Regulasi dan Kebijakan Lingkungan dalam Pengembangan "Green energy"
Cerita Inspiratif peserta KKN Karimun Jawa 05 08 15
Chemical Innovation: Pengembangan Bahan Bakar Hydrogen sebagai Bahan Bakar Alternatif
E isiensi Penggunaan Teknologi untuk Mengurangi Konsumsi Energi
Biokatalis Sebagai Langkah Menuju Industri Berkelanjutan
Mengenal Manfaat Tanaman Indigofera Sebagai Pewarna Alami Industri Tekstil
Wirausaha Masa Depan :
Motivasi sukses juara KMI EXPO 2024
Mengabdi di Tengah laut :
Regulasi & kebijakan lingkungan
dalam pengembangan
Perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil telah mendorong dunia untuk beralih ke energi terbarukan atau "Green
Energy" . Energi terbarukan
adalah energi yang bersumber dari alam, seperti matahari, angin, air, dan biomassa, yang tidak menimbulkan polusi dan dapat diperbarui secara berkelanjutan. Namun, pengembangan green energy membutuhkan kerangka regulasi dan kebijakan lingkungan yang kuat agar transisi menuju energi bersih dapat berjalan efektif dan efisien.
Di Indonesia, transisi energi ini sejalan dengan komitmen negara serta merupakan konsekuensi dari ratifikasi Perjanjian Paris, yang disahkan melalui Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Perjanjian Paris dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim. Komitmen terhadap transisi energi ini tidak hanya meningkatkan kesadaran akan pelestarian lingkungan, tetapi juga menekankan bahwa peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan m teknologi canggih.
Inilah yang mendorong regulasi mengenai energi terbarukan. Puncaknya ketika penyusunan
Rancangan Undang-Undang tentang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT), rancangan tersebut akan menjadi kerangka hukum untuk pengelolaan EBT serta landasan dalam merumuskan kebijakan investasi EBT di Indonesia (Putri et al., 2022).
Beberapa kebijakan lingkungan yang telah diadopsi berbagai negara untuk mendukung pengembangan green energy antara lain:
Renewable Energy Portfolio Standards (RPS)
RPS adalah kebijakan yang mewajibkan perusahaan utilitas untuk mendapatkan persentase tertentu dari energi yang dihasilkan dari sumber terbarukan.
Feed-in Tariffs (FiTs)
Feed-in Tariffs adalah kebijakan yang menetapkan harga tetap
bagi produsen energi terbarukan untuk setiap kilowatt-hour (kWh) energi yang mereka hasilkan. FiTs memberikan insentif finansial bagi produsen energi hijau dan mempercepat pembangunan proyek energi terbarukan skala besar (Stokes, 2013).
Carbon Pricing (Harga Karbon)
Harga karbon adalah kebijakan yang membebankan biaya atas setiap emisi karbon yang dihasilkan. Kebijakan ini mencakup sistem perdagangan emisi (emissions trading systems) dan pajak karbon (carbon tax), keduanya bertujuan untuk menurunkan emisi GRK dengan memberi nilai ekonomi pada pengurangan polusi (Azizi MJ et al., 2023).
Subsidi dan Insentif Pajak
Subsidi dan insentif pajak diberikan untuk mengurangi
biaya awal investasi pada proyek energi hijau. Negara seperti Jerman dan China telah memberikan subsidi besarbesaran untuk energi angin dan matahari, sehingga mempercepat transisi ke energi terbarukan di negara-negara tersebut (Harris & Ramadhan, 2022).
1.MM Mendorong Investasi dalam Energi Terbarukan
Kebijakan lingkungan yang jelas dan stabil dapat memberikan kepastian bagi investor untuk menanamkan modal dalam proyek energi hijau. Kebijakan seperti subsidi, insentif pajak, dan program dukungan finansial telah terbukti efektif dalam meningkatkan investasi pada infrastruktur energi terbarukan.
Misalnya, kebijakan subsidi energi matahari dan angin di Eropa telah menarik miliaran dolar investasi sektor swasta.
2. Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca Regulasi yang ketat terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor industri, transportasi, dan energi fosil dapat mendorong peralihan ke energi hijau. Salah satu contoh adalah carbon pricing, yaitu kebijakan yang mengenakan biaya atas setiap ton emisi karbon yang dihasilkan. Dengan adanya regulasi ini, perusahaan-perusahaan terdorong untuk mengurangi emisi dan beralih ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Regulasi dan Kebijakan Lingkungan Dalam Pengembangan "Green
3. Mendukung Inovasi
Teknologi
Regulasi yang mendukung riset dan pengembangan teknologi energi bersih memainkan peran penting dalam mengakselerasi
green energy. Kebijakan yang menyediakan dana penelitian untuk kolaborasi antara sektor swasta dan akademisi, serta perlindungan kekayaan intelektual mendorong inovasi
teknologi baru yang membuat
energi terbarukan semakin efisien dan terjangkau.
4. Perencanaan Tata Ruang yang Ramah Lingkungan Regulasi yang mengatur tata ruang, penggunaan lahan, dan pengelolaan sumber daya alam juga penting dalam mendukung pengembangan green energy. Misalnya, kebijakan tata ruang yang mengalokasikan area tertentu untuk pengembangan ladang angin atau pembangkit listrik tenaga surya dapat memastikan penggunaan lahan yang efisien tanpa mengganggu ekosistem.
Azizi MJ, N., Kurnia Putra, A., & Sipahutar, B. (2023). Perdagangan Karbon: Mendorong
Mitigasi Perubahan Iklim Diantara Mekanisme Pasar Dan Prosedur Hukum. Jurnal Selat, 10(2), 91–107.
Harris, R. F., & Ramadhan, M. F. A. (2022). Formulasi Yuridis Terhadap Urgensi PerancanganTerhadap Urgensi Perancangan Kebijakan Pajak Karbon Sebagai Pendorong Transisi Energi Baru Terbarukan Berdasarkan Pancasila. Ikatan Penulis Mahasiswa Hukum Indonesia Law Journal, 2(2), 157–171
Joshi, J. (2021). Do renewable portfolio standards increase renewable energy capacity?
Evidence from the United States Journal of Environmental Management, 287(March), 112261.
Stokes, L. C. (2013). The politics of renewable energy policies: The case of feed-in tariffs in Ontario, Canada Energy Policy, 56, 490–500
IChemical nnovation
Pengembangan Bahan Bakar Hidrogen sebagai Bahan Bakar Alternatif
Writer: Muna
Editor: Sasa Designer: Khayra
Dalam kurun waktu lebih dari satu abad, penggunaan bahan bakar fosil
telah berkontribusi di berbagai sektor industri. Bahkan di Indonesia, energi fosil tetap menjadi sumber utama energi primer hingga tahun 2050 dengan peningkatan sebesar 407 juta Ton Oil Equivalent (TOE) dalam skenario Business As Usual (BAU) dan 448 juta TOE dalam skenario Carbon Policy (CP) (Setyono & Kiono, 2021). Permasalahan yang muncul akibat pembakaran bahan bakar fosil meliputi polusi lingkungan, bahkan berimbas pada peningkatan suhu rata-rata global dan perubahan iklim yang ekstrim akibat adanya efek dari rumah kaca (Li et al., 2015).
Oleh karena itu, dalam menghadapi permasalahan-permasalahan terkait energi di masa sekarang, timbul kebutuhan mendesak terhadap pengembangan dari sumber energi yang terbarukan, bersih, terjangkau, serta berkelanjutan.
Di antara sumber energi yang ramah lingkungan, seperti angin, energi panas bumi, biomassa, energi matahari, dan lain-lain, hidrogen dianggap sebagai pembawa energi yang ideal dikarenakan hidrogen merupakan sumber energi yang bersih, terbarukan, bebas karbon, dan memiliki kepadatan energi yang tinggi (Ye et al., 2017).
Keunggulan yang dimiliki hidrogen sehingga cocok dijadikan sebagai
bahan bakar alternatif, yaitu:
1.
Hidrogen adalah sumber energi yang bersih dan tidak menghasilkan emisi saat digunakan yang membuatnya menjadi pilihan yang baik untuk mengurangi polusi udara.
2.
Hidrogen adalah unsur kimia paling melimpah di alam semesta dan memiliki potensi besar sebagai bahan bakar karena densitas energi yang tinggi Hidrogen dapat diproduksi dari berbagai sumber, termasuk air, biomassa, dan gas alam.
3.
Hidrogen dapat disimpan dengan mudah baik dalam bentuk gas cair atau terkompresi yang membuatnya mudah diangkut dan digunakan.
Produksi hidrogen sebagai bahan bakar alternatif dapat dilakukan melalui beberapa metode, antara lain elektrolisis, reformasi gas alam
dan water splitting dengan masingmasing memiliki kelebihan dan tantangan tersendiri.
Elektrolisis
merupakan proses pemisahan molekul air (H₂O) menjadi hidrogen dan oksigen dengan menggunakan listrik Penggunaan energi terbarukan sebagai sumber listrik dalam proses elektrolisis menciptakan "hidrogen hijau" yang bebas dari emisi karbon. Namun, efisiensi proses ini masih menjadi tantangan utama, terutama dalam hal konsumsi energi dan biaya produksi yang tinggi
Reformasi gas alam merupakan proses pemisahan hidrogen dari metana (CH₄), yang menghasilkan "hidrogen abu-abu" karena adanya emisi CO₂. Meskipun terkesan lebih efisien dan ekonomis akan tetapi, menciptakan "hidrogen abu-abu" yang tetap menghasilkan emisi CO₂, kecuali jika dikombinasikan dengan teknologi carbon capture and storage (CCS)
Water Splitting
merupakan proses mengekstrak hidrogen melalui pemisahan air menjadi oksigen dan hidrogen. Dalam proses produksi hidrogen tersebut, water splitting dengan menggunakan energi matahari
merupakan salah satu metode yang paling efektif dan terbarukan karena sumber daya alam tersebut melimpah, dapat diperbaharui, dan memiliki dampak yang lebih baik terhadap lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil.
Daftar Pustaka
Setyono, A. E., & Kiono, B. F. T. 2021. Dari Energi Fosil Menuju Energi Terbarukan: Potret Kondisi Minyak dan Gas Bumi Indonesia Tahun 2020–2050. Jurnal Energi Baru Dan Terbarukan, 2(3), pp. 154-162.
Li, X., Yu, J., Low, J., Fang, Y., Xiao, J., & Chen, X. 2015. Engineering Heterogeneous Semiconductors For Solar Water Splitting. Journal of Materials Chemistry A, 3(6), pp. 2485-2534.
Ye, K.H., Wang, Z., Gu, J., Xiao, S., Yuan, Y., Zhu, Y., Zhang, Y., Mai, W., & Yang, S., 2017. Carbon Quantum Dots As A Visible Light Sensitizer To Significantly Increase The Solar Water Splitting Performance Of Bismuth Vanadate Photoanodes. Energy & Environmental Science, 10(3), pp. 772-779.
dalam berbagai bidang adalah kemajuan pesat dari teknologi informasi. Teknologi adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Efisiensi teknologi mengacu pada kemampuan suatu teknologi untuk menghasilkan output yang maksimal dengan input yang minimal. Sederhananya, ini berarti menggunakan teknologi seefektif mungkin untuk mencapai tujuan tertentu. Pada saat ini kemajuan teknologi semakin meluas dan bahkan sangat membahayakan bagi sebagian orang yang tidak mampu mengontrol arus teknologi. Efisiensi penggunaan teknologi sangat penting diperlukan untuk mengurangi konsumsi energi. Di masa ini sudah banyak ramalan yang mengatakan bahwa di masa depanakanterlihat“kantortanpa kertas” (paperless office) berkat penggunaan mikro film, kaset, disket,CDRoomdansejenisnya.
Maka dari itu diperlukan penggunaan efisiensi yang tepat untuk mengurangi konsumsi energi.
Efisiensi energi selain berpengaruh pada pengurangan konsumsi energi, juga berpengaruh pada pengurangan pengeluaran operasional penghuni. Efisiensi energi sangat potensial dilakukan di negara berkembang khususnya Indonesia, dan sangat dipengaruhiolehfaktorpasardan kebijakanpublik.Inovasiteknologi dengan segala potensinya muncul sebagai kekuatan pengubah dalam menghadapi tantangan dari pemborosan konsumsi energi. Penerapan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan, analisis data yang mendalam, dan platform digital menjadi kunci utama dalam menyediakan solusi yang efektif. Sangat disayangkan jika kemajuanteknologitidakmampu diimbangi dengan efisiensi teknologi dalam upaya pengurangankonsumsienergi.
Pada dunia pertanian dapat diambil contoh berupa sistem irigasi. Inovasi teknologi irigasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaanairdalampertanian. Pertama,sistemirigasitetestelah terbukti menjadi metode yang efektif dalam mengurangi kebocoranairdanmeminimalkan pemborosan air yang tidak perlu. Hal ini telah dijelaskan pada artikel dari Hasibuan (2024) mengenaiinovasiteknologiirigasi dalam menigkatkan efisiensi air dalam pertanian dengan menggunakan sistem irigasi tetes. Metode ini mengirimkan air langsung ke akar tanaman melalui tetesan-tetesan kecil, mengurangi pemborosan air akibat penguapan dan kebocoran. Sistem ini memastikan bahwa air yang dibutuhkan oleh tanaman tepat sasaran dan tidak terbuang percuma.
Namun dari adanya inovasi teknologi yang mampu membantudalampengurangan
konsumsi energi, masih terlihat kurangnya kesadaran dari masyarakat. Masyarakat kita perlu mengadopsi teknologi komunikasi tanpa meninggalkan nilai budaya setempat. Perkembangan teknologi dan industri komunikasi memang harus dilihat secara paralel dengan proses industri dengan logika internal yang menyertainya, tetapi tetap saja teknologi dan industri digital harus dilihat secara kritis. Pengunaanteknologijustrusering disalah gunakan dan perlu adanya edukasi yang tepat sasaran agar kita tetap mampu menerapkan efisiensi penggunaan teknologi untuk mengurangikonsumsienergi
Referensi
Hasibuan, M. R. R. (2023). Inovasi Teknologi Irigasi Dalam Meningkatkan Efisiensi Penggunaan AirDalamPertanian. Indrayani, H. (2012). Penerapan teknologi informasi dalam peningkatan efektivitas, efisiensi dan produktivitas perusahaan. Jurnal ElRiyasah,3(1),48-56.
BIOKATALIS SEBAGAI LANGKAH MENUJU INDUSTRI BERKELANJUTAN
Writer : Kirana
Editor : Kanthi Desainer : Alkadri
Industri global dihadapkan pada tantangan yang signifikan untuk mengurangi dampak lingkungan sembari tetap menjaga produktivitas dan efisiensi.
Pertumbuhan industri yang semakin pesat memicu peningkatan jumlah dan jenis limbah industri yang dilepaskan ke lingkungan (Hari, 2016). Sekecil apapun kuantitas bahan kimia atau material berbahaya yang terlepas ke lingkungan dapat menimbulkan risiko kesehatan dan kerusakan ekosistem. Bahanbahan toksik seperti HCl, H2SO4, Ni, dan Co yang digunakan dalam berbagai proses industri merupakan penyebab utama pencemaran lingkungan, terutama dalam hal kontaminasi air yang terjadi akibat aktivitas antropogenik (Hanmun et al., 2022).
Dengan demikian, industri diharuskan untuk beradaptasi dengan praktik yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan energi. Salah satu pendekatan yang potensial untuk
mencapai keberlanjutan industri adalah dengan menerapkan biokatalis. Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (2022) mengungkapkan bahwa biokatalisis adalah proses kimia yang menggunakan katalis biologis (biokatalis) dan dianggap sebagai metode yang bersih, ekonomis, serta mampu memfasilitasi reaksi yang sulit dicapai melalui metode kimia konvensional. Biokatalis, yang meliputi enzim dan mikroorganisme, menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan katalis tradisional berbasis logam berat atau bahan kimia sintetis (Ishak et al., 2019).
Biokatalis jenis enzim, yang dihasilkan oleh sel hidup, memainkan peran penting dalam proses metabolisme organisme dan sering disebut sebagai ecoenzyme (Wening & Herdyastuti, 2021). eco-enzyme adalah larutan organik yang dihasilkan melalui proses fermentasi dari campuran limbah sayuran atau buah
molase, dan air. Proses fermentasi ini menghasilkan berbagai senyawa seperti alkohol, asam asetat, dan enzim, yang berfungsi sebagai katalis dalam berbagai proses produksi. Penggunaan eco-enzyme dapat meminimalkan dampak negatif katalis kimia terhadap lingkungan dan memanfaatkan limbah organik, sehingga mendukung prinsip-prinsip industri berkelanjutan (Zulyetti et al., 2023). Berikut adalah beberapa aplikasi eco-enzyme yang dapat diterapkan di berbagai sektor industri.
Selain itu, biokatalis mikroorganisme, seperti bakteri, ragi, dan jamur, juga memiliki peran penting dalam mendukung industri berkelanjutan (Riffiani & Sulistinah, 2018). Mikroorganisme ini mampu menjalankan reaksi biokimia yang kompleks dengan efisiensi tinggi. Penggunaan mikroorganisme sebagai biokatalis tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis tetapi juga mengurangi limbah industri
Aplikasi eco-enzyme yang dapat diterapkan di berbagai sektor industri.
Penelitian mengenai biokatalis mikroorganisme menunjukkan potensi signifikan dalam berbagai industri berkelanjutan. Misal
penelitian milik Sulistinah et al. (2016), Rhodococcus pyridinivorans GLB5 mampu mengkonversi senyawa methyl sianida dan phenyl sianida menjadi amida dan asam karboksilat, dengan aplikasi potensial pada industri kimia ramah lingkungan. Biokatalis menawarkan solusi yang kuat untuk tantangan industri modern dalam mewujudkan keberlanjutan. Dengan kemampuannya untuk mengurangi konsumsi energi, memanfaatkan sumber daya terbarukan, dan mengurangi limbah, biokatalis dapat menjadi pilar utama dalam transisi menuju industri yang lebih hijau. Dengan demikian, biokatalis tidak hanya menjadi langkah penting menuju industri berkelanjutan tetapi juga kunci dalam menciptakan masa depan yang lebih baik bagi lingkungan dan generasi mendatang.
Referensi
Ishak, N., Yusop, N. M., Kassim, A. S. M., Aripin, A. M., Sharifah, S. M., & Oluwatosin, A. F. (2019). Insect Enzymes For Biotechnology Industry: From Nature To Industrial Applications. Journal of Engineering and Health Sciences, 3(1), 25-40. Riffiani, R., & Sulistinah, N. (2018). Keragaman Bakteri Penghasil Enzim Penghidrolisis Nitril di Pulau Enggano Bengkulu. Berita Biologi, 16(3), 265-277.
Mengenal Manfaat
sebagai Pewarna Alami Industri Tekstil
Writer: Fera
Editor: Jenisha Designer: Khayra
Kira-kira apa saja sih kelebihan pewarna alami?
Industri tekstil merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun seiring dengan perkembangannya, industri ini juga dihadapkan pada tantangan dalam hal pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan bahan kimia berbahaya, terutama dalam proses pewarnaan tekstil (Mukti et al., 2023). Pewarna sintetis yang umumnya digunakan dalam industri tekstil mengandung zatzat kimia yang dapat mencemari air dan tanah serta berpotensi merusak kesehatan manusia (Pujilestari, 2015). Terdapat banyak penelitian dan inovasi alternatif pewarna yang lebih ramah llingkungan, ssalahh ssatu
inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan pewarna alami dari tanaman indigofera Tanaman Indigofera merupakan salah satu jenis tanaman yang daunnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami dalam industri tekstil (Haryanto et al., 2015). Pewarna indigo dari tanaman Indigofera telah digunakan selama ribuan tahun di berbagai budaya di seluruh dunia. Meningkatnya kesadaran akan pentingnya bahan yang ramah lingkungan, pewarna alami seperti indigo dari Indigofera kembali menarik perhatian sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk pewarna sintetis dalam industri tekstil. Beberapa spesies yang populer digunakan untuk pewarna adalah Indigofera tinctoria, Indigofera suffruticosa,
dan Indigofera arrecta (Novalesi & Affanti, 2021). Tanaman ini telah dikenal sebagai sumber pewarna biru alami yang dikenal sebagai indigo Pewarna indigo diekstraksi dari daun tanaman Indigofera melalui proses fermentasi yang melibatkan oksidasi (Martuti, 2019).
Penggunaan pewarna alami dari Indigofera memiliki sejumlah manfaat, baik dari segi lingkungan, sosial, maupun ekonomi Pewarna alami ini tidak hanya aman untuk lingkungan karena tidak menghasilkan limbah beracun, tetapi juga lebih ramah untuk proses pewarnaan dan konsumen akhir yang menggunakan produk tekstil tersebut.
Kelebihan Indigofera sebagai
Pewarna Alami dalam Industri Tekstil
Ramah Lingkungan
Manfaat utama penggunaan Indigofera sebagai pewarna alami adalah minimnya dampak terhadap lingkungan. Pewarna sintetis dalam industri tekstil umumnya mengandung bahan kimia beracun seperti logam berat atau formaldehida dan proses pembuatannya juga menghasilkan limbah yang berbahaya. Pewarna alami dari Indigofera tidak menghasilkan limbah beracun.
