Skip to main content

Panas Dingin Project: Palgenep dari dalam Kepalaku

Page 1

Kampung yang kami tuju berjarak sekitar tiga sampai empat kilometer dari Kantor Desa. Jalanan berbatu berpadan dengan udara sejuk menimbulkan

perpaduan

yang

kurang

harmonis tetapi cukup asyik untuk sekedar menjadi pemicu percakapan-percakapan basabasi di antara kami. Foto dari atas berputar searah jarum jam. Pemandangan pagi itu, dekat kantor Desa Sukaluyu. Perjalanan dari Kantor Desa Sukaluyu menuju Palgenep, Citameang dan Gismir. Dari kiri ke kanan: Nuha, Aul, Hanif, Umar, Rafsa (saya), Ojan (motor), Erza (motor), Fekri, Rifan, Kirana, Ines. Pak Usep.

Tak terasa, sampailah kami di titik kumpul, “Toko Besar Palgenep�, yang belakangan diketahui dimiliki oleh Bu Cucu. Kamipun berpisah menuju kampung masing-masing. Saya

bersama

teman-teman

saya

yang

kedapatan di Palgenep langsung menuju rumah Pak Usep, Ketua RT Palgenep. Pak Usep, pria asli Palgenep yang berumur 38 tahun,

merupakan pengguna

logat Sunda


Medok yang lihai. Beliau mempunyai skill diplomasi

yang

tinggi

juga

merupakan

pembujuk yang handal, setidaknya di seantero Palgenep, terbukti saat mencarikan tempat tinggal,

tidak lupa, bersenang-senang.

kami

juga saat mempromosikan

Palgenep memiliki wilayah yang dipenuhi oleh perkebunan berbagai macam tanaman, dengan didominasi

tanaman teh. Nama Palgenep

sendiri merupakan nama peninggalan zaman

produk warganya kepada kami. Bagaimana

Belanda. Pal diartikan sebagai patok atau batas,

beliau dapat melihat

suatu persoalan dari

dan genep merupakan Bahasa Sunda dari angka

berbagai sisi adalah hal yang saya kagumi.

enam (6). Palgenep sendiri dinamai demikian

Beliau juga terlihat akrab dengan semua warga,

karena berada pada wilayah batas ke-enam dari

yang mungkin, merupakan alasan mengapa dia

Belanda. Hal itu menjelaskan mengapa dikenal

terpilih menjadi ketua RT.

pula Pallima pada batas-batas kebun di sebelah

Pada hari pertama kedatangan kami, Pak Usep menawarkan berkeliling

kami Palgenep

bersilaturahmi

dan

untuk

mengantar

untuk

berkenalan,

nitipkeun

awak

(menitipkan diri) pada warga sekitar selama empat hari berrencana berkegiatan. Perkenalan itu memiliki rasa yang berbeda- beda. Ada warga yang memang sudah secara hangat menyambut kami sejak pertemuan pertama dengan basa-basi khas orang Sunda pedesaan, tetapi ada juga beberapa warga yang masih terlihat waspada di balik senyumnya dalam menerima kami, hal yang wajar terjadi pada awal perkenalan.

pentolan warga, membuat saya merasa bahwa ini adalah awal yang baik bagi kami dalam menjalani project yang telah direncanakan. kamipun

berkeliling,

Palgenep. Secara umum, warga Palgenep memiliki sifat yang ramah. Mayoritas dari mereka akan menjawab dengan senang hati bila diberikan pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan, meskipun ada pula beberapa dari mereka yang cenderung malu-malu bila ditanya. Sifat malumalu ini sangat terlihat terutama di kalangan anak-anak. Malu-malu kucing lebih tepatnya. Namanya juga anak-anak. Profesi

utama

warga

Palgenep

adalah

berkebun. Selain berkebun, ada pula warga yang memiliki ternak, berdagang, membuka

Perkenalan dengan dibimbing oleh salah satu

Maka

kebun teh di kawasan Pangalengan pada zaman

memulai

mengenal,

project

mempelajari,

kami: dan

mendokumentasikan keadaan kampung, juga

warung dan membuka toko. Dalam berkebun, peran yang diambil bermacam-macam. Ada yang mengambil mandor,

peran sebagai pemetik,

tengkulak,

dan

pemilik

tanah.

Pemetik adalah orang yang bertugas memetik atau memanen secara langsung.

tanaman-tanaman

tersebut

Mandor bertugas sebagai


pengawas pemetik Tengkulak

dalam satu kawasan.

merupakan

orang

Gambaran yang telah didapatkan mengenai

yang

Palgenep tersebut kami tuangkan ke dalam

mengumpulkan hasil panen untuk selanjutnya

sebuah video yang akan dipertontonkan pada

dijual atau diproses secara komunal. Pemilik

seluruh warga pada malam terakhir Panas

tanah adalah orang yang memiliki tanah kebun

Dingin

yang ditanami. Kegiatan berkebun biasanya

sebutlah dipertontonkannya video ini pada

dilakukan sejak pagi hari sekitar pukul 6 sampai

warga sebagai main event Panas Dingin Project:

7 pagi sampai sore sekitar pukul 1 sampai 4.

Layar tancep nonton diri sendiri bagi warga.

Project.

Supaya

kebarat-baratan,

Tujuannya tidak muluk-muluk: berbagi tawa, Ada fakta unik yang kami temukan mengenai

berbagi kesenangan.

perkebunan di Palgenep. Ternyata, perkebunan yang berada di wilayah Palgenep mayoritas

Sampailah kami pada main event yang telah

bukan milik warga sekitar, melainkan milik

direncanakan

orang dari luar daerah tersebut. Selain itu, tidak

sambutan Pak RW dari kampung Girimukti

semua warga Palgenep mengerjakan kebun-

(Palgenep dan Citameang) juga Pak RW dari

kebun di kampungnya sendiri. Cukup banyak

kampung

warga yang malah mengerjakan kebun di luar

internal warga, acara langsung dilanjutkan ke

kampungnya, yang letaknya cukup jauh.

pemutaran video dari masing-masing

tersebut.

Gismir

Dibuka

yang dipenuhi

dengan

heureuy tim.

Gelak tawa warga-warga tak terhindarkan saat Urusan pendidikan,

Palgenep sudah tidak

mengalami kesulitan. Disana sudah tersedia SD yang didirikan oleh yayasan, tersedia pula Madrasah atau biasa dikenal sebagai PAUD

munculnya tokoh-tokoh video yang tidak lain dan tidak bukan adalah mereka dan kawankawan mereka sendiri. Malam itupun ditutup dengan kegembiraan.

yang menjadi tempat belajar mengaji bagi anakanak setiap sore hari. Memang, SD yang ada baru menyediakan pendidikan sampai kelas 4, SMP dan SMA pun belum tersedia, tetapi, yayasan yang sama dengan yang membangun SD sudah bersedia untuk membangun SMP dan SMA

jika

siswa-siswi

yang

sekarang

menduduki kelas 4 SD tersebut telah beranjak ke SMP atau SMA. Setidaknya itulah yang dikatakan salah satu warga kepada kami. Begitulah kurang lebih keadaan Palgenep.

Bahagia itu sederhana. Begitulah dunia, manusia dan persoalannya di bawah bimbingan Tuhan mengetuk nurani saya malam itu. Terkadang manusia lupa melihat


Foto dari kiri ke kanan Tim kami bersama Bi Wawa, penyedia makan kami selama Panas Dingin Project. Tim kami Pak Usep dan keluarga

sekelilingnya untuk sekedar bersyukur dan merasa

bahagia,

menghabiskan

karena

waktu

terlalu

melihat

banyak ke

atas,

memikirkan bagaimana cara menuju hamparan langit yang jauh disana dan merasa bahwa kebahagiaan hanya ada ketika kakinya sudah menapaki hamparan itu. Panas

Dingin

penghujungnya,

Project

pun

memasuki

kamipun berpamitan pada

seluruh warga untuk berterimakasih, meminta maaf dan sekeder mengambil foto kenangkenangan. •


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook