STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 8.30 PROPOSAL PROYEK “SUSTAINABLE LIVING ON FLOATING ISLAND” “PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU”
Disusun oleh: Samuel Prinardi Suteja 315160076
Dosen Penanggung Jawab: Veronica Gandha, S.T., M.Arch.
Dosen Fasilitator: Ir. Suwandi Supatra, M.T.
PROGRAM STUDI SARJANA ARSITEKTUR JURUSAN ARSITEKTUR DAN PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA 2020
DAFTAR ISI DAFTAR ISI................................................................................................................................................ i DAFTAR TABEL ........................................................................................................................................ ii DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................................... iii BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang............................................................................................................................... 1 1.2 Tujuan Perancangan ..................................................................................................................... 2 1.3 Manfaat Perancangan ................................................................................................................... 2 1.4 Sumbangsih Proyek ....................................................................................................................... 2 BAB 2 KAJIAN TEORITIKAL ....................................................................................................................... 3 2.1 Floating Design .............................................................................................................................. 3 2.2 Sustainable Architecture ............................................................................................................... 4 2.2.1 Sustainable Menurut Penulis ................................................................................................. 5 2.3 Dwelling ........................................................................................................................................ 6 2.3.1 Dwelling Menurut Ahli ........................................................................................................... 6 2.3.2 Dwelling Menurut Penulis ...................................................................................................... 6 BAB 3 METODE PERANCANGAN ............................................................................................................. 8 3.1 Pendekatan Isu.............................................................................................................................. 8 3.2 Pemilihan Tapak ............................................................................................................................ 8 3.3 Pemilihan Metode Desain ............................................................................................................. 8 3.3.1 Respond to Site – Contextualism ......................................................................................... 10 BAB 4 PROGRAM ................................................................................................................................... 11 4.1 Programming............................................................................................................................... 11 4.2 Proses Programming ................................................................................................................... 12 4.3 Program Bangunan ..................................................................................................................... 14 BAB 5 TAPAK ......................................................................................................................................... 16 5.1 Pemilihan Kawasan ..................................................................................................................... 16 5.2 Pulau Untung Jawa...................................................................................................................... 16 5.3 Tapak Terpilih.............................................................................................................................. 17 BAB 6 STUDI PRESEDEN ........................................................................................................................ 19 6.1 Hotel Haegumgang ..................................................................................................................... 19 6.2 Oceanix City ................................................................................................................................ 19 6.3 Qatar Floating Hotels .................................................................................................................. 20 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 21
i
DAFTAR TABEL
ii
DAFTAR GAMBAR
iii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berhuni di masa depan dipengaruhi oleh alam, salah satunya adalah lautan. Perbandingan komposisi yang terdapat pada bumi adalah 70% air dan 30% daratan. Hal ini menyatakan bahwa sebagian besar bumi merupakan air. Dengan perbandingan tersebut manusia telah hidup selama 200.000 tahun di bumi ini. Namun terdapat sebuah masalah yang muncul sejak 25 tahun lalu, yaitu meningkatnya ketinggian permukaan air laut. Meningkatnya ketinggian permukaan laut disebabkan oleh beberapa faKtor seperti mencairnya es, formasi es besar seperti gletser gunung secara alami mencair sedikit setiap musim panas. Di musim dingin, salju, terutama dari air laut yang menguap, umumnya cukup untuk mengimbangi pencairan. Namun, baru-baru ini, suhu yang terus-menerus lebih tinggi yang disebabkan oleh pemanasan global telah menyebabkan pencairan musim panas yang lebih besar dari rata-rata serta berkurangnya salju yang turun karena musim dingin yang lebih lambat dan musim semi yang lebih awal. Hal itu menciptakan ketidakseimbangan antara proses melelehnya es dan pembekuan yang mengakibatkan kenaikan permukaan air laut. Faktor lainnya adalah hilangnya lapisan es di kutub utara dan kutub selatan yang disebabkan oleh memanasnya bumi sehingga volume air di bumi terus bertambah karena hasil lelehan es tersebut. Kedua faktor tersebut disebabkan oleh pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia yang menghasilkan gas CFC sehingga membuat lapisan ozone berlubang dan panas matahari yang masuk ke bumi lebih panas dari 25 tahun lalu. Meningkatnya ketinggian permukaan air laut dapat mengakibatkan berbagai macam hal seperti erosi, banjir rob, dan terendamnya beberapa area pesisir yang mengakibatkan manusia untuk mengungsi dan memindahkan tempat hunian mereka. Dengan meningkatnya ketinggian permukaan laut maka area daratan yang digunakan manusia untuk berhuni semakin menyempit karena lambat laun akan terendam oleh air, sedangkan jumlah pertumbuhan manusia pada bumi terus meningkat sehingga daratan akan semakin padat dengan manusia. Dengan padatnya manusia maka ancaman lainnya adalah tertularnya penyakit seperti Covid-19 dan juga penyakit lainnya semakin marak terjadi karena kurangnya jarak terjadi di dalam berhuni, efek dari Covid-19 yang juga membuat sebagian besar manusia di bumi tidak dapat berinteraksi secara normal dan harus menjaga jarak serta melakukan semua aktivitas di dalam rumah. Berdasarkan ketiga paragraph diatas, maka muncul sebuah ide WHAT IF A CITY COULD FLOAT AND SUSTAIN THEMSELVES WHILE PROTECTING ITS DWELLER FROM A CERTAIN HARM THROUGH SEPARATION WITH LAND DWELLERS AND ALSO PROVIDING A LIFESTYLE THAT IS SIMILAR FROM LAND DWELLERS? Berdasarkan pertanyaan tersebut, perancang mulai memikirkan jenis hunian yang dapat beradaptasi dengan kenaikan permukaaan 1
laut dengan sistem sustainability dalam setiap aspek seperti air, energi, pengolahan sampah, pangan dan lainnya serta menciptakan sebuah komunitas baru dan juga gaya hidup baru yang dapat terjaga dari penyakit serta tidak merusak lingkungan. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah Sustainable architecture dan Floating Architecture. Konsep ini menyediakan gaya hidup terapung di atas air yang sustainable dan tidak meninggalkan gaya hidup bersosialisasi yang lama serta tetap memaksimalkan kinerja dari setiap penghuni yang ada dan menciptakan lowongan kerja bagi setiap individu di dalamnya.
1.2 Tujuan Perancangan Tujuan perancangan ini adalah sebagai berikut: -
Mengatasi masalah kenaikan tinggi permukaan laut yang akan menenggelamkan sebagian daratan
-
Menciptakan sebuah kota sustainable yang dapat memproduksi pangan, air, dan energi serta mengolah sampah menjadi energi terbarukan
-
Menciptakan kota yang menggunakan energi terbarukan
-
Menciptakan sinergi antara penghuni dan juga sistem dalam kota
1.3 Manfaat Perancangan Manfaat dari perancangan ini adalah sebagai berikut: -
Hunian yang beradaptasi sesuai dengan ketinggian permukaan air bagi penghuni pesisir
-
Lowongan pekerjaan bagi para penghuni
-
Kota dengan sistem sustainable yang ramah lingkungan
1.4 Sumbangsih Proyek Sumbangsih proyek yang akan dirancang melalui proyek ini adalah sebagai berikut: -
Proyek ikut berpartisipasi dalam memperbaiki kerusakan di bumi yang diakibatkan oleh global warming
-
Menyediakan lowongan kerja bagi masyarakat sekitar
-
Memperkenalkan solusi baru terhadap kenaikan tinggi permukaan air laut
2
BAB 2 KAJIAN TEORITIKAL 2.1 Floating Design Berdasarkan perubahan iklim, kekurangan lahan yang dapat digunakan, sebagian besar air di permukaan bumi, dan peningkatan tinggi permukaan air laut, arsitektur terapung muncul sebagai alternatif yang kuat & menarik. Paradigma baru arsitektur dapat digambarkan sebagai model dan / atau sistem baru arsitektur dengan konsep baru Menurut Olthuis & Keuning, rumah terapung memiliki fungsi ganda untuk beradaptasi dengan perubahan iklim (banjir dan kenaikan permukaan laut) dan selanjutnya sebagai hunian alternatif untuk mengurangi kemacetan di daerah perkotaan. Dia menyoroti keuntungan utama dari bangunan terapung adalah fleksibilitasnya untuk relokasi dan penggunaan multifungsi pada waktu yang berbeda. Di sisi lain, bangunan terapung juga memiliki kelemahan yaitu ketidakstabilan, terutama bangunan yang beradaptasi dengan