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Anda memberi solusi agar rakyat melakukan diversifikasi usaha membuat gula merah dari sawit. Boleh tahu bagaimana gagasan itu lahir? Sekarang Anda telah menjadi Gubernur Riau. Secara definitif Anda akan dilantik pada bulan Februari 2019. Apa program seratus hari (100 hari) pertama Anda sebagai Gubernur Riau? Adakah program yang langsung menyentuh kebutuhan petani sawit? Gubernur Syamsuar : Ya kalau seratus hari itu kan cuma tiga bulan. Sawit itu merupakan penghasil terbesar di Indonesia sekarang, tentu ini bagian kehidupan masyakat Riau. Baik masyarakt sendiri yang menanam sawit, petani termasuk perusahan yang berkerja sama dengan perusahaan. Saya juga berusaha untuk membangun kembali kerjasama serumpun Melayu, Singapura, Johor dan Riau (Sijori). Dulu Riau masih menyatu dengan Kepulauan Riau, sudah ada sejak dulu kepemimpinan Harto-Mahathir ingin membuat jembatan

Malaka-Dumai, tapi kepemimpinan habis belum kesampaian. Sekarang ingin kita ingatkan lagi dengan wacana meningkatkan budaya dan ekonomi dalam kerjasama di bidang sawit. Yang mengatur harga sawit itu adalah Malaysia. Jadi kalau sudah kerjasama setidaknya Malaysia akan ada rasa kasihan jika harga sawit Riau menurun. Sawit menjadi idola kita, ikon Riau di bidang ekonomi. Sawitplus : Kalau harapan, pak? Gubernur Syamsuar : Kalau harapan, di tengah harga sawit kita stabil, maka saya ingin yang lingkungan tidak ada alasan tidak terjaga, sebab itu bisa menurunkan harga sawit. Dalam rangka menanam kembali, peremajaan sawit dilaksanakan sesuaikan dengan Undang-Undang yang berlaku. Kalau sekarang tidak boleh membakar jangan membakar. Jika butuh alat berat oleh petani akan kita sediakan atau kita pinjamkan. Ini program kita ke depan. Juga melengkapi izin. Jika tidak lengkap nanti akan berdampak pada petani kita. Dan membeli bibit sesuai dengan standar, jika lahan gambut ya jangan lagi ditanam sawit. (lina/jss)


wawancara khusus

Gulat Manurung:

Syamsuar Itu Hero

yang Bertangan Dingin Tak lama lagi Provinsi Riau akan punya gubernur baru. Melalui pemilihan yang demokratis, H Syamsuar, Bupati Siak ini memenangkan pemilihan itu. Tahun depan (2019) pemenang pilkada ini akan dilantik, dan H Syamsuar menjadi Gubernur Riau secara definitif. Kemenangan Syamsuar merupakan kemenangan istimewa. Sosok ini amat merakyat di kalangan petani sawit. Sangat perduli dengan perkebunan sawit, juga para petani yang menggantungkan hidupnya dari tanaman asal Benua Afrika ini. Tak salah jika petani sawit menyebutnya, inilah Bupati Sawit, yang diharap saat menjadi gubernur nanti menjadi Gubernur Sawit. Sebagai gubernur yang digadanggadang akan memperjuangkan nasib petani kelapa sawit, maka Majalah Sawit Plus dan Sawitplus.co mengajak Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) DPW Riau, Gulat ME Manurung berbincang tentang harapan pada Gubernur Syamsiar itu. Inilah wawancara lengkapnya : Sawitplus : Apa harapan petani sawit terhadap gubernur baru Riau, Pak Syamsuar? Gulat Manurung : Gubernur Riau terpilih Syamsuar merupakan birokrat/pamong murni yang meniti karir pasca tamat dari APDN. Banyak sudah jabatan penting ditugaskan negara kepada Beliau dan semuanya diselesaikan dengan baik, terakhir sebagai Bupati Siak. Sebagaimana diketahui, di tangan Syamsuar, Siak berubah total menjadi kabupaten yang termaju di Riau. Ini tidak terlepas dari bang-

kitnya ekonomi kabupaten tersebut. Bangkit dan bergairahnya ekonomi masyarakat di Siak tidak terlepas dari ‘jitu”nya strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di mana Syamsuar memandang, bahwa ekonomi kelapa sawit adalah ‘roh’-nya. Estafet dan jejak Kepemimpinan Siak dari Arwin AS ke Syamsuar memang betul-betul jadi di tangan Bupati Syamsuar.

ekonomi sawit tidak keluar dari Siak. Lihat saja gemerlapnya Kota Siak dan sekitarnya, dan banyak muncul pusat ekonomi dan kota mini di Kabupaten Siak yang sebelumnya hanya desa tertinggal namun saat ini sudah bergeliat menjadi kota mini. Dari deretan jejak keberhasilan Syamsuar di Siak, besar harap dan doa petani sawit dalam bingkai Riau, Syamsuar dapat menjadikan Riau sebagai Provinsi Sawit. Yakinlah, jika sektor perkebunan kelapa sawit khususnya petani sawit dapat diberdayakan gubernur terpilih. Maka lima tahun ke depan Riau akan menjadi provinsi maju dan menjadi acuan berbagai negara yang menggantungkan ekonomi perke-

Kebun K2i Siak kerjasama dengan PTPN-V menjadi salah satu sumber inspirasi Syamsuar, bahwa Sawit adalah roh ekonomi Siak. Hal ini tidak terlepas dari hasil kajian beberapa perguruan tinggi, bahwa 47% ekonomi Riau dipengaruhi oleh geliat agrobisnis sawit. Sarana dan prasaran dibangun secara bertahap sehingga Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

15


wawancara khusus bunannya sebagai jantung pendapatan masyarakatnya. Kita tidak perlu mencontoh provinsi lain tentang sawit, karena memang sawit itu adalah Riau. Sawitplus : Sebelum terpilih sebagai gubernur, apa kesan Apkasindo terhadap Bupati Siak Ini? Gulat Manurung : Semua Calon Gubernur yang ikut dalam Pilgubri yang lalu adalah putra terbaik Riau yang siap mendedikasikan dirinya untuk Riau. Namun Gubernur Riau harus dipimpin oleh satu orang (Gubernur didampingi oleh wakil tentunya), dan Rakyat Riau menggantungkan harap dan doanya kepada Syamsuar dan Edy. Pilgubri sudah usai, mari kita bersatupadu untuk mendukung Pak Syamsuar mewujudkan visi dan misi-nya untuk membangun Riau lebih baik. Kesan yang sangat dominan dari seorang Syamsuar adalah kesederhanaan dan ketelitian beliau, orang yang kenal beliau pasti tahu itu. Apkasindo memandang beliau sebagai pembela petani sawit. Hal ini diketahui dari teman-teman Pengurus Apkasindo Kabupaten Siak, banyak hal heroik yang sudah beliau lakukan dalam melepaskan petani sawit dari berbagai persoalan. Sebelum beliau mencalonkan diri, temanteman dari Pengurus Apkasindo Siak sudah datang ke DPW Riau menjelaskan dan menceritakan sosok kesederhanaan dan keberpihakan dari seorang Syamsuar kepada petani sawit. Satu hal yang saya ingat dari teman-teman Apkasindo Siak, bahwa memang benar Pak Syamsuar itu ‘pelit’ alias tidak royal (ha ha ha). Tapi menurut saya, memang itulah karakter seorang Syamsuar dan prinsip itu baik dipegang dan dipertahankan ke depannya. Jadi pemimpin

16

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

tidak harus royal, tapi cukup dengan tinggalkan ‘jejak’ pembangunan yang memang bermanfaat bagi masyarakat banyak, pasti akan dipilih masyarakat. Dan hal ini akan memurahkan biaya politik kemudiannya, sebab sudah tidak zamannya lagi dengan janji-janji. Sawitpus : Apa usulan Apkasindo untuk mengangkat martabat dan derajat petani sawit agar sejahtera, makmur dan sentosa? Gulat Manurung : Usulan dari Apkasindo untuk Sang Gubernur adalah supaya Pak Gubernur memegang teguh prinsipprinsip pembangunan, salah satunya yaitu ‘potensi’. Riau dengan luas kebun kelapa sawit 4,2 juta hektar (menurut data iT Apkasindo), dimana 41%-nya adalah diusahakan oleh Petani Apkasindo (swadaya/ mandiri/non mitra). Dengan memberdayakan petani sawit, maka setengah persoalan ekonomi Riau sudah terselesaikan. Kenapa?

