Skip to main content

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Page 1

SIASAT MESUM PREDATOR SEKSUAL Hal. 4 Berubah Digital atau Betah di Jalan Hal. 10 Predator Seksual Kembali Merebak di Kampus Hal. 15 Bubarkan Panitia Mubes LK, Birokrat Ikut Gagal Jadi Eksekutor Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021


2 PERSEPSI

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

EDITORIAL

Kisah Klasik Tak Kunjung Selesai Kasus pelecehan seksual yang terus terjadi kepada mahasiswa di kampus orange sudah seperti menjadi rahasia umum dan terus terjadi dari tahun ke tahun. Tiap tahunnya terus ada kisah yang terkuak, namun pihak birokrat tak kunjung menunjukkan sikap serius dalam mengawal kasus. Ini bukan masalah sepeleh, sehingga harus mendapat tindak serius dari kampus. Pasalnya, jika kampus belum mengambil langkah serius terkait kasus ini korban akan terus bertambah dan pelaku tidak akan jerah melancarkan aksinya. Dikeluarkannya Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi seharusnya memberi lampu hijau bagi pimpinan kampus untuk segera mengambil langkah serius. Birokrat sudah harus segera menyusun strategi. Sayangnya, sampai hari ini kasus tersebut belum menemui titik terang. Kelihatannya, kasus ini senggaja dilupakan, bahkan ditutupi. Birokrat seperti tak berniat untuk menyelidiki tentang kasus ini. Mulai dari tingkat program studi, fakultas, hingga universitas, tampak dari digamangkannya beberapa kasus viral di FBS pada akhir September lalu. Mereka mengeluarkan alibi bahwa tak berhak memutuskan sanksi berat, sehingga sanksi yang diberikan hanya sanksi ringan. Terkait kasus yang menimpa mahasiswa S1 FBS UNM pimpinan hanya mampu memberikan sanksi kepada dosen yang juga pelaku yaitu tidak lagi diberikan mahasiswa untuk di bimbing dan tidak lagi mengajar di S1. Peraturan Menteri (Permen) Nomor 30 Tahun 2021 tentang kekerasan seksual yang baru saja dikeluarkan pemerintah belum jelas tindak lanjutnya dari birokrat kampus UNM. Padahal jelas dalam per-

aturan itu memberikan kebabasan kepada kampus mengambil langkah serius dalam menangani kasus ini. Diantaranya pemerintah menekankan untuk membentuk satgas pengawal isu kekerasan seksual, memberikan sanksi kepada pelaku kekerasan seksual, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat kampus agar ambil andil dalam kasus ini. Apa lagi pemerintah sangat serius dalam mengeluarkan aturan ini, tak hanya sekadar mengeluarkan aturan terkait pencegahan namun juga memuat penanganan hingga pemulihan korban. Terlepas dari pro-kontra yang terjadi. Namun, aturan ini sudah sangat gamblang menjadi jawaban dari permasalahan kekerasan seksual. Mendikbud Nadiem Makarim menegaskan bagi kampus yang tidak serius dalam mengawal isu ini maka pemerintah akan memberikan sanksi berat. UNM harusnya bercermin pada beberapa kampus yang sudah berani mengambil langkah serius terkait kasus kekerasan seksual. Contoh jelasnya di Universitas Indonesia (UI) telah lama mengambil tindak serius terkait kekasan seksual, nampak dari UI memiliki SOP Penangan Kekerasan Seksual. Tidak boleh lagi ada pembiaran terhadap kasus yang terjadi, kita tidak boleh menutup mata dan menyembunyikan kasus. Semua pihak harus mendukung penuh agar kasus menyedihkan ini tidak terulang lagi. Aspirasi dan suara civitas mesti ditampung dan di dengar dengan baik dan seksama. Semua elemen kampus mulai dari mahasiswa, dosen hingga pimpinan wajib ambil andil dalam hal ini. Semua orang wajib mawas diri untuk meredam kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Kita wajib waspada karena kejahatan bisa terjadi kapan dan di mana saja serta dapat dilakukan dan terjadi kepada siapapun. (*)

Keluarga Besar LPM Profesi UNM Mengucapkan

Selamat Atas Gelar yang Diraih Andi Dela Irmawati, S.Pd Manajer Daring Periode 2020

Muh. Nur Taufik, S.Pd Sekretaris Umum 2019

Pelindung: Prof. Dr. Ir. H. Husain Syam, M.TP. IPU. Dewan Pembina: Hazairin Sitepu, Akbar Faizal, Syahrir Muhammad, Asia Ramli Prapanca, Ammas DR, Anshari, Muhiddin, Mukhramal Azis, Uslimin, Fachruddin Palapa, Abdul Wahid Nara, Husain Rasyid, Syamsuddin Yoko, Rusli Siri, Makmur Abdullah, Faisal Palapa, Rustan Bedmant, Abdul Rahman, Abdul Salam Malik, Supriadi, Mirwan, Sultan, Usman. Pemimpin Umum: Fikri Rahmat Utama, Sekretaris Umum: Dewan Ghiyats Yan Galistan, Bendahara Umum: Elfira, Pemimpin Redaksi: Muhammad Fadhil Aqilah B, Manajer Daring: Annisa Puteri Iriani, Broadcasting Manager: Anita Nur Fadhilah Halid, Pimpinan Penelitian dan Pengembangan: Ema Humaera. Tabloid Mahasiswa PROFESI diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar STT : 1635/ SK/Ditjen PPG/1990. Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Fikri Rahmat Utama, Pemimpin Redaksi: Kristiani Tandi Rani, Redaktur: Annisa Asy Syam. A, Reporter: Murni, Agatoni Buttang, Mustika Fitri, Nur Azisa, Sumaya Nursyahidah, Fotografer dan Layouter/Desainer Grafis: Fahmi Wardani, Iklan dan Kerjasama: Muh. Ilham Raihan Redaksi LPM Profesi UNM: Jl. Tidung 7 Setapak 4 No. 190 Kelurahan Mappala, Kecamatan Rappocini, Makassar Telp. (0411) 8914674, ­E-mail: profesi.online@gmail.com, Website: www.profesi-unm.com, Youtube: Profesi TV

Desain Sampul & Tata Letak: Ilham

Dalam proses peliputan, wartawan PROFESI dibekali tanda pengenal atau surat tugas dan dilarang meminta atau menerima pemberian dalam bentuk apapun. Urai data, ungkap fakta, saji berita

www.profesi-unm.com


3 LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Pakai Baju Bodo di Kemendikbudristek Dua mahasiswa Universitas Negeri Makassar diundang mengikuti langsung Upacara Sumpah Pemuda, di Kompleks Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud Ristek), Kamis (28/10).

M

FOTO: IST

ereka adalah Khafifa Darwis dari Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Umrah asal Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Khafifa Darwis adalah Duta Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) UNM, sementara Umrah merupakan mahasiswa program P e r t u k a r a n Mahasiswa Merdeka dalam Negeri. Upacara diikuti mahasiswa dari 34 provinsi, dengan DELEGASI - Umrah (kiri) dan Khafifa Darwis (kanan), dua menggunakan baju adat mahasiswa UNM yang tampil di Kemendikburistek (28/10). dari daerah masing-

masing. Pada kesempatan itu, Khafifa dan Umrah menggunakan pakaian adat Sulawesi Selatan, yakni Baju Bodo. Sebanyak 170 mahasiswa diundang secara khusus oleh Kemendikbud Ristek. Mereka merupakan hasil seleksi oleh Dirjen Diktiristek, dengan meminta mahasiswa program MBKM membuat video testimoni. "Saya terlebih dahulu mengirimkan video testimoni saya dalam program kampus mengajar perintis. Video saya terpilih dalam seleksi oleh Dikti, jadi saya diutus untuk menjadi perwakilan universitas ke Jakarta," kata Fifa, sapaan Khafifa Darwis saat dihubungi. Selain mengikuti upacara, peserta juga berkesempatan berdiskusi terbatas bersama Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim. Juga mengikuti Lokakarya Kreatif Pembuatan Poster Demonstrasi Positif terkait Kampus Merdeka. (ata)

BK FIP Gagas Peer Collaborators PRODI Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) bentuk Peer Collaborators. Komunitas ini berdiri di bawah naungan Laboratorium FIP UNM Peer Collaborator atau bermakna teman sebaya ini adalah organisasi yang membantu mahasiswa mengembangkan diri dan mengatasi masalah baik pribadi, sosial, akademik, maupun karir. Minhad Rahmaniyah, Ketua Peer collaborators mengatakan,

komunitas ini dibentuk Juli 2021. "Komunitas ini berawal dari kepanitiaan webinar dan workshop," katanya. Saat komunitas ini diresmikan mulai diterima baik beberapa pihak. Kemudian pendaftaran anggota baru dibuka bagi angkatan 2021. "Peer Collaborators pun membuka pendaftaran anggota baru melalui tahap pendaftaran dan dan wawancara," jelasnya, Mahasiswa angkatan 2018

ini mengharapkan komunitas ini berkembang dengan baik sebagai komunitas yang peduli dengan sesama. "Semoga Peer Collaborators berkembang dengan baik sebagai komunitas yang peduli dengan sesama teman sebaya di kampus," harapnya. Saat ini, Peer Collaborator memiliki total 29 anggota yang terdiri dari angkatan 2018 sampai 2020. (pr7)

MOZAIK SNAPSHOT

FOTO: PROFESI/AHMAD HUSEN

PECAH - Dinding kaca Gedung Science Square (SS) FMIPA, rusak usai dihantam angin kencang, Kamis (4/11). Sudah dua kali gedung yang diresmikan pada April 2021 ini, rusak karena angin kencang.

Pamer Hasil Riset LEMBAGA Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Makassar (UNM) menggelar Seminar Nasional Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat. Kegiatan ini digelar secara blended melalui Zoom Meeting, Sabtu (30/10). Seminar yang bertema “Penguatan Riset, Inovasi, Kreativitas Peneliti dan Pengabdian di Era Pandemi Covid-19” ini dibuka oleh Rektor UNM, Husain Syam dan diikuti sekitar 352 peserta dari civitas akademika UNM. Rektor UNM, Husain Syam mengatakan seluruh aktivitas pengabdian kepada masyarakat tidak hanya memberikan teori dan materi, namun lebih dari itu. “Kita berharap bukan sekadar memberi laporan, tapi hasil penelitian ini bisa diimplementasikan,” ujarnya. Husain juga berharap dari seminar hasil ini bisa menjadi koreksi dari penelitian yang dilakukan sehingga bisa sempurna dalam menyusun proposal akhir.

“Ini agar semua peneliti dan pengabdi mengikuti proses ini secara baik dan seksama sehingga mendapatkan pengetahuan dan gagasan baru," harapnya. Sementara itu, Ketua LP2M UNM, Bakhrani A. Rauf mengatakan seminar nasional ini akan dilakukan secara berkesinambungan setiap tahunnya. “Pesertanya tidak hanya berasal dari internal UNM, tetapi juga dari perguruan tinggi di dalam dan luar Sulawesi Selatan ikut berpartisipasi,” ungkapnya. Apalagi saat ini, UNM urutan ketiga terbanyak pendanaan penelitian dana BOPTN BLU dan masuk 10 besar dari semua PT penerima hibah pengabdian kepada masyarakat tahun 2021. “Saat ini sudah hampir semua kabupaten di Sulsel dan sebagian di Sulbar sudah ditempati penerapan program pengabdian kepada masyarakat secara terpadu sehingga UNM menghasilkan desa dan sekolah binaan dari tiap kabupaten,” jelasnya. (ata)

Semangat Mengabdi di Lokasi Rawan Bencana *Agatoni Buttang

MENGAJAR - Muthmainna Ma'ruf saat mengajar anak-anak korban bencana alam gempa bumi di Sulbar.

FOTO: IST

Namanya Muthmainna Ma'ruf, di saat temantemannya masih terbaring di tempat tidur, mahasiswa 21 tahun ini memilih bangun dan bersiap ke lokasi pengabdiannya yang berada di daerah rawan bencana. Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi, Jumat (5/11). Mutmainnah Ma'ruf (21) mengambil jaket biru di kamarnya. Dengan langkah terburu-buru, mahasiswa FBS ini menuju ke sebuah tenda berukuran 10x10 meter persegi. Mutmainnah tak sedang ingin camping, tapi dia ingin mengajar siswa SMP korban www.profesi-unm.com

bencana gempa bumi, di Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Mahasiswa angkatan 2018 ini sejak empat bulan terakhir memang tengah mengabdikan diri sebagai pengajar di SMPN 3 Malunda. Ia mengikuti program Kampus Mengajar gagasan Kemendikbud, di wilayah yang sempat tersisolir

pasca gempa meluluhlantakkan Sulbar Juni lalu. Di tenda darurat itu, dara kelahiran Majene mengajar 28 siswa, 15 laki-laki, sisanya perempuan. Hampir setiap hari, Ia mengabdikan diri sebagai pengajar. "Kecuali hari Kamis, masyarakat masih trauma beraktivitas, karena dulu gempa terjadi hari Kamis," cerita mahasiswa PBSI itu ke pada Jurnalis Profesi, saat diwawancara baru-baru ini. Siswa SMPN 3 Malunda, hingga kini memang masih terpaksa sekolah di tenda darurat. Bangunan sekolah mereka luluh lantah digoncang gempa berkekuatan 6,5 S.R. Belum ada bangunan baru, sementara bangunan lama tak dapat digunakan lagi. Siswa dan para pengajar pun masih takut beraktivitas di gedung sekolah. Tenda darurat menjadi pilihan terbaik mereka saat ini. Gadis asal Majene mengaku, empati dan kepekaan sosial dalam dirinya tergerak, tatkala melihat semangat para siswa yang ingin terus belajar, meski dihantui bayang-bayang musibah gempa bumi. Semangat belajar siswa menjadi motivasi Mutmainnah

untuk mengajar, meski diakuinya, trauma itu belum hilang, rasa waswas masih kerap muncul di kala ia mengajar. Belum lagi, kondisi di tenda darurat tak membuatnya nyaman mengajar. Tak ada aliran listrik, papan tulis tak sesuai standar, dan berbagai kendala lainnya. Hanya semangat siswa yang menguatkannya. "Selama mengajar di tenda yang saya rasakan sangat gerah, kurang bisa berkonsentrasi pada saat mengajar ditambah lagi papan tulis yang kecil, tidak ada aliran listrik membuat saya kesulitan dalam mengajar," katanya. Lokasi mengajar gadis Majene ini berjarak sekitar 100 kilometer dari pusat kota. Akses jalan dari poskonya menuju lokasi mengajar pun tak mudah. Ia harus melewati jalan rusak parah. Bukannya mundur, itu malah memacu semangat nya untuk mengabdi. "Saya juga melihat situasi pendidikan selama pandemi makanya tergerak untuk mendaftarkan diri," ujarnya iba. Diamanahkan pemerintah untuk mengabdi di daerah rawan bencana dan tertinggal, Ia menyadari

itu merupakan pengabdian mulia. Keterbatasan dalam mengajar menjadi inovasi dirinya demi kemajuan pendidikan. "Saya mengerti mengapa saya harus ditempatkan di sekolah ini, adek-adek di sana tidak hanya terkena dampak pandemi Covid-19 tetapi mereka juga terkena dampak gempa sehingga mereka sangat membutuhkan kami sebagai perpanjangan tangan atas ketertinggalan di sekolah ini," tuturnya. Tekad gadis aktivis FBS ini pun semakin bulat mengikuti program Kampus Mengajar. Ia ingin mencari pengalaman baru mengabdi bersama rekan mahasiswa dari kampus berbeda. Meskipun tugas mengajar berat, namun Ia tetap optimis membimbing muridnya. Baginya, siswa di tanah bencana juga berhak mendapatkan pembelajaran layak agar dapat berguna pada jenjang selanjutnya. "Walaupun tugas mengajar sangatlah berat tapi semoga kami selalu bisa menemukan bakat-bakat yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa," harapnya. (*) Urai data, ungkap fakta, saji berita


