Pameran DRAWING LAGI-LAGI DRAWING
Bambang Subarnas - Sri Setyawati Mulyani ( Cipuk ) - Ni Ketut Ayu Sri WardaniIsa Perkasa - Pupung Prayitno

15 - 26 Juli 2026




![]()
Bambang Subarnas - Sri Setyawati Mulyani ( Cipuk ) - Ni Ketut Ayu Sri WardaniIsa Perkasa - Pupung Prayitno

15 - 26 Juli 2026




Dalam sejarah seni rupa, drawing sering kali ditempatkan sebagai wilayah yang paling dekat dengan awal mula berpikir visual. Sebelum menjadi lukisan, patung, instalasi, atau bentuk artistik lainnya, hampir setiap gagasan berangkat dari sebuah garis. Namun, dalam perkembangan seni modern hingga kontemporer, drawing tidak lagi sekadar dipahami sebagai tahap persiapan atau sketsa menuju karya akhir. Drawing telah menjadi praktik artistik yang mandiri—sebuah ruang tempat seniman menguji gagasan, menyusun ingatan, merekam pengalaman, dan mempertanyakan kembali cara manusia melihat dunia.
Seniman jaman pencerahan seperti maestro Leonardo da Vinci melihat drawing sebagai instrumen pengetahuan. Baginya, garis bukan hanya representasi permukaan, tetapi cara untuk memahami struktur kehidupan. Melalui studi anatomi, alam, dan mekanika, drawing menjadi metode berpikir yang menghubungkan pengamatan dengan imajinasi. Berabad kemudian, Paul Klee memperluas pemahaman tersebut dengan melihat garis sebagai sebuah perjalanan, sebuah gerakan yang membawa kemungkinan bentuk dan makna. Drawing bukan sekadar hasil akhir, melainkan jejak dari proses mental dan pengalaman tubuh.
Dalam konteks seni rupa kontemporer, drawing kembali menemukan relevansinya. Di tengah budaya visual yang semakin didominasi oleh kecepatan produksi citra, reproduksi digital, dan arus informasi tanpa henti, drawing menawarkan bentuk resistensi yang subtil: perlambatan. Ia mengembalikan perhatian pada tindakan sederhana namun mendasar—melihat, menyentuh, mengingat, dan membuat keputusan melalui gerakan tangan.
Pameran “Drawing. Lagi-lagi Drawing.” di Orbital Dago menghadirkan lima seniman dengan pendekatan yang berbeda terhadap medium drawing: Bambang Subarnas, Sri Setyawati Mulyani (Cipuk), Ni Ketut Ayu Sri Wardani, Isa Perkasa, dan Pupung Prayitno. Kelima seniman ini memperlihatkan bahwa drawing bukanlah sebuah bahasa tunggal, melainkan medan terbuka yang memungkinkan berbagai pengalaman, karakter visual, dan cara berpikir bertemu.
“I draw better than I talk.” — David Hockney
Praktik Bambang Subarnas menunjukkan drawing sebagai ruang kontemplasi dan eksplorasi bentuk. Garis dalam karyanya tidak hadir semata sebagai batas visual, tetapi sebagai proses pencarian yang memperlihatkan hubungan antara spontanitas dan pengendalian. Drawing menjadi medan tempat bentuk berkembang melalui intuisi, pengalaman, dan perenungan panjang terhadap bahasa rupa. Di tengah budaya visual kontemporer yang semakin didominasi oleh citra instan dan reproduksi digital, praktik Bambang Subarnas memperlihatkan kembali nilai fundamental drawing: kehadiran tubuh. Tangan, mata, ingatan, dan waktu bertemu dalam satu permukaan. Drawing menjadi bentuk meditasi visual—sebuah cara untuk hadir dan memahami dunia melalui tindakan yang paling sederhana: membuat garis. Bagi Bambang, drawing bukan sekadar teknik atau medium, tetapi cara berpikir. Ia menjadi arsip personal tentang apa yang dilihat, apa yang dirasakan, dan apa yang ingin disimpan sebelum semuanya berubah.

Bambang Subarnas
Bagi Sri Setyawati Mulyani (Cipuk), drawing dapat dibaca sebagai ruang ekspresi personal yang menghadirkan kedekatan antara gestur, emosi, dan pengalaman keseharian. Goresan tidak hanya membangun citra, tetapi juga menyimpan energi psikologis—sebuah catatan visual mengenai hubungan manusia dengan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Dalam praktik artistik Cipuk, drawing bukan sekadar sarana merekam objek yang tampak di hadapan mata, melainkan cara mengolah pengalaman batin. Garis, sapuan tinta, dan ruang kosong menjadi bahasa yang mempertemukan pengamatan dengan refleksi. Setiap drawing tidak hanya berbicara tentang apa yang dilihat, tetapi juga tentang bagaimana dunia dialami dan diresapi oleh seorang seniman.
Perjalanan artistik Cipuk memperlihatkan transformasi yang menarik. Pada periode awal, ia banyak mengangkat tema keperempuanan dan potret diri sebagai ruang untuk membaca identitas, tubuh, dan pengalaman personal. Belakangan, perhatian itu bergeser menuju lanskap dan pepohonan—bukan sebagai objek pemandangan yang indah, melainkan sebagai ruang meditasi dan ingatan. Pergeseran ini tidak berarti meninggalkan manusia, tetapi justru memperluas pemahamannya tentang hubungan antara manusia dan alam.
Ni Ketut Ayu Sri Wardani menghadirkan kemungkinan drawing sebagai wilayah narasi dan refleksi. Garis menjadi medium untuk membangun dunia visual yang berlapis, tempat pengalaman personal, simbol, dan pengamatan terhadap kehidupan berkelindan. Drawing dalam praktiknya memperlihatkan bagaimana sebuah garis mampu membawa cerita dan membangun ruang imajinatif. Dalam praktik seni Ayu, drawing merupakan ruang tempat pengamatan bertemu dengan empati. Garis tidak hanya berfungsi membangun bentuk, tetapi menjadi sarana untuk menghadirkan pengalaman manusia yang sering luput dari perhatian. Melalui tinta hitam, arsiran, dan sapuan kuas yang ekonomis, ia membangun narasi tentang kehidupan sehari-hari—tentang kerja, keluarga, tradisi - budaya, penderitaan, hingga kebersamaan.




Sementara itu, bagi Isa Perkasa, drawing bukanlah sketsa menuju lukisan, melainkan bentuk berpikir yang paling langsung. Garis menjadi ruang tempat gagasan lahir, berkembang, dan berhadapan dengan kenyataan sosial. Dalam praktiknya, drawing memiliki kemampuan yang tidak selalu dimiliki medium lain: spontan, intim, tetapi sekaligus tajam sebagai instrumen kritik. Karya-karya yang dipresentasikan memperlihatkan bagaimana Isa menggunakan metafora untuk membaca realitas politik global saat ini. Seekor babi berkepala manusia, burung gagak yang bertengger di atas tubuhnya, tengkorak-tengkorak yang berserakan, potret para tokoh dunia yang seolah tenggelam dalam cairan merah, hingga figur anonim berkepala semangka yang menggendong anak—seluruhnya membentuk sebuah sistem simbol yang tidak dimaksudkan sebagai ilustrasi peristiwa tertentu. Simbol-simbol tersebut bekerja sebagai alegori yang memungkinkan berbagai pembacaan mengenai kekuasaan, kekerasan, manipulasi, kematian, propaganda, dan kerentanan manusia.
Pupung Prayitno memperlihatkan drawing sebagai ruang eksperimentasi yang terus bergerak. Karyanya menunjukkan bagaimana garis dapat menjadi alat untuk mengurai bentuk, membangun struktur, sekaligus membuka kemungkinan visual baru. Drawing tidak hadir sebagai sesuatu yang selesai, melainkan sebagai proses yang terus berkembang melalui pencarian. Dalam praktik seni Pupung, drawing bukanlah tahap awal menuju karya yang lain. Ia adalah sebuah cara hidup. Menggambar menjadi aktivitas yang menyertai keseharian, membaca, menulis, mengamati, dan merenungkan berbagai peristiwa yang melintas dalam pengalaman pribadi maupun kehidupan sosial. Karena itu, drawing dalam karya Pupung selalu bergerak di antara dua kutub: sebagai bahasa visual yang membangun dunia imajinasi, dan sebagai arsip yang merekam kehidupan sehari-hari.
Kedua wilayah ini tampak saling berhubungan. Pada karyakarya berukuran besar, Pupung membangun komposisi yang padat oleh figur manusia, hewan, makhluk mitologis, tumbuhan, dan berbagai simbol budaya. Dunia visualnya mengingatkan pada tradisi kosmologi Nusantara, wayang, relief candi, naskah kuno, hingga alegori Renaisans, di mana berbagai lapisan ruang dan waktu hadir secara bersamaan. Tidak ada pusat narasi tunggal; setiap figur merupakan bagian dari jaringan cerita yang saling berkelindan. Dalam karya-karya tersebut, garis bekerja bukan sekadar sebagai pembentuk volume, melainkan sebagai struktur berpikir. Setiap figur muncul dari jaringan garis yang terus tumbuh, bercabang, dan menghubungkan satu bentuk dengan bentuk lain. Komposisi menjadi seperti sebuah peta mental, tempat mitologi, sejarah, ingatan, dan pengalaman kontemporer bertemu dalam satu
ruang visual.
Kelima seniman tersebut memperlihatkan bahwa drawing memiliki daya hidup yang melampaui definisi klasiknya. Ia dapat menjadi catatan, penelitian, puisi visual, kritik, maupun refleksi eksistensial. Drawing menyimpan hubungan langsung antara tubuh dan pikiran; antara apa yang dilihat dan apa yang dibayangkan. Maka pameran “Drawing. Lagi-lagi Drawing.” bukan sekadar pengulangan terhadap sebuah medium yang telah lama dikenal dalam sejarah seni rupa. Justru melalui pengulangan tersebut muncul pertanyaan: mengapa drawing terus kembali? Mengapa garis sederhana masih memiliki kekuatan untuk menarik perhatian di tengah kompleksitas teknologi gambar hari ini?
Jawabannya mungkin terletak pada sifat dasar drawing itu sendiri. Ia adalah tindakan yang paling sederhana sekaligus paling mendalam: menghadirkan keberadaan manusia melalui sebuah tanda. Sebuah garis adalah bukti bahwa seseorang telah hadir, melihat, berpikir, dan meninggalkan jejak.
Melalui pameran ini, Orbital Dago mengajak publik untuk kembali mengalami drawing bukan sebagai sesuatu dengan nilai yang lama, tetapi sebagai praktik yang terus menemukan makna baru. Drawing. Lagi-lagi Drawing. menjadi pernyataan bahwa selama manusia terus mengamati dan mencoba memahami dunia, garis akan selalu memiliki alasan untuk dibuat.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi citra digital, kecerdasan buatan, dan kecepatan produksi visual, drawing justru kembali menunjukkan relevansinya. Ia bukan sekadar medium yang mendahului lukisan atau karya akhir, melainkan sebuah praktik berpikir, cara mengamati, dan ruang tempat pengalaman manusia memperoleh bentuk. Sejarah seni telah menempatkan drawing sebagai fondasi praktik artistik sejak Renaisans, namun seni kontemporer memperluasnya menjadi medium yang otonom, konseptual, dan terus bereksperimen melampaui batas-batas material maupun disiplin seni.
Karena itu, judul “ Drawing. Lagi-lagi Drawing”. bukanlah ungkapan pengulangan yang bersifat nostalgik. “Lagi-lagi” justru menandai bahwa drawing selalu kembali karena ia tidak pernah kehilangan alasan untuk hadir. Setiap zaman menghadirkan persoalan baru, dan setiap persoalan selalu membutuhkan cara baru untuk melihatnya. Drawing menyediakan ruang bagi proses tersebut—ruang untuk memperhatikan, mempertanyakan, dan memahami.
Pada akhirnya, pameran ini bukan sekadar perayaan atas sebuah medium, melainkan penegasan bahwa drawing adalah bentuk kesadaran. Selama manusia masih memiliki keinginan untuk melihat lebih dalam, mencatat pengalaman, mengkritisi kenyataan, dan membayangkan kemungkinan lain, maka drawing akan selalu menemukan tempatnya. Garis-garis yang tampak sederhana itu sesungguhnya merupakan jejak paling awal—dan mungkin juga paling jujur—dari cara manusia berpikir dan memahami dunia. ***
Rifky “Goro” Effendy, Kurator Pameran

Isa Perkasa lahir di Majalengka, Jawa Barat, pada 21 Juni 1964. Ia menyelesaikan pendidikan Seni Grafis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB). Praktik artistiknya mencakup drawing, seni grafis, dan performance art dengan perhatian utama pada isu memori, sejarah, identitas, serta dinamika sosial-politik masyarakat. Pada 1997, Isa mengikuti program Artist in Residence Nagasawa Art Park, Tsuna, Jepang, untuk mempelajari tradisi Ukiyo-e dan teknik kertas Jepang. Pada 1999, ia kembali mengikuti residensi di Pacific Bridge Gallery, Oakland, California, Amerika Serikat. Pengalamannya di berbagai forum internasional memperkaya eksplorasi artistiknya dalam konteks seni kontemporer global.Ia pernah menjadi kurator Galeri Pusat Kebudayaan Bandung (2019–2024) dan sejak 2020 menjabat sebagai Ketua Institut Drawing Bandung. Ia menerima penghargaan Philip Morris Indonesia Art Award dan Philip Morris ASEAN Art Award pada 1998, serta Anugerah Budaya Kota Bandung pada 2022. Pameran tunggalnya antara lain Ingatan yang Diseragamkan (2009), Uniformed Memories (2011), Critical Faces (2022), dan Negeri Tamat: Arsip Drawing (2026). Karya performance art-nya telah dipresentasikan di berbagai negara Asia, Eropa, dan Amerika. Melalui garis, tubuh, dan arsip, Isa Perkasa terus mengeksplorasi bagaimana ingatan kolektif dibentuk, dipertanyakan, dan diwariskan.
Isa Perkasa
Genosida
Drawing Mix Media Installation
Variable Dimension
2026

Tema drawing saya tentang genosida di Palestina, pada karya yang saya kerjakan fokus menyoroti Benyamin Netanyahu dan Donal Trump yang menarik untuk terus disuarakan melalui visual drawing, opini seniman menyoroti dua sosok ini cukup beragam terutama memvisualkannya dan menyajikannya, nuansa merah pada semua karya ingin menyampaikan kekerasan banjir darah dan kematian ratusan ribu manusia Palestina yang sampai saat ini masih terjadi.
Temuan pengganti frame saya gunakan nampan plastik berwarna merah yang mewadahi drawing drawing kecil media bolpoin tentang dua sosok aktor genosida. Dalam karya saya sudah tidak ngomongin teknik drawing soal keindahan karena konsepnya menyoal kekerasan tragedi kemanusiaan berat di Palestina. (Isa Perkasa)
Drawing Mix Media
Variable Dimension 2026













Isa Perkasa
Genosida
Drawing Mix Media Installation
Variable Dimension
2026






Sri Setyawati Mulyani, yang dikenal dengan nama Cipuk, lahir di Yogyakarta pada 16 Agustus 1962. Ia merupakan perupa yang menyelesaikan pendidikan Seni Lukis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 1992. Sejak awal kariernya, Cipuk konsisten mengeksplorasi pengalaman personal, identitas perempuan, dan relasi antara tubuh, ingatan, serta kehidupan sehari-hari melalui medium lukisan dan drawing. Dalam perkembangan praktiknya, perhatian tersebut meluas pada lanskap, pepohonan, dan perubahan ruang hidup yang dihadirkan melalui sapuan garis dan warna yang puitis namun reflektif. Cipuk telah menggelar sejumlah pameran tunggal, di antaranya Gegat Penggalih Gugat (2014) dan Aku (Cipuk) dalam Potret Diri di Bentara Budaya Yogyakarta (2015), Inner Landscape di Orbital Dago (2023) serta berpartisipasi dalam berbagai pameran bersama di Indonesia. Ia juga menerima sejumlah penghargaan, termasuk Sketsa Terbaik Jurusan (1984), Lukisan Terbaik Jurusan (1986), dan Lukisan Terbaik Lomba Lukis Yayasan Abad Demokrasi (2012).
Saya menikmati menggambar setiap hari seperti halnya mencatat kejadian,moment,obyek sehari hari yang dekat dengan saya,mulai gambar bentuk,gambar manusia,sketsa pemandangan,kembang dalam vas atau di pekarangan selanjutnya gambar observasi menggunakan garis, brush stroke dengan pencil, arang, tinta dsb, dan hasilnya kadang sudah menjadi karya utuh(lukisan),dan sekaligus menjadi therapi buat diri sendiri ,dan kebanyakan dengan warna hitam putih saja sebagai catatan dalam perjalanan. (Cipuk)

Sri Setyawati Mulyani (Cipuk)
Drawing Mix Media : Landscape, Portrait, Abstract
Variable Dimension 2011 - 2026

Sri Setyawati Mulyani (Cipuk)
Drawing Mix Media : Landscape, Portrait, Abstract
Variable Dimension
2011 - 2026






Sri Setyawati Mulyani (Cipuk)
Drawing Mix Media :
Landscape, Portrait, Abstract
Variable Dimension
2011 - 2026




Ni Ketut Ayu Sri Wardani lahir di Denpasar, Bali, pada tahun 1966. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar sebelum melanjutkan studi Seni Lukis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB), yang diselesaikannya pada 1993. Sejak pertengahan 1980-an, ia aktif berpameran di berbagai kota di Indonesia maupun di forum internasional di Hong Kong, Singapura, Filipina, Australia, Inggris, Swedia, dan Amerika Serikat.

Setiap karya lahir dari sebuah perjalanan. Sebagian lahir dari sukacita, sebagian lagi lahir dari kehilangan. Bagi saya, karya-karya ini adalah jejak perjalanan hidup yang dipenuhi cinta, kerinduan, dan harapan.
Saya dilahirkan dan dibesarkan di Bali, tanah yang kaya akan tradisi, warna, dan spiritualitas. Namun pernikahan mempertemukan saya dengan tanah Batak, dengan Danau Toba, alamnya yang agung, serta budayanya yang begitu kuat dan hangat. Dua budaya yang berbeda itu kemudian hidup berdampingan di dalam hati saya.
Sejak suami saya berpulang pada tahun 2016, saya menemukan bahwa karya seni menjadi bahasa ketika kata-kata tidak lagi mampu mengungkapkan rasa kehilangan. Danau Toba, ulos, perempuan Batak, rumah adat, serta lanskap yang saya hadirkan di atas kertas bukan sekadar objek visual. Semuanya adalah ruang tempat saya merawat kenangan, menghidupkan kembali percakapan yang tak lagi terdengar, dan mengabadikan cinta yang tidak pernah berakhir oleh kematian.
Di sisi lain, Bali tetap menjadi akar yang membentuk jati diri saya. Nilai-nilai kehidupan, keindahan alam, dan kekayaan budayanya terus mengalir dalam setiap sapuan warna. Karena itu, pameran ini mempertemukan dua dunia yang telah menjadi satu perjalanan hidup: Bali sebagai tempat saya bertumbuh, dan Tanah Batak sebagai tempat cinta menemukan maknanya.
Melalui karya-karya ini, saya berharap setiap penikmat seni untuk tidak hanya melihat warna dan bentuk, tetapi juga merasakan bahwa di balik setiap karya tersimpan kisah tentang cinta yang melampaui perbedaan budaya, kesetiaan yang tetap hidup dalam kenangan, serta harapan yang terus bertumbuh di tengah kehilangan.
Setiap karya menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, antara Bali dan Batak, antara duka dan pengharapan.















Ink on paper

Setiap karya lahir dari sebuah perjalanan. Sebagian lahir dari sukacita, sebagian lagi lahir dari kehilangan. Bagi saya, karya-karya ini adalah jejak perjalanan hidup yang dipenuhi cinta, kerinduan, dan harapan. Saya dilahirkan dan dibesarkan di Bali, tanah yang kaya akan tradisi, warna, dan spiritualitas. Namun pernikahan mempertemukan saya dengan tanah Batak, dengan Danau Toba, alamnya yang agung, serta budayanya yang begitu kuat dan hangat. Dua budaya yang berbeda itu kemudian hidup berdampingan di dalam hati saya. Sejak suami saya berpulang pada tahun 2016, saya menemukan bahwa karya seni menjadi bahasa ketika kata-kata tidak lagi mampu mengungkapkan rasa kehilangan. Danau Toba, ulos, perempuan Batak, rumah adat, serta lanskap yang saya hadirkan di atas kertas bukan sekadar objek visual. Semuanya adalah ruang tempat saya merawat kenangan, menghidupkan kembali percakapan yang tak lagi terdengar, dan mengabadikan cinta yang tidak pernah berakhir oleh kematian.
Di sisi lain, Bali tetap menjadi akar yang membentuk jati diri saya. Nilai-nilai kehidupan, keindahan alam, dan kekayaan budayanya terus mengalir dalam setiap sapuan warna. Karena itu, pameran ini mempertemukan dua dunia yang telah menjadi satu perjalanan hidup: Bali sebagai tempat saya bertumbuh, dan Tanah Batak sebagai tempat cinta menemukan maknanya.Melalui karya-karya ini, saya berharap setiap penikmat seni untuk tidak hanya melihat warna dan bentuk, tetapi juga merasakan bahwa di balik setiap karya tersimpan kisah tentang cinta yang melampaui perbedaan budaya, kesetiaan yang tetap hidup dalam kenangan, serta harapan yang terus bertumbuh di tengah kehilangan. Setiap karya menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, antara Bali dan Batak, antara duka dan pengharapan. ( Ni Ketut Ayu Sri Wardani )

Pupung Prayitno, pelukis kelahiran Karawang 15 April 1965. Ia mulai berpameran tahun 1986, kemudian sejak itu menjadi sandarannya sebagai pekerjaan penuh waktu. Walau dengan modal otodidak ia berkeyakinan dapat memenuhi hajat hidupnya dari berkesenian. Sekalipun diakui sangat “terjal” dalam menempuh hidup mengandalkan berkesenian. Untuk mensiasati kebutuhan hidup, ia bekerja apa saja, seperti : mengajar di Mts dan SMPN di Karawang ( 1986- 1996 ), pernah tinggal di Saudi Arabia ( 20072009 ), jadi Jurnalis Lokal, Tukang Ojek dsb. Ia pernah mendapat penghargaan dari MenParPosTel (1994) dalam kompetisi desain Prangko Nasional, Penghargaan 30 Pelukis Terbaik (2007), dalam Kompetisi Seni Lukis Jawa Barat. Pernah mengikuti Pameran Mail Art di Estonia ,dan Brasil (2025), serta Virtual Exhibition di Spanyol dan Iran ( 2025/2026 ). Ia juga pernah Pameran Tunggal di Bandung (1999 dan 2004 ) dan Karawang (2025 / 2026), serta pameran bersama di beberapa kota seperti : Karawang,Bandung, Jakarta, Yogyakarta,Banten,Bali dll.










Bambang Subarnas merupakan perupa, kurator, pegiat budaya , adalah perupa, kurator seni, penulis, pengajar sejarah seni di Fakultas Seni -UNPAS (1995-2011), yang berbasis di Bandung. Selain menjalani praktik seni rupa, ia dikenal aktif membangun ekosistem seni melalui kerja-kerja kuratorial, pendidikan, serta pengembangan ruang-ruang kebudayaan yang mendorong dialog antara seniman dan masyarakat. Ia menempuh pendidikan seni di Universitas Pendidikan Indonesia dan melanjutkan masternya di FSRD - ITB. Ia mengembangkan praktiknya dengan perhatian pada hubungan antara seni, budaya, dan ruang sosial. Dalam perjalanan kariernya, Bambang Subarnas berperan sebagai kurator independen untuk berbagai pameran seni rupa serta menjadi pendiri Bale Budaya Bandung, sebuah ruang yang berfokus pada aktivitas seni dan kebudayaan. Sejak 2018, ia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal AMIDA Jawa Barat, memperkuat kontribusinya dalam pengembangan kebijakan dan jaringan kebudayaan di Indonesia.
Bambang Subarnas
Indonesia Raya
Instalasi drawing; kayu, kertas, glass
P. 200x L. 80 x T.125. 2026