Proses pewarnaan menggunakan indigo alami ttidakk memerlukan
penggunaan bahan kimia yang
berbahaya, sehingga lebih ramah lingkungan
Kesehatan dan Keamanan
Pewarna sintetis sering kali mengandung bahan kimia yang dapat menimbulkan alergi, iritasi kulit, dan bahkan efek karsinogenik. Pewarna alami dari Indigofera dianggap aman untuk kesehatan karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya sehingga lebih aman untuk digunakan pada pakaian, terutama pakaian bayi dan anakanak karena mereka memiliki kulit yang sensitif.
Kualitas Warna dan Ketahanan Meskipun warna yang dihasilkan oleh pewarna alami dari
Indigofera cenderung lebih lembut, kualitas warna biru yang dihasilkan cukup stabil dan memiliki ketahanan yang baik terhadap pencucian dan paparan sinar matahari Hal ini menjadikannya pilihan yang tepat untuk pewarnaan tekstil yang memerlukan daya tahan warna yang tinggi.
Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Budi daya tanaman Indigofera dan produksi pewarna alami dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat pedesaan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia Pengolahann indigoo alami juga
Mengenal Manfaat Tanaman Indigofera sebagai Pewarna
dapat melibatkan tenaga kerja
lokal, memberikan manfaat ekonomi lebih lanjut bagi masyarakat setempat.
Pemanfaatan dalam Produk
Berkelanjutan
Meningkatnya tren keberlanjutan di seluruh dunia, terdapat banyak merek fashion yang beralih ke bahan dan proses produksi yang lebih ramah lingkungan Pewarna alami dari Indigofera sangat cocok untuk produk fashion berkelanjutan karena selain ramah lingkungan, pewarna ini juga mendukung praktik etika dan sosial yang baik dalam produksi tekstil.
Pewarna alami dari tanaman Indigofera merupakan inovasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan bagi industri tekstil.
Selain memberikan manfaat lingkungan dan kesehatan, pewarna ini juga mendukung praktik ekonomi dan sosial yang lebih baik. Manfaat jangka panjang yang dihasilkan pada pewarna indigofera sangat menjanjikan Melalui penelitian dan pengembangan yang terusmenerus, diharapkan pewarna alami dari Indigofera dapat menjadi bagian integral dari industri tekstil modern yang lebih hijau dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Haryanto, D., Bargumono, B., & SUYADI, S. (2015). Budidaya Indigofera NNNNSebagai Bahan Baku Pewarna Batik Alami. Jurnal Riset Daerah BPPD NNNNKabupaten Bantul DIY Budidaya Indigofera sebagai Bahan Baku n Pewarna Batik Alami, 14(3), 2299-2306. Mukti, M. W. P., Sumantra, I. M., & Karuni, N. K. (2023). Studi Pemanfaatan NNNNWarna Alam Pada Produk Tekstil HASTAGINA: Jurnal Kriya dan NNNNIndustri Kreatif, 3(02), 207-213. Novalesi, Y., & Affianti, T. B. (2021, November). Tekstil Ikat Celup Asimetris NNNNDengan Pewarnaan Indigofera Tinctoria Pada Produk Loose Fit Untuk NNNNWanita. In Prosiding Seminar Nasional Industri Kerajinan dan Batik NNNN(Vol. 3, No. 1, pp. 10-1).
Pujilestari, T. (2015). Sumber dan pemanfaatan zat warna alam untuk NNNNkeperluan industri. Dinamika Kerajinan dan Batik, 32(2), 93-106.
Wirausaha Masa Depan Wirausaha Masa Depan
Reporter : Naila & Sabrina
Reporter : Naila & Sabrina
Desainer: Monica Desainer: Monica
Editor : Sasa Editor : Sasa
Halo sobat Tekkim! Pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Program Pengembangan Usaha Mahasiswa (P2MW) Program ini merupakan program yang diselenggarakan oleh (Ditjen Diktiristek) Kemendikbudristek yang bertujuan untuk menjadi wadah pengembangan usaha mahasiswa yang telah memiliki usaha melalui bantuan dana pengembangan dan pembinaan dengan melakukan pendampingan serta pelatihan (coaching) usaha. Pada tahun ini, program studi Teknik Kimia berhasil mengirim tim lolos menuju KMI Expo
Tahun ini tim Ecozym dengan ketua Kak Nisrina dari Teknik Kimia 21 berhasil lolos KMI Expo, yuk kita ulik lebih dalam cerita dibalik perjalanan menuju KMI!
Salah satu alasan Kak Nisrina dan timnya mengikuti P2MW tahun ini yaitu karena P2MW bisa menjadi wadah dan gerbang untuk mengembangkan produk eco-enzim menuju KMI Expo Berawal dari projek PKM tahun lalu, Ecozym dibuat dengan menciptakan produk yang dapat digunakan sehari-hari dan memberikan nilai tambah. Mereka mengembangkan produk sabun tanpa bilas dengan menggunakan bahanbahan alami, termasuk eco-enzim dari kulit buah, yang telah terbukti efektif sebagai anti-bakteri loh!!! Untuk menjalankan program ini, tentu saja mereka melalu yang panjang dan melakukan studi banding terlebih dahulu untuk menjadi moda eco-enzim ke depannya
penelitian dan pengembangan Berbagai studi literatur dilakukan untuk memastikan formulasi yang tepat, termasuk pemilihan bahan dan teknik fermentasi. Tim juga menghadapi kesulitan dalam menyatukan bahan-bahan, seperti minyak kemiri dan essential oil yang memerlukan studi mendalam untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pentingnya proses trial and error dalam pengembangan produk tidak bisa diabaikan
Tim mengalami beberapa kendala terutama dalam memastikan kualitas bahan baku, seperti menghindari penggunaan buah yang sudah busuk dalam proses fermentasi Pengawasan ketat dan kontrol rutin dilakukan untuk memastikan bahwa produk akhir tidak hanya efektif tetapi juga aman digunakan
Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya suatu produk yang bagus di belakang nya ada tim yang sangat luar biasa dan tim Ecozym terdiri dari individu-individu yang saling melengkapi. Nisrina sebagai CEO bertanggung jawab untuk mengatur seluruh aspek proyek, mulai dari produksi hingga penjualan Stefani sebagai CPO bertanggung jawab memimpin bagian produksi, termasuk pengemasan dan formulasi produk. Habibi sebagai CMO yang bertanggung jawab atas pemasaran dan publikasi, sementara Eka sebagai CFO bertanggung jawab mengelola keuangan tim. Kombinasi keahlian ini memungkinkan tim untuk bekerja secara efisien, menghadapi berbagai tantangan, dan meraih kesuksesan. Selama proses pengembangan, tim sering kali menghadapi tantangan dan dinamika internal. Namun, mereka berhasil mengatasi masalah tersebut dengan berfokus pada visi dan misi bersama. Kak Nisrina mengakui bahwa proses ini melibatkan banyak pengorbanan, termasuk waktu dan tenaga. Meskipun demikian, semangat dan dedikasi tim membuat mereka terus maju loh sobat UNNES.
Perjalanan Ecozym adalah contoh nyata dari ketekunan, inovasi, dan kerja sama tim. Dari awal yang sederhana hingga pencapaian di tingkat nasional tim ini menunjukkan bagaimana ide yang baik, ditambah dengan persiapan yang matang dan komitmen yang kuat sehingga dapat menghasilkan produk yang bermanfaat. Harapan untuk masa depan adalah terus mengembangkan produk, memperluas jangkauan, dan menghadapi tantangan baru dengan semangat yang sama.
Kak Nisrina juga memberikan motivasi nih untuk kalian yang mau ikut KMI Expo, "Sebagai seorang wirausaha, keberanian untuk mencoba adalah kunci utama. Jangan biarkan ketakutan menghalangimu untuk mendaftar atau memulai sesuatu, karena tanpa mencoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Ketika menghadapi masal h tetaplah bersama tim dan fokuslah pada solusi serta langkah-langkah selanjutn Mengambil kesempatan berarti siap menghadapi risikonya, termasuk mengatur wa dengan bijak dan menerima konsekuensi yang ada Jangan takut gagal sebel mencoba, lebih baik mencoba dan belajar dari kegagalan daripada menyesal tid pernah mencobanya Sebagai mahasiswa, manfaatkanlah kesempatan un mengikuti lomba dan proyek yang ada, karena ini adalah peluang berharga un mengembangkan ide, mendapatkan penghargaan, dan membangun portofolio ya kuat untuk masa depan".
Reporter: Ananda & Daru
Desainer: Monica
Dalam perjalanan KKN kali ini, dua tim dari
Teknik Kimia Universitas Negeri Semarang berkesempatan menjalani program di salah satu destinasi eksotis Indonesia, Karimunjawa Dipimpin oleh dua kormades yang berdedikasi
Editor: Olivia
"Awalnya aku gamau ikut karena pasti bakal panas banget, tapi akhirnya aku tertarik buat daftar dan lolos seleksi prodi," cerita Luvena
Luvena dan Wikandaru, masing-masing tim menghadapi tantangan sekaligus menikmati keindahan alam yang memukau. Bukan hanya pemandangan yang luar biasa, tetapi juga pengalaman berharga yang mereka dapatkan selama di sana
Luvena awalnya ragu untuk mengikuti KKN di Karimunjawa karena khawatir akan panasnya cuaca di sana Namun, ketertarikan untuk mencoba hal baru akhirnya mendorongnya untuk mendaftar dan ia berhasil lolos seleksi
Di sisi lain, Wikandaru yang memimpin tim lainnya, juga menghadapi persiapan yang tidak main-main Mengingat Karimunjawa adalah pulau kecil yang memerlukan perjalanan lima jam dengan kapal feri, persiapan pun harus matang. Mereka harus membawa banyak barang, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga peralatan untuk melaksanakan program kerja (proker) di sana Selama menjalani KKN, kedua tim ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal mengumpulkan masyarakat untuk mengikuti programprogram yang diadakan "Masyarakat di sini, terutama yang berprofesi sebagai nelayan atau pemandu wisata, sangat sibuk. Jadinya, kita harus melaksanakan proker di malam hari," kata Wikandaru. Namun, tantangan ini tak menyurutkan semangat mereka untuk terus berkontribusi
Salah satu momen paling berkesan bagi tim-tim ini adalah saat mereka disambut hangat oleh anak-anak sekolah dasar setempat "Antusiasme mereka terhadap edukasi sains dari kami benar-benar mengesankan," kenang Wikandaru. Sambutan hangat dari pihak Balai Taman
Nasional dan pemerintah desa juga menjadi pengalaman yang tidak terlupakan, terutama saat mereka diajak berkolaborasi dalam menjaga ekosistem laut Karimunjawa.
Tak hanya belajar tentang cara menjaga lingkungan, mereka juga merasakan kehidupan ‘slow living’ yang kental di Karimunjawa. "Selain bekerja, orang-orang di sini juga menikmati hidup. Mereka sering mengadakan acara persembahan yang ramai dihadiri
warga, " ujar Wikandaru
Keindahan alam Karimunjawa pun menjadi latar belakang yang sempurna untuk menginspirasi dan menyegarkan pikiran mereka di tengah kesibukan proker
Setelah menjalani semua ini, Luvena mengaku bahwa pandangannya tentang KKN
berubah drastis. "Dulu aku paling anti sama KKN karena menurutku ribet. Tapi sekarang, aku malah udah bayangin gimana sedihnya besok saat mau pulang ke Semarang," ucapnya dengan haru
Untuk teman-teman yang akan menjalani KKN di kemudian hari, pesan dari kedua kormades ini adalah: "Lakukanlah proker dengan sepenuh hati, sebarkan ilmu yang kita punya, dan nikmati setiap momennya. Karena siapa tahu, kamu bisa jatuh cinta dengan tempat yang kamu tinggali, seperti kami jatuh cinta dengan Karimunjawa."
Sementara untuk masyarakat Karimunjawa, Luvena, Wikandaru, dan teman-teman mereka hanya bisa mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat dan pelajaran berharga yang mereka terima. Karimunjawa telah memberi mereka lebih dari sekadar pengalaman KKN tetapi juga pelajaran hidup yang tak ternilai
Mengabdi di Tengah Laut: Cerita Inspiratif Peserta KKN
SEPARATION SEPARATION
Edisi 6 Bagian 2
Regulasi dan kebijakan lingkungan dalam pengembangan "Green energy”
Perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil telah mendorong dunia untuk beralih ke energi terbarukan atau "Green Energy". Di Indonesia, perubahan energi ini selaras dengan janji negara dan juga merupakan hasil dari pengesahan Perjanjian Paris, yang dilakukan melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Perjanjian Paris dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim. Keseriusan terhadap perubahan energi ini tidak hanya mengedepankan kesadaran lingkungan, tapi juga menegaskan bahwa pergantian dari energi fosil ke energi terbarukan memerlukan teknologi yang mutakhir. Ini adalah alasan di balik pengaturan energi terbarukan. Saat RUU EBT disusun, itu akan menjadi dasar hukum untuk manajemen dan kebijakan investasi EBT di Indonesia.