Sudah hari kedua PPKM darurat diterapkan di Bali, sektor pariwisata semakin merana, pasalnya pantai dan wisata lainnya kembali ditutup. Pagi itu, tepat pukul delapan setelah hujan turun di Denpasar aku pergi ke Pantai Kuta untuk melihat sendiri bagaimana kondisi yang terjadi. Perjalanan yang ku tempuh sekitar 20 menit, dengan lalu lintas yang tidak ramai. Sepanjang jalan disuguhi dengan deretan toko-toko yang tutup, sungguh berbeda dengan Kuta yang kita kenal. Setelah sampai deburan ombak dan pasir putih menyambutku, disana terdapat beberapa orang yang berjemur maupun surfing. Saat berkunjung di Pantai Kuta tidak ada lagi bean bag, beach club, turis, atau para penjaja minuman.Sedih, Bali seakan tak berpenghuni, hingga aku pun memutuskan berjalan menyusuri pantai berharap menemukan pengrajin tato yang biasanya banyak ditemukan tanpa harus dicari. Setelah berjalan sekitar 50 meter, aku bertemu dengan seorang pengrajin tato. Pria paruh baya itu bernama Bli Dika. Bli Dika merupakan ayah dua anak yang tinggal di dekat Kuta. Bersama istrinya, beliau membangun bisnis dan melakukan pekerjaan lain, seperti jualan es kelapa dan limas (mirip hansip). Sebelum menjadi pengrajin tato, Bli Dika pernah bekerja di sebuah hotel di Nusa Dua namun beliau memutuskan resign pada tahun 2002 karena penghasilan yang didapatkan kurang menjanjikan dan faktor lainnya yaitu ingin dekat dengan keluarga. Bli Dika menjajakan tato kontemporer setiap hari dari pukul tujuh pagi hingga malam. Saat saya memutuskan untuk membuat tato, ekspresi bahagianya pun tidak dapat disembunyikan, dengan sigap beliau mengeluarkan album untuk referensi dan peralatan lainnya. Setelah melihat berbagai jenis macam tato akhirnya pilihan saya jatuh pada gambar naga. Sembari mentato beliau menceritakan pandangannya mengenai pandemi covid, menurut beliau PPKM yang dilakukan itu tidak bisa dipukul rata mengingat orang yang pekerjaannya membutuhkan interaksi seperti profesi beliau ini akan sangat dirugikan. “Ya kalo misal PPKM gini polisi larang-larang, mereka enak soalnya kan dibayar seenggaknya ada jaminan. Lah kita gimana? Kan butuh tetep uang biar dapur tetap ngebul”, ujar Bli Dika. Saya hanya bisa mendengar dan mengiyakan karena memang tidak bisa menanggapi karena ada pro dan kontra dari pernyataan tersebut. Belum setengah selesai, muncul pecalang yang menertibkan penjual, salah satunya Bli Dika, sehingga kami terpaksa berpindah tempat keluar dari zona pantai. Kami dan beberapa pedagang meneduh di pura. Sedih melihat realita karena memang mau tak mau harus begitu (re: petak umpet dengan petugas). Cerita berlanjut mengenai kondisi pengrajin tato yang saat ini sudah sangat sedikit yang bertahan karena memang menurut Bli Dika animo tato sangat sedikit, beliau mengatakan dalam satu hari hanya dapat satu pelanggan atau tidak ada sama sekali dengan periode dari pagi hingga malam. Saat beliau menceritakan hal tersebut, anehnya ekspresi beliau tidak sedih sama sekali. Saya pun penasaran dan beliau mengatakan beberapa tahun terakhir menerapkan meditasi untuk kesehatan dan kedamaian jiwanya. “Kebahagiaan dan kedamaian jiwa itu merupakan tanggung jawab masing-masing pribadi, kalo kita gak bisa kontrol pikiran maka energi itu akan cepat habis”, ujar Bli Dika. Lanjut cerita bahwa memiliki kedamaian hati itu butuh kesabaran, waktu dan pengorbanan. Ibaratnya menemukan “manik” atau artinya permata dalam Bahasa Bali. Untuk semakin menyakinkan pentingnya mengontrol pikiran ini beliau menceritakan salah satu temannya yang menderita kanker stadium akhir yang ibaratnya “tinggal menunggu ajal” yang memutuskan untuk
mengurus kucing jalanan. Saat kembali melaksanakan MCU rutin anehnya stadium kanker tersebut turun. Ternyata hal tersebut karena kasih sayang yang diberikan kepada kucing jalanan. Dengan mengurus dan merawat kucing jalanan maka berdampak positif pada kedamaian dan kebahagiaan orang tersebut. Tips dari beliau kita harus bisa bermimpi dan mempunyai niat untuk “jadi apa” kemudian ditanamkan ke hati dan alam bawah sadar secara terus menerus Selain itu, hubungan spiritual kepada Tuhan merupakan hal yang sangat penting, jadi ketika beliau sembahyang kata pertama yang diucapkan adalah syukur atas segala rezeki dalam bentuk anugerah maupun cobaan yang diberikan. Sehingga apabila kita sudah memiliki suatu kedamaian, Tuhan dan semesta akan menguatkan kita untuk mencapai mimpi-mimpi kita. Hal tersebut juga dapat menguatkan kita dari gangguan, baik dari dunia maupun dunia lain karena memang hal tersebut ada. Beliau berpesan bahwa harus ramah kepada semua orang, tetapi tidak semua bisa menjadi teman, bertemanlah hanya dengan orang yang sama-sama punya niat positif demi kebaikan diri sendiri juga. Beliau juga tidak segan merekomendasikan akun youtube milik Pak Merta Ade. Poin menarik mengenai kedamaian jiwa yang baiknya cepat kita sadari untuk ditemukan, kedamaian hati itu tidak bermaksud untuk menghilangkan sifat atau emosional seorang manusia tapi lebih bagaimana cara mengatasi berbagai peristiwa hidup dengan bijak. Pentingnya memiliki hal itu adalah kita bisa melakukan hal semaksimal mungkin tanpa terikat dengan hasilnya dan mampu bertahan di dunia yang cepat dan penuh distraksi. Beberapa gambaran kondisi saat itu
Penulis : Shafa Lilanti Pristiwangi 11218034