Page 1

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

BISNIS RIMBA

Kolaborasi Perhutani dan Petrosida

Kembangkan Sarpra Tanaman Biomassa Warisan RIMBA

Refleksi Kekejaman PKI

di Monumen Suryo

M A JA L A H

PER H U T A N I

RIMBA Daya

Di Singaparna,

Pepaya California pun Berkembang WISATA RIMBA

Warna-warni di Taman Bunga

Puncak Kalang ensikloRIMBA

Jaga Macan Tutul Jawa

dari Kepunahan

bersatu kita maju


ISSN: 2337-6791 Pengarah Denaldy M Mauna Direktur Utama Perum Perhutani Penanggung Jawab Asep Rusnandar Sekretaris Perusahaan Pemimpin Redaksi Yuswan Hendrawan Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Redaktur Pelaksana Suharsono Sekretaris Redaksi Ardya Setya Nurvrandita Redaktur Adehika Intan, Rizka Amalia, Nanjar Munandar, Aga Prasetya Script Editing and Layout Duta Rimba Art Work Perwakilan - Expert Komunikasi Perusahaan Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah - Expert Komunikasi Perusahaan Perhutani Divisi Regional Jawa Timur - Expert Komunikasi Perusahaan Perhutani Divisi Regional Jawa Barat & Banten Alamat Redaksi

Departemen Komunikasi Perusahaan Perhutani Gd. Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 10 Jl. Gatot Subroto Senayan, Jakarta Pusat Telp: 021 - 5721 282, Fax: 021 - 5733 616 E-mail: humas@perhutani.co.id www.perhutani.co.id

Naskah & Advertensi DUTA RIMBA adalah majalah dua bulanan yang diterbitkan Perum Perhutani untuk berbagi informasi korporasi kepada internal dan para pihak. Redaksi menerima tulisan, artikel, naskah, dan fotofoto menarik yang sesuai dengan visi dan misi tema penerbitan DUTA RIMBA edisi berikutnya. Artikel ditulis dengan spasi ganda, maksimal lima halaman dan dikirim melalui e-mail (softcopy). Redaksi berhak melakukan editing sesuai dengan kebutuhan penerbitan. Majalah Duta Rimba dapat diakses di www.perhutani.co.id

Perum Perhutani

@PerumPerhutani

Perum Perhutani

PerumPerhutani

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

Jaga Semangat dan Tingkatkan Prestasi

A

pa kabar, Pembaca yang budiman? Semoga selalu sehat dan sukses dalam seluruh aktivitas. Kembali kami menjumpai Anda, membawa ragam informasi yang padat, pepak, dan mengenyangkan. Seperti sebelumnya, ragam informasi yang kami sajikan dalam Duta Rimba kali ini akan tetap berupaya memuaskan dahaga keingintahuan Anda. Di edisi ini, Duta Rimba hadir dalam momentum empat hari besar nasional, yaitu Hari Olah Raga Nasional (9 September), Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober), Hari Angkatan Bersenjata (5 Oktober), dan Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober). Rimbawan Perhutani menggelar rangkaian kegiatan guna memeringati keempat hari besar yang bersejarah bagi kehidupan bangsa dan negara kita. informasi tentang kegiatan-kegiatan itu kami sajikan di rubrik-rubrik Prima Rimba dan Rimba Utama. Di Rimba Khusus, kami informasikan tentang prestasi dan penghargaan yang diraih Perhutani. Masih terkait momentum Hari Kesaktian Pancasila, di rubrik Warisan Rimba, kami hadirkan informasi tentang Monumen Gubernur Suryo. Sebuah bangunan penuh jejak sejarah yang dibangun sebagai tanda hormat masyarakat Kabupaten Ngawi dan Provinsi Jawa Timur kepada Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, Gubernur pertama Jawa Timur, yang meninggal dunia akibat insiden Pemberontakan PKI tahun 1948. Informasi tentang destinasi wisata baru di Perhutani KPH Garut bernama Taman Bunga Puncak Kalang hadir di rubrik Wisata Rimba. Di Ensiklo Rimba, kami ajak Anda kenal lebih dekat dengan Macan Tutul Jawa, sang predator yang kini perlu dilindungi karena statusnya di ambang kepunahan. Di Rimba Daya, ada informasi tentang budi daya Pepaya California Sementara kerja sama Perum Perhutani dan PT Petrosida Gresik dalam pengadaan sarana dan prasarana pengembangan tanaman biomassa hadir di rubrik Bisnis Rimba. Informasi tentang kunjungan delegasi dari Asosiasi Mesin Industri Kehutanan Cina ke persemaian jati Perhutani di Kendal mengisi rubrik Pojok KPH. Informasi tentang pengembangan teknik silvopastura sapi oleh Perhutani KPH Saradan dan LMDH mengisi rubrik Inovasi Rimba. Sedangkan informasi tentang penghijauan Pantai Gondo Mayit di Blitar hadir di rubrik Enviro Rimba. Dan di rubrik Socio Rimba hadir informasi tentang penyaluran bantuan air bersih oleh Perhutani KPH Gundih di Grobogan. Jangan juga lewatkan ragam informasi lain di rubrik-rubrik Duta Rimba edisi kali ini. Semua untuk memuaskan rasa ingin tahu Anda, Pembaca yang budiman. Satu pesan utama Duta Rimba edisi ini adalah Jaga terus semangat untuk meraih prestasi demi prestasi. Semoga semangat Sumpah Pemuda yang kita peringati Oktober ini terus meresap di hati dan jiwa kita semua. Salam! • DR

Dok. Kom PHT®2019

SalamRedaksi

DUTA Rimba 1


semairimba

SALAM REDAKSI 1 BENAH DIRI • Bersatu Kita Maju 4 PRIMA RIMBA • Kontribusi Perhutani untuk Pemuda dan Olahraga

6

12

RIMBA UTAMA • Perhutani Peduli Sosial dan Lingkungan Hidup 12 • Bersama Saka Wanabakti untuk Kelestarian Hutan 18 • Kurangi Sampah Plastik, Hijaukan Lingkungan 24 • Ajak Elemen Masyarakat Aktif Kelola Hutan 28 • Sharing dan Caring Kepada LMDH 32

RIMBA KHUSUS

• Karya Perhutani Berbuah Penghargaan 36 • Apresiasi Atas Prestasi 42 LENSA • Sumpah Pemuda 2019 di Perhutani 46 50 SOBAT RIMBA 54 LINTAS RIMBA

36

WARISAN RIMBA • Refleksi Kekejaman PKI di Monumen Suryo 60

ENSIKLO RIMBA • Jaga Macan Tutul Jawa dari Kepunahan

64

rimba daya • Di Singaparna, Pepaya California pun Berkembang

72

68

BISNIS RIMBA • Kolaborasi Perhutani dan Petrosida Kembangkan Sarpra Tanaman Biomassa

72

socio rimba • Sumbangsih Air Bersih dari KPH Gundih

76

opini rimba • Menatap Kejayaan Kembali Perhutani

78

ENVIRO RIMBA • Pantai Pasir Putih Gondo Mayit pun Menjadi Hijau

86

WISATA RIMBA • Warna-warni di Taman Bunga Puncak Kalang

92

88

INOVASI • Dari Saradan, Silvopastura Sapi Dikembangkan

92

POJOK KPH • Perhutani KPH Kendal Jadi Rujukan Asosiasi Mesin Industri Kehutanan China

2 DUTA Rimba

96 NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


SobatRIMBA

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 3


BENAHDIRI

Dok. Kom PHT®2018

Bersatu Denaldy M. Mauna Direktur Utama Perum Perhutani

A

da momen bersejarah yang kita peringati di setiap kali memasuki penghujung bulan Oktober. Tepatnya tanggal 28 Oktober. Di tanggal itu, 91 tahun yang lalu, pemuda-pemuda Indonesia mengumandangkan sumpah yang kemudian menjadi landasan perjuangan bangsa Indonesia selanjutnya, terutama dalam menghadapi dan memerangi penjajahan. Sumpah itu terus melandasi semangat kita hingga kini dan sampai kapan pun. Berpijak dari hal tersebut, puji syukur mari senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala - Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat memeringati hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia yang kita cintai ini, yaitu Hari Sumpah Pemuda. Peringatan Sumpah Pemudah tahun 2019 ini adalah yang ke91 tahun. Telah 91 tahun, tetapi gaungnya terus menggelora di hati kita. Karena itu, kami juga sampaikan

4 DUTA Rimba

Kita Maju terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pelaku sejarah, tokohtokoh pemuda Tahun 1928 yang telah mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Tokoh-tokoh pemuda itu telah menancapkan tonggak penting dalam sejarah bangsa kita, sehingga mereka menjadi pelopor Pemuda Indonesia untuk kemudian mewujudkan kemerdekaan Indonesia, sekaligus menjaga keutuhan NKRI. Momentum Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini menjadi saat yang tepat bagi kita untuk menegushkan kembali semangat dan Jiwa Korsa Rimbawan. Secara nasional, Hari Sumpah Pemuda ke-91 tahun ini mengangkat tema “Bersatu Kita Maju”. Tema tersebut menjadi menarik karena ada semangat yang mengiringi penetapannya, yaitu untuk menegaskan kembali komitmen yang telah dibangun oleh para pemuda yang di tahun 1928 telah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda. Tema tersebut sekaligus juga penegasan kita semua, bahwa hanya dengan persatuan yang kuat dan kokoh kita dapat mewujudkan cita-cita bangsa. Insan Perhutani yang saya cintai dan banggakan. Kita harus sadari, pesatnya perkembangan teknologi informasi telah begitu menggurita hingga bagaikan dua sisi mata pisau. Di

satu sisi, ia memberikan jaminan kecepatan informasi sehingga memungkinkan para pemuda kita mudah untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dalam proses pengembangan sumber daya serta meningkatkan daya saing. Namun, di sisi yang lain, perkembangan tersebut mempunyai dampak negatif, karena informasiinformasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas, hingga radikalisme dan terorisme juga dapat masuk dengan mudahnya jika pemuda sebagai penggunanya tidak dapat membendung dan menyaring dengan filter ilmu pengetahuan dan karakter positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda yang memiliki karakter tangguh adalah pemuda yang memiliki karakter moral dan kinerja mumpuni. Juga pemuda yang beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, jujur, santun, bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Pemuda saat ini juga harus memiliki kapasitas intelektual dan kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepeloporan yang mumpuni. Pemuda juga harus memiliki inovasi agar mampu berperan aktif dalam kancah internasional. Rimbawan Perhutani yang saya cintai dan banggakan.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Dok. Foto: Perhutani Greenland 2018

Tema Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, “Bersatu Kita Maju”, sesungguhnya diperuntukkan bagi seluruh elemen bangsa. Tetapi bagi pemuda, makna menjadi sebuah keharusan untuk dipahami serta diresapi untuk kemudian dipraktikkan, karena di tangan pemuda-lah Indonesia bisa lebih maju. Pemuda yang tepat untuk membawa Indonesia maju adalah para pemuda yang punya karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, mandiri, inspiratif, serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan dunia. Pada saat ini, di belahan dunia lain, telah lahir generasi muda yang memiliki pola pikir yang serba cepat, serba instan, lintas batas, cenderung individualistik dan gramatik. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih serta mudahnya akses terhadap sosial media, telah menjelma menjadi tempat favorit berkumpulnya anak-anak muda lintas

negara, lintas budaya, lintas agama, dan interaksi mereka di media sosial berjalan real time 24 jam. Di sinilah diharapkan peran pemuda dapat bersaing dalam bentuk apapun, tentunya dalam hal yang positif. Pemuda adalah masa depan bangsa dan negara. Pemuda juga harapan bagi dunia. Pemuda Indonesia harus maju dan berani menaklukkan dunia. Kita tidak lagi harus bertahan dan menghadapi dampak negatif dari modernisasi dan globalisasi, tetapi harus mampu memberikan warna untuk mengubah dunia dengan tekad dan semangat dan tentunya didukung oleh Ilmu pengetahuan dan teknologi. Insan Perhutani yang saya cintai dan banggakan. Mari terus menggelorakan semangat Sumpah Pemuda di dalam dada kita. Semangat para pemuda dalam menatap dan ikut membangun dunia harus terus menjadi obor penyemangat bagi pengabdian

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

kita dalam ikut serta berpartisipasi mengangkat bangsa dan tanah air tercinta di kancah dunia. Apalagi, dengan tugas dan wewenang Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara berbentuk Perusahaan Umum (Perum) untuk mengelola sumber daya hutan negara di Pulau Jawa dan Madura. Peran strategis Perhutani adalah mendukung sistem kelestarian lingkungan, sistem sosial budaya dan sistem perekonomian masyarakat perhutanan. Akhirnya, saya mengucapkan “Selamat Hari Sumpah Pemuda ke91”. Semoga melalui peringatan Hari Sumpah Pemuda ini kita selalu dapat menghormati jasa para pemuda, jasa para pendiri bangsa, dan jasa para pahlawan kita. Serta menjiwai setiap langkah dan semangat mereka dalam memajukan bangsa Indonesia. Semoga Allah SWT – Tuhan Yang Maha Kuasa – senantiasa melimpahkan rahmat dan ridho-Nya kepada kita semua. • DR

DUTA Rimba 5


primarimba

Kontribusi Perhutani

untuk Pemuda dan Olahraga

H

ari Olahraga Nasional (Haornas) diperingati setiap tanggal 9 September. Dasarnya adalah Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 67 Tahun 1985. Peristiwa yang menjadi latar belakang penetapan tanggal 9 September sebagai tanggal diperingatinya Hari Olahraga Nasional adalah Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama. PON pertama itu diselenggarakan di Surakarta, Jawa Tengah, pada 9 sampai 12 September 1948. Ketika itu, 13 Karesidenan atau Kota ikut berpartisipasi dalam PON, yaitu Yogyakarta, Madiun, Magelang, Semarang, Bandung, Malang, Surakarta, Surabaya, Pati, Kedu, Banyuwangi, dan Jakarta. Kini, momentum pembukaan penyelenggaraan PON pertama itu diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional. Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan turut memeriahkan Peringatan Hari Olah Raga Nasional itu di tingkat Kabupaten Purworejo. Hal itu ditunjukkan seluruh karyawan Perhutani KPH Kedu Selatan saat mengikuti upacara yang dilanjutkan senam bersama di alun-alun Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Senin, 9 September 2019.

6 DUTA Rimba

Ada empat hari besar nasional di bulan September dan Oktober. Hari Olahraga Nasional, Hari Kesaktian Pancasila, Hari Angkatan Bersenjata, dan Hari Sumpah Pemuda. Sebagai bagian dari komponen bangsa, Perhutani turut memeringati dan memeriahkan hari-hari besar nasional tersebut. Rangkaian kegiatan terkait peringatan hari-hari besar nasional itu pun digelar. Semangat yang melingkupi kontribusi Perhutani dalam peringatan harihari besar nasional itu adalah untuk bersamasama membentuk generasi muda yang peka dan peduli terhadap lingkungan, serta memiliki integritas, etos kerja, dan sikap gotong royong Rangkaian acara Peringatan Haornas di Kabupaten Purworejo tersebut dihadiri oleh seluruh instansi dan sekolah yang  ada di wilayah Kabupaten Purworejo. Wakil Bupati  Purworejo Yuli Hastuti menjadi Inspektur Upacara, mewakili Bupati Purworejo. Di kesempatan itu, sebagai Inspektur Upacara, Yuli Hastuti membacakan sambutan Menteri  Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia, Imam Nahrawi. Di dalam sambutan tersebut, disampaikan

bahwa tema besar Haornas tahun ini adalah “Ayo Olahraga, #Dimanasajakapansaja”. Yuli menyebutkan, tema tersebut mengandung makna bahwa olah raga itu mudah, karena dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Lewat tema tersebut diharapkan menjadi momentum untuk mengajak masyarakat melakukan olahraga di mana saja dan kapan saja. Sehingga, menjadi penting agar masyarakat tidak terpaku pada anggapan bahwa olah raga hanya dapat dilakukan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Y. Niken Anggraini/KPH Kedu Selatan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 7


di fasilitas-fasilitas olah raga yang tersedia. Lakukanlah olah raga, untuk menjaga kesehatan. Di kesempatan yang sama, Administratur Perhutani KPH Kedu Selatan, Yudha Suswardhanto, juga mengimbau seluruh karyawan Perhutani KPH Kedu Selatan khususnya, untuk membiasakan diri bergerak atau berolah raga, kapan saja. Olah raga bisa dilakukan pagi, siang, sore, atau malam, dan di mana saja, semisal di tempat kerja, di rumah, atau di mana saja. Rajin berolah raga, menurut dia, akan meningkatkan stamina dan kebugaran seluruh personel Perhutani. “Dengan bergerak atau berolah raga secara rutin dan teratur, akan meningkatkan daya tahan tubuh kita, serta semangat bekerja akan menjadi lebih baik,” jelas Yudha. Maka, dengan rajin berolah raga, tubuh menjadi bugar. Tubuh yang bugar akan meningkatkan semangat dalam bekerja. Ketika semangat kerja telah optimal, mental dan karakter atau watak juga akan terbentuk dengan kuat. Mental dan karakter yang kuat itu akan membuat prestasi dapat diraih. Peringatan Hari Olahraga Nasional memiliki tujuan utama untuk mewujudkan komitmen seluruh insan olahraga termasuk di bidang pendidikan keolahragaan bagi pelajar, karena melihat betapa penting dan strategisnya olahraga bagi kesehatan siswa untuk mencapai cita-cita “SDM Unggul Indonesia Maju”. Juga untuk mengingatkan kembali akan pentingnya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang juga ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga RI Nomor 18 Tahun 2017 tentang Gerakan Ayo Olahraga. Serta mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk melaksanakan gerakan olahraga

8 DUTA Rimba

Foto: Kompers KPH Kedu Utara

primarimba

Peringatan Hari Olahraga Nasional memiliki tujuan utama untuk mewujudkan komitmen seluruh insan olahraga termasuk di bidang pendidikan keolahragaan bagi pelajar, karena melihat betapa penting dan strategisnya olahraga bagi kesehatan siswa untuk mencapai cita-cita “SDM Unggul Indonesia Maju”. secara masif dan meluas di kegiatan sehari-hari. Dan menumbuhkan semangat mengajak semualapisan masyarakat untuk melakukan olahraga secara rutin dan teratur. Baik pelajar, masyarakat, pekerja/ karyawan, dan semuanya.

Anak Muda Peduli Lingkungan Partisipasi sebagai wujud nyata aksi pengabdian kepada masyarakat juga ditunjukkan oleh Perhutani KPH Kedu Utara. Di tengah momentum Hari Angkatan Bersenjata yang jatuh tanggal 5 Oktober, Perhutani

KPH Kedu Utara bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Asri dan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tidar Magelang, mengadakan kegiatan bakti sosial. Bakti sosial yang diselenggarakan itu berupa Aksi Bersih-bersih Bukit Damar yang berada di Desa Wonoroto, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Aksi sosial tersebut dilangsungkan selama dua hari, pada Sabtu-Minggu, 4-5 Oktober 2019. Selain bakti sosial berupa Bersihbersih Bukit Damar, bakti sosial juga

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Sigit/KPH Mantingan

mereka lakukan dengan kegiatan peremajaan fasilitas musholla, pemasangan lampu jalan, dan aksi membersihkan lingkungan di Desa Wonoroto, Windusari, Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan itu juga bertujuan menggugah kepedulian anak muda terhadap lingkungan yang lestari. Sebab, kegiatan tersebut melibatkan secara nyata partisipasi anak-anak muda dan mahasiswa. Terkait penyelenggaraan kegiatan tersebut, Administratur Perhutani KPH Kedu Utara melalui Asper/Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Magelang, Yudi Noviar, berharap, semakin banyak kegiatan bakti sosial yang melibatkan kaum akademisi, untuk mendongkrak kepedulian dan semangat generasi muda. Sebab, anak muda adalah generasi yang akan melanjutkan tanggung jawab membangun masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan. “Secara umum, baik perusahaan maupun perguruan tinggi memiliki

tanggung jawab sosial (social responsibility) yang harus ditunaikan untuk membangun masyarakat sekitar. Untuk itu, diperlukan sinergi di antara keduanya,” ujar Yudi Noviar. Sementara itu, Ketua LMDH Wono Asri, Fauzan, menyatakan, dengan adanya sinergi tersebut, pihaknya merasa sangat terbantu dalam menata lingkungannya. Maka, ia pun menyampaikan terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin tersebut. “Terima kasih atas bantuan teman-teman dan Perhutani. Semoga semakin banyak generasi yang peduli lingkungan,” kata Fauzan. Masih terkait pembinaan terhadap generasi muda, aksi sosial juga dilakukan oleh Perhutani KPH Mantingan. Kali ini momentumnya adalah Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh tanggal 28 Oktober. Minggu, 27 Oktober 2019, Perhutani KPH Mantingan menyerahkan bantuan dana Bina Lingkungan (BL) sebesar 50 juta

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

Rupiah kepada masyarakat di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Bantuan tersebut diserahkan Wakil Administratur Perhutani KPH Mantingan, Priyono, kepada beberapa pihak. Yaitu sebesar 10 juta Rupiah kepada Musholla Al Hidayah, kepada Madrasah Diniyah Tholabul Qolbu sebesar 10 juta Rupiah, dan sebesar 30 juta Rupiah disalurkan berupa bantuan bedah rumah untuk kediaman Hartoyo. Di kesempatan itu, Wakil Administratur Perhutani KPH Mantingan, Priyono, menyampaikan pesan Administratur Perhutani KPH Mantingan, bahwa bantuan dana BL tersebut merupakan wujud Corporate Social Responsisbility (CSR) Perum Perhutani. “Bantuan BL ini merupakan kepedulian Perhutani kepada masyarakat yang kali ini kita berikan kepada madrasah, musholla, maupun bedah rumah tak layak huni,” ujar Priyono.

DUTA Rimba 9


primarimba

Sementara itu, Camat Bulu, Slamet Raharjo, menyatakan, pihaknya sangat mengapresiasi Perhutani yang telah memberikan bantuan tersebut. Sebab, penyaluran bantuan dana BL tersebut menunjukkan bahwa warganya yang tinggal di pinggiran hutan masih mendapatkan perhatian dari Perhutani. “Saya juga berharap, di Peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, warga semakin paham bahwa kita tidak harus berperang jika mau menjadi pahlawan. Contoh yang nyata adalah bagaimana masyarakat Desa Kadiwono yang bisa mempertahankan kelestarian hutan pangkuannya bisa disebut pahlawan lingkungan. Terbukti pada musim kemarau panjang tahun ini, hutan kita masih ijo royo-royo, jalan masuk ke Kecamatan Bulu juga tetap rindang, sejuk, dan nyaman,” ujar Slamet.

Bersama Tanam Pohon Peringatan hari besar nasional juga dilakukan Perhutani KPH Tasikmalaya. Perhutani KPH Tasikmalaya bersama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan Karang

10 DUTA Rimba

Foto: Agus Hermawan/KPH Tasikmalaya

Perhutani selaku pemangku wilayah hutan, juga berkewajiban untuk memberikan contoh tentang penerapan metode penanaman yang baik dan benar, supaya penanaman berjalan sebagaimana mestinya.

Taruna Kabupaten Tasikmalaya memeringati Hari Sumpah Pemuda ke-91. Mereka memeringati Hari Sumpah Pemuda dengan bersamasama melakukan penanaman pohon Pinus di lokasi wisata Curug Badak dan Batu Hanoman, yang terdapat di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Cisayong, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tasikmalaya. Menurut Administratur Perhutani KPH Tasikmalaya, Benny Suko Triatmoko, kegiatan penanaman bersama pohon pinus yang diselenggarakan di hari Minggu, 27 Oktober 2019 itu, memang dimaksudkan sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Benny menjelaskan, kegiatan penanaman bersama itu merupakan gagasan dari Perhutani KPH Tasikmalaya yang didukung oleh HIPMI, KNPI, dan Karang Taruna Kabupaten Tasikmalaya. Benny pun menyebut, Perhutani selaku pemangku wilayah

hutan, juga berkewajiban untuk memberikan contoh tentang penerapan metode penanaman yang baik dan benar, supaya penanaman berjalan sebagaimana mestinya. Sementara itu, dalam penjelasannya, Ketua HIPMI Kabupaten Tasikmalaya, Asep Dzulfikri, mengatakan, kepedulian kepada lingkungan merupakan unsur wajib bagi anggota HIPMI. Maka, mereka antusias untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut. Apalagi, kegiatan itu secara konkret bertujuan untuk melestarikan alam dan lingkungan hidup. “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Perhutani yang telah menjembatani terlaksananya kegiatan ini. Sehingga, momen penanaman itu juga bisa menjadi ajang bagi peserta untuk mempelajari ilmu bidang kehutanan. Ilmu kehutanan itu selanjutnya dapat diimplementasikan kembali secara mandiri di manapun,” pungkasnya.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Rangkaian kegiatan yang digelar untuk memeringati hari-hari besar nasional sepanjang bulan September-Oktober itu dilaksanakan dalam rangka mewujudkan cita-cita “SDM Unggul Indonesia Maju”. Untuk menjalankan langkah-langkah ke arah perwujudan cita-cita tersebut, seluruh elemen bangsa Indonesia, terutama generasi muda, perlu mengubah cara pandang, pola pikir, sikap, perilaku, dan cara kerja yang berorientasi pada kemajuan dan kemoderenan, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang besar dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Selain itu, bangsa Indonesia juga perlu membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimistik dalam menatap masa depan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan besar untuk berprestasi tinggi, produktif, dan berpotensi untuk menjadi bangsa yang maju dan modern. Serta dengan mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian yang kuat, melalui pembentukan manusia Indonesia baru yang unggul. Dengan banyaknya Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul itu, Indonesia akan menjadi negara maju dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Salah satu elemen penting dalam mewujudkan SDM unggul adalah menanamkan integritas, etos kerja, dan gotong royong dikalangan generasi muda. Integritas dapat diartikan sebagai kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuat. Artinya, selalu berkata dan berlaku jujur, dapat dipercaya, serta berpegang teguh kepada prinsipprinsip kebenaran, moral, dan etika. Pada tataran kolektif, nilai integritas dapat memandu masyarakat untuk menampilkan komitmen pada apa

Foto: Kompers KPH Kedu Utara

SDM Unggul

yang menjadi tugasnya, serta dapat diandalkan dan juga dapat dipercaya. Etos kerja dapat diartikan sebagai sebuah sikap yang berorientasi padahasil yang terbaik, semangat tinggi dalam bersaing, optimis, dan selalu mencari cara-cara yang produktif dan inovatif. Di dalam etos kerja, terkandung nilai-nilai mandiri, daya saing, optimis, inovatif, dan produktif. Etos kerja dapat diartikan sebagai semangat yang menjadi ciri khas dan keyakinan individu atau kelompok dalam bekerja, Keyakinan tersebut dapat disepakati secara formal atau informal dalam suatu kelompok. Mandiri adalah keyakinan mengenai pentingnya mengandalkan usaha dan kemampuan diri sendiri atau negara sendiri daripada yang diberikan atau disediakan oleh orang lain atau negara lain. Daya saing dapat diartikan sebagai kapasitas suatu bangsa untuk menghadapi tantangan persaingan pasar

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

internasional dengan tetap menjaga atau meningkatkanpendapatan riilnya. Optimis dapat diartikan sebagai usaha seseorang untuk selalu mencari peluang dari setiap kesulitan yang dihadapinya. Inovatif dapat diartikan sebagai suatu kemampuan manusia dalam mendayagunakan pikiran dan sumber daya yang ada di sekelilingnya untuk menghasilkan suatu karya yang benar-benar baru atau orisinil dan bermanfaat bagi banyak orang. Sedangkan produktif dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk selalu menghasilkan dan kemampuan itu digunakan secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru. Perhutani telah melakukan langkah-langkah ke arah upaya mewujudkan cita-cita SDM Unggul Indonesia Maju. Selanjutnya, perlu dilanjutkan dengan langkah-langkah berikutnya. Sehingga, kontribusi ke arah perwujudan cita-cita itu pun kian konkret. Bravo! • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 11


RIMBAutama

Perhutani Peduli

Lingkungan Hidup dan Sosial Sebagai badan usaha milik negara, Perhutani tidak saja harus mengejar keuntungan finansial, tetapi juga perlu menebar manfaat bagi masyarakat. Fungsi sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar perlu diterapkan agar sebanyak mungkin pihak yang merasakan manfaatnya. Hal itulah yang dilakukan Perhutani saat tengah berlangsungnya momentum peringatan hari besar nasional di bulan September-Oktober 2019 ini. Seperti apa bentuknya?

