Skip to main content

FRI VOL XXI/09 2026

Page 1

FOODREVIEW VOL. XXI

I

No.9

SEPTEMBER 2026

N

D

O

N

E

S

I

Edisi ke-30 Fi Asia Indonesia:

Mendorong Inovasi Pangan Nasional

optimalisasi Ingridien:

Kunci Kualitas dan Daya Saing Produk Bakeri

Pengembangan Produk Bakeri Tinggi Serat

INOVASI BAKERI:

Peluang Pangan Lokal

A


PT Media Pangan Indonesia

Toko Kulinologi

0811 1190 039

www.foodreview.co.id


INOVASI BAKERI:

Peluang Pangan Lokal “…just pay closer attention, you’ll discover the abundance of your own local harvest in any season." Alice Waters (American chef) (https://inquiringmind.com/article/2002_8_waters_interview/ )

Produk bakeri semakin akrab dalam keseharian konsumen Indonesia. Roti, biskuit, kukis, kue, dan berbagai jenis pastri hadir dalam beragam bentuk, rasa, serta kesempatan konsumsi. Perkembangan ini membuka ruang inovasi yang luas bagi industri pangan, termasuk untuk mengangkat potensi bahan pangan lokal. Peluangnya bukan hanya menghadirkan variasi produk, tetapi juga membangun nilai tambah melalui mutu, karakter sensori, dan komposisi gizi yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Indonesia memiliki beragam bahan yang berpotensi dikembangkan sebagai ingridien bakeri. Beras, singkong, ubi jalar, jagung, sorgum, dan sagu menawarkan karakter pati, rasa, warna, serta sifat fungsional yang berbeda. Kacang-kacangan dapat menyumbangkan protein dan serat, sementara kelapa, kakao, rempah, serta buah lokal membuka peluang pengembangan cita rasa dan identitas produk. Keragaman tersebut merupakan modal bagi inovasi yang lebih khas dan relevan dengan pasar Indonesia. Peluang tersebut juga dapat dikembangkan dari produk bakeri yang telah dikenal di berbagai daerah, seperti bagea berbasis sagu, bakpia dengan isian kacang hijau, serta bika ambon yang memanfaatkan pati tapioka dan santan. Produk-produk ini menunjukkan bahwa bahan lokal dapat membentuk identitas, cita rasa, dan tekstur yang khas. Pengembangannya dapat diarahkan pada konsistensi mutu, variasi isian dan ukuran porsi, perbaikan kemasan, serta perpanjangan masa simpan untuk memperluas jangkauan pasar. Inovasi perlu mempertahankan karakter khas yang menjadi alasan konsumen memilih produk tersebut. Namun, potensi bahan lokal perlu diterjemahkan menjadi fungsi yang jelas dalam produk. Tepung nonterigu tidak serta-merta dapat menggantikan terigu dengan hasil yang sama, terutama pada roti yang mengandalkan jaringan gluten untuk menahan gas dan membentuk struktur. Sebaliknya, kebutuhan struktur pada kukis, biskuit, kue, dan produk lainnya berbeda, sehingga peluang pemanfaatan bahan lokal juga perlu dinilai menurut jenis produk dan mutu yang ditargetkan. Karena itu, pengembangan bakeri berbahan lokal memerlukan pemahaman tentang interaksi ingridien. Karakter tepung dan pati, jumlah air, jenis lemak, protein, hidrokoloid, pengemulsi, serta enzim perlu dipertimbangkan bersama dengan kondisi proses. Tujuannya ialah menghasilkan produk yang disukai

konsumen dan konsisten mutunya. Identitas lokal dapat menjadi daya tarik awal, tetapi pengalaman mengonsumsi produk akan menentukan pembelian berikutnya. Peluang lain terdapat pada pengembangan produk tinggi serat. Bekatul yang distabilkan, fraksi serealia, kacang-kacangan, serta hasil samping pengolahan buah dan sayuran yang memenuhi persyaratan keamanan dapat dikembangkan menjadi ingridien bernilai tambah. Pemanfaatannya memerlukan pengendalian ukuran partikel, daya ikat air, cita rasa, dan stabilitas. Peningkatan serat pun perlu disertai perhatian terhadap komposisi gizi produk secara keseluruhan agar manfaat yang ditawarkan dapat dipertanggungjawabkan. Masa simpan juga menentukan keberhasilan inovasi. Produk berbahan lokal harus mampu mempertahankan mutu selama penyimpanan dan distribusi. Strategi formulasi, higiene proses, pengemasan, serta pengendalian kondisi penyimpanan perlu dirancang sesuai dengan penyebab utama kerusakan produk. Perpanjangan masa simpan yang tepat dapat memperluas jangkauan pasar dan membantu mengurangi kehilangan pangan. Untuk mewujudkan peluang tersebut, industri membutuhkan ingridien lokal dengan spesifikasi yang jelas, keamanan yang terjamin, mutu yang konsisten, dan pasokan yang andal. Kolaborasi antara produsen bahan baku, peneliti, pengembang ingridien, serta industri bakeri menjadi penting untuk menjembatani keragaman komoditas dengan kebutuhan produksi. Standardisasi dan kepatuhan regulasi perlu dibangun sejak awal pengembangan. FoodReview Indonesia edisi ini mengulas optimalisasi ingridien, pengembangan bakeri tinggi serat, serta strategi mempertahankan mutu dan memperpanjang masa simpan. Pembahasan tersebut diharapkan mendorong industri melihat pangan lokal sebagai sumber fungsi, identitas, dan nilai tambah. Dengan dukungan sains dan teknologi pangan, peluang pangan lokal dapat diwujudkan menjadi produk bakeri yang aman, bermutu, disukai konsumen, dan berdaya saing. Selamat membaca,

Purwiyatno Hariyadi https://phariyadi.foodreview.co.id/

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

3


daftar isi 6

VOL. XXI No. 9 September 2026

FORUM

9

FOOD INFO 7

Indonesia dan FAO Perkuat Kerja Sama Sektor Akuakultur Berkelanjutan

8

Layanan Baru InaExport Dorong Ekspor UMKM

Kemenperin Sampaikan Tidak Ada Penambahan Kuota Impor Gula Rafinasi 2026

10 Info GAPMMI

16

Edisi ke-30 Fi Asia Indonesia: Mendorong Inovasi Pangan Nasional

24

Designing Extended Shelf Life of Bakery Products

Pemimpin Umum: Suseno Hadi Purnomo | Pemimpin Redaksi: Purwiyatno Hariyadi | Wakil Pemimpin Redaksi: Nuri Andarwulan Redaktur Pelaksana: Himma Ellisa | Pemimpin Perusahaan: Pratomodjati | Wakil Pemimpin Perusahaan: Hindah Muaris Staf Redaksi: Fitria Bunga Yunita | Sales, Advertising & Activities: Tissa Eritha Digital Marketing: Fetty Fatimah | Business Development: Andang Setiadi | Desain & layout: Yanu Indaryanto IT dan Website: Gugun Hendi Gunawan | Keuangan: Kartini, Padmawati Zainab

Penerbit: PT Media Pangan Indonesia Alamat PT Media Pangan Indonesia: Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 Telepon: (0251) 8372333, (0251) 8322732 | +62 811 1190 039 | Fax: (0251) 8375754 Website: www.foodreview.co.id | E-mail: redaksi@foodreview.co.id, marketing@foodreview.co.id ISSN: 1907-1280 4

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026


OVERVIEW 36

APA & SIAPA

Optimalisasi Ingridien: Kunci Kualitas dan Daya Saing Produk Bakeri Formulasi yang sama tidak selalu menghasilkan mutu produk bakeri yang sama. Volume, tekstur, aroma, dan masa simpan dipengaruhi oleh karakteristik bahan baku, interaksi antaringridien, serta kondisi pengolahan dan penyimpanan. Karena itu, optimalisasi ingridien perlu didasarkan pada pemahaman fungsi dan interaksinya dalam sistem adonan. Pemilihan jenis dan jumlah ingridien yang sesuai, disertai pengendalian proses, dapat membantu menghasilkan struktur, tekstur, dan cita rasa yang diinginkan serta mempertahankan mutu produk secara konsisten.

ASOSIASI 44

GAPMMI dan Fi Asia Indonesia 2026: Sinergi Regulasi, Riset, dan Inovasi Ingridien untuk Produk yang Lebih Menyehatkan

INGRIDIEN 46

Pengembangan Produk Bakeri Tinggi Serat Produk bakeri saat ini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari pola konsumsi masyarakat karena praktis, tersedia dalam banyak ukuran, bentuk, maupun rasa. Roti seringkali digunakan sebagai menu pokok, makanan selingan atau jajanan. Metode pemasaran, pengemasan dan penyajian semakin memperluas kebutuhan konsumen akan produk bakeri ini.

Akuakultur...................... 7 Buah............................... 22 Dairy............................... 20 Enkapsulasi.................... 20 Enzim.............................. 37 ESL................................. 26 FAO................................ 7 Fat replacer.................... 18 Fi Asia............................ 16 GKR................................ 9 Hurdle technology.......... 28 InaExport........................ 8 Kacang........................... 49 Langganan..................... 6 Metal detectors.............. 31 Pedas.............................. 17 Purity.............................. 30 Ragi................................ 37 Sayur............................... 49 Seasoning....................... 21 Serat............................... 41 Stevia.............................. 22 Sugar reduction.............. 22 Sugar swap..................... 18 Taste modulation........... 19 Tepung........................... 37

Redaksi menerima tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan. Artikel sebaiknya disertai dengan foto pendukungnya dikirim via email redaksi atau pos. Redaksi berhak menyunting naskah sejauh tidak mengubah isinya. Tulisan yang dimuat akan mendapat imbalan menarik.

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

5


FORU M FoodReview Indonesia Edisi Dairy Products & Technology

Undangan Kegiatan untuk FoodReview Indonesia Dear FoodReview Indonesia, Kami ingin mengundang FoodReview Indonesia untuk hadir dalam pembukaan kantor cabang baru kami. Bagaimana prosedurnya? Terima kasih. Farah Cikarang

Jawab: Untuk mengundang FoodReview dalam berbagai jenis acara, silakan mengirim undangan ke alamat surel kami di redaksi@foodreview. co.id atau marketing@foodreview. co.id.

Dear FoodReview Indonesia, Saya adalah seorang praktisi pangan di bidang pengolahan produk olahan susu (dairy). Apakah saya bisa memperoleh artikel-artikel serta pembahasan teknis terkait teknologi dan inovasi produk dairy dari majalah FoodReview Indonesia? Terima kasih. Nanda Jakarta

Jawab: Terima kasih atas pertanyaannya. Kami secara berkala menerbitkan edisi khusus yang mengulas perkembangan industri, teknologi pengolahan, hingga inovasi ingridien berbasis dairy. Selain itu, kami juga menyediakan kumpulan paket artikel (bundling) dengan topik dairy products dari edisi-edisi sebelumnya. Koleksi tersebut juga dapat diperoleh melalui e-commerce resmi kami atau langsung menghubungi bagian sirkulasi/penjualan kami melalui WhatsApp di nomor +62 811 1190 039. Terima kasih.

Q&A Langganan FoodReview Indonesia Dear FoodReview Indonesia, Mohon info paket apa saja yang tersedia untuk dapat berlangganan FoodReview Indonesia. Terima kasih. Fania Bandung

Jawab: Tersedia tiga pilihan untuk berlangganan majalah FoodReview Indonesia: 1. Berlangganan FoodReview Indonesia Digital berbayar di www.pustakapangan.com, seharga Rp200.000 per tahun untuk 12 edisi majalah, akan tersedia di MyLibrary akun Anda setiap majalah

edisi baru terbit. Tipe ini memungkinkan Anda untuk mengunduh ke versi Epub/PDF sehingga dapat dibaca secara offline. 2. Berlangganan cetak terbatas Paket Essential (Rp750.000): Mencakup 6 edisi majalah fisik dan 12 edisi majalah digital atau Paket Corporate (Rp1.000.000): Mencakup 6 edisi majalah fisik, 12 edisi majalah digital, serta keuntungan tambahan berupa 1 tiket gratis atau harga khusus untuk mengikuti Webinar, Workshop, dan Seminar FoodReview Indonesia. 3. Berlangganan FRI Digital Free, setiap bulannya dari Tim FoodReview akan mengirim link majalah untuk dibaca secara online saja ke email yang terdaftar. Anda dapat registrasi melalui link berikut: http://bit.ly/FRIDIGITAL

KIRIMKAN KOMENTAR atau pertanyaan Anda ke Forum FOODREVIEW INDONESIA Jl Binamarga II No. 23, Baranangsiang, Bogor Timur 16143 atau melalui whatsapp: +62 811-1190-039, email redaksi@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat dan nomor telepon Anda. Semua surat yang masuk akan diedit terlebih dulu dengan tanpa mengubah maknanya.

Majalah cetak edisi 2016-2020 masih bisa diperoleh melalui loka pasar kami seperti Shopee (Media Pangan Indonesia) & Tokopedia (Toko Kulinologi). Silakan ketik ‘Majalah FoodReview’ pada kolom pencarian. Sedangkan untuk ketersediaan edisi-edisi tertentu silakan menghubungi 0811 1190 039. 6

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026


FOOD INFO | Lintas Pangan

Indonesia dan FAO Perkuat Kerja Sama Sektor Akuakultur Berkelanjutan

M

enteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, bertemu dengan Direktur Jenderal FAO, Dr. Qu Dongyu, di sela pertemuan Committee on Fisheries (COFI) ke-37 di Roma, Italia. Pertemuan tersebut membahas peluang penguatan kerja sama di sektor akuakultur dan perikanan budidaya guna meningkatkan produksi pangan bergizi serta memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir. FAO menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas perikanan bernilai tinggi yang berprospek di pasar internasional. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, keberhasilan Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan gizi nasional dinilai memberikan kontribusi penting bagi agenda global dalam mengatasi tantangan pangan dunia.

Dirjen FAO mendorong pengalihan fokus ke akuakultur berkelanjutan sebagai solusi untuk memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat sekaligus menekan ketergantungan pada penangkapan ikan di alam. Qu juga membagikan pengalaman internasional terkait alih profesi nelayan skala kecil ke sektor budidaya melalui penguatan kelembagaan, penerapan teknologi, hingga pemberdayaan perempuan dan generasi muda. Menteri Trenggono menyambut baik hal tersebut dan menegaskan komitmen Indonesia untuk mempercepat transformasi sektor kelautan melalui penguatan perikanan budidaya dan pengelolaan sumber daya berbasis keberlanjutan. Kedua pihak pun sepakat untuk terus mempererat kemitraan strategis yang mencakup sektor perikanan, pangan, hingga pengelolaan sumber daya air secara inklusif. Fri-35 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

7


FOOD INFO | Lintas Pangan

Layanan Baru InaExport Dorong Ekspor UMKM

M

enteri Perdagangan Budi Santoso melakukan soft launching platform digital InaExport dengan menyajikan sejumlah layanan baru di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta. Langkah ini menandai transformasi InaExport sebagai national export gateway guna memperluas akses pasar internasional bagi produk lokal berkualitas, khususnya dari sektor UMKM. Pengembangan InaExport kini diperkuat dengan lima layanan utama yang terintegrasi. Layanan tersebut meliputi instrumen CEK Ekspor untuk validasi kesiapan eksportir, Export Sandbox dan Chatbot sebagai kalkulator dan informasi regulasi ekspor, layanan Inquiry yang menghubungkan buyer dengan eksportir, Dashboard Peluang Ekspor, serta fasilitas Market Intelligence dan business matching.

8

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Inisiatif ini sejalan dengan tiga program utama Kemendag dalam mendorong perdagangan nasional, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor melalui 25 perjanjian dagang aktif, serta program “Dari Lokal untuk Global”. Program tersebut mencakup empat klaster pengembangan, seperti UMKM BISA Ekspor, Desa BISA Ekspor, Campuspreneur, dan Kemitraan UMKM. Lewat program UMKM BISA Ekspor, Kemendag sukses mencatatkan transaksi sebesar USD 346,99 juta sepanjang Januari–Agustus 2026 melalui fasilitasi 46 perwakilan perdagangan luar negeri. Selain itu, Kemendag terus memperkuat jaringan pemasaran domestik dengan menggandeng asosiasi ritel modern seperti APRINDO dan HIPPINDO serta mengoptimalkan platform e-commerce.

Fri-35


FOOD INFO | Lintas Pangan

Kemenperin Sampaikan Tidak Ada Penambahan Kuota Impor Gula Rafinasi 2026

K

ementerian Perindustrian menepis pemberitaan terkait penambahan kuota impor Gula Kristal Mentah (GKM) sebanyak 150.000 ton untuk industri pangan dan farmasi. Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan bahwa tidak ada perubahan alokasi pasokan bahan baku gula rafinasi untuk tahun 2026. Kebijakan serta volume impor GKM pada tahun 2026 tetap mengacu pada Neraca Komoditas yang telah ditetapkan sejak akhir tahun 2025. Bahkan, alokasi bahan baku tersebut justru diturunkan akibat adanya reformulasi produk oleh industri terkait kebijakan pembatasan gula, garam, dan lemak (GGL).

Kemenperin mengingatkan bahwa gula merupakan barang dalam pengawasan yang tata kelolanya diatur secara ketat melalui regulasi resmi. Berdasarkan Permenperin Nomor 47 Tahun 2024, perusahaan memang dapat mengimpor GKM untuk diolah menjadi Gula Kristal Rafinasi (GKR) sebagai bahan baku industri. Kendati demikian, produk GKR tersebut ditegaskan tidak boleh merembes ke pasar konsumen umum demi melindungi tata kelola gula nasional. Melalui penjelasan ini, Kemenperin berkomitmen menjaga iklim usaha yang tertib sekaligus meluruskan kekeliruan informasi yang beredar di masyarakat. Fri-35 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

9


FOOD INFO | Lintas Pangan

INFO GAPMMI

Seminar Specialty Indonesia 2026

The 4th National Seminar on Functional Food and Nutraceutical 2026

� Dua sesi seminar Specialty Indonesia 2026 menghadirkan perwakilan GAPMMI sebagai moderator. Ibu Ribut Purwanti, Wakil Sekjen GAPMMI, memandu sesi pertama, sedangkan sesi kedua dipandu Bapak Handito Joewono, Ketua GAPMMI Bidang Kerjasama Luar Negeri. Seminar yang digelar Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar (Dit. Mintemgar) Kementerian Perindustrian ini berlangsung pada Senin, 10 Agustus 2026 di Ruang Garuda, Gedung Kemenperin Lt. 2, Jakarta Selatan. � Warisan tradisional dan potensinya dalam mendukung kesehatan berkelanjutan menjadi sorotan dalam The 4th National Seminar on Functional Food and Nutraceutical 2026. Forum ini mengangkat tema “Reviving Traditional Heritages Through Functional Foods and Nutraceuticals for Health Sustainability”, yang menempatkan kekayaan pangan tradisional dalam pembahasan mengenai pengembangan pangan fungsional

dan nutrasetikal. Ketua Umum GAPMMI, Bapak Adhi S. Lukman, hadir sebagai narasumber mewakili perspektif pelaku industri pangan. Kegiatan hasil kolaborasi P3FNI, ASENSINDO, dan Universitas Bakrie ini digelar pada Rabu, 12 Agustus 2026 di Kampus Universitas Bakrie, Bakrie Tower Lt. 42, Kuningan, Jakarta. � Ketahanan dan keamanan data di tengah ancaman siber dibahas dalam Seminar Cyber Resilience Day 2026. Mewakili GAPMMI, Prof. Teddy Martono, seorang pakar cyber security, menjadi narasumber pada sesi bertema “When It Hits OT: Managing Disruption in Critical Operations”. Seminar bagian dari rangkaian INTI Summit 2026 ini diselenggarakan Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) pada Kamis, 13 Agustus 2026 di Hall A2, JIExpo Kemayoran, Jakarta. � Revolusi pabrik pintar menjadi fokus Seminar Smart Manufacturing bertema “The Smart Factory

10

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026


FOOD INFO | Lintas Pangan Revolution: Scaling Robotics, AI, and Automation Across Indonesia’s Leading Industries”. Dalam forum tersebut, Bapak Rafael (dari Kapal Api Group) tampil sebagai narasumber mewakili GAPMMI. Ditjen ILMATE Kemenperin menggelar seminar ini dalam rangkaian Pameran & Conference Indo Machinery & Trade Show pada Kamis, 13 Agustus 2026 di Hall A1, JIExpo Kemayoran, Jakarta. � Kebutuhan tenaga kerja industri makanan dan minuman turut dibawa ke meja pembahasan RUU Ketenagakerjaan. Bapak Aldo Omar (Wakil Ketua GAPMMI Bidang Ketenagakerjaan & Organisasi) dan Bapak Mangasa Siregar (Komite GAPMMI Bidang Ketenagakerjaan & Organisasi) hadir bersama untuk menyampaikan pandangan serta masukan mengenai kondisi sektor industri makanan minuman. Diskusi yang diinisiasi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) ini berlangsung pada Kamis, 13 Agustus 2026 di Ruang Serbaguna, Gedung Permata Kuningan Lt. 10, Jakarta Selatan. � Mewakili GAPMMI, Ibu Ribut Purwanti (Wakil Sekjen GAPMMI) menyampaikan pandangan dalam Diskusi Stock-taking Isu bertajuk “Pemetaan Peran Aktor Nonpemerintah dan Penguatan Skema Insentif Kemitraan”. Ia hadir sebagai narasumber pada forum yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas tersebut. Kegiatan berlangsung secara daring melalui

Zoom Meeting pada Jumat, 14 Agustus 2026. � Rangkaian Opening Ceremony Gebyar Layanan Publik Terpadu Pangan Olahan Batch 2 diawali sambutan Ibu Roch Ratri Wandansari, Wakil Ketua GAPMMI Bidang Regulasi Teknis Makanan Minuman mewakili Ketua Umum GAPMMI. Agenda berlanjut dengan penandatanganan Komitmen Bersama oleh Ibu Wanda dan Bapak Andrew F. Saputro (Ketua GAPMMI Bidang Kerjasama dan Promosi) yang mewakili Sekjen GAPMMI. Kedeputian III Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM bersama GAPMMI menyelenggarakan acara ini pada Rabu, 26 Agustus 2026 di Hotel Grand Savero, Bogor, Jawa Barat, dengan mengundang ratusan pelaku usaha makanan minuman, baik skala industri maupun IKM � Menjelang penyelenggaraan Fi Asia Indonesia 2026, Informa Markets menggelar Konferensi Pers ke-2 sebagai bagian dari rangkaian komunikasi mengenai agenda tersebut. Ketua Umum GAPMMI, Bapak Adhi S. Lukman, hadir sebagai narasumber dengan membawa perspektif asosiasi dan industri makanan serta minuman. Keterlibatan GAPMMI dalam forum ini menegaskan pentingnya kolaborasi dan pertukaran informasi antarpemangku kepentingan dalam mendukung perkembangan industri. Konferensi pers berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Retreat Room, The Westin Hotel Jakarta. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

11


� Ketua Umum GAPMMI, Bapak Adhi S. Lukman, menerima penghargaan Excellence Leadership In Food Industry Ecosystem Development dalam ajang Food Commodity Downstreaming Industry Award 2026. Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kepemimpinan dalam pengembangan ekosistem industri pangan, sekaligus menempatkan peran kolaborasi antarpelaku industri sebagai bagian penting dalam kemajuan sektor ini. Forum Sinergi Inovasi Industri (FSII) dan Tender Indonesia menyelenggarakan ajang penghargaan tersebut sebagai ruang pemberian apresiasi di bidang hilirisasi komoditas pangan. Penyerahan penghargaan berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Mainstage Hall D1, JIExpo Kemayoran, Jakarta. Selain itu ada beberapa anggota GAPMMI yang juga mendapat penghargaan seperti Sagolicious, Amood Healthy Food, dan Arafa Tea � Upaya menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat dibahas dalam webinar nasional mengenai konsumsi pangan rendah gula, garam, dan lemak. Ibu Reni Kusuma (Komite Regulasi Teknis GAPMMI) hadir sebagai penanggap mewakili GAPMMI dalam kegiatan bertajuk “Menciptakan Lingkungan Pangan yang Lebih Sehat: Pembelajaran dan Kolaborasi untuk Mendukung Konsumsi Pangan Lebih Rendah Gula, Garam dan Lemak”. Dit. PTM 12

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Kemenkes menyelenggarakannya pada Jumat, 28 Agustus 2026 melalui Zoom Meeting dan YouTube. � Kemasan next gen—mulai dari kebutuhan e-commerce dan halal hingga otomasi AI serta efisiensi biaya—menjadi bahasan WEPACK Southeast Asia 2026 Conference. Bapak Irwan S. Widjaja (Ketua GAPMMI Bidang Pengembangan & Pembinaan UMKM) menjadi narasumber mewakili GAPMMI dalam sesi bertema “Smart Packaging Solutions for the Next Generation: From E-Commerce and Halal Packaging to AI Automation and Cost Optimization”. Pameran dan konferensi ini berlangsung pada Jumat, 28 Agustus 2026 di Main Stage, Hall A2, JIExpo Kemayoran, Jakarta. � Suara industri pangan disampaikan Bapak Johan Muliawan (Ketua GAPMMI Bidang Kebijakan Publik) dalam Rapat Evaluasi Kinerja Ditjen Industri Agro Semester I Tahun 2026. Mewakili GAPMMI, ia memaparkan sejumlah masukan dan concern industri. Rapat yang diselenggarakan Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian itu berlangsung pada Selasa, 1 September 2026 di Ruang Rapat Gula Lt. 18, Gedung Kemenperin, Jakarta. � Pangan berbasis bukti menjadi tema Webinar Seri-12 yang menghadirkan Ibu Musrifah (Komite Regulasi Teknis GAPMMI) sebagai narasumber GAPMMI. Forum bertajuk “Inovasi Pangan Berbasis Bukti untuk


Ketahanan Pangan yang Aman, Legal, dan Dipercaya” ini diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman pada Rabu, 9 September 2026. Kegiatan diikuti secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube. � Penyusunan Roadmap Pemberlakuan Standardisasi Industri Tahun 2026– 2035 melibatkan masukan dari GAPMMI melalui Ibu Reni Kusuma (Komite Regulasi Teknis GAPMMI). Ia hadir sebagai narasumber dalam FGD yang diselenggarakan Pusat Optimasi Pemanfaatan Teknologi Industri dan Kebijakan Standardisasi Industri (P4SI) Kemenperin. Diskusi berlangsung pada Rabu, 9 September 2026 di Ruang Rapat BBSPJI Agro, Bogor, Jawa Barat. � Forum ilmiah strategis untuk memperkuat sistem pangan dan gizi berkelanjutan Indonesia menjadi agenda Workshop Internasional WNPG XII 2026. Bapak Stefanus Indrayana (Sekjen GAPMMI) hadir sebagai penanggap mewakili GAPMMI dalam forum bertema “Strategic Scientific Forum for Strengthening Indonesia’s Sustainable Food and Nutrition System”. Kementerian PPN/ Bappenas menyelenggarakan kegiatan ini pada Kamis, 10 September 2026 di Kantor Bappenas, Jakarta. � Kolaborasi GAPMMI dan Fi Asia menghadirkan seminar bertema “Reformulation Solutions for Better Nutrition and Great Taste in Indonesia”. Dalam kesempatan itu, GAPMMI mengundang narasumber

dari BPOM dan IPB University, serta pelaku industri food ingredients anggota GAPMMI (PT Jerindo Sari Utama). Seminar digelar pada Rabu, 16 September 2026 di Sumatra Room, Hall D2, JIExpo Kemayoran, Jakarta. � Dari warisan lokal menuju peluang bisnis global, Bapak Adi Haryono (Direktur di PT Kapal Api) membagikan pandangan dalam sesi “From Local Heritage to Global Business: Connecting Trade, Tourism & Culinary Economy”. Ia tampil sebagai narasumber pada Asia Food & Ecosystem Summit, bagian dari pameran JITEX 2026. HIPPINDO menyelenggarakan agenda tersebut pada Rabu, 16 September 2026 di Main Stage JITEX, Junior Ballroom, JIExpo Convention Center, Jakarta. � Bisakah gula digantikan? Pertanyaan ini menjadi pokok bahasan BRIN’s Innovation Forum bertema “Innovation Talk 1: Can Sugar Be Replaced? Innovations in Alternative Sweeteners and Sugar Reduction”. Ibu Yunawati Gandasasmita (Komite Regulasi Teknis GAPMMI) hadir sebagai narasumber mewakili GAPMMI dalam acara yang diselenggarakan BRIN bersama GAPMMI sebagai bagian dari pameran Fi Asia 2026. Forum berlangsung pada Kamis, 17 September 2026 di Fi Theater, Hall A3, JIExpo Kemayoran, Jakarta. � Industri bahan baku susu Selandia Baru dan pelaku industri makanan minuman Indonesia dipertemukan FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

13


dalam acara New Zealand Dairy Ingredients Connect 2026. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, turut hadir dalam agenda Networking Reception & Dinner yang diselenggarakan oleh New Zealand Trade & Enterprise (NZTE) bekerja sama dengan GAPMMI. Acara ini menjadi wadah networking serta diskusi peluang kolaborasi antara perusahaan dairy ingredients terkemuka dari Selandia Baru dengan industri makanan dan minuman nasional. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 17 September 2026 di Grand Mercure Jakarta Kemayoran. � GAPMMI turut berpartisipasi dalam BRIN’s Innovation Forum “Innovation Talk 2: Scalable Technologies for Food Safety and Shelf-Life Extension” yang merupakan bagian dari rangkaian Fi Asia Indonesia 2026. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Widya Palupi Herminingsih (Komite Regulasi Teknis GAPMMI) hadir sebagai narasumber dan menyampaikan pemaparan terkait pengembangan teknologi yang mendukung keamanan pangan serta perpanjangan umur simpan produk. Forum ini berlangsung pada Jumat, 18 September 2026 di Fi Theater, Hall A3, JIExpo Kemayoran, Jakarta. � Inovasi bahan baku berbasis hayati untuk aplikasi industri pangan menjadi topik pembahasan dalam BRIN’s Innovation Forum “Innovation Talk 3: Natural Bio-Based Ingredients for Food Industry Applications”. Ibu

14

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Putri Adiastuti (Komite Regulasi Teknis GAPMMI) hadir sebagai narasumber mewakili GAPMMI dan membagikan pandangan industri dalam sesi yang diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Fi Asia Indonesia 2026 pada Jumat, 18 September 2026 di Fi Theater, Hall A3, JIExpo Kemayoran, Jakarta. � Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, bertindak sebagai moderator dalam sesi Fi Conference and Seminar bertema “Current Approaches to Ingredient Approval & Risk Assessment”. Kehadiran beliau turut memfasilitasi diskusi antara para ahli dan pemangku kepentingan mengenai perkembangan pendekatan regulasi serta penilaian risiko bahan pangan. Sesi ini merupakan bagian dari rangkaian Fi Asia Indonesia 2026 yang berlangsung pada Jumat, 18 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. � Adhi S. Lukman, Ketua Umum GAPMMI, hadir sebagai narasumber dalam Roundtable on IndonesiaChina Relations and the Changing International Order yang diselenggarakan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan Indonesia bersama China Institute of International Studies (CIIS). Forum yang berlangsung pada 21–23 September 2026 di Yogyakarta ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas dinamika hubungan Indonesia-Tiongkok serta


perkembangan tatanan internasional yang terus berubah. � Ibu Ribut Purwanti (Wakil Sekjen GAPMMI) dan Ibu Marfusita Hamburgiwati (Komite Kebijakan Publik GAPMMI) hadir mewakili GAPMMI dalam Focus Group Discussion bertema “Optimalisasi Implementasi Neraca Komoditas untuk Peningkatan Iklim Perdagangan Pangan di Indonesia”. Diskusi yang diselenggarakan oleh CIPS bekerja sama dengan APINDO ini menjadi wadah pertukaran pandangan dunia usaha terkait kebijakan perdagangan pangan. Kegiatan berlangsung pada Rabu, 23 September 2026 di ShangriLa Hotel, Jakarta. � Tren pasar dan perkembangan industri bakeri nasional menjadi salah satu topik utama dalam In-Depth Seminar bertema “Designing Extended Shelf-Life of Bakery Products” yang diselenggarakan oleh FoodReview Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, Bapak Irwan S. Widjaja (Ketua GAPMMI Bidang Pengembangan & Pembinaan UMKM) hadir sebagai narasumber mewakili GAPMMI untuk memaparkan perkembangan pasar bakery di Indonesia, sementara Ibu Patricia Tobing (Praktisi Industri Makanan Minuman) bertindak sebagai moderator. Seminar berlangsung pada Kamis, 24 September 2026 di IPB International Convention Center, Bogor. � GAPMMI turut menghadiri penganugerahan Indonesia Halal

Indonesia-Thailand Business Networking Dinner 2026

Industry Awards (IHYA) 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Industri Halal Kementerian Perindustrian. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, didampingi oleh Bapak Johan Muliawan (Ketua GAPMMI Bidang Kebijakan Publik) hadir dalam kegiatan yang menjadi ajang apresiasi bagi pelaku industri halal nasional tersebut. Acara berlangsung pada Kamis, 24 September 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten. � Penguatan hubungan ekonomi dan jejaring bisnis regional menjadi fokus dalam Indonesia-Thailand Business Networking Dinner 2026. Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, Handito Joewono (Ketua GAPMMI Bidang Kerjasama Luar Negeri) serta Bapak Irwan S. Widjaja (Ketua GAPMMI Bidang Pengembangan & Pembinaan UMKM) menghadiri kegiatan yang diselenggarakan oleh KBRI Bangkok dan APINDO bersama perwakilan dunia usaha Indonesia dan Thailand. Acara berlangsung pada Senin, 28 September 2026 di Plataran Hutan Kota, Jakarta. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

15


FOOD INFO | Lintas Pangan

Edisi ke-30 Fi Asia Indonesia: Mendorong Inovasi Pangan Nasional

S

ukses terselenggaranya kegiatan Fi Asia Indonesia 2026 pada 16–18 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, mempertegas kinerja positif industri pangan nasional yang tumbuh 6,77% dan menyumbang 41,86% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada Semester I 2026. Seiring pesatnya tren ini, pola konsumsi masyarakat kian kritis dengan memprioritaskan aspek kesehatan, gizi, kualitas bahan baku, serta keberlanjutan. Dalam upacara pembukaan, Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza, menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi di seluruh rantai industri untuk terus meningkatkan daya saing sektor strategis ini. Memasuki edisi ke-30, pameran ini hadir dalam skala lebih besar mencakup 11 hall, menghadirkan lebih dari 700 exhibitor, serta 10 country pavilions dengan mengusung tema “Elevating Food Standards for a Healthier, Greener

16

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Future”. Kehadiran ajang internasional ini menjadi akses vital bagi pelaku industri lokal untuk mengeksplorasi inovasi bahan pangan, teknologi terbaru, dan perluasan jaringan bisnis global. Sebagai wadah integrasi inovasi, pengetahuan, dan pemangku kepentingan, Fi Asia Indonesia 2026 terbukti mampu mendorong terciptanya industri pangan nasional yang kian adaptif, kompetitif, dan berkelanjutan. Pameran ini membuka ruang luas bagi para pelaku usaha untuk menemukan solusi atas tantangan pasar modern. Dalam kesempatan ini, Tim FoodReview Indonesia turut hadir langsung untuk meliput dan mengulas berbagai booth peserta serta inovasi ingridien unggulan yang ditampilkan sepanjang pameran. Liputan eksklusif ini menyajikan sorotan teknologi bahan baku terkini, solusi formulasi pangan masa depan, serta wawancara bersama para pemain kunci industri.


FOOD INFO | Lintas Pangan

Solusi Memperpanjang Umur Simpan Produk Bakeri

K

onsumen terus mencari kemudahan, pengalaman, dan juga keterjangkauan saat berbelanja produk bakeri. Menanggapi tantangan formulasi bakeri Sue Yi Kwok saat ini, Sue Yi Kwok, Application Specialist Bakery PT Tegar Inti Sentosa - IFF, membagikan pendekatan teknologi ingridien yang ditawarkan perusahaannya. Ia menegaskan, “Dengan portofolio bakeri dari Danisco®, kami membantu produsen menciptakan formulasi yang lebih optimal, seperti menghemat penggunaan telur pada kue, mengurangi kandungan lemak pada biskuit, serta mengaplikasikan bubuk carob sebagai substitusi kakao,” Ujarnya. Dirancang khusus untuk industri bakeri, Grindsted® FSB 4352 jenis penstabil roti dan Grindsted® Cakepro 400 jenis emulsifier merupakan solusi untuk menghasilkan kue dengan tekstur ringan dan lembut, dapat meningkatkan retensi kelembapan sehingga menjaga kesegaran lebih lama. Sistem sinergis ini diketahui meningkatkan performa pengocokan adonan, sekaligus memperlambat proses staling (pengerasan). Solusi ini memungkinkan produsen bakeri untuk memperpanjang umur simpan kue, dan mengurangi penurunan kualitas selama distribusi. Fri-12

Inovasi Kalsec untuk Pengembangan Produk Pedas

P

engembangan produk pangan dengan tingkat kepedasan yang konsisten ternyata bukan sekadar menambahkan atau mengurangi jumlah cabai. Perbedaan persepsi terhadap heat, spicy, burn, hingga tingling Priyadarshini Sharma menjadi tantangan bagi industri dalam menerjemahkan kebutuhan konsumen ke dalam formulasi produk. Priyadarshini Sharma, Vice President and Managing Director Kalsec Asia Pacific menyoroti bahwa istilah hot dan spicy tidak selalu merujuk pada sensasi yang sama. Bahan seperti kunyit dan jintan dapat memberikan sensasi spicy tanpa menghasilkan sensasi hot, sementara jahe dapat memberikan sensasi heat. Lada Sichuan, misalnya, menghasilkan sensasi numbing and tingling, sedangkan cuka dan alkohol lebih terkait dengan sensasi burn. Wasabi dan horseradish memberikan sensasi panas yang terutama terasa di area hidung. Menurut Priya, standardisasi terminologi diperlukan agar komunikasi antara produsen, pengembang produk, dan pelanggan menjadi lebih jelas. Priya menekankan bahwa persepsi heat dipengaruhi oleh matriks pangan. Pengembangan produk pedas membutuhkan pemahaman terhadap pengalaman sensori secara menyeluruh, bukan sekadar pengukuran tingkat kepedasan. Fri-12 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

17


FOOD INFO | Lintas Pangan

Beneo Hadirkan Produk Pangan Rendah Gula dan Tinggi Serat

S

ebanyak 57% konsumen di Indonesia kini lebih memilih mengonsumsi produk pangan yang mampu menjaga stabilitas kadar gula darah. Temuan ini diungkapkan oleh Noëmie Cosemans Head of BTC-CTS ASPAC Beneo, Noëmie Cosemans. Dari insight tersebut, Beneo menghadirkan portofolio ingridien fungsional seperti inulin, oligofruktosa, dan Palatinose™ sebagai solusi formulasi produk yang rendah gula, rendah lemak, kaya serat, serta memiliki kalori yang lebih rendah. Inulin dan oligofruktosa berasal dari akar chicory yang dapat digunakan untuk mengurangi gula, lemak, maupun nilai kalori produk. Inulin kaya prebiotik yang bermanfaat untuk mendukung kesehatan saluran cerna. Kandungan fruktan pada inulin menciptakan rasa creamy dan sensasi menyerupai lemak di mulut, sehingga bisa dikembangkan sebagai fat replacer. Sedangkan oligofruktosa memiliki karakteristik fisik dan profil kemanisan yang menyerupai gula dengan tingkat kemanisan lebih rendah. Beberapa prototipe aplikasi produk dipamerkan oleh Beneo di booth mereka. Salah satunya adalah minuman air kelapa dengan matcha foam. Inulin digunakan pada matcha foam untuk membantu mengurangi penggunaan matcha, menstabilkan foam, sekaligus mengurangi sebagian kandungan lemak.

Fri-12

18

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Strategi Sugar Reduction untuk Produk Minuman

S

ejalan dengan pergeseran preferensi konsumen, Technical Sales Manager Tate & Lyle Indonesia, Elfi Anggraeni, menyampaikan bahwa tren penggantian gula Elfi Anggraeni (sugar swap) kini menjadi topik pembahasan yang sangat populer di media sosial. Tren penggunaan pemanis alami seperti stevia menjadi solusi ideal untuk menjawab dilema konsumen yang menginginkan produk lebih menyehatkan tanpa mengorbankan kelezatan rasa manisnya. Pengurangan gula dapat memengaruhi viskositas, body, dan mouthfeel produk. Karena itu, formulasi perlu mempertimbangkan bahan yang dapat membantu mengembalikan karakteristik tersebut. Serat, maltodekstrin, dan hidrokoloid seperti pektin dapat digunakan untuk mendukung mouthfeel. Serat seperti PromitorTM dan Sta-LiteTM juga disebut dapat berperan dalam membangun kembali mouthfeel sekaligus memberikan fungsi tambahan dalam formulasi. ”Berdasarkan penelitian kami, daripada hanya menggunakan satu jenis serat, mengombinasikan beberapa bahan dapat menghasilkan efek sinergis sehingga mampu mencapai mouthfeel yang lebih mirip dengan produk yang menggunakan gula,” pungkas Elfi. Fri-12


FOOD INFO | Lintas Pangan

Kerry Perkenalkan Teknologi Taste Modulation

R

eduksi sodium menjadi tantangan tersendiri bagi industri pangan. Produsen dituntut untuk menurunkan kadar garam tanpa J. T. Ryan mengorbankan profil cita rasa gurih yang sudah disukai konsumen. Seiring dengan implementasi kebijakan pencantuman Nutri-Level, produsen pangan menghadapi tuntutan untuk menghasilkan produk yang lebih menyehatkan tanpa mengorbankan penerimaan konsumen. Menurut, RD & A Director Kerry Southeast Asia, J. T. Ryan, pengurangan sodium (sodium reduction) pada suatu produk bukan sekadar mengurangi penggunaan garam. Pada gelaran Fi Asia 2026, Kerry mengenalkan teknologi taste modulation bernama Tastesense™ Salt. Teknologi taste modulation dari Kerry ini dirancang untuk membantu produsen pangan mengurangi sodium/garam tanpa mengorbankan persepsi rasa asin dan pengalaman sensori produk. Kerry menjelaskan bahwa pendekatannya bukan sekadar mengurangi garam lalu menggantinya dengan bahan lain, tetapi membangun kembali taste curve yang hilang akibat pengurangan sodium. Fri-12

Teknologi Enzim untuk Solusi Clean Label dan Inovasi Produk Kopi

E

nzim kini semakin dilirik sebagai katalis unggulan dalam proses pengolahan pangan fungsional. Sebagai biokatalis, enzim Supaporn Naknukool memiliki tingkat spesifisitas yang tinggi sehingga mampu mengkatalisis reaksi secara lebih terarah. Namun, hasilnya tetap bergantung pada jenis enzim, substrat, dosis, serta kondisi proses yang digunakan. Menariknya, penggunaan enzim sebagai processing aid (bahan penolong pengolahan) memungkinkan produsen untuk menginaktifkannya sebelum produk akhir dikemas. Hal ini memberikan keunggulan teknis berupa pendaftaran produk berkonsep clean label, di mana keberadaan enzim tidak wajib dicantumkan pada label kemasan akhir. Salah satu fokus aplikasi yang terus berkembang adalah pada sektor pengolahan kopi. Seiring meningkatnya konsumsi kopi global, kebutuhan akan inovasi ekstraksi dan derivatif kopi yang stabil semakin krusial. Pemanfaatan enzim yang presisi tidak hanya membantu mengatasi tantangan pemrosesan teknis, tetapi juga mampu menjaga keutuhan profil rasa, tekstur, serta konsistensi mutu ekstrak kopi sesuai dengan standar industri internasional. Fri-35 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

19


FOOD INFO | Lintas Pangan

Cargill Menjawab Pergeseran Optimalisasi Flavor dengan Preferensi Konsumen Indonesia Teknologi Enkapsulasi CAPROMA®

C

argill memamerkan beragam contoh aplikasi dan solusi bahan pangan berbasis wawasan konsumen (consumer insight). Menurut data IngredientTracker™, lebih dari separuh konsumen Indonesia kini menerapkan pola makan rendah gula. Menjawab tantangan ini, Cargill menghadirkan solusi pemanis Sweetmix™ dan formulasi berbasis Stephanie Sajuti stevia yang dirancang untuk menjaga body, tekstur, serta profil rasa alami pada aplikasi minuman dan dairy. Di sisi lain, untuk kebutuhan tekstur, penerapan pati pangan termodifikasi (modified starch) ditujukan guna mengoptimalkan kualitas sensori seperti kerenyahan pada biskuit, kelembutan pada bakeri, hingga stabilitas emulsi pada produk keju dan saus. Tak hanya itu, Cargill juga memperkuat portofolio kakao dan lemak nabati melalui fasilitas lokal dan jaringan R&D regionalnya. Memanfaatkan Cocoa Development Centre di Gresik, produsen dapat mengadaptasi cita rasa dan karakteristik sensori kakao lokal yang amat diminati pasar. Solusi tersebut disempurnakan oleh dukungan Lipid R&D Center untuk memasok ragam minyak dan lemak nabati yang krusial dalam membentuk struktur serta mouthfeel pada produk pangan siap saji dan camilan gurih. Fri-35 20

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

P

asar premiks dan produk siap saji di Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat, dipicu oleh tingginya permintaan konsumen akan kepraktisan, kepuasan sensori, serta produk yang lebih menyehatkan Ananda Ardiansyah (better-foryou). Menjawab kebutuhan tersebut, KH Roberts menghadirkan inovasi teknologi enkapsulasi melalui lini produk CAPROMA®. Food Technologist KH Roberts, Ananda Ardiansyah, menjelaskan bagaimana teknologi ini membantu produsen mengatasi kendala operasional sekaligus meningkatkan performa produk. “Melalui teknologi enkapsulasi CAPROMA®, kami mengunci aromaaroma paling sensitif untuk memberikan pelepasan rasa yang terukur (controlled release), memperpanjang umur simpan (extended shelf life), serta meminimalkan risiko kerusakan atau volatilitas cita rasa selama proses pemanasan dan pencampuran,” katanya. Portofolio CAPROMA® hadir dalam berbagai ukuran partikel mulai dari CAPROMA® Encapsulates hingga berbentuk CAPROMA® Granules, yang dirancang dust-free sehingga memudahkan penanganan (easy handling) di lini produksi. Fri-35


FOOD INFO | Lintas Pangan

Nagase Hadirkan Solusi Pangan Fungsional untuk Pasar Indonesia

D

i tengah pesatnya pertumbuhan industri pangan di Indonesia, Nagase menghadirkan jajaran solusi bahan baku inovatif dalam ajang pameran Internasional Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia. Perusahaan membawa portofolio unggulan seperti bahan fungsional alami Treha (trehalosa) dari Nagase Food Ingredients, campuran premix vitamin dari Prinova, hingga beragam bahan pendukung industri pangan seperti bumbu dan penyedap rasa (seasoning). Selain memastikan kesesuaian dengan standar sertifikasi halal, Nagase berfokus pada solusi perpanjangan masa simpan (shelf-life extension) untuk mendukung tren keberlanjutan. “Produk kami utamanya disesuaikan untuk memenuhi sertifikasi halal. Khususnya untuk produk unggulan kami, Treha, bahan ini berguna untuk memperpanjang masa simpan produk. Produk kami merupakan bahan alami, yang berarti dengan memperpanjang masa simpan, ini berkontribusi pada keberlanjutan dengan mencegah pemborosan pangan,” ujar ASEAN & India, Life & Healthcare Business COO Takayuki Machida. Menghadapi tantangan pasar Indonesia yang sangat kompetitif dari segi harga serta memiliki preferensi rasa lokal yang unik, Nagase mengoptimalkan fasilitas application lab di Singapura

Klik untuk memutar video

untuk meracik formulasi yang tepat bagi industri lokal. “Pasar Indonesia sangat kompetitif dari segi harga. Produk kami memang sangat fungsional, namun di sisi lain kami harus menyesuaikan dengan tren pasar, harga, serta preferensi rasa. Setiap negara memiliki preferensi kuliner yang berbeda. Oleh karena itu, sekadar memperkenalkan fungsi bahan saja tidak cukup. Kami memanfaatkan application lab di Singapura untuk menyesuaikan formulasi satu per satu agar cocok dengan cita rasa di setiap wilayah,” ungkap Machida. Meski pasar bahan fungsional di Indonesia masih dalam tahap berkembang dibanding negara maju, potensi populasi yang besar membuat Nagase optimis untuk terus berekspansi. “Pasar Indonesia sedang tumbuh pesat dengan potensi yang luar biasa. Kami percaya tren menuju produk yang lebih fungsional dan berkualitas akan segera tiba di Indonesia,” pungkas Machida. Fri-35 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

21


FOOD INFO | Lintas Pangan

Strategi Sugar Reduction dan Modifikasi Tekstur Ingredion untuk Industri Pangan Masa Kini

P

erkembangan industri pangan terus bergerak dinamis seiring perubahan gaya hidup dan ekspektasi konsumen. Untuk menjawab tantangan pasar, formulasi ingridien pangan modern kini berfokus pada dua tren utama, yaitu solusi kesehatan dan penciptaan tekstur yang unik. Menjawab tantangan tersebut, Ingredion menghadirkan ragam solusi formulasi bahan baku untuk menjawab kebutuhan industri pangan. Dari sisi kesehatan, fokus utama tertuju pada pengurangan gula (sugar reduction) tanpa mengorbankan rasa dan mouthfeel. Solusi ini diterapkan pada sirup bebas gula tambahan berbasis stevia dan polyol, filling buah dengan kadar gula 30% lebih rendah, jus buah yang lebih ekonomis, hingga minuman karbonasi berbasis erythritol. 22

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Sementara untuk modifikasi tekstur, penggunaan pati khusus (specialty starch) dan stabilizer mampu menjaga kerenyahan ayam goreng hingga 8 jam, menghasilkan saus cokelat elastis di suhu ruang, hingga memungkinkan terciptanya keju mozzarella analog, es krim bebas lemak, dan milk skin yogurt. Mengenai arah pengembangan inovasi ini, Country Manager PT Ingredion Indonesia Felix Hamdani menjelaskan, “tidak hanya dari sisi texture innovation, kami juga membawa produk-produk terkait health solutions, terutama sugar reduction, maupun solusi pengurangan kakao, cocoa reduction, serta sugar and salt reduction untuk produk-produk savory, serta kami juga highlight raw material baru kami yaitu Waxy Cassava yang kami kembangkan selama tiga tahun terakhir sebagai suatu plant-based solution untuk berbagai aplikasi produk makanan dan minuman di Indonesia.” “Tantangan utama bagi food and beverage manufacturing di Indonesia adalah bagaimana menciptakan produkproduk yang bisa diterima value-nya oleh konsumen Indonesia dengan taste yang bisa menggabungkan sentuhan lokal dan global,” kata Felix Hamdani. Fri-

35


FOOD INFO | Lintas Pangan

Biospringer Andalkan Yeast Extract untuk Pengurangan Sodium

P

Klik untuk memutar video

rodusen ekstrak ragi global, Biospringer, turut memeriahkan gelaran Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 dengan menyoroti inovasi ingridien pangan unggulnya, yaitu yeast protein (protein ragi). Produk ini ditawarkan sebagai alternatif sumber protein baru di luar kategori hewani dan nabati yang selama ini dominan di pasar Indonesia. “Produk terbaru yang kami highlight di Fi Asia kali ini adalah yeast protein, yaitu sumber protein baru dari ragi. Kami berfokus melakukan edukasi pasar karena yeast protein ini masih tergolong kategori yang sangat baru,” ujar Business Manager Biospringer Indonesia, Adi Kurnia. Selain penguatan akan pemenuhan zat gizi, Biospringer menjawab kebutuhan industri akan tren pangan lebih menyehatkan melalui portofolio yeast extract untuk formulasi pengurangan sodium (salt reduction).

Lewat rangkaian produk umami range, Biospringer memberikan solusi bagi produsen pangan yang ingin mengurangi kadar garam tanpa mengorbankan profil rasa gurih pada produk akhir. Mengenai kepatuhan regulasi di Indonesia, Biospringer memastikan seluruh fasilitas produksinya telah memenuhi standar jaminan produk halal. Pabrik Biospringer di Tiongkok dan Prancis telah tersertifikasi BPJPH, sementara fasilitas produksi barunya di Serbia dijadwalkan menjalani proses audit halal pada pekan ini. Di Indonesia, pendistribusian produk Biospringer ditangani oleh dua mitra resmi, yakni PT Indesso Prima Sentosa dan PT United Chemical Asia. Kehadiran Biospringer di Fi Asia 2026 ini diharapkan dapat mendorong para pelaku industri pangan untuk mengadopsi ingridien yang lebih menyehatkan dan kaya zat gizi. Fri-35 FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

23


FOOD INFO | Lintas Pangan

FOODREVIEW INDONESIA IN-DEPTH SEMINAR

Designing Extended

Shelf Life of Bakery Products

P

erkembangan industri bakeri di Indonesia saat ini berlangsung sangat dinamis. Berbagai inovasi terus bermunculan, mulai dari eksplorasi variasi formulasi, aplikasi filling dan topping, pengembangan premiks, hingga penerapan teknologi kemasan untuk memperpanjang umur simpan produk. Namun, di tengah maraknya inovasi tersebut, kepatuhan terhadap aturan menjadi pondasi utama yang tidak boleh diabaikan. Ketua Tim 24

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Fasilitasi Standardisasi Keamanan, Mutu, dan Manfaat Produk Inovasi Pangan Olahan, Direktorat Standardisasi Pangan Olahan, Badan POM. Lili Defi Z., S.Pt., M.Si menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan ini perlu direncanakan sejak awal “Regulatory compliance perlu dimulai sejak product development, bukan setelah produk selesai,” ujarnya dalam FoodReview Indonesia In-Depth Seminar Designing Extended Shelf Life of Bakery Products yang diselenggarakan oleh FoodReview


FOOD INFO | Lintas Pangan

Badan POM. Lili Defi Z., S.Pt., M.Si, Ketua Tim Fasilitasi Standardisasi Keamanan, Mutu, dan Manfaat Produk Inovasi Pangan Olahan, Badan POM

Indonesia pada 24 September 2026 di IPB International Convention Center, Bogor. Prinsip regulatory by design ini memastikan bahwa pemenuhan standar keamanan dan mutu telah dirancang sejak awal pengembangan produk. Pada tahun 2026, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan serangkaian pembaruan regulasi untuk memperkuat jaminan keamanan pangan nasional. Landasan hukum ini mencakup Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Batas Maksimal Cemaran Mikroba dalam Pangan Olahan, Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2026 tentang Kemasan Pangan, serta Keputusan Kepala BPOM Nomor 70 Tahun 2025 mengenai Perubahan Kategori Pangan. Bagi industri bakeri yang masuk dalam Kategori Pangan 07.0, regulasi ini memberikan kejelasan standar mutu dasar. Sebagai contoh, produk roti tawar disyaratkan memiliki batasan kadar gula total maksimal sebesar 5%, sedangkan biskuit memiliki

ambang batas kadar air tidak melebihi 5%. Selain standar mutu dasar, aspek keamanan Bahan Tambahan Pangan (BTP) dan penanganan cemaran menjadi perhatian mendasar. Penggunaan BTP seperti pengawet, pemanis, maupun penstabil, wajib disesuaikan dengan fungsi teknologinya serta batas maksimal yang diizinkan. Industri juga perlu memperhitungkan BTP ikutan (carry over) yang terbawa dari bahan baku, serta aturan penjumlahan rasio ketika menggunakan kombinasi BTP dari golongan sejenis. Dalam hal batas cemaran, produk olahan terigu siap konsumsi wajib memenuhi ambang batas aman untuk cemaran mikroba, cemaran kimia seperti mikotoksin Deoksinivalenol (DON) maksimal 1000 ppb, serta cemaran logam berat yang meliputi Arsen, Timbal, Merkuri, Kadmium, dan Timah. Untuk merespons berbagai perubahan ini secara efektif, pelaku industri bakeri dituntut menerapkan langkah strategis yang terstruktur. Langkah tersebut dimulai dari pemantauan regulasi baru (monitor), penilaian celah kepatuhan (assess), pengendalian formula dan kemasan (control), hingga verifikasi pengujian laboratorium (verify). Pengelolaan dokumen kepatuhan yang tertib (document) serta perbaikan berkelanjutan (improve) akan memastikan setiap produk tidak hanya menarik dari segi rasa dan penampilan, tetapi juga legal, aman dikonsumsi, dan berdaya saing tinggi. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

25


Memperpanjang masa simpan roti tanpa mengorbankan kualitas

Di tengah ketatnya persaingan industri roti dan kemasan, mempertahankan kesegaran produk dalam jangka waktu lama menjadi tantangan sekaligus kunci keberhasilan bisnis. Masa simpan yang singkat tak hanya memicu tingginya tingkat pembuangan produk, tetapi juga membatasi jangkauan distribusi produsen. Oleh karena itu, penerapan teknologi perpanjangan masa simpan (Extended Shelf Life/ESL) kini menjadi standar baru dalam pengolahan roti modern. Proses staling bukan sekadar masalah kehilangan kelembapan, melainkan proses fisikokimia kompleks yang melibatkan retrogradasi pati dan interaksi gluten-pati, yang menyebabkan tekstur roti memadat, kehilangan kelembutan, serta menurun kesegarannya. Di sisi lain, ancaman kapang dan mikroba menjadi tantangan utama yang membatasi daya simpan. Untuk memperpanjang masa simpan secara efektif, industri menggunakan pendekatan multidimensi, mulai dari formulasi resep, kontrol proses, sanitasi lingkungan, hingga penggunaan bahan pengawet dan improver khusus. Pilihan metode pengawetan, baik secara alami maupun kimia sangat memengaruhi hasil akhir roti. Penggunaan pengawet kimia seperti calcium propionate atau sorbic acid terbukti ampuh menekan

26

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Jessy Poh Jiat Chie, APA Baking Centre Manager Lesaffre

pertumbuhan kapang. Namun, untuk memenuhi preferensi konsumen akan produk bersumber alami (clean label), pendekatan berbasis fermentasi seperti sourdough (adonan asam) dan tepung terigu terfermentasi (fermented wheat flour) menjadi solusi yang semakin diminati. Menjelaskan formulasi khusus untuk roti kemasan, APA Baking Centre Manager Lesaffre, Jessy Poh Jiat Chie, menyampaikan, “Solusi Magimix® Extended Shelf-Life (ESL) dirancang khusus untuk produk roti kemasan dengan target masa simpan 14 hingga 90 hari, mampu meningkatkan pengerjaan adonan (machinability), serta mempertahankan kelembutan ekstra dan tekstur remah putih (white crumb) secara konsisten selama masa penyimpanan,” ujarnya. Uji laboratorium menunjukkan bahwa penggunaan aditif pengontrol kelembutan seperti 2.5% ESL mampu menahan tingkat pengerasan roti (hardness) secara signifikan hingga kurun waktu 4 bulan dibandingkan adonan biasa (blank).


Irwan S. Widjaja, Ketua GAPMMI Bidang Pembinaan dan Pengembangan UMKM

Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB University

Strategi lain yang kian populer untuk menjaga ketersediaan produk segar adalah penggunaan adonan beku (frozen dough) dan rantai dingin. Dengan dukungan ragi khusus tahan beku (semi-dry frozen yeast) serta penggunaan sourdough, produsen dapat menghentikan sementara proses fermentasi tanpa merusak kualitas glutennya. Saat dipanggang di titik penjualan atau oleh konsumen, roti tetap menghasilkan aroma, rasa, dan tekstur segar layaknya baru dibuat. Dengan memadukan formulasi pengawetan yang tepat, enzim kelembutan, dan teknik penanganan adonan yang optimal, produsen roti dapat memperluas jangkauan pasar dan menekan biaya operasional tanpa menurunkan kepuasan konsumen.

kemasan di Indonesia yang mencapai 7–8% per tahun, di mana risiko kerugian akibat pengembalian produk (wastage/ retur) pada industri tradisional masih berkisar antara 12% hingga lebih dari 15%. Sebagaimana dipaparkan oleh Irwan S. Widjaja, Ketua GAPMMI Bidang Pembinaan dan Pengembangan UMKM, optimalisasi formulasi yang dipadukan dengan kemasan active/high-barrier mampu menekan tingkat retur hingga di bawah 3%, sekaligus mendukung integrasi sistem pembekuan adonan (frozen dough) untuk efisiensi distribusi pasar ekspor. “Menerapkan strategi extended shelf life secara tepat tidak hanya menjaga kualitas dan kesegaran roti hingga ke tangan konsumen, tetapi juga menjadi kunci utama bagi produsen dalam menghemat biaya operasional, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan daya saing bisnis secara berkelanjutan,” ungkapnya. Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan,

Penerapan teknologi untuk memperpanjang masa simpan Penerapan teknologi perpanjangan masa simpan ini kian krusial mengingat pesatnya pertumbuhan pasar roti

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

27


IPB University mengatakan bahwa penerapan hurdle technology (teknologi halang rintang) pada produk bakeri merupakan langkah strategis untuk menjaga kesegaran dan memperpanjang masa simpan produk tanpa merusak rasa maupun teksturnya. Penerapan metode ini harus disesuaikan dengan jenis produk dan penyebab utama kerusakannya. “Strategi yang baik harus bisa mencegah faktor utama penyebab kerusakan roti tanpa memicu masalah baru pada kualitas lainnya,” ungkap Prof. Purwiyatno. Oleh karena itu, penting untuk memahami masalah utama pada tiap produk terlebih dahulu, apakah cepat berjamur, mudah mengeras, berbau tengik, atau kehilangan kerenyahannya akibat kelembapan. Tahap awal dapat dimulai dari penyempurnaan formulasi bahan serta menjaga kebersihan selama proses produksi. Pada produk roti basah dan kue, pengemulsi dapat membantu mempertahankan kelembutan tekstur. Pada formulasi tertentu, penggunaan adonan fermentasi (sourdough) dapat membantu menghambat pertumbuhan kapang, bergantung pada kultur dan kondisi produk. Selain itu, penggunaan 28

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

bahan pengawet yang sesuai ketentuan dapat membantu menghambat pertumbuhan kapang, sedangkan penerapan higiene pascapemanggangan penting untuk mencegah kontaminasi ulang selama pendinginan dan pengemasan. Langkah tersebut kemudian dilengkapi dengan inovasi pengemasan dan penyimpanan yang tepat. Penggunaan kemasan dengan integritas segel yang baik dan permeabilitas oksigen yang rendah, disertai teknologi penyerap oksigen (oxygen scavenger) yang sesuai, dapat membantu menghambat pertumbuhan kapang. Pemilihan material kemasan dengan sifat penghalang terhadap uap air perlu disesuaikan dengan karakteristik produk. Kombinasi formulasi yang tepat, proses yang higienis, serta sistem pengemasan yang sesuai dapat membantu mempertahankan mutu dan memperpanjang masa simpan produk bakeri. Penerapan hurdle technology secara terpadu bukan hanya sekadar memperpanjang daya simpan, melainkan juga investasi penting dalam menjaga standar kualitas dan daya saing produk bakeri di pasaran. “Dengan memadukan kontrol bahan baku, proses produksi yang higienis, serta teknologi pengemasan yang tepat, para produsen dapat menekan risiko kerugian akibat produk rusak sekaligus memberikan jaminan mutu dan keamanan pangan bagi konsumen,” pungkasnya. Fri-35


ADVERTORIAL

Eriez to Launch European Quick Ship Programme at PPMA Total Show 2026

E

riez® will introduce its Quick Ship programme for European customers and feature metal detection, magnetic separation and X-ray inspection technology at Stand D102 during PPMA Total Show 2026, Sept. 22–24 at NEC Birmingham. At the show, visitors can see Eriez equipment in action through demonstrations focused on contaminant control, product integrity and efficient packaging operations. The X8-SF Metal Detector is the latest addition to the PrecisionGuard™ X8 platform. Designed for challenging food applications, its simultaneous-frequency technology helps improve sensitivity when product effect makes conventional detection more difficult. The XRP-360 X-ray Inspection System provides an added layer of protection by identifying foreign materials that may not be detected by metal detection systems alone.

A dedicated Quick Ship display will feature select magnetic separation and metal detection equipment now available for expedited shipment across Europe, including grate magnets, magnetic traps and related components. Technical experts will be available throughout the exhibition to discuss application-specific needs. Visitors are invited to stop by Stand D102 to explore Eriez solutions for inspection, separation and material handling. For more information, visit Eriez.com/ FoodPackagingAndProcessing. Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, flotation, metal detection, X-ray inspection, and material handling equipment. The company’s 1,000+ employees are dedicated to providing trusted technical solutions to the mining, food, recycling, packaging, aggregate, and other processing industries. Headquartered in Erie, Pennsylvania, USA, Eriez designs, manufactures, and markets on six continents through 12 wholly owned international subsidiaries and an extensive sales representative network. For more information, visit eriez.com. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

29


ADVERTORIAL

Product Purity Six Ways to Attack Metal Contamination to Improve Product Purity and Avoid Recalls Craig Lorei Global Market Manager – Light Industry

T

he responsibility for product purity is shared by processing plants and their suppliers. Every participant throughout the process must ensure foreign contaminants are not present in the end products companies deliver to their customers. This white paper reveals the best practices processing plants use today for achieving the highest product purity and avoiding costly tramp metal damage.

30

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Readers will learn about the relationship between magnetic separation and metal detection. They will gain a better understanding of the importance of emphasizing product purity and equipment protection from the receiving dock to the shipping department. Furthermore, readers will discover why it is essential to engage in continuous training to stay updated on product safety regulations and process improvements.


ADVERTORIAL

1

It Starts with Magnetic Separation. Magnetic separators are very effective in applications where the goal is to extract ferrous and certain stainless steel before the food product is passed through metal detectors. The magnetic separation industry is constantly evolving to meet customer demands. Manufacturers like Eriez® work to improve their products by applying state-of-the-art material sciences, engineering developments and manufacturing processes. Advancements in magnetic separators are made on a regular basis. For example, an independent research team proved Eriez’ new rare earth magnets are able to remove metal contamination with a pulltest strength that is 13 to 40 percent stronger than other commercially available models. Eriez commissioned The Pennsylvania State University (Penn State), to determine which commercial tube magnet most effectively removes dangerous ferrous metal and weakly magnetic contaminants from process flows. Thirteen tube magnets from various suppliers were stripped of brand identity and then provided to Penn State, the Behrend College, for testing. According to conclusions noted by Penn State, the pull force of the Xtreme® RE7 Tube Circuit was substantially stronger than any of the other samples. Eriez’ magnet was also among the best performers in terms of magnetic flux density. (To download the full

Penn State performance report, visit https://www.eriez.com// RE7PennStatePerformance.pdf.) These rare earth magnetic separators—with their strong circuits—improve product purity as soon as they are installed by removing more harmful metal from food. This magnet circuit is now incorporated into tubes, grates and liquid line traps. It surpasses previous models and competitive units with greater holding force and improved separation efficiency. The increased power has a direct and positive impact on product purity and plant productivity. These advanced magnets incorporate a balance between high gauss and high pull force to influence tramp metal trajectory and hold onto the particulates, even during a washoff process.

2

Monitoring Product Purity from Receiving to the Shipping Dock. Many confectionery companies have installed a series of liquid line B-Traps or dry pneumatic RF cartridge magnets at the processing door of their plant. When the tanker truck comes to the side of the building and hooks up the hose, the B-Traps or RF cartridges on the other side of building/wall ensure metal is not entering the plant. When it comes to food safety, magnetic separation and metal detection should be used throughout the entire process, especially at the FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

31


further improve product quality and protection. Plant-wide audits can also be valuable.

3

32

beginning. Oftentimes food processing companies are most interested in the end or final package. That may be satisfactory, but consider the added quality possible if the product is monitored from the start of the process. Some companies understand what needs to be done, while others don’t. While some may claim ignorance, the law doesn’t view this as a viable excuse. All plants have a responsibility to do their own due diligence. For example, a cereal processing plant relies on their sugar and flour suppliers to deliver clean, contaminant-free ingredients. Once the product enters the plant, the processor assumes responsibility for the ingredients. There is great value in conducting an annual audit to see what changes are needed to improve product purity and protect equipment. Based on the latest advancements in technology, there are new options to FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Metal Detectors Enhance Food Safety. Plant operators shouldn’t assume that every supplier is sending a perfectly clean product. Realistically, there are many opportunities for contamination to occur before products arrive at the processing plant. Metal can come off the walls of a rail car. A fastener, nut or bolt may fall off a truck. A clamp can fall through the grate in the floor. It’s surprising how often these things happen. Even with safety regulations in place, many plant workers don’t check items for contamination upon arrival. Proactive companies never assume complete cleanliness, so they install magnetic separation equipment and metal detectors at the very beginning of their processes. Fortunately, the number of companies who invest in these proactive measures is growing. For example, a company in the southern U.S. placed a vertical metal detector below their silo, but they didn’t want it to reject contaminated product. Rather, they decided to count the amount of metal in the product coming into their plant from a major supplier. They wanted to hold the supplier accountable. In this case, one rail car had 10 pieces of metal in the shipment. This was obviously not acceptable.


Today’s metal detection products combine a precision mechanical design with state-of-the-art electronics, multiple frequency range, vibration immunity and complex algorithms to detect the smallest metals in difficult products. Industrial metal detectors are designed for harsh wash-down environments.

In a survey, field representatives and food processors determined what they sought in terms of today’s metal detection systems. Here is a brief report: - Customers seek metal detection systems for demanding applications. They must work in extreme low and high temperatures and also be able to withstand severe high-pressure washdown/ environments. - In a world where contamination results in recalls, processors stress the importance for monitoring, record keeping and sophisticated electronics. - Food processors want to detect the smallest contaminant possible, while minimizing the number of false rejects.

4

Metal Detectors Take Sensitivities to a New Level. New metal detection systems have the ability to find smaller metal contaminants than previous metal detectors, even in difficult applications. The Eriez Xtreme® Metal Detector, for example, ships with

factory pre-sets for various products based on actual testing and the provided application data. With the Xtreme software and graphical interface, customers can detect contaminants at levels never before possible. With typical metal detection technology, these contaminants went undetected. Be certain to evaluate the software when you compare metal detectors before making a final decision.

5

Remote Monitoring and Record Keeping are Critical. Government guidelines drive companies to create policies, procedures and protocols to ensure food safety. New metal detector systems provide reject log monitoring along with remote notifications to processors when a problem exists. Both are critical when it comes to safety and existing food safety regulations. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

33


Today, it is critical to have records as confirmation and regular reporting. Even 24/7 monitoring from remote locations is possible. It is vital to monitor product purity from the time the product enters the plant until the time it leaves the shipping department. This continual data logging is imperative for corrective actions and auditing.

6

34

Investigative Food Safety Training and Services Provided by Manufacturers. Companies like Eriez can help processors with their toughest metal contamination challenges. A number of companies are at the front line when serious metal fine problems appear. As part of the purchase, customers not only receive high performance magnetic separators and metal detectors, they also have access to training. Training takes a number of forms, including in-plant training, webinars and mobile training units. In more and more cases, manufacturers provide tutorial videos, case studies, product literature, installation and operation manuals and start-up installation support. The best companies work with customers to understand their goals. What is the particular application? What size metal needs to be removed? Is there a grinder or mill? For larger material, a large ceramic magnet might work fine. In other cases, a different solution may be in order. FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Positioning is important. For example, a rare earth magnet should be placed ahead of the mill. But on the other side of the mill, near the grinder, another rare earth magnet should be installed to remove the fine particles that may have escaped the first magnet. Manufacturers must ask the right questions to make sure customers are educated and get what they need. Customers often lack understanding or have serious misconceptions about metal removal and detection.

Conclusion

There are many reasons why new highpowered rare earth magnetic separators, metal detectors and smart manufacturing techniques have raised the bar when it comes to product purity and equipment protection. Each day, diligent companies avoid recalls and damaged reputations. Companies must look at technology to be certain they are achieving the highest product purity possible. Proper support and training enhances value beyond the price of the purchased equipment for years to come. Look for manufacturers who have developed a highly-skilled worldwide representative network that is ready to meet any processing and production challenges. Reduce the chance for tramp metal contamination, improve product purity and educate employees. Following these recommendations will help processors avoid product recalls, damaged equipment and lost productivity.

W


WEBINAR WEBINAR

FOODREVIEW INDONESIA

Sensory Science for Product Quality and Consumer Preference Speaker:

Prof. Dr. Dede Robiatul Adawiyah, M.Si.

15

th

Divisi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University & SEAFAST Center, IPB University

Zoom Video Communications

Oct 2026 Thursday

Key topic to be discussed:

10.00-12.00 WIB

• Fundamentals of Sensory Evaluation in Food Industry • Sensory Science in Product Reformulation & QA

REGISTER NOW!

• Linking Sensory Profiles to Consumer Preference

TICKET

Rp250.000/person (Early Bird until 9 Oktober 2026) Rp500.000/person | Rp1.250.000/3 person Free for CORPORATE PREMIUM PACKAGE Membership

https://tr.ee/sensorywebinar26

Organized by: Registration info: Email: seminar@foodreview.co.id Fitria: 0856 9755 7535 / Fetty: 0811 1190 039


OVERVIEW

OPtimalisasi Ingridien:

Kunci Kualitas dan Daya Saing Produk Bakeri Oleh Endang Yuli Purwani Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, BRIN

36

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026


Formulasi yang sama tidak selalu menghasilkan mutu produk bakeri yang sama. Volume, tekstur, aroma, dan masa simpan dipengaruhi oleh karakteristik bahan baku, interaksi antaringridien, serta kondisi pengolahan dan penyimpanan. Karena itu, optimalisasi ingridien perlu didasarkan pada pemahaman fungsi dan interaksinya dalam sistem adonan. Pemilihan jenis dan jumlah ingridien yang sesuai, disertai pengendalian proses, dapat membantu menghasilkan struktur, tekstur, dan cita rasa yang diinginkan serta mempertahankan mutu produk secara konsisten.

D

alam industri bakeri, pemilihan ingridien tidak cukup hanya berdasarkan fungsi tunggal setiap bahan. Karakter tepung, jumlah air, jenis gula dan lemak, aktivitas ragi, serta penggunaan hidrokoloid, pengemulsi, dan enzim saling berinteraksi selama pencampuran, fermentasi, pemanggangan, dan penyimpanan. Pemahaman terhadap interaksi tersebut menjadi salah satu kunci menghasilkan produk yang konsisten.

Tepung: fondasi struktur produk

Tepung terigu bukan sekadar “tepung putih”. Kandungan protein, terutama glutenin dan gliadin, berperan penting dalam menentukan karakter adonan. Ketika tepung dicampur dengan air dan mengalami pencampuran atau pengulenan, kedua protein tersebut membentuk jaringan gluten. Jaringan ini berperan menahan gas hasil fermentasi

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

37


serta mencegah penggumpalan dan pertumbuhan kapang. Peluang penggunaan tepung nonterigu juga semakin terbuka, antara lain tepung beras, singkong, sorgum, jagung, dan bahan berpati lokal lainnya. Karena tidak membentuk jaringan gluten seperti terigu, formulasi bakeri non-terigu perlu memperhatikan kemampuan adonan mempertahankan gas. Hidrokoloid dan ingridien fungsional lain dapat digunakan untuk membantu membangun struktur dan menghasilkan karakter produk yang sesuai.

Ragi: penggerak fermentasi

sehingga adonan dapat mengembang dan mempertahankan bentuk. Tepung dengan kandungan protein relatif tinggi banyak digunakan untuk produk roti yang membutuhkan struktur gluten lebih kuat, sedangkan tepung berprotein lebih rendah lebih sesuai untuk produk yang menghendaki tekstur rapuh dan lembut, seperti sebagian jenis kue dan kukis. Selain komposisi, ukuran partikel, kadar air, dan kondisi penyimpanan tepung juga memengaruhi performanya. Tepung sebaiknya disimpan dalam kondisi kering dan tertutup untuk menjaga mutu 38

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Ragi (yeast) merupakan mikroorganisme hidup yang mengubah gula yang tersedia menjadi karbon dioksida dan alkohol melalui fermentasi. Karbon dioksida kemudian ditahan oleh struktur adonan dan berkontribusi terhadap pengembangan volume. Karena itu, kondisi ragi sangat menentukan hasil akhir. Suhu dan waktu fermentasi perlu dikendalikan. Ragi yang bekerja pada kondisi sesuai akan menghasilkan pengembangan dan cita rasa yang lebih seimbang. Fermentasi yang lebih lambat juga dapat memberikan kesempatan lebih besar bagi terbentuknya senyawa aroma dan cita rasa. Sourdough merupakan contoh sistem fermentasi yang menghasilkan karakter rasa khas, termasuk sensasi asam, dibandingkan roti tawar konvensional.


Lemak: pembentuk tekstur dan sensasi mulut

Mentega, margarin, dan minyak berkontribusi terhadap kelembutan, mouthfeel, dan karakter tekstur produk bakeri. Dalam proses baking, lemak dapat memengaruhi interaksi antarkomponen adonan serta membantu menghasilkan struktur yang lebih lembut. Kondisi lemak saat pencampuran juga penting. Pada pastri, lemak yang tetap cukup padat selama pembentukan adonan dapat membantu menghasilkan lapisan. Ketika dipanggang, lemak meleleh dan berkontribusi terhadap pembentukan struktur berlapis dan renyah. Pada kue dan kukis, proses

creaming—pengocokan lemak bersama gula—dapat memerangkap udara dan membantu pengembangan awal produk.

Gula: lebih dari sekadar pemanis

Gula berfungsi sebagai pemanis, tetapi perannya dalam bakeri jauh lebih luas (Tabel 1). Gula dapat menjadi sumber gula yang tersedia bagi ragi, membantu mempertahankan kelembapan karena sifat higroskopisnya, serta berkontribusi terhadap pembentukan warna dan aroma selama pemanggangan melalui reaksi pencokelatan, termasuk Maillard dan karamelisasi. Jenis dan konsentrasi gula akan memengaruhi karakter akhir produk.

Tabel 1. Ragam jenis dan fungsi gula dalam produk bakeri Jenis gula

Sukrosa/gula pasir Gula halus/icing sugar Gula kastor Gula aren/brown sugar Dekstrosa/glukosa Trehalosa

Fungsi utama

Aplikasi/karakter produk

Pemanis dan sumber gula yang dapat dimanfaatkan dalam fermentasi

Roti, donat, kue dan berbagai bakeri

Ukuran kristal lebih kecil sehingga relatif cepat larut

Kue dan produk yang membutuhkan dispersi gula baik

Mudah terdispersi dan larut

Memberikan gula sekaligus komponen pembentuk cita rasa dan warna khas

Sumber gula sederhana; berkontribusi pada fermentasi dan pencokelatan Membantu pengendalian kristalisasi dan mempertahankan kelembapan

Kukis, kue, icing dan taburan

Kukis, roti dan kue

Roti dan produk bakeri skala industri Produk bakeri tertentu, termasuk produk yang mengalami pembekuan

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

39


Pemanis rendah kalori seperti stevia dan sukralosa memiliki fungsi yang berbeda dari gula yang dapat dimanfaatkan ragi. Karena itu, substitusi gula dengan pemanis intensitas tinggi perlu dirancang bersama komponen formulasi lain agar mutu tekstur, volume, dan fermentasi tetap sesuai target produk.

Telur dan cairan: mengatur struktur dan konsistensi adonan

Telur berperan sebagai pengemulsi sekaligus sumber protein. Komponen telur membantu mempertemukan fase air dan lemak, sementara proteinnya berkontribusi terhadap struktur ketika mengalami pemanasan. Kondisi telur saat pencampuran juga dapat memengaruhi kemudahan terbentuknya emulsi dan konsistensi adonan. Air atau susu bukan sekadar pelarut.

40

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

Jumlah cairan menentukan tingkat hidrasi tepung, konsistensi adonan, dan pembentukan jaringan gluten pada sistem berbasis terigu. Suhu cairan juga perlu dikendalikan karena dapat memengaruhi aktivitas ragi dan komponen biologis lain dalam adonan.

Garam: pengendali rasa dan fermentasi

Meskipun digunakan dalam jumlah relatif kecil, garam berperan penting dalam memperkuat cita rasa sekaligus membantu mengendalikan aktivitas fermentasi. Konsentrasi garam yang tepat membantu menghasilkan perkembangan adonan yang lebih terkendali dan karakter rasa yang seimbang. Kontak langsung garam dalam konsentrasi tinggi dengan ragi dapat menghambat aktivitas ragi, sehingga pengaturan urutan dan cara pencampuran perlu diperhatikan.


Enzim: teknologi untuk meningkatkan performa bakeri

Enzim merupakan biokatalis yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan proses pengolahan dan meningkatkan karakteristik mutu produk bakeri. Karena bekerja secara spesifik terhadap substrat tertentu, enzim dapat diarahkan untuk memodifikasi pati, protein, serat, atau lipid sehingga memengaruhi sifat adonan, fermentasi, volume, tekstur, dan kestabilan selama penyimpanan. Beberapa enzim yang digunakan dalam aplikasi bakeri antara lain

α-amylase, xylanase, lipase, protease, glucose oxidase, dan maltogenic amylase (Tabel 2). Masing-masing memiliki target dan fungsi yang berbeda sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan jenis tepung, proses, formulasi, serta target mutu produk. Pada produk roti, kombinasi enzim yang tepat dapat membantu menghasilkan volume, struktur pori, kelembutan crumb, dan kestabilan tekstur yang lebih konsisten. Namun, penggunaan enzim bukan sekadar menambahkan satu bahan ke dalam resep. Dosis, jenis enzim, karakter bahan baku, kadar air, waktu dan suhu proses

Tabel 2. Jenis enzim dalam aplikasi bakeri Enzim

Target/fungsi utama

α-Amylase

Menghidrolisis pati

Lipase

Memodifikasi lipid

Xylanase Protease

Glucose oxidase

Maltogenic amylase

Memodifikasi arabinoxylan Memodifikasi protein gluten Memengaruhi jaringan protein melalui oksidasi Memodifikasi fraksi pati selama proses dan penyimpanan

Dampak yang diharapkan Mendukung fermentasi, pengembangan, dan pencokelatan Membantu pengelolaan air dan retensi gas dalam adonan Mendukung struktur dan kelembutan crumb

Mengatur keseimbangan elastisitas dan ekstensibilitas adonan Membantu penguatan struktur adonan pada formulasi tertentu

Membantu mempertahankan kelembutan dan memperlambat staling

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

41


harus dipertimbangkan secara terpadu. Pendekatan berbasis enzim juga dapat mendukung efisiensi proses dan membantu mengurangi kebutuhan terhadap sebagian bahan pembantu proses, tergantung pada formulasi dan target produk. Karena itu, enzim menjadi salah satu teknologi penting dalam pengembangan bakeri modern.

Ingridien untuk bakeri berbasis pangan lokal

Diversifikasi produk bakeri memberikan peluang lebih besar bagi pemanfaatan bahan pangan lokal seperti beras, singkong, sorgum, jagung, dan sagu. Tantangannya adalah setiap bahan memiliki karakteristik fungsional yang berbeda dari tepung terigu, terutama dalam pembentukan struktur dan kemampuan mempertahankan gas. Pengembangan bakery berbasis pangan lokal karena itu membutuhkan pendekatan formulasi, bukan sekadar mengganti tepung terigu dengan

42

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

tepung lain. Kombinasi tepung, pati, protein, hidrokoloid, emulsifier, lemak, dan enzim dapat dirancang untuk memperoleh karakter adonan dan produk yang sesuai. Pendekatan ini membuka peluang inovasi produk sekaligus meningkatkan nilai tambah bahan pangan lokal.

Memilih ingridien sesuai masalah produk

Mengatasi kendala tekstur dan daya simpan produk bakeri memerlukan pendekatan formulasi yang presisi. Berikut adalah panduan identifikasi masalah produk beserta pendekatan solusi ingridien fungsional yang dapat diaplikasikan (Tabel 3).

Sinergi ingridien menentukan mutu akhir

Pada akhirnya, tidak ada satu ingridien yang dapat menjamin semua atribut mutu bakeri. Produk yang unggul merupakan hasil interaksi antara bahan


Tabel 3. Panduan identifikasi masalah produk dan solusinya Masalah produk

Volume rendah

Crumb cepat keras

Tekstur terlalu alot

Produk cepat kering Warna permukaan kurang menarik

Kemungkinan faktor Retensi gas dan struktur adonan kurang optimal Perubahan struktur pati selama penyimpanan Jaringan gluten terlalu kuat atau formulasi kurang seimbang Retensi air kurang

Pendekatan ingridien Evaluasi tepung, hidrokoloid, emulsifier, dan enzim yang sesuai Pertimbangkan maltogenic amylase dan pengaturan formulasi Evaluasi kadar protein, lemak, cairan, dan penggunaan protease

Ketersediaan gula dan kondisi pemanggangan

Bakeri non-terigu sulit Tidak terbentuk jaringan mengembang gluten

baku, formulasi, proses, dan kondisi penyimpanan. Tepung menyediakan fondasi struktur; air mengatur hidrasi; ragi menghasilkan gas fermentasi; lemak dan gula membentuk karakter tekstur serta cita rasa; telur membantu emulsifikasi dan struktur; garam mengendalikan rasa dan fermentasi; sedangkan enzim memberikan pendekatan yang lebih spesifik untuk mengatur performa adonan dan mutu produk. Bagi industri bakeri, pemilihan ingridien sebaiknya dimulai dari target

Optimasi gula, hidrokoloid, lemak, dan kadar air Evaluasi jenis gula, formulasi, serta kondisi proses Kombinasikan tepung/pati lokal dengan hidrokoloid, emulsifier, protein, atau enzim sesuai kebutuhan

produk: apakah yang diutamakan volume, kelembutan, kerenyahan, aroma, umur simpan, atau konsistensi proses. Dengan memahami fungsi dan interaksi setiap ingridien, formulasi dapat dikembangkan secara lebih terarah. Bagi pengembangan bakeri berbasis pangan lokal, pemahaman ini sekaligus menjadi kunci untuk mengubah bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah dengan mutu yang dapat bersaing.

AGENDA PANGAN

Indonesia 20-23 ALLPack JIExpo, Kemayoran, Jakarta Okt 2026

INDONESIA 3-5 HEATECH JIExpo, Kemayoran, Jakarta

INTERFOOD 4-7 KRISTA NICE PIK 2, Tangerang

Nov 2026

Nov 2026

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

43


ASOSIASI Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia

GAPMMI dan Fi Asia Indonesia 2026: Sinergi Regulasi, Riset, dan Inovasi Ingridien untuk Produk yang Lebih Menyehatkan

U

Foto Bersama di Seminar GAPMMI - Fi Asia 16 Sept 2026

paya mendorong transformasi industri pangan Indonesia menuju produk yang lebih menyehatkan tanpa mengorbankan cita rasa menjadi fokus utama dalam Seminar GAPMMI bersama Food Ingredients Asia Indonesia (Fi Asia) 2026 yang diselenggarakan pada 16 September 2026 di Sumatra Room, Hall D2 JIExpo Kemayoran, Jakarta. Seminar bertajuk “Reformulation Solutions for Better Nutrition and Great Taste in Indonesia” mempertemukan regulator, akademisi, dan pelaku industri untuk membahas arah masa depan inovasi pangan nasional. Kegiatan yang diselenggarakan oleh GAPMMI ini menghadirkan narasumber dari Badan POM RI, IPB University, serta PT Jerindo Sari Utama. Ketiganya memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai tantangan dan peluang reformulasi pangan di tengah

44

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

meningkatnya tuntutan konsumen terhadap produk yang lebih bergizi, aman, dan berkelanjutan. Dalam paparannya, Latifah, S.Si, Apt., M.K.M., pejabat di lingkungan Direktorat Standardisasi Pangan Olahan Badan POM RI, menegaskan bahwa pengembangan inovasi pangan harus berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap regulasi keamanan pangan. BPOM terus memperkuat kerangka regulasi terkait bahan tambahan pangan (BTP), perisa, serta pemanfaatan bahan alam inovatif guna mendukung hilirisasi inovasi pangan nasional. Selain itu, BPOM juga tengah melakukan revisi sejumlah regulasi untuk mengakomodasi perkembangan teknologi dan kebutuhan industri pangan yang semakin dinamis. Dari sisi akademik, Prof. Dr. Nuri Andarwulan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan serta SEAFAST Center IPB University menyoroti berbagai tren


global yang tengah membentuk arah pengembangan produk pangan modern. Menurutnya, industri pangan dunia bergerak menuju formulasi pangan fungsional, penguatan klaim kesehatan, penggunaan protein nabati, praktik keberlanjutan melalui upcycling, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan produk. Namun demikian, keberhasilan suatu inovasi tetap bertumpu pada kemampuan menghadirkan pengalaman sensori yang disukai konsumen. “Konsumen tidak ingin berkompromi antara manfaat kesehatan dan kenikmatan rasa,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam seminar tersebut. Sementara itu, dari sisi industri ingridien, PT Jerindo Sari Utama bersama mitra teknologi globalnya memaparkan berbagai solusi reformulasi yang memungkinkan pengurangan gula tanpa mengurangi tingkat penerimaan konsumen. Presentasi bertajuk “Ingredients as Enablers: Elevating Food Innovation for a Healthier, More Enjoyable Future” menjelaskan bagaimana kombinasi pemanis alami seperti stevia generasi terbaru dan teknologi flavour modulation dapat membantu menciptakan produk dengan kandungan gula yang lebih rendah namun tetap mempertahankan profil rasa yang diharapkan konsumen. Paparan tersebut relevan dengan perubahan perilaku konsumen Indonesia, khususnya generasi Z dan milenial yang semakin sadar kesehatan namun tetap menginginkan cita rasa optimal. Data

yang dipresentasikan menunjukkan meningkatnya minat terhadap pemanis alami, clean label, serta produk yang mendukung gaya hidup sehat. Tren ini diperkirakan akan semakin kuat sejalan dengan berkembangnya kebijakan pelabelan gizi dan upaya pengurangan konsumsi gula di berbagai negara, termasuk Indonesia. Seminar ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara regulator, dunia akademik, dan industri dalam membangun ekosistem inovasi pangan yang berdaya saing global. Melalui sinergi tersebut, Indonesia diharapkan dapat mempercepat pengembangan produk pangan yang tidak hanya memenuhi tuntutan regulasi, tetapi juga menjawab kebutuhan konsumen modern akan produk yang lebih menyehatkan, aman, berkelanjutan, dan tetap lezat. Sejalan dengan pesan penutup dari BPOM, GAPMMI diharapkan terus menjadi wadah komunikasi, edukasi, dan kolaborasi yang menjembatani pemerintah dan pelaku usaha dalam mewujudkan kemandirian serta daya saing industri pangan nasional. Fri-27 Sekretariat GAPMMI ITS Office Tower Lt. 8 Unit 16, Nifarro Park Jl. Raya Pasar Minggu KM. 18, Jakarta Selatan 12510 Telp/Fax. (021) 29517511; Mobile. 08119322626/27 Hp. 08156720614 Email: gapmmi@cbn.net.id Website: www.gapmmi.id

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

45


INGRIDIEN

Pengembangan Produk Bakeri Tinggi Serat Oleh Widya Dwi Rukmi Putri Ketua Patpi Cabang Malang Departemen Ilmu Pangan dan Bioteknologi Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem, Universitas Brawijaya 46

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026


Produk bakeri saat ini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari pola konsumsi masyarakat karena praktis, tersedia dalam banyak ukuran, bentuk, maupun rasa. Roti seringkali digunakan sebagai menu pokok, makanan selingan atau jajanan. Metode pemasaran, pengemasan dan penyajian semakin memperluas kebutuhan konsumen akan produk bakeri ini.

P

erkembangan perhatian konsumen saat ini adalah produk-produk pangan yang lebih menyehatkan sehingga inovasi produk juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan konsumen tersebut. Produk bakeri dengan kualitas sensori disukai dan tinggi serat adalah salah satu produk menyehatkan yang saat ini menjadi pertimbangan besar bagi konsumen dalam membeli.

World Health Organization (WHO) juga menekankan bahwa asupan serat pangan alami paling sedikit 25 g per hari bagi orang dewasa. Hal ini memberikan ruang yang terbuka bagi reformulasi produk bakeri, akan tetapi label sehat harus didukung oleh komposisi produk secara keseluruhan dan bukan hanya dari satu ingridien unggulan. Selain itu atribut sensori tetap FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

47


menjadi salah satu yang mendorong konsumen untuk memilih dan membeli berulang. Tantangan teknologi adalah meningkatkan nilai kesehatan dengan kaya serat tanpa menurunkan kualitas produk bakeri yang lembut, elastis dengan warna dan penampilan yang menyenangkan.

Pentingnya produk bakeri tinggi serat

Serat pangan berperan dalam mempertahankan fungsi saluran pencernaan dan keteraturan pengeluaran sisa metabolisme. Secara umum, serat dapat difermentasi oleh mikrobiota usus dan menghasilkan metabolit yang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya adalah asam lemak rantai pendek (short chain fatty acid), seperti asetat, propionat dan butirat. Serat larut yang memiliki kemampuan membentuk viskositas tinggi akan memperlambat pengosongan lambung dan memodulasi penyerapan zat gizi, sedangkan serat yang tidak larut akan membantu meningkatkan massa sisa pangan tidak tercerna

48

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

yang dikeluarkan dalam bentuk feses. Konsumsi serat yang memadai akan membantu meningkatkan rasa kenyang, mengendalikan asupan gizi dan menjaga kadar gula darah setelah makan, serta membantu mempertahankan kolesterol dalam darah. Efek fisiologis tersebut tergantung pada jenis serat, struktur, kelarutan, viskositas, fermentabilitas, jumlah yang dikonsumsi dan pola makan secara keseluruhan Berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No 1 Tahun 2022, klaim tinggi atau kaya serat pada produk olahan adalah minimal mengandung 6 g/100g bahan. Produk bakeri dapat menjadi salah satu media yang potensial untuk membantu meningkatkan konsumsi serat, karena roti, biskuit, kue, kukis, muffin dan banyak lagi jenisnya menjadi pangan yang banyak dikonsumsi harian baik sebagai makanan pokok atau makanan selingan. Kandungan serat produk bakeri dapat ditingkatkan melalui penggunaan tepung berkadar serat tinggi ataupun sumber serat tambahan lainnya, sehingga konsumsi produk


persyaratan keamanan, standardisasi, stabilitas produk dan penerimaan sensoris. Beberapa sumber serat potensial sebagai ingridien produk bakeri diantaranya adalah:

bakeri tidak hanya memberikan energi tetapi juga berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan serat harian. Penambahan serat pada produk bakeri perlu dikembangkan dengan memperhatikan komposisi gizinya secara keseluruhan, karena memiliki efek peningkatan kebutuhan air dalam adonan, mengganggu pembentukan jaringan struktur, menurunkan volume serta menghasilkan tekstur yang lebih padat atau kasar. Penyesuaian formulasi perlu dilakukan sehingga produk bakeri tinggi serat tetap memiliki karakteristik yang diinginkan konsumen.

Sumber serat sebagai ingridien roti

Penambahan serat pada produk bakeri dapat membuka peluang pemanfaatan komoditas lokal dan bahkan hasil samping pangan, seperti bekatul, dedak, ampas ekstraksi sari buah, kulit buah yang aman dan juga hasil pengolahan sayuran. Kondisi ini berpotensi mengurangi limbah, memperluas pasar komoditas lokal dan mendorong diferensiasi produk, walaupun demikian untuk penggunaan hasil samping harus memenuhi

• Serealia utuh dan fraksi serealia Tepung gandum utuh, dedak gandum, bekatul beras dan sorgum merupakan sumber serat yang dapat ditambahkan untuk bakeri. Gandum utuh dan dedaknya menyediakan serat tidak larut, arabinoksilan serta mengandung komponen bioaktif. Bekatul beras dan sorgum juga mengandung serat yang dapat meningkatkan viskositas, ketidakmampuannya membentuk gluten memerlukan tingkat substitusi dan pengendalian dalam pembentukan strukturnya.

• Kacang-kacangan Tepung kedelai, kacang hijau, kacang merah, kacang tunggak dan jenis kacang-kacangan lainnya dapat menambah serat sekaligus protein, lipid, mineral dan senyawa bioaktif. Penambahan kacang-kacangan dapat menghasilkan aroma khas, perubahan warna, potensi oksidasi lipid serta menimbulkan alergi, perlu menjadi pertimbangan dalam penambahannya serta pencantuman dalam label produk. • Umbi, buah dan sayuran Tepung ubi jalar, ubi kayu termodifikasi (mocaf), tepung pisang, labu, wortel, bit, sayur bayam, seledri dan berbagai hasil samping ampas olahan buah dan sayur, selain FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

49


mengandung serat, pigmen alami, senyawa polifenol juga mengandung pati resisten yang secara fisiologis berperan seperti serat. Penggunaan bahan tersebut dapat sekaligus memberikan nilai tambah visual dan juga fungsional

• Serat larut, serat tidak larut dan pati resisten yang terisolasi Inulin, pati resisten, selulosa, betaglukan terpurifikasi, pektin, fruktooligosakarida ataupun karbohidrat kompleks lainnya dapat digunakan apabila dibutuhkan formulasi penambahan serat yang lebih konsisten dari segi jenis dan jumlah. Serat terisolasi akan lebih mudah distandardisasi daripada tepung utuh, walaupun efek

50

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

teknologinya juga akan berbeda tergantung jenis dan formulasinya. Jenis sumber serat, komponen serta karakteristiknya dapat dilihat pada Tabel 1.

Metode untuk menjaga karakteristik sensoris bakeri tinggi serat

Produk bakeri konvensional berbahan baku tepung terigu yang sudah dimurnikan (white wheat) umumnya kehilangan sebagian komponen serat yang terdapat pada lapisan luar biji selama proses penggilingan. Substitusi sebagian tepung dengan sumber serat dapat menghasilkan produk yang lebih sehat akan tetapi perubahan formula tersebut akan memengaruhi hampir


Tabel 1. Sumber serat, komponen serat utama dan karakteristiknya Sumber serat

Komponen serat utama

Karakteristik serat

Mengandung kombinasi serat larut dan tidak larut, memiliki kemampuan mengikat air, memberikan tekstur dan cita rasa khas serealia utuh

Gandum utuh

Arabinoxilan, selulosa, fruktan

Dedak gandum

Selulosa, lignin, betaglukan, arabinoxilan

Bekatul beras

Selulosa, hemiselulosa, arabinoxilan

Sorgum

Memiliki serat tidak larut dan pati resisten, Serat tidak larut, tidak mengandung gluten, serta memberikan arabinoksilan, betaglukan, warna dan rasa khas tergantung varietasnya serat larut

Ubi jalar, ubi kayu dan ubiubian

Buah berpati yang belum matang (pisang, sukun dll.) Buah, sayur atau ampas pengolahannya

Pati resisten, inulin, glukomanan, oligosakarida

Pati resisten, pektin Pektin, selulosa, hemiselulosa

Didominasi serat tidak larut, berstruktur kasar, memiliki kapasitas menahan air tinggi dan meningkatkan kekerasan apabila ditambahkan dalam jumlah berlebihan Mengandung serat larut dan tidak larut, kemampuan menyerap air dan lemak, mengandung komponen bioaktif dan memerlukan stabilisasi untuk mencegah ketengikan

Mengandung serat larut dan tidak larut, mempunyai kemampuan mengikat air, serta dapat memberikan warna dan rasa manis pada produk Mengandung pati resisten dan pektin, daya ikat air yang cukup tinggi, bersifat prebiotik dan meningkatkan kekentalan adonan

Mengandung serat larut dan tidak larut, daya ikat air tinggi, ukuran partikel relatif besar, dapat membawa warna (pigmen dan senyawa fenolik), aroma, rasa asam atau sepat.

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

51


seluruh tahapan pembuatan bakeri, apalagi untuk bakeri yang non gluten dimana karakteristik pengembangannya cenderung terbatas. Serat merupakan komponen kompleks yang mudah berinteraksi dengan air, protein, pati, lipid, mineral dan bahkan senyawa aromatik. Kemampuan serat dalam menyerap air dapat mengurangi air untuk pembentukan gluten dan gelatinisasi pati, partikel serat yang cenderung besar dan kasar dapat mengganggu matriks jaringan, sedangkan serat yang larut juga dapat meningkatkan viskositas fase cair dan mempersulit pembentukan adonan. Pengendalian permasalahan dalam penambahan serat dapat dilakukan dengan perlakuan pendahuluan pada serat, misalnya melalui prehidrasi, fermentasi, enzimatis, ukuran partikel perlakuan panas ataupun ekstrusi dapat diterapkan untuk memperkecil partikel, memperbaiki kelarutan air serta daya ikat air. Metode yang dipilih harus menyesuaikan dengan jenis serat dan karakteristik produk bakeri yang akan 52

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

dibuat. Beberapa permasalahan yang mungkin muncul dengan penambahan serat dan potensi solusinya ada pada Tabel 2. Keberhasilan dalam menghasilkan produk bakeri tinggi serat dengan kualitas yang lebih baik pada dasarnya ditentukan juga oleh formulasi ingridien-ingridien yang digunakan. Keseimbangan antara jenis dan jumlah serat dengan bahan lainnya seperti air, komponen pengembangan (gluten, gluten analog atau bahan pengembang lainnya), protein atau emulsifier, lemak, hidrokoloid, serta bahan pembentuk rasa dan aroma akan sangat menentukan karakteristik produk bakeri. Modifikasi dalam metode dan waktu pencampuran, serta pengaturan pemanggangan dan pendinginan juga menjadi faktor penting dalam pembentukan karakteristik bakeri yang lebih baik.

Referensi

BPOM. (2022) Peraturan BPOM No.1 Tahun 2022. Ni, Q., Ranawana, V., Hayes, H. E., Hayward, N. J., Stead, D., & Raikos, V. (2020). Addition of Broad Bean Hull to Wheat Flour for the Development of High-Fiber Bread:


20 - 23 OCTOBER 2026 20 - 23 OCTOBER 2026

JIExpo, Kemayoran Jakarta - Indonesia

ExhibitionJIExpo, Hours : 10.00 - 19.00 WIB Jakarta - Indonesia Kemayoran Exhibition Hours : 10.00 - 19.00 WIB

ALLPACK INDONESIA EXPO 2026

The 25th INDONESIA International Exhibition on Processing, ALLPACK EXPO 2026 Packaging, Automation, Handling for Food & The 25th International Exhibition on Processing, Beverage, Pharmaceutical andfor Cosmetics Packaging, Automation, Handling Food & Beverage, Pharmaceutical and Cosmetics Held in Conjunction with

Held in Conjunction with

ALL

Recycle Recycle ALL

THE BIGGEST PACKAGING PROCESSING AUTOMATION EXHIBITION IN SOUTHEAST ASIA Discover the latest in packaging, processing, and automation all in one place.

Connect with leading brands, industry experts, and explore cutting-edge innovations!

THE BIGGEST PACKAGING PROCESSING AUTOMATION EXHIBITION IN SOUTHEAST ASIA REGISTER NOW Discover the latest in packaging, processing, and automation all inmore one place. than

+42 2,000innovations! +90,000industry experts, Connect with leading brands, cutting-edge +1,700 42,000 sqm and explore Exhibiting Companies

Trade Visitors

Total Area

Countries

more than

more than

exhibition area

more than

1,700 companies +1,700

Companies

more than

1,700 companies

90,000 Visitors

+90,000 Trade Visitors

more than

90,000 Visitors

42,000 SQM

42,000 sqm Total Area

exhibition area 42,000 SQM

42 countries

+42

Exhibiting Countries

more than

42 countries

Business Matching

more than 2,000 Businessmore matching

REGISTER NOW

than

2,000 Business Matching

more than 2,000 Business matching

@allpackexpo

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

53

@allpackexpo


Tabel 2. Permasalahan kualitas produk bakeri tinggi serat dan upaya mengatasinya Permasalahan produk

Upaya solusi terkait formulasi dan tahapan proses

Produk terlalu padat dan tidak mengembang

Substitusi serat dikurangi, menggunakan tepung berprotein tinggi (kandungan gluten tinggi), menambahkan emulsifier atau hidrokoloid, menyesuaikan penambahan air; optimalisasi proses pencampuran, fermentasi dan proofing adonan

Produk terlalu kering dan cepat keras Remah kasar dan cenderung rapuh Kesegaran produk cepat menurun Warna permukaan yang pucat atau terlalu gelap Aroma langu dan rasa kurang menarik

Menambahkan air sesuai daya ikat serat, menambahkan hidrokoloid, lemak atau humektan, melakukan prehidrasi serat atau fermentasi, dan pengendalian proses pemanggangan

Menggunakan partikel serat berukuran lebih halus, perlakuan ekstrusi pada serat, menambahkan telur, lemak, emulsifier, hidrokoloid dan mengoptimalkan proses pencampuran pada pembuatan adonan

Menambahkan enzim antistaling, emulsifier, humektan, hidrokoloid atau antioksidan, pengaturan pendinginan yang sesuai setelah pemanggangan, pengemasan yang tepat Menyesuaikan formulasi gula, susu, malt dan bahan sumber serat yang berpigmen, mengendalikan suhu dan waktu pemanggangan, pemanggangan dengan sirkulasi panas merata

Melakukan penyangraian ringan pada sumber serat, penggunaan sourdough atau fermentasi adonan yang cukup, menambahkan senyawa aromatik alami yang kuat, menyeimbangkan penggunaan gula, susu, garam ataupun rempah.

Effects on Physical and Nutritional Properties. Foods, 9(9), 1192. https://doi.org/10.3390/foods9091192 Rathee, S., Singh, R., Paul, P. K., Sehrawat, R., Singh, K. R., & Singh, J. (2023). Modeling the Influence of Pearl Millet on High‐Fiber Bread: An Investigation into Nutrition, Microstructure, Thermal Stability, Crystallinity, Rheology, and Glycemic Response. Starch - Stärke, 76(11–12). https://doi.org/10.1002/ star.202300098

Tabibloghmany, F. S., Tehrani, M. M., & Koocheki, A. (2022). Effects of substitution level and particle size of extruded soybean hull fractions on physicochemical and sensorial properties of high‐fiber pan bread during 54

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

storage. Food Science & Nutrition, 10(12), 4345–4359. https://doi.org/10.1002/fsn3.3027

Timm, M., Offringa, L., Klinken, B. J. van, & Slavin, J. (2023). Beyond Insoluble Dietary Fiber: Bioactive Compounds in Plant Foods. Nutrients, 15(19), 4138. https://doi.org/10.3390/nu15194138 Wójcik, M., Matwijczuk, A., Ślusarczyk, L., & Różyło, R. (2025). The Use of Bamboo Fiber in the Production of High-Fiber, Low-Carbohydrate, and Gluten-Free Bread: Physicochemical and Spectroscopic Properties. Processes, 13(1), 83. https://doi.org/10.3390/ pr13010083


The Number The Number ONE ONE Food Food & Beverage & Beverage Exhibition Exhibition & Conference & Conference in Indonesia in Indonesia

KRISTA KRISTA INTERFOOD INTERFOOD EXPOEXPO 2026 2026 The 17th TheInternational 17th International Exhibition Exhibition on Food on Food & Beverage & Beverage Products, Products, PastryPastry Bakery Bakery

Technology, Technology, Ingredients, Ingredients, Additives, Additives, Services, Services, Horeca, Horeca, Catering Catering Equipments Equipments & Supplies & Supplies

44 - 7- NOVEMBER 7 NOVEMBER 2026 2026 NICENICE - Nusantara - Nusantara International International Convention Convention Exhibition Exhibition PIK 2, PIK Tangerang. 2, Tangerang. Banten Banten Indonesia Indonesia

more than

more than

1,500 1,500

95,000 95,000 Trade Trade Visitors Visitors

Business Business MatchingMatching

more than more1,500 than 1,500 Business Business Matching Matching

more than more than 95,000 95,000 Visitors Visitors +80,000+80,000 sqm sqm Total Area Total Area

exhibition exhibition area area +1000 +1000

Companies Companies

more than more than

+1000+1000 companies companies

80,000 80,000 SQM SQM

+30

+30

Exhibiting Exhibiting

Countries Countries

more than more than 30 Exhibitor 30 Exhibitor

REGISTER REGISTER NOW NOW

Countries Countries

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

55


MINI DIREKTORI GNT Group B.V. EXBERRY® is the leading brand of Coloring Foods for the food and beverage industry. Coloring Foods are made from fruits, vegetables, and edible plants using a physical manufacturing process processed with water. +65 6659 4180

PT KH ROBERTS INDONESIA At KH Roberts, we leverage our deep expertise in flavour science and strong understanding of consumers’ needs to craft future flavours that deliver delight to consumers around the world. 021 87900778 / 021 89700723

info.id@kh-roberts.com

info-singapore@gnt-group.com

www.kh-roberts.com

www.exberry.com

https://www.linkedin.com/company/kh-roberts/

PT. Mitra Kualitas Abadi (Catalyst Consulting) Training, Consulting, Assesment/audit, Mystery Shopping Provider 021-3952 4220 +62 813-8250-7245

info@catalystconsulting.id www.catalystconsulting.id Catalyst Consulting

consulting.catalyst Catalyst Consulting

YOUR PARTNER IN GAMMA AND ELECTRON BEAM (E-BEAM) STERILIZATION, DECONTAMINATION AND POLYMERIZATION.

PT REL-ION STERILIZATION SERVICES

BENEO

(BENEO Singapore - Asia Pacific Pte. Ltd.)

Connecting nutrition and health +65 42 245 8000

Efektif mensterilkan produk pangan, 021-8836 3728 kemasan makanan, kosmetik, alat 021-8836 3729 kesehatan, farmasi, kemasan farmasi, dan cs@rel-ion.co.id produk lainnya. www.rel-ion.co.id

PT. Brenntag We are your food and nutrition partner for innovative and sustainable solutions

contact@beneo.com

021-8836 3728

www.beneo.com

021-8836 3729

10 Science Park Road #03-21 / 22 / 23 / 24 117684 Singapore

cs@rel-ion.co.id

Graha Pratama Building, 17th Floor, Jl. M.T. Haryono Kav. 15 12810 Jakarta Selatan Indonesia

www.rel-ion.co.id

brenntag.com

Eriez Australia Established in 1942, Eriez is a global leader in separation technologies. Our commitment to innovation has positioned us as a driving market force in several key technology areas, including magnetic separation, metal detection and material handling equipment.

56

Efektif mensterilkan produk pangan, kemasan makanan, kosmetik, alat kesehatan, farmasi, kemasan farmasi, dan PT REL-ION STERILIZATION SERVICES produk lainnya.

PT Ogawa Indonesia Ogawa & Co., Ltd. utilizes Japanese natural materials creating flavors and fragrances

021-8904218-19 / +62-811-1977-846

FOOMA JAPAN International Food Machinery & Technology Exhibition +81(3)6809-3745

+613 8401 7400

ade.auliya@ogawa-ogi.net

+81(3)6809-3746

www.eriez.com

https://www.ogawa.net/en/

www.foomajapan.jp

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026


CONNECT WITH US !

www.foodreview.co.id

FOODREVIEW DIGITAL MAGAZINES, SEMINAR, WEBINAR, WORKSHOP & TRAINING

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026

57


Edisi Mendatang | Vol. XXI | Edisi 10, Oktober 2026

Opportunities for Chilled & Frozen Foods

P

ergeseran gaya hidup serba cepat dan meningkatnya permintaan akan kepraktisan kini mendorong pasar produk pangan siap saji dan siap olah (chilled & frozen foods) mengalami pertumbuhan yang signifikan. Konsumen modern tidak hanya mencari kemudahan penyajian, tetapi juga menuntut kualitas sensori yang setara dengan hidangan segar, jaminan keamanan Kendati demikian, industri chilled & frozen foods menghadapi sejumlah tantangan teknis, mulai dari mempertahankan rantai dingin sepanjang penyimpanan dan distribusi hingga menjaga mutu produk. Khusus pada pangan beku, tantangan tersebut mencakup meminimalkan kerusakan struktur dan tekstur akibat pembentukan kristal es serta mengurangi keluarnya cairan saat pencairan (thawing). Menanggapi dinamika dan potensi besar tersebut, FoodReview Indonesia edisi mendatang akan mengulas topik “Opportunities for Chilled & Frozen Foods”. Pembahasan akan mencakup berbagai inovasi teknologi pengolahan dan pembekuan, strategi formulasi ingridien untuk menjaga kualitas tekstur dan rasa, hingga pemanfaatan teknologi kemasan guna memperpanjang masa simpan tanpa mengorbankan nilai gizi. Melalui pemanfaatan sains pangan modern dan strategi formulasi yang tepat, industri diharapkan mampu menangkap peluang pasar yang kian terbuka luas sekaligus menghadirkan produk chilled & frozen yang praktis, berkualitas tinggi, dan aman dikonsumsi.

Pemasangan iklan, pengiriman tulisan atau berita seputar teknologi dan industri pangan, silakan hubungi: FOODREVIEW INDONESIA telepon (0251) 8372333 | +62 811 1190 039 email: redaksi@foodreview.co.id & marketing@foodreview.co.id Cantumkan nama lengkap, alamat, email dan nomor telepon Anda. 58

FOODREVIEW INDONESIA | VOL. XXI / NO.9 / SEPTEMBER 2026


XI

RI 2026

BRUA

ARI - FE

JANU

lebih lengkap, berlipat manfaat.

G: ROCESSIN BEYOncNiliDngPthe Ultra-te through ba Reco d Food Denction Lens Processe ation–Fu a Formul

AHAN PANGANMOLENU MBG, DALAM PA TIDAK? MENGA JUTAN KEBERLAN MBG DANPANGAN: SISTEM angan,

2026:

GAN UPF TANTAN skonsepsi kan Mi i MelurusTransformasonesia untuk Pangan Ind Sistem

ATAN PENDEK -TAYIBMAN HALALM INU PADA AH GULA:an D REN im Menyehatk sar 2026 Dari Kla Peluang Pa Menuju

INDONE SIA

GAN TANTAN ASI OV DAN IN OGI MINUMAN TEKNOLN NABATI EI PROT

gungkit MBG:isPeTnransformasi StratSeisg tem Pangan ONESIA

VIEW IND

FOODRE

| VOL. XXI

6

ARI 202

I-FEBRU

JANUAR

1

55 26 09.

06/03/

VOL. XX

026: NGAN 2rmulasi GAN PA o TANTANtasi dan (Re)f ins Reorien Berbasis Sa

VOL. XX

I

MARE

T - AP

RIL 20

26

I

olors lants

MARE T - AP RIL 20 26

◼ Essential (Rp 750.000*):

Wellne ss aru

Arah B

Inovas

n

REVIEW

Jun g le B

6 Majalah fisik + 12 Majalah Digital

:a

i Pang

FOOD

lue The ne w for blu gateway es and beyond ... Jungle Blu

◼ Corporate (Rp 1.000.000*):

INDONE SIA

ndd 1

paket premium collector’s edition hadir untuk anda yang menghargai detail dan eksklusivitas.

Tant Peluang, Transformasi dan Arah

6 Majalah fisik + 12 Majalah Digital + 1 tiket gratis atau harga khusus untuk Webinar, Workshop dan Seminar FOODREVIEW Indonesia

e, a high natural ly stable blue de , versat rived fr Blends ile om easily w ith othe jagua fruit. vibrant r natura green an l colors d purple ice crea to achiev shades m, dair e y and je lly applic in your confec tioner y, ations. oterra.co

m/conta

ct Distrib

utor in

Indonesi

a:

COLOR INV

ITES, FLAV OR DECIDE

Peran Inova dalam si Sen Sistem sori Pang an

S: 12/05/26

14.09

Pindai untuk berlangganan

*harga belum termasuk biaya kirim

Hubungi kami di Layanan Pelanggan WhatsApp +62 811-1190-039


We hope you enjoy the issue!

SIGN UP https://linktr.ee/foodreview.co.id

SIGN UP TODAY TO RECEIVE YOUR FREE SUBSCRIPTION


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
FRI VOL XXI/09 2026 by FOODREVIEW Indonesia - Issuu