Petani Sawit Swadaya jumlahnya 518.000 KK. Jika satu KK rata-rata kepemilikannya kebun sawit 4 ha dan satu KK terdiri dari 4 orang, maka usaha perkebunan kelapa sawit rakyat sudah menghidupi secara langsung 1,7 juta jiwa. Dan ring satu dari efek ekonomi sawit katakan 0,3%, maka jumlahnya 510 ribu orang sehingga total dari efek ekonomi kelapa sawit ini mencapai 2,2 juta orang. Luar biasa bukan ? Sawitplus : Apa yang menjadi problem petani sawit selama ini? Gulat Manurung : Yang menjadi problem petani sawit selama ini adalah (a) Tataniaga harga TBS yang masih dikelompokkan menjadi tiga kelompok (buah Perusahaan, Buah Mitra Perusahaan dan Buah Petani Sawit Swadaya). Harga Kelompok TBS Petani Swadaya ini dapat berdeviasi 30-60% dari harga Kelompok 1 dan 2. Asumsi yang selalu dijadikan mengapa sebegitu jauh selisih harga TBS petani adalah, TBS Petani Swadaya berjenis Dura (terkait ke rendemen), Terlampau muda/ tua (terkait ke kualitas), dan tidak


wawancara khusus

stabil panennya (tidak dapat diprediksi). Untuk asumsi 1 dan 2 ini seharusnya tidak menjadi persoalan karena petani sawit sudah banyak yang menanam jenis sawit varietas DxP yang menghasilkan TBS Tenera (rendemen tinggi) dan masalah kualitas TBS yang selalu diasumsikan jelek semuanya ini sudah masa lalu. Asumsi 1 dan 2 ini benar untuk 10-15 tahun yang lalu, karena waktu itu petani sawit hanya ikut-ikutan menanam sawit, tapi seiring dengan kecanggihan iT saat ini dan penyuluhan yang dilakukan instansi terkait, maka saat ini petani sudah meninggalkan asumsi 1 dan 2 tadi, tapi kok sampai saat ini petani masih dianggap sama seperti 10-15 tahun lalu ya ? Problem petani yang tak kalah pentingnya adalah (b) banyaknya petani sawit yang kebunnya masih terjebak dalam kawasan hutan. Ini sangat urgen karena regulasi yang berlaku di sektor kehutanan dan perkebunan sudah mengancam keberadaan petani tersebut. Ini tidak bisa didiamkan, pemerintah harus hadir ditengah-tengah persoalan terjebaknya kebun petani dalam kawasan hutan. Perlu dicatat, bahwa Riau resmi memi-

liki RTRW baru tahun 2018 sedangkan sebelum RTRW Riau ini sah, maka yang digunakan adalah TGHK (Tata Guna Hutan Kesepakatan). Tahun 1983, kita bisa bayangkan selama 35 tahun sebelum Riau memiliki RTRW selama itu pulaklah terjadi perjuangan hidup anak manusia di belantara Bumi Lancang Kuning ini, salah satunya dengan berkebun sawit. Nah saat ini dengan RTRW Riau 2018 ini ternyata diketahui 56% petani sawit

di Riau lahannya masuk dalam kawasan Hutan. Sampai banyak beredar isu di kalangan petani sawit, bahwa kalau dulu sawit yang menyerobot hutan, kalau saat ini justru hutan yang menyerobot lahan sawit. Kami petani sawit Apkasindo seluruh Indonesia sepakat, bahwa Kawasan Hutan Lindung dan Suaka Marga Satwa haram untuk dijadikan kebun sawit. Tapi untuk kawasan hutan lainnya supaya Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

17


wawancara khusus

dapat dipertimbangkan untuk usaha lahan sawit (bagi yang sudah terlanjur). Saat ini banyak petani sawit yang menjadi korban karena ketidak-tahuan dan PKS-PKS sudah mulai memilih TBS yang berasal dari non-kawasan hutan. Ini sangat berbahaya terhadap stabilitas sosial-ekonomi-kamtibmas kalau benarbenar terjadi. Kasihan kepada Aparat Penegak Hukum/ Polhut yang harus berurusan dengan lapisan masyarakat petani yang sejujurnya aparat ini pun tidak sampai hati menangkap dan memenjarakan petani, karena mereka tahu, bahwa bertani sawit bukan untuk menjadi kaya raya tapi adalah untuk bertahan hidup/anak/istri dan petani sawit juga berhak bahagia dengan hasil perjuangannya. Problem petani selanjutnya (c) adalah banyaknya lahan petani sawit yang saling sengketa dengan perusahaan perkebunan ataupun dengan HTI. Banyak argumen yang diajukan oleh para pihak yang bersengketa dan sudah berkepanjangan persoalannya, bahkan ada yang sudah sampai gugat-menggugat. Kalau

18

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

Apkasindo melihat persoalan ini memang harus diselesaikan tripartite (petani-pemerintah-perusahaan), pemerintah harus hadir mencari solusi yang tentunya tetap mengedepankan kepentingan mayarakat banyak. Untuk itu Apkasindo Riau berharap kepada Pak Syamsuar selaku Gubernur Riau terpilih yang dikenal sebagai sosok Pengayom Petani Sawit, supaya menginvetarisir lahan-lahan petani sawit yang masih terjebak dalam kawasan hutan dan yang saling sengketa untuk kemudian dicarikan solusi, sehingga petani sawit dapat hidup dan bekerja dengan nyaman dan bisa berhubungan dengan dunia perbankan karena lahan sawit-nya sudah bisa â&#x20AC;&#x2DC;disekolahkanâ&#x20AC;&#x2122; ke Bank untuk modal usaha dan belanja sarana produksi sawit. Sawitplus : Persoalaan apa sajakah yang

harus dibenahi gubernur baru di 100 hari pertama memerintah? Gulat Manurung : Program 100 hari ke depan. 100 hari itu hanya 3 bulan, tidak dapat membingkai 3 bulan untuk gambaran 60 bulan ke depan. Kami melihat Program 100 hari itu tidak begitu urgen, tapi bagaimana Pak Syamsuar memilah mana yang skala prioritas mendesak, mana yang jangka panjang. Jika ditanya petani sawit mana yang urgen, tentu kami berharap bahwa Penertiban Tata Niaga Harga TBS menuju Konsep Satu Harga. Jika Perusahaan PKS tidak mau (misalnya dengan Pergub seperti yang sudah dilakukan beberapa Gubernur lainnya), maka Gubernur harus bertindak tegas dengan mencabut izin PKS-nya, jika itu yang menjadi pilihan terakhir. Jika tidak tegas, maka akan selalu terulang dan terulang.*


Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

19


gapki riau

GAPKI Riau Bahas Fluktuasi Harga Minyak Sawit Dunia

T

radisi ngopi pagi dilangsungkan pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau, Sabtu (4 Agustus 2018). Di tengah harga minyak sawit dunia yang belum menentu, maka bersama Universitas Riau dan Sawitplus. co mendiskusikan soal itu. Diskusi non-formal itu berlangsung begitu saja. Harga minyak sawit dunia yang merosot akibat perang dagang China-Amerika Serikat dan pengenaan tarif masuk tinggi diberlakukan India telah menjadikan seluruh stakeholder sawit kelimpungan. Penurunan harga yang diaki-

20

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

batkan situasi polititk global itu membuat banyak pihak sulit memprediksi apa yang bakal terjadi. Harga minyak sawit yang terus fluktuatif menyebabkan stok meninggi dan pasar menyempit. Untuk itu Ketua GAPKI Riau, Saut Sihombing, Pembina

GAPKI Wisnu, Sekretaris GAPKI Riau Marianto, serta pengurus yang lain hanya berharap agar program B-20 segera direalisasi. Itu untuk menstabilkan produksi minyak sawit yang menumpuk. Selain membicarakan persoalan yang aktual itu, GAPKI Riau juga membahas berbagai program untuk ke depan. Organisasi ini mengajak para pakar dari Universitas Riau memperkuat eksistensi kelapa sawit. Dalam waktu dekat ini Unri akan dilibatkan dalam diskusi saat Mukercab GAPKI Riau yang direncanakan digelar tanggal 24-25 Agustus 2018 yang ditempatkan di Hotel Pangeran. Selain itu, secara organisatoris, GAPKI akan mendirikan Forum Andalas yang melibatkan enam cabang GAPKI yang ada di Pulau Sumatera. â&#x20AC;&#x153;Ini akan kita langsungkan tanggal 15 Agustus,â&#x20AC;? kata Sekretaris GAPKI Riau, Marianto. (jss)


gapki riau Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau melakukan sosialisasi Permen LHK yang mengatur tentang baku mutu air dan limbah serta pengendalian pencemaran air. Sayang pemateri tidak tahu lingkungan dan kurang siap untuk memberi jawaban definitif. Akibat itu, maka suasana sosialisasi menjadi gaduh. Sebab produk hukum yang harusnya mengatur rinci tentang aturan yang menyangkut perizinan itu jadi bias. Apalagi ketika pemateri Widi Turaningsih, Direktur Pengendalian Pencemaran Air KLHK menjawab, karena petunjuk teknis belum ada, maka dipersilahkan masingmasing perusahaan melakukan inovasi.

