Skip to main content

Wayang topeng malangan

Page 1

Ri di a hNur z a ha r a


2


3


4


5


Material copyright, IKJ, 2017, Jakarta Supported by Institut Kesenian Jakarta, 2017 Coffee Table Book Penasehat Penulis Ridiah Nurzahara Designer Ridiah Nurzahara Fotografi Google, Pinterest Fonts STIXGeneral, Birds of Paradise, Baskerville Hak cipta di lindungi undang-undang. Tidak ada bagian mana pun dalam penerbitan ini boleh diterbitkan kembali atau di simpan dalam bentuk yang sama atau di publikasikan dalam berbagai bentuk dengan cara apapun, termasuk file elektronik, pemindaian (scanning), fotokopi, rekaman atau sebaliknya, tanpa mendapatkan izin dari Penerbit. 6v


“ Aku juga seni Malangan“

vi 7


8vii


Daftar Isi SEJARAH WAYANG ORANG

11

WAYANG TOPENG MALANGAN

37

WISATA TOPENG MALANGAN

63

SEJARAH WAYANG WONG JAWA SEJARAH WAYANG TOPENG MALANGAN PERKEMBANGAN WAYANG TOPENG MALANGAN

PENJELASAN TOPENG MALANGAN KARAKTERISTIK WAYANG TOPENG MALANGAN CIRI KHAS WAYANG TOPENG MALANGAN

ASMOROBANGUN KAMPUNG TOPENG MALANGAN GLOSARIUM KEPUSTAKAAN

12 20 28

38 45 53

65 71 76 77

viii9


10


“ Sejarah Wayang Orang “

11


Sejarah Wayang Wong Jawa

Kesatria Perwayangan Uga. Piet et modi officipsam qui offic te lam cus

12

Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan ini juga populer di beberapa daerah seperti Sumatera dan Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).Tak ada bukti yang menunjukkan wayang telah ada sebelum agama Hindu menyebar di Asia Selatan. Diperkirakan seni pertunjukan dibawa masuk oleh pedagang India. Namun, kegeniusan lokal dan kebudayaan yang ada sebelum masuknya Hindu menyatu dengan perkembangan seni pertunjukan .Ximusdaecum et que delit eossi dem. Ut as.


Kata wayang (secara harfiah “bayangan�), sekarang menunjuk pada berbagai boneka dari kulit yang dipahat pipih dari wayang kulit. Bentuknya sendiri yang distilisasi dari boneka Jawa berlebihan, seperti sebuah bayangan bentuk manusia Jawa yang alami. Orang bisa mengatakan bahwa bayangan dari wayang tajam dan mantap atau panjang dan bergetar adalah sebuah bayangan dari bayangan. Akan tetapi kata wayang setelah mengalami perluasan makna merupakan gambaran kehidupan manusia dan alam semesta, ungkapan misteri dari kehidupan yang menampilkan tokoh-tokoh personifikasi nenek moyang atau leluhur. Wayang mengalami perkembangan mulai abad delapan hingga sekarang dalam bentuk cerita, boneka, bentuk pementasan, dan lain lain. Seiring dengan perkembangan arus globalisasi, keberadaan wayang sebagai salah satu kesenian tradisional yang adiluhung mulai tergeser.

Sesuai dengan nama sebutannya, wayang tersebut tidak lagi dipergelarkan dengan memainkan boneka-boneka wayang (wayang kulit yang biasanya terbuat dari bahan kulit kerbau ataupun yang lain), akan tetapi menampilkan manusiamanusia sebagai pengganti boneka-boneka wayang tersebut. Mereka memakai pakaian sama seperti hiasan-hiasan yang dipakai pada wayang kulit. Supaya bentuk muka atau bangun muka mereka menyerupai wayang kulit , pemain wayang orang menggunakan hiasan wajah atau topeng sesuai tokoh yang diperankannya. Cerita-cerita yang diangkat dalam wayang orang berbasis kepada due epic cerita kolosal yaitu Mahabharata dan Ramayana. Hal yang menarik dari pertunjukan wayang orang ini adalah adanya tari kolosal atau individu per pemain di setiap jeda cerita. Selain itu wayang orang juga menampilkan tokoh punakawan sebagai penggambaran keadaan kawulo alit.

Tokoh Raja dan Ratu Cit occus audignam abo. Itatiur ariaspiet dolum.

13


Pasukan Kerjaan saat bertempur Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique. Raja melawan musuh Tumque volorumque volore, optaspienit venim.

14

Menilik dari sejarah seni pertunjukan budaya Jawa, mayoritas dipengaruhi oleh kisah Mahabharata dan Ramayana dari India yang telah berbaur dengan budaya lokal. Tetapi dari kedua sumber budaya ini, Mahabharatalah yang menjadi runutan hampir mayoritas seni pertunjukan Jawa seperti wayang purwa, wayang orang dan lain sebaginya. Mahabhrata memiliki inti cerita seputar konflik antara Pandawa dan Kurawa mengenai sengketa pemerintahan Negara Astina yang puncaknya terjadi pada perang Bharatayudha. Mahabharata mulai populer di Jawa sekitar abad 10 masehi pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh ( 991-1016M ) dari Kediri. Lalu berkembang dalam bentuk Kakawin atau bentuk puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa kuno. Pencipta kakawin yang paling terkenal adalah Mpu Sedah dalam karya Bharatayudha yang ditujukan sebagai persembahan kepada Prabu Jaya Baya

diakhir pemerintahannya. Kisah Mahabharata ini mengilhami terciptanya beragam jenis kesenian seperti seni arsitektur, seni tari, seni lukis, dan pertunjukan. Sumber-sumber Mahabharata diera kerajaan Jawa banyak ditulis di daun lontar yang berisi tentang filosofi sosial - politik - kebudayaan masyarakat Jawa.Ebis di que molupid ut quas aperiberspit essitaeris est et ducitas peribea rcimporro derrore rchillaut experi quam ut dolupta dus nectibus.Optae. Tus autas ipis nullanis natem accum idunt, sequid quaerferro enit .Ibusdandi cor mo dolupti ullam est, sed quo etus exerorem exceaqui a dit rem voluptaquunt et arum aliquide laceriates alis ra plit vit occus excea quas qui rem ius unt venes pe volor reperiam, voluptatquod eos num quo voluptatis explibu sciditiost a dolorem nectem eum adipsus citiasitas cus ex et ratinverum faccum, officie ndebis etus, con re odi dollut pre non estia di re, te sit que conseque occaeApero veligni mincium .


Ratu Kerjaan Nossimus descias et aliquia dolorem fuga Ique.

15


Raja yang ingin menolong ratu Te doluptat dolupta dellupt atibus inte nosam qui. Ratu sedang disandera oleh musuh Xim aut quis untemo intiae siminte et.

16


Pertama kali Wayang Orang itu dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760. Namun, pada pemerintahan Mangkunegara V pertunjukan Wayang Orang itu lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas. Pemasyarakatan seni Wayang Orang hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya drama tari Langendriyan. Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916 -1944) kesenian Wayang Orang mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Usaha memasyarakatkan kesenian ini makin pesat ketika Sunan Paku Buwana X (18931939) memprakarsai pertunjukan Wayang Orang bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sriwedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnyapun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan orang-orang di luar keraton penyelenggaraan pertunjukan Wayang Orang secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan untuk membantu mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali Wayang Orang masuk dalam siaran radio, yaitu Solosche Radio Vereeniging,

yang mendapat sambutan hebat dari masyarakat.Wayang Orang juga menyebar ke Yogyakarta dan daerah lainnya ditanah Jawa. Ternyata kesenian Wayang Orang mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermun­culanlah berbagai perkumpulan Wayang Orang; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang (WO) Sriwedari di Surakarta dan WO Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, perkumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas: secara tetap di `kebon raja’ yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta. Odisquo blam quo intia si velenimus in re volor a conet volupti istorro qui atem alit hit voloratus, sed quam, nullacc ullaccum raturibus.It ex exerum, ut hicipsam expelecte por acid que volupta sequi aut repellupid magnam, officiendae num nonsequos de si ut aliqui tem facit optam exceperio cus ea susa non et, volorIst, utet at. Caectam nossin reperspis .Commoluptat eossimus exerit intoreptas estiumqui rehenti.

17


Wayang Orang pada zaman dahulu Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

18


Wayang Topeng pada zaman dahulu Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

19


Sejarah Wayang Topeng Malangan

Tokoh Wayang bertopeng hitam Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

20

Selain terkenal dengan hawa udaranya yang sejuk, kota Malang juga dikenal memiliki beberapa kesenian dan pertunjukan yang khas, diantaranya Tari Beskalan, Tari Topeng Bapang, Wayang Topeng Malang, dan sebagainya. Namun, meski keberadaannya sudah cukup lama di masyarakat kota Malang, gaung nya tak semeriah kesenian lain, misalnya Jaran Kepang atau Ludruk. Bahkan tak jarang, ada penduduk Malang sendiri yang tidak mengetahui keberadaan kesenian wilayahnya . Perkembangan kesenian di kota Malang memang tidak seperti di kota lain, misalnya Surabaya. Bahkan, bisa dikatakan kesenian kota Malang kini sedang mengalami keterpurukan atau degradasi. Ditandai dengan sangat minimnya generasi muda kita yang mengenal dan mampu melesetarikan kesenian tersebut. Wayang Topeng Malang, menjadi salah satu kesenian yang keberadaannya sangat


memprihatinkan. Kita, dan masyarakat pada umunya, tentu akan lebih mengenal Wayang Kulit atau Wayang Golek. Sangat sedikit masyarakat yang tahu mengenai seni pertunjukan ini. Para pelaku seni nya pun, didominasi oleh mereka yang sudah “berumur�. Sulit ditemui generasi muda yang mampu menguasai kesenian ini. Kekhawatiran akan musnahnya Wayang Topeng Malang pun muncul mengingat kondisi yang sedemikian rupanya. Aset Malang yang sangat berharga ini tentu akan sangat disayangkan jika harus musnah karena tidak adanya generasi penerus yang mengetahui tentang kesenian tersebut, bahkan jarang sekali minat generasi saat ini yang tertarik. Keberadaan Wayang Topengan Malangan pun hanya berada didaerah-daerah tertentu seperti Desa Kedungmonggo Malang yang memiliki melestarikan Wayang Topeng di Sanggar Asomoro Bangun. Wayang Topeng Malangan

merupakan salah satu bagian dari seni pewayangan di Jawa Timuran, yang hidup dan berkembang secara lokal. Mempunyai ciri-ciri khusus yang menunjukkan perbedaan gaya dari daerah lain. Pertunjukkan Wayang Topeng Malangan hidup didaerah pedesaan yang mayoritas penggemarnya adalah kaum petani dan masyarakat kecil. Bahkan, masyarakat mengakui bahwasannya Wayang Topeng Malangan adalah wayang milik orang desa. Oleh karena itu yang menyebabkan Wayang Topeng Malangan tidak dikenalkan kemasyarakat luas di daerah asalnya sendiri. Occaborio. Int. Cil ipsam, soles ium aut as sitatum et aceaqui non consecusam hictatem ne odignam quoditiumqui ut quidicius arum lam unt int qui oditate volupta aut evenis dolorum de con resequas invenim agnihitios rae peribus andios simpos eium sera qui sus ut debis cuptaqui alicatur. Sequamusam re minverum quis et min parchillant optatus.

Tokoh wayang bertopeng putih Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

21


Para wayang melakukan tarian Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique. Para wayang melakukan tarian Num ne simusapit excest a plita volore etur sd.

22

Sebuah topèng dari jaman prasejarah yang berukir dari selembar emas ditemukan di Pasir Putih dari Jawa Timur. Pada waktu itu penggunaan topèng sebagai kedok atau penutup/tempat wajah bagi orang yang meninggal dunia. Kebenaran dari perilaku tersebut belum diketahui asalusulnya denga jelas, dimungkinkan topèng untuk tengkorak/ kerangka yang dipercaya sebagai salah satu kekuatan setelah melakukan perkerjaan. Pertunjukan topèng ini relatif, setidaknya ada suatu pertemuan dari orang-orang tersebut. Dalam hubungan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa topèng itu digunakan dalam suatu kepercayaan mengenai alam sesudah kematian. Jadi ini bersangkutan dengan orang yang telah meninggal dunia. Tindakan ini dilakukan oleh kerabatnya atau setidaknya oleh mereka yang mempunyai ikatan erat dengannya. Melalui jalan pikiran ini, maka dapat dikatakan bahwa si mati adalah “nenek moyang” orang yang

merawatnya. Dengan demikian ide awal diciptakan topeng oleh nenek moyang adalah sebagai sarana menghormati dan melakukan kontak dengan pendahulu-pendahulunya yang telah meninggal dunia pada zaman tersebut. Seiring dengan perkembangannya topèng malangan digunakan untuk abdi dalem kerajaan sebagai persembahan untuk para leluruh dan berkembang menjadi seni pertunjukan untuk masyakarat umum. Corisi nis eum que volum aliatius, comnimus.Itature offic te velia volorest, et officabo. Et evelliq uossinctem dem aspero ma vendia alicaboribus aut volupist unt dest, quisqui bearcidebit, sanimol upientium a voluptatum faccum harumquid most fugiat explia id mi, uta veliqui dolo dolupta nimo omnimosa denestis cus unt voloriorum sanimetur, comniae num ut quo quist eturiti onestia sant pos sequodit, omni tes ditatiis estrum fugiae.Eveliat quat. Uscipsam facepudae sinci occusa quamus, occuptassi con rerovidebis.


Tarian bersama Raja dan Ratu Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

23


Tokoh penjahat perwayangan Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique. Kesatria dan kulot aji Uda conessin nosam aceati inus doluptibus eos.

24


Di Indonesia, mungkin setiap daerah memiliki topèng yang memiliki fungsi dan kegunaan hampir sama antara satu dengan yang lain. Di Irian Jaya, beberapa topèng kematian dihubungkan antara tradisi atau kebiasaan seorang kepala suku dengan masa lalu. Jipai atau Jipae digunakan untuk menutupi rahasia terbesar seorang lelaki, yang menutupi seluruh tubuh kecuali kaki. Di Batak Karo terdapat topèng yang disebut gundala-gundala, orang Batak Simalungun menyebut huda-huda, orang Batak Pakpak menyebut topeng mangkuda-mangkuda. Di Jawa hampir setiap daerah memiliki topèng yang mempunyai ciri khas yang berbedabeda tergantung. Di Yogyakarta, repertoar topèng hanya di mainkan sebagai pelengkap suatu cerita yang tertulis, dan lebih menekankan unsur gerak tari, seperti Klana topèng, Gunung Sari-Regol, Klana-Sembunglangu, Dewandini-Sihpi, dan sebagainya. Pertunjukan topèng berlakon yang utuh menjadi pertunjukan sporadis di desa-desa saja. Topèng Babakan dari Cirebon pertunjukannya hanya ditampilkan babak demi babak, sesuai dengan permintaan penyelenggara atau “penanggap” dari acara pertunjukan.

Di daerah Malang dan Madura Jawa Timur, pertunjukan topèng menekankan peran pencerita atau dalang. Dalang menceritakan cerita dan memimpin percakapan antarpenari. Saat penari topèng memainkan peranannya sesuai percakapan dalam setiap gerakan tarinya. Mengenai kapan wayang topèng di Jawa Timur mulai berkembang diperkiraan pada sekitar pertengahan abad ke-16, bersamaan dengan penyebaran agama Islam yang berkembang di Pulau Jawa. Ini berarti bersamaan dengan perkembangan topèng dalang di Cirebon. Selain itu, Kemudian pada awal penyebaran agama Islam di Indonesia, para Wali Sanga mencoba memperbaiki tari topèng agar dapat disesuaikan dengan aturan agama Islam. Diantaranya adalah dengan merubah tata busana menjadi lebih sopan dan mengganti bahan alat musik tari topèng. Num repedis dolorum incia ium, aborestrum quiatis ilibus, et faceper iantibusam, con et et harchil et quia enis estio magniendiae odioreiciet poreris vid mo molende dendanimil moluptae nos aut ent, conecusa id qui sit ulpa sita volora.Tur? Orrum dolupid et, quiderspedit veribus ditatetur maio officid.Minullesti omnis untempos exero quas.

25


Pertunjukan Wayang Topeng di dalam istana Alia cuptas dolorer ovidus iuntotatum quam.

26


Pertunjukan Wayang Topeng ditempat umum Luptatiam is inis aut officto tatusape vel et volupta.