4 REPORTASE UTAMA

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Berubah Digital atau Betah di Jalan

DIGITAL VS KONVENSIONAL - Aksi media sosial twitter dan aksi demonstrasi di jalan.

Era demokrasi digital tampaknya semakin mendesak para aktivis mahasiswa untuk piawai menggalang aksi protes di ranah virtual. Masihkah mahasiswa UNM nyaman di jalanan? Fenomena propaganda media sosial berhasil menyedot perhatian mahasiswa. Apalagi masa pandemi yang menyerang sejak awal 2020 hingga saat ini menjadikan media sosial sebagai arah baru gerakan. Hasilnya pun tak main-main, banyak kasus mendobrak pikiran nitizen akibat viral di media sosial. Kasus itu pun menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat tak seperti aksi jalanan yang kadang kala malah dicaci-maki oleh masyarakat. Tagar #Mahasiswabergerak merajai trending topik di twitter. Sejumlah video yang merekam semangat mahasiswa menolak pengesahan RUU Cipta Kerja berseliweran tahun lalu. Tagar berhasil memicu kerumunan massa di media sosial. Pakar analisa media sosial dan digital dari Universitas Islam Indonesia (UII) Ismail Fahmi mengatakan trigger viralnya penolakan RKUHP di twitter itu karena aksi mahasiswa. Itu sangat signifikan dan trennya masih naik di media sosial (kompas. com/20/09/19). Paling menarik, tatkala akunakun perlawanan mahasiswa, seperti BEM juga semakin banyak bermunculan, bak aji mumpung beberapa di antaranya mampu menggaet massa dan perhatian publik. Sebut saja aksi meme Urai data, ungkap fakta, saji berita

BEM Universitas Indonesia (UI) yang menggelari Presiden Joko Widodo sebagai king of lip service karena sering melanggar janji. Hal tersebut sontak menjadi perhatian publik, mahasiswa, masyarakat hingga politisi ramai-ramai mengomentari meme tersebut. Presiden Joko Widodo pun ikut merespons meme itu. Ini menandakan gerakan media sosial sangat terasa akibatnya ke pihak yang dikritik berbeda aksi jalanan yang bahkan seringkali tidak sampai di telinga pihak yang dikritik. Ada juga aksi jalanan yang dilakukan bersamaan dengan propaganda media sosial, yaitu aksi membentangkan spanduk yang dilakukan BEM UNS ketika sang presiden mengunjungi kota kelahirannya. Aksi ini bisa saja tak akan jadi perhatian publik bila tidak diviralkan lewat medsos. Kritik mahasiswa di ranah digital, juga pernah dilakukan oleh BEM Universitas Udaya (Unud) yang tidak kalah ampuh. Para aktivis itu mempola kritikannya melalui viralnya meme "The Guardian of Oligarch" yang diunggah di akun Instagram @bem_udayana. meme itu mengkritik Jokowi yang kerap merilis kebijakan pro kepentingan kelompok tertentu. Terbaru, trendingnya polisi smackdown mahasiswa pendemo hingga kejangkejang pada 13 Oktober 2021. Tagar #polisisesuaiprosedur membubarkan aksi mahasiswa dengan cara mahasiswa di banting sampai kejang-kejang merajai perbincangan di dunia maya. Lantas bagaimana mahasiswa UNM mendayagunakan digital

sebagai wadah perlawanan? Sepanjang pantauan tim Profesi, tampaknya LK UNM masih setia dengan gerakan romantisme klasik dengan memenuhi jalanan dan membakar ban sebagai bentuk protes atas kebijakan yang dinilai tidak pro-rakyat, walau ikut aktif di media sosial namun tak segencar mahasiswa di tempat lain. Merespons hal itu, pucuk pimpinan mahasiswa FMIPA, Rinaldi beranggapan aksi jalanan bukan langkah yang sia-sia karena mempunyai tujuan yang jelas. “Dalam hal efektivitasnya aksi baginya jalan akhir dari pergerakan karena didahului dengan dialog ke pihak yang ditujukan,” pungkasnya. Presiden BEM FMIPA itu, mengatakan aksi di jalanan sebagai dampak dari tidak ketemunya tuntutan dengan birokrasi. Aksi menjadi jalur terakhir ketika dialog tak mampu memberi solusi. . “Namun demikian beberapa pihak mengaku lebih setuju gerakan media sosial harus dibangun lebih gencar dibanding memilih aksi jalanan. Hal ini dikarenakan saat ini aksi media sosial dianggap lebih membuahkan hasil dibanding aksi jalanan,” tandas mahasiswa Fisika ini. Senada dengan itu, Ketua Umum Himpunan Administrasi Negara, Wawan Setiawan membeberkan bahwa aksi lapangan masih lebih efektif dibanding propaganda media sosial. Alasannya, karena mendapat balasan secara langsung. “Berbeda dengan media sosial yang tujuan utamanya hanya mempublikasikan masalah. Minim respon (aksi media sosial) dari pihak pihak yang jadi sasaran,” tegasnya

Mahasiswa eksponen 2019 ini berdalih, aksi media sosial baginya hanyala pendukung aksi jalanan terutama dalam situasi saat ini yang tidak memungkinkan mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Lebih lanjut, Presiden BEM FBS, Amastasha mengatakan lebih menggunakan propaganda media digital, karena selain mengenalkan ke masyarakat terkait isu yang diangkat juga dapat menggerakkan massa yang lebih banyak. “Propaganda itu bertujuan untuk memengaruhi atau meyakinkan halayak orang untuk mengikuti suata sikap atau pendapat. Propaganda sangat mendukung sebuah gerakan untuk

memobilisasi massa,” jelasnya. Begitupun dengan Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan (WD 3) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Syukur Saud. Ia beranggapan aktivisme digital memiliki pengaruh yang sangat besar, namun harus tetap kritikan yang dilakukan relevan atau sesuai dengan data yang ada. “Dari sisi pengaruh opini massa, nampak aktivisme daring jauh memiliki efek yang luar biasa. Tapi gerakan seperti itu belum tentu bisa merubah kondisi yg dipersoalkan dan juga perlu hatihati juga karena terkadang kritikan yang dilontarkan terkadang tidak substantif dan miskin data,” tuturnya. (tim)

KATA MEREKA "Saat ini aksi media sosial dianggap lebih membuahkan hasil dibanding aksi jalanan," Rinaldi Presiden BEM FMIPA UNM Periode 2021-2022

"Harus diakui media sosial merupakan sesuatu yang sangat hebat. Satu ketikan bisa viral di mana-mana," Sukardi Weda Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni

www.profesi-unm.com


5 REPORTASE UTAMA

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

H

Birokrat Sindir Aktivis Gagap Digital

al ini diutarakan Wakil Dekan Bidang Kemahaiswaann (WD III) FBS Azis. Aksi lapangan yang dilakukan saat ini menurutnya sudah tidak efektif karena bukan lagi zaman mahasiswa harus turun ke jalan. Menurutnya sekarang harus melakukan aksi atau kritik lewat media yang didasari data bukan opini. “Data harus akurat, jika tidak akurat Itu namanya opini,’ Ia juga menyarankan aksi yang dilakukan lebih baik lewat media massa ataupun buku yang ditulis berdasarkan riset terhadap masalah yang terjadi. Karena jangan sampai ada hal yang menyimpang, bila terjadi konsekuensi pasti akan didapatkan. “Sudah bukan lagi waktunya. Saatnya memuat tulisan dalam buku yang didasarkan riset,” jelasnya. Begitupun dengan Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan (WD III) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Syukur Saud. Ia beranggapan aktivisme digital memang merupakan pilihan mahasiswa zaman sekarang. Karena mampu menggiring opini massa yang sangat luar biasa. “Tapi memang gerakan seperti itu belum tentu bisa merubah kondisi yang dipersoalkan,” katanya. Ia pun mengatakan memang ada kalanya sesuatu yang tidak

“Sudah bukan lagi waktunya. Saatnya memuat tulisan dalam buku yang didasarkan riset,” jelasnya. Azis WD III FBS UNM sesuai harus dikritik. Namun tetap harus berdasarkan data yang kuat agar bisa efektif kritik tersebut. “Perlu hati-hati juga karena terkadang kritikan yang dilontarkan terkadang tidak substantif dan miskin data,” katanya. WD III FE Sahade mengatakan kita tidak bisa menutup mata bahwa gerakan jalanan yang beberapa tahun ini terjadi, merupakan hasil dari propaganda media sosial. Mahasiswa yang berada di kampung tiba-tiba kumpul disatu titik karena

mendapatkan informasi dari media sosial. “Dampaknya itu sosial media itu sangat besar. Tidak perlu lagi ketemu untuk menyampaikan itu, tidak perlu lagi ketemu dalam ruang-ruang terbatas, cukup dengan ketikan tangan saja,” Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III) Sukardi Weda mengatakan aktivisme media sosial memang sangat memiliki pengaruh besar. Satu kali saja ketikan bisa sampai ke penjuru dunia. “Memang pengaruhnya sangat besar kita sudah rasa dampaknya,” jelasnya. Berbeda dengan itu, Presiden BEM FBS Amastasha mengklaim aktivis saat ini tidak hanya melakukan aksi jalanan melulu. Propaganda media sosial juga terus dilakukan untuk mendukung aktivis jalanan. "Keduanya saling melengkapi, ibarat sayur dan garam," katanya. (tim) Tim Reportase Utama Koordinator : Mustika Fitri Anggota : Agatoni Buttang Kristiani Tandi Rani Fikri Rahmat

Perbaiki Citra Buruk Aktivis Jalanan GERAKAN jalanan yang hingga kini masih berjalan dianggap menjadi citra buruk mahasiswa ke masyarakat. Tutup jalan yang berakibat kemacetan hanya merugikan sebagian pihak khususnya pengguna jalan. Maka aktivis digital dianggap salah satu solusi terbaik memperbaiki stigma negatif yang saat ini diterima mahasiswa. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III) Sukardi Weda mengatakan aksi jalanan merupakan hak dalam berdemokrasi namun memang bisa menimbulkan dampak buruk seperti kemacetan dan bahkan bisa melakukan kerusakan. “Saya tidak masalah aksi di jalanan selama tidak merusak,” katanya. Sehingga aksi digital memang bisa menjadi pilihan apalagi memiliki jangkauan yang luas. Bisa diketahui oleh orang diberbagai penjuru dunia. “Kalau di-share di medsos bisa langsung ditahu banyak orang,” jelasnya.

BEM Universitas Udaya (Unud) mempola kritikannya melalui viralnya meme " The Guardian of Oligarch" yang diunggah di akun Instagram

BEM UI "Jokowi: The King of Lip Service"

Meme itu mengkritik Jokowi yang kerap merilis kebijakan pro kepentingan kelompok tertentu.

BEM UI memublikasikan unggahan berjudul "Jokowi: The King of Lip Service" di akun media sosial mereka, Sabtu (26/6/2021).

BEM Unud

Dalam unggahan tersebut, BEM UI mengkritik sejumlah janji dan keputusan Jokowi, mulai dari rindu didemo, revisi UU ITE, penguatan KPK, hingga rentetan janji lainnya.

AKSI MEDIA SOSIAL SOS IAL

Citra buruk tersebut juga diakui Presiden BEM FEB Gery Febian. Aksi jalanan memang memunculkan pikiran buruk ke masyarakat seperti macet, polusi, hingga mengganggu pengendara namun menurutnya itu konsekuensi gerakan. Kalau pun aksi jalanan tidak dilakukan maka LK tidak lagi memiliki nilai tambah. “Sekarang perlu kita ketahui di tataran media, ketika ribut, dan bakar ban kan itu cepat meliputnya. Otomatis bagaimana kita’ bikin aksi demonstrasi itu menarik,” katanya. Namun Ia tetap melakukan propaganda media yang menjadi pendukung dari aksi lapangan. Karena keduanya harus berjalan beriringan, tidak bisa hanya dilakukan disatu tempat saja. “Jadi kalau saya menganggap, ini sebenarnya, jika kita terus komitmen dan konsisten dalam menyadarkan itu (isu yang diangkat) agar kita bisa menarik simpatinya masyarakat,” katanya. (tim)

#polisisesuaiprosedur BEM UGM Kritik Jokowi Presiden Orde Paling Baru di hari ulang tahunnya pada 21 Juni lalu.

BEM UGM

Mereka turut mengkritik pemerintahan Jokowi dengan mengunggah poster di akun instagram resminya. "Sugeng ambal warsa (selamat ulang tahun) Bapak Presiden Orde (Paling) baru." tulis akun instagram @bemkm_ugm, yang dikutip pada Senin (28/6).

TERBARU, trendingnya polisi smackdown mahasiswa pendemo hingga kejang-kejang pada 13 Oktober 2021. Tagar polisisesuaiprosedur membubarkan aksi mahasiswa dengan cara mahasiswa di banting sampai kejang-kejang merajai perbincangan di dunia maya. *Sumber gambar: akun medsos BEM UI, BEM Unud, BEM UGM, tagar twitter.

www.profesi-unm.com

Urai data, ungkap fakta, saji berita


6

OPINI

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Menjadi Kampus Fasis

*Muh. Syarif, Mahasiswa PKh UNM

Saya pikir, kebebasan akademik menjadi masalah pada pendidikan era kenormalan baru. Kampus semakin mengarah ke fasisme sehingga banyak kesemrawutan yang kita lihat, jangankan di dalam, di luarnya pun sangat kacau. Kebijakan kampus kini malah tidak memihak ke mahasiswa dan organisasi kampus contohnya seperti mahasiswa baru (maba) tidak bisa ikut kegiatan organisasi khususnya himpunan sebelum akhir semester dua, pelarangan aktivitas malam, akses yang tak menunjang untuk pembelajaran, pembungkaman para mahasiswa yang berprestasi dalam mengembangkan kesadaran kritisnya, dan masih banyak lagi. Kebebasan akademik dan organisasi semakin diberangus dengan dalih akademik dan otonomi kampus. Padahal otonomi kampus hanyalah kebijakan yang membantu kampus membuat tata kelola menjadi lebih

K

abar baik terdengar setelah Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menerbitkan Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi pada 28 Oktober 2021 kemarin. Meski demikian, persoalan Kekerasan Seksual di kampus-kampus bukan berarti akan lenyap. Hal ini dikarenakan belum semua perguruan tinggi mempunyai modul atau kebijakan khusus dalam melihat dan menyikapi persoalan ini. Termasuk Universitas Negeri Makassar (UNM) yang telah mencapai akreditasi A yang hingga saat ini belum memiliki regulasi khusus dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di lingkungan kampus. Sementara salah satu syarat memperoleh akreditasi A bagi Perguruan Tinggi menurut Badan Akreditasi Perguruan Tinggi Nomor 3 Tahun 2019 dimana perguruan tinggi memiliki mutu proses yang meliputi proses pembelajaran dan suasana akademik yang baik dan aman bagi mahasiswanya. Belum adanya peraturan khusus dalam menjamin rasa aman tersebut, membuat kita bertanya-tanya, sejauh mana kredibilitas pencapaian akreditasi A yang selama ini diraih oleh UNM. Apakah capaian akreditasi hanya sekedar karena terpenuhinya persyaratan administrasi semata, namun cacat secara fakta lapangan. UNM dengan Akreditasi A seharusnya menjamin rasa aman mahasiswanya dari Kekerasan Seksual, kapanpun dan apapun bentuknya. Jaminan rasa aman dari kekerasan Urai data, ungkap fakta, saji berita

baik bukan menekan kebebasan akademik dan organisasi. Untuk melihat diskursus dalam konteks pendidikan tinggi, maka konsep pendidikan egaliter dan marjinal seperti dari Freire (1972) (pendidikan pembebasan), Gandhi (1970) (pendidikan kedamaian), atau yang digambarkan Tooley (2009) (pendidikan rakyat), seyogyanya ditempatkan dalam perspektif alternatif. Pendidikan memang seperti itu idealnya, yaitu untuk mengenal dominasi kekuasaan dan menjadikan manusia sebagai subjek yang merdeka. Namun, realitas yang harus diterima seringkali modus pendidikan sebenarnya dibentuk berdasarkan kepentingan- kepentingan terkait. Kampus fasisme semakin jelas munculnya akhir-akhir ini, terutama pada pelarangan mengikuti kegiatan organisasi. Kebijakan ini hanya didasari kepentingan semata karena bisa dilihat kebijakan tersebut dikeluarkan hanya melalui broadcast atau chat yang jelas tidak memiliki kekuatan hukum sama sekali. Bila berbicara mengenai kebebasan berorganisasi sudah sangat tertera jelas di aturan UU No. 12 tahun 2012 tentang perguruan tinggi tertulis pada pasal 77 perguruan tinggi harus menyediakan sarana dan prasarana serta dana untuk mendukung kegiatan organisasi. Dan Peraturan Kemahasiswaan UNM BAB III tentang Tugas Pokok, dan Wewenang Organisasi

Kemahasiswaan pasal 9 ayat (2) HMJ/HMPS mempunyai fungsi sebagai wahana pengembangan kreativitas mahasiswa dalam kegiatan ekstrakurikuler dan ayat (3) HMJ/HMPS mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang bersifat penalaran dan keilmuan. Terdapat satu variabel yang sering di dikotomikan birokrat kampus, bahkan bagi masyarakat kampus itu sendiri, yakni pilihan mahasiswa dalam menentukan warna kampus (organisasi atau kuliah). Berorganisasi terkadang dianggap sebagai aktivitas yang terpisah dari agenda akademik. Misalnya saja di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), pimpinan fakultas melarang maba dilibatkan di kegiatan organisasi dengan alasan maba memiliki kebebasan menentukan jati diri dan agar lebih fokus kuliah di semester satu dan dua. Padahal pengaderan dilakukan setiap libur semester sehingga fokus kuliah tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mengikuti pengaderan karena dilakukan saat tidak ada aktivitas perkuliahan. Secara terminologis, ihwal keorganisasian merupakan bagian dari seluruh kepentingan mencerdaskan warga akademik. Organisasi kader sebenarnya memiliki pola pengkaderan yang dapat dijadikan alternatif dalam aktivitas mendidik. Maka menjadi sebuah pertimbangan ketika aktivitas

berorganisasi dikatakan menghambat perkuliahan. Organisasi merupakan salah satu titik tolak pembelajaran. Faktor ini terjadi karena organisasi penuh dengan dialektika dan fenomena yang mendewasakan, baik pikiran maupun perbuatan. Sebagaimana intelegensi yang harus di temani kecerdasan moral dan sosial. Mengapa lembaga kemahasiswaan menginginkan maba ikut LDKM? Karena hal itu adalah salah satu syarat mutlak melanjutkan roda kepengurusan kedepannya. Adapun perkataan rektor pada PKKMB lalu "Organisasi disiapkan untuk anda yang ingin berproses menjadi pribadi yang hebat, baik dalam intelektual organisasi maupun minat dan bakat," artinya tidak ada batasan mereka melibatkan diri bergabung di organisasi, karena indikator mahasiswa yang berprestasi tidak hanya di ukur dari perkuliahan, tetapi juga bagaimana kepekaan sosial dan aktualisasi diri melalui organisasi. Secara aturan, himpunan memiliki status sebagai organisasi semi independen. Sehingga walaupum memiliki apa yang sudah diputuskan di rapat kerja tak bnisa serta merta digugat pihak lain di luar himpunan termasuk pimpinan jurusan dan fakultas. Mereka hanya berhak mengetahui hasil dari rapat kerja dan laporan pertanggungjawaban. Dari sekian hal yang dilakukan

bisa dikatakan ini salah satu cara penguasa membungkam pola pikir kritis mahasiswa hanya dengan dalih karena berkuasa. Pimpinan fakultas pernah berkata bahwa idealisme yang murni hanya ada dalam jiwajiwa mahasiswa. Namun cara yang saat ini dilakukan adalah mencoba menghilangkan idealisme kritis mahasiswa tersebut. Membungkam organisasi yang menjunjung tinggi budaya intelektual, kesetaraan, serta menggali potensi diri sama saja seperti era orde baru. Kita malah masuk ke fasisme dan konservatisme, dimana wacana kesadaran, kritikan, kesetaraan, keadilan, serta kebebasan berekspresi menjadi kerdil. Hak berkumpul dan beroganisasi menjadi utopia akibat kebijakan kampus. Seharusnya kampus mendukung pengetahuan, daya kritis, dan kebebasan mahasiswa bukan sebaliknya. LDKM merupakan ajang membentuk pemimpin, bila dilarang maka tidak bisa lagi melahirkan jiwa pemimpin kritis ke mahasiswa. Bila paradigma ini terus langgeng, kampus mewah nan megah akan berotak fasis, maka tidak heran bila lulusan kampus menjadi Hitler-Hitler Muda, atau bermimpi jadi Pak Harto, fasistik ala nusantara. Seyogianya hal tersebut demikian ditinggalkan, untuk menyongsong revolusi four poin zero (4.0) yang selalu dikicaukan dengan nyaring oleh pemerintah.

UNM Bukan Kampus Aman? seksual secara tegas dijelaskan pada Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021. Misalnya pasal 2 menyebutkan bahwa peraturan menteri ditujukan untuk menumbuhkan kehidupan kampus yang manusiawi, bermartabat, setara, inklusif, kolaboratif serta tanpa kekerasan di antara mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan warga kampus. Kemudian pada pasal 3 dijelaskan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual dilaksanakan salah satunya dengan prinsip jaminan ketidakberulangan. Jika mencermati dua pasal diatas, maka UNM dapat dinilai sebagai kampus yang tidak manusiawi, tidak bermartabat dan justru membiarkan kekerasan menjamur di kampus, sehingga jaminan ketidakberulangan sulit untuk terwujud. Artinya, UNM tanpa regulasi khusus akan membuka lebar peluang predator kekerasan seksual semakin berkeliaran di kampus. Pada pasal 5 dijelaskan bahwa kekerasan seksual yang dimaksud salah satunya meliputi mempraktikkan budaya komunitas, mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan yang bernuansa kekerasan seksual. UNM sebagai perguruan tinggi negeri berpotensi atau bisa saja telah melakukan ‘Kekerasan Seksual’ selam dengan melakukan pembiaran. Pembiaran ini nampak dimana UNM masih memandang persoalan ini sebagai sesuatu yang tidak penting untuk ditindaklanjuti. Sikap tidak peduli

UNM dapat dilihat dengan belum adanya tindakan-tindakan konkret dalam menyikapi masalah kekerasan seksual di kampus. Ketidakpedulian UNM sebagai i n s t i t u s i penyelenggara pendidikan tanpa disadari justru menjadikan UNM sebagai pelaku kekerasan seksual. Dalam pasal 5 juga disebutkan bahwa kekerasan seksual yang dimaksud adalah membiarkan terjadinya kekerasan seksual dengan sengaja. Ketidakpedulian dan sikap acuh dapat kita baca sebagai bentuk-bentuk pembiaran terjadinya kekerasan seksual yang dilakukan UNM dengan sangat nyata dan terang-terangan. Pada pasal 6 disebutkan bahwa salah satu kewajiban perguruan tinggi dalam pencegahan kekerasan seksual adalah melalui penguatan budaya komunitas, mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan, dimana yang justru dilakukan UNM adalah pelemahan terhadap itu semua. Pelemahan yang dilakukan UNM dengan menempatkan mahasiswa, korban atau saksi sebagai orang yang disalahkan dalam kasus kekerasan seksual. Ketidakberpihakan UNM terhadap mahasiswa, korban dan saksi tentu tidak sesuai dengan isi pasal 10 dimana perguruan tinggi wajib melakukan penanganan kekerasan seksual melalui pendampingan, perlindungan dan pemulihan korban. Memang beberapa kasus yang terjadi di UNM dimana pihak kampus melakukan kewajiban-kewajiban yang

tertuang pada pasal 10 tadi, namun yang didampingi, dilindungi dan dipulihkan bukan mahasiswa, korban atau saksi, tetapi yang didampingi, dilindungi dan dipulihkan adalah pelaku kekerasan seksual. Apalagi jika pelakunya berasal dari unsur birokrasi atau sosok dengan reputasi baik. Dibanding memulihkan korban, UNM lebih memilih memulihkan nama baik institusi dengan menyelesaikan berbagai persoalan kekerasan seksual dengan dalil-dalil pendekatan kekeluargaan serta penyelesaian masalah secara internal kampus saja. Nampaknya, seluruh isi Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 betul-betul membantu kita mengungkap segala ketimpangan tata kelola birokrasi UNM yang begitu buruk. Kondisi UNM sebagai institusi pendidikan berakreditasi A, menjadi wajar jika kita sikapi secara skeptis (penuh keragu-raguan). Sebab dari beberapa pasal yang dijelaskan diatas, belum ada satupun yang menggambarkan kondisi ideal UNM. Lalu bagaimana jika UNM tidak mampu menjamin rasa aman mahasiswa, korban dan saksi dari segala ancaman kekerasan seksual? Pasal 19 menyebutkan perguruan tinggi yang tidak melakukan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual akan dikenakan sanksi administrasi berupa perhentian bantuan keuangan atau bantuan sarana prasarana perguruan tinggi serta penurunan tingkat akreditasi perguruan tinggi. Jika UNM masih saja keras kepala dan acuh, maka besar potensi akreditasi A yang selalu dibangga-banggakan oleh rektorat akan dicabut. Meskipun rektorat UNM punya kekuatan untuk mencegah halhal tersebut.

Pada akhirnya, tulisan ini hanya mampu menjadi setitik pesan kesadaran bahwa kampus yang kita cintai dan tinggali selama ini, dalam kondisi terpuruk dengan tingkat kerawanan tinggi rawan jatuhnya korban kekerasan seksual selanjutnya. Tentu dibutuhkan suara dan gerakan bersama dari semua unsur kampus dalam mewujudkan kampus yang ideal. Jika berdasar pada beberapa pasal yang diuraikan penulis, begitu jelas bahwa kondisi UNM saat ini terbilang mencekam. Selama ini citra yang dibentuk kampus dengan janji-janji manis, dengan bangunan tembok-tembok beton, silaunya menara phinisi dan gagahnya gedung Science Square, hanyalah sebatas icon semata yang amat kering subtansi Tridharma Perguruan Tinggi. Bangunanbangunan hanya menjadi bukti kuat kelayakan UNM menyandang akreditasi A. UNM terlalu menjual subtansi nilai-nilai pendidikan dalam wujud bangunan-bangunan monumental, sehingga lupa bahwa menjamin kenyamanan mahasiswa menjadi bagian penting yang mesti diprioritaskan. Meskipun tulisan ini terkesan sangat subjektif, namun inilah kondisi UNM yang sesungguhnya dari kacamata penulis. Ternyata selama ini, kita hanya dijanjikan dan diyakinkan dengan Rasa Aman Palsu.

*Akbar, Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar www.profesi-unm.com


7

INFO AKADEMIK

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

MySkill Tawarkan Beasiswa Hingga Rp5 Juta

Logo MySkill

FOTO: INT

ANDA butuh beasiswa? MySkill membuka kesempatan bagi seluruh mahasiswa Indonesia jenjang vokasi dan sarjana, untuk mendapat beasiswa pendidikan dengan total nilai Rp5 juta per semester. Beasiswa

ini untuk periode Januari-Juni 2022. MySkill adalah platform pengembangan skill bagi mahasiswa dan freshgraduate, dalam menyiapkan karir dan studi impiannya di masa depan. MySkill membuka beasiswa pendidikan bagi seluruh mahasiswa jenjang D3, D4, dan S1, di dalam dan luar negeri. Sebelum mendaftar, ada beberapa syarat umum yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Perlu dicatat juga, program ini tidak terbatas pada tingkat/jurusan/universitas dalam ataupun luar negeri. Persyaratan lain untuk mengikuti seleksi beasiswa MySkill yaitu merupakan Warga Negara Indonesia (WNI), terdaftar sebagai mahasiswa aktif, tidak sedang

menerima beasiswa lainnya/tanpa batasan pernah dan tanpa syarat tingkat ekonomi keluarga. Sementara itu, total beasiswa yang diperoleh sebesar Rp5 juta per semester, terdiri dari uang pendidikan bulanan, akses gratis pelatihan bersertifikat dari MySkill.id, akses gratis e-learning bersertifikat dari MySkill.id, dan mentorship persiapan karier dan studi pascasarjana. Bagi yang ingin memperoleh kesempatan besar dari program beasiswa pertama MySkill. id ini, bisa mengikuti alur pendaftarannya dengan membuka situs web myskill.id, dan buat akun melalui pilihan “Mendaftar dengan Google atau Facebook”.

Jika saat memilih loadnya lama, coba cek kembali sambungan jaringan atau refresh ulang halaman situs web secara berkala. Setelah mendaftar, klik poster Beasiswa MySkill. Langkah selanjutnya, mengisi formulir pendaftaran secara lengkap. Jika sudah selesai mengisi formulir, tinggal menunggu informasi selanjutnya. Tenggat waktu pendaftaran program ini adalah 15 Desember 2021. Namun, pendaftaran bisa ditutup lebih cepat jika kuota sudah terpenuhi. Oleh karena itu, jangan menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung saja mendaftar. (ari)

The Habibie Center Buka Beasiswa Bagi Mahasiswa HABIBIE Center membuka program “Beasiswa 10.000 Microblog Competition" dengan tema "Berawal di Akhir, Berakhir di Awal" - BJ Habibie untuk kategori Pelajar SMA/Sederajat & Mahasiswa DI, D2, D3, D4 dan S1 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di seluruh penjuru Indonesia. Bagi yang ingin memperoleh kesempatan tersebut bisa mengisi formulir pendaftaran melalui link

www.profesi-unm.com

bit.ly/FormBeasiswal0000Microbl ogCompetition. Pendaftaran beasiswa ini dibuka mulai tanggal 25 Oktober hingga 20 November 2021. Pengumuman 20 besar per kategori akan diumumkan pada tanggal 23 November, kemudian pada tanggal 24 November akan dilanjutkan dengan tahap wawancara. Penerima beasiswa akan diumumkan pada 29 November 2021. Adapun keuntungan yang

bisa didapatkan ketika mengikuti program ini yaitu mendapatkan bantuan pendidikan sebesar Rp500 ribu per orang untuk kategori siswa dan Rp 1 juta untuk kategori mahasiwa untuk satu kali pemberian. Peserta yang terpilih juga akan mendapatkan sertifikat "Penerima Beasiswa Tingkat Nasional". Selain itu, peserta bisa mendapatkan Golden Ticket untuk terlibat dalam kegiatan atau program Nasional

dan Internasional dari Beasiswa 10.000 Microblog Competition. Keuntungan lainnya peserta yang terpilih akan memperoleh tiket VIP gratis untuk mengikuti EDUVEX 2021. Berkesempatan juga menjadi bagian dari member pusat Beasiswa 10.000 serta dapat mengikut eksklusif with expertise dengan tema seputar "Adaptasi Teknologi" oleh @ orbit360. (ari)

AGENDASIANA LPM Profesi Gelar PINISI 2021

L

embaga pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) akan menggelar Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Nasional (PINISI) 2021. Kegiatan ini akan digelar pada 10-24 Desember 2021 mendatang. Dengan mengusung tema "Euforia Pers Mahasiswa di Era Digitalisasi dan Isu Keberagaman", kegiatan ini diperuntungkan bagi anggota pers mahasiswa se-Indonesia. Untuk info lebih lanjut hubungi 082346509574 (Nisa). (pr21)

LKIMB Gelar Pelatihan Pendidikan Perdamaian

L

embaga Kajian Ilmiah Mahasiswa Bertakwa (LKIMB) akan menggelar pelatihan pendidikan perdamaian dengan mengusung tema maneka warna. Kegiatan ini merupakan ruang perjumpaan bagi entitas keberagaman di Indonesia yang dikemas dalam bentuk diskusi dan refleksi. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 1-14 November melalui link https://bit.ly/ DaftarManekeWarna. Pembukaan dan technical meeting tanggal 18 November 2021, pelatihan pendidikan perdamaian tanggal 19-21 November. Info lebih lanjut hubungi 081242752798 (Fadil). (pr21)

Urai data, ungkap fakta, saji berita


8

LENSA ORANGE

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Pecat Dosen Bejat

Aksi penolakan dosen pelaku kekerasan seksual terus dilakukan LK FBS. Pecat dosen tersebut menjadi tuntutan utama dalam setiap aksi yang dilakukan. Berbagai bentuk aksi mulai dari aksi bisa dan cat badan dilakukan sebagai ekspresi kekecewaan terhadap birokrasi.

*Foto & Teks: Ahmad Husen

Dialog

Menuntut

Urai data, ungkap fakta, saji berita

Reka Adegan

Aksi Bisu

www.profesi-unm.com


LIFESTYLE

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

9

Nonton Anime Jadi Tren Masa Kini Sejak pandemi covid-19, banyak tren baru yang bermunculan misalnya memelihara tanaman hias, memelihara burung, bersepeda, kreasi masakan, salah satunya menonton anime.

Pada masa 90-an hingga 2000an, banyak penayangan anime di televisi Indonesia, seperti One Piece, Naruto, Inuyasa, Ninja Hatori, Doraemon, dan masih banyak lainnya. Berbeda dengan sekarang, penayangan anime di televisi sudah tidak seintens dulu, namun hal itu tidak menurunkan kepopulerannya. Anime itu sendiri adalah istilah dari bahasa Jepang yang berasal dari bahasa Inggris animation. Dalam bahasa Indonesia, kata tersebut diserap menjadi animasi. Istilah anime sendiri sering digunakan pada seluruh produk animasi yang diproduksi di Negeri Matahari Terbit. Anime dari Jepang pun memiliki ciri khas tersendiri, yaitu, para tokoh atau karakternya digambarkan dengan rambut berwarna terang dan mata yang besar. Anime memiliki banyak penggemar hingga saat ini, dan semakin bertambah. Mengapa hal ini terjadi? Saat ini tersedia banyak platform streaming misalnya Netflix, Iqiyi, WeTV, Bilibili, Viu dan lain-lainnya. Selain banyak pilihan, aksesnya yang mudah juga membuat anime kian laris akhir-akhir ini. Selain itu karena pandemi yang melanda Indonesia sejak awal Tahun 2020, segala kegiatan dilakukan di dalam rumah.

Karena waktu kosong yang cukup banyak, beberapa orang menonton anime, dan biasanya yang ditonton adalah anime semasa kecil agar berasa nostalgia, lalu beralih ke anime-anime yang baru. Banyaknya orang yang penasaran dengan jalan cerita suatu anime dan terhasut oleh teman atau orang lain di internet yang mulai bermunculan membahas tentang dunia peranimean, maka fans anime pun makin bertambah. Pada tahun 2020-2021, ada beberapa anime yang sangat booming hingga membuat fans anime di Indonesia membludak. Misalnya Demon Slayer, Attack on Titan, dan juga Tokyo Revengers. Maraknya masyarakat yang bercerita tentang plotnya, karakter, hingga teori-teori, mudah ditemukan di internet maupun di sekitar kita. Salah satu mahasiswa Jurusan Pendidikan Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Makassar (FIS-H UNM), Fahrul mengaku senang menonton anime karena banyak yang bisa didapatkan. Salah satunya manfaat menonton anime itu memberikan pelajaran tentang kehidupan. "Saya suka nonton anime, namun tetap memilah tontonan saya. Dari anime, saya belajar dengan berbagai hal. Misalnya pada Boku no Hero Academia, hubungan semboyan plus ultra dengan negara spanyol," katanya. Selain itu, menurutnya anime itu bisa memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung

bagaimana kita mengolah apa yang kita tonton. Apa yang ditonton itu bisa mempengaruhi pola pikir kita. "Saya selalu memperhatikan genre anime yang ingin saya tonton. Saya memilih anime yang memungkinkan mengedukasi, dan menghindari anime yang memiliki banyak unsur negatif di dalamnya," jelasnya. Orang-orang yang menggunakan atribut anime misalnya jubah, jaket, dan lainnya pun sangat mudah ditemukan dimana-mana, mulai dari anakanak hingga orang dewasa. Karena membludaknya penggemar anime di Indonesia, instansiinstansi resmi pun menggunakan konsep anime untuk konten media digitalnya, contohnya Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) membuat konten di platform Youtube maupun Tiktok menggunakan karakter anime agar hal yang ingin disampaikan kelihatan lebih menarik dan Vivian Phanjaya mudah untuk dipahami oleh Instagram: arisu_sketch masyarakat. (pr7)

Facebook: vi vi takada

Frefian Anwar Instagram: fref_kun Facebook: Fref Kun

FOTO: AHMAD HUSEN/PROFESI

FAnime unfact

ANIME PERTAMA DI DUNIA

ANIME EPISODE TERBANYAK

ANIME PENGHASILAN TERBANYAK

ANIME RATING TERTINGGI

Katsudō Shashin atau Fragmen Matsumoto, adalah nama yang diberikan untuk sebuah animasi pendek yang diperkirakan sebagai anime tertua di Jepang. Pembuatnya tidak diketahui. Diperkirakan bahwa film tersebut dibuat antara tahun 1907 dan 1911.

Sazae-san adalah serial manga yonkoma Jepang yang ditulis dan diilustrasikan oleh Machiko Hasegawa dan kemudian animenya dirilis pada 5 Oktober, 1969. Hingga saat ini, episode dari anime Sazae San lebih dari 7500.

Your Name atau Kimi no Nawa adalah sebuah film animasi Jepang produksi tahun 2016 bertema fantasi yang ditulis dan disutradarai oleh Makoto Shinkai dan diproduksi oleh CoMix Wave Films dengan pendapatan 41,44 miliar JPY, atau sekitar 5,5 Triliun Rupiah.

Fullmetal Alchemist: Brotherhood Hagane no Renkin Jutsushi adalah serial televisi animasi Jepang 2009 yang diadaptasi pada serial manga dengan nama Fullmetal Alchemist karya Hiromu Arakawa. Dilansir dari MyAnimeList, Anime ini menduduki posisi teratas dengan skor 9.16.

www.profesi-unm.com

Urai data, ungkap fakta, saji berita


10 REPORTASE KHUSUS

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Predator Seksual Kembali Merebak di Kampus

ILUSTRASI - Predator berkeliaran di ranah dosen

UNM tak lagi aman. Sejumlah kasus pelecehan seksual terjadi. Mulai dari modus saat konsultasi hingga pemaksaan pada korban. Banyak di antara penyintas mengaku trauma dan ogah melanjutkan kuliah. Ini kasus klasik. Pimpinan kampus belum juga memberi sanksi kepada pelaku dan perlindungan kepada korban. “Tangan saya digenggam, lalu dirangkul hingga mengelus paha saya.” Itulah potongan pembicaraan korban saat bertemu dengan tim Profesi. Kejadian yang menimpa Mawar (bukan nama sesungguhnya) saat dirinya konsultasi dengan dosen pembimbing, sebut saja Joko.

Dikarenakan perlakuan dosen tersebut kepadanya, Mawar tak ingin lagi mendatangi ruangan Joko sendirian, Ia selalu ditemani oleh sahabatnya. Cerita Mawar dimulai dirinya ketika janjian dengan Joko untuk konsultasi yang kesekian kalinya di Pascasarjana UNM, sekitar pukul 10.00 pagi pada Maret lalu.

Ia memasuki ruangan Joko. Kala itu, pria berumur tersebut meminta Mawar duduk di sampingnya. Tak menaruh curiga, Mawar mengikuti permintaan sang dosen. Tubuh Joko sengaja dimepetkan dengan tubuh Mawar di kursi yang mereka duduki berdua. Tak berlangsung lama, tiba-tiba Joko melancarkan aksinya. Ia mulai menyentuh tangan kanan Mawar sambil mengelus-elus. Tak puas dengan itu, Joko sedikit geregetan hingga merangkul mesra Mawar, hampir semenit Ia menikmati bahu Mawar. “Rapikan bajumu, cantik juga ini baju mirip jaring,” Joko

berbicara seperti itu dengan tatapan tajam di bagian dada Mawar lalu kembali menggenggam tangan mahasiswa semester 7 itu. Joko juga mengomentari tubuh Mawar yang kegemukan. Mawar menceritakan secara detil seluruh kejadian yang menimpa dirinya dengan awak Profesi (Jumat, 15/10). Sebulan kemudian, Mawar kembali ke ruangan sang Dosen. Lagilagi Joko meminta Mawar mendekat kepadanya. Beberapa menit konsultasi, Joko kembali memegang tangan Mawar, lalu merangkulnya dengan spekulasi memperbaiki baju Mawar. Pada konsultasi berikutnya, Mawar kembali menemui Joko di tempat yang sama, seperti sebelumnya. Joko sepertinya memang tak mau membimbing jika Mawar tak merapatkan tubuhnya ke Joko. Kali ini, Joko terbilang cukup nekat. Rasa cemas menggerogoti perasan Mawar kala itu. Seperti siklus sebelumnya, usai memegang tangan, ia merangkul Mawar dengan cukup lama. Yang tak pernah diduga, Joko melancarkan aksinya dengan memegang paha Mawar. Ia elus berulang-ulang hingga hampir menyentuh area sensitifnya. Mawar mengaku tak berani menolak karena ketakutan. Akibat kejadian itu, Mawar mengaku sangat trauma hingga berencana tidak lagi melanjutkan proposal yang selama ini dikerja. “Takut ma ketemu sama Pak

Joko tidak mau ma lanjut proposal ku,” tapi sahabatnya yang selalu setia menemani Mawar tak henti menyemangatinya. Dugaan pelecehan rupanya tak hanya dilakukan oleh Joko. Kejadian serupa pernah dirasakan alumni UNM, Puspa (samaran) alumni tahun 2015 ini mengaku dilecehkan saat tengah konsultasi skripsi. Puspa menceritakan kejadian ini ke awak Profesi. Namun Ia enggan membeberkan siapa oknum dosen tersebut. Kepada Profesi, Puspa mengaku pernah diajak dosen pembimbing untuk konsultasi di hotel. Usut punya usut, Mawar adalah sahabat Puspa. Dari situlah, Puspa menceritakan hal serupa. Meski tidak sempat memenuhi permintaan tersebut, kata Mawar, namun sampai sekarang, Puspa “Takut ma ketemu sama Pak Joko tidak mau ma lanjut proposal ku,” Mawar (samaran) masih trauma terhadap dosen tersebut. Puspa bahkan menitip pesan ke Mawar dan temantemannya, agar berhati-hati jika berurusan dengan pelaku. “Hatihati nah sama dosen itu, karena sering itu panggil mahasiswanya konsul di hotel,” kata Mawar menirukan Puspa. (tim)

Senior LK Paksa VCS Hingga Minta Datang ke Indekos KASUS kekerasan seksual juga melanda gadis lugu dari FBS, sebut saja Cindy. Gadis asal Mamuju ini memulai ceritanya dengan sedikit termenung saat tim Profesi menemuinya di Indekos. Ia terlihat sedikit ketakutan untuk memulai pembicaraan. “Ada chatka begini, takut ka,” terang Cindy terbata-bata. Awal tahun menjadi momen terburuk yang dialami mahasiswa semester 3 ini. Kepada Profesi, Ia mengaku pernah dilecehkan dengan modus Video Call Sex (VCS). Pelakunya adalah senior sendiri di organisasi. Sebagai mahasiswa baru yang belum pernah duduk di bangku kelas karena angkatannya harus menjalani kuliah daring, tentu kampus begitu asing baginya. Berkali-kali Cindy memperlihatkan chat pelaku kepada jurnalis Profesi.

Penanggung Jawab Tim Reportase Khusus Urai data, ungkap fakta, saji berita

Chat tersebut berisi pesan untuk meminta Cindy untuk melayani dirinya VCS, kala itu dirinya masih berstatus mahasiswa baru. VCS adalah salah satu cara melakukan hubungan intim tanpa bersentuhan. “Lewat chat senior itu paksa saya VC dan menanggalkan baju,” katanya. Siang itu, sang senior berulang kali mengirim pesan WA kepada penyintas. Lagi-lagi Cindy mengaku sangat ketakutan. Bagaimana tidak, Cindy kerap diancam oleh senior itu jika tak mengikuti permintaannya. Bahkan, hari itu terlihat pesan yang dikirim sedikit meneror Cindy. “Saya tunggu ko di sekret,” begitu kata seniornya. Untungnya, meski berulang lagi diminta untuk telanjang dalam video call, Cindy berhasil menolak dan melawannya. Belakangan, Ia tahu jika pelaku adalah seniornya, karena pelaku mengancam akan mencari Cindy di sekretariatnya. Mahasiswa angkatan 2020 ini pun memblokir nomor pelaku dan tak pernah lagi muncul di kampus hingga saat ini.

“Sekarang saya trauma dan takut ke kampus. Entah di mana saya harus meminta perlindungan,” ujarnya. Meski tak sampai dilecehkan secara fisik, Cindy trauma. Ia mengaku takut jika harus berhubungan dengan seniornya di kampus. Pengalaman buruk juga dialami Agnes (bukan nama sebenarnya), mahasiswa FT ini menceritakan kejadian itu sewaktu dirinya masih berstatus siswa kelas 3 SMP di Kota Makassar. Agnes dirinya dilecehkan oleh salah satu mahasiswa PPL-UNM di sekolahnya. Kejadian berawal saat pelaku, sebut saja namanya Bambang, melaksanakan program KKN-PPL di sekolah Agnes pada 2017 lalu. Kala itu, Bambang menjadi guru PPL di bidang olahraga. Tertarik dengan penampilan Agnes, Bambang melancarkan aksinya dengan modus mengirim pesan singkat. Saat tim Profesi menemuinya di sebuah Kafe, Agnes tak sendirian, Ia ditemani oleh sepupunya. Ia tampak malu-malu

menceritakan kronologi kasus pelecehan yang dialaminya. Bahkan, Ia memulai cerita itu dengan meneteskan air mata. “Besar anumu?,” begitu pesan singkat yang dikirim Bambang untuknya. Pertanyaan itu menghantam batinnya. Meski begitu, awalnya mahasiswa angkatan 2021 ini tak menaruh curiga sama sekali. Tak sekadar bertanya soal bagian sensitivitas wanita, Bambang juga kerap meminta Agnes datang ke indekosnya. Belum lagi, setiap bertemu tatapan Bambang membuat Agnes tak nyaman. "Sering ka na lihat-lihat saat pelajaran olahraga, pas dia ngajar. Tapi nda terlalu ku respon," ujar Agnes saat Oktober lalu. Meski selalu ditolak Agnes, Bambang tak menyerah. Ia terus mencari cara agar bisa menemui Agnes, berbagai alasan pun direncanakan, termasuk persoalan tugas di sekolah. "Sering ka disuruh urus absennya, tapi alasan ji saja untuk ketemu biasa," katanya. Kekhawatiran

Agnes ke sikap Bambang pun terbukti. Bambang melecehkan Agnes di indekosnya. Di tengah siang bolong, nyaris saja Agnes diperkosa oleh Bambang. Meski sempat diraba di bagian dadanya, Agnes mampu mencegat niat busuk si Bambang. Untung saja, Agnes mengancam untuk berteriak jika Bambang melanjutkan tindakan tak senonohnya. Alhasil, gadis kelahiran Makassar berhasil melepaskan diri dari jebakan Bambang. “Trauma ka sekarang kak, saya tidak berani lagi bertemu dengan orang baru. Saya jadi pendiam karena bayang-bayang kakak itu,” begitu kata Agnes sambil menghela napas Panjang. (tim)

www.profesi-unm.com


11 LPM Profesi UNM - Edisi 252 November

REPORTASE KHUSUS

Tahun MMXXI 2021

B

GEDUNG SCIENCE SQUARE - Penampakan kampus tempat terduga terjadinya tindak pelecahan seksual.

FOTO: AHMAD HUSEN/PROFESI

Dosen LGBT Incar Mahasiswa Pria di FMIPA

erbeda dengan sebelumnya, kabar pelecehan seksual sesama jenis menyeruak di FMIPA. Tak hanya dilecehkan Andi (bukan nama sebenarnya) menuturkan dirinya dicabuli oleh oknum dosennya. Saat ditemui Profesi akhir September lalu, Andi bercerita bahwa sang dosen punya kelainan seksual. Andi memulai menceritakan bahwa oknum tersebut melancarkan aksinya dengan memantau grup kelas-kelas yang ada di jurusannya. Setelah itu, sang dosen membuat grup khusus yang berisi mahasiswa laki-laki. Menurut pengakuan Andi, awalnya hanya diundang di sebuah grup WhatsApp berisikan mahasiswa baru dan si dosen itu

UNM Tak Punya Aturan Tegas Atasi Pelecehan Seksual

K

asus pelecahan seksual yang marak terjadi di kampus menjadi tamparan keras bagi UNM. Birokrasi dinilai belum mampu mengatasi berbagai kasus yang mulai banyak bermunculan. Tak banyak tindakan yang bisa dilakukan pimpinan kampus. Lambannya proses dalam mengambil sikap semakin menegaskan. Dari rangkaian kasus yang terungkap, hanya satu mampu ditangani. Belum adanya kajian mendalam terkait Permendikbud Nomor 30 tahun 2021 di kalangan birokrasi ditengarai menjadi penyebab. “Peraturan menteri yang baru saja dikeluarkan memang merupakan angin segar bagi kampus, agar bisa lebih baik lagi dalam menyikapi kasus. Itu aturan baru sehingga perlu pendalaman dan kajian lebih lanjut,” kata Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan saat bertemu dengan awak Profesi. Jeratan sanksi diberikan program studi pun masih dalam kategori ringan. Pelaku kali ini tak lagi diberikan izin untuk

mengajar mahasiswa strata satu, plus kewenangannya menjadi dosen pembimbing juga dihilangkan. Sukardi Weda menilai, hukuman ini sudah lebih dari cukup untuk mengganjar perilaku pelecehan seksual oleh dosen tersebut. “Sanksi yang kemarin diberikan di FBS sudah cukup memberatkan bagi pelaku. Terutama dalam sanksi sosial,” ungkapnya. Presiden BEM FIS-H, Fahmi, pun angkat bicara melihat kerja birokrat melihat kasus pelecehann seksual. Hingga kini Ia masih menganggap jika birokrat masih cenderung santai dalam mengatasi kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. “Miris sih ingat kasus yang beredar di kampus tentang kekerasan seksual, saya yakin sebelum ada yang speak-up, kejadian seperti ini sudah terjadi sebelumnya. Harusnya ada aturan jelas dari birokrat terhadap kasus ini, supaya jera. Kalau pimpinan tidak mengambil

sendiri. Modusnya, grup dibuat untuk diskusi mata kuliah dosen itu. Namun anehnya, semua anggota grup itu hanyalah mahasiswa lakilaki. Singkat cerita, oknum dosen itu mengajak Andi untuk menemaninya di hotel. Awalnya Andi tidak tahu tujuan dosen mengajaknya. Tanpa rasa curiga sama sekali, Andi pun menemui dosennya. Di hotel itulah, si dosen mencabuli Andi. Sempat melawan, Andi tak kuasa menahan paksaan dosennya itu. “Saya diancam, jika tak menuruti kemauannya maka akan diberikan nilai eror,” beber Andi. Akibat kejadian itu Andi mengaku trauma, bahkan mengalami gangguan mental. Belakangan,

"Saya diancam, jika tak menuruti kemauannya maka akan diberikan nilai eror,” Andi (samaran) Andi juga baru mengetahui, dosen tersebut memang sudah sering melancarkan aksi bejatnya pada mahasiswa baru. Kejadian itu terus berlanjut, Andi bahkan dicabuli berulang kali, mulai di laboratorum kampus hingga selalu berakhir di kamar hotel. Meski melewati fase yang tidak mengenakkan di kampusnya, ahasiswa tersebut sudah berhasil menyelesaikan studinya. (tim)

Permendikbud Harus Segera Diterapkan

sikap tegas, saya takut nantinya kasus ini terus berlanjut di UNM,” katanya. (tim)

"Miris sih ingat kasus yang beredar di kampus tentang kekerasan seksual, saya yakin sebelum ada yang speak-up, kejadian seperti ini sudah terjadi sebelumnya. Harusnya ada aturan jelas dari birokrat terhadap kasus ini, supaya jera," Fahmi Amirudin Presiden BEM FIS-H UNM

21 Bentuk Kekerasan Seksual di Kampus

Versi Permendikbudristek

PENINDAKAN terhadap pelaku pelecehan seksual kini bisa ditindak dengan tegas lewat Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Aturan ini bisa jadi payung hukum untuk menindak pelaku, agar kasus memalukan itu tak terjadi lagi. Permen itu berisi 9 bab dengan 57 pasal, yang mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, hingga perihal pemantauan dan evaluasi dari pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Mengenai penanganan kasus, dalam Pasal 10 disebutkan perguruan tinggi wajib melakukan penanganan KS melalui mekanisme pendampingan, perlindungan, pengenaan sanksi administratif, dan pemulihan korban. Adapun sanksi yang berlaku yaitu, pelaku dapat diberikan sanksi administratif ringan, sedang, dan berat. Sanksi administratif berat berupa mengeluarkan mahasiswa atau memberhentikan tenaga pendidik dari jabatannya di kampus. Mendikbud, Nadiem Makarim mengatakan aturan ini

dibuat untuk memberikan korban pemulihan dan perlindungan. Karena melindungi masa depan korban adalah priotitas utama dari kementrian. “Ada penjabaran secara spesifik tentang perilaku yang dimasukkan dalam kategori kekerasan seksual,” ujar dalam acara Mata Najwa, Rabu, 10 November 2021. Lebih lanjut, Nadiem menyebut aturan ini diklaim akan memberikan keadilan penuh ke korban. Kampus lewat satgas dituntut memberikan tindakan dan sanksi yang jelas kepada pelaku. “Akan ada satgas yang bertanggungjawab melakukan semua pelaporan, perlindungan, pemulihan, monitoring hingga rekomendasi sanksi,” jelasnya. Sejalan dengan itu, Ketua Umum LKIMB Syahrul Gunawan menyebut permen tersebut merupakan langkah tepat, terutama dalam hal pemecatan karena bila tidak dipecat, dikhawatirkan akan berdampak ke depannya, khususnya bagi korban. "Permen ini memuat wewenang kampus membuat satuan tugas yang berasal dari sivitas kampus, sehingga orang yang dipilih mengisi jabatan tersebut harus yang mumpuni dan berintegritas," jelasnya. (tim)

