QUO VADIS? PRODI ILMU HUKUM
Hal. 6 Masalah Lama Tak Kunjung Usai Hal. 8 Prodi Ilmu Hukum Belum Kantongi Izin, Putar Otak Kibuli Mahasiswa Hal. 15 Kuliah Umum Atau Kampanye
Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
2
PERSEPSI
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
EDITORIAL
Main Paksa Prodi Hukum
M
alang betul nasib 167 mahasiswa prodi ilmu hukum FIS-H, alihalih menjadi calon sarjana hukum, status kemahasiswaan mereka ternyata tidak diakui negara alias ilegal. Sehingga berbeda dengan puluhan ribu mahasiswa prodi lain, mahasiswa ilmu hukum tidak bisa mengecek status pendidikannya pada PDDikti. Tahun 2019 menjadi awal terbentuknya Prodi Ilmu Hukum, namun hingga kini tak memiliki kejelasan terkait legitimasi dari Kemendikbudristek. Parahnya, prodi ini tetap menerima mahasiswa baru melalui seleksi secara mandiri. Padahal Prodi Ilmu Hukum sudah menjadi bagian penting dari fakultas karena dengan hadirnya prodi ini, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) berubah menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H). Kejadian serupa pernah terjadi di UNM yang baru terkuak pada tahun 2011, beberapa prodi menerima mahasiswa baru tanpa izin, ujungujungnya prodi tersebut akhirnya dibubarkan dan mahasiswanya dipindahkan ke prodi lain. UNM sepertinya enggan belajar dari sejarah dan tetap mengabaikan moratorium kementerian, pada tahun 2017 Kemenristekdikti telah melarang kampus mendirikan prodi rumpun ilmu humaniora atau ilmu sosial. Alasannya karena jumlah lulusan Prodi Ilmu Sosial tak banyak terserap di dunia kerja. UNM terlalu memaksakan hal ini, hingga mahasiswa yang menjadi korban. Bagaimana tidak tanpa adanya legalitas, mahasiswa akan menemui kesulitan seperti kesulitan mendapatkan beasiswa, tidak bisa pindah ke kampus lain, sulit
mendapatkan kegiatan penelitian, hingga tak dapat mengikuti program bergengsi Kemendikbud Ristek, yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Bahkan jika kondisi ini tidak berubah, mahasiswa Prodi Ilmu Hukum tidak akan mendapatkan ijazah resmi. Sejatinya, prodi baru minimal memiliki izin penyelenggaraan atau izin operasional sebelum melakukan penerimaan mahasiswa baru. Sehingga, prodi itu terdaftar pada penerimaan jalur SNMPTN dan SBMPTN . Jika PTN tetap memaksakan penerimaan melalui jalur Mandiri tanpa l e - galistas, maka hasil seleksi penerimaan maba itupun ilegal. Mirisnya, mahasiswa baru jalur Mandiri itu juga harus membayar UKT selangit. Hal ini pun akan menimbulkan kekecewaan mahasiswa dan anggapan negatif terhadap prodi yang UNM bangga-banggakan ini. Pihak kampus harus serius dalam masalah ini, prodi ini harus menjadikan prioritas nasib mahasiswanya dengan memberikan legitimasi. Bisa saja mahasiswa yang mengharapkan gelar hukum malah tak bisa mendapatkan hal tersebut. Besar kemungkinan bila tidak kunjung dilegitimasi maka mahasiswa akan dialihkan ke prodi lain.Alih-alih menjadi Sarjana Hukum (S.H), tapi berubah menjadi Sarjana Pendidikan (S.Pd). Besar harapan orang tua terhadap anaknya agar dapat menjadi orang yang sukses, namun jika hal seperti ini tak segera ditindaklanjuti maka bisa saja lulusan dari Prodi Ilmu Hukum ini tak memperoleh masa depan yang cerah.
Manajer Daring
Nama yang tercantum di bawah ini tidak lagi berstatus sebagai pengelola LPM Profesi UNM
Nur Qodriah
Muh. Ainun
Fahmi Wardani Nur Lutfiah
Pelindung: Prof. Dr. Ir. H. Husain Syam, M.TP,. IPU,. ASEAN.Eng. Dewan Pembina: Hazairin Sitepu, Akbar Faizal, Syahrir Muhammad, Asia Ramli Prapanca, Ammas DR, Anshari, Muhiddin, Mukhramal Azis, Uslimin, Fachruddin Palapa, Abdul Wahid Nara, Husain Rasyid, Syamsuddin Yoko, Rusli Siri, Makmur Abdullah, Faisal Palapa, Rustan Bedmant, Abdul Rahman, Abdul Salam Malik, Supriadi, Mirwan, Sultan, Usman, Syamsu Rizal, Muh. Aking, Tri Yari Kurniawan, Jumardin Akas, Andi Azhar, Supriadi, Muhammad Ilham Arsyad, Muhammad Hasyim Arfah, Isnaedi Dahlan, Sitti Marlina, Sahrul Alim, Asri Ismail. Pemimpin Umum: Muh. Ilham Raihan Yusuf, Sekretaris Umum: Sumaya Nursyahidah, Bendahara Umum: Murni, Pemimpin Redaksi: Agatoni Buttang, Manajer Daring: Mustika Fitri, Broadcasting Manager: Mustika Fitri, Pemimpin Penelitian dan Pengembangan: Annisa Asy Syam.
Tabloid Mahasiswa PROFESI diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar STT : 1635/ SK/Ditjen PPG/1990. Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Muh. Ilham Raihan Yusuf, Pemimpin Redaksi: Agatoni Buttang, Redaktur: Aliefiah Maghfirah Rahman, Reporter: Sumaya Nursyahidah , Murni, Annisa Asy Syam, Mustika Fitri, Anugrah HMS, Mujahidah, Andi Nurul Izzah Ilham, Andi Gusmaniar Irnawati, Nur Arrum Suci Katili, Fotografer: Ahmad Husen, Hasnul, Layouter/Desainer Grafis: Resky Nurhalizah. Redaksi LPM Profesi UNM: Jl. Tidung 7 Setapak 4 No. 190 Kelurahan Mappala, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar Telp. 0851-5977-1976, E-mail: profesi.online@gmail.com, Website: www.profesi-unm.com, Youtube: Profesi TV
QUO VADIS? PRODI ILMU HUKUM
KEMENRISTEKDIKTI
PDDikti
Hal. 6 Masalah Lama Tak Kunjung Usai Hal. 8 Prodi Ilmu Hukum Belum Kantongi Izin, Putar Otak Kibuli Mahasiswa Hal. 15 Kuliah Umum Atau Kampanye
Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Desain Sampul & Tata Letak: Husen
Dalam proses peliputan, wartawan PROFESI dibekali tanda pengenal atau surat tugas dan dilarang meminta atau menerima pemberian dalam bentuk apapun. Urai data, ungkap fakta, saji berita
www.profesi-unm.com
3 Tahun MMXXII 2022
UNM Kebut Prodi Kedokteran
Universitas Negeri Makassar (UNM) saat ini tengah menyiapkan pembukaan Program Studi (Prodi) baru yaitu Pendidikan Kedokteran. Hal ini diungkapkan oleh Rektor UNM Husain Syam, studi banding pun dilakukan untuk melihat persyaratan yang harus dipenuhi untuk membuat prodi tersebut.
S
alah satu studi banding yang dilakukan yaitu mengujungi Program Studi Pendidikan Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali. Husain ditemani dengan Wakil Rektor dan petinggi UNM. Rektor UNM Husain Syam mengungkapkan keinginannya untuk studi banding ke Undiksha karena untuk kluster Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Undiksha adalah perguruan
tinggi yang pertama kali memiliki Program Studi Pendidikan Kedokteran di antara kampus LPTK yang ada. "Sejak awal memang kami ingin UNM bisa menghadirkan prodi layanan di masyarakat, khususnya Ilmu Kedokteran, seperti yang ada di Undiksha,". "Karena itu, saya juga tidak mengatakan Undiksha di bawah grade dari kita, itu sama pergerakannya. Karena ada yang lebih di UNM dan ada yang kurang, begitu pula sebaliknya,” ungkap-
nya. Oleh sebab itu, menurutnya kehadirannya di Undiksha bersama sejumlah pejabat universitas maupun fakultas. Mulai dari Ketua Senat, Wakil Rektor, dan Ketua Program Pascasarjana sebagai bentuk keseriusan pihaknya untuk belajar dalam rangka mempersiapkan berbagai hal guna mewujudkan Prodi Pendidikan Kedokteran. “Kami membawa rombongan keseluruhan. Ini maksudnya bahwa kita serius ingin belajar tentang Prodi Pendidikan Kedokteran di Undiksha,” katanya. Bila prodi ini berdiri maka terhitung sudah enam prodi yang didirikan UNM dalam kurun waktu 3 tahun ke belakang. Dari informasi yang terhim-
Inagurasi Manajemen
Usung Tema Art To Inspire
Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar Inaugurasi Struktural 2021 dengan tema “Art To Inspire” yang dilaksanakan di Grand Diamond Ballroom Myko Hotel, Makassar, Sabtu (26/2). Kegiatan ini menampilkan berbagai macam performance seperti Angngaru, Tari Pangadakkang, Paduan Suara, Tari Nusantara, Musikalisasi Puisi, Teater, Perkusi, Dance, Band, dan Flashmob. Ketua panitia, Muhammad Jamrih mengatakan, kegiatan inaugurasi ini merupakan malam pengukuhan yang dinantikan oleh mahasiswa baru Manajemen.
“Malam Inaugurasi Struktural 2021 merupakan malam yang sakral atau malam pengukuhan bagi mahasiswa baru,” katanya. Ia menggarisbawahi bahwa malam inaugurasi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal untuk berproses. Berbagai rintangan pun telah dilewati untuk mencapai malam sakral itu. “Yang perlu digarisbawahi bahwa kegiatan malam ini bukanlah puncak dari segala puncak yang kami lewati sebagai mahasiswa baru,” tuturnya. Sementara itu, Ketua Hima Manajemen, Mohammad Raihan Ali Naru dalam sambutannya menjelaskan kegiatan inaugurasi
merupakan wadah untuk menampilkan bakat serta minat mahasiswa.. “Juga memberikan sebuah wawasan dan pengalaman tambahan kepada mahasiswa baru,” ucapnya. Terakhir, Ia mengatakan kegiatan tersebut berhubungan langsung dengan Jurusan Manajemen yaitu mempelajari bagaimana cara seseorang memimpin sehingga kegiatan dapat berjalan dengan lancar. “Ini berhubungan langsung dengan jurusan kita Manajemen, yaitu pembelajaran sebagai kepemimpinan, bagaimana cara kita dalam menyelesaikan sesuatu, bagaimana cara kita melancarkan kegiatan kita,” tambahnya. (ari)
MOZAIK SNAPSHOT
FOTO: PROFESI/AHMAD
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret
RAWA - Halaman depan gedung kelas lab pendidikan guru PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) terlihat seperti rawa. Rumput yang tumbuh dan air tergenang mengelilingi kawasan tersebut, Jumat (17/12).
pun, rencananya prodi ini akan ditempatkan di kampus V Parepare UNM. Hingga saat ini tengah mengebut pengerjaan proposal pendirian. Menurut Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan,
Karta Jayadi mengatakan hingga saat ini proses pembukaan Prodi Pendidikan Kedokteran masih dalam penyusunan proposal. "Masih proses proposalnya, secepatnya," katanya saat dikonfirmasi Kamis (3/3). (ara)
Pelatihan KTI Asah Wawasan Mahasiwa FIS HIMPUNAN Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (HMPS PAP FIS-H) menggelar Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Pelatihan ini diikuti sebanyak 54 orang pada 26 hingga 28 Februari 2022. Kegiatan ini merupakan program kerja yang bertujuan untuk mengembangkan wawasan ilmiah mahasiswa PAP FIS-H. Pada pelatihan kali ini diusung tema “Create, Develope, and Expose Your Idea Through Writing”. Ketua Panitia, Fajar Srimulana menuturkan dengan digelarnya pelatihan tersebut, 54 peserta dapat mengenal lebih dini terkait
KTI sehingga dapat membuat karyanya sendiri.“Dengan kegiatan ini mereka bisa mengenal lebih awal seperti apa sih KTI itu dan mampu menghasilkan KTI itu sendiri,” tuturnya. Lanjut, Ia berharap setelah mengikuti kegiatan Pelatihan KTI, para peserta dapat memiliki skill menuju kegiatan yang lebih tinggi seperti Mahasiswa berprestasi (MAPRES) ataupun Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). “Semoga peserta yang mengikuti kegiatan ini memiliki bekal dan mampu melangkah ke progres yang lebih, yakni ke tingkat MAPRES dan juga PKM,” harapnya. (aci)
Satpam Tetaplah Pelindung *Murni
Satpam kampus UNM Parang Tambung saat di poskonya.
FOTO: DOK-PROFESI
Pasca kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum satpam di toilet Hotel Lamacca Universitas Negeri Makassar (UNM) berefek panjang. Persepsi negatif menghampiri satpam lain. Mengembalikan citra baik satpam menjadi tantangan saat ini. Kejadian tersebut cukup mengubah persepsi mahasiswa akan peranan besar seorang satpam di lingkup kampus. Sebagian besar www.profesi-unm.com
mahasiswi enggan berinterkasi atau berdekatan dengan satpam. Hal itu dilakukan demi menjaga keselamatan diri.
Bahkan satpam tidak lagi terlalu disegani oleh mahasiswa karena citra buruk akibat kejadian itu. Beberapa satpam pun merasa enggan untuk menegur mahasiswa setelah kejadian tersebut, khususnya mahasiswi. Meski tingkat kepercayaan terhadap satpam menurun. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat sosok penjaga tersebut. Ia terus melakukan tugas seperti kesehariannya, yaitu menjaga di pos satpam dan melakukan patroli demi keamanan kampus. Darmanto, begitulah kepala satpam kampus UNM Parang Tambung ini dipanggil. Tanpa lelah Ia terus memberikan arahan kepada satpam lainnya untuk melakukan tugasnya dengan penuh amanah, sambil sesekali melakukan patroli dengan satpam lainnya. “Kalau pagi-pagi saya kasih arahan ke mereka, kalau siangsiang itu kalau biasa nda ada satpam kita lihat di posnya biasa kami lakukan patroli,” katanya. Tidak heran, meski beberapa fase dalam melaksanakan tugas yang dihadapi tapi Ia terus memegang erat amanah yang di-
embannya, dan tetap tegar walau berbagai fase suka duka menjadi kesehariannya. Mulai dari kuliah online, hingga masalah baru yang kemarin menimpa profesinya. “Mungkin satu ji yang berulah, tapi berdampak ke profesi ta mi semua sebagai satpam. Tapi satu hal yang harus tetap diingat oleh teman-teman mahasiswa kalau disini kita bertugas untuk menjaga keamanan kalian,” tuturnya. Tidak ada yang berbeda bahkan sebelum kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum satpam tersebut, walau terkadang perasaan sepi itu kadang Ia rasakan, “Sebenarnya kalau disini kita merasa biasa saja, sebelum kejadian itu memang jarang ji mahasiswa berkunjung ke pos satpam. Apalagi setelah pandemi,” tuturnya. Bagi Darmanto dan temantemannya sudah menjadi tugas untuk menjaga keamanan kampus selama 24 jam dengan saling bergantian, “Kita disini bagaimana pun penilaiannya orang, kita akan tetap melakukan tugas kita. Biasanya di setiap posko fakultas itu ditugaskan
dua orang, kecuali disini empat orang sama polisi satu, itu shiftshift,” ucapnya. Sebelumnya, Ia mengaku masalah bukan alasan untuknya meninggalkan amanah untuk menjaga keamanan kampus. Menurutnya, masalah yang dialami bersama rekan satpam saat melakukan tugas di awal pandemi lebih besar dari saat ini. “Kemarin itu saya rasa lebih berat saat awal pandemi, memang sempat kosong ini pos dulu hanya kosongnya itu kayaknya beberapa minggu ji saja,” katanya. Ia juga berharap untuk beberapa mahasiswa agar mematahkan perasaan canggungnya dan kembali akrab seperti dulu, karena tidak semua satpam memiliki karakter sama. Bagi mereka mendapatkan perlakuan ramah dari mahasiswa menjadi hadiah pelepur lara sebagai satpam. “Kita berharap ke depannya, mahasiswa tidak perlu lagi canggung. Kita berharap ke depannya itu mahasiswa kembali seperti dulu. Kalau lewat senyumi kita, toh itu sudah cukup bagi kita,” harapnya. (*) Urai data, ungkap fakta, saji berita
4
LIFESTYLE
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Staycation: Tren Liburan di Masa Pandemi
Seiring berkembangnya zaman, Staycation menjadi istilah dari liburan yang sangat viral belakangan ini. Mulai dari liburan di penginapan ataupun hotel bersama sahabat ataupun sendiri yang bertujuan untuk menenangkan pikiran ataupun sekadar gayagayaan semata.
I
stilah Staycation berasal dari Amerika Serikat dan merupakan neologisme yang berasal dari singkatan "stay" dan "vacation". Menurut Kamus Cambridge, staycation berarti liburan yang Anda lakukan di rumah atau di dekat rumah Anda daripada bepergian ke tempat lain. Adapun hubungan staycation dengan wisata berkelanjutan di antaranya penghematan biaya liburan, mengurangi penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor, serta mengembangkan geliat wisata lokal. Istilah staycation sendiri muncul pada tahun 1944. Situs merriam-webster mengungkapkan jika kata ini pertama kali muncul pada iklan satu halaman untuk salah satu merek minuman yang dipublikasi Cincinnati Enquirer tanggal 18 Juli 1994 yang berbunyi “Take a Stay-cation instead of a va-cation, this year”. Aktivitas liburan dengan istilah staycation pertama kali dilakukan di Amerika Serikat saat krisis tahun 2003, mereka ingin tetap liburan dan berpetualang tapi tidak keluar banyak budget. Akhirnya konsep stay atau tinggal di sebuah tempat menjadi panutan mereka. Istilah staycation kemudian menjadi populer pada tahun 2008 di Amerika Seri-
kat, ketika liburan musim panas pada tahun itu dibuka oleh naiknya harga bensin di Amerika Serikat yang membuat banyak orang harus berpikir dua kali untuk berlibur jarak jauh atau ke luar negeri. Sementara di Indonesia, staycation mulai viral saat memasuki pertengahan pandemi covid-19 yang menyebabkan aktivitas diluar seseorang menjadi terbatas dan memilih liburan konsep indoor. Untuk mengubah suasana yang bosan di rumah tetapi tetap berlibur dengan aman. Konsep staycation ini sangat sesuai bagi kaum milenial sekarang khususnya Mahasiswa. Staycation bisa dilakukan untuk merefleksi diri dari tugas-tugas perkuliahan yang cukup membuat otak stres. Staycation juga dapat menjadi pilihan yang pas bagi mahasiswa jika ingin liburan bertema privat room. Andi Tenri Ajeng Ahlia Elena Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Informatika (PTIK) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengaku sering melakukan staycation di Hotel Ketika Ia ingin mendapatkan suasana yang berbeda “Saya biasa putuskan untuk staycation itu saat ingin mendapatkan suasana yang baru yang tidak saya dapatkan di rumah”, ungkapnya.
Lebih lanjut, mahasiswa dengan sapaan akrab Elen ini mengatakan bahwa staycation adalah tempat liburan yang membuatnya lebih tenang dengan menikmati suasana kamar hotel yang tenang, menikmati sarapan pagi, dan berenang sepuasnya agar membuatnya lebih rileks. “Staycation itu bagiku tempat liburan yang sederhana, staycation ka juga biasa di hotel untuk menikmati suasananya yang sepi tenang agar pikiranku lebih jernih, terus
sarapan ka di kafenya, berenang sepuasnya ka di kolam renangnya untuk lebih rileks ka”, jelasnya. Adapun tips agar staycation ramah bagi kantong mahasiswa yaitu dengan memesan kamar hotel ataupun penginapan yang sedang diskon agar tidak membuat kantong mahasiswa jebol. Staycation bersama sahabat agar liburan semakin terasa nikmat dan saling sharing bersama sahabat. (ara)
Tips & Trik Staycation Ekonomis Buat agenda liburan bareng-bareng Tips staycation yang pertama adan menyusun perencanaan bersama teman ataupun anggota keluarga untuk staycation bareng. Nggak cuma buat staycation lebih seru, lebih banyak yang ikut, tentu biaya staycation jadi lebih murah. Buat daftar kegiatan yang bisa dilakukan selama staycation bisa lebih seru dan beragam. Misalnya wisata kuliner, yoga bareng, jalan-jalan ke museum terdekat, berkelana keliling kota, dan masih banyak lagi.
Cari tanggal menginap yang banyak acara menarik Salah satu hal yang bisa membuat staycation lebih seru adalah memilih tanggal menginap yang punya banyak acara menarik. Dengan begitu, kamu bisa ngumpul untuk menyelesaikan ‘misi’ yang ada di agenda liburan sekaligus nonton konser atau datang ke acara seru dalam sekali staycation. Selain itu, merencanakan tanggal merupakan tips staycation yang nggak boleh kamu sepelekan karena memilih tanggal staycation yang tepat bisa memberikanmu harga yang lebih hemat, loh. Pilih tempat menginap yang nyaman.
Tips staycation selanjutnya adalah soal akomodasi yang termasuk salah satu hal paling krusial. Entah hotel berbintang atau vila, yang perlu diperhatikan adalah kenyamanan kamu dan teman-teman. Selain itu lokasi juga penting untuk dipertimbangkan, seperti seberapa banyak tempat wisata yang dekat dengan penginapan dan apakah di sekitar penginapan tersedia banyak pilihan transportasi. Manfaatkan beragam fasilitas penginapan Kalau kamu memilih hotel berbintang atau vila sebagai tempat staycation, jangan sia-siakan kesempatan memanfaatkan beragam fasilitas yang dimiliki. Seperti kolam renang, pusat kebugaran, layanan spa dan pijat, yoga, rooftop restaurant yang bisa kamu masukkan ke dalam agenda staycation. Tidak hanya fasilitas di dalam vila atau hotel yang dapat dijajal, kamu juga dapat mengeksplorasi lingkungan sekitar untuk mendapatkan experience baru lainnya. Menjelajahi "Car Free Day", membeli jajanan kaki lima, atau juga membeli pernakpernik lucu yang dapat ditemukan di sana. Siapkan daftar nonton Untuk teman-teman yang lebih suka bersantai di dalam hotel, kalian boleh banget me-
Urai data, ungkap fakta, saji berita
nyiapkan daftar film atau series yang akan ditonton saat ngumpul. Kamu bisa buat list film yang belum sempat ditonton. Jadi saat nanti kamu dan teman-teman nonton bareng, tidak ada yang bisa spoiler. Jangan lupa siapkan cemilan dan minuman yang banyak supaya nontonnya lebih nyaman. Bikin ramai dengan main game
Game yang dimaksud bukan main game online sendiri-sendiri dengan handphone ya. Ada beberapa ide game seru yang bisa dicoba, yang bisa mempererat pertemanan seperti game “seberapa kenal aku dengan kamu” atau yang bisa coba mainkan game seperti tebak objek dengan cara memeragakannya. Dijamin bakal bikin temen-temen kamu tertawa lepas! Nikmati makanan khas sekitar Saat liburan adalah saat yang pas untuk mengeksplor hal baru, seperti makanan. Coba saja makanan khas yang ada di sekitar tempat hotel atau makanan hotel yang berbeda dari biasanya. Untuk kamu yang menginap di vila, kamu bisa mempersiapkan bekal makanan sebelum berangkat seperti daging ayam, sosis, dan sayuran. Kamu dapat menciptakan momen quality time dengan barbeque-an bersama keluarga. Membakar sosis, bakso, dan jagung malam hari ditemani alunan musik yang menambah suasana hangat.
Sepenuhnya dengan temanteman dan sebisa mungkin redam keinginan untuk mengecek laptop atau HP setiap beberapa menit sekali. Ini saatnya kamu refreshing, jadi jangan sampai kamu tidak fokus liburan karena masih memikirkan pekerjaan. Lupakan kerjaan sejenak Tips dan trik yang tak kalah penting adalah lupakan kerjaan atau tugas kuliah sejenak. Saat ngumpul bersama teman-teman nanti, minimalisir penggunaan laptop atau handphone yang masih berkaitan dengan pekerjaan. Nikmati liburanmu sepenuhnya dengan teman-teman dan sebisa mungkin redam keinginan untuk mengecek laptop atau setiap beberapa menit sekali. Ini saatnya kamu refreshing, jadi jangan sampai kamu tidak fokus liburan karena masih memikirkan tugas atau pekerjaan. (ara)
SUDUT + Masalah Lama Tak Kunjung Usai – Mungkin tidak ada anggaran + Kuliah Umum atau Kampanye – Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui Dg. Tata www.profesi-unm.com
5
LAPORAN KHUSUS
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Kampus VI Sektor Bone
Masalah Lama Tak Kunjung Usai Sejak 30 tahun Kampus VI Universitas Negeri Makassar (UNM) sektor Bone berdiri, masalah pembangunan dan pembenahan kampus sepertinya masih menjadi masalah yang tak kunjung usai. Meski sudah lebih baik dari tahun awal didirikan namun kebersihan kampus dan pembenahan fasilitas masih sangat butuh sentuhan. Janji optimalisasi kampus masih sangat jauh dari kata layak.
P
embangunan aula Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Bone masih belum kunjung dilakukan. Dua tahun sudah pengajuan proposal pembangunan aula itu tak kunjung digubris, mahasiswa pun mulai mengeluh sewaktu-waktu aula itu akan rubuh. Pasalnya, aula tempat mahasiswa berkegiatan tersebut sudah tak layak pakai. Atapnya sudah sangat lapuk, serta dinding yang tak lagi kokoh berdiri, sekali digoyang saja bisa segera rubuh. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa PGSD Bone Riska menilai belum adanya perbaikan aula ini menjadi masalah serius bagi pelaksanaan program kerja lembaga. "Takut maki kalau mau ki kegiatan disitu, sewaktu-waktu bisa rubuh. Teman-teman sudah takut sebenarnya pakai itu ruangan, tapi ya terpaksa masih kita pakai karena nda ada mi lagi ruangan
bisa di pakai," tuturnya. Sehingga Ia berharap secepatnya ada dana untuk perbaikan. Aula ini menjadi hal penting bagi kegiatan mahasiswa dan kegiatan kampus lainnya. "Yang kami butuhkan sekali itu aulanya kita untuk berkegiatan, kalau boleh secepatnya ada dana untuk perbaikan," katanya pada reporter Profesi. Jika melihat daerah sekitaran kampus, sepintas memang tampak indah. Tapi jika memasuki area kampus, sangat berbeda jauh dari penampakan depannya. Sekeliling ruangan kelas tampak dikelilingi semak-semak, terdapat banyak rawa, serta ruangan yang tak terurus. "Memang begini kampus UNM Bone kak, banyak rawa. Biasa ji ada yang membersihkan tapi sore pi mungkin baru dia datang," kata ketua umum Hima PGSD Bone.
Sekretariat pun tak memadai dengan jumlah lembaga. Pasalnya, sekretariat tersebut tak pernah mendapatkan pembenahan. Lembaga yang tak mendapat jatah sekret terpaksa menggunakan ruangan kelas sebagai sekretariat. "Sebenarnya ini ruangan kelas, tapi dipakai sementara sama anak-anak UKM untuk dijadikan sekret," ujar Andi Tendri menunjukkan kelas yang dialih fungsikan sebagai sekret itu. Masalah kerusakan aula tersebut seharusnya menjadi tugas rumah wajib bagi UNM. Kepala UPP UNM Bone, Abdul Hafid mengatakan pengajuan proposal sudah dilakukan namun belum ada respons. "Rencana pembangunan disini itu aula yang ditunggu-tunggu, pak rektor pernah katakan insya Allah akan direnovasi. Tapi mungkin karena pandemi atau alasan apa, kita di sini adalah
Masih Butuh Pembenahan TAK hanya gedung, minimnya fasilitas pun menjadi kendala sejumlah mahasiswa PGSD Bone dan Parepare. Mereka masih sulit mendapat fasilitas yang layak untuk mendukung proses perkuliahan dan aktivitas mereka di kampus. Salah satu mahasiswa PGSD Pare pare, Rahmat mengaku untuk menunjang proses perkulihan dan dapat dikatakan fasilitas untuk dikatakan standar layak. Masih banyak pembenahan ruangan serta fasilitas untuk dibenahi. “Fasilitas kampus masih minim sekali yang perlu ditingkatkan yaitu ruangan kayak kipas, AC, pencahayaan, kursi kurang, ndak cukup juga kelas,” ujarnya. Mahasiswa angkatan 2018 ini pun menuturkan untuk ketersediaan bahan rujukan mata pelajaran pun masih sangat kurang referensi dikarenakan ketersediaan buku di ruangan perpustakaan masih sangat kurang untuk dikatakan memadai. “Masih kurang, buku lama ji, tidak diperbarui, tidak sesuai dengan kebutuhan, masih banyak referensi yang kurang bagi saya
www.profesi-unm.com
pribadi,” kata mahasiswa angkatan 2018 ini. Kurangnya pembenahan ruangan, perawatan serta fasilitas usang membawa kesan ruangan lab yang tersedia sebagai sarana praktikum mahasiswa ini menjadi gudang barang-barang rusak dan penuh debu. “Ada empat lab di sini hanya nda pernah dipakai, jadi itu semua fasilitas di sini berdebu semua mi. Barangnya yang digunakan pun hampir mi rusak semua karena memang lama mi tanpa nda pernah dipakai,” ujar Pengurus Himpunan Mahasiswa PGSD Bone, Andi Anwar. Menanggapi hal tersebut, Kepala UPP PGSD UNM Bone, Abdul Hafid membantah, Ia mengatakan untuk ketersediaan sarana dan prasarana sudah mulai meningkat dari sebelumnya. Ketersediaan jaringan pun sudah sangat memadai. “Kalo saya katakan memadai untuk perkuliahan karena standar kursi, meja sama di kampus lain. AC ada masing-masing satu, sebelumnya nda ada kan. Wi-Fi juga sampai ke titik-titik kelas, jadi saya katakan tidak ada alasan tidak berprestasi,” katanya.
FOTO: AHMAD HUSEN
Universitas Negeri Makassar Kampus VI Watampone
Dosen FIP ini pun menuturkan meskipun memang jika dikatakan mencukupi sebenarnya masih belum, hanya dibanding dengan sebelumnya fasilitas sekarang sudah memadai. ” Wi-Fi, kelistrikan, AC walaupun kita masih butuh tapi kita syukuri yang ada karena tidak bisa kita ngotot harus seberapa AC dalam satu ruangan, yang jelas kalau saya ditanya tentang fasilitas AC. Sebelumnya tidak ada, empat sampai lima tahun terakhir ini baru ada,” ujarnya. Lebih lanjut, Ia berharap ke depannya kampus UNM Bone lebih maju dalam segala aspek. Meskipun proses perkuliahan masih dilakukan dengan serba keterbatasan namun hal itu bukan menjadi alasan untuk tidak menorehkan prestasi. “Tapi kita berharap, kampus VI UNM ini semakin berkembang lagi baik secara fisik, akademik, dan non-akademik. Kita berkomitmen di sini, karena beberapa PT yang menjadi bagian dari UNM juga. Tentu kita tidak mau kalah kan, kita ini kan negeri,” harapnya. (tim)
pengguna bukan pengambil kebijakan jadi kita sebatas mengusulkan. Itu renovasi sudah diusulkan tahun lalu, mungkin 2022 baru ada," tuturnya. Meski begitu, Abdul Hafid mengaku maklum jika kampus Parepare lebih diperhatikan dibanding kampus Bone. "Kalau di Parepare kan ada sembilan jurusan, jadi wajar kalau wow disana toh. Disini kan satu ji PGSD saja. Ya mau membandingkan Parepare dengan di sini, oh tidak bisa. Karena di sana sembilan prodi yang tentu berkontribusi, di sini satu prodi itu pun unit pelaksana," ujarnya. Pihak rektorat pun seolah lepas tangan, pasalnya rektor UNM tak lagi pernah mengunjungi kampus UNM Bone ini selama dua tahun belakangan. "Pak rektor nda datang sejak pandemi, terakhir datang itu 2019. Masuk 2020 dan 2021 itu
belum. Rektor monitoring kondisi yang ada di kampus," katanya. Menanggapi proses pembangunan kampusnya, Abdul Hafid hanya menjelaskan jika dibandingkan dengan lima tahun terakhir. Kini kampus UNM Bone lebih baik dari sebelumnya, sudah mulai ada perkembangan. “Kalau perkembangannya terasa. Lima tahun terakhir terasa banyak perkembangan kecuali memang aula yang belum, tapi kita tetap optimis,” katanya. Lebih lanjut, Ia mengatakan beberapa pembenahan sementara dilakukan dua tahun terakhir ini dengan adanya bantuan dari pihak fakultas. “Luar biasa selama ini kita dari isi fasilitas perkuliahan, dibanding sebelumnya. Tembok pagar dibelakang itu, nanti dua tahun yang lalu diplester pakai dana pemimpin fakultas,” tambahnya. (tim)
Sekretariat dalam Kelas MEMASUKI pekarangan halaman belakang kampus, mata kami langsung disambut oleh hamparan rawa akibat kampus yang tak terurus. Jika dilihat dari depan kampus, memang terlihat kampus ini lumayan bersih. Namun, jika sudah melangkah ke arah belakang sudah nampak rumput panjang seperti tidak pernah dibersihkan. Ramainya aktivitas mahasiswa mulai terasa, lantaran kebanyakan lembaga mahasiswa melakukan program kerjanya di hari libur. Namun, tak nampak satupun cleaning service yang beroperasi hari itu. Kami pun lanjut berkeliling, terlihat beberapa lokasi dipenuhi tenda-tenda karena sedang melakukan kegiatan pramuka. Sementara beberapa kelas dipenuhi inventaris kelembagaan. Tak lama berkeliling kami disapa oleh seorang satpam yang sedang berkeliling patroli, Beni. Ia mengaku, kampus PGSD Bone beberapa hari ini sedang ramai, apalagi hari libur banyak lembaga yang memanfaatkan beberapa kelas untuk melakukan kegiatan kelembagaan mereka lantaran kekurangan ruangan dan sekretariat. “Ada kegiatan program pramuka jadi ramai lagi, memang kalau waktu libur itu anak-anak pakai beberapa kelas untuk ruangan aktivitas kelembagaannya toh,” katanya.
Pengurus Himpunan Mahasiswa PGSD Bone, Andi Anwar juga mengatakan hal serupa “Ini tendanya anak-anak yang sedang pramuka, kalau kelas itu dipakai sama anak-anak sebagai sekretariat sementara waktu, kalau tidak ada program perkuliahan,” ujarnya. Sementara itu, Kepala UPP Kampus UNM Bone, Abdul Hafid mengatakan setiap hari cleaning service melakukan tugasnya. Setiap pagi mereka selalu rutin membersihkan kampus. “Tidak tuh, pagi mereka datang. Mereka (mahasiswa) tidak datang kapang itu, siang-siang baru datang atau sore. Jadi, pagi harus stand by karena diabsen. Tanda tangan di bawah itu, cleaning service-nya,” tuturnya. Abdul Hafid pun mengatakan di UNM Bone terdapat tiga orang cleaning service yang bertugas untuk membersihkan ruangan kelas dan mengecek semua peralatan elekronik yang ada. “Ada tiga itu cleaning service. Pagi mereka datang karena dikontrol bersih atau tidak ruangan, menyala atau tidak elektronik. Itu kan mereka yang ditugaskan cek ruangan,” ujar guru besar UNM Bone ini. Ia juga mengatakan jika nanti perlu dilakukan pembangunan untuk membenahi ruangan yang masih kurang. UNM Bone masih memiliki banyak lahan kosong untuk melakukan pembangunan .(tim) Urai data, ungkap fakta, saji berita
6
LAPORAN KHUSUS
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Kampus V Sektor Pare-pare
Anggaran Seret, Proker Mandek Sejumlah Lembaga Kemahasiswaan (LK) Kampus V Parepare Universitas Negeri Makassar keluhkan dana LK yang tak kunjung cair. Hal ini membuat banyak program kerja menjadi terkendala bahkan ada yang mandek.
D
ana ini seharusnya rutin mereka dapatkan karena berstatus sebagai LK resmi di kampus. Namun apa daya, hal itu tinggalah angan karena dana tersebut selalu mengalami masalah pencairan bahkan tidak cair di beberapa periode lalu. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Access Bahasa Inggris Parepare, Siti Julia mengungkapkan selama dua periode dana LK-nya tak kunjung cair. Akibatnya, beberapa program kerja tidak dilaksanakan. “Selama 2 periode tidak cair. Kemarin waktu pandemi ada beberapa proker mahasiswa tidak berjalan,” katanya. Kondisi ini membuat mereka harus putar otak agar tetap menjalankan proker. Namun sialnya kondisi kampus juga sempat tidak bisa digunakan sehingga harapan menghemat biaya tempat menjadi tidak bisa terwujud. “Karena kampus kemarin tidak bisa digunakan. Mau kegiatan di luar makan biaya, jadi tidak dilakukan beberapa proker," ucapnya. Tika sapaannya, mengatakan sudah beberapa kali mencoba berkomunikasi dengan pimpinan kampus. Namun, pimpinan selalu berdalih ketika ditanya mengenai dana LK. Mereka disuruh untuk sabar dengan
lambatnya pencairan padahal dana LK merupakan hal yang krusial bagi jalannya lembaga. “Kalau dari pimpinan Kampus V sendiri hanya selalu berkata sabar untuk hal-hal seperti itu, tapi selalu ji tampung kendala-kendala yang ada di kampus tapi masih kurang yang harusnya menjadi hak mahasiswa,” ujarnya. Sejalan dengan itu, Ketua Umum HMPS Pendidikan Ekonomi Parepare mengatakan juga mengalami hal yang sama. Ia mengatakan selama setengah kepengurusan periode 2021/2022 dana LK-nya tak kunjung cair. Bahkan sebelumnya pada periode 2020/2021 dana yang cair hanya 5 juta yang seharusnya 10 juta. “Baru sekali cair selama tiga kali mengurus pencairan dana. Itu pun yang cair dana periode sebelumnya,” katanya. Sehingga HPMS PE Parepare harus mencari dana kreatif yang bisa digunakan untuk menjalankan setiap program kerja yang ada. Padahal mereka inginkan himpunannya bisa meningkat dan disamakan seperti himpunan di kampus UNM Makassar. “Ada dana yang dipakai dari dana kreatif karena kalau dana LK semua dipakai ke proker maka tidak akan cukup untuk semua proker. Dana yang ada cuma 5 juta di peri-
ode kemarin, padahal 10 juta kalau bahasa dari pimpinan,” jelasnya. Menanggapi hal tersebut Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sukardi Weda menjelaskan seluruh anggaran dana kemahasiswaan telah cair sesuai dengan periode dan pembagiannya. Namun mengenai LK di Parepare tidak cair anggaran terjadi pada periode 2020 karena pandemi menghalangi mahasiswa ke kampus sehingga dananya tidak diambil dan dikembalikan ke negara. "Mereka sudah pernah datang dan menanyakan hal tersebut. Namun, baik saya dan kepala UPP sudah menjelaskan bahwa anggaran tersebut tidak diambil karena pandemi melanda," jelasnya. Ia juga menjelaskan setelah itu setiap kali datang mengurus dana selalu disetujui dan diberikan sesuai alokasi anggaran yang diberikan ke masing-masing LK. Anggaran tersebut bahkan pernah Sukardi ajukan untuk dinaikkan namun terganjal dengan aturan yang berlaku. "Saya sendiri pernah ajukan untuk ditambah anggarannya LK di sana ke kepala UPP namun mungkin alokasi dana sudah ada sehingga tidak bisa dirubah anggarannya," jelasnya.(tim)
Fasilitas Minim Tak Terawat KAMPUS V Universitas Negeri Makassar (UNM) Parepare dalam tahap proses perbaikan. Perkuliahan akan tetap berjalan sesuai dengan peraturan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) Nomor 01/KB/2020 15 Juni 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19). Kampus V UNM Pare pare ini memiliki beberapa masalah seperti dana LK dan infrastruktur yang kurang memadai. Hingga saat ini ruang kelas yang ada sangatlah minim, fasilitas kampus juga tidak terurus. Pada 2021 ditetapkan perkuliahan secara daring, 50 persen mahasiswa kuliah luring dan 50 persen mahasiswa mengikuti secara daring. Namun, salah satu mahasiswa UNM Parepare yang mengeluh karena tidak adanya perkuliahan yang diselenggarakan secara luring. “Ndak pernah ada kuliah offline,” ungkap mahasiswa tersebut saat ditemui di salah satu ruangan Laboratorium Seni Tari. Mahasiswa lain mengungkapkan rasa ketidaknyamanannya terhadap fasilitas kampus, termasuk kebersihan dan perUrai data, ungkap fakta, saji berita
awatan toilet yang tidak terurus. “Masih minim sekali, yang perlu ditingkatkan yaitu ruangan, kipas, AC, pencahayaan, kursi kurang, tidak cukup juga kelas, toilet juga pas jadi langsung tidak lama kemudian rusak, tidak terlalu bagus juga, baru selesai renovasi selebihnya tidak dibersihkan itu toilet,” jelasnya. Nana (nama disamarkan) mengatakan sebaiknya pihak birokrat dan dosen bekerja sama dan melakukan diskusi grup, Ia juga mengungkapkan agar adanya kesepakatan dan komunikasi antara dosen dan mahasiswa. “Untuk dosen mungkin bisa diskusi di grup untuk meminta saran dari mahasiswa agar perkuliahan tidak membosankan. Harus ada komunikasi dan kesepakatan antara dosen dan mahasiswa. Dengarlah suara-suara dari mahasiswa,” tutur Nana. Kebutuhan buku diperpustakaan masih sangat membutuhkan pembaruan. Buku yang yang ada di perpustakaan masih buku lama, sementara mahasiswa membutuhkan buku yang terbarukarena kurangnya buku membuat mahasiswa tidak bisa mencari referensi yang banyak. Petugas kebersihan kampus pun juga tak memperhatikan kebersihannya.
“Masih kurang, buku lama ji, tidak diperbarui, tidak sesuai dengan kebutuhan, masih banyak referensi yang kurang bagi saya pribadi. Kayaknya petugas kebersihan ndak terlalu berguna,” ujarnya. Terakhir, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Parepare ini berharap agar bangunan baru bisa terawat dan terjaga kebersihannya dan dari pihak birokrat lebih memberikan perhatiannya. “Dari segi fasilitas semoga kalau jadi bangunan baru fasilitasnya terjaga dan berharap agar pimpinan kampus lebih memperhatikan kembali sarana dan prasarana kampus yang kurang memadai. Harapanku semoga pihak kampus lebih memberi banyak perhatian dengan fasilitas- fasilitas yang masih kurang di kampus,” harapnya. (tim)
Tim Reportase Khusus Koordinator : Agatoni Buttang Anggota : Sumaya Ahmad Husen
www.profesi-unm.com
7 OPINI
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Gerakan Mahasiswa: Ekspektasi Menuju Eksistensi
“Bukalah mata sewaktu berjalan, karena bisa saja Anda akan bertemu kesempatan. Adapun kesempatan itu sendiri buta. Peganglah erat-erat, karena kesempatan datang dan pergi tanpa memberitahu.” Sebuah kalimat yang muncul baru-baru ini di beberapa tongkrongan yang mempertanyakan kabar dari gerakan mahasiswa. Kurang lebih bunyinya begini “Gimana gerakan mahasiswa hari ini? Kok kayak adem ayem?” Sebuah pertanyaan yang ambigu menurut saya, sebab tafsir gerakan itu luas dan apakah mahasiswa adalah satu-satunya harapan mereka yang mengatakan itu? Bukan cuman itu, memang harusnya bagaimana gerakan mahasiswa? Yah, memang ada semacam pemahaman bahwa mahasiswa merupakan satu-satunya harapan dari problematika yang terjadi walaupun ketika kita menganalisis terkait kompleksitas problematikanya, harusnya melibatkan banyak pihak di dalamnya. Tetapi, secara implisit pertanyaan itu bisa juga dimaknakan sebagai sebuah kritikan. Ketika kita mencoba merefleksi kondisi hari ini, ada semacam budaya yang muncul di mayoritas masyarakat bahwa ukuran terlihat dan tidak terlihat itu terkadang bias. Maksudnya adalah seolah-olah ketika sesuatu itu tidak terekspos dan bahkan tidak sampai viral maka diartikan bahwa kita tidak melakukan sesuatu. Padahal, belum tentu kan? Jadi, saya positive thinking, mereka yang bertanya itu, mungkin kurang update saja atau hanya sekadar melihat informasi dari viralnya saja. Hhhhh….. Kan bisa jadi mahasiswa hari ini sibuk dengan
rutinitas lain ataupun gerakan sosial yang tidak terekspos. Berbicara tentang mahasiswa, kita seolah akan diletakkan pada pemahaman tentang peran yang selama ini dibanggakan kaum intelektual yaitu Agent of Change, Social Control, Moral Force, dan lainnya. Tetapi, kita belum memahami secara holistik tentang tafsir dari peran itu dan bagaimana korelasinya terhadap perkembangan zaman hari ini. Mahasiswa seakan ditafsirskan berada di bayang-bayang sejarah masa lalu dimana mahasiswa jaya dengan gerakannya. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2020 menyebutkan bahwa Generasi Z adalah penduduk yang lahir tahun 1997-2012 dengan perkiraan usia saat ini 10-25 tahun, Generasi Z tersebut sudah beranjak dewasa, mencari dan memiliki pekerjaan, melihat peralihan rezim orde baru ke rezim reformasi, dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi bidang-bidang dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, kaum muda atau lebih khusus mahasiswa hari ini merupakan bagian dari Generasi Z dengan karakteristik mahir dan gandrung akan teknologi. Kondisi hari ini tentunya menuai perdebatan di kalangan mahasiswa terkait role model dari sebuah gerakan yang hadir dengan relevansinya terhadap zaman. Ada yang masih
berusaha untuk mewarisi apa yang dulu dijalani. Perasaan antusias yang dibarengi dengan pesimis terkadang menghampiri benak dari mahasiswa itu sendiri dalam menentukan arah dari role model yang dipilihnya. Belum lagi eksistensi belaka para senior yang ngakunya anti feodalisme namun nyatanya antek feodalisme. Wkwkwk… Tapi tidak semuanya, karena ada juga yang menjadi rujukan dalam memberikan pertimbangan dari berbagai hal yang mendukung tindakan mahasiswa. Dari berbagai macam refleksi yang terjadi, setidaknya ada dua aspek yang sekarang ini mengancam eksistensi gerakan. Relasi yang tak setara akan membuat gerakan mahasiswa tak mudah mengambil posisi salah satunya dalam politik, terutama untuk soal yang melibatkan kader. Hubungan yang tak seimbang membuat gerakan jadi terjebak pada pilihan aktivitas apa yang bisa menjamin rasa aman. Situasi rawan itu yang membuat gerakan mahasiswa disandera oleh suatu aspek, yakni sebuah sejarah gerakan yang menuntutnya untuk selalu bertindak heroik, kritis dan konfrontatif. Sejarah yang didengungkan berulang kali tersebut kemudian memasuki sendi-sendi pemahaman mahasiswa sebagai standarisasi capaiannya. Kepercayaan atas strategi itu terus jadi bahan debat yang tak bisa dipecahkan: kooperatif atau non kooperatif. Tetap jalankan pola lama atau beradaptasi dengan cara baru. Mahasiswa punya pilihan menggunakan metode yang lebih inovatif dengan memanfaatkan kemajuan
teknologi dan informasi yang berlangsung saat ini. Pertama, dalam aspek perencanaan akan lebih mudah mendapatkan informasi terbaru terhadap perkembangan situasi bangsa terkini. Dengan kemudahan tersebut memungkinkan mempersiapkan aksi dengan lebih terencana dan tertata rapi dengan menyaring informasi yang ada. Kedua, kemudahan dalam menyusun strategi penyebarluasan isu-isu sentral kepada masyarakat. kemajuan teknologi dan informasi membuat lebih mudah bergerak dan lebih cepat dalam mempropogandakan isu ataupun permasalahan rakyat yang ingin disuarakan kepada pemerintah. Sehingga isu-isu yang ingin disuarakan kepada pemerintah dapat lebih mudah disampaikan kepada masyarakat luas. Ketiga, peningkatan literasi juga salah satu aspek penting. Sudah ada beberapa penelitian yang membuktikan betapa besarnya pengaruh media baru dalam hidup bermasyarakat terutama pada generasi muda khususnya mahasiswa. Dengan adanya literasi media yang baik, dan mahasiswa mulai mengerti akan bagaimana media bergerak karena media bukan hanya sarana informasi, namun bisa pula menjadi sarana mewujudkan demokrasi di dalam masyarakat. Keempat, pemanfaatan big data sebagai jalur kajian dan penggerak massa juga sangat ampuh dilakukan pada zaman ini. Big data dapat digunakan untuk mengamati pola dan perilaku mahasiswa dan dampaknya bagi pergerakan masa depan. Analisis big data yang tepat bisa memperkirakan feno-
nema di masa depan dan bagaimana mengindentifikasi peluang intervensi yang tepat agar pergerakan lebih efektif Secara keseluruhan yang ada di atas merupakan suatu ekspektasi dari refleksi kondisi hari ini. Pada dasarnya, eksistensi tidaklah terlepas dari ekspektasi yang dimiliki karena dengan ekspektasi akan menghantarkan suatu entitas pada suatu eksistensi. Mahasiswa dengan ekspektasi yang mampu menggunakan sumber daya yang ada, maka akan menopang berbagai macam aktivitas gerakan dengan tujuan yang ingin dicapainya. Kemajuan teknologi haruslah menjadi kelebihan, bukannya menjadi kelemahan yang membuat kita tergerus ataupun terbawa arus dari polarisasi tersebut.
*Ari Baba Felani Annur penulis adalah Mahasiswa Jurusan Matematika, FMIPA.
Self-Healing Millenial, Mindfulness As A Muslim
*Musdalifah, penulis adalah Mahasiswa Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar Siapa sih yang tidak pernah merasakan stres? Berbagai kalangan pasti pernah merasakannya, mulai dari kalangan pejabat, ibu rumah tangga, pedagang, sampai para mahasiswa. Penyebab stress setiap orang pun berbeda-beda; pejabat mungkin stres dengan urusan pekerjaan; ibu rumah tangga pusing dengan PTM yang membahayakan anaknya sampai persoalan dapur yang mengguncang uang bulanan; pedagang mengalami kesulitan penjualan, pematokan harga yang menyebabkan kerugian dan lain sebagainya. Begitu pula dengan mahasiswa baik itu semester awal sampai semester akhir. Mahasiswa sebagai seorang manusia pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Stres memwww.profesi-unm.com
buat seseorang yang mengalaminya berpikir dan berusaha keras untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau tantangan dalam hidup. Keadaan pemuda hari ini mungkin sehat secara fisik, tapi banyak yang mengaku sedang mengalami sakit mental. Mereka menganggap harus dilakukan proses penyembuhan, anak gen z dan millenial menyebutnya dengan healing. Healing menjadi tren yang sedang diperbincangkan di kalangan pemuda, khususnya mahasiswa. Healing adalah proses penyembuhan diri yaitu proses pemulihan yang umumnya terjadi akibat gangguan psikologis, trauma, dan semacamnya, karena adanya luka batin masa lalu yang disebabkan oleh diri sendiri atau orang lain. Caranya pun bermacam-macam seperti pergi jalan jalan, makan makanan kesukaan, menulis, berbincang dengan orang lain, me time, atau berbelanja dan lain sebagainya Manusia pada hakikatnya mempunyai potensi dasar yaitu kebutuhan jasmani, gharizah (naluri) dan akal. Kebutuhan jasmani seperti makan, minum, tidur adalah kebutuhan yang harus dipenuhi karena jika tidak, dapat mengakibatkan kematian atau sakit karena pemicunya berasal dari dalam. Sedangkan naluri apabila tidak dipenuhi hanya akan menimbulkan kegelisahan karena pemicunya berasal dari luar. Seseorang akan marah dan kecewa jika ada yang menjadi
penyebab dari luar atau ada yang memancingnya. Diberikannya pula akal untuk berfikir. Namun, banyak dari kita tidak memahami hakikatnya sebagai seorang manusia dengan segala fitrahnya. Pemuda tidak jelas arah hidupnya, sangat mudah ikut tren dan tidak punya prinsip. Untuk menyembuhkan atau healing itu tadi dibutuhkan solusi yang berasal dari permasalahan paling mendasar. Setiap permasalahan pada dasarnya berasal dari kebutuhan jasmani dan naluri yang dimiliki tapi penyalurannya tidak sesuai fitrah manusia. Solusi diatas mungkin bisa dilakukan, tetapi yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah pola pikirnya dan pemahaman utuh tentang diri sendiri. Pemikiran akan memengaruhi setiap keputusan yang diambil, begitu juga ketika menghadapai sebuah permasalahan hidup yang tidak akan pernah berhenti. Pola pikir yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia sehingga pilihan hidup yang diambil sesuai fitrahnya. *Mindfulness as a muslim Mindfulness sendiri dapat diartikan sebagai memberikan perhatian (atensi) atau fokus pada sesuatu. Jika seseorang memiliki fokus pada sesuatu maka dia akan mudah menemukan tujuan dan pemecahan masalahnya Dalam Islam persoalan ini juga di bahas. Apalagi terkait tujuan hidup seseorang karena Islam adalah
agama yang juga mengatur hubungan dengan Al Khalik, diri sendiri dan sesama manusia. Maka tips healing yang terbilang efektif untuk mengatas problematika pemuda saat ini adalah dengan menerapkan mindset mindfulness as a muslim. Islam sebagai agama dan pandangan hidup terlengkap mengatasi persoalan-persoalan diri individu. Maka penting untuk belajar Islam secara intensif untuk mengkaji dan memahami diri sebagai muslim, menemukan potensi dan fokus pada tujuan penciptaannya. Tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Sang Khalik, maka setiap yang dilakukan jika sudah sesuai perintah-Nya maka kebahagiaan sudah didapatkan. Berbeda jika tak punya tujuan atau bahkan menjadikan standar manusia menjadi tujuan. Seseorang akan merasakan kekecewaan yang sangat menyakitkan. Potret pemuda/mahasiswa pencapaiannya adalah menjadi koruptor termuda, menggunakan obat-obatan terlarang, seks bebas, penipuan, serta akhlak yang sangat tidak sesuai dengan moral bangsa ini. Karena rapuhnya akidah sangat mudah untuk bunuh diri dan kehilangan masa depan yang gemilang Berbeda dengan pemuda muslim di usia muda sudah memiliki pencapaian dengan menorehkan karyakarya yang luar biasa. Seperti Usamah bin Zaid di umur 18 tahun mampu memimpin pasukan yang anggotanya
adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu. Ada juga Zaid bin Tsabit pada umur 13 tahun telah menjadi penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam modifikasi Al Qur’an. Meskipun masih sangat muda Atab bin Usaid pada umur 18 tahun diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah. Kisah inspiratif dari Muhammad Al Fatih umur 18 tahun sudah menjadi sultan dan 22 tahun menjadi penakluk Konstantinopel ibu kota Byzantium negara adidaya di masanya. Kerennya Abdurrahman An Nashir pada umur 21 tahun membawa Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya. Tak kalah hebatnya Muhammad Al Qasim pada umur 17 tahun berhasil menaklukkan India dan menjadi seorang jenderal agung pada masanya. Mengetahui tujuan hidup nyatanya telah menjadi pemecah untuk setiap masalah-masalah kecil dan cabang dari kehidupan millennial hari ini. Maka seharusnya healing dilakukan dengan cara memahami hakikat diri dan tujuan penciptaan. (*) Urai data, ungkap fakta, saji berita
8
REPORTASE UTAMA
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
PANGKALAN DATA PENDIDIKAN TINGGI - Prodi Ilmu Hukum tidak terdaftar dalam pangkalan data pendidikan tinggi
Prodi Ilmu Hukum Belum Kantongi Izin, Putar Otak Kibuli Mahasiswa Apa jadinya program studi yang diharapkan akan melahirkan para penegak hukum, dalam penyelenggaraannya malah mengakali hukum?
P
rogram Studi (Prodi) Ilmu Hukum UNM tetap menerima mahasiswa baru, meski tak peroleh legitimasi. Nasib mahasiswa segera dikremasi. Muh. Daffa Naufal harus menelan pil pahit tatkala mengetahui prodinya yang dibanggabanggakan ternyata belum mendapat restu dari pihak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud Ristek). Hal itu tampak ketika berselancar di laman pangkalan data pendidikan tinggi (PDDikti), Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Hukum (Himahum) FIS-H UNM itu tak menemukan prodinya tercantum di situ. Mahasiswa angkatan 2020 ini mengaku tak diberitahu oleh pihak birokrat terkait eksistensi Prodi Ilmu Hukum yang ternyata tak ada di PPDikti. “Awal mendaftar melalui jalur mandiri tidak ada pemberitahuan bahwa Ilmu Hukum belum terdaftar di PDDikti, tetapi setelah pertengahan semester satu, saya mencari tahu persoalan tersebut dan betul Ilmu Hukum belum terdaftar di PDDikti,” tutur Daffa. Kekecewaan Daffa memuncak setelah melalui pencarian mendalam bahwa prodi yang berdiri sejak 2020 itu ternyata hanya gaya-gayaan dari fakultasnya. “Pada saat pertama kali mendaftar saya mengira sudah terakreditasi ternyata belum. Setelah mengetahui hal itu saya merasa keUrai data, ungkap fakta, saji berita
cewa,” jelasnya. Dampaknya, prodi yang telah memiliki 167 mahasiswa itu hanya menerima mahasiswa melalui jalur mandiri dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selangit. "Untuk persiapan jalur pendaftaran mahasiswa baru 2022 ketika Prodi Ilmu Hukum tidak terdaftar maka calon mahasiswa baru Prodi Ilmu Hukum tidak bisa mengakses jalur SNMPTN dan SBMPTN,” ujar Presiden BEM FIS-H, Mar'ie. Mar'ie menyayangkan hal ini dan menyarankan birokrat memiliki persiapan yang maksimal terutama terkait administrasi sebelum membuka prodi baru. "Seharusnya birokrat kampus dalam membuka prodi baru harus melalui persiapan yang matang utamanya dalam hal administrasi penunjang. Hal ini mencerminkan ketidaksiapan dan memaksakan dalam membuka prodi baru,” sarannya. Alih-alih membenarkan isu yang beredar, Ketua Prodi Ilmu Hukum, Herman membangun benteng pembelaan bahwa prodi yang dipimpinnya tengah melakukan pembenahan administrasi untuk proses akreditasi. “Soal akreditasi bagi prodi baru akan diberi waktu untuk pembenahan manajerial prodi antara dua sampai tiga tahun, kalau sudah siap dengan akreditasi dalam kurun waktu pembenahan tersebut, setelah itu sudah bisa diajukan akreditasinya,” jelasnya. Saat ditanya lebih lanjut, Herman tak menjelaskan sama sekali terkait izin pendirian Prodi Ilmu Hukum, dirinya hanya memaparkan bagaimana proses akreditasi bisa dilakukan.
"Syarat terdaftar mulai dari SDM, misalnya syarat minimal jumlah dosen (5 orang), dengan kualifikasi pendidikan doktoral dan minimal magister, sarana prasarana penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, manajemen administrasi, struktur dan birokrasi prodi tersebut sebagai dasar persyaratan terdaftarnya suatu prodi di PDDikti,” jelas Herman. Menanggapi hal itu, Wakil
Dekan Bidang Akademik (WD I) FIS-H, Muhammad Syukur mengakui hingga saat ini prodi tersebut memang belum mendapat izin operasional. Namun, pihaknya telah mempersiapkan segala persyaratan tersebut. Parahnya, penuturan Syukur bahwa prodi tersebut masih dalam proses yang artinya belum memiliki kejelasan nasib sama sekali. “Untuk izin operasional sudah
dipersiapkan semua karena kita sudah masuk di list PDDikti. Statusnya sudah tertulis ‘dalam proses’ artinya berkas kita sudah diproses,” katanya. Syukur belum bisa memperkirakan kapan status tersebut berubah menjadi aktif. Terkait hal yang diinfokan oleh dekan kepada mahasiswa, Ia menjelaskan, awalnya berkas proposal harus direvisi, namun semua itu sudah diselesaikan sehingga tinggal menunggu sidang. (tim)
www.profesi-unm.com
9
REPORTASE UTAMA
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Pimpinan Terabas Aturan Kementerian
S
etelah ditelusuri oleh awak Profesi, ternyata selama ini pihak pimpinan FIS-H dinilai telah menerabas aturan kementerian. Bagaimana tidak, sejak 2017 Kemenristek Dikti telah menghentikan sementara pemberian izin pembukaan prodi rumpun ilmu humaniora atau rumpun ilmu sosial. Alasannya, jumlah lulusan prodi ilmu sosial tak banyak terserap di dunia kerja. Namun, pimpinan UNM ngotot, meski
tidak beri izin, mereka tetap membuka prodi Ilmu Hukum dan menyelenggarakan penerimaan mahasiswa baru secara mandiri. Sejumlah prodi baru yang seumuran dengan Prodi Ilmu Hukum seperti Prodi Ilmu Gizi, Bisnis Digital, dan Adminitrasi Kesehatan justru dengan mudah mendapat pengakuan alias izin dari pihak kementerian. Alhasil, fakta ini semakin menguatkan bahwa Prodi Ilmu Hukum memang tak akan memi-
gung jawab,” cetus dosen Sosiologi ini. Pernyataan berbeda malah diutarakan oleh Ketua Jurusan Hukum dan PPKn, Mustaring. Menurutnya, Prodi Ilmu Hukum idealnya baru bisa terakreditasi ketika sudah berumur 5 tahun. Alasannya, setelah ada alumni. “Itu jadi tanda tanya besar, sementara kita baru dua tahun. Harusnya, 5 tahun ke depan setelah ada alumni dari segi cepat lambat mereka dapat kerjaan,"
"Nah, apa mau dinilai di Ilmu Hukum. Belum ada apaapanya, kecuali proses pembelajaran,” sambungnya.. Lebih lanjut, Mustaring menuturkan sampai saat ini belum mengurus akreditasi. Dirinya lebih fokus menata kurikulum dan sistem perkuliahan. “Belum diurus akreditasinya, setelah mencapai waktu baru diurus. Kita baru tahap perbaikan di internal seperti menata kurikulum dan sistem kuliah di Ilmu Hukum,” katanya. (tim)
Dicap Ilegal, Mahasiswa Gigit Jari
Aturan Batasi Pendirian Prodi PENDIRIAN Program Studi (Prodi) sejak lama telah dibatasi lewat berbagai aturan seperti moratorium hingga SK Kemendikbudristek. Hal ini membuat tidak semua prodi bisa didirikan begitu saja. Ilmu Hukum sendiri termasuk moratorium prodi atau prodi yang ditunda untuk didirikan, disebabkan termasuk rumpun ilmu sosial dan humaniora. Ilmu sosial dan humaniora di moratorium oleh kementerian, dikarenakan beberapa tahun kebelakang rumpun tersebut mengalami penurunan daya serap di dunia industri. Bahkan lewat SK Ditjen Kelembagaan IPTEK DIKTI No 91 tahun 2017 menegaskan prodi pada program akademik hanya untuk prodi Scinece, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) dan tidak sedang moratorium. Hal ini pun disinyalir menjadi batu ganjalan bagi ilmu hukum mendapatkan izin operasional. Menengok kebelakang Direktur Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi, Kemenristek Dikti, Totok Prasetyo pada tahun 2019
liki izin pendirian sampai moratorium itu dicabut. Berdasarkan cerita dari WD I FIS-H, Muhammad Syukur, pihaknya telah melakukan beragam upaya agar segera dapat mengantongi "restu" dari Kemdikbud Ristek, namun belum juga berbuah manis. “Kita sudah melakukan pendekatan formal dan non formal. Kalau formal kan yang melalui pemrosesan. Untuk non formal, kita juga melobi-lobi supaya bisa. Ini bagian dari tang-
mengatakan perguruan tinggi diarahkan untuk membentuk sarjana sesuai kebutuhan industri. Perguruan tinggi jangan mencetak sarjana humaniora dan sosial terlalu banyak. Bahkan pihaknya menahan pembukaan prodi dua cabang ilmu tersebut. "Kita masih menutup pendirian prodi selain STEM dan vokasi. Jangan sampai perguruan tinggi terlalu banyak humaniora dan sosial saja, tetapi kebutuhan industri sebetulnya bukan di situ," katanya. Presiden BEM FIS-H Mar'ie Muhammad Nurdin mengatakan seharusnya birokrat kampus dalam membuka prodi baru harus melalui persiapan yang matang utamanya dalam hal administrasi penunjang. Hal ini mencerminkan ketidaksiapan dan memaksakan dalam membuka prodi baru yaitu ilmu hukum. "Masalah ini harus diselesaikan segera, jangan sampai tahun ketiga nanti bila mereka belum terdaftar maka akan terancam dileburnya prodi ilmu hukum ke prodi lain," katanya. (tim)
RIAK-RIAK mahasiswa Ilmu Hukum saat ini atas ketidakjelasan status prodinya semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, jangankan akreditasi, izin pendirian Prodi Ilmu Hukum yang tak dimiliki membuat stigma bahwa mahasiswanya juga tidak resmi. Gelagak itu muncul ketika mahasiwa Prodi Ilmu Hukum tidak bisa mengikuti program bergengsi dari Kemdikbud Ristek, yakni Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Seperti kampus mengajar, magang, petukaran mahasiswa dan beberapa program beasiswa. Sejumlah program tersebut tak mempersyaratkan mahasiswa yang berasal dari prodi yang terakreditasi. Alhasil, mereka yang tercatat di prodi tersebut hanya bisa gigit jari. Kondisi tersebut dibenarkan oleh WD I FIS-H, Muhammad Syukur. Kata Syukur, mahasiswa Prodi Ilmu Hukum hanya bisa mengikuti program-program secara mandiri, tidak dibiayai oleh kementerian.
"Kalau ikut penelitian dari Kemdikbud Ristek tentu belum bisa, tapi penelitian mandiri ada. Sama dengan MBKM tapi bukan MBKM yang dari Kemdikbud Ristek tapi MBKM mandiri. Ada kerja sama misalnya,” tuturnya. Bak gayung bersambut, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan (WD III) FIS-H, Bahri juga menuturkan hal senada. Dosen Sejarah itu menyebut proses MBKM mandiri tengah berlangsung di Prodi Ilmu Hukum. "Bisa ikut MBKM mandiri, yang di luar pembiayaan pemerintah. Kan kita juga melaksanakan MBKM mandiri dan itu berlangsung di hukum. Ada dari mahasiswa lain masuk ke sini, ada juga mahasiswa dari sini ke luar. Itu ji antarprodi secara internal,” ungkapnya. Parahnya, semua program tersebut harus menguras kantong pribadi mahasiswa, sangat berbeda dengan mahasiswa yang berasal dari prodi lain. Selain gratis, juga ditanggung biaya hidup.
