AUM DI TENGAH REALITAS HYBRID
ISaya berkunjung ke Bali baru tiga kali. Kunjungan terakhir pada awal Februari 2026 ke studio Adi Candra di daerah Banjar Silakarang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, merupakan kunjungan khusus berkaitan dengan pameran ini sehingga cara pandang saya disiapkan untuk memahami budaya Bali melalui perbincangan dan blusukan ke kampung-kampungnya. Pada kunjungan itu saya mungkin bekerja seperti seorang antropolog yang serba ingin tahu. Saya tidak bisa menafikan sudut pandang eksotik melihat budaya bali ini. Sementara dua kunjungan sebelumnya bertahun silam, melulu hanya karena pekerjaan lain tanpa intensi untuk mengenali Bali, dengan rute bandara-hoteltempat kerja-bandara. Dalam kunjungan karena pekerjaan itu Bali hanya saya kenali melalui infrastruktur kota modern yang tidak jauh berbeda dengan kota-kota lainnya. Oleh karenanya, saya harus akui bahwa sesungguhnya saya tidak cukup mengenal Bali dengan baik. Pengetahuan saya tentang budaya Bali, khususnya tentang keseni rupaannya merupakan serpihan-serpihan informasi yang saya peroleh dari buku sejarah dan internet. Seperti sebuah tatapan dari jauh yang tidak akan melihat lekuk kerut wajah pegunungan. Tatapan yang sangat mungkin bias.
Pada kunjungan ke studio Adi Candra itu, saya sengaja naik motor agar saya bisa leluasa blusukan dan berhenti dimanapun ketika ada sesuatu yang menarik untuk diketahui. Perjalanan dari pelabuhan Gilimanuk sampai Gianyar, pandangan saya berulang kali tertambat pada beragam tampakan bentuk dan simbol yang –saya kira- berhubungan dengan ritus-ritus Bali. Pahatan dua naga dari kanan kiri jalan yang kepalanya bertemu diatas jalan di tengah hutan, membuat saya berhenti untuk memperhatikan. Suasana sore yang sepi, tubuh naga yang sudah lumutan, membuat saya merasakan aura mistis. Demikian pula sesaji-sesaji yang di tempatkan pada sanggah di gerbang rumah, batas desa, perempatan jalan, pohon besar atau pinggir sungai. Semua sesembahan itu dibuat dengan apik, penuh ornamen dan simol-simbol sakral. “Semua tempat ada penghuni yang menjaga, dan kita harus menghormatinya”, ujar Adi Candra dalam obrolan pagi pada hari berikutnya.

Ketut Adi Candra (lahir 1973) adalah seorang pelukis dan pemangku (jero mangku) adat di lingkungan Banjar Silakarang, Singapadu, kec. Sukawati, Gianyar, Bali. Menamatkan pendidikan di ISI Denpasar jurusan Seni lukis pada tahun 1998, Adi Candra menjalani profesi sebagai pelukis di dalam kehidupan masyarakat kontemporer Bali dimana tradisi, kapitalisme, dan modernitas berlangsung serentak, cair, dan dinamis. Keserentakan yang kerap menimbulkan ketegangan tata nilai yang dipegang secara individual maupun kolektif di dalam realitas hybrid.
Sebelum menjadi jero mangku hingga tahun 2017, Adi Candra mengakui hidupnya berantakan, mudah-marah, dan pesakitan. Ia tidak mau menjalankan karma sebagai jero mangku, ia menjalani hidup sebagai manusia bebas. Hingga akhirnya dia merasa lebih tertata dan nyaman setelah ia menerima karma sebagai jero mangku. Pada jalan karma itu, ia sebut sebagai jalan kebahagiaan hidup. Kisah ini bisa dibaca sebagai bentuk ketegangan nilai pada individu yang dilanda keserentakan tadi.
III
“Aum” atau “Om” adalah resonansi kosmik, sering dilantunkan sebagai awal dan akhir mantra atau doa dalam Weda, dianggap sebagai getaran suci yang menghubungkan manusia dengan yang ilahi. Dalam agama Hindu Aum adalah suku kata suci, mantra tertinggi, dan suara kosmis primordial yang melambangkan Brahman (realitas tertinggi/Tuhan). Ini mewakili esensi alam semesta, meliputi masa lalu, kini, dan masa depan. Bunyi A-U-M melambangkan Trimurti yaitu Brahma (penciptaan), Wisnu (pemeliharaan), dan Siwa (penghancuran).
Ketika saya mengajukan “Aum” sebagai judul pameran ini, Adi Candra sempat menolak karena kesuciannya. Saya jadi teringat pada pandangan masyarakat adat Baduy yang akan mengatakan teu wasa (sunda Baduy: tidak sanggup) untuk menyebutkan Dia Yang Maha Suci. Kesucian yang tabu diucapkan, eksistensi lain yang tak bisa dirumuskan.
Judul AUM akhirnya digunakan karena menimbang pada karya-karya Adi Candra itu sendiri. Bagi Adi Candra, melukis bukan hanya melaburkan cat di kanvas. Sebagai pemeluk Tantra, melukis dipandang sebagai perpaduan antara Laku Dharma (Sakral) dan Laku Profesi (Profan). Melukis adalah sebuah yadnya atau persembahan. Proses pembuatannya sering
dalam sebuah paket pariwisata. Antara “yang sakral” dan “yang profan” berjalan beriringan atau saling berkelindan. Masyarakat Bali tahu kapan kesakralan itu diperlakukan dan kapan ia menjadi profan.
Secara visual, lukisan Adi Candra mem -
disertai dengan doa, dan niat suci (bhava). Seniman menempatkan dirinya sebagai saluran atau perantara bagi energi kreatif Tuhan (Sang Hyang Widhi). Pada karya berjudul “Energi Tantra” misalnya, Adi Candra menganggap lukisan itu merupakan manifestasi dari energi Tantra. Sesuatu yang sakral bocor/dibocorkan kedalam yang profan. Mircea Eliade salah seorang filusuf agama menyebutnya sebagai hierophany , secara harfiah memiliki arti arti penampakan yang sakral.
Fenomena hierophany ini mewakili fenomena umum budaya Bali kontemporer. Tarian pendet yang sakral bisa saja kita saksikan di hotel berbintang
perlihatkan gaya visual yang mendapat pengaruh teknik melukis modern yang ia pelajari di akademi. Sapuan liar, tekstur, semburat warna, mengahasilkan lukisan abstrak. Namun di antara sapuan-sapuan tersebut, ia menyelipkan simbol-simbol sakral Bali, seperti rerajahan, ornamen sesembahan dan sejenisnya. Simbol simbol itu nyaris samar tersembunyi diantara sapuan- sapuan liarnya. Seperti sesuatu yang maya dan transenden.
Simbol sakral itu digunakan secara langsung pada kerya-karya drawing dan pada karya instalasi berjudul “Purification of Body,Mind and Soul “ . Pada karya drawing, rerajahan dan simbol simbol suci yang biasa disertakan pada sesaji atau ditempatkan pada ruang tertentu tampil utuh. Sebagai jero mangku, Adi Candra tentu paham batas-batas kesakralannya ketika tampil sebagai karya profan.
Sementara itu pada karya instalasi, memperlihatkan pandangan kosmologis Bali . Adi Candra menampilkan bentuk tiga dimensi bernama Guwungan Sudamala yang digantung melayang. Dibawahnya terdapat gambar kura-kura yang diapit dua naga yang disebut Bedawang Nala. Guwungan Sudamala dalam upacara Manusa Yadnya (seperti otonan, nelu bulanin, atau matebus) adalah sangkar ayam tradisional Bali yang melambangkan proses ruwatan atau pembersihan diri secara spiritual. Alat ini disimbolkan sebagai tempat pengekang pengaruh buruk (sad ripu) serta menjadi sim -
“Purification of body,mind and soul “ , 65 cm x 110 cm, mixed media, 2026
bol perlindungan dan pembersihan dari kotoran batin maupun fisik yang melekat pada diri manusia sejak lahir. Bedawang Nala (kura-kura raksasa) memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Sementara Bedawang Nala digambarkan sebagai kura-kura raksasa yang dililit oleh dua ekor naga, yaitu Naga Basuki dan Naga Anantabhoga, yang berfungsi menopang dunia di atas punggung dan tempurungnya.
Bedawang Nala dalam konteks upacara Manusa Yadnya memiliki makna filosofis:
1. Simbol Penopang Kehidupan dan Stabilitas
Bedawang Nala melambangkan fondasi dasar alam semesta dan kekuatan kosmis yang menopang dunia manusia. Dalam pelaksanaan upacara, simbol ini mewakili doa agar bayi atau manusia yang diupacarakan memiliki kehidupan yang kokoh, mantap, stabil, dan selalu seimbang dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
2. Perwujudan Bumi dan Alam Semesta (Makrokosmos)
Bedawang menggambarkan dasar bumi tempat kehidupan berlangsung. Dalam upacara kehamilan seperti Menggedong-gedongan, rahim ibu diibaratkan sebagai bumi atau dunia kecil (mikrokosmos). Simbol ini membawa harapan agar sang janin dapat bertumbuh dengan kuat, aman, dan sehat di dalam kandungan layaknya kehidupan yang subur di atas bumi.
3. Keseimbangan Unsur Alam
Secara filosofis, Bedawang Nala melambangkan unsur Api (magma) di perut bumi, sementara Naga Basuki melambangkan unsur Air dan Naga Anantabhoga melambangkan unsur Tanah. Gabungan ini mengajarkan bahwa manusia harus mampu menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara unsur-unsur alam tersebut agar terhindar dari bencana, penyakit, serta ketidakseimbangan dalam diri.
4. Pelindung dari Kekuatan Negatif
Naga yang melilit tubuh Bedawang disimbolkan sebagai penjaga yang menahan agar kura-kura tersebut tidak bergerak liar yang dapat menyebabkan gempa atau kerusakan dunia. Dalam konteks ritual, ini bermakna sebagai permohonan perlindungan (pangastuti) agar manusia terhindar dari mara bahaya, gangguan
energi negatif, serta segala hal yang dapat merusak keselamatan hidup.
Secara keseluruhan, penggunaan simbol Bedawang Nala dalam Manusa Yadnya merupakan wujud penghormatan manusia terhadap alam semesta. Pada titik ini, proses dan karya Adi Candra nampak berkelindan antara yang sakral dan yang profan, antara keindahan, fungsi, dan makna sekaligus.
Pameran ini menyajikan 3 komponen karya yang terdiri dari lukisan, ornamen dan simbol yang biasa digunakan pada upacara ritus dalam bentuk gambar, dan sanggah (tempat sesaji), untuk memperlihatkan hubungan antara tradisi, dan spiritualitas Bali dengan kekaryaan Adi Candra. Selamat berapresiasi.
Kurator
Bambang Subarnas.
Fb & IG : @bung barnaz
145 x 145 cm
Abstraction
45 x 45 cm mix
Bali Mystic
135 x 135 cm
mix media on canvas
2026
Dinamika Ruang Suci
200 x 150 cm
mix media on canvas
2026
Energy of Tantra
45 x 45 cm
mix media on canvas
2026
Energy Sakral
120 x 120 cm
45 x 45 cm
mix media on canvas
2026
Gelombang Merah
45
mix media on canvas
2026
Irama Alam
x 45 cm
135 x 135 cm
mix media on canvas
2026
Ornamen Persembahan Suci
200 x 145 cm
Mix Media On Canvas
2025
Persembahan Pada Semesta
90 x 90 cm
Mix Media On Canvas
2026
Purification Soul
45 x 45 cm
Mix Media On Canvas
2026
Persembahan
45 x 45 cm
The Power of Bali
135 x 135 cm
Mix Media On Canvas
Balinese Unity
Mix Media On Canvas 2026
Kelahiran
D. 120 cm
Offering of Mother Land
D. 120 cm
Mix Media On Canvas 2026
Purification of body,mind and soul.
65 cm x 110 cm
mixed media (3 dimensi) 2026
Suku Tunggal (Simbol Tubuh Manusia dalam Upacara Ngaben Bali), 2026
Jenis Rerajahan (Caligraphy Bali ) tinta,pensil diatas kertas dan tikar daun pandan, 2026
Sanggah Cucuk " Sarana Upacara Pembersihan ibu Pertiwi" di Bali
Sanggah Penjor sbg Lambang Kepala Naga untuk Upacara di Bali
Pengalaman Pameran
Solo Exhibitions
2000:
Solo Exhibition 1: “Image” at Satria Restaurant, Tohpati, Denpasar.
2001-2002:
Solo Exhibition 2: “Image” at Moder’ne Kunts Import Gallery, Denmark.
2003:
Solo Exhibition 3 at Genta Gallery, Lodtunduh, Ubud, Bali.
2008:
Solo Exhibition 4 at Trees Monkey Restaurant, Monkey Forest, Ubud, Bali.
2014:
Solo Exhibition 5: “Spirit of Legacy” at Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta.
2015:
Solo Exhibition 6: “Communication in Silence” at Shankara Art Space, Sanur, Bali.
2023:
Solo Exhibition 7: “TANTRA” at Balai Budaya, Central Jakarta.
Solo Exhibition 8: “SANGKALA” at NW Art Space, Yogyakarta.
2024:
Solo Exhibition 9: “HARMONY” at TAN Art Space, Semarang.
2025:
Solo Exhibition 10: “THE AWAKENING” at Biji Art Space, Mas, Ubud, Bali.
2025:
Solo Exhibition 11: “CANDRA TANTRA” Live Space, Jogja Gallery, Yogyakarta.
Group Exhibitions
1993/1994:
27th Anniversary of Indonesia Art College, Denpasar, Bali.
National Student Art Week, STSI Denpasar, Bali.
Grand Opening Exhibition at Ayung River Walk, Padang Galak, Sanur, Bali.
Group Exhibition at Sidik Jari Museum, Denpasar, Bali. “SENI MASA KINI” Exhibition at STSI Denpasar.
1995:
Group Exhibition Gelis at SADIA Art Studio, Ubud, Bali.
2nd Anniversary Exhibition of KAMASRA (The Association of Visual Art Students), Denpasar, Bali.
3rd National Art Week, Jakarta.
1997:
STSI Fine Arts Students’ Exhibition at Taman Budaya, Art Centre, Bali. 30th Anniversary of Indonesia Art College, Denpasar, Bali. Painting Students’ Exhibition at Armada Tour, Kuta, Bali.
Group Exhibition at Bali Clig Resort, Jimbaran, Bali.
1998:
Art Student Exchange Exhibition in Canberra and Sydney, Australia. Indonesian Young Painters Exhibition and Competition, Jakarta.
Bali Artists Parade at Bali Hyatt Hotel, Sanur, Bali.
“Refleksi Seni 98” at Darga Gallery, Sanur, Bali.
Finalist Exhibition for the Philip Morris Art Award at the National Gallery, Jakarta.
1999:
Indonesian Art Festival, Yogyakarta.
Millennium Group Exhibition with Sanggar Dewata Indonesia at Arma Museum and Rudana Museum, Ubud, Bali.
2014:
Orat-Oret Community Exhibition at Merak Gallery, Semarang.
“Bali Color in Harmony” at Six Point, Sanur, Bali.
2015:
“SAMA SAMA” Indonesia-Malaysia-Philippines Art Exchange Project at Bentara Budaya, Bali.
“The Sense” at Santrian Gallery, Sanur, Bali.
“SOULSCAPE in Progress 3” at Bentara Budaya, Bali.
Group Exhibition at Taman Budaya, Yogyakarta.
2016:
“R3 (Rupa KU, Rupa MU, Rupa INDONESIA)” at House of Sampoerna, Surabaya.
Group Exhibition at Alila Gallery, Hotel Alila, Payangan, Ubud, Bali.
“MILITANT for HAPPINESS” at CLC Education, Kerobokan, Kuta, Denpasar, Bali.
2017:
Group Exhibition at Ratna Warta Museum, Ubud, Bali.
JOGJAKART Group Exhibition at Bebek Pelengkung, Bantul, Yogyakarta.
Orat-Oret Group Exhibition at Merak Gallery, Kota Lama, Semarang.
2018:
“Klacq Son” Intercity Art Exhibition at Raintree Boutique, Villa & Gallery, Yogyakarta.
“Pori Art Pori”, a duo exhibition at Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta.
2019:
Group Exhibition at Luv8 Hotel, Kuta, Bali.
“SOUL: Never Born, Never Died” at Balai Budaya, Jakarta.
“Kunci Emas” at INDIGO Art Space, Madiun, East Java.
2021:
Virtual Art Exhibition Opening.
“Merajut Rasa Menilik Rupa”, in collaboration with Dekranasda Bali, held at Gedung Ksirarnawa, in partnership with BaliMall.com and Bank BPD Bali.
Indonesia Art Expo 2021, L Project, Open Studio.
2022:
“Life is Beautiful”, PERUJA Gallery, Kebayoran Lama, Jakarta.
“Creative Freedom to Heal the Nation 2”, National Library, Central Jakarta. Art Moment Jakarta, in collaboration with The Art People Gallery, Malaysia.
“DILENEATION” Exhibition at Park 23 Creative Hub, Tuban, Kuta.
2023:
“Spirit of the Soul” at World of Art, Kemang, South Jakarta.
2024:
“PEACEPTIONS UNLEASHED”, an Indonesia-Philippines exhibition at Museum
Pasifika, Nusa Dua, Bali.
“UUK DIY 2024,Commemorative Art Exhibition: “MARWAH KEISTIMEWAAN”, at Sonobudoyo Museum, Yogyakarta.
“SEMARA LOKA”, at Batu 8 Studio, Batubulan.