M

asyarakat desa hutan yang tinggal di wilayah Desa Kalinanas, Kecamatan Japah, berkumpul di halaman Kantor Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Kalinanas, Selasa, 1 Oktober 2019. Mereka umumnya adalah para penggarap lahan secara tumpang sari di wilayah hutan BKPH Kalinanas. Ya, mereka berkumpul di sana karena di hari itu, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan sedang melakukan kegiatan bakti sosial. Kegiatan bakti sosial yang dilakukan Perhutani KPH Mantingan bertepatan dengan Peringatan

12 DUTA Rimba

Hari Kesaktian Pancasila itu berupa pembagian pakaian untuk masyarakat desa hutan penggarap lahan secara tumpang sari di wilayah Desa Kalinanas, Kecamatan Japah. Kegiatan tersebut dilaksanakan setelah pelaksanaan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Mantingan. Seluruh jajaran rimbawan yang bertugas di Perhutani KPH Mantingan mengikuti upacara tersebut. Upacara tersebut pun berjalan dengan khidmat. Usai upacara, peserta beralih ke halaman Kantor BKPH Kalinanas. Hadir dalam kegiatan bakti sosial di BKPH Kalinanas tersebut antara lain Wakil Administratur KPH Mantingan, Priyono; Kepala Desa

Kalinanas, Jani; Ketua Paguyuban Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Kalinanas, Novi; serta Kepala Proyek Pembangunan Waduk Randu Gunting, Romi. Seluruh rangkaian acara pembagian pakaian tersebut dipimpin oleh Priyono yang mewakili Administratur Perhutani KPH Mantingan. Di kesempatan memimpin kegiatan itu, Priyono mengawali kegiatan bakti sosial tersebut dengan menyerahkan pakaian secara simbolis pakaian itu kepada wakil masyarakat yang hadir. Setelah itu, Priyono pun menyampaikan sambutan  Administratur KPH Mantingan. Menurut dia, kegiatan bakti sosial yang mereka lakukan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Makbul Makbullah/KPH Madura

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 13


Foto: Sigit/ KPH Mantingan

rimbaUTAMA

itu merupakan wujud kepedulian, keinginan berbagi, dan membantu sesama dengan sesuatu yang bermanfaat. “Kegiatan ini merupakan aksi sosial dalam rangka mewujudkan kepedulian Perhutani kepada masyarakat sekitar hutan. Wujudnya adalah menyelenggarakan kegiatan untuk  berbagi dan membantu dengan sesuatu yang bermanfaat. Hikmah di balik kegiatan ini adalah memupuk nilai implementasi jiwa Pancasila dengan gemar menolong sesama,” ujarnya.

penanaman mangrove dalam rangka memeringati World Clean Up Day (WCD) Indonesia 2019. Memeringati World Clean Up Day (WCD) Indonesia 2019, Perhutani KPH Madura bersama Kelompok Peduli Mangrove Madura (KPMM) melakukan bersih-bersih pantai dan penanaman mangrove di pesisir Pantai Tlanakan, Pamekasan, Madura. Kegiatan itu dilaksanakan pada Sabtu, 21 Septembver 2019. Kegiatan itu memang dilakukan dalam rangka memeringati World Clean Up Day (WCD) Indonesia 2019, yang diperingati setiap

tanggal 21 September 2019. Di dalam kegiatan peringatan World Clean Up Day (WCD) Indonesia 2019 tersebut, hadir antara lain Wakil Bupati Pamekasan, Wakil dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Perum Perhutani, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), dan relawan WCD. Relawan WCD merupakan gabungan dari berbagai komunitas dan Instansi di Kabupaten Pamekasan. Di kesempatan itu, Administratur KPH Madura, Rumhayati, melalui

World Clean up Day 2019 Kepedulian bukan saja ditunjukkan Perhutani untuk menyikapi kondisi sosial yang terjadi di sekitar. Tetapi juga ditunjukkan untuk menyikapi kondisi lingkungan hidup. Hal itu antara lain terlihat saat Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madura melakukan aksi bersih-bersih pantai dan

14 DUTA Rimba

Memeringati World Clean Up Day (WCD) Indonesia 2019, Perhutani KPH Madura bersama Kelompok Peduli Mangrove Madura (KPMM) melakukan bersih-bersih pantai dan penanaman mangrove di pesisir Pantai Tlanakan, Pamekasan, Madura. NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Agus Hermawan/KPH Tasikmalaya

Kepala Seksi Keuangan SDM dan Umum, Hadi Suprapto, menyampaikan, Perhutani sangat mendukung penyelenggaraan gerakan WCD di hari itu, melalui kegiatan bersih-bersih pantai dan penanaman mangrove. Apalagi, kegiatan tersebut dinilai akan memberikan dampak positif kepada masyarakat. Antara lain dengan memberikan kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat demi kemaslahatan kita semua. “Kegiatan ini dapat memberikan motivasi kepada masyarakat dan impact posistif untuk menjaga lingkungan yang bersih dan sehat. Sebab, tanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan tanggung jawab kita semua,” kata Hadi. Sementara itu, Wakil Bupati Pamekasan, Raja’i, dalam sambutan singkatnya, menyampaikan, masalah lingkungan hidup kini sudah menjadi isu global, bukan hanya sebatas isu lokal atau nasional. Sehingga, kepedulian terhadap masalah lingkungan perlu terus digaungkan dan digelorakan. “Perlu adanya sinergitas antar instansi, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat, untuk mewujudkan kelestarian lingkungan sebagai pendukung kehidupan,” katanya. Sedangkan Ketua KPMM (Kelompok Peduli Mangrove Madura), Endang Tri Wahyuni, yang bersama Perhutani KPH Madura menjadi penyelenggara kegiatan tersebut, mengatakan, kegiatan bersih-bersih sampah di pesisir Pantai Tlanakan di hari itu diikuti oleh sekitar 1.200 orang relawan. Mereka berasal dari 50 komunitas pendukung dan instansi pemerintah setempat. Endang juga menjelaskan, dalam kegiatan tersebut mereka

“Perlu adanya sinergitas antar instansi, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat, untuk mewujudkan kelestarian lingkungan sebagai pendukung kehidupan,” kata Wakil Bupati Pamekasan, Raja’i, dalam sambutan singkatnya. tidak hanya melakukan kegiatan bersih-bersih sampah saja, namun juga melakukan penanaman bibit mangrove di bibir Pantai Tlanakan. “Kami berharap, usai kegiatan ini, tidak ada lagi masyarakat yang membuang sampah secara sembarangan di pantai,” pungkasnya. Langkah mereka hendaknya tak hanya berhenti di situ saja. Tetapi langkah itu hendaknya diikuti langkah-langkah lain, demi menjaga lingkungan hidup agar tetap lestari. Bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk kepentingan anak cucu kita nanti.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

Studi Pengelolaan Hutan Kegiatan terkait pelestarian juga dilakukan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Tasikmalaya. Pada Selasa, 24 September 2019, mereka menerima kunjungan dari Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya. Para mahasiswa itu datang karena ingin mengenal lebih jauh tentang kegiatan pengelolaan hutan, sebagai bahan kajian dan skripsi. Rangkaian kegiatan diikuti mahasiswa yang datang tersebut. Diskusi bersama mengawali

DUTA Rimba 15


Foto: Ratih Kartiningtyas /KPH Ngawi

rimbaUTAMA

rangkaian kegiatan tersebut. Bertempat di Aula Rapat Perhutani KPH Tasikmalaya, hadir antara lain wakil Administratur Perhutani KPH Tasikmalaya, Yuyu Rahayu, selaku narasumber yang memberikan materi tentang hutan dan kehutanan. Melalui Yuyu Rahayu, Administratur KPH Tasikmalaya menjelaskan, kegiatan-kegiatan di KPH Tasikmalaya antara lain adalah pengembangan wisata yang sudah dikerjasamakan dengan LMDH dan stakeholder, serta pembuatan tanaman RHL 2019 dan pengembangan tanaman biomasa. Yang terakhirini dilakukan dalam rangka mendorong pengembangan sumber bahan baku energi baru dan terbarukan. “Seperti diketahui, Perhutani KPH Tasikmalaya tengah berupaya untuk mendorong pengembangan tanaman biomasa sebagai sumber bahan baku energi terbarukan. Upaya ini dilakukan dengan mendorong

16 DUTA Rimba

pengembangan hutan tanaman energi yang merupakan inovasi bisnis bagi Perhutani,” terangnya. Sementara itu, Perwakilan Mahasiswa Unsil, Joko, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Perhutani yang telah memberikan wawasan dan pengetahuan di bidang kehutanan sebagai bahan skripsi dan kajian di kampusnya. Hasil-hasil kunjungan mereka di hari itu selanjutnya akan mereka bawa untuk menjadi bahan kajian di kampus. Unsil sendiri

menyatakan, sangat mendukung langkah Perhutani dalam mengambil langkah pengelolaan di bidang kehutanan. “Kami mengapresiasi langkah Perhutani dalam pengelolaan hutan di Tasikmalaya. Untuk itu, Unsil berkomitmen akan mendukung setiap langkah Perhutani dalam mengambil kebijakan dalam menjalankan roda organisasi Perhutani ke arah yang lebih maju dan berkembang,” tegasnya. Keesokan harinya, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ngawi dan koordinator Gugus Depan Gerakan Pramuka Pondok Gontor Putri mengadakan kegiatan bersama. Sebanyak 200 orang santriwati dari Pondok Pesantren (Ponpes) Gontor Putri mengikuti kegiatan kepramukaan Saka (Satuan Karya) Wanabakti, yang dilaksanakan oleh Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ngawi dan koordinator Gugus Depan Gerakan Pramuka Pondok Gontor Putri, di Ponpes Kampus 2 Gontor Putri, di Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur, Rabu, 25 September 2019. Materi tentang Saka Wanabakti yang disampaikan secara komunikatif oleh Bambang Wahyudiono selaku Pembina Saka Wanabakti Ngawi disambut dengan antusias oleh para santriwati. Di dalam kesempatan tersebut, mereka juga diajak untuk mempraktikkan cara menanam bibit jati dan kesambi dengan benar.

“Kami mengapresiasi langkah Perhutani dalam pengelolaan hutan di Tasikmalaya. Untuk itu, Unsil berkomitmen akan mendukung setiap langkah Perhutani dalam mengambil kebijakan dalam menjalankan roda organisasi Perhutani ke arah yang lebih maju dan berkembang,” tegas Joko. NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: (Anton Budhi Santoso /KPH Pekalongan Barat

Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Ngawi melalui Wakil Administratur Ngawi Barat, Agus Haryono, menyampaikan pesannya agar kegiatan ini bisa menambah wawasan, pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan kecakapan bagi santriwati dalam mendukung kehidupan dan pengabdiannya kepada masyarakat, agama, bangsa, dan negara. Sedangkan KH Umar Syahid selaku pembina kepramukaan di Ponpes Gontor Putri mengucapkan terima kasih kepada Perhutani dan Saka Wanabakti atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Umar pun menuturkan, Pramuka dan santriwati harus bisa menjadi bagian tak terpisahkan yang mementingkan lingkungan hidup. “Mengingat santriwati yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia agar kelak mereka bisa menerapkan ilmu kepramukaan dan pengetahuan tentang kehutanan saat kembali ke masyarakat nantinya,” tutupnya.

Penanaman Bersama Kolaborasi juga dijalin oleh Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Barat bersama Komunitas BARA (Bakti Rimba Nusantara). Komunitas Bara merupakan perkumpulan yang beranggotakan karyawan dan karyawati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Mereka melaksanakan penanaman bersama tanaman kehutanan di kawasan Wisata Guci, Sabtu, 26 Oktober 2019. Tepatnya, kegiatan tersebut dilakukan di Petak 7A, RPH Guci, BKPH Bumijawa, KPH Pekalongan Barat. Di kegiatan tersebut, berhasil ditanam sebanyak 300 plances jenis tanaman Pinus oocarpa dan Puspa. Administratur KPH Pekalongan Barat, Gunawan Catur HR, mengemukakan, kegiatan penanaman bersama tersebut merupakan bentuk kepedulian para pihak dalam menjaga kelestarian

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

hutan khususnya kawasan Wisata Guci. Maka, pihaknya menyambut positif terselenggaranya kegiatan itu. Bahkan, pihaknya senantiasa menjadi pemeran utama dalam penyelenggaraan kegiatan yang menggugah kepedulian para pihak dalam menjaga kelestarian hutan. Lebih lanjut, Gunawan pun berharap, upaya penanaman tanaman kehutanan di kawasan hutan wisata Guci mampu menambah daya tarik wisata yang sudah terkenal sebagai wisata alam. Sementara itu, Ketua Umum Komunitas Bara, Ali Basalatif, menuturkan, komunitasnya selaku rimbawan akan terus melakukan upaya-upaya penanaman di seluruh kawasan hutan, baik hutan negara dan hutan rakyat. Hal itu mereka lakukan dengan bekerjasama dengan semua pihak. Lewat jalan itu, diharapkan akan tumbuh kesadaran masyarakat terhadap kelestarian hutan. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 17


rimbaUTAMA

Bersama Saka Wanabakti

untuk Kelestarian Hutan

Perhutani senantiasa menggandeng banyak pihak untuk menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup. Termasuk mengadakan kegiatan-kegiatan pembinaan terhadap upaya pelestarian tersebut. Antara lain hal itu dilakukan dengan menggandeng Satuan Karya Pramuka (Saka) Wanabakti. Berikut ini sejumlah kegiatan yang dijalankan Perhutani di beberapa kantor Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) di sejumlah wilayah.

S

atuan Karya Pramuka (Saka) Wanabakti binaan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwakarta mengadakan kegiatan pelantikan anggota baru, hari Minggu, 20 Okober 2019. Kegiatan itu diadakan di halaman Kantor Perhutani KPH Purwakarta. Sejumlah 43 orang anggota Saka Wanabakti Purwakarta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari 18 orang anggota baru yang akan dilantik dan 25 orang anggota lama dari berbagai sekolah yang ada di Purwakarta. Pelantikan Anggota Saka Wanabakti yang baru tersebut dilakukan oleh Pamong Saka, Heri Suntara. Acara pelantikan Anggota baru Saka Wanabakti tersebut dimulai dengan penyematan lencana Dewan Saka secara simbolis

18 DUTA Rimba

kepada perwakilan peserta. Setelah penyematan lencana secara simbolis, penyematan kemudian diikuti oleh seluruh anggota yang baru dilantik. Sebagai Penasihat Saka, Administratur Perhutani KPH Purwakarta, Arsis Sulistiyono, melalui Pamong Saka, Heri Suntara, menyampaikan, pihaknya sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Pihaknya juga berharap, kegiatan Pramuka Saka Wanabakti dapat dijadikan sebagai wadah pembinaan generasi muda yang cinta hutan dan lingkungan. “Kegaitan ini juga bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, kecakapan, dan latihan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan. Perhutani berharap agar seluruh Anggota Saka Wanabakti ini mempunyai pemahaman yang luas tentang kehutanan dan lingkungan hidup,” pungkasnya.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Soeharmanto Tiluk/KPH Randublatung

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 19


20 DUTA Rimba

Foto: Y. Niken Anggraini/KPH Kedu Selatan

Itu di Purwakarta. Di Kedu Selatan, pelantikan juga digelar. Tetapi, yang dilantik di Kedu Selatan adalah Dewan Saka Wanabakti Kwarcab Wonosobo Masa Bakti 2019/2020. Saka Wanabakti Kwartir Cabang Wonosobo Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan melakukan pelantikan Dewan Saka Wanabakti Kwarcab Wonosobo Masa Bakti 2019/2020 tersebut di TPK Dempes, BKPH Ngadisono, hari Minggu, 22 September 2019. Kegiatan tersebut diikuti oleh Anggota Pramuka Saka Wanabakti dari Gugus Depan SMAN I Wonosobo, SMKN I Wonosobo, dan MAN I Wonosobo. Acaranya disaksikan oleh Pamong Saka dari Pangkalan BKPH Ngadisono dan Kantor Perhutani KPH Kedu Selatan. Kepengurusan Dewan Saka Wanabakti Kwarcab Wonosobo dilantik oleh PinSaka Wanabakti Kwarcab Wonosobo Pangkalan BKPH Ngadisono. Pelantikan Dewan Saka Wanabakti Wonosobo tersebut disertai pula dengan kegiatan lainnya. Antara lain kegiatan yang diselenggarakan dalam rangkaian acara pelantikan tersebut adalah kemah bersama, pendadaran dan jelajah kawasan hutan di sekitar TPK Dempes. Selaku Ketua Majelis Pembimbing Saka Wanabakti Perhutani KPH Kedu Selatan, Administratur Perhutani KPH Kedu Selatan, Yudha Suswardhanto, menyatakan, gerakan Pramuka Saka Wanabakti sebagai wadah pendidikan bidang kehutanan dan lingkungan hidup bagi Anggota Pramuka jangan sampai tenggelam. Sebab kiprah Pramuka Saka Wanabakti sangatlah penting. “Kiprah Pramuka Saka Wanabakti sangatlah penting bagi menggerakan generasi muda khususnya, untuk

Foto: Yayan Herdiana/ KPH Purwakarta

rimbaUTAMA

turut terlibat dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup. Caranya dengan mengenalkan berbagai kegiatan kecakapan khusus kehutanan, dari kegiatan penataan, pemanfaatan hutan sampai dengan kegiatan perlindungan hutan,” jelasnya. Sementara itu, Pamong Saka, Tri Saptono, mewakili PinSaka Wanabakti Kwarcab Ngadisono,

berpesan, Pramuka Saka Wanabakti merupakan salah satu wadah generasi muda yang diandalkan untuk turut membantu menyuarakan kecintaan terhadap alam serta mengembangkan kegiatan pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, khususnya dalam menjaga kawasan hutan. “Harapannya, Pramuka Saka Wanabakti Kwarcab Wonosobo

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Mamank Wahyudi/KPH Probolinggo

tetap aktif dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan baik di tingkat daerah maupun nasional,” ujarnya.

Pramuka itu tidak hanya bisa tepuk tangan saja, namun mampu memberikan bantuan tenaga jika dibutuhkan, seperti ketika terjadi bencana alam dan lainnya.

Apel Besar Pramuka Di Probolinggo, kegiatan Saka Wanabakti dan Perhutani juga berlangsung. Satuan Karya Pramuka (Saka) Wanabakti binaan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Probolinggo mengikuti Apel Besar Pramuka ke-58. Kegiatan apel tersebut digelar oleh Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Kabupaten Probolinggo di lapangan Sukapura, Selasa, 3 September 2019. Apel tersebut diikuti oleh segenap perwakilan pramuka dari Kwartir Ranting dan 11 Satuan Karya Pramuka se-Kabupaten Probolinggo. Selain itu, kegiatan apel besar tersebut juga dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinam Daerah (Forkompimda) Kabupaten Probolinggo, segenap Camat, serta

seluruh Kepala Desa yang ada di Kecamatan Sukapura. Dalam gelaran apel tersebut, Saka Wanabakti Probolinggo menampilkan atraksi tarian gerak dan bersatu yang dilakukan oleh 17 orang anggotanya. Di kesempatan itu, selaku Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Probolinggo, Wakil Bupati Probolinggo, Timbul Prihanjoko, menyampaikan, melalui Gerakan Pramuka, kita dapat membangun Probolinggo menjadi unggulan. Sebab, ia mengatakan, banyak kegiatan yang sudah dilakukan adikadik Pramuka untuk masyarakat. Diantaranya, menurut dia, adalah kegiatan Pramuka membuat saluran

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

air di Desa Bettek dan memberikan bantuan rumah layak huni. “Pramuka itu tidak hanya bisa tepuk tangan saja, namun mampu memberikan bantuan tenaga jika dibutuhkan, seperti ketika terjadi bencana alam dan lainnya. Kepada segenap satuan karya yang sudah ikut menyukseskan acara ini dan kepada Pimpinan yang hadir, saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga kegiatan apel besar ini ke depan dapat lebih meriah lagi,” katanya. Sementara itu, selaku Majelis Pembimbing Saka Wanabakti Probolinggo, Administratur KPH Probolinggo, Imam Suyuti,

DUTA Rimba 21


Foto: Soeharmanto Tiluk/KPH Randublatung

rimbaUTAMA

menyampaikan, pihaknya memberikan apresiasi kepada tim dari Saka Wanabakti Probolinggo, yang telah ikut serta dalam kegiatan apel besar tersebut, dan menampilkan atraksi. Ia juga menyampaikan harapan kepada peserta didiknya agar tetap solid dan terus dapat mendarmabaktikan dirinya kepada masyarakat. 

Pameran Pramuka Non Plastik Sementara itu, Pramuka Saka Wanabakti juga turut berpartisipasi dalam pameran di arena Jambore Daerah ke XV Gerakan Pramuka Jawa Tengah. Sebanyak 11 Satuan Karya Pramuka turut berpartisipasi dengan membuka stand pameran di arena Jambore Daerah ke XV Gerakan Pramuka Jawa Tengah. Kegiatan pameran tersebut berlangsung tanggal 26 sampai dengan 31 Agustus 2019.

22 DUTA Rimba

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka membuka pameran tersebut, didampingi Ketua Kwartir Daerah Jawa Tengah, Siti Atiqoh, Selasa, 27 September 2019. Stand Pameran Saka Wanabakti Jawa Tengah tampil dihias dengan menampilkan gambar–gambar Tanda Kecakapan Khusus (TKK) dan gambar aktivitas kegiatan Satuan Karya Pramuka Wanabakti. Yang menarik, Stand pameran tersebut didesain tanpa menggunakan bahan plastik, tetapi menggunakan kulit kayu dan anyaman bambu, serta tulisan cat air. Menurut Admnistratur Perhutani KPH Randublatung, Achmad Basuki, sebagai Pembina Saka Wanabakti, penggunaan desain yang tanpa bahan plastik itu memang sengaja dilakukan sebagai upaya untuk

mengurangi sampah plastik. Menurut dia, upaya sekecil apapun perlu dilakukan untuk mengurangi adanya sampah plastik. “Sampah plastik akan mencemari lingkungan karena sulit diurai lewat pembusukan alami. Kita kurangi dengan segala upaya dan saya mengimbau masyarakat tidak membuang sampah di hutan secara sembarangan. Pramuka Saka Wanabakti telah berperan dalam sosialisasinya, di antaranya lewat media pameran ini,” jelasnya. Penampilan stand Saka Wanabakti tersebut mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, saat mengunjungi stand tersebut. “Jawa Tengah saat ini sedang getol-getolnya memerangi sampah, terutama sampah plastik. Saka Wanabakti memberikan contoh nyata, pameran tanpa bahan plastik, terima kasih. Ini yang diharapkan dari

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Bubun Burhanudin/KPH Ciamis

“Gerakan ini memberi contoh kepada pengunjung agar mau meninggalkan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Mudahmudahan lewat gerakan ini semua pengunjung akan sadar atas perilakunya,” ujar Anggota Saka Wanabakti Cabang Ciamis, Furkon

kepeloporan pramuka,” ujar Ganjar Pranowo.

Opsih di Curug Tujuh Cibolang Di Ciamis, kegiatan kolaborasi Perhutani dan Pramuka juga berlangsung. Di dalam rangka menciptakan kawasan wisata yang bebas dari sampah, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis dan Saka Wanabakti Cabang Ciamis melaksanakan kegiatan operasi bersih (opsih) bersama di wisata alam Curug Tujuh Cibolang, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Panjalu, Bagian Kesatuan Hutan (BKPH) Ciamis, Jumat, 18 Oktober 2019. Gerakan ini merupakan bagian dari kegiatan pramuka yang merupakan pionir aspek sosial guna membangkitkan semangat anggotanya untuk terus mendedikasikan ilmu mereka di kehidupan bermasyarakat. Menanggapi penyelenggaraan kegiatan tersebut, Administratur Perhutani KPH Ciamis, Agus Mashudi, mengatakan, dalam rangka menciptakan kawasan yang bersih, asri, dan bebas dari

sampah, khususnya sampah plastik, Perhutani KPH Ciamis bersama Saka Wanabakti melakukan kegiatan Jumat bersih. Kali ini, pelaksanaan kegiatan Jumat Bersih tersebut diadakan di lokasi Wisata Curug Tujuh Cibolang. Hal itu ditujukan terutama untuk mengantisipasi terjadinya banjir di musim penghujan, karena tersumbatnya aliran air. Terkait hal tersebut, Agus juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah bersamasama melaksanakan kegiatan Jumat bersih di lokasi wisata Curug Tujuh Cibolang. “Mari kita bersama-sama menciptakan kawasan wisata yang asri dan bebas dari sampah,” ucapnya. Terkait aksi tersebut, Anggota Saka Wanabakti Cabang Ciamis, Furkon, mengatakan, kegiatan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

bersih-bersih yang mereka lakukan itu merupakan upaya untuk mengajak masyarakat utamanya pengunjung wisata Curug Tujuh Cibolang, agar tidak membuang sampah sembarangan. “Gerakan ini memberi contoh kepada pengunjung agar mau meninggalkan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Mudah-mudahan lewat gerakan ini semua pengunjung akan sadar atas perilakunya,” ujarnya. Sekecil apa pun, gerakan peduli lingkungan sejatinya merupakan langkah yang penting. Maka, langkah Saka Wanabakti bersama Perhutani di banyak tempat tersebut merupakan langkah yang perlu dihargai, sebagai sumbangsih bagi lingkungan hidup. Bravo! • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 23


rimbaUTAMA

Kurangi Sampah Plastik,

Hijaukan Lingkungan

Sepanjang bulan September-Oktober 2019, ada banyak kegiatan peduli lingkungan hidup yang melibatkan rimbawan Perhutani di sejumlah daerah. Bukan sekadar langkah bersih-bersoh lingkungan, upaya pelestarian lingkungan juga digelar dengan penghijauan dan diskusi serta koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Termasuk melakukan upaya-upaya mengurangi jumlah sampah plastik dan melakukan penanaman pohon di sepanjang sungai.

P

erhutani Divisi Regional (Divre) Jawa Tengah menjadi narasumber rapat koordinasi pengamanan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dalam kawasan hutan tahun 2019 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Hotel MG Suites, Semarang, Kamis, 24 Oktober 2019. Hadir di dalam rakor tersebut, Tim Pembina Penyelenggaraan RHL dengan ketua yang merupakan Kepala Dinas LHK Provinsi Jateng, dan Petugas Pengamanan RHL Jateng. Hadir pula segenap stakeholder terkait, di antaranya dari Kasubdit Binmas Polda Jateng, AKBP Minarsih, dan dari Kodam IV Diponegoro, Letkol Mustaghfirin. Perhutani Divre Jateng sendiri

24 DUTA Rimba

menghadirkan Kepala Departemen Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Hutan, Henry Purnomo, sebagai narasumber. Acara diskusi tersebut dibuka oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Jateng mewakili Gubernur Jateng. Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Jateng sebagai Pengarah Tim Pembina Penyelenggaraan RHL, menyampaikan, pentingnya memastikan langkah pengawalan bersama untuk keberhasilan RHL tahun 2019. Hal itu sebagai upaya melestarikan hutan dan lahan untuk menjaga keberlangsungan ekosistem hutan penyangga kehidupan masyarakat Jawa Tengah. Mewakili Kepala Perhutani Divre Jateng, Henry Purnomo  menyampaikan paparan pelaksanaan

RHL dalam kawasan hutan Perhutani. Menurut dia, pelaksanaan RHL di wilayah kerja Perhutani meliputi keluasan 11.422,88 Hektare, yang di dalamnya termasuk DAS Pemali Jratun, DAS Opak Progo dan DAS Bengawan Solo, dan tersebar di 9 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) yaitu Balapulang, Kebonharjo, Kedu Utara, Pati, Pekalongan Barat, Pekalongan Timur, Kedu Selatan, Banyumas Timur dan Surakarta. “Progres pelaksanaan kegiatan sampai dengan Oktober 2019 meliputi persiapan lapangan tanaman dan pengadaan bibit dengan prosentase penyelesaian hampir 80 persen,” ujarnya. Sementara Dinas LHK  Provinsi Jawa Tengah diwakili Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Konservasi

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Kompers Divre Jateng

Sumber Daya Hutan, Soegihato, menyampaikan bahwa kegiatan RHL di Jawa Tengah berhasil menanam ratusan juta pohon. Namun, saat ini lahan kritis masih cukup luas. Sehingga,  RHL tahun 2019 perlu dikawal pelaksanaannya oleh seluruh stakeholder dengan sungguhsungguh, agar tidak salah sasaran. “Oleh karena itu program RHL Jateng telah dimulai dengan memetakan lahan kritis secara detail dari tingkat kabupaten, tingkat kecamatan, dan tingkat desa,” jelasnya.

Gerakan Pungut Sampah Plastik Gerakan masyarakat untuk mengupayakan pengurangan sampah plastik juga diadakan di Kabumen, Jawa Tengah. Hal itu

terlihat saat berlangsung kampanye gerakan pungut sampah plastik, khususnya di lingkungan wisata alam yang berada di Kabupaten Kebumen, Minggu, 8 September 2019. Kegiatan ini melibatkan anak muda dari kalangan pelajar, mahasiswa, pencinta alam, pokdarwis dan masyarakat sekitar. Bertempat di Wisata Alam Wanalela Kebumen, beberapa anak muda yang tergabung dalam komunitas peduli sampah Kebumen (Kelompok peduli sampah dan wisata / GENSAWI) tampil mengampanyekan gerakan pungut sampah plastik, khususnya di lingkungan wisata alam yang berada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Wisata alam Wanalela merupakan salah satu obyek wisata yang dikelola Perhutani wilayah

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gombong Selatan, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan. Sementara itu, Administratur KPH Kedu Selatan, Yudha Suswardhanto, menyampaikan, mewujudkan pengelolaan hutan lestari tidak bisa hanya dilakukan oleh Perhutani saja. Namun adalah penting untuk melibatkan berbagai kalangan masyarakat, terutama pada kawasan hutan yang berfungsi sebagai tempat wisata atau yang banyak bersinggungan dengan aktivitas masyarakat. “Keberadaaan komunitas pecinta alam dan peduli wisata secara tidak langsung sangat membantu Perhutani untuk memupuk kesadaran pengunjung wisata tersebut, agar tidak hanya

DUTA Rimba 25


rimbaUTAMA

Foto: Y. Niken Anggraini/KPH Kedu Selatan

menikmati keindahan alam hutan saja, namun juga turut terlibat untuk menjaga hutan,” ujar Yudha. Menurut Hanafi, salah satu penggagas GENSAWI sekaligus karyawan Perhutani KPH Kedu Selatan, GENSAWI baru berdiri satu tahun yang lalu. Tepatnya GENSAWI berdiri pada 9 September 2018. Kini GENSAWI beranggotakan 40 orang yang terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, pecinta alam, pokdarwis, dan lain-lain. Kegiatan bersih-bersih sampah plastik sendiri merupakan kegiatan yang diprogramkan oleh GENSAWI setiap satu bulan sekali, yaitu pada minggu pertama. Kelompok peduli sampah dan wisata ini mempunyai moto “BERSAMA ALAM KITA BERSAHABAT”.

Sementara itu, dalam rangka mendukung program Citarum Harum, sejumlah karyawan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara mengikuti aksi penanaman pohon macadamia. Kegiatan penanaman pohon macadamia itu dilaksanakan Perhutani KPH Bandung Utara bersama dengan Serikat Karyawan (Sekar) Perhutani, di Kawasan Situ Cisanti Kilometer 0 (nol) Sungai Citarum, Jumat, 27 September 2019. Sejumlah pejabat Perum Perhutani serta Aparat Keamanan TNI-Polri Sektor 1 Citarum hadir di acara itu. Turut hadir pula dalam acara tersebut LMDH Tarumajaya, Saka Wanabakti, dan lain-lain. Di kesempatan itu, Administratur Perhutani KPH Bandung Utara, Komarudin, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk dukungan kami dalam mewujudkan Citarum Harum. “Kaitannya dengan kegiatan penanaman, hal ini merupakan salah satu bentuk dukungan kami dalam

26 DUTA Rimba

Foto: Gandi Sugandi/KPH Bandung Selatan

Tanam Macadamia di Hulu Citarum

mewujudkan Citarum Harum yang sejak dulu memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat,” katanya. Komarudin pun menuturkan, melalui kegiatan Rehabilitasi Hutan Lindung (RHL), Perhutani KPH Bandung Utara berkomitmen turut serta menjaga fungsi hutan agar tetap terjaga dengan baik, sehingga berdampak positif bagi kelestarian sungai Citarum. “Kami berharap agar masyarakat bisa membudidayakan tanaman macadamia sebagai komoditas utama. Sebab, tanaman

ini memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi,” pungkasnya.

Sehari Bicara Konservasi Aktivitas diskusi tentang lingkungan hidup, terutama tentang konservasi juga melibatkan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan. Hal itu terlihat tatkala Administratur Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan, Tedy Sumarto, didapuk menjadi narasumber pada acara “Sehari

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Kompers KPH Bandung Utara

Bicara Konservasi” , Kamis, 19 September 2019. Acara yang mengangkat tema “Pangalengan Lestari” itu digelar bertempat di Situ Cileunca, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Bandung, Asep Kusumah, Acara itu juga dihadiri oleh Dansektor 21 Satgas Citarum, Yusep Sudrajat; Manager Kebun Kertamanah, Dedi Kusramdani; perwakilan OSIS dari SMP dan SMA sekitar Pangalengan, tokoh masyarakat, perwakilan organisasi kepemudaan, perusahaan swasta dan BUMN, pegiat lingkungan dan alam terbuka, serta Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) se-Kecamatan Pangalengan. Acara tersebut juga diisi dengan diskusi terbuka dan diakhiri dengan Deklarasi Dukungan Citarum Harum. Di dalam paparannya, Administratur Perhutani KPH Bandung Selatan, Tedy Sumarto, menyampaikan, adanya 4 era perubahan pada kegiatan pengelolaan hutan di kawasan hutan KPH Bandung Selatan. Yaitu era perambahan tahun 2003, dimana terjadi perambahan yang cukup luas yaitu 15.397 Hektare untuk lahan sayuran dengan jumlah penggarap 34.740 KK. Dilanjutkan era alih komoditi tahun 2004-2010, yang ditandai dengan penanaman beberapa komoditas semisal kopi, jeruk, teh dan rumput dengan pola berbagi. Selanjutnya ada era optimalisasi potensi kopi tahun 2010-2011 melalui UBK (Unit Bisnis Kopi) berupa pembangunan unit bisnis kopi dalam rangka pencapaian target pendapatan kopi. Terakhir era kolaboratif tahun 2011 sampai sekarang, yaitu dalam rangka optimalisasi potensi dan pemberdayaan masyarakat melalui budidaya kopi sebagai

Agar Citarum Harum terwujud, dibutuhkan kesadaran masyarakat, industri, serta rekanrekan dari berbagai organisasi, termasuk media massa dan Perguruan Tinggi. Sebab, Sungai Citarum benar-benar membutuhkan banyak energi. Ia menjelaskan bahwa bicara konservasi adalah bicara kehidupan. salah satu hasil agroforestry yang pengelolaannya dilakukan melalui mekanisme kerja sama dengan LMDH. Tedy menambahkan, perlunya seluruh pihak berperan dalam penyelesaian kasus alih fungsi lahan baik regulator (pemerintah daerah dan Perhutani), operator (pemerintah desa dan organisasi pegiat/pecinta lingkungan), maupun eksekutor (kelompok masyarakat binaan (PHBM/LMDH). Sementara itu, Kepala DLHK Kabupaten Bandung, Asep Kusumah, dalam sambutannya, mengatakan, agar Citarum Harum

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

terwujud, dibutuhkan kesadaran masyarakat, industri, serta rekanrekan dari berbagai organisasi, termasuk media massa dan Perguruan Tinggi. Sebab, Sungai Citarum benar-benar membutuhkan banyak energi. Ia menjelaskan bahwa bicara konservasi adalah bicara kehidupan. Selain itu, di kesempatan tersebut ia juga mensosialisasikan program Bupati Kabupaten Bandung, yaitu Sabilulungan, di mana setiap orang diimbau agar menanam 2 pohon seumur hidup dengan moto  “Ibadah dan Kesejahteraan”. • DR

DUTA Rimba 27


Foto: Bella Nisha/KPH Tuban

rimbaUTAMA

28 DUTA Rimba

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Ajak Elemen Masyarakat

Aktif Kelola Hutan

Pengelolaan hutan sejatinya bukan hanya menjadi tugas rimbawan. Kepedulian terhadap pengelolaan hutan menjadi tugas kita semua. Semua, hutan yang lestari akan menjadi satu sumbangsih penting untuk membuat lingkungan hidup terjaga pula kelestariannya. Maka, upaya untuk mengajak elemen masyarakat untuk aktif mengelola hutan pun terus dilakukan.

G

una menanamkan jiwa nasionalisme sejak dini bagi generasi penerus bangsa, sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Tunas Rimba Jember melaksanakan upacara untuk memeringati hari besar nasional. Hal itu pun terlihat ketika TK Tunas Rimba yang berada di wilayah kerja Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jember tersebut melaksanakan upacara memeringati Hari Kesaktian Pancasila. Penyelenggaraannya dilaksanakan di halaman sekolah mereka, tepat di Hari Kesaktian Pancasila, pada Selasa, 1 Oktober 2019. Upacara hari kesaktian Pancasila tersebut diikuti oleh 91 siwa dan 9 orang guru. Menurut Administratur Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH)

Jember, Rukman Supriatna, perlu penerapan nilai-nilai perjuangan kepada anak-anak sebagai generasi penerus untuk mengetahui sejak dini tentang sejarah perjuangan para pahlawan bangsa. “Tentunya hal itu agar mereka bisa mewarisi nilai-nilai luhur dalam memerdekan bangsa, sehingga kelak mereka bisa meneladaninya,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Yayasan Tunas Rimba Perhutani (YTRP) Jember, Nur Fitri Hariyati Rukman, mengatakan, jiwa nasionalisme perlu ditanamkan sejak anak usia dini. Menurut dia, anak usia dini merupakan usia emas untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan cinta tanah air. “Sebagaimana visi TK Tunas Rimba yang menyebutkan bahwa terwujudnya peserta didik yang agamis, cerdas, kreatif, mandiri

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

dan ramah lingkungan,” katanya. Itu di Jember. Di Tuban, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Tuban mengadakan sosialisasi kepada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Empu Supo yang berada di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kareyan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jadi. Sosialisasi dilakukan bertempat di rumah ketua LMDH Empu Supo, Desa Dermawuh, Senin, 23 September 2019. Hadir dalam sosialisasi tersebut antara lain Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Grabagan, Kepala Desa Dermawuh, perwakilan kelompok kerja (pokja) Perhutanan Sosial Jawa Timur. Di dalam sosialisasi tersebut, disampaikan mengenai hak dan kewajiban LMDH terkait sharing

DUTA Rimba 29


Foto: Sigit/KPH Mantingan

Foto: Agus Sulaiman /KPH Jember

rimbaUTAMA

Agroforestry. Juga pengertian PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), meliputi prosedur, besaran dan tata waktunya, serta dukungan partisipasi aktif LMDH dalam bidang keamanan hutan. Menurut Administratur Perhutani KPH Tuban, Tulus Budiyadi, pihaknya meminta kepada seluruh stakeholder dan masyarakat agar selalu bersinergi dalam menjaga kelestarian hutan dan mendukung program pemerintah lewat Perhutanan Sosial. Sehingga, nantinya akan terwujud hutan yang lestari dan masyarakat sejahtera. Di dalam kesempatan tersebut, juga dibahas mengenai skema dan prosedur pengusulan Perhutanan Sosial (PS) berikut hak dan kewajiban pemohon yang disampaikan secara detail oleh Yamani salah satu petugas Pokja PS Jawa Timur. Tujuannya supaya masyarakat desa, khususnya yang memanfaatkan lahan kawasan hutan, paham dengan program pemerintah tersebut sebagai bentuk legalitas kemitraan dengan Perhutani.

30 DUTA Rimba

Yamani menuturkan, program PS tersebut merupakan program Pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat, khususnya yang berada di sekitar hutan. “Mari kita dukung program ini, tentunya sesuai dengan prosedur dan aturan,” tutupnya.

Sertifikasi Lahan Hutan Satu minggu sebelumnya, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Karya Alam Lestari  (Kalal) mengadakan pembekalan hukum bagi  Lembaga Masyarakat desa Hutan (LMDH). Tepatnya, kegiatan tersebut berlangsung di kantor Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Medang, Sabtu, 21 September 2019. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Tokoh Masyarakat, Kepala Desa se-Kabupatan Blora untuk wilayah Perhutani KPH Mantingan, Ketua LMDH serta mandor Pendamping LMDH. Wakil Administratur KPH Mantingan, Priyono,  menyampaikan

pesan Administratur Perhutani Mantingan bahwa masyarakat sekitar hutan dan anggota LMDH jangan sampai terpengaruh berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, khususnya mengenai penggarapan dan sertifikasi lahan hutan. “Hutan kawasan negara pengelolaannya diatur undang-undang dan peraturan pemerintah. Pemanfaatannya tidak dimungkinkan secara sembarangan oleh masyarakat. Oleh karena itu jangan sampai termakan hoax yang seolah olah memberikan peluang untuk penggunaan kawasan hutan bebas tanpa aturan” jelas Priyono. Sementara LSM Kalal yang diwakili Djumadi S Rama, mendorong masyarakat sekitar hutan agar mengikuti program pemanfaatan hutan dengan Kulin KK sebagai payung hukumnya. “Dalam kepengurusan penggarapan lahan hutan, masyarakat dan anggota LMDH agar sepengetahuan lurah atau Babinsa dan Binmas di masingmasing desa,” katanya. • DR

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 31


Foto: Kompers KPH Pemalang

rimbaUTAMA

32 DUTA Rimba

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Sharing dan Caring

Kepada LMDH

Sebagai mitra, Perhutani sangat memerhatikan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Hal itu ditunjukkan banyak Kantor Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) di sejumlah wilayah. Beberapa di antaranya terlihat dalam paparan di bawah ini.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 33


Foto: Sures SWB/KPH Pati

Foto: Kompers KPH Pemalang

rimbaUTAMA

Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati menyerahkan Sharing Produksi Kayu Sengon Tanaman kerja sama dengan LMDH sebesar Rp 413.251.769. Dana sharing tersebut diserahkan kepada dua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mitra Kerjasama, bertempat di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Perum Perhutani KPH Pati, pada Sabtu, 14 September 2019. Hasil Sharing tersebut secara simbolis diserahkan oleh Administratur Perhutani KPH Pati, Sukidi, kepada kedua LMDH yaitu LMDH Wana Lestari dan LMDH Wana Srikandi. Dana sharing yang diserahkan kepada LMDH Wana Lestari Desa Kaligarang Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara adalah sebesar Rp 383.489.898. Sharing tersebut diterima oleh Ketua LMDH Wana Lestari, Musari Haryono. Sedangkan sharing kepada LMDH Wana Srikandi Desa Cepogo Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara sebesar Rp 29.761.871 diterima oleh Ketua LMDH, Mulyono. Penyerahan tersebut disaksikan oleh jajaran manajemen KPH Pati dan LMDH. Administratur Perhutani KPH Pati, Sukidi, dalam kesempatan

34 DUTA Rimba

itu berharap hubungan antara Perhutani dan LMDH dapat semakin ditingkatkan. “Ke depan saya harapkan kedekatan antara LMDH dan Petugas Perhutani yang ada di lapangan bisa sebagai bentuk persaudaraan dan bukan sekadar mitra saja. Selain itu, kami berharap kerjasamanya ditingkatkan menjadi Kulin KK yang mana merupakan bentuk dari Perhutanan Sosial yang diterbitkan oleh Kementerian Kehutanan, dan ini merupakan peningkatan dari LMDH karena kerjasamanya langsung dengan Kementerian,” jelasnya. Sementara itu, Ketua LMDH Wana Lestari, Musari Haryono, menyampaikan terima kasih kepada Perhutani atas hasil sharing yang diberikan. “Seluruh anggota dan pengurus sepakat bahwa sebagian dari hasil sharing ini akan dibelikan mobil ambulance untuk kegiatan operasional desa sebagai bentuk kegiatan sosial”, ujarnya. Sementara itu, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pemalang juga menyerahkan biaya sharing produksi kayu kepada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Karya Lestari Desa Glandang

Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang. Aktivitas itu dilakukan di Kantor Perhutani KPH Pemalang, Kamis, 19 September 2019. Biaya sharing tersebut diserahkan langsung oleh Administratur Perhutani KPH Pemalang, Akhmad Taufik, kepada Ketua LMDH Karya Lestari, Dollah. Penyerahan biaya sharing tersebut didampingi oleh Kepala Sub Seksi (KSS) Keuangan KPH Pemalang, Muhamad Alim S. Juga turutmenyaksikan, KSS Komunikasi Perusahaan dan Pelaporan KPH Pemalang, Eko Satoto. Akhmad Taufik menyampaikan bahwa biaya sharing sebesar Rp 27.094.720 (dua puluh tujuh juta sembilan puluh empat ribu tujuh ratus dua puluh rupiah yang telah diterima Ketua LMDH Karya Lestari tersebut berdasarkan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Perum Perhutani KPH Pemalang dengan LMDH Karya Lestari. “Harapannya, biaya sharing ini dapat digunakan sesuai dengan Anggaran Dasar LMDH, guna mengutamakan kelembagaan dan berperan aktif dalam melestarikan hutan sesuai dengan hutan pangkuan desa,” tuturnya. • DR

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 35


RIMBAkhusus

Karya Perhutani

Berbuah Penghargaan

D

i dalam ajang “RRI BUMN Awards 2019”, Perum Perhutani meraih salah satu penghargaan yang dinilai. Di ajang “RRI BUMN Awards 2019” yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dan Iconomics Research and Consulting itu, Perhutani berhasil mendapat penghargaan untuk kategori Social Economy Contribution, yaitu perusahaan yang memiliki kontribusi sosial dan ekonomi sangat tinggi. Pemberian penghargaan tersebut berlangsung di Jakarta, Kamis, 26 September 2019. RRI BUMN Awards merupakan ajang penghargaan yang diberikan untuk BUMN yang berhasil menjadi penguasa pasar di tengah persaingan ketat di industri yang menjadi core business-nya. Selain itu, penghargaan tersebut juga merupakan bentuk apresiasi yang diberikan kepada BUMN yang berhasil membangun brand yang kuat dan konsisten menjaga kepuasaan pelanggan. Apresiasi juga layak diberikan oleh RRI BUMN Awards kepada BUMN yang telah memberikan kontribusi sosial ekonomi kepada masyarakat Indonesia.

36 DUTA Rimba

Perum Perhutani terus menebar karya terbaik. Berbagai pengakuan atas torehan karya itu pun terus berdatangan. Salah satu bukti pengakuan itu adalah ragam penghargaan yang diberikan pihak di luar perusahaan. Sepanjang SeptemberOktober 2019, Perhutani kembali mendulang sejumlah penghargaan dari lembaga-lembaga yang memiliki kompetensi di bidangnya. Selain sebagai sebuah pencapaian entitas bisnis, hal itu menjadi kontribusi Perhutani kepada masyarakat, sekaligus untuk mewujudkan salah satu tujuan didirikannya Badan Usaha Milik Negara yang wujudnya adalah untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Acara “RRI BUMN Awards 2019” dihadiri oleh Sekretaris Kementerian BUMN, Imam Apriyanto Putro. Hadir pula Direktur Utama Penyiaran RRI, M. Rohanudin; CEO & Founder Iconomics, Bram S. Putro; serta Direktur Riset Iconomics Alex Mulya. Direktur SDM, Umum dan IT Perhutani, Kemal Sudiro, yang hadir mewakili Direktur Utama Perum Perhutani, tampil menerima penghargaan untuk Perhutani tersebut yang diserahkan oleh CEO &

Founder Iconomics, Bram S. Putro. Ada empat format dalam “RRI BUMN Awards 2019”. Hal itu dijelaskan Alex Mulya dalam paparannya. Menurut dia, penilaian RRI BUMN Awards ini melibatkan kurang lebih 30 sektor atau subsektor BUMN yang mengikuti penilaian untuk penghargaan tersebut dalam 4 format, yaitu Market Dominance, Brand Strength, Costumer Satisfication, dan Social Economy Contribution.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Aga Prasetya/Kompersh Pusat

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 37


rimbakhusus serta menciptakan lapangan kerja lokal, salah satunya menjadikan masyarakat desa hutan sebagai penyadap getah pinus,” tambah Kemal. Program-program Perhutani itu, menurut dewan juri ajang RRI BUMN Awards 2019, telah menunjukkan komitmen Perhutani sebagai perusahaan yang memiliki kontribusi sosial dan ekonomi sangat tinggi. Dan hal itu dilakukan dalam upaya Perhutani untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Foto: Aga Prasetya/Kompersh Pusat

Infobank Best SOE 2019

Sementara itu, di dalam kata sambutannya, Imam Apriyanto Putro menyampaikan, para BUMN harus diapresiasi karena telah bekerja keras untuk mewujudkan salah satu tujuan didirikannya Badan Usaha Milik Negara. Wujud salah satu didirikannya BUMN adalah untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. “Selain itu, kita patut memahami dan juga harus bangga bahwa BUMN itu milik negara dan rakyat indonesia bagian dari kita semua,” ujar Imam. Di kesempatan yang sama, Kemal Sudiro menjelaskan, dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

38 DUTA Rimba

sekaligus kelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan merupakan perhatian utama yang diterapkan Perum Perhutani dalam pengembangan usaha hulu – hilir. Hal itu terwujud dalam program Perhutanan Sosial dan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) serta kerja sama kemitraan lainnya. “Dalam program yang telah dilaksanakan tersebut, antara lain Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL), sharing hasil produksi kayu dan non kayu termasuk dari sektor wisata, berkontribusi dalam produksi pangan dari program agroforestry seperti padi, jagung, dan tebu,

Penghargaan tidak saja diraih Perhutani dari RRI BUMN Awards. Pada Jumat, 25 Oktober 2019, Perum Perhutani juga dinyatakan meraih penghargaan dalam ajang “Infobank The Best SOE (State Owned Enterprises) 2019”. Ajang tersebut diselenggarakan oleh majalah Infobank, di Jakarta. Sekretaris Perusahaan Perum Perhutani, Asep Rusnandar, mewakili Direktur Utama Perhutani, menerima penghargaan tersebut yang diberikan oleh Direktur Infobank Institute, Tubagus Rully Ferdian. Malam itu, Perhutani berhasil mendapat penghargaan State Owned Enterprise with Predicate “Excelent” in Financial Performance Trought 2018. Infobank The Best SOE adalah ajang penghargaan bagi BUMN yang berhasil mengukir kinerja terbaiknya di sepanjang tahun 2018 dengan meraih predikat “Sangat Bagus”. Acara penyerahan penghargaan tersebut pada 25 Oktober 2019 dihadiri oleh Direktur Infobank, Pranoto Muhammad; Direktur Infobank Institute, Tubagus Rully Ferdian; Editor in Chief Infobank, Eko B. Supriyanto; serta Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK, Giri Suprapdiono.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


dimulai dari didirikannya KPK tahun 1999. Ketika itu, nilai anti korupsi di Indonesia adalah 17. “Peningkatan ini tentunya bisa tercapai, salah satunya karena BUMN telah banyak perbaikan dalam hal melaksanakan Good Corporate Governance (GCG),” jelas Giri. Sementara itu, usai menerima penghargaan tersebut, Asep Rusnandar menyampaikan bahwa penghargaan yang didapatkan Perhutani tersebut merupakan bentuk apresiasi kepada Perum Perhutani, sebagai BUMN di sektor kehutanan yang diberikan amanah dari negara untuk menjaga kelestarian hutan Indonesia. Bentuk apresiasi itu berarti juga pengakuan atas kinerja Perhutani selama ini dalam mengembangkan bisnis di sektor kehutanan. “Perhutani akan terus berperan

dalam mengembangkan bisinis di sektor kehutanan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan yang didasarkan pada Triple Bottom Line, yaitu Planet, People, dan Profit,” tambah Asep.

Penghargaan Malowapati Bukan hanya dalam skala nasional Perum Perhutani mendulang penghargaan dari pihak eksternal. Di tingkat Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) pun sejumlah penghargaan berhasil diraih. Salah satunya adalah Perhutani KPH Bojonegoro yang pertengahan Oktober 2019 meraih Penghargaan Malowapati dari pemerintah daerah setempat. Bupati Bojonegoro, Anna Muawanah, menyerahkan langsung Penghargaan Malowapati tersebut saat memimpin upacara Peringatan Hari Jadi ke-342 Kabupaten

Foto: Markum/KPH Bojonegoro

Acara tersebut juga diisi dengan penyampaian pemaparan oleh Giri Suprapdiono yang tampil sebagai keynote speaker. Ketika memberikan kata sambutannya, Eko Supriyanto mewakili infobank, menyampaikan, para BUMN harus diapresiasi karena telah bekerja keras dan meningkatkan pencapaian serta kinerja terbaiknya. “Selain itu, kita harus mendorong upaya-upaya untuk menjadikan BUMN sebagai agen pembangunan yang kuat, lincah, dan kompetitif” ujar Eko. Tampil menyampaikan keynote speech, Giri Suprapdiono menjelaskan, nilai anti korupsi di Indonesia sampai tahun 2019 adalah 38 pada skala 100, dengan menduduki peringkat 89 di seluruh dunia. Menurut dia, nilai tersebut telah meningkat 21 poin sejak

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 39


rimbakhusus Bojonegoro dan Hari Jadi ke-74 Provinsi Jawa Timur, di Alun-alun Kabupaten Bojonegoro, Minggu, 20 Oktober 2019. Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Dewanto, menerima penghargaan tersebut. Menanggapi penerimaan penghargaan tersebut, Dewanto menyatakan, dengan diterimanya Penghargaan Malowapati dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Perum Perhutani, utamanya KPH Bojonegoro, kini semakin bersemangat untuk terus membangun sumber daya hutannya. Menurut dia, semangat mereka semakin terpacu untuk terus membangun sumber daya hutan bersama masyarakat, guna ikut meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. “Dengan adanya penghargaan ini akan menjadikan penyemangat bagi kami untuk mewujudkan Profit, Planet, People (3P) secara

berkelanjutan, utamanya kegiatan sosial (people) yang merupakan bagian dari pembangunan masyarakat,” kata Dewanto. Dewanto melanjutkan, di wilayah kerja KPH Bojonegoro terdapat 70 LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) dari 54 desa di Kabupaten Bojonegoro. Lembaga-lembaga itulah yang melakukan kegiatan kemitraan dengan Perum Perhutani dalam aktivitas pengelolaan sumber daya hutan. Selain itu, LMDH juga aktif memfasilitasi masyarakat untuk menumbuhkembangkan budaya dan tradisi pengelolaan sumber daya hutan di lahan-lahan desa. Dewanto mengatakan, pihaknya menilai, dalam kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat selama ini, Perum Perhutani telah memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar hutan. Contohnya, pada musim tanam tahun 2018/2019 atau

musim tanam kedua, lahan Perhutani yang dimanfaatkan masyarakat adalah seluas 7.208,52 hektare. Lahan tersebut ditanami padi seluas 1.144 hektare, jagung seluas 6.029 hektare, kacang-kacangan seluas 4 hektare, dan tanaman empon-empon seluas 31,52 hektare. “Hal itu menunjukkan, terdapat hubungan positif di antara Perum Perhutani dengan masyarakat sekitar hutan,” ujarnya. Sementara itu, saat melakukan penyerahan penghargaan tersebut, Bupati Bojonegoro, Anna Muawanah, menyampaikan, Kabupaten Bojonegoro berkomitmen menjalankan dua pilar pembangunan. Keduanya adalah Ngayomi dan Ngopeni. Ia menjelaskan, ngayomi mengandung makna bahwa di dalam pembangunan, aktivitas pemerintah diarahkan dengan memberi perlindungan, rasa aman, dan rasa tenteram bagi semua

40 DUTA Rimba

Foto: Aga Prasetya/Kompersh Pusat

Mengapa pertumbuhan ekonomi yang lumayan tinggi dalam sepuluh tahun terakhir, yaitu ratarata 5,4% per tahun itu, tidak dapat secara signifikan mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan yang muncul di Indonesia? Salah satu jawabannya adalah karena pertumbuhan ekonomi itu kurang berkualitas. NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


lapisan masyarakat. Sedangkan ngopeni bermakna bahwa aparatur pemerintah berkomitmen untuk menjaga, merawat, melayani rakyat, dan melaksanakan pembangunan berdasarkan skala prioritas pada prinsip kerakyatan dalam mewujudkan kesejahteraan. “Dua pilar tersebut diwujudkan dalam Sapta Dasa Kridha 17 prioritas pembangunan yang semua difokuskan untuk menurunkan angka kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” katanya.

Tantangan Pembangunan Secara makroekonomi, Indonesia memang merupakan salah satu negara dari sedikit negara di dunia yang berhasil di tengah berlangsungnya krisis ekonomi global. Permasalahan dan tantangannya adalah bahwa selama terdapat fakta bahwa angka pengangguran dan kemiskinan di masyarakat Indonesia masih begitu tinggi. Begitu juga kesenjangan di antara kelompok kaya dan miskin semakin lebar, disparitas pembangunan antar wilayah masih sangat tinggi, dan daya saing ekonomi serta IPM (Indeks Pembangunan Manusia) masih rendah. Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama sepuluh tahun terakhir ini termasuk cukup tinggi, yaitu 5,4%. Pertanyaannya, mengapa pertumbuhan ekonomi yang lumayan tinggi dalam sepuluh tahun terakhir, yaitu rata-rata 5,4% per tahun itu, tidak dapat secara signifikan mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan yang muncul di Indonesia? Salah satu jawabannya adalah karena pertumbuhan ekonomi itu kurang berkualitas. Sebab, pertumbuhan ekonomi selama satu dekade terakhir terakhir ini sebagian besar dihasilkan dari

sektor finansial dan sektor riil yang non-tradable (antara lain semisal kontruksi, angkutan, pasar swalayan/ mall, dan hiburan). Faktanya, semua itu sedikit sekali menyerap tenaga kerja. Bahkan, menurut ekonom Aviliani, selama ini setiap 1% angka pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu menyerap 150.000 tenaga kerja. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas itu sebagian besar berlangsung di kota-kota besar dan Pulau Jawa, serta kebanyakan hanya dinikmati oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Sektorsektor ekonomi riil yang tradable semisal kelautan dan perikanan, pertanian, ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral), kehutanan, pariwisata, dan industri manufacturing, justru tumbuh sangat lambat. Padahal, menurut data Bappenas tahun 2008, sektor-sektor riil yang tradable tersebut senyatanya dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, yaitu sekitar 500.000 orang tenaga kerja untuk setiap 1% pertumbuhan ekonomi. Kondisi seperti itu memunculkan tantangan bagi kita. Antara lain adalah bagaimana kita dapat melakukan revatilisasi di sektor kehutanan. Sebab, di negaranegara lain yang memiliki potensi kehutanan yang jauh lebih kecil daripada Indonesia, antara lain misalnya Finlandia dan Kanada, justru sektor kehutanannya mampu menjadi kontributor utama bagi perekonomian negaranya, yaitu sekitar 30% PDB (Produk Domestik Bruto). Revitalisasi itu berupa compliance (taat azas) terhadap Undangundang Tata Ruang Kehutanan (Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan). Kawasan-kawasan hutan yang menurut peta tata ruang kehutanan telah ditetapkan sebagai hutan lindung haruslah dilindungi. Tidak

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

boleh dialihfungsikan misalnya untuk kegiatan pertambangan atau kegiatan pembangunan lainnya. Juga tidak boleh ditebang pohonnya. Tetapi hutan lindung untuk kegiatan ekowisata, penelitian, pendidikan, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak merusak lingkungan. Di kawasan-kawasan yang sudah ditetapkan sebagai hutan produksi, kita harus menebang pohon hutan dan memanfaatkan produk non-kayu (semisal madu, damar, dan bahan-bahan farmasi alamiah) secara optimal dan lestari (sustainable). Untuk itu, prinsipprinsip konservasi harus diterapkan di dalam memanfaatkan kayu dan sumber daya hutan lainnya. Contohnya adalah sistem TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia), yaitu memerhatikan bahwa saat menebang pohon harus yang diameter batangnya lebih besar dari ukuran tertentu (lebih dari 25 cm), dan setelah menebang pohon tersebut kita harus melakukan penanaman kembali (reboisasi). Sehingga, hutan akan tetap lestari. Di kawasan-kawasan hutan yang dapat dikonversi, kita dapatmemanfaatkannya secara produktif, efisien, ramah lingkungan, dan lestari, misalnya untuk HTI (Hutan Tanaman Industri), perkebunan, lahan pertanian, dan peruntukan pembangunan lainnya. Perhutani telah dan selalu memerhatikan hal-hal tersebut. Parameternya adalah pemberian ragam penghargaan dari pihak eksternal perusahaan tersebut. Penghargaan-penghargaan yang telah diterima Perhutani itu sejatinya merupakan wujud pengakuan dari banyak pihak terhadap kinerja Perhutani selama ini yang melaksanakan fungsinya sebagai BUMN dan penjaga amanah pengelolaan kawasan hutan. Bravo! • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 41


rimbakhusus

Apresiasi

Atas Prestasi Selain rangkaian penghargaan, Perhutani juga mendulang apresiasi atas raihan prestasi yang telah diukir. Tetapi, hal itu tak lantas membuat Rimbawan Perhutani berhenti membuat rangkaian prestasi. Bahkan sebaliknya, ragam apresiasi dan pengakuan itu semakin memacu insan Perhutani berprestasi dan memberikan karya terbaik. Semua itu dilakukan bukan saja demi menjalankan fungsi sebagai BUMN yang profitable, juga dalam rangka menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan yang didasarkan pada Triple Bottom Line, yaitu Planet, People, dan Profit.

K

awasan hutan Perhutani KPH Sumedang menyimpan potensi wisata dan agro yang besar. Hal itu terungkap dalam Diskusi Bersama yang digelar Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sumedang bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sumedang, awal September 2019. Hadir dalam diskusi yang diadakan di lokasi Wisata Kampoeng Ciherang, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Manglayang Timur, KPH Sumedang, Rabu, 4 September 2019, itu Administratur Perhutani KPH Sumedang, Asep Setiawan, dan Bupati Sumedang, Doni Ahmad Munir, beserta jajaran. Acara diskusi bersama ini membahas tentang pengembangan

42 DUTA Rimba

potensi wisata dan agro di kawasan hutan Perhutani Sumedang. Pembahasan berlangsung semarak, mulai dari pembahasan lokasi yang potensial untuk dikembangkan, pola Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), pembahasan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang terbentuk, dan sharing keuntungan. Di dalam kesempatan diskusi tersebut, Bupati Sumedang, Doni Ahmad Munir, menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Sumedang berkomitmen untuk melibatkan dinas terkait dalam memberikan binaan dan bimbingan, termasuk memberikan bantuan modal dan bantuan teknologi semisal mesin pengering dan penggiling kopi. Komitmen itu mereka pegang teguh, sehingga terwujudlah

motto Sumedang Simpati, yaitu meningkatkan usaha kecil dan menengah. Di bagian akhir penyampaiannya, Bupati Sumedang menyampaikan ucapan terima kasih kepada Perhutani KPH Sumedang yang telah melibatkan LMDH dan masyarakat selaku investor dalam mengelola dan mengembangkan wisata dan agro. Bupati pun menyatakan pihaknya memberikan apresiasi terhadap langkah-langkah Perhutani. “Terima kasih Perhutani Sumedang yang telah melibatkan warga masyarakat dalam kegiatan pemanfaatan hutan,” ujar Doni. Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Sumedang, Asep Setiawan, menyampaikan, di dalam proses penggalian potensi wisata dan agro, masih terbuka kesempatan untuk investor yang ingin berkolaborasi dengan Perhutani, dalam menghijaukan hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari tanaman kopi di kawasan hutan. Di kesempatan itu, Asep juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemda Kabupaten Sumedang yang telah memberikan dukungan dengan diperbaikinya jalan penghubung ke lokasi Wisata Kampoeng Ciherang. Jalan sepanjang kurang lebih 9 Km dari jalan utama tersebut dapat mempermudah aksesibilitas menuju lokasi Wisata Kampoeng Ciherang.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Kompers KPH Sumedang

“Masyarakat juga mendapat keuntungan dari kerja sama dengan Perhutani, baik di bidang wisata maupun agro, yaitu dengan adanya sharing pendapatan yang diberikan Perhutani kepada masyarakat yang telah bekerjasama,” jelasnya.

Sertifikat FM-FSC Kabar gembira datang dari Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis. Mereka kembali mempertahankan sertifikat Forest Management – Forest Stewardship

Council (FM-FSC), setelah dilaksanakannya audit selama 3 hari dari tanggal 8-10 Oktober 2019 oleh PT Standard Global Services (SGS). Hasil audit yang menyimpulkan keberhasilanPerhutani KPH Ciamis memertahankan sertifikat tersebut disampaikan pada saat kegiatan Closing Meeting Audit FM-FSC yang diadakan di Aula Perhutani KPH Ciamis, Kamis, 10 Oktober 2019. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Administratur KPH Ciamis Agus Mashudi dan perwakilan Kantor

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten. Sedangkan Auditor dari PT SGS yang hadir, di antaranya adalah Zaenal Abidin, Gunung W, dan Fourry Meilano. Ketika menyampaikan kata sambutannya, Administratur Perhutani KPH Ciamis, Agus Mashudi, mengucapkan terima kasih kepada Tim Audit. Ia juga menyampaikan, hasil audit tersebut diharapkan dapat memacu Perhutani dalam melaksanakan pengelolaan hutan dengan baik dan benar.

DUTA Rimba 43


Foto: Kompers KPH Sumedang

rimbakhusus

“Ketika mendapatkan sertifikat menjadi wujud komitmen dalam pengelolaan kawasan hutan, maka kita harus memahami 10 prinsip dan kriteria yang telah ditetapkan oleh FSC dan dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari. Atas nama Perhutani KPH Ciamis, kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Audit. Semoga hasil dari kegiatan audit ini dapat membimbing kami agar lebih baik lagi dalam mengelola kawasan hutan,” ujar Agus. Sementara itu, perwakilan Tim Audit dari PT SGS, Zaenal Abidin, mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan dukungan yang diberikan oleh Perhutani KPH Ciamis, sehingga audit tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar. Terkait dengan temuan di Perhutani KPH Ciamis dinilai tidak terlalu signifikan, tetapi dalam pengelolaannya telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.

44 DUTA Rimba

“Tetap semangat karena pengelolaan hutan Perhutani Ciamis telah sesuai dengan 10 prinsip FSC,” pesannya.

Sistem Sertifikasi FSC (Forest Stewardship Council) mengembangkan dua sistem sertifikasi yang utama, yaitu Sertifikasi Pengelolaan Hutan (Forest Management) dan Sertifikasi Lacak Balak (Chain of Custody). Masing-masing sistem sertifikasi tersebut berkembang sesuai kebutuhan akan kondisi hutan dan pasar. Misalnya, untuk pengelolaan hutan, selain sertifikasi berorientasi pada hasil hutan kayu, berkembang pula sertifikat pengelolaan hutan yang menitikberatkan pada jasa lingkungan yaitu Ecosystem Services. Lalu juga pada pengelolaan hutan skala kecil yang dilakukan oleh masyarakat yang sistemnya bernama SLIMF. Lalu, sebagai bagian dari Chain

of Custody, ada juga FSC Recycle untuk kebutuhan memastikan bahan baku produk berasal dari limbah atau bongkaran konstruksi atau mebel bekas pakai. Selain itu, ada pula Controlled Wood (CW). CW bukan sertifikasi, tetapi CW cukup penting sebagai tahap persiapan menuju sertifikasi. Sertifikasi Pengelolaan Hutan atau dikenal dengan FM FSC diberikan kepada pengelola konsesi hutan atau pengelola lahan yang telah diverifikasi dengan sistem sertifikasi FM-FSC menggunakan prinsip dan kriteria FSC untuk praktik pengelolaan hutan yang bertanggung jawab. FM adalah singkatan dari Forest Management. Sedangkan sertifikasi lacak balak atau dikenal dengan nama CoCFSC berlaku untuk produsen, manufaktur, dan pedagang hasil hutan bersertifikasi FSC. CoC adalah singkatan dari Chain of Custody.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


dicampur dengan yang tidak baik. Sumber yang baik adalah dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab. Sistem sertifikasi FSC berfungsi untuk memastikan hutan telah dikelola secara bertanggung jawab.

Juara Umum di Purworejo Bukan hanya itu kabar gembira yang datang di lingkungan Perhutani. Kabar baik juga datang dari TK Tunas Rimba Cabang Kedu Selatan. Anak-anak dari TK Tunas Rimba Cabang Kedu Selatan menorehkan prestasi yang membanggakan dalam Unjuk Kompetensi Drumband bertajuk “Pop Miks 4 – Purworejo Open Marching Kids “, yang bertempat di Gelanggang Olah Raga WR Soepratman, Purworejo, Jawa Tengah, Minggu, 20 Oktober 2019. Lomba drumband tersebut merupakan ajang bergengsi Tingkat Kabupaten Purworejo yang digelar oleh Forum Peduli Drumband DR.Band Purworejo, dan diikuti grup drumband TK se-Kabupaten Purworejo. Di penyelenggaraan Lomba drumband tersebut tahun ini, TK Tunas Rimba yang merupakan binaan Yayasan Tunas Rimba Perhutani (YTRP) Cabang Kedu Selatan itu menyabet 6 piala sekaligus, yaitu Juara Umum Tingkat Kabupaten Purworejo

Foto: Kompers KPH Sumedang

Chain of Custody memastikan bahan baku produk berasal dari sumber atau hutan yang bersertifikat FSC dan proses produksi di sepanjang rantai supply tidak tercampur bahan baku lain yang tidak bersertifikat, kecuali controlled wood. FSC Controlled Wood dikembangkan agar perusahaan/ manufaktur yang belum bersertifikat FSC tidak mengambil kayu dari sumber yang tidak diterima (unacceptable). Kayu bersertifikat Chain of Custody hanya dapat dicampur dengan yang bersertifikat FSC Controlled Wood untuk produk berlabel FSC Mix. Selain ketiga jenis sertifikat tersebut, ada juga sertifikasi untuk hutan berbasis masyarakat (small, low, intensity, forest community based operation). Juga ada FSC Recycle dan Ecosystem Services. Beragam sistem sertifikasi yang dikembangkan FSC merupakan bentuk kehati-hatian FSC dalam menjamin dan memastikan asalusul sumber bahan baku kayu yang digunakan dalam proses produksi, mulai dari ditebang, dipotong, dibentuk, diolah, dikemas, dan diangkut sampai ke tangan konsumen. Sebab, di dalam proses rantai produksi, sangat dimungkinkan adanya percampuran atau pencampuran bahan baku yang berasal dari sumber yang baik

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

sekaligus merebut Juara Klasemen C yaitu juara 1 colourguard, juara 1 analysis music, juara 1 general effect, juara 1 perform dan juara 2 mayoret. Di kesempatan itu, Administratur KPH Kedu Selatan, Yudha Suswardhanto, menyatakan, pihaknya turut berbangga atas prestasi TK Tunas Rimba Cabang Kedu Selatan yang telah berhasil mendapatkan posisi Juara Umum POP Miks 4 Kabupaten Purworejo. Ia pun berharap, dari TK Tunas Rimba Cabang Kedu Selatan ini kelak akan muncul SDM-SDM unggul yang terampil. “Saya berharap, kegiatankegiatan lain yang mendukung kemajuan anak-anak sejak usia dini terus ditingkatkan, sehingga di samping bidang keilmuan, talenta anak dapat terus berkembang, sehingga siap menjadi SDM unggul dan terampil di saat usia mereka dewasa nanti,” harapnya. Sementara itu, Ketua YTRP Cabang Kedu Selatan, Nur Hidayati Yudha Suswardhanto, mengungkapkan rasa bahagianya atas prestasi gemilang yang diperoleh oleh siswa-siswi TK Tunas Rimba. Ia berharap, hal itu akan semakin memotivasi pihaknya untuk terus meningkatkan pembinaan terhadap siswa-siswi TK Tunas Rimba. “Semua ini berkat kerja keras dan juga kerja sama yang baik antara guru, orang tua murid, dan YTRP KPH Kedu Selatan, dan yang pasti semangat serta kemauan kuat dari anak-anak yang luar biasa. Semoga TK Tunas Rimba Cabang Kedu Selatan semakin maju ke depan dan semakin dipercaya oleh masyarakat, khususnya dalam dunia pendidikan dasar anak,” ujarnya. Prestasi demi prestasi telah diukir Perhutani. Semoga rangkaian prestasi akan terus diukir Perhutani selanjutnya. Bravo! • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 45


sumpah pemuda 2019

Dok. Kom PHT®2014 | Foto : SOE.

di perhutani

46 DUTA Rimba

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


LENSA

NO. 18 80••TH. TH.13 13••september september--oktober oktober••2019 2019

DUTA Rimba 47


48 DUTA Rimba

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


LENSA

NO. 18 55 •••TH. 80 TH. TH.13 9 13••november september september--desember -oktober oktober••2019 2014 2019

DUTA Rimba 49


SobatRIMBA

50 DUTA Rimba

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 51


SobatRIMBA

52 DUTA Rimba

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 53


Foto : Kompers KPH Kedu Utara

lintasrimba

Memaknai Kebhinnekaan Lewat Grebeg Suran Masal Wonosobo - Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, diwakili BKPH Wonosobo,ikut berpartisipasi dalam kegiatan “Grebeg Suran Masal Lintas Agama dan Budaya” di Alun-Alun Wonosobo. Acara bertema “Merajut Kebhinnekaan, Menjalin Persatuan Demi Bangsa dan Negara” itu diadakan pada Kamis, 12 September 2019. Kegiatan tersebut merupakan tradisi yang digelar bertepatan dengan bulan Muharram atau Sura. Sebab, bulan pertama dalam sistem penanggalan Arab dan Jawa itu diyakini oleh semua agama dan golongan sebagai bulan yang punya keutamaan. Grebeg Suran diselenggarakan oleh jajaran Forum Koordinas Pimpinan Daerah (Forkopimda) bekerja sama dengan Kodim 0707/ Wonosobo, Polres Wonosobo, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Wonosobo. Dukungan dari masyarakat begitu

54 DUTA Rimba

besar dalam acara itu. Selain agenda rutin, grebeg suran juga diharapkan bisa menjadi momen untuk merajut persatuan. Diawali apel kebangsaan, acara dilanjutkan dengan arak-arakan 194 tumpeng yang kemudian dimakan barsamasama oleh masyarakat yang hadir di Alun-Alun Wonosobo. Kurang lebih 1.500 peserta dari berbagai instansi dan kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo ikut berpartisipasi di acara itu. “Grebeg suran harus bisa menjadi momen untuk mengukir kebersamaan, merajut persatuan dan memperkuat kesatuan. Dalam kegiatan ini ada juga pertunjukan pentas kesenian daerah serta acara doa bersama serta ikrar kebhinnekaan. Hal ini merupakan simbolisasi yang menunjukkan bahwa di Wonosobo keberagaman bukan menjadi sebuah persoalan, melainkan justru menjadi modal kuat untuk maju bersama,” ucap Dandim

0707/Wonosobo, Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat. Mewakili Administratur Perhutani KPH Kedu Utara, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Wonosobo, Supriyono, berharap seluruh masyarakat Kabupaten Wonosobo dapat selalu menjalin persatuan dan kesatuan, serta bahu membahu menciptakan kedamaian dan keharmonisan menuju Indonesia maju dan bersatu. “Kami juga berharap agar masyarakat bersama-sama menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan,” katanya. Sementara Kapolres AKBP Abdul Waras mengatakan, pihaknya mempersembahkan 6 buah tumpeng yang memiliki filosofi sebagai bentuk kebahagiaan dan ucapan syukur. “Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan masyarakat Wonosobo dapat bahu membahu menciptakan kedamaian dan keharmonisan menuju Indonesia maju dan bersatu,” ujarnya. • Tim Kompersh Kanpus

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Kelompok Peneliti Pinus Perum Perhutani

Gelar FGD di Baturaden

Prof. Dr. Ir. Mochammad Na’iem, M.Agr dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai narasumber bersama Dr. Ir. Gunawan Santosa, M.Si dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB). FGD tersebut membahas hasil penelitian dan pengembangan Pinus Bocor Getah (PBG) dari asal benih KBS di berbagai KPH di Divre Jateng dengan luas 2.870,5 Hektare. Di Perhutani, penelitian mengenai PBG dilakukan sejak tahun 2004 hingga 2019. Selama kurun waktu tersebut, PBG telah menjadi sumber materi pucuk/cangkok setelah sebelumnya dilakukan seleksi berdasarkan produksi getah. Produktivitas PBG sejauh ini adalah sebesar 50-270 gram per pohon per

Foto : (Harnoto Wibowo/Puslitbang SDH

Purwokerto - Perum Perhutani punya komitmen untuk mengembangkan tanaman pinus bocor getah. Sebab, potensi getah pinus sebagai komoditas unggul masih sangat besar. Komitmen Perhutani untuk serius mengembangkan potensi pinus bocor getah itu antara lain terlihat ketika pihak Perum Perhutani mengundang PT Inhutani I untuk menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai Pengembangan Pinus Bocor Getah Perum Perhutani. FGD tersebut diadakan di Pusat Penelitian Pinus Perhutani, Baturaden, hari Rabu, 9 Oktober 2019. Dipimpin oleh Kelompok Peneliti Pinus Perum Perhutani, FGD tersebut menghadirkan

lubang per hari. Hal itu berarti PBG lebih produktif dibandingkan pinus normal. Pengembangan PBG saat ini telah menerapkan teknik silvikultur intensif. Pembibitan PBG merupakan bibit unggul hasil dari pemuliaan tanaman. Pembibitan dilakukan dengan menggunakan dua jenis teknologi pembibitan, yaitu generatif dan vegetatif. Pembibitan dengan teknologi generatif dari benih KBS dan secara vegetatif dari hasil pemuliaan pohon PBG beserta stek pucuk dan cangkok pucuk. Selain itu, juga dilakukan proteksi tanaman dengan memanipulasi lingkungan tempat tumbuh dan pengendalian hama serta penyakit tanaman, agar kualitasnya tetap terjaga. Saat ini, rendemen dari ekstraksi getah mengalami kenaikan dari 86%-88% menjadi 95%. Selain memerhatikan hasil produksi getah, Perum Perhutani pun menerapkan juga pola tanam agroforestri. Pola tanam agroforestri dapat menjaga kelestarian sumber daya hutan, menambah pendapatan Perhutani, dan menyejahterakan masyarakat desa sekitar hutan. • Tim Kompersh Kanpus

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 55


Foto : Wasmo/KPH Balapulang

lintasrimba

Balapulang - Pada Kamis, 12 September 2019, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Balapulang bersama jajaran Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Bumi Tirta Makmur, menggelar patroli gangguan keamanan hutan (gukamhut) di wilayah hutan KPH Balapulang. Patroli tersebut dilaksanakan di Petak 81, 82, 83, 84, 85, 86 wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kaligimber, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Margasari. Patroli itu merupakan kegiatan untuk mengantisipasi dan mencegah kebakaran hutan serta gukamhut, terutama di kawasan hutan yang dikelola Perhutani. Turut dalam kegiatan tersebut, antara lain Wakil Administratur KPH Balapulang, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Margasari beserta jajaran, Danru Polhutmob, Kabag Ops Polres Tegal, Perwira Pembina (Pabin) Jagawana, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Balapulang beserta jajaran, petugas BPBD serta Ketua LMDH Wana Bumi Tirta Makmur. Wakil Administratur

56 DUTA Rimba

Perhutani Gelar Patroli

Bersama Polri, BPBD, dan LMDH Balapulang KPH Balapulang, Budi Sutomo, menyampaikan pernyataan Administratur KPH Balapulang, A. Fadjar Agung Susetyo, bahwa tujuan patroli bersama itu selain untuk menyosialisasikan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, juga mengantisipasi Gukamhut di kawasan hutan di Balapulang khususnya BKPH Margasari saat musim kemarau. “Musim kemarau yang terjadi saat ini sangat rawan terjadinya gukamhut khususnya kebakaran hutan dan lahan. Sehingga perlu upaya preventif seperti penyuluhan dan surat pemberitahuan kepada masyarakat dan instansi terkait seperti BKSDA, Polri, Pemda, dan lain–lain. Selain itu, perlu juga dilakukan upaya preventif seperti

patroli, pemasangan papan larangan, dan penghalauan pada pelaku tindak pidana Gukamhut,” ucap Budi. Kabag Ops Polres Tegal, AKP Aries Heriyanto, menyambut baik dan antusias pelaksanaan patroli gabungan itu, sebagai bentuk sinergi Polri dan Perhutani. Ia berharap, di masa depan kegiatan seperti ini bisa ditingkatkan baik frekuensi maupun instansi yang terlibat, seperti BKSDA serta unsur Desa dan Kecamatan. Sementara Ketua LMDH Wana Bumi Tirta Makmur, Tarmidi, mengatakan, pihaknya selalu siap membantu mengamankan hutan. “Sebagai mitra Perhutani, kami siap membantu dan ikut serta dalam mengamankan hutan dari segala bentuk gangguan,” jelasnya. • Tim Kompersh Kanpus

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Perhutani KPH Bandung Utara

Siap Dukung Pariwisata Halal di Bandung Barat Administratur Perhutani KPH Bandung Utara, Komarudin, mengatakan, pihaknya siap mendukung penuh wacana pariwisata halal. Sebagai bentuk dukungan, pihaknya akan bekerjasama dengan pihak pengelola dan pemerintah dalam upaya menyiapkan obyek wisata alam yang halal. Ia pun menuturkan, pihaknya punya sejumlah obyek wisata di wilayah Bandung Barat, semisal Curug Cimahi, Geger Bintang Matahari, Orchid Forest, Grafika, dan Pal 16. “Menurut saya, wilayah Kabupaten Bandung Barat punya potensi besar mewujudkan pariwisata halal. Sebab, selain mayoritas penduduknya muslim, juga sudah

Kanpus

Foto : Kompers KPH Bandung Utara

Bandung - Guna mendukung terwujudnya pariwisata halal di Kabupaten Bandung Barat, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara menghadiri Focus Group Discussion (FGD) Pariwisata Halal Kabupaten Bandung Barat. Acaranya diadakan di Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan, Kamis, 24 Oktober 2019. Acaranya dihadiri juga oleh sejumlah stakeholder dan instansi dari Kementerian Pariwisata, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Bank Indonesia, PT Perkebunan Nusantara VIII, sejumlah Dinas di Kabupaten Bandung Barat, dan Pengelola Objek Wisata.

banyak tempat ibadah yang bagus dan restauran halal di sekitar lokasi wisata. Kami berharap dengan adanya konsep wisata halal bisa meningkatkan kunjungan dari negara-negara muslim, sehingga bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat dan menambah devisa negara,” tuturnya. Sedangkan Bupati Bandung Barat, Aa Umbara, mengatakan, pihaknya sangat mendukung jika Bandung Barat memiliki KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) wisata halal. Sebab, hal itu selaras dengan harapan Presiden dan wakil Presiden RI yang ingin menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama wisata halal dunia sekaligus pengembangan ekonomi syariah. “Alhamdulilah, kita semua baik pihak Kementerian Pariwisata maupun Bank Indonesia memiliki pemahaman yang sama tentang pariwisata yang dapat menyejahterakan masyarakat, dan Bank Indonesia siap membantu yang bersifat stimulan untuk Bandung Barat mengembangkan destinasi wisatanya,” paparnya. • Tim Kompersh

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 57


lintasrimba

Pusdikbang SDM Perhutani Kerja Sama dengan Universitas Madiun

Bambang Iskandar. Saat mendampingi tim itu, Administratur Perhutani KPH Mojokerto, Suratno, mengatakan, kegiatan monitoring itu sangat bermanfaat untuk mengetahui tingkat K3 di lingkungan Pabrik MKP Kupang KPH Mojokerto. Suratno pun memberikan kesempatan kepada Tim Disnaker Kabupaten Mojokerto untuk meninjau langsung ke lokasi PMKP Kupang. Ia berharap,

hasil monitoring tersebut dapat jadi masukan kepada Perhutani dalam mengelola manajemen K3 di Pabrik MKP. Di dalam penjelasannya, Nuril Huda Prakosa menyatakan, kegiatan yang mereka lakukan sekadar sosialisasi, monitoring pendataan potensi dan kondisi perlindungan dan keselamatan kerja, perlindungan jaminan sosial (Jamsos), serta norma ketenagakerjaan. • Tim Kompersh Kanpus

Foto : Reza Bima /Pusdikbang SDM

pembukaan Diklat bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2019. Seluruh peserta dan pihak Universitas PGRI Madiun pun ikut upacara Peringatan Kesaktian Pancasila bersama karyawa Perhutani. Saat memberikan sambutan dalam upacara tersebut, Kepala Pusdikbang SDM Perhutani,

Kristomo, mengatakan, kerja sama penggunaan fasilitas Pusdikbang SDM Perhutani merupakan salah satu cara terbaik untuk mempererat tali Silaturahmi antara saudara atau pelanggan. “Kita perlu mengoptimalkan pelayanan dan menjalin erat ikatan silaturahmi dengan pelanggan, dan cepat dalam menangani komplain,” ujarnya. Usai upacara, pembelajaran dilanjutkan di dalam kelas bersama penyedia materi dari Universitas PGRI Madiun. Materi pelajarannya antara lain Orientasi Program, Literasi Digital, Teknik Analisa Manajemen, Pengembangan Rencana Kerja Sekolah, Pengelolaan Keuangan Sekolah, dan lain-lain. Pelatihan dilaksanakan di beberapa ruang kelas yang ada di lingkup Pusdikbang SDM Perhutani. Ruang yang digunakan untuk pelaksanaan pelatihan antara lain ruang kelas Mindi, Mahoni, Rasamala, serta Tanjung. • Tim Kompersh Kanpus

Madiun - Pusat Pendidikan dan Pengembangan (Pusdikbang) SDM Perhutani mendapat kepercayaan dari Universitas PGRI Madiun untuk kerja sama penggunaan fasilitas Pusdikbang pada kegiatan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Penguatan Kepala Sekolah SeKabupaten Madiun. Sebanyak 442 orang hadir sebagai peserta. Acara

Mojokerto - Tim dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Mojokerto mengunjungi Pabrik Minyak Kayu Putih (PMKP) Kupang Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto, Rabu, 11 September 2019. Mereka melakukan monitoring tentang pembinaan, pemeriksaan administrasi ketenagakerjaan dan keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Tim Disnaker Kabupaten Mojokerto terdiri tiga orang yaitu Nuril Huda Prakosa, Endras Hermawan dan

58 DUTA Rimba

Foto : Umi Mudjiastuti/KPH Mojokerto

Disnaker Kabupaten Mojokerto Lakukan Monitoring Pabrik MKP Kupang

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Perhutani KPH Nganjuk Dorong LMDH Kembangkan Usaha

Foto : Tumidi/KPH Nganjuk

Penyulingan MKP

Nganjuk - Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Nganjuk terus mendorong Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sidomakmur, Desa Mancon, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, untuk mengembangkan usaha penyulingan minyak kayu putih (MKP). Wujudnya dengan menambah tiga mesin ketel untuk meningkatkan produksinya, Rabu, 4 September 2019. Menurut Ketua LMDH Sido Makmur, Mohammad Arbai, sebelumnya sudah ada 1 mesin ketel yang sudah beroperasi. “Saat ini sedang dikerjakan lagi sebanyak 3 mesin ketel yang rencana selesai pada bulan Desember 2019. Dengan selesainya tiga mesin ketel itu, nantinya diharapkan tahun 2020 sudah bisa berproduksi,” katanya. Arbai mengatakan, usaha penyulingan MKP merupakan cita-citanya sejak lama yang baru bisa diwujudkan sekarang. Menurut dia, lokasi penyulingannya sangat strategis, yaitu dekat areal tanam tanaman kayu putih, akses jalan

dekat dan mudah, serta jauh dari pemukiman penduduk. Arbai pun melanjutkan, tempat penyulingan MKP itu akan didesain dengan baik dan dilengkapi sarana perkantoran, ruang pertemuan, mushola, kamar mandi dan toilet, serta fasilitas lainnya. “Jika fasilitas sudah lengkap, akan dijadikan sarana wisata edukasi bagi anak-anak, pelajar, dan masyarakat umum, tentang proses pembuatan minyak kayu putih dari hulu sampai hilir,” ujar Arbai. Menanggapi hal itu, Administratur Perhutani KPH Nganjuk, Bambang Cahyo Purnomo, mengatakan, apa yang sudah dilakukan LMDH Sidomakmur ini merupakan salah satu bentuk kegiatan usaha produktif yang berbasis non lahan, atau kegiatan di luar kawasan hutan. Kegiatan tersebut akan menyerap banyak sekali tenaga kerja, mulai dari tenaga kerja pemungut daun kayu putih di lahan, tenaga muat dan bongkar, tenaga angkutan dan tenaga penyulingan. Menurut Bambang,

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

kegiatan yang dilakukan sebagai kolaborasi antara KPH Nganjuk dan LMDH Sidomakmur itu sudah sesuai skema Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) dengan bekerja sama dan saling menguntungkan, serta hasilnya bisa untuk meningkatkan kesejahteraan anggota LMDH. “Mudah-mudahan apa yang dilakukan oleh LMDH Sidomakmur dapat berkontribusi dalam menyediakan lapangan kerja bagi anggota LMDH dan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya. Lebih lanjut, Bambang menjelaskan, Perhutani KPH Nganjuk memiliki potensi bahan baku daun kayu putih pada lahan seluas 1.167,7 hektar. Dari luasan tersebut target produksi daun kayu putihnya sebanyak 1.337 ton. “Target itu dapat mencukupi kebutuhan produksi penyulingan LMDH Sido Makmur. Tentunya Perhutani KPH Nganjuk terus melakukan beberapa upaya agar target produksi minyak bisa dicapai”, ucap Bambang. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 59


warisanrimba

Refleksi Kekejaman PKI

di Monumen Suryo

M

onumen Gubernur Suryo menampakkan patung figur Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo (RMT. A. Soerjo), atau yang populer dengan sebutan Gubernur Suryo, dalam posisi berdiri tegak dan tangan kanannya menunjuk ke arah depan. Di belakang patung Gubernur Suryo, terdapat patung dua sosok Anggota Polisi dalam posisi berdiri pula. Mereka adalah Komisaris Besar Polisi Doerjat dan Komisaris Polisi Soeroko. Ketiga tokoh tersebut adalah pahlawan yang gugur di hutan antara Ngawi-Solo, akibat dibantai dan dibunuh oleh gerombolan Partai Komunis Indonesia (PKI), dalam peristiwa Pemberontakan PKI tahun 1948. Monumen tersebut kini telah dikembangkan menjadi Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo. Letaknya di Jalan Raya Ngawi-Solo Kilometer 19, sekitar 20 kilometer arah barat dari Kota Ngawi. Secara administratif, tepatnya ia berada di Desa Pelanglor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Taman wisata tersebut berada di area hutan milik Perhutani KPH Ngawi seluas 32 hektare, namun baru seluas 8 hektare yang dimaksimalkan untuk lokasi wisata. Monumen Gubernur Suryo dibangun tahun 1975. Sejak awal, monumen itu memang dibangun untuk mengenang sosok gubernur pertama Jawa Timur itu. Catatan sejarah menggoreskan, Gubernur Suryo menjadi korban kebiadaban PKI dan dibunuh di hutan itu. Tempat

60 DUTA Rimba

Monumen Gubernur Suryo kian beranjak menjadi salah satu lokasi wisata terfavorit masyarakat lokal di Jawa Timur. Lokasinya di kawasan hutan KPH Ngawi kini dikembangkan menjadi Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo. Monumen Gubernur Suryo sendiri merupakan bangunan yang penuh jejak sejarah yang tidak mungkin dapat dengan mudah dilupakan oleh masyarakat Ngawi khususnya dan Jawa Timur umumnya. Sebab, Monumen Gubernur Suryo itu dibangun sebagai tanda hormat masyarakat Kabupaten Ngawi dan Provinsi Jawa Timur kepada Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, Gubernur pertama Jawa Timur, yang meninggal dunia akibat insiden Pemberontakan PKI tahun 1948. Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan itu terletak 200 meter dari monumen tersebut, ke arah yang ditunjuk oleh patung sang gubernur. Di bagian bawah patung ketiga sosok itu terdapat keterangan bahwa monumen tersebut diresmikan oleh Panglima Kodam VIII/Brawijaya (ketika itu), Mayjen TNI Witarmin, 28 Oktober 1975. Di bagian bawah patung itu pula terdapat prasasti yang berisi petikan kalimat yang diucapkan sang gubernur pada 9 November 1945 di Nirom Broadcat, Jalan Ebong Malang-Surabaya, yang saat ini menjadi Hotel JW Marriott, Surabaya. Isi tulisan itu adalah “Berulang kali kami telah diberitahu bahwa lebih baik jatuh berkepingkeping daripada dijajah lagi. Dan sekarang dalam menghadapi ultimatum Inggris, kita akan berpegangteguh untuk menolak

ultimatum”. Karena dibangun di lokasi terbunuhnya Gubernur Suryo, monumen tersebut merupakan tempat bersejarah. Karena itu pula, monumen tersebut layak dipelihara dan dilestarikan untuk diketahui generasi muda bangsa, agar nilai-nilai kepahlawanannya dapat dipahami dan diteladani. Tak kurang Mantan Ketua PR RI, Zulkifli Hasan, mengenang kepahlawanan Gubernur Suryo. Ia juga menegaskan mengunjungi monumen tersebut bagus untuk pembelajaran bagi generasi muda dalam memahami sejarah bangsanya. Saat berkunjung ke Monumen Gubernur Suryo tanggal 19 September 2017, Zulkifli mengatakan, “Gubernur Suryo adalah legenda yang berjuang membela rakyat melawan Inggris dan Belanda. Tetapi

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Ratih Kartiningtyas/ KPH Ngawi

tragis, ia dibunuh anak bangsa sendiri, oleh Pengkhianatan PKI tahun 1948. Ini sejarah yang bicara.” Ketika itu, sebagai Ketua MPR, Zulkifli Hasan menegaskan kembali bahwa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan. Karena itu, bangsa ini menolak paham anti-Tuhan. “Sila pertama Pancasila sudah menegaskan ‘Ketuhanan yang maha esa’ sekaligus menolak komunisme.

Ini jawaban kami terhadap pihakpihak yang memutarbalikkan fakta tentang komunisme,” tegasnya.

Dibunuh di Tengah Hutan Peristiwa pembunuhan Gubernur Suryo terjadi hari Kamis Pon, 11 November 1948. Ketika itu, seusai menghadiri acara Peringatan Hari Pahlawan, 10 November, di Yogyakarta, Gubernur Suryo

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

melanjutkan perjalanan untuk menghadiri acara Peringatan 40 Hari Meninggalnya RM Sardjoeno, sanak saudaranya yang dibunuh oleh PKI Madiun. Ketika itu, Gubernur pertama Jawa Timur ini memang menjadi salah satu target penculikan PKI yang melakukan pemberontakan di Madiun. Konon, saat itu sebenarnya Gubernur Suryo sudah diingatkan tentang hal itu. Tetapi karena ingin

DUTA Rimba 61


menghormati sanak saudaranya, Gubernur Suryo berangkat kembali ke Jawa Timur. Gubernur Suryo pun melaju menuju Madiun mengendarai mobil sedan. Sesampainya di hutan Kedunggalar, yaitu di daerah Bogo, Desa Pelanglor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, mobil sedan itu dihadang oleh gerombolan yang merupakan sisa-sisa pasukan PKI Madiun yang dipimpin Maladi Yusuf. Setelah dicegat, Gubernur Suryo dipaksa turun dari mobil. Di saat yang bersamaan, dari arah timur, juga melaju sebuah mobil yang ditumpangi Komisaris Besar Polisi Doerjat dan Komisaris Polisi Soeroko. Mobil itu dicegat pula oleh gerombolan PKI itu. Ketiganya kemudian ditelanjangi dan kemudian dibunuh di dalam hutan. Empat hari kemudian, jenazah mereka baru ditemukan. Adalah seorang penduduk yang ketika itu sedang mencari kayu bakar yang menemukan jenazah tiga pahlawan itu pertama kali. Jenazah mereka kemudian dibawa ke Madiun dan dimakamkan di Sawahan, Desa Kepalrejo, Magetan, Jawa Timur. Peristiwa itu tentu saja menjadi bagian dari sejarah kelam tentang pemberontakan PKI. Sekaligus menjadi pengingat kita tentang bahaya laten komunisme bagi bangsa Indonesia. Maka, demi mengingatkan hal tersebut, dibangunlah Monumen Gubernur Suryo yang menampilkan patung tiga sosok pahlawan itu.

Hutan yang Asri-Alami Monumen Gubernur Suryo terletak persis di sisi Jalan NgawiGendingan. Lokasinya strategis, sejuk, dan asri, karena tepat berada di tengah kawasan hutan Perhutani KPH Ngawi. Singkatnya, siapa pun akan merasakan suasana yang

62 DUTA Rimba

Foto : Ratih Kartiningtyas/ KPH Ngawi

warisanrimba

tenang dan damai saat berada di lokasi Monumen Gubernur Suryo, selain suasana sakral yang melingkupi lokasi hutan itu. Lokasi di sekitar Monumen Gubernur Suryo menghadirkan atmosfer penuh khidmat karena kandungan sejarah yang kental di sana. Hadir di sana bagaikan dilemparkan kembali ke masa lalu. Masa kelam tentang kekejaman PKI. Namun, lokasi Monumen Gubernur Suryo ini tak hanya menampilkan refleksi cerita sejarah yang terintepretasikan melalui patung-patung dan prasasti. Lokasi Monumen Gubernur Suryo juga menyajikan atmosfer alami yang masih asri dan asli. Panorama alam hutan jati di sana sangat indah. Selain hamparan jati, di lokasi Monumen Gubernur Suryo juga ditanai aneka pepohonan lain. Setidaknya, ada 23 jenis tanaman langka turut menghiasi Monumen Gubernur Suryo. Di antaranya ada Sawo Kecik, Citradora, Sonokeling, Cendana, dan sebagainya. Ada pula

koleksi burung yang disangkarkan. Antara lain burung Perkutut, Podang, Bekisar, dan lain-lain. Juga ada lokasi khusus yang menjadi tenoar penangkaran hewan-hewan yang dilindungi, semisal kijang dan lainlain. Kini, setelah menjadi Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo, lokasi ini juga dilengkapi dengan ragam fasilitas pendukung. Semua fasilitas itu dimaksudkan untuk menjamin kenyamanan pengunjung selama berada di sana. Fasilitas dasar yang tersedia antara lain ruang informasi, taman bermain, musholla, dan pendopo. Juga tersedia kawasan yang akan memanjakan penikmat wisata kuliner. Nasi soto, nasi rames, nasi rawon, nasi pecel, dan lain-lain. Bagi Anda yang ingin menikmati sajian kuliner khas Jawa Timur, silakan singgah dan mencicipinya. Dan keberadaan pasar burung sebagai salah satu ikon Monumen Gubernur Suryo juga ikut menambah seru situasi di sekitar monumen. Terutama bagi para

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


peminat burung berkicau. Semua itu melengkapi saratnya muatan sejarah di lokasi Monumen Gubernur Suryo. Kini, Monumen Gubernur Suryo selalu cukup ramai dikunjungi orang. Para pengunjung itu ada yang memang wisatawan yang sengaja datang untuk berwisata sejarah di lokasi monumen, dan ada pula yang sekadar singgah untuk beristirahat melepas lelah saat sedang dalam perjalanan panjang.

Dikelola Secara Profesional Awalnya, Monumen Gubernur Suryo memang dibangun untuk tujuan mengenang peristiwa bersejarah yang terjadi di tahun 1948 itu. Pengelolaannya dilakukan Perhutani KPH Ngawi. Lalu, Monumen Gubernur Suryo dikembangkan menjadi lokasi wisata sejarah dan dikelola sendiri oleh Perhutani KPH Ngawi. Sebab, Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo itu berada di area hutan jati milik Perhutani KPH Ngawi. Di dalam perkembangannya kemudian, Perhutani KPH Ngawi menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk mengelola Monumen Gubernur Suryo dan dikembangkan menjadi Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo. Kini, Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo kian berkembangmenjadi salah satu alternatif wana wisata sekaligus wisata sejarah. Seiring dengan itu, pihak investor mulai tertarik untuk

ikut mengembangkan Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo. Monumen ini pun diharapkan dapat berkembang sebagai ikon dan kebanggaan Kabupaten Ngawi. Pihak swasta yang tertarik untuk ikut mengembangkan Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo antara lain adalah CV Hargo Dumilah. Pemilik CV Hargo Dumilah bernama Hariyanto. Hal itu dikatakan Manajer Bisnis Perhutani KPH Ngawi, Suroso, 8 Juli 2019. Suroso yang mewakili Administratur Perhutani KPH Ngawi, Haris Suseno, menyatakan, berharap rencana pengembangan Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo segera terrealisasi. Sehingga, pengunjung bisa segera menikmati berbagai wahana yang akan dibangun di lokasi itu. “Wana wisata yang memiliki luas 32 Hektare ini terletak di Petak 59 dan 60, wilayah Resort Pemangkuan Hutan Sidolaju, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Kedunggalar, Kesatuan Pemangkuan Hutan Ngawi. Wisatawan yang datang ke tempat ini, nantinya selain untuk berrekreasi juga dapat mengenal lebih dekat sejarah tentang gugurnya Gubernur Jawa Timur yang pertama, yaitu RMT Soerjo, di hutan, akibat insiden Pemberontakan PKI tahun 1948,” kata Suroso. Sebelumnya, Hariyanto dan CV Hargo Dumilah juga telah bekerjasama dengan Perhutani KPH Lawu DS, menggarap lokasi wisata Srambang Park yang

Wisatawan yang datang ke tempat ini, nantinya selain untuk berekreasi juga dapat mengenal lebih dekat sejarah tentang gugurnya Gubernur Jawa Timur yang pertama, yaitu RMT Soerjo, di hutan, akibat insiden Pemberontakan PKI tahun 1948,” kata Suroso. NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

berlokasi di Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur. Ia menyatakan, pihaknya tertarik untuk ikut mengembangkan lokasi Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo, karena lokasinya yang sangat strategis. “Dengan dukungan Perhutani, kami yakin proses pengembangan lokasi wisata ini akan memiliki prospek yang sangat bagus,” ujar Hariyanto. Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olah Raga (Disparpora) Kabupaten Ngawi, Rahmad Didik Purwanto, mengatakan, pihak Pemerintah Kabupaten Ngawi tidak keberatan jika pengelolaan Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo dilakukan oleh pihak swasta. “Harapan kami, pengelolaan Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo tersebut bisa menimbulkan multi efek yang positif bagi masyarakat sekitar,” tuturnya. Data Disparpora Ngawi mencatat, Kabupaten Ngawi memiliki cukup banyak potensi wisata. Baik itu wisata alam, wisata sejarah, maupun wisata budaya. Untuk wisata alam, Ngawi antara lain memiliki Air Terjun Srambang Park, Kebun Teh, dan Taman Wisata Jamus. Sedangkan wisata sejarah yang dipunyai Kabupaten Ngawi antara lain Benteng Pendem, Situs Trinil, Situs Radjiman Wedyodiningrat, dan Monumen Gubernur Suryo. Maka, keberadaan Taman Wisata Monumen Gubernur Suryo perlu terus dipelihara dan dikembangkan. Selain bernilai konservasi tinggi, lokasi Monumen Gubernur Suryo di area hutan milik Perhutani itu juga bermuatan sejarah yang sangat penting untuk dipelajari anak bangsa, terutama generasi muda. Sebab, generasi muda sangat penting untuk mengetahui dan memahami sejarah bangsanya. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 63


ensikloRIMBA

Jaga

Macan Tutul Jawa

dari Kepunahan Di dunia, Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman satwa dilindungi yang tinggi. Namun, banyak satwa itu memiliki tingkat ancaman kepunahan yang tinggi pula. Salah satu satwa endemik yang dilindungi namun terancam punah itu adalah Macan Tutul Jawa. Saat ini, Macan Tutul Jawa merupakan karnivora bertubuh terbesar di Pulau Jawa, setelah Harimau Jawa dinyatakan punah di tahun 1980. Maka, upaya menjaga Macan Tutul Jawa dari ancaman kepunahan pun terus dilakukan

A

wal Oktober 2019, berlangsung acara Konferensi Nasional II Konservasi Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor menjadi salah satu narasumber dalam acara yang bertempat di Hotel Safari Ladge, Taman Safari Indonsia, Cisarua Bogor, itu. Kepala Seksi Pengelolaan Sumber Daya Hutan (PSDH) Perhutani KPH Bogor, Hendra

64 DUTA Rimba

Siswanto, hadir mewakili Administratur Perhutani KPH Bogor, Jerry Purwo Nugroho, di acara yang digelar pada Rabu, 2 Oktober 2019, tersebut. Hadir pula di kesempatan itu, Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Wiratno. Undangan lain yang terkait dengan konservasi alam dan hayati turut hadir di hari itu. Di sesi paparan, Hendra Siswanto menyampaikan peran

dan partisipasi Perum Perhutani dalam upaya Konservasi Macan Tutul Jawa di Hutan Lindung dan Hutan Produksi mereka. Perhutani KPH Bogor sendiri mengelola hutan seluas 49.337,06 Hektare, terdiri dari 43.494,74 Hektare Hutan Produksi dan 5.842,32 Hektare Hutan Lindung. Di dalam pengelolaannya, Perhutani juga mengacu pada prinsip dan kriteria FSC (The Forest Stewardship Council), sebuah organisasi internasional yang menyediakan sistem untuk

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : BKSDA Jawa Barat

akreditasi dan sertifikasi PHL (Pengelolaan Hutan Lestari). Di dalam hutan seluas 49.337,06 Hektare itu, terdapat ekosistem hayati flora dan fauna. Salah satunya adalah Macan Tutul Jawa yang pernah ditemukan di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Cariu, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jonggol. Administratur Perhutani KPH Bogor, Jerry Purwo Nugroho, dalam sambutan yang disampaikan Hendra Siswanto, menyampaikan, Macan

Tutul Jawa tercatat menghuni hutan dataran rendah, hutan belukar, bahkan berkeliaran hingga ke kebun-kebun wanatani pedesaan di sekitar hutan. Wilayah jelajahnya tidak melebihi ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Macan Tutul Jawa banyak diburu atau diracun orang karena pernah dianggap sebagai hama. Penangkapan Macan Tutul Jawa bermasalah itu dilakukan dengan jerat bahkan sampai membunuh satwa tersebut. Selain itu,

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

penangkapan Macan Tutul Jawa bermasalah oleh oknum masyarakat tertentu sering disalahgunakan untuk perdagangan satwa secara liar. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat terjadi berulangulang dan dianggap benar. Berdasarkan hasil identifikasi biodiversity, seluas 16.616,68 Hektare wilayah Perhutani KPH Bogor telah ditetapkan sebagai kawasan hutan dengan Nilai Konservasi Tinggi (NKT). Seluas 16.243,34 Hektare merupakan NKT 1, yaitu kawasan

DUTA Rimba 65


Foto : BKSDA Jawa Barat

ensikloRIMBA

dengan tingkat Keanekaragaman Hayati penting. Sisanya, seluas 373,34 Hektare merupakan NKT, 3 yaitu kawasan dengan ekosistem langka atau terancam punah, dan di situlah posisi Macan Tutul Jawa berada. Sementara Dirjen BKSDAE KLHK, Wiratno, di dalam sambutannya, menyampaikan, segala upaya untuk melindungi habitat dan meningkatkan populasi Macan Tutul Jawa harus terus ditingkatkan, agar kelangsungan hidupnya terjaga. Perlu diciptakan sarana dan prasarana untuk menjaga macan Tutul Jawa dari ancaman kepunahan. “Kita perlu melakukan peningkatan sinergitas antar lembaga di wilayah TNGP (Taman Nasional Gunung Pangrango) dan TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak) termasuk dengan Perhutani, sehingga kelestarian Macan Tutul Jawa terjaga sesuai habitatnya,” paparnya.

Di Puncak Rantai Makanan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) atau macan kumbang adalah salah satu subspesies dari macan tutul. Disebut Macan Tutul Jawa, karena hanya ditemukan

66 DUTA Rimba

di hutan tropis, pegunungan, kawasan konservasi di Pulau Jawa, Indonesia. Macan Tutul Jawa adalah pemangsa puncak dalam rantai makanan. Di dalam ekosistem, peran Macan Tutul Jawa berada di posisi teratas sebagai spesies kunci yang menjadi indikator kelangsungan dan pertahanan ekosistem. Satwa ini berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Macan Tutul Jawa juga berperan melindungi kelestarian dan menyelamatkan kehidupan hewan liar lainnya, dan pada akhirnya kesejahteraan manusia pun dapat terjaga. Macan Tutul Jawa memiliki dua variasi warna kulit, yaitu berwarna terang (oranye) dan hitam (macan kumbang). Karena kekhasannya di Jawa itulah, Macan Tutul Jawa dijadikan satwa identitas Provinsi Jawa Barat. Walau ada yang berwarna oranye, subspesies ini pada umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan bintikbintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam macan kumbang sangat membantu dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap.

Dibandingkan dengan macan tutul yang lainnya, tubuh Macan Tutul Jawa berukuran paling kecil. Satu lagi yang khas, Macan Tutul Jawa mempunyai indera penglihatan dan penciuman yang tajam. Macan kumbang betina juga memiliki ciri serupa, tetapi memiliki tubuh yang berukuran lebih kecil ketimbang macan kumbang jantan. Hewan ini solitair, kecuali di musim berkembangbiak. Sebagai hewan penyendiri, Macan Tutul Jawa lebih aktif berburu mangsa di malam hari. Mangsanya merupakan hewan-hewan yang bertubuh lebih kecil. Setelah berhasil menangkap dan melumpuhkan mangsanya, biasanya ia meletakkan mangsanya itu di atas pohon. Selanjutnya, ia akan menyantap mangsanya itu di atas pohon. Satu hal yang perlu diperhatikan betul adalah fakta bahwa Macan Tutul Jawa ini merupakan satusatunya kucing besar yang masih tersisa di alam lepas di Pulau Jawa. Frekuensi macan tipe berbulu hitam atau macan kumbang relatif lebih tinggi. Warna hitam ini terjadi akibat satu alel resesif yang dimiliki hewan ini. Jadi, macan tutul dan macan kumbang adalah spesies yang sama. Meski warna bulu dan kulitnya

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


dominan hitam, namun macan kumbang memiliki sejumlah totol jika dilihat dari dekat, dan pola totolnya itu sama dengan macan tutul, yaitu “rosette” atau kembangan. Meskipun hewan ini dilaporkan pernah ditemukan di semua taman nasional yang ada di Jawa, mulai dari Ujung Kulon hingga Baluran, namun sebagian besar populasi Macan Tutul Jawa dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Saat ini belum ada kepastian tentang jumlah populasi Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) di alam. Namun, berdasarkan IUCN, diperkirakan jumlahnya di alam tak lebih dari 250 individu pada 2008. Sedangkan data Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) menunjukkan, ada 41 individu Macan Tutul Jawa yang menjadi koleksi kebun binatang.

Terancam Punah Sejak 2007, Macan Tutul Jawa dievaluasikan sebagai kritis di dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I. CITES Appendix I artinya ialah satwa ini tidak boleh diperdagangkan. Statusnya kritis (critically endangered) atau di ambang kepunahan di alam liar. Hal itu berdasarkan dari hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, serta daerah dan populasi dimana hewan ini ditemukan yang sudah sangat terbatas. IUCN adalah organisasi internasional yang didedikasikan untuk penanganan masalah konservasi sumber daya alam hayati. IUCN yang dibentuk tahun 1948 ini saat ini merupakan organisasi dunia terbesar yang mendedikasikan diri terhadap isu lingkungan, pengetahuan alam, dan sumber daya alam hayati.

Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Carnivora

Famili : Felidae

Genus : Panthera

Spesies : Panthera

Subspecies : Panthera

Pemerintah Indonesia serius menindaklanjuti hasil tren penurunan populasi Macan Tutul Jawa. Di Indonesia, satwa ini dilindungi berdasarkan UU No 5/1990 dan PP No 7/1999. Melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No P.56/ Menlhk/ Kum.1/2016, Macan Tutul merupakan satwa prioritas yang akan ditingkatkan populasinya di alam. Selain itu, sejak 1978, Indonesia telah meratifikasi CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) menjadi Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978. Saat ini, pendataan populasi Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) yang hidup di alam dianggap sebagai masalah krusial yang harus diselesaikan. Pendataan itu diharapkan menjadi awal yang baik untuk penyelamatan predator ini. Sebab, selama ini pendataan populasi Macan Tutul Jawa hanya ada di kebun binatang. Di Indonesia, Macan Tutul Jawa ini hanya hidup di Pulau Jawa, Pulau Kangean, dan Pulau Nusa Kambangan. Hutan-hutan di Pulau Jawa merupakan habitat utama bagi Macan Tutul Jawa. Sebaran keberadaannya tercatat mulai

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

pardus pardus melas

dari Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten hingga Taman Nasional Alas Purwo di Provinsi Jawa Timur. Sebagian besar Macan Tutul Jawa hidup dalam kawasankawasan hutan konservasi semisal taman nasional dan cagar alam. Pulau Jawa adalah pulau yang penduduknya terpadat di Indonesia. Maka, hilangnya habitat seiring dengan kian padatnya populasi penduduk di Pulau Jawa, merupakan ancaman utama yang nyata bagi kucing besar ini. Sebab, dari waktu ke waktu luas kawasan hutan cenderung menurun. Nah, penyusutan areal habitat ini jelas membawa konsekuensi pada kian besarnya ancaman penurunan populasi Macan Tutul Jawa secara signifikan. Ancaman perburuan, kerusakan hutan sebagai habitat, dan berkurangnya mangsa alami, menjadi hal-hal yang terus menggiring populasi Macan Tutul Jawa ke jurang kepunahan. Maka, menjaga kucing besar ini dari ancaman kepunahan merupakan tugas kita semua. Jangan sampai Macan Tutul Jawa mengalami nasib seperti Harimau Jawa yang kini hanya tinggal cerita. Semoga keberadaan Macan Tutul Jawa, sang predator alami, tetap lestari. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 67


rimbadaya

Di Singaparna, Pepaya California pun Berkembang

A

da kegiatan sosialisasi tentang pemanfaatan kawasan hutan berbasis agroforestry tanaman pepaya jenis California dan wisata alam kepada masyarakat desa hutan pada Rabu, 9 Oktober 2019. Sosialiasi itu digelar Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Tasikmalaya bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sadaukir di halaman Kantor Desa Sukapura,  Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Kawasan hutan yang dimanfaatkan untuk budi daya agroforestry tanaman pepaya jenis California dan wisata alam itu berada di Petak 2b, Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Sukaraja, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Singaparna, KPH Tasikmalaya. Sosialisasi tersebut dihadiri oleh Forkompimcam Kecamatan Sukaraja, LMDH Sadaukir, dan stakeholder terkait. Diskusi interaktif antara masyarakat dengan para narasumber pun diadakan. Diskusi itu membahas pengembangan agroforestry dan wisata alam demi harapan agar ke depannya rencana tersebut dapat berjalan dengan baik. Melalui Asisten Perhutani (Asper) BKPH Singaparna, Ahmad Juniarsa, Administratur Perhutani KPH Tasikmalaya menyampaikan, Perhutani senantiasa membuka

68 DUTA Rimba

Perhutani terus menunjukkan kepedulian kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Terutama dalam hal pemberdayaan, supaya kehidupan mereka lebih terjamin dan kesejahteraan mereka pun meningkat. Salah satu contoh kepedulian dan pemberdayaan masyarakat itu ditunjukkan Perhutani KPH Tasikmalaya. Di wilayah kerja BKPH Singaparna, mereka memberikan bantuan berupa bibit pepaya jenis California kepada masyarakat untuk ditanam dan dikembangkan di areal seluas 8 hektare yang berada di wilayah kerja Perhutani KPH Tasikmalaya. Lewat pemberian bantuan itu, masyarakat dan LMDH pun diharapkan kian berdaya. peluang kerja sama dengan LMDH melalui program Perhutanan Sosial maupun kelola sosial yang berbasis menguntungkan masyarakat. Kerja sama itu dijalin dengan prinsip berbagi untuk mencapai keberlanjutan fungsi dan manfaat sumber daya alam yang optimal, namun pelaksanaannya tidak boleh menggangu keberlangsungan tanaman pokok kehutanan, agar hutan tetap lestari. “Dalam hal pengelolaan wisata alam oleh LMDH dan masyarakat, harus benar-benar dikelola sebagaimana yang dituangkan

dalam perjanjian kerja sama. LMDH Sadaukir harus siap bertindak sebagai lembaga yang profesional dan mitra Perhutani dengan mengacu pada perjanjian kerja sama yang telah ditandatangani, agar wisata alam dapat berjalan dengan baik dan benar. Perhutani mengapresiasi pengelolaan wisata alam dan pengembangan tanaman pepaya California yang dikelola oleh LMDH Sadaukir,”  ujarnya. Sementara itu, Ketua LMDH Sadaukir, Ajang, mengucapkan terima kasih kepada Perhutani KPH Tasikmalaya yang telah memberikan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Ahmad Juniarsa/KPH Tasikmalaya

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 69


Foto : Ahmad Juniarsa/KPH Tasikmalaya

rimbadaya

bibit pepaya jenis California untuk ditanam dan dikembangkan di areal seluas 8 hektare di Petak 2b, RPH Sukaraja, BKPH Singaparna, KPH Tasikmalaya, tersebut. Sebab, hal itu menunjukkan kepedulian Perhutani kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan supaya kehidupannya lebih terjamin dan kesejahteraannya pun meningkat. “Tanaman Pepaya varietas California ini memiliki sifat dan keunggulan tersendiri. Buahnya tidak terlalu besar dengan bobot 0,8 sampai 1,5 kilogram per buah dan bisa dipanen di usia 8 sampai 9 bulan. Dalam satu bulan bisa dipanen sampai empat kali, dan sekali panen dari satu pohon Pepaya California dapat menghasilkan 2 sampai 3 buah. Jadi, dari sekali panen, setiap minggu bisa mencapai kisaran 1,9 hingga 3,6 ton per hektare,” katanya.

Asli dari Indonesia Tampaknya, adalah langkah tepat jika Perhutani KPH Tasikmalaya memberdayakan LMDH dengan memberikan bibit pepaya jenis California untuk ditanam dan dikembangkan di areal seluas 8

70 DUTA Rimba

Buah Tanaman Pepaya varietas California tidak terlalu besar dengan bobot 0,8 sampai 1,5 kilogram per buah dan bisa dipanen di usia 8 sampai 9 bulan. Dalam satu bulan bisa dipanen sampai empat kali, dan sekali panen dari satu pohon Pepaya California dapat menghasilkan 2 sampai 3 buah. hektare di Petak 2b, RPH Sukaraja, BKPH Singaparna, KPH Tasikmalaya, tersebut. Sebab, pepaya adalah salah satu buah yang tinggi kandungan gizi dan manfaat untuk kesehatan manusia. Gizi yang dikandung pepaya bahkan lebih tinggi dibandingkan buah-buah impor yang harganya lebih mahal. Jenis pepaya yang dikembangkan untuk memberdayakan LMDH di Singaparna itu adalah Pepaya California. Namanya memang Pepaya California. Tetapi, aslinya pepaya ini bukan buah yang diimpor dari Amerika Serikat. Pepaya California adalah buah yang asli dan murni dari Indonesia. Pepaya California merupakan buah hasil rekayasa genetika yang berhasil ditemukan

oleh Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, seorang ilmuwan dari Pusat Kajian Buah Tropika di Institut Pertanian Bogor (IPB). Pepaya California sebagai sebuah varietas diresmikan pada 3 Oktober 2010 oleh Menteri Pertanian saat itu, Dr. Suswono. Sebelumnya, Prof. Sriani melakukan riset selama tujuh tahun untuk menemukan bibit buah pepaya unggulan. Akhirnya, hadirlah Pepaya California sebagai produk hasil rekayasa genetika selama riset tersebut. Semula, pepaya itu bukan bernama Pepaya California tetapi Pepaya Callina. Pepaya California adalah nama yang diberikan oleh para pedagang Pepaya Callina. Sebab, ketika memasarkan pepaya jenis unggul tersebut, nama Pepaya

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Ahmad Juniarsa/KPH Tasikmalaya

California dianggap lebih menjual dan lebih menarik pembeli dari nama Pepaya Callina. Kini, Pepaya California pun merajai pasar buah pepaya di Indonesia. Bibit unggul Pepaya California mampu menghasilkan buah pepaya yang lebih menjanjikan keuntungan secara komersial. Tanaman Pepaya California telah mulai berbunga saat usianya 3 bulan dan buahnya dapat dipanen di usia 7 hingga 9 bulan. Dan tanaman Pepaya California dapat terus berbuah hingga usia 4 tahun. Di dalam satu tahun, Pepaya California dapat dipanen hingga 4 kali. Buah yang dihasilkan juga memiliki wujud yang menarik. Kulit Pepaya California berwarna hijau cerah dan di sekitar tangkainya berwarna kekuningan ketika menjelang masak. Daging buahnya berwarna merah cerah dan tidak lembek. Lubang di dalam buahnya berbentuk bintang lima. Rasanya pun manis, dan tahan lima hari setelah dikupas tanpa bantuan pengawet. Keunggulan-keunggulan itulah yang membuat banyak petani buah kini beralih menanam Pepaya California. Itu pula hal yang membuat Perhutani KPH Tasikmalaya bersama LMDH Sadaukir melakukan pengembangan Pepaya California.

Pepaya California adalah nama yang diberikan oleh para pedagang Pepaya Callina. Sebab, ketika memasarkan pepaya jenis unggul tersebut, nama Pepaya California dianggap lebih menjual dan lebih menarik pembeli dari nama Pepaya Callina.

LMDH Sidomakmur Pembudidayaan Pepaya California dengan melibatkan LMDH ternyata bukan hanya dilakukan Perhutani KPH Tasikmalaya. Perhutani KPH Nganjuk juga melakukan hal yang sama. Demplot tanaman Pepaya California yang ditanam di sela-sela tanaman kayu putih di wilayah Perhutani KPH Nganjuk oleh LMDH Sidomakmur, Desa Mancon Wilangan, Kabupaten Nganjuk, membuahkan hasil yang sangat bagus. Proses pengembangan demplot tanaman Pepaya California di sela-sela

tanaman kayu putih itu telah mereka rintis sejak pertengahan tahun 2019. Demplot tersebut berada di Petak 15 RPH Awar-awar, BKPH Bagor, yang merupakan tegakan kayu putih dengan sistem tanaman plong-plongan, yang di antaranya dapat ditanami pepaya secara tumpangsari. Menurut Administratur Perhutani KPH Nganjuk, Bambang Cahyo Purnomo, salah satu tujuan pengembangan pola tanam sistem polong-plongan adalah memberikan akses kepada petani hutan yang tergabung dalam LMDH untuk

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

memanfaatkan lahan di bagian plong-plongan tersebut. “Lahan itu bisa digunakan untuk budi daya tanaman pertanian maupun hortikultura. Harapannya, dengan kegiatan itu bisa menghasilkan penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar hutan,” ujarnya. Jadi, budi daya Pepaya California tampaknya memberikan hasil cukup menjanjikan bagi LMDH. Perhutani KPH Tasikmalaya dan KPH Nganjuk telah membuktikan hal itu. Cag! • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 71


bisnisrimba

Kolaborasi Perhutani dan Petrosida

Kembangkan Sarpra Tanaman Biomassa

B

anyak orang berkumpul di Kantor Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah, Kamis, 17 Oktober 2019. Di hari itu, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah dan PT Petrosida Gresik melakukan penandatanganan kesepakatan kerja sama tentang pengadaan pupuk anorganik granul. Jalinan kerja sama tersebut dilaksanakan karena sepanjang tahun tanam 2019 Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah akan melakukan penanaman  tanaman biomassa  jenis gliricidea dan kaliandra. Penanaman akan tersebar di 6 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH), yaitu KPH Cepu, KPH Blora, KPH Pati, KPH Mantingan, KPH Telawa, dan KPH Semarang. Untuk itu, memerlukan sarana prasarana tanaman biomassa berupa pupuk anorganik granul yang akan disuplai oleh PT Petrosida Gresik. Ketua Unit Layanan Pengadaan, Rahmat Budiarto, menyampaikan keterangan Kepala Perum Perhutani Divisi Regional (Divre) Jawa Tengah, bahwa kebutuhan pupuk anorganik granul sebanyak  1.778  ton  senilai 3,1 milyar untuk tanaman seluas 9.076,9 Hektare. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi sesuai standar  dengan dijalinnya kerja sama tersebut. “Mengingat PT Petrosida Gresik merupakan BUMN yang handal dalam bidang industri kimia, sangat berpengalaman dalam industri pupuk dan kimia lainnya. Di samping itu,

72 DUTA Rimba

Ketersediaan energi berbasis fosil kian lama kian dirasakan akan habis. Sedangkan untuk pembaruan bahan energi bersumber dari fosil itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Maka, sumber bahan bakar alternatif yang baru dan terbarukan pun terus digiatkan. Salah satu sumber energi alternatif yang baru dan terbarukan itu adalah biomassa. Dan sebagai pemilik lahan hutan yang sangat luas, Perum Perhutani pun berkomitmen mengembangkan tanaman biomassa di lahannya sebagai sumber energi alternatif itu. Kerja sama dengan pihak lain pun dijalin dalam rangka pengembangannya. Salah satunya adalah jalinan kerja sama antara Perum Perhutani dengan PT Petrosida Gresik. kerja sama ini merupakan wujud dari sinergi BUMN,” ujarnya. Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Petrosida Gresik, Joko Margono, menyampaikan apresiasi kepada Perhutani atas kerja sama tersebut. “Kami mendapat kepercayaan untuk memenuhi kebutuhan sarpra tanaman Perhutani. Hal ini merupakan kesempatan kami ikut melestarikan hutan. Kami berharap  program tanaman biomasa tersebut sukses,” jelas Joko.

