Skip to main content

PSYGHT MAGAZINE #21

Page 1

CRIMINAL

XXI Desember | 2023


Salam Redaksi

2


3


4


5


Pengantar: Apa Itu Criminal Psychology? Penulis: Verlyn Tatiana Harefa (2022)

Editor: Ariellah Sharon Mohede (2021)

Criminal psychology adalah bidang ilmu yang mempelajari perilaku, pikiran, motif, dan emosi orang-orang yang melanggar hukum (Whittle, 2023). Criminal psychology mencoba memahami mengapa seseorang terlibat dalam kejahatan dengan membuat profil pelaku kejahatan berdasarkan wawancara dan analisis (Whittle, 2023). Bidang ini juga berkaitan dengan psikologi forensik, yang mempertemukan psikologi dan hukum pidana maupun perdata. Karir atau pekerjaan dalam bidang criminal psychology sangat beragam dan menantang. Beberapa contohnya di antara lain adalah sebagai berikut (Cherry, 2023): Criminal profiler: Membantu penyelidikan kejahatan dengan memberikan penilaian psikologis terhadap pihak tersangka dan memberikan strategi serta saran yang bisa digunakan dalam proses wawancara. Biasanya bekerja untuk lembaga penegak hukum, seperti FBI (Federal Bureau of Investigation) atau polisi. Criminal analyst: Mencari pola-pola dalam masyarakat untuk menilai aktivitas kriminal dan membantu mengembangkan program pencegahan kejahatan. Criminal psychologist: Bekerja di lembaga pemasyarakatan, pemerintah, atau kesehatan mental untuk menilai dan mengobati pelaku kejahatan. Victim advocate: Membantu orang-orang yang mengalami kejahatan atau trauma untuk membantu mereka memahami hak-hak mereka, memproses pengalaman mereka, dan mengakses sumber daya dukungan di komunitas. Behavioral therapist: Bekerja dengan orang-orang yang telah berhubungan dengan sistem peradilan pidana untuk mengatasi perilaku bermasalah agar dapat meminimalkan risiko kembali melakukan kejahatan. Expert witness: Memberikan kesaksian di pengadilan pidana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang perilaku dan psikologi. Case manager: Bekerja dengan klien yang membutuhkan dukungan untuk mengelola perilaku dan situasi hukum mereka, termasuk membantu mereka mengakses dan mengkoordinasikan layanan perawatan. Forensic psychologist: Melakukan penilaian dan evaluasi di kasus-kasus perdata dan pidana. Hal-hal yang dilakukan oleh ahli dalam bidang criminal psychology bervariasi tergantung pada spesialisasi dan tempat kerja mereka. Beberapa hal yang umum dilakukan oleh ahli dalam bidang ini adalah melakukan wawancara, observasi, tes atau asesmen terhadap pelaku atau korban kejahatan untuk mengetahui kondisi psikologis, motif, atau faktor risiko mereka (Tobing et al., 2016). Selain itu, mereka juga membuat profil, laporan, rekomendasi, atau kesaksian tentang pelaku atau korban kejahatan yang dapat digunakan untuk kepentingan hukum, penegakan hukum, atau rehabilitasi (Tobing et al., 2016). Ahli dalam bidang ini juga memberikan bimbingan, terapi, atau intervensi kepada pelaku atau korban kejahatan untuk membantu mereka mengatasi trauma, stres, atau masalah psikologis lainnya (Tobing et al., 2016). 6


Selanjutnya, mereka juga melakukan penelitian, analisis data, atau publikasi ilmiah tentang perilaku kriminal untuk menghasilkan pengetahuan baru dan memperkaya literatur ilmiah, serta mengembangkan program, kebijakan, atau strategi untuk mencegah atau mengurangi kejahatan dengan mempertimbangkan aspek psikologis dari pelaku dan korban (Tobing et al., 2016). Peran criminal psychology dalam masyarakat sangat penting dan bermanfaat. Salah satu perannya adalah membantu menyelesaikan kasus-kasus kejahatan dengan memberikan informasi atau bukti psikologis yang dapat digunakan oleh penegak hukum, pengadilan, atau jaksa (Sopyani & Edwina, 2021). Peran lainnya adalah membantu mengurangi resiko pelaku kejahatan untuk mengulangi tindakannya dengan memberikan bantuan psikologis, seperti terapi, konseling, atau rehabilitasi (Sopyani & Edwina, 2021). Selain itu, criminal psychology juga membantu meningkatkan kesejahteraan korban kejahatan dengan memberikan dukungan psikologis, seperti trauma healing, coping skills, atau restorative justice (Sopyani & Edwina, 2021). Terakhir, criminal psychology juga membantu mencegah terjadinya kejahatan dengan memberikan edukasi atau advokasi kepada masyarakat tentang bahaya dan dampak kejahatan, serta cara-cara untuk melindungi diri dan lingkungan dari tindakan kriminal (Sopyani & Edwina, 2021). Dengan demikian, criminal psychology berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih aman, adil, dan sejahtera. Penelitian dan pemahaman yang mendalam tentang perilaku kriminal manusia dapat memberikan wawasan berharga bagi penegak hukum, psikolog, dan masyarakat secara umum. Melalui analisis perilaku, motivasi, dan faktor-faktor psikologis yang mendorong individu untuk terlibat dalam tindakan kriminal, kita dapat mengembangkan strategi pencegahan kriminal yang lebih efektif, merancang program rehabilitasi yang lebih sukses, dan membuat keputusan hukum yang lebih adil. Studi tentang criminal psychology juga menyoroti kompleksitas manusia dan pentingnya memahami faktor-faktor psikologis dalam konteks sistem peradilan pidana. Dengan demikian, pemahaman tentang ilmu ini dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih aman dan berkeadilan.

Daftar Pustaka Cherry, K. (2023, March 20). Criminal Psychology: What Do Criminal Psychologists Do? Verywell Mind. Retrieved October 30, 2023, from https://www.verywellmind.com/criminalpsychologist-a-career-profile-2795649 Sopyani, F. M., & Edwina, T. N. (2021, November). Peranan Psikologi Forensik dalam Hukum di Indonesia. Jurnal Psikologi Forensik Indonesia, 1. Tobing, D. H., Ary Susilawati, L. K. P., & Astiti, D. P. (2016). PSIKOLOGI KRIMINOLOGI. PSIKOLOGI KRIMINOLOGI. Retrieved October 30, 2023, from https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_1_dir/aa3b2a6d950ec004f20028ef8459ea8 c.pdf Whittle, M. (2023, March 28). How To Become A Criminal Psychologist – Forbes Advisor. Forbes. Retrieved October 30, 2023, from https://www.forbes.com/advisor/education/become-a-criminal-psychologist/

Designer: Aliyah Mutiara Muttaqien (2022) 7


OGT (Oh, gitu, toh) Psikopati: Bawaan Lahir atau Pengaruh Lingkungan? Dalam media massa seperti film dan buku, psikopati cenderung digambarkan dengan seorang penjahat. Penggambaran seorang psikopat dalam media-media ini cenderung berlebihan, mereka diasosiasikan dengan kelicikan, bahaya, dan kekerasan. Beberapa stereotip populer psikopati digambarkan dengan karakter-karakter seperti penipu yang menawan, pembunuh berantai, atau pelaku kejahatan tingkat rendah dalam jenjang remaja. Namun, kenyataannya sangat berbeda dari apa yang digambarkan dalam media. Psikopati sendiri sebenarnya merupakan istilah informal yang sudah tidak lagi digunakan dalam psikologi. Dalam DSM-3 dan seterusnya, istilah psikopati dihilangkan karena diagnosisnya yang tidak didefinisikan dengan baik (Spitzer, et. al., 1980, dalam Crego & Widiger, 2015). Ditambahkan lagi di zaman modern, istilah psikopati mempunyai konotasi yang berat dan dianggap sebagai label yang terlalu mendiskriminasi. Oleh karena itu, istilah psikopati diubah untuk merujuk ke Antisocial Personality Disorder (ASPD) (Lindberg, 2019). Ciri orang dengan ASPD dapat dibagi menjadi dua bentuk perilaku, yaitu perilaku agresif dan perilaku non-agresif. Perilaku agresif yang mungkin dilakukan oleh pengidap gangguan ASPD mencakup tindakan kekerasan, menyakiti orang lain atau diri sendiri, baik secara fisik maupun psikologis, dan perusakan atau pencurian harta benda (Tuvblad & Beaver, 2013). Sementara itu, perilaku non-agresif mencakup antara lain mengabaikan atau melanggar hak orang lain, berbohong, menipu atau memanipulasi orang lain, dan bertindak secara impulsif (APA, 2022). Menurut Viding et al. (2005, 2008, dalam Anderson & Kiehl, 2014), ciri-ciri ini dapat teridentifikasi sebelum usia 10 tahun dan berkembang sepanjang hidup. Namun, diagnosis ASPD hanya diberikan kepada orang dewasa atau mereka yang berusia 18 tahun ke atas (APA, 2022). Gangguan ASPD sendiri menjadi topik yang diperdalam oleh banyak peneliti. Sebagian besar dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan ASPD disebabkan oleh faktor genetik. Meskipun demikian, sebenarnya belum ada jawaban pasti untuk menjawab apakah ASPD sepenuhnya disebabkan oleh faktor genetik atau faktor lingkungan. 8


Wang et al. (2013), dalam risetnya terhadap pengaruh dari faktor genetik dan lingkungan, menemukan bahwa kemungkinan seorang anak mewariskan perilaku agresif dari ASPD meningkat pada usia 9 sampai dengan 18 tahun. Lalu, riset oleh Cloninger et al. (1978) menyarankan bahwa ciri-ciri ASPD muncul karena pengaruh genetik dari keluarga yang sama. Pendapat ini didukung oleh riset dari Reichborn-Kjennerud et al. (2015) terhadap sepasang saudara kembar pengidap ASPD. Kedua saudara kembar ini merupakan partisipan program Twin Panel yang disusun oleh Norwegian Institute of Public Health dengan fokus pada riset terhadap keluarga kembar (Harris et al., 2002). Riset ini menunjukkan bahwa faktor genetik memainkan peran yang stabil selama 10 tahun perkembangan kedua partisipannya, dari masa dewasa awal hingga pertengahan dewasa mereka. Namun, Niv et al. (2013) menemukan bahwa faktor genetik bukan sepenuhnya penyebab dari gangguan ASPD. Risetnya menunjukkan bahwa faktor genetik hanya memainkan peran sebanyak 41%, sedangkan 59% sisanya merupakan pengaruh dari faktor lingkungan, yang mencakup 40% pengaruh keluarga (kondisi di rumah atau pola asuh dari orang tua) dan 19% pengaruh sosial (teman, guru, atau lingkungan di luar keluarganya). Dua peneliti dari Departemen Psikiatri Anak dan Remaja New York University School of Medicine, Junewicz & Billick (2021) juga menyatakan bahwa faktor lingkungan memainkan peran yang besar dalam mengembangkan gangguan ASPD. Faktor lingkungan yang dicantumkan dalam riset mereka di antara lain adalah masalah atau perilaku menyimpang yang terjadi di masa kehamilan, seperti merokok atau penyalahgunaan zat, pengalaman yang menimbulkan stres dan kecemasan berlebih, serta kekurangan gizi bagi bayi. Riset ini juga menyatakan faktor lingkungan lain seperti trauma masa kecil, bertumbuh di lingkungan dengan sumber daya yang kurang, terlibat dengan kelompok sebaya yang menunjukkan perilaku antisosial, dan mengalami kekerasan sosial. Gangguan ASPD adalah topik yang menarik untuk dibahas, mulai dari penggambarannya yang dilebih-lebihkan dan seringkali keliru dalam media hingga gejala aslinya di dunia nyata. Gangguan ini bukan hanya disebabkan oleh faktor genetik sendiri ataupun faktor lingkungan sendiri, melainkan disebabkan oleh kombinasi dari keduanya. Sifat “psikopatik” yang diwariskan secara genetik berkembang dalam masa pertumbuhan individu, dengan dipicu oleh kondisi lingkungan dan kejadian-kejadian yang ia alami. 9


Daftar Pustaka:

American Psychiatric Association. (2022). Antisocial personality disorder. In Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.) Anderson, N. E., & Kiehl, K. A. (2014). Psychopathy: Developmental perspectives and their implications for treatment. Restorative Neurology and Neuroscience, 32(1), 103–117. doi:10.3233/rnn-139001 Blair, R. J. R., Peschardt, K. S., Budhani, S., Mitchell, D. G. V., & Pine, D. S. (2006). The development of psychopathy. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 47(3-4), 262–276. doi:10.1111/j.1469-7610.2006.0159 Cloninger, C. R., Christiansen, K. O., Reich, T., & Gottesman, I. I. (1978). Implications of sex differences in the prevalences of antisocial personality, alcoholism, and criminality for familial transmission. Arch Gen Psychiatry, 35(8), 941–951. Crego, C., & Widiger, T. A. (2015). Psychopathy and the DSM. Journal of personality, 83(6), 665–677. https://doi.org/10.1111/jopy.12115 Harris, J. R., Magnus, P., & Tambs, K. (2002). The Norwegian Institute of Public Health Twin Panel: a description of the sample and program of research. Twin research : the official journal of the International Society for Twin Studies, 5(5), 415–423. https://doi.org/10.1375/136905202320906192 Junewicz, A., & Billick, S. B. (2021). Preempting the development of antisocial behavior and psychopathic traits. Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law, 49(1). Lindberg, S. (2022, Juni 1). Psychopath: Meaning, signs, and vs. sociopath. Healthline. https://www.healthline.com/health/psychopath Niv, S., Tuvblad, C., Raine, A., & Baker, L. A. (2013). Aggression and rulebreaking: Heritability and stability of antisocial behavior problems in childhood and adolescence. Journal of criminal justice, 41(5), 285-291. Reichborn-Kjennerud, T., Czajkowski, N., Ystrøm, E., Ørstavik, R., Aggen, S., Tambs, K., & Kendler, K. (2015). A longitudinal twin study of borderline and antisocial personality disorder traits in early to middle adulthood. Psychological Medicine, 45(14), 3121-3131. doi:10.1017/S0033291715001117 Tuvblad, C., & Beaver, K. M. (2013). Genetic and environmental influences on antisocial behavior. Journal of criminal justice, 41(5), 273–276. https://doi.org/10.1016/j.jcrimjus.2013.07.007 Wang, P., Niv, S., Tuvblad, C., Raine, A., & Baker, L. A. (2013). The genetic and environmental overlap between aggressive and non-aggressive antisocial behavior in children and adolescents using the self-report delinquency interview (SR-DI). Journal of criminal justice, 41(5), 277-284.

10


CBT

TEKNIK UNTUK MENCEGAH TINDAKAN KRIMINAL: SEBERAPA EFEKTIF? Tindakan kriminal merupakan masalah yang meresahkan masyarakat. Meskipun upaya penegakan hukum terus ditingkatkan, kejahatan tetap menjadi ancaman yang mengintai setiap individu. Di tengah perubahan dinamika sosial, teknologi, dan lingkungan, muncul kebutuhan untuk mencari pendekatan yang lebih efektif dalam mencegah tindakan kriminal. Salah satu teknik yang semakin populer dalam upaya pencegahan kriminal adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Menurut Bhattacharya et al. (2013), CBT adalah pendekatan psikoterapi yang digunakan untuk berbagai gangguan mental dan fisik, yang berfokus pada kognisi, emosi, dan perilaku, serta melibatkan psikoedukasi dan teknik manajemen diri. Dengan pemahaman lebih dalam tentang potensi CBT dalam pencegahan tindakan kriminal, kita dapat mendukung upaya menciptakan masyarakat yang lebih aman. Program CBT yang terstruktur dan berorientasi kelompok terbukti efektif dalam mengurangi perilaku kriminal di antara pelaku yang telah dihukum (Wilson et al., 2005).

Program ini bertujuan untuk mengatasi distorsi kognitif, mendorong pemikiran dan perilaku prososial, serta mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Distorsi kognitif merujuk pada pola pemikiran yang berbias atau irasional yang dapat mendorong individu untuk terlibat dalam perilaku kriminal. CBT membantu individu mengidentifikasi dan menghadapi distorsi ini, serta menggantikannya dengan cara berpikir yang lebih realistis dan adaptif. Dengan mengatasi distorsi kognitif, individu dapat mengembangkan persepsi yang lebih akurat tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia sekitarnya sehingga mengurangi kemungkinan mereka untuk terlibat dalam tindakan kriminal (Butler et al., 2006). Mendorong pemikiran dan perilaku prososial adalah aspek penting lainnya dari intervensi CBT terhadap perilaku kriminal. Intervensi ini bertujuan untuk membantu individu mengembangkan empati, penalaran moral, dan rasa tanggung jawab terhadap orang lain.

11


Dengan demikian, individu dapat mengembangkan pemahaman yang lebih besar tentang dampak dari tindakan mereka pada orang lain, yang dapat mencegah mereka untuk terlibat dalam perilaku kriminal (Waldram, 2010). Intervensi CBT juga fokus pada pengembangan keterampilan pemecahan masalah. Keterampilan ini membantu individu mengidentifikasi dan mengatasi masalah yang mendasari dan berkontribusi pada perilaku kriminal mereka. Dengan mempelajari strategi pemecahan masalah yang efektif, individu dapat mengembangkan cara alternatif untuk mengatasi tantangan dan stres, tanpa harus bergantung pada perilaku kriminal sebagai sarana penanganan (Carroll et al., 2006).

Terapi kelompok juga dapat membantu individu mengembangkan rasa keanggotaan dan dukungan sosial, yang dapat menjadi faktor pelindung dari perilaku kriminal (Busa et al., 2018). Sebagai kesimpulan, meskipun kita telah melihat kontribusi CBT yang cukup besar dalam pencegahan tindakan kriminal, kontribusi ini hanyalah sebagian dari usaha yang lebih besar dalam memahami dan mengatasi masalah kriminal. Dengan kesadaran akan berbagai pendekatan yang tersedia dan komitmen untuk memperbaiki masyarakat, kita dapat terus bekerja menuju dunia yang lebih aman, nyaman dan baik untuk kita semua. Daftar Pustaka: Bhattacharya, L., Chaudari, B., Saldanha, D., & Menon, P. (2013). Cognitive behavior therapy. Medical Journal of Dr. D.Y. Patil University, 6, 132-138. https://doi.org/10.4103/0975-2870.110294. Butler, A. C., Chapman, J. E., Forman, E. M., & Beck, A. T. (2006). The empirical status of cognitive behavioral therapy: a review of meta-analyses. Clinical Psychology Review, 26(1), 17-31. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2005.07.003 Busa, S., Janssen, A., & Lakshman, M. (2018). A review of evidence based treatments for transgender youth diagnosed with social anxiety disorder. Transgender Health, 3(1), 27-33. https://doi.org/10.1089/trgh.2017.0037 Carroll, K. M., Easton, C. J., Nich, C., Hunkele, K., Neavins, T. M., Sinha, R.,& Rounsaville, B. (2006). The use of contingency management and motivational/skills-building therapy to treat young adults with marijuana dependence.. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 74(5), 955-966. https://doi.org/10.1037/0022-006x.74.5.955 Waldram, J. B. (2010). Moral agency, cognitive distortion, and narrative strategy in the rehabilitation of sexual offenders. Ethos, 38(3), 251-274. https://doi.org/10.1111/j.1548-1352.2010.01144.x Wilson, D. B., Bouffard, L. A., & MacKenzie, D. L. (2005). A quantitative review of structured, group oriented, cognitive-behavioral programs for offenders. Criminal Justice and Behavior, 32(2), 172-204. https://doi.org/10.1177/0093854804272889

Terapi kelompok sering digunakan dalam intervensi CBT untuk perilaku kriminal. Pengaturan dalam kelompok memberikan kesempatan bagi individu untuk belajar dari pengalaman satu sama lain, menerima umpan balik dan dukungan, serta melatih keterampilan prososial.

Penulis: Nabilla (2021)

Editor: Ariellah S.M (2021)

12

Designer: Yasinta Tiara (2021)


ULAS-TULIS: FILM Memecahkan Rahasia di Balik Pembunuhan dalam Keluarga Besar bersama Detektif Blanc Ulas tulis film : Knives Out (2019) Genre : Drama/Mystery Durasi : 2 jam 10 menit Sutradara : Rian Johnson Pemeran : Daniel Craig, Chris Evans, Ana de Armas, Jamie Lee Curtis, dan Christoper Plummer Rating : IMDb 7.9/10 dan Rotten Tomatoes 97% Film berjudul “Knives Out” merupakan film misteri yang disutradarai oleh Rian Johnson. Film ini dimulai ketika asisten rumah tangga menemukan tuan rumahnya, seorang novelis terkenal bernama Harlan Thrombey, tewas di rumah mewahnya dalam keadaan yang mencurigakan dengan sayatan di lehernya. Hal ini pun membuat seluruh anggota keluarganya menjadi tersangka pelaku. Seminggu kemudian, seorang detektif swasta bernama Benoit Blanc menemukan surat dari klien misterius yang memintanya untuk menyelidiki kasus tersebut bersama polisi karena terdapat dugaan bahwa kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan berencana. Blanc akhirnya melakukan interogasi kepada setiap anggota keluarga Thrombey untuk mendapatkan kesaksian satu persatu, tak terkecuali sang perawat setia, Marta Carbera. Mulai dari sini, film ini semakin menarik untuk ditonton karena selama mereka diinterogasi, ditemukan bahwa mereka memiliki karakter yang beragam. Setelah mendengar setiap kesaksian, Blanc menduga bahwa setiap anggota keluarga Thrombey memiliki alibi dan motif tersembunyi yang berhubungan dengan kasus pembunuhan Thrombey. Hal tersebut menjadi tantangan bagi Blanc untuk memecahkan misteri pembunuhan ini. Film “Knives Out” dibungkus dengan alur dan plot twist yang menarik dari awal hingga akhir. Setiap karakter yang ditunjukkan dalam film ini juga memiliki peran yang penting dalam cerita. Penonton disuguhkan dengan situasi yang dialami oleh Marta Carbera, perawat yang juga merupakan seorang keturunan imigran di Amerika Serikat, serta kemampuan detektif Benoit Blanc untuk menyelidiki kasus ini dari akarnya. Adegan interogasi sangat menarik, karena karakter-karakter yang 13


diinterogasi memunculkan gerak-gerik tertentu saat diberikan pertanyaan. Ada beberapa karakter yang terlihat grogi, terintimidasi dengan suatu pertanyaan, atau seakan-akan sedang menutup-nutupi sesuatu. Setiap kesaksian yang diberikan oleh anggota keluarga Thrombey memberikan gambaran dan sudut pandang yang berbeda-beda mengenai apa yang terjadi. Penonton harus berusaha untuk menyatukan potongan-potongan cerita dari setiap kesaksian untuk dapat memecahkan kasus ini. Namun, setelah penonton sudah diberikan semua informasi mengenai kasus yang sepertinya dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba muncullah plot twist yang membuat penonton kembali bertanyatanya. Dengan demikian, penonton akan terus merasa penasaran akan kebenaran kasus sepanjang film tanpa kehilangan fokus. Film dengan durasi 2 jam 10 menit ini tidak akan terasa lama ketika ditonton. Film ini cocok ditonton oleh penonton berusia 13 tahun ke atas yang menyukai film misteri bertemakan detektif. Film ini dapat ditonton di masa liburan ataupun di waktu senggang untuk mencari hiburan sejenak. Hilangnya rasa penasaran dalam sekejap menjelang akhir film setelah kebenaran kasus terungkap sangatlah memuaskan. Jika kalian tertarik untuk menonton film ini, jangan lupa siapkan popcorn atau snack lainnya agar pengalaman menonton kalian lebih seru dan nikmat lagi! Daftar Pustaka Suryawinata, F. (2019). Review film knives out: misteri pembunuhan penuh intrik. Jagat Review. Diakses pada 1 November 2019 dari, https://www.jagatreview.com/2019/12/review-film-knives-out-misteri-pembunuhan-penuh-intrik/

Penulis Marcell Immanuel (2021)

Editor Ariellah Sharon Mohede (2021)

14

Designer Naomi Gariella Wijaya (2023)


ULAS TULIS BUKU

DARK DREAMS:

Sexual Violence, Homicide and the Criminal Mind

Novel nonfiksi ini ditulis oleh Robert Roy Hazelwood dan Stephane Michaud. Dalam novel ini terdapat berbagai jenis kasus yang menakutkan, seperti kekerasan seksual, pemerkosaan berantai, penganiayaan anak, dan pembunuhan berantai. Pendekatan Roy Hazelwood terhadap predator yang sangat metodis dan sangat mendetail seakan-akan membawa pembaca melalui langkah-langkah untuk membuat sebuah profil kriminal yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Penulis:

Designer:

Editor:

Christopher Roger (2021)

Maria Yosephine (2021)

Ariellah Sharon Mohede (2021)

Felicia Michelle (2021)

Adeline Natasha (2022)

15


ULAS TULIS BUKU

OBSESSION

Penulis: Christopher Roger (2021) Felicia Michelle (2021)

Designer: Maria Yosephine (2021)

16

Editor: Ariellah Sharon Mohede (2021) Adeline Natasha (2022)


ULAS TULIS BUKU

THE ANGEL OF DARKNESS

Novel fiksi ini ditulis oleh Caleb Carr, seorang novelis dan sejarawan militer dari Amerika Serikat. Novel ini menceritakan kejahatan yang berlatar belakang di kota New York seputar seorang perawat perempuan sekaligus sosok ibu yang terlihat penuh kasih, tetapi ternyata merupakan pembunuh anak yang kejam. Melalui cerita yang ditulis dengan mendetail ini, pembaca ditarik ke dalam suasana New York, 1890-an. Novel ini membuktikan pengetahuan sejarah milik penulis dengan memadukan elemen nyata bersama elemen fiksi. Buku ini juga diadaptasi menjadi serial Netflix yang berjudul “The Alienist”.

Daftar Pustaka Studyaboardnation.com, (2022, 21 Maret), 14 Buku Psikologi Kriminal Terbaik, diakses pada 23 Oktober 2023, dari https://www.studyabroadnations.com/id/buku-psikologi-kriminal-terbaik/

Penulis: Christopher Roger (2021) Felicia Michelle (2021)

Designer: Maria Yosephine (2021)

17

Editor: Ariellah Sharon Mohede (2021) Adeline Natasha (2022)


OGT (Oh, gitu, toh):

di K ala n g a n M a h a sis w a Sosiopati adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengidap Gangguan Kepribadian Antisosial atau ASPD (Antisocial Personality Disorder), yaitu suatu kondisi mental dan perilaku yang berlebihan dan berkelanjutan yang melibatkan pelanggaran hak orang lain, serta kurangnya empati dan penyesalan (APA, 2013). Menurut Flaskerud (2016), sosiopati berbeda dengan psikopati, meskipun keduanya merupakan gangguan kepribadian. Perbedaan utama keduanya terdapat pada segi sifat dan moralitas. Dari segi sifat, psikopati dianggap sebagai kondisi bawaan individu, sedangkan sosiopati diakibatkan faktor lingkungan. Dari segi moralitas, individu dengan psikopati tidak memiliki empati atau rasa moralitas, sedangkan individu dengan sosiopati masih menunjukkan rasa empati, meskipun perasaan ini tidak didasari identifikasi benar dan salah secara moral. Ciri-ciri umum sosiopati adalah kecenderungan memanipulasi orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan, dan penggunaan persona lain untuk mencapai tujuan mereka. Sosiopat tidak jarang juga kurang berempati dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain. Hal ini secara tidak langsung menyebabkan sosiopat kurang mempertimbangkan konsekuensi tindakannya sehingga lebih mungkin terlibat dalam perilaku yang berisiko atau berbahaya. Selain itu, sosiopat rentan terhadap kemarahan, agresi, dan perilaku kekerasan. Sosiopat juga biasanya memiliki perilaku tidak tanggung jawab, dan sulit mempertahankan posisinya dalam pekerjaan. Menurut Armenta & Corral-Frías (2021), lingkungan pembelajaran yang positif dan ramah merupakan faktor pelindung terhadap perilaku antisosial pada mahasiswa. Penting untuk meningkatkan keadilan dalam lingkup pendidikan, terutama di dalam kelas, salah satu caranya dengan melatih komunikasi. Selain itu, Monte et al. (2022) menyatakan bahwa gangguan akademik, sosial maupun keuangan dapat berdampak pada sosiopat. Hal ini terlihat selama pandemi COVID19 berlangsung, yang mengakibatkan adanya pembatasan fisik dan perubahan drastis pada ekonomi.

18


Sosiopati pada mahasiswa dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan sehari-harinya, terutama dalam interaksinya dengan keluarga dan lingkungan sosial di kampus. Mahasiswa sosiopat dapat memanipulasi teman sebaya, dan bahkan dosen (WebMD, 2022). Mereka mungkin berbohong untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, terlibat dalam kekerasan fisik dan perkelahian, dan menciptakan hubungan yang buruk dengan teman dan dosen. Hal ini dapat menyulitkan mahasiswa lain untuk percaya dan membentuk hubungan yang berarti dengan orang lain. Selain itu, hati nurani yang lemah dapat memicu mereka untuk terlibat dalam perilaku yang merugikan orang lain, seperti intimidasi, mencuri, dan tindakan jahat lainnya. Mahasiswa yang menjadi korban perilaku sosiopat dapat mengalami tekanan emosional dan trauma. Menangani mahasiswa dengan gangguan sosiopat merupakan tantangan yang cukup berat bagi para pendidik. Di sisi lain, universitas dapat berperan penting dalam perkembangan dan pembentukan perilaku mahasiswa, termasuk mereka yang mengalami gangguan kepribadian. Ada beberapa cara untuk menghadapi mahasiswa dengan gangguan sosiopat. Cara pertama adalah dengan menciptakan suasana yang positif di universitas, yang dapat membuat mahasiswa merasa aman dan lebih terlibat dalam pembelajaran (Kasen et al., 2009). Selain itu, menurut DeRuvo (2009), menggunakan strategi pengajaran berbasis penelitian dapat memberi dampak positif bagi mahasiswa sosiopat. Strategi ini dapat dilakukan dengan meminta mahasiswa untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan, merangkum dan mencatat, serta memberikan mereka dukungan. Menurut Elbe et al. (2014), meminta bantuan kepada profesional seperti psikolog klinis atau konselor juga telah terbukti efektif dalam menangani gangguan perilaku dan patut untuk dipertimbangkan. Daftar Pustaka : Bhandari, S. (2022, Desember 16). Signs of a sociopath. WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/signs-sociopath DeRuvo, S.L. (2009). Strategies for teaching adolescents with ADHD : effective classroom techniques across the content areas. Elbe, D., Barr, A. M., Honer, W. G., & Procyshyn, R. M. (2014). Managing ADHD and disruptive behaviour disorders with combination psychostimulant and antipsychotic treatment. Journal of psychiatry & neuroscience : JPN, 39(3), 32–33. https://doi.org/10.1503/jpn.130288 Flaskerud J. H. (2016). Yawning, why and when?. Issues in mental health nursing, 37(7), 526–529. https://doi.org/10.3109/01612840.2015.1111475 Frías Armenta, M., & Corral-Frías, N. S. (2021). Positive university environment and agreeableness as protective factors against antisocial behavior in Mexican University students. Frontiers in psychology, 12(66), 21-46. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.662146 Kasen, S., Cohen, P., Chen, H., Johnson, J. G., & Crawford, T. N. (2009). School climate and continuity of adolescent personality disorder symptoms. Journal of child psychology and psychiatry, and allied disciplines, 50(12), 1504–1512. https://doi.org/10.1111/j.1469-7610.2009.02125.x Monte, V., Ang, J. Y., & Tsai, W. (2022). Negative COVID-19 impacts and depressive symptoms over time among first-year college students. Journal of American college health : J of ACH, 1–10. https://doi.org/10.1080/07448481.2022.2032085 Pishkin, V., & Thorne, F. C. (1978). Factored scales for the personal health survey with schizophrenics, alcoholics, felons, unmarried mothers, and college students. Journal of clinical psychology, 34(2), 269–275. https://doi.org/10.1002/1097-4679(197804)34:2

Penulis: Lucious Felix Sasmita (2022) Editor: Ariellah Sharon Mohede (2021) Designer: Joanna Mary Timotius (2021)

19


Pojok Seni: Puisi Dunia tak lagi mengenal apa itu elok permai Dunia kini tak lagi mampu menguatkan insan-insannya Bila terus berharap pada dunia Yang ada hanyalah siksaan, derita, dan tekanan Indahnya dunia tidak menjamin otak yang bersih Indahnya dunia seolah hanyalah cerita semata Kita dikenal dengan budaya kebersamaan Tapi kenapa kriminal yang menjadi lestari Kami terus mengingatkan mereka Kami terus membantu mereka Untuk keluar, tidak lagi menjadi bandar Tapi nyatanya, justru kami yang jadi kriminal bagi mereka Ingatlah, wahai kalian yang menyiksa kami Kami disini mencoba untuk membantu Keluar dari belenggu kriminal Kami yakin cinta yang menguatkan, itu ada

20


“Kawan Yang Kukenal” Penulis: Allena Liu (2022) Editor: Ariellah Sharon Mohede (2021)

Suara gedoran di depan pintu hampir tidak terdengar kalau tidak ditemani dengan teriakan dari sang penggedor.

Sosok wanita yang akrab dikenal muncul di depannya, tak lain dari Amanda, teman lamanya saat bekerja menjadi polisi dulu. Tanpa menggubris sedikitpun letupan kecil Leo, Amanda langsung melenggang masuk ke rumah tersebut. “Ada kasus dan gua butuh bantuan lu. Ngapain lagi coba gua datangin rumah lu yang kotor gini?” ujar Amanda sembari mengibaskan sisa popcorn di sofa Leo dan mendudukinya sebelum melanjutkan perkataannya.

“Leo! Berapa lama lagi, sih, lu mau ngediamin gua di depan pintu?!” Sembari ongkang kaki di sofanya, Leo membesarkan sedikit volume TVnya yang sedang menyiarkan kartun dengan episode yang sama entah untuk keberapa kalinya. Popcorn yang ada pada meja di hadapannya sudah hampir habis. Dari tampangnya, tidak ada yang bisa menduga kapan terakhir kali Leo membereskan rumah atau dirinya.

“Ada yang nyoba bunuh Paul, Yo.” Leo yang baru saja mengunci pintu depannya, tercengang dan langsung membalikkan badannya. “Hah?! Orang bodoh mana yang nyoba bunuh kepala polisi?!”

Leo berusaha untuk mengabaikannya, tetapi gedoran dan teriakan tersebut justru semakin mengganggu telinga Leo. Sambil berdecak, ia akhirnya berjalan ke arah pintu dengan langkah kakinya yang menghentak keras di lantai rumah. Pintu dibuka dengan kencang, dan penggedor disambut dengan nada suara Leo yang sedikit tinggi.

“Ya itu juga pertanyaan gua!” sahut Amanda. Nada suaranya meninggi sambil ia membanting dengan ringan dokumen yang ada di tangannya ke atas meja. “Ada yang bilang Paul coba bunuh diri, tapi coba lu pikir, masa orang seambisius Paul mau mati?”

“Apa sih, Man?! Sudah gua bilang ga usah ganggu gua lagi.” 21


Leo menghela nafas dan mengacakacak rambutnya. “Jadi gara-gara itu lu ganggu ketenangan gua?” ujarnya. Dengan sebelah tangan, ia meraih remote TV untuk mengecilkan volume suara Spongebob yang sedang tertawa.

Leo terdiam. Tak disangka teman seperjuangannya dahulu harus berada di posisi seperti ini sekarang. Setelah berhening sejenak, keinginan Leo mulai membulat. Ia meraih dokumen di meja yang dilempar Amanda. “Apa nih isinya? Jelasin cepet!”

“Paul ga mungkin bunuh diri. Dia belum pernah ke Cappadocia, dan lu tau sesuka apa dia sama tuh tempat,” ucap Amanda seakan-akan sedang berusaha meyakinkan Leo dan dirinya sendiri.

Amanda menjelaskan dengan skeptis, “Itu ada foto-foto TKP, terus ada surat dari Paul. Tapi gua ga ngerti maksud dia apa.” Leo membuka folder tersebut dan mencermati surat serta foto-foto ruangan Paul. Beberapa waktu kemudian, Leo tersenyum. “Paul harusnya gapapa, Man. Kalian lagi nyelidiki Pak Adi ya? Ini surat juga ngebahas Pak Adi. Kalau foto-fotonya, coba lu buka Instagram Paul deh.”

“Mana tahu ngga jadi,” jawab Leo, mengalihkan pandangannya. Amanda menghela nafas dan mengernyitkan alisnya. “Ga mungkin. Paul ga gitu. Tapi sekarang gua stuck, Yo. Pak Adi bilang racunnya ada di minuman Paul, dan itu memang minuman kesukaan dia. Pak Adi juga ga ngebolehin gua liat rekaman CCTV, padahal kan gua detektifnya! Terus kata Bu Suci air liur Paul ada di sedotannya, terus–”

Amanda menurut dan mengeluarkan ponselnya. Hanya ada beberapa foto liburan di beranda akun Paul. Amanda menggeser unggahan Paul satu per satu, berusaha mencari tahu petunjuk apa yang Leo maksud. “Apaan? Ini fotofoto dia pergi senang-senang semua. Apa hubungannya?”

“Hei, hei, tenang dulu.” Leo lalu berjongkok di depan Amanda dan mencoba menghentikan ocehan Amanda yang mulai terlihat panik dan di ambang tangis. “Paul gimana?”

Leo tersenyum miring. “Justru itu, Man. Coba lihat foto dan video dia makan, dan perhatiin sedotannya.” Leo mengarahkan. Sesuai arahan Leo, Amanda memperhatikan setiap unggahan terkait petualangan kuliner Paul dengan seksama.

Amanda menarik nafas dan menjawab dengan suara gemetar dan pasrah, “Gua ga tau.”

22


Beberapa waktu kemudian, Amanda tercengang, dan terburu-buru mengambil dokumen di meja untuk membandingkan foto yang ada. “Oh! Sedotannya! Setiap Paul minum, sedotannya selalu ada bekas gigit, sedangkan di foto TKP sedotannya ga ada gigitan!”

Senyum di wajah Amanda terlihat sangat lega. “Lu ga berubah, Yo. Makasih, ya.” Leo tersenyum bangga. “Iya, iya, udah sana beresin kasusnya.” Amanda dengan terburu-buru beranjak pergi dari rumah Leo dengan riang. Beberapa hari kemudian, berita tentang tertangkapnya Pak Adi atas dugaan kasus narkoba dan membahayakan nyawa disiarkan di televisi. Leo memandang bangga, memegang buket bunga ucapan terima kasih dari kedua teman lamanya sebelum akhirnya menelpon mereka. Setelah sekian lama tidak bekerja, mungkin akan menyenangkan bekerja sama dengan mereka lagi.

“Nah tuh pinter,” puji Leo. “Suratnya Paul juga isinya kode. Paul bukan tipe yang bertele-tele. Kalau ini memang surat bunuh diri, buat apa nyebutin nama Pak Adi sama jenis narkoba?” ujar Leo sembari menunjukkan surat pada Amanda. Amanda masih terkagum dan bertanya, “Kok lu bisa tahu sih?” Leo mengangkat bahunya, “Yah, mungkin karena bagaimanapun gua tetap kenal Paul. Gua juga percaya dia ga mungkin dikalahin gitu aja.”

Designer: Aliyah Mutiara Muttaqien (2022)

23


OGT (Oh, Gitu, Toh)

Apa betul gangguan mental dapat mengarah ke tindakan kriminal? Gangguan mental mengacu pada kondisi kesehatan yang mempengaruhi pikiran, perasaan, perilaku, dan suasana hati (Primananda, 2022). Paranoid, mengasingkan diri dari lingkungan sosial, dan keinginan untuk bunuh diri merupakan beberapa tanda seseorang mengidap gangguan mental. Orang dengan gangguan mental terbukti lebih mungkin melakukan tindakan kriminal atau kekerasan. Terdapat beberapa nama gangguan mental yang muncul berkaitan dengan kriminalitas, yang akan dijelaskan pada paragraf selanjutnya. Kriminalitas sendiri bisa dikaitkan dengan Antisocial Personality Disorder (ASPD). Keterbatasan fungsi mental dalam berpikir ataupun berkomunikasi dapat memicu individu untuk mengungkapkan amarahnya dengan melakukan kekerasan fisik dan bahkan membunuh (Pertiwi dkk, 2022). Ada juga skizofrenia paranoid yang dimiliki beberapa tokoh pembunuh non-fiksi terkenal, menyebabkan pengidap berhalusinasi mendengar bisikan untuk melukai orang lain (Firmansyah, 2018). Selain itu, Borderline Personality Disorder (BPD) juga merupakan salah satu gangguan mental yang melibatkan halusinasi suara yang memintanya untuk menyakiti dirinya sendiri, atau bahkan melakukan bunuh diri. Pengidap BPD juga dapat mengalami gejala delusi, yaitu keyakinan kuat yang tidak masuk akal, seperti misalnya delusi bahwa dirinya sedang dikejar oleh pembunuh bayaran (Pittara, 2023). Kemudian ada penyakit mental langka bernama erotomania, yang delusinya membuat pengidap mengira bahwa dirinya dicintai oleh seorang lain sampai-sampai perlakuan biasa dari orang tersebut dianggap sebagai bukti cinta. Jika pengidapnya adalah laki-laki, maka ada risiko lebih tinggi gangguan ini akan mengarah ke tindakan kekerasan seksual pada orang yang dikira mencintai (Savitri, 2021). Berdasarkan kriteria-kriteria gangguan mental yang telah disebutkan, psikosis, yaitu kesulitan membedakan realita dan imajinasi, menjadi pemicu besar bagi pengidap untuk melakukan tindak kriminal/kekerasan. Selain itu, kesulitan mengontrol emosi yang dialami oleh individu dengan ASPD juga dapat memicu tindakan kekerasan dalam menghadapi masalah atau ancaman.

24


Salah satu gangguan mental lainnya yang dipicu depresi dan kecemasan pasca melahirkan adalah baby blues syndrome, yakni psikosis postpartum dengan gejala berupa kelelahan, gangguan hormon, hingga depresi yang membuat ibu bertindak tidak rasional terhadap bayinya (Devina, 2023). Kondisi ini menjadi salah satu pemicu tindakan kriminal ibu membunuh bayinya. Dalam beberapa contoh kasus, sang ibu bahkan bermaksud menabrakan dirinya dan bayinya ke kereta, membuang bayinya ke dalam sumur, dan mengubur bayinya hidup-hidup (Fundrika, 2023). Di Indonesia sendiri, masih terdapat stigma yang sangat kuat terhadap orang yang menderita gangguan mental (Yusuf, 2017). Stigma ini berupa keyakinan masyarakat yang menganggap adanya hubungan antara gangguan mental dan perilaku yang mengarah ke kekerasan (Amaliyah, 2018). Keyakinan ini diperkuat dengan adanya berbagai berita aksi kriminal yang dilakukan oleh penderita gangguan mental. Misalnya, berita pembunuhan sepasang suami istri di Desa Bangoan, Tulungagung yang dilakukan oleh seseorang dengan skizofrenia paranoid (Firmansyah, 2016). Stigma terhadap orang dengan gangguan mental memberikan banyak dampak negatif baik ke individu itu sendiri maupun ke pihak keluarga. Stigma bahkan merupakan salah satu faktor penghambat yang mencegah orang dengan gangguan mental untuk menerima perawatan, karena takut dihakimi oleh masyarakat (Cooper et al., 2003 dalam Yusuf, 2017). Keluarga individu dengan gangguan mental juga cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya karena merasa adanya pelabelan negatif dan diskriminasi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya akibat kondisi individu tersebut (Napolion, 2010 dalam Yusuf, 2017). Mereka juga terkadang memilih untuk merahasiakan gangguan mental individu, sehingga semakin menunda perawatan yang seharusnya ia terima. Hal ini dapat berujung pada kualitas hidup yang rendah dan depresi pada individu, serta peningkatan beban emosi keluarga (Yusuf, 2017). 25


Orang dengan gangguan mental tidak seharusnya dijauhi dan dipandang sebelah mata, karena pada umumnya, mereka juga ingin untuk menjadi lebih baik. Hanya saja, seringkali sulit bagi mereka untuk sembuh dengan durasi perawatan yang singkat dan tidak jarang dibutuhkan adanya proses yang cukup lama untuk mengatasi gangguan. Adapun dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar merupakan salah satu faktor krusial dalam proses penyembuhan (Yusuf, 2017). Oleh karena itu, sudah selayaknya kita merangkul dan mendampingi teman dan kerabat kita yang menderita gangguan mental selama mereka melakukan terapi (Amaliyah, 2018). Stigma terhadap orang dengan gangguan mental tidak bisa langsung hilang begitu saja. Namun, semuanya bisa dimulai dari diri kita sendiri. Kita dapat memperkaya ilmu kita mengenai kesehatan mental sehingga kita mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk menangani orang-orang dengan gangguan mental (Khansa, 2022).

Penulis: Amanda Victoria (2021) Jesselyn Chandra (2023)

Editor: Ariellah Sharon Mohede (2021) Adeline Natasha (2022)

Designer: Evania Chendrika (2022)

Daftar Pustaka Amaliyah, I. (2018). Benarkah orang dengan gangguan mental berbahaya? Pijar Psikologi. Devina, A. (24 Agustus 2023). Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Diakses pada 26 Oktober 2023, 2023, dari https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2719/perasaantidak-enak-setelah-melahirkan-baby-blues-syndrome Firmansyah, T. (28 November 2018). Pembunuh pasutri alami gangguan jiwa skizofrenia paranoid. Republika. https://news.republika.co.id/berita/pivp4r377/pembunuh-pasutri-alami-gangguan-jiwa-skizofrenia-paranoida Fundrika, B. A. (6 September 2023). 5 Kasus Baby Blues di Indonesia, Tega Bunuh Anak Sampai Masuk Penjara. Suara.com. https://www.suara.com/lifestyle/2023/09/06/140500/5-kasus-baby-blues-di-indonesia-tega-bunuh-anaksampai-masuk-penjara Khansa. (19 Januari 2022). Stigma buruk gangguan kesehatan mental hambat pemulihan pasien. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/22185-stigma-buruk-gangguan-kesehatan-mental-hambat-pemulihanpasien/ Pertiwi, G. S. (2022). DINAMIKA PSIKOLOGIS ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER PADA NARAPIDANA KASUS PEMBUNUHAN. tapsel.ac.id, 7(1), 11-21. http://dx.doi.org/10.31604/ristekdik.2022.v7i1.11-21 Pittara. (18 Januari 2023). BPD - Gejala, Penyebab, dan Pengobatan. Alodokter. Diakses pada 26 Oktober 2023, dari https://www.alodokter.com/bpd-borderline-personality-disorder Primananda, A. P. (16 Agustus 2022). Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Diakses pada 26 Oktober 2023, dari https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1314/definisi-mentalillnessgangguan-mental Savitri, T. (18 Februari 2021). Erotomania, Keyakinan Dicintai Seseorang Padahal Gangguan Psikologis. Hello Sehat. Diakses pada 26 Oktober 2023, daro https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/gangguan-psikologiserotomania/ Yusuf, A. (2017). Stigma masyarakat tentang gangguan jiwa.

26


OGT (Oh, gitu, toh): Peran Pendidikan dalam Pencegahan Tindakan Kriminal Pendidikan adalah dasar dari berbagai masyarakat. Banyak kebudayaan dimunculkan dari ilmu turun temurun yang menjadi dasar budaya tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa peraturan-peraturan masa ini didasarkan oleh pengalaman ratusan hingga ribuan generasi sebelumnya. Dengan demikian, informasi yang diturunkan oleh leluhur menjadi peraturan yang ditaati suatu budaya. Di sinilah muncul peran pendidikan dalam mencegah kriminalitas. Pendidikan formal sendiri sangat berpengaruh dalam mencegah tindakan kriminal. Menurut Education and Correctional Populations oleh Caroline Wolf Harlow, Ph.D. (2003), 75% dari narapidana di penjara negara Amerika Serikat belum mencapai jenjang SMA, sementara 59% narapidana dari penjara federal tidak lulus jenjang SMA. Data ini menunjukkan adanya sebuah korelasi negatif antara jenjang pendidikan dan tindakan kriminal. Lalu, bagaimana pendidikan formal dapat menurunkan frekuensi tindakan kriminal walaupun pendidikan formal hanya mengajar pelajaran-pelajaran ilmiah dan tidak terlalu fokus dengan karakter? Menurut artikel di American Economic Review, Lance Lochner dan Enrico Moretti (2013) menyatakan bahwa orang yang memiliki pendidikan tingkat SMA atau lebih tinggi akan mendapat gaji yang lebih tinggi sehingga mengurangi kebutuhan untuk melakukan tindakan kriminal. Mereka juga menyatakan bahwa perilaku kriminal dapat menetap hingga dewasa. Sebaliknya, anak atau remaja yang tidak ikut serta dalam tindakan kriminal di masa muda memiliki kemungkinan lebih rendah untuk terlibat dalam perilaku kriminal saat dewasa. Bukan hanya pendidikan akademis yang membantu mencegah tindakan kriminal, pendidikan moral dan karakter murid juga dapat ikut membantu. Menurut University of San Diego, membangun karakter anak di sekolah bisa membantu mengurangi kekerasan dalam sekolah, dan menyiapkan anak untuk menghadapi masalah di luar lingkungan sekolah. Pendidikan karakter dapat menurunkan sifat

27


agresif murid dan mendorong murid untuk menghadapi masalah tanpa melanggar hukum. Terdapat 11 prinsip yang perlu diikuti untuk membangun karakter di lingkungan akademik, yakni menerapkan nilai-nilai dasar, pemahaman dan penerapan nilai tersebut, membangun karakter yang proaktif, membangun hubungan yang positif, memberi kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut, membentuk karakter yang ingin membantu orang lain, meningkatkan motivasi intrinsik untuk membantu tanpa balasan, mengemban tanggung-jawab, berinteraksi dan menerima kelompok yang luas dan berbeda-beda, serta merevisi atau memperkuat nilai-nilai tersebut. Hampir semua orang diberi ajaran oleh orang-tua atau pengasuhnya, seperti misalnya ajaran untuk tidak main di luar rumah setelah maghrib dan untuk tidak bermain dengan api. Terkadang orang-tua memaparkan konsekuensi fiktif, seperti bahwa menggunting kuku pada malam hari dapat mengundang “makhluk gaib”, dengan tujuan untuk mencegah anak melakukan hal tertentu dan menjaga anak dari bahaya. Misalnya, dalam contoh menggunting kuku tersebut, tujuan sebenarnya adalah untuk mencegah anak tidak sengaja memotong diri sendiri akibat lampu yang redup di masa lalu. Hal ini termasuk pendidikan informal karena hanya disampaikan melalui orang ke orang dan tidak melibatkan sertifikat, seperti halnya di sekolah dan kuliah. Namun, informasi tersebut juga penting karena dapat digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai untuk dijadikan panduan dalam berperilaku. Dengan demikian, pendidikan informal bisa dianggap sama pentingnya dengan pendidikan formal dalam mencegah individu dari melakukan tindakan yang menyimpang. Buku “Using Informal Education: An Alternative to Casework, Teaching and Control?” oleh Tony Jeffs dan Mark Smith menyatakan bahwa kepolisian dan kejaksaan tidak bisa sepenuhnya mengendalikan kenaikan tingkat kriminalitas. Harus ada cara alternatif berbasis masyarakat untuk mencegah tindakan kriminal. Salah satu contohnya adalah program E4J (Education for Justice) yang diadakan oleh World Health Organization (WHO). Tujuan program ini adalah untuk mengurangi tingkat kriminalitas dengan mengajarkan dilema moral dan etis pada kaum muda. E4J melibatkan beberapa metode pengajaran, antara lain dengan memberi referensi materi, referensi program pendidikan, dan bahkan komik serta permainan yang bisa membantu membangun nilai-nilai keadilan.

28


Kesimpulannya, pendidikan sangat berpengaruh terhadap pencegahan tindakan kriminal. Pendidikan formal membantu mengurangi peluang individu untuk berinteraksi dengan kriminal yang dapat memicu mereka untuk melakukan hal-hal yang serupa. Pendidikan formal juga membangun keahlian individu, yang dapat meningkatkan gaji di dunia kerja nantinya sehingga individu tidak perlu melakukan tindakan kriminal untuk memperoleh pendapatan. Selain itu, ada pula pendidikan informal seperti yang disajikan di program E4J dari WHO yang membangun dasar moral murid-murid sehingga mereka kurang berkenan melakukan tindakan kriminal. Orang-tua di rumah juga tentunya berperan dalam mengajarkan nilai-nilai bersikap pada anak serta memberikan contoh. Oleh karena itu, sudah seharusnya pendidikan dijadikan keharusan dan disediakan bagi semua orang demi mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera dan bebas tindakan kriminal. Daftar Pustaka Administrator. (2023, November 14). Character development activities for the classroom. University of San Diego - Professional & Continuing Education. https://pce.sandiego.edu/classroom-character-development-activities/ DeBaun, B., & Roc, M. (2013). Saving Futures, Saving Dollars: The Impact of Education on Crime Reduction and Earnings. https://eric.ed.gov/?id=ED560239 Rogers, A., Jeffs, T., & Smith, M. V. (1991). Using informal education: an alternative to casework, teaching and control? British Journal of Educational Studies, 39(1), 105. https://doi.org/10.2307/3120884 Education and Correctional Populations | Bureau of Justice Statistics. (n.d.). Bureau of Justice Statistics. https://bjs.ojp.gov/library/publications/education-and-correctional-populations Kevin.Town. (n.d.). Education as a tool to preventing crime and promoting a culture of lawfulness. https://www.unodc.org/dohadeclaration/en/news/2017/02/education-as-a-tool-to-preventing-crime-andpromoting-a-culture-of-lawfulness.html Lochner, L., & Moretti, E. (2004). The Effect of Education on Crime: Evidence from Prison Inmates, Arrests, and Self-Reports. The American Economic Review, 94(1), 155–189. https://doi.org/10.1257/000282804322970751

Penulis Thomas Wijaya (2023) Editor Ariellah Sharon Mohede (2021) Adeline Natasha (2022) Designer Naomi Gariella Wijaya (2023) 29


REKOMENDASI PSYGHT REVIEW PODCAST

Soo... Mari Kita Bicarakan True Crime Criminal psychology tidak bisa dilepaskan dari genre true crime, sebuah genre nonfiksi yang membawa topik berkaitan dengan sebuah tindakan kriminal yang telah terjadi. Genre ini melihat dan menganalisis aksi serta orang yang terlibat dalam suatu tindakan kriminal.

Salah satu media yang seringkali digunakan untuk membahas topik ini adalah media podcast. Adapun salah satu podcast true crime yang cukup terkenal adalah ‘Rotten Mango’ oleh Stephanie Soo, seorang influencer asal Korea Selatan yang dikenal dari konten true crime yang ia bawakan melalui media sosialnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, minat masyarakat dalam genre true crime semakin meningkat. Dari film seperti Zodiac dan Ice Cold serta serial seperti Narcos dan Dahmer, masyarakat memiliki ketertarikan dalam berbagai kasus kriminal dan senang menganalisis serta mendengarkan analisis mengenai alasan di belakang tindakan-tindakan tersebut.

Dalam serial podcast-nya, Stephanie Soo membawakan beragam kasus kriminal yang pernah terjadi, baik yang telah dipecahkan maupun yang masih diselidiki hingga sekarang, di antara lain seperti insiden kapal Sewol, kasus kopi Mirna, dan kasus Human Puzzle. Stephanie Soo menceritakan kasuskasus tersebut dengan cara yang menarik perhatian tetapi tetap dengan sopan dan hormat terhadap korban dari tindakan kriminal yang terjadi.

30


Selain itu, setiap kasus yang dibawakan diselidiki dengan rinci dan dituliskan dalam website ‘Rotten Mango’. Analisis yang ia lakukan juga disajikan sesuai dengan informasi yang diperoleh dari sumber yang terpercaya. Oleh sebab itu, setiap kasus yang dibawakannya dapat dipaparkan secara detail dan tidak hanya menceritakan kasusnya tetapi juga orang yang terlibat di dalamnya.

Dengan banyak episode yang masing-masing berdurasi satu hingga dua jam, konten yang dapat didengarkan berlimpah. Oleh karena itu, apabila Anda merupakan seseorang yang gemar dengan pembahasan true crime, ‘Rotten Mangos’ oleh Stephanie Soo dapat menjadi podcast andalan Anda. Penulis: Vanessa Layono (2023)

Editor: Ariellah Sharon M. (2021)

Stephanie Soo membawakan kasuskasusnya dengan menarik dan deskriptif serta dengan penuh hormat kepada para korban dan keluarga mereka. Ia juga memberikan sumber yang ia gunakan agar para pendengar dapat menyelidiki kasus lebih lanjut. Walaupun demikian, kebijakan pemirsa tetap disarankan karena topik yang dibawakan seringkali cukup sensitif.

Designer: Yasinta Tiara A. (2021)

31


Rekomendasi PSYGHT:

Playlist (musik favorit anggota PSYGHT) Dalam playlist ini, kita akan merambah ke dalam dunia gelap criminal psychology. Melalui melodi yang memikat dan lirik yang mendalam, lagulagu ini menggali sisi terdalam dari perasaan yang sulit dimengerti, misteri yang tak terpecahkan dan aspek-aspek gelap dalam pemikiran manusia. Mulai dengarkan sekarang di sini: 1. Smooth Criminal - Michael Jackson 2. Goodnight and Go - Imogen Heap 3. Pumped Up Kicks - Foster The People 4. The Snake - Lana Lubany 5. The Night We Met - Lord Huron (ft. Phoebe Bridgers) 6. Monster - EXO 7. Drugs N Hella Melodies - Don Toliver (ft. Kali Uchlis) 8. Smooth Operator - Sade 9. Kill Bill - SZA 10. Every Breath You Take - The Police 11. Peek-A-Boo - Red Velvet 12. Hurricane - Bob Dylan 13. The Pretender - Foo Fighters 14. Sherlock (Clue + Note) - SHINee 15. Back To Black - Amy Winehouse

https://tinyurl.com/5fjc39c4

32


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
PSYGHT MAGAZINE #21 by PSYGHTUAJ - Issuu