Gapki Riau Gelar Sosialisasi Permen LHK

â&#x20AC;&#x153;Terus kalau kita melakukan inovasi, nanti ijin kita dibatalkan. Ini kan gawat dan pekerjaan sia-sia untuk kita,â&#x20AC;? kata seorang penanya.

Dalam Permen ini masih terdapat multitafsir serta definisi yang belum jelas antara kemauan Permen itu dengan kondisi di lapangan. Dan ini yang banyak mengundang pertanyaan, dari yang dimaksud limbah domestik, hingga hal-hal teknis lainnya.

Acara sosialisasi yang diadakan GAPKI Riau untuk anggotanya di Hotel Pangeran, Sabtu (28 Juli 2018) itu memang seksi. Sebab ada banyak pihak yang kurang paham tentang Permen LHK No P.68/ Menlhk/Setjen/Kum, 1/8/2016 tentang baku mutu air limbah domestik.

Ketika ini ditanyakan peserta yang semuanya adalah anggota GAPKI, ternyata nara sumber tidak bisa menjelaskan secara aksioma. Malah terkesan tidak pernah masuk kebun sawit dan bagaimana sebuah perusahaan perkebunan dikelola.

Penguasaan lapangan yang tidak memadai itu menjadi bumerang, ketika pertanyaan-pertanyaan lain yang bersifat teknis disodorkan. Mungkin karena itu, nara sumber dari LHK ini kemudian memberi jawaban, bahwa karena juknisnya belum ada, maka masing-masing perusahaan diminta untuk melakukan inovasi sendiri-sendiri. Jawaban ini yang membuat audience menjadi gaduh. Sebab mereka tahu, bagaimana selama ini sering terjebak dalam aturan-aturan yang tidak jelas seperti itu. (jss)

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

21


apkasindo riau

Harga TBS Terjun Bebas,

Apkasindo Gelar FGD TBS Berkeadilan Dalam rangka menyikapi permasalahan harga TBS petani yang terjun bebas, serta mempertajam pemahaman Permentan No.1/2018 tentang penetapan harga TBS dan menindaklanjuti MoU antara Apkasindo dengan GAPKI, DPW Apkasindo Riau akan mengadakan Forum Grup Discussion FGD Tata Niaga TBS kelapa sawit Riau, dengan Tema “ mewujudkan kesejahteraan petani dengan harga TBS yang berkeadilan”. Acara ini digelar tanggal 25-26 Juli 2018 di Pekanbaru, Riau. rekomendasi penerbitan peraturan Gubernur Riau tentang harga TBS sebagai turunan dari Peraturan Menteri Pertanian. “Melalui FGD ini, kami berharap, sebagaimana yang tertulis dalam permentan no.1/2018, tujuan pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada petani kelapa sawit dalam memperoleh harga wajar TBS dan menghindari persaingan tidak sehat antar perusahaan perkebunan dapat terwujud tanpa kecuali,” kata Gulat Manurung. FGD ini juga merupakan lanjutan dari Pertemuan/Rakor dengan Kemenko Maritim Luhut Panjaitan mengenai rencana kerjasama Apkasindo membangun PKS Apkasindo di berbagai provinsi penghasil sawit, yang dimulai dari Riau dan Kalimantan Tengah. “Sebab sebelum sampai ke pendirian PKS banyak faktor yang harus dipenuhi, khususnya penyamaan persepsi tentang Tata niaga dan Penghitungan Harga TBS, yang kebetulan Apkasindo bagian dari Tim Penentuan Harga TBS Riau yang dikomandoi oleh Dinas Perkebunan ProvinsiRiau,” ujar Rino Afrino.

FGD ini diikuti oleh berbagai unsur, baik petani, pengusaha, pemerintah daerah, dan akademisi. Perwakilan Petani kelapa sawit hadir dari 11 kabupaten kota se Riau, dengan berbagai kelompok/ tipe petani yaitu swadaya, PIR, KKPA, KUD, maupun Kelompok Tani. Itu disampaikan Ketua DPW Apkasindo Riau Ir. Gulat ME Manurung, MP didampingi oleh Sekretaris Rino Afrino, ST MM.

22

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

Di dalam FGD ini, para peserta dapat memahami penjelasan/definisi yang ada pada regulasi (cakupan aspek hukum) yang ada, serta dapat mengungkap segala permasalahan tata niaga TBS yang ada di lapangan. Selanjutnya para pihak yang hadir dapat mencari solusi bersama atas permasalahan tersebut. Solusi itu menjadi

Apkasindo bukan hanya sekadar organisasi petani semata, tapi dalam organisasi Apkasindo ini terdiri dari Tenaga Ahli, Akademisi dan Praktisi yang kebetulan juga sebagai Petani Swadaya. “Jadi sangat sigap menyikapi pergolakan perkelapasawitan nasional dan internasional,” tambah Rino. Pembicara dan narasumber yang akan hadir antara lain Prof Dr Ponten Naibaho, MAgr, Dr. Bayu Krisnamukti, DitjenBun, Dinas Perkebunan Riau, Pokja Tim TBS Riau, dan GAPKI sendiri sebagai mitra Apkasindo. (jss)


apkasindo riau

Apkasindo Taja Tata Niaga TBS Sebagai Solusi Merosotnya Harga Sawit

G

ubernur Riau yang diwakili Ferry HC, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Riau membuka acara Focus Group Discussion (FGD) Tata Niaga TBS Kelapa Sawit. Acara yang diselenggarakan di Hotel Grand Sopa Pekanbaru, Rabu (25/7) ini, turut dihadiri oleh kalangan pemerintah daerah, pengusaha sawit dan masyarakat petani. Dengan mengusung tema Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kelapa Sawit Riau Melalui Harga TBS yang Berkeadilan diharapkan menjadi solusi terbaik dalam

menstabilkan kembali harga kelapa sawit. Dalam sambutannya, sedikit harapan yang disampaikan Ketua Apkasindo DPW Riau, Gulat Manurung, adalah wacana petani sawit tidak hanya sebagai petani, namun juga nantinya bisa menjadi pengusaha pabrik CPO. Acara yang dibuka langsung Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Ferry HC ini dihadiri para petani kelapa sawit kabupaten kota se Provinsi Riau. Acara pembukaan diikuti penyerahan cendramata dari Pemprov Riau ke Imar Batubara Ditjen Perkebunan. (jss)

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

23


24

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018


Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

25


PT SSR bagikan Sembako

ke Warga Talang Jerinjing

M

asyarakat Dusun Payarumbai, Desa Talang Jerinjing mendapat sembako dari PT Swakarsa Sawit Raya (SSR), Rabu 07 Mei 2018. Ada 125 paket sembako disalurkan pada warga yang berada di sekitar perusahaan yang terletak di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau itu. "24 Kepala Keluarga dari dua dusun menerima sembako. Sembako yang dibagi itu bermacam-macam, seperti telor, minyak goreng, indomie, beras, minuman, serta parsel lebaran lainnya,” kata Maria. Ya, Maria Fransica Endy, Direktur PT SSR tidak mau ketinggalan untuk blusukan

