Tanah Airku Banyak Dedemit
Essay Kuratorial oleh Rifky “ Goro” Effendy
Pameran ini menyoroti wajah-wajah “dedemit” modern — bukan makhluk gaib penghuni gelap hutan-rimba, melainkan sosok-sosok yang hidup di tengah masyarakat: rakus, manipulatif, haus kuasa, dan tanpa nurani. Menari-nari, berjoget diatas penderitaan. Melalui karya kain tile, cetak dijital, video, dan cetak lentikular dengan simbol-simbol satir, Fatih Jagad Raya mengajak pengunjung menertawakan sekaligus mengkritisi realitas sosial-politik yang terasa semakin absurd. Dedemit adalah sebutan untuk roh atau makhluk halus jahat yang dipercaya gemar mengganggu manusia. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa (demit), dan dalam budaya populer sering disamakan dengan setan, iblis, lelembut, atau hantu.
Fatih Jagad Raya seorang seniman new media art, lahir di Bandung tahun 2000 dan lulus tahun 2023 dari Departemen Pendidikan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Seni Rupa dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI). Beberapa kali berpameran , baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Terakhir ia mendapatkan penghargaan utama Grey Art Award tahun 2026.
Lewat isu “Deforestasi”, karya-karya Fatih bergerak dalam wilayah kritik sosial-politik yang memanfaatkan metafora visual, ingatan kolektif, untuk membaca realitas Indonesia kontemporer. Deforestasi adalah penghilangan hutan secara permanen untuk penggunaan lain, seperti perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur, atau permukiman. Di Indonesia, isu ini menjadi perhatian besar karena negara ini memiliki salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar dan paling kaya keaneka-ragaman hayati di dunia.
“Dedemit” dalam gagasan Fatih dapat dibaca sebagai metafora terhadap elite sosial-politik, ia juga menjadi representasi manusia yang kehilangan moralitas: korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, oligarki, hingga budaya feodal yang terus hidup dalam sistem modern. Kritik semacam ini sejalan dengan wacana publik tentang feodalisme kontemporer dan kultus terhadap kekuasaan yang masih kuat di Indonesia. Yang ter -
baru, seperti yang diperlihatkan dalam film dokumenter “ Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” (2026), karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale yang menyoroti dampak deforestasi, ekspansi perkebunan, proyek pangan dan bio-energi skala besar, yang mengorbankan kehidupan rakyat pedalaman dan konflik tanah adat di Papua Selatan.
Persoalan kekayaan alam Indonesia seperti yang diungkap dalam buku Reset Indonesia (2026), dimana kita sering mendengar istilah “Kutukan Sumber daya alam”, yakni fenomena yang menghantui banyak negara kaya akan sumber alam, tapi terbelakang dan rakyatnya miskin. Indonesia pernah menjadi kaya akan sumber minyak, tetapi ketika minyak habis, mulai menjarah hutan. Pohon, flora, dan fauna hutan adalah sumber daya terbarukan . Namun, eksploitasi berlebihan lewat bisnis kayu dan perkebunan monokultur seperti sawit mempercepat hilangnya hutan, lebih cepat dari yang bisa kita manfaatkan. Bahkan sebaliknya, terbukti membawa petaka ekologis seperti yang baru terjadi di beberapa bagian wilayah di Sumatera awal tahun.
Sosok-sosok utama dalam karya-karya Fatih seperti manusia bertopeng dengan tulisan Sunda berwarna merah, berjas hitam dan berdasi merah sering muncul untuk menyimbolkan kekuasaan seperti tokoh “cakil” dalam pewayangan dengan gestur seperti kesurupan. Beberapa Fatih buat melalui teknik cetak seri lenticular yang berjudul “ Metamorfosis Tanah Air” (2026) . Cetak lenticular adalah pencetakan yang menggunakan lembaran plastik dengan banyak lensa kecil. Fatih memanfaatkan cetak lenticular, sebuah medium yang memungkinkan gambar berubah, berkelindan atau menciptakan ilusi kedalaman ketika dilihat dari sudut yang berbeda. Teknologi lenticular sering digunakan untuk menghasilkan efek flip image, transformasi visual, atau ilusi 3D, sehingga penonton tidak memperoleh satu citra yang tetap, melainkan pengalaman visual yang berubah-ubah.
Dalam seri karya - karya lentikularnya, tampak figur utama berjas hitam dengan dasi merah, namun kepalanya digantikan oleh bentuk seperti kantong atau topeng putih yang memuat tulisan merah. Di bawahnya hadir figur-figur lain yang tampak terdesak, berlutut, atau berada dalam posisi defensif. Latar belakangnya merupakan kolase berbagai fragmen ruang sosial yang saling bertumpuk. Sosok yang dibuat Fatih mengacu kepada gaya performance art yang dilakukan sang ayah, sekaligus sosok idolanya ; seniman Isa Perkasa. Sedangkan sosok-sosok manusia yang sekujur tubuhnya seperti dibalut perban atau kain putih, sehingga identitas dan ekspresi wajah tidak terlihat -juga bentuk yang mengacu kepada performans sang ayah, merepresentasikan tokoh protagonis dengan gerakan seperti ritual, mistis, atau trans yang sering
diasosiasikan dengan seni Reak dalam seni tradisional Sunda.
Karya cetak dijital lain yang berjudul “ Hidangan Para Buta” ( tryptich, 2026) sangat kuat sebagai kritik sosial dan politik. Secara visual, terlihat sekelompok figur duduk di meja panjang seperti rapat para elite atau jamuan kekuasaan dengan nuansa kelam dan hitam seperti arang . Wajah mereka ditutupi kain putih bertulisan merah, sementara di bawah meja berserakan tengkorak-tengkorak manusia. Karya ini dekat dengan pendekatan seni surealis dan simbolik yang sering dipakai dalam karya Fatih Jagad Raya: figur manusia formal berpakaian jas, suasana distopia, serta kritik terhadap relasi kuasa dan ingatan kolektif rakyat.
Serial karya Fatih dengan cetak media campur (kain tille, canvas dan benang) : “Luka yang Tidak Pernah Kering” dan “Nusantara Yang Tertusuk “ (2026), ia menghadirkan metafora visual tentang kekuasaan yang hadir secara samar namun dominan. Transparansi material menciptakan citra yang rapuh, mengambang, dan seperti bayangan, sementara figur berjas yang memegang bumi menghadirkan simbol kontrol atas sumber daya dan masa depan bersama. Dalam konteks Indonesia kontemporer, karya ini dapat dibaca sebagai refleksi kritis terhadap relasi antara pembangunan industri, kekuasaan ekonomi-politik, dan krisis ekologis yang terus membentuk kehidupan sosial masyarakat. Material kain tile tidak hanya menjadi media cetak, tetapi menjadi bagian dari bahasa visual yang memperkuat tema ketidakpastian, kerentanan, dan kaburnya batas antara kepentingan publik dan kepentingan kekuasaan.
Karya video 3D animasi berjudul “Sembilan Dedemit” (2026) menghadirkan citra yang kuat dan satir. Terlihat sekelompok figur mengenakan jas hitam dan dasi merah, namun kepala mereka tertutup kantong kain tanpa identitas. Mereka masing-masing memegang gergaji mesin dan berada di lingkungan industri yang suram: cerobong asap, bangunan pabrik, batang kayu yang telah ditebang, serta suasana abu-abu yang penuh kesan polusi dan kehancuran. Karya ini menjadi kritik terhadap hubungan antara kapitalisme industri dan kerusakan lingkungan.
Figur-figur anonim berjas tampak seperti representasi para pelaku sistem ekonomi yang mengeksploitasi alam tanpa mempertanggung-jawabkan dampaknya. Hilangnya identitas menunjukkan bahwa masalah tersebut bukan sekadar tindakan individu, melainkan mekanisme kolektif dalam suatu sistem. Pose mereka yang menyerupai tarian atau pertunjukan juga menarik. Alih-alih menampilkan aktivitas kerja yang realistis, video ini mengubah tindakan destruktif menjadi semacam koreografi absurd. Hal ini bisa dimaknai sebagai sindiran bahwa penghancuran lingkungan telah menjadi rutini -
tas yang dinormalisasi.
Dengan demikian, kritik sosial-politik dalam karya Fatih Jagad Raya dapat dipahami sebagai upaya membongkar realitas yang sering disamarkan oleh bahasa kekuasaan. Seni menjadi ruang untuk mengingat, mempertanyakan, dan melawan—bahwa di tengah “tanah air” yang kaya dan indah, masih banyak “dedemit” yang hidup di balik wajah manusia. Dalam konteks seni rupa kontemporer, karya-karya Fatih menunjukkan bahwa kritik sosial tidak harus hadir secara literal. Ia menggunakan suasana muram, figur simbolik, teks satir, dan metafora visual untuk menciptakan pengalaman emosional bagi penonton. Kita diajak membaca karya bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan pengalaman sosial mereka sendiri: kemiskinan, ketidakadilan, ketakutan, dan absurditas politik sehari-hari.
Seni rupa modern Indonesia dari masa ke masa, menunjukkan bahwa seni selalu memiliki hubungan erat dengan kekuasaan dan kondisi sosial masyarakat. Dari kritik terhadap kolonialisme, propaganda revolusi, represi Orde Baru, hingga kritik terhadap oligarki modern, seni rupa menjadi ruang penting untuk mengingat, mempertanyakan, dan melawan. Dalam tradisi ini, kritik sosial-politik bukan sekadar tema, melainkan cara seniman menjaga kesadaran publik—bahwa seni dapat menjadi suara bagi mereka yang dibungkam atau kebisingan yang senyap. Lewat karya-karyanya, Fatih dan segenerasinya benar-benar seperti melihat kekelaman masa depan Indonesia. Indonesia gelap. ***
My Homeland Has Many Demons
Curatorial Essay by Rifky “Goro” Effendy
This exhibition highlights the faces of modern-day dedemit or demons—not supernatural beings lurking in dark forests, but figures living among us: greedy, manipulative, power-hungry, and devoid of conscience. They dance and revel atop the suffering of others. Through works employing tulle fabric, digital prints, video, and lenticular printing infused with satirical symbols, Fatih Jagad Raya invites viewers to laugh at and simultaneously critique a socio-political reality that feels increasingly absurd.
Dedemit is a Javanese term referring to evil spirits or malevolent supernatural beings believed to disturb human life. Derived from the word demit, the term is often associated in popular culture with devils, demons, ghosts, and other unseen entities.
Fatih Jagad Raya is a new media artist born in Bandung in 2000. He graduated in 2023 from the Department of Art Education at the Faculty of Art and Design Education, Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI). His works have been exhibited both nationally and internationally. Most recently, he received the Grand Prize at the Grey Art Award 2026.
Through the issue of deforestation, Fatih’s works operate within the realm of socio-political critique, utilizing visual metaphors and collective memory to interpret contemporary Indonesian realities. Deforestation refers to the permanent removal of forests for alternative uses such as plantations, mining, infrastructure development, or settlements. In Indonesia, this issue remains particularly urgent, as the country possesses one of the world’s largest and most biodiverse tropical rainforest ecosystems.
Within Fatih’s conceptual framework, the dedemit functions as a metaphor for socio-political elites while simultaneously representing indi-
viduals who have lost their moral compass: corruption, abuse of power, oligarchic domination, and feudalistic values that continue to persist within modern systems. Such criticism resonates with contemporary public discourse concerning neo-feudalism and the enduring cult of power in Indonesia.
Recent examples can be seen in the documentary film Pesta Babi (Pig Feast): Colonialism in Our Time (2026) by Dandhy Dwi Laksono and Cypri Paju Dale, which exposes the consequences of deforestation, plantation expansion, large-scale food and bioenergy projects, and the sacrifices imposed upon Indigenous communities and customary land rights in South Papua.
Indonesia’s natural wealth presents another recurring concern. As discussed in the book Reset Indonesia (2026), the nation repeatedly encounters what economists call the “resource curse”—a phenomenon afflicting many resource-rich countries whose populations remain impoverished despite abundant natural assets. Indonesia once prospered through oil extraction, yet when oil reserves declined, exploitation shifted toward forests. Trees, flora, and fauna constitute renewable resources; however, excessive extraction through logging industries and monoculture plantations such as palm oil has accelerated forest destruction beyond sustainable limits. Rather than generating prosperity, such practices have increasingly resulted in ecological disasters, as demonstrated by recent environmental crises in several regions of Sumatra.
The central figures recurring throughout Fatih’s works often appear as masked individuals dressed in black suits and red ties, bearing red Sundanese text across their faces. They symbolize power and authority, recalling the figure of Cakil from Javanese wayang narratives, while their gestures evoke possession or trance states.
Several of these figures appear in Fatih’s lenticular print series “ Metamorfosis Tanah Air / Metamorphosis of the Homeland” (2026). Lenticular printing utilizes plastic sheets embedded with numerous microscopic lenses. Fatih employs this medium to create images that transform or generate illusions of depth, interwined when viewed from different angles. Frequently used to produce flip-image effects, visual transformations, and three-dimensional illusions, lenticular technology denies viewers a single stable image, replacing it instead with an ever-changing visual experience. Within this series, the principal figure appears in a black suit and red tie, yet the head is replaced by a sack-like or mask-like white form carrying red text. Beneath this dominant character stand other figures who appear oppressed, kneeling, or trapped in defensive positions. The background consists of layered collages of overlapping social spaces.
These figures are inspired by the performance art practice of Fatih’s father and artistic role model, Isa Perkasa. Other recurring characters—whose entire bodies are wrapped in bandages or white cloth, concealing their identities and facial expressions—also derive from his father’s performances. Representing protagonists, they move through gestures resembling ritual, mysticism, or trance, often associated with Reak, a traditional Sundanese performance art form.
Another digital print work, “ Hidangan Para Buta” or “The Feast of the Giant Demonds” (Triptych, 2026), presents a particularly powerful socio-political critique. Visually, it depicts a group of figures seated around a long table, recalling either an elite political meeting or a banquet of power. The atmosphere is dark, charcoal-black, and oppressive. Their faces are covered by white cloth inscribed with red text, while beneath the table lie scattered human skulls.
This work aligns closely with the surrealist and symbolic approaches frequently employed by Fatih Jagad Raya: formally dressed human figures, dystopian environments, and critiques of power relations and collective memory.
In the mixed-media print series “Luka yang Tidak
Pernah Kering” and “Nusantara Yang Tertusuk / “ The Wound That Never Dries and The Pierced Nusantara” (2026), incorporating tulle fabric, canvas, and thread, Fatih constructs visual metaphors of power that remain both elusive and dominant. The transparency of the materials creates fragile, floating, shadow-like images, while suited figures holding the Earth symbolize control over natural resources and collective futures.
Within the context of contemporary Indonesia, these works can be interpreted as critical reflections on the relationship between industrial development, political-economic power, and the ecological crises that continue to shape social life. The tulle fabric functions not merely as a printing surface but as a visual language that reinforces themes of uncertainty, vulnerability, and the blurred boundaries between public interest and political authority.
The 3D animated video work “Sembilan Dedemit “/ Nine Demonds” (2026) offers a particularly striking and satirical image. A group of figures dressed in black suits and red ties stand with their heads concealed beneath anonymous cloth sacks. Each carries a chainsaw while inhabiting a bleak industrial landscape filled with factory smokestacks, industrial structures, felled timber, and an atmosphere saturated with pollution and destruction.
This work critiques the relationship between industrial capitalism and environmental devastation. The anonymous suited figures appear as representations of economic actors who exploit nature without accepting responsibility for the consequences. Their loss of identity suggests that the problem extends beyond individual actions, functioning instead as a collective mechanism embedded within larger systems.
Equally significant is the way these figures move. Rather than depicting realistic labor, the video transforms acts of destruction into a bizarre choreography or theatrical performance. Such imagery suggests that environmental devastation has become normalized—a routine spectacle accepted as part of everyday life.
Fatih Jagad Raya’s socio-political critique can therefore be understood as an attempt to expose realities often concealed by the language of power. Art becomes a space for remembrance, questioning, and resistance—a reminder that within a homeland celebrated for its beauty and abundance, many dedemit continue to live behind human faces.
Within contemporary art discourse, Fatih’s works demonstrate that social criticism need not be literal. Through dark atmospheres, symbolic figures, satirical texts, and visual metaphors, he creates emotionally charged experiences for viewers. We are invited to read these works not merely with our eyes but through our own social experiences of poverty, injustice, fear, and the absurdities of everyday politics.
Throughout the history of modern Indonesian art, artists have consistently maintained a close relationship with power structures and social conditions. From critiques of colonialism and revolutionary propaganda to responses to New Order repression and contemporary oligarchic systems, art has served as a vital space for remembering, questioning, and resisting. Within this tradition, socio-political critique is not simply a subject matter but a means through which artists sustain public consciousness—affirming that art can become a voice for the silenced, or a form of noise emerging from silence itself.
Through their works, Fatih and his generation seem to gaze directly into the darkness of Indonesia’s future. Dark Indonesia. ***
Metamorfosis Tanah Air No 1
Lenticular Print
70 x 50 cm
2026
Metamorfosis Tanah Air No 2
Lenticular Print
70 x 50 cm 2026
Metamorfosis Tanah Air No 3
Lenticular Print
70 x 50 cm 2026
Metamorfosis Tanah Air No 4
Lenticular Print
70 x 50 cm 2026
2026
Metamorfosis Tanah Air No 5
Lenticular Print
70 x 50 cm
Metamorfosis Tanah Air No 6
Lenticular Print
70 x 50 cm 2026
Metamorfosis Tanah Air No 7
Lenticular Print
70 x 50 cm 2026
Metamorfosis Tanah Air No 8
Lenticular Print
70 x 50 cm
2026
Metamorfosis Tanah Air No 9
Lenticular Print
70 x 50 cm 2026
Metamorfosis Tanah Air No 10
Lenticular Print
70 x 50 cm 2026
Print on
Hidangan Para Buta
Nusantara Yang Tertusuk 1
Mixed Media 200 x 120 cm
Nusantara Yang Tertusuk 2
Mixed Media 200 x 120 cm
Luka Yang Tidak Pernah Kering No : 1
Luka Yang Tidak Pernah Kering No : 2
Media
Luka Yang Tidak Pernah Kering No : 3
Dedemit
3D Animation
8:20 mnt. Looping 2026
Sembilan
Fatih Jagad Raya was born in Bandung in January 2000 and graduated in 2023 from the Department of Art Education, Faculty of Art and Design Education, Universitas Pendidikan Indonesia (FPSD UPI).
Education
2018-2023 -Bachelor Fine Art Education, Universitas Pendidikan Indonesia
Award
2026
1st Winner of 2nd Grey Art Award, Grey Art Gallery, Bandung
2024
30 Finalist Basoeki Abdullah Art Award #5, Galeri Nasional, Jakarta
1st Winner Tjoekoep Tjoekoep Tjoekoep, R.J Katamsi, Yogyakarta
Finalist of Gallery Choice Award, Grey Award Exhibition
2023
12 Finalist of ITB Light Festival Kinarya Immersive
2021
1st Winner of Visual Generasi 21, Malaysia
2020
1st place in Sralustration
Solo Exhibition 2026
Tanah Airku Banyak Dedemit, Orbital Dago, Bandung
Curator 2023
Singlarq Of Quisqilia, Kandang Kelompok Introvert, Bandung
Illustration
2026
Pistol, Kompas
2025
Kucing Tidak Memakan Rumput, Kompas
2024
Menonton Wayang, Kompas
Sepuluh Kejadian, Kompas
2023
Ra Tanca, Kompas
Exhibition
Solo Exhibition 2026
Tanah Airku Banyak Dedemit, Orbital Dago, Bandung
Group Exhibitions
Cultura Persib, Grey Art Gallery, Bandung
Art Moments, 2nd Grey Award, Agora, Jakarta
2nd Grey Art Award, Grey Art Gallery, Bandung
2025
Satu Tanah Seribu Ketangguhan, Bentara Budaya, Jakarta
Ngalanglayung: The Unrest Within, Hybridium, Bandung
Art & Bali, Ruang// Nuanu Creative City, Bali
Angkat, Grey Art Gallery, Bandung
Expanding Spectrum II, Fragment Project, Bandung
Senang Bersamamu, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung
Pararel Horizon, Gallery Teahouse, Bandung
2024
After-Hours Time Dilation, Tra-Travel, Osaka, Japan
Basoeki Abdullah Art Award #5, Galeri Nasional, Jakarta
Tjoekoep Tjoekoep Tjoekoep, R.J Katamsi, Yogyakarta
Re Bung 3, Gallery Teahouse, Bandung
Default, Gallery Pusat Kebudayaan, Bandung
Genosida, Gallery Pusat Kebudayaan, Bandung
JIVA Nouveau Voyage, IFI Wijaya, Jakarta
Merayakan Kebersamaan, Bentara Budaya, Jakarta
Grey Award Exhibition, Grey Art Gallery, Bandung
2023
Equivocal, Gallery Pusat Kebudayaan, Bandung
Titik Chaos “Purgatory”, Sinopsis Space, Cimahi
Self Potrait 2, Sanggar Olah Seni, Bandung
Temu NFT Jakarta, Ganara Art Space Plaza Indonesia, Jakarta
Sudut-Sudut Yang Berbeda, Gothe Institut, Bandung
2022
Bandung Lautan Art, Gallery Pusat Kebudayaan, Bandung
Dendang Calon Guru, Taman Budaya, Yogyakarta
Indo NFT Festiverse, R.J Katamsi, Yogyakarta
2021
Bias, Gallery Teahouse, Bandung
Visual Generasi 21, Virtual Exhibition, Malaysia
ASEAN Digital Arts Association (ASEDAS), Virtual Exhibition, Indonesia
Homeostasis Lab, Virtual Exhibition, Brazil
ITS EXPO 2021, Virtual Art Exhibition, Indonesia
Genesis – The Holy Art, Virtual Exhibition, UK
Hyper Genetics Vol 2, House of Invaders, Kuningan
Spring Open, The Absent Gallery’s Second, Virtual Exhibition, UK
FINDER3, Virtual Exhibition, Indonesia
Belantara, Virtual Exhibition, Indonesia
DKVEST2, Virtual Exhibition, Indonesia
Meum phantasia, Virtual Exhibition, Indoensia
Kolase Suka Mu, Ruang Gulma, Yogyakarta
Intersection, Virtual Exhibition
2019
Restless, Gallery Pusat Kebudayaan, Bandung
Seniman Ngahiji, Gallery Pusat Kebudayaan, Bandung