fluktuasi air. Desain rumah apung biasanya dilengkapi dengan tiang tambat dari beton atau besi untuk menjaga bangunan tetap pada tempatnya saat meluncur naik turun. Proporsi bangunan juga berkontribusi pada stabilitasnya; Ketinggian bangunan harus lebih pendek dari panjangnya. Dalam membangun rumah apung modern perlu disamakan dengan rumah adat di darat dalam segala hal, baik dari segi kenyamanan, kualitas dan harga. Kenyamanan artinya stabilitas dan fisik bangunan sama dengan yang ada di darat, ketersediaan ruang eksterior seperti taman dan parkir serta aksesibilitas meningkatkan kenyamanan. Dari segi kualitas, material dan perawatan rumah apung serta daya tahan dan pondasinya mirip dengan rumah pada umumnya. Keberlanjutan dari Arsitektur Terapung (Floating Architecture) dapat diketahui sebagai pendekatan energidan ekologis pada bangunan dengan sistem terapung tanpa alat navigasi. Karakteristik berkelanjutan dari arsitektur terapung sebagai berikut : • Penggunaannya bisa didaur ulang dan bisa direlokasi • Pengadopsian teknik energi terbarukan • Penginstalasian pembangkit mandiri • Penerapan sistem modular dan lainnya, seperti materi baru & tata letak terbuka
3
2.2 Sustainable Architecture Sustainable architecture atau dalam bahasa Indonesianya adalah arsitektur berkelanjutan, adalah sebuah konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk mendukung konsep berkelanjutan, yaitu konsep mempertahankan sumber daya alam agar bertahan lebih lama, yang dikaitkan dengan umur potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis manusia, seperti sistem iklim planet, sistem pertanian, industri, kehutanan, dan tentu saja arsitektur. Kerusakan alam akibat eksploitasi sumber daya alam telah mencapai taraf pengrusakan secara global, sehingga lambat tetapi pasti, bumi akan semakin kehilangan potensinya untuk mendukung kehidupan manusia, akibat dari berbagai eksploitasi terhadap alam tersebut. Menurut
Wikipedia,
Arsitektur
berkelanjutan
adalah
istilah
umum
yang
menggambarkan teknik desain sadar lingkungan di bidang arsitektur . Arsitektur berkelanjutan dibingkai oleh diskusi yang lebih besar dari keberlanjutan dan isu-isu ekonomi dan politik yang mendesak dari dunia kita. Dalam konteks luas, arsitektur berkelanjutan untuk meminimalkan dampak lingkungan negatif dari bangunan dengan meningkatkan efisiensi dan moderasi dalam penggunaan bahan, energi, dan ruang pengembangan. Ide keberlanjutan, atau desain ekologis, adalah untuk memastikan bahwa tindakan kita dan keputusan hari ini tidak menghambat kesempatan generasi mendatang. Istilah ini dapat digunakan untuk menggambarkan sebuah energi dan pendekatan ekologis sadar dengan desain lingkungan binaan. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika (EPA), sustainability di definisikan menjadi “semua yang dibutuhkan oleh manusia untuk bertahan hidup dan kesejahteraannya, langsung atau tidak langsung didapatkan dari lingkungan alam�, dan membuat serta menjaga kondisi yang tercipta dimana manusia dan alam hidup berdampingan secara produktif yang menyediakan kebutuhan sosial, ekonomi, dan kebutuhan lainnya pada masa kini dan masa depan (EPA 2015). Penerapan Sustainable Architecture diantaranya: -
Memanfaatkan sinar matahari untuk pencahayaan alami dan sebagai energi terbarukan yang menkonversi panas matahari menjadi energi yang dapat digunakan sehari hari
-
Memanfaatkan udara sebagai penghawaan serta sebagai sumber energi terbarukan dengan memanfaatkan tiupan udara pada turbin untuk menghasilkan energi
-
Mengolah kembali sampah dengan memanfaatkan hasil pembakaran sebagai energi terbarukan
4
-
Mengumpulkan air hujan untuk kemudian di olah dan digunakan dalam kehidupan sehari hari. Dalam arsitektur berkelanjutan hal yang ingin dicapai yaitu zero waste menjadi dasar
dari Sustainable Architecture dimana hal ini juga menjaga lingkungan dengan tidak menggunakan energi fosil yang memiliki jumlah terbatas dan tidak ramah lingkungan sedangkan penggunaan dan pemanfaatan energi terbarukan secara efektif dapat mengurangi pembuangan yang dihasilkan sehingga tidak berdampak buruk bagi alam. Menurut UNICEF, terdapat 17 syarat sustainable yang meliputi: 1. No. Poverty
10. Reduced Inequalities
2. Zero Hunger
11. Sustainable
3. Good Health and Wellbeing
Consumption
and Production
5. Gender Equality
13. Climate Action
6. Clean Water and Sanitation
14. Life Below Water
7. Affordable
15. Life on Land
and
and
Communities 12. Responsible
4. Quality Education
Cities
Clean
Energy 8. Decent Work and Economic Growth
16. Peace, Justice, and Strong Institutions 17. Partnerships for the goals
9. Industry, Innovation, and Infrastructure
2.2.1 Sustainable Menurut Penulis Berdasar kan teori diatas, maka perancang mengkarakteristikkan Sustainable Architecture menjadi Energy, Water, Waste, Nature, serta Social. Ke 5 hal ini menjadi dasar dalam perancangan Sustainable Architecture sehingga sebuah desain rancangan akan dapat menyokong komunitas yang berada di dalamnya tanpa bergantung dengan sebuah badan kerja atau pemerintah dalam mengelola kebutuhan komunitas tersebut serta dapat memelihara dan hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya.
5
2.3 Dwelling 2.3.1 Dwelling Menurut Ahli Martin Heidegger ¹Dwelling according to Heidegger is to remain in place and to be situated in a certain relationship with existence, a relationship which is characterized by nurturing, enabling the world to as it is. And in Heidegger's own words: "the basic character of dwelling is to spare, to preserve… dwelling itself is always a staying with things. Dwelling, as preserving, keeps the fourfold in that with which mortals stay: in things" (Heidegger – "Building Dwelling Thinking" pp.150-151). Christian Norberg-Schulz Dalam bukunya yang berjudul The Concept of Dwelling: On the way to figurative architecture ada sebuah kalimat pada awal buku yang berbunyi “The word ‘dwelling’ here means something more than having a roof over our head and a certain number of square meters at our disposal.” Menurutnya ada 2 hal penting mengenai arti dwelling. Yang pertama, dwelling atau berhuni adalah suatu tempat yang berguna untuk bertukar ide, perasaan maupun produk demi mendapatkan suatu pengalaman. Yang kedua, dwelling adalah suatu tempat untuk mencapai kesepakatan, yaitu suatu perangkat nilai – nilai yang sama yang disetujui berbagai pihak.
2.3.2 Dwelling Menurut Penulis Dalam berhuni, banyak elemen-elemen yang membentuk definisi berhuni bagi manusia, seperti menetap dan tinggal di suatu tempat, atau sebuah kegiatan bekerja yang bersinergi dengan elemen lainnya dan membentuk sebuah hubungan yang menjadikan pekerjaan sebagai sebuah hal dalam berhuni. Aspek lainnya seperti aktivitas rekreasi yang juga dibutuhkan manusia untuk keluar dari rutinitas harian. Berhuni juga merespon kejadian yang terjadi pada alam sehingga perubahan dari cara berhuni bagi setiap orang dipengaruhi dan berdapatasi terhadap alam disekitarnya baik kecil maupun besar. Seperti bentuk bangunan adat dari suku tertentu mengikuti kebutuhan dari tempat tinggal mereka yang dapat dibangun tinggi karena adanya ancaman binatang liar, atau dibangun rendah dan terbuat dari bahan yang mudah di lepaskan untuk memenuhi cara hidup nomaden. Dalam perubahan kondisi alam pada saat ini yang terjadi adalah fenomena pandemi dimana perubahan cara hidup terjadi dan setiap manusia dituntut untuk berjaga jarak dan tinggal di rumah masing masing serta melakukan semua aktivitas di dalam rumah mulai dari bekerja sampai rekreasi. 6
Hal-hal tersebut mendefinisikan berhuni sebagai sebuah sinergi dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari hari dimana setiap aktivitas tersebut unik dan berbeda bagi setiap individu namun memiliki tujuan yang sama yaitu memenuhi kebutuhan dalam hidup setiap individu dengan meresponi kondisi serta kejadian alam sekitar. Sehingga penulis mengkarakteristikan dwelling menjadi Space (ruangan), Activity (Aktivitas), Dwell (hunian).
