Skip to main content

PARAMITA Magazine KMBUI 52nd Edition

Page 1

Ed. 52/LII - JUN 2020

Media Informasi dan Ekspresi Kreativitas

PARAMITA Edisi ke-52/LII, January-June 2020

PANDEMONIUM πανδαιμόνιο

[pandaimónio]

Teruntuk yang sedang tidak baik-baik saja Puisi untukmu yang sedang gundah

Semesta yang Ambyar

PANDEMONIUM

Kehadiran post-truth di tengah dunia yang sedang tercerai-berai

KELUARGA MAHASISWA BUDDHIS UNIVERSITAS INDONESIA Pandemonium: Tumpukan kesalahan manusia

Imunitas, kunci lawan pandemi

Pandangan pada agama dan sains

Is it the end or is it the start?

Ketika imunitas menjadi solusi utama

Jalan tengah yang tepat bagi manusia


OUR PROFILE KMBUI XXVIII

Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia (KMBUI) berdiri sejak September 1988 dengan Hendra Sidin sebagai Ketua Umum pertama. KMBUI adalah sebuah organisasi kemahasiswaan berbentuk kekeluargaan yang berkedudukan di Universitas Indonesia yang bergerak di bidang keagamaan dan juga sosial kemasyarakatan. Adapun tujuan dari dibentuknya KMBUI adalah untuk menghimpun atau mempererat persaudaraan seluruh mahasiswa Buddhis UI dan memperjuangkan kepentingankepentingan dalam bidang kemahasiswaan dan perkuliahan hingga tercapainya kesarjanaan, serta mengerahkan aktivitas dan kreativitas mahasiswa Buddhis kepada bangsa dan negara Indonesia serta keagungan Buddha Dhamma. Pada kepengurusan KMBUI XXVIII, terdapat 6 komisi yang di dalamnya terdiri dari 11 departemen.

Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia Email : Website : Facebook : Instagram : : issuu :

ukmkmbui@gmail.com www.kmbui.ui.ac.id Ukm Kmbui @ukm_kmbui @paramita.kmbui issuu.com/ paramitamagazinekmbui

PARAMITA merupakan salah satu departemen KMBUI yang bergerak dalam bidang jurnalistik dan desain sebagai media informasi dan ekspresi kreativitas KMBUI. PARAMITA terbit sejak 1989 sebanyak dua kali dalam setahun dan dibagikan secara gratis kepada anggota aktif dan alumni KMBUI, Unit Kegiatan Mahasiswa lain di Universitas Indonesia, vihara-vihara, yayasan Buddhis, maupun Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB) di luar UI. PARAMITA berdiri sebagai sebuah departemen untuk menyalurkan kreasi dan kreativitas anggota aktif serta alumni KMBUI.

Tromol Pos 909, Kampus UI, Depok 16424 paramitamagazine@gmail.com

Kritik dan Saran +(62) 878-8455-2160 (George JH) +(62) 812-9375-6101 (Swastika T.P) +(62) 857-7607-3485 (Madioti)

Pemasangan Iklan dan Donasi 8691838005 BCA, a/n George John Hong


E d i to r i a l L e t te r ’ s Namo Buddhaya! Begitu banyak kekacauan yang sedang terjadi di muka bumi ini, dari banjir pada awal tahun hingga virus Corona yang sedang menyebar di berbagai penjuru dunia. Tak hanya kekacauan di dunia, kekacauan pun banyak terjadi dalam diri manusia seperti depresi ataupun stres.

Majalah PARAMITA dipersembahkan oleh: PENANGGUNG JAWAB

Stephen Gunawan

PEMBIMBING Andrew

PEMIMPIN REDAKSI

George John Hong, Swastika Tiosara Padma, Madioti

Dari situlah PARAMITA 52 mengangkat tema "Pandemonium", yang memiliki makna kekacauan yang sangat, gara-gara, dan hiruk pikuk. Pada edisi ini, kami menyajikan tulisantulisan yang dapat menenangkan diri pembaca di tengah dunia yang kini sedang kacau balau. Segenap redaksi PARAMITA berharap agar PARAMITA dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Semoga PARAMITA selalu bisa menemani hari-hari Anda yang dipenuhi oleh kebahagiaan!

Swastika Tiosara Padma

Sabbe satta bhavantu sukhitatta Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Angelina Arfiany,Salsa Sangha Mitta

Salam hangat, Redaksi PARAMITA 2020

KEUANGAN Koordinator Bidang Madioti

Staff

Helen, Ronald

MATERI DAN PENYUNTINGAN Koordinator Bidang Staff

DESAIN DAN TATA LETAK Koordinator Bidang

George John Hong

Staff

Dharma Natarina, Fiona

Freelance

Andreas Suryo Wijaya, Grady Krisandi, Kevin Chow


FOREWORD

FOREWORD Sotthi hotu, Namo Buddhaya “Dunia sedang tidak baik-baik saja”, merupakan kalimat yang terus menerus bergema di pikiran ketika melihat kondisi dunia saat ini yang penuh dengan duka dan tantangan. Tentunya, pada tahun ini kita semua ditantang dan diuji oleh kondisi untuk dapat terus bertahan, berkarya, dan bersabar. Tahun ini juga bukanlah tahun yang akan dengan mudahnya dilupakan oleh kita semua. Melalui tantangan dan ujianlah, kita semua akan belajar membuka diri atas limitasi dan berusaha melampauinya. Majalah PARAMITA Edisi 52 yang mengangkat tema “Pandemonium” merupakan wadah bagi Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia (KMBUI) untuk menghasilkan tulisan-tulisan kreatif dengan tema kekacauan atau kekisruhan. Tak hanya bertujuan untuk melampaui limitasi yang ada, namun juga untuk menginspirasi dan mempengaruhi khalayak ramai melalui karya-karya yang dihasilkan. Bersama dengan ini, harapannya kita dapat saling menguatkan, menginspirasi dan terus berkarya. Dengan ini, kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam pembuatan Majalah PARAMITA Edisi 52. Permohonan maaf juga kami ucapkan apabila terdapat kekurangan yang sekiranya tidak mengenakkan hati pembaca. Akhir kata; dunia sedang tidak baik-baik saja dan lakukanlah hal nyata terhadap mereka yang membutuhkan, tak hanya melalui doa belaka. Dunia tak akan menjadi lebih baik hanya dengan kata-kata, namun perlu dilengkapi dengan aksi nyata. Sekaranglah saatnya untuk mendedikasikan waktu dan hidupmu! Anumodana Kepala Komisi Komunikasi dan Informasi KMBUI XXVIII Andrew 6

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52


PREFACE PREFACE

Sotthi hotu, Namo Buddhaya Perjalanan di awal tahun 2020 ini dipenuhi dengan lika-liku samsara. Tawa, senyum, dan gembira kian hanyut di dalam seluruh tangis, sendu dan derita makhluk hidup. Banyak penderitaan yang dialami oleh seluruh makhluk hidup di tahun ini tidak terkecuali kita. Melalui hal tersebut, kita menggarap dan mencari secercah harapan di antara seluruh kekacauan dunia ini. Tema yang kami angkat, “Pandemonium” yang berarti kekacauan ataupun hiruk pikuk, berasal dari pengamatan kami dimana terdapat banyak insiden telah terjadi di seluruh penjuru dunia. Melalui Majalah PARAMITA edisi ke-52 dengan tema “Pandemonium“, kami berharap majalah ini dapat memberikan secercah harapan dan menjadi motivasi teman-teman untuk terus menghadapi seluruh rintangan yang ada di masa depan serta selalu bergerak ke arah yang lebih baik lagi. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penerbitan Majalah PARAMITA edisi ke-52. Kami juga sadar bahwa majalah ini belum sempurna sehingga kami meminta maaf jika ada kekurangan dan mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman. Semoga melalui majalah ini Buddha Dhamma dapat berkembang di seluruh belahan dunia. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta Semoga semua makhluk hidup berbahagia Salam metta, Ketua Departemen PARAMITA KMBUI XXVIII George John Hong PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

7


SAMBUTAN

SAMBUTAN KETUA UMUM Namo Buddhaya “Dunia ini selalu berputar, bagai roda tiada kendali …” Seperti lirik lagu ‘Roda Kehidupan’ tersebut, sudah selayaknya kita menyadari bagaimana dunia yang kita tinggali selalu berputar, selalu berubah, dan penuh dengan ketidakpastian. Terutama pada tahun ini, tahun yang menghadirkan berbagai kejutan baru, yang sering kali dinilai sebagai bentuk ‘kekacauan’ bagi sebagian orang. Selalu terdapat hal positif dan negatif yang mengiringi setiap perubahan yang terjadi, bahkan di dalam kekacauan sekali pun. Melalui PARAMITA Edisi 52 yang merupakan media informasi dan ekspresi kreativitas kami, Keluarga Mahasiswa Buddhis Universitas Indonesia (KMBUI) selalu berupaya untuk menjadi wadah berekspresi sekaligus media informasi dengan berlandaskan Dhamma ajaran Sang Buddha. Dengan mengangkat tema “Pandemonium”, kami mengajak seluruh pembaca setia PARAMITA untuk bersamasama menyadari segala perubahan yang sedang terjadi, baik maupun buruk. Karena sejatinya, segala hal yang berbentuk dan berkondisi akan berubah, begitu pula kekacauan yang terjadi di dunia saat ini. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang terus berkontribusi dan selalu memotivasi kami untuk terus berkarya bagi perkembangan Buddha Dhamma di Indonesia. Salam metta, Ketua Umum KMBUI XXVIII Stephen Gunawan

8

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52


@stephengunawann

PARAPLUS

Wa l l -ofArt

@hzyuki_

@andrewdoang

@andreassw17

Editor’s Choice

@ericso54

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

9


PARAGAMES

TEKA TEKI SILANG Oleh Stephen Gunawan (FKM-2017)

10

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52


PARAGAMES

Mendatar: 1. Sifat luhur untuk melawan kebencian dalam bahasa Pali 5. Berkesadaran/penuh perhatian dalam bahasa Pali 8. Hari raya yang memperingati berkumpulnya 1250 bhikkhu arahat 10. Paritta untuk perlindungan dari musibah dan wabah 11. Sistem di dalam tubuh untuk mencegah penyakit

Menurun: 2. Wabah yang telah menyebar luas dalam suatu wilayah 3. Tempat perayaan Waisak Nasional di Indonesia per tama kalinya 4. Penderitaan, sakit dalam bahasa Pali 6. Negara asal pandemi COVID-19 7. Pandemi yang disebabkan oleh virus H1N1 9. Rubrik PARAMITA yang membahas ajaran Sang Buddha

Kunci Jawaban: 1. MET TA 2. EPIDEMI 3. BOROBUDUR 4. DUKKHA 5. SATI 6. CINA PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

11

7. FLUBABI 8. MAGHAPUJA 9. PARADHAMMA 10. RATANA 11. IMUNITAS


PARADHAMMA

Tetap Damai di Tengah Kekacauan Oleh – Komisi Rohani dan Departemen Kalyanamitta XXVIII “Dunia sedang mengalami kekacauan”, mungkin pernyataan ini sering kita dengar beberapa waktu belakangan ini. Melihat realita dunia saat ini, mungkin kita sepakat untuk mengatakan bahwa dunia ini memang sedang mengalami kekacauan. Dengan mudahnya, kita membaca atau mendengar berita mengenai keadaan saat ini yang dapat diasosiasikan dengan kekacauan seper ti bencana alam yang dialami berbagai negara, tindakan terorisme yang merajalela, konflik dalam masyarakat yang berkepanjangan, dan bahkan penyebaran wabah penyakit yang terjadi secara masif. Dalam menghadapi realita ini, tidak sedikit mereka yang pikirannya menjadi kacau dan menderita. Lalu, bagaimana cara untuk menjaga pikiran agar tidak kacau di tengah keadaan saat ini?

Sebelum kita melakukan pembahasan lebih jauh, mari kita mengetahui ar ti dari kata kekacauan terlebih dahulu. Kekacauan berasal dari kata “kacau” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat didefinisikan sebagai keadaan yang tidak aman dan tidak tenteram. Apabila kita mengacu pada definisi ini, maka lawan kata dari kata kacau adalah damai yang dapat diasosiasikan sebagai keadaan yang aman, tenteram, dan tidak kacau.

12

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARADHAMMA

...... Baik perasaan kacau maupun damai, keduanya merupakan bagian dari proses jalannya pikiran. Dalam kondisi yang tidak aman dan tidak tenteram seper ti sekarang ini, sangatlah penting bagi kita untuk menjaga pikiran karena pikiran kita seringkali ikut kacau dan menderita ketika menghadapi kondisi yang kacau seper ti sekarang ini. Pikiran yang kacau dapat terbentuk karena kita tidak memahami realita yang terjadi secara utuh dan menyeluruh. Apabila kita bisa melihat kondisi sebagaimana adanya, maka kita akan merasa damai dan bahagia. Sejak 2500 tahun yang lalu, Buddha telah mengajarkan kita untuk melihat segala sesuatu sesuai dengan hakikatnya (yathabutham).

Pada hakikatnya, semua realita yang terjadi dalam hidup ini bersifat tidak tetap dan mengalami perubahan (anicca). Semua realita akan muncul (uppada), berlangsung (thiti), dan lenyap (bhanga). Sekuntum bunga yang awalnya masih kuncup, kemudian mekar dengan indah sampai pada akhirnya akan layu dan mati. Begitu pula segala realita yang kita hadapi tak terkecuali, yang baik maupun buruk akan tidak tetap dan terus berubah dari waktu ke waktu. Mungkin beberapa waktu yang lalu kita dapat berkuliah di kampus dan bekerja di kantor, tetapi sekarang kita harus melakukan semua aktivitas tersebut dari rumah akibat penyebaran virus yang terjadi beberapa waktu terakhir. Apabila kita memiliki kemelekatan terhadap suatu realita yang hakikatnya tidak tetap, maka kita akan merasa kacau dan menderita. Dengan memiliki pemahaman mengenai hakikat ketidakkekalan, seseorang dapat menemukan kedamaian.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

13


PARADHAMMA

Selain bersifat tidak tetap (anicca), semua realita yang kita hadapi juga bersifat dukkha. Dukkha pada konteks ini tidak diartikan sebatas penderitaan saja. Buddha mendefinisikan Dukkha sebagai ketidakpuasan. Ketidakpuasan dapat muncul disebabkan oleh keinginan (tanha) terhadap objek-objek yang muncul terus-menerus. Segala bentuk keinginan baik berupa ekspektasi, angan-angan, maupun citacita pada hakikatnya adalah ketidakpuasan. Pada tahapan yang lebih tinggi, keinginan ini akan berubah menjadi kemelekatan. Apakah salah untuk memiliki keinginan? Buddha menjelaskan bahwa setiap keinginan (tanha) merupakan sebab dari ketidakpuasan (dukkha). Semakin besar keinginan kita, maka kita memiliki potensi yang semakin besar untuk mengalami ketidakpuasan. Buddha mengajarkan Dhamma untuk mengungkap realita bukan untuk menjustifikasi salah ataupun benar. Pada akhirnya, pilihan itu berada ditangan kita sendiri.

14

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

Lalu, bagaimana cara kita memahami hakikat dari realita ini dengan mudah dalam kehidupan seharihari? Pertama, munculkan dan kembangkan cara berpikir (mindset) bahwa segala sesuatu itu tidaklah tetap. Untuk melakukannya, kita mulai dengan cara yang mudah yaitu mengulangi kalimat “semua ini akan berlalu“. Kalimat ini dapat diulangi ketika hendak tidur dan bangun tidur sampai membentuk suatu kebiasaan. Cara berpikir seperti ini perlu ditanamkan agar kita menyadari hakikat dari ketidakkekalan dan perubahan sehingga kita tidak memiliki kemelekatan terhadap realita yang menyenangkan dan terlalu larut dalam realita yang tidak menyenangkan.


PARADHAMMA Kedua, kita dapat belajar untuk merasa puas dan bersyukur dengan segala kondisi yang terjadi. Merasa puas dan bersyukur dapat meningkatkan kemampuan kita dalam menerima realita secara apa adanya, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan sehingga pikiran kita terbiasa untuk merasa berkecukupan dan tidak memiliki keinginan yang berlebihan. Dengan melakukan cara-cara seper ti yang telah diuraikan, pikiran kita akan lebih terlatih untuk menghadapi realita yang terjadi. Sehingga secara perlahan, kita dapat menciptakan kebahagiaan dan mengurangi penderitaan dalam pikiran.

“Janganlah melekat pada apa yang dicintai atau yang tidak dicintai. Tidak ber temu dengan mereka yang dicintai dan ber temu dengan mereka yang tidak dicintai, keduanya merupakan penderitaan� – Dhammapada XVI:210 (SWA /SAL) PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

15


KMBUI INSIDE

Malam Keakraban KMBUI 2019 Oleh: Jessie Chandra (Fasilkom 2019)

16

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52


Peserta acara berangkat dari Pusat Kegiatan Mahasiswa UI pada Jumat malam dan semua tiba pada tujuan dengan selamat. Rangkaian acara pada hari Sabtu dimulai dengan senam pagi dan puja, lalu diikuti dengan berbagai sesi yang mencakup Pengenalan KMBUI XXVIII, Pengenalan NSI, serta berbagai macam games. Pada malam harinya, acara kami kedatangan cuaca buruk yang tidak memungkinkan untuk malam puncak dilaksanakan di luar. Maka, dengan rancangan acara backup, malam puncak Makrab KMBUI 2019 dilaksanakan indoor. Kegiatan malam puncak berupa penampilan kelompok peserta acara, serta persembahan dari KMBUI angkatan 2019 yang merupakan panitia yang berupa nyanyian, puisi, serta sebuah video. Persembahan ini ditujukan kepada kakak-kakak tingkat KMBUI yang telah menyambut angkatan baru sebagai tanda terima kasih dan tanda rasa kekeluargaan yang dapat dirasakan mahasiswa KMBUI 2019.

KMBUI INSIDE

Malam Keakraban, atau biasa disingkat Makrab, adalah acara tahunan KMBUI yang diselenggarakan oleh anggota KMBUI angkatan baru yang bertujuan untuk mendekatkan anggota baru dengan anggota aktif maupun alumni KMBUI. Makrab KMBUI 2019 bertema “Home is where the heart is”, diangkat dari tagline “Ini rumah* kita”. Bertujuan untuk memperkuat tradisi di KMBUI yang selalu menyambut dan merangkul keluarga baru ke rumah kita, acara Makrab dirancang dengan harapan mencapai misi, yaitu mengakrabkan penghuni baru rumah kita. Dengan jumlah panitia hampir seratus orang, anggota KMBUI angkatan 2019 berhasil melancarkan acara Makrab KMBUI 2019 dengan persiapan acara yang tidak sampai dua bulan. Acara Malam Keakraban ini berlangsung selama 2 hari 3 malam, dari tanggal 6 Desember 2019 sampai dengan 9 Desember 2019, di Vihara Saddharma (Myohoji) NSI, Jawa Barat. Makrab kali ini mencapai 165 peserta, diantaranya 90 dari mereka merupakan mahasiswa baru Buddhis UI angkatan 2019.

Seluruh kegiatan dalam acara Malam Keakraban KMBUI 2019 telah berjalan lancar. Kami dari panitia Makrab KMBUI 2019 berterima kasih kepada seluruh peserta Makrab yang telah datang meramaikan dan menyukseskan acara. Kami juga berharap acara ini telah mendekatkan seluruh pesertanya menjadi lebih akrab sebagai sebuah keluarga*. (GRA/SAL) PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

17


PARAFACT

Keep Calm and Carry On Oleh: Kalista Putri (FPsi-2017)

18

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAFACT

T

idak bisa dipungkiri bahwa situasi darurat COVID-19 yang tengah melanda dunia tidak hanya memengaruhi jadwal kuliah atau kerja kita, tetapi juga memengaruhi kehidupan kita, tak terkecuali kesehatan mental kita. Setiap hari kita disuguhi berita-berita dari televisi atau media online mengenai kondisi yang semakin memburuk sehingga sangat wajar bagi kita untuk merasa khawatir mengenai situasi saat ini. Bagaimanapun, anxiety atau kekhawatiran terhadap masa depan adalah salah satu karakteristik manusia yang berguna bagi survival, tetapi apa yang harus kita lakukan jika kekhawatiran itu sampai membuat kehidupan seharihari kita terganggu? Berikut cara-cara yang dapat dilakukan:

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

19


PARAFACT

1. Batasi konsumsi media. Di era globalisasi di mana informasi sangat mudah untuk didapatkan, banyaknya berita-berita negatif yang sedang menyelimuti dunia dapat memengaruhi mood* kita. Kalian bisa menjadwalkan kapan kalian bisa membuka media-media berita dan mem-block kata-kata yang mengkhawatirkan. Set a time to read news everyday, jangan terus-menerus melihat berita yang membuatmu khawatir.

2. Self-affirmation “I am safe” “I am practicing good hygiene, so I am safe” “I am staying at home, so I am safe” “I am strong. I am brave. I have survived 100% of my worst days.” Kalimat-kalimat tersebut bisa men-challenge pikiran-pikiran negatif kita dan membuat kita lebih tenang.

20

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAFACT

3. Practice good self-care Untuk lebih meyakinkan diri bahwa pikiran-pikiran negatif kita salah dan kita aman, kita harus terus melakukan proper hygiene untuk mencegah kita terinfeksi virus. Seperti yang direkomendasikan WHO, selalu tinggal di rumah kecuali ada sesuatu yang urgent, pakai masker jika keluar rumah, tutup hidung dan mulut ketika bersin menggunakan tisu atau lengan, cuci tangan minimal 20 detik dengan sabun atau gunakan hand sanitizer jika tidak ada sabun, hindari memegang wajah dengan tangan, jaga imunitas tubuh dengan olahraga teratur dalam rumah dan makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup dan jangan begadang, siapkan kebutuhan sehari-hari untuk 2 minggu ke depan tanpa panic buying, dan jika merasakan gejala, segera lakukan isolasi mandiri dan cek ke rumah sakit.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

21


PARAFACT

4. Do things that relax you / Relaxation technique Lakukan hal-hal yang membuat diri kita menjadi relax. Kita bisa menonton videovideo lucu, memakai face mask, menulis, menggambar, mewarnai, atau hal lain yang dapat membuat kita lebih tenang.

5. Bicara dengan orang lain Bicara dengan orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman yang terpercaya mengenai kekhawatiranmu ini. Selain hal ini bisa menjadi katarsis atau menjadi pelampiasan kekhawatiranmu, mereka juga bisa memberikan support dan advice agar kamu dapat menghadapi semua ini dengan lebih kuat. Jika berbicara kepada orang terdekatmu belum cukup menghilangkan kekhawatiranmu, kamu dapat meminta bantuan profesional yang tersedia.

22

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAFACT

Remember that this too, shall pass, and always take care of yourself & your loved ones! (SWA/GRA) https://www.pnas.org/cgi/doi/10.1073/pnas.1908369116

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

23


PARAFICTION

Pilu di Ambang Angin

Oleh Michael Chen (FH 2019) “Lari!!! Sembunyi di belakang pintu putih! Masuk ke dalam lorong!�. Aku berlari mengejar Mara sambil melempar jerami makanan Kumari dan Kumala, sepasang kuda kesayanganku. Para warga yang mengejarku, hampir terjatuh dan tersanjung jerami hingga ke parit, tapi masih banyak lelaki tangguh yang berlompat ingin menangkapku. Mara terlebih dahulu melompat ke dalam lorong sebelum aku mengikutinya. Anta masih berlari ke arah mobil. Banyak pria bersenjata berlari ke arahnya. Dia ber teriak padaku untuk masuk ke dalam lorong dan berjanji akan menemuiku kembali.

24

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52

Arga berlari membawa sebilah galah panjang ke arahku. Dia menghalau para pria yang mengejarku dan memberi kesempatan padaku untuk masuk ke dalam lorong. Aku memasang jebakan di belakang pintu supaya para warga tidak bisa mengejar ke dalam lorong. Aku berlari menyusul Mara di depan. Lorong gelap ini menggema ketika Mara menangis takut. Ada dua pintu masuk ke dalam lorong ini. Seper tinya, ada yang masuk dari pintu satu lagi. Aku berlari kencang mengejar Mara dan menyelamatkan diri.


Mungkin pula ia tewas dalam amukan masa yang menyerang rumah kami untuk mencari persediaan makanan. Tahun lalu merupakan masa krusial. Wabah penyakit yang tidak diketahui obatnya menjalar seper ti di film besutan Negeri Ginseng tentang mayat hidup dalam sebuah kota. Banyak korban tewas. Pemerintah mengalami krisis moneter. Bahan pangan ludes diserbu, termasuk rumahku. Beberapa minggu sebelum puncak kepungan, aku membagibagikan bahan pangan kepada para warga, setidaknya ada 200 porsi. Banyak warga dari daerah lain datang berebut. Pada saat puncak kehabisan pangan, mereka menyerang rumahku karena mengira bahwa aku menyimpan banyak stok makanan.

PARAFICTION

Namaku Anggana Pramuditha. Tepat hari ini setahun yang lalu, aku bersama adikku, Arkadewi Damara, melarikan diri dari kepungan warga. Kami masuk ke dalam lorong yang sudah dipersiapkan oleh orangtuaku. Kalau tidak ada Arga, satpam rumah kami yang menghalau para warga, mungkin aku tidak akan selamat dari kepungan tersebut. Entah bagaimana nasib Arga. Aku tak mendengar kabarnya lagi. Begitu pula dengan Anta, bernama lengkap Biantara Pradhika, tunanganku. Kami telah berpacaran selama lima tahun tiga bulan sebelum kejadian dia melamarku dan seharusnya pada akhir tahun kemarin kami menikah. Mungkin ini menjadi kisah percintaan tragis.

Aku dan Mara saat ini tinggal dalam vila di bawah kaki Gunung, lebih tepatnya villa keluarga tersembunyi. Kami sering kemari dan tentu saja di sini terdapat bahan konsumsi untuk satu bulan. Kalau konsumsi kami habis, kami dapat bercocok tanam seper ti masyarakat desa. Kami memiliki sepetak sawah, tanah berkebun, kambing, dan sapi. Siapa yang mengurus? Gundar namanya, saudara Arga. Setelah satu tahun berlalu, kini pelan-pelan aku menerima nasib kehilangan Atta. Mara mendapatkan pasangan baru, laki-laki seusianya, pelarian dari ibukota yang tinggal di sebuah rumah di sebelah vila kami. Aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam lorong yang membawa diriku pulang ke rumah, meskipun setelah kejadian tersebut, aku menutup rapat dan tak ingin kembali menelusuri lorong itu. Aku telah mempersiapkan diri dan membawa sejumlah peralatan, termasuk karambit yang selalu kubawa di saku setelah kejadian tersebut. Gundar membukakan pintu lorong untukku. Waktu itu, kulihat jam menunjukkan pukul 05.17 di hari Minggu. Masyarakat di sekitar rumahku belum bangun biasanya.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

25


PARAFICTION

Lorongnya pengap. Sudah satu tahun lamanya tidak ada yang melintas. Aku berjalan berbelok ke sisi kiri seratus meter, lalu ke kanan dua ratus meter, dan mengikuti ingatanku. Yaaa lorong ini memang berkelok dan memiliki banyak jalan, terinspirasi dari Pulau Persik kalau kalian tahu kisah itu. Aku sampai di pintu lorong dan kulirik jam pukul 05.49. Sejenak aku berdiam diri, rasanya tidak ingin kembali ke masa lalu. Nanyak cerita kelam sesudah peristiwa itu. Pelik sekali memang. Perih di hati mengiris ingatan, mengingat tunanganku hilang tanpa kabar. Aku memberanikan diri membuka pintu itu untuk keluar. Rasanya sama. Jebakan yang kubuat sudah hancur, Ada yang terkena jebakan ini. Bau amis dan darah kering masih melekat dengan jelas dan terlihat atap yang mulai hancur. Aku melangkah keluar dari ruangan tersebut. Cuaca masih dingin menyelimuti dan sinar matahari belum terlalu terik. Tempat ini seper ti rumah hantu yang telah ditinggal lama tanpa pengurus. Rumahku masih berdiri kokoh. Jerami yang kujatuhkan masih tergeletak berserakan. Tapi, Kumari Kumala sudah hilang, mungkin dicuri. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Pintu ter tutup rapat, tapi tidak dikunci dan barangbarang berserakan. Melangkah menuju ruang tengah, T V masih terpasang di tembok namun hancur lebur. Sofa, kipas angin, dan kulkas hilang. Bingkai fotoku pecah. Aku mengambil foto keluarga untuk kenangan. Buku-buku di rak masih terpasang rapi. Ya, mungkin pepatah benar mengatakan itu bahwa “Maling tidak akan membaca buku dan pembaca buku tidak pernah mencuri�. Tidak ada ruangan bersisa utuh. Semua barang hancur dan hilang akibat penjarahan. Bahkan, pakaian dalam aku dan adikku yang kutaruh di bawah ranjang hilang. Namun, ranjang beser ta kasur masih utuh tidak dicuri. Mungkin para penjarah ini bodoh bodoh pintar, namun tetap saja mengecewakan. Matahari sudah mulai terik. Sudah pukul 09.00.

26

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAFICTION

Tanpa terasa, aku sudah berkeliling semua bagian dari rumah ini. Aku menemukan surat-surat rumah masih tersimpan di brankas bawah tanah. Mungkin rumah ini akan kubangun lagi dengan simpanan uang di bank sehingga aku memutuskan untuk membawa kembali beberapa surat penting. Baiklah, sudah cukup aku mengambil barang-barang yang masih berguna dan tentu saja surat-surat penting, termasuk foto ketika lamaran. Aku berjalan keluar. Jalanan masih sepi karena hari ini hari Minggu. Ketika aku ingin kembali ke lorong, tiba tiba ada orang yang datang ke dalam rumah. Aku sungguh takut mengingat kenangan terakhir ketika di rumah ini, aku berlari ke belakang dinding, bersembunyi di antara dinding dan dua kulkas dua pintu. Terdengar suara lelaki sendirian dengan langkah yang berat. Dia berjalan ke arah kamarku di balik ruang tengah. Dia melangkah seper ti sudah berkali-kali berkunjung ke tempat ini. Aku tidak bisa melihat mukanya, hanya punggung dengan pakaian kaos dan celana pwendek ser ta sebuah pisau kecil di saku. Ia mengambil sesuatu dari balik lemariku, sebuah kotak kecil yang terbuat dari alumunium dan besi. Ter tulis nama Pradikha Pramudhita. Aku ingat kotak itu berisi foto-fotoku dengan Anta, kotak ketika lamaran. Namun, kotak ber warna hitam itu bukan milikku. Kotakku ber warna putih dengan tulisan Anggana Biantara. Kotak hitam itu milik Anta. Ya benar, itu kotak lamaran Anta. Tapi siapa pria itu? Bagaimana ia bisa mendapat kotak itu? Kakinya luka berat. Banyak luka bakar di bagian kaki. Pelan-pelan, aku menyergap dari belakang dan kuarahkan karambit ke belakang punggungnya.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

27


PARAFICTION

“Siapa kamu? Mengapa ada disini?” “Seharusnya saya yang ber tanya, siapa Anda? Mengapa anda ada disini? Kalau saya tebak, Anda wanita bukan? Sedang mengarahkan senjata kecil ke arah punggung? Tenang mbak, saya tidak akan berbahaya,…” “ Tidak! Katakan memegang kotak itu?”

dulu

siapa

kamu?

Dan

mengapa

“Baik.., tapi dengan syarat Anda juga mengatakan siapa Anda? Setuju?”

“Setuju”

“Satu tahun lalu, terjadi kerusuhan di tempat ini. Banyak warga mengepung tempat ini untuk mencari konsumsi. Rumah ini tempat tinggal dari calon kakak iparku, Anggana Pramudhita.”

“ Tunggu.., kau bilang calon kakak ipar? Siapa namamu?”

“Nama saya Biandika Pradaksana.”

“Bian!!!!!!! Ini aku, Anggana!!!!”

Dia memalingkan badan dan kami langsung berpelukan erat. Dia terluka parah di bagian muka. Ada bekas luka sayatan yang besar di bawah mata. Benar, dia adalah Bian, adik Anta. “Ka Ana!!! Kak, apa kabar kak!! Kakak kemana aja? Aku mencari kakak selama ini!!” “Nanti aku ceritakan, kamu apa kabar? Kamu tinggal di mana saat ini? Anta dimana?” Hening sepi tanpa suara, Bian mengambil kotak hitam putih itu dan menyerahkan padaku. Bian menangis. Aku terjatuh karena tak kuat mendengar penderitaan Anta. Dia melindungiku dan Mara.

28

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52


“Sekarang dengannya!!!!”

Anta

dimana?

Aku

ingin

ber temu

PARAFICTION

“Dia sekarang berada di daerah Batu kak. Kami sekeluarga dan orangtua kakak tinggal bersebelahan di Batu. Anta masih mengingat kakak. Dia selalu menyebut nama kakak. Tepat kemarin, entah kenapa dia membawa kotak ini dan meminta padaku untuk membawa ini kesini. Rasanya aneh. Dia amnesia. Tapi, dia ingat tentang kotak ini. Kotak yang selalu dilihat ketika matahari tenggelam, senja. Dia selalu membuat puisi untuk Kak Ana. Hanya itu yang dia ingat. Ketika pagi hari, dia selalu menggila karena trauma diserang oleh para warga. Ada luka besar di balik punggungnya.” Aku menangis menahan pilu*, antara senang dan sedih. Senang rasanya mendengar Anta masih hidup. Namun jujur, hati ini teriris mendengar begitu banyak penderitaan yang dialami Anta. Aku tak sanggup mengingat kejadian itu, saat Anta masuk ke dalam mobil berisi persediaan pangan supaya warga tidak menyerang rumah kami. “Mari kak, kita jemput Mara dan kita ber temu kak Anta. Dia pasti senang. Semua orang pasti senang.” Aku berangkat ke bawah kaki gunung dengan Bian dan menjemput Mara. Sore itu, kami berangkat ke Batu menggunakan pesawat. Banyak yang diceritakan Bian. Namun, karena orangtuaku datang melihat Anta, Ia masih bisa terselamatkan. Keluarga Anta mengalami kerugian besar. Perusahaannya diserang oleh orang tak dikenal. Bian yang merupakan pengacara bersama temannya berlatih bela diri ser ta kriminologi untuk membalas dendam tersebut. Entahlah, rasanya pilu ini masih terlalu dini menyerang dan masih di ambang angin. Mungkin banyak kejadian baru yang akan terungkap. (ANG/KEV )

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

29


PARAMEDIC

Mental yang Tegar di Kala Lingkungan Tidak Bersahabat Oleh Aditya Parawangsa (FK-2018) Jiwa, suatu kata yang menggambarkan sisi manusia yang terlihat dan tak terlihat. Mengapa demikian? Jiwa bisa terlihat dari cara seseorang berperilaku, namun yang tak terlihat secara pandang adalah bagaimana cara ia memengaruhi perilaku seseorang. Saat tulisan ini dibuat, kita sedang berada di dalam suatu kondisi yang tidak manusia harapkan. Dalam dunia kedokteran, kita sedang berperang melawan musuh yang tak terlihat. Wabah bisa jadi membuat segala hal yang sudah kita rencanakan jauh-jauh hari menjadi tidak dapat dilaksanakan. Singkatnya, rencana tinggal rencana.

Secara psikologis, apabila seseorang mengalami hal-hal yang tidak ia inginkan, seseorang akan mengalami beberapa tahapan kesedihan, yang lazim disebut Model KĂźbler-Ross. Model ini terdiri atas lima tahap, yang pertama adalah Penyangkalan (denial) atas kondisi.

30

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAMEDIC

Kedua, Kemarahan (Anger), tepatnya atas kondisi yang ada—kondisi yang tak mengenakkan tersebut, dilanjutkan dengan Penawaran (Bargain) ketika seseorang masih berharap bahwa kondisi yang tak mengenakkan itu dapat diputarbalik, lalu Depresi (Depression) ketika seseorang sadar bahwa kondisi tersebut di luar kendalinya, dan akhirnya Penerimaan (Acceptance) kondisi yang ada. Meskipun timbul berbagai kontroversi mengenai tahapan ini karena kurangnya penelitian, model ini masih digunakan secara luas untuk memahami orang yang mengalami kondisi buruk.1 Bagaimana cara kita untuk membantu orang yang mengalami tahapan-tahapan tersebut untuk menjadi lebih baik? Pada umumnya, yang dapat kita lakukan adalah dengan menjadi teman bicara. Tujuan kita menjadi teman bicara mereka adalah untuk membangkitkan semangat mereka untuk menjalani hidup, mendengarkan mereka, sehingga kita dapat mengetahui kebutuhan mereka sebenarnya, misalnya kebutuhan fisik, psikis, sosial, dan spiritual. Selain itu, kita juga dapat memperoleh pengalaman berharga dari orang yang mengalami langsung hal yang tidak mengenakkan sehingga kita lebih siap secara mental.2

You, yourself, as much as anybody in the entire universe, deserve your love and affection*. - Buddha.

“

“

Daftar Pustaka. 1. Newman L. Elisabeth Kübler-Ross. BMJ. 2004 Sep 11;329(7466):627. PMCID: PMC516672. 2. Corr CA. What nursing can learn from a proper appreciation of the five stages. Rev. esc. enferm. USP [Internet]. 2019 [cited 2020 Apr 14] ; 53: e03488.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

31


PARATANYA

PARATANYA

Oleh Bhante Dhammiko

?

1. Apa itu anatta? Bagaimana cara melatih anatta dalam dunia kuliah dan kerja? Mengingat kalau kita terlalu menyimpan prestasi kita sendiri menjadi tidak disadari oleh para dosen/perekrut pekerjaan, kesempatan khusus misal penelitian atau magang yang tidak membuka pendaf taran menjadi terlewat. Jawab: Anatta adalah tanpa aku, tanpa diri. Konsep ini diajarkan oleh Sang Buddha karena pada saat itu, banyak petapa yang mengajarkan paham atta*/aku/ roh/jiwa yang bersifat kekal/abadi. Dalam Dhamma, mengakui konsep konvensional terhadap kepemilikan, misalnya kar yaku, tasku, mobilku, rumahku, dsb. Yang dimaksud anatta yang harus dihilangkan adalah pandangan atau konsep yang kuat dan dilekati. Jadi dalam dunia kuliah dan kerja, berupayalah menunjukkan prestasi yang baik dan tak perlu menyombongkan diri dengan prestasi tersebut karena apa yang kita capai, banyak orang atau makhluk terlibat di dalamnya. 2. Mengapa dengan berdana, anatta dalam diri dapat berkembang? Jawab: Ketika seseorang berdana dengan tanpa mengharapkan pengakuan dari si penerima, maka dana yang ia berikan tidak didasari pada keakuan/atta. Buddha menjelaskan bahwa cara berdana yang ter tinggi adalah ber tujuan untuk membebaskan pikiran dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.

32

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARATANYA

3. Bagaimana cara mengirim pesan yang tidak bernada maupun berekspresi dengan tepat ke berbagai jenis orang, tetapi tujuan kita tetap tersampaikan? Juga terkadang setelah menerima balasan pesan, kita pun berprasangka buruk. Bagaimana cara mengatasinya? Jawab: Pesan itu bisa disampaikan secara verbal/ucapan dan juga non verbal/simbol. Dalam Dhamma, diajarkan bahwa dalam menyampaikan pesan perlu diperhatikan lima hal: - tepat waktu atau tidak tepat waktu - benar atau tidak benar - diucapkan dengan lembut atau kasar - berhubungan dengan yang baik atau tidak berhubungan - disampaikan dengan cinta kasih atau kebencian Cobalah selalu berpikir baik pada setiap orang dan buang jauh-jauh pikiran sensitif.

4. Bagaimana cara melatih Pancasila Buddhis dengan baik?

?

Jawab: Renungkan bahwa Pancasila Buddhis itu adalah manussadhamma, yaitu Dhamma yang mencerminkan bahwa orang yang melatihnya adalah benar-benar manusia, atau bisa juga kita pahami bahwa Pancasila Buddhis adalah Dhamma yang membawa kita ke kelahiran sebagai manusia seper ti yang saat ini kita dapatkan.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

33


PARATANYA

5. Saya pernah mendengar beberapa pernyataan dari teman saya. Pernyataannya adalah agama Buddha termasuk ateis karena kepercayaan Tuhan sangat berbeda dengan agama lainnya di Indonesia. Per tanyaan saya adalah apakah pernyataan tersebut benar? Jawab: Pernyataan yang menyatakan bahwa agama Buddha adalah ateis adalah pernyataan yang tidak benar, karena salah satu syarat sebuah agama di negara ini adalah mengakui adanya Tuhan. Jika agama Buddha tidak ber tuhan, tentu agama Buddha tidak diakui oleh negara. 6. Mengapa seseorang bisa memiliki relik saat badan jasmaninya dikremasikan? Jawab: Relik* ar tinya sisa jasmani. Jadi wajar, jika seseorang meninggal pasti ada sisa jasmaninya, baik abu jenazah ataupun mayat /jenazah. Berkenaan dengan relik yang mengkristal dan menjadi objek puja, secara keyakinan itu terjadi karena orang yang meninggal tersebut diyakini sudah mencapai tingkat kesucian.

7. Bagaimana pendapat Bhante mengenai adanya kasus Corona dari sudut pandang Buddhis? Jawab: Dalam Dhamma dijelaskan bahwa “segala sesuatu muncul karena adanya sebab, demikian pula lenyapnya.� Munculnya virus Corona yang menjadi sebab penyakit COVID-19 ini pun demikian, terjadi karena adanya sebab. Apa sebabnya? Beberapa ahli menjelaskan bahwa penyakit Corona ini sudah ada sejak lama dan virus itu selalu mengalami mutasi/perubahan. Di zaman sekarang, kita mengetahui kerusakan alam sudah sedemikian parahnya dan mungkin ini menjadi sebab perpindahan penyakit dari hewan liar ke manusia (zoonosis) karena manusia mengonsumsi hewan tersebut. Alangkah baiknya kita sebagai umat Buddha, patuh pada anjuran pemerintah dan tim medis dengan terlibat aktif dalam upaya pencegahan virus corona ini, yaitu jangan lupa untuk sering cuci tangan, diam di rumah, jangan lupa memakai masker saat bepergian, jaga jarak dengan yang lain, juga tidak mudik saat liburan. 34

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARATANYA

8. Sesuai ilmu biologi, bakteri, protista (bersel satu), dan jamur termasuk makhluk hidup. Jika kita minum obat antibiotik saat kita sakit, secara tidak langsung kita telah membunuh bakteri di dalam tubuh. Apakah itu termasuk pembunuhan makhluk hidup? Jika iya, bagaimana tindakan yang seharusnya dilakukan umat Buddha? Jika tidak, apa saja kriteria makhluk hidup dalam agama Buddha? Jawab: Dalam agama Buddha, sebuah tindakan dapat disebut pembunuhan, jika ada 5 syarat terpenuhi: adanya makhluk hidup, makhluk itu masih hidup, munculnya niat untuk membunuh (niatnya bisa karena keserakahan, kebencian, atau kebodohan batin), melakukan usaha untuk membunuh (dengan tangan sendiri atau menyuruh orang lain), dan kematian sebagai akibatnya. Jika lima hal ini terpenuhi, maka terjadilah pelanggaran sila per tama. Dalam Dhamma, kriteria makhluk hidup itu terdiri dari lima kelompok kehidupan: ada jasmani, ada perasaan, ada persepsi, ada bentuk-bentuk pikiran, dan ada kesadaran. Nah, apakah virus atau bakteri itu memiliki lima hal ini? 9. Saya ingin ber tanya, bagaimana cara untuk menjaga konsistensi praktek Dhamma dalam seharihari? Terima kasih Bhante atas kesediaannya untuk menjawab. Saya juga ingin ber tanya, Dhamma Sang Buddha perlu direnungi dan diresapi dengan baik untuk membuat suatu transformasi batin ke arah yang bajik. Apakah Bhante ada saran perihal cara merenung yang sebaiknya dilakukan? Terima kasih Bhante. Jawab: Agar praktek Dhamma yang kita lakukan tetap konsisten, kita perlu melakukan perenungan-perenungan sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha. Apa yang direnungkan? Ada beberapa hal yang perlu direnungkan: Kelahiran, usia tua, sakit, kematian, dan perpisahan. Semua ini akan terjadi pada diri kita, pada setiap makhluk yang telah dilahirkan. Diharapkan ketika kita ingat akan hal-hal ini, motivasi atau semangat muncul dalam diri sehingga mendorong kita untuk konsisten dengan praktek Dhamma yang kita latih.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

35


Oleh: Owen Ricardo (FT-2018)

Q-TIME: VALENTINE DINNER

KMBUI INSIDE 36

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

Q-Time (Quality Time with KMBUI) merupakan salah satu program kerja yang diselenggarakan oleh Departemen Creative Events KMBUI XXVIII. Kegiatan ini diadakan sebagai salah satu wadah untuk memfasilitasi anggota aktif KMBUI untuk dapat berkumpul bersama di tengah-tengah perkuliahan. Harapannya adalah agar anggota aktif dapat merasakan rasa kekeluargaan di KMBUI. Kegiatan ini terdiri dari makan bersama, jalan-jalan, dan olahraga bersama. Salah satu kegiatan Q-Time adalah Valentine Dinner. Dalam rangka merayakan hari Valentine, Valentine Dinner diadakan pada tanggal 19 Februari 2020 di Ropisbak Ghifarri, Margonda. Acara ini dihadiri oleh 36 orang anggota aktif KMBUI dan dimulai pada malam hari pukul 19.00 hingga 21.30.


KMBUI INSIDE

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (Sheila (FKM 2019) dan Melvin (FMIPA 2019)) dan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama yang diiringi musik untuk membuat suasana kekeluargaan. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan permainan yang dipimpin oleh Angela (FH 2019) dan Kimberlyne (FH 2019) yang diikuti seluruh peserta. Salah satu games yang dimainkan adalah “Games Mencari Jodoh*� dimana peserta perempuan duduk diam menunggu peserta laki-laki mendapatkan sang perempuan. Setelah permainan berakhir, pemenang diberikan hadiah berupa masker wajah kecantikan dan cokelat.

Sebagai penutupan, Departemen Creative Events memfasilitasi peserta untuk melakukan tukar kado di mana para peserta sudah membawa kado sebelum acara dimulai. Departemen Creative Events juga membagikan cokelat agar nuansa Valentine semakin terasa kepada seluruh anggota aktif KMBUI yang hadir dilengkapi dengan ucapan apresiasi karena sudah menghadiri acara Valentine Dinner. Harapannya, dengan dilaksanakan Valentine Dinner ini dapat membuat anggota aktif KMBUI merasakan kehadiran keluarga ditengah masa perkuliahan yang menyibukkan. Saya berharap dengan diadakannya acara ini, kita dapat saling mengakrabkan diri satu sama lain sesama anggota aktif KMBUI. (SWA/GRA) PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

37


PARAPLUS

??

What do They Say? Oleh Angelina Arfiany (FIB-2019)

Pernahkah kamu merasakan kekacauan dalam hidupmu? Coba ceritakan kekacauan seperti apa, cara kamu mengatasinya, dan pelajaran apa yang didapat dari hal tersebut!

38

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAPLUS

Maria Anastasia Audrey Kesehatan Masyarakat 2019 Pernah, termasuk yang baru-baru ini aku alami, yaitu ketika aku dalam tahap penyesuaian dari SMA ke kuliah. Aku bersekolah di SMA swasta yang jadwalnya sangat teratur dan lebih memilih fokus pada akademik daripada berorganisasi. Namun, saat memasuki masa kuliah, aku kaget dengan jadwal yang begitu padat sehingga membuatku memiliki gaya hidup yang tidak teratur. Setelah satu semester berlalu, akhirnya aku berhasil memperbaiki gaya hidup aku dengan membuat skala prioritas, juga memberanikan diri untuk berorganisasi. Di samping itu, aku juga tidak lupa menyediakan me-time untuk diri sendiri. Kalau menurut aku, kekacauan itu seperti fase sebelum kita menemui kestabilan. Untuk mencapai fase stabil, harus melewati fase kacau ini. Dengan pengalamanku ini, aku belajar bahwa dalam menghadapi kekacauan perlu ketenangan, kedewasaan, dan sikap rasional.

Adinda Tri Wulandari Kesehatan Masyarakat 2018 (Wakil Kepala Biro Multimedia BEM UI 2020) Pernah, salah satunya pada masa aku mengikuti suatu kepanitian. Di sana aku bersama seorang partner yang seharusnya bekerja sama bareng aku, tapi malah sering lepas tangan karena kegiatan lainnya. Akhirnya, dulu sering menangis karena sangat lelah, bukan lelah fisik melainkan pikiran karena aku tipe orang yang sering memendam masalah. Aku sudah berusaha menguatkan diri sendiri, sebelum kemudian aku berpikir lebih baik jika mulai berani menceritakannya ke teman terdekatku. Akhirnya, aku mendapat banyak masukan serta dukungan dari orang lain hingga acara kepanitiaan aku dapat berjalan lancar. Juga mendapat kepuasan dan pelajaran tersendiri, saat aku semakin terbiasa berada di bawah tekanan dan aku menjadi semakin percaya akan kata-kata “usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil� itu nyata. Intinya, kita harus selalu yakin terhadap diri sendiri dan berpikir bahwa semua yang terjadi pasti selalu ada hikmah yang bisa diambil. PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

39


PARAPLUS

Damara Harahap Sastra Jepang 2016 Ketua DPM FIB UI 2018-2019 Tentu saja pernah. Kekacauan yang aku alami dimulai ketika aku masuk SMA, saat aku berada di lingkungan yang tidak baik. Dari situ, aku merasa bingung memilih antara ikut berbaur dengan pergaulan tersebut atau tidak, dengan konsekuensi yang pastinya akan dijauhi oleh yang lain. Aku akhirnya memilih untuk tidak terpengaruh dan aku berhasil mengatasinya dengan membaca buku. Aku juga mendapat pelajaran “asas Stoicism� yang menyatakan bahwa kita tidak bisa mengontrol sesuatu yang di luar kehendak kita, serta hanya kita yang dapat mengubah keadaan kita sendiri. Selain itu, aku juga pernah mengalami masalah dalam lingkungan BEM dan DPM, yang tentu saja tidak semua orang selalu berpandangan sama dengan kita. Menurut aku, akan selalu ada keadaan saat tidak semua orang mendukung, namun hal tersebut sudah cukup untuk meyakinkan kita agar tetap bertanggung jawab dan tidak meratapi kegagalan. Kita harus memilih lebih berfokus mengubah diri sendiri dan apa yang bisa diusahakan untuk mengubah lingkungan sekitar menjadi nyaman.

Ahmed Zaidan Teknik Industri 2018 Kepala Biro PSDM BEM UI 2020 Iya pernah. Sebenarnya, aku merasa kekacauan dalam hidup aku itu kontinu, salah satunya ketika persiapan ujian masuk PTN. Situasi KBM di sekolah aku terbilang kacau, membuat aku salah meresponnya dengan bolos kelas minimal 2 hari sepekan dan memanfaatkannya untuk belajar di salah satu kursus online. Karena itu, orang tuaku sering ditelepon oleh pihak sekolah, dari situ hubungan dengan orang tua menjadi kurang akrab dan mempengaruhi kebiasaan aku sehari-hari, contohnya seperti ritual ibadah menjadi kacau, selain itu hanya kebiasaan belajarnya yang masih rapi. Sederhananya, aku menghadapi kekacauan tersebut dengan menarik diri dan menghindarinya. Namun sisi buruknya, hal yang sebelumnya tidak kacau menjadi kacau juga. Sisi baiknya, setelah diterima di PTN, aku bisa kembali menjalankan semuanya dengan baik, mulai dari hubungan dengan orang tua maupun kebiasaan lainnya. Mungkin, jika sebelumnya telah punya kebiasaan baik, akan terasa lebih sulit untuk membuatnya lebih baik. Berbeda dengan ketika kita mulai memperbaiki dari yang buruk, maka usaha memperbaiki diri sekecil apapun akan cukup terasa dan berarti. Jadi pelajaran yang aku dapat, aku menjadi bisa memulai hal baik lain yang lebih bermakna daripada hal baik yang aku lakukan sebelum kekacauan itu terjadi. 40

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAPLUS

Ika Noviana Suci Gizi 2017 Kepala Departemen Sosial Masyarakat BEM UI 2020 Aku lebih menganggap sesuatu yang terjadi dalam kehidupanku sebagai dinamika dibandingkan sebagai suatu kekacauan karena aku selalu berpikir bahwa hidup itu tidak selamanya di atas dan mudah. Pengalaman saat pertama kali menjadi ketua atas kemauan sendiri, menjadi salah satunya. Perasaan yang didapat ketika di awal dan di akhir menjabat posisi ini terasa sangat berbeda, euphoria yang aku dapat berada di posisi ketua hanya menjadi suatu kebahagiaan semu yang tidak membantu karena semakin banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan, hingga membuat aku mempertimbangkan diri terhadap apa yang telah dipercayakan kepadaku, juga menyalahkan apapun yang aku rasa merupakan penyebab dari setiap masalah. Namun, masalah tetap tidak terselesaikan dan malah menambah masalah baru, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk mengerjakannya sebisa mungkin bersama tim. Kami belajar banyak dengan memperbanyak komunikasi dan diskusi, saling mendengarkan pendapat, juga belajar mencoba membuat rencana yang realistis. Dari situ aku menyadari bahwa apa yang aku alami adalah proses pendewasaan diri, kita tidak akan berani kalau tidak mencobanya, tidak akan berhasil kalau tidak tahu rasanya gagal, dan selama hidup, kita tidak akan berhenti belajar, dan bahkan mendapatkan pelajaran baru dari hal-hal yang tidak terduga sekalipun. (GRA/SAL)

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

41


PARAPLUS

Bagaimana dirimu di masa pandemi ini ? Big Five Personality (OCEAN) adalah pendekatan kepribadian individual yang tersusun dalam lima buah domain kepribadian yang telah dibentuk dengan menggunakan analisis faktor. Menurut teori Lewis Goldberg, faktor tersebut membentuk lima dimensi kepribadian: Openness to experience (terbuka terhadap hal baru), Conscientiousness (berhati-hati), Extraversion (nyaman berinteraksi dengan orang lain), Agreeableness (mudah bersepakat) dan Neuroticism (neurotisme).

OCEAN dibuat berdasarkan studi terhadap ratusan bahkan ribuan sifat, sikap, perilaku, dan pola pikir manusia. Hal ini yang membuat konsep OCEAN begitu banyak digunakan dan karena perbedaannya dari jenis tes kepribadian yang lain, yaitu dengan mengukur sifat individu dalam suatu dikotomi. Bagaimana individu ber tindak dan berpikir dapat dijelaskan dengan tinggi dan rendahnya trait atau sifatnya. Tes ini sudah sering lolos uji coba oleh banyak ahli soal reliabilitasnya dan selalu konsisten.

Manakah sifat yang cenderung kalian miliki? Berikut tes kepribadian OCEAN dalam bentuk Big Five Inventory-10 (BFi-10), diadaptasi dari Rammstedt B. & John O. P. (2007) dalam Journal of Research in Personality.

42

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


Instruksi: Sebagaimana tepat pernyataan berikut menjelaskan

Aku melihat diriku sebagai orang yang...

STS

TS

N

S

PARAPLUS

kepribadianmu? SS

1) Jarang mengutarakan emosi, pendiam 2) Sangat mudah mempercayai 3) Pemalas 4) Dapat mengatasi stres dengan baik, rileks 5) Ter tarik hal ar tistik 6) Mudah bersosialisasi 7) Sering mencari kesalahan orang lain 8) Mengerjakan sesuatu dengan baik 9) Mudah grogi 10) Memiliki imajinasi yang aktif STS TS N S SS

: : : : :

Sangat Tidak Setuju Tidak Setuju Netral Setuju Sangat Setuju

Skala penilaian: *R berar ti kebalikan dari pernyataan tersebut. Contohnya, 1R berar ti kamu memiliki sikap yang berkebalikan dari pernyataan 1, yaitu kamu merupakan orang yang terbuka dan tidak pendiam Extraversion: 1R, 6 Agreeableness: 2, 7R Conscientiousness: 3R, 8 Neuroticism: 4R, 9 Openness to experience: 5R, 10 PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

43


PARAPLUS

Setelah mengetahui kecenderungan kepribadian kalian, perlu diketahui ternyata respon seseorang ketika menghadapi masalah juga sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadiannya. Hal ini pernah disinggung di media sosial dalam sebuah infografis yang menunjukkan tiga zona emosional di era COVID-19 ini. Orang yang dominan tipe openness to experience akan lebih cepat berubah dan selalu terbuka pada pengetahuan sehingga masuk ke zona belajar. Sementara itu, orang yang dominan tipe neurotic yang cenderung memiliki sifat cemas dan ketakutan akan berkutat di zona ketakutan.

Orang yang dominan tipe extraversion masuk ke zona ber tumbuh karena cenderung memiliki sifat yang berhubungan dengan interaksi sosial dan sebisa mungkin membantu orang lain. Orang yang dominan tipe agreeableness masuk ke zona ketakutan karena cenderung mudah mempercayai beritaberita hoax dan cenderung suka ikut-ikutan. Terakhir, orang yang dominan tipe conscientiousness masuk ke zona belajar karena mereka belajar untuk berhatihati dalam ber tindak saat pandemi ini berlangsung.

Sumber ilustrasi: Freepik oleh kaboompics

44

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAPEOFILE

KEVIN

Planning and Reaching What You Dreaming Oleh: Salsa Sangha Mitta (FKM-2019)

Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menjalani hidup. Ada yang memilih untuk mengikuti arus dan ada juga yang memutuskan untuk menulis target demi target yang harus ia capai. Mungkin bagi sebagian dari mereka berpikir, menulis target hanya membuang waktu, toh hidup mereka masih terus berjalan dan juga dunia sangat luas kalau hanya terfokus di satu titik. Lagi pula, ada kesempatan yang datang tanpa diduga sebelumnya. Jangan lupakan juga mereka yang lebih memilih untuk membuat proposal hidup. Menyusun setiap target sebagai langkah pasti yang harus dia tuju. Nah, salah satu bagian dari mereka adalah Kevin, Mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Indonesia, Angkatan 2017. Kevin merupakan mahasiswa Kelas Khusus Internasional (KKI) yang mana tiga tahun pendidikannya ditempuh di Universitas Indonesia.

Sementara itu, saat satu tahun terakhir menjelang kelulusannya, ia berencana melanjutkannya di negara yang sama di mana Habibie mendapat gelar Master of Science di bidang Teknik, Jerman. Kevin sudah memiliki daftar rencana sejak awal masuk kuliah yang ingin ia raih sebelum berangkat ke sana. Ia berhasil mewujudkan mimpinya dengan menjadi Project Officer suatu acara, tepatnya tahun lalu, ia berhasil menjadi Project Officer UI Goes To Riau (UIGTR) 2019. Hal itu pula yang membuatnya berhasil dilirik saat wawancara magang di Traveloka. Selain itu, mimpinya ingin mengikuti pelatihan leadership tingkat nasional juga berhasil ia raih. Pelatihan tersebut bernama Future Leader Summit yang diselenggarakan di Semarang. Tentu saja, bidang akademis juga tidak dapat lepas dari prestasi yang dapat ia raih. Ia berhasil menjadi salah satu Mapres dari perwakilan Program Internasional Fakultas Teknik dan sekarang sedang dalam tahap seleksi tingkat fakultas yang sudah masuk 10 besar.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

45


PARAPEOFILE

Seakan tidak ada habisnya prestasi yang ia raih, Kevin juga berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari Kemendikbud (Beasiswa Unggulan Masyarakat Berprestasi). Tersisa satu lagi target di sisa waktunya sebelum melanjutkan rencananya ke Jerman dan target itu Kevin capai belum lama ini. Tepatnya di awal Maret kemarin, Kevin baru saja pulang dari conference di Thailand yang ia dapatkan melalui pengumpulan paper tentang penggunaan Piezoelectric. Saat ditanya mengapa ia mengambil judul itu, Kevin mengatakan kalau ia memang sudah ter tarik dalam bidang tersebut (renewable energy). Konferensi ini diadakan oleh Electrical Engineering Academic Association of Thailand (EEAAT ) dan Nakhon Phanom University. Kevin mewakili satu grup risetnya untuk melakukan presentasi oral yang terdiri dari empat dosen, satu alumni, dan Kevin sendiri. Rata-rata peser ta disana adalah S2 dan S3 yang memiliki research lebih dalam. Ia juga mengatakan sempat panik saat banyak yang berkomentar tentang research yang ia ambil, tetapi untung saja semuanya bisa ia jawab dengan lancar. Lagipula, katanya, kepanikan itu bisa terbayarkan dengan kesempatan bisa ber temu orang-orang dalam skala internasional, ada dari Amerika, UK, Australia, Malaysia, Singapura dan negara lainnya.

46

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAPROFILE

Bagi Kevin, masa mahasiswa baru adalah waktu yang paling cocok untuk mencoba semua hal. Ketika masih menjadi mahasiswa baru, semangat orang-orang masih sangat tinggi dalam mencoba hal baru sehingga itu menjadi waktu yang tepat untuk mencari teman. Semakin tinggi tingkatan mereka kuliah, mereka akan semakin malas untuk mengikuti kegiatan-kegiatan di luar akademis. Baginya investasi teman itu penting karena kita tidak mungkin sendirian dalam menjalani kehidupan kampus*. Tidak perlu dianggap keren katanya, masih banyak orang lain yang jauh berada di atasnya. Hal terpenting yang ingin ia tekankan adalah menyeimbangkan semuanya, letakkan 100% untuk semua hal yang dilakukan. Organisasi, akademik, lomba, kepanitiaan harus dijalankan dengan seimbang, jangan hanya karena mau fokus organisasi, dunia akademik jadi disepelekan. Kevin juga memiliki pesan khusus untuk temanteman KMBUI. Kevin berpesan sesibuk apapun kegiatan masing-masing, jangan lupa untuk tetap aktif di KMB. Jangan lupa untuk mengembangkan spiritual dengan mengikuti Khema, belajar sendiri, atau hal lain yang dapat dilakukan. Jangan terlalu fokus pada hal-hal duniawi. Kalau bisa seimbang. Duniawi boleh, tapi kalau bisa motivasinya harus dilandaskan sebijak mungkin. Ada masa dimana kita merasa lelah, tugas kuliah menumpuk, dikejar deadline organisasi, rapat kepanitiaan yang seakan tidak ada habisnya, belum lagi kuis dosen yang sering diadakan dadakan. Dari itu semua, kasur akan menjadi satu-satunya tempat yang paling diidamkan. Rebahan dan ber temu dengan bantal seharian penuh selalu menjadi godaan yang terkadang hanya sebagian orang saja yang dapat menahan godaan itu. Tentu, organisasi, akademis, dan tidur merupakan 3 hal yang saling ber tolak belakang. Kevin menganggap ketiga hal tersebut merupakan tiga sisi dari segitiga. Saat kedua sisi terangkat, akan selalu ada satu sisi yang turun. Kita tidak bisa menguasai ketiga sisi itu, oleh karenanya selalu ada pilihan yang harus dikorbankan, dan berdasarkan semua prestasinya itu, baik akademik maupun organisasi, terkadang Kevin memang harus sedikit mengorbankan jam tidurnya.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

47


KMBUI INSIDE Sanghadana KMBUI 2019 Saccato Dadāti Oleh: Adi Surya Dharma (FEB 2018)

Belum sampai matahari naik ke singgasananya, puluhan orang berjalan beriringan menuju sebuah ruangan. Tak selang berapa lama, para orang bijaksana memasuki ruangan dengan langkah yang tenang dan penuh perhatian. Alunan paritta suci terdengar sayup-sayup di ruangan yang luas. Bait demi bait yang penuh makna dilantunkan dengan suara yang seirama. Dengan penuh perhatian, orang-orang turut mendengarkan sabda* suci dari Sang Tathagata, Raja para Bijaksanawan. Dengan kemurahan hati, orang-orang melepaskan sebagian miliknya, seperti barang dan harta untuk menyokong kehidupan para bijaksana. Pada saat itu, KMBUI sedang mengadakan acara Sanghadana KMBUI yang merupakan acara untuk merayakan Kathina setiap tahunnya. Berdasarkan literatur Buddhis, Kathina merupakan salah 48

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52

satu nama bulan dalam penanggalan Buddhis yang biasanya jatuh sekitar bulan Oktober dan November pada penanggalan masehi. Bulan ini juga menjadi momen bagi anggota Sangha Monastik untuk mengakhiri masa vassa* (masa berdiam diri selama musim hujan). Umat Buddha biasanya memberikan dana kebutuhan pokok bagi para Bhikkhu, seperti jubah, makanan, obat-obatan dan lain sebagainya. Hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada anggota Sangha Monastik yang telah mengabdikan diri sepenuhnya untuk pelestarian dan pengembangan Buddha Dhamma. Sanghadana KMBUI 2019 membawa tema “Saccato Dadāti” (memberi dengan baik dan benar). Tema ini berangkat dari cara pandang sebagian besar umat Buddha yang beranggapan bahwa dana hanya dapat dilakukan dalam bentuk materi


KMBUI INSIDE

saja. Padahal, terdapat banyak cara untuk melakukan praktik dana ini. Dalam kitab suci Tipitaka, Buddha menjelaskan bahwa dana dapat dilakukan dengan tiga cara utama, yaitu dana materi, dana kehidupan, dan dana kebenaran. Oleh karena itu, kita dapat melakukan praktik mulia ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Panitia juga berusaha menuansakan semangat ini lewat seruan #AyoBikinKarmaBaik yang menjadi tagline dari acara ini. Pada tahun ini, Sanghadana KMBUI dilaksanakan pada 8-10 November 2019 dan bertempat di Vihara Vipassana Graha, Bandung, Jawa Barat. Acara ini diisi dengan kegiatan rohani dan juga games. Pada sesi rohani, anggota KMBUI melakukan Kathina Puja dan mendengarkan ceramah Dhamma yang disampaikan oleh Bhikkhu Suddhasilo. Setelah puja bakti, peserta melakukan fangshen (lepas satwa) secara bersamasama dan dipimpin oleh Bhikkhu Sangha. Selain itu, peserta juga melakukan Focus Group Discussion untuk membahas beberapa kasus yang berkaitan dengan berdana. Kemudian, acara dilanjutkan dengan sesi games dan peserta bermain games tersebut secara berkelompok. Games bertujuan untuk merekatkan hubungan antar anggota aktif

KMBUI. Pada malam puncak, peserta melakukan pradaksina (mengelilingi Dhammasala sebagai wujud penghormatan) sebanyak 3 kali. Setelah itu, para peserta melakukan pelepasan lampion yang sebelumnya telah dituliskan berbagai harapan dan keinginan masing-masing. Acara malam itu ditutup dengan mendedikasikan karma baik yang telah dilakukan untuk kebahagiaan semua makhluk. Keberhasilan Sanghadana KMBUI 2019 tentunya tidak lepas dari usaha dan kerja keras panitia yang telah mempersiapkan dan mengeksekusi acara ini dengan baik. Selain itu, acara

ini juga dapat berlangsung dengan baik berkat dukungan dari para sponsor dan donatur. Tak lupa juga, acara ini dapat berjalan berkat peran peserta yang telah menyempatkan diri untuk menghadiri acara. Semoga kita bisa memperoleh manfaat dari acara ini. #AyoBikinKarmaBaik (KEV/SWA)

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

49


PARADHAMMA PARADHAMMA

Pandemonium: Tumpukan Kesalahan Manusia Oleh Vandana Budhi (FT-2017) Perkembangan teknologi sering dijadikan bukti tak langsung bahwa manusia adalah makhluk tercerdas di Bumi. Hal tersebut didukung oleh fakta bahwa kita, manusia, merupakan makhluk yang tetap “menginvasi Bumi" selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Hal ini terlihat dari banyaknya spesies hewan yang telah punah akibat perburuan dan juga sumber daya alam yang habis dieksploitasi. Sangatlah wajar jika dikatakan bahwa moral manusia semakin buruk seiring dengan majunya peradaban. Kemajuan peradaban tidak didukung oleh penggunaan nurani, melainkan dipupuk oleh keserakahan sehingga mengesampingkan akibat yang dapat terjadi. Bahkan dengan jumlah populasi yang lebih dari 7 miliar, lebih banyak lagi hal negatif yang dapat terjadi di masa depan. Di masa ini, manusia juga semakin dimanjakan oleh kemudahan dan kestabilan. Semuanya menggandrungi halhal cepat dan praktis, terlebih lagi di era persaingan bebas. Lambat laun, manusia menjadi ketagihan untuk mendapatkan kestabilan dalam berbagai bidang, khususnya bagi generasi muda. Saat ini pun, manusia sudah mulai lupa bahwa tidak ada hal berkondisi yang bertahan selamanya. Contoh konkretnya ada di tahun 2020 ini. Di tahun ini, banyak berita 50

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

buruk yang muncul secara alami maupun akibat campur tangan manusia. Kebakaran besar di Australia, ancaman perang dunia ketiga, banjir di penjuru Indonesia, kerusuhan di India, dan menyebarnya pandemi COVID-19 adalah sedikit dari berbagai kejadian menyedihkan yang kita rasakan. Kejadiankejadian tersebut sukses mengguncang kestabilan manusia dan mengajarkan kembali arti penting dari ketidakpastian yang pasti selalu membayang seiring berjalan waktu.


dari karma kita sendiri. Karma di sini akan kita peroleh dalam bentuk kebiasaan dan lingkungan atau didapatkan melalui makhluk lain. Selanjutnya, perlu digarisbawahi pula bahwa setiap individu memiliki kecenderungan yang berbeda sesuai dengan karma dan kondisi batin masing-masing. Sehingga, mungkin saja ada pandemonium personal yang menerpa, yang pasti berbeda bagi setiap individu. Oleh sebab itu, kita harus secepatnya mengikis karma buruk dengan mulai membiasakan diri untuk berbuat baik. Dalam Buddhisme, kekacauan tersebut juga terjadi akibat adanya kombinasi faktor-faktor lain. Kita pasti mendapatkan buah dari benih

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

PARADHAMMA

Ketika merasakan kejadiankejadian tersebut, mungkin ada sebagian dari kita yang mempertanyakan mengapa hal itu dapat terjadi, mengapa tidak ada prediksi sebelumnya atau bahkan siapa lagi yang patut disalahkan. Padahal bila kita berkaca pada diri sendiri, kita turut berkontribusi dalam kejadian tersebut. Secara sadar maupun tidak, kita semua bertanggung jawab dalam menciptakan pandemonium kita sendiri, menciptakan kekacauan yang menimpa kita nantinya. Terlebih lagi, kita dapat menciptakan kekacauan tak terkendali, bahkan sejak hal itu masih berada di pikiran kita. Jangan pernah lupa bahwa pikiran adalah pelopor dan kita adalah pewaris

51


PARADHAMMA karma yang kita tanam, tetapi jangan lupa bahwa tidak ada benih yang dapat tumbuh di udara. Hukum Karma sebagai salah satu hukum alam universal (Panca Niyama*) tak pernah berdiri sendiri. Banyak faktor yang dapat memengaruhi besar kecilnya akibat karma, misalnya: cuaca, iklim, dan bahkan kembali lagi ke perbuatan kita sendiri. Ketika kita berbicara tentang cuaca dan iklim, tidak salah jika ada yang berkata bahwa kekacauan di tahun 2020 merupakan teguran alam kepada manusia. Alam telah

mengajarkan kembali tentang sebab-akibat dari sebuah tindakan yang mungkin bukan dengan cara yang halus. Ketika manusia menebar bibit bencana bertahuntahun lalu, bukankah wajar jika kita memetik buahnya sekarang? Sebenarnya, parah atau tidaknya suatu kekacauan bukan karena faktor eksternal. Pandemonium ini terasa parah justru akibat ulah manusia itu sendiri. Pemberitaan yang sangat cepat, penggunaan teknologi informasi, dan kemudahan akses pengetahuan rupanya tidak membuat

manusia mengedepankan logika dan nurani dalam bertindak. Meremehkan, berkata kasar, dan saling menyalahkan adalah hal biasa di media sosial. Tak sedikit pula yang terbuai oleh kepanikan saat kestabilan mereka terancam hancur. Banyak tindakan egois dalam masyarakat yang terlihat jelas, khususnya dalam menghadapi pandemi COVID-19, seperti: panic buying, penipuan, dan penyebaran hoax. Dalam upaya untuk menghindari sifat-sifat buruk tersebut, pastinya diperlukan latihan peningkatan kedisiplinan dan kemoralan diri. Salah satu caranya adalah dengan melaksanakan Pancasila dengan sungguh-sungguh. Terlihat mudah memang, tetapi apakah diantara kita ada yang pernah melaksanakan Pancasila secara sempurna di waktu biasa? Jika pernah, tentu 52

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52


PARADHAMMA akan terasa manfaatnya dan pasti bukan termasuk golongan manusia tersebut. Jika belum, inilah saat yang tepat untuk mengubah diri, walaupun tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Bukankah tak ada yang salah dalam memperbaiki diri? Setelah kita pahami lebih jauh, mungkin akan timbul sebuah pemikiran bahwa pada dasarnya manusia pasti tidak mampu mempertahankan kestabilan yang mereka dapatkan. Secara logika tentu tak salah, namun Dhamma tak melulu tentang logika, bukan? Kesalahan manusia adalah mencari kestabilan di luar diri sendiri. Ketika kita terus berusaha untuk memuaskan nafsu, kita pasti akan menemui kegagalan dan akan semakin menderita. Untungnya, Buddhisme menawarkan sebuah konsep tentang kestabilan yang mampu diterapkan setiap saat. Empat keadaan batin yang luhur (Brahmavihara), khususnya keseimbangan batin (Upekkha), adalah konsep yang cocok dipergunakan dalam segala kondisi. Upekkha adalah keadaan tidak terganggu terhadap perubahan dari dalam maupun dari luar diri. Upekkha juga meredam reaksi berlebihan terhadap hal yang disukai dan dibenci dengan sama baiknya dan tidak memihak. Dengan mengembangkan Upekkha, kita akan memahami bahwa hanya diri sendiri yang mampu kita kendalikan. Apapun yang kita lakukan tidak akan berdampak kecuali didukung oleh karma dan kondisi yang sesuai. Dalam Brahmavihara, Upekkha diibaratkan sebagai mahkota di atas Metta, Karuna, dan Mudita. Tanpa adanya Upekkha, tiga keadaan lainnya dapat terpisah, kurang stabil, dan menyusut kualitasnya. Hanya Upekkha yang mampu menyatukan ketiga keadaan tersebut menjadi harmonis, di mana masing-masing keadaan menunjukkan karakteristik terbaiknya dan menghindari kelemahannya sendiri.

Dalam pelaksanaannya, Upekkha tidak dapat dilatih secara cepat. Upekkha PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

53


PARADHAMMA dapat dilatih ketika ketiga keadaan lainnya turut dilatih. Karena pada dasarnya mereka adalah sebuah perwujudan batin yang sempurna. Mungkin hal inilah yang menjadi kendala dalam pembelajaran Dhamma di zaman modern ini. Penting untuk diingat jika Dhamma bukanlah mie instan yang dapat disantap dalam waktu tiga menit setelah dimasak. Dhamma adalah harta yang tak ternilai sehingga wajar apabila pembelajaran Dhamma membutuhkan proses panjang yang penuh tantangan.

Jika memang manusia adalah makhluk cerdas yang dapat belajar untuk berpikir dan bertindak benar, maka sudah sepantasnya bagi manusia untuk terus menjaga Bumi. Kita juga harus mengendalikan diri dan terus berbuat baik agar tidak ada pandemonium yang terjadi lagi. Ingatlah bahwa pandemonium tercipta oleh tumpukan kesalahan manusia yang sebenarnya dapat dihindari. Jadi, yuk berubah ke arah yang lebih baik! Referensi: https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/

Sebagai penutup, amat disayangkan jika kelahiran sebagai manusia yang berharga ini hanya diisi oleh kumpulan perbuatan buruk. 54

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52

brahmavihara-empat-keadaan-batin-luhur/ https://tricycle.org/magazine/equanimity-everybite/

(SAL/GRA)


PARAJOURNAL

Public Relation In Action: Perayaan Tahun Baru Cetiya Dhamma Manggala

KMBUI JOURNAL Volunteer Empowerment: Bantuan Kepedulian Karuna Mitta Jaya

Public Relation In Action: Sangha Dana KMB Pramudita LSPR

Volunteer Empowerment: Mega Dhamma Talk Kalyanamitta Adventure Team

Visit Alumni 2015

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

55


PARAJOURNAL

Visit Alumni 1995

Khema 1

Khema 2

Events: Cheesecake

Pelatihan Penulisan Artikel

56

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAJOURNAL

Week And Play with KMB Viriya Dhamma

Events: LTM

Kaderisasi Pemantapan Organisasi : Day 1

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

57


PARAJOURNAL

Kaderisasi Pemantapan Organisasi : Day 2

Public Relation In Action: Magha Puja KMB Dhammasena

Public Relation In Action: Magha Puja KMB Dhammavaddhana

Events: Cheesecake Webinar I Vesak 2020

Webinar 2 Vesak 2020

58

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAJOURNAL

Pelatihan Kesekretariatan

Kegiatan Belajar Mengajar I

Pelatihan Desain

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

59


KMBUI INSIDE Bakti Sosial KMBUI 2020 “Akshobhya” – Developing Compassion and Love Through Healing Oleh: Tasya Kartika (FK 2018) Namo Buddhaya! Pada 22-23 Februari 2020, telah diadakan Bakti Sosial KMBUI 2020 “Akshobhya” di Vihara Tri Maha Ratna, Desa Belimbing, Kecamatan Kosambi, Tangerang. Bakti Sosial KMBUI 2020 bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pelayanan kesehatan kepada penduduk lokal melalui penyuluhan dan pengobatan massal gratis dengan berpegang teguh terhadap sifat metta dan karuna. Tema yang dibawakan pada tahun 2020 ini adalah “Akshobhya: Developing Compassion and Love Through Healing”. Akshobhya merupakan salah satu dari Five Wisdom Buddha yang merepresentasikan consciousness sebagai aspek realita. Akshobhya juga berperan sebagai healing Buddha di negara Jepang. Warna biru yang menjadi warna tema juga merepresentasikan universal compassion dalam bendera Buddhis. Mata acara Bakti Sosial KMBUI 2020 “Akshobhya” terdiri dari penyuluhan umum, penyuluhan medis, penyuluhan gigi*, penyuluhan anak-anak, bazar, dan pengobatan massal gratis 60

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

yang mencakup pengobatan umum, pengobatan gigi, dan akupuntur. Pada hari pertama, dilaksanakan acara penyuluhan anak dan penyuluhan gigi di SDN Belimbing pada pagi hari dengan topik “Cara Menyikat Gigi Dengan Baik Dan Benar” untuk penyuluhan gigi serta topik “Makanan Sehat” untuk penyuluhan anak. Anak-anak SDN Belimbing antusias mengikuti penyuluhan dan para guru berkenan membantu panitia sehingga kedua penyuluhan


KMBUI INSIDE

ini berjalan lancar. Pada siang hari, diadakan acara penyuluhan medis dan penyuluhan umum untuk orang dewasa di Vihara Tri Maha Ratna. Acara penyuluhan medis mengangkat topik “BPJS Kesehatan� dan penyuluhan umum mengangkat topik “BUMDes (Badan Usaha Milik Desa)�. Warga yang datang sangat antusias dengan materi yang dibawakan dan banyak berinteraksi secara aktif kepada pembicara. Di akhir penyuluhan, warga yang dapat menjawab pertanyaan narasumber dengan tepat akan mendapatkan sembako. Hari pertama ditutup dengan bazar pada sore hari. Bazar diadakan di halaman Vihara Tri Maha Ratna, tepat setelah penyuluhan selesai. Barang-barang yang dijual di bazar merupakan hasil sumbangan dari para anggota KMBUI, alumni KMBUI, maupun masyarakat umum. Sumbangan yang diberikan merupakan barang bekas yang masih layak pakai, seperti pakaian, buku, tas, sepatu, dan beberapa barang lainnya. Para panitia turun ke jalan untuk melakukan sounding ke warga dengan menggunakan speaker ketika acara dimulai. Hal ini menarik minat warga karena banyak warga yang langsung menuju lokasi bazar dari rumah dan banyak warga yang sedang mengendarai sepeda motor langsung berbalik arah menuju lokasi bazar. Harga barang bazar awalnya sekitar sepuluh ribu rupiah, namun turun seiring waktu hingga mencapai dua ribu rupiah per dua puluh barang sebagai perlambangan 2020, tahun diadakannya Bakti Sosial ini. Pada hari kedua, dilakukan pengobatan massal gratis yang mencakup pengobatan medis, pengobatan gigi, dan akupuntur. Ketiganya sangat menarik perhatian warga dan acara berjalan lancar. Antusiasme tinggi warga terhadap pengobatan gratis ini tampak dari ruang tunggu yang sempat

dipenuhi oleh warga yang menunggu antrian. Untungnya, para panitia sigap dalam menanggapi hal ini sehingga alur pasien dapat dipercepat dan warga tidak perlu menunggu terlalu lama. Pengobatan massal ini berlangsung hingga pukul tiga sore. Warga yang datang mengikuti pengobatan massal gratis melakukan registrasi terlebih dahulu. Pada bagian registrasi, panitia akan menanyakan pilihan PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

61


KMBUI INSIDE

pengobatan yang ingin dilakukan warga. Warga dapat memilih pengobatan umum, pengobatan gigi, dan/atau akupuntur. Setelah itu, warga akan melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah. Kemudian, warga akan menunggu giliran pengobatan di ruang tunggu. Setelah selesai melakukan pengobatan yang dipilih, warga akan diarahkan ke bagian farmasi untuk mengambil obat sesuai resep yang diberikan dan melakukan konsultasi obat. Kepanitiaan Bakti Sosial KMBUI 2020 berjalan sekitar sepuluh bulan, yaitu dari bulan Mei 2019 hingga bulan Februari 2020. Selama kepanitiaan, rancangan acara dan survei lokasi dilakukan. Panitia juga aktif mencari dana demi kelancaran acara melalui divisi dana usaha yang melakukan penggalangan dana

dengan screening kesehatan di vihara-vihara Jabodetabek, divisi sponsorship yang aktif mencari dana sponsor, serta divisi humas yang aktif menyebarkan informasi donasi kepada masyarakat melalui media sosial Bakti Sosial KMBUI. Segenap panitia Bakti Sosial KMBUI 2020 “Akshobhya� sangat berterima kasih kepada para volunteer yang sudah membantu menyukseskan acara bakti sosial tahun ini, terutama untuk tim medis yang telah bersedia melayani warga di hari kedua dengan sangat baik. Selain itu, kami juga ingin berterima kasih kepada para donatur yang telah membantu panitia dalam mewujudkan acara bakti sosial ini sehingga dapat bermanfaat bagi warga Desa Belimbing. Akhir kata, semoga kita semua bisa mendapatkan manfaat, pembelajaran, dan pengalaman dari kegiatan bakti sosial ini, serta mengembangkan sifat metta dan karuna dari proses pembelajaran ini!

Sampai jumpa di Bakti Sosial KMBUI 2021! (AND/KEV)

62

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


KEPENGURUSAN

KMB BEM IKM FKUI 2020

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

63


KEPENGURUSAN 64

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


KEPENGURUSAN

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

65


KEPENGURUSAN

Daftar Staff K Kestari Arsela Surya A Dina Winaya Handi Hardy Salim Jannice Coktama HALO Alvina Lorraine Catherine Evan William S. Jessie Chandra Kirana Ali Nelson Julio Richard Tanoto Suwandi Kurniawan

66

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

Finance Fenny Hermawan Fiona Daisy Jovindes Mardianto Silvia Renita Vanessa Patricia Multimedia Aryananda Unipin Cynthia Elysia Juan Patrick Kelcy Theresia G. Michael Tok Nico

Kalyanamitta Ericson Michael Chen Sofia Dwifa W. Thomson William Sachio Pengabdian Sosial Alfredo Angelique Ellicia Emerliawati Jordy Marcius Paramita Rui Vressel S. Yovita Agrippina H.


KEPENGURUSAN

KMBUI XXVIII Saddha Abraham Lawas Aurelio Chandra Cynthia Angelina Michelle Shie Vianna Clara A. Vita

PARAMITA Angelina Arfiany Dharma Natharina Fiona Helen Ronald Grant Salsa Sangha Mitta

Research and Development Denny Hartanto Emilia Angeline L. Evan Marchel Y. Rizky Eka Purnama Sheny Pundarika William Lim

Humas Cita Meyliana Denny Octavian Elisa Felicia Clara Ingrid Natascha Jassen Aldian R. Jennifer Santoso Veigy Pruedensia S

Creative Events Anathapindika M. Angela Febeyanti Ariya Candra P. Darvin Juliandri Kimberlyne Lie Melvin Putra Sheila Stefani

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

67


PARAFICTION

Panik Panik Ajaib Oleh Herlina (F.Psi - 2018)

Matahari pagi bersinar, menampakkan dirinya tanpa rasa takut meskipun kekacauan sedang melanda negeri ini. Banyak berita bertebaran mengenai masyarakat yang terjangkit virus. Semua orang saat ini sangat berhati-hati dalam melakukan aktivitas. Pagi itu, Ronald dengan semangat mengikat tali sepatunya dan bergegas pergi ke sekolah. Sesampainya di sana, ia melihat hampir semua teman sekelasnya memakai benda tipis berwarna hijau untuk menutupi wajah mereka dari hidung sampai dagu. Apalagi jawabannya kalau bukan masker yang sudah dicap sebagai barang langka dan bahkan hampir punah keberadaannya di kondisi seperti ini. Melihat itu pikiran Ronald bertanya-tanya, apakah hari ini kami semua akan melakukan praktikum? Ah, tentu saja tidak mungkin, kami kan anak IPS, batinnya menimpali. Sambil berpikir, ia berjalan menuju tempat duduknya di kelas. Saat itu teman sebangku Ronald, Troy, yang juga memakai masker telah datang lebih awal dibanding dia. “Hei Ronald! Berani sekali kau keluar rumah dengan tangan kosong!” ujar Troy. Ronald merasa kebingungan dan berkata “Siapa yang keluar datang dengan tangan kosong? Kau tidak lihat ranselku yang penuh ini? Ckck.” “Bukan itu maksudku bodoh,” wajahnya emosi, “maksudku barang-barang yang bisa mencegah kita terpapar dari virus yang sedang viral itu. Coba tengok si Luny, dia membawa banyak sekali masker dan sebotol besar hand sanitizer. Aku rasa besok-besok wastafel lengkap dengan sabunnya pun bisa dia bawa kemari hahaha.” Ronald memperhatikan Luny dan berkata “Ah… itu sih terlalu berlebihan.” Setelah itu guru masuk dan jam pelajaran dimulai Saat jam istirahat, Ronald memakan bekalnya di dalam kelas. Tiba68

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAFICTION

tiba ia mulai terbatuk dengan cukup hebat. Ia menggunakan tissue untuk menutup mulutnya, sedangkan tangan yang satunya lagi memegang bagian dadanya. Ronald terlihat seperti orang sesak napas. Seketika semua teman di kelas melihat kondisinya dan mulai panik serta kebingungan. Tidak ada yang berani mendekat untuk menolong Ronald. Bahkan, Luny terlihat paling histeris dan berteriak “Ronald sudah terkena virus!! Batuk-batuk seperti itu adalah salah satu gejalanya!! Kita harus menjauh sekarang sebelum tertular!” Di saat semua orang panik, Troy menghampiri Ronald “Kau kenapa? Sudah kubilang kalau keluar rumah kenakan masker Ronald! Kalau sudah begini mau bagaimana lagi?” Ronald tidak menghiraukan perkataan temannya, ia mencari botol minum dan meminumnya perlahan sembari menenangkan diri. Setelah batuknya hilang Ronald pun berkata “Kalian itu kenapa? Aku tadi hanya tersedak bakso dari bekal yang kumakan sehingga batuk-batuk seperti tadi,” Mendengar itu semua teman sekelas Ronald terutama Luny menjadi malu dan meminta maaf.

Refleksi: Kekacauan akibat wabah penyakit yang saat ini menggemparkan masyarakat terkadang membuat kita sedikit berlebihan dalam menanggapinya. Hal utama yang kita lakukan adalah menjaga kesehatan diri. Di samping itu, kita juga tidak boleh mengabaikan orang lain. Jangan sampai sikap kita dalam menjaga keselamatan dan kesehatan diri sendiri menimbulkan kepanikan yang berlebih. Jangan membuat penilaian yang salah terhadap orang lain dan menutup mata untuk melakukan karma* baik dalam menolong sesama. (SAL/GRA) PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

69


PARAMEDIC

Imunitas, Kunci Lawan Pandemi Oleh Stephen Gunawan (FKM-2017) Seperti yang kita tahu, dunia sedang dilanda pandemi selama beberapa bulan ke belakang, yaitu pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019 atau COVID-19). Menurut World Health Organization (WHO), pandemi merupakan kondisi terjadinya penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia. Pandemi ini sedikit banyak telah memberi dampak yang luas terhadap dinamika kehidupan masyarakat dunia. Pandemi ini berhasil mengajak kita untuk berkaca mengenai sejauh apa kita telah mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan kesehatan. Melalui artikel ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk membiasakan pola hidup sehat supaya kita siap menghadapi COVID-19 dan berbagai tantangan kesehatan lainnya.

COVID-19 VS Manusia

COVID-19 adalah penyakit menular yang utamanya menyerang saluran pernafasan. Coronavirus sendiri sudah ada sejak 1960. Virus ini terus bermutasi dan memunculkan banyak turunan jenis sehingga COVID-19 juga sering disebut “new coronavirus (n-Cov)�. Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), orang yang terserang virus ini akan mengalami gejala demam, batuk, kesulitan bernapas, dan bila semakin parah akan merasakan sakit di dada dan terlihat pucat. Orang yang paling rentan terserang virus ini adalah lansia (usia > 65 tahun) dan orang yang memiliki penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, penyakit paruparu, obesitas, diabetes, gagal ginjal, dan penyakit hati dan yang sistem imunnya rendah. Penularan virus ini adalah melalui droplet cairan dari mulut atau hidung ketika batuk atau bersin (WHO, 2020). Sejak 1960, secara berkala virus ini “muncul� 70

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


Bagaimana Imunitas Bekerja?

Sistem imunitas akan merespon masuknya bakteri dan virus ke dalam tubuh manusia. Ketika terdapat benda asing yang masuk ke dalam tubuh, sistem imun*

**akan mengenali molekul (antigen) tersebut dan merangsang timbulnya antibodi dan limfosit. Limfosit ini akan melakukan reaksi imunitas primer dengan cara menandai (menyimpan dalam ingatan) antigen yang masuk dan kemudian menghancurkannya. Ketika bakteri atau virus sejenis masuk kembali ke dalam tubuh manusia, sel imunitas kita sudah mengingat bakteri atau virus tersebut sehingga tidak sulit lagi untuk menang melawannya. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa semakin baik kinerja sistem imunitas tubuh, semakin cepat pula suatu virus yang masuk ke dalam tubuh dapat segera dihancurkan.

PARAMEDIC

kembali, namun manusia selalu bisa “menang�. Lalu, apa yang menjadi kunci dari kemenangan tersebut? Kuncinya adalah imunitas. Menurut WHO, semakin baik kinerja sistem imunitas tubuh, semakin cepat pula suatu virus yang masuk ke dalam tubuh dapat segera dihancurkan, tak terkecuali virus corona.

Terdapat banyak cara untuk meningkatkan imunitas tubuh kita. Beberapa diantaranya adalah asupan makanan yang bergizi seimbang, rutin beraktivitas fisik, istirahat yang cukup, dan menjaga kebersihan diri.

Bagaimana Asupan yang Baik untuk Imunitas?

Seperti kata pepatah, “Jangan menggali kuburmu dengan pisau dan garpu sendiri.�. Konsumsi makanan yang bergizi lengkap dan seimbang merupakan faktor terpenting dalam upaya peningkatan imunitas tubuh. Maksud dari konsumsi gizi seimbang adalah pola konsumsi sesuai dengan pedoman piramida gizi seimbang oleh Kementerian Kesehatan RI. Penting bagi kita untuk mengetahui porsi makan dalam sehari, serta membatasi konsumsi gula, garam, dan minyak. Peran zat gizi mikro dalam meningkatkan imunitas juga sangatlah penting. Berikut ini merupakan beberapa zat gizi mikro dan contoh makanannya yang dapat mendukung sistem kekebalan tubuh. 1. Vitamin A, membantu menjaga permukaan kulit dan jaringan di mulut, lambung, usus, dan sistem pernapasan. Vitamin A dapat ditemukan dalam ikan, kuning telur, wortel, kacang-kacangan. PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

71


PARAMEDIC

2. Vitamin C dan Vitamin E, membantu meregenerasi sel, memiliki sifat antioksidan yang sangat kuat, dan melindungi kerusakan akibat stres oksidatif dan radikal bebas. Vitamin ini dapat ditemukan dalam buah jeruk, kiwi, brokoli, dan tomat. 3. Vitamin D, dapat meningkatkan efek pada sistem imun dalam melawan patogen dan mengurangi inflamasi. Vitamin ini dapat ditemukan dalam ikan, margarin, dan susu. 4. Seng, membantu mengendalikan inflamasi di tubuh dan memperlambat respons kekebalan. Zat ini dapat ditemukan dalam tiram, daging, dan ayam. 5. Zat besi berperan dalam imunitas dan pembentukan sel-sel limfosit. Zat ini dapat ditemukan pada hati, daging, dan sayur-sayuran. 6. Selenium membantu proses pembentukan antibodi dan bekerjasama dengan vitamin E, berperan sebagai antioksidan. Zat ini apat ditemukan dalam kacang-kacangan, sereal, dan jamur.

Apa Yang Dapat Kita Lakukan Selagi #Dirumahaja?

Pandemi COVID-19 membuat manusia harus beradaptasi dengan melakukan segala aktivitas #dirumahaja. Semenjak berkegiatan di rumah, hal apa saja yang sudah kamu lakukan? Apakah hal tersebut tergolong dalam pola hidup sehat? Apakah hal tersebut dapat memperkuat sistem imunitas tubuh kamu? Berikut ini adalah beberapa kegiatan dan anjuran yang dapat kita terapkan selagi #dirumahaja sembari memperkuat sistem imunitas tubuh kita. 1. Melakukan aktivitas fisik secara rutin Melakukan aktivitas fisik secara rutin dapat meningkatkan kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, dan mengontrol berat badan. Dengan beraktivitas fisik, sel antibodi kita akan bersirkulasi lebih cepat sehingga dapat mendeteksi 72

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAMEDIC

virus lebih awal. Untuk anak dan remaja (usia 6-17 tahun), lakukanlah aktivitas fisik sedang selama 60 menit per hari. Untuk orang dewasa dan lansia, minimal lakukanlah aktivitas fisik sedang selama 150 menit per minggu. 2. Tidur yang cukup Memiliki kualitas tidur yang cukup merupakan faktor yang tidak kalah penting. Dengan tidur cukup, kita akan terhindar dari stres dan konsentrasi kita akan meningkat. Jika kurang tidur, regulasi sistem imunitas tubuh akan terganggu sehingga risiko terserang virus akan meningkat. Agar mendapatkan tidur yang berkualitas, kurangilah penggunaan gadget sebelum tidur, makan malam 3-4 jam sebelum tidur, dan tenangkanlah pikiran. 3. Meditasi Pikiran yang tenang dan seimbang merupakan faktor penting dalam kemenangan melawan penyakit. Pikiran yang tidak tenang (stres) berpengaruh terhadap menurunnya kinerja sistem imunitas tubuh dan meningkatnya risiko infeksi. Salah satu cara terbaik untuk menenangkan pikiran adalah dengan melakukan meditasi. Meditasi yang baik adalah meditasi yang berfokus pada satu objek. Mulailah meditasi dengan memperhatikan keluar masuknya napas dengan durasi tiga sampai lima menit. Jika sudah terbiasa, durasi dapat diperpanjang terus menerus hingga satu sampai dua jam.

Referensi: Advance Health. (2020). Why and How Exercise During a Pandemic Centers for Disease Control and Prevention. (2020). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Cleveland Clinic. (2015). 8 Vitamins and Minerals You Need for a Healthy Immune System. Health Essentials from Cleveland Clinic. (2020). How Mindfulness Training Can Boost Your Immune System. Direktorat P2PTM. 2020. Apa Saja Sepuluh Pedoman Gizi Seimbang? - Direktorat P2PTM. Pandemic, G., 2020. Getting Good Sleep During The COVID-19 Pandemic. The Sleep Health Foundation. In.vaccine-safety-training.org. (2020). MODUL 1 – Bagaimana Sistem Kekebalan Tubuh Bekerja - DASAR KEAMANAN VAKSIN WHO. Kahn, J. S., & McIntosh, K. (2005). History and Recent Advances in Coronavirus Discovery. The Pediatric Infectious Disease Journal, 24(Supplement), S223–S227. Kubala, J. (2020). Can Supplements Fight Coronavirus (covid-19)? The 15 Best Supplements to Boost Your Immune System Right Now. Healthline. Lee, G. Y., & Han, S. N. (2018). The Role of Vitamin E in Immunity. Nutrients, 10(11), 1614. Siswanto, Budisetyawati, Ernawati, F. (2013). Peran Beberapa Zat Gizi Mikro Dalam Sistem Imunitas. Gizi Indonesia, 36(1): 57-64. WHO.int. (2010). What is a pandemic? WHO.int. (2020). Coronavirus.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

73


PARASPECTIVE

Ini Duniaku, Bagaimana Duniamu? Oleh Salsa Sangha Mitta (FKM-2019)

74

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

Sudah berapa lama kamu hidup? Apakah harus mencapai tujuh belas tahun agar dibilang remaja menuju dewasa? Atau bahkan lebih tua untuk dibilang sebagai tirani pengalaman? Kata orang, lama atau tidaknya kamu hidup di dunia tidak menjamin seberapa banyak pengalaman yang kamu miliki. Sejauh apa langkah kaki kamu menapaki jejak demi jejak atau seberapa tangguh kamu menaklukkan satu Gunung Rinjani,

tidak akan menilai sekuat apa kamu berkelana di dunia yang katanya fana. Pada kenyataannya, dunia bukanlah ajang untuk unjuk diri. Boleh kamu tanyakan hal apa yang dapat kamu sombongkan. Jangan mencoba m e ra s a lebih tinggi dibanding orang lain, kalau untuk makan saja kamu masih meminta kepada mereka. Lalu bagaimana? Bagaimana kamu menganggap dunia yang sudah kamu


Pada kesempatan ini, Paraspective akan membahas tentang pandangan orang-orang terpilih terkait dunia di masa sekarang. Mereka akan memberikan pandangan pribadi mereka. Lantas, bagaimana pandangan dunia yang sekarang menurut mereka? "Dunia saat ini sedang diliputi ketakutan. Ketakutan akan kejahatan, penyakit, masa depan, dan yang baru-baru ini adalah virus corona."

PARASPECTIVE

tapaki sejauh ini? Kondisinya? Bencana alamnya? Jakarta yang banjir? Atau virus-virus yang sekarang bertebaran dengan jumlah korban yang sudah banyak ditelan?

"Agak kacau sih. Semakin majunya teknologi sekarang, banyak juga yang menyalahgunakan itu. Contohnya adalah media sosial sendiri. Banyak yang menyebarkan hoax, adu domba, dan lain-lain di media sosial." Bahkan ada yang mengatakan bahwa dunia sedang berada pada m a s a u j i a n k a re n a C OV I D - 1 9 merupakan masalah yang tidak lagi memandang suku, ras, agama, b a h k a n n e g a ra . S e b e l u m n y a , dunia dapat memenuhi kebutuhan

setiap individu di dalamnya, termasuk kita dengan serba instan, cepat, dan tidak melibatkan banyak pihak. Kita masih dengan bangga mengatakan kita dapat bersenang-senang sendiri dengan handphone, laptop, maupun gadget lain yang kita miliki tanpa perlu berinteraksi dengan orang luar. Tapi, dengan kondisi sekarang, saat kita diberikan kebebasan untuk menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatankegiatan seperti itu, kita malah stres, bosan, dan sulit menerimanya. "Kekacauan setiap harinya tuh pasti ada dan tidak mungkin tidak ada. Tapi untuk permasalahan yang baru belakangan ini terjadi, sepertinya berbeda dengan kekacauan lain. Apa yang membedakan? Bedanya karena ada efek dari orang yang tidak bertanggung jawab dan membuat seolah-olah masalah PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

75


PARASPECTIVE

ini tidak dapat diselesaikan. Kenapa asumsi* itu berhasil disampaikan? Kita dapat melihatnya dari kekacauan yang ada. Permasalahan ini sebenarnya ada sisi positifnya. Semua pihak dapat saling bahu-membahu mencari solusi penyelesaian bersama-sama. Tentu kesempatan ini terlihat sangat langka. Saat pihak yang awalnya bermusuhan dan sekarang menjadi sekutu untuk menyelesaikan masalah ini. Namun, balik lagi, sisi positif ini menjadi ajang bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk unjuk pamor. Mulai dari menimbun masker, hand sanitizer, hingga melakukan eksplorasi terhadap korban, bahkan sampai ke keluarga dan tempat tinggal, serta menyebarkan berita hoax yang membuat panik semua orang." "Kita sama-sama sadar, saat ini dunia sedang berkembang pesat seiring dengan kompleksitas masalah yang mencakup seluruh ranah dalam kehidupan dan

76

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

mendorong manusia untuk terus melakukan inovasi sesuai kemampuannya masing-masing. Mulai dari masalah kesehatan yang sedang kita alami, yaitu pandemi COVID-19. Kemudian, masalah selanjutnya adalah pendidikan di berbagai negara yang masih belum mencapai kesetaraan dan pemenuhan hak atas pendidikan bagi seluruh anak. Masalah perekonomian, kemanusiaan, dan lainnya juga selalu mengikuti. Setiap permasalahan yang terjadi di dunia haruslah dicermati dengan baik supaya permasalahan tersebut tidak sekadar menjadi permasalahan, tetapi juga menjadi pembelajaran. Dunia akan terus berubah, mengikuti perkembangan manusianya. Ada dua pilihan ketika kita sadar bahwa dunia terus berubah, apakah kita hanya akan menyaksikan perubahan dunia ataukah kita yang akan membangun dan membuat perubahan bagi dunia?"


PARASPECTIVE

Berdasarkan semua jawaban itu, diajukan pertanyaan kedua, yakni "Hal apa yang paling kalian takutkan sekarang?". Jawaban yang didapat ternyata tidak kalah beragam dari pertanyaan sebelumnya. Ada yang mengatakan bahwa ia takut melewatkan momen berharga dalam hidup, baik itu keluarga, teman, pendidikan, pekerjaan, maupun rutinitas di tengah kekacauan ini. Sedangkan, yang lain lebih mengarah kepada takut akan hilangnya respect orang-orang terhadap satu sama lain akibat termakan berita-berita yang tidak benar maupun kalah dari keadaan.

cara pandang manusia, yang ada kalanya berpengaruh terhadap menurunnya moralitas dan rasa kemanusiaan antar manusia. Mungkin sekarang tidak terlihat karena kita sedang #dirumahaja. Namun, melalui pemberitaan di media saja, kita sudah bisa melihat setiap harinya selalu ada kasus baru yang terjadi terkait dengan kejahatan dan kriminalitas. Ketakutan akan kondisi dunia merupakan hal yang wajar. Ketakutanku terhadap kondisi dunia, yaitu mengutip lirik dari lagu Raisa - "Nyawa dan Harapan". Saat kejujuran sudah tak bersisa, saat manusia hidup tanpa hati, saat membenci terasa nyaman, saling menyakiti terlihat wajar, saat senyuman lebih langka dari amarah, saat nyawa nyaris tak berharga, saat dunia merintih pedih, akankah akhirnya kita sadari?"

"Kembali ke nomor satu. Kita sama-sama sadar bahwa dunia sedang berkembang. Namun, ada satu hal yang belum tentu kita samasama sadari, yaitu permasalahan moralitas dan kemanusiaan yang semakin kompleks seiring kemajuan Dalam menghadapi semua teknologi. Perkembangan zaman kerisauan ini, tentu diperlukan sedikit banyaknya telah mengubah solusi yang dapat mengatasi. PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

77


PARASPECTIVE Mereka menawarkan untuk menerima kenyataan, memulai kesadaran dengan refleksi diri, dan mencari suatu informasi dengan bijaksana (tidak mudah percaya). Seperti ajaran yang telah Buddha berikan, yaitu "Ehipassiko" dengan pengertian datang, lihat, dan buktikan. "Terus sadari bahwa perubahan itu pasti dan sadari tentang bagaimana sikap kita dalam menghadapi perubahan ini. Apakah kita sudah siap dalam menghadapi perubahan? Seberapa jauh persiapan kita? Atau kita hanya akan menjadi korban yang ditelan oleh perubahan peradaban? Kita yang menentukan semua itu. Mulailah dari diri kita sendiri. Hari ini, buatlah perubahan yang memberi dampak positif, minimal bagi diri kita sendiri. Maka secara perlahan, dampak yang kita buat akan menjamur dan menginspirasi. Ketika kita bisa terus memperluas dampak baik, serta merangkul banyak orang untuk melakukan hal 78

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

yang sama, di saat itulah ketakutan sudah tidak diperlukan lagi. Cukup sadari dan buat perubahan." T i d a k mungkin suatu permasalahan tidak memiliki akhir. Tidak mungkin suatu permasalah tidak memiliki jalan keluar. Jadi, bagaimana duniamu sekarang? Masihkah baik? Atau sudah mulai kacau seperti yang lain? Iya, perjalanan ini pasti akan melelahkan. Kita bahkan tidak tahu kapan hal ini berakhir atau apa yang dapat membuat ini berakhir. Namun, sisi positifnya sekarang adalah kita bersama-sama di sini. Satu lelah menjadi lelah kita semua. Satu beban menjadi beban kita semua. Mungkin... ini adalah salah satu alasan kenapa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Narasumber: Elvina Wijaya (FH-2017), Stephen (FKM-2017), Arya Permadi K. (FT-2018), Mario Ekaputta (Fasilkom-2018), Michael Chen (FH-2019) (ANG/KEV)


PARATECHNO

Lima Teknologi Pencegah Hoax; Nomor Dua Mencengangkan! Oleh: Kevin (FT 2017) Engga deng‌ Jadi, teman-teman pembaca, jangan terlalu gampang terprovokasi dengan judul-judul artikel seperti di atas. Sebelum percaya lebih dalam, akan lebih baik bagi kita untuk sama-sama mengecek dulu kebenaran dari setiap berita yang ada. Jangan hanya ‘termakan’ oleh clickbait yang sifatnya sensasional seperti artikel ini, ya!

informasi tersebut. Nah, di sinilah akhirnya kita mengenal istilah hoax. Hoax atau berita bohong, sesuai namanya, biasanya selalu berhasil membuat suatu berita yang seolaholah benar, namun sebenarnya ada informasi yang keliru di dalamnya. Hoax biasanya paling gampang dipercaya oleh orang-orang yang mungkin kurang mengikuti ataupun membaca banyak informasi. Sebenarnya, artikel Namun, tidak menutup ini bermaksud untuk kemungkinan bahwa membantu temansemua orang juga teman para pembaca bisa ditipu oleh berita dalam memahami dan bohong ini, ya! Hingga (Sumber Gambar: liputan6.com) dapat tergerak untuk saat ini, sebenarnya bersama-sama menangkal hoax belum ada teknologi paling akurat yang ada di sekitar kita. Belakangan yang bisa mendeteksi bahwa suatu ini, kita tahu bahwa kemajuan berita itu bohong atau tidak, terutama teknologi memberikan dampak di Indonesia. Pendekatan paling positif sekaligus negatif yang sangat akurat saat ini hanya bisa dilakukan besar sekali. Dampak positif itu tentu dengan bantuan mesin pencari saja memberi kita akses lebih cepat atau search engine, pengembangan dalam mendapatkan informasi- kecerdasan buatan atau artificial informasi paling aktual yang intelligence, dan penggunaan sedang terjadi. Namun, beragamnya tools lainnya. Secara umum, informasi yang ada ini membuat alat-alat ini bekerja dengan cara kita sebagai konsumen tidak bisa mencocokkan kata kunci (keyword) membedakan validitas dari setiap dari setiap berita terhadap kumpulan PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

79


PARATECHNO

PARATECHNO

informasi

valid

yang

dimiliki.

Namun, kita juga bisa membantu keluarga atau orang di sekitar kita untuk memastikan validitas dari suatu berita. Banyak sekali web yang bisa kita jadikan referensi dalam mengecek fakta dari suatu informasi. Berikut disajikan beberapa web yang bisa digunakan: 1. Turn Back Hoax : https:// turnbackhoax.id/ 2. Liputan6.com : https://www. liputan6.com/cek-fakta 3. Detik.com : https://hoaxornot. detik.com/ 4. MAFINDO : http://www.mafindo. or.id/ 5. Cek Fakta : https://cekfakta. com/ 6. Cek Hoax : https://stophoax.id/ Turn Back Hoax sendiri adalah situs yang dikelola oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) dan 80

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM melalui SK (Surat Keputusan) Pendirian Perkumpulan Nomor AHU-0078919.AH.01.07 tahun 2016. Situs ini juga memiliki akun Instagram terverifikasi yang bisa diikuti melalui @turnbackhoaxid. Selain itu, beberapa mahasiswa UI juga berinisiatif membentuk komunitas yang dinamakan Fact Checker UI. Komunitas ini juga didukung oleh Turn Back Hoax. Melalui komunitas ini, mereka bergerak untuk membantu memberikan informasi terkait kebenaran dari berita-berita yang validitasnya masih diragukan. Untuk mengikuti informasi tersebut, bisa melalui akun instagram mereka, @factchecker.ui. Pihak Whatsapp, aplikasi komunikasi yang sering kita gunakan, juga sedang berusaha mencegah berita bohong ini


PARATECHNO

dengan menambahkan fitur untuk memberitahu pengguna bahwa suatu pesan tersebut adalah hasil tulisan sendiri atau dibagikan dari pengguna lainnya. Lalu, pihak Whatsapp juga membatasi fitur forward pesan hanya satu kali untuk menangkal hoax tentang COVID-19. Dengan banyaknya cara yang bisa dilakukan untuk menangkal berita bohong ini, mari kita bersama-sama membantu dalam menyebarkan informasi ini, terutama keluarga dan orang-orang terdekat kita. Jangan sampai kita juga menjadi orang yang menyebarkan berita bohong tersebut, apalagi membuatnya, ya! Referensi: • https://faq.whatsapp. com/26000216 • https://turnbackhoax.id/tentangkami/ • https://www.medcom.id/telusur/ cek-fakta/zNP4aYgN-menjadifact-checker-itu-gampang-tinggalcopast-benarkah • https://teknologi.id/aplikasi/ tangkal-hoax-covid-19-whatsappbatasi-forward-pesan-hanya-1-kali (SWA/AND)

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

81


PARAPLUS

Teruntuk yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja (Anonim) Selamat malam untuk kamu, yang sudah mulai jemu, yang sedang mencoba tidur, tetapi tak bisa karena rasa sakit di dada yang tak terukur. Malam ini dunia terasa gelap, walau Sang Purnama bersinar gemerlap. Luapan harmoni dari samudra agoni, tak pernah lelah menjangkiti sanubari di masa kini. Memang, ketika hati telah teriris luka, diri pun akan terselimuti duka yang berjangka. Ku tak ingin katakan "jangan bersedih", karena emosi manusia bukan suatu mesin yang tak dapat merasakan perih. Perasaan itu nyata, walau tak kau sampaikan dengan kata. Bila ku bisa, kan kujadikan bahuku sebagai tempatmu bersandar, tetapi jarak* memisahkan kita saat wabah ini menyebar. Walaupun jarak memisahkan, yakinlah bahwa ku mendengarkan. Bersedihlah, menangislah, bila itu bisa membuatmu lebih lega. Berceritalah kepada orang yang kau percayai, yang dapat membuatmu lebih tenang. Boleh cemberut, tetapi jangan berlarut, ingatlah bahwa keindahan hari esok menunggu untuk disambut. Percayalah setelah hujan yang turun dengan lebatnya, akan ada pelangi yang menampakkan senyumnya. Semakin dewasa, kita semakin melihat dunia yang sebenarnya, tak seindah yang dulu kita rasa, ditambah wabah yang sedang merekah. Inikah pandemonium? Yang kerjanya mengacaukan dunia yang sedang tersenyum? Tentu tidak, Hidup memang tak pernah lelah memberi arti, juga dinamikadinamika pada hati. Tak ada cara untuk menghindarinya, hanya dapat menerimanya. Akan tetapi, coba lihat, dirimu menjadi semakin kuat! Segala permasalahan adalah tempaan untuk mengubah batu jadi berlian.

82

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52


PARAPLUS

Memang, Itu semua tak mudah. Bila lelah, beristirahatlah. Saat kau rasa dunia sedang tak adil kepadamu, cobalah menengok mereka yang berada di belakangmu. Kamu jauh lebih beruntung, ketimbang mereka yang makan sekali sehari saja sudah untung. Bersyukurlah atas apa yang kamu punya, bantulah mereka yang kehilangan pekerjaannya. Percayalah, membantu mereka yang membutuhkan, dapat menyembuhkan. Inilah arti kehidupan, untuk melukiskan tinta-tinta kemanusiaan. Nah Ssekarang tidurlah, yakinlah bahwa hari esok akan lebih indah. Hapuskan tangis di pipi, masuklah ke dalam samudera mimpi. Selamat malam Anonim (AND/SWA) PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

83


PARAVISION

Monokrom Oleh: Luana Anastasia Wijaya (Vokasi 2016)

Selalu melakukan yang terbaik dalam segala hal, namun menjadi orang yang selalu disalahkan. Membela dan melindungi dunia dengan tindakan baiknya, namun dibenci oleh seisi dunia. Adakah yang ingin berada dalam posisi seperti itu? Seandainya kita yang berada di posisi itu, langkah apa yang akan kita ambil? Akankah kita mampu konsisten dengan tindakan baik kita tersebut? Sebagian orang pasti menjawab tidak akan sanggup. Namun, saya

84

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52

mengetahui kisah seseorang yang sangat menginspirasi saya karena dia selalu konsisten dengan tindakan baik tersebut. Sayangnya, seseorang yang saya maksud tersebut tidak ada di dunia nyata, melainkan saya temukan dalam sebuah novel. Seseorang tersebut adalah Wei WuXian, karakter utama dalam novel karya Mo Xiang Tong Xiu yang berjudul Mo Dao Zu Shi, atau dalam bahasa Inggrisnya The Grandmaster of


takut dengan anjing. Hal itu karena setelah orang tuanya meninggal saat dia masih kecil, dirinya tinggal

Wei WuXian adalah karakter yang digambarkan ceria, senang bergurau, dan bersemangat. Karakter lain dalam novel tersebut mengatakan kalau dia jail dan suka menggoda wanita. Namun di balik sisi tersebut, dia adalah orang yang peduli dengan orang yang disayanginya. Dia rela membahagiakan orang lain, meskipun sebagai balasannya dia yang menderita. Kalau kata saudara angkatnya, dia suka menjadi seorang pahlawan, meskipun dengan menjadi pahlawan tersebut dia akan dibenci oleh semua orang.

Setelah dia dianggap mengkhianati seluruh dunia demi melindungi dan membalas jasa temannya yang membantunya saat orang tua angkatnya meninggal, dia berpisah dengan saudara angkatnya dan hidup tertutup dari dunia luar. Namun, ada seorang temannya yang selalu melihatnya apa adanya, yaitu Lan WangJi. Karena Lan WangJi berasal dari keluarga yang ketat akan hukum, saat dia membela Wei WuXian, dia dihukum oleh pamannya.

Dia digambarkan juga sebagai orang yang mampu dalam segala hal. Dia dapat menggambar dengan baik dan selalu mengalahkan saudara angkatnya dalam hal pedang ataupun panah. Namun dia memiliki kelemahan, yaitu

PARAVISION

Demonic Cultivation. Novel tersebut juga telah diadaptasikan dalam bentuk karya lain, seperti komik, animasi, audio drama, serial drama, dan bahkan game. Korea dan Jepang juga sudah mulai mengeluarkan versi bahasa mereka sendiri untuk menampilkan ulang cerita ini.

di jalanan dan memakan makanan yang dibuang oleh orang lain di jalan. Namun, anjing liar biasanya akan merebut makanannya dengan paksa dan membuatnya terluka.

Sebenarnya, Wei WuXian adalah karakter yang jahat atau baik? Bagaimana kita bisa menilai seseorang itu hitam atau putih? Menurut saya, dia adalah orang baik. Dia adalah panutan* saya, orang yang pantas saya lihat sebagai role model. Namun, bagi PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

85


PARAVISION

orang-orang dalam novel? Pandangan setiap orang berbeda-beda. Dari sudut pandang saya, dia baik, membela banyak orang, dan tidak menyakiti orang lain. Namun, dari sudut pandang orang-orang dalam novel, yang dia lakukan itu tidak baik, mengkhianati dunia. Tidak ada aturan yang pasti dalam hidup. Semua tergantung situasi dan kondisi. Kita tidak bisa menilai sesuatu sebagai hitam atau putih. Dari pemikiran tersebut, kita pun dapat mengatakan kita tidak bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Ketika kita melihat seseorang, kita tidak bisa menilai seseorang hanya berdasarkan apa yang kita lihat. Benar belum tentu benar dan salah belum tentu salah. Baik buruknya seseorang tidak dapat kita ketahui, kecuali pemilik hatinya sendiri. Ada pepatah yang sering sekali diucapkan oleh orang-orang, yaitu don’t judge the book by its cover. Jangan menilai hanya dari pandangan pertama saja. Kalau kita belum dapat memahami isi pikiran dan cerita orang lain, jangan bilang dia jahat atau baik. Kenali, amati, dan baru berikan penilaian. Bahkan, penilaian yang kita berikan bisa jadi berubah juga seiring berjalannya waktu karena kemungkinan orang tersebut telah berubah atau berkembang. T e m a n dekat saya pun mengatakan jangan hanya terfokus pada benar atau salah. Semua itu berbeda dan tergantung p e r s e p s i . Saya selalu mendengar 86

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

satu kalimat yang diulang darinya saat saya menceritakan masalah saya ke dia, yaitu membuat persepsi mengenai suatu hal itu tidak salah, namun jangan sekali-kali membuat keputusan akan persepsi tersebut karena bisa jadi perasaan yang kita rasakan itu hanya sesaat. Setelah kita mengetahui lebih, bisa jadi persepsi kita akan hal tersebut berubah. Permasalahan selalu datang karena persepsi kita. Oleh karena itu, yang sebaiknya kita lakukan adalah menahan perasaan apapun


PARAVISION

yang keluar di momen tersebut, menganalisis seluruh keadaan, dan membuat keputusan yang sekiranya paling tepat dalam kondisi tersebut, yang tidak merugikan banyak pihak, atau bahkan dapat menguntungkan banyak pihak. Intinya adalah jadilah orang yang selalu ingin menegakkan keadilan. Wei WuXian adalah salah satu contoh yang dapat berpegang teguh pada kebenaran walau sekelilingnya berkata sebaliknya. Dia menolong saudaranya, menyelamatkan nyawa temannya, dan bahkan menyelamatkan dunia. Biarlah orang berkata apa, yang penting kita dapat menunjukkan hasil dari perbuatan baik kita, yaitu keuntungan untuk berbagai pihak yang terlibat. Hiduplah dengan prinsip* yang benar, tidak merugikan orang lain, dan berusaha menolong orang lain. Bayar hutang* karma burukmu, namun tanam terus kebajikan yang akan kau nikmati setelah semua badai yang menyerang ini berakhir.

Dan kata terpenting dari teman saya sebagai penutup: Minum air, tenangkan dirimu! (KEV/ANG)

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

87


ANUMODANA KMBUI INSIDE ANUMODANA

TERIMA KASIH kepada para donatur & kontributor

Kevin Chow

Rp50.009,-

Novita

Rp100.009,-

Anonim

Rp150.009,-

Anonim

Rp50.009,-

Anonim

Rp120.009,-

Anonim

Rp100.009,-

88

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


ANUMODANA

Yassa dānena sīlena, samyamena damena ca Nidhī sunihito hoti, itthiyā purisassa vā Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu ser ta mempunyai pengendalian diri, adalah timbunan “Har ta” yang terbaik, bagi seorang wanita maupun pria.

- Nidhikhanda Sutta

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

89


KMBUI INSIDE PARAPLUS

WELAS ASIH DAN EMPAT KEBENARAN MULIA Judul Buku Penulis Jumlah Halaman Penerbit Tahun Terbit Bahasa Dimensi

: : : : : : :

The Heart of The Buddha’s Path His Holiness the XIV Dalai Lama 226 HarperCollinsPublishers 2011 Inggris 7.7 x 5 x .8 inci

Di tengah kekacauan dunia yang melanda saat i n i ; s e p e r t i w a b a h p e n ya k i t , bencana alam, hoax, konflik, dan tentu saja yang paling hangat saat ini, penyebaran virus C OV I D - 1 9 ; d i b u t u h ka n s i ka p welas asih untuk membantu s e s a m a d a n j u g a ke s a d a r a n untuk menerima segala kekacauan yang dikategorikan sebagai penderitaan tersebut. Adapun penderitaan ini merupakan salah satu konsep penting dalam Buddhisme yang bisa diterima secara l u a s o l e h m a s y a r a ka t u m u m tanpa memandang ras, suku bangsa, agama, dan identitas lainnya. Konsep penderitaan ini

90

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

disebutkan secara spesifik oleh Buddha Shakyamuni dalam ajarannya tentang Empat Ke b e n a r a n M u l i a : Ke b e n a r a n akan pender itaan, sebabnya, akhirnya, dan jalan menuju akhir dari penderitaan tersebut. Jika teman-teman selama ini belum memiliki dasar yang sangat kuat akan d u a ko n s e p d a r i B u d d h i s m e itu sendiri, yakni Wisdom and Compassion dan The Four Noble Truths, maka buku ini mungkin cocok untuk teman-teman. Buku ini secara khusus terbagi atas dua volume sesuai dengan j u d u l d a r i a r t i ke l i n i s e n d i r i , yakni The Power of Compassion dan The Four Noble Truths. His


dari nasihat dasar tentang bagaimana cara untuk mengatasi kemarahan dan emosi negatif lainnya, hingga pentingnya welas asih ini. Dengan perbendaharaan kosa kata yang cukup mudah, terutama dalam bahasa Inggris, buku ini secara gamblang menjelaskan bagaimana cara menyatukan jalan spiritual dengan kebutuhan perkembangan zaman. Buku ini tidak hanya ditujukan bagi para penganut konsep Buddhisme, namun juga d i t a r g e t ka n ke p a d a s e l u r u h manusia ka rena sika p welas asih sendiri merupakan sikap yang harus dikembangkan oleh semua orang, tidak h a nya p e n g a nu t Bud d h is m e. Ca ra p e nya m p a i a n nya ya n g jelas dan sederhana membuat b e l i a u d i ke n a l o l e h b a n ya k orang dari selur uh kalangan dunia.

PARAPLUS

Holiness Dalai Lama, penulis dari buku ini, adalah kepala n e g a r a s e ka l i g u s p e m i m p i n spiritual dari Tibet. Dia juga dianggap sebagai pemimpin Buddhis utama di dunia dan m a n i fe s ta s i d a r i Ch e n r e z i g , Bodhisatva welas asih. Vo l u m e p e r t a m a d a r i buku ini yang membahas tentang The Power of Compassion, didasarkan pada pengajarannya di auditorium Wembley, London dan disponsori oleh The Tibet Foundation. Kemudian, volume ke d u a d a r i b u k u i n i te n ta n g The Four Noble Truths ditulis berdasarkan pengajaran yang beliau berikan di London juga. Se l a i n i t u , vo l u m e ke d u a i n i juga memuat beberapa bagian t e n t a n g s e m i n a r n ya d i Fr e e Trade Centre, Manchester. Dalam buku ini, Dalai Lama menjelaskan tentang bagaimana cara untuk m e n e r a p ka n ke b i j a k s a n a a n dan welas asih dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mengelaborasi ajaran fundamental Buddhisme,

(SWA/SAL)

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

91


KMBUI INSIDE PARAVISION

Agama berasal dari kosakata bahasa Sanskerta, yakni gama yang berar ti ‘kacau’ dan a- yang menjadi imbuhan di awal untuk menegasinya, dengan kata lain agama berar ti ‘tidak kacau’. Berdasarkan survei PRC, sebagian besar orang percaya bahwa agama adalah sumber kebenaran yang dapat ‘ m e n y e l e s a i ka n’ m a s a l a h . D i te n g a h ke ka c a u a n d a n keresahan yang terjadi, penyelesaian masalah yang ‘d i j a n j i ka n’ a g a m a d a p a t dipertanyakan dengan dikritisi oleh pandangan lain, contohnya sains. Sains mengklaim bahwa dirinyalah yang pantas untuk dinyatakan sebagai sumber ke b e n a r a n d a n ‘p e m e c a h m a s a l a h’ b a g i m a n u s i a . Tidak heran seringkali agama dan sains sulit berada di pemahaman yang sama. Kedua pendukungnya s a l i n g m e l o n t a r ka n k r i t i k , mengadu kekuatan, mencari

92

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

tahu mana yang paling b e n a r, d a n p a n t a s u n t u k d i j a d i ka n p e d o m a n * b a g i manusia. Sebagian orang memilih salah satu dari sains ataupun agama, lalu m e m b e l a nya m a t i – m a t i a n dalam perang komentar d i m e d i a s o s i a l . Pa d a h a l pada akhirnya, hal ini hanya kembali menciptakan masalah. Dalam mengakhiri ini, p i h a k ya n g l e b i h m o d e r a t mengusulkan keseimbangan antara agama dengan sains. Mereka memandang bahwa keduanya diperlukan: agama memberikan makna bagi kehidupan, sedangkan sains memberikan kemajuan material bagi kelayakan hidup manusia. Dengan kata lain, ada keteraturan antara sains dengan agama. Saya rasa, sebagai penganut Buddhisme, p a n d a n g a n ya n g m o d e r a t ini sesuai dengan ajaran utama Siddhar ta Gautama m e n g e n a i “J a l a n Te n g a h”.


kebenaran yang berbeda– b e d a b a g a i ka n j e n is o b a t yang berbeda–beda. Untuk tiap penyakit, ada obatnya masing–masing. Kita tidak bisa mengatakan satu obat ini menyembuhkan selur uh p e n y a k i t . ” M a ka d a r i i t u , h e n d a k l a h k i t a ‘m e m i n u m obat’ yang tepat sesuai penyakitnya.

PARAVISION

Pandangan tengah ini mengajak kita untuk me ng hi nd a r i sesua t u ya ng e k s tre m , b a i k i t u d i m a bu k agama ataupun menjadi ilmuwan gila. Seumpama senar gitar, apabila disetel terlalu kencang maupun terlalu longgar, tidak akan keluar suara yang enak. Untuk menyimpulkan, mengutip kata–kata Dalai Lama ke-14,“Pandangan

(SAL /ANG)

Referensi: • Poushter, J., Fetterolf, J., & Tamir, C. (2019). A Changing World: Global Views on Diversity, Gender Equality, Family Life and the Importance of Religion (Issue April), • The Editors of Encyclopaedia of Britannica. (1998). Middle Way. Encyclopaedia of Britannica. • Verhoeven, M. J. (2013). Science through Buddhist Eyes. The New Atlantis, VI, 107–118.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

93


ARTIKELARTIKEL LOMBA LOMBA

Semesta yang Ambyar oleh Perina Amelia (KMB Ashokavardhana-FE 2019) Berbicara mengenai semesta tak akan ada habisnya. Bicara tentang semesta, maka bicara tentang dunia, manusia, hewan, tumbuhan, benda mati, bahkan hal lain yang tidak diketahui eksistensinya. Kita hidup dalam berbagai aspek yang rumit. Seakan tak c u k u p r u m i t , d u n i a b a h ka n ikut meramaikan dengan berbag ai macam peris tiwa. Apalagi di era globalisasi s e p e r t i i n i , ke a d a a n d u n i a ya n g ka c a u s e m a k i n c e p a t diketahui bahkan dapat diprediksi oleh para pakar. Kata “ambyar *� mungkin tak lagi asing di indra pendengar kita. Bahkan, s e ka r a n g ka t a ke k i n i a n i t u telah masuk dalam daftar K B B I d e n g a n a r t i b e rce ra i berai; berpisah-pisah; tidak terkonsentrasi lagi.

94

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

Nah, keadaan dunia pun kini seperti itu. Banyak berita yang berseliweran di sekitar kita, mulai dari w a b a h p e n ya k i t , b e n c a n a alam, perang dunia ketiga, permasalahan ekonomi, isu SARA, kasus pelecehan seksual, dll., ya n g m e m b u a t kita menjalani hidup dengan w a s - w a s . Ke j a d i a n kejadian tak terduga memberi kejutan yang semakin lama rasanya semakin memporakporanda. Manusia mulai kehilangan kendali, sulit mengantisipasi. Sekali dua kali tersulut emosi, tak ingin menyimak hingga tuntas, berargumen hingga merusak relasi, dan itu rasanya sebanding dengan kepuasan emosi yang didapat. Katanya, semesta bekerja, namun nyatanya


seringkali menggabungkan suatu kejadian dengan teori konspirasi lalu d i s e b a r ka n d e n g a n n a r a s i buatan sehingga tampak seolah-olah semuanya s a l i n g b e r ke s i n a m b u n g a n dan masuk akal. Fa ta l . Po s t -tr u t h menyebabkan intensitas p e n ye b a r a n h o a x semakin meningkat. Hoax yang awalnya sudah membungkus dunia kini diperparah dengan banyaknya opini pribadi, semakin memanipulasi, dan menenggelamkan fakta sehingga menyebabkan pemahaman yang salah. Orang-orang sibuk mencari pembenaran, menyebarkan pandangan masingmasing, membangkitkan emosi dari keyakinan pribadi agar dipandang sebagai sosok yang paling benar. Dalam ajaran Buddhis, kita seringkali diingatkan untuk menghindari perbuatanperbuatan buruk yang diakibatkan oleh tindakan, ucapan, dan pikiran dengan menjalankan Sila dan Delapan Jalan Utama. Mengambil salah satu jalan utama yang berhubungan dengan tantangan posttruth, yaitu Perhatian PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

ARTIKELARTIKEL LOMBA LOMBA

yang disodorkan bukan lagi d u n i a ya n g b a i k- b a i k s a j a . Lucu, tapi miris. Sejak awal tahun, banyak kejadian yang terjadi di berbagai belahan dunia. Banyak berita yang didapat, entah benar entah salah. Berita-berita itu mulai menggiring opini publik, muncul argumenargumen dari berbagai sudut pandang. Orangorang sibuk memberikan tafsirannya terhadap fakta, memper tahankan a r g u m e n , parahnya sampai merasa yang p a l i n g b e n a r. Batas antara fa k ta d a n ta f s i ra n buram. Mereka membuat keadaan di mana faktafakta objektif ku ra n g b e r p e n g a r u h d a l a m pembentukan opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi. Keadaan ini disebut dengan posttr u t h . Ke h a d i r a n p o s t -tr u t h d i t e n g a h -t e n g a h ke a d a a n dunia yang kacau-balau ini menjadi tantangan t e r s e n d i r i b a g i k i t a ka r e n a post-truth membuat kita sulit membedakan informasi yang benar dan salah. Ditambah lagi, post-truth

95


ARTIKEL LOMBA

LOMBA ARTIKEL

Benar (sammä-sati) kita tersadarkan dengan bag ai mana cara otak dan t i n d a ka n k i t a m e m p r o s e s banyaknya informasi yang b e r e d a r. K i t a s e r i n g k a l i melihat peristiwaperistiwa yang terjadi tanpa kesadaran, tanpa mengetahui peristiwa sebenarnya, tanpa perhatian benar—inilah Vipallasa* y a n g menyebabkan banyaknya persepsi yang salah. Persepsi seringkali b e r s i f a t su b j e k t i f, t i d a k ta hu m a n a yang baik dan buruk. Seperti halnya dengan post-truth, orang-orang mungkin memahami yang terjadi. Namun, karena memiliki persepsinya sendiri, ia menolak kebenaran. Karena persepsi yang salah, diri kita memunculkan emosi bur uk, mer usak kesadaran kita akan sesuatu hal, parahnya lagi jika kita sampai menyebarkan p e r s e p s i t e r s e b u t ke p a d a o r a n g l a i n . Ta k h a n y a mencelakai diri sendiri, tanpa kesadaran dan perhatian yang benar 96

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

kita pun mencelakai orang lain. Contohnya: seseorang melihat berita mengenai wabah penyakit di China (virus corona) yang d i s e b a b ka n o l e h h e wa n l i a r menyebabkan banyaknya korban meninggal dan menyebar ke negaran e g a r a l a i n . N a mu n , ka r e n a seseorang itu tidak menyukai pemerintah China, ia tidak setuju bahwa virus corona berasal dari hewan liar, ia mengatakan vir us corona adalah wabah penyakit yang sengaja dibuat sebagai senjata biologis untuk m e n a k lu k ka n du n i a . La lu , i a mulai menghubungkannya dengan teori konspirasi lalu menyebarkan persepsinya. Orang-orang membaca, membicarakan, bahkan ikut menyebarkan tanpa memverifikasi kembali. Dengan kesadaran dan p e r h a t i a n b e n a r, k i t a a k a n mencari kebenaran dari b e r i ta ya n g k i ta d a p a t , k i ta a ka n m e n g e n d a l i ka n e m o s i untuk tidak ikut-ikutan menyebarkan berita yang tidak benar ini. S e l a i n p e r h a t i a n b e n a r, m e n e r a p ka n s i ka p ehipassiko juga membantu


kita menghindari diri kita dari sikap egosentris (keakuan) agar diakui melalui post-truth yang kita sebarkan atau kita d a p a t ka n . S e l a l u b e r p i k i r positif dan menyebarkan kebajikan agar dunia yang sudah kacau-balau ini tak semakin buruk dengan berita yang tidak benar. Menjadi bagian dari dunia yang ingar-bingar ini haruslah pandai-pandai. Apalagi sebagai kaum milenial yang terpapar p e r ke m b a n g a n t e k n o l o g i , kita harusnya lebih berhati-hati, memverifikasi informasi, menyebarkan informasi yang baik dan b e n a r, s e r t a m e n g o r e k s i ke s a l a h a n t a n p a menimbulkan konflik. Jangan sampai kekacauan dari luar memunculkan emosi buruk dalam diri, kalap, egosentris, dan membutakan fakta. Karena p e m b u a t ke ka c a u a n ya n g s e s u n g g u h n ya a d a l a h d i r i kita sendiri.

ARTIKELARTIKEL LOMBA LOMBA

kita dalam menghadapi tantangan post-truth yang merajalela. Dalam D h a m m a , i s t i l a h e h i p a s s i ko ar tinya datang dan lihat, melakukan verifikasi untuk mendapatkan konfirmasi kebenaran. Sebelum mempercayai segala sesuatu, ada baiknya kita melakukan pengecekan terlebih dahulu agar tidak terpengaruh emosi buruk yang bisa mencelakai diri sendiri dan orang lain. P r i n s i p e h i p a s s i ko m e m i c u seseorang untuk berpikir kritis dan memiliki perhatian benar dalam melihat suatu kejadian sehingga tidak mudah tersulut emosi. Ta k h a n y a m e n e r a p k a n dua sikap di atas, yang paling umum adalah mengembangkan cinta kasih (metta). Bukan maksudnya menutupi kebenaran dengan hal-hal manis agar cinta kasih tetap te r se b a r, n a m u n bagaimana

(SWA /ANG)

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

97


PARAGAMES 98

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


PARAGAMES

Dapatkan Vyatta Boom+ Ultra Bass ini! Prosedur pengiriman jawaban PARAGAMES: 1. Foto/SS rubrik ini. 2. Cari 25 kata tersembunyi bertanda (*) pada artikel-artikel PARAMITA 52. 3. Tandai kata-kata yang telah ditemukan. 4. Jawaban dapat dikirim ke email PARAMITA paramitamagazine@gmail.com dalam format image dengan subjek PARAGAMES_Nama_Fakultas_Angkatan_ID LINE_No.HP. 5. Bagi yang dapat menemukan 25 kata tersembunyi dengan tepat dan cepat akan berkesempatan mendapatkan Vyatta Boom+ Ultra Bass dari Redaksi PARAMITA. 6. Pemenang akan dihubungi oleh pihak Redaksi PARAMITA dan pengumuman pemenang akan ditampilkan pada PARAGAMES PARAMITA 53.

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

99


BPH Andrew (FT’17) Kepala Komisi Komunikasi dan Informasi

BPL George John Hong (FT’18) Kepala Departemen PARAMITA

Swastika Tiosara Padma (FIB’18) Wakil Kepala Departemen PARAMITA 100

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


LII Madioti (FT’18) Wakil Kepala Departemen PARAMITA

STAFF Dharma Natharina (FIB’19) Staff Design PARAMITA

Fiona (FT’19) Staff Design PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

101


Angelina Arfiany (FIB’19) Staff Artikel & Jurnalistik PARAMITA

Salsa Sangha Mitta (FKM’19) Staff Artikel & Jurnalistik PARAMITA

Helen Luo (FT’19) Staff Keuangan PARAMITA

102

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


LII Ronald Grant (FT’19) Staff Keuangan PARAMITA

S AHABAT B IDANG Rizky Eka Purnama (FT’19) Sahabat Bidang PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

103


FREELANCE

Grady Krisandy (FK’19) Freelance Artikel PARAMITA

104

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


LII SPECIAL THAN KS TO : OUR BELOVED Andreas Suryo Wijaya (FK’17) Freelance Artikel PARAMITA

Kevin Chow (FT’17) Freelance Artikel PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

105


KMBUI INSIDE

Comparative Study 2020 : KMBUI X KMBA

Pada hari Sabtu, 14 Maret 2020, telah terealisasi salah

satu program kerja HUMAS KMBUI XXVIII, yaitu Comparative Study atau lebih akrab disebut studi banding. Studi banding kali

ini

diselenggarakan

bersama

KMB

Ashokavardhana

(KMBA) President University di Aula 1 Pusgiwa* Lama, Universitas Indonesia. Kegiatan yang dihadiri oleh 72 orang ini merupakan studi

banding

pertama

bagi

kepengurusan

KMBUI

ke-28.

Studi

banding

dilaksanakan

untuk

memperluas

relasi serta menjalin hubungan baik antara KMBUI dengan KMB Ashokavardhana. Di samping itu, kegiatan ini disusun sedemikian belajar,

106

rupa

berbagi

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52

agar

masing-masing

pengalaman,

dan

KMB

dapat

bertukar

saling pikiran.


Tak kenal maka tak sayang, maka dari itu setelah

sesi

Namakāra

perkenalan

untuk yang

setiap

mencairkan diisi

Gāthā,

peserta

suasana

dengan

permainan

yang

tidak

terlewatkan

hadir.

Selanjutnya,

diadakan

ice

breaking

“Dengar

dan

Lakukan”.

Setelah itu, peserta memasuki agenda utama dari kegiatan studi

banding,

yaitu

sharing

session

dan

focus

group

discussion. Sharing session diisi dengan menyimak presentasi

KMBUI KMBUI INSIDE

membacakan

dari masing-masing ketua umum, juga sesi tanya jawab agar

peserta

mendapatkan

KMBUI maupun KMB

gambaran

umum

baik

dari

Ashokavardhana. Diikuti dengan focus

group discussion yang dilakukan oleh setiap peserta untuk memperdalam pembahasan mengenai divisinya masing-masing. saling

Pada

akhir

memberikan

kegiatan,

pengurus

sertifikat

sebagai

KMBUI

dan

simbolis

KMBA

ucapan

terima kasih atas terselenggaranya kegiatan studi banding dengan lancar. Kemudian, kegiatan ditutup kembali dengan membacakan Namakāra Gāthā dan foto bersama. Berakhirnya studi banding ini membawa harapan agar setiap peserta mendapatkan manfaat, dan memperluas relasi untuk saling mendukung,

serta

berkembang

dalam

Buddha

Dhamma. (ANG/SAL)

PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

107


PARAFACTS

Teknik Menenangkan Pikiran Oleh Paramita (FT-2019) Hiruk-pikuk dunia membuat pikiranmu chaos? Masalah-masalah dunia dan masalah diri sendiri membuatmu cemas? Tenang, berikut ini adalah teknikteknik menenangkan pikiran berdasarkan mindfulness-based stress reduction therapy dan cognitive behavioral therapy yang disarankan oleh psikolog profesional untuk mengurangi rasa cemas yang mengganggu hidupmu.

1. Cognitive Distancing Sadari bahwa kekhawatiranmu adalah prediksi yang dibuat oleh pikiranmu untuk melindungimu dari apa yang mungkin terjadi. Sesuatu yang mungkin terjadi, belum pasti terjadi. Buddha pernah berkata "Seperti apa pun masa depan yang kau bayangkan, kenyataannya akan selalu berbeda". Coba alihkan pikiranmu pada hal positif lain yang mungkin terjadi, karena biasanya hal yang terjadi ternyata tidak seburuk yang kamu kira, kok!

2. Cognitive De-Fusion Tidak melekat/menyatu dengan pikiran, anggaplah pikiran sebagai data yang bergerak menyintas di dalam batinmu. Pikiran bukanlah kebenaran yang objektif. Otak kita memang sangat sensitif terhadap ancaman dan bahaya. Itu merupakan adaptasi nenek moyang kita untuk bertahan hidup di alam. Oleh karena itu, pikiran-pikiran kita terkadang merupakan reaksi yang dihasilkan otak untuk bertahan hidup. Kita dapat memutuskan untuk mempercayai dan memberikan reaksi atas pikiran itu jika tindakan tersebut bermanfaat. Namun jika tidak, sadari saja pikiran yang singgah itu tanpa melakukan reaksi apapun. 108

PARAMITA PANDEMONIUM - LII/52


3. Memberi “Label” pada Pikiran

PARAFACTS

Memberi “label” untuk tipe-tipe pikiran yang ada dan tidak terlalu melihat konten dari pikiran tersebut. Misalnya, jika kamu menyadari kecemasan, segera identifikasi atau beri label pada perasaan tersebut sebagai “kecemasan” sebelum kamu overthinking dan bereaksi terhadap perasaan tersebut. Ketika kamu sedang menghakimi diri sendiri, kamu dapat segera memberi label pada pikiran tersebut sebagai “menghakimi” sebelum kamu terlalu keras menghakimi dirimu sendiri. Dengan begitu kamu akan lebih menyadari proses mentalmu dan memberi jarak dari pikiranmu yang sebenarnya.

4. Meditasi Meditasi merupakan kegiatan yang mungkin tidak asing lagi bagi kita sebagai umat Buddha. Namun terkadang, kegiatan ini sering kali terlupakan ketika kita sudah berada di luar lingkungan keagamaan. Padahal, jika dilakukan dengan benar, meditasi dapat membuahkan pikiran yang tenang dan terkendali. Menurut Ajahn Brahm, pada bukunya yang berjudul “Kindfulness”, meditasi dapat dilakukan dalam beberapa langkah: 1) Mengabaikan masa lalu dan masa depan; 2) Kesadaran momen-saat-ini: menyadari momen yang sedang berlangsung tanpa memberikan reaksi atau mengomentari hal-hal yang terjadi di dalam batin; dan 3) Kesadaran hening momen-saat-ini melalui napas: menyatukan dan memusatkan perhatian pada satu hal saja (misalnya napas)

5. Melihat Lebih Jauh Terkadang, kecemasan kita membuat kita lebih memusatkan pikiran kepada bahaya yang langsung, tanpa melihat konteks yang lebih luas. Cobalah pertimbangkan kembali: Apakah situasi tersebut sepenting yang dikatakan pikiran cemasmu? Apakah masalah itu akan berdampak padamu dalam 5-10 tahun ke depan? Jika tidak. kamu tidak perlu takut lagi  PANDEMONIUM - LII/52

PARAMITA

109


PARAFACTS

6. Bangun dan Bangkit! Memikirkan dan mencemaskan suatu masalah tidak akan menyelesaikan masalah tersebut. Bahkan, mencemaskan masalah akan mengurangi kemungkinan bagi kamu untuk menyelesaikan masalah itu. Ketika pikiranmu stuck pada masalahmu terus menerus, cobalah untuk bangkit dan melakukan aktivitas. Aktivitas tersebut dapat berupa refreshing, hobby, atau bahkan tugas-tugas kuliah yang sekiranya masih bisa dikerjakan. Biasanya setelah melakukan serangkaian aktivitas, kita akan mendapatkan ide atau perspektif baru bagi masalah yang kita hadapi. 7. Menentukan Kebermanfaatan Pikiran Pertimbangkan kembali bermanfaat atau tidaknya pikiranmu. Mungkin yang kamu pikirkan benar adanya, tetapi bukan berarti pikiran tersebut bermanfaat, bukan? Misalnya, jika kamu memikirkan tugas-tugasmu yang menumpuk dan merasa tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, kamu akan merasa demotivasi dan bahkan menjadi malas mengerjakan tugas-tugasmu. Padahal, jika kamu memfokuskan pikiran pada apa yang bisa kamu kerjakan dan melepas apa yang sudah di luar kendali kamu, kamu akan lebih produktif menyelesaikan masalah-masalahmu dan tentunya menjadi lebih santai. Referensi: â&#x20AC;˘ Greenberg, M., 2020. 9 Ways To Calm Your Anxious Mind. [online] Psychology Today. Available at: <https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-mindful-self-express/201506/9-ways-calmyour-anxious-mind> [Accessed 20 March 2020]. â&#x20AC;˘ Ajahn Brahm and Bartok, J., 2016. Kindfulness. 1st ed. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka. (GRA/AND) 110

PARAMITA

PANDEMONIUM - LII/52


CATATAN:


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
PARAMITA Magazine KMBUI 52nd Edition by Paramita Magazine KMBUI - Issuu