Ekstensifikasi ke Hilir Perhutani memang tengah meningkatkan kegiatan ekstensifikasi ke sektor hilir. Salah satu wujud ekstensifikasi ke sektor hilir itu adalah

berupaya untuk menangkap peluang bisnis industri kayu energi. Seperti dikatakan oleh Direktur Utama Perum Perhutani, Denaldy M Mauna, untuk menangkap dan memanfaatkan peluang bisnis industri kayu energi, tahun ini Perhutani mulai melakukan kegiatan ekstensifikasi dengan pengembangan tanaman biomassa hingga ke sektor industri hilir dengan wujud wood pellet. Industri wood pellet dari tanaman gliricidia dan kaliandra itu didapatkan dari tanaman-tanaman tersebut yang ditanam di lahan dengan total penanaman 120.000 hektare dalam waktu lima tahun. Menurut Denaldy, upaya ekstensifikasi ini merupakan bentuk kepedulian perusahaan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Dwi Koen/Divre Jateng

dalam memitigasi perubahan iklim. Hal itu dilakukan dengan berupaya mendorong pengurangan emisi CO2 yang di tahun lalu mencapai titik tertinggi. Transformasi pengembangan portofolio sumber daya hutan tersebut ditetapkan berdasarkan pilot project pengembangan tanaman biomassa sejak tahun 2013 dengan hasil yang sesuai harapan. Pengusahaan tanaman gliricidia dan kaliandra merupakan kebijakan Perum Perhutani untuk mengantisipasi isyu pemanasan global dan juga pemenuhan bahan energi terbarukan. Kedua jenis tanaman itu memiliki masa usia produksi dua tahun. Nantinya, kedua

tanaman tersebut (gliricidia dan kaliandra) akan diolah menjadi briket bahan bakar, sebagai alternatif energi baru dan terbarukan. Diharapkan pula, dengan adanya program ini akan bisa memberikan penambahan nilai pendapatan bagi masyarakat sekitar hutan. Sebab, pengusahaan tanaman biomassa ini nantinya juga akan melibatkan masyarakat. Sehingga, akses usaha masyarakat yang tinggal di sekitar hutan ini akan semakin luas dan kesejahteraannya pun semakin meningkat. Sebab, pola tanam yang akan diterapkan adalah Perhutanan Sosial Agroforestri dengan tanaman pertanian (tumpangsari). Tanaman gamal atau

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

gliricidia merupakan salah satu sumber bahan bakar biomassa. Pembudidayaan tanaman ini akan semakin meningkatkan potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa sebagai alternatif sumber energi baru dan terbarukan di Indonesia. Maka, pengembangan tanaman biomassa ini akan bernilai tinggi.

Anak Perusahaan Petrokimia PT Petrosida Gresik merupakan anak perusahaan dari PT Petrokimia Gresik (Persero). Petrokimia Gresik merupakan perusahaan pupuk terbesar dan terlengkap di Indonesia. Petrosida Gresik merupakan perusahaan agroforestri profesional.

DUTA Rimba 73


Foto: Dwi Koen/Divre Jateng

bisnisrimba

Maka, sebagai anak perusahaan perusahaan besar, Petrosida Gresik berpotensi untuk berkembang di industri agrofestri di Indonesia. Petrosida Gresik adalah perusahaan yang berdiri sejak tahun 1984. Perusahaan tersebut memroduksi bahan aktif kimia untuk pertanian dan perkebunan Indonesia. Di dalam jangka waktu sepuluh tahun terakhir, Petrosida Gresik menyediakan produkproduk kimia pertanian (agrokimia) semisal pupuk, pestisida, dan bahan kimia sebagai penunjang industri agrokimia. Saat ini, Petrosida Gresik tengah berupaya untuk berperan serta aktif dan memberikan yang terbaik dengan produk-produk yang berkualitas kepada para petani dan pelaku usaha yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan. Untuk mewujudkan upaya berperan serta aktif tersebut, Petrosida Gresik memiliki bekal pengalaman selama 20 tahun di industri agrokimia dan didukung luas lahan pertanian dan perkebunan di Indonesia yang begitu besar. Saat ini, PT Petrosida Gresik sedang bergelut dengan usaha

74 DUTA Rimba

mengembangkan produk-produk bio pestisida dan bio fertilizer untuk mendukung gerakan go green di Indonesia. Dengan cakupan wilayah pemasaran yang meliputi seluruh wilayah di seluruh Indonesia, PT Petrosida Gresik berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik dan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan. Agroforestri berhubungan dengan sistem penggunaan lahan dimana pohon ditumbuhkan berasosiasi dengan tanaman pertanian, makanan ternak, atau lahan tempat penggembalaan. Asosiasi ini dapat dalam waktu, semisal rotasi antara pohon dan komponen lainnya, atau dalam dimensi ruang, dimana komponenkomponen tersebut ditumbuhkan secara bersama-sama di lahan yang sama. Di dalam sistem tersebut, terdapat pertimbanganpertimbangan terhadap nilai ekologi dan ekonomi dalam interaksi antar pohon dan komponen-komponen lainnya.

Gliricidia dan Kaliandra Gliricidia sepium adalah nama ilmiah untuk Gamal. Gamal

merupakan nama sejenis tumbuhan perdu dari kerabat polongpolongan (suku Fabaceae atau Leguminosae). Sering digunakan sebagai pagar hidup atau peneduh, perdu tersebut merupakan salah satu jenis leguminosa multiguna yang terpenting setelah lamtoro (Leucaena leucocephala). Gamal terutama ditanam sebagai pagar hidup, peneduh tanaman (untuk kakao, kopi, teh) atau sebagai rambatan untuk vanili dan lada. Perakaran gamal merupakan penambat nitrogren yang baik. Tanaman ini juga berfungsi sebagai pengendali erosi dan gulma, terutama alang-alang. Sedangkan bunga-bunga gamal merupakan pakan lebah yang baik, dan dapat pula dimakan setelah dimasak. Daun-daun gamal mengandung banyak protein dan mudah untuk dicernakan. Sehingga, gamal cocok untuk pakan ternak. Daun-daun dan rantingnya yang hijau itu juga dimanfaatkan sebagai mulsa atau pupuk hijau untuk memerbaiki kesuburan tanah. Daun-daun, biji-biji, dan kulit batang gamal mengandung zat yang bersifat racun bagi manusia dan ternak, kecuali ruminansia. Di dalam jumlah kecil, ekstrak bahanbahan itu dapat digunakan sebagai obat bagi berbagai penyakit kulit, rematik, sakit kepala, batuk, dan luka-luka tertentu. Ramuan bahanbahan itu digunakan pula sebagai pestisida dan rodentisida alami. Hal itulah yang memunculkan nama tumbuhan ini menjadi gliricidia, yang berasal dari bahasa Latin yang berarti kurang lebih racun tikus. Di Wonogiri, irisan batang gamal biasa direbus dalam air dan diteteskan ke mata untuk mengobati penyakit belekan. Tetapi yang paling menarik, gamal merupakan sumber kayu api yang baik. Sebab, gamal terbakar

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Dwi Koen/Divre Jateng

perlahan dan menghasilkan sedikit asap. Kayu gamal memiliki nilai kalori sekitar 4900 kcal per kilogram. Kayu terasnya awet dan tahan rayap, dengan berat jenis antara 0,5 – 0,8. Kayu ini baik untuk membuatperabot rumah tangga, mebel, konstruksi bangunan, dan lain-lain. Sedangkan calliandra atau kaliandra adalah marga sekelompok tumbuhan berbuah polong (legum), dengan anggota sekitar 200 jenis. Wujudnya berupa pohon berukuran sedang dengan bunga tersusun majemuk. Di Indonesia, orangmengenal kaliandra terutama adalah kaliandra bunga merah (calliandra calothyrsus) sebagai tanaman penghijauan serta sumber pakan ternak. Tetapi, siapa sangka kaliandra ternyata juga bisa menjadi bahan pembangkit tenaga listrik. Kaliandra atau kerap disebut juga cabello de angel (rambut malaikat) merupakan tanaman yang berasal dari Guatemala. Kini, Kaliandra tersebut bisa diolah menjadi sumber energi baru dan terbarukan. Sumber olahan palet dari kayu kaliandra saat ini bahkan digadang-gadang bisa menjadi bahan alternatif energi baru dan terbarukan biomassa pembangkit listrik hingga 10 MegaWatt. Kaliandra merah merupakan tanaman semak yangmudah tumbuh saatmusim penghujan dan kering. Akar rhizobium dan jamur microriza di akar kaliandra juga mampu mengurangi pertumbuhan gulma lahan. Bunga kaliandra pun menjadi penghasil nektar yang baik untuk lebah madu. Tinggi kaliandra dapat mencapai 12 meter dengan diameter 20 cm. Batang basah kaliandra mampu menghasilkan energi panas hingga 4600 ckal per kilogram. Sedangkan saat sudah kering, ia

dapat menghasilkan 9000 ckal per kilogram. Panas ini setara dengan panas rata-rata batubara. Sehingga, prospek olahan pelet kayu kaliandra tersebut dapat dijadikan energi baru dan terbarukan biomassa yang ramah lingkungan untuk tanah air. Pelet kayu sendiri dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan batubara. Pelet kayu atau wood pellet dari kaliandrajuga dianggap carbon neutral. Daripada bahan bakar gas (BBG), emsisi CO2 yang dihasilkan palet kayu delapan kali lebih rendah. Sedangkan jika dibnandingkan bahan bakar minyak (BBM), emisi CO2 pelet kayu sepuluh kali lebih rendah. Sehingga, saat ini tren pelet kayu sebagai energi baru dan terbarukan biomassa menjadi alternatif energi yang dilirik. Di Indonesia, pemanfaatan energi baru dan terbarukan sudah dicanangkan pemerintah di dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN). Listrik energi biothermal, biodiesel, geothermal, dan panel surya pun kini sedang dan sudah dikembangkan pemerintah. Potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia secara keseluruhan mampu menghasilkan 144 gigawatt. Saat ini, target

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

pemanfaat energi tersebut baru tercapai 8,89 gigawatt atau 2% dari seluruh potensi yang ada. Saat ini, PLTBm (Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa) yang menghasilkan 10 MegaWatt yang sudah diresmikan adalah yang terdapat di Mempawah, Kalimantan Barat. Menyimak besarnya potensi biomassa sebagai energi baru dan terbarukan, maka jalinan kerja sama Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah dan PT Petrosida Gresik dalam pengadaan pupuk anorganik granul menjadi penting. Pengadaan pupuk menjadi salah satu komponen penting untuk peningkatan produksi tanaman biomassa. Dan karena jalinan kerja sama tersebut dilaksanakan dalam rangka pengadaan sarana prasarana tanaman biomassa berupa pupuk anorganik granul untuk menunjang pelaksanaan program Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah untuk menanam tanaman biomassa jenis gliricidia dan kaliandra sepanjang tahun tanam 2019, harapan besar bahwa program tersebut akan menuai sukses pun meluncur. Semoga terlaksana dengan baik!• Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 75


sociorimba Musim kemarau yang panjang memberi dampak yang sangat dirasakan masyarakat, khususnya di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Di wilayah ini, kekeringan terjadi hampir merata. Kesulitan air bersih pun dialami warga hingga harus berburu air bersih untuk memenuhi kebutuhan akan air. Ada yang mencari dan membawa air bersih hingga jauh dari tempat mereka tinggal, ada juga yang terpaksa harus membeli air dengan harga yang tak murah. Maka, demi membantu warga mengatasi kesulitan tersebut, Perhutani KPH Gundih menjalin sinergi dengan Polres Grobogan, menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sumbangsih

Air Bersih

dari KPH Gundih

S

alah satu bentuk sinergi Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih dan Kepolisian Resor (Polres) Grobogan terlihat pada Sabtu, 19 Oktober 2019. Ketika itu, mereka bersinergi menyalurkan bantuan air bersih. Sebanyak 10 tangki yang masing-masing berkapasitas 4.000 liter pun mereka salurkan untuk warga desa yang tinggal berdekatan dengan kawasan hutan, khususnya di Dusun Sonorejo, Desa Sindurejo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Administratur Perhutani KPH Gundih, Agus Priantono, mengatakan, pemberian bantuan tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian mereka terhadap masyarakat desa hutan. Sampai saat itu, Perhutani sudah menyalurkan bantuan berupa air bersih di hampir

76 DUTA Rimba

seluruh desa yang berada di wilayah kerja Perum Perhutani KPH Gundih. ”Kami bersinergi dengan Polres Grobogan untuk memberikan bantuan air bersih. Ini sudah menjadi agenda kami, pada saat musim kemarau panjang seperti saat ini. Selama ini, kami selalu bersinggungan dengan masyarakat untuk bersama-sama menjaga hutan. Ada sekitar 30-an lebih tangki berkapasitas 4000 liter yang sudah kita salurkan,” katanya. Sementara itu, Kapolres Grobogan, AKBP Choiron, mengimbau warga untuk menghemat persediaan airnya dan lebih bijak dalam penggunaannya. “Seperti yang telah diketahui, musim kemarau ini terjadi cukup panjang. Kami bekerja sama dengan Perhutani KPH Gundih dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan untuk memberikan bantuan

air bersih kepada warga Desa Sindurejo. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat dan meringankan beban mereka,” ujarnya.

Peninggalan Leluhur Selain di Desa Sindurejo, krisis air bersih juga melanda empat dusun yang ada di Desa Jambangan, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Empat dusun itu adalah Dusun Sanggrak, Galeh, Canden, dan Kuncen. Selama berbulan-bulan, kesulitan air juga mereka rasakan. Keempat dusun tersebut tercatat sebagai salah satu wilayah permukiman di Kabupaten Grobogan yang mengalami krisis air bersih terparah. Dan hal itu terjadi hampir setiap kali musim kemarau. Apalagi, musim kemarau tahun ini memang dirasakan lebih panjang. Hal itu membuat krisis air kian terasa berat dirasakan ribuan warga yang tinggal di desa di kaki perbukitan Kendeng Selatan itu. Sumur tadah hujan serta sungai setempat yang biasanya menjadi andalan sebagai penyedia air bersih bagi warga mulai mengering sejak pertengahan tahun 2019. Ditambah lagi, instalasi program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang telah terrealisasi sejak 2008, kali ini pun gagal beroperasi karena kesulitan mengidentifikasi sumber mata air.

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Kompersh KPH Gundih

Selama terlanda krisis air, warga berburu air dengan menciptakan “belik” di sungai setempat yang telah mengering. Belik adalah lubang-lubang yang digali di dasar sungai untuk mencari sumber air. Selain itu, warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan itu juga mengandalkan pasokan air dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tokoh masyarakat setempat pun lantas berkumpul untuk mencari solusi bagi persoalan warga. Mereka lalu bersepakat mencari sumber mata air peninggalan leluhur mereka yang diyakini masih ada di bawah tanah di tengah hutan. Konon, ratusan tahun silam warga setempat mencukupi kebutuhan air dengan mengandalkan dua sendang yang katanya tak pernah kering. Namun, seiring berjalannya waktu, sumber air jernih berlimpah itu perlahan terkubur oleh rimbunnya hutan. Sejumlah warga, perwakilan Petugas Perhutani, serta beberapa orang “pawang sumber air” berjalan kaki menembus kawasan hutan di perbukitan Kendeng Selatan. Setelah hampir 5 kilometer berjalan kaki, beberapa pawang sumber air itu meminta warga untuk menggali tanah yang telah tertutup oleh sampah-sampah organik berupa daun-daun kering, ranting-ranting, dan berbagai sisa vegetasi lainnya. Para pawang sumber air itu telah berpuasa sebelum melakukan kegiatan tersebut. Lokasi yang ditunjuk para pawang itu diyakini merupakan sumber air peninggalan leluhur mereka. Letak tempat penggalian sumber air itu tepatnya di Petak 72 RPH Genengsari, BKPH Kuncen, KPH Gundih. Tak jauh dari tempat Pamsimas yang mangkrak. Secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Setelah menggali hingga

kedalaman 5 meter, muncul aliran air jernih yang terus mengalir deras. Sesepuh desa pun mengiyakan air itu berasal dari sendang peninggalan leluhur mereka yang selama ini lenyap tertimbun rerimbunan hutan.

Kabar Gembira Penemuan sumber mata air itu menjadi kabar gembira bagi warga. Menurut Rinkahat, sesepuh Desa Jambangan, secara turun temurun, sesepuh desa mereka memang telah berpesan, jika suatu saat warga mengalami kesulitan air, carilah sendang yang berusia ratusan tahun warisan leluhurnya itu di perbukitan Kendeng Selatan. Sumber mata air yang ditemukan itu pun dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air di empat dusun yang terdapat di Desa Jambangan tersebut. Asisten Perhutani BKPH Kuncen, Joko Prayitno, mengatakan, sumber air yang ditemukan warga itu berada di kawasan hutan Perhutani yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Perlindungan Setempat (KPS),

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

salah satunya untuk perlindungan sumber air. Kawasan hutan tersebut, setidaknya terus terjaga kelestariannya hingga kini, melalui peran masyarakat juga. Kata dia, hutan memiliki kemampuan sebagai regulator air. Artinya, hutan mampu mengatur, menyokong proses alami, dan menyediakan air bersih jika hutan itu dibiarkan tetap alami. Sebab, hutan mampu menyimpan air di musim hujan ketika ketersediaan air. Pun hutan dapat melepaskan air di musim kemarau, saat ketersediaan air menjadi minim. “Hampir 40 persen wilayah Grobogan adalah hutan. Jadi, jika kelestarian hutan tetap terjaga dengan baik, air yang tersimpan pasti sangat melimpah. Terbukti, sendangsendang berkpaasitas besar muncul di kawasan hutan yang lestari. Di Grobogan ada banyak sendang di kawasan hutan. Di wilayah KPH Gundih sendiri ada tiga puluhan sendang.” tuturnya. Maka, peliharalah hutan. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 77


opinirimba

Menatap

Kejayaan Kembali Perhutani

Oleh: Sangudi Muhamad *)

H

Pengelolaan Hutan Jawa mengalami beberapa kali masa pasang surut. Terakhir, Masa Rusak III saat terjadi Penjarahan Hutan Tahun 1998 di hampir seantero kawasan hutan Jawa yang dikelola Perhutani. Kini, pertanyaan yang muncul adalah mampukah Perhutani yang diberi pemerintah amanah (terakhir dengan PP no 72 Tahun 2010) mengembalikan Kejayaan Pengelolaan Hutan Jawa?

utan Jawa mengalami tiga kali masa rusak. Di periode Masa Rusak I yang dijarah VOC dan Masa Rusak II yang dirampok Jepang, Hutan Jawa nyatanya mampu tumbuh, berkembang, dan berjaya kembali dengan potensi hutan yang tak kalah dengan hutan di negara-negara ASEAN, khususnya Malaysia yang selalu merasa memiliki Manajemen Hutan lebih baik dari Indonesia. Kondisi seperti inilah yang membuat kita para forester Perum Perhutani masih punya harapan untuk membangun kembali Hutan Jawa yang dikelola Perum Perhutani. Dan membuat Perhutani berjaya. Sejak Masa Rusak Hutan Jawa III akibat penjarahan tahun 1998, proses membangun kembali hutan Jawa belum menampakkan hasil yang signifikan. Program “Perhutani Hijau 2010” yang dicanangkan Dirut Perhutani (saat itu) Dr. Ir. Transtoto Handhadari, MSc memang telah mampu mengembalikan recovery Hutan Jawa pasca penjarahan

78 DUTA Rimba

yang hampir menghabiskan 80% persediaan Iron Stock terbaik yang dimiliki Hutan Jawa saat itu. Namun, program tersebut ternyata belum cukup mengangkat “Kinerja” Perum Perhutani sebagai pemangku Hutan Jawa. Pada November 2005, Dirut Transtoto Handhadari memberlakukan Sistem Manajemen baru yang disebut “Spin Off”. Penekanannya pada pemisahan kinerja pengelolaan Hutan dengan kinerja bisnis. Dampaknya, Administratur Perhutani berubah, dari sosok yang seolah “Raja kecil yang sarat kewenangan” menjadi hanya seorang pengelola hutan yang sama sekali tak boleh menyentuh aspek bisnis yang ada di wilayahnya. Perjalanan Spin off ini terus bergerak tanpa arah yang jelas akibat tiadanya panduan dan contoh teladan sebagai acuan. Sampai kini pun belum ada “evaluasi” terhadap efektif atau tidaknya pelaksanaan Program Spin Off yang diterapkan Perhutani.

Pada Januari 2014, Dirut (saat itu) Dr. Ir. Bambang Sukmananto, MSc memberlakukan Struktur Organisasi Divisional yang baru. Maksudnya “ingin memerbaiki kinerja Perhutani” yang semakin menurun. Sebelumnya, tahun 2012 dan 2013, Direktur Utama Perhutani menyekolahkan beberapa Administratur dan General Manager di Prasetya Mulia, dengan tujuan meng-upgrade pengetahuan bisnis para pejabat Perhutani agar lebih mampu menjalankan fungsi bisnis yang dimiliki perusahaan. Tugas mulia seorang Direktur Utama, namun terasa hambar karena selalu dilakukan tanpa didahului kajian untung-ruginya untuk perjalanan jangka panjang perusahaan. Tanpa maksud menyampingkan sistem baru yang digagas para Direktur Utama, sistem lama kiranya cukup bagus untuk direnungkan lagi. Pada jabatan seorang Administratur/ Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan sistem lama, telah melekat 3 fungsi, yaitu sebagai seorang Administrator yang harus paham ilmu dan praktik

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


bisnis; sebagai seorang Pemangku Kesatuan area Hutan yang harus paham teknis dan mampu mengelola hutan mulai membuat persemaian yang berkualitas, membuat tanaman unggulan, memelihara hutan dari serangan hama penyakit dan kebakaran, mengerti teknis menebang pohon dengan manajemen batang per batang dan teknis memanen hasil hutan lainnya, sampai teknis mengangkut produk hasil hutan kayu dan non kayu keluar dari hutan agar siap jual dengan biaya seefisien mungkin secara legal dan tak menimbulkan masalah lingkungan; serta sebagai seorang Pemangku Wilayah yang harus paham fungsi sosial masyarakat dan bisa berkoordinasi baik vertikal maupun horizontal dengan Muspida dan tokoh-tokoh masyarakat lokal dan regional. Ketiga fungsi ADM/ KKPH itu sebenarnya sejalan dengan fungsi yang melekat pada aspek pengelolaan hutan, yaitu planet, people, profit.

Perlu “Pilot”

yang kita lakukan saat ini. Ada baiknya kita mulai mencoba “Menatap Kembali Kejayaan Hutan Jawa cq Perhutani”. Gerangan apakah yang bisa membantu Perhutani menemukan kembali jatidirinya agar segera SADAR bahwa potensi yang dimilikinya sangat besar dan bisa mendobrak dunia hutan dan kehutanan. Dengan luas area pengelolaan 2,4 juta hektar, sudah selayaknya Perhutani segera bangkit dan bangun kembali. Perhutani tidak layak tak punya uang. Perhutani tidak pantas tak mampu mengelola hutan. Perhutani tidak terhormat jika menyerah. Karyawan Perhutani pun sudah saatnya dibangkitkan, diberi edukasi yang baik, digerakkan dengan energi semangat dan disiplin tinggi, juga layak diberi contoh teladan yang baik dan menginspirasi. Perhutani bisa segera berjaya kembali jika manajemen puncak mampu dan berani mengambil langkah. Antara lain Menetapkan “Kerangka Besar” rencana Kinerja Unggul Perum Perhutani; Mereformasi “Sistem Perencanaan Hutan” yang “kesannya membelenggu”; Menetapkan

Foto: Sangudi Muhamad/Direktur INHUTANI II

Tahun 2016 ditutup dengan catatan pahit, karena pertama kali

dalam sejarah Perum Perhutani menutup buku dengan kerugian sekitar Rp 350 Milyar. Di penghujung Desember 2016, karyawan Perhutani menanti “Kelahiran STO baru”. Seolah harap-harap cemas menanti kelahiran bayi, mereka bertanyatanya, apakah “embrio STO baru” yang telah digodok banyak pakar dan konsultan itu akan menjadikan Perhutani Jaya Kembali? Atau sebaliknya bayi baru itu akan menjadi robot perusak semua tatanan yang pada hakikatnya sudah baik namun belum menemukan “Seorang Pilot” yang handal saja? STO tetap diberlakukan dan mulai diterapkan pada 2 Maret 2017. Alhamdulillah, setelah STO itu ditetapkan, selama 2 tahun berturut-turut Perum Perhutani telah mendapatkan Laba yang sangat signifikan, yaitu Rp 400 Milyar tahun 2017 dan Rp 635 Milyar tahun 2018. Apakah berarti STO itu sudah cocok, jika faktanya dengan STO baru Perhutani mampu meraih Laba yang signifikan? Mampukah di tahun 2019 dan seterusnya kita pertahankan laba itu? Pada akhirnya sejarah yang akan mencatat apa

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 79


opini “Komoditi Unggulan” berdasar perkembangan pasar; dan Menemukan Tim SDM pengawal ketiga poin di atas berdasar Rekam Jejak SDM terbaik selama bekerja di Perum Perhutani.

Di era globalisasi sekarang ini, persaingan dunia usaha semakin kuat. Menghadapi era pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN, setiap perusahaan dituntut meningkatkan kinerja melalui suatu program unggulan agar punya performa yang baik. Hal itu menjadi dorongan bagi perusahaan untuk memiliki daya saing yang unggul (Competitive advantage) berkelas dunia. Jika kita merujuk Surat Sekretaris Kementerian BUMN No S-153/S. MBU/2012 tanggal 19 Juli 2012 perihal Pelaporan Kinerja mengenai Kriteria Penilaian Kinerja Unggulan (KPKU) BUMN yang bertujuan meningkatkan persaingan global, pertanyaannya: Sudahkah keputusan tersebut diterapkan dengan konsisten? Kriteria dalam KPKU diadaptasi dari kriteria keunggulan kinerja Malcolm Baldridge Criteria for Performance Excellence, yang bertujuan menjadi metode terpadu dalam pengelolaan kinerja BUMN, sehingga berdampak pada keberlangsungan perusahaan dan meningkatkan efektifitas dan kapabilitas BUMN secara menyeluruh. KPKU memiliki 7 (tujuh) kategori Kriteria unggul, di mana kategori kepemimpinan (leadership) memiliki poin paling besar yaitu 180 poin. Poin tersebut memperlihatkan, sikap seorang pemimpin perusahaan dalam mengarahkan dan menjamin keberlangsungan perusahaan sangat menentukan keberhasilan perusahaan. Berdasar rekam jejak perjalanan sekian lama, menurut saya, Perum Perhutani saat ini membutuhkan tipe STRONG LEADERSHIP yang berakhlak

80 DUTA Rimba

Foto: Sangudi Muhamad/Direktur INHUTANI II

Kerangka Besar Kinerja Unggul

mulia, juga FRIENDLY and COMMUNICATIVE. Butuh Komitmen manajemen, khususnya Direktur Utama, yang perlu menetapkan KERANGKA BESAR rencana menuju Perhutani Unggul. Perlu segera dideklarasi oleh Direktur Utama Perhutani bahwa KPKU bukan sebuah dokumen di atas kata-kata. Kinerja Unggul adalah sebuah realita terciptanya Kinerja Perusahaan berkelas yang diakui kawan dan lawan. Sebab, Perhutani adalah perusahaan besar yang nilai besarnya belum teruji dan belum terbukti diakui dunia bisnis. Inilah tantangan manajemen baru Perum Perhutani. Potensi pertama yang dimiliki adalah karyawan sejumlah 21.000 orang lebih. Gali potensi mereka dan beri mereka “harapan untuk hidup sejahtera” agar termotivasi untuk bekerja maksimal. Ciptakan iklim yang kondusif agar “JIWA KORSA” rimbawan yang dulu sangat diakui kekompakannya dapat terbangun kembali dan mereka bersemangat “Membangun Perhutani” tempat mereka mencari nafkah. Jangan jadikan mereka kambing hitam sementara manajemen Perhutani

belum memenuhi kebutuhan sarana prasarana minimal yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan. Beri mereka kepercayaan dan Trust. Yakinlah mereka sangat bertanggung jawab. Jikapun di antara mereka ditemukan ada yang melenceng dari pakem atau SOP yang telah ditetapkan, tak layak pula mereka dipermalukan di depan umum. Mereka butuh contoh, mereka merindukan pemimpin yang berwibawa, mereka sangat menantikan adanya pemimpin yang patut dan layak dijadikan TELADAN. Panggil mereka, beri kesempatan menjelaskan sebagai Hak Jawab, dan jika memang mereka bersalah barulah berikan teguran / punishment yang sangat berat. Potensi kedua yang dimiliki Perhutani adalah area hutan seluas 2,4 juta hektar. Sangat tidak pantas jika Perhutani tak mampu menghasilkan finansial memadai. Tak elok jika Perhutani tidak mampu membayar upah karyawannya dengan layak. Tidak pada tempatnya pula jika Perhutani tak mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi negara dan masyarakat. Di dalam area hutan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


terdapat banyak potensi yang bisa digali. Potensi kayu (meski sudah bukan yang utama lagi) masih sangat potensial untuk memberikan kontribusi besar bagi kebangkitan kembali Perhutani. Potensi Non Kayu yang kini memberikan kontribusi terbesar bagi Perhutani masih sangat potensial dikembangkan dan didesain untuk mengambil posisi kedua setelah Cina dengan potensi produksi Getah Pinus menuju + 200.000 ton per tahun. Potensi Wisata dan agrobisnis juga sangat besar dan belum dikelola secara profesional. Belum lagi jika meng-upgrade potensi tambang, mikro hidro, geo energi, dan potensi optimalisasi Aset. Semua potensi tersebut sangat mampu untuk mengangkat Perhutani menuju “Masa Kejayaannya Kembali”.