7
BAB 3 METODE PERANCANGAN
3.1 Pendekatan Isu Konsep berhuni akan diangkat melalui fungsi yang ditentukan dan dibahas dalam latar belakang, yaitu Sustainable Architecture dan Floating Architecture. Untuk penghuni melakukan kegiatan sehari hari, berinteraksi sosial diatas sebuah kompleks hunian mengapung yang memiliki sistem berkelanjutan untuk sehingga dapat menyediakan kebutuhan yang dibutuhkan dari kompleks hunian apung tersebut. Dari paragraph sebelumnya, maka fungsi yang akan disediakan dalam proyek ini adalah area perairan luas untuk membangun sebuah kompleks hunian yang memiliki sistem sustainability dimana penghuni dapat menyediakan kebutuhan energi dengan mengandalkan energi terbarukan sehingga terdapat fasilitas pengolahan energi terbarukan serta fasilitas pengolahan pangan dan juga zona rekreasi serta zona terbuka untuk aktivitas bersosialisasi dan rekreasi dari setiap manusia. 3.2 Pemilihan Tapak Tapak dipilih di daerah perairan yang memiliki hunian di pesisir dengan ancaman tenggelam dalam beberapa tahun ke depan. Tapak dipilih di daerah pesisir karena menurut perancang, daerah pesisir adalah daerah yang mengalami dampak langsung dari meningkatnya tinggi permukaan air laut. Setelah menentukan area tapak yang dipilih, perancang kemudian melakukan survey lapangan untuk melihat potensi tapak, akses tapak, dan kelayakan tapak untuk dibangun proyek Floating Living Complex tersebut dan juga membandingkannya dengan kesesuaian zonasi tapak. 3.3 Pemilihan Metode Desain Dalam bukun Basic Design Methods, Kari Jomakka menyatakan bahwa: â€œâ€Ś, there is a good reason to argue that no one particular method can be declared theonly correct one for every task. It is thus important to choose a method that is mostsuitable to the challenge of a particular assignment. Familiarity with several methodsoffers the designer the most flexibility, but a method is not a machine to solvearchitectural problems automatically.â€?
8
Yang berarti metode desain harus dipilih sesuai dengan tantangan yang ada pada proyek tertentu dan bukannya tidak mungkin bahwa metode yang dipilih tersebut adalah bukan yang terbaik. Terdapat 7 metode desain utama yang nantinya terbagi kedalam beberapa rincian. Metode – metode tersebut adalah:
Nature and Geometry as Authorities
Precedent
-
Biomorphic Architecture
-
Typology
-
Quadrature and Triangulation
-
Transformation as a Specific Model
Music and Mathematics as Models
Respond to Site
-
Musical Analogies
-
Higher Dimensions
-
Regionalism
-
Proportions
-
Contextualism
Accident and the Unconscious as Sources -
Heterotopia
-
Surrealist Devices
Rationalist Approaches -
Performance Form
-
Design Research
Generative Process -
Superposition and Scaling
-
Morphing, Folding and Animate Form
-
Datascape
-
Diagrams
-
Parametric Design
Dari metode – metode diatas, perancang memilih metode Respond to site – Contextualism karena dinilai yang paling cocok dengan program yang diusulkan. Dengan lanskap perairan yang dijadikan acuan utama dalam desain, maka desain akan memiliki sifat buoyant yang berarti harus ringan, memiliki luas permukaan yang lebar, dapat mengapung.
9
3.3.1 Respond to Site – Contextualism Kontekstualisme juga dikenal sebagai Arsitektur Kontekstual adalah pendekatan filosofis dalam teori arsitektur yang mengacu pada perancangan suatu struktur sebagai respons terhadap karakteristik literal dan abstrak dari lingkungan tempat ia dibangun. Menurut pengertian diatas, Arsitektur Kontekstual mendapatkan bentuk dengan meresponi karakteristik – karakteristik yang terdapat pada lingkungan lokasi perancangan. Dengan bentuk yang meresponi karakteristik tapak yang merupakan perairan maka bentuk harus dapat mengapung dan juga menahan berat dari bangunan yang akan dibangun di atasnya serta manusia di dalamnya.
