E D. 0 1 | A P R I L 2 0 1 9
gema
G E O LO G I CA L
M AG A Z I N E
O F
PE R H I M AG I
KISAH NEGERI TERAPUNG DI CINCIN API PASIFIK
daftar isi HIGHLIGHT.........................................................................................4 Memahami Potensi dan Sejarah Gempa Bumi Papua Sinabung, Bangkitnya Gunung yang Tertidur Mengenal “Tsunami Air Aki” Gunung Ijen Topalu’e (Tanah yang Terangkat) Misteri Tersembunyi di Karst Sangkulirang Longsor Sukabumi Kembali Merenggut Korban Jiwa
INSPIRASI..........................................................................................32 REGIONAL........................................................................................33 Program Kerja Regional Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Papua
OPINI................................................................................................ 41 Banjir dan Longsor Jayapura : Tata Ruang Berbasis Bencana Jadi Kunci Potensi Bencana Alam di Geopark Ciletuh, Jawa Barat Palangkaraya, Calon Ibukota yang Bebas Gempa Pemasangan Early Warning System untuk Desa Rawan Bencana NYIA: Reduksi Bencana di Tengah Ancaman Tsunami Laut Selatan Jawa PLTP Sarulla Sebagai PLTP Kebanggaan Indonesia
SNEAK PEEK.............................................................................63 SEKILAS PERHIMAGI................................................................71
APRIL 2019 | GEMA
1
Gerhana Prasetya
RISET DAN KONTRIBUSI Najmuddin Haikal Fikri HMG UNPAD
Andhika Nugraha HMTG “PANGEA” UPN
Ghazi Oktavidi HMG UNPAD
Nazwa Khoiratun Hisan HMTG “PANGEA’ UPN
Andi Muhammad Yusril HMG FT-UH
Muhammad Rizky Ramadhan HMTG TADULAKO
HUMAS Alexader P. Doloksaribu HMTG “PANGEA” UPN
Henri Sampe HMTG “PANGEA” UPN
Yosua Chandra Girsang HMTG “PANGEA” UPN
LAYOUT DAN DESIGN Sofia Salsabila HMTG “DR.BUMI’ UNSOED
Nanda Budrianto HMTG “GAIA” IST AKPRIND
Prianda Kea Setiawan HMTG “MENGKARANG” UNJA
Ayudhea Nanda Prameswari HMTG “MENGKARANG” UNJA
Dhofaeri Wildan HMTG “DR.BUMI’ UNSOED
Evi Melinasari HMTG “DR.BUMI’ UNSOED
FOTO COVER Aldha Aulia Pangestu HMTG “DR.BUMI’ UNSOED
SEKRETARIS JENDERAL PERHIMAGI 2018/2019
Salam Geologi! Jayalah PERHIMAGI!
Chalik Rifky Daeng Taha
DEWAN PENGAWAS ORGANISASI
Salam Geologi! Jayalah PERHIMAGI!
Yohan Ade S . DEWAN PENGAWAS ORGANISASI
Salam Geologi! Jayalah PERHIMAGI!
Wulan Dwi K . A .
HIGHLIGHT Oleh : A. M. Yusril
MEMAHAMI POTENSI DAN BENCANA GEMPA BUMI DI PAPUA
P
apua adalah pulau yang berada di timur wilayah kepulauan Indonesia. Bersama dengan Papua Nugini, pulau ini merupakan pulau terbesar kedua di dunia, sekaligus merupkan pulau yang mempunyai puncak tertinggi di Indonesia, yaitu Puncak Jaya (4.884 mdpl). Papua memiliki keadaan atau struktur geologi yang sangat rumit. Konfigurasi Tektonik pulau Papua pada saat ini berada pada bagian tepi utara Lempeng Australia, yang berkembang akibat Tektonik dan Sesar Aktif di Papua (Sapiie dan Cloos, 2004) adanya pertemuan antara Lempeng Australia yang bergerak ke utara dengan Lempeng Pasifik Mekanisme gempa bumi dapat dijelaskan yang bergerak ke barat. dengan pendekatan teori seperti dalam teori lempeng tektonik. Terdapat dua teori yang Tektonik Papua, secara umum dapat dibedakan menyatakan proses terjadinya atau asal mula menjadi dua bagian, yaitu Badan Burung atau gempa yaitu pergeseran sesar dan teori elastic Papua bagian timur dan Kepala Burung atau Papua rebound. Gerakan secara tiba-tiba sepanjang bagian barat. Kedua bagian ini menunjukkan sesar merupakan penyebab gempabumi yang pola kelurusan barat-timur yang ditunjukan oleh sering terjadi. Tinggian Kemum di Kepala Burung dan Central Range di Badan Burung. Kedua pola ini dipisahkan Beralih ke Papua, seperti yang telah disebutkan oleh jalur Lipatan Anjakan Lengguru berarah sebelumnya bahwa pulau Papua ini sangat rumit baratdaya-tenggara di daerah Leher Burung dan dari sisi tektonik. Hal ini dikarenakan adanya juga oleh Teluk Cenderawasih. benturan lempeng Samudera Pasifik–Lempeng Caroline terhadap tepian lempeng Benua Gempa bumi ialah sebuah guncangan hebat Australia. Benturan miring lempeng lempeng yang menjalar ke permukaan bumi akibat tersebut menghasilkan gerak patahan-patahan pelepasan energi di dalam bumi secara tiba- kombinasi thrusting dan geser di seluruh Pulau tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan Papua meliputi jalur sesar naik Mamberamo batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi di utara Papua, jalur anjak perdataran tinggi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari (the highland thrust belt) Papua Tengah, Sesar pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi Sorong, Sesar Ransiki, Sesar Yapen dan Zone yang dihasilkan dan dipancarkan ke segala Sesar Tarera–Aiduna yang terkonsentrasi di arah berupa gelombang gempa bumi sehingga sekitar Papua Barat, kepala dan leher burung efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan Papua (Irsyam et al., 2010). bumi.
5
Melihat tatanan tektonik Papua yang rumit, maka tentu saja aktivitas tektonik dalam hal ini gempa bumi di Papua cukup tinggi. Bisa dikatakan bahwa gempabumi di wilayah Papua adalah akibat tumbukan atau ‘pertarungan’ lempeng Pasifik dengan lempeng Australia. Aktivitas kegempaan di wilayah Papua ini lebih banyak dikontrol oleh kegiatan sesar-sesar aktif yang merupakan salah satu indikasi bahwa kondisi penunjaman lempeng (subduksi) di Papua tidak terlalu dalam.
ini bergerak mendatar dan telah bergeser sepanjang 350 km. Gempa bumi yang pernah terjadi salah satunya Gempa Yapen pada 16 Juni 2010 dengan kekuatan 7,1 SR yang menewaskan 17 orang. Serta pada 4 Januari 2009 terjadi pula gempabumi Manokwari berkekuatan 7.6 SR dengan kedalaman sekitar 35 km.
Papua Nugini. Sebaran kedalaman gempabumi umumnya menengah berkisar antara 60 km hingga 200 km. Dengan kecepatan gerak relatif lempeng Pasifik yang sekitar 120 mm/tahun, maka bisa diterka bahwa wilayah ini mempunyai potensi bencana gempabumi yang besar. Hal ini didukung dengan data bahwa di daerah ini sudah sangat sering terjadi gempabumi besar di masa yang lalu. Misalnya gempabumi yang disertai tsunami di Biak pada tanggal 17 Februari 1996 dengan kekuatan 8,2 SR pada kedalaman 33 km yang memakan korban ratusan jiwa.
gempabumi pada tanggal 4 September 1989 dengan kekuatan 6,1 SR berjarak sekitar 48 km dari lokasi penambangan PT. Freeport Indonesia.
Sesar Sorong memiliki panjang 2.500 km (Tjia, 1973) dimulai dari Sulawesi Tengah melewati Sula dan Banggai, Salawati, Sorong, Teluk Cenderawasih, Yapen, daratan Papua, sampai Wewak dengan lebar bervariasi dari ratusan meter sampai 10 km, (Pieters dkk., 1985). Sesar
Sumber gempa bumi lainnya di daerah Papua adalah zona sumber gempa bumi yang berkaitan dengan aktivitas kerak bumi dangkal (shallow crustal) di Central Range yang disebabkan oleh aktivitas pegunungan Jaya Wijaya. Sejarah kegempaan yang berkaitan dengan aktivitas
Selanjutnya sesar Tarera-Aiduna yang membujur ke arah barat-timur memotong zona subduksi di utara cekungan Banda. Slip rate sesar TareraAktivitas subduksi di utara Papua, dimulai sejak Aiduna berturut-turut 2 mm/tahun sampai 10 Miosen dan terus aktif sampai sekarang (Hamilton, mm/tahun dan 13,5 mm/tahun (PTFI, 1997). 1979). Subduksi ini terjadi lempeng Pasifik dan Gempa bumi besar yang pernah terjadi di lempeng Australia bertumbukan di sepanjang zona sesar ini antara lain gempabumi tanggal palung Nugini, terletak di utara Papua dan 19 Januari 1981 dengan kekuatan 6,5 SR dan
Untuk sesar Rasinki, memiliki panjang 43 km dan lebar 2,5 km. Indikasi kegiatan tektonik diantaranya adanya pengangkatan di bagian utara Kepala Burung (Pieters dkk., 1985). Sejarah kegempaan yang terkait aktivitas sesar ini antara lain gempabumi pada tanggal 29 Juni 1961 dengan kekuatan mencapai 5,6 SR. Pada tanggal 10 Oktober 2002 sesar ini menunjukkan aktivitas kembali dengan terjadinya gempabumi Sesar-sesar yang bisa menimbulkan gempabumi berkekuatan 6,5 mb atau 7,6 Mw. Kemudian di Papua ini adalah Sesar Sorong, Sesar Yapen, sesar naik Membramo, memiliki slip rate rataSesar Waipago, Sesar Rasinki, Sesar Tarera- rata pertahun 20 mm sampai 25 mm (PTFI, 1997). Aiduna, Sesar Lengguru, Sesar Membramo, Akhir-akhir ini pada zona ini terjadi gempabumi Highland Fold Thrust, Foreland Fold Thrust, dan dengan kekuatan 7,3 Mw pada tanggal 6 April sesar Aru. 2013 pada kedalaman 66 km.
HIGHLIGHT | GEMA
6
HIGHLIGHT
Peta sebaran episenter gempa bumi wilayah Papua 1960-2010 (BMKG)
zona ini antara lain gempabumi tanggal 25 Juni 1976 dengan kekuatan 7,1 SR pada kedalaman 33 km intensitanya mencapai VII MMI. Gempa bumi tersebut bahkan menewaskan 422 orang dan sekitar 5.000 lainnya dinyatakan hilang. Provinsi Papua memiliki potensi tingkat bahaya gempabumi yang tinggi baik disebabkan oleh aktivitas subduksi maupun aktivitas patahan atau sesar. Daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terutama wilayah bagian utara di Kabupaten Sarmi. Sedangkan di Provinsi Papua Barat, sebagian besar wilayahnya memiliki tingkat potensi yang tinggi untuk daerah Manokwari, Sorong, Teluk Bintuni, Nabire, dan Kaimana. Rentetan peristiwa gempabumi di Papua masih terus berlanjut hingga saat ini dengan kekuatan beragam dan dampak kerusakan yang tidak terlalu besar. Potensi gempabumi ini akan terus ada dengan dampak yang tidak bisa ditebak di masa mendatang. Ancaman aktivitas dari tektonik di Papua ini benarbenar nyata, maka ini merupakan tantangan bagi para peneliti untuk senantiasa melakukan 7
riset yang mendalam tentang aktifitas tektonik di Papua yang ternyata masih sangat minim penelitian. Tidak kalah penting pula mengenai penyampaian hasil riset dalam bahasa populer dan mudah dipahami agar dapat memberikan pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat. Selain itu, hal ini juga merupakan tantangan yang luar biasa bagi pemerintah maupun masyarakat itu sendiri untuk menyiapkan tindakan preventif dalam upaya mitigasi gempa bumi dan bencana lainnya.