26

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

menyalurkan sembako langsung ke tangan masyarakat yang kurang mampu. "Ia juga merasa apa yang dirasakan masyarakat tempatan di saat momen menyambut hari raya Idul Fitri tahun 2018 ini," kata Anggi saat acara buka puasa bersama di halaman kantor PT SSR. Manager Pabrik Kelapa Sawit Swakarsa Sawit Raya, Stenly Manalu menuturkan, bahwa dia beserta karyawan lainnya ikut blusukan ke rumah masyarakat untuk mendampingi ibu Maria Fransica Endy selaku istri Direktur. Kegiatan ini sebagai bentuk social perusahaan terhadap masyarakat. Bukan itu saja. Tiap tahun secara rutin PT SSR

menyalurkan CSR ke Desa Talang Jerinjing, Kecamatan Rengat Barat. “Ini rutin kita lakukan,” tambah Stenly. Buyung, salah satu dari 24 warga yang menerima sembako dari PT Swakarsa Sawit Raya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah ia terima. “Mudah-mudahan PT SSR selalu jaya dan lancar bisnisnya,” katanya singkat. "Harapan saya, kegiatan CSR ini bisa membantu mensejahterakan masyarakat tempatan yang membutuhkan bantuan," tambah Buyung saat menerima sembako dari Maria Frasica Endy. Masyarakat merasa terbantu dengan bantuan sembako dari perusahaan ini. Apalagi momennya pas di bulan Ramadhan. Saat itu, 24 warga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1439 H dan selamat hari raya Idul Fitri 2018 yang sebentar lagi tiba, mohon maaf lahir dan batin. (ad/dan)


Milad Desa Petala Bumi

Dimeriahkan Turnamen Sepak Bola

M

ilad yang Ke-37, Desa Petala Bumi Kecamatan Seberida menggelar Open Cup 2018 turnamen sepak bola sekaligus dalam rangka menyambut HUT RI Ke-73.Kegiatan tersebut secara resmi di buka oleh Bupati Inhu, H. Yopi Arianto, SE, Ahad 29 juli 2018. "Ada 64 Club yang ikut serta dalam open turnamen sepak bola tersebut, ini diadakan untuk mempererat silaturahmi para Atlet sepak bola dari semua penjuru yang ada di Kabupaten Inhu," kata Ketua Panitia Dasro Haryanto. Selanjutnya, Ketua panitia juga mengucapkan terima kasih kepada Bupati Inhu beserta rombongan bisa hadir memenuhi undangan panitia untuk membuka secara resmi Open Cup Desa Petala Bumi 2018 tersebut. Dalam acara pembukaan turnamen itu dihadiri oleh, H. Yopi Arianto SE (Bupati Inhu), Ir Hendrizal MSi (Sekertaris Daerah Inhu), H. Suradi SH (Anggota Dewan Inhu), Samsudin (Anggota Dewan Inhu), Kepala Badan, Kepala Kantor, KONI Inhu, Camat Seberida, Polsek dan Danramil. Selain itu juga tampak hadir, Subani (Kades Petala Bumi), Rusman Yatim (Kades Payarumbai Rumbai), Ajirin (Kades Sibabat), Bung Mardi (Ketua DPC LMP), serta para tokoh masyarakat tempatan.

H. Yopi Arianto SE, dalam sambutanya sangat mengapresiasi kinerja panitia penyelenggara di mana panitia mampu untuk menyedot animo klub-klub untuk mengikuti turnamen tersebut hingga mencapai 64 tim. "Semoga dalam gelaran ini mampu menciptakan para atlet sepakbola Inhu yang handal," harap bupati. "Melalui turnamen ini para Atlet sepak bola dapat mempererat jalin silaturahmi dari masing-masing Club yang ikut turnamen ini," lanjutnya. Tak sampai di situ saja, Bupati Inhu memberikan apresiasi luar biasa terhadap pembangunan-pembangunan yang ada di Desa Petala Bumi. Bupati Yopi menilai, pembangunan yang ada di Desa tersebut

sungguh sangat pesat perkembangannya. Apalagi, lanjut Yopi, Desa Petala Bumi mempunyai Pendapatan Asli Desa (PAD) yang dapat mendongkrak pembangunan serta kesejahteraan masyarakatnya, itu terlihat dari fasilitas-fasilitas desa yang menjadi icon desa itu sendiri. "Semoga ini bisa menjadi contoh untuk desa lainnya yang ada di Kabupaten Indragiri Hulu," tukasnya. Pertandingan pembuka, eksebisi antara tim TNI/Polri berhadapan dengan tim Kepala Desa se-Kecamatan Seberida. Di mana, di dalamnya Bupati Inhu ikut terlibat memperkuat salah satu tim yaitu tim para Kepala desa. Namun dalam pertandingan eksebisi tersebut tim Kades harus mengakui keunggulan tim TNI/Polri dengan skor 2-1. (adv/dan)

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

27


tanya jawab

GULAT Medali emas

MANURUNG

(Konsultan Perkebunan Kelapa Sawit) PERTANYAAN: Banyak Faktor penyebab kegagalan dalam berusahatani kelapa sawit, dan tidak sedikit masyarakat yang ingin berkebun berpikir seribu kali jika ingin berinvestasi di sektor perkebunan kelapa sawit karena memang membutuhkan biaya dan waktu panen yang cukup lama. Menurut Bapak, faktor-faktor apa saja yang perlu diperhatikan jika ingin berkebun kelapa sawit (skala petani swadaya) sehingga resiko kegagalan dapat dihindari? JAWABAN LANJUTAN: Ad. 2. Bahan Tanaman Banyak ahli pemuliaan mengatakan bahwa bahan tanaman adalah skala prioritas 1, tetapi menurut saya bahan tanaman adalah nomor 2. Bahan tanaman adalah jenis bibit yang digunakan. Jika bibit yang digunakan adalah berasal dari produsen benih yang sudah diakui oleh pemerintah (Misalnya Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan) maka dapat dipastikan bibit tersebut adalah jenis Hibrid. Bibit yang hibrid cenderung membutuhkan pemupukan yang standar, jika kita menggunakan bibit hibrid tetapi pemupukan jarang atau tidak sesuai rekomendasi/dibawah standar maka sifat hibrid tanaman tersebut akan tidak muncul, karena memang pada hakekatnya bibit hibrid membutuhkan perawatan yang lebih dibanding bibit yang tidak jelas asal usulnya (Ilegetim; tak jelas siapa bapak dan ibunya). Perbedaan yang nyata antara bibit hibrid dengan bibit Ilgetim tampak pada jenis buah yang dihasilkan, jika bibit hibrid (DxP) buah yang dihasilkan adalah jenis Tenera (T), sedangkan jika bibit yang Ilegetim buah yang dihasilkan adalah Dura (D) dengan ciri-ciri cangkang tebal dan daging buah tipis, tentu harga di PKS untuk kedua jenis buah ini akan jauh berbeda. Ad. 3. Pupuk dan Pemupukan Untuk budidaya jenis tanaman apapun, Pupuk dan Pemupukan adalah hal yang mutlak dilakukan, apalagi untuk tanaman tahunan seperti kelapa sawit. Bisa dibayangkan jika tanaman sudah berumur 5 tahun tetapi pupuk dan pemupukan sangat minim dilakukan maka kandungan hara tanah sudah dapat dipastikan sudah habis terkuras, apalagi jika tanaman sudah berumur di atas 10 tahun. Hal ini sangat berbeda dengan dengan tanaman dikotil (seperti karet), dimana perakaran

28

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

tanaman karet bisa mencapai 20-30 meter, tetapi kelapa sawit tidak pernah lebih dari 3 meter, artinya sangat terbatas jangkauan akar, oleh karena itu pemupukan berkorelasi positif dengan produktivitas tanaman kelapa sawit. Pertanyaan yang sering muncul; Apakah bibit yang Ilgetim juga perlu dipupuk ?; Jawabannya Perlu, Sebagai Ilustrasi: jika Bibitnya Hibrid dipupuk 1 kg akan menaikkan produksi @ 2,5 ton TBS/ha/bln, tetapi jika bibitnya Ilegetim Pemupukan 1 kg hanya mampu menaikkan produksi 1,5 ton TBS/ha/bln; Dan apabila dosis pupuk dinaikkan menjadi 1,5 kg/pokok maka bibit yang Hibrid masih merespon melalui semakin meningkatnya produksi TBS menjadi 3 ton/ha/bln, tetapi jika bibitnya Ilegetim peningkatan produksi TBS hanya 1,6 Ton TBS/ha/Bln (tidak signifikan) dalam hal ini paling tidak yang illegitim masih berproduksi minimumlah. Pemupukan kelapa sawit harus menggunakan Konsep 5T, yaitu tepat Dosis, Tepat Cara, Tepat Jenis, Tepat Waktu, dan Tepat Kualitas. Ad.4. Perawatan Tanaman Perawatan tanaman kelapa sawit meliputi pengendalian gulma, pengendali hama dan penyakit dan pemenuhan kecukupan air tanah. Dari beberapa hasil penelitian, diketahui bahwa tanaman yang tidak dirawat sesuai standart (sesuai SOP) akan menurunkan produksi sebesar 65% (pada bibit hibrid) dan 46% (pada bibit yang Ilgetim). Penurunan ini merupakan interaksi banyak faktor, seperti misalnya persaingan perakaran sawit dengan gulma, rusaknya pelepah akibat serangan hama/penyakit sehingga mengurangi penampang daun untuk melakukan fotosintesis, air tanah yang kurang (kelembapan rendah) akan mengurangi kemampuan akar untuk menyerap hara tanah. Ad. 5. Kelas Kesesuain Lahan Dalam budidaya kelapa sawit dikenal kelas

