Skip to main content

Tabloid Profesi Edisi 238 "Pilrek UNM Siasat Seteru Baru"

Page 1

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

1

Kampus Merdeka, Jalan Mulus Liberalisasi Pendidikan Hal.4

Viral Setelah Redup Hal. 14

Kolam Renang FE Akhirnya Surut Hal. 15

Tabloid Mahasiswa UNM

Pengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi

PILREK UNM

Siasat Seteru Baru www.profesi-unm.com

Urai data, ungkap fakta, saji berita Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020


2 PERSEPSI

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Editorial

Mendandang Calon Rektor KONSTELASI demokrasi terbesar di UNM yaitu pemilihan rektor (pilrek) kini akhirnya bergulir. UNM akan menentukan pemimpin untuk empat tahun ke depan. Sejumlah nama hadir dengan mengejutkan banyak pihak. Nama lawas yang disebutsebut akan maju untuk bertarung malah hilang ditelan bumi. Husain Syam, Sang Petahana kembali mengajukan diri untuk melanjutkan periode keduanya. Dengan menjanjikan berbagai hal dirinya mencoba meyakinkan semua orang bahwa ia pantas untuk tetap bertahan sebagai orang nomor satu di UNM. Namanama yang dianggap tidak punya kekuatan untuk melawan mantan Dekan Fakultas Teknik ini pun bermunculan. Mereka dengan beraninya mencoba bertarung di pemilihan rektor (pilrek) UNM 2020-2024 untuk menumbangkan kekuasaan Husain Syam. Ramli Umar, Sukardi Weda, dan Tuti Supatminingsih adalah orang yang mendaftar sebagai bakal calon UNM penantang Incumbent. Namun tak seperti pilrek sebelumnya, pilrek ini tidak menghadirkan tensi tinggi. Husain Syam jadi pendaftar pertama bakal calon rektor UNM. Dengan membawa janji program studi (prodi) baru hingga PTN-BH, Husain masih percaya dialah yang akan terpilih nantinya. Tak hanya sampai disitu ia pun mengatakan harus diberi kesempatan di periode kedua agar UNM tidak rusak. Ramli Umar, Guru Besar Geografi ini mencoba peruntungan di pilrek dengan mengandalkan gelar Profesor. Visi yang ia hadirkan pun terkesan memaksakan keadaan. Dengan sisa waktu tidak sampai dua bulan mau tidak mau Ia harus mencari formula yang tepat dalam visi serta strateginya agar bisa membawanya ke kursi kemenangan. Sama halnya dengan Ramli Umar, penantang ketiga pun tidak membawa visi dan strategi yang cukup kuat untuk menumbangkan rektor saat ini. Su-

kardi Weda Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) ini membawa visi Internasianalisasi UNM. Visi ini dianggap tidak relevan dengan keadaan UNM, banyaknya permasalahan yang harus dibenahi UNM jadi penyababnya. Sebagian pihak menilai hal tersebut belum diperlukan oleh UNM saat ini. Penantang terakhir hadir dari Fakultas Ekonomi, Tuti Supatminingsih nama yang sempat hilang saat sebelumnya menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiwaan FE kini kembali muncul kepermukaan. Alumnus Universitas Hasanuddin (Unhas) ini menjadi penantang wanita satu-satunya di pilrek UNM. Walau sempat tumbang di pemilihan dekan FE, namun dirinya mendapat perhatian khusus oleh khayalak saat Ia mencoba peruntungan di pilrek. Membawa visi UNM sejalan dengan generasi, Tuti masih belum bicara banyak karena menganggap dirinya belum ditetapkan sebagai bakal calon resmi. Keempat bakal calon diprediksi tidak akan bermain habis-habisan walau demikian mereka harus meramu berbagai strategi dan formula ampuh untuk memenangkan kursi wahid UNM. Husain, Ramli, Sukardi, dan Tuti harus merumuskan konsep terbaik yang akan mereka bawa nantinya dihadapan para senat dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makariem. Dengan adanya menteri yang baru ini kemungkinan konsep pendidikan yang mengedepankan inovasi adalah hal yang akan dilirik oleh para pemilik suara.

Nama yang tertera di samping ini tidak lagi terdaftar sebagai pengelola LPM Profesi UNM Kunjungan Media - Pengelola LPM Redline IAIN Parepare saat berkunjung ke redaksi LPM Profesi UNM. Kamis (20/2)

Helmi Nurrahmah

Pelindung: Prof. Dr. H. Husain Syam, M.TP, Dewan Pembina: Hazairin Sitepu, Akbar Faizal, Syahrir Muhammad, Asia Ramli Prapanca, Ammas DR, Anshari, Muhiddin, Mukhramal Azis, Uslimin, Fachruddin Palapa, Abdul Wahid Nara, Husain Rasyid, Syamsuddin Yoko, Rusli Siri, Makmur Abdullah, Faisal Palapa, Rustan Bedmant, Abdul Rahman, Abdul Salam Malik, Supriadi, Mirwan. Pemimpin Umum: Muh. Sauki Maulana, Sekretaris Umum: St. Reski Amalia, Bendahara Umum: Ratu Fathonah Amalia, Pemimpin Redaksi: Fikri Rahmat Utama, Manajer Daring: Andi Dela Irmawati, Broadcasting Manager: Andi Tenri Abeng, Pimpinan Penelitian dan Pengembangan: Istiqamah. Tabloid Mahasiswa PROFESI diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar STT : 1635/ SK/Ditjen PPG/1990. Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Muh. Sauki Maulana, Pemimpin Redaksi: Fikri Rahmat Utama, Redaktur: Muh. Ilham Akbar. B, Reporter: Nurfazila, Aulia Ayu Aprilia Zabir, Elfira, Supriadi, Dewan Ghiyats Yan Galistan, Fotografer: Muhammad Ilham Akbar. B, Layouter/Desainer Grafis: Supriadi, Manajer Sirkulasi dan Iklan: Dewan Ghiyats Yan Galistan Redaksi LPM Profesi UNM : Jl. Mallengkeri Luar No. 25 Kelurahan Mangasa, Kecamatan Tamalate, Makassar Telp. (0411) 8914674, ­E-mail: profesi.online@gmail.com, Website: www.profesi-unm.com, Youtube: Profesi TV

Desain Sampul & Tata Letak: Supriadi

Dalam proses peliputan, wartawan PROFESI dibekali tanda pengenal atau surat tugas dan dilarang meminta atau menerima pemberian dalam bentuk apapun. Urai data, ungkap fakta, saji berita

www.profesi-unm.com


3 LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari

MOZAIK

Tahun MMXX 2020

Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Keuangan (WD II) FIP UNM, Pattaufi menjelaskan aula ini akan menjadi ruangan pertemuan representatif bagi Kampus Hijau Tidung. Pasalnya, aula tersebut nantinya bakal dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang apik dan berkapasitas lebih besar dari sebelumnya. “Saya berharap bulan dua selesai, pertengahan. Sebenarnya sekarang se-

mentara pengerjaan interiornya, Air Conditioner (AC) juga sekarang dikerja, kemudian karpet sudah ada di dalam cuman belum dipasang. Nanti kalo konsepnya teater bisa masuk 850 tapi kalau dia round table (meja bundar) bisa masuk maksimal 300 makanya saya pesan kursi 350 dulu.” jelasnya. Saat ditemui disela-sela aktivitasnya, ia bercerita nantinya fasilitas ini bisa dipergunakan sivitas kampus untuk kegiatan akademik ataupun non-akademik. Dirinya juga mengungkapkan jika pembangunan aula ini selesai tepat waktu maka ramah tamah mahasiswa FIP UNM yang tidak lama lagi berlangsung bisa dilaksanakan di tempat tersebut. “Diresmikan dulu, kita undang pimpinan universitas sekaligus minta izin. Apakah kita diizinkan beramah tamah saja di sini atau tidak. Karena ini juga kan bisa menekan biaya pelaksanaan ramah tamah daripada kita harus sewa di hotel,” ungkapnya. Tak hanya bisa diperuntukkan sivitas kampus, kedepannya aula ini bisa digunakan masyarakat umum dalam berbagai

acara. Adapun biaya perawatan atau sewa tempat yang dibayarkan mereka, menurutnya bisa menjadi pemasukan kampus tersendiri atau yang disebut Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). “Selain melayani kegiatan pembelajaran, bisa juga untuk melayani masyarakat, bisa kita persewakan. Apalagi ini kan dalam rangka Badan Layanan Umum (BLU), dana itu bisa masuk jadi pemasukan PNBP,” sebutnya. Selain pembangunan aula berkapasitas besar, FIP UNM juga sementara merampungkan pendirian masjid baru. Masjid yang mengandalkan swadaya sivitas ini akan mengantikan tempat yang lama. Pun masjid yang lebih dulu ada di FIP dan berada tepat di dekat gerbang belakang kampus nantinya bakal dipugar lagi menjadi aula kecil dengan konsep mini teater berkapasitas 100 hingga 150 orang. “Masjid kalau sudah pindah nanti kita tetap fungsikan yang lama jadi aula tapi kedepan konsepnya itu untuk mini teater,” ujarnya(*). (Ila)

UNM Raih Stand Terbaik II STAND ameran Universitas Negeri Makassar (UNM) berhasil meraih 'Stand Terbaik II' pada Pameran Pendidikan dan Inovasi Perguruan Tinggi Sulawesi Educational and Techno Expo. Pameran yang diselenggarakan di Celebes Convention Center, Makassar ini berlangsung selama tiga hari (18-20/2). Pameran ini dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sulsel dan diikuti 86 PTN dan PTS dari Sulawesi hingga Jawa. Dalam pameran tersebut UNM menampilkan berbagai ino-

vasi seperti teknologi robot yang merupakan karya mahasiswa. Tak hanya itu, di pameran ini UNM menampilkan miniatur bangunan kampus yang terbuat dari limbah koran, serta masih banyak lagi inovasi dan teknologi lainnya. Ketua Lembaga Penelitan dan Pengembangan Masyarakat (LP2M) UNM, Bakhrani Rauf mengatakan torehan ini tidak lepas dari arahan dan motivasi yang terus didapatkannya dan tim dari Rektor. Sehingga mampu membawa stand pameran UNM berhasil meraih predikat tersebut.

Banjir - Mahasiswa UNM menyeberangi jalan yang terendam banjir, (18/2).

UNM Gelar Wisuda Periode Februari 2020

Foto: aNNISA ASY SYAM

Dalam waktu dekat ini Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) akan memiliki fasilitas ruangan pertemuan atau aula baru. Aula yang merupakan bagian renovasi Gedung Laboratorium Terpadu FIP UNM itu direncanakan akan diresmikan tanggal 27 Februari mendatang.

Foto: Muhammad Ilham Akbar. B

Segera, Aula FIP Muat 850 Orang

Wisuda - Peserta wisuda bersama-sama tunduk saat prosesi doa

"Alhamdulillah terima kasih bapak Rektor, berkat motivasi dan arahan serta perhatiannya UNM mendapatkan stand terbaik II," ujarnya. Guru Besar Fakultas Teknik (FT) UNM ini juga berharap agar kedepannya UNM mampu membuat terobosan baru dan inovasi yang unggul. "Semoga tahun-tahun berikutnya UNM bisa lebih sukses lagi dan menampilkan hasil inovasi yang lebih unggul," harapnya. (ila)

UNIVERSITAS Negeri Makassar (UNM) menggelar wisuda periode Februari 2020, Rabu (25/2). Wisuda pertama di tahun 2020 ini secara resmi dibuka oleh Rektor UNM, Husain Syam di Pelataran Pinisi UNM pada pukul 09.00 WITA. Wisuda kali ini didominasi oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) dengan jumlah peserta wisudawan sebanyak 147 orang. Pada wisuda periode ini, UNM mewisuda 1.000 orang lulusan dari program sarjana dan pasca

sarjana. Husain Syam pun memberikan ucapan selamat kepada seluruh lulusan dan orangtua/wali wisudawan. "Saya secara pribadi menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh lulusan dan ucapan selamat saya sampaikan pula kepada segenap orang tua/wali dan keluarga wisudawan atas keberhasilan yang telah dicapai dalam mengasuh dan membimbing putra-putrinya," ujarnya. (uma)

Pilu Jadi Pembantu Kampus

Bekerja - Bu Ida Afridah di tengah-tengah aktivitasnya.

Foto: Muhammad Ilham Akbar. B

*Ratu Fathonah Amalia

Sang fajar seakan masih malu menampakkan diri. Cahayanya yang sedikit demi sedikit merengsek masuk pada setiap jendela Menara Pinisi. Telaten, jemari yang mulai mengkerut tak menghambatnya menjalani aktivitas, walau keringat mulai mengucur membasahi raut wajahnya. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh, pekerjaannya mulai bertambah. Di momen ini pula para karyawan mulai berdatangan, ada yang menyapanya ada pula hanya berjalan tanpa menoleh, acuh. Kesibukan dimulai, Ia dipanggil www.profesi-unm.com

ke sana-sini untuk melayani. Ia adalah Ida Afridah, Cleaning Service (CS) yang sudah lima tahun terakhir bekerja di Universitas Negeri Makassar (UNM). Jarang pulang dan rindu keluarga Ia lalui demi mengais rejeki. Hari

liburnya bahkan kerap ditelan pekerjaan. Bekerja mulai subuh hingga bertemu di subuh lainnya telah menjadi kebiasannya. Sering kali Ida harus menginap di kampus lantaran padatnya pekerjaan. Kerja lembur dengan upah 1,5 juta tanpa tambahan tetap ia lakoni. Belum lagi ketika sakit atau masalah mendadak hadir yang membuatnya harus meninggalkan kewajibannya membuat gajinya harus dipotong 59 ribu per hari. Lelah, tentu saja dirasanya. Apa lagi saat tugas mendadak hadir, seketika itu pun dirinya dibuat pening. Terkadang keluhan ingin Ia utarakan, namun mengeluh bukanlah karakter wanita asal Takalar ini."Kadang kalau dikasih tau ada kerja mendadak suka pusing sendiri karena tidak ada persiapan. Pas masak air saja saya mikir, ini air masak tepat waktu ndak," ucapnya. Tak hanya kerjaan yang mendadak, keluh kesahnya juga bertambah ketika kerja sama dengan teman seprofesinya menjadi tidak kompak. Hal ini malah membuatnya harus bekerja ekstra sendirian. Teguran yang sempat Ia lontarkan pada temannya itu sayangnya hanya beberapa yang menggubris.

Momen acara besar pun biasanya ada saja rekannya yang melarikan diri, pulang ke rumah, padahal setumpuk pekerjaan usai kegiatan selalu menunggu. Baginya ini menjadi pil pahit sebab waktu istirahatnya harus terkuras habis akibat teman-teman seprofesinya ini. Di satu sisi nama Ida sudah sangat kenal para pejabat kampus. Pasalnya, ketika pimpinan kampus begadang di Menara Pinisi ia kerap menyediakan kopi dan makanan ukuran bagi mereka. Namun karena hal ini masih ada segelintir rekan kerjanya yang iri. Padahal menurutnya kedekatannya dengan para pejabat kampus murni karena keikhlasannya bekerja. "Yah biasa mereka begitu, mereka kira saya dapat uang banyak kalau bantu-bantu padahal ndak ada ji," ungkapnya. Pernah di suatu waktu ketika menjaga Ballroom D di lantai Menara Pinisi yang saat itu dipakai oleh mahasiswa dan dosen, Ida dan rekannya harus relar menunggu hingga larut malam. Bahkan suara yang mulai mendengkur dari perutnya, tak ada satu pun dari mereka yang mereka berniat memanggilnya hingga acara usai. “Mungkin karena mahasiswa

jadi kita juga sabar saja,” ujarnya tabah. Hingga pada satu titik, kesabarannya hilang saat ia melihat ruangan tersebut yang kotor lengkap dengan kepulan asap rokok. Sosok perempuan ia dapati tengah merokok membuat emosinya memuncak sampai terpaksa ia berteriak dan memarahi mereka. "Mereka makan ndak panggil, tapi ndak masalah ji kan mahasiswa. Tapi, kaget ka pas lihat ada perempuan rokok, di ruangan itu juga tercium asap rokok. Jadi saya marahi mereka, saya teria ki, sampe sekarang saya masih ingat mukanya," ceritanya dengan memperlihatkan ekspresi kesal. Bagi wanita asal Galesong ini tidur di atas sofa telah cukup baginya ketika diperharuskan melewati malam seorang diri di kampus. Halhal aneh juga tak jarang ia alami, entah itu bertemu makhluk halus atau yang lain. Ida tak begitu mempedulikannya, ia yakin Tuhan selalu ada bersamanya. "Ngapain takut kan ada Allah," katanya kala itu. Semua seakan tak menyurutkan niatnya untuk tetap bekerja di Menara Kampus Oemar Bakri itu. Gajinya memang tak seberapa, namun ketulusan para pejabat yang ia rasakan membuatnya menetap. (*) Urai data, ungkap fakta, saji berita


4 REPORTASE UTAMA

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Kampus Merdeka, Jalan Mulus Liberalisasi Pendidikan

Mendikbud: Nadiem makarim (Foto: int)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat sebuah program kebijakan baru yang ditujukan bagi pendidikan tinggi. Mendikbud Nadiem Anwar Nakarim menggagas program bertajuk ‘Kampus Merdeka’ yang dicanangkan beberapa waktu yang lalu. Kebijakan ini merupakan keberlanjutan dari konsep merdeka belajar. Mendikbud mengklaim program ini bisa melepas belenggu perguruan tinggi agar lebih mudah bergerak dan mencapai target dengan empat pokok kebijakan di dalamnya. Keempat pokok kebijakan inilah yang nantinya menjadi awal bagi setiap kampus di Indonesia menjadi lebih otonom dan disinyalir akan membuat kultur pembelajaran perguruan tinggi yang inovatif. Kebijakan tersebut yakni, pertama otonomi perguruan tinggi baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berakreditasi A dan B untuk membuka program studi (prodi) baru. Kedua, program akreditasi perguruan tinggi yang bersifat otomatis dan sukarela, ketiga menyangkut kebebasan PTN Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) beralih status menjadi PTN Badan Hukum (BH). Sementara itu kebijakan pokok terakhir yang marak jadi pembicaraan di kalangan mahasiswa yaitu program magang atau hak mengambil mata kuliah di luar prodi. Terobosan baru pendidikan tinggi ini pada rilis resmi Kemendikbud berprinsip agar bagaimana ‘Kampus Merdeka’ mendorong pembelajaran di perguruan tinggi yang semakin otonom dan fleksibel. Dengan tujuan kultur belajar bisa lebih inovatif dan sesuai kebutuhan perguruan tinggi masingmasing. Sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia, Universitas Negeri Makassar (UNM) akan menerapkan terobosan ini dan segera merasakan kebijakan ‘Kampus Merdeka’. Pro dan kontra kebijakan ‘Mas Menteri’ bermunculan. Ada yang setuju ada pula yang tidak, ada pula yang masih ragu, Urai data, ungkap fakta, saji berita

terkhusus pada beberapa poin kebijakan Nadiem. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNM, Taufiq Akbar merasa terobosan yang memberi otonomi kampus untuk membuka prodi baru masih perlu dibicarakan lagi. Pasalnya, pendirian prodi baru di perguruan tinggi yang bisa dilakukan ketika ada kerjasama dengan mitra perusahaan, organisasi nirlaba, institusi multilateral atau universitas Top 100 rangking versi Quacquarelli Symonds (QS), menurutnya menjadi peluang masuk komesialisasi pendidikan. “Otonomi kepada kampus untuk membuka prodi baru jika kampus menjalin kerjasama dengan instansi lain seperti perusahaan, menurutku akan menjadi pintu masuk komersialisasi pendidikan,” ungkapnya. Tidak jauh berbeda dengan Taufiq, mantan Presiden BEM UNM periode 2018-2019 Dwi Rezki Hardianto beranggapan syarat kerjasama tersebut akan semakin menyulut aksi liberalisasi di perguruan tinggi. Dwi Rezki menilai ada jejak terselubung yang dengan sengaja terselip dalam kebijakan ‘Kampus Merdeka’. “Di sini ada trace (jejak) liberalisasi pendidikan bekerja, yang mana dalam penerapannya pendidikan akan dijalankan ke arah tujuan-tujuan ketenagakerjaan. Progresifitas seperti itu, akan menjadikan pendidikan tinggi sebagai wahana menghasilkan tenaga kerja yang murah dan disiplin ala perusahaan,” ujarnya. Lanjut Dwi, kebijakan lain yakni kebebasan PTN BLU dan Satker menjadi PTN-BH dinilainya menjadikan sistem pengelolaan keuangan kampus berwujud layaknya perusahaan, sehingga mem-

buat tanggung jawab negara pada perguruan tinggi berkurang. “Sistemnya akan berubah menjadi corporate university. Negara akan melepaskan dirinya dari pendidikan tinggi. Ini sangat bertentangan dengan semangat UUD 1945,” ujar alumni Fakultas Bahasa dan Sasta (FBS) UNM. Sementara itu, Pakar Pendidikan, Suparlan Suhartono menerangkan terkait kebijakan pendirian prodi baru, baginya tidak akan menjadi persoalan ketika memang dilakukan karena faktor kebutuhan lapangan kerja. Kebijakan ini akan menjadi tidak tepat bila pewndirian prodi tidak berdasarkan kebutuhan. “Asalkan pembukaan prodi atau jurusan itu memang berdasarkan kebutuhan, ada lapangan pekerjaan baru, ada akses pembuka prodi atau jurusan, itu tidak masalah,” terangnya. Guru besar yang juga mantan Rektor UNM Arismunandar punya pandangannya sendiri terkait kebijakan yang diambil Mendikbud Nadiem. Arismunandar mengatakan, persoalan meningkatkan pendidikan tinggi ala Nadiem sebenarnya tak menyentuh akar persoalan yang dihadapi perguruan tinggi. Menurut mantan rektor dua periode ini, ada tiga hal yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yakni peningkatan akses, mutu, dan tata kelola. "Untuk peningkatan akses, masih banyak anak-anak kita tak dapat akses ke pendidikan tinggi. Bandingkan dengan Korea hampir 70 persen penduknya sudah mengenyam pendidikan tinggi. Indonesia justru mengalami kemunduran, dimana periode 2009-2019 menurun, sampai 20% lebih," kata Arismunandar. .Menurutnya, kebijakan Mendikbud ini masih di permukan dan belum menyentuh akar persoalan baik akses, mutu, dan tata kelola. "Kita masih menunggu petunjuk teknis kebijakan ini. Kita juga ingin tahu apakah ada korelasi kebijakan menteri memecahkan persoalan pendidikan di negeri ini. Supaya tidak salah, masalah di A, solusi di B," pungkasnya. (tim)

Belajar di Luar Prodi, Mahasiswa Bingung? Poin kebijakan ‘Kampus Merdeka’ yang satu ini memberi mahasiswa hak magang di luar perguruan tinggi sebanyak dua semester (setara 40 SKS), ditambah hak mengambil mata kuliah selama satu semester (20 SKS) di prodi yang berbeda. Dengan kata lain, SKS yang wajib diambil di prodi asal sebanyak lima semester dari total yang dijalankan mahasiswa. Terkait terobosan tersebut, mahasiswa UNM, Adesya Pratami berpendapat kebijakan itu bisa menimbulkan kebingungan menjalani akademik. Hal itu Ia sampaikan melihat kecenderungan mahasiswa yang bimbang ketika ingin mengambil mata kuliah di luar prodi. “Mengenai kita bisa memprogram di luar prodi, bukannya itu malah membuat mahasiswa lebih pusing lagi dalam menentukan dirinya di mana akan fokus mengenai apa yang dia program,” ujarnya. Sementara itu, Mantan Presiden BEM UNM Periode 2018-2019 Dwi Rezki Hardianto beranggapan poin kebijakan yang satu ini perlu didalami lagi, hal itu lantaran pilihan penempatan magang mahasiswa bisa saja tidak sesuai dengan kebutuhan.

“Sebenarnya bagus. Namun, hal inilah yang membuat mahasiswa tidak merdeka karena pilihan itu dihadirkan oleh perguruan tinggi yang notabene mengatur kemerdekaan mahasiswa. Kecuali mereka dibebaskan untuk memilih lokasi magangnya. Misalnya, anak Hukum, magang di LBH itu tidak apa, tapi bagaimana dengan mereka yang Humaniora yang jauh dari dunia industri,” tukasnya. Rektor UNM Husain Syam mengungkapkan bahwa kebijakan ini tidak serta merta dikeluarkan. Bahkan terobosan yang dicanangkan Nadiem ini sudah lama dinantikannya, pun saat ini dirinya tengah mempersiapkan beberapa hal untuk menerapkan gagasan ‘Kampus Merdeka’ di UNM. “Semua yang kita ambil itu pasti ada argumentasi akademiknya, ada naskah akademiknya, ada alasan akademiknya. Jadi kampus merdeka ini sesuatu yang jadi bincang-bincang kita dengan pembantu rektor, itu sementara kita saling terjemahan masing-masing, dan itulah diminta juknisnya, ungkap Guru Besar Fakultas Teknik (FT) UNM ini. (tim)

TIM Koordinator: Muhammad Ilham Akbar. B Anggota: - Andi Dela Irmawati - Annisa Asy Syam - Muh. Sauki Maulana - Nurfazila

www.profesi-unm.com


5 LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari

REPORTASE UTAMA

Tahun MMXX 2020

Husain Syam: PTN BH Rasa BLU Salah satu kebijakan 'Kampus Merdeka' yang paling disororti Rektor UNM, Husain Syam yakni kebijakan yang ketiga. Kebijakan yang ketiga tersebut memberikan kebebasan kepada Pergururan Tinggi Negeri (PTN) Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk beralih status menjadi PTN Badan Hukum (BH). Kemudahan ini tak ingin dilewatkan Husain, bahkan mengubah status UNM menjadi PTN-BH telah diangkatnya sebagai visi misinya pada Pemilihan Rektor (Pilrek) UNM periode 20202024. “Saya ingin dalam tahun 2020, paling lambat 2021 agar bisa menjudkan UNM menjadi

www.profesi-unm.com

PTN BH,” katanya dalam konferensi pers Pilrek UNM di lantai 14 Menara Pinisi, Rabu (12/2). Mantan Dekan Fakultas Teknik UNM dua periode ini tak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti sebelumnya, ketika Ia melewatkan kemudahan membuka fakultas pada beberapa tahun silam. Menurutnya kesempatan ini harus diambil sekarang meskipun UNM baru saja menyandang status PTN BLU. “Harus kita tangkap ini momentumnya kebijakan, jangan sampai kita tidak tangkap lalu kemudian berganti menteri susah lagi untuk mengambil payung PTN BH itu,” tandasnya. Pada pelantikan pejabat

UNM, Husain meminta seluruh pejabat untuk bekerja-sama mempersiapkan UNM menjadi PTN BH. Terkait status UNM sendiri yang baru saja beralih menjadi PTN BLU, Husain ingin pejabat untuk bersepakat agar tak terlalu menuntut fasilitas sebagaimana yang dimiliki PTN BH. “Jadi saya ingin mengajak seluruh pejabat untuk membawa UNM menjadi PTN BH, bahwa kita berjalan BLU biarkanlah nanti payungnya PTN BH yang kita ambil, jadi kita namakan nanti itu PTN BH rasa BLU,” pungkasnya. (tim)

Ragu Jadi PTN BH Keinginan Husain Syam mewujudkan Universitas Negeri Makas-sar (UNM) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) nampaknya perlu dipertimbangkan. Kebijakan ‘Kampus Merdeka’ yang memudahkan PTN Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) berakreditasi A beralih menjadi PTN-BH dijadikan Husain sebagai momentum bagi UNM. Namun peralihan status PTN ini menjadi sebuah keraguan bagi mahasiswa UNM sendiri. Hal tersebut dari 53 persen mahasiswa menjawab ragu-ragu terkait persoalan itu. Penerapan status PTN-BH dinilai terlalu dini bagi kampus pencetak guru ini. Terlebih lagi ketika kita menoleh beberapa waktu belakang, sta-

tus UNM menjadi BLU sempat menuai penolakan keras dari mahasiswa. Dwi Rezki Hardianto, mantan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNM periode 20182019 kala itu berkomentar keras terkait persoalan BLU. Ia secara tegas menolak status UNM dengan mengatakan peralihan status tersebut menjadi pemicu awal industrialisasi di bidang pendidikan. Mantan Dekan Fakultas Teknik UNM ini dipandang terburu-buru mengambil keputusan ketika UNM yang baru saja BLU langsung menjadi PTN-BH. Mayoritas mahasiswa menilai UNM perlu untuk terlebih dahulu membenahi sarana dan prasara serta pengelolaan tenaga pengajar sebelum memutuskan persoalan ini. (tim)

Urai data, ungkap fakta, saji berita


6

REPORTASE KHUSUS

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Menerka Strategi Empat Kandidat

Foto: Muhammad Ilham Akbar. B

Siap Tarung - (Dari kiri) Sukardi Weda, Ramli Umar, Tuti Supatminingsih, Husain Syam.

