Kampung yang kami tuju berjarak sekitar tiga sampai empat kilometer dari Kantor Desa. Jalanan berbatu berpadan dengan udara sejuk menimbulkan
perpaduan
yang
kurang
harmonis tetapi cukup asyik untuk sekedar menjadi pemicu percakapan-percakapan basabasi di antara kami. Foto dari atas berputar searah jarum jam. Pemandangan pagi itu, dekat kantor Desa Sukaluyu. Perjalanan dari Kantor Desa Sukaluyu menuju Palgenep, Citameang dan Gismir. Dari kiri ke kanan: Nuha, Aul, Hanif, Umar, Rafsa (saya), Ojan (motor), Erza (motor), Fekri, Rifan, Kirana, Ines. Pak Usep.
Tak terasa, sampailah kami di titik kumpul, “Toko Besar Palgenep�, yang belakangan diketahui dimiliki oleh Bu Cucu. Kamipun berpisah menuju kampung masing-masing. Saya
bersama
teman-teman
saya
yang
kedapatan di Palgenep langsung menuju rumah Pak Usep, Ketua RT Palgenep. Pak Usep, pria asli Palgenep yang berumur 38 tahun,
merupakan pengguna
logat Sunda
Medok yang lihai. Beliau mempunyai skill diplomasi
yang
tinggi
juga
merupakan
pembujuk yang handal, setidaknya di seantero Palgenep, terbukti saat mencarikan tempat tinggal,
tidak lupa, bersenang-senang.
kami
juga saat mempromosikan
Palgenep memiliki wilayah yang dipenuhi oleh perkebunan berbagai macam tanaman, dengan didominasi
tanaman teh. Nama Palgenep
sendiri merupakan nama peninggalan zaman
produk warganya kepada kami. Bagaimana
Belanda. Pal diartikan sebagai patok atau batas,
beliau dapat melihat
suatu persoalan dari
dan genep merupakan Bahasa Sunda dari angka
berbagai sisi adalah hal yang saya kagumi.
enam (6). Palgenep sendiri dinamai demikian
Beliau juga terlihat akrab dengan semua warga,
karena berada pada wilayah batas ke-enam dari
yang mungkin, merupakan alasan mengapa dia
Belanda. Hal itu menjelaskan mengapa dikenal
terpilih menjadi ketua RT.
pula Pallima pada batas-batas kebun di sebelah
Pada hari pertama kedatangan kami, Pak Usep menawarkan berkeliling
kami Palgenep
bersilaturahmi
dan
untuk
mengantar
untuk
berkenalan,
nitipkeun
awak
(menitipkan diri) pada warga sekitar selama empat hari berrencana berkegiatan. Perkenalan itu memiliki rasa yang berbeda- beda. Ada warga yang memang sudah secara hangat menyambut kami sejak pertemuan pertama dengan basa-basi khas orang Sunda pedesaan, tetapi ada juga beberapa warga yang masih terlihat waspada di balik senyumnya dalam menerima kami, hal yang wajar terjadi pada awal perkenalan.
pentolan warga, membuat saya merasa bahwa ini adalah awal yang baik bagi kami dalam menjalani project yang telah direncanakan. kamipun
berkeliling,
Palgenep. Secara umum, warga Palgenep memiliki sifat yang ramah. Mayoritas dari mereka akan menjawab dengan senang hati bila diberikan pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan, meskipun ada pula beberapa dari mereka yang cenderung malu-malu bila ditanya. Sifat malumalu ini sangat terlihat terutama di kalangan anak-anak. Malu-malu kucing lebih tepatnya. Namanya juga anak-anak. Profesi
utama
warga
Palgenep
adalah
berkebun. Selain berkebun, ada pula warga yang memiliki ternak, berdagang, membuka
Perkenalan dengan dibimbing oleh salah satu
Maka
kebun teh di kawasan Pangalengan pada zaman
memulai
mengenal,
project
mempelajari,
kami: dan
mendokumentasikan keadaan kampung, juga
warung dan membuka toko. Dalam berkebun, peran yang diambil bermacam-macam. Ada yang mengambil mandor,
peran sebagai pemetik,
tengkulak,
dan
pemilik
tanah.
Pemetik adalah orang yang bertugas memetik atau memanen secara langsung.
tanaman-tanaman
tersebut
Mandor bertugas sebagai
pengawas pemetik Tengkulak
dalam satu kawasan.
merupakan
orang
Gambaran yang telah didapatkan mengenai
yang
Palgenep tersebut kami tuangkan ke dalam
mengumpulkan hasil panen untuk selanjutnya
sebuah video yang akan dipertontonkan pada
dijual atau diproses secara komunal. Pemilik
seluruh warga pada malam terakhir Panas
tanah adalah orang yang memiliki tanah kebun
Dingin
yang ditanami. Kegiatan berkebun biasanya
sebutlah dipertontonkannya video ini pada
dilakukan sejak pagi hari sekitar pukul 6 sampai
warga sebagai main event Panas Dingin Project:
7 pagi sampai sore sekitar pukul 1 sampai 4.
Layar tancep nonton diri sendiri bagi warga.
Project.
Supaya
kebarat-baratan,
Tujuannya tidak muluk-muluk: berbagi tawa, Ada fakta unik yang kami temukan mengenai
berbagi kesenangan.
perkebunan di Palgenep. Ternyata, perkebunan yang berada di wilayah Palgenep mayoritas
Sampailah kami pada main event yang telah
bukan milik warga sekitar, melainkan milik
direncanakan
orang dari luar daerah tersebut. Selain itu, tidak
sambutan Pak RW dari kampung Girimukti
semua warga Palgenep mengerjakan kebun-
(Palgenep dan Citameang) juga Pak RW dari
kebun di kampungnya sendiri. Cukup banyak
kampung
warga yang malah mengerjakan kebun di luar
internal warga, acara langsung dilanjutkan ke
kampungnya, yang letaknya cukup jauh.
pemutaran video dari masing-masing
tersebut.
Gismir
Dibuka
yang dipenuhi
dengan
heureuy tim.
Gelak tawa warga-warga tak terhindarkan saat Urusan pendidikan,
Palgenep sudah tidak
mengalami kesulitan. Disana sudah tersedia SD yang didirikan oleh yayasan, tersedia pula Madrasah atau biasa dikenal sebagai PAUD
munculnya tokoh-tokoh video yang tidak lain dan tidak bukan adalah mereka dan kawankawan mereka sendiri. Malam itupun ditutup dengan kegembiraan.
yang menjadi tempat belajar mengaji bagi anakanak setiap sore hari. Memang, SD yang ada baru menyediakan pendidikan sampai kelas 4, SMP dan SMA pun belum tersedia, tetapi, yayasan yang sama dengan yang membangun SD sudah bersedia untuk membangun SMP dan SMA
jika
siswa-siswi
yang
sekarang
menduduki kelas 4 SD tersebut telah beranjak ke SMP atau SMA. Setidaknya itulah yang dikatakan salah satu warga kepada kami. Begitulah kurang lebih keadaan Palgenep.
Bahagia itu sederhana. Begitulah dunia, manusia dan persoalannya di bawah bimbingan Tuhan mengetuk nurani saya malam itu. Terkadang manusia lupa melihat
Foto dari kiri ke kanan Tim kami bersama Bi Wawa, penyedia makan kami selama Panas Dingin Project. Tim kami Pak Usep dan keluarga
sekelilingnya untuk sekedar bersyukur dan merasa
bahagia,
menghabiskan
karena
waktu
terlalu
melihat
banyak ke
atas,
memikirkan bagaimana cara menuju hamparan langit yang jauh disana dan merasa bahwa kebahagiaan hanya ada ketika kakinya sudah menapaki hamparan itu. Panas
Dingin
penghujungnya,
Project
pun
memasuki
kamipun berpamitan pada
seluruh warga untuk berterimakasih, meminta maaf dan sekeder mengambil foto kenangkenangan. •