kesesuaian lahan Sebagai berikut : S1 : Sangat sesuai (highly suitable) S2 : Sesuai (suitable) S3 : Agak sesuai (marginal suitable) N1 : Tidak sesuai bersyarat (temporary not suitable) N2 : Tidak sesuai permanen (permanently not suitable) Untuk wilayah Riau, saat ini diperkirakan hanya tinggal 5 % kelas kesesuai lahan S1 yang tersisa, Kecenderungan pemanfaatan S2, S3 dan N1 untuk budidaya kelapa sawit cukup dominan saat ini. Semakin tidak sesuai kelas sesuaian lahan dari S3 ke N1 maka biaya investasi budidaya kelapa sawit semakin besar. Dari perhitungan biaya, pemanfaatan S3 akan meningkatkan biaya sebesar 45 % sd 85 % pada N1 dibandingkan kelas kesesuaian lahan S2. Ini baru dari segi biaya pembangunan dan perawatan kebun serta infra struktur, bagaimana pula dengan produktifitas tanaman? Produktifitas tanaman di Kelas N1 45%-50% lebih rendah dibandingkan dengan S2. Untuk itu disarankan jika berinvestasi dilahan kelas N1 apalagi N2 supaya dipertimbangkan matang-matang dan tidak memaksakan diri sekalipun modal kita mumpuni untuk itu, persoalannya adalah umur produktif tanaman kelapa sawit 22-25 tahun, bisa dibayangkan selama itu pula kita frustasi. Contoh Kelas N1 ini misalnya: Tanah gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter, tanah yang dipengaruhi oleh pasang surut air sungai/laut, tanah yang berasal dari endapan sungai yang menjadi darat. Sebagai perbandingan : Berusahatani kelapa sawit di Kelas Sesuaian lahan N1 10 hektar sama dan sebanding hasilnya berusahatani kelapa sawit 4 ha di kelas kesesuaian lahan S2 (dengan asumsi sama-sama menggunakan bibit hibrid). BERSAMBUNG...


tanya jawab

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

29


kisah sukses

Petani asal Desa bukit Meranti kecamatan Siberida, Kabupaten Inhu, Riau ini sukses menciptakan dan menjual pupuk organik tabur dengan omzetnya ratusan juta rupiah tiap bulan hanya dari kotoran. Bisnis tersebut berawal dari kelangkaan pupuk yang kerap terjadi di saat memasuki musim tanam. dia memeras otak. Melihat kotoran ayam bahkan pernah kotoran manusia yang ada membuat dia terinspirasi membuat pupuk organik.

Mufid, Pengusaha Pupuk Organik Tabur

Sulap Kotoran

Jadi Pupuk Organik Bermula karena sulit mendapatkan pupuk berkualitas dengan harga murah membuat pria asal Wonosobo bernama Mufid (63) ini terinspirasi membuat pupuk organik untuk kebunnya.

30

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

Tidak hanya itu, berbekal alat gilingan kopi, Mufid mulai mengolah sendiri kotoran tersebut menjadi pupuk organik. Alhasil pada tahun 2009, owner CV Sarana Tani Utama (STU) ini jadi pembicaraan, tak sedikit dari beberapa petani sekitarnya mulai memesan pupuk organik tabur kepadanya. Pasalnya pupuknya tersebut banyak memiliki keunggulan. â&#x20AC;&#x153;Mungkin karena mereka melihat hasil tanaman di kebun saya yang subur dengan menggunakan pupuk organik ini membuat mereka ingin memilikinya juga. Begitu juga soal harga, biasanya para petani ingin mendapatkan pupuk yang kualitas bagus namun harganya terjangkau, "jelas bapak dua anak ini kepada Majalah sawitplus baru baru baru ini. Kata Mufid, ada beberapa hal yang membuat para petani di desa Meranti tertarik dengan pupuk organik tabur olahannya diantaranya, memiliki unsur hara makro 7 mikro yang lengkap juga mikroba dan hormon, menggemburkan tanah dan menyuburkan tanaman, menambah bobot


kisah sukses buah dan hasil panen, memperpanjang usia atau masa panen serta mengurani busuk buat walaupun terlambat angkut, mengurangi masa trek buah, memperbaiki struktur tanah walaupun sudah sangat kritis sekalipun, sudah dilakukan permentasi hingga tidak mengandung bibit photogen atau jamur, produk dalam negeri baik mutu maupun harga serta mengandung 7 macam mikroba yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman. Dari beberapa keunggulan tersebut kata Mufid, pupuknya suka dipesan dari beberapa KUD yang tidak hanya berasal dari Riau tapi juga sudah merambah ke beberapa daerah lain seperti di provinsi Sumatera Barat. Beberapa KUD di Darmaseraya juga sudah memesan pupuk organik tabur yang dimilikinya, "Kita bisa memproduksi berapa saja permintaan dari para petani, karena pupuk organi milik kita tidak hanya untuk tanaman sawit semata, tetapi juga bisa juga untuk tanaman lain seperti aneka sayuran, buahan dan beberapa pohon lainnya," jelas Mufid. Soal bahan baku, kata Mufid sama sekali tidak sulit, karena begitu banyak kotoran yang tidak dimanfaatkan sehingga banyak yang dibiarkan begitu saja,"Kalau bahan baku saya sudah memiliki pemasok sendiri diantaranya kotoran ayam yang didatangkan langsung dari Payakumbuh. Pokoknya untuk bahan baku tidak perlu takut karena kita siap memproduksi berapa saja, apalagi saat ini pabrik pupuk milik saya sudah dileng-

kapi alat produksi yang sudah sesuai standarnya," tutur kakek empat cucu ini bersemangat. Pria yang pernah meraih penghargaan dari Presiden Suharto ini juga mengaku, saat ini pupuk organik tabur juga ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau namun tetap memiliki kualitas yang tinggi serupa dengan

pupuk pupuk standar nasional lainnya, â&#x20AC;&#x153; Kalau bicara kualitas, pupuk organik tabor olahan saya bisa diuji dengan pupuk pupuk sekelasnya, karena tak heran banyak petani petani yang dating langsung memesan produk kami,â&#x20AC;? tuturnya. (lina)

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

31


Hadi Sugeng: Lingkungan Makin Hijau dengan Sawit, Masyarakat Makin Sejahtera

Chief Agronomy and Research Officer, M Hadi Sugeng Wahyudiono yang hadir menerima penghargaan tersebut mengaminkan bahwa Astra Agro berkomitmen penuh pada tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan kebijakan berkelanjutan (sustainable policy).

erusahaan sawit kembali menepis isu negatif yang mempertanyakan keberlanjutan industri kelapa sawit. Astra Agro, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit, menjawab isu tersebut dengan membawa pulang penghargaan pada acara KEHATI Appreciation 2018.

”Kesadaran penduduk dunia terhadap aspek-aspek keberlanjutan terus meningkat, sehingga perusahaan dituntut untuk bisa menciptakan hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar. Kami berkomitmen agar lingkungan makin hijau dengan sawit, dan kehidupan masyarakat bisa makin sejahtera,” ungkapnya.

P

“Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan yang berkomitmen penuh, tidak hanya sekedar menghasilkan keuntungan dalam bentuk profit, namun juga aspek-aspek lain terutama keberlanjutan lingkungan dan kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar,” ungkap Chief Editor Majalah SWA, Kemal Effendi Ghani saat membuka acara di Midplaza Ayana, Jakarta Selatan Rabu (11/7/2018). Penghargaan ini sekaligus menjawab kampanye nagtif yang selalu dialamatkan pada industri kelapa sawit sebagai salah

32

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

satu penyebab tidak stabilnya ekosistem lingkungan hidup. Kemal menjelaskan, ada tiga poin utama yang dijadikan parameter dalam penilaian tersebut yakni kemampuan perusahaan dalam menjalankan bisnis dengan menghasilkan profit (ekonomi), komitmen terhadap kelestarian lingkungan hidup (lingkungan) serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar (sosial). KEHATI Appreciation 2018 sendiri telah memasuki gelaran ke tujuh. Secara konsisten memberikan apresiasi kepada 25 perusahaan yang dinilai telah berkomitmen penuh terhadap aspek kelestarian lingkungan hidup dan sosial masyarakat. “Selamat kepada para pemenang Anugerah KEHATI 2018. Semoga bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain,” pungkasnya.

Hadi Sugeng menambahkan bahwa komitmen tersebut sejalan dengan tujuan utama dari perusahaan yakni “Prosper with the Nation” atau sejahtera bersama bangsa. “Kehadiran industri kelapa sawit tidak hanya sekedar untuk menghasilkan profit, namun diharapkan bisa menjadi berkah dan sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Untuk itu, Astra juga juga berkomitmen penuh pada empat pilar utama tanggung jawab perusahaan yang terdiri atas pendidikan, kesehatan, kewirausahaan dan lingkungan.” pungkasnya.*


CIA 2018

Astra Agro Berhasil Bawa Industri Sawit Jadi Perusahan Idaman di Indonesia PT Astra Agro Lestari Tbk, dianugerahi penghargaan sebagai The Best in Building and Managing Corporate Image Awards 2018. Perusahaan dinilai berhasil membawa dan menjaga nama baik, sehingga berhasil menjadi salah satu perusahaan idaman di mata publik. "Kami memberikan penghargaan kepada perusahaan yang berhasil menjaga citra baik dan reputasi brand (good corporate image) di Indonesia, salah satunya dari sektor Agribisnis adalah Astra Agro," ungkap Chairman Frontier Consulting Group, Handi Irawan yang menyerahkan penghargaan secara langsung kepada para pemenang (7/6/2018).

gaan tersebut mengucapkan terima kasih atas penghargaan yang diterimanya. "Ini akan menjadi motivasi bagi kami untuk terus melakukan inovasi dan menjaga kualitas, kinerja, serta tanggung jawab sosial kami sebagai korporasi agar masyarakat mengenal kami tidak hanya sebagai sebuah entitas bisnis namun telah melekat erat bersama masyarakat secara umum. Sebagaimana keberadaan sawit yang sejatinya tidak bisa terpisahkan dengan kehidupan masyarakat saat ini," ujar Joko Supriyono.

CIA 2018 (Corporate Image Awards) adalah penghargaan yang diberikan kepada perusahaan yang paling dikagumi di Indonesia berdasar survey yang dilakukan oleh frontier terhadap empat kelompok responden yang berjumlah 3.000 responden, terdiri dari 660 responden untuk panel publik, 1.140 panel manajemen, 1.020 panel investor, dan 180 panel jurnalis. Kriteria responden investor adalah mereka yang pernah melakukan transaksi saham di Indonesia ataupun luar negeri dalam satu tahun terakhir dan/atau saat ini menanamkan modal dalam bentuk saham, obligasi, ataupun reksa dana pada perusahaan tertentu. Responden manajemen diambil dari mereka yang mempunyai jabatan minimal manajer pada perusahaan barang/jasa dengan usia 30-60 tahun. Responden jurnalis dengan usia 20 dan 50 tahun. Sementara untuk responden publik diambil dari masyarakat umum dengan usia 21-60 dan minimal mereka berasal dari kelas A+ dan memiliki pengeluaran paling sedikit Rp 5 Juta per bulan.

Joko menambahkan, penghargaan ini menjadi salah satu bukti, saat ini perusahaan sawit menjadi salah satu perusahaan yang berhasil menarik minat masyarakat untuk bekerja. "Itu artinya kesadaran masyarakat terhadap dampak positif dari keberadaan industri sawit sudah semakin baik" imbuhnya. Untuk kriteria penilaian menggunakan empat dimensi yaitu Kualitas (perhatian tinggi terhadap konsumen, produk/jasa berkualitas tinggi, perusahaan dapat dipercaya dan inovasi), Kinerja (tata kelola perusahaan dengan baik dan peluang untuk tumbuh dan berkembang), Tanggung Jawab (kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan tanggung jawab sosial), dan Daya Tarik (berdasar pada perusahaan sebagai tempat kerja idaman dan sejauh mana perusahaan memiliki karyawan berkualitas. Vice President PT Astra Agro Lestari Tbk, Joko Supriyono hadir menerima penghar-

Astra Agro sendiri akan memasuki usia ke 30 pada bulan Oktober ini. Selama hampir 30 tahun, Astra Agro senantiasa menjaga komitmen untuk selalu berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sesuai dengan motto perusahaan ini yaitu Prosper with the Nation (sejahtera bersama bangsa). "Memasuki usia ke-30 tahun ini, kami mengangkat tema 30 Tahun Bakti Untuk Negeri, yang didalamnya terdapat program-program seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan dan peningkatan perekonomian masyarakat," pungkasnya.* Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

33


34

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018


5 Mitos Tentang Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah

S

eberapa jauh anda tahu tentang kesehatan jantung dan pembuluh darah?Ada banyak asumsi yang beredar di masyarakat, baik dari isu yang kita dengar dari teman atau keluarga; ataupun hoax yang beredar di media social. Banyak anggapan bahwa penyakit jantung hanya terjadi pada manula (orang lanjut usia; > 65 tahun), atau hanya pada orang-orang yang mengkonsumsi makanan berminyak.Tahukah anda, bahwa penyakit jantung bisa menyerang siapa saja, berapapun umurnya, bahkan pada orang yang sudah menjaga pola konsumsi makanan, termasuk vegetarian. Dua puluh hingga tiga puluh tahun lalu penyebab kematian utama di dunia adalah penyakit infeksi, namun saat ini penyakit jantung dan pembuluh darah sudah menjadi penyebab kematian teratas di dunia; bahkan lebih daripada kanker yang sungguh ditakuti oleh masyarakat.Apalagi kalau kita mendengar perjuangan panjang artis yang meninggal karena penyakit kanker. Pengetahuan yang baik sangat diperlukan agar kita bisa membedakan antara fakta dan mitos yang sering kita dengar. Di antaranya adalah: 1. Usia saya terlalu muda untuk terkena penyakit jantung. Penyakit jantung terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah jantung yang dikenal sebagai pembuluh arteri koroner.Jika jantung diibaratkan sebagai sawah, maka pembuluh koroner ini adalah irigasi memberi makanan kepada jantung.Pembuluh atau urat koroner ini bisa mengalami penyempitan akibat adanya kerak atau plak lemak yang menempel pada dindingnya. Wajib diketahui bahwa plak ini sudah terbentuk sejak di usia dini (anak-anak atau remaja), dan di usia yang lebih tua, arteri koroner akan mengalami penyumbatan (istilah lain untuk penyempitan yang sudah parah). Saat ini, serangan jantung diketahui terjadi pada usia yang lebih muda. Tak jarang di umur 30-40 tahun, bahkan di usia 20-an tahun, terutama jika mengidap penyakit diabetes (penyakit gula) atau memiliki kebiasaan merokok. 2. Penyakit darah tinggi hanya terjadi pada orang yang bergejala sakit kepala. Jika saya tidak mengeluhkan apa-apa, berarti tekanan darah saya normal.

Karena tubuh sudah beradaptasi dengan tekanan darah yang lebih tinggi, menurukan tekanan darah pada orang tua harus dilakukan secara perlahan.Penurunan tekanan darah yang mendadak bisa menyebabkan pusing/ goyang saat berjalan.Pusing juga sering terjadi saat perubahan posisi; misalnya dari tidur ke duduk, atau dari duduk ke berdiri.Pemantauan atau kontrol dengan dokter diperlukan sekali agar tidak jatuh saat berjalan.

dr. Dasdo Antonius Sinaga, SpJP(K), FIHA Konsultan Kardiologi Intervensi Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru Penyakit darah tinggi bisa membunuh secara â&#x20AC;&#x153;diam-diamâ&#x20AC;? karena seringkali pasien tidak menyadari bahwa tekanan darahnya tinggi. Tekanan darah yang normal adalah < 140/90 mmHg. Kita tak bisa tahu berapa tinggi tensi jika jika tidak mengeceknya. Jika menunggu gejala seperti sakit kepala, pusing, pingsan, atau stroke, artinya kita menunggu terjadi komplikasi. Gejala yang tersebut di atas adalah tanda bahwa tubuh sudah memberi sinyal bahaya. Lebih baik mengetahui tekanan darah dengan benar-benar mengukur memakai tensimeter secara berkala. Pengobatan tekanan darah meliputi perubahan gaya hidup sehat: makanan rendah garam, berolahraga, mengurangi konsumsi gula, dan jika belum terkontrol, sebaiknya mengkonsumsi obat-obatan. 3. Umur saya sudah tua. Tekanan darah 150-160 mmHg sudah biasa, tidak menyebabkan pusing dan tidak perlu minum obat. Tekanan darah yang normal untuk SEMUA umur adalah <140/90 mmHg, dengan target tekanan darah optimal adalah 125-135/60-80 mmHg. Orang tua, walaupun berusia >60 tahun, jika dibiarkan memiliki tekanan darah yang tinggi akan berisiko terjadi stroke dan serangan jantung.

4. Saya tidak mengalami sakit dada, artinya saya tidak mengalami sakit jantung. Saya mengalami nyeri di ulu hati, apakah ini sakit jantung atau sakit asam lambung? Gejala utama dan paling sering dari serangan jantung adalah nyeri dada atau sesak di dada yang menembus ke punggung, kadang-kadang menjalar ke leher seperti tercekik atau nyeri rahang, atau ke lengan kiri. Namun pada kasus tertentu gejala klasik seperti itu tidak nyata. Banyak pasien mengeluhkan tanda-tanda seperti sakit lambung/sakit maag, seperti nyeri ulu hati, mual dan muntah, pusing, ternyata terkena serangan jantung akut. Sebaliknya juga sama, tidak semua sakit dada merupakan serangan jantung. Nyeri pada bagian dada bisa terjadi karena naiknya asam lambung (dikenal sebagai penyakit GERD/ Gastoesophageal reflux disease), nyeri otot dan tulang, atau sakit kulit. Memeriksakan diri secara awal lebih baik ke dokter lebih sangat dianjurkan agar penanganan yang cepat bisa dilakukan dan mencegah komplikasi yang lebih berat. 5. â&#x20AC;&#x153;Walaupun saya menderita penyakit gula atau diabetes, saya tidak akan terkena penyakit jantung selama menkonsumsi obat-obat diabetes.â&#x20AC;? Mengontrol kadar gula darah dengan obat-obatan akan menurunkan risiko atau menghambat terjadinya penyakit jantung. Namun, bahkan jika kadar gula sudah terkontrol, seluruh penderita diabetes memiliki risiko tinggi jadi penyakit jantung dan stroke. Hal ini terjadi karena seluruh faktor yang menyebabkan penyakit gula, juga berpotensi menyebabkan penyakit penyempitan pembuluh darah arteri koroner, termasuk tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan dan obesitas, aktivitas fisik yang kurang dan kebiasaan merokok.*

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

35


profil Provinsi Riau bila diukur secara ekonomi makro saat ini, bila dikaitkan dengan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), maka laju pertumbuhan PDRB di Riau cenderung menurun. Era tahun 90-an hingga 2000-an, pertumbuhan perekonomian Riau bisa di atas 7 persen. Bahkan bisa hingga 8 persen. Untuk kawasan Sumatera sendiri, pertumbuhan ekonomi Riau termasuk tinggi saat itu. Tetapi, mulai tujuh tahun terakhir ini, pertumbuhan ekonomi Riau di bawah 5 persen. Bahkan hingga ke angka dua persen lebih. Hal ini menunjukkan, bahwa gerakan perekonomian di Riau mulai melambat.

Provinsi Riau. Menurut Emrizal yang pernah menjabat sebagai Kepala Bappeda Riau itu, faktor perlambatan ekonomi di Riau dipengaruhi secara nasional maupun internasional. Sebabnya ada beberapa harga komoditas yang menurun. Misalnya komoditas sektor pertanian, khususnya sub sektor perkebunan, apakah itu kelapa sawit, karet, terjadi penurunan harga. Kalaupun ada kenaikan harga, namun kenaikannya lambat sehingga komoditas ini mempengaruhi perekonomian di Riau. Perlambatan ekonomi, lanjut pria kelahiran Kabupaten Indragiri Hulu ini, juga dipengaruhi produksi yang juga mengalamai perlambatan peningkatan.

Ditemui di ruang kerjanya di Gedung Koni Riau, Pakar Ekonomi yang menjabat Ketua Koni Riau itu, DR H Emrizal Pakis SE MM, kepada Majalah Sawit Plus, bercerita banyak tentang persoalan ekonomi yang sedang dihadapi

â&#x20AC;&#x2DC;Tahun 80-an hingga 90-an,

produksi pertanian yang melesat setiap tahun secara signifikan. Karena lahan tersedia dalam kawasan-kawasan tata ruang. Ada kawasan yang namanya APL (Areal Penggunaan Lainnya) yang bisa dijadikan area perkebunan. Di sisi lain ada yang namanya kawasan konservasi, kawasan hutan, kawasan hutan lindung yang tidak bisa diproduksi untuk perkebunan," jelas mantan Asisten III Sekda Provinsi Riau ini. Sekarang ini, lanjutnya, yang bisa diamati, untuk kawasan APL itu sangat terbatas, karena kawasan sudah terpakai full untuk aktifitas, baik itu untuk pertanian, industri, permukiman, perumahan. Jadi untuk menambah lagi kawasan yang digunakan untuk sektor pertanian sudah terbatas. â&#x20AC;&#x153;Padahal setiap lahan yang berkembang itu dapat menghasilkan produksi yang terus bertambah. Karena produksi bertambah, maka nilai harga dan nilai produksi yang dihasilkan itu menjadi aset ekonomi yang berkembang di daerah,â&#x20AC;? tambahnya. Menurutya, perlambatan ekonomi itu bisa dipengaruhi oleh harga komoditas secara nasional dan internasional yang terjadi penurunan. Kalaulah terjadi kenaikan, kenaikannya itu lambat sekali. Disamping ketersediaan lahan usaha yang terbatas yang berpengaruh pada peningkatan hasil produksi. "Misalnya saja harga karet sekarang. Harga karet

DR H Emrizal Pakis SE MM:

Pertumbuhan Ekonomi Riau Mulai Terjadi Perlambatan 36

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018


profil hanya berkisar enam ribu hingga tujuh ribu rupiah perkilogram. Padahal dulunya bisa berkisar belasan ribu rupiah. Dan sekarang, bertahun-tahun harga karet di kisaran itu. Sedangkan untuk harga sawit sendiri, terjadi fluktuasi harga, dari Rp 1.500, sekarang tinggal Rp 1.000-an saja," ujarnya.

hat kenapa harga ini bermasalah. Mengapa harga tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Kalaupun ada perbedaan berapa persen perbedaannya, karena harusnya perbedaannya tidak terlalu besar. Jika errornya hanya 10 persen berarti ada kesalahan dari faktor ekenomi lain, bisa jadi biaya transportasi dan lainnya.

"Di Riau saat ini penambahan aset-aset produktif untuk sektor produksi sudah terbatas. Lahan yang tersedia tidak mencukupi lagi untuk pengembangan, karena kita sudah mempunyai batasan kawasan hutan dan kawasan hutan lindung. Inilah dua faktor yang mengakibatkan terjadi perlambatan itu," terang mantan Plt Gubernur Riau tahun 2016 silam ini.

Yang kita lihat saat ini di Riau, ungkapnya, petani-petani sawit itu sangat terbantu perekonomiannya. Keberadaan perkebunan sawit sangat mendorong kesejahteraan masyarakat. Masyarakat saat ini sudah punya sawit, sudah punya lahan. "Tetapi kalau harganya tidak sesuai dengan harapan masyarakat, pendapatan masyarakat akan kembali turun, dan kesejahteraannya pun ikut menurun," tukasnya.

Dari sekian lapangan usaha yang ada di Riau, lanjutnya, kontribusi terhadap PDRB ada 4 lapangan usaha yang dominan berkontribusi. Pertama, lapangan usaha pertambangan yang paling menonjol di Riau adalah minyak bumi. Selanjutnya, lapangan usaha pertanian, yang kendalanya keterbatasan perluasan lahan. Selain itu ada lagi lapangan usaha industri. Cuma industri di Riau yang berkembang dan memberikan kontribusi besar adalah industri yang berbasis bahan baku pertanian. Misanya saja industri kertas. Industri kertas ini juga sumbernya dari kayu yang jumlahnya mulai terbatas. "Karena bila mau mengembangkan HTI lagi, salah-salah bisa masuk ke kawasan hutan lindung dan lainnya. Ini yang mengakibatkan sektor industri jadi terbatas juga," jelasnya. Berikutnya adalah lapangan usaha perdagangan. Perdagangan di Riau yang memberikan kontribusi besar adalah Crude Palm Oil (CPO), kertas, dan industri lainnya. “Jadi yang menguasai perekonomian di Riau ini, berkisar ya itu-itu juga. Dari sektor pertanian yang memberikan bahan baku, kemudian sektor industri, perdagangan, pertambangan. Itu 4 lapangan usaha yang 70 lebih persen memberikan kontribusi terhadap perekonomian di Riau terutama PDRB," terang pria kelahiran 14 September 1954 ini. Masalah sekarang adalah adanya keterbatasan tadi. Untuk itu pemerintah harus mengubah kebijakan. Harus lebih meningkatkan produktifitas. Misalnya di sektor pertanian. Yang pertama memperbaiki bibit, kemudian memperbaiki sarana dan prasarana pertaniannya, seperti pupuk. Selama ini, produktivitas yang tinggi itu masih di tangan perusahaan. Ini bisa terjadi karena petani menggunakan bibit yang biasa-biasa saja, pupuk yang tidak terkondisikan secara baik karena harga pupuk mahal. Akibatnya produktivitas rendah. "Jadi menurut saya, perbaiki kualitas, penanganan dan pemeliharaan. Pemerintah harus peduli tentang ini," ungkapnya. Bila berbicara di luar pertanian, terangnya lagi, harus melakukan penguatan dari ekonomi kreatifnya. Jadi masyarakat tidak lagi terpancing dari SDA-nya saja, tapi juga pada pendekatan kualitas intelektualnya. “Sehingga

Jadi sekali lagi, lanjutnya, harga harus dikendalikan oleh pemerintah. Pemerintah juga harus membantu masyarakat dalam menaikkan produktivitasnya. Pertanian saat ini memang sangat sulit untuk dikembangkan lagi karena lahan yang tersedia sudah terbatas. "Di sinilah menurut saya perkebunan sawit, khususnya di Riau sangat membantu. Membantu terhadap kesejahteraan masyarakat," jelasnya.

bisa berproduksi dari pikiran sumber daya manusianya, berproduksi dari jasa keterampilannya. Apakah itu jasa kreatif kuliner, pariwisata, dan lainnya yang bisa memperbaiki kinerja perekonomian di Riau,” ujarnya. lanjutnya lagi, khusus untuk industri yang perlu dikembangkan antara lain adalah industri turunan yang diolah seperti dari komoditas pertanian olahan CPO dan lain lain. Lebih lanjut ia menerangkan, bahwa di Riau sendiri ada beberapa komoditas. Dan komoditas yang paling menonjol saat ini adalah sawit. Yang perlu digaris-bawahi terjadinya fluktuasi harga sawit. "Bahkan ada produksi sawit dari masyarakat yang dibeli di bawah Rp 1.000. Melihat hal ini pemerintah harusnya ikut serta berperan dalam pengendalian harga sawit ini," tukasnya. "Kalau kita baca di media, pemerintah menyebutkan harga sawit yang usianya 10 tahun harganya Rp 1.500, yang usianya 3-4 tahun harganya Rp 1.300, ini sudah ditetapkan pemerintah melalui tim penentuan harga. Namun di lapangan apakah benar harganya segitu? Kalaupun ada perbedaannya, berapa besar perbedaannya. Jika perbedaannya sampai 40% hingga 50% dari harga yang ditetapkan pemerintah, ini berarti ada pengendalian harga yang kurang bagus di lapangan," urainya lagi. Pemerintah, lanjutnya, harus intervensi dalam hal pengendalian harga ini. Dinas terkait harus turun ke lapangan, untuk meli-

Tetapi, tambahnya, ada masalah yang berkembang yaitu mengenai alih-fungsi lahan. Dikarenakan sawit ini lebih menjanjikan, banyak terjadi alih-fungsi lahan. Misalnya, dari kebun karet menjadi sawit, lahan pertanian seperti persawahan menjadi kebun sawit. "Ini juga tidak baik. Karena monokultur tidak baik. Karenanya diversifikasi harus kita pertahankan. Lahan untuk tanaman pangan tetap dipertahankan, yang karet sebagai diversifikasi juga perlu dipertahankan.” “Tinggal kembali lagi bagaimana masalah harga dan produktivitas. Jangan semuanya sawit, walaupun memang saat ini sawit dianggap lebih menjanjikan. Monokultur tidak baik, karena bila terjadi problem dalam komunitas akan merusak secara keseluruhan," tutupnya. Intinya, lanjutnya, SDA yang selama ini memberikan kontribusi sangat signifikan terhadap PDRB Riau, saat ini sudah sangat terbatas. Minyak bumi selama ini bisa berproduksi 1.000.000 barel/hari, saat ini tinggal 300 ribu lebih barel/hari. “Demikian pula dengan pengembangan sektor pertanian yang memiliki modal produksi dari ketersediaan lahan atau tanah, saat ini pemanfaatan luas APL sudah hampir penuh dan sulit untuk dikembangkan secara besarbesaran,” jelasnya. Oleh karena itu, ulasnya lagi, harus merubah mainset dari potensi SDA ke pengembangan kualitas SDM yang berketerampilan dan mampu menciptakan produktifitas di sektorsektor lainnya, seperti industri, ekonomi kreatif, perdagangan, jasa dan lain-lain. Sehingga perlambatan laju pertumbuhan ekonomi yang disebabkan menurunnya produksi SDA dapat diimbangi melalui produktifitas peningkatan sektor-sektor lainnya di luar SDA. (Ezy)

Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

37


Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla

PT Sari Lembah Subur Gelar Simulasi

W

ujud kepedulian terhadap Kebakaran Hutan Dan Lahan (Karhutla) PT Sari Lembah Subur (SLS) sangat konsisten untuk terus melakukan edukasi. Salah satunya melalu Masyarakat Peduli Asap (MPA) dan Nelayan Peduli Api, PT SLS menggelar simulasi. Rasyid Administratur SLS, kepada Sawitplus, Kamis (2/8/2018) mengatakan, hingga sekarang belum pernah kejadian kebakaran di wilayah kebunnya, namun begitu PT SLS tetap konsisten untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya Karhutla. "Kami bersama tim MPA Dan Nelayan peduli api, kami terus menggelar edukasi dan simulasi dengan tujuan jika sewaktu waktu kejadian ada laporan kebakan, tim kami sudah siap menghadapinya,"jelas Rasyid. Tambahnya, dengan memiliki slogan 'Pantang Pulang Sebelum Padam' tim MPA yang beranggotakab 50 orang dari 5 desa ini 40 orangnya sudah tersertifikasi dari manggala Agni. "Tim kita sudah bekerja sama dengan Manggala Agni, jadi soal bagaimana tatacara pemadamannya mereka sudah memenihi standar. Bahkan 40 orang dari mereka sudah memiliki sertifikat dari manggala Agni," ujarnya.

38

SAWIT PLUS ~ Edisi 8 Tahun 2018

Ditempat yang sama, Yudita, Asisten Production dari SLS menambahkan berdasarkan UU 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup tidak boleh terjadi kebakaran disekitar kebun maka dan kebijakan dari subtainability PT Astra Agro Lestari dimana tidak boleh membuka lahan dengan membakar maka perlu terus ditingkatkan pencegahan dan penanggulangan karhutla. "Kita memiliki 9 area yang berpotensi terjadi kebakaran dan mereka ini adalah garda utama untuk melakukan pemadaman. Selain itu kita juga memiliki MPA dan

Nelayan peduli api untuk terus membantu kita dalam penganggulangan Karhula," tuturnya. Selain itu kata Yudi, SLS juga memiliki Early Warning System yang lengkap dimana fungsinya sangat efektif sekali untuk melaukan pencegahan dan penanggulangan karhutla. Wujud keseriusan SLS juga memiliki TKTD yang turun langsung ke lapangan dan untuk melakukan pelatihan. Tim TKTD ini juga sering melakuman simulasi agar mempermudah nanti jika terjadi kebakaran. (Lina)


Edisi 8 Tahun 2018 ~ SAWIT PLUS

39


PELESTARIAN LINGKUNGAN

EKONOMI MASYARAKAT

PENDIDIKAN MASYARAKAT

KESEHATAN MASYARAKAT

3 0 Ta h u n A s t r a A g ro L e s t a r i m e n g a b d i d a n b e r b a g i m e n g h a d i r k a n k a r y a - k a r y a y a n g bermanfaat bagi Bangsa. Mendukung pelestarian lingkungan, peningkatan ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat di pelosok negeri.


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Majalah SawitPlus Edisi 8 Tahun 2018 by Majalah Sawit Plus - Issuu