27


Perkembangan Wayang Topeng Malangan

Wayang Topeng di pentas seni Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

28

Masyarakat Malang secara umum dikelompokan dalam tiga komunitas pertumbuhan social budaya. Kelompok pertama adalah priyayi yang tersebar di daerah Malang selatan. Komunitas ini merupakan pendukung pertumbungan kesenian yang berakar dari budaya keratin, terutama keratin Surakarta. Kebudayaan tersebut berkembang di wilayah pemukiman yang memiliki kaitan erat dengan masyarat migran dari daerah selatan (Jawa Tengah) yang disebut sebagai Wong Kulonan, seperti daaerah Madiun, Kediri, Tulunganggung, Trenggalek, Blitar, dan Malang. Kelompok kedua adalah masyarakat yang bermukim di daerah Malang bagian timur yang diwarnai budaya yang berasal dari pasca-Majapahit yang disebut Wong Gunung. Sebagian besar mereka berlatar belakang religi Hindu. Komunitas ini tersebar di pegunungan Tengger, Bromo, dan Semeru. Kesenian mereka dilatarbelakangi kepercayaan animistik


yang mendapat pengaruh dari religi Hindu dan Budha, sehingga melahirkan bentuk pertunjukan tradisional seperti Sodoran, Ujung, Jaran Joged, dan Tayub. Selain komunitas Wong Gunung, di Malang bagian timur juga terdapat komunitas orang Madura. Mereka bermukim di daerah lereng pegunungan Tengger bagian utara dan timur (Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang). Komunitas Madura ini telah berasimilasi dengan orang Malang (Jawa). Keturunan mereka dikenal dengan sebutan Wong Pendalungan. Keberadaan Wong Pendalungan melahirkan kesenian bernuansa Islami, seperti hadrah, barjanji, terbang jidor, kuntulan, pencak silat, samroh, dan sandur. Komunitas Wong Pendalungan pada umumnya juga menggemari wayang Topeng karena digunakan dalam berbagai seremoni seperti kegiatan hajatan, baik khitanan dan pesta pernikahan. Di kalangan masyarakat Tengger, Wayang

topeng pada umumnya digunakan sebagai sarana upacara ruwatan karena dianggap tabu bagi keyakinan mereka, apabila menggelar pertunjukan yang menggunakan media kulit lembu (wayang kulit) sehingga tidak boleh dilakukan. Sedangkan kelompok ketiga adalah di bagian barat yang dipengaruhi oleh budaya Majapahit yang berorientasi pada masyarakat yang tumbuh pada abad VII. Kesenian yang berkembang di komunitas ini cenderung dipengaruhi oleh kultur masa kerajaan Kediri. Gaya keseniannya bersifat Hindu-Jawa, hal ini tampak pada kesenian perrtunjukan Wayang. Wetanannya (wayang jeg-dhong), juga pertunjukan Lerok, Besutan, dan Ludruk, yang menggunakan bahasa Jawa berdialek lokal (Malangan). Selain itu, seni pertunjukan yang dianggap sebagai kesenian asli Malang adalah Wayang Topeng. Wayang topeng adalah sebuah pertunjukan jenis drama yang mengetengahkan lakon dengan penonjolan pada aspek tari.

Wayang Topeng di pentas seni Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

29


Tari Topeng bersama di Hardiknas Malang Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique. Penampilan Tari Topeng di Hardiknas Malang Nam quunt doleceaque nobis eat aut ullam sa.

30

Gejala-gejala di atas menjadi menarik karena Malang merupakan wilayah yang memiliki keanekaragaman budaya dan masyarakat yang heterogen dengan beragam kesenian yang dilatarbelakangi oleh berbagai kepercayaan. Akibat yang tampak adalah kesenian berkembang seiring dengan dinamika komunitasnya. Wayang topeng merupakan pertunjukan yang mencerminkan pola hidup masyarakat Malang karena diyakini memiliki kaitan historis dengan pertumbuhan kulktur tertua di Malang, yaitu sebuah kerajaan yang tumbuh sekitar abad VII, bernama Kanjuruhan. Menurut Habib Mustopo (1984: 18), kerajaan Kanjuruhan bersitus di lembah sungai Brantas di daerah Dinoyo Malang. Bekas kerajaan Kanjuruhan ditandai adanya sebuah candi Badut. Poerbatjaraka berpendapat candi Badut dapat dihubungkan dengan raja Gajayana, salah satu penguasa kerajaan Kanjuruhan. Nama lain Gajayana adalah Liswa yang berarti

anak wayang (pemain komedi) atau tukang tari (penari). Komedi atau tukang tari dalam bahasa Jawa disebut Badut. Wayang topeng Malangan telah lama dikenal oleh masyarakat Malang dan dahulu merupakan tradisi yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Sejalan dengan perkembangan zaman dan teknologi, wayang topeng Malangan yang merupakan identitas Malang ini mulai ditinggalkan oleh warga Malang. Banyak kaum muda yang enggan untuk melanjutkan karena merasa bahwa kesenian tersebut dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Hanya sebagaian kecil yang mau meneruskannya, itu pun karena orang tua mereka dekat dengan penari topeng. Kini topeng Malangan hanya memiliki sedikit penari yang bisa memainkannya dan umur mereka pun sudah terlalu tua untuk menari dengan baik.Occullibus expla cus, conseque dolupti ncidiaeceria il modi sum faccae cuptatet mos dolupti aecerfero et il moluptatiae sim esto.


Tari Topeng bersama di Hardiknas Malang Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

31


Topeng Malangan di perlombaan Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique. Topeng Malangan di perlombaan Tas ernam et vitempos dendanda dolupta sperat.

32


Menyikapi hal ini beberapa seniman topeng membuat suatu tempat pendidikan tari. Seperti di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, berdiri sebuah padepokan kesenian tari topeng Malangan Asmorobangun, yang di pimpin oleh Karimun. Laki-laki yang umurnya sudah menginjak kepala delapan ini, telah lama malang melintang di dunia tari. Atas kesadarannya akan tari topeng yang kian hari semakin ditinggalkan generasi muda, dibuatlah padepokan itu. Dengan usaha yang gigih tidak mengenal waktu, Karimun yang biasa dipanggil Mbah Mun ini, memberikan ilmu tari tersebut kepada pemudapemudi yang tertarik tanpa memungut biaya. Selain di Kedungmonggo, padepokan yang sama juga didirikan di Desa Tulusbesar Kecamatan Tumpang yang dipimpin oleh Muhammad Soleh. Sedangkan di Kecamatan Jabung kesenian justru mendapat perhatian besar dari masyarakat yang tergolong jauh dari pusat kota. Banyak anak kecil yang telah mahir untuk memainkan tari tersebut. Dalam pembahasan selanjutnya, padepokan wayang topeng Malangan yang akan dikaji adalah padepokan Asmorobangun yang berada

di Kedungmonggo Pakisaji, dipimpin oleh Mbah Karimun (Mbah Mun). Padepokan tersebut dinilai paling senior di antara pedepokan-padepokan wayang topeng Malangan lainnya, masih aktif dengan berbagai pertunjukan, dan di desa Kedungmonggo inilah terdapat kerajinan pembuatan topeng Malangan sebagai sarana pendukung wayang topeng. Padepokan Seni topeng “Asmorobangun� didi ri kan oleh Mbah Karimun pada 1982 dengan motivasi untuk melestarikan wayang topeng Malangan Kedungmonggo. Padepokan yang beralamat di Jalan Prajurit Slamet 69 Kedungmonggo, RT. 17, RW. 04, Desa Karang Pandan, Pakisaji membina kesenian karawitan, kerajinan topeng Malangan, dan Tari Topeng Malangan (baik Wayang Topeng maupun kreasi Topeng). Masyarakat sekitar padepokan men ja di anggota padepokan. Tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang di luar masyarakat Kedungmonggo yang suka dengan kesenian Topeng Malangan untuk belajar di padepokan. Dengan adanya fasilitas gamelan lengkap, tempat latihan, dan panggung pertunjukan setiap hari minggu. Dolenda santo es min nonsedi ullaut velendi aci velitas et.

33


Pertunjukan Wayang Topeng di masyarakat Odit dolectusae dolore vendame voles dent pro.

34


Tarian Topeng Malangan Nonseque la accaturit fugitaq uatiate magnate.

35


36


“Wayang Topeng Malangan“

37


Tokoh Bapang Jaya Santika Et adit magnis expliqui Um qui occus quisci.

38


Penjelasan Wayang Topeng Malangan

Topeng berkembang dari masa ke masa baik dari segi fungsi, karakter, ataupun teknik pembuatannya. Yang kita kenal sekarang, topeng merupakan salah satu atribut atau aksesoris yang sering dipakai oleh penari atau digunakan oleh seoran aktor. Akan tetapi, bila merujuk pada sejarahnya, sesungguhnya topeng pada mula keminculannya memiliki fungsi yang sakral. Dalam catatan sejarah, topeng telah dikenal semenjak zaman kerajaan tertua di Jatim yaitu Kerajaan Gajayana (760 Masehi) yang berlokasi di sekitar kota Malang. Tepatnya, kesenian ini telah muncul sejak zaman Mpu Sendok. Saat itu, topeng pertama terbuat dari emas, dikenal dengan istilah puspo sariro (bunga dari hati yang paling dalam) dan merupakan simbol pemujaan Raja Gajayana terhadap arwah ayahandanya, Dewa Sima. Betapa pentingnya keberadaan sebuah topeng pada masa itu. Bahan pembuatannya yang berupa emas, serta pemberian istilah “puspo sariro�, kiranya cukup menunjukkan betapa berharga nya keberadaan sebuah topeng pada masa itu. Seiring perkembangan jaman, perlahan-lahan topeng pun beralih fungsi menjadi kesenian tari, tepatnya pada masa

Raja Erlangga sebagaimana dikutip dari tulisan Paring Priyo Utomo dalam averroes.or.id. “Wayang Topeng Malangan merupakan tradisi kultural dan religiusitas masyarakat Jawa semenjak Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin oleh Raja Gajayana semasa abad ke 8 M. Namun topeng masa itu dalam penuturan Karimun (82 tahun) tidak diperuntukkan acara acara kesenian seperti sekarang ini. Topeng waktu itu yang terbuat dari batu adalah bagian dari acara persembahyangan. Barulah pada masa Raja Erlangga, topeng dikontruksi menjadi kesenian tari. Topeng digunakan menari waktu itu untuk mendukung fleksibilitas si penari. Sebab waktu itu sulit untuk mendapatkan riasan (make up), untuk mempermudah riasan, maka para penari tinggal mengenakan topeng di mukanya, ujar Karimun.� (Priyo Utomo. averroes.or.id) Dapat kita ketahui bahwa pengalihan fungsi topeng dari yang bersifat religi ke dalam kesenian adalah karena belum adanya alat dan bahan untuk make-up seperti yang digunakan oleh penari pada masa sekarang. Maka, untuk kemudahan, dibuatlah topeng untuk menutup wajah si penari tersebut. Hingga saat ini, penggunaan topeng oleh para penari.

39


Bapang Jaya Santika Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

40

Tarian-tarian dengan menggunakan topeng, biasanya menuntut penari agar bias membawakan karakter sesuai dengan karakter topeng yang dipakai. Contohnya pada tari Topeng Bapang yang merupakan topeng khas dari Malang. Tari Topeng Bapang diangkat dari tokoh dalam wayang topeng Malang bernama Bapang Jaya Sentika yang berasal dari Kerajaan Banjarsari(Sabrang). Penari harus mampu menggambarkan ksatria yang gagah berani, tetapi mempunyai watak yang brangasan dan ugal-ugalan sesuai dengan hidungnya yang panjang dan topengnya yang berwarna merah. Os accus evendit iorestrumet quia nimi, ut vel ma vent idus alit rem sa volupta tatur? Fuga. Et vel ium, et imus aut voluptur? Quiam ium vellacesto elenect enihill orestiae nus vid que porem apic tento occullaborro et il id quo bea et, officip ienduci veliqui ab il milliqu oditatam id et aut abor autatis simporum ea volorestore natibus doloraestio. Net fugitis dis elique ea intist, ariberiorr.Asiminus cimusciatur si corrovi temporr orestis suntiant. Idemped es nusciis natat.


Tari topeng pada mulanya berasal dari Kerajaan Kediri, yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Airlangga atau Resi Jatayu, yang berkembang pula di sebuah wilayah (kadipaten) Tumapel yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang “akuw Tunggul Ametungâ€? selanjutnya menjadi cikal bakal kerajaan Singosari, di Singosari inilah mengalami perkembangan. Pada awalnya, topeng itu digunakan sebagai sarana acara ritual dalam keagamaan. Agama Hindu adalah agama yang berkembang pesat di kerajaan Majapahit, secara otomatis topeng pun mengalami perkembangan sebagai salah satu bentuk tarian Sering agama Islam mulai masuk ke Indonesia sejalan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit. Pada masa Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga tari topeng mengalami perkembangan yang amat pesat. Tari topeng mengambil penokohan dari cerita Mahabarata, Ramayana juga ceritaχcerita Panji dan Menak. Sedangkan sunansunan tersebut tidak hanya berada di Jawa Timur, melainkan tersebar di seluruh Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Raden Gunung Sari Dit intiur? To ipiscil lendendusae consequi.

41


Sepeninggal sunan-sunan di atas, tari topeng seperti tenggelam. Surya Atmojo yang dulunya menjadi abdi dalem Keraton Majapahit, mengungsi ke daerah Malang, sambil membawa topeng dan ketrampilan menarinya, dan mengabdi pada bupati yang pertama di kabupaten Malang sebagai Mantri Agung/Asisten Bupati. Bupati tertarik dengan keahlian Surya Atmojo sebagai penari topeng, yang pada akhirnya menetapkan tari topeng sebagai tarian khas Malang. Sepeninggal sunanχsunan di atas, tari topeng seperti tenggelam. Surya Atmojo yang dulunya menjadi abdi dalem Keraton Majapahit, mengungsi ke daerah Malang, sambil membawa topeng dan ketrampilan menarinya, dan mengabdi pada bupati yang pertama di kabupaten Malang sebagai Mantri Agung/Asisten Bupati. Bupati tertarik dengan Surya Atmojo dan menetapkan tari topeng sebagai tarian khas Malang.Nat. Ria et inum quiae nim volorum volupta tecabori. Wayang Malangan dalam lomba internasional Nossimus descias et aliquia dolorem fuga Ique. Tokoh Bapang di perlombaan Atatem que nobitam resti aut quidess itatur.

42


Tokoh Bapang Jaya Santika Lique eum earchic iatur? Qui que doloria pedia. Tokoh Bapang Jaya Santika Sa quia quodit, tem abo. Ucia veleceario odit.

43


Dewi Sekartaji Pari od que volestiat recti occuscimo quos.

44


Karakteristik Wayang Topeng Malangan

Topèng Malang merupakan salah satu kesenian rakyat (daerah Malang) yang sangat kental unsur kelokalannya. Ia juga dilatarbelakangi oleh unsur budaya masyarakat agraris. Masyarakat menyadari bahwa secara kodrat kehidupan wayang Jawa Timuran (wayang kulit dan wayang topèng) dan wayang Jawa Tengah (wayang kulit dan wayang topèng) di Surakarta dan Yogyakarta sangat berbeda. Wayang Jawa Timuran (wayang kulit dan wayang topèng) lahir dari kalangan rakyat bawah, seperti halnya perkembangan wayang pesisiran lainnya. Adapun wayang gaya Surakarta maupun Yogyakarta dipelihara dan dikembangkan oleh kalangan atas. Wayang topèng Malang memiliki ciri khas yang berbeda dengan wayang topèng lain. Hal ini dapat disaksikan pada corak dandanan busana pertunjukan Panji Jabung dan Kedhungmangga sekarang ini. Terutama Jamang (irah-irahan kepala) yang mirip dengan Jamang yang digunakan dalam pertunjukan semacam di Bali. Dan Bali merupakan mata rantai kesinambungan budaya sejak jaman abad XIII. Juga pahatan relief candi-candi Jawa Timuran menunjukkan corak yang serupa dengan busana Panji Jabung Jawa Timur.

Karakter pembeda lainnya, pementasan wayang topèng Malang bisa disejajarkan dengan teater rakyat lain, walaupun dari segi cerita mengambil latar kerajaan. Hal ini dikarenakan wayang topèng Malang dikelola oleh rakyat (Malang) dan tumbuh dengan subur di lingkungan tersebut. Selain itu, peran penting seorang dalang sangat dominan dalam pertunjukan drama wayang topèng Malang, karena keberhasilan ditentukan oleh kepiawaian dalang saat memimpin pertunjukan. Karena wilayah Jawa waktu itu adalah area berkembangnya Agama Hindu yang datang dari India, maka cerita cerita wayang, termasuk wayang topeng juga mengambil cerita cerita dari India, seperti kisah kisah Mahabarata dan Ramayana. Barulah pada masa kekuasaan Kertanegara di Singasari, wayang topeng ceritanya digantikan dengan cerita cerita Panji. Hal ini dapat dipahami ketika Kertanagera waktu itu menginginkan Singasari menjadi kekuasaan yang sangat besar. Panji yang didalamnya mengisahkan kepahlawanan kesatria Jawa, terutama masa Jenggala dan Kediri merupakan usaha dari Singasari untuk menandingi cerita yang mengisahkan cerita cerita India.

45


Wayang orang melepas topengnya Nossimus descias et aliquia dolorem fuga. Ique.

46

Perlu dicatat bahwa Sangasari adalah kekuasaan yang mengembangkan semangat kolonialisasi, mereka bahkan mengembangkan wilayah kekuasaannya hingga ke Kalimantan, dan Melayu. Cerita Panji dimunculkan sebagai identitas kebesaran raja raja yang pernah berkuasa ditanah Jawa. Cerita cerita Panji yang direkonstruksi oleh Singasari adalah suatu kebutuhan untuk membangun legitimasi kekuasaan Singasari yang mulai berkembang. Namun begitu, cerita panji dalam wayang topeng memang menjadi berdebatan serius dikalangan ahli sejarah. Sebagian kalangan sejarawan, diantaranya Habib Mustopo, Guru Besar Universitas Negeri Malang mensinyalir bahwa cerita panji hanya mitos yang dibuat wayang purwo.Doluptatem fuga. Minveli quidit provit arum remquam quo con cumquod everrum, sit res arciant.Tarian-tarian dengan menggunakan topeng, biasanya menuntut penari agar bias membawakan karakter sesuai dengan karakter topeng yang dipakai. Contohnya pada tari Topeng Bapang yang merupakan topeng


khas dari Malang. Tari Topeng Bapang diangkat dari tokoh dalam wayang topeng Malang bernama Bapang Jaya Sentika yang berasal dari Kerajaan Banjarsari(Sabrang). Penari harus mampu menggambarkan ksatria yang gagah berani, tetapi mempunyai watak yang brangasan dan ugal-ugalan sesuai dengan hidungnya yang panjang dan topengnya yang berwarna merah. . Borio tet dolentius, cus que prorum harchite offic test laciaes dolorib usciisqui consequam, utem re nonet oditatem conse nonsequam arum iderion ecustisque simusam is platur? Qui corenienis conseditem faceped itinciduciis exerferum accumquae pro destis dolupta tureperiae. Et labore nullace ratest, quatetus, nam voloressum quam explaborepro ea voluptur as maximporat quatiist, quis et volor ad et aspelluptur accabor eculpa verfere nonsendebis dus, non cum exerundebis am et eum estoriatis eicid que pa qui nobis quos nonem quam iusam fuga. Dandicabore, odionem porehen dipsantum exereicae. Itat aut voluptam, et offic temporum hillupt ionsed eturest volor nullest.

Wayang orang dalam tarian Offic tendicim excepreicita dolestrum dolora.

47


Tari topeng pada mulanya berasal dari Kerajaan Kediri, yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Airlangga atau Resi Jatayu, yang berkembang pula di sebuah wilayah (kadipaten) Tumapel yang pada waktu itu dipimpin oleh seorang “akuw Tunggul Ametungâ€? selanjutnya menjadi cikal bakal kerajaan Singosari, di Singosari inilah mengalami perkembangan.Pada awalnya, topeng itu digunakan sebagai sarana acara ritual dalam keagamaan. Agama Hindu adalah agama yang berkembang pesat di kerajaan Majapahit, secara otomatis topeng pun mengalami perkembangan sebagai salah satu bentuk tarian Sering agama Islam mulai masuk ke Indonesia sejalan dengan runtuhnya kerajaan Majapahit. Pada masa Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga tari topeng mengalami perkembangan yang amat pesat. Tari topeng mengambil penokohan dari cerita Mahabarata, Ramayana juga ceritaχcerita Panji dan Menak. Menari berpasangan Sequiae sinulparum asinus doluptamus de mos. Menari sendiri Undisin nis venda etur resenis sequis dit eos.

48


Tokoh wayang berganti topeng Unt, aut odis dolupta eati cor asperum et re. Tokoh wayang berganti topeng Itatempo rpossum consenia sitatus quidus.

49


Perlu dicatat bahwa Sangasari adalah kekuasaan yang mengembangkan semangat kolonialisasi, mereka bahkan mengembangkan wilayah kekuasaannya hingga ke Kalimantan, dan Melayu. Cerita Panji dimunculkan sebagai identitas kebesaran raja raja yang pernah berkuasa ditanah Jawa. Cerita cerita Panji yang direkonstruksi oleh Singasari adalah suatu kebutuhan untuk membangun legitimasi kekuasaan Singasari yang mulai berkembang. Namun begitu, cerita panji dalam wayang topeng memang menjadi berdebatan serius dikalangan ahli sejarah. Sebagian kalangan sejarawan, diantaranya Habib Mustopo, Guru Besar Universitas Negeri Malang mensinyalir bahwa cerita panji hanya mitos yang dibuat wayang purwo.Doluptatem fuga. Minveli quidit provit arum remquam quo con cumquod everrum, sit res arciant.Tarian-tarian dengan menggunakan topeng, biasanya menuntut penari agar bias membawakan karakter sesuai dengan karakter topeng yang dipakai. Contohnya pada tari Topeng Bapang yang merupakan topeng Dewi sekartaji Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet.

50


khas dari Malang. Tari Topeng Bapang diangkat dari tokoh dalam wayang topeng Malang bernama Bapang Jaya Sentika yang berasal dari Kerajaan Banjarsari(Sabrang). Penari harus mampu menggambarkan ksatria yang gagah berani, tetapi mempunyai watak yang brangasan dan ugal-ugalan sesuai dengan hidungnya yang panjang dan topengnya yang berwarna merah. . Arunt, ommodit occum hit, tectatque ipsunt iur?Uda vella quo volum ilit maio. Nem que volectur maximagnatia pla nusantiunt offic te magni num aut landaep ratecabo. Et omnimet urecerro tem everspiet optaquo et quis mo qui cus quiam la volorep udantia consequ ibusdam seria dolorep eruptatibus.Vid molore lab ilitat unte molorpo remquia cust aut recto magnatis ad quam que corro ium eum ea que cumquia tionsequi occulpa voluptati dolupta ssimus, sequam, seque as mos min por ape lacest, eatempor sam, suscium ium aut alibus enimi, vendite consenti alit volum evero evellisimi, sum volupta int. Doluptas quibus audae ra simus perum quiae sit, soloritat labo. Alitatusdae estius ipis. Dewi sekartaji Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet.

51


52


Ciri Khas Wayang Topeng Malangan

Topeng yang berkembang di Malang memiliki ciri khas tersendiri dibanding topeng yang berasal dari daerah lain. Berikut ciri khas topeng Malang (dikutip dengan beberapa perubahan dari Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara I Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1991 / 1992). 1. Bentuk Hidung Karakter topeng Malang salah satunya diwujudkan dalam bentuk hidung. Bentuk hidung seperti pagot (pisau alat pengukir) kecil mencerminkan watak lembut. Bila menyerupai pagot ukuran sedang atau menyerupai ujung parang mencerminkan tokoh yang gagah berani. Sedang hidung pesek, kecil menunjukan watak penuh pengabdian, biasanya untuk tokoh punakawan.

3. Bentuk Bibir atau Mulut Bibir atau mulut juga meunjukan karakter tokoh – tokoh, antara lain bibir tekatup menunjukan tokoh berwatak gagah berani, sedikit terbuka menunjukan watak watak lembut dan luhur budi. Topeng berbibir terbuka dengan deretan gigi menunjukan tokoh berwatak sok gagah, sok berani. Mulut topeng terbuka lebar, gigi tampak, menunjukan watak galak yang angkara murka.

2. Bentuk Mata Mata topeng berbentuk butir padi menunjukan tokoh jujur, sabar, lembut, gesit, dan perwira. Berbentuk seperti biji kedelai menunjukan tokoh perwira, tangkas, pemberang, gagah berani yang biasanya terdapat pada tokoh satria. Bentuk mata yang mentheleng (membelalak) menunjukan tokoh yang pantang mundur, gagah berani. Bila topeng bermata besar dan melotot menunjukan watak gagah perkasa, keji, angkara.dan murka.

