Skip to main content

Tabloid Profesi Edisi 245 "Ampun Bang Jago"

Page 1

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021


2 PERSEPSI

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021

EDITORIAL

Pemimpin Itu Jalan ke Depan Bukan di Tempat Empat Wakil Rektor UNM kini genap enam bulan menjabat. Walau begitu tidak ada perubahan kebijakan selama mereka menjabat. Mereka hanya jalan di tempat dan berhadapan dengan masalah lama yang tak kunjung selesai. Situasi tidak membuat mereka belajar untuk maju dan beradaptasi. Mereka adalah harapan mahasiswa, mereka diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang selalu dihadapi. Mulai dari kuliah daring, Uang Kuliah Tunggal (UKT), Lembaga Kemahasiswaan (LK), dan kerjasama dalam maupun luar negeri. Itu semua catatan PR yang penting untuk segera diselesaikan, jangan sampai hanya menjadi penghambat kerja-kerja ke depan. Kuliah Online merupakan tanggung jawab WR 1 Hasnawi Haris, Ia saat ini dituntut harus menyelesaikan masalah kuliah daring yang seringkali suka mengorbankan mahasiswa. Kuliah daring harus seprofesional kuliah luring dosen jangan hanya berikan tugas, dosen harus mencipatakan suasana kelas nyaman. Dosen juga harus mampu membuat mahasiswa mudah menyerap pelajaran, jangan memindahkan mata kuliah tanpa persetujuan mahasiswa, dan aplikasi kuliah haruslah seragam agar proses pembelajaran menjadi lebih baik. Hasnawi harus tegas kepada oknum dosen yang tidak mampu bekerja dengan baik. Hal ini perlu agar suasana belajar online tidak menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa. UKT yang merupakan ranah dari WR 2 Karta Jayadi harus segera dicarikan solusi. Tuntutan subsidi UKT dari mahasiswa harus dicarikan jalan keluar segera mungkin. Dialog perlu diadakan sebagai ranah silahturahmi antar mahasiswa dan “orang tuanya” di kampus, jangan menutup diri seakan takut dengan mahasiswanya sendiri. Subsidi UKT memang perlu di tengah situasi pandemi ini namun bila tidak mampu dikabulkan, seharusnya ada solusi alterna-

tif yang lebih bisa diterima mahasiswa. Tak sampai disitu transparansi juga perlu diadakan, ini penting agar mahasiswa mampu mengawasi dan mengtahui kemana uangnya digunakan selama ini. Pembangunan juga menjadi hal pokok, apalagi melihat kampus tak digunakan mahasiswa. Momen seperti ini harusnya pembangunan empat gedung mangkrak dipercepat agar saat kuliah tatap muka berlangsung gedung itu bisa digunakan. Seperti kita ketahui, gedung jadi hal pokok karena masih banyak fakultas kekurangan kelas maka perlu dilanjutkan pembangunan gedung mangkrak. Masalah LK juga tak kunjung selesai. Hingga tiga bulan pasca direncanakan Mubes LK UNM, sampai saat ini tidak diketahui kapan akan selesai Mubes ini. Ini merupakan tanggung jawab WR 3 Sukardi Weda, Ia harusnya mampu menyelesaikan hal ini pada akhir tahun 2020, tapi nyatanya Ia terus menunda pelaksanaan Mubes karena syarat yang ditetapkan untuk Mubes digugat BEM fakultas. Ia sepertinya ingin membiarkan BEM UNM “mati suri” seperti beberapa tahun sebelumnya. BEM UNM harus cepat bangkit agar gerakan mahasiswa UNM bisa membara dan melanjutkan perjuangannya. Kebijakan Kampus Merdeka yang saat ini diterapkan di UNM memerlukan banyak mitra baik perguruan tinggi dan perusahaan. Ini adalah ranah WR 4 Ichsan Ali, Ia harus mendapat banyak mitra agar mahasiswa mampu mengikuti Kampus Merdeka dengan baik. Kampus lain sudah mulai mengirimkan mahasiswanya ke berbagai tempat. UNM harus cepat mengejar ketertinggalan tersebut, mitra yang dimiliki UNM harus segera dieksekusi dengan menyebarkan mahasiswa. Mahasiswa akan merasakan dampak besar dari Kampus Merdeka bila dikirim ke berbagai mitra UNM. Dan UNM masuk sebagai jajaran kampus yang berhasil melaksanakan kebijakan Kampus Merdeka.

Pelindung: Prof. Dr. H. Husain Syam, M.TP, Dewan Pembina: Hazairin Sitepu, Akbar Faizal, Syahrir Muhammad, Asia Ramli Prapanca, Ammas DR, Anshari, Muhiddin, Mukhramal Azis, Uslimin, Fachruddin Palapa, Abdul Wahid Nara, Husain Rasyid, Syamsuddin Yoko, Rusli Siri, Makmur Abdullah, Faisal Palapa, Rustan Bedmant, Abdul Rahman, Abdul Salam Malik, Supriadi, Mirwan. Pemimpin Umum: Muh. Sauki Maulana, Sekretaris Umum: Aulia Ayu Aprilia Zabir, Bendahara Umum: Ratu Fathonah Amalia, Pemimpin Redaksi: Fikri Rahmat Utama, Manajer Daring: Andi Dela Irmawati, Broadcasting Manager: Andi Tenri Abeng, Pimpinan Penelitian dan Pengembangan: Nurul Istiqamah. Tabloid Mahasiswa PROFESI diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar STT : 1635/ SK/Ditjen PPG/1990. Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Muh. Sauki Maulana, Pemimpin Redaksi: Fikri Rahmat Utama, Redaktur: Muhammad Ilham Akbar. B, Reporter: Elfira, Dewan Ghiyats Yan Galistan, Muh. Ilham Raihan, Anita Nur Fadhilah Halid, Annisa Asy Syam. A, Annisa Puteri Iriani, Ema Humaera, Fitria Indah Saraswati, Khuznul Khotimah, Kristiani Tandi Rani, Muhammad Rezky H, Murni Fotografer: Muhammad Fadhil Aqilah B, Layouter/Desainer Grafis: Supriadi, Manajer Sirkulasi dan Iklan: Muhammad Khadafi Redaksi LPM Profesi UNM: Jl. Mallengkeri Luar No. 25 Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, Makassar Telp. (0411) 8914674, ­E-mail: profesi.online@gmail.com, Website: www.profesi-unm.com, Youtube: Profesi TV

Desain Sampul & Tata Letak: Supriadi

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021

Dalam proses peliputan, wartawan PROFESI dibekali tanda pengenal atau surat tugas dan dilarang meminta atau menerima pemberian dalam bentuk apapun. Urai data, ungkap fakta, saji berita

www.profesi-unm.com


3 LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari

MOZAIK

Tahun MMXXI 2021

Sarasehan LPM Profesi UNM

SNAPSHOT

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan sarasehan bersama tiga lembaga pers mahasiswa di Indonesia. Sarasehan ini diawali dengan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (Suma UI), Perslima Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan ditutup bersama Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM). Sarasehan ini dilakukan selama kurung waktu lima hari, 9 hingga 13 Desember 2020, serta dilaksanakan secara daring. Pemimpin Umum (PU) LPM Profesi UNM, Muh. Sauki Maulana mengatakan sarasehan dilakukan sebagai ajang berbagi kisah selama bergelut di dunia pers mahasiswa. "Persma memiliki banyak tantangan di tengah wabah ini. Maka perlu berbagi kisah dengan persma lain menjawab tantangan berat ini," katanya.

Sarasehan pertama dilakukan bersama Pers Mahasiswa Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (Suma UI) pada Rabu, (9/12). PU Suma UI Fadhil menuturkan pandemi sangat membatasi kegiatan lembaga, sehingga harus dialihkan sepenuhnya ke daring. "Kami berfokus menyesuaikan diri terhadap pandemi, sehingga lebih banyak menghasilkan konten di media sosial," jelasnya. Tak jauh berbeda, Perslima UPI

juga mengalami kendala serupa. Akibat pandemi program kerja menjadi tidak tercapai target. Banyak agenda juga terkendala akibat kampus sering ditutup. “Tapi sekarang itu kita nda terlalu target, karena jangan sampai kita kerjain banyak nanti hasilnya tidak maksimal,” ungkap Sitin anggota Perslima UPI, Sabtu, (12/12). Sarasehan terakhir dilakukan bersama BPPM Balairung UGM. Sirma Pelu selaku PU mengatakan menyambut baik sarasehan ini. Menurutnya setiap persma harus saling berbagi mengenai kinerja lembaga agar bisa dijadikan bahan pembelajaran kedepannya. “Salut sama kawan-kawan LPM Profesi UNM, dengan jumlah pengelola yang bisa dibilang sedikit, mampu menghasilkan banyak produk juranilistik, keren dan salut sama kalian,” ujarnya. (isa)

PKK Menebar Karya via Virtual MAHASISWA Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Makassar (UNM) baru saja menggelar PKK Virtual Expo dan Fashion Show 2020. Kegiatan ini merupakan tugas akhir mata kuliah dan digelar setiap penghujung tahun atau pada akhir Desember. PKK Virtual Expo merupakan kegiatan mahasiswa Progam Studi (Prodi) Tata Boga. Lewat Virtual Expo ini mahasiswa membuat Cipta Karya Boga berupa masakan khas nusantara. Mengusung tema "Harmony In Diversity" mahasiswa ditantang memasak masakan yang mampu meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi saat ini.

Ketua Panitia PKK Virtual Expo Andi Nugita Permata mengatakan walau di tengah pandemi, mereka tetap berusahan menampilkan yang terbaik di ajang tahunan ini. "Kegiatan Virtual Expo 2020 berjalan lancar tanpa kendala berarti. Semoga kegiatan ini memunculkan generasi baru yang lebih kreatif," katanya. Sedangkan Fashion Show adalah kegiatan mahasiswa Prodi Tata Busana. Fashion Show bertema “Sustainable ‘a Master Piece of Fabric Exploration”. Ketua Panitia Fashion Show Andi Nurliana menyebut penyelenggaraan Fashion Show tahun ini cukup menantang karena harus membuat kegiatan di tengah pandemi

Covid-19. Sehingga harus memberlakukan protokol kesehatan secara ketat. “Kegiatan ini menampilkan lima kategori busana yakni Batik Touch, Ecoprin, Tie Dye, Patchwork, dan Screen Printing,” tuturnya. Menurut Ketua Jurusan PKK FT UNM Siti Aisyah, kedua pagelaran ini merupakan mata kuliah wajib makasiswa PKK. Kegiatan ini juga bertujuan memberikan bekal bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat. Ia juga berharap kerja keras dari setiap desainer muda dapat menghasilkan karya luar biasa. “Saya rasa dengan kegiatan ini, mahasiswa kami mampu bersaing dalam trend sekarang,” ungkapnya. (mad)

FOTO: MUHAHMMAD FADHIL AQILAH

Bincang Lakon Persma Indonesia Lawan Covid-19

Spanduk - Massa aksi Aliansi Mahasiswa UNM menuntut subsidi UKT secara general membentangkan spanduk sebagai bentuk protes. Mereka menggelar aksi meminta subsidi UKT secara general dan transparansi dari birokrasi UNM mengenai unit cost dan anggaran Covid-19. Aksi ini diikuti ratusan mahasiswa dan digelar di depan Menara Pinisi UNM. Jumat (08/01/2021)

Peduli Gempa Sulbar, LPM Profesi UNM Open Donasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) membuka donasi untuk korban gempa di Sulawesi Barat (Sulbar). Open donasi ini dilakukan dari tanggal 16 hingga 23 Januari 2021. Pemimpin umum LPM Profesi UNM, Muh. Sauki Maulana mengatakan open donasi ini dilakukan sebagai salah satu bukti peduli kepada masyarakat Sulbar yang tertimpa bencana gempa beberapa hari yang lalu. “Tentunya kegiatan ini untuk membantu teman kita yang sedang kesusahan disana, pasti mereka sangat membutuhkan uluran tangannya kita,” ujarnya. Lanjut, mahasiswa angka-

tan 2016 ini juga berharap dengan kegiatan open donasi ini mampu memberikan keringanan untuk masyarakat Sulbar dan memberikan kepekaan sosial secara khusus bagi anggota LPM Profesi. “Harapannya semoga saja dengan adanya sedikit bantuan yang terkumpul dari teman-teman nantinya bisa membantu saudara kita di Sulbar, semoga juga teman Profesi bisa lebih peka terhadap sesamanya secara khusus,” harapnya. Bagi yang ingin memberikan donasinya dapat dikirim dinomor rekening 0549968614 a.n Ratu Fathonah Amalia (Bank BNI). Untuk informasi selanjutnya dapat menghubungi kontak person: Ayu: 082290043691. (tar)

Redup Kala Ditutup *MUH. SAUKI MAULANA

SUDAH hampir tiga Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) terlihat mati suri. Surat edaran Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) memaksa 13 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menghentikan sementara laju kegiatan mereka. Hampir sulit menemukan satu dua mahasiswa berlalulalang di depan gedung dua lantai setelah kebijakan penutupan sementara kampus diberlakukan. Suara alat musik, derap langkah mahasiswa-mahasiswi menari, atau teriakan semangat penonton di luar lapangan, kini tak bisa lagi dirasakan. Atmosfer pusat kegiatan mahasiswa perlahan hilang. Gempuran pandemi di kampus eks oemar bakrie berimbas langsung pada penertiban sekretariat masing-masing UKM. Lorong bangunan kosong melompong. Beberapa pintu sekretariat terkunci rapat. Tak sedikit fungsionaris memilih mengalah dan

www.profesi-unm.com

PKM - Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) di Kampus UNM Gunung Sari.

mengalihkan agenda di luar kampus sebagai jalan aman. Ketua UKM Seni, Wahyu Murshalat Muchtar misalnya, semenjak peraturan itu terbit, Ia mengaku sedikit kesulitan dalam menjalankan roda kepengurusan yang baru Ia emban. Sejak terpilih pada Musyawarah Kerja (Musker) ke XXIX 23 Desember lalu, hingga sekarang, Ia belum bisa mengurus Surat Keputusan (SK) kepengurusan baru di rektorat.

“Untuk keluhan saya terkait surat edaran ini tentu saja karena menghambat penerbitan SK kepengurusan karna sampai saat ini pihak birokrasi tidak membuka pelayanan secara daring,” keluhnya. Di sisi lain, pria kelahiran Pinrang ini juga tak mau jemawa atas kebijakan penutupan kampus yang dikeluarkan Husain sejak 23 Desember lalu.

Namun, dirinya juga tidak bisa tunduk meratapi nasib. Mahasiswa Jurusan Akuntansi ini paham betul jika roh dari lembaga yang Ia nakhodai salah satunya adalah aktivitas fisik. “Dalam hal ini kegiatan-kegiatan UKM Seni UNM tetap akan berjalan sesuai protokol dan tetap tidak membatasi ruang bagi para anggota untuk berkarya,” kata mahasiswa angkatan 2018 ini. Bagi pengurus UKM, dua tahun ini memang perkara berat. Hadirnya pandemi menjadi tambahan dinamika baru selama menjalani tanggung jawab. Para pengurus ditantang harus lebih kuat. Sambil berharap kondisi kembali pulih. Ketua UKM PSM Pinisi Choir, Muhammad Afrisal telah berikrar agar tetap bisa menjalankan setiap program yang Ia rencanakan. “Terganggu, karena kita tidak bisa melakukan berbagai kegiatan kami lakukan di kampus. Ketidakjelasan kapan su-

rat edaran tersebut berakhir membuat kita tidak tahu kapan kita bisa melakukan kegiatan di kampus,” ujar mahasiswa Jurusan Manajemen ini. Di tengah kondisi pagebluk, rasa cemas tentu hadir di setiap pribadi manusia, tak terkecuali Afrisal. Rasa cemas akan mandeknya program kerja bisa saja terjadi. Menurutnya, kunci dari semua adalah harapan. “Yang jelas saya pasti akan tetap berusaha menjalankan setiap program yang akan saya jalankan, dan berharap mudah-mudahan kegiatan dikampus bisa berjalan normal kembali,” harap Afrisal. Hanya harap yang bisa menjadi alasan para pengurus UKM tetap bertahan. Harapan agar situasi kembali pulih. Hasrat agar penutupan sementara kampus dicabut. Namun, yang lebih penting setelah berharap adalah mampu melalui proses hambatan, sebelum impian itu bisa dicapai. (*)

Urai data, ungkap fakta, saji berita


4 PARIWARA

Urai data, ungkap fakta, saji berita

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2020

www.profesi-unm.com


5 REPORTASE KHUSUS

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2020

SYAM-OK Butuh Sentuhan

Awalnya layanan e-learning, System and Application Management Open Knowledge (SYAM-OK) digadanggadang menjadi jawaban bagi mahasiswa memenuhi kebutuhan akademik di tengah pandemi. Sayangnya aplikasi yang diluncurkan Universitas Negeri Makassar (UNM) 19 Agustus 2020 itu bukanlah pilihan utama kala perkuliahan berlangsung. Setelah beberapa bulan digunakan, mahasiswa mengklaim banyak permasalahan muncul seperti server down, sulitnya pengguna login, dan presensi eror. Hal itu dialami Sri, mahasiswi Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) memakai SYAM-OK dan membuatnya lebih memilih menggunakan aplikasi lain. Alasannya adalah aplikasi lain tidak seperti SYAM-OK yang dilengkapi berbagai macam fitur memumpuni. “Sebenarnya untuk pribadi lebih efektif saya gunakan aplikasi lain. Seperti google classroom, saya rasa lebih simple dibandingkan aplikasi SYAM-OK,” ujarnya. Ketika mengakses e-learning milik UNM itu, Sri mengaku kerap mendapati server down ditambah fitur-fitur Ia temui kurang praktis.

BERDASARKAN angket Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) setidaknya 78,8 persen mahasiswa mengaku puas menggunakan System and Application Management Open Knowledge (SYAM-OK). Namun tetap saja selama periode itu mahasiswa masih mengalami berbagai kendala saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) berlangsung. Angket yang diisi 892 mahasiswa UNM tersebut menjabarkan berbagai keluhan pun kendala saat mengakses SYAM-OK. Mayoritas mereka mengalami keluhan seperti eror presensi dan pengumpulan tugas, kurang memahami kegunaan fitur serta web meeting bermasalah.

www.profesi-unm.com

Meski terkesan hemat kuota karena SYAM-OK, hal itu tetap membuatnya kesulitan saat perkuliahan. “Sedikit hemat kuota jika dibandingkan aplikasi lain, cuma kendala utamanya dari fitur-fiturnya ribet. Dan jelas masalah begini mempersulit, apalagi saat upload tugas,” keluhnya. Keluhan seperti itu juga dibenarkan Syahrir Afdal, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Afdal menyebut dirinya sering terkendala saat login dan memasukkan kode kelas. Belum lagi ketika jaringannya sedang memburuk, website akan terulang kembali dan mengulang kode kelas. Sehingga membuatnya terlambat mengisi presensi. “Dalam mengakses video meeting room, masalah yang sering dialami mahasiswa adalah

server down sehingga sulit masuk room meeting,” sebutnya. Bukan hanya ditemui mahasiswa, kalangan dosen pun ternyata mengalami hal sama. Ketua Program Studi (prodi) Pascasarjana Bimbingan dan Konseling (BK) UNM, Faridah Aryani saja lebih menggunakan aplikasi lain ketika melakukan video konferensi. Pasalnya, layanan web meeting pada SYAM-OK kurang bagus bagi mahasiswa di daerah minim jaringan. “Makanya saya padukan google meet, karena jika mahasiswa lokasinya di daerah terpencil agak susah mengaksesnya,” pungkasnya. SYAM-OK tampaknya memang masih perlu penyempurnaan. Pengoptimalan fitur dan keperluan video konferensi perkuliahan harus bisa lebih sederhana demi sivitas UNM. Meskipun begitu, SYAM-OK sebenarnya adalah hasil penyempurnaan Learning Management System (LMS) UNM terdahulu dengan beberapa peningkatan. Hal diakui Nur Fadhilah, salah seorang dosen prodi BK , Ia mengatakan e-learning UNM tersebut su-

dah lebih baik dari pendahulunya. Fitur presensi dan cut of date misalnya, meski diakui mahasiswa kerap eror, baginya fitur itu cukup membantunya memantau kehadiran dan keaktifan mahasiswanya. “Pertama karena absen sudah ada di situ, jadi kita bisa satu kali buat absen untuk 16 kali pertemuan berdasarkan jadwal kuliah dan itu tidak ada di kelase dan google classroom. Kedua, ada fitur cut of date, kita bisa atur tugas jika sudah deadline otomatis ditolak. Serta ada big blue button yang sama seperti google meet ataupun zoom,” tuturnya. Menurutnya, SYAM-OK sudah terintegrasi baik dengan aplikasi belajar lainnya. Dengan SYAM-OK kapasitas pembelajaran bisa terpantau baik tidak seperti di aplikasi luar. Sementara itu, programmer SYAM-OK, Hartoto mengungkapkan kendala dialami mahasiswa salah satunya akibat dari server yang masih sementara. Sehingga demi kenyamanan akses, kini layanan UNM itu sudah menggunakan server baru lebih stabil. Hartoto juga menyebut kendala

konten pembelajaran, mahasiswa bisa berkomunikasi melalui dosen pengampuh mata kuliah. Namun bagi kendala teknis seperti jaringan dan eror, mahasiswa pun dosen bisa menyampaikan keluhan melalui grup media sosial, Telegram. “Pelatihan SYAM-OK bagi dosen-dosen telah menggeliat dan terdistribusi di semua fakultas. Jadi kedepan, persoalan-persoalan ini semakin berkurang seiring dengan familiarnya dosen dan mahasiswa menggunakan aplikasi. Dari sisi aplikasi juga terus dilakukan penyempuraan agar mahasiswa dan dosen dapat menggunakannya dengan nyaman,” tandasnya. (tim)

Tim Reportase Khusus Koordinator: Fitria Indah Anggota: Muh. Ilham Raihan

Muh. Fadhil Aqilah B Muh. Ilham Akbar

Harus Puas Meski Ribet Persis seperti Ainun Abdillah, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial yang kesulitan mengakses e-learning saat jam kuliah masuk. Imbasnya presensi saat itu membuat status Ainun dicap tidak hadir oleh sistem. Ia mengatakan kalau sudah terjadi seperti ini dirinya harus mengkonfirmasi langsung ke dosen demi memperbaharui status presensinya. Selain itu Ainun pernah kelabakan karena tidak mengetahui syarat akses web meeting SYAM-OK yang mengharuskan peramban diperbaharui dahulu. Lantas Ia pun mengeluhkan hal ini, apalagi sebelumnya tidak ada imbauan seperti itu kepadanya pun ke teman Ainun. “Seharusnya ada arahan dari dosen, kalo ternyata

harus update Chrome dulu sebelum akses web meeting,” ujarnya. Pengakuan Ainun ini hanyalah contoh kecil kendala yang dialami mahasiswa UNM. Dari data angket Profesi, 48 persen mahasiswa juga mengalami kesulitan yang tidak jauh beda seperti Ainun, sehingga hanya 23,9 persen mengatakan SYAM-OK mudah digunakan sedangkan sisanya 28,1 persen menjawab ambigu. Kurangnya sosialisasi ditambah pemahaman mahasiswa yang awam menjadi faktor utama keluhan tersebut bermunculan. Beberapa mahasiswa mengaku harus merelakan kuliah pekan pertamanya sebagai ajang uji coba elearning UNM tersebut. Diakui salah

seorang Mahasiswa Fakultas Teknik, Ira Juliani yang bercerita dirinya sempat banyak menemui kendala dan mengaku kesulitan memakai SYAM-OK. Apalagi menurutnya server SYAM-OK yang kerap down makin mempersulit dirinya saat PJJ. Mahasiswa lain seperti Nadila Aprilia juga mengaku kesulitan bahkan dirinya menganggap e-learning tersebut tidak baik-baik saja. Oleh sebab itu Nadila menyebut SYAMOK belum layak bila disandingkan dengan aplikasi pembelajaran sejenisnya, 51,1 persen mahasiswa lain pun juga berkata demikian (lihat angket) “Sebagai salah satu mahasiswa dan mendengar keluhan dari mahasiswa lain. Saya berpendapat aplikasi

ini belum cukup layak untuk dibilang bersaing dengan dengan aplikasi sejenisnya,” sebutnya. Sementara itu, Hartoto yang merupakan salah seorang programmer SYAM-OK mengakui adanya keluhan-keluhan tersebut. Dirinya beralasan masalah mahasiswa saat mengakses SYAM-OK ditenggarai oleh server e-learning yang masih baru. Hartoto menyarankan agar kendala seperti itu untuk langsung disampaikan ke grup telegram khusus. “Saat ini sebagian request ada yang sampai ke saya, ada juga yang langsung ke ICT. Pun kendala yang dialami mahasiswa seperti itu, sudah dibuatkan channel telegram untuk menampung keluhan,” ujarnya. (tim)

Urai data, ungkap fakta, saji berita


6

LIPUTAN AKHIR TAHUN

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021

Kampus V UNM Parepare

FOTO: MUH. FADHIL AQILAH BASYIR

Tebang Pilih Dana LK

Kampus V UNM Parepare - Gedung dekanat Kampus V UNM Parepare

Seretnya dana Lembaga Kemahasiswaan (LK) Kampus V Universitas Negeri Makassar (UNM) tampaknya jadi langganan mahasiswa kelas Parepare. Setidaknya itulah yang dirasakan 9 himpunan dan 5 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kampus Parepare, tiga tahun terakhir mereka tak kunjung menemui titik terang ihwal dana lembaga. Betapa tidak, mahasiswa Kampus V UNM merasa dianaktirikan birokrasi dengan keruwetan pencairan dana LK. Bina Ilmu Remaja Utuh (Biseru) 17 misalnya, para pengurus mengaku harus mengandalkan bantuan sponsor di luar dana kampus demi menunjang roda organisasi. Alhasil birokrasi yang semestinya adalah pusat dana

LK tidak lagi menjadi tumpuan Biseru 17. Seperti yang diungkapkan Candra, pengurus Biseru 17 bahwa dana 22 Juta untuk semua himpunan dan UKM Kampus Parepare adalah tanda birokrasi tidak perhatian ke organisasi mahasiswa di sana. Padahal menurutnya mahasiswa Parepare tidak kalah sa-

ing membanggakan UNM dengan yang ada di Makassar. Bahkan Biseru 17 sendiri pernah menyabet juara umum festival tari Indonesia se-Sulselbar 2019 lalu. “Kurang lebih 22 juta di mana dana itu dibagi-bagi lagi ke setiap HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi), jadi setiap HMPS mendapatkan dana yang menurut saya begitu sedikit dibandingkan yang di Makassar. Kami di sini merasa dianaktirikan sekali, di mana birokrasi tidak adil dalam pemberian anggaran dana. Apakah birokrasi pernah melirik prestasi kami selama ini yang ikut andil dalam mengharumkan almamater oranye,” keluh Candra.

Mahasiswa angkatan 2018 itu juga menyebut untuk persoalan penggalangan dana (galdan) kreatif, mereka mesti bergerak sedini mungkin mengumpulkan anggaran program kerja. Bahkan demi kelancaran kegiatan, Candra mengaku sampai mengajukan proposal kepada dosen. “Proposal ke dosen paling banyak hanya Rp 300 – Rp 500 Ribu, itu pun uang pribadi dosen bukan dari kampus. Kami mahasiswa Kampus V UNM merasa iri dengan yang di Makassar, setiap melakukan kegiatan, mudah mendapatkan dana kegiatan dari kampus. Kami merasa dianaktirikan,” sebutnya. Belum lagi kurangnya sosialisasi akan prosedur pencairan oleh pihak birokrasi malah membuat dana LK kerap mandek. Imbasnya, dana LK yang seret menjadi langganan bagi para pengurus lembaga di Kampus V UNM. Hal itu pun dialami Nur Amang Rustang, Ketua Umum HMPS Pendidikan Ekonomi Kampus Parepare kala mengurus proposal pencairan dana. Ketidakjelasan prosedur dan tindak lanjut setelah pengajuan proposal membuat dana LK-nya mandek. “Sejak awal berdirinya himpunan sampai sekarang, kami hanya berupaya sendiri untuk mendapatkan dana untuk bisa melaksanakan kegiatan kami. Meskipun dulu pernah ada kabar beredar bahwa akan ada dana LK untuk masing-masing LK, namun sampai sekarang belum kunjung ada, bahkan kami juga sudah sempat urus proposalnya.” tuturnya. Saat dikonfirmasi terkait dana tersebut, Koordinator Kampus V UNM, Abdul Khalik mengatakan

bahwa sejak pandemi pengurusan anggaran kampus perlu perancangan ulang secara perlahan, sehingga menurutnya perlu menjalin komunikasi yang baik ke setiap LK yang ada. Dirinya menyebut anggaran dana kini sudah dalam pengurusan, Ia pun juga mengakui bulan Maret lalu pengurusannya memang mengalami kendala karena Covid-19. “Saya mengaku ini, sudah hampir berjalan dulu, tiba-tiba dan pada sembunyi (mahasiswa) ke daerah, ini baru mau dibangkitkan lagi sekarang karena pengurusnya juga tidak aktif dan sebagainya, kan terk-

"

"Kami mahasiswa Kampus V UNM merasa iri dengan yang di Makassar, setiap melakukan kegiatan, mudah mendapatkan dana kegiatan dari kampus. Kami merasa dianaktirikan,”

Candra Mahasiswa Kampus V UNM

endala di situ anggaran-anggaran. Kemudian saya berharap pengurus-pengurus yang berada di kampung bisa melakukan komunikasi dengan baik supaya saya dapat kembali memberi semangat kepada mahasiswamahasiswa, saat ini saya juga kembali merintis anggaran dana dari pusat,” ujarnya. (tim)

Mahasiswa Rebutan Kelas KELUHAN fasilitas masih menjadi masalah tahunan di Kampus V Universitas Negeri Makassar (UNM) Sektor Parepare. Sejatinya kampus berakreditasi A haruslah memiliki sarana dan prasarana (sapras) sesuai dengan titel yang disandangnya. Namun hal ini tidak berlaku bagi Kampus Sektor Parepare. Bagi Geibi (disamarkan), masalah sapras di kampusnya belum teratasi baik dan menurutnya perlu diberi perhatian lebih oleh birokrasi. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini merasa fasilitas di Kampus Parepare tidak sesuai dengan akreditasi A milik UNM. Untuk kebutuhan perkuliahan saja Geibi menyebut kampusnya sangat kekurangan ruangan. Hal itu

Urai data, ungkap fakta, saji berita

pun berimbas pada proses perkuliahan sehingga dirinya kerapkali berebut ruangan karena fasilitas yang tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa di sana.

kami. Di mana ruangan kelas yang kurang jumlahnya sehingga ketika ada jadwal kuliah yang waktunya bersamaan maka akan ada yang menunggu,” ungkapnya. Apalagi ketika menyinggung fasilitas lain, Geibi menilai sapras Saya sebagai koor- Kampus Parepare tidak terawat baik seperti yang Ia temui di ruang dinator kampus kelas, laboratorium hingga toilet. mengharapkan Ia mengatakan alat praktikum mikejelasan dari pusat lik kampus terbilang kurang lengkap dan tidak jarang ada ruangan mengenai pemyang rusak. Bahkan tidak adanya bangunan gedung lapangan olahraga menambah empat lantai yang deretan keluhan Geibi yang tidak merasakan Pekan Olahbelum ada kejelas- pernah raga dan Seni (Porseni) di kampus annya sampai saat karenanya. “Saya juga mengeluhkan ini, yang ada hanya pembangunan sekretariat HMPS janji, janji dan janji,” (Himpunan Mahasiswa Program Studi) juga tidak adanya perhatian Abdul Khalik Koordinator Kampus V UNM dari birokrasi mengenai pembangunan di Kampus V UNM Sektor Parepare seperti pintu ruangan ru“Di sini saya mengeluhkan sak yang belum diperbaiki. Tidak sekali sarana dan prasarana kare- adanya lapangan membuat kami na UKT (Uang Kuliah Tunggal) tidak pernah melakukan hal yang tinggi dikarenakan kebanyakan berkaitan dengan keolahragaan mahasiswa di sini lulusan jalur seperti volly, takrow dan lainnya,” mandiri, sedangkan fasilitas ujarnya. yang dinikmati tidak sesuai denSama dengan Geibi, Nur gan apa yang menjadi harapan Amang Rustang, Mahasiswa Prodi

"

Pendidikan Ekonomi ini mengaku persoalan fasilitas memang belum memadai. Ia mengatakan seharusnya birokrasi tidak boleh luput perhatian hanya karena Kampus V UNM bukan kampus induk. Apalagi masalah pembangunan sudah dirasakan mahasiswa sejak beberapa tahun terakhir. Pun jika birokrasi menanggapi ini dengan serius maka sejak tiga tahun lalu semestinya kampus di “Kota Cinta” itu telah turut menjadi representatif akreditasi A yang disandang UNM. “Seharusnya birokrasi sudah memiliki rancangan untuk menambah ruangan dan mengambil langkah pelaksanaannya. Supaya nanti jika perkuliahan tatap muka dilaksanakan, ruangan sudah cukup dan tidak ada lagi pertengkaran antar jurusan dalam hal ambil ruangan nantinya,” pungkasnya. Sementara itu Koordinator Kampus V UNM, Abdul Khalik

beralasan bahwa pembangunan seperti sekretariat dan gedung empat lantai telah lama diupayakan birokrasi, tetapi kini terhalang pandemi. Ia juga mengakui UKT mahasiswa yang tergolong tinggi tidak sebanding dengan sapras kampus. “Tiba-tiba Covid-19, sehingga apa yang saya rintis untuk Kampus V UNM tidak ada kejelasan dari pusat, saat ini saya kembali berusaha merintis dari awal supaya mahasiswa dapat menikmati fasilitas seperti apa yang mereka inginkan. Di mana mereka membayar UKT yang tergolong tinggi sedangkan fasilitas yang ada masih tidak lengkap. Saya sebagai koordinator kampus mengharapkan kejelasan dari pusat mengenai pembangunan gedung empat lantai yang belum ada kejelasannya sampai saat ini, yang ada hanya janji, janji dan janji,” ujarnya. (tim) www.profesi-unm.com


7

LIPUTAN AKHIR TAHUN

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021

Kampus VI UNM Bone

Aula Reyot, Ketua UPP Berdalih

Gedung besar berwarna coklat berpadu putih dan tua, serta tak terurus, sehingga tampak berhamburan bak sapuan angin siklon. Begitulah sedikit gambaran bangunan Aula Kampus IV Unit Pelaksana Program (UPP) Program Studi (PGSD) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Bone Universitas Negeri Makassar (UNM). Meski menyandang akreditasi A, bangunan utama tempat mahasiswa berkegiatan itu tak sekalipun terjamah birokrasi kampus. Plafon yang makin hari kian reyok serta kipas angin pajangan adalah saksi UNM menutup mata untuk kampus Bone tersebut. Persis seperti dikatakan Wakil

Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PGSD Bone, Armiati. Dirinya bahkan menyebut kipas angin yang terpajang di langitlangit bangunan itu sempat terjatuh. Nasib baik kala itu kipas angin tersebut tidak sampai menimpa mahasiswa. “Aulanya juga kak belum

pernah diperbaiki, jadi kadang kalau berkegiatanki kipasnya biasa jatuh," keluhnya saat ditemui. Saat dikonfirmasi perihal aula yang terbengkalai dan tidak dibenahi, Sekretaris UPP PGSD Bone, Kadir beralasan bangunan tersebut sengaja dibiarkan seperti itu. Dengan dalih bangunan tersebut rencananya akan dirombak secara keseluruhan. "Untuk sementara (kerusakan) aula ini tidak dibicarakan, karena mau dibongkar," ucapnya. Kadir mengaku telah sedari dulu mengirim rancangan reno-

vasi bangunan tersebut ke pusat UNM dan sementara menunggu realisasi. "Kemarin sampai kami sudah kirim rencananya, bulan ini tinggal menunggu dari atas kalau jadi ya dilanjutkan," katanya. Adapun dari penuturan Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Keuangan (WD II) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Pattaufi, pihaknya mengaku telah menerima rancangannya. Kendati demikian, Ia masih belum memberikan isyarat pembenahan gedung tua di Kampus UPP PGSD Bone itu. “Kalau dari fakultas itu mohon maaf tahun ini ndak adami bisa karena anggaran yang dikasih

menurun, harusnya 11 M, tapi sisa 4,9 M, jadi di bawah 50%,” ujarnya. Selain aula tersebut, mahasiswa PGSD di Kota Beradat itu masih merasakan fasilitas yang tidak sepadan dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) seperti Air Conditioner (AC) ruangan kerap tak berfungsi hingga keamanan parkiran di sana dipertanyakan. Bahkan beberapa mahasiswa mendapati helm miliknya raib dicuri orang kala memarkir motornya di kampus. "AC dulu memang kadangkadang mati sama parkirannya, jadi parkirannya dialihkan jadi ada yang mengeluh karena panas motornya, biasanya juga ada helm hilang," sebut Armi. (tim)

Sewa Baju Lab Setara Biaya Parkir SELAIN aula dan fasilitas ruangan lain, nahasnya sebagian Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) bone juga harus mengeluarkan biaya kala mengikuti praktik laboratorium. Pasalnya, pihak Kampus IV Unit Pelaksana Program (UPP) Prodi PGSD Bone Universitas Negeri Makassar (UNM) masih memungut uang untuk sewa baju lab (laboratorium) kepada mahasiswa. Hal itu sempat diakui Wakil Ketua Himpunan Program Studi (HMPS) PGSD Bone, Armiati yang mengatakan mahasiswa

www.profesi-unm.com

dikenai tarif Rp2 ribu untuk sewa baju lab sekali pakai. Sehingga pengurus HMPS PGSD Bone berinisiatif memperadakan baju lab gratis bagi mahasiswa yang ingin dipinjamkan. Namun tetap saja, karena banyaknya jumlah mahasiswa, tidak semua orang bisa meminjam baju lab milik HMPS PGSD Bone. Sehingga sebagian besar mahasiswa tetap harus mengeluarkan biaya Rp2 ribu untuk sewa baju lab di kampus. "Kami dari HMPS sudah sediakan (baju lab). Cuma kadang tidak cukup kak, jadi terpaksa

sebagian mahasiswa membayar dua ribu rupiah baju lab kampus untuk satu kali pakai," ungkapnya. Pun Armiati menyayangkan pungutan kepada mahasiswa itu. Menurutnya kampus semestinya tidak lagi memperlihatkan pungutan liar seperti ini kepada mahasiswa. Bahkan sebelumnya Ia mengaku pernah melaporkan hal tersebut kepada pihak birokrasi Kampus Bone. Namun belum ada tanggapan serius dari pihak kampus yang dimintainya itu. "Sebenarnya baju lab itu

tidak dibayar lagi, karena sudah ditanggung UKT (uang kuliah tunggal) dari mahasiswa," ujarnya. Saat dikonfirmasi perihal pungutan sewa baju lab tersebut, Sekretaris UPP PGSD Bone UNM, Kadir mengaku tidak mengetahui persis hal tersebut dan enggan berkomentar lebih lanjut. "Saya ndak mau pusingi itu," sebutnya. Sementara itu, Ketua Prodi PGSD, Irfan pun juga tidak menampik adanya pungutan liat ini. Dirinya hanya mengatakan agar mahasiswa yang tidak pu-

nya lab untuk meminjam kepada mahasiswa lainnya. "Mereka (yang tidak punya baju lab) bisa meminjam dari teman-teman," dalihnya, Sabtu, 2 Januari 2021. Menurut Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Keuangan (WR II) UNM Karta Jayadi pungutan baju lab yang terjadi tidak melanggar regulasi apapun. Baju lap baginya di luar tanggungan UKT, karena merupakan barang milik pribadi sama halnya pulpen, laptop, dan buku. “Siapa yang mau belikan (baju praktik)? Aneh juga kalau baju praktik dianggap sebagai bagian dari UKT,” katanya. (tim)

Urai data, ungkap fakta, saji berita


8

KALEIDOSKOP

Urai data, ungkap fakta, saji berita

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2020

www.profesi-unm.com


9

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2020

www.profesi-unm.com

KALEIDOSKOP

Urai data, ungkap fakta, saji berita


10

INOVASI

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021

Rubbish Assistant

Sistem Kelola Sampah Masa Depan

Ilustrasi - Ilustrasi cara kerja Rubbish Assistant (Ist)

Mengangkat ide sistem pengelolaan sampah masa depan, Yusnalia dan tim berhasil menyabet medali emas Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) 33 pada kategori poster Rubbish Assistant, demikian nama sistem pengelolaan sampah gagasan tim PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) UNM di Pimnas 33 yaitu Yusnalia Kadir, Muhammad Najib, dan Anjelina Sari. Sistem ini dianggap jadi solusi mengefisiensikan pengelolaan daur ulang sampah di Indonesia. Sistem ini diklaim

mampu meningkatkan volume daur ulang sampah yang saat ini hanya mencapai 10% dari 64 ribu ton sampah per tahun, serta memiliki nilai ekonomis tinggi dibanding sistem daur ulang lain. Mengusung sistem kelola sampah modern, Rubbish Assistant memiliki beberapa keunggu-

lan seperti nilai ekonomis tinggi, efektif, efisien, dan berkelanjutan. Idenya pun diangkat dari riset mengenai jumlah sampah Indonesia yang terbesar kedua setelah Cina dan akan terus meningkat setiap tahunnya tanpa disertai sistem pengelolaan yang baik. “Indonesia juga memilliki jumlah penduduk yang banyak, sehingga jumlah sampahnya pun banyak dan meningkat tiap tahun maka perlu ada sistem pengelolaan sampah,” kata Yusnalia, Sabtu (12/12). Proses kerja sistem ini ter-

diri dari lima komponen uta- sahaan pendaur sampah sehingga ma. Pertama Smart Trash Can. bernilai ekonomis. Sedangkan Smart Trash Can ini adalah sampah yang tidak bisa dibatempat sampah dengan fitur kar maupun didaur ulang akan penimbang dan barcode. Sam- diendapkan di tabung Anaerob pah yang masuk nantinya akan menjadi pupuk. ditimbang lalu diberikan koin “Ini adalah PKM GFK (Gasesuai berat sampah. “Masyara- gasan Futuristik Konstruktif), jadi kat yang menukar sampahnya saat kami kerjakan PKM ini selalu akan mendapat koin sesuai berat konsultasi dan riset agar lebih pasampah, koinnya bisa ditukar e- ham apa yang harus ditulis dan money untuk pembayaran trans- seperti apa judul yang cocok,” kaportasi umum,” paparnya. tanya. Kompenen kedua yaitu RubYuna sapaan akrab Yusnalia bish Rapid Transit, komponen ini menceritakan timnya yang terberupa jalur pembuangan sam- diri dari tiga orang ini berasal pah ke tempat pengelolaan akhir dari jurusan berbeda. Dirinya di bawah tanah dengan menggu- sebagai ketua dari Pendidikan nakan pipa. Sampah yang telah Matematika sedangkan dua ditimbang di Smart Trash Can lainnya sebagai anggota dari akan langsung dibuang ke bawah Pendidikan Guru Sekolah Dasar tanah sehingga tidak menyisakan (PGSD). Lalu menurutnya sampah di permukaan tanah. “Di karena ini PKM GFK bertema bawah tanah itu ada Rubbish sampah maka mereka tak hanya Separator, berfungsi memilah menyusun prosal tapi harus juga sampah yang bisa didaur ulang membuat video keadaan sampah atau tidak secara otomatis,” jelas di Indonesia. Dan akhirnya memahasiswa Pendidikan Matema- nyabet juara satu poster di Pimtika ini. n a s 33 2020. (tis) Sampah yang tidak bisa didaur ulang akan dibakar di tabung anaerob lalu menjadi energi listrik alternatif dan gas elpiji alternatif. Dan bagi sampah yang dapat didaur ulang akan dijual ke peru- Tim PKM - Muhammad Najib, Yusnalia Kadir, dan Anjelina Sari (Ist)

SenTsu Solusi Jitu Deteksi Tsunami

Tim PKM - Nur Indra Pratiwi, Sugiawan dan Dewi Sri Mulyana Supriadi (Rezky/Profesi)

SECARA geografis, Indonesia menjadi salah satu negara berpotensi dilanda bencana tsunami. Adanya lempeng tektonik yang melintas menurut ahli menjadi penyebabnya. Jelih melihat kondisi ini, Nur Indra Pratiwi, Sugiawan dan Dewi Sri Mulyana Supriadi pun membuat inovasi alat Sensor Tsunami (SenTsu) untuk mendeteksi gelombang dahsyat tersebut. Keberhasilannya dalam membuat SenTsu juga mengantarkannya meraih medali perak di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-33. Sistem cerdas pada alat yang meUrai data, ungkap fakta, saji berita

manfaatkan tenaga surya sebagai sumber daya ini rupanya menarik perhatian juri. Menurut Nur Indra Pratiwi, setelah terintegrasi dengan pelampung, algoritma SenTsu pun akan otomatis membaca perubahan ketinggian dan penurunan air laut melalui sensor yang sudah ditanamkan. “Jika pelampung sudah terintegrasi dengan algoritma Light Weight Frequent-Item selanjutnya akan dibaca oleh sensor IMU untuk membaca perubahan ketinggian air laut,” bebernya. Meski sebelumya Badan Meteorolo-

gi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memiliki alat yang serupa di Labuan Bajo di tahun 2020, Nur Indra Pratiwi mengugkapkan alat yang digagasnya tidak hadir menjadi tandingan. Bahkan, SenTsu Ia gadang akan berperan sebagai pelengkap alat milik BMKG. "Konsep kami dirancang bukan untuk menggantikan teknologi sebelumnya, tapi menjadi device pendukung early warning system milik BMKG." ungkapnya. Perangkat cerdas IMU menjadi kunci sukses dari alat ini. Secara realitime, SenTsu akan memantau aktivitas gelombang air laut dan patahan lempeng bumi. Jika potensi muncul, dengan kecerdasannya, SenTsu akan membedakan data tersebut sebelum diteruskan ke sink. Selajutnya, sink menerima dan mengolah data dari sensorsensor di pesisir pantai kemudian data potensi tsunami yang diteruskan ke BMKG. "Sink menerima dan mengolah data dari sensorsensor di pesisir pantai, selanjutnya data potensi tsunami diteruskan ke BMKG. Kemudian BMKG menerima informasi bahaya tsunami. Setelah itu, data yang telah diterima oleh BMKG tidak perlu lagi dianalisa karena sudah dianalisa oleh sistem kecerdasan buatan yang tertanam pada alat." jelas Nur Indra Pratiwi. Tidak hanya itu, menurut mahasiswi program studi Pendidikan Teknik Informatika dan Komput-

er (PTIK) ini, SenTsu akan memberikan pemberitahuan potensi bahaya tsunami kepada masyarakat sekitar secara otomatis. Lalu BMKG hanya perlu mengirimkan informasi kepada masyarakat melalui sirine, display, dan ternotifikasi ke gawai masyarakat di area terdampak tsunami. "BMKG hanya akan memberikan informasi berupa titik penyelamatan, prosedur penyelamatan seperti pada anak-anak, lansia dan lainnya." Tegasnya dengan penuh harapan dapat membantu pelayanan masyarakat. (tis)

www.profesi-unm.com


11

INFO AKADEMIK

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021

Pascasarjana UNM

Pendaftaran Maba Hingga 14 Maret

Pendaftaran Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali dibuka. Mekanisme pendaftaran kali ini memakai dua model yakni online dan offline. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 4 Januari hingga 14 Maret 2021. Direktur PPs UNM, Hamsu Gani menuturkan semua Program Studi (Prodi) akan dibuka. Termasuk Prodi Psikologi Pendidikan yang baru saja reakreditasi di 2020 kemarin. "Akreditasinya ini akreditasi baru, tidak bisa dikatakan A, B, dan C tapi tetap terakreditasi. Nanti dua tahun diajukan re-akreditasi setelah ada hasil baru kita tahu akreditasinya apa," tuturnya. Dirinya juga mengungkapkan pihaknya telah menyesuaikan kuota pendaftaran dengan prospek peminat masing-masing prodi. Sementara itu, terkait mekanisme pembelajaran PPs, Hamsu Gani menyebut mereka menggunakan sistem online dan juga offline kepada mahasiswa. “Adapun

www.profesi-unm.com

PPs - Gedung Program Pascasarjana

proses belajar mengajarnya seperti seminar, ujian-ujian dan seminarseminar yang dilakukan oleh pasca (PPs) tanpa henti-hentinya bekerja,� sebutnya. Saat ini PPs UNM juga memanfaatkan platform SYAM-OK (System and Application Management Open Knowledge) milik UNM dan beberapa aplikasi video conference lain, seperti Zoom. Namun proses pembelajaran di PPs menurut Hamsu Gani cukup fleksibel. Dengan tetap mempertimbangkan kontrak belajar antara mahasiswa dan dosen, akan menggunakan aplikasi apa ketika

pembelajaran berlangsung. Lanjut, Hamsu Gani menyebut pada prosesi wisuda terakhir, PPs UNM menamatkan 188 mahasiswa dari program S2 dan S3. Namun dirinya mengaku bahwa hanya mahasiswa berprestasi yang hadir dalam prosesi wisuda secara langsung, sisanya mengikuti via online. "Karena kan sekarang ini setiap 1000 orang kerap wisuda hanya 188 yang ikut luring karena sekarang dilaksanakan luring dan daring. Berprestasi itu di undang langsung dan yang lainnya itu di rumah saja," pungkasnya. (pr36)

UNM Bakal Hadirkan Prodi Profesi Insinyur UNIVERSITAS Negeri Makassar (UNM) telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) 22 Desember lalu. MoU ini merupakan nota kesepahaman dan kerja sama pendirian Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) di UNM. PII dan UNM melakukan akad untuk mendaulat UNM sebagai pemrakarsa realisasi peraturan Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi (Dikti) tentang pendirian PSPPI. Dengan demikian UNM akan menjadi kampus pertama di Indonesia yang memiliki PSPPI sesuai aturan Dirjen Dikti. "Jadi yang pertama kali nanti adalah UNM. Kita upayakan dalam mendirikan PSPPI sebagai tindak lanjut pelaksanaan peraturan dirjen tentang pendirian PSPPI," ujar Ketua PII, Heru Dewanto. Diketahui saat ini sebanyak 42 perguruan tinggi telah memiliki PSPPI, tetapi kebutuhan masih berbanding terbalik dengan lulusan sarjana teknik. Sekitar 60 ribu lulusan sarjana teknik dihasilkan setiap tahunnya, sementara yang dapat diberikan gelar insinyur hanya sekitar 40 ribu. "Kita punya selisih yang sangat besar, maka pelaksanaan PSPPI ini perlu kita tambah, upaya

untuk menambah itu ada di peraturan dirjen dikti tentang PSPPI. UNM ini akan menjadi pertama kali melaksanakan peraturan dirjen dikti tersebut," lanjut Ketua PII. Menanggapi hal itu, Rektor UNM, Husain syam mengaku siap mengambil tanggung jawab dan peran mengemban amanah dari PII. Berbekal potensi dan sumber daya guru yang dimiliki UNM, Husain Syam percaya dapat menjadi pelopor dari peraturan Dikti. "Kami akan buktikan dan tunjukan kepada pengurus PII bahwa kita bisa mengambil amanah itu dan kita bisa menghadirkan insinyur yang hari ini masih kita anggap kurang, UNM akan siap mengambil alih itu," tutur Husain Syam saat dimintai tanggapan mengenai PSPPI di UNM. Hingga saat ini, proposal telah disiapkan untuk nantinya akan dikirim ke Dirjen Dikti dan a p likasi persatuan dirjen dikti. (isa)

REKTOR UNM, HUSAIN SYAM

Urai data, ungkap fakta, saji berita


12 PARIWARA

Urai data, ungkap fakta, saji berita

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2020

www.profesi-unm.com


13 WAWANCARA KHUSUS

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2020

Edukasi Kunci Basmi Politisasi Birokrasi Disertasinya ini pula mengantarkannya menyandang gelar Doktor Ilmu Administrasi Publik Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar. Lantas, seperti apa gambaran politisasi birokasi menurut Basmin Mattayang. Simak wawancara khusus Reporter Profesi *Annisa Asy Syam. A dengan Bupati Kabupaten Luwu ini pada 12 Desember lalu di Ballroom Teater Lantai 3 Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar.

Politisasi birokrasi kebijakan publik saat ini marak terjadi, partai politik seringkali menggunakan Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai jalan meraih suara. Basmin Mattayang membahas masalah ini di disertasinya, berjudul "Dampak Politisasi Birokrasi Dalam Pelayanan Publik di Kabupaten Luwu"

www.profesi-unm.com

Bisa jelaskan singkat tentang disertasi Bapak? Saya mengangkat tema politisasi birokrasi karena berdasarkan keadaan di lapangan. Pilkada langsung berdampak pada birokrat sehingga kinerja mereka melemah. Kinerja melemah disebabkan bimbangnya ASN memilih kandidat. Sehingga ini dimanfaatkan oleh kandidat, mengapa kandidat memanfaatkan ASN, karena ASN biasanya memiliki empat hingga lima hak suara di keluarganya. Menggunakan money politic bukan tidak mungkin karakter abdi negara sebagai garda terdepan dalam pelayanan publik akhirnya menjadi terkikis. Namun jika saya ditanya apakah setuju atau tidak dengan pilkadanya, saya pasti setuju yang tidak saya setuju adalah politisasinya. Dan sebagai warga kita punya hak input. Hak input terhadap penentu kebijakan, agar baiknya pilkada langsung cukup presiden dan gubernur saja, tidak perlu sam-

pai ke tingkat kabupaten karena dampak negatifnya sangat tinggi, salah satunya dapat memecah belah keluarga. Bagaimana menghadapi politisasi birokrasi? Dengan negara yang sementara berkembang, harus ada satu kiat-kiat yang dilakukan pemerintah seperti mengedukasi masyarakat agar dewasa menerima prosesnya demokrasi ini. Nah, kita ini karena negara berkembang jadi masyarakat kita belum terlalu siap, bukan tidak siap, tetapi belum terlalu siap menerima pilkada langsung, faktanya seperti itu. Sehingga kiat-kiat dan edukasi sangat diperlukan. Bagaimana idealnya birokrasi pada pelayanan publik agar tidak terlibat politik praktis? Kalau idealnya birokrasi di pelayanan publik, sebenarnya birokrasi itu instrumen penting dalam negara untuk mengelola suatu negara. Dia diberi mandat negara untuk melakukan pelayanan publik, sehingga perlu edukasi dua sisi. Harusnya yang memiliki politik yah orang poltik bukan birokrat, dan birokrat harus menjalankan tugasnya tanpa terlibat politik. Jika harus birokrat telibat politik maka harus dibuatkan regulasi yang kuat. Bagaimana gambaran politisasi birokrasi pada pelayanan publik di Kabupaten Luwu?

Dampak politisasinya sangat tinggi. Dapat dibayangkan, kalau hanya beda pilihan rumah tangga bisa retak. Padahal arah politik memang begitu, tetapi beda pilihan harusnya tidak boleh menciptakan silang sengketa. Kalau sudah begitu, sudah jadi hal naif dan tidak boleh terjadi lagi. Bagaimana solusi menciptakan ruang publik bebas dari politisasi? Solusi yang kita lakukan adalah melakukan edukasi, pendekatan persuasif dalam sosialisasi, agar semua tahu bahwa ASN merupakan birokrasi yang punya regulasi tersendiri. Oleh sebab itu kita berharap ke depan supaya lebih cerdas, masyarakat lebih cerdas memahami tentang demokrasi dan pilkada. Serta kepada ASN silahkan berbeda pilihan tetapi tidak boleh ikut bepolitik praktis. (*) BIODATA Nama: Dr. H. Basmin Mattayang Lahir: Wara, 12 Desember 1957 Profesi: Bupati Kabupaten Luwu Pendidikan: Sarjana Muda IKIP Ujung Pandang Sarjana (S1) IKIP Ujung Pandang Magister Manajemen Pendidikan UNM Doktor Ilmu Administasi Publik UNM Karier: Bupati Kabupaten Luwu Periode 2004-2009 Wakil Rektor Universitas PEPABRI Bupati Kabupaten Luwu Periode 2019-2024

Urai data, ungkap fakta, saji berita


14

REPORTASE UTAMA

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021

Rapor Merah Para Wakil Rektor UNM pusat mengenai lanjutan pembangunan gedung di tempatnya. “Saya sebagai koordinator kampus V UNM sektor Parepare mengharapkan kejelasan pusat mengenai pembangunan gedung 4 lantai yang belum ada kejelasannya sampai saat ini, yang ada hanya janji, janji, dan janji,” ujarnya Sementara itu saat dikonfirmasi mengenai kinerjanya, Karta menuturkan lebih banyak terkendala perihal masih banyak mahasiswa tidak jujur saat melakukan peninjauan UKT. “Termasuk mahasiswa tidak jujur menyampaikan keadaan ekonomi keluarganya karena maunya UKT rendah, memaksakan kehendak potong UKT tanpa pengajuan permohonan dan dokumen,” jelasnya. Wakil Rektor UNM - (Dari kiri) Hasnawi Haris, Karta Jayadi, Sukardi Weda, Ichsan Ali.

Tepat 15 Januari 2021 masa bakti empat Wakil Rektor UNM genap 6 bulan. Walau sudah setengah tahun menjabat tapi nyatanya belum ada gebrakan baru, padahal situasi pandemi dan kebijakan baru Kemendikbud seharusnya memaksa mereka putar otak untuk beradaptasi. Masalah peninggalan "mantan" masih terus terjadi tanpa solusi berarti. Berikut ulasan kinerja empat punggawa Wakil Rektor UNM. WR I: Jalan di Tempat Persoalan kuliah daring yang sedari awal dihadapi tak kunjung menemui solusi. Masalah pembelajaran daring belum memuaskan, aplikasi kuliah tak seragam, hingga dosen malas menjadi PR dan hingga kini solusinya hanya jalan di tempat. Padahal Hasnawi sudah melihat hasil kuliah online semester genap tahun ajaran 2019/2020, tapi hal itu tidak membuatnya menjadikan kuliah daring lebih baik di semester berikutnya. Belajar daring memang menjadi tantangan terberat diawal menjabat, walaupun hanya satu-satunya jalan yang bisa ditempuh tapi tidak membuatnya jadi prioritas perbaikan. Mahasiswa masih banyak mengeluhkan perihal kuliah daring, mereka tidak puas akan pembelajaran daring karena banyak masalah dipelaksanaanya. Hal ini terlihat dari survei Profesi, survei ini diikuti 1.999 mahasiswa UNM dan hasilnya 83% mahasiswa lebih menyukai belajar luring dibanding daring. Alasannya beragam namun kebanyakan menyebut dosen seringkali menyamaratakan jaringan mahasiswa sehingga banyak mahasiswa jaringan terbatas mendapat nilai jelek. Selain itu mahasiswa juga tidak mendapat banyak interaksi sehingga cepat bosan dengan pembelajaran. Bahkan ada mahasiswa menyebut tidak mendapat banyak ilmu selama daring sehingga lebih menyukai belajar langsung. Aplikasi kuliah juga hingga kini tak pernah mendapat kata sepakat untuk seragam. Sampai semester ganjil selesai, masih banyak pembelajaran tak menggunakan aplikasi UNM padahal aplikasi SYAM-OK jadi aplikasi kebanggaan Rektor UNM, Husain Syam. Namun hal itu tidak membuat Hasnawi menjadikan aplikasi itu diminati mahasiswa dan dosen. Aplikasi seperi Google Clasroom, Google Meeting, dan Zoom lebih diminati sebagai wahana belajar. Dosen masih banyak melanggar "titah" Hasnawi untuk menggunakan SYAM-OK, mulai dari dosen biasa hingga sekelas guru besar. Mungkin sosialisasi yang kurang menjadi salah satu faktor SYAM-OK kurang diminati. Hasnawi baru gencar melakukan sosialisasi SYAM-OK di pertengahan semester, hal ini dianggap Urai data, ungkap fakta, saji berita

sia-sia karena tidak akan berdampak besar. Survei Profesi menyebut 58,9% mahasiswa tidak terbantu belajarnya dengan SYAM-OK dan 87% mahasiswa mengalami kendala saat memakai SYAM-OK sehingga memilih beralih ke aplikasi lain. Selain itu dosen malas juga menjadi keluhan terbanyak di semester ganjil. Bahkan bak Covid-19, oknum dosen malas ini malahan menjangkiti banyak dosen. Semestinya hal seperti ini sudah lama dibereskan, namun nahas tepat berakhirnya semester ganjil, dosen malas seakan tidak jerah dan masih kerap ditemui mahasiswa. Dosen seringkali hanya memberikan tugas tanpa pertemuan dan juga sering memindakan waktu kuliah ke malam hari tanpa memperhatikan keadaan mahasiswanya. Dari survei Profesi 79% mahasiswa tidak puas terhadap dosen, namun Hasnawi tak kunjung menujukan ketegasannya, tak pernah ada sanksi kepada dosen malas. Padahal beberapa kaprodi telah mengakui kemasalan anggotannya, seharusnya hal ini didengar Hasnawi sehingga belajar daring bisa jadi lebih baik. Namun semua masalah di UNM seakan tidak terlihat oleh Hasnawi, Hasnawi masih saja terkesan tak peduli. Kalau sampai dibiarkan begitu saja, kualitas mahasiswa akan terus menurun seiring belajar daring yang tak kunjung selesai. Terakhir kebijakan Kampus Merdeka juga belum nampak di UNM, kebijakan baru Kemendikbud itu tidak mampu diadaptasi dengan cepat. Sampai saat ini UNM masih saja ditahap adaptasi dan belum banyak menyelenggarakan kebijakan kampus merdeka tersebut. WR 2: Sang Bapaknya UKT Banyaknya masalah di periode sebelumnya, tak membuat Karta Jayadi memperbaiki semua itu. Di periode keduanya sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan tak ada kinerja berarti selama enam bulan bekerja dari mantan dekan FSD ini. Masalah UKT dan pembangunan kini selalu jadi nomor wahid permasalahan. Dirinya belum menunjukan perkembangan berarti. Masalah UKT yang digaungkan LK sejak semester lalu tak pernah dikabulkan olehnya, menurutnya tidak bisa

mengsubsidi UKT mahasiswa secara general karena UNM tetap membayar berbagai kebutuhan kampus. Padahal saat kuliah online tidak ada fasilitas yang digunakan secara rutin. Tanpa ingin didebat Ia hanya menyuruh mahasiswa membaca SK Rektor No. 05 tahun 2021 tentang mekanisme peninjauan/penetapan uang kuliah tunggal (UKT) di lingkup UNM. Yang bikin geleng-geleng kepala, kala aksi aliansi mahasiswa UNM pada Rabu (13/1), dirinya terpantau sedang berselfi di seberang jalan. Lalu, fotonya dijadikan status di stori WAnya. “Mencermati demo mahasiswa UNM dari seberang,” tulisnya di keterangan foto. Bila ada iktikad baik kenapa tidak sekalian saja dibukakan dialog antara birokrasi dengan LK yang menuntut. Toh fungsionaris LK punya kajian risetnya sendiri untuk dibenturkan dengan kebijakan UNM itu. Walaupun jalan yang ditempuh lebih runyam setidaknya dengan dialog ada kepercayaan mahasiswa terhadap kebijakan kampus. Apalagi tidak sedikit mahasiswa menilai pengawasan administrasi WR II tidak konsisten. Pasalnya, kebijakan lockdown yang mengakibatkan mahasiswa tidak boleh berada di kampus seakan dipecundanginya dengan tetap adanya acara nikahan digelar di Gedung Amanagappa. Padahal bangunan itu berada di tengah lingkungan Kampus. Pantas saja, bila mahasiswa makin memandang sebelah mata. Di sisi lain perihal pembangunan kampus, terlihat di semua fakultas hanya melakukan perbaikan berkala dan perawatan bangunan. Hingga saat ini hanya gedung SS FMIPA dilanjutkan pembangunannya. Sedangkan empat gedung mangkrak lain tak kunjung mendapat perhatian, padahal di tengah pandemi ini keuangan UNM banyak tertumpuk akibat sedikit pengeluaran namun belum ada rencana gedung mangkrak dilanjutkan. Bukan hanya itu, dua kampus daerah di Kabupaten Bone dan Kota Parepare seolah terus-terusan dianaktirikan. Fasilitas kampus di sana terbilang jauh lebih jelek dari kampus Makassar. Parepare misalnya, menurut Koordinator kampus V Abdul Khalik, Ia belum mendapat kejelasan dari

WR 3: Gagap Tangani Mahasiswa Tak seperti Karta yang lebih dahulu menduduki jabatan wakil rektor, Sukardi yang baru saja menapaki wakil rektor ternyata masih kelabakan menangani masalah kemahasiswaan. Padahal Ia adalah mantan Wakil Dekan FBS Bidang Kemahasiswaan namun tidak mampu menunjukan kinerja terbaik, Ia terkesan alergi bila berbicara masalah mahasiswa. Terutama masalah berhubungan dengan hukum, kasus Ijul dan dua mahasiswa lain contohnya, Ia malah memilih lepas tangan. Mungkin Sukardi berpikir urusan mahasiswa cuman prestasi saja. Kasus Ijul dan dua mahasiswa lain seharusnya menjadi tanggung jawabnya karena merupakan mahasiswa aktif UNM namun menurutnya hal itu terjadi di luar kampus sehingga memilih mengabaikan kasus itu. Beberapa mahasiswa sudah berusaha berkomunikasi dengan dirinya mulai dari komunikasi lewat fakultas hingga datang ke ruangannya namun Ia tak bergeming akan hal itu. Walau berfokus pada prestasi akademik, namun torehan Sukardi tak mampu disebut baik. UNM harus puas membawa pulang sedikit medali di Pimnas. Kompetisi yang sangat dibanggakan oleh Rektor ini, tak mampu dibalas dengan baik Sukardi. Torehan prestasi Pimnas yang menurun ini tidak lepas dari lambannya Sukardi. Ia terkesan tidak punya inisiatif, sehingga semua kontrol dilimpahkan ke tim Pimnas UNM Tak sampai disitu, persoalan LK juga menjadi sorotan tajam terhadap dirinya. Tiga bulan sudah Mubes LK terkatung-katung, dirinya tidak mampu menyelesaikan permasalah itu. Masalah batas IPK dan semester yang jadi masalah turun-temurun belum mendapat kata sepakat antar dirinya dan mahasiswa. Keduanya masih saling mempertahankan argumen masing-masing, Ia nampaknya ikut menuhankan PULK seperti WR III terdahulu padahal melihat periode lalu BEM mampu berjalan walau melewati batas semester. Masalah di beberapa LK pun tak kalah genting, saat ini BEM FIK masih saja "mati suri" namun dirinya terpantau belum melakukan komunikasi untuk mengembalikan BEM FIK seperti sediakala. Masalah BEM FIK tak pernah dibicarakannya dengan pimpinan di sana, bahkan menurut pengakuan mahasiswa FIK, mereka sudah beberapa kali mencoba audensi dengan pimpinan FIK tapi tak pernah digubris. Sukardi nampaknya gagap menangani hal itu. Walaupun masih banyak masalah

menumpuk, tapi semua itu tak banyak diakui Sukardi. Ia mengaku berkat komunikasi dan sinergitasnya dan seluruh sivitas, semuanya sudah berjalan baik. Dirinya hanya berharap prestasi mahasiswa bisa meningkat. "Tidak ada (kendala), karena selama ini mahasiswa selalu membangun komunikasi dan silaturahim yang baik dan mengutamakan kearifan lokal, Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge," katanya. WR 4: Masih Meraba-raba Saat pengumuman nama-nama pendamping Husain Syam di periode kedua. Nama Ichsan Ali, cukup mengagetkan sivitas akademika. Semua orang mencari siapa dia, bagaimana sepak terjangnya? Belum jelas, apa yang menjadi alasan Rektor UNM menunjuknya mengendalikan program perencanaan dan kerjasama, baik nasional maupun internasional. Pernah menjabat sebagai Kepala UPT Kewirausahaan UNM, satu-satunya torehan yang bisa dicatat darinya sehingga bisa menghuni lantai 8. Cukup banyak yang meragukan posisinya namun Dosen Fakultas Teknik ini tak bergeming. Enam bulan menjadi wakil rektor, Ichsan belum juga menampakkan prestasinya. Ichsan Ali masih terkesan merabaraba dalam melangkah. Bagaimana tidak, masyarakat belum pernah melihat setajam apa gebrakan yang akan dilakukan. Hingga hari ini UNM tak cukup menarik bagi investor atau perusahaan-perusahan besar. Tentu diperlukan polesan dari pemangku jabatan ini. Selain itu kebijakan Kampus Merdeka menjadi PR terbesar buat Ichsan karena harus mencari sebanyak-banyaknya perusahaan dan perguruan tinggi sebagai mitra pelaksana. Saat ini terpantau sudah tiga universitas yang menjalin mitra dan satu perusahaan sebagai mitra UNM untuk Kampus Merdeka. Mungkin kerjasama yang masih sedikit ini membuat UNM belum bisa berbicara banyak perihal kebijakan Kampus Merdeka Dilansir dari halaman resmi unm. ac.id, pada tahun 2020 UNM hanya melakukan kerjasama dalam negeri sebanyak 10 kali dan hanya 1 kali kerjasama luar negeri. Serta UNM baru saja menandatangani nota kesapahaman dan kesepakatann bersama Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII) tentang pendirian program profesi Insinyur di UNM. Ini masih jauh dari torehan wakil rektor empat sebelumnya Mungkin karena Ichsan masih ditahap adaptasi dan lebih banyak meraba-raba sehingga sedikit kerjasama yang Ia peroleh. Semua torehan yang Ia dapatkan sangat jauh dari kata memuaskan, harusnya UNM bisa mendapat lebih banyak kerjasama pada 2020 lalu. Segala hal menjadi daring semestinya lebih memudahkan dirinya untuk menjalin komunikasi. Kini Ia harus bekerja lebih keras agar mendapatkan banyak kerjasama dan harus melakukan perencanaan lebih baik dibanding tahun lalu. Jangan sampai terus meraba-raba keadaan, Ia harus punya rencana cepat dan bergerak cepat, apalagi dalam hal mitra Kampus Merdeka. UNM yang rencananya akan banyak menerapkan kebijakan tersebut pada tahun ini, menuntutnya mempersiapkan mitra siap pakai. Jangan sampai UNM jalan ditempat dan menjadi tertinggal dengan kampus lain. (uma/ila) www.profesi-unm.com


15 PROFESIANA

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2021

Kemelut Legalitas BEM-Maperwa FE

LEGALITAS Badan Eksekutif Mahasiswa dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (BEM-Maperwa) Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Makassar (UNM) kini jadi soal. Hingga saat ini lembaga tingkat fakultas itu belum dilantik karena tidak penuhi syarat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Dekan FE UNM, Thamrin Tahir mengatakan Lembaga Kemahasiswaan (LK) tingkat fakultas itu enggan Ia lantik karena persoalan IPK pengurus. Pasalnya birokrasi kampus tidak bisa serta merta melantik pengurus LK ketika tidak memenuhi aturan kelembagaan UNM. "Kalau sudah memenuhi syaratnya (IPK), pasti saya lantik secepatnya tapi kan para pengurus LK belum memenuhi syarat yang ditetapkan, kita tidak bisa melantik begitu saja kalau belum penuhi syaratnya," ujarnya saat dikonfirmasi legalitas LK FE. Kemelut legalitas ini diakui Awaluddin, Formatur Presiden BEM FE terjadi karena beberapa pengurusnya tidak memenuhi IPK yang dipersyaratkan. Pria yang kerap disapa Awal itu menyebut 4 dari 38 fungsionaris BEM tidak menyanggupi IPK 3.00. "Iye bung terkait itu, temanteman di BEM FE UNM belum mendapat legalitas dari pimpinan fakultas karena terkait dengan legalitas kami di BEM FE UNM," jelasnya. Namun Awal beranggapan Peraturan Lembaga Kemahasiswaan (PLK) UNM sepert itu sangat membatasi ruang gerak mahasiswa. Olehnya IPK tidak bisa menjadi pembatas maha-

siswa berkecimpung dalam dunia organisasi kampus. "Iye kemarin sebelum Mufak (Musyawarah fakultas) pada saat pembahasan tap tidak dimasukkan syarat IPK bung, apalagi kami menganggap kalau PLK sangat mengungkung atau memenjarakan ruang gerak teman-teman di lembaga dan teman-teman juga menganggap kalau IPK tidak boleh membatasi mahasiswa untuk berorganisasi di intra kampus," ujarnya. Sejauh ini Awal mengaku telah mencoba berdialog dengan menemui pimpinan kampus FE secara langsung. Namun hasil pertemuan dirinya itu, sampai saat ini tak kunjung menemui titik terang. Terkait itu, Formatur Ketua Maperwa FE, Dian Fadilla mengatakan LK FE tetap sepakat menjalankan kepengurusan dengan pilihan terakhir hingga semester depan. Menurutnya, LK FE akan berupaya solid sehingga komunikasi kelembagaan tingkat fakultas tetap berjalan. "Untuk ini kalau pengakuan secara administrasi dalam hal ini SK (surat keputusan) memang belum, karena pimpinan maunya seluruh pengurus yang IPK 3.00. Tapi, kami di LK FE sepakat untuk tetap jalan. Di samping itu, ada opsi untuk tunggu sampai semester depan," terangnya. Mahasiswa angkatan 2017 ini menyebut akan tetap pada kesepakatan awal. Dirinya merasa dukungan seluruh LK FE jauh lebih penting sehingga tataran kampus dapat terakomodir dan bersinergi dengan baik. Hingga kini pun Dian menyebut komunikasi antar LK FE masih berjalan baik walau tanpa legalitas. “Yang terpenting adalah dukungan seluruh LK FE dan di tataran kampus bisa diakomodir serta bersinergi dengan baik. Meskipun tidak bisa dipungkiri dukungan dari birokrasi juga perlu misalnya dalam bentuk moril dan materil,” pungkasnya. (yat)

Berita Bawa Petaka

Anggaran Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Psikogenesis Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) kini dibekukan. Dekan FPsi, Muh. Daud pun mengeluarkan pernyataan serius kepada awak Psikogenesis bahwa pimpinan punya wewenang untuk mengontrol semua lembaga kemahasiswaan. “Kalau berpikiran dan merasa independen, silahkan keluar dari kampus," dalihnya, Senin (21/12). Ganjaran itu dilayangkan setelah Psikogenesis menerbitkan berita bertajuk "Tidak Memiliki Buku, Mahasiswa Dikeluarkan dari Kelas”, 1 September lalu. Berita itu menyajikan tindakan pengusiran oleh dosen kepada mahasiswa karena tidak memiliki buku. Sebelum dijatuhi sanksi, Komdis FPsi sempat memanggil Syahrul Jamal dan Rezky Winanda yang merupakan Pemimpin Umum (PU) dan Pemimpin Redaksi (Pemred) Psikogenesis pada 21 September. Kala itu komdis menanyakan siapa penulis berita tersebut, akan tetapi mereka menolak dengan alasan segala konsekuensi berita merupakan tanggung jawab

PU dan Pemred. Akibatnya pihak birokrasi itu meradang dan melayangkan surat rekomendasi berisi ancaman pembekuan anggaran, pelarangan penggunaan fasilitas sampai pembredelan lembaga. Komdis menilai independensi Psikogenesis tanpa melibatkan birokrasi yang merilis berita berat sebelah adalah tindakan tidak kooperatif. Namun hal ini dibantah oleh Rezky Winanda yang menyebut Psikogenesis tetap mematuhi kaidah jurnalistik dengan melakukan upaya verifikasi kepada pihak bersangkutan. Hanya saja dosen yang kala itu mengeluarkan mahasiswa enggan berkomentar. "Setelah berita terbit, kami coba untuk angkat dari perspektif dosen, tapi dosen terkait tidak

memberikan keterangan," bantahnya, Selasa (29/12). Sehingga Rezky menganggap tudingan komdis tidak berdasar dengan alasan pers punya kebebasan dan hak mengelola pemberitaan yang termaktub dalam UU. No 40 Tahun 1999 Kemerdekaan Pers. Dirinya juga mengaku birokrasi perlu lebih bijak dan tidak menghalangi kerja-kerja pers sebagai sosial kontrol. "Hal yang sifatnya negatif terkadang harus diberitakan agar bisa jadi pembelajaran dan sekaligus menjalankan peran pers sebagai social of control," ujarnya. (ark)

DEKAN FPsi, MUHAMMAD DAUD

PJJ Bikin Dosen Malas

PERGESERAN suasana belajar luring ke daring tidak semestinya dijadikan dosen melonggarkan beban mengajar. Celakanya beberapa oknum dosen di Universitas Negeri Makassar (UNM) diakui mahasiswa bertindak demikian. Alih-alih memberi kuliah intens sesuai jadwal, mereka malah memanfaatkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk merapel bahkan mengurangi jam mengajar. Pantas saja Ana (disamarkan), mengecap mereka sebagai dosen malas. Bukan tanpa alasan Mahasiswa Jurusan Biologi itu berujar demikian, dirinya mendapati beberapa dosen hanya mengajar satu jam pertemuan melalui Zoom. Perkuliahan pun diberikan terburu-buru dan malahan mahasiswa dituntut menguasai materi secara mandiri. Bahkan katanya ada pula dosen menjadikan tugas sebagai pengganti pertemuan kuliah tanpa pernah diberikan materi belajar. "Ada juga dosen kalau masuk cuma suruh absen di mipalearn, baru kerja tugas. Materinya cuma Ia upload di mipalearn baru disuruh pahami sendiri," sebutnya.

Hal itu juga dialami Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi (FE), memet (disamarkan) yang mengeluhkan kebiasaan buruk ini. Malahan memet menyebut pemberian tugas dari dosen kepada mahasiswa tidak sebanding materi perkuliahan yang diterimanya. Oknum dosen malas juga didapati oleh Rey (disamarkan), Mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika dan Komunikasi (PTIK). Dirinya mengungkapkan kebiasaan seorang dosen sering kali absen saat perkuliahan berlangsung tanpa keterangan jelas. "Dua kaliji masuk kelasku, baru kalau dihubungi sama ketua tingkat na read saja tidak ada juga konfirmasinya. Baru kalau mengajar santai sekali ji," ujarnya. Mendengar keluhan itu, Ketua Program Studi Manajemen FE, Agung Widhi pun tidak menampik adanya oknum dosen malas di prodinya. Agung mengaku sering mendapati sikap tidak konsisten dosen menjadwalkan perkuliahan. Meski begitu, Ia berharap agar mahasiswa dapat memahami PJJ tidak

dapat dibuat ideal secara spontan. "Tentang memindahkan jadwal, memang sebagian dosen ada begitu, karena kelas kami begitu banyak dan jumlah dosen tidak sebanding, Belum lagi setiap hari ada seminar proposal, hasil dan tutup," terangnya. Ia beralasan pandemi tentunya berdampak besar pada kondisi belajar mahasiswa. Tidak adanya persiapan matang dan pengalaman terutama pada beberapa dosen sepuh atau masih gagap teknologi pastinya berpengaruh diefektivitas PJJ. "Kita benahi saja pelan-pelan, Insyaallah kedepannya lebih baik lagi," harapnya. Adapun penuturan Ketua Jurusan PTIK, Mustari Lamada, Ia menghimbau agar setiap ketua tingkat melaporkan oknum dosen malas kepada birokrasi. Mustari mengaku akan menindak tegas dosen tersebut demi perbaikan PJJ. "Sebelum pandemi Covid-19 kami punya tim monitoring yang memantau perkuliahan tiap jam perkuliahan, tiap ruang kelas," jelasnya. (iqa)

Subsidi UKT, Tapi Boong! GELOMBANG tuntutan mahasiswa menuntut subsidi UKT secara general kembali bergema. Tuntutan ini bersamaan masuknya jadwal pembayaran UKT yang dimulai 4 Januari lalu hingga 22 Januari men-

www.profesi-unm.com

datang. Tak kunjung berakhirnya pandemi menjadi alasan mahasiswa meminta subsidi UKT tersebut. Tak ingin dikalah seperti semester lalu, beberapa Lembaga Kemahasiwaan (LK) menggaungkan aksi tunda bayar UKT sedari awal januari dan menggelar aksi menuntut subsidi UKT secara general. Tepat di hari mahasiswa UNM aksi, Rektor UNM, Husain Syam ternyata mengeluarkan SK tentang mekanisme peninjauan UKT. SK No 05/UN36/HK/2020 ini menjelaskan beberapa kriteria mahasiswa untuk bisa melakukan peninjauan UKT, seperti mahasiswa semester 10 bagi S1 dan 8 bagi diploma mengambil SKS kurang atau sama dengan enam SKS bisa mendapatkan subsidi UKT paling besar 50%, mahasiswa cuti kuliah atau tersisa Skripsi diberikan

subsidi 100%, dan mahasiswa terdampak ekonomi akibat pandemi dapat diberikan subsidi setelah ditinjau tim verifikasi UKT. Namun kebijakan tersebut dinilai diskriminatif karena hanya sebagian mahasiswa yang bisa merasakannya, sehingga Aliansi Mahasiswa UNM tetap menuntut subsidi general bagi semua mahasiswa tanpa syarat apapun. Presiden BEM FPsi, Vicky tetap menyayangkan kebijakan baru dari pihak kampus tentang peninjauan UKT. Menurutnya kebijakan baru itu tidak mengakomodir tuntutan mahasiswa, tuntutan mahasiswa adalah subsidi secara keseluruhan. “Kebijakan keluar tidak mengakomodir kebutuhan mahasiswa, Mahasiswa UNM sekarang sangat butuh di tinjau kembali atau pemo-

tongan UKT secara general semua teman-teman Mahasiswa UNM bukan sebagian kecil saja,” ujarnya Namun keluhan mahasiswa tersebut tampaknya tak membuat birokrasi UNM bergeming, menurut Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan Karta Jayadi tidak akan ada subsidi UKT secara general di semester genap. Bagi yang ingin menurunkan UKT, Ia mengarahkan untuk mengajukan berkas dan mengikuti proses peninjauan UKT sesuai kebijakan yang berlaku. Selain itu, Ia juga menyebut Subsidi UKT semester lalu buka dari UNM tapi dari pemerintah. “Tidak ada subsidi UKT semester ini. Subsidi semester lalu itu dari Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) Kemendikbud Se-

mester genap nanti ini, kembali ke UKT semula. UNM tidak pernah berikan subsidi UKT kecuali subsidi kuota sebelum diambil alih oleh Kemdikbud,”ujarnya. Terakhir, Ia mengimbau kepada mahasiswa yang kurang mampu secara finansial untuk mengurus penurunan UKT menurut alur yang berlaku. “Bagi mahasiswa yang orangtuanya mengalami masalah keuangan, silakan mengajukan permohonan penurunan UKT sesuai aturan,” tuturnya. Hingga saat ini sejumlah mahasiswa telah menyatakan sikap untuk menunda pembayaran UKT semester genap ini dan para massa aksi tuntut subsidi UKT secara general mengancam akan turun kembali bila tuntutannya tak di penuhi. (dih) Urai data, ungkap fakta, saji berita


16

PERSONA

LPM Profesi UNM - Edisi 245 Januari Tahun MMXXI 2020

Hobi Jadi Best Seller “Jangan takut untuk mulai,” begitulah ungkapan novelis muda, Jysa Nursakinah ketika ditanya tips menulis. Bagi pecinta novel, siapa yang tidak kenal Mahasiswi Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) ini. Walau tulisannya sempat ditolak banyak penerbit, Ia yang kala itu masih berseragam putih abu-abu tidak pernah berhenti menulis. Dan kini jadi seorang novelis. Jysa mengaku mengukir cerita ke dalam tulisan adalah sebuah hobi baginya. Sedari awal, dara Makassar ini memang kerap menongkrongi series “Kecil-kecil Punya Karya”, sebuah karangan cerita yang digandrungi anak kecil waktu itu. Karena terinspirasi, Jysa pun mulai hobi menulis, bahkan dirinya pernah menulis cerita hingga genap satu buku. “Ceritanya klasik sih kak tentang persahabatan anak SD. Judulnya sudah lupa, maklum ditulisnya pas kelas tiga SD, tapi lumayan waktu itu di word sampai 70-an halaman, pakai komputer besar papa hehe,” ujarnya. Tulisannya yang kerap Ia publikasi di Wattpad ternyata banyak diminati orang. Jysa pun memutuskan untuk mengirim tulisan-tulisannya ke berbagai penerbit buku. Namun kala itu dirinya kurang beruntung sebab banyak penerbit menolak tulisannya. “Waktu itu saya kirim ke enam penerbit. Rata-rata saya tunggu kabar naskahnya tiga sampai lima bulan, tapi semuanya ternyata ditolak. Jadi impian

Urai data, ungkap fakta, saji berita

saya jadi penulis saat SMA gak terwujud,” ungkapnya. Karena sudah hobi, kebiasaan Jysa menjahit bait-bait ide jadi sebuah cerita tidak pernah kandas. Dirinya pun tetap menulis dan menjadikan Wattpad sebagai ruang kreasi. Hingga akhirnya Ia dihubungi penerbit asal Yogyakarta dan buku pertama karangan Jysa diterbitkan. Bahkan buku bertajuk “That Day” miliknya itu menduduki rak-rak best seller di banyak toko. “Kaget banget, waktu itu ditawarin agak tengah malem lewat LINE. Kirain akun bodongan, pas aku cari tahu ternyata beneran sampai gak bisa tidur waktu itu karena excited,” syukur Jysa menceritakan buku pertamanya. Kini hobinya itu menghantarkan Jysa menjadi novelis yang dikenal orang. Tehitung empat karangannya (That Day, That Night, SYNC, Moonwisher) dan satu artbook “Your Magic Shop” milik Jysa kini dibukukan hingga kerap menjadi best seller. Meski masih tinggal bersama orangtua, Jysa mengatakan

berkat karyanya itu, dirinya sekarang menjadi pribadi mandiri secara finansial. Olehnya penghasilan buku miliknya itu sudah bisa membiayai uang kuliah dan kebutuhan seharihari. Bahkan hobinya itu pun pernah menghantarkan Jysa liburan ke luar negeri. Kegemaran Jysa menulis tidak membuat Ia mengesampingkan pendidikannya. Mahasiswi yang satu ini optimis, bidang ilmu psikologi kelak menjadi pijak kariernya. Tak ayal ketika ditanya soal akademik, penggemar BTS itu ternyata adalah pribadi yang cukup ambisius. Pasalnya, Jysa yang kini menginjak semester tujuh di UNM punya impian meneruskan jenjang pendidikannya di luar negeri. Jysa mengaku mulai mempersiapkan kebutuhan akademiknya agar bisa memprogram strata dua (S2) dengan beasiswa. “Progress-nya sekarang sih masih tahap belajar untuk IELTS sebagai syarat untuk keterima di luar,” pungkasnya. (ila)

Biodata Nama: Jysa Nursakinah Tempat tgl lahir: Ujung Pandang 31 Mei 1999 Hobi: Baca novel & menulis Motto: Live with no regret Ig: @jysaaaa

Riwayat pendidikan 1. SDN Mangkura II Makassar 2. SMPN 18 Makassar 3. SMAN 3 Makassar 4. UNM , Fakultas Psikologi

www.profesi-unm.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Tabloid Profesi Edisi 245 "Ampun Bang Jago" by Redaksi LPM Profesi UNM - Issuu