GENDERANG pemilihan rektor telah ditabu, perang segera melaju. Tiga nama maju menantang petahana, Husain Syam. Mereka adalah Sukardi Weda, Ramli Umar, dan Tuti Supatminingsi. Dengan sisa waktu tak sampai dua bulan, satu-satu cara yang harus dilakukan adalah menyerang. Rabu pagi, sekira pukul 09.00 Wita sejumlah pejabat, pegawai, dan satpamberkumpul di rumah jabatan (rujab) Rektor UNM. Beberapa mobil dari dekan dan petinggi UNM, serta dua bus terlihat terparkir. Tak lama berselang, Husain Syam keluar dari rujab ditemani para wakil rektor UNM. Empat wakil rektor hadir menemani, Husain mengenakan kameja putih serta peci hitam sambil menebar senyum. Rais Syuriah PWNU Sulsel, AGH Sanusi Baco turut menemani Ia keluar dan berbincangdengan orang sekelilingnya. Benar saja,hari itu, Husain kembali mempercayai Sanusi Baco untuk memimpin doa sebelum berangkat mendaftar. Sama seperti pemilihan rektor lalu. Sederet dekan seperti Hasnawi Haris, Syukur Saud, Suwardi Annas, Muhammad Yahya, Muhammad Azis, Thamrin, Jufri, Nurlina Syahrir, dan sejumlah kolega turut mengantar Husain Syam menuju lokasi pendaftaran. Menumpangi Alphard hitam, Guru Besar Ilmu Pertanian itu memilih Dekan FT, Muhammad Yahya untuk mendampinginya. Sesampai di Pinisi, Husain disambut gemuruh tepuk tangan dari pegawai, dosen, hingga mahasiswa. “Dilihat dari situasi, jujur saya diberi beban tetapi dengan banyaknya orang yang mengantar saya dan mendoakan saya ini berarti banyak yang menaruh harapan kepada saya dan inilah hal yang sangat luar bisa karena banyaknya orang yang menitipkan harapan,” kelakar Husain usai mengikuti proses pendaftaran. Mantan Dekan FT UNM itu mengaku masih yakin akan tetap memenangkan pertarungan Pilrek UNM. “Melihat antusias dan semangat teman-teman Insyaallah sayalah yang terpilih,” begitu alumnus UGM ini meyakinkan simpatisannya. Bahkan, Ia sudah memproyeksi akan menjadikan kampus berlabel guru ini berstatus PTN BH. Selain itu, Ia berkeinginan membuka program studi (prodi) baru yang selama ini menjadi impiannya. Seperti, Prodi Ilmu Hukum, Ilmu Politik, dan Hubungan Internasional, agar UNM bisa memotret indonesia dari perspektif dunia. Urai data, ungkap fakta, saji berita

Husain justru meminta kepada para lawannya agar memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya untuk memimpin UNM

Saya khawatir kalau ada yang gantikan saya UNM akan rusak karena itu berilah saya kesempatan sekali lagi Insyaallah dua kali lebih baik, pegang kata-kata saya kira-kira begitu Husain Syam, Rektor UNM Periode 2016-2020 Terkait pendaftaran calon Rektor UNM yang berakhir 14 Februari lalu, dua penantang asal Parang Tambung ikut meramaikan, Ramli Umar dan Sukardi Weda. Ramli Umar perwakilan dari FMIPA untuk kedua kali mencalonkan diri. Setelah pernah ditumbangkan oleh Arismunandar. Dirinya mengaku bangkit. Namanya, tidak terlalu moncer di kalangan kampus. Berbekal gelar professor, Dosen Georafi ini yakin akan mudah menggilas lawan-lawannya. “Dulukan saya doktor ji, sekarang saya sudah profesor jadi saya lihat kesempatan dan kayaknya bisa saya maju lagi,” terangnya. Direktur Program Pendidikan Profesi Guru (P3G), Ramli Umar adalah pendaftar kedua, sehari setelah Husain Syam. Ditemani Dekan FMIPA, Suwardi Annas beserta wakil dekan dan pimpinan prodi, Ramli sesumbar akan mampu menggulingkan Husain Syam yang dianggap petahana sangat kuat. Ia mengaku tak punya senjata khusus, hanya saja baginya pilrek adalah pertarungan gagasan. Mereka yang terbaik akan memiliki konsep akademik bukan politik praktis. Meski begitu, Ramli Umar tak boleh dipandang sebelah mata. Sejumlah jabatan strategis pernah Ia duduki. Seperti ketua prodi, ketua jurusan, wakil dekan, dan organisasi luar lainnya. “Saya siapkan sudah jauh-jauh hari jadi saya menentukan waktu kapan ada waktu kosong dan akhirnya tanggal 13 Februari men-

jadi waktu yang tepat untuk saya mendaftar,” tuturnya. Saat ditanya mengenai keyakinannya untuk menang, Ia mengatakan pilrek atau suatu hal apapun itu bila tidak dicoba maka tidak akan tau keadaanya seperti apa. Lulusan Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) mengaku tidak masalah bila harus melawan rektornya sendiri karena baginya dalam suatu lingkungan akademik, maka nilai-nilai akademiklah yang dibawa untuk melakukan suatu hal, salah satunya dalam pertarungan di ajang pilrek. Meski menjadi orang nomor satu di UNM adalah impiannya sejak dulu, mantan Wakil Dekan III FMIPA ini belum menjajal koalisi dengan fakultas lain. Lain halnya dengan Sukardi Weda, berbekal dengan enam suara senat FBS yang dikantongi, Wakil Dekan III FBS ini memberanikan diri ikut bersaing dengan calon lainnya. Tercatat, Sukardi Weda mengembalikan formulir pendaftaran calon Rektor UNM periode 2020-2024 di sekretariat panitia lantai 14 menara Pinisi UNM, Kamis (13/2). Ia bersama rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 14:43 Wita, didampingi dekan dan wakil dekan serta sejumlah ketua prodi di FBS. Sukardi memang patut disegani. Ia satusatunya calon yang punya gelar mentereng. Berbekal delapan gelar akademik, mantan Ketua Prodi Sastra Inggris ini tentu memiliki daya jual yang tinggi. Belum lagi, Ia merupakan alumni S1 Unhas. Dengan begitu, Sukardi yakin akan mendapat dukungan penuh dari almamaternya. Belum lagi, Sukardi pernah meraih jabatan nomor wahid di Fakultas Sastra UIM. Di samping itu, alumnus Universitas Indonesia (UI) ini menuturkan bahwa yang membedakan dirinya dengan bakal calon lain, yakni pengalamannya di dunia kerja maupun organisasi. Sederet organisasi diklaim pernah diikuti. Di antaranya, ICMI, KNPI, IKM, Persaudara Muslim Sedunia, LDII, dan sejumlah organ lainnya dengan posisi strategis. “Saya juga orang yang memiliki tipe selalu memanfaatkan kesempatan yang ada. Saya kira, dalam berdemokrasi siapapun dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk mengaktualisasikan ide, konsep, pemikiran, dan bentuk nyata,” ketusnya. Dukungan penuh dari Dekan FBS, Syukur Saud juga menjadi senjata ampuh Sukardi. Dosen Bahasa Jerman itu blak-blakan bahwa sosok Sukardi memiliki potensi dan

prestasi yang sangat baik. “Sangat wajar kalau dia (baca;Sukardi Weda) mendapatkan dukungan dari UNM,” ungkapnya. Sukardi mengaku tujuannya untuk menjadi rektor karena ini ingin mengubah UNM menjadi kampus internasional. “Ada dua grand strategy yang akan saya lakukan yang pertama yaitu Internasionalisasi UNM dan kedua meningkatkan kinerja ekselen (Unggul) UNM. Ini sejalan dengan visi Mas Menteri Nadiem Makarim yaitu untuk menjadikan pendidikan dan SDM Indonesia yang berdaya saing tinggi,” jelasnya Selanjutnya, figur lain yang muncul adalah Tuti Supatminingsi. Nama Tuti memang sempat terang di masa kepimpinan Arismunandar. Kala itu menjabat sebagai Wakil Dekan III FE. Namun, redup seiring dengan berhentinya rezim Arismunandar. Yang mencengangkan, FE malah mendorongnya untuk maju bertarung. Saat mendaftar, Tuti seperti tidak membawa amunisi apa-apa. Itu tampak, ketika dia melakukan konfrensi pers, begitu gugup berbicara. Tak cukup dua menit Ia meninggalkan meja konfrensi. Namun, meski begitu Dosen Pendidikan Ekonomi ini mengatakan langkahnya adalah jihad. Melihat UNM masih kalang-kabut dalam pembelajaran itulah yang menjadi alasan dirinya maju jadi calon rektor. Perempuan asal Sukamaju itu bertekad memperbaiki akademik, proses mengajar,dan sumber daya yang sejalan dengan zaman. "Buat saya menjadi rektor berikutnya itu tidak terlalu sesusah barangkali dari yang sebelum-sebelumnya karena rektor yang sebelumnya sudah membangun universitas ini menjadi world class. Jadi, itu saya tinggal melanjutkan program yang sudah ada," tegasnya. Parahnya, mantan Dekan FE, Muhammad Aziz yang ikut mengantarnya saat mengajukan diri sebagai calon rektor mengaku tidak mendukung langkah Tuti. “Saya tidak mendorong dia (Tuti) untuk maju sebagai calon rektor tapi Ia sendiri yang ingin mencalonkan diri,” bebernya. Sampai saat ini, usungan nama-nama dari tiga fakultas berbeda itu, sejauh ini memang belum jelas strategi yang akan ditempuh. Belum lagi, suara 35 persen dari Kemendikbud harus segera diperebutkan. Padahal, petahana telah lebih dulu menyalakan api kemenangan. Hal demikian dikarenakan sejumlah anggota senat massif mendukungnya. (tim) www.profesi-unm.com


7 REPORTASE KHUSUS

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Nyali Para Dekan Ciut Lawan Husain Tiga nama muncul menjadi penantang Husain Syam di pilrek tahun ini. Namun, tak satu pun dekan yang berambisi untuk merebut jabatan rektor dari petahana. Torehan prestasi Husain selama menjabat disinyalir menjadi faktor menciutnya nyali para dekan. Berbagai argumen pun muncul dari beberapa petinggi fakultas, Dekan Fakultas Psikologi (FPSi),

Muhammad Jufri misalnya. Ia sama sekali tidak tertarik untuk maju menjadi calon. Jufri mengaku ingin fokus pada jabatannya di periode keduanya kali ini. Bahkan, secara terang-terangan Ia mendukung Husain untuk duduk kembali di kursi rektor. “Saya mau bilang kami mendukung Husain Syam karena beliau telah menunjukkan kinerjanya yang kita harapkan ada,” katanya.

Para Penantang Husain KANDIDAT bakal calon (balon) Rektor UNM terakhir ternyata membawa kejutan yang tidak terduga. Tuti Supatminingsih, Dosen Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Makassar (UNM) rupanya turut mengajukan diri dalam kontestasi demokrasi terbesar di UNM ini. Ia bersama Muhammad Aziz yang saat itu masih menjabat sebagai Dekan FE dan para petinggi FE menyusul balon rektor lainnya yang telah mengajukan berkas untuk memperebutkan kursi wahid UNM. Tercatat hingga saat ini sudah empat balon rektor yang mengajukan berkas. Tuti menjadi satu-satunya

Selain Muhammad Jufri, mantan Dekan Fakultas Seni dan Desain (FSD), Nurlina Syahrir juga mengungkapkan tak punya niatan untuk menjadi orang nomor satu di UNM. Ia menganggap sampai saat ini, belum ada figur yang bisa menggantikan sosok Husain. Bahkan, Nurlina mengatakan, jika ada orang lain maju menggantikan Husain, Ia tak akan mempunyai kapasitas untuk melan-

jutkan kinerja Guru Besar Fakultas Teknik tersebut “Kan sekarang BLU, kalau orang-orang yang tidak punya terobosan untuk melihat ini secara konperehensif , kan sayang kalau orang yang gak paham untuk lanjut menggantikan,” katanya. Tak jauh beda dengan Muhammad Jufri, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS), Syukur Saud,

juga ingin fokus menyelesaikan tugas yang diembannya saat ini dari pada mencoba tanggung jawab baru. Ia menilai, Husain masih sangat layak untuk tetap menjabat di periode selanjutnya. “Menurut saya pribadi masih sangat layak memimpin lagi satu periode,” katanya. (tim)

Tuti Ingin Jihad di Pilrek

perempuan dari empat pendaftar lainnya. Tak ayal, hal tersebut pun sepertinya menjadi perhatian besar bagi civitas UNM. Iapun mengaku memiliki tekad besar untuk menjadi Rektor UNM. "Saya berjihad menjadi calon rektor UNM 2020-2024 karena Allah," ujarnya. Doktor Pendidikan Ekonomi Islam ini mengaku belum bisa berbicara banyak karena baru saja mendaftar dan belum ditetapkan sebagai bakal calon rektor. “Karena belum ditetapkan sebagai bakal calon maka saya hanya minta doanya dari teman-teman sekalian,” katanya di hadapan simpatisan.

Perempuan asal Masamba ini juga mengaku memiliki visi besar terhadap kampus pencetak guru ini. Ia menjelaskan memiliki tujuan yang mendalam untuk memperbaiki akademik, proses mengajar, dan sumber daya yang sejalan dengan zaman serta generasi millenial."Saat ini zaman millenium, saya kebetulan dari bagian penghasilan pernah bergelut di situ. Saya mau mahasiswa itu adalah mahasiswa yang milenium," tuturnya. Meski begitu, ia tidak merencanakan program kerja yang unik dan visioner. Ia malah memuji hasil kerja Rektor UNM saat ini yaitu Hu-

sain Syam, baginya bila ia menjadi rektor hanya perlu melanjutkannya apa yang telah dimulai oleh rektor di periode sebelumnya. “Saya mau mahasiswa bisa bekerja dimana saja mau di Makassar atau kota lain di Indonesia dan juga di penjuru dunia, itu saja intinya. Jadi secara makro sebenarnya semua program saya dan balon lain sekilas sama saja” Perihal majunya Tuti Sutmaningsih, Mantan Dekan Fakultas Ekonomi Muhammad Aziz mengatakan ia mengantar Tuti karena merupakan anggotanya di fakultas sehingga baginya punya tanggung jawab untuk

turut menemani mantan Wakil Dekan Bidang Kemahasiwaan FE itu saat mendaftar sebagai bakal calon rektor UNM. “Saya tidak mendorong dia (Tuti) untuk maju sebagai calon rektor tapi ia sendiri yang ingin mencalonkan diri,” katanya. (tim)

Ramli Umar, Bawahan Jadi Penantang STIGMA yang mengatakan bahwa tidak ada bawahan Husain yang berani menjadi penantangnya seakan luntur saat ia dengan senyum merekahnya datang untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor UNM. Kamis, 13 Februari pria dengan postur tegap ini datang bersama Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Suwardi Annas ke sekretariat pemilihan rektor di lantai 14 Pinisi UNM. Ia lah Ramli Umar Direktur Program Pendidikan Profesi Guru (P3G). Pria yang dulunya merupakan salah satu pendukung Husain pada pilrek 2016 ini kini menjadi berseberangan dengan pimpinanya itu. Profesor Ilmu Geografi ini dengan gagahnya kini menjadi lawan yang akan bertarung dalam pilrek mendatang. Cukup mengejutkan dengan mendaftarnya sebagai balon rektor. Hal ini dikarenakan statusnya

yang merupakan bawahan Husain di UNM khususnya di Pinisi sehingga namanya dianggap tidak punya kekuatan untuk melawan Dekan FT dua periode tersebut. Tapi ia menjawab hal itu dengan menjadi bakal calon rektor kedua setelah Husain. Saat konferensi pers, ia mengatakan mengatakan menjadi rektor UNM merupakan cita-citanya sejak dulu maka ia ingin mewujudkan keinginannya itu dengan mendaftarkan diri sebagai bakal calon. Menurutnya, banyak hal yang akan ia siapkan nantinya agar bisa tampil dengan peforma terbaik pada pilrek kali ini. “Saya akan berupaya untuk bisa membangun atau mewujudkan mimpi saya yaitu menjadi rektor UNM,” katanya. Doktor Penyuluhan Pembangunan ini saat wawancara terpisah menuturkan cita-citanya ini ternyata sempat ingin ia wujudkan

beberapa tahun lalu tepatnya pada 13 yang tahun lalu atau tahun 2008. Saat itu ia melawan Arismunandar Rektor UNM 2008-2016. Namun nasib berkata lain ia harus kalah telak dengan perolehan suara yang cukup jauh. Menurutnya keikutsertaanya pada pilrek 13 tahun lalu itu sudah menjadi modal besar sehingga ia yakin bisa memenuhi syarat bakal calon di pilrek mendatang. Menjadi rektor adalah keinginan

dirinya sendiri tanpa ada paksaan dari manapun. Ia juga sudah mempersiapkan hal ini semenjak pembukaan pendaftaran bakal calon dengan melihat syarat dan ketentuan baginya itu sudah bisa ia penuhi untuk maju. “Saya siapkan sudah jauh-jauh hari jadi saya menentukan waktu kapan ada waktu kosong dan akhirnya tanggal 13 itu menjadi waktu yang tepat untuk saya mendaftar,” tuturnya. Mantan Wakil Dekan 3 FMIPA ini mengatakan akan berupaya bersinergi dengan semua sivitas UNM dengan segala kondisi yang ada nantinya. “Saya kira apa yang harus kita lakukan adalah upaya-upaya untuk mensinergikan dengan kondisi yang ada dan kita harus merespon kondisi tersebut dengan cepat,” jelasnya. Ia melihat hal ini diperlukan agar masyarakat lebih mengenal UNM karena menurutnya UNM lebih dike-

nal sebagai kampus kependidikan padahal UNM juga membawahi berbagai jurusan non kependidikan. Saat ditanya mengenai keyakinannya untuk menang, ia mengatakan bahwa pilrek atau suatu hal apapun itu bila tidak dicoba maka tidak akan tau keadaanya seperti apa. Lulusan Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) mengaku tidak masalah bila harus melawan Rektornya sendiri karena baginya dalam suatu lingkungan akademik maka nilai-nilai akademiklah yang dibawa untuk melakukan suatu hal salah satunya dalam pertarungan diajang pilrek. “Kita ini dilingkup akademik maka menang dan tidaknya itu tidak masalah yang penting sudah saling memaparkan konsep dalam mengatur suatu perguruan tinggi,” jelasnya kepada wartawan Profesi. (tim)

Sukardi Weda Bermodal Pengalaman Kerja

SALAH Satu bakal calon yang maju dalam pemilihan rektor UNM periode 2020-2021 adalah Sukardi Weda. Ia adalah bakal calon yang diusung oleh fakultas bahasa dan sastra (FBS). Dekan FBS Syukur Saud mengatakan ia mendukung penuh majunya Sukardi Weda sebagai bakal calon rektor. “Saya rasa ia memiliki banyak prestasi dan kemampuan yang baik sehingga www.profesi-unm.com

wajar bila ia bisa didukung oleh seluruh UNM,” katanya. Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan (WD III) FBS ini mengungkapkan alasan majunya sebagai calon rektor yakni, ingin menjadikan unm sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional. Agar sejalan sejalan dengan visi ‘Mas Menteri’ Nadiem Makarim yaitu untuk menjadikan pendidikan dan SDM Indonesia yang berdaya saing tinggi. “Ada dua grand strategy yang akan saya lakukan: 1. Internasionalisasi UNM, 2. Meningkatkan Kinerja Ekselen (Unggul),” jelasnya Mantan Kaprodi Sastra Inggris ini mengatakan telah mempersiapkan pendaftarannya selama tiga minggu. Ia mengaku hanya beberapa minggu dalam meren-

canakan pendaftarannya sebagai bakal calon. “Saya termotivasi untuk ikut bersaing dalam perhelatan ini karena ada keinginan dalam diri saya untuk membangun UNM menjadi PT unggul dan berdaya saing tinggi dalam percaturan global,” tuturnya. Mengenai majunya sebagai bakal calon yang cukup mengejutkan, Ia mengatakan dorongan untuk maju hanya datang dari dirinya sendiri bukan dari orang lain. Baginya dengan berbagai pengalaman yang pernah ia dapati bisa menjadi modal besar untuk memenangkan konstelasi. “Saya adalah orang yang merasa memiliki kemampuan, dan kemampuan itu merupakan akumulasi pendidikan saya mulai dari pendidikan dasar, menengah, dan

pendidikan tinggi dan pengalaman organisasi yang saya miliki. Saya juga orang yang memiliki tipe selalu memanfaatkan kesempatan yang ada, dan tidak melewatkan kesempatan itu,” kata alumnus Universitas Hasanuddin (Unhas) ini. Menurut pria kelahiran Parepare ini dalam pilrek semua bisa maju dengan memanfaatkan kesempatan yang dimiliki. Menurutnya pilrek adalah ajang untuk beradu konsep dan gagasan. ” Saya kira dalam berdemokrasi siapapun dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk mengaktualisasikan ide, konsep, pemikiran, dalam bentuk nyata,” jelasnya. Sukardi Weda juga menambahkan bahwa Ia memilih mendaftar pada sore hari di tanggal 13 Februari karena Ramli Umar

mendaftar duluan di pagi sehingga Ia memindahkan waktu pendaftaran pada sore hari. “Saya pendaftar ketiga setelah petahana, Pak Husain Syam dan Ramli Umar, itu hanya secara kebetulan saja. Awalnya saya ingin mendaftar pada pagi hari di hari Kamis, tanggal 13 Februari 2020, tapi rupanyaRamli Umar akan mendaftar di pagi itu juga, makanya saya pindahkan ke sore hari,” katanya. (tim)

TIM

Koordinator: Elfira Anggota: Ratu Fathonah Dewan Ghiyats Nurul Istiqamah St. Reski Amalia Fikri Rahmat Urai data, ungkap fakta, saji berita


8

INOVASI

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Ubah Tempe Jadi Barongko

Masyarakat awam ketika mendengar kata tempe, pasti yang terlintas di benaknya jatuh pada gorengan yang biasa dijajalkan di pinggir jalan ataupun lauk warung makan. Bila biasanya makanan satu ini kerap kita jumpai dalam bentuk seperti itu, maka A. Sulham Wirayuda di acara Cipta Karya Boga (CKB) Universitas Negeri Makassar (UNM) membuat inovasi lain dari olahan tersebut. Kini ia dan kedelapan belas mahasiswa lainnya dari Program Studi (prodi) Tata Boga Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) UNM menyulap tempe menjadi makanan bercita rasa manis. Sulham menyulap tempe menjadi makanan khas suku Bugis, Barongko. Ia terinspirasi

Urai data, ungkap fakta, saji berita

Foto: IST

memadukan barongko dengan tempe yang sama-sama merupakan warisan makanan Indonesia. Olahan tersebut kemudian ia beri nama Deconstracted Barongko Tempe. Hidangan yang biasanya dibalut dengan daun pisang ini, ia tata kembali tampilannya dengan menambahkan saus cokelat ganache yang ia siramkan pada

dessert tersebut. Sehingga inovasi barongko tempe ini bisa cocok dengan lidah kaum milenial. Deconstracted Barongko Tempe ini terbuat dari pisang yang kaya akan serat, anti oksidan dan vitamin. Pun dengan paduan tempe yang juga mengandung serat tinggi, protein, mineral dan vitamin. Sajian tersebut bisa bertahan selama sehari di suhu ruangan biasa, dan bila disimpan di dalam refrigerator atau kulkas dapat bertahan selama 4-5 hari. "Saya memilih barongko yang merupakan makanan khas Bugis, karena pada pagelaran cipta karya boga ini temanya dessert mengolah tempe, jadi saya memasukkan elemen tempe pada barongko tersebut," jelasnya. Kedepannya Sulham akan mengembangkan hasil olahannya ini hingga bisa dipasarkan secara luas. Pengembangannya ini nantinya akan mendalami kandungan

gizi serta manfaatnya bagi kesehatan. " I n g i n mengembangkannya untuk mengetahui kandungan gizi atau analisis gizinya, serta mengembangkannya lagi supaya bisa bertahan lama sehingga bisa menjadi kuliner atau oleh-oleh dari Sulawesi Selatan untuk dunia," ujarnya. N a m u n saat ini ia

mengaku harus

menunda keinginannya itu dikarenakan fokusnya untuk menyelesaikan studinya. “Insyaa Allah untuk kedepannya ingin pasarkan, tapi saat ini kegiatan perkuliahan sangat padat jadi belum dipasarkan, apalagi saya mahasiswa akhir. Tapi ketika ada yang ingin memproduksi hidangan ini yah silahkan saja," tutupnya. (afa)

Foto: IST

Tempe, selain karena rasanya yang digemari orang, makanan khas Indonesia ini dipercaya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Sampai saat ini pun olahan khas dari kedelai itu masih menjadi salah satu makanan favorit.

www.profesi-unm.com


9

WAWANCARA KHUSUS

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Belajar Toleransi dari Gus Dur Intoleran, salah satu masalah yang ada di indonesia sejak ratusan tahun lalu dan hingga kini menjadi salah satu sumber konflik antar suku, RAS, dan agama. Intoleran ini bagaikan sudah mendarah daging dalam tubuh orang indonesia, kita sering kali tanpa sadar melakukan tindakan intoleran kepada orang di sekitar kita. Tragedi Ambon, Poso, hingga pengusiran mahasiswa Papua di Surabaya merupakan salah satu contoh nyata dari bahayanya intoleran di Indonesia. Gus Dur, salah satu ulama, intelektual, dan presiden Republik Indonesia (RI) ke-empat adalah salah seorang yang keras menentang intoleran di negeri ini. Ia menganggap bahwa intoleran yang terjadi di indonesia bisa menjadi salah satu penyebab indonesia hancur berkeping-keping. Sepuluh tahun sudah semenjak ia meninggal dunia, namun hingga kini peninggalannya masih selalu dikenang dan kematiannya tiap tahunnya selalu diperingati untuk merawat nilai-nilai yang ia tinggalkan untuk bangsa ini. Pada peringatan Haul Gus Dur Kesepuluh yang diselenggarakan Gusdurian Makassar beberapa waktu yang lalu. Reporter Profesi, *Fikri Rahmat Utama melakukan wawancara khusus dengan anak sulung dari Almarhum Gus Dur yaitu Alissa Wahid yang juga merupakan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian. Berikut hasil wawancara bersama Alissa yang dalam orasinya mengangkat tema Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan. Apa tujuan dari peringatan haul Gus Dur yang tiap tahunnya ini diselenggarakan ? Haul Gus Dur ini adalah salah satu momen yang sangat berharga bagi keluarga kami dan para pengikut Gus Dur karena dengan momen haul ini kita bisa memaknai serta mengenang kembali nilai-nilai yang ditinggalkan oleh Gus Dur. Gus Dur adalah orang yang suka dengan humor, sebenarnya apa makna humor bagi Gus Dur itu sendiri ? Bagi Gus Dur humor adalah kearifan kita untuk tetap rendah hati, humor adalah cara kita untuk mencerna suatu hal yang sebena-

rnya sulit untuk kita pahami, dan humor juga bisa menjadi alat untuk mengkritisi sesuatu tanpa harus menyakiti. Apa harapan mba Alissa dan keluarga di haul Gus Dur kesepuluh ? Harapannya masyarakat bisa mengambil nilai-nilai dari perjalanan kehidupan Gus Dur karena banyak sekali nilai-nilai Gus Dur yang seharusnya diterapkan di masyarakat Indonesia. Seperti apa nilai-nilai toleransi yang ditinggalkan oleh Gus Dur ? Bagi Gus Dur manusia itu setara, sederajat, dan berprinsip berkeadilan. Ia tidak pernah takut saat bertemu dengan golongan yang dianggap mengancam atau membahayakan golongan lain. Baginya, sesama manusia tidak bisa saling memusuhi karena bila ada perilaku menyimpang maka perilakunya yang dimusuhi bukan orangnya. Contohnya Rizieq Shihab yang seringkali melontarkan ucapan yang kontroversial tapi bagi Gus Dur hal itu wajar karena Rizieq Shihab memiliki hak berpendapat sebagai warga negara. Bagaimana Gus Dur melihat keselarasan antara agama dan budaya ? Agama dan budaya itu memiliki nilai-nilai yang harus diperjuangkan. Nabi Muhammad perjuangannya dulu adalah melawan penindasan yang terjadi pada zaman jahiliyah. Perjuangannya itu salah satu risalah kenabiannya dan juga membawa budaya baru yaitu Islam sebagai pengganti sistem yang tidak baik. Sehingga dengan budaya, kita bisa membangun peradaban baru yang lebih baik.

Konsep inilah yang dipegang oleh Gus Dur yaitu di mana bumi dipijak maka disitulah langit dijinjing jadi saat Islam dibawa ke Indonesia. Kita sebagai umat muslim Indonesia jika kita merawat budaya Nusantara maka sama seperti menjalankan ibadah yang penting tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Bagaimana kita seharusnya melihat yang namanya perbedaan ? Perbedaan adalah rahmat dan perbedaan yang terjadi pada para pemimpin merupakan hal yang wajar serta nantinnya menjadi pembelajaran untuk umat. Namun bila perbedaan pendapat dianggap ancaman maka hal itu adalah hal yang tidak baik karena bisa menjadi pemecah belah bangsa. Apa pendapat mba Alissa tentang buku Menjerat Gus Dur ? Buku Menjerat Gusdur adalah catatan sejarah, jika banyak yang membaca buku ini maka mereka bisa lebih memahami bagaimana permainan politik itu terjadi. Seringkali banyak orang bertanya kenapa gusdur cepat sekali menjabat dan cepat dilengserkan. Sebetulnya ia tidak dilengserkan begitu saja tapi ada permainan di balik pelengseran itu. Dulu awalnya ia bertahan dengan jabatannya tapi ia memilih mundur saat ada pasukan yang berani mati untukx membela dan mempertahankannya, di situlah Gus Dur lebih memilih kemanusiaan disbanding mempertahankan kekuasaan. (*)

Foto: fikri rahmat utama

BIODATA

Nama Lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid S.Ikom Lahir: Jombang, 29 Oktober 1974 Pendidikan - Sarjana desain dan komunikasi visual, Universitas Trisakti - Master, Harvard Kennedy School of Government Karir - Koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) - Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik - Direktur Wahid Institute - Ketua PKB

www.profesi-unm.com

Urai data, ungkap fakta, saji berita


10 LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari

OPINI

Tahun MMXX 2020

Merdeka dengan Organisasi Organisasi kemahasiswaan merupakan wadah mahasiswa dalam mengembangkan bakat, minat dan potensinya, selain itu organisasi kemahasiswaan juga berfungsi bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, kepekaan, daya kritis, keberanian dan kepemimpinan serta rasa kebangsaan. Hadirnya lembaga kemahasiswaan tidak lepas juga dari tugas dan tanggung jawab sosial utamanya bagi masyarakat luas. Terlepas dari fungsinya, suatu organisai kemahasiswaan harus selalu mengupayakan agar organisasi tersebut kedepannya tetap mampu bertahan atau tetap eksis, dengan kebutuhan itu maka disitulah pentingnya suatu organisai melakukan proses kaderisasi, salah satunya adalah kegiatan pengkaderan, kegiatan ini merupakan upaya organisasi kemahasiswaan untuk menghasilkan kader-kader yang nantinya akan melanjutkan proses kepemimpinan dan keberlangsungan organisasi dan untuk merealisasikan fungsi dari organisasi kemahasiswaan sebagaimana yang dijelaskan pada paragraf pertama yang diatas. Pengkaderan bukan sekedar formalitas belaka! Seruan untuk mengikuti suatu pengkaderan bukan hal

yang tabu lagi bagi mahasiswa baru, singkatya adalah seruan dari senior-senior atau pengurus dari oragnisasi kemahasiswaan pada jurusan dimana mahasiswa tersebut berada. Menjadi mahasiswa dan bergabung dalam organisasi kemahasiwaan merupakan kesempatan besar bagi setiap mahasiswa unntuk menggapai cita-cita mulia hadirnya organisasi kemahasiswaan, Dari sanalah kita bisa belajar atau menambah dan memperluas pengetahuan dan mengembangkan minat dan bakat serta merupakan wadah untuk melakukan pengabdian dan perjuangan nyata untuk kesejahteraan individu, kelompok dan masyarakat. Menyedihkan bagi suatu organisasi kemasiswaan jika orang-orang yang telah megikuti kegiatan pengkaderannya atau perekrutannya, lalu organisasi kemahasiswaan tersebut masih mengalami “krisis kader”, sebenarnya diksi itu tidak tepat untuk digunakan, yang tepatnya adalah kader melimpah tapi krisis tanggung jawab, bisa jadi penyebabnya adalah mahasiswa yang ikut dalam pengkaderan itu hanya sekedar untuk mendapatkan pengakuan belaka, semoga tidak. Sebenarnya banyak ke-

mungkinan lain yang muncul jika kita menganilisis lebih jauh lagi soal kenapa anggota dari setiap organisai memilih tidak begitu aktif atau bahkan tidak peduli dengan ke-

giatan dan kepentingan organisasi kemahasiswaan intra kampus, salah satu alasan klasik yang sering muncul adalah tidak ada keuntungan yang didapatkan atau dengan alasan ingin cepat-cepat sarjana karena UKT tinggi, entah apa yang merasukinya, padahal dengan bersungguh-sungguh dan berperan aktif dalam organisai, itu bisa menjadi penunjang akademik dan menjadi penunjang untuk masa depan mahasiswa itu sendri ketika berada di dunia kerja nanti, alasan klasik itu

juga sebenarnya menunjukkan sikap yang pesimis diawal dan tidak percaya diri. Cepat atau lambatnya sarjana itu bukan karena organisasi penyebanya, tapi itu pilihan. Alasan karena faktor lingkungan juga sering muncul dari pengamat-pengamat liar organisasi, sebenarnya alasan itu juga hanya menunjukkan keresahan dan kebetahan terhadap keresahaan itu, dan memilih apatis terhadap organisasi kemahasiswaan yang telah mengikutkannya dalam proses pengkaderan dan mengukuhkannya sebagai anggota, alasan ini juga membenarkan bahwa mahasiswa tersebut tidak berani mengambil resiko dan tidak punya komitmen terhadap dirinya, ibaratkan Negara. Kampus itu merupakan miniatur dunia kecil yang didalamnya terdapat banyak perbedaan, sebagai individu yang berada dalam suatu lingkungan, tentunya harus menghargai dan mengakui perbedaan yang ada, pada dasarnya semua mahasiswa yang disekitar beridentitas sama, yang perlu dilakukan adalah berfokus pada koridor dimana kita merasa pas dan nyaman tanpa mengkhianati nilainilai yang kita junjung secara menyeluruh.

Bergabung dengan organisasi kemahasiswaan itu berarti telah bersepakat untuk menjadi bagian dari organisasi, hak dan tanggung jawab semua kader sama. Banyak hal yang bisa didapatkan jika dalam menggelutinya itu didasari dengan kesungguhan, jadi silahkan manfaatkan waktu dan ruang-ruang intelektual yang ada. Serta mari berdedikasi dalam organisasi lalu bersatu untuk memperjuangkan apa yang pantas diperjuangkan, bukan soal siapa yang menuntut, tapi ini soal identitas yang melekat sejak menyandang status sebagai mahasiswa yang corongnya adalah berkolompok atau berorganisasi, tepatnya adalah organisi kemahasiswaan intra kampus, yang kita sebut Lembaga Kemahasiswaan. “Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk jadi penyaksi atau bahkan memilih pergi dan merdeka untuk diri sendri”.(*)

*Asnawi, Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Pendidikan Teknik Otomotif, angkatan 2016

Mahasiswa dalam Spekulasi Zaman Menjadi seorang Mahasiswa banyak hal yang menjadi sebab musabab hingga sekarang sampai pada level ini. Ada banyak cita-cita besar yang pastinya tertanam dalam pikiran para mahasiswa dan itu menjadi hal yang harus dicapai pada level pendidikan tinggi ini. Mahasiswa berekspektasi tinggi bahwa saat ketika selesai menempuh pendidikan tinggi, akan menjadi output yang sukses diberbagai bidang. Sungguh suatu citacita yang mulia meski tak jarang ada juga yang pesimis, yang perlu kita ingat mutu atau kualitas pendidikan yang dialami selama menempa pendidikan tinggi dapat dilihat dari 3 hal yaitu input, proses, dan output. Mahasiswa adalah input dari sumber daya manusia yang dihasilkan oleh pendidikan menengah atas. Namun dalam tulisan ini, saya ingin lebih beropini tentang salah satu bagian dari pada proses yang berkaitan dengan perilaku lazim mahasiswa hari ini yang nantinya akan berdampak pada output yang dihasilkan. Kata lazim itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan. Meski bersifat opini namun tak ada satu pun unsur yang akan saya salahkan dan ini hanya bersifat mengkritisi dengan pikiran saya berlandaskan kondisi yang terjadi. Perilaku yang saya maksudkan adalah perilaku belajar didalam kelas yang cuma mendengarkan dan menerima materi yang

Urai data, ungkap fakta, saji berita

tak jarang menjadi hobi. Saya sering kali risih dengan perilaku yang demikian dan sering saya jadikan agenda pembahasan pembuka saya ketika metode diskusi dibuka dalam forum pembelajaran dalam kelas untuk menyampaikan kepada kawan-kawan. Saya pribadi menyebut perilaku ini sebagai “mahasiswa yang disuplai tanpa menyuplai”. Pernah mendengar pendidikan gaya bank yang di ktitisi oleh Paulo Freire? Yah, kiranya hampir sama atau mungkin tak ada perbedaan, dimana pebelajar diibaratkan sebagai bejana kosong yang akan terus diisi air hingga penuh. Dalam artian materi yang diberikan kepada mahasiswa dari pendidik yang sifatnya adalah kebenaran yang harus diterima. Saya sebutkan contoh yang lazim dilakukan yaitu perilaku belajar yang cuma dilakukan di dalam kelas perkuliahan karena menganggap bahwa materi yang akan mereka terima nantinya adalah suatu kebenaran mutlak yang akan dijadikan sebagai pengetahuan baru sehingga ketika Dosen berhalangan masuk kelas maka proses belajar mahasiswa pun tidak akan berjalan (free class). Padahal pastinya kita semua tahu bahwa proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, apalagi di era teknologi informasi sekarang ini dimana sumber belajar bukan hanya bersumber pada pendidik ataupun buku cetak. “Ayo

melek teknologi untuk pembelajaran”. Lanjut... Menurut perspektif saya, mahasiswa (pebelajar) bukanlah suatu objek kaku yang cuma akan menerima dan mendengarkan. Paradigma seperti ini yang harus sama-sama kita rubah. Dosen (pembelajar) adalah subjek atau pelaku dan Mahasiswa bukan objek yang akan menerima (receive) tetapi mahasiswa juga adalah sebagai subjek. Sehingga yang berposisi sebagai objek adalah kondisi realitas atas permasalahan yang terjadi di sekelililng kita (invetigasi realitas) yang nantinya akan bersama-sama dibahas. Modal yang paling penting sebenarnya adalah keberanian untuk menyampaikan pendapat dan berbicara didepan forum diskusi atau sesi tanya jawab karena kawankawan akan mencoba mengaktifkan pemikiran, melawan mental, dan nantinya akan meningkatkan rasa kepercayaan diri untuk terus menerus berani mengajukan pendapat yang tentunya berlandaskan pada referensi yang benar. Saya pribadi lebih suka dan antusias ketika metode diskusi dalam kelas tanpa menolak metode yang lain karena saya paham cara kita menerima pembelajaran berbedabeda. Ada yang tipenya audio, visual, audiovisual, dan kinestetik. Namun dengan adanya metode diskusi, kita (Mahasiswa dan Dosen) akan mengkaji suatu masalah yang

berupa pernyataan dan pertanyaan yang bersifat problematis yang perlu dianalisis dengan pikiran kritis untuk mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.(*) SALAM LITERASI!!! dan HIDUP MAHASISWA!!!

*Jabal Nurdiansyah, Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan Teknologi Pendidikan, angkatan 2017

www.profesi-unm.com


11 LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari

INFO AKADEMIK

Tahun MMXX 2020

KKN Kini Gratis

Surat Keputusan (SK) Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbayar yang oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK) Universitas Negeri Makassar (UNM) beberapa waktu lalu dituntut untuk dihapuskan, kini dikabulkan pimpinan. Setelah sempat melakukan dialog bersama antara LK UNM dengan pihak birokrasi, kebijakan baru KKN yang tidak lagi dibebankan mahasiswa kini resmi diberlakukan. Oleh sebab itu mahasiswa yang akan melakukan KKN tak perlu lagi mengeluarkan biaya sepeserpun. Hal tersebut, dibenarkan oleh Ketua Pusat KKN, Amiruddin, ketika dis-

ambangi di ruangannya lantai 3 menara Pinisi, Kamis (23/1) ia mengatakan prosedur KKN yang sekarang sudah digratiskan dan menjadi tanggung jawab kampus.

“Semua kampus yang biaya nak, juga sudah tidak ada pembayaran ke BNI, sisa ikuti prosedur," ujarnya. Hanya saja ia menegaskan untuk jaket atau jas almamater yang dahulu menjadi salah satu komponen pembiayaan KKN tidak lagi disediakan oleh UNM. Mahasiswa sekarang diperkenankan untuk menyiapkan sendiri jaket tersebut yang sesuai dengan persyaratan KKN yang ada. "Karena sekarang tidak ada lagi yang dibayar, cuman

peserta KKN hari ini menyiapkan sendiri jaketnya, dan saya dengar dari hasil Rektor dengan Ketua Lembaga boleh jas almamater yang kemarin, yang penting harapan kita seragam warnanya," pungkasnya. Selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Amiruddin. Wakil Rektor Bidang Akademik (WR I) UNM, Muharram juga menyebutkan bahwa kebijakan tersebut sudah mulai diberlakukan. "Semua KKN itu gratis mi, tdk ada mi yang dibayar," tegasnya.(pr4 )

UKT Mahal, Mahasiswa Bisa Banding Menindaklanjuti hasil dialog yang dilakukan oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK) Universitas Negeri Makassar (UNM) bersama para pimpinan fakultas dan pimpinan universitas beberapa waktu lalu. Pihak pimpinan UNM mengeluarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) penurunan Uang Kuliah Tunggal. SOP ini bertujuan menjadi aturan main bagi mahasiswa yang ingin menurunkan UKTnya, dengan adanya SOP ini mahasiswa yang merasa UKTnya tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi bisa melakukan peninjauan kembali mengenai UKT yang didapatnya sehingga UKT mahasiswa bisa diturunkan atau disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa

tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik (WR 1) UNM, Muharram. Ia mengatakan semua mahasiswa bisa diturunkan UKTnya kalau tidak sesuai dengan keadaan keluarga mahasiswa seperti orang tua meninggal atau pensiun. Bagi mahasiswa yang ingin menurunkan UKTnya bisa mengajukan surat permohonan ke Wakil Dekan (WD 2) di fakultas masing-masing . “Kalau sudah mengajukan surat permohonan ke WD 2 nanti WD 2 dan tim verifikasi akan melakukan investigasi apakah layak untuk ditinjau UKTnya atau tidak. Jika benar-benar layak berkasnya baru diajukan ke Wakil Rektor (WR) untuk selanjutnya dibuatkan SK di rektor, kemu-

dian ditetapkan," katanya saat ditemui di ruanganya, Pinisi lantai 6 UNM. Lanjut, Guru Besar Kimia Organik ini menjelaskan alur penurunan UKT bisa dilakukan bila orang tua atau wali mahasiswa membuat dan mengajukan permohonan peninjauan ulang dengan melampirkan beberapa dokumen pendukung. Kemudian, tim verifikasi UKT fakultas terkait, menerima berkas permohonan dan melakukan verifikasi berkas dengan wawancara dan atau verifikasi faktual di lapangan, lalu hasil verifikasi tersebut disampaikan ke dekan ataupun wakil dekan. Untuk selanjutnya, menetapkan UKT dan menyampaikan surat rekomendasi peninjauan ulang ke rektor.

“Jika dinyatakan layak oleh rektor maka ia akan menyetujuinya dan akan diterbitkan SK rektor dan SK tersebut berisi UKT terbaru dari mahasiswa yang melakukan permohonan peninjauan dan bisa diproses serta mahasiswa akan membayar sesuai UKT terbarunya,” jelasnya. Muharram menambahkan, bilamana hasil verifikasi ditemukan ketidaksesuaian data dan fakta di lapangan, tim verifikasi dapat melakukan penetapan ulang UKT lebih tinggi dari kategori tarif UKT semula. Berkas yang dikumpulkan harus mengikuti persyaratan pengajuan seperti SK pensiun, surat keterangan dari rumah sakit, atau SK lainnya yang menunjang peninjauan. (zil)

Prodi Sosiologi dan Antropologi Kedaluwarsa Beberapa akreditasi program menunggu dari pihak BAN studi (prodi) Universitas Negeri PT datang ke kampus untuk Makassar (UNM) diketahui telah memverifikasi terkait berkas yang di susun oleh timkedaluwarsa. Program studi yang akreditasinya kedaluwarsa nya. "Tim kami telah meseperti pendidikan antropologi nyusun borang untuk dan sosiologi. Berdasarkan data memenuhi perdari Badan Akreditasi Nasional syaratan kriteria re-akrePerguruan Tinggi (BAN PT), ditasi, dan masa akreditasil prodi Sosiologi m e n u n g g u telah habis pada 24 Januari pihak BAN 2020 sementara Antropologi PT untuk pada 4 Juli 2019. menindaklan-

Saat dikonfirmasi, Ketua Prodi Sosiologi, Amir mengatakan pihaknya telah melakukan re-akreditasi sehari sebelum kedaluwarsa. Menurutnya pihaknya telah membentuk tim untuk menyusun berkas borang re-akreditasi sesuai dengan sembilan kriteria untuk pengajuan perpanjangan akreditasi. "Borang pada saat ini telah bertambah menjadi sembilan kriteria yang harus dipenuhi" ungkapnya. Ia juga mengatakan masih www.profesi-unm.com

jutinya," tambahnya. Sementara itu untuk prodi antropologi sampai saat ini belum mengirimkan berkas borangnya. Hal ini diakui oleh Ketua Prodi Antropologi, Abdul Rahman, ia mengatakan belum mengirimkan berkas borangnya sampai sekarang semenjak enam bulan lalu akreditasi prodinya kedaluwarsa. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sedang menyiapkan

berkas untuk penyusunan borang sesuai dari sembilan kriteria yang di keluarkan oleh pusat. Rencananya pengumpulan berkas bo-

rang tersebut ramp u n g februari ini. "Kami sementara akan menyusun borang secepatnya. Tim kami berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan paling lambat bulan februari, itu pun kami harus menunggu dari pihak BAN PT datang ke kampus untuk meng verifikasi berkas yang

kami susun,” jelasnya. Padahal pada pasal 47 ayat 2 Kemenristek Dikti Nomor 32 Tahun 2016 tentang akreditasi program studi dan perguruan tinggi, juga jelas disebutkan bahwa pimpinan perguruan tinggi harus mengajukan akreditasi ulang paling lambat enam bulan sebelum masa berlaku akreditasi berakhir. Sehingga bila tidak segera melakukan re-akreditasi maka mahasiswa dari prodi yang dimaksud tidak bisa lulus dari universitas. Hal ini dibenarkan oleh Abdul Rahman ia mengungkapkan harus menahan mahasiswanya yang berada di akhir semester sampai akreditasi di verifikasi kembali oleh pusat. "Kami juga dapat penyampaian dari pihak kampus untuk menunda mahasiswa yang akan wisuda sampai akreditasi terverifikasi," tambahnya.(pr26)

Seminar Pendidikan LDF SCRN FIP UNM

Lembaga Dakwah Fakultas Studi Club Raudhatun Ni'mah (LDF SCRN) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) akan mengadakan Seminar Pendidikan Nasional pada tanggal 1 Maret 2020 mendatang di Ballroom Menara Pinisi Lt. 2 di Jalan AP Pettarani, Makassar. Mahmud, Ketua Panitia mengatakan bahwa tujuan diadakan seminar ini sebagai bentuk syiar dakwah untuk memberikan pendidikan yang nyata bagi mahasiswa dan masyarakat.(pr9)

HMPS Gelar Businnes Cup Futsal Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Administrasi Bisnis (AB) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Makassar (UNM) akan menggelar Business Cup Futsal Competition 2020. Dengan mengusung tema "Sportive For The Glory". Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 27-29 Februari 2020 di Super Futsal Jl. Rutan No. 1 Pengambilan dan Pengembalian formulir dimulai dari tanggal 23 Januari hingga 23 Februari 2020. Untuk lokasi pengambilan dan pengembalian di Sekretariat HMPS AB FIS UNM Kampus Gunung Sari Gedung Flamboyan lantai 1. Adapun biaya pendaftaran yang perlu disiapkan yakni, Rp.450.000 + uang jaminan 50.000. Untuk info lebih lanjut hubungi: 0895802728321 a.n Reza dan 085340655053 a.n Eki. Total hadiah jutaan rupiah.(pr10)

HMJ Kimia FMIPA Bakal Gelar Exotherm Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) akan helat Exotherm 2020. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada 29 Februari 2020 hingga 15 Maret 2020. Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk mengeksplor minat dan bakat civitas kimia dengan menjunjung tinggi jiwa kompetitif dan sportifitas menuju persaudaraan yang elegan. Adapun cabang lomba yang akan dilaksanakan yaitu volly, tari kreasi, tadarrus, chemistry chef, ceramah, rangking 1, balap karung, futsal, bakiak, tarik tambang, takraw, tenis meja, cipta baca puisi, dan kaki tiga.(pr11)

BEM FMIPA Gelar Seminar Nasional Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) akan gelar Seminar Nasional. Acara ini akan berlangsung di Teater Lt.3 Menara Pinisi UNM, Kamis (27/2) mendatang. Sebelum Seminar Nasional berlangsung, terlebih dahulu BEM FMIPA UNM juga mengadakan lomba dan pameran media pembelajaran. Adapun tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui media pembelajaran. Sementara itu, tema yang diusung dalam Seminar Nasional yaitu 'Perubahan Pendidikan untuk Generasi Tangguh Era 5.0' diharapkan mampu membawa perubahan bagi pendidikan di Indonesia. (ira) Urai data, ungkap fakta, saji berita


12

LENSA ORANGE

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Siap Tarung

Ajang Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Negeri Makasar (UNM) kini bergulir, beberapa waktu yang lalu empat sosok figur kampus orange mendaftarkan diri maju sebagai bakal calon rektor. Di lantai 14 Menara Pinisi UNM, sekretariat panitia Pilrek, mereka menyerahkan berkas pendaftaran rektor. Diawali dari orang yang masih menjabat sebagai Rektor UNM, Husain Syam menjadi yang pertama memberanikan diri maju dalam Pilrek 2020.

Panitia Pilrek UNM 2020 *Foto & Teks: Muhammad Ilham Akbar. B

Husain Syam, Rektor UNM yang kembali maju dalam Pilrek Ramli Umar usai berdoa selepas menyerahkan berkas pendaftaran

Tuti Supatminingsih melengkapi berkas Pilrek Sukardi Weda tengah menyampaikan gambaran besar masa depan UNM

Urai data, ungkap fakta, saji berita

www.profesi-unm.com


13

LIFESTYLE

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Viral Setelah Redup

Setelah sempat redup di kalangan milenial, aplikasi video musik pendek bernama Tiktok kembali diminati. Tik-tok merupakan aplikasi lypsinc asal Tiongkok yang memiliki efek unik dan beragam fitur musik, sehingga membuat kebanyakan orang yang mengaksesnya bisa menuangkan ekspresi serta kreatifitas dalam platform ini. Video kreasi itu kemudian diunggah dalam platform tersebut dan bisa ditonton banyak orang. Diluncurkan secara pertama kali di tahun 2017 oleh perusahaan ByteDance asal Cina, popularitas platform yang satu ini kian naik terus-menerus. Tik-tok pun sempat menjajal pasar industri digital Indonesia dan menduduki aplikasi terfavorit di Play Store, dengan notabene penggunanya yang merupakan kalangan remaja milenial. Namun k a r e n a laporan penyalahgunaan, platform ini sempat diblokir pemerintah Indonesia. Pasalnya, dari berbagai laporan yang ada, Tik-tok dinilai mengandung banyak konten negatif, pun platform ini menuai kritikan karena tidak memiliki mekanisme standar konten. Alhasil di tahun 2018, Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) melarang pengunaan aplikasi ini dengan alasan tersebut. Sempat diblokir selama sepekan, aplikasi ini kembali dapat diakses dengan syarat Tik-tok

harus menjaga platform besutannya agar terbebas dari konten negatif, berbau pornografi,

an kembali mendapatkan jiwanya, awal tahun 2020 Tik-tok kembali dilirik banyak orang. J i k a sebelumnya

Model: - Nurul - Adesya Pratami

SARA, dan lainnya. Seak-

Foto: Muhammad Ilham Akbar. B

platform ini banyak dig a n drungi k a -

langan remaja, candu yang disebabkan Tik-tok kini menyasar barisan artis papan atas Indonesia. Bagaimana tidak, p u b l i k figur sekelas Gisella Anastasia, Sule dan Marion Jola pun tak jarang ikut nimbrung di beranda platform yang satu ini. Boomingnya kembali aplikasi ini juga menjamah lingkungan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Tidak sedikit mahasiswa UNM yang mulai mengikuti tren aplikasi ini disela-sela

aktifitas perkuliahan yang padat. Nurul misalnya, mahasiswi jurusan Administrasi Pendidikan (AP) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNM ini awalnya tertarik melihat teman-temannya memparodikan beberapa video Tik-tok. Karena rasa penasaran ia mengunduh aplikasi ini dan mencoba mengikuti tren Tiktok yang kemudian membuatnya candu. “Pertama c u m a n coba-coba k a r e n a banyak teman yang buat gitu’ trus pas dicoba, eh ternyata seru,” ujarnya. Seperti halnya Nurul, mahasiswi jurusan Seni Tari Fakultas Seni dan Desain (FSD) UNM bernama Dea juga merasa ada keseruan tersendiri pada aplikasi itu hingga ia kerap menggunakan Tik-tok. Namun, sedikit berbeda dengan Nurul yang baru mengenal tren ini saat kuliah, Dea mengaku bila dirinya sudah sedari dulu menjajaki Tik-tok. “Saya main Tik-tok itu dari kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA), sebenarnya awalnya cuman jadi pengisi waktu kekosongan dan sebagai hiburan”. Mahasiswi berparas manis bernama Dea Ananda Pratiwi ini sangat kecewa saat aplikasi yang digemarinya sempat diblokir. Padahal menurutnya selain membuat video lypsinc sendiri, platform ini mampu menghibur dirinya karena dengan Tiktok lah ia bisa menonton jutaan kreasi video unik. (ben)

KATA MEREKA "Jujur sih pakai tiktok masih baru, awalnya cuman penasaran gimana rasanya waktu liatin teman-teman saya main tiktok. Nyatanya seru juga, hitung-hitung pengisi kekosongan," Adesya Pratami Administrasi Pendidikan

"Tiktok itu yah seru sih, kadang kalo lagi senggang pasti bawaanya lari ke tiktok lagi,"

"Aplikasi yang sangat digemari untuk semua kalangan. Beda dengan lainnya yang hanya memamerkan gaya hidup dan gosip. Tiktok tidak seperti itu karena lebih memamerkan kreatifitas dan membuat semua kalangan terhibur. Saya pun salah satunya," Mulhimah Cahyani Candra Pendidikan Matematika

Mildawati Pendidikan Luar Sekolah www.profesi-unm.com

Urai data, ungkap fakta, saji berita


14

SENI BUDAYA

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

Imperfect, Mencintai Ketidaksempurnaan *Ema Humaera

FILM, ‘Imperfect’ merupakan sebuah karya yang disutradarai oleh seorang comedian terkenal Indonesia Ernest Prakasa. Film ini berdurasi 113 menit, dan menceritakan tentang perempuan yang memiliki rasa insecure terhadap kondisi fisiknya. Film ini menggambarkan keadaan perempuan di era milenial dimana penampilan menjadi tolak ukur berbagai hal. Rara (diperankan oleh Jessica Mila) adalah seorang wanita yang bekerja di sebuah perusahaan kosmetik yang memiliki berat badan berlebih dan berkulit sawo matang. Di lingkungan pekerjaannya tersebut ia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari rekan kerjanya dan membuat Rara merasa tidak percaya diri. Selain bekerja di Perusahaan kosmetik Rara juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu mengajar anak-anak pemulung yang tidak dapat Sekolah. Berbeda dengan adiknya, Lulu (diperankan oleh Yasmin Napper) merupakan seorang model dengan postur tubuh langsing, berkulit putih, Lulu mengikuti jejak ibunya Debby (diperankan oleh Karina Suwandi) yang merupakan mantan model. Rara selalu mendapatkan nasihat dari ibunya untuk membatasi porsi makannya, agar dapat memiliki bentuk badan seperti adiknya. Rara memiliki seorang kekasih yang bernama Dika (diperankan oleh Reza Rahadian) yang mencintainya dengan sangat tulus tanpa memandang fisik dan menerima apa adanya. “Nyari yang cantik itu gampang, nyari yang cocok yang susah. Kamu udah cantik, cocok lagi,” kata Dika pada Rara, bahwa mencari perempuan cantik itu mudah, yang sulit itu mencari yang cocok. Hal itu sekaligus menjelaskan

bahwa dalam hal perasaan, cocok itu lebih penting dari sekedar penampilan. Disamping itu, Rara juga memiliki seorang sahabat yang bernama Fey (diperankan oleh Shareefa Danish) yang juga tidak terlalu peduli terhadap penampilannya. Sehingga mereka berdua selalu diperlakukan tidak baik oleh rekan kerjanya. Sampai pada saat itu, atasan Rara yang harus keluar dari Perusahaan kosmetik tersebut, dan Kevin (diperankan oleh Dion Wiyoko) selaku pemimpin perusahaan menunjuk Rara untuk menggantikan posisi yang kosong, dan itu adalah hal yang diimpikan Rara. Kevin mengatakan pada Rara bahwa untuk menggantikan posisi tersebut, ia harus mengubah total penampilannya karena mengandalkan otak saja tidak cukup menurutnya. Hingga pada saat itu Rara memohon untuk diberikan waktu satu bulan untuk mengubah penampilannya. Segala macam cara dilakukan mulai dari diet ketat, rutin berolahraga, dan menjaga pola makannya. Keluarganya pun sangat mendukungnya. Namun Dika, kurang setuju dengan keputusan yang Rara ambil. Kekasih Rara takut jika penampilannya berubah, maka akan merubah pula kepribadiannya. Namun Rara menghiraukan hal tersebut, ia tetap saja nekat untuk mengubah penampilannya. Usaha tak pernah mengkhianati hasil, akhirnya usaha untuk menurunkan berat badannya selama satu bulan penuh tidaklah sia-sia, penampilan Rara berubah drastis yang dulunya memiliki berat badan

Ikhlas

Nurfitrah Sastrianita

Disudut rumah dengan penerangan remang-remang Engkau duduk menelungkup kedua lututmu Termenung, hingga tetes air mata lolos Tak terisak namun menyesakkan Kabar Duka menghujani Anak, ibu dan saudaramu Pergi untuk selamanya Engkau tetap kuat Baja sudah ada dalam dirimu Badai pun tak sanggup menembusnya Kalbumu retak engkau tersenyum Bagaimana kabarmu bapak??

Urai data, ungkap fakta, saji berita

berlebih sekarang tampak sangat cantik dengan postur tubuh yang ideal. Rekan kerjanya pun sudah mulai menerima Rara karena perubahan penampilannya, ia juga telah berhasil menduduki jabatan yang diimpikan. Yang dikhwatirkan kekasihnya pun terjadi perilaku Rara mulai berubah seiring perubahan bentuk tubuhnya. Rara yang dulu bukanlah yang sekarang, yang dulunya acuh terhadap penampilan sekarang sudah sibuk dengan penampilannya tersebut. Fey pun mu-

lai diacuhkan dan memilih bergabung dengan rekan kerjannya yang dulu selalu mencacinya. Hubungannya dengan Dika pun mulai renggang karena Rara terlalu sibuk dengan penampilan, jabatan baru dan rekan-rekan barunya. Rara yang ia kenal selama ini mulai kehilangan jati diri, Dika pun sempat merasa kecewa dengan perubahan tersebut. Dalam Sebuah rapat, Kevin menyalahkan Rara karena kinerjannya belum membuahkan

Lirihku

hasil, malah semakin memburuk. Rara sangat terpukul dengan kejadian tersebut, yang dia harapkan dengan penampilannya yang berubah maka akan merubah pula hidupnya, tetapi sebaliknya sahabatnya menjauh, hubungannya renggang dia juga mulai jauh dengan anak didiknya. Di saat yang sama pula Rara dan Lulu berselisih karena kesalah pahaman, saat itu Lulu sedang melakukan pemotretan bersama Dika, tiba-tiba Rara datang dan mendapati Dika sedang menata rambut Lulu dan tampak terlihat mesra di mata Rara. Ia pun mulai kecewa atas kejadian tersebut dan marah terhadap adiknya. Rara mengira tidak diperlakukan adil, berbagai permasalahan terjadi Lulu mengalami stres ditambah lagi sikap kekasinya yaitu Jorge (diperankan oleh Boy William) yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan selalu menuntut Lulu agar selalu berpenampilan sempurna ketika bersamanya demi konten sosial medianya. Setelah kejadian tersebut ibunya mendatangi Rara dan Lulu dan mencoba untuk menenangkannya, dan menceritakan semua kejadian yang terjadi dimasa lalu kepada Rara dan Lulu Ibunya memperlihatkan bentuk perutnya yang terdapat bekas jahitan operasi Caesar. Ibunya rela mengorbankan karirnya sebagai model agar dapat melahirkan Rara dengan selamat karena waktu itu bobotnya terlalu berat. Setelah melahirkan, karir Ibunya terhenti sebab ia tak bisa lagi menjadi seorang model karena penampilannya yang

Minhad Rahmaniyah

Terjebak lorong waktu Cahayanya tak ada saingan selain rembulan Ingin sekali menghentikan detik menit berlalu Dan berbisik mengatakan “Aku menyesal mengenalmu kala itu” Tenggelam lautan kata Kapalku terdampar di dermaga rasa Ingin sekali menghanyutkan puing-puing harapan Dan batinku mengatakan “Aku akan bertahan tidak untuk raga itu” Terhempas kabut rindu Langit berpesan singkat akan tiba abu-abu Ingin sekali mencegah kumohon jangan dulu Dan merintih mengatakan Aku belum siap mengenang kisah itu Terbangun lalu terdiam Melamun dalam ingatan Kekecewaan akan datang setelah itu keikhlasan Aku akan mengatakan seperti ini untuk terakhir kali Terima kasih

sudah tak menarik lagi. Dengan kejadian itu ibunya menuntut anak-anaknya agar selalu menjaga penampilan. Setalah mendengar cerita tersebut Rara dan Lulu merasa sedih karena telah berprasangka buruk terhadap ibunya, mereka semua pun berpelukan dan berdamai dengan diri mereka masing-masing. Rara pun memutuskan untuk merombak semuanya dan memutuskan untuk menjadi sedia kala dan meperbaiki semua kesalahan yang telah ia perbuat, mencoba mempererat kembali hubungannya dengan Dika yang dulu renggang, Rara yang dulu telah kembali Dika sangat bahagia dengan kehadiran Rara yang telah kembali menemukan jati dirinya. “Mencintai ketidaksempurnaan itu enggak apa-apa.” Kalimat tersebut terlontar dimulut Rara setelah melewati masa sulit. Sampai pada saat itu Rara dipercaya untuk menunjukkan kemampuannya dan berpidato didepan umum, dengan bantuan keluarga, para sahabat, dan kekasihnya tersebut akhirnya Rara berhasil menunjukkan kemampuannya dan berhasil membuat Kevin selaku pimpinan Perusahaan salut dan bangga atas prestasi yang Rara raih. Setelah kejadian tersebut Rara pun akhirnya mampu menerima ketidaksempurnaan yang sebelumnya menjadi beban masalah dalam hidupnya. Setelah semuanya kembali Rara mengatakan kepada Dika bahwa ternyata bahagia bisa kita dapat tanpa harus jadi sempurna, “Kita enggak perlu sempurna untuk dapat bahagia.” Kutipan kalimat tersebut seolah menunjukkan bahwa dalam mencari kebahagiaan bukan soal mengejar kesempurnaan. Kebahagiaan bisa jadi didapat dari orang-orang yang tulus menyayangi kita.(*)

Curahan Hati Anak Rantau Nabila Arsyad

Harusnya rindu dibayar tunai Tapi Apa daya puan Si anak rantau Pulang habis tak pulang apes Lambung butuh makan Raga butuh pelukan Semua sama berharga Lantas apa yang harus puan dahulukan ? Puan bukan dari golongan Borjuasi Apa yang di kehendaki semua terpenuhi Puan hanyalah anak kampung merantau jauh untuk hidup yang gemilang Bukan menolak pulang Tapi meminimalisir pengeluaran diakhiri bulan Agar sepasang yang dirumah tidak lagi pusing Cara mengirim penghidupan untuk anak kesayangan

www.profesi-unm.com


15 LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari

PROFESIANA

Tahun MMXX 2020

Orang baru semangat baru, mungkin umpatan ini cocok diberikan kepada Fakultas Ekonomi (FE) yang kini terlihat mulai membenah diri. Hal pertama yang dilakukan oleh pimpinan FE yaitu menghilangkan genangan air yang terdapat di basement gedung BU yang sering dijadikan 'kolam renang' untuk anak-anak yang tinggal disekitaran Gunung Sari, Senin (24/2). Intensitas curah hujan yang tinggi, serta adanya genangan air sejak berdirinya gedung ini menjadi penyebab tergenangnya air di bawah gedung tersebut. Bahkan penampakan yang lazim bagi mahasiswa ekonomi itu tak jarang, sering dijadikan status candaan bagi sebagian mahasiswa. Hal tersebut pun pernah dilakukan oleh Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Melalui statusnya di WhatsApp, Risal terlihat membagikan foto banjir di basement Gedung BU. Bahkan, ia juga menulis status singgungan bernada kekecewaan “Kampus dengan fasilitas kolam renang, sempat minatki berenang di FE? Gratis,” katanya. Mahasiswa jurusan ekonomi pembangunan ini merasa kecewa dengan sikap birokrasi. Menurutnya, birokrasi memang tak pernah serius dalam menanggapi beberapa permasalahan yang ada di Fakultas Ekonomi. Padahal katanya, permasalahan gedung BU ini sudah berulang kali ia tuntut

dalam bentuk aksi maupun dialog. Pada tiap aksi maupun dialog tersebut birokrasi selalu menjanjikan akan adanya perbaikan, namun hingga kini tak pernah ada realisasi dari perjanjian tersebut.“Masalah ini sudah pernah diaksikan dan didialogkan, birokrasi mengatakan basement itu secepatnya akan disedot airnya untuk difungsikan kembali tapi sekarang berganti tahun mi belum juga direalisasikan,” bebernya beberapa bulan sebelum dilakukan perbaikan. Tuntutan mahasiswa untuk diperbaikinya sistem irigasi di gedung BU pun menjadi kenyataan, saat dialog bersama pimpinan FE yang baru beberapa waktu yang lalu pihak pimpinan berjanji akan melakukan perbaikan agar air di bawah gedung tersebut bisa surut dan tidak lagi menggenang. Pimpinan FE nampaknya serius untuk menghilangkan permasalahan ini. Hal ini terlihat saat mulai melakukan penyedotan sejak Senin (24/2) hingga kini, dan

Foto: ist

Kolam Renang FE Akhirnya Surut

kERJA: Beberapa orang terlihat sedang bekerja untuk memompa air di bawah gedung

sudah mulai memiliki hasil karena telah berjalan dua hari proses pemompaan tersebut sehingga genangan nampak mulai surut perlahaan-lahan. Hal yang menurut mantan Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum (WD II) FE, Anwar Ramli bukan perkara mudah membereskan masalah tersebut. Menurutnya lahan yang tidak mendukung, adanya mata air di dalam basement hingga pompa air diutarakan Anwar Ramli sebagai penyebab ter-

Lahan Jadi Rebutan SEJAK berdirinya Universitas Negeri Makassar (UNM) pada tahun 1961, hingga sekarang, banyak lahan milik UNM yang tersebar di Kota Makassar maupun di luar kota Makassar dan sudah memiliki surat resmi. Namun, ada saja pihak yang mengklaim memiliki hak kepemilikan atas lahan tersebut. Salah satunya yaitu lahan yang letaknya di Jl. Raya Pendidikan, tepat bersebelahan dengan Menara Pinisi. Lahan ini sudah jadi sengketa sejak 16 tahun yang lalu. Pada saat itu Kombes A. Hamrad Pakki yang menggugat lahan ini di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) pada tahun 2004 melalui putusan perkara no. 44/G/ TUN/2004, 3 Maret 2005 UNM dinyatakan kalah atas kepemilikan lahan tersebut. Tak mau kehilangan lahannya begitu saja UNM melakukan permohonan banding namun lagi-lagi jalan buntu yang didapat UNM. Melalui putusannya no. 58/ Bdg. TUN/2005/PTUN Makassar yang menguatkan putusan sebelumnya UNM dinyatakan kalah untuk yang kedua kalinya. Tak hilang akal, pihak UNM mencoba mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia (RI) dan akhirnya perjuangan UNM untuk mendapat kembali lahannya. MA melalui putusannya no. 160K/TUN/2006 membatalkan putusan PTUN no. 44/G/TUN/2004 dan no. 58/Bdg. TUN/2005/PTUN lalu membenarkan alasan kasasi UNM sehingga UNM dianggap menang. www.profesi-unm.com

Namun konflik lahan tersebut tak selesai sampai disitu, beberapa pihak berungkali mencoba menggugat UNM namun UNM berkalikali pula memenangkan gugatan tersebut. Salah satunya gugatan yang datang pada hari Rabu (15/1) dalam bentuk somasi yang diberikan oleh Pakki Haji. UNM melalui Kepala Bagian Umum dan Barang Milik Negara Biro Umum dan Keuangan, Sutrisno Agussalim mengungkapkan tidak takut dengan somasi yang diberikan. Menurutnya UNM memiliki bukti kuat yang bisa menjadi amunisi untuk melawan pengakuan sepihak yang datang dari pihak penggugat tersebut. “Somasi ini tidak akan lanjut karna mereka tidak punya dasar yang kuat jika hanya mengandalkan bukti pembayaran pajak pertama. Dulu ada UU Jepang bahwa semua tuan tanah tidak boleh memiliki tanah diatas dua hektar, sehingga tanah lainnya penggaraplah yang membayar pajak, dialah Pakki Haji sedangkan pemiliknya adalah Mannauma. Kami sudah menang melawan Mannauma jadi tak perlu repot lagi,” ungkap Sutrisno. Ia juga mengatakan UNM telah memanfaatkan lahan yang kosong tersebut menjadi kebun bibit tanaman yang saat ini dinaungi oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kewirausahaan UNM. Hal itu bertujuan agar tidak ada pihak yang berani untuk mengklaim lahan karena telah dikuasai juga secara fisik melalui pemanfaatan lahan oleh UNM. “Ide untuk mem-

buat taman bunga adalah yang terbaik jadi mahasiswa biologi juga dapat pergunakan untuk pratek,” ujar pria kelahiran Ujung Pandang ini. Karta Jayadi, Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum saat diminta konfimasi menganai somasi yang diterima oleh UNM. Menurutnya UNM enggan membalas somasi tersebut dikarenakan kasus itu belum masuk diranah hukum sehingga baginya tidak perlu digubris hal seperti itu. “Kami tidak mau jawab karena ini bukan kasus hukum. Mereka sudah mengeluarkan somasi kedua karena somasi pertama tidak kami gubris. Keputusan yang kami ambil berdasarkan komunikasi dengan tim hukum UNM. Silahkan jika ingin dimasukkan sebagai kasus hukum, kami pasti akan mengikut,” jelas Eks Dekan FSD UNM ini. Tak ada yang bisa memastikan beberapa tahun kedepan UNM masih kuat menjalani proses hukum atas lahan yang diklaim bebas oleh beberapa pihak. UNM tentu perlu menyiapkan berkas yang sah atas kepemilikan setiap aset yang dimiliki dan uang yang banyak untuk membebaskan tanahnya di kemudian hari. Tak ada yang menginginkan barang berharga yang telah dimiliki dan terbukti kepemilikannya direbut oleh orang lain. Tanah tersebut bisa bermanfaat untuk UNM apabila dikelola dengan baik. (ema)

genangnya basement. Untuk menanggulangi masalah tersebut, Anwar Ramli ini mengaku telah mendiskusikan solusinya dengan Dinas Pekerjaan Umum. “Ini masalah teknis, orang PU sudah tahu, saya dengar-dengar ini mata airnya mau disambung ke sumur bor, mungkin dia mau bikin pipa yang mengalirkan air langsung keluar,” akunya (29/1). Namun semua rencana itu akhirnya direalisasikan oleh pimpinan baru yang dalam pelantikannya

berjanji akan merubah FE menjadi fakultas ideal. Mereka rencananya akan menjadikan basement tersebut menjadi lahan parkir karena lahan parkir FE menyempit seiring pembangunan rusunawa di belakang fakultas. Namun selain itu sampai saat ini masih banyak permasalahan yang terjadi di FE sehingga gebrakan baru masih ditunggu oleh mahasiswa bukan hanya menyedot air namun hal yang dapat menguntungkan semua pihak khususnya mahasiswa. (ade)

Bisnis Jaket KKN

SELEPAS Lembaga Kemahasiswaan (LK) Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan dialog bersama pimpinan birokrat kampus terkait aksi tuntutan yang digelar beberapa waktu yang lalu. Kini salah satu poin yakni penghapusan Surat Keputusan (SK) Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbayar akhirnya dikabulkan oleh pimpinan universitas. Namun usai diterapkan, jaket KKN yang merupakan salah satu komponen pada kebijakan terdahulu kini tak lagi menjadi tanggungan kampus. Pasalnya, mahasiswa kini diperkenankan agar menyiapkan sendiri jaket tersebut asalkan sesuai dengan persyaratan KKN yang ada. Hal tersebut kemudian dijadikan peluang bisnis oleh segelintir orang untuk mengumpulkan pundipundi rejeki. Sunita misalnya, mahasiswa Program Studi (Prodi) Tata Busana Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Fakultas Teknik (FT) UNM memanfaatkan kesempatan itu dengan membuka usaha

pembuatan jaket KKN sendiri. “Harganya beragam mulai dari 160.000 hingga 190.000 ribu sesuai dengan ukuran yang dipesan.” ungkap Sunita (30/1). Mahasiswi yang tahun ini juga ikut serta dalam program KKN itu menuturkan dalam proses pembuatan satu pesanan jaket bisa memakan waktu hingga dua jam. Ia juga mengaku untuk sementara ini dirinya masih menjalankan usahanya itu seorang diri. “Bekerja sendiri, kalo menjahit tanpa istirahat, satu jaket bisa jadi dalam kurun waktu dua jam,” tuturnya. Menurutnya hingga sekarang mahasiswa yang memesan jaket KKN padanya bukan hanya datang dari fakultasnya sendiri. Puluhan mahasiswa dari fakultas lain pun kini sudah ramai memesan padanya. "Pelanggannya kebanyakan dari jurusan luar, ada Teknik Sipil, PTIK, Psikologi, PGSD, dan Bahasa," bebernya(*). (pr23)

UNM Jadi Pasar Dadakan UNIVERSITAS Negeri Makassar (UNM) kembali menggelar Prosesi Wisuda Februari. Kegiatan ini berlangsung di Pelataran Menara Pinisi UNM, Selasa (25/2) Euforia prosesi wisuda di manfaatkan oleh para pedagang kaki lima di sekitaran kampus untuk menjajakan dagangannya dan membuat UNM menjadi pasar dadakan. Menurut salah seorang penjual minuman, Syahrul Mulaedi menngatakan pahwa pasar dadakan

adalah lahan pencarian tambahannya di samping ia sebagai mahasiswa. "Kalau ada acara wisuda seperti ini kadang saya dapat untung sampai 2 juta satu hari." Ucapnya Disisi lain hal ini menjadi masalah karena membuat aktifitas mahasiswa dan civitas UNM terganggu. Hal ini dapat dilihat saat tempat parkir dijadikan tempat jualan oleh para penjual. (uma)

Urai data, ungkap fakta, saji berita


16

PERSONA

LPM Profesi UNM - Edisi 238 Februari Tahun MMXX 2020

BIODATA Nama Lengkap: Ismail Mahmud TTL: Sinjai, 2 Juli 1998 Organisasi: 1. Sekretaris Himaplus FIP UNM 2. Ketua Umum KMS UNM 3. Ketua Imadiklus se-Indonesia Prestasi: 1. Duta Remaja DPR RI 2015 2. Pemuda Pelopor Pendidikan Kabupaten Sinjai 2018 Motto: Berjalan dengan lambat tapi tidak berjalan mundur

RDPU di Komisi X DPR RI

Foto: Muhammad Ilham Akbar. B

Lelaki asal Sinjai ini seakan menjadi sosok ideal yang diidam-idamkan setiap mahasiswa. Bagaimana tidak, selain karena tidak pernah mengesampingkan akademiknya pemuda bernama lengkap Ismail Mahmud ini tetap berkarier di kancah organisasi kemahasiswaan hingga tingkat nasional. Mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Makassar (UNM) itu tidak

mengeruskan akademiknya di kampus dengan pembuktiannya meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sampai sekarang tak pernah tercatat di bawah 3,9. Seperti tidak puas hanya di akademik saja, ia juga kerap aktif dalam beberapa organisasi internal dan eksternal kampus. Tak tanggung-tanggung, semangat berorganisasinya ini pun patut diacungi jempol. Bahkan kini dirinya sementara mengemban jabatan Ketua Umum

Ikatan Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (Imadiklus) se-Indonesia. Pun Lelaki yang kerap disapa Mail ini bercerita, kini dirinya tengah berjuang bersama akademisi dan praktisi Pendidikan Non Formal (PNF) Indonesia. Terbitan Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia (RI) No. 82 Tahun 2019 yang berimbas pada dihapusnya Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD Dikmas) seketika melukai hati para pegiat PNF di Indonesia. Hal itu sontak membuat dirinya langsung mengkaji kebijakan tersebut dengan berbekal pengala-

man organisasi dan akademiknya di kampus. Peraih Pemuda Pelopor Pendidikan Kabupaten Sinjai itu bahkan sampai membuat sebuah petisi online yang ditujukan kepada beberapa pihak terkait demi memperjuangkan nasib PNF di Indonesia, serta surat himbauan kepada mahasiswa PLS di perguruan tinggi se-Indonesia agar menggelar aksi serentak. Perjuangannya tidak berakhir percuma, terbukti dengan banyaknya pihak yang ikut hingga sampai lebih dari 8000 orang menandatangani petisi yang ia buat. Tak hanya sesama pegiat PNF, kalangan legislatif pun sampai mengapresiasi langkahnya itu dan membuatnya diundang oleh mereka. Yang beberapa waktu yang lalu dirinya menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Kehadirannya tersebut tidak lain merupakan buah kerja kerasnya memperjuangkan nasib PNF.

Ia menyalurkan segala apresiasi dan tuntutannya itu khususnya dari perspektif mahasiswa PLS se-Indonesia. Dalam rapat tersebut Ismail mengungkapkan bahwa pembahasan berakhir dengan DPR akan memanggil dan mendesak Menteri Pendidikan RI, Nadiem Makarim agar memasukkan PNFI ke nomenklatur Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan serta menjelaskan betapa pentingnya PNF di Indonesia. “Hasilnya begitu, tapi pak menteri minta kesempatan dan akan mengundang semua pejuang PNFI termasuk saya dari Imadiklus,” ujarnya. Ia yang pada suatu waktu pernah tidak mandi saat ke kampus ini mengatakan banyak rintangan yang dialaminya selama sekarang namun tak membuatnya hingga putus asa. Dia mengatakan cintalah yang memotivasi dirinya agar tetap bangkit dan berjuang. “Cinta dengan tanggung jawab. Bahwa apa yang dimulai harus diselesaikan,” pungkasnya. (fia)

Jasa Desain Hingga Bisnis Kuliner

Urai data, ungkap fakta, saji berita

sepenuh hati. Jasa pembuatan logo lalu menjadi bisnis pertama digelutinya, kemudian disusul usaha tekstil dan sablon. Hingga sampai sekarang dirinya pun mulai merambah usaha kuliner. Dua rintisan kulinernya kini, Hungry Monkey yang merupakan makanan cepat saji dalam bentuk ricebox dan milo susu atau susu perah dalam kemasan mulai dikenal banyak orang. Khususnya sivitas kampus Parangtambung UNM. Ide kuliner atau makanan cepat sajinya terinpirasi dari acara lomba masak yang ditayangkan di televisi. Sementara itu untuk bisnis susu perah dalam kemasan, ia geluti karena menurutnya konsumsi susu perah di Provinsi Sulawesi Selatan adalah yang paling rendah. Dengan adanya bisnis tersebut, ia lantas menaruh harapan besar agar masyarakat Indonesia khususnya Sulawesi Selatan semakin sadar bahwa mengkonsumsi susu perah itu penting. Di sisi lain Fahzam bercerita, Hungry Monkey adalah bisnis yang paling membuatnya berkesan. Karena dalam merintis usaha itu dirinya mengaku butuh waktu seta-

hun untuk mengumpulkan ide serta meriset dan mempersiapkan segala hal yang menjadi modal rintisannya ini. Hal itulah yang kemudian justru membuat rasa keinginannya untuk mengembangkan kuliner ini begitu tinggi, di samping usaha merintisnya pun juga besar. “Menurutku bangun usaha harus punya perencanaan yang matang. Apalagi kuliner, kita harus tahu yang cocok dengan lidahnya masyarakat,” ujar pria kelahiran Makassar ini. Tidak bisa dipungkiri setiap bisnis pasti memiliki kendala. Baik itu dari segi manajemen waktu, promosi dan lainnya. Apalagi statusnya yang masih mahasiswa aktif pastilah membuat ia bekerja ekstra menempatkan setiap waktunya. “Sebagaimanapun hambatannya itu semua proses. Jadi harus nikmati dan petik pelajarannya,” tangkas mahasiswa angkatan 2016 ini. Dalam meniti bisnisnya, Fahzam, ditemani oleh rekan sejawatnya. Setiap bisnis ditemani oleh rekan yang berbeda. Berbicara soal omset, ia dan rekannya sepakat untuk tidak membaginya ter-

lebih dahulu. Fokus mereka hanya pada pembelian outlet (untuk makanan dan minuman), sedangkan untuk bisnis tekstil mereka fokuskan pada pembelian alat sablon.

“Saya bersyukur punya teman sekaligus rekan kerja yang sepemikiran. Kita bangun usaha tapi belum dapat apa-apa, nah rekan kerja seperti itulah yang susah didapatkan. Saya bersyukur akan hal itu,” ujarnya. (ira)

Foto: Muhammad Ilham Akbar. B

Sempat berada di titik paling rendah ketika tidak percaya diri dan bingung kelak akan jadi apa setelah lulus?. Kekhawatiran ini lantas membuat benak para mahasiswa berkecamuk. Namun lelaki asal Makassar ini berusaha untuk tidak terlena akan semua itu. Justru berawal dari titik tersebutlah, ia berpikir lebih keras, mematahkan rasa gusarnya yang melekat pada stigma hidupnya. Fahzam Fadhil Mukarram, mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM) ini kemudian memutar otak menyiapkan bekal masa depannya nanti. Alhasil, membuka suatu bisnis terlintas pada benak lelaki yang satu ini. “Saya tidak tau nanti setelah lulus mau jadi apa. Mengawali tiga semester awal dengan nilai yang anjlok membuat saya makin pesimis akan cerahnya masa depan. Sampai pada semester lima, saya dapat mata kuliah kewirausahaan, disitulah saya mencoba berpikir untuk mulai berbisnis,” katanya. Setiap bisnis ia jalani dengan

BIODATA Nama Lengkap TTL Organisasi Prestasi Motto

: Fazham Fadhil Mukarram : Ujung Pandang, 17 Agustus 1998 : 1. The Minister of Public Relation NGC 2. Vice President NGC 3. Staf BEM FMIPA UNM : Delegates Sea Teacher 8th Batch 2019 : Kalau mau sukses bangun, jangan mimpi terus

www.profesi-unm.com


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook