Skip to main content

E_Katalog_SiKonsisten_Irawan

Page 1


Foto : Kiki Assaf

Si KONSISTEN dari Sukabumi

4 April – 3 Mei 2026

Rumah dan Studio Irawan
Di Sukabumi
Sumber: Kiki Assaf

Si Konsisten dari Sukabumi

Pameran Retrospektif

R. Irawan Surianatanegara

R. Irawan Surianatanegara adalah pelukis yang hampir seumur hidupnya tinggal di kota Sukabumi. Dilahirkan sebagai anak pertama dari 9 bersaudara pada tanggal 12 April 1944 di kota Tasikmalaya, lalu pindah ke Jakarta. Berbeda dengan profesi ayahnya R.M Said Surianatanegara, yang pada saat itu aktif di kepolisian RI pada era kepemimpinan Presiden Sukarno dan Suharto. Irawan memilih profesi sebagai pelukis potret dan naturalis saat menginjak usia 17 tahun, walaupun ia sempat juga menjadi atlet cabang menembak mengikuti jejak sang ayah .

Nama Irawan sebagai pelukis tidak banyak terpublikasikan ke khalayak seni lukis nasional, tapi Irawan sering disebut oleh keluarga dan teman terdekatnya sebagai ‘si konsisten’ . Dengan pilihan profesinya serta dengan senang hati berbagi pengalaman seni lukisnya untuk generasi muda yang ingin belajar langsung di studionya.

Saat ini, Irawan memasuki usianya yang ke 82, Irawan masih rutin melakukan kegiatan melukis setiap hari sebagai pengisi kegiatan dan sebagai bentuk kecintaan serta integritas terhadap profesi yang ditekuni selama hidupnya, baik dalam kebahagiaan maupun kekecewaan. Dalam karya-karyanya, R. Irawan Surianatanegara menghadirkan dimensi pengalaman yang tak sekadar terlihat, tetapi terasa mendalam.

Menurut Ulfah Yulaifah , salah seorang muridnya sejak 1994 lalu yang sekarang menjadi pelukis potret di Sukabumi, bahwa Irawan dahulu sering melukis potret berdasarkan undangan dari para pejabat dan pengusaha maupun temannya. Selain itu kemudian ia sering juga melukis potret anggota keluarga inti dan terdekat sebagai cerminan untuk lebih mengenal keluarganya. Bagi Irawan hal itu adalah sebagai ruang kontemplasi untuk mengenal dirinya sendiri.

Adapun beberapa karya lukisan still life dalam karya nya adalah sebagai media untuk latihan

sebagai penunjang saat ia melukis lukisan portrait. Irawan melukis lukisan still life berdasarkan objek benda-benda yang ada disekitar dimana ia tinggal.

Maka setiap kanvas menjadi ruang dialog antara pengamat dan dialektika warna-bentuk yang dilihat, diamati langsung sang seniman. Pilihan paletnya yang matang, kontras antara figur dan latar, serta permainan cahaya — semuanya membangun narasi visual yang memperkaya cara kita membaca realitas. Pameran ini menjadi retrospektif selama ia berkarya dengan memetakan lintasan perjalanan artistik Irawan dalam berbagai fase : dari lukisan observasional yang akurat hingga komposisi yang lebih imajinatif dan reflektif.

Menyelami karya-karyanya ini berarti membuka lembar baru pemahaman tentang seni lukis modern yang berakar pada kemampuan teknis melukis yang cenderung akademik klasik barat, walaupun ia tidak pernah mengalami pendidikan formal seni lukis. Ia banyak belajar dan melihat hasil karya seniman pendahulu dari buku-buku dan secara tidak langsung , baik teori melukis Eropa atau dari karya-karya pelopor seni lukis modern seperti Abdullah Suryosubroto, Affandi, dan lain sebagainya, walaupun bukan sebagai pengagum, pun tidak memuja lukisan maestro modern Eropa seperti Rubens, Rembrandt atau Van Gogh. Tetapi Irawan mempelajari soal ‘kejujuran’ mereka dalam melukis.

Karya-karya R. Irawan Surianatanegara yang dipamerkan di Orbital Dago ini merupakan koleksi sang anak, Indah Prianti yang diserahkan oleh sang ayah untuk merawat lukisan-lukisannya. Selain beberapa karya yang sudah dikoleksi kolektornya.

Pada sketsa yang menampilkan sepasang kaki manusia dalam posisi bersilang. Komposisi sederhana namun kuat, dengan fokus penuh pada

anatomi kaki tanpa gangguan latar yang kompleks. Garis horisontal tipis di bagian tengah mengindikasikan bidang atau permukaan tempat kaki bertumpu. Teknik arsiran halus membangun volume dan kedalaman. Bayangan ditempatkan secara logis mengikuti sumber cahaya yang konsisten. Gradasi yang lembut memperkuat kesan tiga dimensi. Secara Komposisi posisi kaki yang bersilang menciptakan bentuk diagonal yang dinamis. Komposisi ini menghasilkan keseimbangan antara stabilitas (garis horizontal alas) dan gerak (persilangan kaki). Meskipun hanya menampilkan bagian tubuh, karya ini memiliki kualitas kontemplatif.

Tidak ada elemen naratif eksplisit, tetapi pose yang santai memberi kesan intim dan personal—seperti studi privat di ruang studio.

“ Yang penting hitam / putih dahulu .Alasan tidak usah pikir warna dan yang paling penting gambar itu nada/ tone/ gradasi nya dulu.. Dan pinsil conte atau charcoal tidak graphite alasan tidak “mantul”( mengkilap)… Dan” hitam/ putih”itu “bahasa universal” semua orang nilai sama hitam/ putih. Tapi warna tidak semua orang punya kepekaan yang sama..( selera).. “ (pernyataan Irawan Surianatanegara ke Ulfah lewat percakapan whatsapp , 2025)

Pada lukisan cat minyak potret dirinya, Irawan

menampilkan sosok setengah badan dengan latar belakang netral. Figur menghadap ke depan dengan sedikit kemiringan kepala, menatap langsung ke arah penonton. Ekspresi wajah tenang namun intens, menghadirkan kesan reflektif dan kontemplatif. Potret ini tidak sekadar meniru rupa fisik, tetapi juga menangkap jauh kedalam kondisi batin. Tatapan mata tajam dan dalam, dengan detail pada garis wajah, tulang pipi, serta bayangan di sekitar mata yang memperkuat kesan pengalaman hidup dan kede-

wasaan. Pada lukisan – lukisan potret lainnya, selain melukis dari model (perempuan) dan juga lukisan potret pesanan. Ia banyak melukis orang-orang terdekat disekitarnya, seperti istri , anak-anak serta sanak saudaranya.

Makna mutakhir lukisan potret adalah sebagai media ekspresi dan komunikasi—bukan hanya menggambarkan rupa seseorang, tetapi juga mengungkap identitas, emosi, dan pandangan terhadap dunia. Seperti lazimnya pelukis potret Eropa klasik , ia juga melukis langsung (live painting) ; alam-benda , lansekap. Pelukis klasik Eropa sebelum ditemukannya fotografi, melukis pemandangan (landscape), alam benda (still

life), dan potret bukan sekadar karena tradisi, tetapi karena ketiga genre ini menjadi fondasi

penting dalam perkembangan teknik, estetika, dan ekspresi pribadi. Ulfah menyatakan, bahwa model atau objek yang dilukis Irawan pun menjadi cerita panjang tentang interaksi langsung sang seniman pada objeknya.

Dalam praktik seni lukis R. Irawan Surianataneg-

ara, kita berhadapan dengan suatu sikap yang jarang tergesa: ketekunan dalam melihat. Ia pernah membuka praktek sebagai fotografer potret bersama sang Istri, dengan membuka studio di halaman rumahnya tahun 1984. Tetapi dalam lukisan-lukisannya ia tidak sekadar merekam objek, ia selalu melukis langsung apa yang ia lukis, seperti para pelukis potret klasik Eropa. Maka ia membangun relasi antara pengamatan, waktu, dan kesadaran batiniah. Melalui pendekatan realisme yang terukur, Irawan menempatkan benda, ruang, dan cahaya sebagai elemen yang hidup—bukan sekadar representasi visual.

Irawan mengungkapkan kepada sang putri, Indah Prianti melalui pesan whatsapp; “..yang paling penting: harus jadi orang “Baik” dulu..!. Tuhan kasih otak utk dipergunakan untuk yang “baik”2 dan panca indra nya di rawat jangan tidak peka lagi karena ( dengar berisik, hidung yang menyengat-nyengat, lidah yang pedas2 dst...)”.

Pilihan subjek seperti benda-benda sehari-hari, lansekap, atau komposisi alam benda (still life) menghadirkan kesan hening. Namun justru dalam keheningan itu terdapat intensitas. Cahaya menjadi elemen penting dalam struktur visualnya: ia bukan hanya penerang, tetapi pembentuk emosi dan penentu atmosfer. Bayangan tidak sekadar gelap, melainkan ruang kontemplasi.

Kekuatan karya Irawan terletak pada kesetiaan terhadap proses. Sapuan kuasnya memperlihatkan disiplin teknis sekaligus kepekaan terhadap detail. Ia tidak berusaha menciptakan sensasi, melainkan menghadirkan pengalaman melihat yang jujur dan intim.

Dalam konteks seni rupa saat ini yang kerap didominasi eksperimentasi medium dan wacana konseptual, praktik Irawan menjadi pengingat bahwa kedalaman juga dapat lahir dari kesederhanaan. Pameran ini memperlihatkan perjalanan estetik seorang seniman yang membangun bahasanya secara konsisten. Setiap karya menjadi jejak dialog antara realitas dan persepsi—antara apa yang tampak dan apa yang dirasakan. Di sini, seni bukan sekadar citra, melainkan perenungan. Melalui pameran ini, kita diajak untuk

memperlambat pandangan, memberi ruang pada detail, dan menemukan kembali makna dalam hal-hal yang sering terlewat. Sebab dalam lukisan Irawan Suriatanegara, yang sederhana justru terasa menjadi mendalam.

Dalam peta seni rupa Indonesia, Irawan dapat dipahami sebagai bagian dari generasi yang mewarisi sistem pendidikan seni lukis klasik Eropa dan memilih untuk memperdalamnya. Ia bukan perupa yang bergerak dalam manifesto atau gerakan, melainkan dalam kesinambungan. Suatu rasa kebangsaan yang bisa rasakan dalam lukisan-lukisan S. Sudjojono walaupun Irawan tidak terlibat langsung dalam gelanggang pergerakan nasional.

Sejarah seni sering menonjolkan perubahan radikal, tetapi keberlanjutan sama pentingnya. Tanpa pelukis yang menjaga disiplin figuratif dan kepekaan liris, fondasi teknik dan sensibilitas visual bisa terputus. Dalam konteks regional—khususnya Sukabumi dan Jawa Barat— perannya menjadi semakin penting sebagai penanda kehadiran serta keberadaan tradisi modern yang hidup di luar pusat-pusat metropolitan. Tahun 1980 Irawan pernah berpameran bersama maestro pelukis Affandi bersama pelukis Sukabumi lainnya di kota Sukabumi. Bahkan ia beberapa kali aktif menyelenggarakan dan mengelola beberapa pameran dengan para seniman di kota tersebut.

Pameran retrospektif ini menghadirkan kembali perjalanan panjang R. Irawan Surianatanegara sebagai pelukis yang dengan tekun merawat disiplin, kesunyian, dan ketepatan dalam tradisi seni lukis modern Indonesia. Dalam rentang waktu dari dekade 1970-an hingga 1990an, kita menyaksikan konsistensi yang bukan sekadar pengulangan tema, melainkan pendalaman bahasa visual yang matang dan reflektif. Dalam sejarah seni rupa Indonesia, kurun waktu tersebut merupakan masa penting: modernisme telah mapan secara institusional melalui pendidikan seni formal, sementara wacana eksperimental mulai tumbuh melalui Gerakan Seni Rupa Baru. Di tengah dinamika tersebut, seni lukis figuratif, lansekap, dan alam-benda tetap bertahan—tidak sebagai bentuk konser-

vatisme, tetapi sebagai ruang kontemplasi terhadap realitas.

Karya-karya potret awal—seperti figur anak dalam Son (1976) atau Daughter (1984)—menunjukkan penguasaan anatomi, pencahayaan, dan struktur bentuk yang kuat. Namun kekuatan utama karya-karya ini tidak hanya terletak pada ketepatan teknis, melainkan pada suasana batin yang hening. Tatapan subjek tidak dramatis, tetapi menyimpan jarak emosional yang subtil. Warna-warna yang digunakan lembut, tonal (kualitas gelap – terang), dan tidak agresif. Irawan membangun volume melalui gradasi yang sabar, bukan kontras tajam. Pendekatan ini menempatkannya dalam tradisi lukisan realis klasik: realisme yang tidak fotografis, namun juga tidak ekspresionistik. Ia menghindari gestur yang meledak-ledak, memilih keseimbangan dan kesadaran struktur.

Pada karya lanskap seperti Pelabuhan Ratu (1990), hamparan laut dan horizon luas menjadi arena penghayatan ruang. Tidak ada narasi dramatik; ombak tidak menggulung secara heroik; langit tidak meledak dalam warna kontras. Yang hadir justru atmosfer. Langit, laut, dan garis pantai dibangun melalui lapisan warna yang tipis dan terkendali. Horizon menjadi garis meditatif yang membelah bidang. Dalam lanskap-lanskap ini, Irawan tidak sekadar merekam alam, tetapi menata ulang pengalaman visual menjadi ruang batin.

Lansekap baginya bukan representasi geografis semata, melainkan pengalaman diam terhadap keluasan. Di sini kita melihat kecenderungan liris yang kuat—suatu kualitas yang juga berkembang dalam seni lukis Indonesia 1980-an, ketika banyak perupa kembali pada suasana dan perenungan.

Lukisan alam benda seperti Still Life 3 (1990) menunjukkan sisi lain dari praktiknya: eksplorasi komposisi dan tekstur. Objek-objek sehari-hari— buah, cangkir, kain, vas—disusun dalam relasi bentuk yang terukur. Irawan memperlakukan alam-benda sebagai laboratorium visual. Bayangan, pantulan, dan tekstur kain diolah dengan perhatian pada keseimbangan massa. Warna-warna hangat dan dingin berdialog dalam harmoni yang tidak berlebihan. Tradisi alam-benda dalam seni modern sering dianggap latihan akademik. Namun pada Irawan, genre ini menjadi pernyataan sikap: kesetiaan pada observasi, ketelitian pada detail, dan penghargaan terhadap benda sebagai bagian dari pengalaman hidup sehari-hari.

Dalam konteks seni rupa Indonesia, pendekatan ini penting. Ketika sebagian pelukis generasi sebelumnya menekankan ekspresi emosional yang intens, dan generasi berikutnya mulai mengeksplorasi dekonstruksi medium, Irawan mempertahankan ruang tenang antara keduanya.

Retrospektif ini bukan sekadar peninjauan kembali perjalanan seorang pelukis, tetapi pengingat bahwa modernisme Indonesia dibangun oleh berbagai jalur: yang eksperimental, yang ekspresif, dan juga yang kontemplatif. R. Irawan Surianatanegara berdiri dalam jalur terakhir itu—sebagai pelukis yang konsisten merawat disiplin, menjaga keseimbangan, kewarasan dan mengolah kesunyian menjadi bahasa visual. Dalam ketekunannya, kita menemukan bukan hanya karya, tetapi juga suatu sikap.

Sejarah seni bukan hanya sejarah gaya melukis, tetapi juga sejarah cara melihat dunia. Dalam karya-karya ini, kita melihat bagaimana ruang lokal dan kehidupan sehari-hari ditransformasikan menjadi pengalaman visual yang reflektif. R. Irawan Surianatanegara penting dalam sejarah

seni lukis modern karena ia merepresentasikan jalur kesinambungan modernisme Indonesia, menjaga disiplin akademik ditengah perubahan wacana seni, serta memperluas praktek modernisme ke ranah regional dengan pendekatan liris dan kontemplatif.

(Rifky “Goro” Effendy)

Sumber:

• Wawancara dengan Indah Prianti.

• Wawancara dengan Ulfah Yulaifah. 23 Maret 2026

• Supangkat, J. (1993). Seni rupa Indonesia dalam kritik dan esai. PT Gramedia Pustaka Utama.

• Yuliman, S. (2001). Dua seni rupa: Sepilihan tulisan Sanento Yuliman. Yayasan Kalam.

Portrait

Self Portrait
Crayon on Paper Circa 1980

Self Portrait Series (10 Pcs)

Drawing on Paper Circa 1990 - 2000

Self Portrait Series (detailed)

Drawing on Paper

Circa 1990 - 2000

Variable Dimension

Self Portrait Series (detailed)

Drawing on Paper

Circa 1990 - 2000

Variable Dimension

Self Portrait Series (10 Pcs) Drawing on Paper Circa 1990 - 2000

Variable Dimension

Self Portrait Series (detailed)

Drawing on Paper

Circa 1990 - 2000

Variable Dimension

Wife - Portrait Crayon on Paper
62 cm x 41 cm
Son Oil on Canvas
Circa 1970
109 cm x 69 cm

87 cm x 66 cm

Daughter Oil on Canvas
Circa 1980
Woman in red kebaya Oil on Canvas Circa 1990
59 cm x 43 cm

54 cm x 43 cm

Girl in flowery Kebaya Oil on Canvas 2001

68 cm x 87 cm

Balinese Dancer Oil on Canvas

49 cm x 39 cm

Balinese Girl Oil on Canvas 2000

Portrait Series (women)

Drawing on Paper 1990- 2000

Variable Dimension

Portrait Series (women)

Drawing on Paper 1990- 2000

Variable Dimension

Copy of Rembrandt Oil on Canvas Circa 1990
15 cm x 13 cm
Copy of Rembrandt Oil on Canvas
Circa 1990
37 cm x 27 cm

Copy

Painted Portrait of Mrs Sarah F.
Conover Oil on Canvas
Circa 1990
34 cm x 24 cm

Circa 1990 22 cm x 15.5 cm

Copy
Woman Oil on Canvas
Copy
Painted Portrait of Georgia O ' Keeffe Oil on Canvas 1990
31 cm x 23 cm

50 cm x 60 cm

Unconditional Love Oil on Canvas

Still Life

60 cm x 50 cm

Orchid Oil on Canvas
Circa 1990

Still Life Series

Drawing on Paperr

1990- 2000

Variable Dimension

Drawing on Paperr 1990- 2000

Variable Dimension

Landscape

Oil On Board

30 cm x 40 cm 1994

Seascape

Landscape

Oil On Canvas

30 cm x 40 cm 1990

Private Collection Dr Nenny Miryani Saptadji

2001

20 cm x 32 cm

Pelabuhan Ratu 1 Oil on Canvas

Gallery View

Beberapa karya lukisan yang kebanyakan dalam bentuk pesanan portrait telah dikoleksi oleh beberapa Perusahaan atau perorangan seperti antara lain :

PT Gunung Agung /1967

PT Balsam cap macan /1969

Koleksi Museum Sumedang

Portraif of Soeria Atmadja /Pangeran Mekkah / 1974

Museum Pangestu Surakarta

Portraif of Prof Dr Soemantri Hardjoprakoso /Pendiri Fakultas Psikologi UNPAD/1971

PT Tjokro Bersaudara /1980

Kepala PT Pos dan Giro Indonesia /1984

Portraif of Joop Ave /Indonesia Minister of Tourism /1997

Portraif of Prof Dr Joe Hilgers /PT Sanbe Farma /2000 and 2005

Karlina Damiri /Blue Bird /2011

Anne Liem /2025

Documentation

Sumber: Keluarga
Sumber: Keluarga
Sumber: Keluarga
Sumber: Keluarga
Sumber: Kiki Assaf
Sumber: Keluarga
Sumber: Kiki Assaf

Sumber: Keluarga

Sumber: Kiki Assaf

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
E_Katalog_SiKonsisten_Irawan by Orbital Dago - Issuu