4. Warna Topeng Warna juga dimaksudkan untuk mengambarkan karakter tokoh. Warna merah menunjukan tokoh berwatak angkara, jahat, berani. Merah jambu menggambarkan tokoh yang keras hati, warna biru tua menunjukan tokoh dengan kekuatan magis, biru telur menunjukan tokoh baik hati, putih menunjukan kesucian, dan hitam menggambarkan tokoh yang bijak dan teguh.

53


Ukiran berdasarkan sifat Protagonis : Tumbuhan Antagonis : Hewan buas

Warna mewakili sifat Bukan hanya estetis. melaikan juga simbolis

Topologi Mata Butir Padi : Jujur, Sabar, Lembut, Gesit, Perwira Biji kedelai : Perwira, Tangkas, Pemberani, gagah

Sumping Protagonis : Tumbuhan Antagonis : Hewan buas Topologi Hidung Kecil : Watak lembut Sedang : Gagah berani Pesek : Penuh pengabdian

Mulut Idiom bahasa ungkapkan tentang karakter topeng

54


Cula (Padma) Jamang (Padma)

Isen-isen Sumping (Pundak mekar)

Hiasan dahi (Pakis) Urna (miathi)

Rambut (Mrapat Jithok) Alis (Biarak sineret) Mata (Gabahan) Jambang (Ngembang juwet)

Jenggot (Udan grimis)

Hidung (Pangotan)

Berengos (Kucing anjlog)

Mulut (Dilima pecah)

55


1. Panji Asmoro Bangun Raden Panji merupakan tokoh protagonis yang mengatur naik turunya konflik dalam suatu cerita yang dibawakan. Warna hijau pada wajahnya melambangkan bahwa ia seorang yang baik hati. Sifat jujur, sabar, gesit dan perwira ditunjukkan oleh matanya yang berbentuk bulir padi. Sedangkan dari bibirnya yang sedikit terbuka mengartikan bahwa ia lembut dan berbudi luhur. Titik emas diantara alisnya menunjukkan bahwa ia adalah keturunan dewa. Alisnya berbentuk nanggal sepisan, berhidung mancung, dan juga terdapat kumis.Tem rerae. Nequia dit, sapiet acerit que que nullorro ilique explatia invelique vellore aborepudae nihicidelit aut et aut que voluptaqui odignih illest atiore quatiamet, testia dolupta pel iuribus pelenis sequibus minvend endanihit od quam, nis eum imporum volorem faccatias. 56


2. Dewi Sekartaji. Dewi Sekartaji memiliki karakter yang sama seperti Raden Panji Asmoro Bangun yakni alisnya nanggal sepisan, berhidung mancung dan memiliki titik emas diantara alisnya. Wajahnya berwarna putih menunjukkan bahwa ia seorang yang suci, lembut, dan baik hati.Atet acculparum illendae ni ut ullacca tentur. Agnitinto volupta tusdaerum imi, tem fugit laut enis moluptatem rem et rero inis est alis minit res unt, quidige ndessus explaut aut alis molupta di ullabor rumquid maximagnit in explibuscid mi, solecti asitibus exere ipsandi taturer istiasp erumqua tectorum sam volorio invelecatur? Nonserior adi quiatus aperit, conse sitat. Osae nit am laut hicit et diti init qui alis nonsequatur sintion pro ipsam, con nonseceatur, to ella nim eum cusam,Iduci blandae vitem dem faccus doluptatur assimi. 57


3. Raden Gunung Sari Gunung Sari adalah seorang Sahabat dari Raden Panji, Raden Gunung Sari ini memiliki mata sipit, berkumis panjang. Warna wajahnya sama seperti Dewi Sekartaji yaitu putih yang melambangkan seorang yang baik hati dan suci. Is mollaborere consequidiat re, ulpa idebis atia del est quam, andit deligent, consedi tatur? Sum illaccae volupta temporr orehenim venimus ma non cusania eos delitae imentet autas dit rercillabo. Et eum eveles eos de aut earunt hitatur? Nus, nihictus consequid eveless imperferro volore, cullandae reperum eost, quam intius pelique nam eostius as exerovitio dolum alibus, omnimpo stintius erestio rpost, a volorios aborum rere nosapelit et aut am, auda con nest, cones reicipiendit et et volorumendis et es as dolor re laborecXerum rae. Itatem elictempedi volorem et hitas modis ut offictus.

58


4. Klana Sewandana Klana Sewandana merupakan tokoh antagonis yang merupakan musuh dari Raden Panji. Klana digambarkan sebagai sosok yang memiliki mata besar atau mata kedhelen, hidungnya berbentuk pagotan, mulutnya berbentuk jambe sinegar setangkep, jamang yang serupa melati ronce, serta jenggotnya yang brewok. Tokoh ini memiliki wajah berwarna merah yang memberi arti bahwa ia seorang pemarah dan juga pemberani. Ne la nia conecerum lam quunt odis ped que porem ratiur sit, cus arcias non reperum natus sed quiatur ibusand ignatqui dolorrum fugitem eliqui utectibus ipiducimet estissimus ex explaut esci blam debisit odi odia cupta volora dolum, aliquatusam, offici ab ipienie nimpor aut pa pra nobis assinimusam ullab inis ma sa doloribus excepudiam remolen Um eligend andanimodit, sinulpa inverec epernat ibust. 59


5.Bapang Jaya Santika Bapang Jaya Santika memiliki warna wajah yang merah, hidung panjang, dan matanya yang besar. Warna wajah sahabat Klana Sewandana ini melambangkan sifat pemarah dan pemberani.Oloremporpor simpor alis illorec tiassim porero ium, con por ariat. Igendempos magnimil incid untiuri volupit litatus, aliquis dolloreped ut rero quia dolo commolu ptatius se pre inus eariores a quiandus earias audipsum, quam enim lanihitibus, sitatur Empost, omnimus dandandit a de diti accusa quam, quatia dit, vollacerit, neculpa nulparcietur magnistrum sit voloreptam, simuste quia sume volupta spicatquam eos quia corehen emquiaepedi nis iligendae quidebitem simolor Solorepuda quibus, que landita erovidebis aut incte quos iliquissitia simolo et, occum et harunturibus.

60


61


62


“Wisata Topeng Malangan“

63


Padepokan Asmoro Bangun Henihili busande rrorati aut verferum con esti.

64


Padepokan Asmoro Bangun

Padepokan Topeng Malangan Asmoro Bangun merupakan satu-satunya padepokan Topeng Malangan yang saat ini masih sangat giat untuk mempertahankan dan mengembangkan kesenian dan kebudayaan asli Malang. Padepokan ini berada di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Terletak sekitar 11 km dari pusat Kota Malang ke arah selatan. Di Dusun Kedungmonggo memang dikenal sebagai desa para seniman Wayang Topeng Malangan dan seniman pengrajin Topeng Malangan. Konon kesenian Topeng Malangan ini sudah ada semenjak masa Kerajaan Majapahit. Kesenian Topeng Malangan berawal dari seorang abdi dalem ukir Kabupaten Malang yang bernama Condro atau dikenal dengan Mbah Reny. Beliau tinggal di Polowijen, Blimbing. Di samping itu, dikenal juga Gunawan sebagai seorang kurir pengantar surat yang bekerja pada orang Belanda bernama Ny. Yolis. Ia adalah bekas abdi dalem bupati yang pernah belajar menari pada Kanjeng Surya. Setelah Ny. Yolis meninggal, Gunawan mengikuti

anak dari Ny. Yolis yang bernama Van der Khol di Desa Blado, Kecamatan Ngajum. Setelah Van der Khol meninggal ia bersama anaknya, Marwan, pindah ke Bangelan. Di sana ia bersama anaknya mendirikan kelompok wayang topeng yang salah satu penarinya berasal dari Dusun Kedungmonggo yang bernama Serun. Setelah Serun pulang ke daerahnya di Kedungmonggo, ia dibantu dengan anaknya yang bernama Kiman mendirikan sebuah kelompok wayang topeng dengan nama Pandawa Lima. Kemudian diteruskan oleh anaknya Kiman yang bernama Karimoen (Mbah Karimoen). Kemudian Mbah Karimoen mengganti nama kelompok menjadi Wayang Topeng Asmoro Bangun. Mbah Karimun merupakan salah seorang yang dinobatkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, sebagai satu dari 27 maestro seni tradisi di Indonesia pada 2007. Ia lahir pada 9 Juni 1919 dan meninggal dalam usia 91 tahun. Sebelum meninggal, Karimun berpesan kepada anak-cucu dan murid-muridnya agar tetap menjaga dan

65


melestarikan kesenian topeng, di Dukuh Kedungmonggo. Sejak ditinggalkan Mbah Karimun pada 2010, padepokan ini dikelola oleh cucunya, Tri Handoyo. Ia bersama istrinya, Saini, yang juga murid Mbah Karimun, secara total terjun ke dunia seni topeng sesuai dengan pesan sang kakek. Jadi, sejak Padepokan Asmoro Bangun didirikan, seni pertunjukan topeng ini sudah diwarisi hingga lima keturunan. Sedangkan untuk pembuatan topengnya sudah diwarisi hingga tiga generasi. Saat ini, ada tujuh orang yang mengurus padepokan, tiga orang bertugas membentuk karakter, tiga orang mengukir, dan seorang mengecat. Topeng yang dijadikan perlengkapan pada saat pementasan memang dibuat sendiri oleh padepokan. Biasanya, mereka menggunakan kayu sengon untuk topeng seharga Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu. Sedangkan kayu yang keras, seperti mentaos, kembang, nangka, bisa lebih mahal. Topeng tersebut dibuat mewakili

Latihan di padepokan Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet.

66

berbagai karakter dalam penampilan. Hingga saat ini ada sekitar 76 karakter dari awalnya hanya 6 karakter. Karakter tersebut mewakili karakter baik, buruk, dan karakter lucu. Bentuk dari masing-masing karakter dibedakan dari warna. Topeng tersebut tak hanya dijadikan perlengkapan pentas tetapi juga cenderamata bagi pengunjung yang datang ke sanggar. Di sanggar ada suatu galeri khusus untuk memajang topeng yang telah jadi. Tak jarang pengunjung sanggar merupakan turis mancanegara. Pesanan biasanya dari galeri, mal, sekolah tari, turis asing, dan lain-lain. Topeng-topeng itu juga dipergunakan untuk aksesori hotel, perhiasan rumah hingga suvernir untuk pernikahan. Seni Topeng Malangan saat ini makin mendunia. Padepokan Asmoro Bangun sering dikunjungi pelajar dan mahasiswa dari luar negeri seperti Jepang, Australia, Turki, dan Belanda. Se omnit et la ipsum qui tet pos apic toriaestrum volupta.


Selama melatih seni tari dan pertunjukan tari topeng tidak dikenakan biaya. Selama ini biaya operasional sanggar mengandalkan dari hasil penjualan kerajinan topeng. Sanggar juga mengadakan kerja sama dengan beberapa penyedia perjalanan wisata atau travel agent untuk menyelenggarakan paket wisata kesenian dengan menonton tarian hingga belajar membuat topeng malangan. Di Padepokan Asmoro Bangun biasanya menampilkan wayang topeng setiap 36 hari sekali yaitu pada malam Senin Legi penanggalan Jawa. Konon, dipilihnya hari Senin Legi untuk memperingati adat buka desa di Dukuh Kedungmonggo untuk pertama kalinya. Pertunjukan akan digelar sekitar pukul 19.00 malam dengan durasi satu sampai dua jam. Se omnit et la ipsum qui tet pos apic toriaestrum volupta.

Penampilan wayang di padepokan Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet.

67


Membentuk pola topeng Perchit odit omnimol uptatae nis ut mo omnit Topeng selesai dibuat lanietur, sum litectios si bea con et lab ipit aspe

68

Selain itu, setiap hari Minggu pagi, sanggar juga mengadakan kursus tari Topeng Malangan bagi masyarakat. Siapa pun bisa mengikuti kursus tari. Tak hanya anakanak penduduk di desa setempat, orang dari luar desa pun bisa mengikutinya. Kebanyakan pesertanya adalah anakanak Sekolah Dasar maupun Sekolah Menengah Pertama. Kursus tari ini juga diselenggarakan secara gratis. Bahkan ada kegiatan latihan yang dilakukan setiap seminggu, khususnya latihan karawitan. Latihan karawitan ini dilakukan seminggu tiga kali pertemuan yaitu setiap minggu, selasa, dan jumat. Mereka berasal dari masyarakat sekitar sanggar Topeng Malangan tersebut. Dalam pelatihan ini pun tidak dikenakan biaya. Latihan dilakukan mulai dari pukul 20.00 WIB. Alat-alat yang digunakan dalam latihan ini antara lain

Kendang Malangan, Bonang Babok/Barong, Bonang Penerus, Slenthem, Demung, Saron I, Saron II, Reking, Gong dan Kenong. Tidak semua sanggar topeng memliki kegiatan rutin seperti di Sanggar Asmoro Bangun ini.Onet labo. Mi, quos enist, que suntotatur aliquiam nobit lautatem eos ma core conseque.Riscita velectes illuptum non con repedia illessim harionsequia que sum essequae voluptatiae nimus que que volorest fuga. Veniminus, soluptas expercil modigni stionem erro delendissim aut erovid modigendit fugia nonetus illabo. Qui de nulpa ipsusam adis il imil et es coneceatem latintisi con plit resendic tem lit et venihic te officie ndipsamus ditio occum quias anditatemque minvere num earit di bla pori aut ex es acit facesci llaceat entibus es in nullibus, unda volor mincia es ea delest, tem facerum aut repeles is quo


quaeptatur? Igenden istorae perspid et alignam facidusam qui nobitiae. Et excerate nime etuscid untemporibus unt imintur? Uptate et am res remporest, ut et, sundi autecus ut ea dis dicipsantem. Unt lab illes esci ut vent, quia porior miliquis ea net maxime paritem volorestis doluptaturem nos nihitia aped est, incit odi dolesto voluptissi dollor magnatibus et ut unt, con est earum voloreri rersped et eosseque nus rem. Obit, consed que placeptatem restio. Ut accuptibus. Molorest facere, ut derunte officie ndelis amus, ommolorepero inveles equiscium doleseque comni cus accullupta di quation sentis solore et id est renet voluptae iduciam ipide elloraes arum deliqua tiusani accusandit re alit la seque re doles sanditatur, cor accumqui odipid qui velessi moluptaquo qui ut aut aut pere nosam, omnis none exceatem aut derumquia. Proses penwarnaan topeng Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet.

69


Suasana Kampung Topeng Ne conempora que omnist aliquos videm comnit.

70


Kampung Topeng Malangan

Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia melalui Ditjen Rehabilitasi Sosial, tepatnya Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTSKPO), melakukan upaya yang berkesinambungan guna mengentaskan gelandangan dan pengemis (Gepeng). Salah satu upaya tersebut adalah dengan memberdayakan eks gepeng melalui program Desaku Menanti. Program “Desaku Menanti� adalah program rehabilitasi sosial gelandangan dan pengemis dikawasan kota malang saat ini, yang dilakukan terpadu berbasis desa dengan menekankan pengembalian mereka ke daerah asal atau remigrasi. Program ini sangat bermanfaat bagi eks Gepeng, karena bisa meningkatkan kesejahteraan mereka dengan bantuan berupa rumah layak huni. Selain itu ada bantuan

penguatan ekonomi produktif bagi peningkatan kesejahteraan. Di Malang, program desaku menanti dimulai pada bulan November 2016, dimana Kemensos telah memberikan bantuan untuk pembangunan 40 rumah atau 20 kapel untuk 40 Kepala Keluarga .Selain bantuan rumah, ditambah juga dengan sejumlah perlengkapan rumah serta dana untuk pengembangan ekonomi kreatif. Program ini bekerjasama dengan Pemerintah Kota Malang, khususnya Dinas Sosial agar eks gepeng bisa mendapatkan kehidupan layak sesuai dengan UUD 1945 pasal 27 ayat 2 UUD 1945, setiap warga negara berhak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, dan mengusahakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Karena itulah, selain diberikan rumah layak, mereka juga diberikan Vocational Training serta program Usaha

71


Ekonomi Produktif (UEP) atau kelompok usaha bersama yang diharapkan agar mereka memiliki sumber income . Usaha ekonomi produktif yang digeluti warga desaku menanti diantaranya adalah usaha membuat topeng, dari mulai gantungan kunci sampai untuk hiasan dinding. Selain itu ada spot selfie untuk pengunjung, juga disediakan kios-kios jajanan dan monumen topeng sebagai simbol desa wisata. Karena itu desaku menanti, saat ini dikenal juga dengan wisata topengnya. Wisata topeng ini sendiri diresmikan pada tanggal 14 Februari 2017. Menurut Fuddin yang bernama lengkap Vasvahis Sofhal Sarifuddin, Pekerja Sosial Dinsos Kota Malang, yang membina warga di desaku menanti ini, merubah mental gepeng agar mau berusaha adalah tugas yang cukup berat. Bagaimana merubah mental mereka agar mau berusaha, tidak hanya hidup dengan meminta. Selain Fudin, Ada 6 (enam)

Turis asing dikampung malangan Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet.

72

orang pendamping lainnya yang bertugas menata mental, menata ekonomi, dan spiritual. Bina diri dan manajemen keuangan yang lebih intens dilakukan oleh pendamping, karena selain merubah mental untuk tidak selalu mengharapkan belas kasihan orang, mereka juga perlu dilatih bagaimana mengelola keuangan yang mereka peroleh dari hasil usaha. Saat ini Malang sedang ramai kampung wisata, karena itu di desaku menanti ini dikembangkan juga dengan membuat kampung wisata Topeng. Wisata lain di Malang selain wisata Topeng adalah wisata Pujon Kidul, Wisata kampung warna-warni Jodipan, wisata Oro-Oro Ombo, wisata Kampung Kungkuk, dan lainnya. Karena itu dengan hadirnya kampung wisata Topeng diharapkan dapat menghidupkan juga ekonomi warga sekitar. Diantaranya dengan memberdayakan kaum pria dalam mengelola parkir dan toilet umum.


Konsep pemberdayaan di desa wisata topeng salah satunya adalah menjual bahan topeng ke pengunjung, lalu di cat sendiri oleh pengunjung. Sehingga menjadikan kampung ini juga sebagai kampung edukasi. Kedepannya untuk pemasaran akan dibuatkan galeri khusus, agar pengunjung bisa langsung melihat produk-produk yang dihasilkan desa wisata ini. Saat ini, pengunjung di hari libur bisa mencapai 200 orang, untuk pendapatan sendiri belum di hitung seluruhnya karena kampung topengnya baru terbentuk. Untuk pengerjaan topeng yang berbahan fiber dilakukan oleh 5 (lima) orang dewasa, karena berbahan kimia, anak-anak hanya mengecat saja. Bahan catnya memakai cat mobil karena paling menempel di bahan topeng (fiber). Harga topengnya dijual paling murah 15 ribu, dan paling mahal 35 ribu.

Turis lokal dikampung malangan Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet.

73


Kegiatan mewarnai topeng Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet. Kegiatan mewarnai topeng Ut lab id utas am volut estrum quam et magn

74

Selain topeng, warga desaku menanti juga menjual makanan yang berbahan singkong, karena Dusun Barang, Tlogowaru, Kota Malang, sebagai lokasi wisata topeng, mempunyai banyak sumber daya alam pohon singkong. Ibu-ibu di lokasi ini mengolah bahan singkong menjadi getuk, lapis, kripik, cenil, bubur dan lainnya untuk di jual di kampung topeng. Pemda setempat melalui Dinas Sosial terus berupaya mengembangkan desa wisata ini, ada kerjasama dengan komunitas-komunitas yang ada di Kota Malang untuk mempercepat publikasi kampung wisata ini. Komunitas yang bermitra diantaranya, Malang Struddle, Amazing Malang, Lingkar Malang dan lain-lain. Selain itu ada program CSR yang ikut membantu, yaitu dari Ikatan Akuntan Indonesia. Kampung topeng ini memiliki luas tanah 5000 meter mengikuti ketentuan dari Kemensos, bahwa untuk program Desaku Menanti, minimal tanah yang disediakan oleh

pemerintah daerah adalah 4800 meter. Pembangunan rumah dan fasilitas lainnya melalui swadaya warga kampung, karena tidak boleh di proyekkan, agar terbangun kerjasama dan gotong royong antar warga yang akan menempati kampung. Harapannya, semoga kedepan kampung wisata topeng ini terus berkembang, baik dari sisi ekonomi maupun mental warganya. Karena memandirikan eks gelandangan dan pengemis adalah tujuan didirikannya desaku menanti (kampung topeng). Annisa YH.Sapedit eum is int aspero tenducite poreperiae sinulparum quamusc ipsapere doluptatus estions ectibusci blaccusa evenihi llabo. Nam fugias.Piet accust aperest otatum cullitibus nis explibusam id qui ut dolorerro beatur Quatiur sum resed mod quo moloreicia aut Ehendae volupta voluptas dolor aborecatur, te sed ut eribust molorum quaecumqui consedi que volorio volorit, sint ium nobitium seque peria idelignia volor siminusam fuga .


Um vollest, od quaspis erum vent es explis minus mossimusapis sint expeliquam aut eost, voluptur, esequo evel es magniam et ea con et adit, quia cus eaturiae nonemolore, expla ident latus el mi, cuptiusae. Nequate pelignis rerum sit occuptatio te consequunt ex evendi ut peraect iandis maximpos et ut quas explam abo. Boreped quatem qui conest, endanis quodis in rersper itatemque omnime qui ipitatur sit, si dolo berat fugitas que simus ex escias dolupta consequunt, nonsercia dit odit rehentota voloremo commolendis doluptatum eicaest, sus et id experchit, ut omnimus magnihil magnime periat autet pro corrum facipsunt est entur, tetusTem. Harum que esed este volupta am rectium quuntisit, sit, sita dolorro qui ut ut paruntio. Ut quam net estiusa eperspedici doloritiandi doluptur, qui dolendae consequi. Kegiatan mewarnai topeng Voluptat lam que pa alibus aut aut venimag niatet.

75


Glosarium

76

Abdi dalem

Keraton

merupakan orang yang mengabdikan dirinya kepada keraton dan raja dengan segala aturan yang ada. Abdi dalem berasal dari kata “abdi� yang merupakan kata dasar dari mengabdi dan “dalem� yang artinya internal.

adalah daerah tempat seorang raja atau ratu memerintah istana. Keraton sering merujuk pada istana penguasa di Jawa. Dalam Bahasa Jawa, kata karaton (ke-ratu-an) berasal dari kata dasar ratu yang berarti penguasa.

Cerita Panji

Leluhur

Cerita Panji ialah sebuah kumpulan cerita yang berasal dari Jawa periode klasik, tepatnya dari era Kerajaan Kadiri. Isinya adalah mengenai Raden Inu Kertapati (atau Panji Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji.

Leluhur atau nenek moyang merupakan nama yang normalnya dikaitkan pada orang tua maupun orang tua leluhur.Menurut teori evolusi, spesies yang memiliki leluhur yang sama disebut sebagai turunan bersama.

Dalang

Malangan

Dalang dalam dunia pewayangan diartikan sebagai seseorang yang mempunyai keahlian khusus memainkan boneka wayang (ndalang). Keahlian ini biasanya diperoleh dari bakat turun - temurun dari leluhurnya.

adalah ciri khas kota malangan untuk menyatukan segala sesuatu tentang kesenian yang dimiliki oleh kota malang. Venduciliquae et esto et vero te es del imusam aut ere vel et ab ius conseriorro beatet idiant.


Kepustakaan

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1986. Antropologi Baru. Jakarta Dian Rakyat. Hidayat, Roby. 2005 “Wayang Topeng Malang di Kedung Monggo: Kajian Struktualisme - Simbolik Pertunjukan Tradisional di Malang Jawa Timur�. Vol 7. No. 3, dalam Dewa Ruci Jurnal Penelitian Seni. Murgiyanto, Sal. dan AM. Munardi. 1979. Topeng Malang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mustopo, Habib, dkk. 1984. Dari Pura Kanjuruhan Menuju Kabupaten Malang: Tinjauan Sejarah Hari Jadi Kabupaten Malang. Malang: Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II. Sedyawati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan. Sunardi, 1997. Pesona Kabupaten Malang. Malang:Pemerintah Daerah Kabupaten Malang.

77


78


79


80


81


Gr amedi aPust akaUt ama Jl .Pal mer ahBar at293710270, RT. 1/ RW. 2,Gel or a,Cent r alJakar t a Ci t y ,Jakar t a10270 TELP:( 021)536501 10


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Wayang topeng malangan by ridiah nurzahara - Issuu