Perlu Reformasi Beberapa pihak menganggap perencanaan hutan Perum Perhutani yang selama ini ada sangat rigid dan sudah jauh tertinggal. Perencaan Perhutani model RPKH ini pun belum mampu menjawab tantangan bagaimana Perhutani keluar dari krisis multi dimensi yang terjadi saat ini. Perencaan itu masih berkutat pada masalah DAUR yang berujung pada perhitungan ETAT Tahunan. DAUR sudah menjadi semacam momok yang membelenggu Perhutani dan tak bisa menjawab tantangan zaman untuk bisa keluar dari krisis yang membelit dirinya. Padahal

sejatinya DAUR hanyalah sebuah “Management tools” yang bisa diubah sesuai kebutuhan perusahaan. Untuk menjembatani para Ahli Perencanaan Perhutani model RPKH ini dan untuk memercepat Perhutani memeroleh penghasilan dari sektor kayu yang potensinya “bejibun” namun belum bisa dimanfaatkan akibat ketakutan menabrak regulasi, ada baiknya manajemen bekerja sama dengan para Pakar di Perguruan Tinggi (cq UGM dan IPB), untuk membuat “Kajian Ilmiah / Kajian Akademis” tentang bagaimana mengelola area hutan yang sangat luas ini menghasilkan “Produktivitas Lahan” yang tinggi. Paling tidak, di Hutan Produksi di masing-masing Regional perlu kajian sebagai berikut: Satu, berapa luas hutan untuk keperluan memertahankan Kayu Jati kelas premium (Jangka panjang). Dua, berapa luas hutan untuk mengembangkan Hutan Pinus penghasil Getah (Jangka Menengah Panjang). Tiga, berapa luas hutan untuk pembangunan jenis-jenis kayu ungggulan Perhutani spesial semisal JPP (Jati Plus Perhutani), Mahoni daun kecil, Sonokeling, Kayu hitam eboni, Rasamala, dan lain-lain (Jangka menengah). Empat, berapa luas hutan untuk menghasilkan produksi kayu sesuai kebutuhan Industri Rakyat dan kebutuhan kayu rakyat lainnya semisal untuk kebutuhan konstruksi bangunan dan

Sistem tanaman Tumpang Sari sudah saatnya ditinjau kembali, bukan mencampur tanaman hutan dengan tanaman palawija MDH. Namun Tanamam Hutan yang dipisah dengan tanaman Palawija agar tanaman hutan dijamin jadi baik sampai dengan akhir daur, sementara hasil palawija MDH juga bisa optimal karena tidak terganggu oleh tanaman hutan. NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

perumahan masyarakat (Jangka menengah). Lima, berapa luas hutan untuk memroduksi Fast Growing Species guna memenuhi kebutuhan Bahan Baku Industri milik Perhutani semisal Sengon, Jabon, dan lain-lain (Jangka pendek). Enam, berapa luas hutan yang bisa digunakan untuk pengembangan Minyak Atsiri sejenis Kayu putih, Sereh wangi, Ylang ylang, nilam, dan lain-lain (Jangka pendek). Tujuh, berapa luas hutan yang khusus diperuntukkan bagi pengembangan Agrobisnis semisal kopi, cengkeh, jahe merah, empon-empon, tebu, singkong, dan sebagainya (Jangka pendek). Delapan, berapa luas areal hutan yang khusus diperuntukkan untuk area bercocok tanam Masyarakat Desa Hutan (MDH) agar mereka layak hidup dan tidak merusak hutan. Sistem tanaman Tumpang Sari sudah saatnya ditinjau kembali, bukan mencampur tanaman hutan dengan tanaman palawija MDH. Namun Tanamam Hutan yang dipisah dengan tanaman Palawija agar tanaman hutan dijamin jadi baik sampai dengan akhir daur, sementara hasil palawija MDH juga bisa optimal karena tidak terganggu oleh tanaman hutan. Fakta yang terjadi pada tanaman adalah, hasil penilian TLK hampir semua baik, rata-rata pertumbuhan >95%. Namun, setelah berumur 10 tahun tersisa tinggal 30% saja dengan kualitas tegakan sisa yang relatif buruk. Maka perencanaan hutan Perhutani harus berani mendeliniasi area untuk kebutuhan MDH (tegal pangonan, bercocok tanam palawija, hijauan makanan ternak dan yang sejenis berdasar Apraisal). Hal ini sejalan dengan program pemerintah tentang PIAPS (Peta Indikasi Area Perhutanan Sosial), yang sudah seharusnya menjadi kebutuhan Perum Perhutani sendiri untuk menjamin Kelestarian hutannya ke depan.

DUTA Rimba 81


Berangkat dari pemikiran inilah Manajemen Perhutani harus BERANI mengambil langkah TIDAK POPULER, karena bisa jadi pada masa kepemimpinannya “Kinerja Keuangan Tidak begitu baik”, namun memiliki Investasi Jangka menengah panjang yang “Menjamin 5-10 Tahun yang akan datang” Perhutani sudah maju dengan Kinerja Keuangan Terbaik, yang bisa bersanding dengan para BUMN dengan kinerja Excellent. Ambillah contoh Divisi Regional Jawa Barat dan Banten. Jika tak ada terobosan yang signfikan dengan mereformasi aturan perencanaan yang membelenggu tersebut, sampai kapanpun “TIDAK MUNGKIN BISA BANGKIT”. Hanya pemimpin yang setengah GILA saja yang akan bisa membuat Divreg Jawa Barat dan Banten bisa keluar dari keterpurukannya selama ini. Saat terjadi Penjarahan Tahun 1998, paradigma core bisnis Perum Perhutani mengalami perubahan dikomandani oleh Direktur Utama saat itu Ir. Fattah D.S, dari paradigma lama Timber Base Management ke paradigma baru Resources Base Management. Di dalam upaya memulihkan potensi sumber daya hutan pasca penjarahan Tahun 1998 (berupa tanah kosong seluas 396.985 hektar), tahun 2005 Perum Perhutani mencanangkan program “Perhutani Hijau 2010”. Rehabilitasi hutan dipercepat dengan penanaman seluas 75.000-100.000 hektar per tahun, dengan jenis daur pendek berupa Jati Plus Perhutani (JPP) dan jenis tanaman cepat tumbuh (fast growing species) yang dirancang bisa panen pada umur jangka pendek 5-10 tahun dan jangka menengah 15-20 tahun. Perlu diingat, Perum Perhutani mengelola kawasan hutan seluas 2.445.201 Hektare tersebar di Pulau Jawa dan Madura. Kawasan hutan tersebut terbagi atas Hutan Produksi

82 DUTA Rimba

(1.806.630 Hektare) dan Hutan Lindung (638.572 Hektare). Sesuai kaidah manajemen hutan, Perhutani membagi areal hutannya ke dalam dua kelas perusahaan, yaitu KP Jati (50,43% atau 1.232.998 Hektare) dan KP Pinus (35,86% atau 876.812 Hektare). Sisanya Kelas Perusahaan jenis lain yang prosentasinya tak terlalu besar disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Selama lima tahun terakhir (2010 – 2014), volume penjualan kayu mengalami fluktuasi. Hal itu lebih disebabkan oleh internal Perhutani yang belum mampu memenuhi tingginya permintaan masyarakat. Hal ini tentu di satu sisi merupakan peluang besar bagi Perum Perhutani, namun di sisi lain sistem perencanaan Perhutani melalui pengaturan kelestarian RPKH tidak memungkinkan untuk menebang lebih banyak dari Etat yang telah ditetapkan. Banyak anggapan, bisnis kayu saat ini bagaikan bisnis “sunsetindustry” (bisnis yang hampir tenggelam). Regulasi tebangan yang semakin ketat dan kebijakan penyelamatan hutan melalui isyu lingkungan menyebabkan bisnis kayu berbiaya tinggi. Padahal harga pasar kayu baik di dalam negeri maupun di luar negeri justru tertekan adanya krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, menyebabkan harga kayu relatif stagnan bahkan menurun.

berupa JPP-1 dan JPP-2. Jenis unggulan ini produkstivitasnya cukup tinggi. Di umur 15-20 tahun bisa menghasilkan kayu jati + 200 m3 per Hektare. Jika saat ini Jati A1 dan A2 rata-rata dihargai Rp 2.500.000 per m3, maka JPP potensial menghasilkan pendapatan Rp 500 juta per Hektare. Jika Perhutani mendesain 300.000 Hektare kawasan hutan untuk ditanami JPP di seluruh Kawasan Hutan Produksinya dalam 10 tahun ke depan (30.000 Ha per tahun atau rata-rata 10.000 Ha per Regional), maka jika diasumsikan sampai dengan saat ini Perhutani telah memiliki 100.000 Ha (sejak 2005-2010 telah menanam 20.000 Ha per tahun), tentu tinggal menanam kekurangan seluas 200.000 Ha. Jika desain tersebut terlaksana, 10-15 tahun yang akan datang Perhutani akan mulai memanen JPP seluas 20.000 Ha per tahun dengan pendapatan minimal Rp 10 Triliyun per tahun hanya dari JPP. Pada 16-20 tahun ke depan, Perhutani akan bisa memanen 30.000 Ha per tahun dan meraih pendapatan Rp 15 Triliyun dari JPP (dengan harga kayu saat ini). Potensi ini semakin besar jika dipadukan dengan hasil dari Kayu Rimba unggulan, dari kayu jenis FGS dan dari pengembangan minyak Atsiri. Sungguh sangat fantastis dan layak menjadi “World class company”.

Potensi Getah Pinus

Peluang dan Sasaran Saat ini tanaman yang ditanam tahun 2006-2010 umurnya 10–15 tahun. Bagi tanaman FGS (Fast Growing Species) tentu sudah saatnya panen. Untuk JPP dalam 5-10 tahun lagi siap panen dengan hasil produksi yang harusnya cukup signifikan untuk bisa mengatasi krisis yang kini terjadi. Khusus kayu jati, Perhutani telah mematenkan temuan unggulannya

Pinus merkusii merupakan satusatunya jenis pinus yang tumbuh asli di Indonesia. Getahnya memiliki kandungan khas “mercusic acid” yang tidak dimiliki Pinus lain di dunia. Namun punya kelemahan kandungan asam yang terlalu tinggi dan warna produk yang relatif kurang cerah. Kondisi ini menyebabkan produk Gum Rosin Perhutani tidak begitu diminati oleh pabrikan penghasil lem yang menginginkan warna relatif

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Sangudi Muhamad/Direktur INHUTANI II

cerah, meskipun produk Terpentin Oil menjadi rebutan pabrikan dunia derivatif yang menghasilkan Vafour & Fragrance. Saat ini luas hutan Pinus yang dimiliki Perum Perhutani di Pulau Jawa adalah 876.992,66 Ha (36%) yang tersebar di Hutan Produksi, Hutan Lindung, dan Hutan Produksi Terbatas. Hasil getah yang efektif disadap dan dimanfaatkan baru + 300.000 Ha dengan produktivitas rata-rata 7 gram per pohon per hari atau 1,5 – 2 Kg per pohon per tahun atau 200-400 Kg per Ha per tahun (atau rata-rata hanya 300 Kg per Ha per tahun), tergantung pada Kelas Hutan, Kelas Umur dan kerapatan pohon per Ha di masing-masing Regional. Produksi ini menghasilkan rata-rata per tahun pada kisaran angka 90.000 Ton per tahun. Sebuah angka yang belum cukup untuk memenuhi kapasitas terpasang pabrik yang dimiliki Perhutani yang 121.000-145.000 Ton per tahun. Maka, perlu dilakukan penambahan Luas Kawasan Hutan Pinus dan perlu meningkatkan produktivitas Getah Pinus per Ha menjadi 400 – 800 Kg per a Ha Ha per tahun. Produktivitas getah pinus Perhutani tahun 2025 harus ditargetkan sebesar 200.000 ton/tahun. Keberadaan pohon pinus dengan sejumlah produk turunannya berbeda dengan hutan jati yang selama ini menjadi andalan pendapatan Perum Perhutani, murni hanya dari kayu. Adapun pohon pinus, produknya bisa berasal dari getahnya, sementara kayunya tetap dipertahankan. Perluasan areal hutan pinus pada Hutan Produksi harus segera dilakukan agar Indonesia dapat kembali menempati nominasi kedua setelah China. Saat ini Indonesia harus banyak belajar agar bisa mengejar ketertinggalan dari Brazil yang sejak 2013 telah memroduksi Getah Pinus + 120.000

Ton per tahun, sementara Perhutani masih pada kisaran 90.000 Ton per tahun. Perhutani menargetkan produksi gondorukem tahun 2015 sebanyak 65.527 ton dan terpentin sebanyak 13.651 ton dari rencana produksi Getah Pinus sebanyak 95.000 ton. Dengan asumsi Rendemen GR & TO masing-masing 72% dan 15 %, harga GR $ 1.320/ton dan TO $ 2.000/ton, nilai tukar Rp 13.500 per $ USD, dapat diperoleh angka pendapatan dari sektor Getah Pinus yaitu: Gondorukem: 65.527 ton x $1.320 ton = $86.495.640, dan Terpentin: 13.651 ton x $2.000/ ton = $27.302.000. Jumlahnya: $86.495.640 + $27.302.000 = $ 113.797.640 (Setara dengan Rp 1,536 Triliyun, baru dari Getah Pinus tahun 2016). Jika produksi ditingkatkan menjadi 200.000 ton per tahun, pendapatan dari sektor Getah Pinus saja akan diperoleh minimal Rp 3,0 Triliyun per tahun. Terpentin mengandung sekitar 80-82% alpha-pinene yang harga pasar rata-rata 130% dari harga TO. Sisanya terdiri dari 2-3% bethapinene, kurang dari 1% camphene, 11-12% delta 3-carene, 1-2% alpha terpinolene, 1-2% limonene, dan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

kurang dari 1% alpha-terpineol dengan harga yang lebih tinggi lagi meskipun dengan proses yang sedikit panjang. Produk ini secara umum berguna untuk wewangian dan bahan obat. Sedangkan khusus alpha-terpineol, secara luas digunakan industri kosmetik sebagai parfum, dalam industri farmasi sebagai anti jamur dan anti serangga, desinfektan, dan lain-lain. Di dalam hal pengembangan dan pengolahan produk terpentin, Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara lain. Dengan membuat produk derivatif dari terpentin, diharapkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan terpentin sebagai crude.

Potensi Minyak Kayu Putih (MKP) Minyak kayu putih (cajuput oil, oleum-melaleuca-cajeputi, atau oleum cajeputi) dihasilkan dari hasil destilasi (penyulingan) daun dan ranting kayu putih (M. leucadendra). Minyak kayu Putih termasuk dalam kelompok Minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai minyak pengobatan, dikonsumsi per oral (diminum), atau – lebih umum – dibalurkan ke bagian

DUTA Rimba 83


tubuh. Khasiatnya adalah sebagai penghangat tubuh, pelemas otot, dan mencegah perut kembung. Kebutuhan Minyak Kayu Putih nasional masih sangat tinggi. Jika 20% saja dari 64,7 juta KK (BPS 2015) penduduk Indonesia menjadikannya obat wajib keluarga, berarti ada 12,9 juta KK menjadi penggunanya. Dengan asumsi setiap KK pengguna menghabiskan 1 botol kemasan 60ml/tahun, berarti kebutuhan konsumsi mencapai 774.000 liter atau setara 712 Ton per Tahun. Itu baru dalam bentuk minyak kayu putih murni. Belum lagi kebutuhan dalam bentuk lain semisal minyak telon. Jika setiap tahun lahir 2,6 juta bayi (BPS 2014), dan setiap bayi menghabiskan minyak telon 240ml/tahun, konsumsi per tahun mencapai 624.000 liter. Dengan kandungan minyak kayu putih 60%, berarti di habiskan 374.400 liter minyak kayu putih setara 344 Ton per Tahun. Kebutuhan baru untuk konsumsi 2 buah produk saja sudah lebih 1.000 ton per tahun. Pantas kalau untuk kebutuhan industrinya Indonesia mengimpor rata-rata 2.000 ton per tahun. Peluang ini sangat besar dan Perhutani seharusnya bisa segera

menangkap. Tahun 2015 Perhutani baru bisa menghasilkan produksi MKP sebanyak 290 Ton atau sekitar kurang dari 20% dari kebutuhan nasional. Melihat peluang yang sangat besar tersebut, Perhutani sudah harus membuat desain pembangunan Kebun Kayu Putih untuk rencana 10 tahun ke depan. Jika Perhutani mampu menanam Kebun Kayu Putih 10.000 Ha per tahun atau 100.000 Ha untuk 10 tahun ke depan, maka Perhutani bisa mengisi kebutuhan pangsa pasar Indonesia sebesar + 2.000-2.500 ton per tahun. Perhutani sudah memiliki Benih Unggul Kayu Putih species Melalauca leucadendron sp yang telah dikembangkan PUSLITBANG Cepu. Tinggal kemauan, keseriusan, dan komitmen manajemen Perhutani untuk bisa mengambil peluang yang besar ini atau ingin stagnan seperti sekarang ini. Minyak atsiri atau dikenal juga sebagai minyak eterik (aetheric oil), minyak esensial (essential oil), serta minyak aromatik (aromatic oil), adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan

Tabel Data Realisasi Laba Bersih Perum Perutani Tahun 2010-2018 Jumlah Laba (dalam Jutaan)

Tahun

Fluktuasi (%)

2010

Rp 155.933

2011

Rp 152.402

-2,26%

2012

Rp 213.011

39,77%

2013

Rp 208.287

-2,22%

2014

Rp 384.519

84,61%

2015

Rp 106.095

-72,41%

2016

Rp -357.317

-436,79%

2017

Rp 405.991

213,62%

2018

Rp 526.983

29,80%

Rencana 2019

Rp 551.380

4,63%

Sumber: Laporan Keuangan Perhutani 2011-2015 dan 2014-2017

84 DUTA Rimba

aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan, hasil sulingan (destilasi) minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi. Yang banyak kita kenal adalah minyak Sereh Wangi, minyak Nilam dan minyak Ylang Ylang.

Potensi Property Perhutani Kegiatan Pemanfaatan dan Pengelolaan Aset Perum Perhutani harus diarahkan dengan sasaran terciptanya peningkatan nilai ekonomi barang dan nilai manfaat aset, serta mendorong percepatan, efisiensi dan efektivitas dalam bisnis di unit-unit Perum Perhutani. Sampai dengan tahun 2016, walaupun telah mampu memberikan penghasilan bagi perusahaan, namun secara komposisi dengan total penghasilan Perhutani belum dapat memberikan kontribusi yang signifikan. Kondisi ini terjadi akibat ketidakberanian Direksi Perhutani mengambil langkah terobosan yang berarti, misalnya kerja sama dengan Pihak ketiga meskipun memiliki track record bagus dan juga dalam rangka sinergi BUMN. Padahal, jika Direksi Perhutani mau belajar kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Pos Indonesia dan PT Semen Indonesia yang telah lebih dahulu melakukan upaya Optimalisasi asetnya, potensi Aset Perhutani sangat besar untuk dikembangkan sebagai salah satu unit penghasil Uang. Misalnya potensi wisata. Potensi wisata ini jika dikembangkan secara profesional, akan menjadi salah satu sumber pendapatan Perhutani yang bisa diperhitungkan. Sejalan dengan paradigma pengelolaan hutan di Perum Perhutani yang berbasis kemasyarakatan (Community Based Forest Management) atau CBFM, pengembangan pariwisata Perum

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Menemukan Tim SDM Handal Banyak perusahaan kesulitan melakukan proses rekrutmen personel SDM yang dikehendaki. Sebagian manajemen menggunakan metode Assesmen untuk levellevel tertentu. Sebagian lagi cukup dengan melihat rekam jejak masing-masing personil SDM per level per jenjang jabatan. Kuncinya: menemukan SDM Handal yang bisa diharapkan. Pada hakikatnya proses kaderisasi SDM sebuah perusahaan akan berjalan baik jika perusahaan tersebut memiliki sistem manajemen yang kapabel. Sistem manajemen

Foto: Sangudi Muhamad/Direktur INHUTANI II

Perhutani yang saat ini sedang distandarisasi dengan branding “CANOPY” akan lebih nendang apabila konsepnya dipadukan dengan memerhatikan aspirasi, partisipasi dan persepsi masyarakat di sekitarnya. Pengembangan kawasan pariwisata dipastikan akan mampu menciptakan berbagai peluang kerja dan usaha bagi terciptanya diversifikasi mata pencaharian di kalangan masyarakat. Pengembangan dan pengelolaan kawasan pariwisata secara profesional merupakan proses pencerdasan masyarakat dan mengantarkan masyarakat ke arah perubahan yang lebih baik. Selain itu, tidak ada orang menyangkal bahwa hijaunya NTT dan NTB adalah berkat HKM yang dibangun Perhutani pada masa lampau. Jadi, seharusnya Perhutani bisa menawarkan diri untuk membangun Hutan kepada Pemerintah ataupun usaha swasta multinasional yang bonafide. Di samping untuk melatih personil Perhutani untuk memimpin Project, secara korporasi Perhutani juga diuntungkan sekaligus untuk membangun corporate image ynag sangat positif.

ini akan bisa berjalan efektif jika dioperasionalkan oleh Organisasi yang baik. Organisasi bisa dijalankan dengan baik jika Struktur Organisasinya sesuai tuntutan bisnis modern. Baik tidaknya sebuah struktur organisasi ditentukan oleh beberapa kriteria. Beberapa masalah yang ditimbulkan oleh struktur baru adalah: Permasalahan pertama adalah pertumbuhan organisasi yang tidak direncanakan sebelumnya. Organisasi memaksa karyawan untuk belajar menjalankan banyak fungsi dan lintas batas. Akibatnya fungsi koordinasi dan instruksi lebih banyak mengarah kepada pimpinan puncak dan menyebabkan organisasi gagal mengembangkan fungsi tanggung jawab yang profesional pada diri karyawannya. Permasalahan kedua adalah kelalaian dalam melakukan proses investasi pengembangan sumber daya manusia. Perusahaan memberikan toleransi yang terlalu tinggi untuk individu karyawan yang berakibat fungsi-fungsi manajemen menengah tak dapat berkembang

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

optimal dan akibatnya fungsi serta alur struktur menjadi tidak berguna dan struktur hanyalah formalitas di atas kertas saja. Permasalahan ketiga adalah alpanya perusahaan untuk melakukan proses perbaikan alur proses. Suatu konsep manajemen yang dibuat tanpa sistem yang kuat dan konsisten sehingga mengakibatkan proses menjadi lebih banyak dijalankan dalam mekanisme verbal dan subyektif. Sangat menarik, bukan? Konsep pengembangan dan penerapan terhadap status operasional penyusunan struktur organisasi bukanlah sesederhana yang dibayangkan oleh banyak perusahaan. Lakukan pertimbangan matang sebelum dilakukan penetapan struktur agar status pengembangan perusahaan tidak mengalami masalah krusial. Ada baiknya untuk melakukan komunikasi referensi eksternal ataupun konsultasi publik untuk melakukan proses komunikasi dan konsultan eksternal. • DR *)Penulis adalah Mantan Kadivre Jawa Timur

DUTA Rimba 85


envirorimba

Pantai Pasir Putih Gondo Mayit pun

Menjadi Hijau Upaya pelestarian lingkungan hidup terus dilakukan rimbawan Perum Perhutani. Bukan hanya di tingkat pusat, di tingkat KPH pun upaya pelestarian lingkungan itu terus menerus dilakukan. Hal itu sejalan dengan misi perusahaan yang antara lain untuk peduli kepada kepentingan masyarakat dan lingkungan. Antara lain hal itu terlihat dari aktivitas Perhutani KPH Blitar yang bersama Pemkab Blitar melakukan aktivtas untuk menghijaukan Pantai Pasir Putih Gondo Mayit di Blitar, awal September 2019. Seperti apa jalannya kegiatan tersebut?

H

ari Minggu, 1 September 2019, terlihat aktivitas padat di Pantai Gondo Mayit, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Di hari itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar bersama Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blitar dan kelompok masyarakat penggiat lingkungan tengah melakukan kegiatan menanam bibit tanaman cemara udang. Hal itu merupakan aktivitas mereka untuk menghijaukan kawasan pesisir pantai yang terkenal dengan pasir putih itu. Pantai Pasir Putih yang dikenal oleh masyarakat Blitar dengan nama Pantai Gondo Mayit itu adalah kawasan hutan setempat (KPS) wilayah kawasan hutan Perhutani KPH Blitar yang secara administratif terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Lokasi

86 DUTA Rimba

Pantai Gondo Mayit itu tidak terlalu jauh dari Pantai Tambakrejo. Tepatnya, pantai ini terletak di sisi timur Pantai Tambakrejo. Bupati Blitar, Rijanto, berkesempatan hadir di dalam acara penghijauan pantai berpasir putih itu. Turut hadir dalam kegiatan penanaman bibit tanaman cemara udang tersebut adalah Kepala Desa Sumberboto, perwakilan dari Dinas Pariwisata Budaya Olah Raga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Wonotirto, dan penggiat lingkungan hidup dari Jawa Dwipa, Sahabat Alam, serta masyarakat di desa Tambakrejo. Bupati Blitar, Rijanto, dalam sambutannya di hari itu menyampaikan, pihak Pemkab Blitar sangat mendukung berjalannya program penghijauan di pesisir pantai tersebut dan mendukung

gerakan pelestarian kawasan pantai untuk hijau kembali. “Gerakan yang diprakarsai oleh penggiat lingkungan Jawa Dwipa ini patut diapresiasi oleh semua pihak, karena mempunyai tujuan mulia untuk melestarikan dan menghijaukan kembali pesisir pantai agar kembali hijau, dengan tanaman yang nantinya dapat dinikmati oleh anak cucu kita semua,” kata Rijanto. Di dalam kegiatan penghijauan pantai berpasir putih tersebut, Bupati Blitar, Rijanto, secara simbolis menanam tanaman cemara udang. Hal itu sebagai tanda dimulainya gerakan menanam di pesisir pantai pasir putih Gondo Mayit. Selanjutnya, lebih dari 250 bibit tanaman cemara udang ditanam dalam kegiatan pelestarian di pesisir pantai tersebut di hari itu. Sementara itu, Administratur Perhutani KPH Blitar, Aries Indra Supartha, mengatakan, pihaknya juga sangat mendukung sekali gerakan pelestarian dan penghijauan kawasan hutan pesisir pantai di wilayahnya. “Semoga kegiatan seperti ini dapat berjalan terus dan bersinergi bersama Dinas terkait,” ujarnya.

Nama yang Sangat Mistis Saat pertama mendengar namanya, orang pasti segera mengatakan betapa pantai pasir putih di Kabupaten Blitar ini memiliki nama yang sangat mistis. Juga seram. Ya, karena dalam bahasa Jawa, Gondo Mayit memiliki arti bau mayat. Seram memang, tetapi sebenarnya ini adalah nama sebuah pantai yang sangat indah. Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa pantai indah berpasir putih ini bisa memiliki nama yang menyeramkan. Hal itu karena konon di pantai ini pernah ditemukan banyak mayat, sehingga tercium bau mayat

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Kompers KPH Blitar

di sekitar pantai. Selain itu juga terdapat pesanggrahan di pantai yang dipercaya merupakan tempat persinggahan Nyi Roro Kidul. Namun, hal itu hanyalah sebuah cerita sejarah di masa lalu. Menyandang nama yang sangat mistis ternyata tak membuat Pantai Gondo Mayit menjadi kurang populer apalagi lalu menyembunyikan keindahannya. Bahkan, Pantai Pasetran Gondo Mayit adalah salah satu lokasi wisata pantai di Blitar yang masih bersih dan alami dengan pemandangan yang memesona. Pantai ini memiliki pasir putih yang landai. Sehingga, Pantai Gondo Mayit sangat pas untuk dijadikan sebagai tempat wisata keluarga. Pasir putihnya sangat bersih, tanpa karang dan tidak ada sampah. Pantai ini masih sangat perawan. Hal itu terbukti dengan masih jarang wisatawan yang datang berkunjung. Tetapi, tak dapat dimungkiri bahwa Pantai Gondo Mayit menyimpan keindahan alam yang sangat luar biasa. Perpaduan alam yang asri berkolaborasi dengan pemandangan

pantai yang bersih menjadikan pantai ini terlihat sangat menawan. Air laut di Pantai Gondo Mayit sangat bening, mengundang Anda untuk terjun menikmati sejuk air dan hempasan ombaknya. Bibir Pantai Gondo Mayit yang tidak cukup dalam membuat bentuk ombak yang menyentuh bibir pantai itu pun terlihat memanjang dengan tampilan yang sangat indah.

Topi atau Payung Berada di sebelah selatan Pulau Jawa membuat Pantai Gondo Mayit termasuk gugusan pantai yang dianugerahi Tuhan memiliki ombak yang cukup besar. Mungkin baru ombak tersebut satu-satunya yang bisa menjadi daya tarik Pantai Gondo Mayit, selain kealamiannya. Maka tak heran jika sebagian besar pengunjung yang datang ke sana adalah surfer atau peselancar yang ingin mencoba ganasnya ombak. Akan tetapi, tidak jarang juga pengunjung yang hanya ingin bermain di pinggir pantai saja. Jika datang ke Pantai Gondo Mayit ketika siang hari, Anda perlu

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

memersiapkan topi ataupun payung. Sebab, suasananya sangat panas. Selain itu, Anda juga harus berhatihati apabila bermain air di pantai ini. Sebab, di pantai tersebut terdapat banyak hewan bulu babi yang bisa melukai Anda. Jika datang di sore hari dan ketika airnya sedang surut, Anda akan mendapatkan pemandangan yang bagus. Aneka pernak-pernik karang akan nampak di permukaan air laut. Pantai ini masih sepi dan alami dibandingkan pantai lainnya di Blitar. Untuk menuju ke lokasi Pantai Gondo Mayit juga tidak sulit. Hanya dibutuhkan waktu sekitar satu jam dari Kota Blitar. Ikuti saja petunjuk ke Kedemangan dan Tulungagung sampai di pertigaan jembatan Kedemangan belok kiri mengikuti petunjuk ke Tambakrejo. Sampai di pertigaan terakir sebelum Pantai Tambakrejo belok kiri sekitar 1 km kanan jalan terdapat kampung. Masuk ikuti jalan utama sampai didepan gapura ada papan petunjuk ke Pantai Pasetran Gondo Mayit. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 87


wisatarimba

Warna-warni di Taman Bunga

Puncak Kalang Mayoritas wilayah kerja Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Garut merupakan hutan lindung. Namun hal itu tak menyurutkan mereka untuk selalu mencari terobosan baru dalam rangka meningkatkan pendapatan. Caranya antara lain dengan terus menggali potensi wisata alam yang mereka miliki. Salah satunya yang kini sedang mereka kembangkan adalah wisata Taman Bunga Puncak Kalang. Keberadaan Taman Bunga Puncak Kalang memang terbilang baru, karena baru mulai dibuka pada November 2018. Tetapi, obyek wisata ini kini sudah mulai dikenal dan didatangi banyak wisatawan dari luar Garut, semisal Bandung, Tasikmalaya, bahkan Jakarta

W

isata Taman Bunga Puncak Kalang terletak di Petak 33b Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Wanaraja, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Cibatu, KPH Garut. Secara administratif, Puncak Kalang termasuk wilayah Kampung Patrol, Desa Cinta, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Obyek wisata alam Taman Bunga Puncak Kalang menyajikan pemandangan indah yang penuh warna-warni, karena tepat berada di kaki Gunung Candramerta, Garut. Wana wisata ini memiliki luas tanah 7 Hektare. Berada di wilayah Garut Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya, lokasi wana wisata Taman Bunga Puncak Kalang mempunyai jarak tempuh kira-kira

88 DUTA Rimba

25 kilometer dari Kota Garut. Satu hal yang menarik dari obyek wisata alam Taman Bunga Puncak Kalang adalah wana wisata ini menawarkan pemandangan alam yang alami, penuh pesona, asri, serta dihiasi warna-warni bunga aneka jenis. Tanaman bunga-bungaan yang beraneka jenis itulah yang membawa indahnya suasana pesona wana wisata yang juga menghadirkan aroma khas alam pegunungan itu. Secara resmi, Wana Wisata Taman Bunga Puncak Kalang dilaunching tanggal 27 Mei 2019 oleh Administratur Perhutani KPH Garut, Nugraha. Namun, kendati masih cukup baru sebagai sebuah obyek wisata, Puncak Kalang relatif cukup mendapat apresiasi dari masyarakat Kabupaten Garut dan luar daerah. Apalagi, untuk menuju lokasinya, aksesnya juga mudah dan tidak terlalu jauh. Rata-rata, hanya

butuh waktu satu setengah jam perjalanan darat, atau bisa ditempuh mengunakan roda dua ataupun roda empat, dari pusat kota Garut. Yang menarik, tempat wisata alam itu ditata dan dikembangkan sesuai nuansa Sunda. Selain itu, sisi menarik lain adalah karena obyek wisata Taman Bunga Puncak Kalang juga menampilkan rangkaian informasi tentang tanaman bunga yang ada di sana. Sehingga, saat berwisata di Puncak Kalang, para pengunjung dapat menikmati nuansa alam serta mendapatkan nilai edukasi. Sebab, di Puncak Kalang para pengunjung akan mengenal beraneka jenis bunga, baik spesiesnya maupun marganya.