HIGHLIGHT | GEMA
8
9
Pada tahun 2010, erupsi gunung ini diklasifikan sebagai erupsi freatik dan kemudian dilanjutkan oleh aktifitas magmatik. Erupsi tahun 2010 menghasilkan muntahan debu vulkanik, lemparan bom dan blok, aliran lava dan awan panas dimana endapan tersebut menyebar sejauh 2 km dari sumber erupsi. Pada tahun 2011, erupsi gunung ini diklasifikan sebagai erupsi magmatik dengan tipe Vulkanian. Erupsi tahun 2013 menghasilkan lemparan material vulkanik hingga ketinggian 5000 m, awan panas dan hujan debu dengan radius 5 km. Pada tahun 2014, erupsi gunung ini diklasifikan sebagai erupsi magmatik dengan tipe Vulkanian dan Merapi. Erupsi tahun 2014 menghasilkan lemparan material piroklastik hingga ketinggian 5000 m dan awan panas sejauh 2 km dari sumber erupsi yang mengarah ke bagian tenggara. Pada tahun 2015, erupsi ini merupakan gabungan dari tipe Vulkanian dan Merapi. Erupsi tahun 2015 terjadi berkali-kali dan menghasilkan kolom debu vulkanik sejauh 2 – 3 km, aliran piroklastik sejauh 3 – 3,5 km dari sumber erupsi dengan arah menuju tenggara dan lebih dari 14 kali gempa vulkanik.
HIGHLIGHT | GEMA
101
HIGHLIGHT
Keaktifan kembali Gunung Sinabung setelah sempat mereda selama dua tahun diduga karena dipicu oleh gempa tektonik. Kriswati, dkk. (2018) melakukan penelitian untuk mencari kemungkinan penyebab aktifitas seismik yang memicu Gunung Sinabung menjadi aktif dengan Global CMT Solution. Dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa terdapat regangan dari Gempa Bireum yang memiliki orientasi tegak lurus dengan patahan yang memotong Gunung Sinabung. Gempa tersebut terjadi pada tanggal 11
2 Juli 2013 degan kekuatan 6,1 Mw yang terletak 252 km dari Gunung Sinabung. Pada tanggal 4 Juli 2013, terjadi seismic swarm dan pada tanggal 15 September 2013 Gunung Sinabung mulai kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Kejadian di atas di duga sejumlah kecil perubahan regangan di sepanjang patahan telah memicu naiknya magma dan seismic swarm saat aktifitas magmatik Sinabung sudah dalam keadaan tertekan. Setelah itu, hal tersebut berujung pada erupsi tahun 2013.
Cerita tentang Sinabung, gunung yang kembali bangun setelah tertidur dan menabung lebih dari 400 tahun dapat menjadi pembelajaran untuk kita semua bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Oleh karena itu, kita harus senantiasa waspada terhadap berbagai kemungkian bencana yang ada mengingat Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap bencana. Komunikasi antar berbagai pihak dan pemantauan aktifitas gunungapi harus dilakukan secara rutin dan berkala. Manajemen bencana harus disusun sedemikian rupa dan mencakup dalam beberapa tahap, yaitu tahapan pra-bencana, tahapan selama bencana dan tahapan pasca-bencana. Sistem peringatan bencana diperlukan dan ini memerlukan sinergi antara masyarakat, pemerintah dan organisasi sosial. Hal ini akan melibatkan berbagai kajian antar disiplin ilmu yang berbeda dan disinilah ketangguhan dan gotong royong akan teruji. Namun bagaimanapun, kita pasti bisa melewati ini semua.
REFERENSI 1. Kriswati, 2018; An Evaluation of the Possibility of Tectonic Triggering of the Sinabung 2. Kusumayudah, 2018; Eruption Characteristic of the Sleeping Volcano, Sinabung, North Sumatera, Indonesia, and SMS gateway for Disaster Early Warning System 3. Suparto, 2015; Pemetaan Dampak Erupsi Gunung Sinabung 4. Hendrasto, 2012; Evaluation of Volcanic Activity at Sinabung Volcano After More Than 400 Years of Quiet 5. Geomagazine, 2014; Perilaku Baru Gunung Sinabung
HIGHLIGHT | GEMA
12
MENGENAL “TSUNAMI AIR AKI“ GUNUNG IJEN Oleh : Nazwa Khoiratun Hisan
Pesona Kawah Ijen (Sumber : Andiko Baskoro)
S
obat Gema, tentu sudah tidak asing lagi bukan dengan Gunung Ijen ?
Gunung Ijen merupakan salah satu gunung api aktif yang ada di Indonesia, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Provisi Jawa Timur. Gunung dengan ketinggian 2.443 mdpl ini memiliki kawah di puncaknya dengan panjang 800 m dan lebar 700 m serta kedalaman danau yang mencapai 180 m. Danau kawah ini terisi dengan air yang merupakan hasil dari interaksi air dengan batuan panas dari pembekuan magma serta uap-uap magma dengan suhu yang tinggi. Hal ini menyebabkan air danau kawah memiliki derajat keasaman yang sangat tinggi (pH <0,5). Itulah mengapa air danau ini disebut juga dengan air aki. 13
Dahulunya ketika Paleo Ijen sudah terbentuk Stratovolcano tunggal, gunung ini berisi lava dan piroklastik. Pembentukan dari kalderanya sendiri diperkirakan memiliki keterkaitan dengan letusan besar yang terjadi sekitar 50.000 tahun yang lalu dan menghasilkan endapan aliran piroklastik. Hal ini disimpulkan berdasarkan analisa umur dari K-Ar (50Âą20 ka) dari aliran lava Gunung Blau yang dianggap merupakan unit pasca kaldera tertua. Pada saat itu juga diperkirakan terjadi pembentukan danau di lantai kaldera. Tidak seperti gunung api pada umumnya yang bahaya utamanya terletak pada awan panas atau aliran lava, bahaya terbesar dari Gunung Ijen justru terletak pada air danaunya. Jika ada letupan-
kecil yang membuat air danau ini tertumpah ke daerah yang lebih rendah (termasuk sungai dan permukiman warga di kaki gunung), akan merusak gigi warga yang mengonsumsinya dan jika mengenai manusia, kulitnya akan melepuh. Belum lagi jika 30 juta m3 air danau ini meluap dan langsung turun ke wilayah permukiman warga, maka “tsunami air aki” seakan-akan terjadi. Bisa dibayangkan bukan dampaknya ? Gunung Ijen memiliki catatan kegiatan vulkanik setidaknya dalam 200 tahun terakhir. Letusan yang pernah terjadi adalah freatik dan magmatik. Letusan freatik lebih sering terjadi karena Gunung Ijen berdanau kawah sehingga adanya kontak langsung atau tidak langsung antara air dengan magma membentuk uap yang bertekanan tinggi yang menyebabkan terjadinya letusan. Dari sejarah kegiatannya, sejak tahun 1991 letusan freatik terjadi setiap satu sampai 3 tahun sekali. Sedangkan tahun 1917 sampai 1991 periode letusan tercatat 6 sampai 16 tahun sekali. Letusan besar yang menelan korban manusia adalah pada tahun 1817. Sistem pemantauan kegiatan vulkanik G. Ijen dilakukan dengan cara visual dan instrumental. Pengamatan visual dilakukan dari Pos PGA yang meliputi pengamatan terhadap suhu udara, curah hujan, arah angin, bau gas belerang, serta tinggi dan warna hembusan asap kawah. Pengamatan secara visual kawah puncak
dilakukan secara rutin setiap minggu oleh pengamat G. Ijen yang meliputi pengamatan terhadap warna air danau kawah, suhu udara, suhu air permukaan danau, warna, tinggi dan tekanan uap air danau kawah serta bau gas solfatara. G. Ijen mempunyai danau kawah dengan derajat keasaman air sangat rendah < 1) dan bersuhu antara 20° sampai 50° C. Pemantauan kegempaan G. Ijen yang dilakukan secara menerus menggunakan seismograf Analog PS-2 sistem pancar radio. Peralatan seismometer (penangkap gempa) dipasang di bagian selatan pinggir danau kawah (08° 03' 44,06" LS dan 114° 14' 22,31" BT, ketinggian 2427,95 mdpl), untuk alat perekam gempa ditempatkan di Pos Pengamatan G. Ijen yang berada di Kampung Pangsungsari, Desa Licin, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, (08° 08' 08,60" LS dan 114° 15' 25,45 BT, ketinggian 730 mdpl. Aktivitas vulkanik Gunungapi Ijen dianggap meningkat bila jumlah gempa vulkanik baik dangkal maupun dalam masing-masing lebih dari 10 kejadian sehari, terutama bila diikuti oleh munculnya gempa tremor yang tercatat secara menerus Menarik bukan gunung yang satu ini? Meskipun begitu, Gunung Ijen ini memiliki pesona keindahan yang tak kalah hebat bila dibandingkan dengan potensi bencananya.
REFERENSI : Geologi, B. (2014, Juni 2). G. Ijen. Retrieved Maret 8, 2019, from Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi: http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/522-g-ijen? Putrohari, R. D. (2012, Januari 9). Mengenal kawah Gunung Ijen yg terisi “air aki”. Retrieved Maret 1, 2019, from Dongeng Geologi: https://geologi.co.id/2012/01/09/mengenal-kawah-gunung-ijen-yg-terisi-air-aki/ Syamsul Hadi, M. Z. (2011, Desember 31). Diselamatkan Air Kawah Ijen. Retrieved Maret 3, 2019, from Kompas.com: https:// regional.kompas.com/read/2012/01/01/1917479/diselamatkan.air.kawah.ijen HIGHLIGHT | GEMA
14
Oleh : M. Rizky Ramadhan
Sulawesi Tengah merupakan salah satu provinsi yang memiliki wilayah terluas di Pulau Sulawesi dan penduduk terbanyak kedua setelah Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah ini berada tepat pada garis khatulistiwa sehingga beriklim tropis dengan tingkat curah hujan terendah di Indonesia. Jumlah populasinya berkisar 3,2 juta jiwa (2015) yang masih akan terus meningkat. Daerah ini memiliki banyak potensi lain jika kita melihat lebih jauh lagi. Potensi Geowisata dari pantai, pegunungan, danau, sungai dan 15
lembah. Selain itu, sumber daya alam yang melimpah untuk dikelola berupa emas, besi, nikel, minyak dan gas, dll. Sehingga karena hal tersebut pendatang dari daerah lain ingin menetap maupun sekedar berkunjung. Yang lebih mengagumkan lagi, ternyata ada sebuah peradaban tua yang tidak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Perjalanan migrasi bangsa Austonesia dari Taiwan menuju Filipina, lalu masuk Sulawesi, berpencar ke Kalimantan, Jawa, dan Indonesia
Timur ini dikenal dengan teori Out of Taiwan. Teori ini mengungkapkan bahwa bangsa yang menghuni di kepulauan nusantara merupakan bangsa dari Taiwan yang bukan termasuk daratan Cina. Penanggalan telah dilakukan pada Situs Megalitikum di kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang meliputi Lembah Napu, Lembah Besoa, Lembah Bada, Danau Lindu, Kulawi, dan Gimpu berupa Kalamba, Arca Menhir, Menhir, Batu Dakon, Batu Dulang, Lumpang Batu, Batu Kerakal, Altar, Dolmen, Tetralit, Temu Gelang, Tiang Batu, Tumulus, Punden Berundak, Tempayan Kubur, Batu Gores, Palung Batu, Peti Kubur Kayu, dan Jalan Batu dengan jumlah ratusan situs yang berumur berkisar 2000-4000 tahun yang lalu. Desain dari patung-patung tersebut mirip dengan yang ada di Pulau
Paskah (Chile), yang diperkiran persebarannya sampai kesana. Sulawesi Tengah juga memiliki keanekaragaman fauna antara lain: Anoa yang mirip kerbau, Babirusa yang sedikit memiliki taring pada mulutnya, Burung Maleo yang bertelur pada pasir yang hangat, serta Kuskus yang memiliki sebuah kantung. Begitu beraneka ragamnya fauna yang ada di Sulawesi Tengah tidak terlepas oleh pengaruh persebaran fauna yang ada di Indonesia Timur seperti pada teori Wallace dan Weber. Daerah ini juga memiliki beberapa Taman Nasional maupun Cagar Alam, antara lain: Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan Suaka Margasatwa di Bangkiriang. HIGHLIGHT | GEMA
16
HIGHLIGHT | GEMA
18
19
21
HIGHLIGHT | GEMA
22
23
Oleh : Najmuddin H. Fikri
MISTERI TESEMBUNYI DI
KARST SANGKULIRANG Karst Sangkulirang Mangkalihat terletak di Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau seluas 307.337 Ha tersebar di Hutan Lindung dan kawasan budidaya. Kawasan Sangkulirang-Mangkalihat merupakan kawasan kars dengan topografi bergununggunung yang terbentang dari Pegunungan Beriun dengan Kabupaten Berau ke arah timur sampai di Semenanjung Mangkalihat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Pada kawasan ini terdapat sembilan ‘gundukan’ karst raksasa yang tersebar dari barat sampai ke timur, dengan luasan sekitar 100 km x 80 km. Bagian paling barat merupakan bagian kars yang paling terangkat ke permukaan bumi. Ada dua puncak tertinggi yang elevasinya mencapai lebih dari 1000 m dpl, dengan jejeran dinding-dinding megah yang menjulang ratusan meter.
HIGHLIGHT | GEMA
24
25
HIGHLIGHT | GEMA
26
27
HIGHLIGHT
Oleh : M. Ghazi Muslim Longsor atau dikenal juga dengan nama gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Secara umum kejadian longsor disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor pendorong merupakan faktor-faktor yang memengaruhi kondisi material sendiri, sedangkan faktor pemicu adalah faktor yang menyebabkan bergeraknya material tersebut. Disini terdapat perbedaan antara kombinasi kedua faktor diatas yang pada hakikat nya akan menyebabkan bencana geologi Longsor atau Gerakan Tanah. Pada pergantian tahun 2019 ini kabar duka kembali membuat pilu masyarakat indonesia, khususnya warga daerah sekitar Sukabumi Jawa Barat. Momen dimana masyarakat sedang tidak melakukan aktivitasnya dan dominasi akan jam istirahat yang dilakukan oleh masyarakat.
Longsor atau Gerakan tanah terjadi di Kp. Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Gerakan tanah terjadi pada hari Senin, 31 Desember 2018 setelah hujan yang mengguyur selama beberapa jam. Menurut Lembaga Pusat Vulkanologi Mitigasi Dan Bencana Geologi , Jenis gerakan tanah diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan. Menurut informasi, longsor terjadi pada pukul 17.30 WIB. Selain itu ditambah dari kutipan dari Twitter milik Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan longsor terjadi di kampung Cimapag kecamatan Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat. Aksi dari bencana alam ini menyebabkan Puluhan rumah tertimbun longsor di Kampung Cimapag, Sukabumi, Jawa Barat. Longsor tersebut Menurut Badan PVMBG pun Dampak gerakan tanah atau longsor menyebabkan 34 rumah tertimbun material longsoran. Tidak hanya terjadi kerugian terhadap HIGHLIGHT | GEMA
28
material melainkan merenggut korban jiwa hingga Dari 107 orang saat ini 2 meninggal dan 33 selamat. Menurut data geologi yang telah diklarifikasikan bahwa Kondisi daerah bencana, Morfologi daerah bencana perbukitan dengan dengan kemiringan lereng terjal – sangat terjal. Lokasi bencana berada pada ketinggian lebih dari 650 - 800 meter diatas permukaan laut.Disebelahnya terdapat alur sungai kecil. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sukabumi, Jawa (Sudjatmiko, 1992), daerah bencana disusun oleh Satuan Qvb; Breksi Tapos; Breksi Gunungapi dan Aglomerate. Berdasarkan Peta Potensi Terjadi Gerakan Tanah Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat Bulan Desember 2018 (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana sebagian besar masuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah - Tinggi artinya artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali. Setelah melalui penelitian badan lembaga resmi bisa diketahui akan penyebab Faktor terjadinya gerakan tanah atau longsor diperkirakan yaitu Hujan dengan intensitas tinggi yang turun sebelum kejadian gerakan tanah, Kemiringan lereng yang terjal, dan Material penyusun lereng yang bersifat poros dan mudah menyerap air. Mengingat daerah tersebut masih sangat rawan terjadi gerakan tanah dan bukit didaerah tersebut mempunyai kemiringan lereng > 30°, maka Tim Tanggap Darurat 29
pemeriksaan bencana gerakan tanah siap diberangkatkan ke lokasi bencana, untuk melakukan Evaluasi bencana di sekitar lokasi terhadap potensi longsoran susulan, Memberikan rekomendasi teknis penanggulangan di daerah bencana, dan juga Sosialisasi langsung di lokasi bencana kepada masyarakat dan aparat Pemerintah daerah di lokasi bencana. Sebagai seorang mahasiwa dan calon akademisi perlu adanya perencanaan maupun kepedulian akan himbauan terhadap masyarakat sekitar akan bahayanya bencana longsor atau gerakan tanah ini yang merenggut harta benda bahkan korban jiwa, dengan adanya kesempatan dalam menginformasikan terhadap masyarakat umum
REFERENSI https://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor https://regional.kompas.com/ read/2019/01/01/13013481/longsor-sukabumipvmbg-masuk-zona-kerentanan-gerakan-tanahmenengah-tinggi http://vsi.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/
yang bisa diedukasikan maka akan terhindarnya bencana longsor atau gerakan tanah ini yang merugikan umat manusia. Hal ini merupakan semua tanggung jawab kita bersama baik dari berbagai pihak, semoga dapat membantu masyarakat agar lebih waspada dan peduli terhadap bencana longsor ini.
kejadian-gerakan-tanah/2578-tanggapanbencana-gerakan-tanah-kec-sukabumi-kabupatensukabumi-provinsi-jawa-barat keterangan : Website ini di akses secara bersamaan bermula dari pukul 8.00 WIB pada tanggal 14 Maret 2019
HIGHLIGHT | GEMA
30
INSPIRASI Oleh : Gerhana Prasetya
ROVICKY DWI PUTROHARI PERHIMAGI : Tribute to “Pak Dhe� Rovicky Dwi Putrohari atau kerap disapa “Pak Dhe�
koran lokal di Yogyakarta. Walaupun belum
Rovicky ini adalah seorang geolog senior yang
pernah karyanya yang diterbitkan pada waktu
berpengalaman dan banyak karya-karya yang lahir
itu, tetapi dari situ beliau menjadi pribadi yang
dari pemikiran beliau. Kemampuan beliau melihat
tangguh dan pantang menyerah. Beliau selalu
sesuatu
peristiwa kebumian dan menjadikan
menyempurnakan tulisannya ketika karyanya
peristiwa tersebut menjadi tulisan yang menarik
dikembalikan kembali dan diberi koreksi oleh
sehingga dapat dipahami oleh khalayak merupakan
redaktur media cetak tersebut.
suatu kemampuan khusus yang dimiliki beliau.
Pada saat duduk dibangku kuliah, Pak Dhe Sejak kecil Pak Dhe merupakan pribadi yang
Rovicky
sempat
vakum
menulis
karena
gemar menulis dan beberapa kali tercatat
kesibukannya di bangku kuliah menjadi asisten
pernah mengirim tulisannya ke beberapa
laboratorium, kuliah lapangan dan mendaki gunung yang cukup meyita waktunya. Beliau baru aktif menulis lagi pada tahun 1998 karena pada waktu itu internet baru popular dan berkembang pesat. Pada awalnya, beliau menghabiskan waktu sekitar dua sampai tiga jam per hari dari proses
pengumpulan
data
sampai
pada
tahap penulisan di blog Dongeng Geologi miliknya. Berbeda halnya ketika beliau sudah cukup lama aktif menulis beberapa waktu lalu. Karena kemampuannya dalam menulis yang terus dilatih dan diasah, maka Pak Dhe hanya memerlukan waktu satu jam dalam penulisannya
hingga
dimuat
di
Dongeng
Geologi. Dalam
setiap
mengusung
tulisannya
tema-tema
pasti
menarik
beliau tentang
isu yang sedang hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat seperti kebencanaan. Sebagai contoh, bencana yang belum lama terjadi terkait Sesar Palu, Sesar Flores ataupun tema ekplorasi seperti ekplorasi pencarian air tanah, dan lain-lain.
31
Disela
kesibukannya
ketika
pembaca
bertanya diblognya, Pak Dhe akan menjawab
berdiskusi dengan beliau dari berbagai latar belakang bidang ilmu yang berbeda.
dan menjelaskannya dengan sabar. Karena menurut beliau, ketika menulis artikel melalui
Kini beliau telah berpulang ke Rahmatullah.
blognya terjadi diskusi dua arah antara
Akan
terkenang
pembaca dan penulis. Keberhasilan beliau
Beliau
adalah
dalam menulis sudah terbukti seperti karena
hormati dan dikagumi oleh banyak orang
dikunjungi rata-rata 50 orang per hari, dan
terutama para geoscientist muda. Semoga
totalnya sudah dilihat lebih dari 100 ribu kali.
semangat
yang
selalu sosok
semua yang
diwariskan
karyanya. sangat
beliau
di
untuk
peduli terhadap keilmuan geologi Indonesia Bahasa yang ringan, mudah dipahami, kerendah
dapat menginspirasi para geocientist muda
hatian dan kesabaran Pak Dhe dalam menulis
Indonesia agar terus berkarya. Semoga beliau
juga menjawab pertanyaan pembaca telah
ditempatkan di tempat terbaik disisi-Nya.
menarik beribu-ribu orang untuk berkunjung
Aamin.
di blognya baik untuk sekadar membaca atau
REFERENSI Kompas_ Pak dhe Gemar Menulis.
Nama: Rovicky Dwi Putrohari Tempat/tanggal lahir: Yogyakarta, 12 Maret 1963 Pendidikan: • Jurusan Geologi FT UGM (lulus 1983) • Master Geofisika UI (lulus 1998) Pengalaman kerja: • HESS Oil and Gas, Jakarta (2010 – sekarang) • HESS Oil and Gas, Kuala Lumpur (2005 – 2010) • Murphy Oil Corp, Kuala Lumpur (2004 – 2005) • Total E&P Indonesia, Balikpapan (2003) • Brunei Shell PetroleumSeria, Brunei (2001-2002) • Kondur Petroleum S.A (1995 – 2001) • LASMO Indonesia Ltd (1990 -1995) • HUDBAY OIL(MS) Ltd (1988 – 1990) INSPIRASI | GEMA
32
Sosialisasi Bencana Alam dan P Mitigasi dan kesiapsiagaan merupakan salah satu tahapan yang sangat vital dalam manajemen bencana. Undang-Undang No. 24 tahun 2007 mengamanatkan agar upaya penanggulangan bencana dilakukan secara tepat, cepat, berdasarkan prioritas, koordinasi, keterpaduan, berdaya guna, berhasil guna, transparansi, akuntabilitas, kemitraan, dan pemberdayaan. PERHIMAGI Mengabdi Regional Sumatera 2019 merupakan kegiatan tahunan dari PERHIMAGIi yang dilakukan untuk menjalin silaturahmi antar sesama Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi diseluruh regional Sumatera. Tema yang dianut 33
dalam PERHIMAGI Mengabdi tahun ini adalah “Sosialisasi Bencana Alam dan Potensi Geologi yang Ada di Daerah Buluh Cina�. Desa Buluh Cina berada di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Jambi. Desa ini terletak di daerah rawan banjir sehingga setiap hujan bercurah tinggi, daerah ini selalu tergenang air. Persoalan fundamental mitigasi pada Desa Buluh Cina yaitu masyarakat belum mengetahui seutuhnya semua hal tentang banjir. Dalam keadaan seperti ini, tentu perlu dilakukan sosialisasi sesegera mungkin mengingat banjir
REGIONAL SUMATERA
Potensi Geologi bisa datang kapan saja dan pada situasi yang tidak terduga. Melalui program PERHIMAGI Mengabdi Regional Sumatera, program penyuluhan dan pembinaan dalam rangka masyarakat tanggap bencana alam menjadi dapat direalisasikan. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 2 Februari 2019. Kegiatan diawali dengan kata sambutan ketua pelaksana, ketua HMTG “Bumi Lancang Kuning�, dan kaprodi teknik geologi Universitas Islam Riau. Setelahnya dilanjutkan dengan acara inti, yaitu pemaparan materi penyuluhan dan sosialisasi sampai pada akhir kegiatan bergotong
royong sebagai bentuk pengabdian PERHIMAGI kepada masyarakat. Partisipan kegiatan ini adalah delegasi-delegasi regional Sumatera, antara lain delegasi Universitas Islam Riau, Universitas Sriwijaya, Universitas Jambi, dan Institut Teknologi Medan. Diharapkan sosialisasi ini dapat menambah wawasan masyarakat Buluh Cina tentang bagaimana prosedur mitigasi bencana banjir yang sering terjadi di daerah tersebut dan juga masyarakat dapat mengenal potensi geologi yang terdapat di Desa Buluh Cina. REGIONAL | GEMA
34
REGIONAL JAWA
Pemetaan Bencana Tanah Longsor Tanah Longsor adalah jenis bencana alam yang terjadi karena gerakan massa tanah atau batuan, yang keluar dari lereng akibat dari adanya gangguan kestabilan tanah dari sebelumnya (BNPB, 2010). Bencana ini terjadi cukup sering di Daerah Kramat hingga Sirau, Purbalingga sehingga dilakukan pemetaan bencana tanah longsor se-Jawa. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya bencana di lokasi pemetaan diantaranya hujan, lereng terjal, pelapukan, jenis tata lahan, juga bekas longsoran lama. Berdasarkan hasil pemetaan, area dibagi menjadi tiga zonasi berdasarkan jenis batuan, ketebalan
tanah, tipe vegetasi, dan tingkat kejenuhan air, yaitu zona sangat rawan, zona rawan, dan zona stabil tanah longsor. Dampak negatif dapat diminimalisir dengan mitigasi, terbagi menjadi pra-bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Saran untuk menanggulangi bencana di daerah ini diantaranya dengan mengurangi beban di puncak lereng, menambah beban di kaki lereng, mencegah lereng jenuh dengan air tanah atau mengurangi kenaikan kaadr air tanah di dalam tubuh lereng, dan mengendalikan air permukaan.