10
BAB 4 PROGRAM Program yang muncul merupakan hasil yang akan digunakan untuk memberikan solusi atau memfasilitasi masyarakat yang tinggal di pesisir sehingga dapat menetap dan tidak perlu mengungsi karena tenggelamnya daerah tempat tinggal. 4.1 Programming Pada buku Problem Seeking yang ditulis oleh William Pena, dipaparkan cara untuk mendapatkan program bangunan yang menurutnya program adalah cara untuk mencari masalah yang kemudian dipecahkan oleh desain sebagai solusi dari masalah tersebut. Tahap – tahap dalam pencarian masalah tersebut menurut William Pena adalah: 1. Establishing Goals 2. Collect and Analyze Facts 3. Uncover and Test Concepts 4. Determine Needs 5. Stating the Problem Dalam kelima tahap diatas dijelaskan bahwa pada 3 tahap pertama mengacu pada pengumpulan data yang terdapat pada isu, tapak, dan juga keadaan dunia pada kasus perancangan ini, sedangkan pada tahap 4 adalah tahap dimana keputusan terhadap kebutuhan dibentuk sebelum ditemukan permasalahan pada tahap ke 5. Dalam kelima 5 tersebut terdapat 3 sub-konsiderasi, berikut adalah pertimbangan – pertimbangan tersebut: Function
Economy
-
People
-
Initial budget
-
Activities
-
Operating cost
-
Relationship
-
Life cycle cost
Form
Time
-
Site
-
Past
-
Environment
-
Present
-
Quality
-
Future 11
4.2 Proses Programming Program yang akan dicari berhubungan dengan dwelling, floating architecture, serta sustainable architecture oleh karena itu, karakteristik dari kedua hal ini akan menjadi kriteria utama dalam mencari permasalahan: ACCESSIBILITY Goals Function Walkable
Form
Effective and Accessible
Economy Time Waktu tempuh singkat
Facts Bentuk apung membutuhkan jangkauan yang luas sehingga tidak efektif Posisi di atas permukaan air laut membutuhkan transportasi tertentu Perjalanan air membutuhkan waktu tempuh lebih lama
Concepts -Jarak antar fasilitas dapat diakses menggunakan perjalanan kaki -Sirkulasi luas dan memuat alat transportasi ringan lainnya Mengandalkan transportasi air sebagai transportasi utama untuk akses menuju tapak Posisi tapak memiliki jarak tertentu dari daratan
SPACE Function Form
Goals Ruang beraktivitas luas Luas
Economy Time Bertahan lama
Facts Luasnya ruangan memperbesar kebutuhan tapak Penggunaan lahan harus sesuai dengan kebutuhan serta dapat mengapung Konstruksi di atas permukaan air sering terkena guncangan ombak
Concepts Menggunakan ruangan dengan efektif untuk kebutuhan
Facts Area komersil dapat mempertemukan individu Tidak semua orang nyaman di tempat keramaian -
Concepts Mempertemukan setiap individu dari setiap kalangan Community centre yang dapat digunakan untuk berbagai hobi -
Menggunakan bentuk lahan radial Konstruksi menyesuaikan dengan guncangan ombak
ACTIVITY Goals Sociable environment Form Area komersil Economy Time Function
12
DWELL Function
Goals Area hunian
Form Economy Pekerjaan bagi setiap penghuni Time Tempat tinggal tetap
SUSTAINABLE Goals Function Terdorongnya manusia untuk merawat dan memperbaiki alam Form Menggunakan semua aspek sustainable Economy Time -
FLOATING Goals Function Adaptasi kehidupan diatas permukaan air Form Mengapung
Economy Ekonomi yang stabil
Facts Tidak dapat menopang setiap kalangan masyarakat Penghuni sudah memiliki pekerjaan sebelumnya Manusia akan memiliki keturunan sehingga mengalami penambahan jumlah penduduk
Concepts Memprioritaskan kalangan masyarakat yang tinggal di pesisir dan terancam tenggelam Menyesuaikan pekerjaan tersebut dan menempatkannya dalam sistem Hasil perancangan dapat dibangun lagi di tempat yang berdekatan sehingga menjadi sebuah komunitas besar.
Facts Tidak adanya fasilitas yang mewadahi
Concepts Memberikan fasilitas serta lowongan pekerjaan yang bergerak di dalam aspek sustainable architecture
Tidak semua aspek sustainable dibutuhkan dalam menjadikan rancangan sebuah desain yang tidak merusak alam -
Memprioritaskan aspek pengelolaan energi, air, sampah, sosialisasi, dan juga terjaganya kondisi alam
Facts Manusia tidak terbiasa dengan pergerakan landasan pijak yang tidak stabil
Concepts Menggunakan bentuk radial sebagai landasan dan pembangunan dilakukan di area dengan kedalaman maksimal Âą20m Menggunakan bahan ringan dan mengadaptasi bentuk lambung kapal sebagai kantung udara untuk mengapung. Perekonomian disesuaikan dengan kehidupan diatas air seperti perikanan, pasar apung,dll
Material dan konstruksi bangunan pada umumnya tidak akan mengapung karena beban yang dihasilkan. Ekonomi pangan perairan tidak dapat disesuaikan dengan penghuni daratan
-
13
Time
Bertahan lama
Pengeroposan yang terjadi oleh mineral serta makhluk hidup di dalam air laut
Pembersihan berkala serta pemilihan bahan yang sesuai
Bedasarkan tabel – tabel di atas, needs atau kebutuhan proyek ini dapat dibagi ke dalam 4 konsiderasi ialah: Function Needs: -
Menciptakan kenyamanan bagi penghuni
-
Menciptakan sirkulasi yang cocok untuk transportasi pengangkut barang seperti trolley
-
Menciptakan kesetaraan bagi masyarakat di dalamnya
-
Menciptakan sistem yang mendukung sosialisasi
Form Needs: -
Pemilihan bentuk desain yang mengapung
-
Area pijak luas yang memfasilitasi aspek-aspek sustainability
-
Hunian yang menjadi tempat tinggal dari masyarakat
-
Fasilitas yang memfasilitasi hobi dan aktivitas rekreasi
-
Pemilihan site yang sesuai dan dapat diakses dengan mudah melalui daratan
-
Pelabuhan kecil di sebagian sisi dari site untuk memudahkan akses kapal
Economy Needs: -
Perekonomian yang didasari dengan hasil laut
-
Lowongan kerja bagi penghuni
Time Needs: -
Pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas dan floating platform
4.3 Program Bangunan Melalui needs yang tertera maka program bangunan akan muncul sebagai problema selanjutnya dimana kesimpulan atas kebutuhan dari ke 4 needs diatas adalah: Fasilitas: 1. Hunian kelas menengah kebawah 2. Pusat pengelolaan energi (solar, wind, wave energy converter, dll) 14
3. Pusat pengelolaan sampah 4. Pusat pengelolaan air (Rainwater collection, Desalination facility, dll) 5. Area pertanian (aquaponics, aeroponics, hydroponics, dll) 6. Area perikanan 7. Area komersil 8. Pelabuhan kecil 9. Public area Melalui kebutuhan – kebutuhan yang dinyatakan diatas maka jumlah dan luasan sebagai berikut: Fasilitas
Luasan / ruang
Kapasitas
Jumlah
Luasan total
Tipe 2 BR
36m²
3 jiwa
180
6.480m²
Tipe 3 BR
48m²
4 jiwa
120
5.760m²
Sirkulasi Hunian
15% Luasan Hunian
1.836m²
Total Hunian
14.076m²
Solar panel
0.025m²
-
300
7.5m²
Desalinasi air
0.55m²
-
300
165m²
6m²
-
300
1800m²
Pusat pengelolaan sampah
500m²
-
1
500m²
Pelabuhan kecil
32m²
2 Kapal
12
384m²
Area komersil
±3000m²
-
1
3.000m²
Area perikanan
±3000m²
-
1
3.000m²
Area pertanian
±5000m²
-
1
5.000m²
Rain water harvest
Total Luasan Fasilitas Public area & Sirkulasi
42.008m² 20%
TOTAL LUASAN
8.402m² ± 50.410 m²
Berdasarkan perhitungan program ruang diatas, maka didapatkan kebutuhan ruang untuk fasilitas hunian apung ini membutuhkan ±55.000m² atau 5.5ha
15
BAB 5 TAPAK Kawasan yang dipilih berdasarkan kriteria dari isu, konsep, serta program. Lokasi yang dipilih mengharuskan adanya ancaman tenggelam karena kenaikan tinggi permukaan air laut serta memiliki akses Pelabuhan dari daratan untuk memudahkan akses. Aspek lainnya dalam lokasi adalah adanya masyarakat yang terancam di daerah tersebut. 5.1 Pemilihan Kawasan Kawasan yang dipilih adalah daerah perairan yang berada di arah selatan dari Pulau Rambut dan Pulau Untung Jawa, Utara dari Pantai Tanjung Pasir
Area tapak berada di daerah perairan Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Selatan, Kepulauan Seribu. Pulau Untung Jawa termasuk dalam salah satu dari 23 pulau di kepulauan seribu yang terancam tenggelam karena kenaikan tinggi permukaan laut. Moda Transportasi Area perairan dapat di akses melalui pantai Tanjung Pasir menggunakan transportasi air seperti kapal
5.2 Pulau Untung Jawa Pulau Untung Jawa adalah salah satu kelurahan di kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta, Indonesia. Luas pulau ini adalah 1,03 km² dan Jumlah
16
penduduk pada tahun 2017 adalah 2.264 jiwa. Pulau ini berada di sisi timur dari Pulau Rambut yang menjadi Cagar alam. Keunikan Pulau Untung Jawa Pulau ini menjadi Desa Wisata Nelayan pada tahun 2002 dan sejak saat itu menjadi salah satu tujuan turisme dalam tour Kepulauan Seribu. Pulau ini juga berada paling dekat dengan daratan utama sehingga akses menuju pulau tidak membutuhkan waktu yang lama. Kedalaman di sekitar pulau juga mencukupi adanya kapal besar untuk berlabuh Peluang Dengan posisi pulau yang berada dekat dengan Pantai Tanjung Pasir maka menjadikan area di sekitarnya area yang strategis karena dilewati oleh kapal kapal serta menjadi tempat transit bagi turisme. Hal lainnya adalah kedalaman di sekitar pulau yang cukup untuk kapal besar juga menjadi keuntungan bagi area di sekitar pulau. Kedalaman air yang cukup dalam menjadi keuntungan untuk menggunakan teknologi pembangkit listrik tenaga arus air untuk menjadi penhasil energi bagi rancangan. Kendala
Kendala dari area perairan di sekitar Pulau Untung Jawa adalah posisi pulau yang berdekatan dengan cagar alam mengharuskan adanya jarak tertentu dari Pulau Rambut sehingga tidak mengganggu Hewan yang dilindungi di dalam pulau tersebut. 5.3 Tapak Terpilih Melalui kriteria di bawah ini: -
Perairan dekat dengan pulau yang terancam
-
Akses terdekat dari daratan / pelabuhan
-
Berjarak kurang lebih 10-15 m dari Pulau
-
Memiliki kedalaman Âą20m untuk mendapatkan arus
Maka tapak yang terpilih berada di bagian selatan dari Pulau Untung Jawa serta mengarah Timur Laut dari Pantai Tanjung Pasir untuk memberikan jarak dengan Pulau Rambut.
17
Luas Tapak: 51.000 m² KB: 4 Batas Utara: Pulau Untung Jawa Batas Selatan: Kabupaten Tangerang
18
BAB 6 STUDI PRESEDEN 6.1 Hotel Haegumgang Hotel ini dibangun oleh arsitek Doug Tarca dan anaknya Peter Tarca, konstruksi dimulai pada tahun 1988 di Singapur, kemudian hotel ini beroperasi di 3 tempat yang berbeda yaitu Townsville, Queensland, Australia pada tahun 1988. Kemudian hotel ini berpindah ke Ho Chi Minh, Vietnam pada Tahun 1989 dan kemudian dibeli oleh Korea Utara pada Tahun 1998 dan beroperasi di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan sebelum berhenti operasi karena adanya penembakan atas turis Korea Selatan oleh Tentara Korea Utara pada Tahun 2008
6.2 Oceanix City Sebagai bagian dari New Urban Agenda UN-Habitat, kota terapung nirlaba OCEANIX, MIT Center for Ocean Engineering, BIG dan mitranya mengusulkan visi untuk komunitas terapung pertama di dunia yang tangguh dan berkelanjutan untuk 10.000 penduduk: Oceanix City.
19
Sebuah konsep kota apung yang sepenuhnya menyokong kehidupan masyarakat di dalamnya dengan mengadaptasi ke 17 syarat dari Sustainable
6.3 Qatar Floating Hotels Terletak di Pulau Qetaifan Utara di dekat Lusail International Stadium, yang akan menjadi tuan rumah pertandingan pembukaan dan final Piala Dunia FIFA 2022, ADMARES dan Sigge Architects sedang mengembangkan 16 hotel terapung untuk melayani wisatawan dan penggemar yang akan mengunjungi Qatar.
20
DAFTAR PUSTAKA Jormakka, Kari. 2008. Basic Design Method. Pena, William M. dan Steven A. Parshall. 1977. Problem Seeking An Architectural Programming Primer. (Edisi ke-4). AIA Press. http://astudioarchitect.com/2008/09/sustainable-architecture-arsitektur.html https://www.gatra.com/detail/news/164862-23-pulau-kepulauan-seribu-terancam-tenggelam https://en.wikipedia.org/wiki/Hotel_Haegumgang https://www.dezeen.com/2019/04/04/oceanix-city-floating-big-mit-unitednations/#:~:text=BIG%20founder%20Bjarke%20Ingels%20unveiled,of%20six%20to%20form%20villag es. https://www.archdaily.com/933881/qatar-to-create-16-floating-hotels-for-the-fifa-world-cup-2022
21
22