Kerja Sama LMDH Mewakili Administratur Perhutani KPH Garut, Asisten Perhutani (Asper) Cibatu, Yaya

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Jajang Saepul/KPH Garut

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 89


wisatarimba Sunarya, menjelaskan, saat ini Puncak Kalang masih terus berbenah. Tetapi sudah ada beberapa fasilitas yang tersedia di Taman Bunga Puncak Kalang. Di antaranya adalah camping ground, arena permainan anak dan tempat selfie yang menyajikan latar belakang alam. Semua fasilitas itu seakan menyatu dengan keindahan pemandangan hutan yang hijau dan rimbun. Ragam warna-warni itulah yang dapat menyegarkan mata pengunjung. Papan informasi yang sudah terpasang di sepanjang jalan menuju lokasi juga cukup informatif. Sebab, papan itu sudah dilengkapi dengan penjelasan tentang wisata alam dan fasilitas yang ada di sana. Di kesempatan itu, Yaya Sunarya juga menjelaskan, pengelolaan Puncak Kalang saat ini juga diupayakan profesional. Untuk mengejar aspek profesionalisme itulah, pihaknya menjalin kerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Kelompok Tani Hutan (KTH). “Wisata alam ini dikerjasamakan dengan LMDH Cinta Hutan dan KTH Puncak Kalang. Di dalam kerja sama tersebut, pendapatan yang diperoleh Perhutani KPH Garut dari lokasi wisata ini dibagi sesuai proporsi masing-masing sesuai Perjanjian Kerja Sama (PKS),” ujarnya. Sementara itu, Ketua LMDH Cinta Hutan, Ade Diat, menyatakan, dibukanya lokasi wisata alam Puncak Kalang ini memberikan tambahan pendapatan bagi warga sekitar. Tambahan pendapatan itu yaitu dari penjualan cindera mata (souvenir) dan makanan khas Garut. Di kesempatan itu, ia juga mengajak warga masyarakat untuk ikut memelihara dan menjaga lokasi wisata tersebut, serta terus mengembangkan fasilitas yang diperlukan, sehingga wisata Puncak

90 DUTA Rimba

Kalang menjadi kian maju dan berkembang. “Saya minta agar fasilitas yang ada ini terus dipelihara dan dirawat dengan baik. Kalau bisa terus ditambah fasilitas-fasilitasnya tetapi tidak mengesampingkan fungsi hutan,” ujarnya. Menurut Manager Operasional Wisata Taman Bunga Puncak Kalang, Undang Sudrajat, obyek wisata alam Taman Bunga Puncak Kalang baru beroperasi sekitar 1 tahun lalu. Sejak satu tahun lalu itu pula, operasional Puncak Kalang berada di bawah CV Sugih Sadaya – KTH (Kelompok Tani Hutan). Undang mengatakan hal itu didampingi oleh Pasa dan Alip yang merupakan perwakilan Pengurus CV Sugih Sadaya – KTH (Kelompok Tani Hutan). “Ada beberapa wahana yang kami tawarkan di obyek wisata Puncak Kalang ini selain dari Taman Bunga. Misalnya ada Spot selfie, Rumah Pohon, Bebecek Sawah, dan Bobo Sikabayan, serta air pancuran. Itu semua kami rancang kental dengan nuansa etnis Sunda,” ujarnya. Lebih lanjut ia menyampaikan, bagi wisatawan yang suka kegiatan kemping, telah tersedia wahananya yaitu camping ground. Begitu juga bagi yang menyukai offroad, sudah ada track-nya. Ia juga berharap nantinya akan ada campur tangan dari pihak Pemkab Garut, sehingga ada kolaborasi yang bisa dijalin demi memajukan obyek wisata di Kabupaten Garut. “Insya Allah ke depannya juga akan dibangun wahana outbond.

Itu semua kami sajikan untuk memanjakan para pengunjung,” katanya. Sedangkan Camat Karangtengah, Hj. Eti Nurul Hayati, menyatakan, pihaknya mengapresiasi sekali keberadaan Wana Wisata Taman Bunga Puncak Kalang. Sebab, selama ini Kecamatan Karangtengah tidak begitu dikenal oleh banyak orang. Maka, keberadaan Puncak Kalang akan dapat memerkenalkan Kecamatan Karangtengah, sekaligus menambah alternatif tujuan wisata daerah. “Mudah –mudahan dengan adanya objek wisata alam ini akan sangat memberi dampak positif sekali. Ke depannya Kecamatan Karangtengah akan dikenal dan dikenang dengan pemandangan yang indah, sejuk, dan masih original alamnya tanpa polusi. Kami pun berharap objek wisata alam ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya, terutama menumbuhkan home industry atau hasil-hasil keterampilan kelompok warga masyarakat dan menjadikan lahirnya banyak ikon kuliner bagi wisatawan,” tuturnya.

Akses Mudah Akses menuju lokasi obyek wisata alam ini memang mudah. Tetapi, untuk menuju tempat wisata ini, pengunjung harus mengendarai kendaraan yang stabil. Sebab, kondisi jalan yang menuju lokasi obyek wisata alam itu turun-naik, walaupun kondisi jalan tersebut memang sudah mulus dan diaspal. Hanya ada

Beberapa wahana yang kami tawarkan di obyek wisata Puncak Kalang ini selain dari Taman Bunga. Misalnya ada Spot selfie, Rumah Pohon, Bebecek Sawah, dan Bobo Sikabayan, serta air pancuran. Itu semua kami rancang kental dengan nuansa etnis Sunda. NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Jajang Saepul/KPH Garut

sedikit badan jalan yang becek akibat tergenang air jika hujan baru saja turun melanda, yaitu di jalan sebelum tanjakan Ragadiem. Taman Bunga Puncak Kalang memang terbilang baru dibuka. Tetapi pengunjungnya telah banyak. Bahkan tak sedikit pengunjung yang datang berkali-kali, menikmati keindahan alam Taman Bunga Puncak kalang di kaki Gunung Candra Merta itu. Setiap hari libur, tempat wisata alam Taman Bunga Puncak Kalang yang terletak di Desa Cinta ini selalu dikunjungi wisatawan domestik dari berbagai daerah. Terutama kalangan remaja. Kemudahan akses memang menjadi daya tarik utama Puncak Kalang. Tetapi, ada beberapa bagian jalan yang harus dilalui dengan hatihati. Bukan karena akses jalan yang buruk, tetapi karena medan yang berkelok. Misalnya saat memasuki jalur menuju tempat wisata itu dari Pasar Sukawening, menyusuri jalan menanjak dan banyak tikungan. Bagi pengendara yang baru kali pertama menggunakan jalur jalan itu, mereka harus ekstra hati-hati. Betapa tidak.

Selain dihadapkan pada kondisi jalan yang turun-naik, juga lebar jalan yang sempit. Jika dua kendaraan roda empat berpapasan di tikungan, salah satunya harus mengalah dan berhenti, lalu memberi jalan kepada pengendara lainya. Ketika memasuki persimpangan Patrol–Cimasuk, banyak wisatawan yang mendadak menghentikan kendaraannya. Sebab, kondisi jalan di tempat itu yang menanjak dan menikung. Namun, bagi pengendara yang sudah terbiasa menggunakan jalan itu, kondisi seperti itu tak ada masalah. Justru sebaliknya, hal itu akan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk dapat menguji keterampilan dalam mengendarai kendaraan melintasi jalan dengan kondisi medan yang seperti itu. Camat Karangtengah, Hj. Eti Nurul Hayati, mengungkapkan, kondisi jalan yang menuju tempat wisata Taman Bunga Puncak Kalang memang menanjak dan banyak tikungan. Maka, jika tak berani melintasi tanjakan di Persimpangan Cimasuk-Patrol dekat Desa Cinta, pengendara yang ingin mengunjungi lokasi wisata tersebut bisa menggunakan jalur Jalan Cimasuk

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

yang tanjakannya agak ringan. “Bagi pengendara yang baru pertama kali menggunakan jalur jalan menuju Tempat Wisata Taman Bunga Puncak Kalang, pasti ragu-ragu melihat kondisi jalan menanjak dan menikung. Padahal bila dilintasi, jalur jalan tersebut aman selama kondisi kendaraanya stabil. Apalagi kondisi jalan sudah mulus beraspal,” katanya. Menyimak tren banyaknya pengunjung yang datang kendati baru mulai dibuka, tak salah kiranya jika dikatakan Tempat Wisata Desa Taman Bunga Puncak Kalang ini diyakini bakal berkembang pesat dan ramai dikunjungi wisatawan. Apalagi, karena dikelola oleh pengusaha maka diharapkan pengelolaannya akan lebih profesional, ketimbang ditangani langsung oleh Perhutani. Penataan dan penambahan sarana serta prasarana di obyek wisata ini pun terus dilakukan. Hal itu menjadi hal yang sangat niscaya untuk memanjakan wisatawan yang berkunjung. Jika trennya terus menanjak, Taman Bunga Puncak Kalang akan menjadi salah satu obyek wisata alam terdepan. Bukan hanya di Jawa Barat, tetapi juga di Indonesia. Cag! • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 91


inovasi

Dari Saradan, Silvopastura Sapi

Dikembangkan Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah sudah mencanangkan tekad untuk mencapai kedaulatan pangan. Di dalam proses mencapai kedaulatan pangan itu, semua pihak di berbagai lokasi diimbau untuk turut serta mengembangkan pertanian pangan. Pengembangan tanaman pangan itu perlu dilakukan di semua jenis, salah satunya dengan pola tumpangsari di kawasan hutan. Kini, ada pola lain pengembangan upaya ketersediaan pangan yaitu dengan pola silvopastura. Di Saradan, Perhutani aktif mengembangkan silvopastura itu dengan ternak sapi sebagai komponen utamanya.

S

ebuah inovasi sebagai terobosan baru datang dari Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Saradan. Awal September 2019, Perhutani KPH Saradan resmi menjalin kerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Joyo Kusumo, Desa Klino, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, untuk mengembangkan usaha Silvopastura berupa ternak sapi kereman (dipelihara dengan selalu dikandangkan). Kegiatan Silvopastura tersebut dikembangkan di kawasan hutan seluas 10 hektare pada Petak 163, Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Klino, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Tulung, KPH Saradan, dengan sistem plong-plongan. Bentuk usaha Silvopastura yang dikerjasamakan itu adalah agroforestri yang menggabungkan kegiatan

92 DUTA Rimba

kehutanan dan peternakan. Wujudnya berupa pembuatan kandang ternak sapi yang terletak pada plong yang telah ditentukan seluas 8 meter dan untuk plong tanaman kehutanan selebar 17 meter. Sedangkan untuk pakan ternak berupa hijauan rumput gajah ditanam pada lahan yang terdapat di bawah tegakan. Administratur Perhutani KPH Saradan, Noor Rochman, menyampaikan, sebelumnya Perhutani dan LMDH Wono Joyo Kusumo telah melakukan penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding/Nota Kesepahaman) Silvopastura untuk mengembangkan ternak Sapi Kereman. Penandatangan perjanjian itu disaksikan oleh Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bojonegoro dan Kepala Desa Klino. Ia menambahkan, berdasarkan hasil

dari beberapa kajian, usaha ternak sapi sangat cocok untuk dikembangkan di kawasan hutan dengan sistem plong-plongan. “Saat ini sedang kita membahas tentang teknik pengelolaan dan manajemennya,” kata Noor Rochman. Noor Rochman menambahkan, pembahasan tentang teknik pengelolaan tersebut akan segera ditelurkan dalam bentuk tertulis. Sehingga, masing-masing pihak akan segera mendapatkan manfaatnya. “Secepatnya kita akan buat draft Perjanjian Kerjasama (PKS)-nya, agar usaha Silvopastura ini segera mendatangkan keuntungan untuk kedua belah pihak,” tuturnya. LMDH Wono Joyo Kusumo merupakan binaan Perum Perhutani KPH Saradan. Usaha ternak sapi yang dikelola LMDH Wono Joyo Kusumo tersebut bernama “Karya

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Suwarno / KPH Saradan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

DUTA Rimba 93


Unggul”. Ternak sapi “Karya Unggul” dibentuk tahun 2008 dan diketuai oleh Ma’ruf Bastian. Sementara itu, saat ditemui di rumahnya, Ma’ruf Bastian mengatakan, kelompok usaha ternak sapi “Karya Unggul” yang ia pimpin itu awalnya beranggotakan 8 orang dengan jumlah sapi sebanyak 10 ekor. Sekarang jumlahnya telah bertambah menjadi 20 orang anggota dengan 92 ekor sapi. Ma’ruf juga mengatakan, jenis sapi yang dipelihara kelompoknya merupakan sapi jenis lokal (PO), Limousine, dan Simmental. “Pada tahun 2011, kelompok kami mendapatkan bantuan sapi dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sebanyak 46 ekor. Dan di tahun 2016, kami meraih juara I lomba ternak sapi kereman tingkat Kabupaten Bojonegoro,” kata Ma’ruf. Lebih lanjut, Ma’ruf pun berharap, dengan adanya kerja sama ternak sapi antara KPH Saradan dengan LMDH Wono Joyo Kusumo ini akan dapat membawa perubahan untuk perekonomian masyarakat sekitar hutan. Sehingga, taraf ekonomi masyarakat dapat meningkat. “Sehingga hutannya lestari, masyarakat sejahtera,” tutupnya.

Satu Lahan Banyak Usaha Silvopastura merupakan salah satu turunan dari kegiatan agroforestri. Agroforestri sendiri merupakan sebuah sistem yang berhubungan dengan sistem pemanfaatan lahan, dimana pohonpohon ditumbuhkan berasosiasi dengan tanaman pertanian, makanan ternak, atau padang penggembalaan. Asosiasi ini dapat dalam waktu, semisal rotasi rotasi antara pohon dan komponen lainnya, atau dalam dimensi ruang dimana komponen ditumbuhkan secara bersama-sama di lahan yang

94 DUTA Rimba

Foto : Suwarno / KPH Saradan

inovasi

Silvopastura adalah kombinasi dari padang rumput atau makanan ternak dengan pohonpohon tanaman keras. Tujuannya adalah melakukan pengelolaan lahan hutan untuk memroduksi hasil kayu sekaligus untuk memelihara ternak. sama. Di dalam sistem tersebut, hal-hal yang dipertimbangkan antaralain adalah yang berkaitan dengan aspek-aspek ekologi dan ekonomi dalam interaksi antara pohon dan komponen lainnya. Berdasarkan kombinasi komponen pohon, tanaman, padang rumput, makanan ternak, dan komponen yang terdapat di dalam satu lahan yang dikembangkan dalam sistem agroforestri itu, ada beberapa

klasifikasi agroforestri itu. Klasifikasi tersebut antara lain adalah agrosilvikultur, silvopastura, agrosilvopastura, dan sistem lain yang antara lain meliputi silvofishery (pohon dan ikan), aviculture (pohon dan lebah), dan sericulture (pohon dan ulat sutera). Agrosilvikultur adalah campuran tanaman dan pohon, dimana lahan tersebut digunakan untuk melakukan proses produksi hasil-hasil pertanian dan kehutanan. Pola yang digunakan biasanya adalah pola tumpangsari, dengan kombinasi tanaman hutan dan tanaman-tanaman pertanian semisal jagung, padi, dan lain-lain. Silvopastura adalah kombinasi dari padang rumput atau makanan ternak dengan pohon-pohon tanaman keras. Tujuannya adalah melakukan pengelolaan lahan hutan untuk memroduksi hasil kayu sekaligus untuk memelihara ternak. Agrosilvopastura merupakan tanaman, padang rumput atau makanan ternak, dan pohon di satu lahan hutan. Artinya, pengelolaan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto : Suwarno / KPH Saradan

satu lahan hutan untuk memroduksi hasil-hasil tanaman pertanian dan kehutanan secara bersamaan, dan sekaligus memelihara hewan ternak. Berdasarkan fungsi dari pohon, sistem agroforestry memiliki fungsi utama sebagai lahan produksi dan konservasi. Fungsi produksi meliputi ketersediaan makanan, pakan ternak, bahan bakar, obat, dan uang. Fingsi konservasi atau perlindungan meliputi fungsi-fungsi perbaikan tanah, perlindungan, dan nilai-nilai spiritual.

Kedaulatan Pangan Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Republik Indonesia sudah mencanangkan tekad untuk mencapai kedaulatan pangan. Menurut definisi ilmiah, kedaulatan pangan merupakan hak seseorang atau suatu kelompok untuk mendefinisikan sistem pangan untuk diri mereka sendiri. Artinya, kedaulatan pangan pada prinsipnya menempatkan individu – bukan korporasi atau institusi pasar –

sebagai pemeran utama dalam memroduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi pangan di tengah pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan tentang pangan. Pangan sendiri merupakan kebutuhan dasar yang utama bagi manusia, yang setiap saat harus dipenuhi. Kedaulatan pangan berbeda dengan prinsip ketahanan pangan dan kebijakan penyediaan pangan yang dominan secara global. Kebijakan ketahanan pangan lebih menekankan pada akses pangan bernutrisi yang mencukupi untuk semua, dan dapat disediakan baik melalui proses produksi di dalam negeri maupun dengan cara impor. Di dalam proses mencapai kedaulatan pangan, semua pihak di berbagai lokasi diimbau untuk turut serta untuk mengembangkan pertanian pangan. Pengembangan tanaman pangan dilakukan di semua jenis, termasuk dengan pola tumpangsari di lahan hutan. Pola tumpangsari

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

menjadi pilihan untuk mendukung perwujudan kedaulatan pangan, karena dengan pola tersebut produksi tanaman pangan semisal jagung, kedelai, dan padi bisa meningkat. Sebab, dengan pola tumpangsari, tanaman pangan tidak hanya ditanam di lahan yang memang khusus untuk tanaman pangan tersebut, tetapi juga ditanam di lahan perkebunan atau kehutanan. Artinya, luasan areal produksi tanaman pangan bertambah dengan adanya pemanfaatan lahan hutan, sehingga membuat produksinya pun meningkat. Perhutani sebagai sebuah entitas sudah mencoba merintis terwujudnya kondisi ke arah kedaulatan pangan itu. Artinya, Perhutani mencoba melakukan pemenuhan produksi pangan untuk masyarakat desa di sekitar hutan dari lahan hutan yang dimiliki Perhutani sendiri. Sebab, kalau bicara tentang kedaulatanpangan, yang terpenting adalah ketersediaan produknya, masyarakat bisa menikmati, dan harganya cukup stabil. Kalau hal itu yang terjadi, maka stok pangan tidak boleh kurang. Ketersediaan stok bahan pangan itulah yang coba dipenuhi Perhutani antara lain dengan pengembangan teknik dan sistem silvopastura ini. Sebab, usaha ternak sapi dipandangan sebagai usaha pengembangan produk pangan yang sangat cocok untuk dikembangkan di kawasan hutan dengan sistem plong-plongan. Langkah telah terayun. Perhutani akan terus mengayunkan langkah itu. Kini, sebuah inovasi pun bergulir. Sistem silvopastura pun akan terus dikembangkan. Rangkaian kerja sama pun terus dijalin. Ujungnya, tentu saja agar kondisi “hutannya lestari, masyarakatnya sejahtera” dapat terwujud. • Tim Kompersh Kanpus

DUTA Rimba 95


pojokkph

Perhutani KPH Kendal Jadi Rujukan Asosiasi Mesin Industri Kehutanan China

A

da aktivitas menarik yang dilakukan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kendal pertengahan Oktober 2019. Pada Kamis, 13 Oktober 2019, Perhutani KPH Kendal menerima kunjungan kerja dari China National Forestry Machinery Assosiation (CNFMA). Kehadiran perwakilan CNFMA itu ke Kendal karena mereka ingin melihat secara langsung bagaimana pengelolaan kawasan hutan tanaman Jati yang dikelola oleh Perum Perhutani, khususnya di Kendal. Tamu dari Asosiasi Mesin Industri Kehutanan Nasional China tersebut adalah Mr Wei Jian dan Mrs Coulie. Mereka didampingi oleh Tim HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia). Kunjungan tersebut disambut baik oleh Administratur KPH Kendal, Herdian Suhartono. “Merupakan kehormatan bagi KPH Kendal telah dikunjungi oleh Asosiasi Mesin Industri Kehutanan China yang bertaraf Internasional, sehingga Perum Perhutani mempunyai citra yang baik di mata dunia internasional, dan diharapkan ke depan dapat menjalin hubungan kerja sama yang semakin baik,” ujarnya. Di Kendal, tamu dari CNFMA dan HIMKI tersebut melihat secara langsung proses pembuatan Persemaian Jati untuk persiapan tanaman tahun 2019, tepatnya di Petak 15g. Mereka juga menyaksikan

96 DUTA Rimba

Pengelolaan kawasan hutan tanaman jati yang dilakukan Perum Perhutani masih menjadi unggulan. Setidaknya hal itu ditunjukkan dengan kedatangan delegasi dari China National Forestry Machinery Assosiation (CNFMA) ke kawasan hutan tanaman jati di KPH Kendal. Kehadiran mereka dalam rangka melakukan kunjungan kerja, dengan tujuan ingin melihat secara langsung pengelolaan kawasan hutan tanaman Jati yang dikelola oleh Perhutani, khususnya di Kendal. Seperti apa jalannya kegiatan tersebut? teresan pohon Jati Tahun 2019 di Petak 21b tahun tanam 1958, wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Darupono, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Boja, untuk Rencana Tebangan A2 (Tebangan Habis) Tahun 2021.

Kawasan Hutan KPH Kendal Perhutani KPH Kendal, secara administratif, berbatasan dengan sejumlah wilayah. Di sebelah utara, wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa. Di sebelah timur, berbatasan dengan wilayah Kodya Semarang (KPH Semarang). Di sebelah selatan, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Temanggung (KPH Kedu Utara). Dan di sebelah barat, bernbatasan dengan wilayah Kabupaten Batang (KPH Pekalongan Timur). Perum Perhutani KPH Kendal merupakan salah satu KPH pengelola hutan di Pulau Jawa berada dalam lingkup Perusahaan

Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani) Divisi Regional Jawa Tengah. KPH Kendal mengelola kawasan hutan dengan luas wilayah sebesar 20.300,58 Hektare. Kantor Perhutani KPH Kendal berkedudukan di Jalan Sukarno – Hata Nomor 322, Kecamatan Kendal Kota, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Di dalam mengelola hutan di wilayah kerjanya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 72 tahun 2010, dilakukan dengan arah untuk mendukung pembangunan nasional dengan pola asas lestari, maka Perhutani KPH Kendal dalam pelaksanaan kegiatan diawali dengan perencanaan yang tertuang dalam RPKH, RKL, RPL, Renstra PHBM, RUT, RTT dan lainnya yang telah melalui berbagai kajian teknis (Kelestarian, Lingkungan, Keamanan), serta dilakukan monitoring dan evaluasi. Status tata guna lahan hutan KPH Kendal adalah

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


Foto: Mulyantoko/KPH Kendal

hutan produksi tetap berdasarkan BATB (Berita Acara Tata Batas) tahun 1926 – 1927 dan BATB tahun 1937. Kawasan hutan KPH Kendal dikelilingi oleh tanah milik (lahan pertanian dan pemukiman) serta tanah negara (lahan perkebunan dan bekas perkebunan). Sebanyak 9,04 % kawasan hutan KPH Kendal berada pada daerah aliran sungai (DAS) dengan sungai-sungai penting antara lain DAS Lampir seluas 36.661 Hektare

(Kalikuto, Kalilampir, Kalipetung), DAS Blukar seluas 28.698 Hektare (Kaliblukar, Kalidamar, Kaliseneng), DAS Bodri 68.356 Hektare (Kalibodri, Kalilogung), DAS Blorong 26021 Hektare (Kaliblorong, Kaliglagah), DAS Sambong 13.134 Hektare (Kalisambong), DAS Boyo 18.855 Hektare ( Kaliboyo, Kalikitiran) DAS Urang 18.412 Hektare (Kaliurang, Kaliprigi), DAS Mangkang 12.121 Hektare (Kalikreyo, Kalibesole). Kawasan hutan tersebut dengan

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019

kepekaan erosi rendah serta sedimentasi kurang dari 2-5 mm/Th (kategori baik).

Kondisi Sumber Daya Hutan Wilayah kerja Perhutani KPH Kendal mencakup 82 desa hutan dari 711 desa/kelurahan yang berada di Kodya Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Batang. Kondisi sosial ekonomi ketiga wilayah daerah tingkat II tersebut telah dikerjasamakan dengan dibuatkan

DUTA Rimba 97


Foto: Mulyantoko/KPH Kendal

pojokkph

perjanjian bersama pengelolaan lahan di bawah tegakan, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Kawasan hutan Perhutani KPH Kendal memiliki luas 20.300,58 Hektare. Lahan seluas itu terdiri dari 16.451,13 Hektare (81,10%) kawasan produksi, areal bukan untuk produksi seluas 3.841,70 Hektare (18,90 %). Pada kawasan produksi, terdapat kawasan hutan jati produktif seluas 15.418,98 Hektare, yang di antaranya dikelola bersama masyarakat untuk ditanami tanaman pertanian sistem tumpangsari. Kawasan lindung berupa Kawasan Perlindungan Setempat (KPS: 2.781,10 Hektare) terdiri sempadan sungai, sempadan pantai, dan tempat khusus. Beberapa obyek KPS diarahkan sebagai hutan lindung terbatas (sempadan sungai, sempadan pantai, alas roban, kawasan perlindungan tanah, curug sewu dan Goa Kukulan). Sedangkan lainnya sebagai lahan dengan tujuan istimewa (LDTI) terdiri mata air, Bumi Perkemahan, Arboretum, Makam, Goa Kiskendo, Petilasan (situs) dan Hutan Penelitian. Wilayah KPH Kendal termasuk dalam tipe iklim tropika basah (tipe A / Borema) dengan kisaran suhu

98 DUTA Rimba

udara berkisar pada 22o C - 33o C dan curah hujan rata-rata 1.786 mm. Tinggi tempat 0 m – 534 m dengan topografi landai hingga bergelombang. Bahan induk batuan berupa endapan liat, tufvolkan intermedier (latosol), batuan endapan dan volkan, tufvolkan dan napal serta tuf volkan intermedier (mediteran). Tekstur tanah sedang hingga liat, struktur tanah remah hingga bergumpal, mempunyai pH 4.5–6.5, kandungan organik top soil 3–10 %, daya absorbsi 15–25 cm/dt. Selain itu, kawasan hutan produksi di Perhutani KPH Kendal mempunyai ciri utama vegetasi jenis jati dengan pengayaan jenis lainnya, yaitu mahoni, kesambi, mangium, johar, sono, salam, tepus, secang, aren, duwet, ploso, lamtoro. Selain jenis tersebut, dikenal juga jenis tanaman palawija dan semak belukar. Sedangkan satwa liar yang hidup dan ditemukan di kawasan hutan Perhutani KPH Kendal di antaranya adalah jenis Aves (burung), Mamalia dan Reptil. Mereka sering ditemukan di hutan produksi dan dilindungi.

Pembagian Kawasan Hutan Secara umum, kawasan hutan yang termasuk wilayah kerja Perhutani KPH Kendal dapat dilihat berdasarkan wilayah administratif

kabupaten, meliputi tiga wilayah kabupaten/kota. Yaitu seluas 13.123,50 Hektare (64,6 %) berada di Kabupaten Kendal, seluas 5.259,78 Hektare (25,9 %) di Kabupaten Batang, dan di Kodya Semarang wilayah kerjanya seluas 1.917,30 Hektare (9,5 %). Berdasarkan Fungsi Pengelolaan Kawasan Hutan, kawasan kerja Perhutani KPH Kendal terdiri dari Kawasan untuk Produksi (16.450,93 Hektare), Kawasan untuk Perlindungan (2.771,20 Hektare), dan Kawasan Penggunaan Lain (1.078,45 Hektare). Jika dilihat Pembagian Kawasan hutan Per Bagian Hutan (3 BH), dapat diklasifikasikan menjadi BH Subah 107 petak (5.259,78 Hektare / 26,1 %), BH Kalibodri 108 petak (8.018,00 Hektare / 39,3 %), dan BH Kaliwungu 86 petak (7.022,80 hektare / 34,6 %). Sedangkan Pembagian Kawasan hutan Per BKPH, terdapat 6 (enam) Wilayah. Keenam wilayah tersebut adalah BKPH Subah (3.373,01 Hektare), BKPH Plelen (1.886,77 Hektare), BKPH Sojomerto (3.765,21 Hektare), BKPH Kalibodri (4.252,79 Hektare), BKPH Mangkang (2.963,51 Hektare), dan BKPH Boja (4.058,29 Hektare). Saat ini, Administratur Perhutani KPH Kendal dijabat oleh Herdian Suhartono. • Tim Kompersh Kanpus

NO. 80 • TH. 13 • september - oktober • 2019


DUTA RIMBA Mengucapkan

SATU

NUSA BANGSA BAHASA

INDONESIA Selamat

Hari Sumpah Pemuda 28 OKTOBER 2019

Profile for Perhutani

MAJALAH DUTA RIMBA EDISI 80  

MAJALAH DUTA RIMBA EDISI 80  

Profile for perhutani
Advertisement