Issuu on Google+

Maret 2011

Edisi

Ogoh-ogoh | Jakarta | Lombok | Bali | Ini merupakan galeri dari foto teman-teman yang tergabung dalam grup ‘Potret Bali’ yang diadakan di Facebook Hanya sekadar untuk berbagi.


Ide : Igb Adi Perbawa Layout : Nyoman Martawan

Foto oleh :

Adi Dharma AnT s Agus AgRy Wiryawan Brigitte Gerlach Charlie Richard Cok Gung Pramanayogi Dewa Enggung Susila Haryadi Wijaya Hiw Itu Hari Igb Adi Perbawa Ika Taruna Sumarprayono Jiesta Sudibya Nengah Januartha Nyoman Martawan Pavana Suta Putradjaja Chandra Wisnu Putu Tapaginarsa R Yanneman Pondaag Rangda Barak Sonoxs Rary Tri Guntara Wayan Dian Susila Wayan Dwitanaya Wayan Gunayasa Wayan Ka ki Widnyana Sudibya Yan Ekok

(c) Maret 2011

2

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Foto Ogoh-ogoh Syukur kepada Tuhan atas apa yang telah tercipta di dunia ini sehingga kita bisa menikmatinya. Ogoh-ogoh? Saya juga kurang tahu. Apa itu? Apakah sebuah patung besar bermuka seram, benda yang tidak bisa berdiri dengan tegap atau hanya sebatas karya seni patung besar saja? Mungkin dengan melihat foto temanteman ini kita bisa dapat gambaran, sehingga kita lebih paham dengan apa itu ogoh-ogoh. Tidak hanya Bali dareh Jakarta dan Lombok juga ikut memeriahkan buku digital ini dengan ogoh-ogoh setempatnya. Selamat menikmati galeri kali ini dan terima kasih atas semua batuannya sehingga buku galeri digital ini bisa selesai. Masukan-masukan tentunya diharapkan demi perkembangan. (Martawan)

Jakarta Suasana gotong-royong briagbriug, saling pakenyum manis, ceria tampak jelas dalam mengarak ogohogoh karya kreatif masyarakat Bali di Monas pada tanggal 4 Maret 2011.

Lombok

Bali

Wujud ogoh-ogoh sudah sedemikian variatifnya, sehingga makna untuk membuang sifat “buta” (rajas & tamah) ada yang tidak tampil dalam ogohogoh (wujud-wujud tertentu), namun demikian secara umum ogoh-ogoh yang dihadirkan masih tetap pada dalam pengertian “buta” tersebut.

Sejak 2 minggu atau bahkan sebulan sebelum Nyepi, suasana persiapan membuat ogoh-ogoh sudah tampak di berbagai pelosok Bali. Di sudut-

Tidak diizinkan menggunakan foto-foto yang ada di sini kecuali atas persetujuan pemiliknya. Pemilik foto memiliki hak penuh atas fotonya.

Ini merupakan galeri dari foto teman-teman yang tergabung dalam grup ‘Potret Bali’ yang diadakan di Facebook. Hanya sekadar untuk berbagi.

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

3


Igb Adi Perbawa bersama istri

Om Suastiastu, Pertama-tama saya sangat berbahagia menjadi bagian dari masyarakat Bali yang sejak lahir pada lima puluh delapan tahun yang lalu hingga saat ini saya masih tetap dikelilingi oleh rasa astetika, etika dan ide yang selalu kreatif. Dari masa kanak-kanak kami dibimbing oleh lingkungan, kebetulan keluarga kami bapak, ibu, kakak, paman apalagi kakek memiliki hobi seni dan sastra. Merekalah menjadikan saya menggeluti seni hingga saat ini. Sekolah Kokar tahun 1968-1970 menjadikan saya mengetahui lebih lengkap mengenai kesenian, terutama Bali. Ditahun 1971 mencari pengalaman hijrah ke Jakarta dan kesenian sebagai bagian dari hidup kami sekeluarga sampai sekarang. Setelah 40 tahun kami berada ditengahtengah masyarakat Bali terutama di Jakarta, tahun 2011 ini panitia “Tawur Kasanga” saya diminta untuk turut mengamati salah satu acara penting bagian dari perayaan hari suci “Nyepi” yaitu parade ogoh-ogoh seJabotabek yang hasilnya diharapkan menjadi bahan masukan dan evaluasi program ditahun mendatang. Kami merasakan tidak setitikpun terjadi kelunturan masyarakat Bali di Ibukota dan sekitarnya akan keyakinan ataupun 4

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

kepercayaan yang mereka pahami terutama dibidang seni dan budaya Bali yang mereka miliki secara turun-temurun walaupun mereka sudah berada di luar pulau Bali lebih dari 25 tahun. Salah satunya adalah persembahan dalam penyajian seni anyaman atau seni patung “Ogoh-ogoh” untuk menyambut acara tawur kasanga di Monumen Nasional (Monas). Di sini jelas-jelas terlihat bagaimana paguyuban masyarakat Bali yang sudah dikenal sejak zaman dulu melalui banjar, sekaa atau paguyuban sejenis tidak tergerus oleh suasana lingkungan yang padat, cepat ataupun bising bahkan rasa masa bodo tidak terlihat. Suasana gotong-royong briag-briug, saling pakenyum manis, ceria tampak jelas dalam mengarak ogoh-ogoh karya kreatif masyarakat Bali di Monas pada tanggal 4 Maret 2011. Sembilan belas paguyuban Suka Duka Hindu Dharma (SDHD) baik yang di banjar, maupun di prahyangan ataupun pura di Jakarta dan sekitarnya ikut ambil bagian dalam parade ogoh-ogoh yang ketiga dilaksanakan di Jakarta yang pesertanya se-Jabotabek secara bersama-sama. Hampir seluruh peserta dari 19 grup tampil secara maksimal, terutama kesungguhan semua unsur, baik teruna-teruni, anak-anak dan para

pengelingsir turut bergembira mendorong generasi muda dalam mengusung ogoh-ogoh sebagai karya seni budaya yang kreatif. Unsur pengamatan ditahun 2011 ini menjadi tonggak pertama untuk pembenahan di tahun-tahun mendatang, apalagi Bapak Gubernur DKI Jakarta H Fauzi Bowo telah mengatakan bahwa semoga ditahun mendatang parade ogoh-ogoh lebih semarak, sekaligus sebagai sarana pariwisata budaya di ibukota. Semoga sekilas suasana kebersamaan masyarakat Bali di ibukota dan sekitarnya pada even parade ogoh-ogoh ini menjadikan kita memperkuat jati diri, kebersamaan, memegang teguh etika, astetika dan meningkatkan daya kreatifitas masyarakat Bali. Menjadi panutan bahwa orang Bali menjunjung tinggi ke-Bhineka Tunggal Ika-an dan perdamaian di hati dan di masyarakat. Juga kepada rekan-rekan Facebook yang selama ini telah meluangkan waktu untuk berbagi informasi melalui foto-foto ogoh-ogoh. Saya pribadi mengucapkan selamat dan salut atas peran sertanya, itu menandakan bahwa rekan-rekan telah peduli dan menghargai akan karya anak bangsa, pada akhirnya telah ikut melestarikan karya budaya Bali yang kreatif. Om santih, santih, santih, Om. |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

5


“Narashima” membunuh “Raksasa Hiranya Kasipu”. (Igb Adi Perbawa) Bermacam-macam sebutan butakala salah satunya Kala Bang (Merah). (Igb Adi Perbawa)

6

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

7


Masyarakat Bali sangat familier dengan tokoh ini pasti mereka tahu. He... (Igb Adi Perbawa)

8

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Masyarakat Bali Hindu di Jakarta begitu antusias mendukung masing-masing ogoh-ogohnya sebelum parade. (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

9


Peserta Parade Ogoh-ogoh mempersiapkan diri secara maksimal sebelum tampil. (Igb Adi Perbawa)

Butakala Hijau memberi salam sebelum dibakar. (Igb Adi Perbawa)

10

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

11


Monumen Nasional, Ogoh-ogoh Raksasa dan Hanoman. (Igb Adi Perbawa)

12

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Hanoman menjadi primadona untuk ide kreatif seniman ogoh-ogoh. (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

13


Warna-warni ogoh-ogoh menyatu memancarkan keindahan. (Igb Adi Perbawa)

14

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Penampilan terbaik parade ogoh-ogoh di Monumen Nasional 4 Maret 2011. Acara Taur Kasanga dari 19 peserta se-Jabotabek. �Hanoman Dita�. (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

15


Butakala ada dimana-mana waspadalah-waspadalah, yang penting ingat dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa sudah cukup. (Igb Adi Perbawa)

16

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Perang tanding raksasa dan naga. (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

17


Semeton saking Banjar Rempoa naler sareng mengungkapkan ekspresi seninya melalui Ogoh-ogoh Kala Bang. Kala Bang memiliki sifat-sfta jahat yang selalu mengganggu ketentraman manusia di dunia ini dan perlu disingkirkan. (Igb Adi Perbawa)

18

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Rahwana dalam epos Ramayana selalu menjadi salah satu tokoh penting. Bila para seniman membuat karya seni ogoh-ogoh “Rahwana dalam Upaya Menculik Shinta�, demikian cerita yang dipetik pada karya ini, dipersembahkan oleh sameton saking Pura Amerta Jati Cinere Jakarta Selatan. (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

19


Narasimha adalah manusia berkepala singa, tema ini diusung oleh salah satu dari 19 peserta parade ogoh-ogoh se-Jabotabek yang berlangsung di Monas 4 Maret 2011 dan di lepas oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta. (Igb Adi Perbawa)

20

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Anak-anak muda Pura Penataran Agung Kertha Bumi Taman Mini Indonesia Indah tidak mau ketinggalan dengan mengusung tema “Bebotoh Pengeng�. Tidak semua kala itu berekspresi serem, ogoh-ogoh ini sederhana temanya, bebotoh masyarakat Bali semua tau itu. Apalagi? (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

21


“Sang Bhuta Brungut” persembahan semeton SDHD Jakarta Pusat. Mengambil cerita “Sang Bhuta Brungut” ini ditugasi oleh Betara Yama untuk menyiksa Atma Nora Metatah, atma yang belum melaksanakan upacara potong gigi. Demikian cerita dari ekspresi karya seni anyaman masyarakat Bali. (Igb Adi Perbawa)

22

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Suka Duka Hindu Dharma wilayah Kota Madya Banjar Jakarta Utara mempersembahkan karya ogoh-ogoh “Sang Kala Berawi” sang kala ini bertugas menggoda manusia yang tidak memiliki iman yang kuat. Dalam lontar Rogo Senggoro Bhumi umat Hindu diwajibkan melaksanakan. (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

23


Sameton SDHD Cijantung menampilkan ogoh-ogoh “Kala Bergolo Jadi Ratu” semoga sifat-sifat Kala Bergolo hilang dari muka dunia setelah nantinya Kala Bergolo dipralina atau dibakar. (Igb Adi Perbawa)

24

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Sameton Banjar Bogor menampilkan ekspresi seni anyamannya berjudul “Kala Asu Gemblong”. Tidak semua kala itu jahat, kala ini baik membantu menjafa pekarangan rumah dari segala bentuk maksud jahat dan energi negatif. (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

25


Suka Duka Hindu Dharma Depok menampilkan “Kala Gumarang“. Kisah seorang raja kala beringas yang ingin membunuh Dewi Sri. Kala Gumarang akhirnya dibunuh oleh Patih Pangukir Gading. (Igb Adi Perbawa)

26

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Hanoman ditugasi mencari tumbuhan Sanjiwani di gunung Kailasa untuk Laksemana, pada epos Ramayana. Persembahan SDHD Pura Prajapati Purna Prlina Korps Brimob Kelapa Dua Depok. Penampil terbaik parade ogoh-ogoh se-Jabotabek di Monas jakarta. (Igb Adi Perbawa)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

27


“Hanoman Dita� kisah perang tanding Raksasa Kala Rau dengan kesatria Hanoman Dita dalam memperebutkan Tirta Amerta Sanjiwani. Persembahan sameton SDHD Pura Aditya Jata Rawamangun Jakarta Timur. (Igb Adi Perbawa)

28

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

29


Ini ogoh2 buatan banjar Bogor yg ikut pawai di Monas - Jakarta. (Brigitte Gerlach)

Ini ogoh2 Pura Rawamangun-Jakarta Timur, peserta pawai ogoh2 pada tgl 4.3.2011 di Monas, Jakarta- Pusat. (Brigitte Gerlach)

30

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

31


Ogoh-ogoh di Lombok Pawai ogoh-ogoh sebagai ritual agama yang dilaksanakan setiap sebelum dilaksanakannya ritual tapa brata penyepian, merupakan bentuk penyadaran pembersihan alam dari berbagai keburukan yang terjadi dan berlangsung di alam ini. Dalam perkembangannya pawai ogoh-ogoh telah banyak dipengaruhi unsur budaya maupun perkembangan dunia, yang terkadang bukan bentuk yang

32

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

seharusnya ditampakkan pada ogohogoh tersebut. Unsur kemeriahan pada pelaksanaannya, telah membawa ritual ini menjadi sebuah kegiatan budaya (kalau dapat dikatakan kian kehilangan unsur ritualnya), tapi itulah bagian dari sebuah perubahan yang harus dihadapi dari keadaan sekarang ini. Pawai ogoh-ogoh di Pulau Lombok yang diikuti kurang lebih

150 ogoh-ogoh, membawa suasana kemeriahan dan kerukunan pada saat berlangsungnya, unsur lokal (Pulau Lombok) tampak pada iringan musik tradisional yang mengiringinya. Semoga ditahun-tahun kedepan ritual keagamaan yang ada dalam ogoh-ogoh, tidak kehilangan maknanya sebagai “ritual keagamaan�, bukan yang lain. Suksma.

Ika Taruna Sumarprayono

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

33


Ogoh-ogoh di Mataram Lombok. (Ika Taruna Sumarprayono)

Ogoh-ogoh di Karang Jangkong, Lombok. (Ika Taruna Sumarprayono)

34

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

35


Ogoh-ogoh Banjar Krg Medain. (Ika Taruna Sumarprayono)

Ogoh-ogoh Lombok. (Ika Taruna Sumarprayono)

36

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

37


Tetabuhan pengiring ogoh-ogoh. (Ika Taruna Sumarprayono)

(Ika Taruna Sumarprayono)

38

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

39


(Ika Taruna Sumarprayono)

(Ika Taruna Sumarprayono)

40

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

41


Tetabuhan pengiring ogoh-ogoh . (Ika Taruna Sumarprayono)

(Ika Taruna Sumarprayono)

42

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

43


Menjaga kelancaran acara pawai ogoh-ogoh. (Ika Taruna Sumarprayono)

(Ika Taruna Sumarprayono)

44

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

45


(Charlie Richard)

(Charlie Richard)

46

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

47


(Charlie Richard)

48

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

49


Ogoh-ogoh, ‘Nyomia’ panas Buta menuju teduh Dewa Ogoh-ogoh, patung bersosok besar dengan wajah menyeramkan dan unik kini makin menjadi fenomena masyarakat Bali setiap menjelang pergantian tahun caka, sehari menjelang Nyepi. Putaran waktu setahun, menurut perhitungan tahun caka, ditutup dengan hiruk pikuk, riuh teriak dan kegembiraan untuk kemudian sepi, hening dan tenang saat Nyepi keesokan harinya. Benar-benar suasana pergantian waktu yang sangat kontras. Sejak 2 minggu atau bahkan sebulan sebelum Nyepi, suasana persiapan membuat ogoh-ogoh sudah tampak di berbagai pelosok Bali. Di sudutsudut kota hingga ke pedalaman, anak muda bersemangat mencari bahanbahan untuk membuat ogoh-ogoh, lalu merancang bantang dengan bambu atau bahan lainnya. Beberapa hari menjelang Nyepi, wujud ogoh-ogoh makin jelas, membuat para anak muda itu tambah semangat menyelesaikan finishing dengan pewarnaan dan asesoris lainnya. Sebagian dari mereka sibuk berlatih tabuh-tabuh baleganjur irama rampak yang akan mengiringi saat mengarak ogoh-ogoh buatan mereka. Kelompok 50

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

yang beruntung memiliki dana lebih tentu mampu menyiapkan seragam t-shirt berlogo kelompok mereka yang tentu dirasa mampu menambah semangat dan kebanggaan. Wajah seram nan artistik mulai dipajang di depan bale banjar saat Pangerupukan, sehari sebelum Nyepi. Mulai dari tokoh-tokoh kala dalam mitos Hindu dan pewayangan hingga tokohtokoh kala masa kini, koruptor, teroris dan sosok perilaku nyeleneh dihadirkan dalam sosok ogoh-ogoh. Konfigurasi sosok tidak lagi semata hanya satu figur saja tapi kebanyakan mengetengahkan agem koreografi yang mengacu tema. Selain mengundang decak kagum dan tepuk tangan riuh saat pawai, tak jarang ogoh-pgoh menampilkan sosok jenaka yag mengundang gelak tawa penonton. Tak heran bila Yong Sagita, penyanyi lagu pop Bali yang kondang itu, menuliskan dalam lirik lagunya ‘Ogoh-ogoh’ menghadirkan suasana amat meriah. Tilem kasanga nyaluk sandikala Bulane mengkeb di durin ambune Galang obor prakpak nyinarin gumi

Uyut suryak tetabuhan gamelan balaganjur Saling ceburin Antara Sorot Agama, Budaya dan Politik Entah bagaimana awal mulanya, ogoh-ogoh mulai hadir di tengah komunitas krama Bali pada awal dekade 1980-an. Beberapa media bahkan mencatat bahwa kehadiran kreatifitas kaum muda Bali dalam bentuk karya ogoh-ogoh ini sempat dihadirkan sebagai atraksi wisata pada masa Gubernur Bali Ida Bagus Mantra yang juga seorang budayawan. Event budaya Pesta Kesenian Bali yang digelar saban tahun mulai dimasuki oleh kreasi ogohogoh sebagai bagian dari acara Pawai Pembukaan Pesta Kesenian Bali. Sosok ogoh-ogoh dalam balutan estetika yang lebih dramatis sering hadir dalam lakonlakon drama tari pada parade atau lomba gong kebyar pada Pesta Kesenian Bali. Belakangan, di Kota Denpasar, semangat berkarya seni di bidang ogohogoh bahkan sempat dilombakan. Berbeda dengan sisi pandang kreasi Ogoh-ogoh sebagai pengembangan karya budaya krama Bali, para penekun

Widnyana Sudibya

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

51


filosofi dan susastra Hindu justru masih menebar tanya perihal keberadaan ogohogoh terkait dengan ritual ‘Mabuubuu’ sehari menjelang Nyepi. Dalam telaah para pakar susastra ini, mereka tidak menemukan tuntunan susastra perihal keberadan ogoh-ogoh terkait dengan perayaan pergantian tahun caka. Keramaian dan hiruk pikuk teriakan sehari menjelang Nyepi memang tersurat dalam ritual Mabuu-buu, sehari menjelang Nyepi. Ritual Mabuu-buu ini diartikan sebagai ritual membangunkan buta (kekuatan negatif) untuk kemudian dilakukan persembahan dan pemujaan agar kembali somia, tidak beringas dan ganas lalu teduh menuju kekuatan positif, dari kekuatan buta menuju kekuatan dewa. Somia di akhir tahun ini tentu dimaksudkan sebagai charging untuk kembali memberi kekuatan positif selama setahun ke depan, lalu kembali siklus somia dilakukan lagi pada akhir tahun selanjutnya. Demikian terus berlangsung, setiap tahun kekuatan negatif di recycle menuju kekuatan positif. Tentu ini masih dalam tataran simbol dan filosofi yang mesti ditafsir 52

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

secara arif untuk diterapkan dalam perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Dari sisi waktu pelaksanaan pawai ogoh-ogoh dan penyelenggaraan Tawur Kasanga pun masih ada tanya jika ogoh-ogoh dikaitkan sebagai bagian dari ritual Nyepi. Upacara Tawur Kasanga yang bermakna ‘nyomia buta’ dilaksanakan pada saat tengai tepet, tepat tengah hari, di catus pata desa yang kemudian dilanjutkan ritual dalam skala lebih kecil di masingmasing pekarangan rumah. Saat usai upacara menjelang sore, buta diyakini telah somia namun prosesi ogoh-ogoh saat pergantian waktu sore ke malam, sandikala, justru seolah menimbulkan tafsir membangkitkan dan membawa kembali kekuatan buta yang sudah disomia sebelumnya. Perdebatan dari sisi pandang agama dan budaya yang kaku tentu tidak mudah menemukan titik temu karena acuannya berbeda tapi bukan mustahil bisa ditemukan pendekatan yang bijak agar tidak terjadi tabrakan pro dan kontra perihal keberadaan ogoh-ogoh.

Tidak demikian halnya bila pawai ogoh-ogoh ditilik dari sisi politik. Tahun 2004, jelang pesta politik Pemilihan Umum 5 April 2004, pawai ogoh-ogoh yang semestinya berlangsung pada 20 Maret 2004 sempat ditiadakan dengan alasan rawan menjadi media persaingan antar partai politik. Hal ini belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa pawai ogoh-ogoh di beberapa daerah di Bali pernah menimbulkan permusuhan, persaingan bahkan kekerasan antar kelompok akibat saling ejek. Pertentangan antar kelompok saat pawai ogoh-ogoh ini pula yang dipakai pembenar oleh mereka yang kurang setuju dengan keberadaan ogoh-ogoh dan mengatakan bahwa kala memang dibangkitkan lagi lalu merasuk ke sebagian pengusung ogoh-ogoh, menjadi mabuk dan saling ejek antar warga. ‘Menular’ ke pelosok Nusantara Di tanah Bali, di wilayah asal muasalnya, ogoh-ogoh memang masih berada di tataran pro dan kontra meski seiring berjalannya waktu terasa mulai diterima masyarakat banyak. Selain pro

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

53


kontra soal tarik ulur dari sisi pandang agama, budaya dan politik, ogohogoh juga menjadi beban tetap secara materi bagi warga pendukungnya. Paling tidak jutaan hingga puluhan juta digelontor saban tahun untuk mendanai pembuatan satu ogoh-ogoh. Angka itu tentu membengkak lagi bila dihitung lengkap dengan berbagai asesoris ikutan bagi pendukungnya, termasuk logistik saat pawai ogoh-ogoh. Kalangan yang masih meragukan keberadaan ogoh-ogoh dari sisi pandang susastra seolah makin kuat mempertanyakan manfaat ogohogoh. Bahkan ada yang lebih ekstrim menyarankan penyaluran dana tersebut agar diarahkan pada kegiatan yang lebih positif. Sementara itu, kalangan masyarakat yang mendukung keberadaan ogoh-ogoh justru tetap saja melanjutkan kegiatan mereka membuat ogoh-ogoh yang justru makin kreatif dan makin spektakuler dari tahun ke tahun.

54

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Bahkan, fenomena ogoh-ogoh tidak saja berkutat di tanah Bali saja tetapi sejak beberapa tahun lalu mulai ‘menular’ ke daerah-daerah tetangga. Provinsi di pulau Jawa, wilayah Lombok dan juga daerah transmigrasi yang dihuni oleh masyarakat Hindu kini mulai marak dengan pawai ogoh-ogoh yang dikaitkan dengan perayaan Nyepi. Hal ini menunjukkan bahwa ogoh-ogoh mulai diterima di hati masyarakat, bukan saja di Bali tapi sudah merebak ke wilayah lain di tanah Nusantara. Pembuatan ogoh-ogoh dan keramaian perayaan pawainya sehari menjelang Nyepi memang tidak dapat ditimbang semata-mata dengan biaya semata. Bila mau jujur, karya dan kreasi komunal bertajuk budaya tak ada yang tanpa beban moril dan materiil serta tak lepas pula dari resiko gesekan-gesekan soasial.

Lumaris kita mamargi sampunang ja ngarubeda Seperti ditulis dalam sairnya, Yong Sagita mengandaikan ogoh-ogoh sebagai wujud berbagai buta, kala-kali seluruh jagat, berlarian berputar membawa senjata namun hormatilah, persilahkan berjalan namun jangan menimbulkan huru-hara. Yang perlu dipikirkan dan dilakoni bersama adalah upaya meredam gejolak negatif yang timbul sehingga keberadaan ogoh-ogoh tidak sematamata menimbulkan debat adat dan agama, bukan pula potensial memicu kerusuhan, namun justru mampu hadir sebagai suatu festival budaya tahunan yang menarik tanpa berpaling dari adat dan filosofi Hindu di nusantara. Sekali lagi, lumaris kita mamargi, sampunang ja ngarubeda.

Sekancan kala-kali sawengkon Bali Malaib malincer tur sada nganggar senjata

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

55


Ogoh2 Bernard Bear lagi nembak aer. (Adi Dharma AnT s)

Anak kecil pun beraksi dan berkreasi. (Adi Dharma AnT s)

56

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

57


Andaiku Gayus Tambunan, Ogoh-ogoh Butakala/Niskala dalam jagat sekala. (Agus AgRy Wiryawan)

58

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

59


Lokasi : Ubud, 2011 (Cok Gung Pramanayogi, huruf_A photography)

Lokasi : Ubud, 2011 (Cok Gung Pramanayogi, huruf_A photography)

60

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

61


“Tirta Amerta� Lokasi : Belayu - Marga -Tabanan (Dewa Enggung Susila)

62

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

(Gungde Brahmantya Murti)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

63


(Gungde Brahmantya Murti)

Krisna menunggang kuda @ Nusa Dua. (haryadi wijaya)

64

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

65


Ogoh2 Bernard dan Tokek dari Kukuhsari Jl. Batas Dukuhsari Gg. Gelatik Sesetan. (Hiw Itu Hari)

66

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh2 Celuluk Cafe dari Kukuhsari Jl. Batas Dukuhsari Sesetan. (Hiw Itu Hari)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

67


Baleganjur (Jiesta Sudibya) Ogoh-ogoh “Banjar Tainsiat Denpasar� (Jiesta Sudibya)

68

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

69


Ogoh-ogoh 2011 ST. Kocala Sabha Br. Tegal Baleran Mengambil inspirasi dari serial Little Krisna saat menaklukan ular di sungai Gangga. Ide menggunakan butiran styrofoam untuk melapisi tubuh (sisik) naga berkepala 4 patut diacungi jempol. (Nengah Januartha)

Kala Geni ST. Eka Budhi Br. Tegal Belodan Keistimewaan ogoh-ogoh ini ada pada kreatifitas memanfaatkan sisi elektrik & mesin untuk membuat bagian lingkaran yang bisa berputar. (Nengah Januartha)

70

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

71


OGOH-OGOH ALIEN - Ogoh-ogoh ini dipasangi lampu di beberapa titik sehingga menampilkan warna yang menarik saat gelap. Ogoh-ogoh di Baturiti, 2011. (Nyoman Martawan)

72

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

BAKAR - Inilah akhir dari ogoh-ogoh di Baturiti, dibakar di kuburan. Terima kasih atas semuanya. (Nyoman Martawan)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

73


Ogoh2, d Desa Bebandem-Karangasem . (Pavana Suta)

Ogoh2, d Desa Bebandem-Karangasem (Pavana Suta)

74

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

75


Ogoh2 Br. Pande, Bebandem-Karangasem (Pavana Suta)

Ogoh2, d Desa Bebandem-Karangasem (Pavana Suta)

76

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

77


Ogoh-ogoh 2011 - #01 (Putradjaja Chandra Wisnu)

78

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #02 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

79


Ogoh-ogoh 2011 - #03 (Putradjaja Chandra Wisnu)

80

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #04 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

81


Ogoh-ogoh 2011 - #05 (Putradjaja Chandra Wisnu)

82

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #06 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

83


Ogoh-ogoh 2011 - #07 (Putradjaja Chandra Wisnu)

84

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #08 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

85


Ogoh-ogoh 2011 - #09 (Putradjaja Chandra Wisnu)

86

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #10 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

87


Ogoh-ogoh 2011 - #11 (Putradjaja Chandra Wisnu)

88

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #12 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

89


Ogoh-ogoh 2011 - #13 (Putradjaja Chandra Wisnu)

90

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #14 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

91


Ogoh-ogoh 2011 - #15 (Putradjaja Chandra Wisnu)

92

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #16 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

93


Ogoh-ogoh 2011 - #17 (Putradjaja Chandra Wisnu)

94

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #18 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

95


Ogoh-ogoh 2011 - #19 (Putradjaja Chandra Wisnu)

96

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh 2011 - #20 (Putradjaja Chandra Wisnu)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

97


Ogoh-ogoh @ Kerobokan (Putu Tapaginarsa)

Kala Temah (Putu Tapaginarsa)

98

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

99


Finishing (R Yanneman Pondaag)

100 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Ogoh-ogoh in action, Sanur (R Yanneman Pondaag)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

101


Tema/Judul : Ogoh-ogoh Candra Baerawa Kreasi: ST. Yowana Saka Bhuana, Br. Taensiat, Menceritakan tentang ajaran maha sakti yang dimiliki oleh Sang Salya yang diberikan oleh mertuanya Detya Kala Dharma sebelum meninggalkan dunia, agar dapat melindungi anaknya Dewi Satyawati. Ajian ini dapat merubah wujud Sang Salya menjadi raksasa besar atau pun raksasa kecil. (Rangda Barak Sonoxs)

102 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Merica Lina ST. Banjar Gemeh Juara Harapan II Lomba Ogoh-Ogoh Perayaan Nyepi Saka 1932 Tahun 2010 Kota Denpasar Dengan menyamar menjadi kijang kencana, Marica mengalihkan perhatian Rama untuk memburunya sementara Sita ditinggal bersama Laksmana. Ketika Rama tahu bahwa Marica sedang mengelabuinya, ia melepaskan anak panahnya dan mengubah Marica ke wujud semula menjadi seorang raksasa. Saat sedang sekarat, Marica menirukan suara Rama dan mengerang dengan keras sampai ke telinga Sita dan Laksmana. Yakin bahwa itu suara Rama, Sita menyuruh Laksmana agar pergi menyusul Rama. Sementara Laksama menyusul Rama, Rahwana menyamar menjadi brahmana untuk mengelabui Sita kemudian menculiknya. (Rangda Barak Sonoxs)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

103


Kumbakarna Kerebut ST. Panca Kumara 2009 Pada waktu pecah perang besar Alengka, negara Alengka diserang balatentara kera Prabu Rama, dibawah panglima perangnya Narpati Sugriwa untuk membebaskan Dewi Sinta yang disekap Prabu Dasamuka, Kumbakana maju sebagai senapati perang. Ia berperang bukan membela keangkaramurkaan Prabu Dasamuka tetapi membela negara Alengka, tanah leluhurnya yang telah memberinya hidup. Kumbakarna akhirnya gugur dalam pertempuran melawan Prabu Rama dan Laksmana. Tubuhnya terpotong-potong menjadi beberapa bagian oleh hantaman senjata panah yang dilepas secara bersamaan. (Rangda Barak Sonoxs)

104 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

ST. Darna Santika. Br Tembau Kelod, Judul : Kautus Sisya Walunata Celuluk Bali (18TH) secara tegas menolak UU Pornografi!! (joke) (Rangda Barak Sonoxs)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

105


Pertempuran Penguasa Ilmu Hitam dengan Penguasa Ilmu Putih di Setra Ganda Mayu. Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya. Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan antekanteknya. Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan. Ketika semua persiapan dianggap rampung maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan

106 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal. Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Girah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah. Diceritakan kemudian Ibu Calonarang di rumahnya diiringi oleh para sisya-nya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warnawarni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolaholah menyampaikan niat Ibu Calonarang kehadapan Ida Betari. Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

107


Nyukti Rupa Perubahan wujud Rarung menjadi Rangda Barak ST. Panca Kumara Bnjr Tatasan Kaja Tonja Denpasar Utara 2010 (Rangda Barak Sonoxs)

108 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya, “Para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang. Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarang pun tertawa ngakak dan terdengar menakutkan. Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap

membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulunggulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri. Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya. Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Empu Bharadah sambil juga mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru. (Rangda Barak Sonoxs)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

109


Pawai Ogoh-ogoh 4 Maret 2011, Lapangan Puputan , Denpasar Bali. --> Rahajeng Nyanggra Swasti Warsa 1933 Saka (Rary Tri Guntara)

“Ha... ha... I’m Flying“ (Ogoh-ogoh Parade 4 March 2011) Puputan Denpasar Bali. (Rary Tri Guntara)

110 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

111


Bagi yg suka DuGem nie Ogoh-ogoh DJ (Disc Jockey) , “Hello DeeJay... Dije jemak CD ne? Jep Ajep Ajep he... (Lokasi Puputan, Denpasar - BaLi) 4 Maret 2011 (Rary Tri Guntara)

Jangan... jangan... dibuka... (Bjr. Busung Yeh Kauh, Denpasar Barat) 4 Maret 2011. (Rary Tri Guntara)

112 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

113


“Bebaskan BaLi ku dari RABIES� Sampai celuluk pun takut digigitnya, Lokasi : Padang Sambian Denpasar (4 Maret 2011). (Rary Tri Guntara)

114 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Krishna Devata 4 Maret 2011 (Lokasi Bhuana Raya Padangsambian, Denpasar). (Rary Tri Guntara)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

115


Ogoh-ogoh Bjr. Desa Ayunan, Blahkiuh Abiansemal Badung 2011, sambil kerja antar kiriman ke lapangan sambil hunting ogoh2. (Rary Tri Guntara)

Ogoh-ogoh Bjr. Desa Dalung 2011, Kuta Utara - Badung, saat mau pulang mnuju rmh. (Rary Tri Guntara)

116 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

117


Ogoh-ogoh Rangda (Bjr. Pengembungan Bongkasa-Abiansemal, Badung) --> Sengaja pakai setting-an Stamp Date & Time di Canon agar kelihatan data foto (2 Maret 2011) agar orisinil. (Rary Tri Guntara)

118 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

119


Br. Teba Sari - Kuta 2007 (Wayan Dian Susila)

120 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

121


“Ngembak Geni� Pantai Kuta - 2007 (Wayan Dian Susila)

122 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

123


Br. Tegal - Kuta 2007 (Wayan Dian Susila)

124 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

125


Br. Teba Sari - Kuta 2005 (Wayan Dian Susila)

126 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

127


Anda mungkin mengisi halaman kosong ini nanti! Dengan artikel, foto atau apapun tentang Bali


Simpan tenaga untuk pawai, Ogoh-ogoh pun naik pick-up. (wayan dwitanaya)

130 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

Pawai Ogoh-ogoh itu aman, anak-anak perempuan pun diberi kebebasan untuk ikut serta. (wayan dwitanaya)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

131


‘Ngayah’ mengamankan pawai. (wayan dwitanaya)

Semangat yang harus tetap dijaga di masa depan (wayan dwitanaya)

132 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

133


Seniman masa depan. (wayan dwitanaya)

(Wayan Gunayasa)

134 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

135


(Wayan Gunayasa)

Ogoh-ogoh di Sanur 4 Maret 2011 (Wayan Gunayasa)

136 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

137


(Wayan Gunayasa)

138 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

139


(Wayan Ka ki)

140 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

(Wayan Ka ki)

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

141


Raksasa Siu- Br. Pemamoran Kuta (Yan Ekok)

Ogoh-ogoh di Desa Menanga, Karangasem, diarak menuju areal catus pata (yang juga adalah pasar desa) saat akan dilaksanakan upacara Tawur Kasanga. (Widnyana Sudibya)

142 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

143


Br. Teba Sari - Kuta 2011 (Yan Ekok)

144 |edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

|edisi Ogoh-ogoh |Maret 2011|

145


Sampai jumpa pada edisi berikutnya. Mari Berkarya!


Potret Bali (Ogoh-ogoh)