1. Menyampaikan ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender Korban; 2. Memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan Korban; 3. Menyampaikan ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan/atau siulan yang bernuansa seksual pada Korban; 4. Menatap Korban dengan nuansa seksual dan/atau tidak nyaman; 5. Mengirimkan pesan, lelucon, gambar, foto, audio, dan/atau video bernuansa seksual kepada Korban meskipun sudah dilarang Korban; 6. Mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan Korban; 7. Mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan Korban; 8. Menyebarkan informasi terkait tubuh dan/atau pribadi Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan Korban; 9. Mengintip atau dengan sengaja melihat Korban yang sedang melakukan kegiatan secara pribadi dan/atau pada ruang yang bersifat pribadi;

10. Membujuk, menjanjikan, menawarkan sesuatu, atau mengancam Korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual yang tidak disetujui oleh Korban; 11. Memberi hukuman atau sanksi yang bernuansa seksual; 12. Menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh Korban tanpa persetujuan Korban; 13. Membuka pakaian Korban tanpa persetujuan Korban; 14. Memaksa Korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual; 15. Mempraktikkan budaya komunitas Mahasiswa, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan yang bernuansa Kekerasan Seksual; 16. Melakukan percobaan perkosaan, namun penetrasi tidak terjadi; 17. Melakukan perkosaan termasuk penetrasi dengan benda atau bagian tubuh selain alat kelamin; 18. Memaksa atau memperdayai Korban untuk melakukan aborsi; 19. Memaksa atau memperdayai Korban untuk hamil; 20. Membiarkan terjadinya Kekerasan Seksual dengan sengaja; dan/atau 21. Melakukan perbuatan Kekerasan Seksual lainnya

www.profesi-unm.com

Urai data, ungkap fakta, saji berita


12 WANSUS

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Sinergitas Pemda-Media, Bangun Jurnalisme Berkualitas Era disrupsi digital merupakan tantangan tersendiri bagi jurnalis dan media dalam menjaga profesionalitas. Keduanya dituntut mampu beradaptasi dengan banyaknya informasi beredar di masyarakat. Hal ini pula seringkali menjadi masalah untuk menghadirkan berita berkualitas. Jurnalis yang bekerja secara profesional tergerus dengan adanya informasi yang datang dari opini publik. Sehingga kehadiran jurnalis profesional dan berkualitas diperlukan, agar informasi yang diberikan bisa menjadi 'oksigen' di negara demokrasi majemuk seperti Indonesia.

Pola jurnalisme profesional terbentuk lewat sinergitas antara jurnalis media dan pemerintah daerah. Penyebaran hoaks di daerah membuat pemerintah daerah perlu bekerja sama dengan jurnalis untuk menjadikan opini publik menjadi lebih sehat. Lantas bagaimana pemerintah daerah mewujudkan hal tersebut? Simak kutipan wawancara khusus reporter Profesi, Annisa Asy Syam bersama Bupati Maros Andi Syafril Chaidir Syam, dalam Talkshow Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah Sulawesi Selatan di Warkop Dottoro Boulevard, Kota Makassar, Senin, (25/10). Menurut bapak, bagaimana menyikapi era disrupsi digital saat ini? Kalau disrupsi digital dan inovasi digital memang saat ini kita tidak bisa pungkiri bahwa inovasiinovasi ini terus kita kembangkan agar bisa tetap bertahan di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat Apa harapan bapak terhadap perkembangan Urai data, ungkap fakta, saji berita

inovasi digital saat ini? Iya kita berharap, mudah-mudahan dengan inovasi ini, teman teman jurnalis itu bisa lebih mengedepankan fakta dalam menghadirkan berita berita yang akurat, update, dan faktual, inilah harapan kita. Lantas bagaimana mengenai wartawan seharusnya bertindak di era digital sekarang ini? Wartawan di era digital ini, memang punya berbagai tantangan, karena saat ini semua mediamedia semakin berlomba untuk menghadirkan berita berita yang terkini, update. Tetapi dibutuhkan akurasi dari teman-teman agar tidak salah memberitakan Mengenai pemberitaan, hoaks. Bagaimana pesan kepada masyarakat untuk memfilter berita yang tersebar? Masyarakat kita harapkan lebih pandai lagi untuk menilai lagi berita yang benar, yang mana berita hoaks. Kita harus pintarlah dalam membaca, coba cari lagi keakuratan dari

berita yang dibaca Bagaimana tanggapan bapak mengenai sikap pemerintah yang menganggap bahwa wartawan adalah musuh?

pembangunan yang kita bangun di daerah dan kita berharap juga jurnalis adalah tiang untuk menyebarkan berita.

Saat ini tidak boleh lagi hal tersebut dilakukan karena jurnalis dan media itu harusnya menjadi teman kita terutama dalam penyebarkan informasi Menurut bapak, apa keuntungan pemerintah saat berhubungan dengan wartawan? Jurnalis bisa membantu kita menyebarkan

Apa pesan bapak terhadap pemerintah lain dalam menghadapi wartawan? Pemerintah harus welcome terhadap wartawan, karena kalau ada pemerintah yang tidak terbuka kepada para jurnalis, itu saya rasa bukan lagi eranya. Saat ini harus saling bersinergi jurnalis dan pemerintah. (*)

FOTO: INT

H.A.S. CHAIDIR SYAM, S.IP., M.H. Bupati Maros Riwayat Karir • Pengganti Antar Waktu (PAW) Anggota DPRD Kabupaten Maros (2007–2009) • Anggota DPRD Kabupaten Maros (2009–2014) • Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Maros (2010–2014) • Anggota DPRD Kabupaten Maros (2014–2019) • Ketua DPRD Kabupaten Maros (2014–2019) • Anggota DPRD Kabupaten Maros (2019–2020) • Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Maros (2019–2020) • Bupati Maros (2021–2024) Penghargaan • Pemuda Berprestasi dari Pemda Maros (2012) • Ketua DPRD termuda se-Sulawesi Selatan (2014) • Lencana Pramuka dari Pramuka (2018)

www.profesi-unm.com


13 INOVASI

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Virtual Benson Relaxation Therapy & Points of You

Tekan Kecemasan Nakes Penyintas Covid-19

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar tawarkan solusi dalam menurunkan kecemasan tenaga medis penyintas Covid-19 yaitu dengan penerapan virtual benson relaxation therapy dan points of you. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia mengakibatkan banyak individu yang terkonfirmasi positif Covid 19 termasuk tenaga medis. Tenaga medis merupakan ujung tombak dalam penanganan pasien Covid 19. Tidak jarang mereka dituntut untuk bekerja ekstra secara tenaga, pikiran maupun perlindungan diri dalam menangani pandemi ini. Perlahan rasa letih dialami oleh tenaga medis, sehingga tanpa sadar daya imun tubuh berkurang. Tenaga medis terkonfirmasi positif dan wajib menjalani perawatan di ruang isolasi. Tentu saja bukanlah hal yang mudah bagi siapa pun jika harus menjalani perawatan dengan isolasi ini, termasuk halnya para tenaga medis. Timbul rasa cemas dalam menjalani perawatan. Tidak hanya itu dalam penanganan covid-19 banyak tenaga medis yang meninggal dunia dan bahkan ada yang stres. Maka dibutuhkan penanganan psikologi yang tepat untuk dapat menanganai rasa cemas yang dirasakan. Sehingga virtual benson relaxation therapy dan points of you dijadikan solusi

terhadap masalah tersebut. Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini Hardiana menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan sebuah terapi pernapasan diserta dengan pengucapan kata-kata positif yang membantu meyakini individu dalam menghadapi kecemasannya. “Benson Relaxation Therapy merupakan sebuah terapi pernapasan yang disertai dengan keyakinan, dimana kita tarik nafas lalu kita mengucapkan kata-kata sesuai dengan keyakinannya kita, baik itu kata-kata positif yang menguatkan kita atau bisa kata-kata sikir tergantung dari individunya itu,” jelasnya. Benson Relaxation Therapy tersebut juga dibantu dengan alat yang dinamakan Point of You. Alat ini terdiri dari sekumpulan kartu yang berisi foto atau kalimat-kalimat positif yang dapat merefleksi tenaga medis penyintas yang mengalami kecemasan. “Kemudian yang kedua merupakan sebuah kumpulan kartu sama yang berisi foto-foto atau kata-kata, pertama tadi tarik nafas kemudian mengucapkan

kalimat yang sesuai dengan keyakinanya dia lalu kami komblain dengan kartu-kartu itu. Kartu itu kemudian dia lihat, nah dari situ dia dapat mengetahui apa sebenarnya sumber masalahnya dia, apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan masalahmasalah itu,” jelasnya. Benson Relaxation Therapy dan Points of You dapat membuat tenaga medis penyintas yang mengalami kecemasan mengenal lebih dalam masalah yang membuatnya cemas dan bagaimana mengatasinya. Mahasiswi yang kerap

Bikin Wadah Aspirasi Anak Disabilitas untuk

FOTO: IST

MADING - Majalah dinding buatan mahasiswa UNM untuk anak disabilitas.

M

ahasiswa Kuliah Kerja Profesi (KKP) Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar, mengajar anak penyandang disabilitas bangkitkan rasa mencintai diri dari menulis madding, dengan model mading self love. Kondisi fisik penyandang disabilitas mengakibatkan mereka kadang merasa kurang percaya diri. Akibatnya, di www.profesi-unm.com

tempat umum mereka kadang lebih cenderung menyendiri. Anggota tim KKP FPsi UNM, Reviona menjelaskan, mading self love merupakan sebuah wadah untuk anakanak penyandang disabilitas menyalurkan aspirasi dirinya. Aspirasi yang selama ini ingin diungkapkan, tapi mereka tidak bisa mengatakannya. Dengan madding, anak disabilitas lebih bisa berpikir positif untuk hal

FOTO: IST

PELATIHAN - Tim PKM mengikuti pelatihan dan pemantapan teknis

FOTO: IST

yang mereka inginkan bagi hidupnya. "Nantinya mading ini menceritakan tentang kehidupan penyandang disabilitas yang mungkin tidak bisa mereka bilang. Jadi mereka menuliskan tentang dirinya, rencananya ke depan, apa halhal yang disukai, dan lain-lain," ujarnya. Program ini disambut dengan antusias oleh

disapa Diana berharap agar penelitian yang mereka lakukan dapat membantu menurunkan kecemasan tenaga medis penyintas Covid-19. Sehingga membantu tenaga medis dalam menangani pekerjaan mereka dalam mengatasi masalah pandemi Covid-19. Serta dapat lebih dikembangkan untuk menurunkan kecemasan pasien covid-19. “Semoga penelitian ini bisa jadi rekomendasi untuk pemerintah khususnya depertemen kesehatan agar mulai dan mengembangkan ini intervensi untuk tenaga medis yang

memang mengalami kecemasan dan ini juga bisa dikembangkan bukan hanya untuk tenaga medis tapi juga untuk menurunkan kecemasan pasien,” Selain Hardiana, empat anggota tim lainnya masingmasing Herianti Sonda, Nur Rahmah Abdullah, dan Muh. Idris Taqi yang merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi UNM. Satu lainnya, yakni Muzayyinah AlUsrah berasal dari Fakultas Ilmu Pendidikan UNM. Tim ini juga dibimbing oleh Ahmad selaku dosen dan kaprodi magister psikologi UNM. (mar)

penyandang disabilitas di BRSDF Wirajaya Makassar. Bahkan dari mading ini, Reviona menyebut beberapa penyandang disabilitas ada yang mulai terbuka tentang kehidupannya. "Mereka merespon positif, dan semuanya menuliskan harapannya di kertas-kertas itu, ada juga yang berani membacakan target-target hidupnya ke depan," ujar mahasiswa angkatan 2018 ini. Mahasiswa Psikologi ini menjelaskan, ide awal dibentuknya program kerja ini karena tim KKP FPsi melihat kondisi penyandang disabilitas kurang percaya diri jika berada di tempat umum. "Awalnya itu setelah kami observasi dan sering melakukan sharing session, mereka sering cerita bagaimana kisahnya mereka hidup sebagai penyandang disabilitas, dominan di antara mereka itu banyak yang masih kurang percaya diri jika berada di tempat umum karena kondisi fisiknya, ada yang sering menyendiri. Jadi ini salah satu alasan kami angkat ini proker," jelasnya. Revi (sapaannya) mengatakan, mading bertujuan untuk membangkitkan rasa cinta atas kekurangan dan kelemahan penyandang disabilitas. "Tujuannnya itu, bagaimana mereka mampu menerima dan bersyukur dengan dirinya sendiri atas

segala keadaannya, tau apa kelemahan dan kekuatannya," tuturnya lagi. Tim KKP FPsi berharap dengan adanya program mading self love ini mampu memacu diri siswa BRSPDF Wirajaya Makassar untuk mengembangkan di Kelompok KKP FPsi UNM ini beranggotakan Reviona Eppang, Reski Indah Rukmila, Riska Indah Sari Syaheruddin, Ratu Salsabila Helmi, Nurul Ismi Fauziah Jumadi. Tim ini didampingi oleh Basti Tetteng. (tar)

