Skip to main content

Majalah Sawitplus Edisi 11

Page 1

daftar isi

tahun 2019 harga cpo moncer Hal. 05

Planter Lamongan Merekayasa Masa Depan Hal. 07

Forum Andalas Selenggarakan Seminar Kelapa Sawit di Batam Hal. 16

GAPKI Riau: Sawit Mulai Membaik Hal. 18

Gapki: Semestinya Pengusaha Sawit Itu Berorganisasi Hal. 20

Wawancara Khusus

M. Hadi Sugeng Wahyudiono

MENINGKATKAN PRODUKSI KELAPA SAWIT MELALUI PROGRAM INTENSIFIKASI Hal. 12

Baksos PT Tunggal Perkasa Plantations 160 Peserta Ikuti Sunat Massal

Hal. 22

Sawit Jantung Ekonomi Riau, Gulat: Kita Berharap Pemerintah Serius dan Fokus

Hal. 28

Uni Eropa Kembali Ancam Minyak Sawit Indonesia

Hal. 33

Parwito, Pejuang Raplanting Asian Agri Sukses Panen Perdana

Hal. 36

Pimpinan Redaksi/Penanggungjawab: Djoko Suud Sukahar Pimpinan Perusahaan: Herlina, S.Sos Dewan Redaksi: Djoko Suud Sukahar, Herlina, S.Sos, S.Kom.I, Eli Suwanti, Hamdan Tambunan, Ridho Haztil Cover/Desain: Makmur HM Sirkulasi/Distribusi: Hendra Gunawan IT Support: Afandi Kantor Perwakilan Jambi: Saman. 08117454949. Jl Sersan Anwar Bay No 1. Kenali Besar. Jambi Alamat Kantor: Jl. Bakti Perum. Bakti Indah No 3 Pekanbaru, Riau | Info Iklan: 0812 7698 0551 / WA: 0811 754 1174 E-mail: redaksi@sawitplus.co | Website: www.sawitplus.co | No. Rek. Mandiri: 108-00-2018999-0 a/n PT. Media Sawit Indonesia

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

03


editorial

Prospek di Tahun Politik 2019 Kita sudah masuk tahun politik. Sebuah tahun yang diasumsikan lebih dinamis ketimbang tahun-tahun yang lain. Di tahun itu gawe nasional dilakukan. Sebuah hajatan untuk menentukan siapa yang bakal mengendalikan sebuah negara di lima tahun ke depan. Namun sejauh sampai bulan Januari tahun 2019, dinamisme itu terlihat wajar. Ada sedikit menghangat di beberapa daerah, tetapi masih dalam koridor kondusif. Masih aman terkendali.

mentah tergerogoti dengan kedelai Amerika Serikat yang membutuhkan ‘pembuangan’ besar. Terus bagaimana dengan China yang ‘kehilangan’ pasokan kedelai dalam jumlah besar? Adakah dia kemudian mengalihkan kebutuhan itu ke minyak sawit Indonesia dan Malaysia?

Yang lebih melegakan lagi, memasuki tahun politik itu, harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dunia justru moncer. Di Malaysia minyak ini telah meninggalkan jejak kelabunya di tahun 2018, melejit dan bertengger di angka 2.100-an ringgit lebih per ton.

Inilah yang menyebabkan tahun 2018 menjadi tahun kelabu bagi CPO. Tahun itu, sudah pasar CPO diserang kedelai yang menjadikan stok melimpah yang menerbitkan pesimisme tentang kehidupan minyak sawit mentah ke depan, harga pun terpuruk sampai ke titik nadzir.

Ini adalah angka moderat bagi dunia usaha sawit. Sebuah angka yang layak dapat apresiasi dengan tarikan nafas lega, seraya berharap angka itu terus menaik, menempati posisi 2.400 ringgit yang merupakan angka idaman. Namun di tengah prospek yang menjanjikan ini juga perlu tetap waspada. Dari pengalaman tahun 2018 kemarin memberi pelajaran berharga. Minyak nabati sawit ternyata sangat rentan dalam percaturan global. Tidak sekadar antipati Uni Eropa dan Amerika Serikat yang gampang mengganjalnya, tetapi tatkala produk yang bersinggungan dengan CPO bergolak, CPO juga ikut terpuruk. Ada juga asumsi yang salah ketika Amerika Serikat terlibat dalam perang dagang dengan China. Banyak yang berpikir terbalik dari realita. China pengimpor terbesar kedelai dari Amerika Serikat menghentikan impornya, diasumsikan ini adalah peluang bagi CPO Indonesia dan Malaysia. Yang terjadi justru dua negara

04

Djoko Suud Sukahar Kolumnis dan Pemerhati Sosial Budaya. Penulis Tinggal di Jakarta.

produsen CPO ini harus menderita dua kali. Harga anjlok tidak terbeli, dan stok menumpuk yang membutuhkan proses panjang untuk menstabilkan kembali. Sebab kedelai Amerika Serikat dalam jumlah besar yang ditolak China menjadi liar. Dia luber kemana-mana menyasar pasar CPO Indonesia dan Malaysia. Dan dengasn harga murah jauh di bawah harga CPO, banyak negara kemudian ikut memborongnya. Impor kedelai Pakistan, salahsatu pasar CPO yang prospektif melonjak hingga 125%. Juga beberapa negara yang sebelumnya menyeimbangkan impor kedelai dan CPO berubah lebih memilih kedelai dengan harga murah. Pasar minyak sawit

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

Sedang China, untuk memenuhi kebutuhan kedelainya, utamanya untuk pakan ternak, Argentina, Brasil dan negara sekitarnya menangguk untung dengan perang dagang antar dua negara raksasa itu. Untung perang dagang itu kini telah berakhir. Juga masa kelabu yang menekan harga minyak sawit mentah hingga di bawah 2.000 ringgit per ton. Namun dampak dari masa kelabu itu masih terasakan, terutama pada stok (yang menyusut) tetapi masih bisa diklasifikasikan sebagai over karena ditopang tingginya produktifitas. Dengan terus naiknya harga minyak sawit mentah terus di atas 2.100 ringgit per ton di tahun politik 2019 ini, maka kita bisa berharap-harap, bahwa tahun politik tidak hanya hangat di politik, tetapi juga hangat di harga minyak sawit mentah yang lambat tapi pasti akan merajai dunia. Semoga!


laporan utama

Tahun 2019

Harga CPo Tahun lalu, hampir seluruh prediksi para pakar jeblok. Analisis mereka yang didasarkan dari berbagai faktor berbuah kekecewaan. Tahun ini, rasa frustrasi itu rasarasanya akan terbayar.

Tahun 2018 memang menjadi tahun monster bagi pemangku sawit. Harga minyak sawit mentah bak roller-coaster, naik turun tidak terkendali. Ujungnya, di akhir tahun malah terjun bebas. Turun tajam. Harga minyak sawit mentah, Crude Palm Oil (CPO) tidak lagi bertengger di kisaran bawah sekitar 2.000 ringgit per ton, tetapi sudah menyentuh di harga 1.900 ringgit per ton. Ini merupakan pukulan telak. Sebab berbagai ramalan dari pakar harga tidak ada yang pesimistis. Semuanya optimis, dan satu yang moderat, itu pun masih mematok angka di atas 2.000 ringgit (2.100 ringgit per ton). Yang berpikiran moderat

itu adalah Dorab Mistry. Dia berharap harga CPO tak lebih dari 2.100 ringgit. Asumsi itu dilontarkannya, karena melihat realitas stok CPO yang ada di Indonesia dan Malaysia. Indonesia terbebani cadangan CPO itu hampir 5 juta ton. Sedang Malaysia menguntit di belakang Indonesia, dengan stok minyak sawit mentah menyentuh angka 3 juta ton. Maka di tahun 2018 itu bak peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga. Harga jeblok, cadangan yang semakin menumpuk menyulitkan untuk melempar ke pasaran, tempat penampungan sudah over capacity. Jangan kaget jika di tahun kemarin banyak kebun tidak memanen buah sawit. Tidak membeli buah petani, membiarkan buah sawit yang sudah tua tetap bertengger di ketiak pelepahnya, dan tentu produksi nyaris stagnan. Produksi terhenti di tengah panen raya. Ini ironi. (jss)

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

05


Laporan utama

T

idak ada yang menyangka harga minyak sawit mentah bisa ancurancuran seperti itu di tahun 2018. Kondisi ini membuat semuanya panik. Negara produsen CPO gamang untuk menapaki hidup di kebun sawit. Dan yang paling kentara adalah Malaysia. Negeri Jiran ini menghentikan rencana perluasan kebun di Serawak, para pengusahanya mulai mencari alternatif baru substitusi sawit, dan mencanangkan B10 untuk penyaluran stok yang semakin tidak terkendali. Indonesia, kendati tidak kalah panik dengan Malaysia, tetapi masih mampu menyembunyikan keresahan itu. Segala informasi yang menambah keluh-kesah ditutup. Dari jumlah stok membengkak, tidak memanen sawit di kebun, sampai menangkal penuhnya tangki penampung dengan membakar buah sawit yang ada. Namun tak dipungkiri, situasi itu juga memantik ‘kreatifitas’ yang datang dari pemerintah. Di bulan September, Indonesia mewajibkan B20 yang akan diteruskan B50 serta kelak menuju B100. Tidak hanya digunakan otomotif campuran dari minyak sawit itu, tetapi juga bakal menerangi jalanan melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dan kelak akan merambah berbagai sektor yang bisa disubstitusi minyak sawit mentah. Tapi kenapa tidak ada yang menyangka, bahwa minyak sawit mentah bakalan jatuh seperti itu? Thomas Milke memprediksi harga minyak sawit mentah bakalan bertengger di angka

06

Optimisme Berbuah

Duka

2.400-2.500 ringgit per ton, James Fry memprediksi di angka 2.200 ringgit per ton, dan Dorab Mistry 2.100 ringgit per ton, tetapi semua prediksi itu salah. Harga minyak sawit jatuh di bawah angka-angka itu. Muasal kehancuran harga itu bisa dilayangkan pada perang dagang China dan Amerika Serikat. Negeri Paman Sam mengenakan pajak masuk 10% produk China, dibalas oleh kedelai Amerika Serikat yang dikenai pajak impor 25%. Ini dibalas oleh Amerika Serikat dengan pengenaan yang sama.

masuk China, akibat perang dagang itu menggelinding kemana-mana mencari pasar. Dengan harga murah yang sebelumnya dikuasai negara-negara produsen minyak sawit mentah, kini diambil-alih kedelai. Pasar itu penuh, karena China mengambil porsinya dari Argentina dan Brasil. Terus minyak sawit mentah? Itulah yng menjadikan minyak sawit kehilangan pasar. Harga anjlok dan terus anjlok. Stok naik dan terus naik, menjadikan minyak sawit mentah berada dalam kebingungan, keraguan dan gamang memandang hari esok. Tapi lupakan itu. Tahun lalu (2018) sudah menjadi masalalu. Tatap tahun 2019 ini, dan lihat angka-angka yang bersinar itu. Harga minyak sawit mentah terus moncer, dan bismillah, itu akan bercahaya hingga akhir tahun nanti. (jss) Ini deretan angka-angka yang membuat siapa saja yang bergelut di sawit akan mengucap syukur:

Perang dagang itu memang sepintas tidak berpengaruh terhadap minyak sawit mentah. Sebab realitasnya China membeli kedelai pada Amerika Serikat, bukan membeli minyak sawit mentah. Malah ada yang berasumsi, perang dagang itu memberi peluang sawit. China membeli itu untuk pakan ternak.

Jumat, 25 Jan 2019

: 2294

Kamis, 24 Jan 2019

: 2297

Rabu, 23 Jan 2019

: 2283

Selasa, 22 Jan 2019

: 2263

Jumat, 18 Jan 2019

: 2226

Kamis, 17 Jan 2019

: 2198

Yang tidak diantisipasi oleh negara-negara produsen minyak sawit adalah arus liar akibat perang dagang itu. Kebutuhan hampir 40% kedelai dunia yang biasanya

Rabu, 16 Jan 2019

: 2175

Selasa, 15 Jan 2019

: 2146

Senin, 14 Jan 2019

: 2136

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019


profil Takdir itu kuasa Tuhan. Kita hanya berusaha sebaik mungkin menjalani setiap ketentuan. Akan menjadi apa kelak kita di kemudian hari, tak ada yang sanggup memastikan. Kendati demikian, gambaran hidup sekitar lima, sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang sejatinya juga sangat tergantung pada apa yang kita pikirkan dan kerjakan hari ini. Inilah yang dialami anak kampung dari sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur, M. Hadi Sugeng Wahyudiono. Tahun 2017 lalu ia dipercaya untuk menduduki kursi direksi di PT Astra Agro Lestari Tbk, posisi dan kepercayaan manajemen yang sesungguhnya telah ia rancang sejak tertarik menjadi karyawan Astra. “Saya selalu menuliskan resolusi di buku catatan,� katanya membocorkan resep di balik karier yang melesat tajam. Awal 1994 masuk Astra Agro lewat jalur Manajemen Trainee (MT). Secara periodik, target dan rencana hidup ia susun lalu ia pantau pencapaiannya. “Lebih dari 80 persen apa yang saya tulis akhirnya benarbenar terjadi,� lanjutnya. Impian yang terbukti menjadi nyata itu termasuk jabatan prestisius yang diamanahkan kepadanya sekarang. Dengan resolusi-resolusi tersebut, Hadi Sugeng seolah merekayasa jalur hidupnya. Lantaran daftar target-target masa depan yang dipikirkan dan ditulis, menurutnya, setiap kendala yang datang menghadang selalu mudah ditangani. Rasa malas pun lenyap dalam sekejap. Galau yang biasanya menerpa banyak orang tak bisa berlama-lama membuatnya bimbang mengambil keputusan.

M. Hadi Sugeng Wahyudiono Chief Agronomy and Research Officer, PT Astra Agro Lestari Tbk

Planter Lamongan

Merekayasa Masa Depan Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

07


profil

Ia ingat kala rekan-rekannya ragu selepas lulus masa training di Astra Agro. Kondisi psikologis yang wajar, memang. Apalagi bila mengenang tugas pertama dirinya bersama para anak muda calon karyawan ketika itu yang ditempatkan di sebuah proyek kebun kelapa sawit di Kumai, Kalimantan Tengah. Jangan bayangkan suasana seperti sekarang yang melimpah infrastruktur transportasi dan komunikasi. Tahun 1994, saat ditugaskan di sana, mereka hanya bisa berkabar kepada keluarga di kampung halaman melalui surat. Setahun penuh Hadi Sugeng bujang tidak pulang ke kampung halaman. “Banyak teman saya yang ragu dan mundur dari program MT. Saya konsisten dan memilih menjadi karyawan Astra,” katanya. “Ya karena saya merasa perkebunan kelapa sawit memang dunia saya, dan saya punya impian di sana,” lanjutnya. Impian itu ia tuangkan di atas kertas, lalu ia kejar dengan cara menjadi yang terbaik di setiap penugasan, di setiap bidang, di semua kesempatan. Dengan prinsip ini, ia mengaku tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja. Service excellent, hingga ia diamanahkan jabatan di level bawah, menengah, hingga

08

Tantangan masa depan industri kelapa sawit sangat besar, semua harus kita jawab melalui solusi-solusi yang didasari riset-riset serius dan tepat.

teratas. Semua target itu tersusun rapi didasarkan pada pengamatan dan penelitiannya tentang situasi kondisi yang ada. Dari sanalah ia membuka peluang dan bekerja dengan ikhlas. Entah kebetulan atau tidak, kebiasaan merekayasa masa depan ini yang sekarang ia geluti sehari-hari sebagai salah satu pimpinan di perusahaan perkebunan kelapa sawit Grup Astra Agro. Lelaki berusia 51 tahun lulusan Universitas Negeri Jember itu ditugaskan sebagai Chief Agronomy and Research Officer. Ia dilengkapi pasukan yang tiap hari melakukan penelitian dan membuka peluang untuk pengembangan lini agribisnis anak usaha PT Astra International Tbk ini ke depan. “Tantangan masa depan industri kelapa sawit sangat besar, semua harus kita

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

jawab melalui solusi-solusi yang didasari riset-riset serius dan tepat,” ujarnya. Sebagai contoh tantangan terkait upaya meningkatkan produktivitas hasil perkebunan kelapa sawit. Seperti telah diketahui bersama, peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit tidak mungkin lagi dilakukan melalui program-program ekstensifikasi. Ada kebijakan moratorium yang ditetapkan pemerintah. Pelaku industri kelapa sawit diarahkan untuk memutar otak lebih keras dalam meningkatkan hasil . Tidak boleh membuka lahan baru. Dengan lahan yang ada, output harus dilipatgandakan melalui intensifikasi. Di situ peran riset menjadi semakin krusial. Apa yang Anda rasakan sewaktu ditugaskan di posisi research and development perusahaan sebesar Astra Agro?


profil Saya senang dan bangga. Meskipun ada kesan bahwa riset itu identik dengan orang-orang yang memiliki disiplin ilmu murni, sementara bekal saya kan dari bagian operation. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Saya harus belajar hal baru di situ. Tidak masalah karena kami kan sudah punya staf-staf yang ahli di bidangnya, tinggal kita mengevaluasi dan men-challenge saja, mengkoordinir, dan menyusun tantangan-tantangan baru sesuai dengan visi misi perusahaan. Seberapa penting riset bagi industri sawit? Sangat penting. Bicara tentang produktivitas misalnya. Industri sawit ini kan harus terus meningkatkan produktivitasnya. Dibanding komoditas lain, produktivitas ton per hektarnya kan memang lebih tinggi. Tapi jangan lupa bahwa kita berhadapan dengan cost operational yang terus naik. Karena di industri sawit ini sendiri masih minim sekali yang namanya mekanisasi dan automasi. Dalam hal tenaga kerja saja misalnya, ada kenaikan cost antara 8-10 persen. Bisa dibayangkan dalam 10 tahun saja sudah akan 10 persen kenaikannya. Bahkan pengalaman yang ada, 10 tahun terakhir, kenaikan UMR (upah minimum regional) itu hampir 3 sampai 4 kali lipat. Nah ini, kalau kita tidak serius di bidang riset, keunggulan yang ada di kelapa sawit tidak akan ada artinya. Riset itu tidak hanya melahirkan best practises yang lebih excellent tapi juga cost yang lebih murah. Kedua, riset juga harus bisa menghasilkan varietas yang lebih tinggi lagi produktivitasnya.

ity yang saat ini berkembang. Contoh masalah gambut, muka air tanah, penggunaan air untuk tanaman sawit, dll. Sehingga riset-riset ini di satu sisi bisa menjawab masalah sustainability dan di sisi lain juga menambah pengetahuan di bidang agronomi. Apakah kebutuhan sumber daya manusia untuk bidang riset sudah terpenuhi? SDM memang terus kita cari, karena orangorang di riset memang mereka yang mau mengabdikan dirinya untuk belajar ilmu murni, lebih spesialis. Saat ini masih ada gap antara kebutuhan industri ini dan man power yang ada. Sehingga kami mengisi dengan meng-hire para adviser, merekamereka yang ahli di bidangnya. Harapan kami bisa mengakselerasi kompetensikompetensi yang saat ini masih belum terpenuhi. Salah satu riset tentang benih unggulan kelapa sawit yang dilakukan Astra Agro, menurutnya, akan segera di-release ke publik. Kabarnya, bibit tersebut memiliki banyak keunggulan. Dari sisi ton per hektar bisa jauh lebih produktif. Setidaknya, optimisme itu kian mengental setelah mereka melakukan pengamatan. Seberapa yakin Anda bahwa varietas ini bisa menjawab tantangan industri sawit ke depan? Gak ada korting! Saya yakin 100 persen. Saya optimis sekali bahwa proyek ini bisa meningkatkan produktivitas melalui

intensifikasi. Dengan demikian, tidak perlu lagi menambah lahan baru. Kita kelola saja lahan yang sudah ada ini dengan baik. Itu kita sangat yakin berdasarkan pengamatan kita selama dua tahun ini hasilnya memang terbukti luar biasa. Hasilnya bisa melewati produktivitas perkebunan di Malaysia? Bisa, bahkan kita bisa mengungguli mereka. Ini kan baru pengamatan selama 2 tahun, bisa jadi pengamatan tahun ketiga ternyata produktivitasnya jauh melebihi lagi. Ini didasari beberapa hal. Pertama, kami punya bahan tanaman yang lebih lengkap, induk-indukan kami jauh lebih lengkap, sehingga dari sini bisa kita kembangkan sesuai keinginan kita. Benih-benih yang akan di-release ini fokusnya ton per hektar minyak. Nanti, riset-riset tentang benih selanjutnya, di samping ton per hektar minyaknya bagus juga ada penciri-penciri tambahan yang lain. Misalnya, tahan hama penyakit, tahan kekeringan, efisiensi dalam penyerapan unsur hara, meningginya lebih lambat, dsb. Dan yang tidak kalah penting juga nanti varietas yang efisien dalam hal pemupukan. Karena kita tahu biaya pupuk itu 40-an persen dari biaya total perawatan. Karena kita bisa efisiensikan dengan menghasilkan varietas yang lebih toleran atau hemat terhadap pupuk, maka kita akan menghemat inputnya dan produktivitasnya tetap tinggi.

Jadi, ada dua sisi di riset itu, yaitu: mengelola varietas yang sudah ada, dan kedua adalah menghasilkan varietas baru yang lebih produktif. Mengelola varietas yang sudah ada dengan riset-riset yang bisa meningkatkan produktivitas, atau juga dengan riset mengenai cara pengelolaannya misal melalui mekanisasi dan automasi. Riset ini sangat strategis. Riset kami arahkan untuk meningkatkan produktivitas, baik dalam jangka pendek berupa peningkatakan produktivitas tenaga kerja, maupun di jangka panjang dalam hal peningkatan produktivitas tanaman itu sendiri. Kami juga melakukan riset-riset yang berkaitan dengan isu-isu sustainabilEdisi 11 Tahun 2019 ~ SAWIT PLUS

09


profil mati kita sebagai bisnis. Yang namanya mitra, ya harus sama-sama sejahtera. Baik kita maupun di masyarakat. Kita upayakan untuk menyerap buah-buah dari masyarakat. Makanya, selain melalui risetriset agronomi, kita juga memperbesar kapasitas pabrik-pabrik kita yang masih ada potensi untuk ditingkatkan. Program kemitraan kan sudah dijalankan Astra sejak lama. Bagaimana hasilnya?

Seberapa besar upaya yang dilakukan Astra Agro untuk menemukan benih unggulan? Upaya kita sangat besar, karena waktu itu kita juga harus mengirim staf ke Kamerun sampai bertahun-tahun, melihat persilangan di sana. Cost-nya besar. Tapi kita meyakini, karena ini sangat prospek, maka semua itu kita lakukan dengan keyakinan bahwa suatu saat kita akan menemukan bibit yang produktivitasnya tinggi sesuai harapan kita. Kalau kita katakan, kita sih sudah sejajarlah dengan produsenprodusen benih yang sudah lebih dulu lahir. Baik dalam hal prasarana maupun usahausaha lainnya. Seperti yang telah ia tunjukkan dalam menapaki dan meneropong karirnya di masa depan, Hadi Sugeng pun optimistis dengan bayangan beberapa tahun mendatang di industri kelapa sawit. Dengan benih unggulan itu, dari sudut pandangnya, praktis cost per hektar dapat lebih ditekan. Perusahaan akan lebih efisien. Dan yang lebih penting, masyarakat, partner yang terlibat dalam industri akan merasakan dampak positif dari perkembangan baru ini. Mereka dapat lebih maju dan dapat lebih meningkatkan kesejahteraannya seiring pertumbuhan perusahaan. Apalagi, menurutnya, sesuai semangat Astra Agro di tahun ini yang mengusung tema “fostering partnership”, kerja sama dengan masyarakat teramat penting. Perusahaan tidak sekadar menjalin ikatan yang transaksional, tetapi ikatan yang

10

tetap terjalin kendati tidak ada kegiatan jual beli hasil panen kelapa sawit. “Dengan bibit yang ada, ini menjadi salah satu cara kita supaya mereka lebih terbantu,” katanya. Seperti apa kemitraan dengan masyarakat? Kita ingin bisa lebih dekat lagi dan lebih erat lagi bekerja sama dengan small holder.Dengan bibit yang ada, ini menjadi salah satu cara kita supaya mereka lebih terbantu. Mereka akan lebih beruntung. Kita lakukan pendampingan yang lebih kuat sehingga mereka benar-benar merasakan perbaikan hidup setelah bekerja sama dengan kita. Dengan begitu mitramitra kita, baik plasma, swadaya, maupun supplier akan menjadi loyal kepada kita. Suka atau tidak, dalam soal kemitraan tidak ada anak tiri. Semua adalah anak kandung. Karena, faktanya, saat ini lebih dari separuh produksi CPO (crude palm oil) Astra Agro merupakan hasil dari kebun mitra (buah luar).

Pencapaian program kemitraan sekarang sih masih belum memuaskan. Itu sebabnya kita menyebutnya dengan istilah “fostering partnership”. Lebih kuat lagi jalinan kemitraan kita! Ke depannya, kami ingin benar-benar ada kepastian bahwa mereka menjual buah mereka kepada kita. Karena itu harus benar-benar sudah dipetakan potensinya supaya bisa kita tangkap semuanya. Tidak seperti saat ini di mana masyarakat masih ‘hit and run’, kadang menjual ke kita, kadang ke pihak lain, tergantung kompetitif atau tidaknya harga yang kita tawarkan. Tantangan ke depan, mau suka atau tidak, sulit atau mudah, kita adalah partner. Harga itu satu hal, sisi lainnya harus kita benahi. Misalnya pelayanan kita kepada mereka, untuk membantu kesulitan-kesulitan mereka, dll. Kalau benar, mereka akan merasakan kehadiran kita sangat penting sehingga tidak ke lain hati. Sepanjang karir Anda bersama Grup Astra Agro, apa pengaruh paling besar industri kelapa sawit bagi masyarakat dan Indonesia?

Trend pasokan dari buah luar itu terus meningkat. Kalau ini tidak di-handle dengan baik, tidak memberikan kepastian, sulit untuk menjadikan mereka loyal. Sekarang perbandingan antara buah luar dan inti masih sekitar 50:50. Ke depan buah luar semakin meningkat. Sekarang sudah lebih banyak buah luar dibanding buah inti.

Saya bangga, dimana-mana tempat, khususnya yang berdekatan dengan kebun-kebun sawit, baik Astra maupun non Astra, semua berkembang. Suka gak suka, ini adalah kontribusi dari industri ini. Industri ini benar-benar memberi multiplier efek yang luar biasa. Dan petani-petani plasma di tempat manapun, kita lihat semuanya sejahtera. Kebutuhan primer, sekunder bahkan tertier mereka sudah banyak terpenuhi. Kita banggalah menjadi bagian dari industri ini. Tinggal tantangan tadi adalah kita bisa lebih efisien lagi dengan kehadiran varietas yang lebih unggul dan praktekpraktek yang lebih bagus lagi sehingga industri ini lebih eksis.

Suka gak suka, mitra menjadi kebutuhan kita. Mitralah yang juga menentukan hidup

Mengapa industri ini bisa memberi efek sebegitu besar?

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019


profil Karena industri ini kan padat karya dan dari hulu ke hilirnya itu luar biasa industrinya. Mulai dari pemasok tenaga kerja, transportasi buah, sembako, perdagangan, semua bergulir karena industri ini. Dari sisi komoditas juga unggul. Sawit tanaman tahunan yang makin lama, sampai umur tertentu produksinya terus meningkat. Sehingga mereka akan terus berkontribusi terhadap kesejahteraan rakyat. Beda dengan tanaman-tanaman semusim. Bayangkan, tiap hari berproduksi, ada kegiatan yang menghasilkan.Ini yang mentrigger pertumbuhan. Ini juga anugerah Tuhan yang kalau tidak dikelola dengan baik tentu Tuhan akan murka. Kita sangat bersyukur hadir di negeri yang diberkahi dengan kelapa sawit ini. Ini benar-benar anugerah Tuhan bagi negeri kita yang punya dua musim. Harus benar-benar kita kelola dengan baik. Kita dorong industri ini dari semua sisi: agronomi, produktivitas maupun sustainability. Menjadi pekerjaan rumah kita bersama bahwa semua ini harus kita kembalikan ke yang sebenarnya. Barang bagus, komoditas bagus, yang iri juga banyak. Dengan komitmen GAPKI, kepedulian pemerintah, ke depan akan baik. Kita perlu konsisten mengembangkan industri kelapa sawit agar makin memberi dampak positif.

inilah yang mengajarkan kepadanya bahwa hidup itu tak boleh main-main, harus serius, punya target dan strategi serta kerja-kerja ikhlas untuk mencapainya. “Itu membekas dalam diri saya sejak sama duduk di bangku SMA,” lanjutnya.

mendapati kekuatan finansial untuk menggerakkan visi di bidang agama maupun keluarga. “Keluarga kan harus dinafkahi,” lanjut suami dari Hj. Sustiningsih yang telah dikaruniai dua putra ini.

Ada tiga bidang yang secara tegas ia tulis dan rancang: karir, keluarga dan agama. Ketiganya seakan membentuk triangle hidup yang mempunyai peran sama-sama penting. Pada masing-masing bidang itu ada plan sendiri-sendiri. Agama, menurutnya, adalah basis paling mendasar dalam hidup. Agama adalah panduan dasar. Karena itu sangat perlu ditentukan apa dan bagaimana masalah keagamaannya di masa datang. Sebagai seorang muslim misalnya, ia telah menargetkan kapan pergi umroh, menunaikan haji, berderma pada sesama dst. Selain agama yaitu keluarga. Karena menurutnya fitrah setiap orang adalah berkeluarga. Bidang ini juga telah ia targetkan. Kapan menikah, punya anak, bagaimana pendidikan anak-anak, misalnya. Semua ditulis dan dirancang sebaik mungkin. Berikutnya adalah karir, bidang pekerjaan. Karir harus dipikirkan mengingat dari bidang yang satu inilah setiap orang

Ketiga bidang yang ia sebut ini saling terkait. Dalam banyak kesempatan, ia memang merasakan betapa keluarga, karir dan agama seperti mata rantai yang saling terkait. Fakta sederhana: saat menjadi karyawan Astra lah ia berkenalan dan menemukan pasangan hidupnya. Perempuan asal Blitar yang mendampinginya hingga sekarang dan dikaruniai dua putra bernama M. Lutfi Pratama kelahiran 19 Juni 1997 serta M. Iqbal Hadi Irawan kelahiran 28 Januari 1999. “Bila keluarga bahagia, apa yang kita lakukan berarti sudah benar. Kita perlu koreksi jika yang terjadi justru sebaliknya,” kata lelaki yang selalu mengajak istri dan anak-anaknya di manapun Astra Agro menempatkannya. Walau di pelosok desa, sepanjang kebutuhan-kebutuhan keluarga dapat terpenuhi, ia selalu mengajak mereka tinggal di rumah yang sama. Dalam banyak hal, keluarga (terutama istri) menjadi partner diskusi yang selalu dilibatkan dalam merancang dan mengambil keputusan-keputusan masa depan. Prinsip itu tetap dipegang hingga sekarang. (*)

Sulit tercapaikah impian itu? Bagi Hadi Sugeng yang sedari muda menyukai tantangan, pun telah terbiasa menuliskan serta merancang anak-anak tangga kehidupan yang harus ia lompati, persoalan apapun yang kelak mengganjal bukan hal sulit untuk ditaklukkan. Asal, menurutnya, impian itu disertai dengan disiplin dan kerja keras. Dari mana spirit semacam itu melekat pada sosok seorang Hadi Sugeng dewasa? Obrolan ini membawa kami terbang ke masa lalu. Periode yang mengingatkannya pada orang tuanya, seorang petani yang 30 tahun lebih dipercaya menjadi kepala desa di kampungnya. “Saya terinspirasi orang tua saya, bapak saya. Sebagai orang kampung, orang desa, beliau itu sangat tertata sekali hidupnya,” katanya. Hampir setiap hari sang ayah menulis. “Apa saja ditulis,” katanya mengaitkan kebiasaannya menulis target dan impian hidup seperti yang ia lakukan secara periodik hingga sekarang. Setidaknya, menurutnya, orangtuanya Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

11


wawancara khusus Sampai saat ini tanaman kelapa sawit merupakan salah satu komoditas penghasil minyak nabati per hektar paling tinggi dan pensuplay kebutuhan minyak nabati utama di Indonesia maupun di dunia. Komoditas ini merupakan penghasil devisa utama yang menopang perekonomian Indonesia yang mampu menghasilkan devisa hingga US $ 22,9 Milliar atau setara Rp 320,6 Trilliun serta penyerap tenaga kerja langsung dan tidak langsung yang besar, yaitu total sekitar 17 juta orang. Hal ini disebabkan karena keunggulan kelapa sawit yang produktivitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas minyak nabati lainnya, yaitu mampu menghasilkan 4 sampai 8 kali lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya seperti kedelai, rapeseed, biji bunga matahari dan lainnya (Corley, 2009).

M. Hadi Sugeng Wahyudiono, Chief Agronomy and Research Officer, PT Astra Agro Lestari Tbk

MENINGKATKAN PRODUKSI

KELAPA SAWIT MELALUI PROGRAM

INTENSIFIKASI

Pada tahun 2025 penduduk dunia diperkirakan 8 miliar dengan kebutuhan minyak nabati hampir 240 juta ton. Kalau semua dipenuhi dari minyak kelapa sawit hanya memerlukan luasan lahan total menjadi sekitar 60 juta hektar (estimasi produksi minyak 3.96 ton/ha/tahun). Kondisi terkini ketersediaan lahan yang sesuai dengan kelapa sawit semakin terbatas. Dan kalaupun masih tersedia adalah lahan marginal yang kurang sesuai bagi pertumbuhan kelapa sawit sehingga memerlukan effort biaya yang cukup besar. Terlebih lagi dengan adanya moratorium pengembangan perkebunan kelapa sawit, maka pengembangan luasan dalam skala yang besar sudah tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu peningkatan tonase produksi hanya dapat dilakukan dari pendekatan RnD, dengan program intensifikasi berupa perbaikan kultur teknis/ best practices management dan menghasilkan varietas/klon baru dengan keunggulan tidak hanya produktivitas minyak/ha

12

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019


wawancara khusus

Kelapa sawit masih tetap menjadi komoditas primadona penghasil minyak nabati akan tetapi juga dihadapkan tantangan yang tidak ringan.

tinggi, tetapi mempunyai penciri/karakteristik spesifik toleran pada hama penyakit dan kondisi keterbatasan lingkungan lainnya (tahan kekeringan, efisien penyerapan unsur hara, beta carotine tinggi, free fate acid rendah, pertumbuhan meninggi yang lambat dan lain-lain).

eksternal adalah menghadapi persaingan antar komoditas minyak nabati lainnya, berupa kampanye negatif minyak sawit (isue kesehatan, deforestasi, tenaga kerja, eksploitasi lahan gambut, dll) dan diskriminasi perdagangan lainnya dari negara kompetitor non sawit.

Bagaiman mencapai itu semua? Majalah SAWIT mengajak Chief Agronomy and Research Officer, PT Astra Agro Lestari Tbk, M. Hadi Sugeng Wahyudiono membicarakannya. Inilah cuplikan wawancaranya:

Oleh karenanya memanage perkebunan secara operational excellent dengan output yield TBS/CPO per hektar yang tinggi dan cost produksi yang terendah

menjadi kunci keberlangsungan dari industri ini, serta menjalankan prinsip-prinsip “sustainability� dengan massive dan konsisten untuk memproteksi tuduhan negatif yang menyerang industri ini. Majalah SAWIT : Bagaimana menjawab tantangan tersebut? M. Hadi Sugeng : Sebagai penanggung jawab direktorat agronomi dan RnD di Astra Agro Lestari, saya akan membatasi

Majalah SAWIT: Bagaimana prediksi kelangsungan industri kelapa sawit di masa depan? M. Hadi Sugeng : Kelapa sawit masih tetap menjadi komoditas primadona penghasil minyak nabati akan tetapi juga dihadapkan tantangan yang tidak ringan, secara internal bagaimana memproduksi dengan biaya per satuan lebih efisien lagi (dengan melakukan best practices agronomi “mekanisasi, otomasi, produktivitas tenaga kerja, efektif pemakaian pupuk anorganik, aplikasi mikroba pengurang pupuk anorganik, preventif dan kuratif hama penyakit, dll �, replanting dengan menggunakan bibit unggul) dan secara Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

13


wawancara khusus dan memberikan penjelasan hanya yang terkait dengan direktorat ini.

Bagi kami tidak ada istilah terlambat untuk berbuat baik dan yang penting adalah melakukan perbaikan berkelanjutan.

Saat ini yang menjadi fokus riset kami adalah untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi industri ini seperti yang saya sampaikan di atas, secara garis bersar adalah sebagai berikut: A. Secara mandiri atau kerjasama dengan pihak lain, Astra Agro turut aktif melakukan penelitian terhadap semua hal/isu yang masih bisa ditingkatkan kinerjanya atau untuk menjawab isu negatif, yang terbagi pada thema “Agronomi dan sustainability�. Lingkup riset thema agronomi yaitu terus mencari dan membuat SOP baru untuk mewujudkan best manage plantation “operational excellent�, sedang riset thema sustainability menyesuaikan isu yang tengah berkembang.

kami antara lain; kebutuhan real air tanaman kelapa sawit untuk mengcounter isu kelapa sawit boros air, menjaga water level untuk menjawab kerusakan lahan gambut akibat budidaya kelapa sawit, penelitian real emisi carbon, partnership dengan petani swadaya/plasma dalam pembelian buah sawit untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat sekitar kebun, dan lain-lain.

Beberapa topik riset sustainability yang sedang dan telah kami lakukan di kebun

B. Menghasilkan bahan tanaman varietas/klone unggul dengan produktivitas

14

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

FFB/CPO tinggi dan mempunyai karakteristik sekunder spesifik yang sifatnya customize melalui pendekatan molekuler. Untuk kepentingan ini, kami telah melakukan kerjasaman dengan beberapa pihak dalam dan luar negeri, yaitu Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), IRAD Kamerun, Palma Del Rio Ecuador, BPPT dan PPBBI Bogor. Varietas baru yang akan kami release dalam waktu dekat (tahun 2020) ada 3 varians dengan keunggulan utama adalah


wawancara khusus minyak/hektar tinggi, yang kami beri nama “Astra 1, Astra 2, dan Astra 3” yang sementara waktu kami prioriaskan untuk memenuhi kebutuhan replanting internal. Pada tahun-tahun berikutnya kami juga akan mengeluarkan varietas-varietas baru lainnya dengan penciri/karakteristik tertentu (Varietas 4, 5, 6, 7, 8, dan 9), pada kurun waktu 5 tahun mendatang seiring dengan peluncuran varietas-varietas tersebut kami juga mulai menjual bibit ke pihak-3 untuk “Astra 1, 2, dan 3”. Dengan demikian diharapkan generasi ke-2 kebun Astra Agro Lestari dan masyarakat mitra perusahaan bisa meningkatkan produktifitas tanamannya walaupun tanpa penambahan luasan lahan yang mereka kelola. Majalah SAWIT : Sebagai produsen benih baru, bagaimana AAL mampu bersaing dengan produsen-produsen benih lain yang sudah melakukan penelitian jauh lebih lama? M. Hadi Sugeng : Bagi kami tidak ada istilah terlambat untuk berbuat baik dan yang penting adalah melakukan perbaikan berkelanjutan. Dengan luasan kebun inti dan binaan langsung pola KKPA/ Plasma sekitar 300 ribu hektar, yang saat ini sudah mulai memasuki peremajaan replanting generasi kedua dengan luasan sekitar 7.500 – 9.000 hektar/tahun, maka varietas-varietas baru yang akan kami release akan memberikan kontribusi positif bisa mendongkrak produksi kelapa sawit mendatang. Kami sangat yakin akan keberhasilan program release varietas ini. Hasil kerjasama Astra Agro dengan IRAD Cameron, saat ini kami telah memperoleh material genetik sebagai pohon induk yang sudah advance dan diseleksi secara cermat. Material yang kami miliki memiliki variasi genetik yang sangat lengkap, sehingga memungkinkan untuk melakukan perbaikan genetik dengan leluasa sesuai dengan sifat genetik yang kami inginkan. Laboratorium kami yang di Kalimantan Tengah telah menggunakan teknologi yang lebih modern “laboratorium molekuler” menggunakan pendekatan “marka molekuler DNA” untuk mendeteksi adanya penciri sifat tanaman tertentu yang diinginkan saat tanaman masih di bibitan.

Teknologi ini sangat membantu secara akurat mendeteksi kandidat kandidat tetua maupun persilangan yang memiliki sifat yang diharapkan, yang pada proses selanjutnya menjadi alat untuk merelease varietas dengan karakteristik spesifik tanpa harus menunggu tanaman tersebut berproduksi/status TM. Disamping methode konvensional, kami juga mengembangkan teknologi kultur jaringan untuk memproduksi dan menghasilkan varietas-varietas unggul dari pohon-pohon individu superior di lapangan (produksi tinggi dengan segala musim) dan juga untuk memperbanyak tetua-tetua terpilih yang secara genetik sama sifat genetiknya dengan tanaman induknya. Majalah SAWIT : Tentang hasil penelitian varietas unggul AAL sejauh ini? M. Hadi Sugeng : Saat ini kami sedang melakukan pengamatan final untuk parameter produksi dan karakter-karakter yang lain, untuk jangka waktu selama 3 tahun pada tanaman hasil persilangan tanaman induk. Dari hasil pengamatan dan analisis data, telah menunjukkan bahwa persilanganpersilangan terbaik yang kami miliki bisa menghasilkan produktivitas minyak

yang sangat tinggi pada umur Tanaman Menghasilakan Tahun 1 (TM1) dan TM2. Dimana pada umur TM2, produktifitas minyak/ha/tahunnya bisa mencapai 6 -7 ton dan diperkirakan bisa mencapai 9 – 10 ton minyak/ha/tahun pada status umur TM3. Penemuan ini tentu akan memberikan dampak positif yang sangat luar biasa besar dalam memperbaiki industri kelapa sawit hanya dengan program intensifikasi tanpa perlu penambahan lahan baru, karena saat ini achievement tanaman komersial kelapa sawit untuk level PBSN rerata baru mencapai produksi minyak sekitar 4-6 ton/ha/tahun. Sejauh ini, selain telah mengetahui material persilangan dengan produktifitas TBS/ CPO per hektar yang tinggi, kami juga sudah bisa mendeteksi kandidat-kandidat persilangan yang memiliki laju pertumbuhan meninggi yang lambat dengan menggunakan marka DNA. Methode marka DNA ini terus kami kembangkan untuk bisa mengetahui/mendeteksi kandidat persilangan dengan penciripenciri khusus lainnya, sehingga membantu release varietas dengan penciri sekunder spesifik bisa segera kami lakukan secara paralel dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama setelah release Astra1, 2, dan 3. (*)

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

15


G

Forum Andalas Selenggarakan Seminar Kelapa Sawit di Batam

abungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Pulau Sumatera telah menyepakati dibentuknya Andalas Forum. Anggotanya terdiri dari GAPKI Cabang Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan. Forum Andalas yang diinisiasi GAPKI Riau ini sudah dikukuhkan pada tanggal 28 Agustus 2018 dengan Ketuanya R. Wisnu O. Suharto. Salah satu tujuan pembentukan forum adalah untuk memajukan dan mengembangkan industri sawit sebagai pilar pembangunan nasional melalui kegiatan seminar, lokakarya, pelatihan dan pameran. Maka dari itu, untuk mempromosikan keberadaan Andalas Forum akan diselenggarakan Seminar Nasional Kelapa Sawit. Rencananya akan diadakan Kamis dan Jumat, 21-22 Februari 2019 di Radisson Golf & Convention Center Batam, Kepulauan Riau

16

“Semangat untuk menghadirkan informasi-informasi teknologi dan praktek-praktek manajemen terbaik bertujuan untuk mendukung tercapainya industri kelapa sawit berkelanjutan di tengah isu lingkungan global. Juga menyediakan wadah bagi sesama anggota GAPKI atau para pelaku industri kelapa sawit untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam penerapan sistem tata kelola terbaik kelapa sawit berkelanjutan. Serta sebagai sarana promosi dan komunikasi bagi penyedia teknologi perkebunan kelapa sawit terhadap pelaku usaha,� ujar Wisnu yang juga menjadi Ketua Panitia dalam kegiatan tersebut. Dalam seminar ini, lanjutnya narasumber dari berbagai stakeholder akan menyampaikan pandangan atas permasalahan yang dihadapi. Sementara itu peserta yang hadir akan memberikan feedback, sehingga diharapkan dapat diperoleh solusi bersama atas permasalahan tersebut.

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

Akan ada juga Coaching Clinic Kelapa Sawit dimana peserta seminar secara khusus dapat berdiskusi seputar permasalahan yang dihadapi dengan para ahli di bidang kelapa sawit. Lalu Pameran sebagai peluang untuk meningkatkan relasi serta memperkenalkan dan menjual produk para pelaku industri kelapa sawit (hulu maupun hilir). Peserta seminar adalah pelaku usaha perkebunan kelapa sawit, mitra industri kelapa sawit (petani plasma, petani swadaya). Lalu pelaku industri yang memberikan dukungan teknologi dalam peningkatan efisiensi dan efektifitas industri kelapa sawit. Bisa juga dari pemerhati industri kelapa sawit dan para pihak yang memiliki kepentingan atas keberlanjutan industri kelapa sawit di Indonesia. Untuk biaya seminar berupa investasi Rp2,000,000,- (dua juta rupah). Pasalnya seminar akan menyajikan materi yang relevan dengan isu-isu terkini. (bay)


M

endekati hari H pelaksanaan Andalas Forum di Batam pada hari Kamis dan Jumat tanggal 21 dan 22 Februari mendatang, saat ini persiapan-persiapan terus dimatangkan panitia. Dikatakan Ketua Panitia Pelaksana R. Wisnu O. Suharto yang didampingi Sekretaris Panitia Marianto kepada SawitPlus. co, saat ini persiapan sudah 90 persen, tinggal melengkapi beberapa kekurangan lagi. “Persiapan kita sudaj 90 persen, diantaranya meliputi kesiapan peserta seminar, hingga persiapan untuk pameran, ada 40 booth nantinya,” ujarnya, Sabtu, 12 Januari 2019 saat dijumpai di kantor Gapki, Riau. Ditambahkan Marianto, beberapa persiapan lainnya juga sudah menuju finalisasi, diantaranya keterlibatan beberapa sponsor. “Semuanya tinggal finalisasi, mudah-mudahan kedepan acara ini berjalan lancar dan baik. Target dari peserta yang hadir sekitar 300 peserta, maksimalnya sekitar 700-an peserta,” ujar Marianto. GAPKI cabang se-Sumatera telah menyepakati dibentuknya Andalas Forum, yang dikukuhkan pada tanggal 28 Agustus 2018. Salah satu tujuan pembentukan forum adalah untuk memajukan dan mengembangkan industri sawit sebagai pilar pembangunan nasional melalui kegiatan seminar, lokakarya, pelatihan dan pameran.

Persiapan Andalas Forum

Sudah 90 Persen Tema yang diusung pada seminar perdana Andalas Forum adalah “Membangun Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan di Tengah Isu Lingkungan Global”. Tema tersebut dijabarkan ke dalam materimateri seminar dengan tema isu-isu terkini yang dapat memberikan jawaban yang relevan dengan pembangunan kelapa sawit berkelanjutan. Hal ini menjadi sangat penting untuk diketahui oleh seluruh pelaku usaha perkebunan di Indonesia. Isu moratorium kelapa sawit dengan segala permasalahannya perlu disikapi secara bijaksana oleh seluruh pelaku usaha, sehinga tidak menjadi kontra produktif. Upaya peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit dan kebijakan B-20 pemerintah bertujuan untuk melindungi sekaligus menyelamatkan industri kelapa sawit Indonesia terhadap ketergantungan pasar global. Para pelaku usaha perkebunan perlu memahami kebijakan B-20 dan strategi yang harus dilakukan untuk mendapatkan manfaat kebijakan tersebut. Kebijakan B-20 diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan CPO dari pasar dalam negeri. Para pelaku usaha perke-

bunan kelapa sawit dituntut untuk dapat meningkatkan produktivitasnya tanpa harus melakukan perluasan lahan sejalan dengan Inpres No. 8 tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit Serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan menerapkan praktek-praktek perkebunan terbaik seperti pemupukan dan pengendalian gulma secara efektif dan efisien dan kemampuan untuk meminimalkan risiko cuaca dan perubahan iklim yang akan terjadi. Tuntutan pasar akan produk minyak sawit berkelanjutan menjadi persyaratan yang tidak bisa dihindari. Isu lingkungan sebagai dampak dari pengelolaan limbah pabrik dan isu ketenagakerjaan merupakan permasalahan tersendiri yang dapat menghambat pencapaian sertifikasi sustainable palm oil. Permasalahan tersebut di atas akan dibedah secara tuntas dalam kegiatan seminar Andalas Forum, sehingga menjadi penting untuk diketahui dan dihadiri oleh seluruh pemangku kepentingan khususnya para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia. (rdh)

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

17


gapki riau

GAPKI Riau:

Sawit Mulai Membaik T

ahun 2018 lalu merupakan tahun yang berat bagi komiditas kelapa sawit. Betapa tidak, harga sejak awal 2018 seperti meluncur bebas hingga lebih dari 20 persen. Pada akhir November dan awal Desember tahun 2018 bahkan harga sudah dibawah level psikologis. Yakni di bawah 2.000 Ringgit Malaysia dan $500. Sehingga sempat juga menyentuh titik terendah sejak 2015. Meski begitu, pada penghujung tahun sempat lagi naik di atas angka tersebut. Menanggapi hal ini, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Provinsi Riau mengakui tahun 2018 memang tidak lebih baik dari tahun 2017. Meski begitu, GAPKI menyatakan bahwa saat ini sawit mulai membaik. “Tahun 2018 dibanding tahun lalu memang lebih baik tahun lalu. Tapi sekarang sudah mulai membaik, mudahmudahan 2019 lebih baik dari tahun 2018,� kata Sekjen GAPKI Riau, Marianto Lasmono kepada sawitplus.co. Membaiknya sawit, menurutnya tak lepas dari oeran pemerintah dan pengusaha. Pemerintah selain membebaskan pungutan ekspor sawit untuk harga dibawah $570 juga mencari peluang pasar baru. Demikian juga halnya dengan pengusaha kelapa sawit, kata dia, juga terus mencari pasar baru karena memang produksi meningkat. Diantaranya ada ke China, Ibdia, dan Rusia. Saat ini lanjutnya harga sawit membaik dominan dipengaruhi permintaan dari China. Pasalnya Negeri Tirai Bambu itu akan segera melaksanakan prosesi Tahun Baru Imlek. (bay)

18

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019


Gapki riau

GAPKI Riau Apresiasi IPB Rancang Aplikasi Rantai Pasok Sawit L embaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit tengah merancang aplikasi sistem informasi penilaian kinerja dan penguatan kelembagaan rantai pasok kelapa sawit. Untuk ini studi kasusnya akan dilakukan di Provinsi Riau dan Jambi.

Untuk tahap awal LPPM IPB melakukan ekspos dengan difasilitasi Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Riau, akhir Desember 2018 lalu. Dalam kesempatan itu turut hadir dari dinas terkait perkebunan Provinsi Riau dan kabupaten/ kota, petani dan pengusaha kelapa sawit. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Riau dan perusahaan menyatakan mendukung aplikasi ini. Karena hal-hal yang selama ini belum pasti bisa lebih mendekati yang sebenarnya bahwa saat ini rantai pasok dari kebun swadaya ke PKS belim berjalan dengan baik. “GAPKI memandang perlu sebuah sistem untuk mengukur kinerja rantai pasok, apa yang dibuat LPPM cukup relevan,” kata Wakil Ketua GAPKI Riau, Rafmen. Hanya saja, lanjutnya persoalan sekarang adalah luas data kebun swadaya belum

ada yang pasti serta pemetaan juga belum berjalan. Sehingga bagaimana bisa membuat zonasi kemitraan kalau peta belum ada.

GAPKI menyarakan agar pemerintah desa diberdayakan untuk itu karena merekalah yang lebih tahu dan menguasai serta memahami perkebunan rakyat. Pasalnya mereka yang punya warga dan tahu yang punya sawit itu siapa saja agar pemetaan itu cepat selesai. Masalah lainnya, kata dia adalah kebun swadaya juga banyak di kawasan hutan dan belum ada solusinya sampai sekarang. Hal ini harus segera diselesaikan agar pabrik yang menampung tidak disalahkan menerima buah sawit dari kawasan hutan. “Apalagi ada imbauan polisi agar pabrik tidak menerima buah dari yang ilegal, ini harus ada solusi agar kebun yang sudah ada mau diapakan tetutama yang sudah dimiliki masyarakat,” tuturnya. Salah satu anggota Pelaksana Penelitian, Prof. Ir. Machfud mengungkapkan bahwa aplikasi ini merupakan integrasi dan kolaborasi aliran komoditas dari pemasok hingga konsumen akhir. Di sini akan ada aliran informasi dan komunikasi antar pelaku di sektor itu.

“Dengan ini misalnya saya atau di wilayah saya ada panen sawit sekian, lalu ada pabrik kelapa sawit butuhkan sekian ton. Ini sifatnya terbuka dan masing-masing akan saling tahu. Antar pelaku mengisi kontennya seperti kayak facebook masing-masing orang memberi informasi sehingga database makin lengkap,” ungkapnya kepada sawitplus.co.

Tujuan aplikasi ini, lanjutnya agar kinerja menjadi efisien dan efektif. Efisien terkait dengan biayanya sehingga meningkatkan daya saing dan efektif adakah orientasinya pada pelanggan sehingga bisa memuaskan dalam waktu singkat. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Riau, Vera Virgianti mengungkapkan bahwa di provinsi setempat terdapat 272 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan 75 diantaranya adalah yang tidak punya kebun. Untuk yang non kebun dia berharap ada regulasi yang memaksa PKS untuk hanya menerima tandan buah segar dari petani di sekitarnya saja. “Sehingga tidak ada wisata TBS merusak jalan umum, padat lalu lintas tidak teratur, dan juga untuk tata kelola yang baik,” ujarnya. (*)

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

19


gapki riau

Gapki: Semestinya Pengusaha Sawit Itu Berorganisasi Organisasi bukan hanya semata-mata menjadi wadah untuk berkumpul dan bertemu. Akan tetapi berorganisasi bisa memberikan kemudahan-kemudahan baik dalam segi perizinan maupun hubungan sinergi dengan pemerintah. Sejauh ini yang tergabung dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Provinsi Riau tercatat 70 anggota. Jumlah ini masih sedikit, jika dibandingkan dengan total perusahaan kelapa sawit di Riau yang mencapai 400 perusahaan lebih. “Kita tidak memiliki kewenangan untuk memaksa teman-teman perusahaan sawit lain bergabung dengan Gapki. Bergabung di Gapki itu adalah kerelaan,” ujar Sekjen Gapki Provinsi Riau, Marianto kepada SawitPlus.co, beberapa waktu yang lalu. Saat ditanya apa saja yang bisa didapatkan saat bergabung dengan Gapki, Marianto menyebutkan banyak hal yang

20

didapatkan, mulai dari terlibat dalam tim penentuan harga TBS setiap minggu. “Gapki juga menjadi wadah di dalam perundingan upah dengan serikat pekerja termasuk membantu penyelesaian perselisihan serta membicarakan perizinan yg terganjal di pemerintah,” ujarnya. Sekjen Gapki ini berharap, semestinya ada semacam regulasi yang secara tidak langsung akan membuat ketergantungan pengusaha-pengusaha sawit dengan organisasi sawit. Saat disampaikan tentang regulasi di organisasi perumahan seperti Himpera, REI dan Apernas, dimana ada kewajiban

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 10 Tahun 2018

dari anggota pengembang bergabung dengan organisasi perumahan. Sebab jika tak bergabung mereka akan kesulitan untuk bekerjasama dengan bank. “Ya, harusnya hal-hal seperti ini juga diterapkan di Gapki, sebab jika bicara perizinan, di industri sawit izin-izin itu banyak. Bisa jadi, izin yang satu selesai, akan muncul izin-izin lainnya, “ ujar Marianto menambahkan. Sejauh ini, Gapki dipaparkan Marianto telah berjumpa dengan Gubernur Riau dan beberapa anggota DPRD Riau. “Kita sudah bicara secara lisan, mungkin kedepan juga dilanjutkan dengan pembicaraan lanjutan,” ungkapnya. (rd)


tanya jawab

GULAT Medali emas

INDO Riau telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan benih/kecambah unggul kelapa sawit guna mempermudah petani mendapatkan benih dalam jumlah besar atau kecil. Khusus untuk pembelian benih sawit PPKS melalui APKASINDO Riau akan diberikan potongan harga sebesar 10 % dan pendampingan proses pemibitan tersebut.

MANURUNG

(Konsultan Perkebunan Kelapa Sawit) PERTANYAAN: Saat ini sangat banyak kesimpangsiuran tentang keabsahan bibit sawit unggul dan sering menjadi polemik karena usah sekali membedakan bibit hibrid dan non hibrid. Bagaimana cara Petani kelapa sawit mendapatkan kecambah atau bibit unggul kelapa sawit? jawaban: Penggunaan benih unggul merupakan salah satu kunci utama keberhasilan perkebunan kelapa sawit, dengan menggunakan bibit unggul tesebut akan menghasilkan kualitas dan kuantitas produksi yang terjamin secara mutu. Ada beberapa resiko jika menggunakan benih kelapa sawit yang tidak legal (tidak unggul) diantaranya, masa TBM yang lama, produksi TBS yang rendah, kualitas rendemen yang rendah dan masa TM yang relatif singkat dibanding menggunakan benih unggul. Petani dapat menggunakan benih unggul dari beberapa produsen penghasil benih

yang resmi diantaranya : PPKS, PT. Lonsum, PT. BTN, PT.Socfindo, PT. Dami Mas, PT. Tunggal Yunus, PT. BSM serta PT. Tania Selatan. Kedelapan Perusahaan ini merupakan produsen resmi yang telah menghasilkan benih dengan kualitas sangat baik karena telah mengalami proses seleksi yang sangat panjang dan telah teruji tetua kedua induk dari F1 yang dihasilkan. Petani dapat memperoleh benih dengan cara memesan langsung ke marketing perusahaan penghasil benih tersebut, selain itu untuk mempermudah Petani mendapatkan benih unggul pihak APKAS-

Sedangkan untuk bibit kelapa sawit, Petani disarankan memperoleh dari penangkar yang sumbernya berwaralaba dari sumber benih resmi dengan izin dan pengawasan oleh Dinas Perkebunan Provinsi/Kabupaten dengan dibuktikan sertifikat bibit (label biru). Berdasarkan penjelasan diatas sangat mudah dan sederhanauntuk mendapatkan bahan tanaman baik berupa kecambah maupun berupa bibit siap tanam. Dengan banyaknya produsen bahan tanaman kelapa sawit dan kerjasama yang sudah terjalin dengan induk organisasi petani kelapa sawit, apkasindo, siap memfasilitasi petani kelapa sawit dalam proses mendapatkan bahan tanaman kelapa sawit yang unggul dan juga mendampingi petani dalam melakukan proses tahapan pembibitan kelapa sawit secara baik dan benar.

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

21


Baksos PT Tunggal Perkasa Plantations

160 Peserta Ikuti Sunat Massal PT Tunggal Perkasa Plantations bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau pada bulan Desember 2018 hingga Januari 2019 menyalurkan kepedulian sosialnya dengan cara menggelar sunat masal dan pengobatan masal. Kegiatan ini salah satu wujud kepudilian perusahaan kepada masyarakat yang berada di sekeliling perkebunan kelapa sawit PT Tunggal Perkasa Plantations anak dari Perusahaan Astro Agro Lestari (AAL) Tbk. Dikatakanya, peserta yang mengikuti sunat masal lebih kurang 160 peserta. Selain itu, kegiatan pengobatan massal

22

polibun secara gratis juga berlangsung berbarengan dengan kegiatan tersebut, ucap CDO PT TPP Hadi Sukoco.

pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat kesehatan dan penyelamatan lingkungan.

Seperti diketahui, PT Astra Agro Lestari menerapkan empat pilar dalam menjalankan Corporate Social Responsibility ( CSR ). Keempat pilar itu adalah

Menurutnya, dalam menjalankan program CSR masing-masing anak perusahaan AAL dapat menyesuaikan dengan tempat beroperasi. Salah satu contoh kegiatan

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019


CSR yang rutinitas dilakoni PT TPP seperti bantuan Biasiswa, Kesehatan, kata Hadi Sukoco. Sisi lain, PT TPP telah melakukan perbaikan jalan di Desa Seko Lubuk Tigo Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Ini salah satu bentuk CSR Perusahaan. Selanjutnya pada tahun 2019 ini, kami akan wacanakan membangun pagar Tempat Pemakaman Umum ( TPU ) di Kecamatan Pasir Penyu.

Sedangkan kegiatan fogging sudah kita lakukan selama satu bulan lamanya dimulai pada awal bulan Desember 2018, yang berlokasi di tiga kecamatan diantaranya, Kecamtan Pasir Penyu, Lirik dan Sei Lala, Kabupaten Indragiri Hulu. Sedangkan anggota yang dikerahkan terjun kelapangan oleh PT Tunggal Perkasa Plantations sebanya tujuh ( 7 ) orang yang terbagi menjadi dua tim disertai dengan dua alat fogging. " Ada 22 Desa yang mendapat pencega-

han terjadinya penyakit Demam Berdarah ( DBD ) dengan cara Fogging dan ini dilakukan pada saat musim hujan usai ", tambah Hadi Sukoco. Dalam hal ini, PT Tunggal Perkasa Plantations setiap tahunnya selalu menyalurkan bantuan ke masyarakat di 22 Desa yang berada di sekeliling perusahaan melalui dana CSR sesuai empat pilar yang telah dituangkan oleh PT Astra Agro Lestari kepada anak perusahaanya. (dan)

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

23


24

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019


Mengenal Lebih Dekat

Radioterapi Oleh dr Arry Setyawan, SpOnk Rad Spesialis Onkologi Radiasi Kanker atau tumor ganas adalah suatu kelainan yang disebabkan pertumbuhan sel abnormal di tubuh. Pertumbuhan sel abnormal ini tidak mengikuti aturan pertumbuhan sel normal lainnya yang secara alami akan tumbuh jika diperlukan, contohnya pergantian sel kulit mati, pergantian sel darah merah, pertumbuhan jaringan pada luka, dan akan berhenti tumbuh jika sudah mencukupi kebutuhan tubuh. Sel kanker adalah sel normal yang kemudian berubah sifat. Pertumbuhan sel kanker biasanya baru akan disadari ketika menimbulkan keluhan. Keluhan terjadi karena jaringan kanker secara langsung menyebabkan gangguan yang dapat dirasakan, diraba atau dilihat oleh pasien, contohnya timbul benjolan abnormal di leher, atau karena jaringan kanker menimbulkan gangguan fungsi organ tubuh yang ditempatinya, contoh kanker paru menyebabkan fungsi paru tidak optimal, kanker otak menyebabkan kelainan saraf. Oleh karena seringkali tanpa gejala maka deteksi dini menjadi sangat penting dalam diagnosa kanker. Kanker stadium awal memiliki potensi terkontrol lebih optimal. Kanker tersering di Indonesia saat ini adalah kanker paru, kanker nasofaring, kanker payudara, dan kanker leher rahim. Terkait tatalaksana atau pengobatan kanker, terdapat beberapa modalitas pengobatan yang sudah diketahui secara medis terbukti memberikan outcome yang cukup baik dalam mengontrol sel kanker. Definisi sembuh pada kanker adalah hilangnya sel atau jaringan kanker yang dapat terdeteksi di tubuh pasien oleh pemeriksaan fisik atau penunjang lainnya, atau dapat juga berupa terhenti atau terkontrolnya pertumbuhan sel kanker. Dan untuk mencapai kondisi sembuh atau terkontrol

tersebut diperlukan tindakan operasi, kemoterapi, dan atau radioterapi. Modalitas pengobatan tersebut dapat berdiri sendiri atau memerlukan kombinasi tindakan. Pilihan modalitas terapi tergantung stadium, jenis, dan tujuan pengobatannya. Terdapat perbedaan mendasar dari pilihan modalitas tersebut yaitu, operasi dan radioterapi bersifat terapi lokal, terbatas di daerah tubuh tertentu saja, sedangkan kemoterapi lebih bersifat terapi dengan target ke seluruh tubuh atau terapi sistemik. Selama ini pelayanan operasi dan kemoterapi untuk pasien kanker sudah diberikan oleh RS Awal Bros Pekanbaru, oleh para dokter spesialis atau sub-spesialis kanker. Pusat layanan radioterapi di RS Awal Bros Pekanbaru akan beroperasi pertengahan tahun 2018. Apa itu tindakan radioterapi? Bagaimana tindakan ini diberikan dan mendatangkan manfaat untuk pengobatan kanker? Apakah tindakan ini beresiko untuk pendamping pasien? Mungkin menjadi pertanyaan awal yang banyak timbul saat konsultasi awal. Radiasi yang digunakan dalam radioterapi untuk tatalaksana kanker adalah jenis pancaran energi pengion yang salah satu efek interaksi nya dengan materi tubuh dapat menyebabkan kerusakan materi tersebut, melalui proses berantai mulai tahap interaksi dengan atom, interaksi dengan materi di dalam sel, sampai ke skala lebih besar yaitu dengan jaringan tubuh. Radioterapi menggunakan radiasi eksterna tidak membuat pasien menjadi sumber radioaktif. Radiasi yang dipancarkan dari alat radiasi ke bagian tertentu

dari tubuh pasien hanya berefek dalam hitungan kurang dari satu detik, selanjutnya kerusakan akibat efek radiasi terhadap sel atau jaringan target nya yang berlanjut, dalam hal ini sampai berakhir pada kematian sel kanker. Dosis radiasi yang diberikan kurang lebih seribu kali lebih besar dibandingkan sinar-X untuk pemeriksaan radiologi diagnostik. Lalu apakah radioterapi aman? Jawabannya adalah iya, teknik radioterapi saat ini telah berkembang ke level yang lebih baik dibandingkan saat pertama kali dimanfaatkan untuk keperluan medis. Dari sisi alat radiasi dan tempat tindakan dilakukan, persyaratan dan peraturan yang cukup ketat harus dipenuhi sampai suatu layanan radioterapi dapat beroperasi, dan salah satu syarat adalah keamanan radiasi disekitar ruang tindakan yang didesain khusus untuk tujuan tersebut. Evaluasi kualitas alat dan keamanan dari bahaya radiasi rutin dilakukan sesuai keharusan perundang-undangan badan pengatur tenaga nuklir. Petugas kesehatan yang membantu pelayanan juga terlatih, profesional, dan berkualifikasi. Dari sisi pasien, teknik radioterapi saat ini terfokus dan terukur, dapat secara presisi mengenai jaringan kanker dan secara bersamaan meminimalkan kerusakan akibat radiasi pada jaringan tubuh sehat disekitarnya. Hal ini dimungkinkan karena pemetaan target terapi dan jaringan sehat secara tiga dimensi, penggunaan komputerisasi dalam perhitungan dosis radiasi,

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

25


Seperti halnya pengobatan kanker atau pengobatan penyakit lainnya, selain bermanfaat untuk kesembuhan, radioterapi berpotensi menimbulkan efek samping oleh karena jaringan sehat disekitar tumor yang terganggu. Efek samping bersifat lokal sesuai area tubuh yang menjadi target. Radiasi daerah kepala leher kemungkinan menimbulkan nyeri menelan, sariawan, dan mulut kering. Radiasi daerah perut bawah kemungkinan menimbulkan diare. Efek samping yang dialami pasien akan diamati dan diatasi oleh petugas kesehatan dan dokter. Pemberian obat sesuai keluhan dan penyesuaian teknik serta dosis radiasi mungkin saja dilakukan jika efek samping yang timbul memerlukan intervensi. Namun, efek samping tersebut belum tentu terjadi pada setiap pasien yang menjalani radiasi, derajat keparahannya juga berbeda pada setiap individu. Pasca radiasi, efek samping akan diamati sampai 2 minggu setelahnya.

dan kemampuan alat radiasi terkini. Diseluruh dunia, jutaan pasien sudah menjalani radioterapi setiap tahunnya secara aman untuk mengobati berbagai jenis kanker. Bagaimana radioterapi dilakukan? Sama seperti tindakan terapi lain, diperlukan penegakkan diagnosa penyakit sebagai alasan pemberian radiasi. Setelah pemeriksaan dan indikasi ditentukan oleh dokter spesialis radioterapi, maka pasien akan mulai menjalani proses pengobatannya. Tindakan CT scan untuk tujuan radioterapi dilakukan sebagai tahap awal (disebut juga CT scan simulasi atau CT Planning), proses ini mirip dengan tindakan radiologi, perbedaannya terdapat pada tambahan alat bantu yang dicetak sesuai bentuk tubuh pasien (masker untuk fiksasi) atau penggunaan alat lain khusus untuk radioterapi. Selanjutnya dokter dan tenaga fisika medis akan menentukan target, teknik, dan dosis radiasi (disebut juga proses Planning radiasi). Saat pelaksanaan radiasi hari pertama, dibantu oleh petugas radiografer dan

26

perawat, pasien akan diminta memposisikan tubuhnya seperti saat simulasi baik dengan alat bantu khusus ataupun tidak. Dan setelah itu alat difungsikan untuk menghantarkan radiasi pengion ke tubuh pasien sedemikian rupa sesuai dengan hasil planning-nya. Radiasi diberikan setiap hari sampai total dosisnya tercapai, 5 kali dalam 1 minggu, sampai total 25-35 kali radiasi tergantung jenis kanker dan tujuan pengobatan. Apa yang menjadi target radiasi? Sesuai jenis kanker dan lokasinya pada tubuh pasien. Seperti disebutkan sebelumnya, radiasi adalah terapi lokal, diberikan hanya pada jaringan tumor ganas yang telah ditentukan berdasarkan pemeriksaanfisik atau pemeriksaan radiologi. Namun karena beberapa jenis kanker memiliki sifat mudah menyebar kesekitarnya, perluasan target radiasi dibutuhkan, contohnya kanker nasofaring (kanker di bagian belakang hidung) mudah menyebar ke kelenjar getah bening di leher, maka radiasi diberikan ke daerah kepala sampai leher, kanker leher rahim mengharuskan radiasi diberikan ke seluruh area perut bawah/panggul.

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

Evaluasi hasil pengobatan radioterapi dan efek samping secara bersamaan diperiksa saat pasien kontrol ke dokter setiap 5 kali tindakan radiasi. Penilaian hasil yang sesungguhnya baru dapat ditentukan setelah radiasi selesai diberikan seluruhnya, bahkan penilaian terkadang membutuhkan waktu sampai 1 bulan karena kematian sel kanker yang tidak secara langsung terjadi saat proses radiasi selesai. Sesuai pernyataan sebelumnya, sembuh tidak harus berupa pengecilan atau hilangnya kanker/tumor. Keberhasilan pengobatan kanker dipengaruhi banyak hal, prinsip utama yang terpenting, semakin dini akan memiliki peluang terkontrol/sembuh lebih baik dibandingkan stadium lanjut. Tindakan medis dilakukan atas pertimbangan perbandingan risk and benefit. Hasil pengobatan berupa pengecilan dan hilangnya kanker merupakan benefit, sedangkan efek samping menjadi risk yang diusahakan seminimal mungkin. Perlu diingat, tidak ada pengobatan tanpa efek samping. Dan jika tumor dibiarkan karena takut dengan efek samping, maka akan muncul pertanyaan, bagaimana efeknya jika tumor dibiarkan tumbuh dan berkembang? Untuk mengetahui hal ini lebih lanjut, pembaca dapat berkonsultasi dengan Dokter-Dokter handal di RS Awal Bros Pekanbaru. (*)


apkasindo riau

TBS Turun, Ekonomi Riau tak Bergerak

Gulat: Gubernur Harus Membuat Pergub TBS Sawit H asil penelitian Bank Indonesia dan beberap perguruan tinggi ternama, sekitar 47 persen ekonomi Provinsi Riau dipengaruhi oleh sawit. Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Riau.

sawit, sudah terbukti betul-betul mampu menggerakkan roda perekonomian di Provinsi Riau banyak desa sudah maju dan berkembang dengan adanya sawit,” tambahnya, hanya saat ini sedang terpuruk.

“Jika harga TBS turun dipasaran, ekonomi Riau itu tak bergerak, lesu, 47 perse ekonomi Riau dipengaruhi oleh Sawit, itu hasil penelitian BI dan beberapa perguruan tinggi ternama. Jika dulu ada yang bilang yang mengerakkan ekonomi Riau itu APBD, sekarang yang menggerakkan ekonomi Riau itu, adalah sawit sebab Riau itu dikenal sebagai Propinsi Sawit,” ujar Gulat.

Memang harga Sawit pada pertengahan Januari 2019 sudah mulai merangkak naik namun masih belum signifikan. Jika dihitung biaya produksi Sawit per kilogramnya, idealnya harga TBS/Kg adalah Rp. 1.950, namun untuk saat ini berdasarkan harga di Pabrik masih di level Rp.1.350/kg TBS, sementara Periode Juni sd Des 2018 berada pada Rp. 850-1050/ Kg TBS. “Lumayanlah sudah merangkak naik,” ujar Gulat.

Bahkan, beberapa mitra kerja Apkasindo seperti pengusaha dan Pabrikan pupuk/ herbisida/pestisida, juga mengalami kondisi yang sama, terpuruk. Menumpuknya stok barang, karena tak ada yang mau mengambil. “Sawit tidak lagi memberikan multiplayer effec positif, namun sudah multiplayer pangkat tiga tapi negatif. Bagaimanapun

Banyak faktor mengapa harga TBS anjlok diluar siklus harga normal jika berpatokan kepada 10 tahun kebelakang, namun kali ini cenderung kepada Politik, ya Politik Perdagangan Internasional dan Tahun Politik. Kalau sudah tahun politik ya semua bisa jadi, kalau Politik Dagang Internasional cukup dengan lobi-lobi, clear itu, buktinya kan sudah langsung naik

harga TBS begitu Presiden menugaskan Tim Diplomasi Sawit ke Negara Eropa, Amerika dan Asia. Menyikapi hal ini, Gulat mengingatkan pemerintah tak bisa mainmain lagi dengan sawit. “Khusus untuk Riau, Kami berharap, dibawah Gubernur Syamsuar, petanipetani sawit di Riau mendapatkan perhatian lebih, itu sudah janji Pak Syamsuar ketika berkunjung ke kantor DPW Apkasindo dan kami yakin janji itu bisa terealisasi karena di Siak Pak Syamsuar sudah berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat Siak yang 38% adalah bekerja disektor perkebunan Sawit. Fokus penting dari kebijakan Pemerintah Riau kedepannya adalah membicarakan Tataniga TBS dengan Pabrikan (PKS) dan kepada semua organisasi kelapa sawit di Riau” Gubernur harus segera menerbitkan Pergub TBS Sawit Riau, jika Pihak Pabrikan PKS tidak patuh terhadap Pergub tersebut tidak perlu berpikir dua kali, cabut izinnya,“ ujar Gulat Pemegang Sertifikat Nasional Auditor ISPO ini dengan tegas. (rd)

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

27


apkasindo riau

Sawit Jantung Ekonomi Riau

Gulat: Kita Berharap Pemerintah

Serius dan Fokus Ketika harga tandan buah segar (TBS) sawit anjlok seperti yang terjadi dalam 6 bulan belakangan ini. Ternyata berdampak langsung kepada perekonomian masyarakat Riau. Banyak sektor ekonomi tak bergerak, daya beli masyarakat anjlok; sebut saja showroom mobil, seperti yang diakui Dedi, salah seorang pemilik showroom mobil di Jalan Soekarno-Hatta, Pekanbaru. Dikatakan, Dedi, penjualan mobil di showroomnya turun drastis di akhir tahun yang lalu. Padahal, biasanya tahun baru adalah waktu dimana meningkatnya angka penjualan, demikian juga dengan mobil berat truk dan mobil berpenggerak 4x4 yg sering dipakai di sektor perkebunan Sawit, leasing rata2 menarik mobil dari kreditur karena kredit macet. “Setiap akhir tahun ada peningkatan

28

penjualan unit. Namun akhir tahun yang lalu, penjualan turun. Kali ini memang luar biasa dampaknya karena akibat sawit tak ada harga,” ujar Dedi ke SawitPlus.co. Diakui Dedi, langganan yang sering datang ke showroomnya adalah para petani dan pengusaha sawit. “Kami sudah tawarkan, ambil saja dulu. Namun mereka bilang, tak mau. Katanya harga sawit turun,” sebutnya. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Riau, Gulat Medali Emas Manurung saat ditemui SawitPlus, co, mengakui benar apa yang disampaikan salah seorang pemilik

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

shoowroom mobil tersebut. “Jika harga TBS turun dipasaran, ekonomi Riau itu tak bergerak, lesu, 47% ekonomi Riau dipengaruhi oleh Sawit, itu hasil penelitian BI dan beberapa Perguruan Tinggi Ternama. Jika dulu ada yang bilang yang mengerakkan ekonomi Riau itu APBD, sekarang yang menggerakkan ekonomi Riau itu, adalah sawit sebab Riau itu dikenal sebagai Propinsi Sawit. “ ujar Gulat. Bahkan, beberapa mitra kerja Apkasindo seperti pengusaha dan Pabrikan pupuk/ herbisida/pestisida, juga mengalami


apkasindo riau kondisi yang sama, terpuruk. Menumpuknya stok barang, karena tak ada yang mau mengambil. “Sawit tidak lagi memberikan multiplayer effec positif, namun sudah multiplayer pangkat tiga tapi negatif. Bagaimanapun sawit, sudah terbukti betul-betul mampu menggerakkan roda perekonomian di Provinsi Riau banyak desa sudah maju dan berkembang dengan adanya sawit,” tambahnya, hanya saat ini sedang terpuruk. Memang harga Sawit pada pertengahan Januari 2019 sudah mulai merangkak naik namun masih belum signifikan. Jika dihitung biaya produksi Sawit per kilogramnya, idealnya harga TBS/Kg adalah Rp. 1.950, namun untuk saat ini berdasarkan harga di Pabrik masih di level Rp.1.350/kg TBS, sementara Periode Juni sd Des 2018 berada pada Rp. 850-1050/ Kg TBS. Lumayanlah sudah merangkak naik, ujar Gulat. Banyak faktor mengapa harga TBS anjlok diluar siklus harga normal jika berpatokan kepada 10 tahun kebelakang, namun kali ini cenderung kepada Politik, ya Politik Perdagangan Internasional dan Tahun Politik. Kalau sudah tahun politik ya semua bisa jadi, kalau Politik Dagang Internasional cukup dengan lobi-lobi, clear itu, buktinya kan sudah langsung naik harga TBS begitu Presiden menugaskan Tim Diplomasi Sawit ke Negara Eropa, Amerika dan Asia. Menyikapi hal ini, Gulat mengingatkan pemerintah tak bisa main-main lagi dengan sawit. “Khusus untuk Riau, Kami berharap, dibawah Gubernur Syamsuar, petani-petani sawit di Riau mendapatkan perhatian lebih, itu sudah janji Pak Syamsuar ketika berkunjung ke kantor DPW Apkasindo dan kami yakin janji itu bisa terealisasi karena di Siak Pak Syamsuar sudah berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat Siak yang 38% adalah bekerja di sektor perkebunan Sawit. Fokus penting dari kebijakan Pemerintah Riau kedepannya adalah membicarakan Tataniaga TBS dengan Pabrikan (PKS) dan kepada semua organisasi kelapa sawit di Riau,” harapnya. “Gubernur harus segera menerbitkan PerGub TBS Sawit Riau, jika PIhak Pabrikan PKS tidak patuh terhadap PerGub tersebut tidak perlu berpikir dua kali, cabut izinnya,” ujar Gulat Pemegang Sertifikat Nasional Auditor ISPO ini dengan Tegas. (rd) Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

29


30

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019


Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

31


2020-2030, UE wajib memenuhi 32% kebutuhan energinya dari sumber terbarukan. Artinya, UE tetap membutuhkan sumber bahan bakar nabati, namun tidak boleh dari sawit. “Kita tidak setuju dengan kontroversi parameter yang mereka lakukan. Tapi apakah Indonesia mati dengan mereka tidak beli ke kita, juga tidak karena kita sudah ada ada program energi hijau sendiri,” jelas Sahat, Minggu (27/1).

Derom Bangun: Eropa Terus Mendiskriminasi Sawit Indonesia Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mendukung sepenuhnya langkah pemerintah pusat yang dengan tegas menolak semua upaya diskriminasi yang dilakukan Komisi Eropa melalui mekanisme pembahasan The Renewable Energy Directive II (RED II) dan Indirect Land Use Change (ILUC). Sebab, baik RED II maupun ILUC, menurut Derom Bangun, hanyalah akal-akalan pihak Eropa untuk mendiskriminasi minyak sawit dari minyak nabati lain di dalam perdagangan internasional. Hal itu dikatakan Derom Bangun kepada para wartawan di Medan, Senin, 28 Januari 2019 malam. “Upaya (diskriminasi terhadap sawit -red). itu tercermin pada konsep yang diajukan mengenai RED II dan ILUC yang akan menggolongkan minyak sawit sebagai beresiko tinggi. Sedangkan minyak nabati lain digolongkan berisiko rendah terhadap deforestasi,” kata Derom. Karena itu pihaknya sangat mendukung pemerintah yang menyatakan dengan tegas tidak akan melibatkan diri atau pun ikut di dalam setiap pembahasan atau diskusi mengenai RED II dan ILUC yang diselenggarakan baik di dalam maupun di luar Indonesia. “Selanjutnya kami dari DMSI juga

32

menghimbau dan mengajak semua asosiasi anggota DMSI untuk mengambil sikap yang sama seperti yang dilakukan pemerintah Indonesia,” kata Derom. Ada Pasar Dalam Negeri Dilansir dari kontan.co.id disebutkan kalau Uni Eropa akan mengimplementasikan kebijakan yang berpotensi mengurangi perdagangan bahan bakar nabati bersumber sawit pada Februari depan. Namun demikian, pengusaha yakin Indonesia tidak harus khawatir karena masih ada pasar lebih besar terutama dari dalam negeri. Direktur Eksekutif DMSI Sahat Sinaga menjelaskan, implementasi regulasi tersebut bisa mengakibatkan ekspor biodiesel Indonesia di kisaran 3 juta ton setahun jadi berkurang. Padahal, dalam RED II ini juga menetapkan bahwa dalam periode tahun

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

Dalam catatannya, volume ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan pada Eropa untuk tahun 2018 lalu diperkirakan mencapai 4,2 juta ton di mana sebanyak 75% adalah untuk bahan biodiesel. Sedangkan sisa 25% untuk kebutuhan pangan. Bila UE benar-benar mengimplementasikan kebijakan tersebut maka ekses di kisaran 3 juta CPO yang biasanya diolah Eropa menjadi biodiesel bisa diserap ke pasar dalam negeri. Ingat saja, Indonesia sendiri sedang membangun roadmap energi hijau dengan membangun kilang green energy di Plaju, Dumai dan Cilacap. “Pilot project sudah berjalan di Plaju, Maret nanti di Dumai, Agustus di Cilacap untuk avtur dan 2020 nanti kita akan full speed gunakan bahan baku itu nabati untuk gantikan fosil,” kata Sahat. Memang, dalam catatan Kontan, PT Pertamina dan Institut Teknologi Bandung (ITB) akan mulai CPO menjadi BBM hijau alias green gasoline. Tapi bukan berarti Indonesia akan sepenuhnya keluar dari bahan baku mineral berbasis fosil. Apalagi menimbang pertumbuhan lahan sawit dan produksi CPO belum tentu bisa memenuhi skala bahan bakar nabati hingga 100%. Oleh karena itu, Sahat melihat implementasi dari RED II oleh Eropa ini sejatinya tidak akan berdampak negatif pada perdagangan sawit Indonesia dan justru akan menjadi beban berat bagi Eropa. “Eropa sebenarnya mengunci dirinya sendiri, mereka masih diwajibkan pemenuhan 32% dari pangan tapi tidak boleh sawit, padahal biaya pengolahan minyak rapeseed dan sunflower lebih mahal daripada sawit,” jelasnya. (hen)


K

Uni Eropa Kembali Ancam Minyak Sawit Indonesia

ebijakan Uni Eropa mendeklarasikan Delegated Act untuk mengimplementasikan Renewable Energy Directive (RED) II pada Februari 2019 mengancam keberadaan minyak sawit Indonesia.

rian Luar Negeri, menyampaikan, RED II sejatinya sudah lahir pada 11 Desember 2018 lalu. “Selanjutnya, Delegated Act atau semacam komitmen implementasi ini akan terbit pada 1 Februari 2019 depan,” katanya.

RED II merupakan kesepakatan mengenai penggunaan bahan bakar ramah lingkungan (biofuel) yang berlaku mulai 2020. Dalam kesepakatan ini, sepanjang 2020-2030, negara-negara Uni Eropa akan menetapkan kelapa sawit dalam kategori tanaman pangan risiko tinggi dan risiko rendah Indirect Land Usage Change (ILUC).

Dalam penerapan RED II, sebenarnya Uni Eropa menetapkan, kewajiban pemenuhan 32% kebutuhan bahan bakar nabati untuk energi dari sumber terbarukan pada 2030 mendatang. Ini berarti, Uni Eropa membutuhkan sumber bahan bakar nabati dalam jumlah besar. Cuma, bahan bakar dari sawit atau biodiesel tak masuk daftar.

Hal Itu juga berarti, UE akan membatasi penggunaan minyak sawit dan bahkan menghapusnya secara bertahap dari pasar bahan bakar nabati Uni Eropa. Penerapan RED II bisa memengaruhi perdagangan minyak sawit dunia termasuk ke Eropa. Karena itu, Pemerin-

tah berniat mengajukan keberatan kepada Dewan Pertimbangan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mahendra Siregar, Staf Khusus Kemente-

I Mahendra menegaskan, ini sebuah diskriminasi besar bagi sawit. Apalagi, parameter yang Uni Eropa terapkan pada ILUC tidak relevan untuk negara tropis. “Kriteria ILUC disusun untuk menguntungkan komoditas lokal Uni Eropa seperti minyak rapeseed,” kata dia. (tps)

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

33


34

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019


Edisi 11 Tahun 2019 ~ SAWIT PLUS

35


kisah sukses

Pejuang Raplanting Asian Agri

Sukses Panen Perdana

Para petani kelapa sawit yang tergabung dalam KUD Mulus Rahayu di Desa Delima SP1, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, Provinsi Riau melakukan panen perdana kebun peremajaan atau replanting kelapa sawit rakyat awal Desember tahun 2018 lalu. Acara panen perdana dihadiri oleh Bupati Siak Syamsuar bersama petani plasma dan didampingi oleh jajaran Muspida Provinsi Riau dan Kabupaten Siak, serta Head of Plantation Asian Agri Omri Samosir dan Regional Head Asian Agri wilayah Riau Pengarapen Gurusinga.

sejak April 2016 lalu.

“Semoga semakin banyak kebun sawit rakyat yang segera diremajakan,” kata Syamsuar yang juga merupakan Gubernur Riau terpilih pada Pilkada 2018 lalu.

“Pak Dirjen (Perkebunan) mengeluhkan peremajaan sawit di Riau ini masih kecil sekali. Padahal kita di Riau ini yang diandalkan. Saya tidak tahu berapa realisasi saat ini tetapi target yang ditetapkan pemerintah adalah seluas 25 ribu hektare,” ungkap Syamsuar.

Menurut Syamsuar, replanting di Siak sejalan dengan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang digiatkan oleh Pemerintah Indonesia. Sebanyak 135 petani plasma kelapa sawit menandai kesiapan panen kebun mereka seluas 310 hektare yang telah diremajakan

36

Sejauh ini, lanjut Syamsuar, realisasi peremajaan kebun sawit rakyat di Riau masih sangat rendah. Hal itu diketahuinya dari keluhan Dirjen Perkebunan beberapa waktu lalu.

Syamsuar juga menyatakan apresiasi kepada para petani atas tekad dan kerja keras para petani untuk meremajakan kebun sawitnya agar memperoleh produk-

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

tivitas yang lebih baik. Karena itu, Syamsuar juga mendorong para petani lain yang kebun sawitnya sudah tidak produktif untuk mempertimbangkan dan tidak ragu melakukan peremajaan kebun sawit. “Kita tahu banyak ragam masalah yang dihadapi petani. Misalnya BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) kelapa sawit yang ternyata sangat susah mencairkan dana untuk petani replanting hingga utang piutang dan surat tanah,” jelas Syamsuar. Oleh sebab itu, lanjut Syamsuar, pihaknya akan mencarikan solusi dengan meminta perusahaan-perusahaan perkebunan di Riau yang takut menjadi avalis (penjamin) untuk menanggung sementara beban petani lewat kesepakatantertentu. Pemerintah daerah dan perbankan akan memberikan dukungan penuh untuk itu. Sementara Ketua KUD Mulus Rahayu Parwito Saring mengungkapkan syukurnya atas keberhasilan koperasi petani yang dipimpinnya melewati masa peremajaan dan mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah termasuk BPDP


kisah sukses Kelapa Sawit, Bank Syariah Mandiri selaku pihak perbankan serta Asian Agri sebagai perusahaan mitra yang telah mendukung pelaksanaan peremajaan sawit. Kemitraan dengan perusahaan menurut Pawito mampu menjawab kekhawatirannya pada saat dirinya akan memutuskan untuk melakukan program peremajaan. “Salah satu kekhawatiran saya adalah ketika harus menghadapi masa tunggu, dimana pendapatan berkurang karena tanaman belum menghasilkan. Namun melalui kemitraan dengan perusahaan, selain memperoleh bantuan dan pendampingan dalam masa persiapan hingga proses peremajaan, kami mendapatkan pelatihan ekonomi alternatif seperti salah satunya yang kami usahakan adalah ternak ikan patin, sehingga penghasilan kami tetap terjaga hingga saat ini,” ujar Pawito. “Kami juga berharap keberhasilan kami dalam melakukan peremajaan kebun ini dapat menjadi inspirasi bagi rekan-rekan petani lain yang masih ragu meremajakan kebun sawitnya yang sudah tidak produktif,” ujarnya. KUD Mulus Rahayu merupakan koperasi petani kelapa sawit mitra Asian Agri yang telah menjalin program kemitraan dengan perusahaan sejak tahun 1988. Dalam meremajakan kebunnya, para petani KUD Mulus Rahayu menanam bibit

unggul Topaz yang berpotensi meningkatkan produktivitas secara signifikan dibandingkan dengan bibit sawit pada umumnya. Penggunaan bibit unggul dalam peremajaan kebun sawit merupakan hal yang penting untuk menentukan keberhasilan program. Head of Plantation Asian Agri Omri Samosir mengatakan kerja sama serta hubungan harmonis yang terus dibina perusahaan dengan petani merupakan kunci keberhasilan dari program peremajaan. “Kemitraan Asian Agri bersama petani plasma telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun, dan program peremajaan kebun kelapa sawit ini merupakan komitmen yang akan berlanjut ke tahap berikutnya, untuk satu siklus penanaman.

Hari ini para petani mitra kami sudah dapat menikmati hasil dari komitmen mereka dalam program peremajaan. Kami tentunya berharap kemitraan yang telah terbina dengan baik ini akan terus terjalin dan kami dapat terus mendorong kesejahteraan petani-petani lainnya di Indonesia,” ujarnya. Hingga saat ini Asian Agri telah bekerja sama dengan para petani plasma dan swadaya yang mengelola 96.000 hektare kebun kelapa sawit rakyat di Riau, Jambi, dan Sumatra Utara. Perusahaan terus berkomitmen untuk menjangkau lebih banyak petani melalui program kemitraan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga petani dan mendukung pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia. (lin)

Edisi 11 Tahun 2019 ~ MAJALAH SAWIT

37


Siti Nurbaya: Iklim Kering, Tetap Waspadai Karhutla enteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengimbau semua pihak tetap waspada menghadapi ancaman karhutla. Hal itu karena iklim tahun 2019 menurut perkiraan BMKG lebih kering dari 2018.

M

terjadi di Riau, serta sebagian kecil Jambi, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

Di beberapa wilayah, sampai dengan saat ini sudah banyak terpantau titik panas (‘ftotspot) karhutla yang sebagian besar

Indonesia berhasil menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2018. Hal itu merupakan hasil kerja keras para pihak,

38

“Kondisi ini tentu harus diwaspadai dan upaya pencegahan harus diprioritaskan,� kata Menteri LHK, Senin, 28 Januari 2019.

MAJALAH SAWIT ~ Edisi 11 Tahun 2019

mulai dari pencegahan yang dilakukan melalui kegiatan patroli terpadu pencegahan karhutla, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), membentuk brigade pengendalian karhutla pada wilayah rawan, penyadartahuan masyarakat, meningkatkan peringatan dan deteksi dini, serta meningkatkan koordinasi dengan para pihak. Selain upaya pencegahan, Kementerian LHK siaga dan gerak cepat melakukan pemadaman yang dilakukan oleh Manggala Agni bersama para pihak. Pemadaman udara (water bombing) juga dilakukan, untuk menuntaskan kebakaran pada areal yang sulit dijangkau. (tps)


Edisi 10 Tahun 2018 ~ MAJALAH SAWIT

39


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Majalah Sawitplus Edisi 11 by Majalah Sawit Plus - Issuu