0MFI .PIBNNBE *MIBN "LCBS 4"11, 1FMJUB .VEB 'PUP 0MFI &S[B 8JOBOUP
kebutuhannya; menuntut solusi terbaik menurut mereka walau mungkin solusi itu bisa memperburuk situasi. Naratif seperti itu juga mendorong dibanggakannya programprogram pengabdian masyarakat yang memberikan banyak bantuan materiil namun mungkin saja salah sasaran, atau justru berkegiatan yang mungkin justru menimbulkan kerugian bagi masyarakat. 3. Mari berikan yang terbaik yang kita bisa! Ada satu unsur dari peran mahasiswa yang menurut saya sering terlewat. Bersama agent of change dan social control ada iron stock, yaitu menjadi generasi penerus di masa depan. Peran perguruan tinggi menurut Bung Hatta adalah untuk membentuk manusia, bukan mahasiswa yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, serta cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat. Maka dari itu, pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa, menurut saya, bukanlah difokuskan untuk memajukan dan mencerdaskan bangsa saat ini juga. Karena jujur saja, apalagi untuk mahasiswa TPB seperti saya, ilmu dan keahlian apa yang saya punya untuk menyelesaikan masalah-masalah mendalam yang dihadapi oleh jutaan masyarakat Indonesia? Peran mahasiswa adalah untuk mencari ilmu setinggi-tingginya, dan menumbuhkan empati sedalamdalamnya; agar ketika datang ilmu yang benar-benar yakin bisa bermanfaat saat itu juga dan didukung oleh banyak pihak, barulah bisa menjadi program pengabdian kepada masyarakat. Yang lebih penting, agar di masa depan dengan ilmu yang sudah tinggi dan empati yang sudah dalam, karir apapun yang ditempuh akan selalu menjadi “pengabdian kepada masyarakat.�
Maka ketika sebuah program pengabdian masyarakat mahasiswa jatuhnya lebih banyak merepotkan daripada memberikan bantuan, maka bagi saya ada alternatif dari menyebarluaskannya sebagai sebuah “program pengmas�, apabila bisa jadi lebih dominan merupakan “program pembelajaran keilmuan dan penumbuhan empati.� Menurut saya mindset untuk sekadar memberikan yang terbaik yang kita bisa adalah interpretasi yang seimbang. Bantuan materiil berlimpah akan difokuskan kepada urgensi seperti bencana dan kekurangan materi yang kritis; banyak kegiatan-kegiatan pengmas mahasiswa dapat di-frame sebagai sekadar pembelajaran sesuai bidang keilmuan dan penumbuhan empati agar di saat yang bersamaan dapat diikuti oleh lebih banyak mahasiswa dan menurunkan ego dan rasa berbangga yang sudah mengikuti; standar pengabdian masyarakat akan naik sehingga mendorong ilmu untuk dikaji oleh mahasiswa, dosen, dan pihak-pihak lain dari berbagai bidang agar benar-benar tepat guna untuk suatu permasalahan masyarakat; serta ketika mahasiswa lulus telah memiliki ilmu dan empati yang dapat diabdikan. Pada akhirnya, memberikan yang terbaik yang kita bisa dapat menaikkan empati dan menurunkan ego. Membuat kita sadar betapa sedikitnya yang bisa kita lakukan, sehingga kita lebih menjunjung tinggi hal-hal kecil: berterima kasih pada penjaga loker perpustakaan, permisi kepada penyapu jalan, menyapa tetangga, membantu mempromosikan warung langganan, dan banyak lagi yang sebenarnya adalah pengabdian-pengabdian kecil yang bisa kita lakukan.
Ekspektasi saya sebelum mengikuti diklat Pelita Muda adalah saya dapat membuat hidup banyak orang lebih baik dan saya akan merasa bahagia dan bangga karenanya. Namun sesuai dengan isi artikel di atas, yang justru saya dapat adalah kalimat ini: “Sedikit yang bisa kami lakukan tapi semua itu kami baktikan demi nusa dan bangsa.â€?â–Ą