"

Mereka merespon positif, dan semuanya menuliskan harapannya di kertas-kertas itu, ada juga yang berani membacakan target-target hidupnya ke depan," Reviona Mahasiswa KKP UNM

Urai data, ungkap fakta, saji berita


14

SENI BUDAYA

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Candu Digital Budaya Lokal an Lunturk

*Trisakti Akbar

Menceritakan Sterling (Bima Azriel) seorang anak yang tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi. Cerita ini dikemas dalam bingkai 'anak kota masuk desa'. Film ‘Petualangan Menangkap Petir’ merupakan film drama Indonesia tahun 2018, diproduksi oleh Four Colours Film dan disutradarai oleh Kuntz Agus. Suatu ketika, orang tua Sterling, Mahesa (Darius Sinathrya) dan Beth (Putri Ayudya), memutuskan untuk pindah tempat tinggal dari Hong Kong ke Jakarta. Selama masa liburan sekolah dan sebelum pindah ke rumahnya

di Jakarta, Mahesa dan Beth mengajak Sterling untuk berlibur di Boyolali, tempat tinggal eyangnya (Slamet Rahardjo). Awalnya, Sterling merasa bosan dan kurang nyaman meninggalkan Hong Kong dan tinggal di kawasan pegunungan Merapi. Hal itu karena kebiasaannya menikmati kehidupan di dunia maya dan menjadi konten kreator. Namun,

Ruas-ruas waktu memacu Siklus bodoh itu selalu terjadi Mengharapkanmu menjadikanku nyata Tapi tetap saja aku disamakan dengan ilusi Urai data, ungkap fakta, saji berita

media sosialnya. Film ini juga menyajikan konflik dinamis antara ibu dan anak, Beth dan Sterling. Melalui konflik tersebut, film ini memberikan sisi lain tentang bagaimana seorang ibu berupaya mengarahkan, memahami keinginan, dan membuat anaknya bahagia. Jika disimpulkan, banyak pesan moral yang sengaja dihadirkan dalam film ini, salah satunya pola didik orang tua kepada anaknya. Tak hanya itu, film ini pun membuat penonton bisa lebih mengenal salah satu legenda dari Jawa era Mataram Islam yakni cerita Penangkap Petir yang merupakan julukan dari Ki Ageng Selo. Sterling dengan kemampuannya dalam videografi dan bermodal kamera, tripod serta perlengkapan seadanya mengajak teman-teman desa untuk membuat film berjudul ‘Petualangan Menangkap Petir’, cerita Ki Ageng Selo. Cerita realistis dalam film ini membuat penonton sangat menikmati tiap alur yang hadir dalam film ini. Meski tidak mendapatkan dukungan dari sang Ibu, Sterling tetap menjalankan misi pembuatan filmnya ini. Ambisinya ini ia lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya. Meski begitu, rencana pembuatan filmnya akhirnya terbongkar setelah sebuah kecelakaan terjadi

Renjana Rasa

Rasanya ada yang berbisik Mencoba menilik dari jutaan orang di belakangku Di sana, di bawah pohon rindang Dia duduk dengan tumpukan buku di sekelilingnya Memetik senar mencipatkan melodi Kulangkahkan kakiku tanpa ragu Merangkai kata yang akan kuutarakan Meruntuhkan ego yang tak tergambarkan Tatap kita saling bertubrukan Namun, dia berpaling tanpa senyuman

seiring waktu berjalan, ketika Sterling bertemu dengan temanteman barunya, Gianto/Jayen (Fatih Unru), Neta (Zara Leola), Wawan (Jidate Ahmad), dan Kuncoro (Danang Parikesit), akhirnya dia dapat beradaptasi di lingkungan pedesaan itu. Isu digital ini tampak terlihat saat Sterling ditanya oleh eyang, apakah dia memiliki teman dekat. Di usianya yang masih sangat kecil, dia sudah menjadi vlogger terkenal dengan ribuan pengikut. Sterling pun membanggakan kepada eyangnya bahwa dia memiliki banyak sekali teman, bahkan hingga beribu-ribu jumlahnya. Namun, tampaknya teman yang dimaksud oleh Sterling adalah teman di dunia maya. Ironisnya, Sterling bahkan tidak memiliki teman seorang pun dikehidupan nyata,. Isu digital yang juga marak terjadi saat ini, membuat film ini menjadi lebih dekat dengan kehidupan kita. Kecanduan gawai dan media sosial, khususnya pada anak usia dini kerap kita jumpai dalam kehidupan seharihari. Penggunaan teknologi juga memberi pengaruh terhadap kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Konflik yang disajikan tidak hanya sebatas kegalauan Sterling yang jauh dari kebiasaan

Di ujung jalan kau berdiri Menengadah, seakan menunggu hujan turun Lengkungan indah di bibirmu tercetak Aku kembali tersudut dalam bayangan memilikimu yang tak pasti Kuikuti setiap langkahmu Hingga langit benar-benar menangis dan kita berteduh di tempat yang sama Kita terdiam dalam kebisuan Tak bisa kutahan debaran kencang Mungkin aku tak bisa seperti langit yang akan setia menanti senja

saat shooting film yang berakibat kebakaran pada salah satu gubuk warga. Karena kejadian itu, sang Ibu tak lagi mengizinkan Sterling untuk melanjutkan pembuatan filmnya dan terpaksa menyita kamera miliknya. Namun, Sterling dan kawankawannya tidak patah semangat. Mereka akhirnya meminjam kamera milik Bang Arifin, salah satu videografer dari desa tersebut. Dengan begitu, akhirnya pembuatan film yang sempat tertunda akhirnya dapat diselesaikan. Film ini mengajarkan banyak hal, mulai dari sisi kekeluargaan, teknologi, maupun pendidikan. Dari kisah hidup Sterling, kita bisa memetik pelajaran tentang pentingnya menjalin hubungan, tak hanya di media sosial, tetapi juga di kehidupan nyata. Di sisi lain, peran orang tua dalam memberikan pemahaman tentang teknologi, salah satunya gawai juga sangat penting agar sang anak tidak kecanduan teknologi.

Judul: Petualangan

Menangkap Petir Sutradara: Kuntz Agus Produksi: Four Colours Film Tahun Pembuatan : 2018

Aku bukan hujan yang tak sakit meski jatuh berkali-kali Helaan nafasku seakan tertimbun lara Aku yang terlalu berharap atau kau yang tidak pernah mengerti Dalam rintik langit mulai berucap Dan sekujur raga membeku Menahan sebak di dada Aku bukan rumah tempatnya pulang. *Nurfitrah Sasrianita www.profesi-unm.com


15 LPM Profesi UNM - Edisi 252 November

PROFESIANA

Tahun MMXXI 2021

Bubarkan Panitia Mubes LK, Birokrat Ikut Gagal Jadi Eksekutor Buntut ketidakmampuan panitia Musyawarah Besar Lembaga Kemahasiswaan (Mubes LK) Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk melaksanakan tugasnya menghadirkan pengurus baru Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) berakhir dengan nihil. Berbulan-bulan kepanitian ini bekerja setelah dibentuk ternyata belum juga mampu memunculkan figur pemimpin baru di tubuh LK tertinggi di kampus itu. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Sukardi Weda mengatakan, kepanitiaan mubes bentukan maperwa sudah dibubarkan. “Iya kampus ambil alih (pembentukan) BEM-Maperwa,” katanya saat diwawancarai beberapa waktu lalu. Langkah mempecundangi panitia yang dilakukan birokrat UNM tersebut sebagai respons atas ketidakpercayaan terhadap kinerja BEM-Maperwa sebelumnya. Tak mau kalah dengan panitia sebelumnya, akhir Juli lalu, WR III bersama para dekan dan pimpinan kampus lainnya telah melaksanakan rapat terbatas untuk segera menghadirkan pengurus Maperwa dan BEM baru. Sukardi Weda mengaku telah bersurat ke pimpinan fakultas untuk mengutus mahasiswanya menjadi pengurus BEM-Maperwa, agar

kepengurusan bisa terbentuk di semester ini. Tercatat, ini kedua kalinya Sukardi meminta delegasi melalui dekan. Sebelumnya, sudah pernah dilakukan, hanya saja tak mendapat respons baik dari pengurus LK tingkat fakultas. “Saya baru mau menyurat kembali ke dekan,” jelasnya. Entah sampai kapan drama tostosan LK dan birokat ini berakhir. Pasalnya, pimpinan kampus hingga hari ini tak memberi batas waktu terkait pelaksanaan Mubes LK UNM. Presiden BEM FBS, Amastasha menilai tidak jalannya mubes hingga hari ini merupakan noda besar bagi LK UNM, serta pengambilalihan mubes oleh birokrat adalah hal keliru karena ini menandakan birokrasi gagal mewadahi LK fakultas. Menurutnya seharusnya mewadahi LK Fakultas untuk mengadakan mubes LK UNM. "Kami dengan WD III FBS sepakat agar delegasi yang diusung adalah rekomendasi dari LK FBS UNM," katanya.

Langgar Aturan Sendiri Bak senjata makan tuan, pimpinan UNM akui kembali terpaksa melanggar regulasi yang selama ini menjadi pegangannya dalam mengelola lembaga kemahasiswaan. Terkait kriteria pengurus misalnya, batas semester yang dipatok untuk calon pengurus dijelaskan Sukardi, yakni mahasiswa semester 9 atau angkatan 2017 yang akan direkrut. Padahal dalam statuta UNM, pengurus LK maksimal semester 8, tapi Dosen Bahasa Inggris ini mengatakan hal itu bukan lagi menjadi masalah. Ia berdalih bahwa pengurus sebelumnya terdampak pandemi dan pengurus LK fakultas saat ini merupakan angkatan 2018. Dengan alasan itulah, dirinya khawatir tidak ada pengurus diutus bila diminta angkatan 2018. “Kecuali lewat semester ini, maka 2018 (akan menjadi pengurus),” katanya. Presiden BEM Fakultas Psikologi, Andi Khaerul Imam menyebut, setuju saja rencana pimpinan UNM, selama utusan fakultas nantinya disetujui LK tingkat fakultas. Jika tidak, mereka akan menolak. "Bergantung, kalau misalnya delegasi yang dikirimkan ke LK UNM bukan hasil pembahasan dan kesepakatan di tataran fakultas masing-masing, nah itu bisa menjadi sebuah masalah dan harus kita

Sukardi Weda WR III UNM hindari," katanya. Surat delegasi yang diberikan ke setiap fakultas pun beragam. FBS misalnya, fakultas ini disurati WR 3 untuk mendelagasikan calon anggota Maperwa dan ketua Maperwa. Namun, menurut Amastasha fakultasnya belum menentukan siapa delegasi yang akan diberikan. "Kami katakan (delegasinya) setelah Mufak," jelasnya. Tindakan pimpinan UNM yang berupaya 'selamatkan' BEMMaperwa, berawal dari kisruh kepanitiaan mubes sebelumnya. Pengurus LK fakultas ramai-ramai menolak persyaratan yang diajukan panitia untuk calon pengurus. LK menolak syarat angkatan dan batasan IPK calon pengurus. Hanya empat dari sembilan LK fakultas mengutus anggotanya. Hasilnya, mubes gagal terlaksana. (uma)

Tak Punya CCTV, Maling Sasar PKM FOTO: DOK-PROFESI

PKM - Tampak depan gedung PKM UNM.

K

asus pencurian kian marak di UNM. Sejumlah gedung berhasil dibobol si ‘tangan panjang’. Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) menjadi satu di antara sekian incaran para pencuri

FOTO: DOKUMEN PROFESI

alias maling ini. Investaris milik lembaga kemahasiswaan raib. Terbaru tiga sekretariat dibobol maling, yaitu milik Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) LPM Penalaran, UKM Pramuka, dan

Abaikan Perintah, Jufri Enggan Kembali KONFLIK Rektor UNM, Husain Syam dengan mantan Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan, Muhammad Jufri belum usai. Sebelumnya mantan Dekan Fakultas Psikologi itu masuk ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) atas rekomendasi dari UNM. Diketahui Jufri ikut seleksi dan terpilih sebagai Kadis Pendidikan. Namun, setahun kemudian pada 24 September 2021 sebanyak 10 Pejabat Tinggi Pratama (Eselon II) Lingkup Pemprov Sulsel dilantik oleh Plt Gubernur. Tetapi yang www.profesi-unm.com

mengejutkan adalah munculnya nama Muhammad Jufri di daftar 10 pejabat yang dilantik. Ia dilantik sebagai Kadis Pariwisata Sulsel. Hal ini memicu reaksi dari Rektor UNM, Husain Syam. Ia bahkan mengirim surat ke Pemprov Sulsel agar mengembalikan Jufri ke kampus. Husain memilih menarik Muhammad Jufri kembali ke kampus dibanding menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata. Surat bernomor 4536/UN36/ TU/2021 itu dikeluarkan Husain tanggal 27 September 2021. Isinya

Lembaga Pers Mahasiswa Profesi. Kasus pencurian terjadi Kamis (28/10) dini hari. Ketua Umum UKM LPM Penalaran, Nopri Hidayat menyayangkan kejadian tersebut, Ia mengatakan, maling berhasil menggondol sebuah notebook. “Kejadiannya baru diketahui sekitar 09.00 Wita pagi, barangbarang di sekret PKM Penalaran terbongkar, satu notebook hilang di sana dan lemari juga berantakan,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu. Mahasiswa angkatan 2017 itu pun dibuat geram. Ia meminta pimpinan UNM dapat memasang kamera pengawas atau CCTV, agar kejadian tak berulang. “Saya mau menghadap ke pimpinan kampus universitas untuk

pemasangan CCTV di PKM, karena kejadian ini bukan hanya sekali saja, takutnya kejadian ini terulang lagi ke depannya,” tandasnya. Terpisah, Sekretaris Umum UKM Pramuka, Mahdalena mengungkapkan, inventaris di sekretariatnya juga ikut dibongkar dan hilang. “Kompor portabel satu, matras satu yang hilang, piala-piala terhambur semua, laci, tas terbuka juga,” kata mahasiswi angkatan 2018 itu. Sebelumnya kasus kecurian tersebut sudah beberapa kali terjadi dan tak hanya di PKM sekretariat mahasiswa di kampus gunung sari pun sempat kebobolan maling. Namun hal tersebut belum ditindaklanjuti hingga sekarang (yat)

ada tiga poin dan ditujukan ke Plt Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman. "Saya akan tarik karena kita mau memberi terbaik apa na taukan pariwisata inikan merusak lebih baik ke UNM,” tutur Husain saat pelantikan pejabat dan serah terima jabatan UNM, Jumat (20/8). Bahkan Husain mengaku akan lepas tanggung jawab jika nantinya Jufri di mutasi ke bidang non-pendidikan. Ia berkali-kali menegaskan bahwa UNM bukanlah pencari jabatan. “Kalau hari ini pemerintah Sulsel mau menggeser, institusi UNM tidak ada dibelakangnya. Kami

tidak bertanggung jawab berarti Jufri seorang diri yang menjadi bagian,” tegasnya. Setelah beberapa waktu tak terdengar kabar, ternyata Muhammad Jufri memilih bertahan di Pemrov Sulsel sebagai Kadis Pariwisata. Rektor UNM turut angkat bicara terkait tindakan Jufri itu. Husain mengaku menghormati keputusan Jufri. Namun sama seperti hal yang telah Ia sampaikan bahwa UNM akan lepas tangan karena aturannya seorang pejabat tidak diperbolehkan berada di naungan dua kementerian. "Kita serahkan pada pilihannya,

Emas Kukejar, Perak Kudapat UNIVERSITAS Negeri Makassar (UNM) mengalami kemerosotan peringkat di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) Universitas Sumatera Utara (USU) 2021. UNM hanya mampu meraih peringkat 20 nasional, hasil tiga medali kategori presentasi di dua PKM berbeda yaitu PKMPM dan RSH. Kedua PKM meraih perak. Sementara medali lainnya diraih sebagai juara favorit. Peringkat ini merupakan catatan terendah UNM sejak 2019. Pada Pimnas 2019, Kampus Oemar Bakri bertengger di peringkat 13. Setahun kemudian, naik satu tingkat di posisi ke-12. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III), Sukardi Weda mengatakan, hasil didapatkan memang belum memuaskan. Ia berdalih, dalam lomba ada kalanya menang dan kalah, sehingga harus bisa menerima hasil tersebut. Sukardi menyebut para peserta, termasuk UNM sendiri, telah melakukan berbagai persiapan sebelum pagelaran Pimnas, mulai dari workshop, hingga bimbingan teknis. “Pengalaman yang kurang menggembirakan ini, UNM akan lebih maksimal dalam persiapan PKM dan PIMNAS 35 akan datang,” jelasnya. Tak seperti tahun sebelumnya, pimnas kali ini UNM tak mendapatkan satupun medali pada kategori poster. Hal ini disesali Sukardi, sebab menurutnya selama ini, kategori posterlah lumbung medali UNM di pimnas. “Namun demikian, UNM baru kali ini mendapatkan dua medali perak di presentasi,” katanya. Hasil pimnas ini tentunya mengecewakan bagi UNM. Pasalnya UNM telah melakukan berbagai cara demi mendulang prestasi, termasuk karantina peserta di hotel berbintang, dan menjanjikan hadiah bagi para peraih medali. (uma) pilihan permanen, putus semua, sudah tidak ada lagi karena kami tidak merekomendasikan di tempat itu, dia harus pindah permanen jangan kembali," ujar Husain. Mantan Dekan FT UNM itu juga menjelaskan bahwa Ia bisa saja menahan Muhammad Jufri tapi ternyata Pemrov lebih membutuhkan jasa Jufri. "Boleh juga saya tahan, tapi saya pikir inu atas kepentingan pemerintah untuk kepentingan pemerintah dalam rangka akselerasi pembangunan. Maka saya lepaskan tapi permanen pindah," kata Husain. (sei) Urai data, ungkap fakta, saji berita


16

PERSONA

LPM Profesi UNM - Edisi 252 November Tahun MMXXI 2021

Lampaui Batas Diri Ukir Prestasi

Tepat pada tanggal 28 Oktober 2021 menjadi hari bersejarah bagi Sahwa Ainul Magfirah. Selain tanggal tersebut menjadi hari sumpah pemuda juga menjadi hari dimana ia meraih predikat sebagai Duta Nasional Mahasiswa Inspiratif 2021 dan pemenang Superlative Awards sebagai Duta Kreatif Nasional Mahasiswa Inspiratif 2021. Berawal dari pemilihan mahasiswa berprestasi membuat Sahwa sapaan akrabnya termotivasi untuk mengikuti ajang pemilihan duta. Pemilihan Duta Nasional Mahasiswa Inspiratif tahun ini memiliki banyak persaingan yaitu dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Sebanyak 136 finalis bersaing memperebutkan mahkota Duta Nasional Mahasiswa Inspiratif 2021. Sejak kecil Sahwa sudah mulai mengikuti perlombaanperlombaan hingga beranjak remaja Ia gemar melakukan sesuatu yang melampaui batas kemampuannya. Pengalaman tersebut berdampak pada pribadi Sahwa yang terbiasa dengan ajang perlombaan. “Sahwa sudah familiar dengan ikut perlombaan, dari Taman Kanak-kanak (TK) sudah diajar tampil di depan umum seperti lomba pidato, puisi, dan menyanyi. Beranjak ke usia remaja Alhamdulillah sudah menyesuaikan diri,” bebernya.

M

Banyak pengalaman mengesankan yang Ia peroleh sewaktu mengikuti pemilihan duta mahasiswa inspiratif ini. Ia bercerita, diajarkan tentang budaya dari 6 negara pada rangkaian acara Let’s Go Around the World. “Ada berbagai rangkaian acara diantaranya Let’s Go Around The World dengan 6 negara yaitu Thailand, Switzerland, Japan, Korea, Rusia, Italia dilanjutkan dengan membuat video pitching tentang suatu kasus, dan terakhir melaksanakan Focus Group Discussion (FGD),” jelasnya. Mahasiswa Jurusan Psikologi ini sempat mengalami kendala dalam menemukan ide untuk membuat video pitching, namun semua itu bisa dilewatinya karena menjalani semua tahapannya dengan senang hati. “Terlepas dari itu Sahwa enjoy dan sangat luar biasa mengikuti ajang ini,” tuturnya. Selain Pemilihan Duta Mahasiswa Inspiratif, Wanita asal Bulukumba ini juga terpilih

menjadi perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada ajang Duta Remaja Nasional 2021 yang akan dilaksanakan di One Bell Park Mall, Jakarta Selatan pada 23-28 November mendatang. Ajang pemilihan Duta Nasional Mahasiswa Inspiratif ini merupakan salah satu persiapan Sahwa untuk mengikuti ajang nasional tersebut. “Terlepas ingin menginspirasi, ajang ini Sahwa jadikan sebagai wadah belajar dan persiapan sahwa untuk ke nasional lagi di bulan November pada saat pemilihan duta remaja Nusantara nantinya,” ungkapnya. Keberhasilannya ini tentu tidak lepas dari dukungan orang tua yang merasa sangat bangga, Sahwa mengaku orang tuanya memberikan dukungan penuh atas jalan yang dipilihnya selama ia bisa bertanggung jawab atas pilihannya itu. “Alhamdulillah orang tua Sahwa itu selalu men-support hal apa saja yang Sahwa lakukan yang terpenting pesan dari orang tua, sahwa bisa bertanggung jawab atas yang sudah diamanahkan. Jadi doa dan support orang tua sahwa itu sangat-sangat luar biasa dan antusias sekali setiap sahwa ikut perlombaan termasuk Duta Nasional Mahasiswa Inspiratif ini,” akunya.

Mahasiswa Semester 3 ini berharap bisa menjadi role model dalam kebaikan, ia juga berpesan kepada anak-anak muda lainnya untuk tidak lagi merasa insecure agar mereka bisa menunjukkan kemampuan diri yang dimiliki, karena sejatinya manusia memang tidak ada yang sempurna. "Semoga Sahwa tetap bisa berprestasi dan dapat di jadikan Role model dalam kebaikan dan untuk teman-teman mulai sekarang harus percaya pada diri sendiri sebab peluang masa depan bukan milik mereka yang insecure. Percaya pada kemampuan diri sendiri berarti percaya bahwa kita diciptakan di dunia ini menjadi nyata dan tidak dituntut menjadi sempurna, yang penting sekarang berani mencoba. Semangat," ujarnya dengan semangat. (ari)

Nama : Sahwa Ainul Magfira TTL : Bulukumba,23 Juni 2002 Riwayat Pendidikan : • SD Negeri 232 Dampang • SMP Negeri 2 Bulukumba • SMA Negeri 8 Bulukumba • Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar Prestasi : • Juara 1 Duta Remaja Sulawesi Selatan Tahun 2021

• Runner Up 4 Mahasiswa Berprestasi Fakultas Psikologi UNM 2021 • Juara 1 Penampilan Terbaik Training Organization Of Leadership 2021 • Penulis Terfavorit Cipta Quote Nasional Tema Bebas Tahun 2020

Program MBKM Kunci Jadi Lulusan Tercepat

enyandang predikat Wisudawan tercepat Periode November 2021 adalah hal yang tak pernah disangka oleh Khairun Nisa sebelumnya. Ia lulus dengan IPK 3.93 dengan waktu 3 tahun 1 bulan, menurutnya ini merupakan pencapaian yang luar biasa. "Sebenarnya tidak pernah kepikiran bisa jadi wisudawan tercepat, Waktu semester enam ada mata kuliah Metodologi Penelitian, dari situ saya buat mi proposalnya jadi pas selesai matklulnya waktu bulan Juli bisa seminar proposal" ungkapnya. Mahasiswa Program Studi Statiska Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini mengaku pencapaian itu bisa Ia raih berkat program Kampus Merdeka yaitu kampus mengajar. Melalui program tersebut maka Ia dapat mengonversi nilainya ke mata kuliah KKN sehingga ia tak perlu lagi melakukan KKN. "Jadi teman-teman yang lain baru sementara KKN sedangkan saya alhamdulillah sudah bisa wisuda," ujarnya. Selain program Kampus Mengajar Nunu sapaan akrabnya juga mengikuti Program Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI). Program ini Urai data, ungkap fakta, saji berita

juga Ia konversi dengan mata kuliah yang harusnya diambil di kampus.

"Ikut program Kredensial Mikro Mahasiswa Indonesia (KMMI) yang dapat mengonversi tiga SKS, jadi ada mata kuliah workshop bisa terkonversi juga," jelasnya. Mengikuti program Kampus Mengajar bukan tak mengalami kendala, mengajar di daerah yang jaringannya kurang stabil seringkali membuat Ia tidak dapat mengikuti kuliahnya d e n g a n maksimal namun ia bersyukur k a r e n a dosennya dapat memaklumi hal tersebut. "Dapat daerah yang kurang lancar jaringannya jadi biasa titip absen beberapa kali atau izin ke dosen tapi tetap dimaklumi, kadang juga kalau ada kuliah sering izin tidak oncam," ungkapnya. Tak hanya itu, Nunu bercerita juga mengalami banyak rintangan dalam proses pengerjaan skripsinya, mulai dari gangguan jaringan hingga listrik yang dapat digunakan pada waktu tertentu saja belum lagi ia mesti bolak balik ke Makassar. Hal tersebut tidak menyurutkan semangat Nunu untuk bisa menyelesaikan studinya dengan waktu yang cepat.

"Skripsi juga terkendala karena jaringan kurang stabil, dan listriknya biasa menyala pas malam hari jadi susah mau kerjakan tapi mengajar disana dari Senin-Jum'at jadi sorenya kembali ke Makassar, Sabtu-Minggu bisa luangkan waktu kerja skripsi. Jalanannya juga berbatu-batu jadi setiap pulang dari sana seminggu sekali harus servis motor," kisahnya. Selama kuliah Ia sempat mengikuti organisasi Genarasi Baru Indonesia (GenBI) khusus penerima beasiswa BI dan juga pernah mendapatkan beasiswa PPA tepatnya ketika ia semester 3. Selain itu, Ia pernah menjadi asisten dosen dan asisten laboratorium Prodi statistika. Gemar mengajar membuat Ia bercita-cita menjadi dosen. "Mau jadi dosen karena senang mengajar di depan kelas, terutama saat menjadi asisten dosen waktu kuliah," ungkapnya. Keberhasilannya ini tidak lepas dari dukungan orang tua serta orang

terdekatnya. Seringkali rasa malas atau capek menghampiri namun berkat motivasi dan dorongan dari orang-orang terdekatnya membuat Ia bisa semangat kembali. "Orang tua yang selalu semangati untuk kerja skripsi, teman-teman dan sahabat yang bantu saat kesulitan dan motivasi supaya tidak malas-malasan dan senior yang bantu dan berikan info tentang hal-hal yang harus dipersiapkan untuk mengerjakan skripsi," tuturnya. Mahasiswa angkatan 2018 ini menyampaikan tips dan trik agar bisa menjadi lulusan terbaik. Salah satu tips dan triknya yaitu dengan mengikuti kegiatan MBKM dari Kemendikbud agar dapat mempersingkat masa studinya. "Rajin-rajin ikut kegiatan MBKM dari Kemendikbud yang bisa digunakan untuk konversi SKS seperti kampus mengajar, magang merdeka, dan lain-lain, serta usahakan manajemen waktu sebaik mungkin, " pesannya. (ari)

Nama : Khairun Nisa TTL : Makassar, 02 Oktober 2001 Riwayat Pendidikan : • SD Negeri Samata • MTsN Model Makassar • SMA Negeri 17 Makassar • Universitas Negeri Makassar Prestasi : • Wisudawan Terbaik 1 Tingkat Fakultas MIPA UNM

• Wisudawan Tercepat Universitas Negeri Makassar

www.profesi-unm.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook