Skip to main content

RAHASIA MENEMUKAN CINTA VOL 1

Page 1

a i s a h Raenemukan M a t n Ci

Vol. 1


Hari ini adalah kiamat tanpa hujan meteor. Satu lapangan, ratusan manusia, matahari yang mulai berani menggandakan marah. Keacuhan pada kibaran bendera merah putih kemudian disusul pengunguman pemenang lomba puisi bulanan. Segelintir orang menganggapnya sebagai ‘Senin Keramat’, kurasa karena saking membosankannya. Entahlah, masih baru aku bertempat. Lima orang anak kelas sebelas bersorak, yakin nama jagoan mereka akan disebut namanya.

"Cinta, Cinta, Cinta!” Perempuan yang tersenyum malu-malu itu sudah jelas jadi pemilik nama. Pak Ali membuka kertas, memicingkan mata, sebut jawaban tak sesuai harapan semua orang, termasuk saya.

“Rangga Yusrizal.” Maaf. Saya benci ketika nama itu disebut. Bukan karena di dalamnya menggendong nama Bapak. Tapi ketika kudengar nama itu sekali lagi. Aku merasakan nama itu bercabang, menusuk, mengoyak perasaan dan memori akan perempuan yang mebubuhkan nama itu padaku. Rangga berarti tanduk yang tajam, persis seperti diriku. Namun pagi ini aku kalah tajam dengan tatapan perempuan yang gagal disebutkan namanya. Senin telah mendeklarasikan bahwa Rangga telah menang (di) atas nama Cinta.


Perlahan aku berjalan maju, melawan malu akan lumuran ratusan tatap. Bingung. Rentetan kata puitis itu bahkan tak pernah kupecut untuk menggugah. Pendek khayalanku bisa menghibur tak lebih dari bagian belakang buku catatan Matematika yang membosankan. Berulang kupikirkan nasib belakang buku catatan Matematika yang tak pernah kulihat kembali. Siapapun yang jadi pencuri, ia pantas mati suri; pengganti sebagian nyawa yang harus kurelakan untuk menjabat tangan Pak Ali yang ditukar dengan serangkai alat tulis. Lumayan. *** Benar saja. Puisi Itu hilang. Seseorang mencurinya dengan bekas sobekan acak-acakan. Namun untuk apa? Memberikannya pada juri agar aku menang? Siapa anak kelas dua belas yang baik-baik-biadab? Aku menoleh kanan-kiri. Ada lelaki rambut brokoli, tapi dia sangat suka atensi, lantas kenapa tak kirim atas nama diri sendiri? Lalu ada Rizki yang hobi lupa bawa buku tulis, beralasan, tapi bagian tengah yang selalu ia cari. Dan, ada Borne dengan kepala jarang rambut yang selalu menghalangi isi papan tulis. Dia?

"Cinta, Cinta, Cinta!”


Gemuruh rahasia dalam diri buatku enggan bertanya. Ia berteriak dengan suara yang berbeda. Menggema berulang-ulang hingga penuh isi kepala. “Gokil, selamat ya, Ga! Akhirnya ada yang bikin si Cinta mati kutu. Sumpah, gue udah enek banget denger nama dia terus!” Borne berbalik badan tanpa aba-aba. Aku tersontak saat ia menyadari tatapku. Aku tak bermaksud menatap, Borne memang selalu ada di ujung kelas dengan suara lantang tak jelas. Aku mengernyitkan dahi. “Ya,” jawabku. Debaran jantung itu sampai buat liurku sulit menerobos tenggorokan. Otot tak niat cair dari beku sampai Borne kembali pada posisi semula: tak lagi taruh mata akan keberadaan si lelaki pecundang. “Bor, ayo ganti baju olahraga!” Ajakan teman Borne sukses hiraukan. Sibuk bolak-balik majalah musik yang ia baca di bawah meja. Kelas perlahan menyisakan kami berdua, kesempatan yang lebih jarang dibanding hujan panas. “Oy, Ga! Gak ganti baju?” tanya Borne. Tidak, dan siapa yang merobek bagian belakang buku catatan Matematikaku? DUM! DUM! DUM! Jantungku tak tahan buat gemetar. DUM SATU! DUM DUA! DUM TIAku menarik nafas, “Kamu pernah pinjam buku catatan saya?”


Borne menggelengkan kepala. Tamparkan keras untukku kalau hidup tak macam telenovela. Sontak aku menunduk, tatapanku penuh seisi meja. Kuabsen satu per satu: pensil, pulpen, penggaris, buku puisi, botol air mineral... BRAK! Tumpah! Saat mendongak, visualku sudah penuh akan wajah Borne. Ekspresinya tidak marah, hanya penuh keakuan, tamak, segala hal yang buat banyak orang segan dengannya. Air wajahku mengeras, tak ada untungnya tunduk oleh manusia. “Sori ya, gue gak maen pinjem-pinjeman, gue langsung sikat dari tas lu. Napa? Gak suka lu?” Matanya lebih dekat dari kemungkinanku dapat nilai seratus di pelajaran Bahasa Inggris. Suka. Suka sekali. Tidak! Maksudnya... “Kenapa?” Aku menelan ludah. Takut gemuruh jantung bisa terdengar sampai lapangan. Borne hobi mengoleksi ekspresi wajah dan hari ini aku yang jadi pasiennya. “Karena gue liat puisi lu, bagus, kenapa gak?” “Karena itu punya saya?” jawabku. “Apa yang ‘punya saya’?” tanya Borne, sorotnya semakin runcing. Tiap sudutnya seperti pisau yang siap mengacak norma. Aku tidak sempat menjawab, Borne sudah lenyap dalam monolog. “Semua ini punya Tuhan, puisi ini? Punya Tuhan. Gue? Punya Tuhan!”


“Saya tidak punya siapapun.” “Oh ya?” Sudut senyum Borne, paras yang semua orang setuju kalau enak dilihat, tawa renyah, oh, aku iri pada Tuhan yang bisa tak terbatas memilikinya. Aku, yang separuh percaya pada-Nya, bisakah mengambil sebagian peran-Nya? Tapi karena Tuhan pula (Padahal aku? Setengah Tuhan?) buatku takkan bisa, walau sekedar meraih permukaannya. Borne melanjutkan, “Sekarang, lu, puisi-- ah, pokoknya semuanya! Itu punya Tuhan dan gue!” “Kamu ingin memiliki saya?” Aku bertanya. Lelaki yang tak takut berteriak di koridor dan goda adik kelas ternyata bisa kenal dengan rasa takut (atau malu?). Dan aku? Lebih takut dengan gemuruh cinta yang bisa berbuat gila dari yang kukira. Borne mematung seperti menemukan harta karun. Sehari-hari bergelimang harta, kini seakan menemukan sesuatu yang lebih berharga: dirinya dan cinta tanpa kapital. Cinta dengan kapital sudah pernah ia jamah cintanya. Kandas, gagal, begitu yang kudengar. Mungkin terlalu terdengar karena mereka bertengkar di tengah lapangan. Ketika yang lain terbesit akan kesempatan, aku cuman berani menyimpannya sebagai angan-angan. Sampai hari ini, saat kami coba geledah makna mata bertemu mata. Delusional, kah?


"Cinta, cinta, cinta!” Aku yang pertama mengaku kalah, menyimpan wajah yang dibanjiri merah. Begitu juga Borne yang langsung buang muka. Berjalan menjauh secepat kilat sampai pinggannya menabrak meja. Satu rasa perlahan teraba, satu rahasia perlahan ada cahaya. Borne sudah berkeringat sebelum terjun ke lapangan.

Bersambung...


a i s a h Raenemukan M a t n Ci Rangga terkejut mendapati dirinya jadi pemenang lomba puisi bulanan, padahal ia merasa tidak pernah mendaftarkan diri. Seorang merobek buku catatannya, menyimpan rahasia. Tapi begitu juga dirinya.

Karya tulis: @nirfungsih on twt


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
RAHASIA MENEMUKAN CINTA VOL 1 by Hiro Ohiro - Issuu