"Bukan di internal kampus saja. Itu MBKM mandiri, dimana saja, mau keluar negeri dimana saja. Cuman tidak dibiayai pemerintah. Dimana saja mau ke luar negeri bisa,” tegas Bahri. Ketidakjelasan status mahasiswa Prodi Ilmu Hukum direspon oleh Ketua Jurusan Hukum dan PPKn, Mustaring meyakinkan tak ada sanksi yang diberikan kepada Prodi Ilmu Hukum yang belum terdaftar di PDDikti. "Kaprodi sudah melobi pihak pusat terkait izin operasional dan tinggal tunggu keputusan, jadi saya kira tidak bakal ada sanksinya," katanya. (tim)
Tim Reportase Utama
Koordinator : Aliefiah Maghfirah Anggota : Andi Gusmaniar Andi Nurul Izzah Nur Arrum Suci Ahmad Husen Nugra HMS Mujahidah
Kata Mereka "Hingga saat ini Prodi Ilmu Hukum memang belum mendapat izin operasional"
Muhammad Syukur
Wakil Dekan Bidang Akademik FIS-H
www.profesi-unm.com
"Prodi kami ilmu hukum
"Pada
saat ini tengah melaku-
mendaftar saya mengira su-
kan pembenahan admin-
dah terakreditasi ternyata
istrasi untuk proses akre-
belum. Setelah mengetahui
ditasi program studi"
hal itu saya merasa kecewa"
Herman
Muh. Daffa Naufal
Ketua Program Studi Ilmu Hukum
saat
pertama
kali
Mahasiswa Ilmu Hukum
Urai data, ungkap fakta, saji berita
10
LAPORAN PERJALANAN
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret
Belajar Jurnalisme Loka di Paris van Sumatera
Tahun MMXXII 2022
*Ema Humaera dan Annisa Puteri Iriani
MENARI - Peserta Pena Persma LPM Dinamika UIN Sumatera Utara menari Tortor. Tarian khas Danau Toba
Sekitar 20 menit kami dirundung cemas, menunggu di barisan kursi hijau salah satu klinik di Jalan Mappala. Hari itu kami menunggu hasil tes rapid antigen untuk modal ke Medan mengikuti pelatihan jurnalistik. Panggilan perawat membuyarkan kecemasan kami, Ia mengabari kami negatif Covid-19. Kabar itu kami sambut dengan senang hati, akhirnya kami bisa beranjak dari klinik itu dan kembali ke indekos kami untuk mengepak barang. Rencananya pukul 17.20 WITA nanti kami akan terbang ke Medan, Sumatera Utara. Bertandangnya kami ke Medan ialah sebagai delegasi untuk Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Pena Persma 2021 yang dihelat oleh LPM Dinamika UIN Sumatera Utara. Rencana tinggal rencana, pesawat yang kami tumpangi nyatanya delay selama sejam, kami baru tiba di Bandara Soekarno Hatta Jakarta sekitar pukul 23.00 WIB. Dari Jakarta kami harus menunggu sekitar empat jam untuk terbang ke Kota Medan. Akhirnya pukul 07.00 WIB kami menginjakkan kaki kami di Bandara Kuala Namu, Medan Sumatera Utara. Kami dijemput oleh panitia menggunakan “kereta” kemudian diantar ke tempat pelatihan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP). Tak pernah menyangka awal Desember kami akan dihabiskan di kota yang dulunya dijuluki “Paris van Sumatera” karena keasrian dan bentuk bangunannya berciri khas Eropa. Sesampainya di STIPAP, kami disambut Urai data, ungkap fakta, saji berita
panitia dengan setelan hitam, bagi kaum perempuan dilengkapi dengan jilbab hijau ciri khas UIN. “Selamat datang di Medan kak,” kata salah seorang panitia yang berperawakan kecil dan berkulit sawo matang yang kemudian kami kenal sebagai Ivo, salah satu crew Dinamika. Sekitar 20 menit kami bersiapsiap untuk bertemu dengan delegasi dari LPM lain yang ternyata sudah menunggu kami untuk agenda pengenalan LPM. Logat asing menyapa telinga kami, sapaan abang dan kakak bergema setiap kali hendak memanggil seseorang. “Kenalan dulu lah kita, kelen dari Makassar kan?,” ujar salah seorang delegasi dari LPM Aklamasi UIR Riau, Riska. Akhirnya, kami bercengkrama dan berbagi cerita di ruang tamu kamar yang diperuntukkan bagi perempuan. Tidak afdol rasanya bagi kaum Gen-Z jika ngumpul tanpa membuat instastory, kami pun ber-selfie ria dan berujung saling follow di sosial media. Menjelang pukul 14.00 WIB, kami kembali ke aula untuk menerima materi tentang Konservasi Alam. Kami disuguhkan gambar menarik tentang satwa liar yang dilindungi dan berbagi pengalaman pemateri
yang merupakan seorang Direktur Species and Habitat Protection YOSL-OIC, M. Indra Kurnia. Pelatihan hari pertama itu ditutup Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Keberlangsungan Organisasi. Banyak cerita dan keluh kesah tercurah disini. Ditemani secangkir teh hangat dan sepiring keripik singkong balado, salah seorang kawan dari Aceh mulai bercerita. Ia mengaku sangat kesulitan menjalankan kerja-kerja kelembagaan, masalah silih berganti datang utamanya tentang kaderisasi. Peserta FGD mengaminkan hal itu, tidak mudah memang menggembleng kader-kader lembaga pers disituasi pandemi. Meskipun begitu, kami tetap memberikan suntikan semangat dan teman-teman dari LPM lain turut memberikan solusi. “Mungkin abang bisa mengadakan oprek dua kali, jadi kuantitas kader bisa dikejar, kemudian diberikanlah pelatihan-pelatihan dasar jurnalistik,” dalih perempuan berjilbab hitam, Nisa dari LPM Teropong. Tak hanya bergelut dengan materi, sesuai dengan tema Pelatihan yaitu Jurnalisme Loka. Di hari ketiga pelatihan kami diajak ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun. Jarak tempuhnya sekitar 42 menit dari pusat Kota Medan, kami disambut dengan bau menyengat sampah dan suara bising truk lalu lalang di pintu masuk TPA seluas 15 hektar itu. Miris rasanya menengok gunungan sampah menjulang menyerupai gedung-gedung di kota Medan. Kala
kami melakukan Reportase, berkunjunglah kami ke rumah Ali yang bertempat tinggal di pinggir bukit sampah TPA Terjun. Ali, seorang penyortir sampah di kawasan TPA Terjun duduk berselonjor di teras rumahnya. Pria kurus berambut ikal itu mengenakan jersey merah usang kebanggaan tim sepakbola yang kerahnya sudah robek. Sembari berbincang dengan tetangganya di seberang rumah, kami menghampiri Ali. Setelah memperkenalkan diri, Ali mulai mengisahkan kehidupannya yang dari kecil sudah bermukim di TPA Terjun. Bau busuk yang menyengat sudah biasa bagi Ali. Bagaimana tidak, Ali tumbuh di kawasan itu. “Sudah biasa, ya namanya juga lahir di sini,” ujar Ali singkat tanpa banyak pikir. Ali sedari kecil terbiasa ikut memulung untuk membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan agar dapur rumahnya tetap mengepul, sehingga mengumpulkan sampah menjadi aktivitas yang biasa dilakukannya. Keseharian anak-anak yang tinggal di sekitar TPA Terjun pun tak jauh dari aktivitas itu. Tumpukan sampah sudah dijadikan layaknya wahana permainan bagi anakanak di TPA yang luasnya 15 hektare itu. Namun, Ali melarang anaknya bermain ke sana. “Anak-anak di sini sudah biasa main di sana (TPA Terjun), tapi anakku gak main ke sana,” sebut Ali sembari menggaruk kepala kebingungan. Ia melarang anak-anaknya un-
tuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya. Ia beranggapan bahwa anak berhak atas kehidupan yang layak, sehingga dirinya tidak akan meminta anak-anaknya untuk mengumpulkan sampah di sekitar TPA demi memperoleh beberapa lembar rupiah. “Saya tidak ingin anak-anak saya merasakan apa yang saya rasakan, anak saya berhak untuk tumbuh sesuai dengan keinginannya. Saya tidak ingin anak saya menjadi seperti saya,” kata Ali. Kami melihat mata sayunya berbicara. Ali memang sedikit sulit untuk merangkai kata-kata. Namun, dibalik keterbatasannya ada harapan untuk masa depan anak-anaknya bisa lebih baik tanpa harus mengulangi kenangan masa kecilnya yang bersinggungan dengan sampah. Terlepas dari cerita nestapa TPA terjun Medan, banyak hal baru yang kami dapatkan selama bertandang kesana. Kuliner beragam telah kami cecap rasanya mulai dari Ikan Arsik, Soto Medan hingga Bika Ambon. Kami juga menjelajah salah satu kota terdingin di Indonesia, yakni Brastagi, kemudian menyusuri Danau Toba dan sandar di pelabuhan kecil Pulau Samosir. Sembilan hari di kota Medan terasa singkat untuk mengisahkan betapa ramahnya kota ini, setidaknya itu yang kami rasakan. Bertemu kawan baru yang senasib dan sepenanggungan sebagai kuli tinta di Persma menjadi warna tersendiri dan akan selalu terkenang ketika kami, dua pengelola Profesi mendengar Medan disebutkan. (*) www.profesi-unm.com
11
LAPORAN PERJALANAN
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Jejak Kisah di Pulau Samosir
S
FOTO BERSAMA - Peserta Pena Persma LPM Dinamika UIN Sumatera Utara saat berada di gerbang pulau Samosir.
uasana masih gelap gulita, saat itu jam menunjukkan pukul 24.50 WIB setelah kegiatan malam budaya, kami diarahkan oleh panitia Pena Persma Dinamika UIN Sumatera Utara untuk berkumpul di samping tempat pelatihan. Sekitar lima menit kami berkumpul, tiba-tiba bus yang akan membawa peserta untuk berwidyawisata tiba. Kami pun diarahkan untuk naik dan mengambil tempat duduk yang nyaman karena sebentar lagi bus akan berangkat menuju tempat wisata khas Medan yaitu Danau Toba. Kami menelusuri jalan di tengah gelapnya malam dan rimbunnya pepohonan. Dalam perjalanan menuju Danau Toba kami disambut dengan suhu yang sangat dingin, dan semua peserta maupun panitia yang ada di dalam Bus menggigil. Setelah menelusuri dan mencaricari informasi terkait daerah yang kami lewati ternyata kami melewati kota Berastagi, yang menjadi salah satu kota terdingin di Indonesia yang memiliki ketinggian 1.300 mdpl dengan suhu di bawah 20 derajat celsius. Kota ini berada di tengah-tengah Gunung Sibayak dan Sinabung. Di tengah dinginnya suasana malam itu kami tertidur untuk beristirahat sejenak karena perjalanan masih panjang. Setelah 4 jam perjalanan akhirnya kami sampai di Parapat. Bus yang membawa kami berhenti di salah satu masjid yang ada di sekitar Danau Toba, semua orang yang ada di dalam Bus pun turun untuk sholat subuh dan sejenak membersihkan atau merapikan pakaian. Sinar sang surya mulai terlihat, Danau Toba mulai menampakkan keindahannya. Jika ditelisik Danau Toba memiliki sejarah yang sangat panjang di sekitar danau inilah kita bisa mempelajari kehidupan masyarakat Batak lebih lanjut dengan www.profesi-unm.com
segala keunikan yang dimiliknya. di pagi-pagi buta itu setelah melaksanakan sholat subuh kami bergegas menuju pelabuhan tempat penyeberangan ke sebuah pulau adat yang ada di sekitar Danau Toba. Rencananya kami akan mengunjungi Pulau Samosir. Untuk menuju Pulau Samosir kami harus menggunakan kapal sebagai alat transportasi. Kami pun naik di kapal yang telah disewakan oleh panitia, kapal tersebut berkapasitas sekitar 40 orang. Hamparan luas Danau Toba dengan dinding perbukitan menemani perjalanan kami menuju Pulau Samosir, menawan adalah satu kata yang mungkin dapat menggambarkan Danau Toba. Danau Toba memiliki panjang 100 km dan lebar 30 km. Danau ini merupakan danau kaldera raksasa yang terjadi akibat letusan Gunung Toba purba puluhan ribu tahun yang lalu. Daerah yang sangat luas, sampai akhirnya danau ini dinobatkan sebagai danau terbesar yang ada di Kawasan Asia Tenggara. Di tengah-tengah perjalanan salah satu panitia asli Batak menjelaskan sedikit sejarah Danau Toba dan kabupaten-kabupaten yang mengelilingi Danau Toba. Ada 7 kabupaten yang mengelilingi Danau Toba di antaranya, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, dan Kabupaten Samosir. Perjalanan kami menuju Pulau Samosir tidak membosankan karena ditemani oleh gagahnya Gunung Pusuk Buhit yang terlihat sangat jelas sekali dengan puncaknya yang berwarna hijau serta kombinasi warna abu-abu dan ditutupi oleh awan di sekitarnya. Cuaca pada saat itu sangat bersahabat, di tengah teriknya matahari pagi tidak mengurangi semangat kami untuk terus mengek-
splor keindahan Danau Toba. Beberapa menit kemudian, kami tiba di sebuah pulau adat yang terletak diseberang Danau Toba. Kapal yang kami tumpangi bersandar di tepian danau, semua penumpang turun. Beberapa langkah dari tempat kami turun dari kapal, kami disambut oleh tugu bertuliskan “ Selamat datang di Samosir” dengan ornamen patung disamping kiri-kanan serta terlihat rumah-rumah adat khas Batak yang masih berdiri kokoh. Kami pun disambut hangat oleh pemandu wisata Pulau Samosir. Kami diarahkan untuk masuk kekawasan adat, didalam kawasan tersebut kami diajarkan tari penyambutan yaitu tari Tor-tor. Tarian itu ditemani oleh sigale-gale, sedikit cerita terkait sigale-gale yang merupakan patung menari yang dibuat karena kesedihan seorang raja yang kehilangan putra laki-lakinya. Patung ini akan menari dengan gerakan yang tidak jauh beda dengan tari Tor-tor. Gerakan khas jari-jemari dan kaki menjinjit membuat tarian ini terlihat unik. Ditemani alunan musik tradisional khas batak hasil pukulan gong, petikan kecapi, tiupan tulila (terompet kecil khas Batak) serta beberapa alat musik lainnya membentuk harmoni klasik mengiringi keindahan gerak para penari. Kami pun menari bersama, sambil menggunakan selempang khas suku Batak. Setelah menari penyambutan, pemandu mengarahkan untuk keliling Kawasan adat Pulau Samosir sambil menceritakan sejarah mulai dari filosofi rumah adat, kebiasaan hingga aturan raja serta masyarakat adat. Pemandu menceritakan bagaimana masyarakat Pulau Samosir yang di pasung hingga di hukum pancung apabila melanggar aturan adat. Masyarakat Batak sangat memegang teguh sistem adat melalui kekerabatan yang dijalin berdasar-
kan marga. Hukum pancung ini diberlakukan untuk mengatur ketentraman masyarakat serta mengurangi tindak kejahatan antara sesama warga. Hukum pancungi ini katanya diberlakukan pada tahun 1938 secara resmi Raja Saga Siallagan khusus untuk marga Siallagan dan berakhir pada tahun 1951. Berakhirnya penerapan hukuman pancung ini disebabkan oleh berlakunya hukum UUDS 1950 sehingga hukum adat harus menyesuaikan dengan hukum NKRI saat itu. Hukum adat hanya dapat dijadikan sebagai dasar dari hukum pidana yang akan ditetapkan untuk pelaku kejahatan. Setelah menjelaskan sejarah Huta Siallagan yang merupakan perkampungan adat Pulau Samosir, para peserta dan panitia lanjut berfoto ria. Setelah lama berfoto dan mengelilingi Huta Siallagan, kami diajak untuk berburu oleholeh. Sekitar pukul 14.00 WIB kami diarahkan untuk berkumpul dan kembali ketempat kapal bersandar karena sebentar lagi kami
akan kembali ke Pelabuhan tempat kapal berangkat sebelumnya. Di tengah perjalanan pulang kami dibawa ke sebuah tempat di mana tempat tesebut terdapat batu gantung yang menurut orang sekitar batu itu adalah sepasang kekasih yang tidak direstui hubungannya lalu mereka bunuh diri dan tubuhnya tersangkut di bebatuan tebing. Penduduk setempat membiarkan mayat tersebut tergantung hingga mengeras bagaikan batu. Setelah itu kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan hingga akhirnya tiba di pelabuhan, kami disambut anak-anak Danau Toba yang berenang di tepian. Bus penjemputan menunggu kami di tepi jalan, semua peserta bergegas naik dan melanjutkan perjalanan pulang. Selamat tinggal Danau Indah nan eksotis, perjalanan panjang pun di mulai. Di tengah perjalanan sesekali kami disambut oleh para monyet yang bergelantungan di pohon pinggir jalan, serta hamparan pohon kelapa sawit juga menemani perjalanan kami. (*)
KATA MEREKA "Mengikuti Pena Persma, saya mendapatkan banyak teman, mulai dari Aceh sampai Makasar. Itu sangat luar biasa. Mengikuti pena persma banyak untungnya sih, bisa menambahkan pertemanan, narasi dan ilmu yg bermanfaat dari pemateri. Selain itu, konsep acara ini lumayan menarik dan berstruktur"
Hungri Somi Julta
Pemimpin Umum LPM Suara Kampus
"Selama pandemi seluruh kegiatan diadakan secara daring, namun pada pelatihan ini diadakan secara luring dan menambah semangat saya untuk ikut dan berharap ilmu yang telah saya dapatkan kelak bisa diterapkan"
Ema Humaera LPM Profesi UNM
Urai data, ungkap fakta, saji berita
12 SUPLEMEN
Urai data, ungkap fakta, saji berita
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
www.profesi-unm.com
13 LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
www.profesi-unm.com
SUPLEMEN
Urai data, ungkap fakta, saji berita
14
SENI BUDAYA
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Kisah Korban Kekerasan Seksual Mencari Keadilan *Agatoni Buttang
Dengan durasi 30 menit, film pendek asal Korea Selatan ini merupakan hasil besutan sutradara Jayil Park yang diproduksi 2020 silam, diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Korea Selatan pada tahun 2004 silam. Pada tahun itu muncul kasus Miryang di mana ada seorang siswi yang diperkosa oleh 41 siswa yang dilakukan beberapa kali. Dari kisah tersebut diangkat film pendek berjudul Georgia yang menceritakan seorang ayah dan ibu penderita strok yang berusaha memperjuangan keadilan bagi anaknya yang bernama Lee Jina. Lee Jina merupakan wanita yang penuh sejuta mimpi. Ia memutuskan mengakhiri hidupnya setelah menjadi korban kekerasan seksual oleh 18 pelaku. Cerita pada film tersebut sontak membuat kita merasa betapa kejam dan kejinya para predator seksual. Melihat kasus kekerasan seksual yang terjadi di mana-mana hingga sulitnya keadilan bagi para korban kekerasan seksual tergambarkan dalam film pendek Georgia ini. Durasi 30 menit merupakan waktu yang singkat untuk menjelaskan isu yang kompleks, namun film ini berhasil mengajak para penonton untuk berempati pada kasus kekerasan seksual. Film Georgia ini diambil dari perspektif orang tua korban. Singkat cerita, ayah Lee Jina yang diperankan oleh Lee Yang-hee bekerja sebagai buruh
dan mendapat gaji pas-pasan sementara ibu Lee Jina yang diperankan oleh Lee ChaeKyung menderita strok yang tidak mampu menopang dirinya. Orang tua Lee Jina ini hidup diambang kemiskinan dan sulit untuk menggunakan teknologi komputer. Lee Jina merupakan siswi di salah satu sekolah yang ada di Korea Selatan. Diceritakan, Ia merupakan siswi yang memiliki mimpi untuk sekolah design di Georgia, Amerika Serikat. Namun saat masih menempuh Sekolah Menengah Atas Lee Jina diperkosa oleh 18 orang siswa. Setelah kejadian itu, Lee Jina memutuskan untuk mengakhiri hidupnya lantaran tidak bisa menerima kejadian yang menimpa dirinya. Orang Tua Lee Jina tidak terima dengan kejadian yang menimpa putrinya ini, keduanya berusaha kepada pihak kepolisian agar melakukan investigasi dan memberikan hukuman pada para pelaku. Beberapa kali orang tua Lee Jina meminta pihak kepolisian agar menindak lanjuti kasus ini namun, pihak
Judul: Georgia Tahun: 2020 Sutradara: Jayil Park Nominasi: Blue Dragon Film Awards For Best Short Film kepolisian malah berhenti untuk melakukan penyelidikan. Dengan melakukan segala cara agar pihak kepolisian membuka kembali investigasi untuk kasus anaknya, orang tua Lee Jina merancang sendiri sebuah benner menggunakan font Georgia. Jenis tulisan Georgia pun berhasil dicetak. Namun, tidak ada kata-kata yang berhasil dibaca di benner tersebut, hanya ada kotak-kotak berjejer. Walau begitu, banner tuntutan tersebut tetap dipasang oleh kedua orang tua Lee Jina, namun tulisan di benner itu menjadi pesan-pesan
lantang yang diabaikan. Memperjuangkan keadilan mendiang anaknya ternyata tidak semudah itu. Beberapa orang tua dari 18 orang pelaku pemerkosaan Jina merupakan orang yang kaya raya yang bisa membungkus kasus dengan memanfaatkan hartanya. Bahkan, salah satu dari mereka juga menyamakan Lee Jina dengan sebuah roti yang selalu diburu anak laki-laki. Hal ini membuat kedua orang tua Lee Jina marah, mereka tidak terima jika putrinya diperlakukan seperti roti yang bisa dinikmati laki-laki hingga akhir hayatnya. Alih-alih mendapat keadilan pihak kepolisian malah tak banyak bicara dan hanya terus menerus menyinggung uang damai dari para orang tua. Bahkan teman-teman di sekolah Lee Jina pun abai terhadap kasus kekerasan seksual itu. Ini semakin membuat orang tua Jina kesal melihat tak ada keadilan untuk putrinya. Hal itu menyiratkan pesan bagaimana orang tua pelaku kekerasan seksual yang menenangkan kasus tersebut karena memiliki kuasa lebih tinggi dibanding orangtua Lee Jina. Hidup dengan ekonomi yang pas-pasan, suara dan tuntutan orang tua Lee Jina tidak didengar oleh pihak penegak hukum dan kepolisian. Keadilan pun harus kalah dengan mereka yang memiliki status sosial tinggi dan kekuasaan.
Dalam film Georgia ini, warna hitam dan kuning yang merupakan warna bendera negara bagian Georgia juga sering muncul saat nama Lee Jina dibicarakan. Selain itu pada saat adegan memasang payung transparan memiliki makna mendalam yang terlihat di film ini. Hukum sering dikaitkan dengan benda payung karena sama-sama memiliki fungsi untuk melindungi. Payung transparan yang digunakan oleh masyarakat dalam film ini menjadi representasi dari harapan akan hukum yang transparan. Film Georgia ini mengajarkan banyak hal yang tersirat dalam dialog antar tokoh dan adegannya. Kesedihan dan pilu yang dirasakan oleh orang tua Lee Jina disampaikan dalam film ini dengan puitis dan lembut. Film kekerasan seksual umumnya secara gamblang menunjukkan trauma korban dan kejadian mengerikan tersebut. Namun film ini dapat berbicara lewat bahasa visual yang menyimpan banyak makna mendalam. Film Georgia tidak memberikan solusi atau akhir bahagia dari perjuangan orang tua korban kekerasan seksual. Film ini menangkap realita, bak air dingin yang disiram ke wajah, film ini membangunkan masyarakat untuk melihat realita yang terjadi. Film Georgia adalah rupa nyata ketidakadilan hukum bagi korban kekerasan seksual dan kelompok ekonomi kelas bawah. (*)
Relik Prestasi Dunia Lama Oleh: Ssam
Bocah itu terpana, melihat dunia yang tak lagi sama Dunia yang tak mengerti apa itu rasa Dunia yang tak paham akan apa itu usaha.
Mendorong mereka yang bangga akan status "kaya" Merundung mereka yang mati-matian bekerja. Apa arti anak muda yang cukup menunggu hasil datang dengan menutup mata? Bagaimana arti anak muda yang berjuang namun tak diapresiasi apa-apa? Ini hanyalah pemikiran bocah yang terpana, bocah yang mempertanyakan definisi prestasi orang-orang di luar sana. Kini, sang bocah menghentakkan langkah pertamanya, mencari orang-orang yang sejalan pemikirannya. Orang-orang yang mau dan mampu mengembangkan manusia mencari prestasi yang sebenarnya.
Urai data, ungkap fakta, saji berita
www.profesi-unm.com
15 PROFESIANA
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Diktiristek Award UNM: Sebuah Ironi Kampus Tempat Kekerasan Seksual
Dua penghargaan dari Kemendikbud Ristek diberikan untuk UNM. Masing-masing atas kategori kampus pengirim dan penerima terbanyak program pertukaran mahasiswa merdeka dan kampus pelaksanaan modul nusantara terbanyak di Spada Dikti. Secara syarat, UNM memang mumpuni menyabet kedua gelar tersebut. Tercatat UNM mengirimkan 615 mahasiswa untuk mengikuti program pertukaran di Kampus Jawa dan Sumatera, menerima 460 mahasiswa program pertukaran, serta mengikutkan 23 dosen pada program mahasiswa modul nusantara. Dari data yang dihimpun di beberapa media, Rektor UNM, Husain Syam pun mengaku bangga. Alih-alih mengikuti euforia tersebut, peringatan ini akan langsung menyegarkan ingatan kita pada kasus pelecehan seksual yang dialami mahasiswi Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Indbound pada 9 Desember 2021 lalu. R harus terpaksa menjadi korban. Lemahnya pengawasan serta fasilitas asrama yang kurang memadai menjadi penyebabnya. Selama menjalani masa pertukaran, para mahasiswa dan mahasiswi ditempatkan di Hotel La Macca dan asrama mahasiswa Tidung. Khusus di Lamacca, tempat R tinggal, hanya ada 3 peturasan untuk 82 mahasiswa. Mau tak mau, semua harus bergantian. Kamar tidur juga tak banyak yang istimewa. 8 sampai 12 mahasiswa puas mengisi satu kamar. Untuk semua fasilitas yang diberikan, mahasiswa pertukaran harus merogoh kocek 500 ribu per bulan. Hitung-hitungan kampus menurut Ahmad Fudhail, selaku PIC Panitia MBKM UNM yang turut mengurusi mahasiswa PMM sudah cukup layak. “Kami rasa dengan biaya seperti
itu sudah setara dengan fasilitas yang kami berikan,” katanya. Kamar mandi, menjadi tempat R mengalami kasus kekerasan seksual. Tanpa sepengetahuan dan persetujuan, tubuhnya direkam. Pelakunya sendiri adalah satpam. Dari hasil penyelidikan, tersangka sudah 3 kali melakukan aksi bejatnya yang tengah berada di kamar mandi. Salah satunya pada 10 Desember lalu. “Saat saya pakai shampoo, saya melihat ke arah jendela yang saya duga sebagai ventilasi, ada sebuah tangan sedang memegang kamera berwarna putih mirip kamera GoPro sedang merekam saya mandi. Seketika saya langsung memakai pakaian saya dan berlari keluar kamar mandi karena saya mendengar suara pintu terbuka yang saya yakini bahwa pintu itu dibuka oleh orang yang sedang merekam saya saat mandi. Saya berlari sekencang mungkin hingga saya terjatuh di depan kamar mandi,” tutur R, korban perekaman. Pendapukan UNM oleh Kemendikbud Ristek tentu dianggap sebuah ironi. Bagaimana mungkin, kampus yang tidak sepenuhnya aman ini bisa merasakan penghargaan. Keseriusan kampus eks Oemar Bakrie dalam menangani kasus R pun masih perlu dipertanyakan. Di satu sisi, pelaku memang betul mendapatkan tindakan tegas. Langkah pemecatan oleh Rektor UNM belum bisa dianggap hal yang patut diacungi jempol. Namun, temuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH)
Kampus Rawa-rawa RUMPUT tinggi penuh air, persis seperti sawah dengan hamparan luas. Rawa di depan ruangan laboratorium Jurusan Pendidikan Guru (PG) PAUD ini merusak pemandangan mata bagi yang memandang. Begitulah penampakan belakang kampus Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Meskipun ruangan itu memang jarang digunakan karena perkuliahan offline masih belum dilakukan, tapi seharusnya rawa tersebut mendapat perhatian khusus sebagai salah satu aspek kebersihan kampus apalagi tepat berada di depan ruangan kelas. Murni, salah satu mahasiswa mengatakan rawa tersebut cukup mengganggu estetik lokasi sekitar, s e -
www.profesi-unm.com
harusnya rawa tersebut mendapat perhatian khusus. “Nda bagus sekali dilihat, kayak rawa-rawa besar lagi. Seharusnya dibersihkan itu,” katanya. Dikonfirmasi, Wakil Dekan Bidang Akademik (WD I), Mustafa mengatakan rawa tersebut bukan menjadi tanggung jawab FIP, karena itu laboratorium PG Paud. “Itu bukan ranah ta itu, itukan di sana memang ada pas depan ruangan laboratorium PG Paud. Iya memang, seharusnya dibersihkan juga itu,” tuturnya. Meski begitu, dosen pendidikan luar biasa ini mengatakan wilayah tersebut masih termasuk lokasi wilayah kampus FIP. “Masih, itu masih masuk wilayah kampus FIP. Wilayahnya kita kan dari depan itu sampai ke belakang sampai Rusunawa,” tambahnya. (ade)
Makassar mengindikasikan kasus ini tak hanya dijalankan satu orang. 40 foto dan video yang diambil secara diam-diam dari satu barang bukti ponsel yang telah diperoleh polisi. “Ada indikasi keterlibatan pihak lain selain petugas keamanan yang saat ini ditetapkan tersangka, makanya kami tim PH korban meminta pihak penyidik untuk memeriksa pihak lain dari hotel juga” kata Melisa Ervina, Jumat (28/1). Ketidakseriusan UNM dalam penanganan kasus R terlihat dari sikapnya yang “lepas tangan”. Menilik kembali Permendikbud No 30 tahun 2021, kampus tidak hanya berkewajiban memberikan sanksi tapi juga melakukan pendampingan hukum hingga kasus selesai dan memberikan bimbingan psikolog kepada korban pelecehan seksual hingga korban membaik. Pihak LBH Makassar menilai pun menilai jika kasus ini sebagai gambaran krisisnya ruang aman di perguruan tinggi yang menghambat mahasiswa menempuh pendidikan tinggi juga sebagai urgensi implementasi Permen PPKS. *UNM Terkesan Lepas Tangan, Mahasiswa PMM Inbound Tuntut Penghargaan Dicabut Pencapaian UNM tersebut nyatanya melukai hati mahasiswa PMM Inbound. Kekecewaan atas sikap Kemendikbud pun disampaikan oleh mahasiswa PMM Inbound karena tidak memberikan sanksi tegas kepada UNM atas kasus kekerasan seksual, justru memberikan penghargaan. “Hal kami sayangkan dari Kemendikbud ialah tidak memberi sanksi tegas dan mengejutkannya malah memberikan award kepada UNM. Apabila yang dinilai hanya sekadar jumlah, maka hal itu sangat mengece-
wakan,” ujar perwakilan mahasiswa PMM Inbound. Mahasiswa PPM Inbound menilai UNM sama sekali tidak memberikan bantuan baik dari segi hukum maupun bantuan penanganan psikologis korban pelecehan seksual. “Korban sendiri pun tidak mendapatkan bantuan psikolog sama sekali, kalau mengenai bantuan hukum memang sedari awal kami meminta bantuan UNM tapi ditolak, sehingga kami mencari LBH. Setelah kuasa diberikan ke LBH, UNM hanya sekali saja datang ke LBH dan tidak pernah lagi meminta update mengenai kasus ini,” jelasnya. Bahkan, secara gamblang mahasiswa PMM Inbound meminta Kemendikbud untuk mencabut penghargaan yang telah diberikan kepada UNM. “Tanpa mengurangi rasa hormat, kami segenap mahasiswa PMM Inbound UNM meminta Kemendikbud mencabut penobatan UNM sebagai universitas pengirim dan penerima program pertukaran mahasiswa dan Perguruan Tinggi pelaksana modul terbanyak di Spada Dikti,” pinta mahasiswa PMM Inbound. Kemendikbud Ristek seharusnya tidak mengabaikan catatan hitam UNM sebagai kampus tempat pelecehan seksual ke mahasiswa PMM. Sehingga minimal ada sanksi jelas yang diberikan kepada kampus apalagi kasus ini belum selesai hingga saat ini.
ke pengadilan untuk di sidangkan. Menurut perwakilan mahasiswa PMM kasus sudah sampai di pelimpahan berkas kepada kejaksaan. Mereka pun berharap kasus ini segera diterima pengadilan dan selanjutnya masuk tahap persidangan. “Kalau di persidangan, datang dan tidaknya korban maupun saksi dilihat dari permintaan pengadilan. Mau disuruh datang ataupun online korban dan saksi bersedia,” jelasnya. Sejalan dengan itu, perwakilan LBH Melisa Ervina mengatakan belum ada perkembangan signifikan dari kasus ini. Kasus masih dalam tahap 1 yaitu pelimpahan berkas dari penyidik kekejaksaan. “Saat ini kami juga menunggu tahap 2 dari JPU,” katanya. Mengenai indikasi keterlibatan orang lain. Pihaknya sudah meminta pihak penyidik untuk memeriksa pihak dari hotel juga. Namun respons penyidik hanya sekadar mengiyakan permintaan pemeriksaan tersebut. “Respons penyidik mereka akan melakukan pemeriksaan terhadap pihak hotel khususnya nama-nama yang telah disebutkan para saksi saat pemeriksaan,” katanya. (ata)
*Kasus Tak Kunjung Selesai Kasus Kekerasan Seksual tersebut hingga kini belum menemui titik terang. Kasus masih di Jaksa Penuntut Umum (JPU), belum masuk
Kuliah Umum Atau Kampanye AGUS Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menjadi narasumber pada kuliah umum kebangsaan Universitas Negeri Makassar (UNM) menuai beragam spekulasi dari sivitas akademika. Salah satunya mengenai politik praktis oleh Rektor UNM, Husain Syam. Salah satu ucapan yang dianggap berbau politik, diucapkan Husain saat mengatakan kegiatan ini tidak murni hanya berbau Yudhoyono Institute. Ia secara tidak langsung malah mengampanyekan partai Demokrat saat berpidato di kuliah umum tersebut. “Kader demokrat merupakan saudara bagi kami semua. Demokrat sudah bagian dari hidup kita, selama 10 tahun kita dipimpin. Sehingga tidak bisa dipungkiri jika demokrat sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Itulah sebabnya kenapa kehadiran bapak AHY tidak bisa lepas dari warna biru. Jadi saya mohon maaf kepada bapak AHY, maaf jika acara ini
tidak murni berbau Yudhoyono Institute,” katanya. Namun setelah acara selesai, Husain menampik kuliah umum ini adalah politik praktis. Ia menyampaikan mahasiswa tidak boleh berpikir ada politik praktis dibalik kegiatan kuliah umum dengan AHY. Menurutnya, kegiatan seperti itu adalah ajang pengembangan wawasan mahasiswa serta proses interaksi untuk memperoleh dukungan dalam pembangunan kampus nantinya. “Nggak juga politik praktis, yang ada itu kita bergaul dan berinteraksi, untuk kepentingan mahasiswa dan ketika kita ingin melakukan sebuah proses pembangunan tentu kita harus cari cara agar memperoleh dukungan, bukan berarti bahwa setelah ini rektor mau berpolitik. Nanti datang waktunya itu,” pungkasnya. Selain itu, rektor dua periode itu menuturkan ruang diskusi atau interaksi dengan dunia politik tidak boleh ditutup, sebab kemajuan perguruan tinggi merupakan buah manis dari interaksi politik yang dibangun. “Kalau ingin tidak maju
perguruan tinggi, yah jangan berintraksi dengan politik. Kalau mau maju harus interaksi politik, karena segala keputusan pasti lewat politik baik itu tentang anggaran dan pendidikan,” tuturnya. Sedangkan AHY sendiri juga turut melontarkan ucapan politis, salah satunya saat Ia mengajak Husain untuk menjadi salah satu keluarga besar Partai Demokrat. Walau Ia menyambung dengan mengatakan bergabung dengan Demokrat bukan melulu persoalan politik namun ini seolah kode politik kepada Husain yang diisukan akan terjun ke dunia poltik. “Saya berharap setelah ini, pak rektor bisa menjadi keluarga Partai Demokrat. Keluarga di sini tidak selalu menyoal tentang atribut partai, tapi kedekatan dan rasa saling mendukung,” ucapnya. Saat dikonfirmasi sehabis kegiatan, AHY malah menjadi enggan berkomentar terkait politik saat ditanyakan oleh wartawan. Menurut stafnya agenda yang dilakukan yaitu kuliah umum di wilayah kampus sehingga tidak etis membicarakan agenda politik dari AHY. (ani) Urai data, ungkap fakta, saji berita
16
PERSONA
LPM Profesi UNM - Edisi 254 Maret Tahun MMXXII 2022
Loper Koran Jadi Dosen
Jika kesan pertama menjadi nilai utama dalam sebuah perkenalan. Sepertinya ungkapan ini tidak berlaku untuk pekerjaan, pekerjaan awal seseorang tidak menentukan masa depannya. Penentu masa depan adalah seberapa keras usaha untuk menjadi bintang.
Muhammad Farid, Sekretaris Lembaga Inovasi dan Pengembangan Kewirausahaan (LIPK) Universitas Negeri Makassar (UNM) awalnya memulai karir menjadi loper koran sebuah media di Makassar hingga akhirnya menjadi dosen di UNM. Profesi sebagai loper koran sudah Ia geluti sejak dini, dari bangku SMP dosen yang kerap disapa Farid ini mulai menjalani profesi sebagai loper. "Saya mulai menjadi loper dari bangku SMP di siang hari. Hingga akhirnya saya tamat dan melanjutkan ke SLTA, saya kembali menjadi loper di dini hari. Setiap jam 3 subuh saya berangkat," katanya memulai cerita. Jam 3 dini hari menjadi jadwal rutin Farid mengayuh sepedanya menyusuri rumah ke rumah untuk menjajakan koran, sebelum melanjutkan aktivitas sekolahnya. "Setiap jam 3 dini hari, nenek saya selalu membangunkan untuk mengingatkan saya kalau saya harus berangkat membagikan koran setelah itu saya pergi ke sekolah
melanjutkan tugas saya. Saya berharap dengan bangun jam 3, waktu saya dapat diefisienkan dengan baik," tuturnya melanjutkan ceritanya. Keseharian Farid setiap harinya berusaha diatur dengan sedetail mungkin. Tak seperti kebanyakan siswa lainnya, Ia harus melakukan tugas rutin membagi koran setiap pagi. "Saya ke percetakan dulu ambil koran, baru saya bagikan setelah itu baru saya ke sekolah. Area pembagian saya dulu itu di Cendrawasih, BTN Hartaco," Pekerjaan loper koran ini Ia geluti hingga kuliah dan akhirnya menjadi agen loper koran. Tidak hanya sampai disitu, kisahnya berlanjut sewaktu Ia telah menjadi dosen dan mendapatkan kesempatan untuk berkenjung ke Taiwan dengan mengikuti program Bridging Course vokasi yang dapat diikuti oleh dosen vokasi dan LPTK. Program ini Ia ikuti pada tahun 2013 selama tiga bulan di Taiwan, selama berada di Taiwan Ia mencari calon advisor yang kelak dapat dipilih unntuk menjadi pembimbingnya. “Alhamdulillah saya dapatkan pengalaman mengikuti kuliah di sana, mengikuti kunjungan industri, ikuti kegiatan wisata. kemu-
dian sembari berdiskusi dengan calon pembimbing, akhirnya saya dapatkan surat persetujuan untuk diterima di kampus tersebut seandainya saya mau lanjut S3 disana,” jelasnya. Di tahun 2015, pria berkelahiran Makassar ini mengajukan beasiswa ke Dikti dan disetujui oleh Dikti untuk berkuliah di Taiwan di kampus yang dua tahun sebelumnya Ia tempati program Bridging Course yaitu National Kaohsiung University of Science and Technology (NKUST). “Awal masuk kuliah 2015 mengambil Jurusan Industrial & Engineering Management (teknik dan manajemen industri,” tuturnya. Selama di Taiwan banyak pengalaman berkesan yang Ia dapatkan baik dari aspek akademik dan nonakademik. Selain sibuk berkuliah Ia juga menjadi salah satu pengurus Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PMI) sebagai wakil ketua yaitu di tahun 2015 sampai 2017. Di waktu luangnya, Ia Bersama rekannya bernama Ayus yang juga mahasiswa Indonesia dan juga salah satu mahasiswa asal Taiwan yang juga ikut merintis perpustakaan berjalan bernama Kausang. Perpustakaan ini mereka peruntukkan bagi masyarakat Indonesia yang ada di Taiwan.
“Kita biasanya di hari minggu bersama relawan menjajakan perpustakaan biasanya khusus bagi imigran Indonesia di Taiwan, mereka yang liburan kita coba dekatkan dengan literasi,” katanya. Tidak hanya itu, di Taiwan Farid berhasil merilis bukunya yang berjudul “Ruang Kontemplasi” dan juga telah memiliki usaha di Taiwan sewaktu istrinya berkunjung. Usahanya ini yaitu menjual makanan tradisional khas Makassar yaitu pisang ijo yang di titipkan ke toko-toko Indonesia yang ada di Taiwan dan dijual secara online waktu itu. Farid menyebutkan ada beberapa aspek yang perlu dipersiapkan ketika ingin berkuliah di luar negeri diantaranya aspek bahasa, memperdalam bidang yang d i -
Nama Lengkap : Ir. Muhammad Farid, S.Pd., M.T., Ph.D., IPM TTL : Ujungpandang (Makassar), 7 September 1976 Riwayat Pendidikan : 1. S1, Prodi: Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik – Universitas Negeri Makassar (UNM) 2. S2, Prodi: Teknik dan Manajemen Industri Fakultas Teknologi Industri – Institut Teknologi Bandung (ITB) 3. S3, Prodi: Industrial Engineering and Managment National Kaohsiung University of Sciences and Technology (NKUST) 4. Pendidikan Profesi Program Profesi Insinyur (PPI), Universitas Hasanuddin
minati, dan memperluas pergaulan sehingga mudah mendapatkan informasi mengenai beasiswa kuliah ke luar negeri. “Pertama mulai sekarang siapkan diri belajar bahasia asing minimal bahasa inggris, sebagai syarat untuk studi luar negeri, Bahasa Mandarin, Jepang, atau Korea itu tambahan untuk komunikasi, persiapkan diri untuk TOEFL atau IELTS yang kedua itu menyiapkan dirinya untuk belajar sesuai keahlian masing-masing dan yang ketiga membangun jejaring dengan teman atau senior yang sudah pernah ke luar negeri untuk mendapat informasi yang lebih komprehensif untuk memilih kampus atau negara untuk melanjutkan studi,” ungkapnya. Terakhir, Farid berpesan kepada mahasiswa agar budaya literasi dapat diterapkan khususnya di UNM, memperbanyak menulis baik artikel ilmiah ataupun tulisan bebas di sosial media. “Karena ini saya lihat semakin tergerus. Jadi menulis itu, menulis artikel ilmiah, menulis yang lepas seperti di instagram dan facebook mungkin itu bisa dikembangkan dalam bentuk artikel atau buku,” pesannya. (ari)
Berawal Iseng Kini Jadi Atlet Sea Games BERMULA ketika Ia tertarik dengan Cabang Olahraga (Cabor) Petanque mengantarkan Asril Yanto menjadi atlet yang mewakili Indonesia di ajang Sea Games 2022 bersama dengan timnya. Awalnya Asril mengenal cabang
Urai data, ungkap fakta, saji berita
olahraga ini ketika mengikuti sosialisasi untuk perekrutan anggota baru BKMF Pentaque Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNM. Menurutnya cabang olahraga ini merupakan jenis olahraga baru sehingga peluang untuk mengukir prestasi di cabang olahraga ini cukup besar. “Katanya kalau mau terbang keluar Sulawesi secara gratis silahkan masuk Petanque, dari situ saya tergiur untuk mencoba olahraga ini, dan saya juga mendengar bahwa ada atlet perempuan yang lolos sea games Kuala lumpur, dan saya ingin mengikuti prestasi beliau,” ujarnya. Untuk bisa sampai kesana, tentunya bukanlah hal yang mudah, banyak tahap yang mesti dilaluinya. Bersama dengan timnya ia mengikuti seleksi di lapangan Petanque FIK UNM, dari seleksi tersebut Ia Bersama timnya dinyatakan lolos dan selanjutnya mengikuti seleksi nasional di Surabaya. Tidak sampai di situ, mereka melanjutkan perjuangannya dengan melawan perwakilan dari Jawa Tengah dengan sistem yang menang banyak dan didapatkan tim mereka menang atas Jawa
Tengah. “Karena nomor Triple bukan cuma dari Sulawesi Selatan, akan tetapi ada juga perwakilan dari Jawa tengah, Maka dari itu, Sul-Sel melawan Jawa tengah, dengan sistem yang menang banyak, maka dia yang lolos seleksi, Karena seleksi di lakukan 3 kali permainan/pertandingan, dan Sulawesi Selatan unggul 2 kali kemenangan,” tutur Mahasiswa asal Enrekang tersebut. Mahasiswa asal Enrekang ini menyebutkan tidak menjumpai kesulitan yang besar saat latihan. Latihan yang Ia jalani untuk persiapan Sea Games ini yaitu program latihan shooting dan Pointing untuk meningkatkan kualitas bermain. Walau jadwal keberangkatan
belum jelas, namun Ia tetap semangat menjalani latihan, meski tetap saja Ia berharap kepastian untuk keberangkatannya bisa segera jelas. “Kita sebagai Atlet hanya latihan dan memperbaiki kualitas bermain, karena kejuaraan masih banyak di waktu yang akan dating. Kami sangat berharap kejelasan dari pusat yaitu bisa berangkat,” ungkapnya. Ia berharap dirinya mampu terus mengukir prestasi di cabang olahraga kesukaanya ini sehingga dengan begitu olahraga ini bisa membuatnya sukses sebagai atlet. Usianya yang masih muda menjadi kesempatan besarnya untuk terus mengukir prestasi. (ari)
BIODATA Nama Lengkap : Asril Yanto TTL : Dea Kaju Enrekang, 17 Juli 1999 Riwayat Prestasi : 1. Lolos seleksi Nasional Sea games Vietnam 2022 2. Lolos Porprov Sinjai Bulukumba 3. Juara 1 SINGEL MAN Pada kejuaraan PPC se-Sulawesi 4. Juara 1 TRIPLE MAN Kejurda 5. Juara 2 DOUBLE MiX pada kejuaraan BKMF PETANQUE FIK UNM se-Sulselbar 6. Juara 3 Shooting Freestyle UNNES 2021 7. Juara 3 Shooting Standar Putra UNNES 2021 www.profesi-unm.com