REGIONAL | GEMA
36
REGIONAL SULAWESI
Eksursi Geologi Regional Sulawesi “Explore The Geoheritage of South Sulawesi� Ekskursi Geologi Regional Sulawesi atau disingkat dengan EGRS merupakan program kerja PERHIMAGI untuk regional Sulawesi. Tujuan dari pelaksanaan program ini yaitu membentuk kader-kader geologi agar memiliki rasa tanggung jawab terhadap kewajiban serta memperkenalkan PERHIMAGI bersama instansi-
37
instansi yang terkait dan tergabung dalam PERHIMAGI. Selain itu, acara ini juga berniat memperkenalkan situs-situs geologi, salah satunya Cagar Alam Geologi yang terdapat di Sulawesi Selatan sehingga mahasiswa dapat mengetahui proses-proses geologi yang membentuk roman indah Pulau Sulawesi.
EGRS merupakan program kerja berskala nasional. Kegiatan yang bertajuk “Explore the Geoheritage of South Sulawesi� ini telah dilaksanakan pada tanggal 7 - 10 Januari 2019 bertempatkan di Makassar, Maros, dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. Program kerja ini memiliki empat inti kegiatan, yaitu Seminar dan Pengenalan Geologi Regional, Fieldtrip, Company Visit, dan Geowisata. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dilakukan selama empat hari sesuai dengan rundown yang telah direncanakan.
Kesuksesan program kerja ini tak luput dari peran panitia yang berasal dari institusi geologi yang ada di Pulau Sulawesi. Institusi geologi tersebut antara lain HMG FT-UH Universitas Hasanuddin, HMTG J.A.K. Universitas Negeri Gorontalo, HMTG OFIOLIT Universitas Halu Oleo, dan HMTG TADULAKO FT-UNTAD Universitas Tadulako, juga seluruh peserta kegiatan dari seluruh institusi geologi yang berpartisipasi. Karena sifatnya yang berskala nasional, diharapkan EGRS mampu menjadi sarana silaturahmi bagi seluruh mahasiswa geologi Indonesia.
REGIONAL PAPUA
Tanah longsor adalah peristiwa terjadinya pergerakan tanah seperti bebatuan atau gumpalan besar tanah menuju tempat yang lebih rendah, sedangkan banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika air yang berlebihan merendam daratan. Kedua bencana ini merupakan bencana yang kerap menjadi momok bagi masyarakat. Bencana ini memiliki kesamaan faktor penyebab, yaitu curah hujan yang tinggi dan daya resap tanah yang tidak dapat menyerap limpahan air hujan. Selain itu, faktor vegetasi juga berperan penting ketika hujan, yaitu dapat membantu penyerapan air dan akar tunggang dari tumbuhan berkambium juga dapat mengikat tanah dengan kuat supaya tidak terjadi longsor. Akibat bencana ini banyak kerugian besar yang terjadi, seperti rusaknya lahan pertanian, perumahan, jalan, jembatan, irigasi, sarana dan prasana. 39
Distrik Heram dan Abepura, Jayapura, Papua Barat merupakan area yang kerap terjadi bencana banjir dan longsor. Menurut BPBD Kota Jayapura, sepanjang tahun 2018 – 2019 lebih dari 43 kali bencana banjir dan longsor terjadi di kota ini. Di sisi lain, pengetahuan masyarakat tentang mitigasi bencana banjir dan longsor masih sangat kurang. Terlebih lagi Distrik Heram dan Abepura yang belum termasuk dalam program nasional mitigasi bencana banjir dan tanah longsor sehingga PERHIMAGI sebagai wadah mahasiswa geologi se-Indonesia yang berlandaskan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan dengan kelimuan yang dipelajarinya turut serta aktif membantu dalam mitigasi bencana banjir dan longsor Distrik Heram dan Abepura, melalui program kerja PERHIMAGI Mengabdi.
Pemetaan Bencana Tanah Longsor dan Banjir PERHIMAGI Mengabdi: “Pemetaan Bencana Tanah Longsor dan Banjir” memiliki tujuan menginvestigasi penyebab dan potensi bencana banjir dan tanah longsor di daerah distrik Abepura sampai Heram dengan meninventarisasi melalui data geologi yang merupakan faktor penyebab bencana banjir dan tanah longsor yang telah terjadi dan perispan mitigasi di masa depan dan memberikan rekomendasi kepada masyarakat dan stakeholder terkait mengenai upaya mitigasi bencana banjir dan tanah longsor.
Program kerja ini dilaksanakan selama tiga hari, yaitu pada hari Kamis hingga Sabtu tanggal 7 sampai 11 Maret 2019 di program studi S1 Teknik Geologi USTJ. Suksesnya acara ini berkat kerja sama HMG “PRABU” USTJ, HMTG MEBI UNIPA, HMJ KANJEY GONDWANA OGP, dan HMTG “CENDRAWASIH” UNCEN yang keempat institusi tersebut merupakan anggota PERHIMAGI regional Papua juga didampingi oleh staff ahli BPH Humas PERHIMAGI dan koordinator regional Papua.
Program kerja ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat Distrik Heram dan Abepura tentang mitigasi bencana tanah longsor dan banjir.
BANJIR DAN LONGSOR JAYAPURA : TATA RUANG BERBASIS BENCANA JADI KUNCI Oleh : A. M. Yusril Bencana banjir bandang dan tanah longsor di Jayapura, Papua kemarin sungguh memberi luka mendalam bagi kita semua. Banjir bandang-tanah longsor di Sentani, Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura pada hari Sabtu, 16 Maret 2019 lalu, menimbulkan banyak korban jiwa, harta benda, rusak dan hilangnya rumah warga, kerusakan sarana prasarana, dan infrastruktur jalan serta jembatan. Bahkan jumlah korban jiwa mencapai ratusan orang, ratusan lainnya mengalami luka-luka dan belasan ribu orang sempat mengungsi disebabkan banjir dan longsor tersebut. Pihak Pemerintah menyebut, penyebab banjir bandang dan longsor di wilayah Jayapura karena faktor alam dan ulah manusia. Curah hujan ekstrim hingga 248,5 milimeter per detik selama tujuh jam menjadi penyebab utama terjadinya bencana tersebut. Selain itu, topografi yang curam di bagian hulu Pegunungan Cycloop dan lebih datar di bagian hilir. Kondisi batuan penyusun yang intensif 41
mengalami pelapukan sehingga membuat batuan tersebut mudah tererosi. Yang menarik perhatian adalah penggunaan lahan yang ternyata pada daerah dataran banjir (floodplain) seluas 2.145 hektar digunakan sebagai lahan pemukiman dan pertanian. Letak daerah terdampak bencana yang berada di dekat kaki pegunungan Cycloop menjadi salah satu faktor banyaknya korban dan kerusakan yang terjadi. Area terdampak banjir bandang tersebut merupakan daerah dataran banjir (floodplain) sedangkan daerah longsor berada di lereng perbukitan yang terjal. Daerah rawan tersebut dijadikan pemukiman, apabila bencana melanda seperti banjir dan tanah longsor maka jelas akan berdampak sangat hebat. Menggarisbawahi poin besarnya bahwa mengoptimalisasikan tata ruang yang ada pada suatu kawasan/wilayah bisa mengurangi dampak bencana yang terjadi. Tata ruang menjadi alasan pertama untuk menjadi
“tameng� pencegahan kerugian yeng lebih besar saat bencana tiba, seperti yang kita ketahui ratusan miliar aset milik rakyat maupun negara dalam sekejap dapat habis oleh kejadian bencana alam, dan yang memilukan tentunya adalah jatuhnya korban jiwa disetiap datangnya bencana alam. Penataan ruang yang baik dalam pembangunan wilayah kota bisa menjadi benang merah kita melihat korelasi antara kejadian bencana alam dan tata ruang kita. Rencana Tata Ruang Kawasan Rawan Bencana seharusnya dapat digunakan sebagai usaha yang sistematis untuk mengidentifikasi potensi bencana. Selaras dengan UU No. 26 Tahun 2007 pasal 42 tentang penanggulangan bencana, pelaksanaan dan penegakan dalam rencana tata ruang dilakukan untuk mengurangi resiko bencana, yang mencakup pemberlakuan peraturan tentang penataan ruang, standar keselamatan, dan penerapan sanksi terhadap pelanggaran. Ada korelasi yang sangat kuat antara proses penanggulangan bencana dengan penataan ruang. Menurut Koetter (2003), Rencana Tata Ruang akan memenuhi kebutuhan terhadap pentingnya instrumen pencegahan resiko dan mitigasi bencana alam, terutama dalam mendukung elemen-elemen dalam manajemen
bencana seperti antara lain Early Warning System (EWS), Pemetaan dan Penilaian Resiko, Prevensi dan Reduksi, Manajemen Resiko, dan Rekonstruksi. Oleh karena itu, dalam upaya mengintegrasikan faktor kebencanaan dalam penataan ruang tidak hanya terletak pada memasukkan data/informasi rawan bencana saja ke dalam tahapan perencanaannya, tetapi juga meliputi aspek pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang harus memperhitungkan manajemen bencana tersebut. Terkait bencana di Sentani, Jayapura, Pemerintah Pusat akan melakukan peninjauan tata ruang area terdampak bencana termasuk menguji kembali kelayakan pemukiman Kota Sentani. Pemerintah Daerah sebenarnya juga telah memiliki aturan tersendiri mengenai tata ruang yang tentunya mempertimbangkan aspek kebencanaan, salah satunya termasuk faktor geologi daerah setempat. Fakta yang terjadi di lapangan sebenarnya sangat jelas bahwa pelaksanaan tata ruang dalam kaitannya dengan penanggulangan bencana masih banyak diabaikan. Jika melihat kondisi daerah Jayapura memang terletak di daerah rawan bencana banjir dan longsor. Daerah yang semestinya menjadi daerah
OPINI | GEMA
42
Pelaksanaan rencana tata ruang berbasis bencana harus diawasi dengan baik pelaksanaannya agar tak hanya menjauhkan masyarakat dari bencana, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. resapan air berubah menjadi perumahanperumahan. Daerah-daerah curam yang berpotensi longsor juga kemudian banyak dijadikan pemukiman oleh warga. Inilah yang kemudian menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat luas. Apakah pembangunan yang ada sudah memasukan unsur-unsur kajian lingkungan sebelumnya, kemudian apakah pemerintah setempat sudah melaksanakan kajian khusus mengenai ini. Permasalahan ini sebenarnya terkait masalah implementasi dan prioritas. Implementasi dari peraturan-peraturan yang telah dibuat terkait rencana tata ruang yang berbasis kebencanaan harus digalakkan. Prioritas pemerintah harus fokus pada keselamatan karena bencana bisa datang kapan dan dimana saja. Pemerintah 43
seharusnya bisa bekerja sama dengan para ahli termasuk ahli geologi untuk meminta saran mengenai potensi bencana yang dapat terjadi pada suatu wilayah. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus lebih peka terhadap bahaya seperti ini. Sudah semestinya penataan Tata Ruang yang baik menjadi landasan kita agar bencana-bencana alam dapat diminimalisir. Dalam pelaksanaan rencana tata ruang berbasis bencana harus diawasi dengan baik pelaksanaannya agar tak hanya menjauhkan masyarakat dari bencana, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Apalagi jika ingin mewujudkan Indonesia yang tangguh dalam menghadapi bencana. Semoga!
Sirau Siregol, Purbalingga, Jawa Tengah Oleh : Aldha Aulia Pangestu (@aldhaax)
OPINI
POTENSI BENCANA ALAM DI GEOPARK Oleh : M. Ghazi Muslim Jika kita melihat dan mendengar kata kawasan Geopak Ciletuh-Palabuhanratu tentu semua orang sepakat bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah yang indah dan istimewa, betapa tidak dengan banyaknya bebatuan samudra yang
45
muncul ke permukaan antara pertemuan tiga lempeng membuat kawasan ini diakui dunia sebagai Geopark Dunia. Namun, siapa sangka dibalik keindahan terebut ada potensi bencana yang mengancam kawasan tersebut.
K CILETUH Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu yang terletak di pesisir Kabupaten Sukabumi tercatat sebagai satu di antara wilayah yang rawan bencana. Menurut informasi berita media digital bahwa diberitakan, terjadi tanah longsor dan menimbun salah satu akses jalan menuju kawasan Geopark
Nasional Ciletuh di Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Senin pagi. Titik longsor berada di Kampung Cisarakan, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Longsor di salah satu akses menuju Geopark Nasional Ciletuh terjadi sekitar pukul 06.00 WIB
Geopark Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ( Sumber : Travel Kompas) OPINI | GEMA
46
Longsor menerjang salah satu akses jalan menuju kawasan Geopark Nasional Ciletuh, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. (Sumber: Liputan6)
Menurut Kepala Pusat Riset Geopark dan Kebencanaan Geologi, Mega Fatimah Rosana, sekaligus merupakan professor guru besar di Universitas Padjajaran Fakultas Teknik Geologi mengatakan bahwa potensi bencana di daerah itu adalah gempa bumi dan tsunami. Prof. Mega Fatimah Rosana menyatakan itu kala ditemui setelah sosialisasi Pergub No 72 tahun 2018 tentang Pengembangan Kawasan Geopark di Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate, Selasa (6/11/2018), seperti dikutip dalam media berita online Tribunjabar. Beliau mengungkapkan Adanya sesar Cimandiri, karena itu sesar aktif nyambung dari Lembang. Kemudian disambung dari gempa, karena kita di daerah zona tumbukan, kalau subduksi, bisa men-trigger potensi tsunami, seperti yang telah disampaikan. Selain itu, jika musim hujan, wilayah sekitar Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu juga berpotensi dilanda bencana longsor dan banjir bandang, terutama jika hutan gundul. Karena potensi bencana seperti itu, masyarakat sekitar Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu harus diedukasi mengenai mitigasi bencana. Hal itu harus menjadi 47
prioritas, di samping pengembangan kawasan Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu sebagai destinasi wisata. “Karena ada di daerah lereng rawan bencana, harus ada sosialisasi atau edukasi kepada masyarakat untuk membangun rumah tahan gempa dan tidak membangun (bangunan) di kawasan rawan longsor, banjir, dan tsunami,� ujarnya. Dalam hal itu didapatkan bahwa adanya sebuah perusahaan yang tertarik sekaligus peduli terhadap hal ini yaitu, Group Research, Development and Innovation (RDI) MAIPARK mengadakan kegiatan Geo-Ekskursi (Seminar atau kuliah lapangan red). Menurut direktur Utama Maskapai Asuransi dan Perusahaan Asurasi Risiko Khusus (MAIPARK) Ahmad Fauzie Darwis mengatakan, kegiatan yang dimulai tahun 2009, dilaksanakan oleh Departemen Corporate Secretary dengan melibatkan seluruh perusahaan Asuransi dan Reasuransi. “Sejatinya, kami mendirikan perusahaan reasuransi khusus bencana ini karena dari data statistik gempa memang jarang terjadi, tetapi jika terjadi selalu menimbulkan dampak yang luar
biasa seperti belum lama ini terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Palu, Sulawesi Tengah,”jelasnya. Saat ini, pihaknya saat ini tengah fokus mengembangkan ke bencana lainnya seperti angin puting beliung, longsor dan lain-lain. Sehingga tidak hanya fokus terhadap gempa bumi dan tsunami saja. Lebih lanjut dirinya mengatakan, dipilihnya kawasan Geopak Cileuteuh Palabuhanratu sebagai lokasi pelatihan karyawan dan beberapa pekerja dari perusahaan asuransi lainnya karena daerah ini merupakan salah satu wilayah rawan terjadi gempa bumi dan tsunami. Sehingga mereka yang mendapatkan pelatihan ini memiliki kemampuan dalam menangani risiko bencana. “Kami pun menggandeng Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) setempat, ahli tsunami dan ahli geologi dari Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung (ITB),” tambahnya. Sebetulnya, Geo-Ekskursi ini dilaksanakan setiap tahun, sebagai wujud tanggung jawab perusahaan kepada industri asuransi untuk turut aktif meningkatkan kesadaran akan risiko bencana, khususnya dalam penilaian dan pengelolaan risiko bencana alam. “Dengan kegiatan ini juga diharapkan bisa lebih mempererat jalinan
komunikasi antara perusahaan perusahaan Asuransi pemberi sesi dan Reasuransi sekaligus upaya memperkuat sinergitas antara karyawan dan ceding dalam rangka memperiancar kinerja usaha menjadi lebih baik lagi,” jelasnya. Menurutnya, Geo- Ekskursi maka secara otomatis akan dapat menambah kemampuan dalam menangani risiko bencana yang datang dan yang tak kalah penting adalah menumbuhkan dan meningkatkan rasa memiliki Ceding Companies terhadap MAIPARK. Para peserta yang hadir pada kegiatan Geo-Ekskursi selain karyawan MAIPARK mereka adalah masing-masing satu perwakilan dari seluruh perusahaan Asuransi dan Reasuransi Umum Indonesia yang merupakan pemegang saham sekaligus mitra kerja MAIPARK serta beberapa media. Sementara itu, Group Head RDI, Fiza Wira Atmaja mengatakan dipilihnya Sukabumi karena, agar bisa melakukan kegiatan observasi langsung yang dilakukan untuk mengeksplorasi kawasan Ciletuh, Sukabumi, dengan tujuan meningkatkan pemahaman kepada para peserta terkait kondisi dan potensi bencana di wilayah tersebut sehingga dapat pula menambah pengetahuan dan pemahaman Ceding Companies mengenai risiko bencana dalam kaitannya dengan bisnis asuransi.
Pakar Tsunami ITB Eng Hamzah Latief Saat Memberikan Seminar Terkait Daerah Rawan Bencana Tsunami di Indonesia (Sumber : handi/RadarSukabumi)
“Termasuk di dalamnya adalah memahami kondisi geologi dan geofisika obyek yang dikunjungi,” jelas Fiza Ditempat terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsigaan BPBD Kabupaten Sukabumi Dudung Abdulah mengatakan Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah rawan bencana seperti gempa bumi dan tsunami. Dengan adanya seminar dan pelatihan seperti ini kepada karyawan asuransi dan reasiuransi bisa memberikan pengetahuan khusus terkait bencana. Selain itu, keterlibatan berbagai pihak terkait pengetahuan tentang kebencanaan diperlukan, apalagi warga yang tinggal di daerah rawan gempa dan tsunami agar bisa mengikuti program asuransi agar jika terjadi bencana dan merusak harta bencana bisa mendapatkan penggantian klaim asuransi. “Gempa dan tsunami tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi, tetapi harus tetap diwaspadai apalagi Kabupaten Sukabumi memiliki garis pantai sepanjang 117 km dan berada di tiga lempeng bumi seperti Lempeng Australia, Eurasia dan Cimandiri,” ujar yang disampaikan oleh beliau.
Dalam hal ini pula telah diketahui jika pakar dari Universitas Padjajaran maupun Group Research, Development and Innovation (RDI) MAIPARK telah mengkaji mendalam terhadap Geopark Ciletuh yang di khusus kan terhadap adanya mitigasi bencana. Ini merupakan langkah awal bagi Masyrakat untuk menyadari terlebih dahulu akan pentingnya penanggulangan bencana dimasa yang akan datang. Dengan adanya kajian dari para peneliti di Universitas di bantu dengan kepedulian Stake Holders dalam mencapainya diharapkan masyarakat dan pemerintah lebih serius ataupun lebih tanggap dalam mencapainya diharapkan masyarakat dan pemerintah lebih serius ataupun lebih tanggap dalam menghadapi bencana, karena pada hakikatnya sebuah bencana merupakan bukan sesuatu yang dapat kita prediksi melain kan suatu kejadian yang bisa kita kurangi resikonya, memulai lebih dini merupakan sebuah kesuksesan sebuah proses mitigasi bencana. Dalam hal ini pula stake holders pemuda khususnya mahasiswa bisa membantu berkarya dalam mengagas sebuah ide maupun produk dalam upaya mengurangi resiko dampak bencana. REFERENSI hthttp://mediatataruang.com/geopark-ciletuh-rawan-
Menurut informasi berita yang di dapatkan sejauh ini Sekda Pemkab Sukabumi, Iyos Somantri, mengatakan pihaknya juga bekerja sama dengan LIPI untuk mengedukasi masyarakat soal mitigasi bencana. “Kami sedang MoU dengan LIPI dan ditindaklanjuti dengan BPBD Kabupaten Sukabumi untuk edukasi dan penerapan mitigasi bencana. Termasuk penerapan keilmuan dan menyimpan alat early warning system,” ujarnya. MoU tersebut akan ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama yang direncanakan dilakukan pada Bulan November atau Desember 2018.
49
bencana/ http://jabar.tribunnews.com/2018/11/07/geoparkciletuh-pelabuhan-ratu-rawan-bencana-masyarakatharus-paham-mitigasi-bencana https://radarsukabumi.com/2018/12/09/potensibencana-geopark-ciletuh-dikaji-rdi-maipark/ http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/
Jembatan di atas Sungai
PALANGKARAYA
Kahayan yang menghubungkan Pahandut dan Pahandut Seberang
CALON IBUKOTA YANG BEBAS GEMPA Oleh : Najmuddin H. Fikri
Mantan Presiden Soekarno telah merencanakan kota Palangkaraya sebagai ibukota baru Republik Indonesia. Presiden Soekarno sudah meramalkan pertumbuhan ekonomi dan populasi di Provinsi Jakarta dan Pulau Jawa tidak akan terkendali sejak 1957 silam. Hal tersebut yang membuat presiden pertama Indonesia tersebut memunculkan wacana menjadikan Palangkaraya sebagai ibukota Indonesia menggantikan peran Jakarta. Wacana tersebut dituangkan Wijanarka dalam buku berjudul 'Soekarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya' yang menyaksikan langsung dua kali kunjungan Soekarno ke Palangkaraya pada medio 1950-an. Alasan lain yang mengakibatkan pindahnya ibukota yaitu Jakarta memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap gempa. Hal ini diakibatkan dengan kondisi dataran di Jakarta merupakan aluvial yang karakteristik batuannya lunak,
berumur muda, dan memiliki amplifikasi yang tinggi. Jakarta memang tidak memiliki sesar aktif, akan tetapi gempa yang terjadi di Jakarta berasal dari sekitar Jakarta, seperti Selat Sunda, selatan Jawa, dan sesar di daratan di wilayah Jawa Barat. Data sejarah memperlihatkan wilayah Jakarta (Batavia) hancur akibat gempa di darat dari pusat gempa di Jawa Barat pada 4-5 Januari 1699. Selanjutnya, gempa hebat melanda Batavia lagi pada 1780. Pada Agustus 1883, Jakarta terkena dampak gempa dan tsunami dari letusan Gunung Krakatau. Gempa bumi selalu memiliki pengulangan waktu. Langkah yang dilakukan pemerintah pusat untuk memindahkan ibukota sedang terus dikaji. melalui Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, mengatakan salah satu langkah detil yang sedang dilakukan oleh Bappenas OPINI | GEMA
50
OPINI adalah menyiapkan kajian terkait kondisi tanah termasuk akses pembangunan bagi wilayah ibu kota baru. Selain itu, kajian itu juga akan memastikan tiga hal. Pertama, mengenai luas lahan bebas yang sudah tersedia. Artinya tidak perlu ganti rugi. Kedua, kemudian dimensi kebencanaan yaitu risiko bencananya. Ketiga kesediaan infrastruktur di sekitar wilayah tersebut. Pulau Kalimantan merupakan bagian dari kerak Sunda (Sundaland) dan kerak Sunda ini merupakan bagian dari lempeng benua Eurasia. Menurut Minster dan Jordan (1978 dalam Yeats, 1997), Lempeng Eurasia yang bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan sekitar 0,4 cm/tahun bertumbukan dengan Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara dengan kecepatan sekitar 7 cm/ tahun. Zona tumbukan tersebut
terletak di sebelah barat Pulau Sumatra, selatan Pulau Jawa, hingga selatan Bali dan Nusa Tenggara, dan membentuk palung laut yang dikenal sebagai zona subduksi. Adapun Pulau Kalimantan posisinya terletak jauh dari zona tumbukan tersebut, sehingga relatif stabil secara tektonik. Morfologi Pulau
BAGAIMANA POTENSI GEMPA DI PULAU KALIMANTAN?
Kalimantan didominasi oleh perbukitan hingga perbukitan terjal pada bagian tengahnya, sedangkan dataran terdapat pada daerah sepanjang pantai. Morfologi perbukitan hingga perbukitan terjal tersusun oleh batuan berumur Pra Tersier dan Tersier, sedangkan morfologi dataran tersusun oleh batuan berumur Kuarter. Endapan Kuarter dan batuan sedimen Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami 51
pelapukan pada umumnya bersifat urai, lepas, belum kompak (unconsolidated), dan lunak. Endapan ini dapat memperkuat efek goncangan atau amplifikasi, sehingga rawan terhadap goncangan gempa. Struktur geologi Pulau Kalimantan didominasi oleh sesar dan lipatan. Secara umum sesarsesar di Pulau Kalimantan mempunyai tiga arah,
yaitu utara – selatan, barat laut – tenggara, dan barat daya – timur laut. Lipatan yang terdapat pada bagian timur Kalimantan pada umumnya berarah barat daya – timur laut. Pola struktur geologi tersebut terbentuk
2015 mencatat terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 5,7 SR dengan pusat gempa bumi berjarak 413 km timur laut Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara. Kedua kejadian gempa ini setidaknya dapat menjawab pertanyaan di atas, bahwa Pulau Kalimantan tidak sepenuhnya aman dari gempa. REFERENSI Putro jati, Gentur. (2017, 10 April). Mengingat Lagi Mimpi Soekarno Sulap Palangkaraya jadi Ibukota. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia. com/ekonomi/20170410155733-92-206350/ mengingat-lagi-mimpi-soekarno-sulappalangkaraya-jadi-ibukota?
akibat aktivitas tektonik yang terjadi sebelumnya. Berdasarkan kompilasi data dari beberapa peneliti (Hamilton, 1979; Moss ?; Simons dkk., 2007; Hutchison, 2007,), diperoleh beberapa nama sesar di Pulau Kalimantan, yaitu Sesar Tinjia di Serawak, Sesar Adang di Kalimantan Barat, Sesar Sangkulirang di Kalimantan Timur, Sesar Paternoster di Selat Makassar. Disamping itu, juga terdapat penunjaman Borneo di barat laut Sabah, penunjaman Sulu di timur laut Sabah, dan penunjaman Sulawesi Utara di timur Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur (Supartoyo). Gempa memang relatif jarang terjadi di Pulau Kalimantan, namun pada 5 Juni 2015, kita dikejutkan oleh terjadinya gempa di daerah Ranau, Sabah dengan magnitudo 6 SR (Skala Richter) yang mengakibatkan bencana, yaitu korban jiwa sebanyak 19 orang, longsoran di Gunung Kinibalu dan kerusakan bangunan di Kota Ranau. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 25 Pebruari
Hidayat, Rafki. (2017, 4 Juli). Dari Sukarno hingga Jokowi, mengapa Palangkaraya selalu jadi primadona ibu kota baru?. BBC Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/ indonesia-40490287 Nurita, Dewi. (2017, 13 Desember). 5 Alasan Palangkaraya Bisa Jadi Ibu Kota Pengganti Jakarta. Tempo.co. https://nasional.tempo.co/ read/1041903/5-alasan-palangkaraya-bisa-jadiibu-kota-pengganti-jakarta?page_num=3 Surveyor Pemetaan Madya di PVMBG, Badan Geologi, KESDM. 2015. MITOS TIADA GEMPA DI KALIMANTAN di http://geomagz. geologi.esdm.go.id/mitos-tiada-gempa-dikalimantan/#!prettyPhoto (diakses 13 Maret 2019) Ths. (2016, 12 April). Jakarta tidak Siap Hadapi Gempa. Media Indonesia. http://mediaindonesia. com/read/detail/39779-jakarta-tidak-siaphadapi-gempa
OPINI | GEMA
52
PEMASANGAN EARLY WARNING SYSTEM UNTUK DESA RAWAN BENCANA
Jawa Timur dikelilingi oleh gunung berapi aktif dan lautan, serta intensitas curah hujan yang tinggi. Hal ini menyebabkan wilayah Jawa Timur rawan terjadi bencana. BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jatim menyebut dari 38 kota dan kabupaten, ada 417 desa rawan bencana, baik itu bencana tsunami, longsor maupun banjir. Dari data BPBD Jatim diketahui bencana didominasi oleh faktor hydrometeorologI yang mencapai 53,84 persen. Hal ini tidak terlepas dari kondisi geografis, di mana Jawa Timur memiliki tujuh sungai dengan dua diantaranya adalah sungai besar, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo karena sungai menjadi bagian yang berpengaruh terhadap bencana banjir yang dipicu oleh curah hujan tinggi. Sungai Brantas bisa merendam 9 kabupaten, 31 kecamatan, dan 90 desa, sedangkan Sungai Bengawan Solo bisa merendam 10 kabupaten, 47 kecamatan, dan 139 desa. Daerah yang rawan banjir yaitu Ngawi, Madiun, Lamongan, Tuban, Gresik, Mojokerta, dan daerah di Pasuruan hingga Bondowoso. Pihak dari BPBD melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS) di sepanjang Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang rawan banjir. Potensi bencana lain yang dapat terjadi di Jawa Timur yaitu gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi yang mencapai 23,42 persen. Hal ini dikarenakan posisi Jawa Timur berdekatan dengan jalur 53
Oleh : Nazwa Khoiratun Hisan
pertemuan lempeng tektonik yaitu lempeng IndoAustralia. Jawa Timur juga memiliki tujuh gunung aktif seperti Gunung Semeru, Bromo, Ijen, Kelud, Raung, Arjuno, dan Baluran. Selain itu, Jawa Timur juga merupakan daerah yang memiliki kawasan pesisir dengan panjang garis pantainya mencapai 3.498 km. Ada 8 kabupaten dan 156 desa rawan tsunami di antaranya, Banyuwangi 46 desa, Jember 11 desa, Lumajan 15 desa, Malang 19 desa, Blitar 13 desa, Tulungagung 9 desa, Trenggalek 13 desa, dan Pacitan 24 desa. Sementara yang tergolong ancaman sedang ada di Situbondo 1 desa, Sampang 1 desa dan Pamekasan 2 desa.
Bencana lainnya yang juga dapat terjadi yaitu Upaya yang dilakukan tidak hanya dari gelombang ekstrem dan abrasi dengan presentase BPBD Jawa Timur saja melainkan juga dari 25,47 persen. pemerintah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur sendiri memasang early warning system di Menurut kajian risiko bencana yang dilaksanakan beberapa daerah. Sistem itu berguna untuk oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana memberi peringatan dini akan terjadinya suatu tahun 2016-2020, ada 12 ancaman bencana, 11 bencana dan melakukan pelatihan kepada bencana alam dan 1 bencana kegagalan teknologi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas seperti bocornya pipa gas di pemukiman sadar bencana sehingga bisa melakukan penduduk. Dengan adanya rawan bencana langkah antisipasi. tersebut, BPBD Jawa Timur terus melakukan REFERENSI upaya-upaya memberikan sosialisasi ke desaSuparno. (2019, Januari 11). 417 Desa Rawan Bencana, desa dan membentuk destana (Desa Tangguh Bencana). Selain itu, untuk mencegah resiko BPBD Jatim Pasang Early Warning System. Retrieved dan kerugian akibat bencana alam, BPBD Jawa Maret 16, 2019, from detikNews: https://news.detik. Timur melakukan serangkaian aksi, mulai dari com/berita-jawa-timur/d-4380521/417-desa-rawankesiapsiagaan sebelum bencana yang meliputi bencana-bpbd-jatim-pasang-early-warning-system mitigasi bencana, pencegahan, rencana siaga, dan Timur, D. K. (2016, Juli 21). Hydrometeorologi Domiperingatan dini pada masyarakat, sampai tanggap nasi Bencana di Jatim Hingga 53,84 Persen. Retrieved darurat bencana yang meliputi operasi tanggap Maret 15, 2019, from Kominfo Jatim: http://kominfo. darurat, rencana operasi, dan kajian darurat. Tidak jatimprov.go.id/read/umum/hydrometeorologi-domihanya itu, setelah bencana juga dilakukan kerja nasi-bencana-di-jatim-hingga-53-84-persen pemulihan, meliputi rehabilitasi, rekonstruksi dan pembangunan kembali. OPINI | GEMA
54
OPINI
NEW YOGYAKARTA INTERNATIONAL AIRPORT: REDUKSI BENCANA DI TENGAH ANCAMAN TSUNAMI LAUT SELATAN JAWA Oleh : Gerhana Prasetya Maket dari bandara baru di Kulonprogo (New Yogyakarta International Airport)
Pembangunan bandara baru di Yogyakarta atau yang dinamai bandar New Yogyakarta International Airport/NYIA sedang dalam pembangunan yang ditargetkan dapat beroprasi pada bulan April 2019. Tetapi dibalik megahnya pembangunan bandara NYIA, Kawasan selatan jawa menyimpan banyak potensi bencana geologi seperti gempa bumi dan tsunami. Hal itu diperkuat dengan data-data yang belum lama ini diteliti oleh Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) temuannya berupa deposit atau endapan tsunami di dekat lokasi bandara baru Yogyakarta. Menurut penuturan dari Kepala Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengemukakan bahwa deposit endapan 55
tsunami tersebut berumur sekitar 300 tahun yang seumuran dengan jejak pantai selatan Banten Jawa Barat, Beliau juga mengemukakan bahwa potensi gempa di selatan jawa mencapai Magnitude sembilan (M9). Hasil riset dari LIPI menunjukan bahwa buktibukti tsunami besar di selatan Jawa pernah terjadi di tahun 1699. Tsunami kala itu terjadi di Lebak (Banten) sampai Cilacap Timur (Jawa Tengah). Sejumlah deposit atau endapan tsunami lain juga ditemukan yang menunjukan umur 1.698 tahun lalu, 2.785 tahun lalu dan 3.598 tahun lalu. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tsunami di Selatan Jawa terjadi secara berulang
yang menunjukkan zona kegempaan aktif. Hal ini selaras dengan penelitian dari Peneliti Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Universitas Gadjah Mada (BPPTUGM), Widjo Kongko menjelaskan bahwa lokasi bandara baru sangat rawan terdampak tsunami. Beliau menganalogikan seperti tsunami dahsyat yang pernah terjadi di Pantai Pangandaran pada 17 Juli 2006 yang membawa sedimen dari laut sejauh 100-200 meter ke daratan dan menelan korban lebih dari 600 orang yang pada saat itu, tsunami Pangandaran memiliki magnitude 7,7 dengan ketinggian gelombang sekitar lima
sampai enam meter. Sistem Mitigasi Bencana Yang Diterapkan New Yogyakarta International Airport’ Peraturan Presiden Nomor 98/2017 yang terbit pada 23 Oktober 2017 menyebutkan bahwa Gubernur Yogyakarta, Bupati Kulon Progo, dan Bupati Purworejo sesuai kewenangan wajib melakukan pembangunan dan pemeliharaan sistem peringatan dini bencana tsunami dan penghalang tsunami. NYIA melalui PT Angkasa Pura I (AP-I) menjelaskan mengenai pembangunan bandara NYIA yang berdiri di area lahan seluas 587,3 hektar telah didesain menjadi bangunan yang tahan gempa dan tsunami. Sebagai mitigasi akan potensi bencana geologi seperti gempa dan OPINI | GEMA
56
tsunami di laut selatan Jawa, NYIA di Kulonprogo memperhitungkan dan meyakini bahwa seluruh sistem dan bangunan bandara NYIA tahan gempa hingga kekuatan 8,8 SR serta bencana tsunami yang mencapai ketinggian 12 meter. Terminal bandara NYIA di lantai dua mendapat tambahan 15 meter yang artinya jika sewaktuwaktu terjadi tsunami (12 meter) masih tetap aman. Pihak AP-I yang menjadi pengelola berkoordinasi dengan Pemerintah Kulon Progo untuk memanfaatkan kawasan tepi pantai sebagai penyangga bandara yang nantinya, di daerah penyangga itu akan ditanami vegetasi yang berfungsi sebagai penghalau gelombang tsunami. NYIA memiliki sistem mitigasi penaggulangan bencana dengan membangun NYIA diatas ketinggian tertentu di atas permukaan laut. Desain NYIA untuk memitigasi dampak tsunami, bangunan lantai satu berada di ketinggian sembilan meter. Landasan pacu NYIA juga dibuat pada ketinggian bidang empat meter di atas permukaan laut dan di lokasi jarak 400
57
meter dari bibir pantai. Terminal, berjarak satu kilometer dari landasan pacu hingga terdapat jeda waktu penyelamatan diri jika dimungkinkan terjadi gempa ataupun tsunami. Untuk mengurangi resiko tsunami AP-I juga berkonsultasi dengan pakar tsunami, BMKG dan beberapa peneliti dari Jepang untuk menerapkan pembangunan yang sadar akan mitigasi bencana. Bandara NYIA di Temon, Kulonprogo, DIY ini digadang-gadang menjadi bangunan yang tahan gempa dan tsunami walaupun lokasinya terletak di tepian Laut Selatan Jawa yang juga berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Sejumlah fasilitas keselamatan akan dipersiapkan guna menunjang mitigasi bencana dan meminimalkan resiko.
Fasilitas bandara lainnya terdapat di lantai dua terminal setinggi enam meter dari lantai dasar dengan konsep sebagai tempat evakuasi sementara (TES) untuk menyiapkan penumpang dan komunitas bandara jika kemungkinan terjadi tsunami. Ketika terjadi tsunami, penumpang langsung diarahkan mengamankan diri menuju lantai dua. Gedung terminal ini juga dilengkapi konstruksi sacrifice column atau kolom yang terdapat di sisi terminal namun dalam konstruksi tersendiri. Kolom ini berfungsi untuk membantu mengurangi energi hempasan gelombang yang bersifat destruktif sebelum mencapai fisik terminal. Sehingga, efek hempasan gelombang tidak merusak konstruksi terminal sehingga penumpang yang ada di dalamnya tetap aman. Perlu diketahui bahwa semua sistem mitigasi bencana di bandara dibangun untuk mencapai empat target utama yaitu pengurangan dampak dalam pembangunan mitigasi ini yaitu kematian akibat bencana, jumlah penduduk terdampak bencana, jumlah kerugian akibat bencana, dan kerusakan infrastruktur.
REFERENSI http://lipi.go.id/lipimedia/temuan-lipi-perkuat-bukti-pembangunan-bandara-kulon-progo-di-kawasan-rawan-bencana/18710 https://www.google.com/amp/s/www.mongabay.co.id/2019/01/29/bandara-yogyakarta-baru-di-wilayah-rawan-bencana-bagaimana-upaya-mitigasi-bagian-2/amp/
OPINI | GEMA
58
OPINI
59
Indonesia memiliki potensi geothermal yang sangat besar dimana potensi tersebut tersebar di 331 titik potensi, 30 provinsi dan 127 gunungapi. Potensi tersebut berada di sepanjang busur gunungapi aktif di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku. Potensi tersebut berjumlah 28579 MW yang terbagi dalam bentuk cadangan (reserve) sebesar 17506 MW dan sumberdaya (resources) sebesar 11073 MW. Contoh yang baik dari pemanfaatan energi dan penggunaan teknologi dari potensi geothermal dapat kita contoh dari keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla.
OPINI | GEMA
60
61
OPINI | GEMA
62
SNEAK PEEK
MENJELAJAHI PULAU-PULAU DI UJUNG INDONESIA HMTG UNIVERSITAS SYIAH KUALA
63
Aceh merupakan provinsi yang kompleks akan sumber daya alamnya baik berupa energi, bahan pangan, bahkan keindahan alamnya. Jika dilihat dari sudut pandang geologi, Aceh memiliki bentang alam dan panorama yang sangat menarik, seperti pulau-pulau kecil, pegunungan lipatan, perbukitan, pantai, danau, gunung api, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, Geowisata GOLD dicanangkan sebagai media untuk mempromosikan bentang alam Aceh sebagai daerah prospek geowisata yang memukau dan sangat sayang untuk disiasiakan.
Lokasi yang sekarang sedang digandrungi ini sebenarnya masuk ke dalam hutan lindung, maka dari itulah tidak heran jika suasananya cukup terjaga dengan baik dan asri. Selanjutnya Pulau Rubiah, dengan taman lautnya yang menawarkan pesona keindahan alam bawah laut yang dapat memukau siapa saja yang mengunjunginya. Hangatnya malam juga dirasakan peserta seraya makan bersama dengan warga Jaboi. Pada hari ketiga, peserta menuju ke objek wisata Kota Sabang dan berwisata kuliner sebelum kembali ke Pelabuhan menuju Benteng Jepang di Anoi Hitam.
Geowisata GOLD secara keseluruhan merupakan rangkaian kunjungan selama tiga hari ke Pulau Weh, Kota Sabang. Hari pertama, kegiatan diawali dengan menyambangi tempat-tempat wisata yang memiliki nilai sejarah geologi. Selain itu, Kawah Gunung Api Iboih juga menjadi destinasi geowisata yang menarik. Di daerah kawah ini tersebar lubang-lubang yang mengeluarkan aroma gas sulfur. Hari selanjutnya, daerah yang dituju yaitu Gua Sarang, Pulau Rubiah, dan Tugu 0 Kilometer. Memiliki alam yang sangat eksotis, tidak pelak jika Gua Sarang sering dijuluki “Mini Raja Ampat�.
Hal yang dapat dipelajari dari tiga hari kegiatan Geowisata GOLD adalah selalu ada alasan bagi kita untuk bersyukur atas kekayaan alam yang Indonesia miliki. Maka dari itu, sudah seharusnya kita memiliki rasa peduli akan lingkungan agar senantiasa lestari dan keindahannya dapat dinikmati anak cucu kita kelak. Dukungan banyak pihak juga sangat diperlukan untuk mengembangkan potensi geowisata Aceh sehingga anugerah tersebut juga dapat bermanfaat untuk menyejahterakan hajat masyarakat sekitar.
one day lecturer HMTG “SRIWIJAYA� UNSRI
Pulau Sumatra memiliki beragam sumber daya alam. Salah satu peran geolog adalah mencari dan mengembangkan energi sumber daya tersebut. Persoalan Minyak dan Gas Bumi menjadi salah satu topik yang selalu menarik dibahas. Kali ini Bapak Johnson Achmad Paju sebagai Exploration Commitment Manager for Region III SKK Migas yang berbagi pengalaman juga pandangan beliau terhadap masa depan dari sektor ini di Universitas Sriwijaya pada Sabtu (2/3) lalu. Jadi, apakah sektor ini akan menjadi pilihan kalian selanjutnya?
RAMADHAN WITH PERHIMAGI HMTG J.A.K UNG
Kecil-kecil cabe rawit. Kalau biasanya rawit identik dengan cabe hijau berukuran kecil dan sangat pedas, berbeda dengan rawit yang satu ini. Ramadhan With PERHIMAGI atau disingkat dengan RAWIT merupakan program kerja PERHIMAGI yang bertujuan meningkatkan nilai keimanan diiringi dengan niat yang ikhlas serta menggugah mahasiswa untuk melakukan kebaikan yaitu kemudian dikaitkan dengan ilmu geologi berbagi bersama dalam bulan Ramadhan. yang tentunya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh peserta, RAWIT diikuti oleh mahasiswa dan santri Pesantren Darul khususnya Santri Ponpes Darul Mubin. Mubin Kota Gorontalo. Kegiatan ini dilaksaknakan pada Kamis (24/5) di Kelurahan Buliide, Kecamatan Kota Barat, Kegiatan berikutnya yaitu Buka Puasa Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Bersama dan salat magrib berjamaah. Agenda Ngabuburit Time terdiri dari Tadarus, Tebak Nama Surah, dan Sambung Ayat Alquran. Di dalam Ngabuburit Time kegiatan di atas, peserta juga diberikan pengetahuan tentang proses pembentukan bumi menurut Alquran,
Interaksi antara mahasiswa dengan santri Pesantren Darul Mubin berlangsung seru. Setelah bukber, dilaksanakan agenda Tadarus Alquran yang dirangkaikan dengan salat isya dan tarawih berjamaah.
SNEAK PEEK | GEMA
64
SNEAK PEEK HMTG UNIVERSITAS TRISAKTI
PERHIMAGI MENGAJAR Ibarat bangunan yang memerlukan tiang-tiang untuk berdiri, manusia juga memerlukan pendidikan sebagai salah satu tiang penyangga dalam kehidupan. Pendidikan yang baik dimulai sejak dini, sehingga pada Sabtu (8/12), HMTG Universitas Trisakti menyambangi area Jelambar Baru, Jakarta Barat untuk menularkan semangatnya kepada anak-anak di lingkungan tersebut untuk belajar. Belajar bukan hanya seputar eksak yang dipelajari di sekolah, namun juga mengenai kewarganegaraan dan nasionalisme agar anak-anak Indonesia juga semakin mencintai tanah airnya.
65
SNEAK PEEK HMTG “PANGEA” UPN “V” YK
uncover geoheritage
67
Kegiatan yang diselenggarakan oleh HMTG “Pangea” UPN “Veteran” Yogyakarta ini merupakan fieldtrip di beberapa stopsite yang merepresentasikan sejarah pembentukan Pulau Jawa . Bertajuk “Geology on your doorstep”, kegiatan ini menunjukkan bahwa hal-hal yang bersifat historis pun dapat berada di sekitar kita. Lokasi pertama yaitu pada area Berbah, terdapat lava bantal yang berdasarkan korelasi stratigrafi berumur sekitar oligosen. Keberadaan produk tersebut menandakan bahwa area ini dahulu berupa laut.
Kemudian dari Berbah, pemberhentian berikutnya adalah Kali Ngalang. Batuan pada lokasi ini tersusun atas perselingan batupasir karbonatan dengan breksi polimik dari Formasi Sambipitu. Pada batupasir tersebut terlihat bioturbasi yang menandakan bahwa lingkungan pengendapan area dulunya pada lingkungan laut dangkal hingga pantai. Lokasi berikutnya yaitu di Kecamatan Patuk. Pada daerah ini terdapat Gunung Api Purba Nglanggeran. Batuan pada area ini merupakan bagian dari Formasi Nglanggeran yang tersusun atas aglomerat.
SNEAK PEEK PEEK SNEAK HMTG “MEBI” UNIPA
MEBI PELITA “Bersih Pangkal Sehat” merupakan peribahasa yang memiliki arti bahwa lingkungan yang bersih dapat memberikan kesehatan tidak hanya bagi manusia saja, namun bagi seluruh makhluk yang hidup di dalamnya. Namun, hal yang disayangkan di era globalisasi ini ialah sampah menjadi masalah yang cukup serius di tengah masyarakat. Dewasa ini kepedulian masyarakat akan masalah
69
lingkungan masih sangat kurang. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat sehingga sampah sering kali menjadi penyebab terjadinya banjir karena sampah-sampah tersebut masuk dalam saluran-saluran air dan mengahambat laju aliran air. Dengan tujuan meningkatkan kesadaran
pemuda dan masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan, maka Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi MEBI Universitas Papua menyelanggarakan program kerja yang berjudul MEBI PELITA (Mebi Peduli Lingkungan Tanjung) yang mengusung visi meningkatkan kesadaran diri dalam jiwa muda agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Program kerja tersebut diselenggarakan di Tanjung Saoka Distrik Sorong Barat, Provinsi Papua Barat pada Sabtu, 2 Maret 2019. Kegiatan ini dilaksanakan selama selama satu hari dari pukul 8:00 hingga pukul 17:00. Peserta yang tergabung dalam kegiatan ini adalah suluruh anggota dan juga alumni Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi MEBI Universitas Papua. Keberhasilan program
kerja ini dapat dilihat dari respon masyarakat dan Pemerintah Daerah Tanjung Saoka Distrik Sorong Barat yang sangat antusias telah diadakannya program kerja ini. Setelah diadakannya program kerja ini, diharapkan kesadaran masyarakat khususnya pemuda sekitar akan kebersihan lingkungan terus meningkat karena dengan kebersihan lingkungan maka harmoni antara alam, manusia dan seluruh makhluk hidup di dalamya akan terjaga dengan seimbang sehingga dapat mencegah bencanabencana akibat sampah seperti banjir dan pencemaran lingkungan. Semoga program kerja ini dapat menginspirasi seluruh masyarakat dan pembaca secara luas.
humas
PERHIMAGI goes to campus PERHIMAGI Goes to Campus atau biasa disingkat dengan PGC merupakan program kerja yang berperan sebagai sarana yang memperkenalkan PERHIMAGI ke institusi tertentu sehingga semua informasi tentang PERHIMAGI menjadi terjangkau, dapat diketahui, dan dipahami oleh anggota himpunan masing-masing institusi. Program kerja yang telah berlangsung dua kali selama periode ini pertama kali dilaksanakan di Universitas Patimura pada tanggal 22 Juni 2018, diikuti oleh Universitas Prisma pada tanggal 2 Oktober 2018 mengingat kedua perguruan tinggi tersebut belum masuk keanggotaan PERHIMAGI. Pemaparan materi dilakukan langsung oleh sekjen PERHIMAGI, Halik Rifki Daeng Taha, meliputi perkenalan PERHIMAGI, sejarah PERHIMAGI, dan pengenalan anggota-anggota PERHIMAGI.
diskusi eksternal Salah satu program kerja Divisi Humas periode ini adalah Diskusi Eksternal. Diskusi Eksternal merupakan program kerja yang bertujuan untuk membangun relasi antara PERHIMAGI dengan instansi eksternal untuk mencari dan menggali informasi sekaligus menjalin pertemanan. Tugas Divisi Humas yaitu mencari informasi sasaran intansi eksternal dan menetapkan waktu pelaksaannya. Diskusi pertama dilakukan dengan HMGI antara Wakil Ketua Bidang Eksternal, Ratih Sukma P. dan sekjen PERHIMAGI. Pertemuan tersebut membuahkan beberapa pokok bahasan: pertama, adanya inisiasi HMGI dan PERHIMAGI untuk membuat kegiatan kolaborasi beberapa organisasi kebumian; kedua, adanya ajakan HMGI kepada PERHIMAGI untuk bermitra di dalam bidang publikasi kegiatan. Diskusi kedua dilaksanakan bersama PERMATA (Persatuan Mahasiswa Tambang Indonesia) di Yogyakarta. Pertemuan tersebut secara keseluruhan membicarakan tentang kegiatan-kegiatan di ruang lingkup PERMATA dan PERHIMAGI. PERHIMAGI yakin dengan dilaksanakannya program kerja Diskusi Eksternal, kegiatan ini mampu memelihara silahturahmi antara himpunan mahasiswa geologi dengan himpunan mahasiswa pertambangan. 71
PDH DIGDAYA Siapa yang tidak tahu PDH kebanggan milik PERHIMAGI ini? PDH PERHIMAGI boleh dibilang sebagai identitas yang menjadi kebutuhan bagi tiap anggota PERHIMAGI. Sebagai mahasiswa geologi yang ambil bagian dalam anggota PERHIMAGI, PDH Digdaya acap kali memberikan kesan kekompakan, kesatuan, dan keselarasan pada saat acara-acara yang diadakan oleh PERHIMAGI. PDH ini identik dengan warna hitam, dihiasi emblem PERHIMAGI di dada bagian kiri, patch bendera merah putih di bahu kanan, dan tulisan PERHIMAGI yang membentang di belakang PDH serta ventilasi tepat di bagian
bawahnya. Agar rasa bangga akan memakai PDH PERHIMAGI kian tumbuh dan terpelihara, maka Divisi Hubungan Masyarakat mencanangkan program PDH Digdaya bagi semua anggota PERHIMAGI agar mengenakan PDH PERHIMAGI setiap hari Senin. Program ini diberlakukan di seluruh himpunan geologi yang masuk ke dalam kesatuan PERHIMAGI. PDH Digdaya diharapkan mampu menumbuhkan rasa sadar akan peran dan tanggung jawab setiap anggota yang katakanlah lebih besar dibandingkan mahasiswa geologi yang lain.
SEKILAS PERHIMAGI
charity Charity adalah program yang merepresentasikan sikap tanggap PERHIMAGI di dalam bidang sosial. Beberapa tahun terakhir, Indonesia sempat diterpa bencana alam yang bertubi-tubi. Tidak sedikit dari saudara-saudari kita yang menjadi korban sehingga PERHIMAGI sadar akan panggilan kemanusiaan dan status urgensi yang tidak terbendung lagi. Oleh karena itu, Divisi Hubungan Masyarakat memiliki tekad untuk bertindak layaknya simpul yang mengeratkan setiap himpunan sekaligus anggota PERHIMAGI untuk memantik rasa empati dan beraksi dilandasi tenggang rasa. Selama periode ini, Charity sudah terlaksana di beberapa lokasi, yaitu Lombok, Palu, Banten, dan Sentani. Aksi peduli gempa Lombok dilaksanakan pada Selasa (7/8) melibatkan sekjen PERHIMAGI dalam mendistribusikan berbagai kebutuhan logistik seperti selimut, matras, tenda, sembako, dan kebutuhan lainnya. Dua bulan kemudian, aksi peduli gempa dan tsunami Palu dilakukan tepatnya pada Rabu (10/10) oleh sekjen PERHIMAGI, ketua BPH Humas, Muhammad Fahmi Salim, rekan-rekan HMTG TADULAKO FT-UNTAD, dan rekan-rekan HMG FT-UH. Hal yang sama juga dilakukan di Banten yang terkena tsunami akibat longsoran bawah laut Gunung Anak Krakatau. Segala bentuk bantuan yang diserahkan kepada korban bencana alam sepenuhnya diperoleh dari aksi galang dana oleh seluruh institusi yang bergabung dalam PERHIMAGI. 73
akademik Staf Ahli Akademik periode ini kembali dengan sejumlah program kerja menarik. Selain lima program kerja utama, Staf Ahli Akademik juga memiliki dua program kerja unggulan. ARTIKEL GEOLOGI Jenuh dengan bahan bacaan yang padat dan panjang, salah satu solusi dari masalah tersebut adalah dengan membaca bacaan yang lebih ringkas namun tetap mencakup inti yang dibutuhkan. Penyusunan artikel geologi membahas topik spesifik. Sumber yang digunakan antara lain buku dan jurnal ilmiah. Artikel yang telah disusun diunggah ke situs web PERHIMAGI. GEO-LOGIC Apabila kamu menyukai teka-teki, tentunya program kerja yang satu ini yang paling ditunggu. Geo-Logic merupakan media penyampaian isu maupun teori dalam bentuk trivia, dan di akhir terdapat pertanyaan yang dilemparkan untuk dijawab. Jawaban yang dikirim akan dikumpulkan dan dinilai oleh Staf Ahli Akademik. Peserta dengan jawaban yang paling lengkap dan logis akan diberi reward oleh Staf Ahli Akademik. GeoLogic beberapa waktu lalu mengangkat isu panas bumi. Harapannya program ini dapat menjadi wadah untuk memacu mahasiswa memberikan solusi atau argumen dalam memecahkan permasalahan di bidang Geologi. SEKILAS PERHIMAGI | GEMA
74
YOUTUBE CHANNEL: TUTORIAL SOFTWARE GEOLOGI
Program kerja ini dilakukan dengan cara membagikan tutorial, yakni langkah-langkah bagaimana prosedur menggunakan software atau perangkat lunak yang sering digunakan dalam dunia geologi untuk menghasilkan output tertentu. Tutorial yang dibagikan berasal dari software beken di kalangan geolog yaitu ArcGIS
75
dan AutoCAD. Kenyataannya, ada banyak perangkat lunak yang mampu menunjang pekerjaan-pekerjaan geologi. Kendati demikian, kedua software tersebut adalah yang paling familiar, memiliki fungsi yang sangat penting, dan penggunaannya yang tidak terlalu rumit. ArcGIS dan AutoCAD sudah menjadi “sobat� lama bagi para geologist untuk mempermudah pekerjaan geologi, baik di dunia profesional, maupun level amatir. Output yang dihasilkan dari tutorial kedua software tersebut adalah peta rawan bencana dari ArcGIS dan perhitungan cadangan dari AutoCAD. Tutorial tersebut disampaikan dalam bentuk video yang akan menuntun kita langkah demi langkah. Pengisi suara yang memandu kita juga akan mempermudah kita memahami prosedur secara keseluruhan. Video tersebut diunggah melalui akun Youtube PERHIMAGI dengan jadwal publikasi tiga kali selama satu periode kepengurusan. Target partisipan program kerja ini secara umum ialah elemen masyarakat (pengguna Youtube) dan secara khusus diperuntukkan bagi mahasiswa jurusan teknik geologi di seluruh Indonesia.
MEDINFO
Seiring dengan berkembangnya jaman, kemajuan teknologi semakin hari semakin sarat kita rasakan, terutama bagi generasi milineal. Tidak bisa dimungkiri, hampir semua hal yang kita kerjakan di dalam aktivitas sehari-hari melibatkan bantuan teknologi informasi (IT). Oleh karena itu, mahasiswa sudah seharusnya dapat berpikir inovatif dan kreatif dalam membaca peluang memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan teknologi sehingga segala sesuatu dapat dikerjakan dengan efektif dan dalam waktu yang efisien, terlebih bagi mahasiswa geologi yang sering berurusan dengan output visual seperti pemetaan, penampang, permodelan, dan lain-lain. Hal inilah yang menjadi latar belakang munculnya program kerja Youtube Chanel: Tutorial Sofware Geologi oleh Divisi Media Informasi PERHIMAGI.
KEWIRAUSAHAAN
Contact Us : @perhimagiofficial @xjt5118h perhimagi.indonesia@gmail.com Perhimagi Official SEKILAS PERHIMAGI | GEMA
76
gema GEOLOGICAL MAGAZINE OF PERHIMAGI
KISAH NEGERI TERAPUNG DI CINCIN API PASIFIK ED. 01 | APRIL 2019