Skip to main content

E_Katalog_BizzareLadies

Page 1


Solo Exhibition Ikie Morphacio

25 Februari – 29 Maret

Ikie Morphacio Solo Exhibition

Kuratorial

Pameran Tunggal Ikie Morphacio berjudul Bizzare Ladies menampilkan karya yang terdiri dari gambar – gambar dan rangkaian instalasi patung dada atau tubuh sosok-sosok perempuan berpakaian aneh, dengan garapan aksesorisnya : mahkota , kalung hingga gaun atau kostum dengan beragam ornamen. Sekilas instalasi patung itu seperti dipengaruhi oleh gaya gothic dan juga memiliki elemen baroque Eropa, bahkan bisa dibilang merupakan perpaduan keduanya. Seperti kemunculan bentuk menara runcing, arsitektur katedral dengan nuansa gelap, misterius, dan monumental. Detail seperti reruntuhan kota, tekstur organik menyerupai akar pohon yang membelit bangunan dengan siluet dramatis dan kontras cahaya yang kuat.

Gothic biasanya identik dengan kesan spiritual, megah, dan sedikit “ dark romantic ” — itu sangat terasa di beberapa mahkota yang menyerupai bentuk katedral mini. Sedangkan elemen baroque juga cukup dominan, terutama pada ornamen yang rumit dan dekoratif, detail ukiran maupun gambar floral yang kompleks, komposisi yang dramatis dan teatrikal. Penggunaan warna-emas dan metalik yang mewah yang cenderung festive : penuh kemeriahan dan gemerlap.

Ikie terinspirasi gaya visual ini melalui dunia game terutama Final Fantasy yang kemudian mendorongnya mengekplorasi lebih jauh dalam menggabungkan dunia fashion, wearable art dan lukisan tubuh dengan gaya fantasi yang menembus batasan formal maupun budaya. Sepintas nuansa karya-karyanya yang cenderung gelap mengingatkan juga kepada karya sinematografer Tim Burton yang menciptakan film – film aneh seperti Edward Scissorhands (1990) atau The Nightmare Before Christmas (1993).

Walaupun ia berlatar pendidikan seni lukis, namun Ikie lebih tertarik mendalami body painting, baik untuk kebutuhan pemotretan berbagai acara seni kostum ( cosplay ), dan kemudian banyak mengeksplorasi dunia fashion untuk acara-acara yang bersifat festival, karnaval, performative atau fashion fantasi yang tidak umum. Ikie mengemukakan bahwa ketika proses melukis ditubuh perempuan tersebut sering muncul dialog-dialog yang bersifat personal dan tak terduga, sehingga menyelami sisi-sisi lain dari para model perempuannya.

Maka bagi Ikie pameran Bizarre Ladies adalah sebuah perjalanan visual dan spiritual - sejak kurang lebih satu dekade - yang merefleksikan perempuan sebagai entitas multidimensi luka, cinta, keindahan, dan kekuatan menyatu dalam satu tubuh yang tak pernah habis ditafsirkan.

Sosok perempuan hadir tidak secara literal, melainkan dalam bentuk-bentuk fantasy fashion , dark beauty , dan simbolisme visual yang ganjil namun penuh makna. Setiap karya adalah catatan visual dari percakapan, pengalaman, dan perenungan tentang bagaimana perempuan bertahan, menyembuhkan, dan mencipta ditengah dunia yang sering tak ramah padanya. Maka Bizzare Ladies bisa menjadi suatu penghargaan yang khusus untuk kaum perempuan, dimana Ikie sering melibatkan mereka dalam karya-karyanya.

Karya-karya tiga dimensionalnya banyak menggunakan elemen-elemen yang tajam , runcing, seperti busur dan anak panah, tanduk dan lain sebagainya. Walaupun muncul bentuk feminin seperti bunga mawar tetapi tampak cenderung keras karena material dan penerapan warna-warnanya. Selain menggunakan gaya fantasi dari Gothic maupun Baroque, beberapa patungnya juga menggunakan elemen yang berasal dari budaya Nusantara seperti motif hiasan megamendung atau juga mahkota atau hiasan kepala bergaya pakaian adat Sumatera.

Melalui rangkaian karya-karya gambarnya menunjukan tubuh-tubuh perempuan dari dunia lain yang bermetamorfosa menjadi bagian dari alam atau fauna. Digambarkan tubuh itu menjadi akar pohon yang saling terjalin, menancapkannya ke bumi, sementara bagian atas tubuhnya mekar menjadi kelopak, daun, dan pelepah emas. Atau sebagian separuh menjadi burung merak dan lain sebagainya, menjadi mahluk hibrida, bahkan menjadi mahluk-mahluk mitologi, seperti mengingatkan pada dunia kartun, avatar dalam citra dari dunia gaming . Gambar-gambar tersebut cenderung seperti lazimnya sketsa pembuatan fashion, kostum atau aksesoris. Beberapa memang dibuat untuk karya “Arunika” dan “Ibu Pertiwi”, tapi sebagian besar menjadi ungkapan imajinasi yang bebas.

Ikie mengungkapkan bahwa ia banyak terinspirasi dari kisah nyata yang ia dengar, alami, dan rasakan, kisah tentang penderitaan yang membentuk karakter, tentang perilaku yang dianggap “aneh” oleh masyarakat padahal merupakan bentuk perlindungan diri, dan tentang keberanian untuk tetap hidup dalam keunikan. “Bizarre” dalam konteks ini bukan cela, melainkan penghormatan terhadap kompleksitas dan kekuatan batin perempuan. Setiap bentuk runcing, gelap, atau simbolik dalam karya menggambarkan sisi spiritual dan reflektif dari identitas perempuan itu sendiri.

Media seperti aksesori, kostum, hingga artwear , bagi Ikie bukan hanya benda estetis, mereka adalah “tubuh kedua” yang memungkinkan pengalaman fisik dan emosional bagi pemakainya. Dalam bentuk performance, dokumentasi foto, maupun instalasi, karya-karya ini mengajak apresiator masuk ke dalam ruang yang ganjil namun manusiawi, mengajak berdialog, merasakan, dan barangkali menemukan kembali bagian dari dirinya sendiri yang pernah disangkal.

Praktek artistik Ikie Morphacio menempati wilayah hibrid antara seni rupa, fashion art, dan performativitas tubuh. Karyanya tidak dapat dibaca semata sebagai desain kostum, melainkan sebagai wearable sculpture —objek visual yang memperoleh makna utuh ketika dikenakan dan diaktifkan oleh tubuh. Dalam konteks seni rupa kontemporer Indonesia yang semakin lintas disiplin, pendekatan ini memperluas batas antara objek, tubuh, dan ruang pertunjukan.

Sejak awal 2000-an, seni kontemporer Indonesia menunjukkan kecenderungan kuat pada praktik berbasis tubuh dan ekspansi medium. Namun berbeda dari kecenderungan tubuh sebagai arena kritik sosial atau politik, Ikie memposisikan tubuh sebagai lansekap simbolik dan ekologis. Figur-figur dalam karyanya bertransformasi menjadi entitas hibrid—setengah manusia, setengah flora ; mitologis sekaligus kosmologis. Tubuh tidak lagi sekadar representasi identitas, melainkan ekosistem visual yang menyatukan akar, bunga, struktur organik, dan ornamen monumental.

Secara material, praktek Ikie memanfaatkan teknik campuran—foam, resin, akrilik, struktur engineering kostum—yang menempatkannya dalam spektrum perluasan patung atau expanded sculpture Di sini, fashion tidak berfungsi sebagai komoditas, tetapi sebagai medium konseptual. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan - seperti diungkapkan Rosalind Krauss - sebagai perluasan medan seni (expanded field, 1979) yang mengaburkan batas disiplin tradisional patung, instalasi, dan performans.

Dalam dimensi performatif, karya Ikie dapat dibaca melalui kacamata teori performativitas tubuh Judith Butler (1990), di mana identitas dibentuk

melalui tindakan dan representasi yang berulang. Tubuh yang mengenakan karya Ikie tidak sekadar mempresentasikan karakter, tetapi memproduksi makna melalui kehadiran visualnya. Ia menjadi situs konstruksi narasi: dewi, penjaga alam, figur kosmik.

Di sisi lain, praktik ini juga bersinggungan dengan konsep “relational aesthetics” Nicolas Bourriaud (2002) dalam hal bagaimana karya beroperasi dalam jejaring sosial dan sirkulasi global—terutama melalui panggung internasional dan distribusi citra digital. Representasi budaya Indonesia yang dihadirkan tidak bersifat dokumentatif, melainkan terstilasi, teatrikal, dan monumental—sebuah negosiasi antara identitas lokal dan bahasa visual global.

Spektakel visual yang dihasilkan tidak sekadar dekoratif; ia memanggil arketipe dan spiritualitas visual. Dalam konteks ini, Ikie menandai pergeseran penting dalam seni rupa kontemporer Indonesia: bahwa praktik artistik tidak lagi terbatas pada ruang-ruang galeri, melainkan hidup melalui tubuh, panggung, dan citra yang beredar dalam lansekap media. Dengan demikian, posisi Ikie Morphacio berada pada wilayah periferal institusional namun signifikan secara konseptual—sebagai bagian dari generasi praktik hibrid yang memperluas definisi seni rupa melalui fashion, performativitas, dan mitologi visual kontemporer.

Rifky “Goro” Effendy

Ikie dengan nama lengkap Hendra Suryadi, adalah seorang visual artist multidisipliner yang lahir dan berdomisili di Bandung, 1980. Lulus dari jurusan Seni Lukis FSRD-ITB, ia memulai langkah profesionalnya di dunia seni dan fashion sejak tahun 2007, dan membuka usahanya yang dikenal dengan nama MORPHACIO BODYART. Ikie dikenal dengan pendekatan estetikanya yang khas: menggabungkan nuansa fantasy, dark beauty, dan unsur mitologis untuk menciptakan genre yang ia sebut sebagai fantasy fashion.

Sering terlibat dalam berbagai acara cosplay atau seni wearable walaupun tidak untuk digunakan sehari-hari. Morphacio Body Art telah menciptakan karya kostum dan fashion art untuk ajang internasional, termasuk kostum nasional yang dipakai Laksmi De Neefe di Miss Universe 2022. Dalam proyek tersebut, ia bekerjasama dengan sang istri, Ayrin dan tim kreatif dalam merancang dan membuat kostum dengan teknik mix media seperti acrylic, laser cutting, serta struktur engineering untuk efek dramatis. Ikie juga menggunakan teknologi 3D printing sebagai bagian dari eksplorasi seni dan fashion inovatif melalui proyek Phantasia Project bersama pihak lain, menggabungkan seni, aksesori wearable art, dan teknologi produksi modern.

Pengalaman :

Collaboration show with DIBBA at Thailand Fashion Week Autumn Winter, Thailand, 2025.

Artwear Contributor in “SUPER DIVA” Concert,GBK Jakarta, 2025.

Traditional Costume maker for Puteri Indonesia DIY “Enchantment of Mount Merapi”, Jakarta, 2025.

Collaboration show with Mayaratih Couture at Jakarta Fashion Week, 2024.

Collaboration show with MORAL “Episode” at Jakarta Fashion Week, 2024.

Collaboration show with Mayaratih Couture “The Sun, The Sea, and The Wind” at Jember Fashion Carnaval, Jember 2024.

Collaboration show with DIBBA “Silk Road” in Plaza Indonesia Fashion Week, 2024.

Artwear Contributor in “Sayap-sayap Cinta” music video by Titi DJ, Jakarta, 2023.

Collaboration with Astragraphia 3D Printing and Gunatek “Memento Mori” and “Frost Antler”, Bandung, 2023.

Traditional Costume maker for Puteri Indonesia DKI Jakarta “Kembang Betawi”, Jakarta 2023.

National Costume maker for Miss Universe Indonesia “ The Glory of Phinisi”, USA 2022.

Traditional Costume maker for Miss Mongolia “ The Legacy of Garid” in Miss Grand International, Bali, 2022.

National Costume maker for Miss Universe Indonesia “Sang Wanita”, USA 2019.

Inspiring People at MLDSPOT NET TV, 2018.

As a guest star at Tonight Show, NET TV, 2018.

As a guest star at “Pagi-pagi” with Andre Taulany and Sule, NET TV, 2018.

Best National Costume in Miss Grand International “Ibu Pertiwi”, Vietnam 2017.

Jewelry Show “Garden of Eden” with YT UTAMA PUTRA in JCC Jakarta, 2017.

Top 3 Best Traditional Costume “Pusako Ratu” in Putri Indonesia 2017.

Jewelry Show “Dancing Stone World Event” with YT UTAMA PUTRA in HKCEC Hongkong, 2017.

Collaboration with Meggie Hadiyanto at New York Couture Fashion Week, Crowne Plaza Times Square Manhattan, 2017.

Accessories show in Martell Gala Dinner “Be Curious”, The 18th Trans Hotel, Bandung 2017.

Wedding gown and accessories show “Infinite Wedding 2017” in collaboration with The House of Luxury, JW Marriot Hotel, Jakarta 2017.

Jewelry Show “La Reine des Cygnes” with YT UTAMA PUTRA, Shangri-La Hotel, Surabaya 2016.

Collaboration show with Imelda Kartini “Silent Poetry”, Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, 2016.

“Alkisah” project in collaboration with Rio Motret, 2015.

Commercial project for L.A. LIGHTS 2014.

Body Painting for Born Bali organized by FACTOR 168 Creative Event Company, Potato Head Bali, 2012.

As Guest Star “Indonesia Morning Show” NET TV, Jakarta, 2012.

Collaboration show with Tex Saverio “Dewi Fashion Nights” Pacific Place, Jakarta, 2011.

Fashion Parade “THE ICONS” with L.T.Pro Cosmetiques and Top 26 Make Up Artist, Mulia Hotel, Senayan, Jakarta, 2010.

Collaboration Show with Sally Koeswanto & Gusnaldi in “BAZAAR FASHION CONCERTO 2010-FASHIONTECH”, JCC, Jakarta, 2010.

Body Painting Show ”WonderARTland” Mastercard Event, organized by Fame 74, ONFIVE, Grand Hyatt, Jakarta, 2010.

3 Dimensional Works

35 cm x 40 cm x 80 cm

PLA, eva foam, stainless steel wires, plastic polymer, resin, rhinestones 2020

“Akuma”

35 cm x 40 cm x 80 cm

“Merapi”
“ Arunika “ stainless steel wires, plastic polymer, acrylic, rhinestones
69 x 48 x 27cm

“Ibu Pertiwi”

200 cm x 200 cm x 200 cm fabric, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam, rhinestones 2017

“Ibu Pertiwi” (dari Belakang)

200 cm x 200 cm x 200 cm

fabric, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam, rhinestones 2017

Pertiwi” (Detailed)

200 cm x 200 cm x 200 cm fabric, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam, rhinestones

“Ibu
“Le Grande Celestia”
75 cm x 45 cm x 95 cm
PLA, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam, resin
“ Memento Mori”
60 cm x 50 cm x 130 cm
PLA, plastic polymer, stainless steel wires 2023

75 cm x 75 cm x 100 cm

printed fabric, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam 2019

“Sang Wanita”

“Sang Wanita”

75 cm x 75 cm x 100 cm

printed fabric, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam 2019

“Sang Wanita” (detailed)

75 cm x 75 cm x 100 cm printed fabric, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam 2019

“Sang Wanita” (detailed)

75 cm x 75 cm x 100 cm printed fabric, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam

75 cm x 75 cm x 100 cm

printed fabric, stainless steel wires, acrylic, plastic polymer, eva foam 2019

“Sang Wanita” (Bagian kepala / mahkota)

“Trident of Harmony”

87 x 13 x 5 cm

Acrylic, plastic polymer, PVC, rhinestones 2022

“The Tears of Wisdom” 113 x 30 x 5 cm
Acrylic, plastic polimer, PVC, rhinestones
“Whisper of Freedom” 58 x 58 x 8 cm
goose feather, plastic polymer, PVC, rhinestones

52 x 39 x 21 cm

plastic polymer, PLA,

stainless steel wire, rhinestones

2021

“Unicorn”
“Lysandra Darkrose”
75 X 57 x 37 cm Resin, polymer plastic, PLA, stainless steel wire. 2025

2 Dimensional Works

“ Maharani ”
“ Ode to Motherland ”
“ The Lover of Messiah ” Mixed Media on A3 paper 2022

A Flower and Hope for The Wise

“A
Flower and Hope for The Wise One
Mixed Media on A4 paper
“ A Flower for Freddie ” Mixed Media on
“ A Prayer for a Wounded Heart
“ Alter Ego ” Mixed Media on
“ Angel’s Tears on Friday”
“ Belaian Nurani
“ Conquering Hysteria
“ Deconstructing Venus” Mixed Media
“ Decostructing
“ Dialog Diri”
Media on A4 paper
“ Dialogue of Hope ” Mixed Media on A4
“ Dialogue of
“ Dolled Up ”
“ Dress of Torture ” Mixed Media
“ Endure The Memories

“ First Step ” Mixed Media on A4 paper

“ Forever Young Forever Old
“ Inner Voice
“ Lonely Princess ” Mixed Media on

Mixed Media on A4 paper

“ Lonely Queen ”
“ Metamorph of Hope ” Mixed Media on A4 paper
“ Moon, Tears, and Waterlilies ” Mixed Media on
“ Overload Pink ” Mixed Media on
“ Pain Shapes Glory ” Mixed Media on A4 paper 2022
“ Penantian Sebuah Janji ” Mixed Media on A4

“ See The Unseen

“ Selaras Sukma ”
“ Self Healing ”
“ Stung by Her Lust
“ Tamed ” Mixed Media on A4 paper
“ The Dagger ” Mixed Media on A4 paper
“ The Daughter of Arunika ”
“The Girl’s Fantasy ” Mixed Media on A4 paper
“The
“ The Serpent Princess
“The World with Her Pride ” Mixed Media on A4 paper 2020
“ The XIII and The Butterfly
Mixed Media
“ Unspeakable ”
Media on A4 paper

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
E_Katalog_BizzareLadies by Orbital Dago - Issuu