Skip to main content

Logos Automaton | Tabmin Kelompok 7

Page 1


LOGOS AUTOMATON

KEBIJAKSANAAN DI ERA MESIN

LIPUTAN UTAMA : agribusiness and technology park (atp) : Pusat Inovasi

Berkelanjutan di

LIPUTAN KHUSUS : Melihat Inovasi

Peternakan Lewat

Mesin Tetas

Seputar Kampus

Infografis

Komik

Kemahasiswaan

Games

Voxpop

Liputan Khusus
Liputan Utama
Ragam
Iklan
Galeri
Pertanian

Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB

University: Pusat Inovasi Agribisnis Berkelanjutan di Indonesia

Agribusiness and Technology Park (ATP) merupakan pusat inovasi agribisnis modern sekaligus model pertanian berkelanjutan di Indonesia, yang berlokasi di Kampus IPB Dramaga, Bogor. Kawasan ini didirikan pada tahun 2006 melalui kerja sama antara IPB University dan Taiwan Technical Mission untuk mendukung pengembangan agribisnis berbasis teknologi. Dahulu dikenal sebagai Agribusiness Development Center, ATP kemudian bertransformasi pada tahun 2019 menjadi kawasan terpadu yang mengadopsi teknologi canggih untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dalam seluruh proses agribisnis, mulai dari pembibitan hingga pascapanen.

ATP IPB University berkomitmen pada keberlanjutan melalui kolaborasi lintas sektor, salah satunya bersama PT Agrinesia Raya dalam program technosociopreneurship untuk memberdayakan masyarakat desa dengan menciptakan produk bernilai tinggi dari hulu hingga hilir. ATP juga memadukan teknologi canggih, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk memberikan kontribusi nyata pada ketahanan pangan nasional sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat di sektor pertanian berbasis teknologi. Kawasan ini menjadi simbol bagaimana pengelolaan agribisnis modern dapat mendorong transformasi positif di sektor pertanian Indonesia.

ATP juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern

seperti  greenhouse hidroponik apung, sistem hidroponik NFT, akuaponik, lahan organik, teknologi berbasis Internet of Things (IoT), robotika,  Artificial Intelligence (AI), dan drone. Contohnya, sensor IoT di greenhouse memungkinkan pemantauan suhu, kelembapan, pH media, hingga konduktivitas listik (EC) secara real-time, yang terhubung langsung ke perangkat smartphone untuk memudahkan pengelolaan tanaman sekaligus meningkatkan efisiensi energi Selain itu, ATP juga menggunakan insect net di screen house sayuran organik untuk mencegah masuknya hama, sehingga produk yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi dan memenuhi standar pasar modern.

Berbagai inovasi unggulan di ATP IPB meliputi budidaya melon berbasis Internet of Things (IoT), sistem irigasi sprinkler otomatis di kebun jambu yang menggunakan drone untuk penyebaran pupuk, dan teknologi nano-bubble dalam akuakultur untuk meningkatkan efisiensi pembenihan ikan. Selain produksi, ATP juga berfungsi sebagai laboratorium hidup untuk penelitian dan edukasi, menarik masyarakat, pelajar, serta mahasiswa mempelajari penerapan teknologi dalam agribisnis secara langsung.

ATP IPB menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan melalui inovasi teknologi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat dengan teknologi pertanian yang canggih, ATP berperan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional Sebagai simbol transformasi agribisnis Indonesia, ATP mengintegrasikan inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Sebagai bagian dari misi edukasinya, ATP IPB menawarkan program agroedutourism yang memberikan pengalaman langsung kepada pengunjung Selain itu, ATP juga berkolaborasi dengan lebih dari 30 kelompok tani lokal untuk memberdayakan masyarakat agar mereka mampu meningkatkan produktivitas dan memperluas akses pasar.

Firnanda Dini, Adinda Dwi Y. Fotografer: Darell Belva.
Bulan Maysheira. Layouter: Athiyyah Ramadhani.

Liputan Khusus

Melihat Inovasi Peternakan Lewat Mesin Tetas Telur Otomatis

Apa yang membuat

penetasan telur lebih

efisien dan hasilnya optimal?

Jawabannya terletak pada inovasi teknologi mesin penetasan otomatis yang kini menjadi sorotan di kalangan peternak modern. Teknologi ini sudah digunakan oleh Mahasiswa Teknologi dan Manajemen Ternak Sekolah Vokasi IPB University, yaitu oleh Darel Fazipa. Ia sempat menjelaskan sedikit mengenai bagaimana cara kerja mesin tetas otomatis ini di Laboratorium

Ternak pada Kamis, 21 November 2024. “Mesin ini adalah solusi untuk menjaga kestabilan suhu dan kelembapan telur secara otomatis tanpa perlu pemantauan intensif,” jelas Darel. Teknologi ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga mengurangi risiko kegagalan penetasan yang sering terjadi pada metode manual.

Mengapa Mesin Penetasan

Otomatis Unggul?

Teknologi ini membawa banyak keunggulan yang tidak dimiliki metode manual. Salah satu fitur

utamanya adalah kemampuan

untuk mengontrol suhu pada level optimal, yaitu 37,7°C.

Jika suhu turun, mesin akan menyesuaikan secara otomatis, memastikan kestabilan kondisi tanpa campur tangan manusia. “Berbeda dengan metode manual, kita tidak perlu lagi membuka mesin untuk memeriksa atau

mengatur ulang suhu Semua berlangsung otomatis,” ungkap Darel.

Keuntungan lainnya adalah penghematan tenaga. Mesin ini dapat membalik telur secara otomatis sesuai jadwal, sehingga peternak tidak perlu melakukannya secara manual. “Jika menggunakan metode manual, peternak harus membalik telur secara rutin, yang memakan banyak waktu dan tenaga,” tambahnya. Namun, Darel juga mengakui bahwa mesin ini memiliki tantangan tersendiri, yaitu biaya awal yang relatif tinggi. Meski begitu, ia meyakinkan bahwa efisiensi

jangka panjangnya dapat mengimbangi investasi tersebut. “Ini adalah investasi yang sepadan, terutama bagi peternak yang ingin meningkatkan produktivitas

Apa Saja Tantangan dalam Penetasan Telur?

Menurut Darel, keberhasilan penetasan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada faktor lingkungan. Perubahan cuaca, seperti hujan, bisa menurunkan suhu secara signifikan dan mempengaruhi tingkat keberhasilan penetasan. Kelembapan yang tidak stabil juga menjadi salah satu penyebab kegagalan. “Jika kelembapan atau suhu tidak terjaga dengan baik, telur bisa menetas lebih lambat atau bahkan gagal sama sekali,” ujarnya.

Selain itu, Darel menyoroti pentingnya proses monitoring selama hari-hari terakhir penetasan, terutama pada hari ke-21. “Pada hari ini, sebagian besar telur seharusnya sudah menetas. Jika tidak, telur tersebut harus diperiksa untuk mengetahui penyebabnya. Biasanya, ada sekitar 5% telur yang gagal menetas karena

mesin penetasan otomatis:

1. Fumigasi Awal: Telur dan mesin dibersihkan menggunakan formalin dan KMnO4 untuk memastikan kebersihan.

2. Tahap Awal Penetasan: Telur diletakkan di rak bawah selama tiga hari agar suhu stabil.

3. Pemindahan Telur: Setelah tiga hari, telur dipindahkan ke rak tengah untuk tahap pematangan.

4. Pengawasan Akhir: Pada hari ke-21, telur yang belum menetas diperiksa dan dianalisis penyebab kegagalannya. Mesin ini mampu memastikan proses berjalan lancar dan memberikan hasil optimal. “Mesin ini meminimalkan intervensi manual, sehingga kita bisa fokus pada aspek lain dari peternakan,” tambah Darel.

Harapan dan Masa Depan Teknologi Peternakan

Darel berharap teknologi ini dapat diadopsi secara luas oleh

ini, peternak tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga mempermudah proses kerja mereka,”ujarnya. Melalui inovasi ini, IPB University terus menunjukkan komitmennya untuk mendukung pengembangan teknologi di bidang peternakan. Mesin penetasan telur otomatis adalah salah satu contoh nyata bagaimana teknologi dapat menggantikan metode tradisional yang membutuhkan banyak tenaga kerja, sekaligus memastikan hasil yang lebih konsisten. Langkah ini membuktikan bagaimana teknologi dapat menjadi solusi utama dalam menghadapi tantangan peternakan modern, seperti efisiensi waktu dan pengelolaan sumber daya.

STASIUN TERAKHIR

Jakarta, rasanya sudah terlalu lama kota ini tak pernah aku tinggalkan. Sudah lebih dari tiga tahun belum pernah lagi aku melangkahkan kaki untuk pulang, namun malam ini aku memutuskan untuk pulang karena ibu memberitahuku bahwa bapak sedang sakit. Jiwaku terasa hancur, seolah bangunan yang tiba-tiba roboh. Penyesalan datang melayang, menertawakanku.

Jumat lalu, bapak menelepon, “Kangen, nduk, kapan pulang?” tanyanya. Jawabanku selalu sama, “Iya, Na pulang lebaran kalau sudah tidak ada kerjaan ya Pak.” Padahal, aku tahu lebaran pasti tidak ada kerjaan, dan bapak tahu itu. Namun, bapak hanya menghela napas dan berkata, “Ya sudah, sehat-sehat, ya. Kalau sudah mau pulang, jangan lupa bilang bapak.”

Tuhan memberiku kesempatan. Setelah membeli tiket, aku duduk dan menunggu kereta yang akan datang dalam 30 menit, waktu yang terasa sangat panjang. Selama itu, aku melamun, mengenang kenangan indah bersama bapak, dan hanya bisa menangis dengan segala penyesalan. Kata andai paling banyak bermunculan dipikiranku malam itu. Andai aku berani pulang, andai aku sudah memaa an, andai aku lebih memikirkan keluarga, dan masih banyak berbagai andai lainnya yang terus bermunculan.

melamun, sampai tiba-tiba tepukan tangan di sebelahku membuatku sedikit terkejut. “Eh, maaf mbak. Saya ngagetin ya?” ucapnya dengan raut wajah yang khawatir. “Sedikit mas, tapi memang saya aja yang lagi melamun. Kenapa ya?” tanyaku sambil tersenyum kecil. “Mbaknya mau ke Purwokerto juga?” tanyanya. “Iya, masnya juga?” “Iya mbak, satu tujuan ternyata. Lanjut aja mbak, maaf saya ganggu mbak istirahat.” Aku mengangguk seraya tersenyum kecil.

Tiga tahun terakhir, aku selalu memberikan jawaban itu, bukan karena tidak ingin bertemu, tapi karena aku belum sembuh setelah seseorang menghancurkanku dan mempermalukan keluargaku. Untungnya, bapak dan ibu mengerti. Namun, waktu berlalu begitu cepat, dan aku sadar aku tidak bisa terus menunda untuk pulang, terutama karena usia bapak dan ibu yang semakin tua. Tanpa banyak berpikir, malam itu aku langsung pergi menuju stasiun untuk pulang.

Setibanya di stasiun, aku langsung membeli tiket. Ternyata tiket yang tersedia tersisa tinggal satu, aku pikir mungkin malam ini

Kereta kemudian datang sesuai dengan jadwalnya, langsung saja kulangkahkan kakiku masuk ke dalam kereta itu, kereta tua yang hanya ada satu menuju ke kotaku. Kursinya ada dua ditiap barisnya, penumpangnya pun sedikit, terkadang bisa saja kursi sebelahku kosong hingga perjalanan menuju kotaku. Dalam benaku, mungkin aku akan menghabiskan perjalanan ini dengan menangis dan juga melamun, sampai tibatiba sosok laki-laki yang mungkin dua tahun diatasku menuju tempat duduk sebelahku dan melihat nomor kursinya “15b ya? iya bener ini” gumamnya. Lalu tibatiba matanya menatap mataku lalu tersenyum sopan yang kubalas dengan sebuah anggukan. Kereta pun kemudian melaju, membawa seluruh langkahku yang sudah lama tertinggal di Jakarta. Dua puluh menit kuhabiskan dengan

Dua stasiun pertama sudah terlewati dan aku masih tetap tak bisa tidur, hanya melamun sampai tiba-tiba dia memberiku sebuah sapu tangan. “Nih mbak, masih bersih kok belum saya pakai,” ucapnya. Aku menerimanya, lalu menghapus jejak air mataku yang tanpa sadar jatuh dari pelupuk mataku yang tidak sanggup kubendung lagi. “Terima kasih,” ucapku padanya. “Lagi capek ya mbak?” tanyanya. Aku hanya mengangguk, kemudian dia bertanya terus menerus, mencoba untuk mencairkan suasana. Ternyata pertanyaanpertanyaan yang diajukannya membawa kami pada obrolan panjang yang menemani perjalanan ini. Tidak terasa waktu terus berlalu, selama perjalanan dia tidak berhenti berbicara, membuatku heran, apakah dia tidak kelelahan berbicara terus menerus? Anehnya, aku tidak merasa terganggu. Caranya bicara

menenangkanku, apalagi raut wajahnya membuatku selalu ingin tertawa. “Eh kamu nggak cape apa?” tanyaku dengan tawa. Dia hanya tersenyum menanggapiku. “Udah bisa ketawa kan? Jujur saya sebenarnya nggak tahu juga kenapa bisa banyak ngomong begini.”

“Halah, buaya nih,” kataku dengan tawa kecil. “Mana ada buaya cakep begini.” Aku hanya bisa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.

Waktu itu jam menunjukkan pukul dua pagi, sudah lebih dari tengah malam yang artinya kami sudah berbicara selama kurang lebih tujuh jam. Rasanya berbicara dengannya tidak perlu berpurapura, semuanya bisa aku utarakan dengan leluasa. Aneh sekali, padahal kami adalah dua orang asing yang kebetulan menaiki kereta yang sama, bahkan tanpa saling mengetahui nama. “Oh, jadi tunanganmu ini tiba-tiba batalin pernikahan kalian tepat tiga hari sebelum pernikahan kalian gitu?” tanyanya. “Iya, jahat banget kan? Padahal kami sudah berteman cukup lama juga loh, tapi dari kejadian itu memberiku pelajaran juga sih, contohnya ya gitu tuh, seseorang yang udah lama kita kenal pun gak memungkiri bakal kasih luka yang begitu besar. Kalau kata bapak sih semua hal memang selalu ada hikmahnya, termasuk hal paling menyakitkan sekalipun.”

“Hal paling menyakitkan sekalipun?” tanyanya dengan wajah yang terus menatapku. “Begitu sih kalau kata bapak, tapi aku sendiri belum bisa maa n dia.” “Karena itu juga berarti kamu nggak mau pulang?” Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Lalu untuk pertama kalinya, kali

ini aku yang memulai sebuah obrolan lagi diantara kami. “Kalau kamu sendiri capek ga?” tanyaku. Dia hanya memandangiku dengan tersenyum. Senyum yang mengundang banyak arti, sampai sekarang pun tak pernah kuketahui apa artinya itu.

Dering telfonku tiba-tiba berbunyi, di sana tertulis Ibu, yang membuat perasaanku tiba-tiba menjadi gelisah, karena aku tahu ini pasti bukan kabar yang baik, tapi semesta aku mohon jangan kabar itu. “Halo nduk.” Suara Ibu yang gemetar memecah keheningan diantara kami. “Halo Ibu, kenapa? Na sudah dekat, ini sudah di Kroya,” ucapku. Lima detik tak terdengar apapun dari sana, tapi aku tahu bahwa ibu sedang menangis. lima detik tak terdengar apapun dari sana tapi aku tahu bahwa ibu sedang menangis. “Bapak Na....., Bapak sudah tidak ada.” Suara Ibu saat itu terputus-putus, menjadi suara paling sedih yang pernah kudengar selama hidupku. “Kamu hati-hati ya, bapak juga berpesan supaya kamu hati-hati. Dari semalam juga yang ditanyain tetap kamu terus. Bapak nanyain kamu sudah sampai mana.” Ibu tetap melanjutkan perkataannya, meskipun dengan suara yang begitu parau. “Maaf ya nduk, Ibu baru bisa telfon saat bapak sudah pergi. Ibu takut kamu kepikiran.” Selama satu menit itu aku dan ibu hanya bisa menangis. “Iya Bu, Ibu gausah minta maaf, justru Na yang harus minta maaf sama ibu, terutama sama bapak, Na belum bisa jadi anak berbakti buat kalian.”

Dini hari itu, aku dan Ibu samasama menangis, dalam sebuah keheningan pagi dan di antara terowongan yang memiliki ujung.

Ternyata tanpa kusadari, tangannya dari tadi terus menepuk-nepuk punggungku, memberikanku sebuah ketenangan, tanpa berbicara apapun seakan dia mengerti bahwa aku sudah tak ingin membicarakan apapun bahkan jika itu sebuah candaan. “Na, aku memang gak tahu bagaimana sakitnya hal itu. Aku juga gak akan meminta kamu untuk berhenti menangis, tapi aku akan meminta kamu supaya bisa kuat.” Untuk pertama kalinya dia menyebut namaku yang bahkan dia saja tak pernah tahu namaku siapa, pun sebaliknya. “Sepuluh menit lagi kita akan tiba di tujuan terakhir kita, semoga kamu kuat ya,” bisik kecilnya seraya memelukku. Aku hanya diam dalam pelukannya, sebuah pelukan yang terasa asing bagiku. Tapi, malam itu aku tahu, kalau peluknya meneduhkanku dari badai yang menimpaku.

“Yo, kamu bisa ingat aku dengan nama itu Na,” ucapnya disela-sela pelukan kami. Dini hari itu, aku mengingatnya sebagai Yo, entah Yo itu kependekan dari apa. Bahkan jika dia berbohong sekalipun, aku tak peduli, yang jelas malam itu, semesta mungkin sengaja mempertemukanku dengan sosoknya untuk membuatku tidak kesepian. Akhirnya, kami berdua tiba di stasiun terakhir, lalu kembali turun seperti awal mula perjumpaan kami, menjadi orang asing lagi. Mungkin takdir kami memang sampai disini, menyisakan sapu tangannya yang terbawa olehku. Aku menatap punggungnya yang perlahan mulai menghilang dari pandanganku.

Terimakasih Yo, sampai bertemu kapan-kapan?

MENUJU

Aku tidak ingin meninggalkanmu

Aku tidak ingin melupakanmu

Aku tidak ingin jauh darimu

Aku hanya ingin yang terbaik

Sulit rasanya untuk bergerak

Ragaku tak sanggup menahannya

Tetapi benakku berkata lain

Yang terpikirkan hanyalah dirimu

Aku yakin esok hari akan berbeda

Aku yakin kiat itu tidak sia-sia

Aku yakin kamu akan hebat

Tidak, aku yakin kita akan hebat

Jika ada kesempatan lain

Suasana itu tak akan sama lagi

Jika ada kesempatan lain

Sampai bertemu denganku lagi

- Athiyyah Ramadhani T.R -

IKLAN

Capture the Moment.

Archived November

“Apa

yang saya suka tentang fotografi adalah mereka menangkap momen yang hilang selamanya, dan tidak mungkin untuk memproduksinya kembali”.

– Karl Lagerfeld

Photographer Darrel Belva, Gitalis Hayati N. Layouter Muhammad Farhan A.

Archives of our Journey

“ IF YOU WANT TO BUY WITHOUT LOOK AT THE PRICE TAG YOU NEED TO WORK WITHOUT LOOK AT THE TIME “
Photographer Darrel Belva, Gitalis Hayati N. Layouter Muhammad Farhan A.

Drinking Water Station (DWS) merupakan program berupa sarana pengolahan air minum Program ini dirancang untuk mendukung gaya hidup sehat dan ramah lingkungan serta mendukung konsep "Green Campus dan SDGS" , lewat program ini, seluruh warga kampus baik mahasiswa, dosen atau civitas akademika dapat mengakses air minum di beberapa titik strategis kampus. Hingga saat ini sudah ada 23 unit DWS yang tersebar di 14 titik di kampus IPB Dramaga dan IPB Gunung Gede. Contohnya adalah DWS yang berada di gedung Common Classroom atau biasa disebut "Bottle Filling Station"

Fotografer: Muhammad Hanif D (Fahutan) dengan melalui beberapa tahapan penyaringan." Jelas Munir saat. diwawancarai pada tanggal 19 November lalu. Pengoperasian water station ini menggunakan sistem otomatis dari pukul 7 pagi hingga 9 malam, dengan jadwal pengurusan air sebelum jam operasional dimulai setiap harinya.

Munir, salah satu teknisi yang terlibat dalam proyek ini, menjelaskan bahwa Drinking Water Station tersebut sudah dimulai sejak tahun 2019 berkat hibah dari Bank BNI. Tujuannya adalah untuk menghemat pengeluaran mahasiswa dan mendukung pengurangan penggunaan limbah botol plastik dari air minum kemasan.

"Awalnya, stasiun ini dibuat untuk mahasiswa agar bisa menghemat biaya. Kami menggunakan sistem pengolahan air dari Sungai Cihideung, yang diresapkan dan diolah di Menara Fakultas Kehutanan

Sumber Air dan Proses Pengolahan

Menurut Munir, sumber air untuk water station berasal dari sungai dan diolah secara alami tanpa menggunakan bahan kimia. Proses pengolahannya melibatkan deteksi sensor dan penyinaran untuk membunuh bakteri. Hal ini memastikan bahwa air yang disalurkan

berkualitas tinggi

tanpa campuran bahan berbahaya. “Kami mengikuti standar

mesin dari Amerika, dan setiap dua bulan sekali mesin ini diganti,” tambahnya.

Pada awalnya, pengelolaan air

sempat terkendala

dengan sistem sumur bor. “Sumur bor yang kami buat sering

bermasalah karena

airnya keruh dan area di bawahnya mengalami longsor.

Akhirnya kami

memutuskan untuk mengambil sumber air

dari Menara Sungai

tapi kami pastikan tidak ada penggunaan bahan kimia. Jika pH air tidak stabil, kami segera menghentikan distribusi dan memeriksa kembali sistem pengolahannya."

Drinking Water Station ini telah melalui berbagai tantangan, termasuk tertundanya peresmian akibat pandemi COVID-19. "Stasiun ini sebenarnya sudah selesai pada 2019, namun karena pandemi, baru bisa digunakan pada tahun 2022," tambahnya.

“

Water station ini sangat membantu mahasiswa baru dan juga kami yang tinggal di asrama.

Dengan

adanya water station, kami jadi tidak malas untuk minum air putih.

Sebagai penghuni asrama, saya merasa sangat terbantu karena bisa menghemat pengeluaran untuk membeli air mineral di luar, yang harganya lumayan mahal. Sekarang, kalau kehabisan air di asrama, saya tinggal pergi ke CCR untuk mengisi ulang."

Pengujian Kualitas

Air

Cihideung,” jelas Munir. Keberadaan water station ini sangat dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa di kampus IPB. Banyak mahasiswa yang mengajukan proposal di Help Center untuk mendapatkan solusi air bersih, sehingga keberadaan stasiun ini mendapat dukungan penuh. Sistem ini dikelola oleh PPKU sejak awal 2022, setelah sebelumnya mendapat pendanaan dari Bank BNI

Menurut Munir, penting untuk menjaga kualitas air tetap bersih sehingga kualitas air ini dijaga dengan ketat. Pengujian air dilakukan setiap enam bulan sekali dengan biaya yang cukup tinggi, sekitar 1,2 juta rupiah per sampel.

"Rasa air yang dihasilkan memang bisa sedikit berbeda karena pengolahan

alami ini,

Dengan adanya teknologi water station ini, IPB tidak hanya membantu mahasiswa mengurangi pengeluaran, tetapi juga mendukung kampus hijau dan pengurangan sampah plastik, sekaligus menjaga kualitas air

Mahasiswa yang tinggal di asrama juga merasakan manfaat yang besar dari sistem ini. Salah satu mahasiswa, Vaisha, menyampaikan pandangannya, dia berpendapat bahwa

Reporter: Azka Annisa K W ,, Rahma Azizah. Fotografer: Elly Nur H, Muhammad Hanif. D. Layouter: Nhimas Ayu. K

Mengurangi Sampah, Menghasilkan Pakan: Budidaya Maggot

untuk Pertanian yang Lebih Hijau

Sebuah inovasi menarik muncul dari Desa Jabah Rahmaya, di mana sebuah organisasi IAAS IPB University berinisiatif untuk memulai

budidaya maggot jenis Black Soldier Fly (BSF). Gagasan ini muncul ketika mereka mengikuti sebuah lomba yang berfokus pada solusi pengelolaan limbah. Setelah memenangkan lomba, mereka mendapat kesempatan untuk mewujudkan program ini di tengah masyarakat desa.

Salah satu motivasi utama di balik inisiatif ini adalah keprihatinan terhadap tingginya tingkat limbah makanan di desa. “Hasil wawancara kami dengan warga menunjukkan bahwa banyak dari mereka membuang sisa makanan begitu saja, sementara sebagian lainnya menggunakan makanan itu untuk pakan ternak. Di sisi lain, pakan ternak dan ikan di desa cukup mahal dan sulit diakses,” ujar salah satu inisiator program. Dengan adanya budidaya maggot BSF, mereka berharap dapat memberikan alternatif pakan ternak yang lebih terjangkau, sekaligus mengurangi limbah makanan.

Budidaya maggot ini dimulai pada bulan Maret lalu. Meski sempat berkembang dengan baik, saat ini program tersebut sedikit terhambat oleh kesibukan para anggota tim serta kendala dari mitra kerja sama. “Dalam praktiknya, ada saja kendala, baik dari masalah pribadi anggota tim maupun pihak yang bekerja sama dengan kami,” jelasnya.

Proses budidaya maggot dilakukan dengan langkahlangkah sederhana namun efektif. Maggot BSF dibeli secara daring, lalu ditempatkan dalam media

di campuran bedak dan nasi bekas sebagai makanan awal. Setelah berumur tiga minggu, maggot mulai diberikan makanan berupa sisa sayuran dan buah yang memiliki tekstur lebih keras. Ketika maggot mulai menghitam, yang menandakan mereka memasuki fase menjadi lalat, maggot dipindahkan ke dalam kaleng khusus yang dilubangi dan dilapisi jaring untuk memastikan lalat tidak keluar. Dalam kaleng tersebut, maggot tidak lagi diberi makan, hanya disediakan kaleng tambahan untuk tempat bertelur.

Budidaya ini dilakukan dengan cara tradisional, tanpa menggunakan teknologi canggih. Meski demikian, pendekatan ini dinilai cukup efektif. “Kami lebih memilih metode sederhana yang mudah diterapkan di desa. Hal ini juga untuk memastikan program ini bisa dilakukan oleh warga tanpa biaya tambahan yang besar,” katanya. Budidaya maggot ini menjadi solusi yang menjanjikan untuk berbagai permasalahan di desa, mulai dari pengelolaan limbah hingga penyediaan pakan ternak yang murah dan mudah diakses. Dengan dukungan yang lebih besar, program ini diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Desa Jabah Rahmaya. Khairu juga menuturkan bahwa budidaya maggot dapat berdampak pada dua hal, yaitu ekonomi dan lingkungan. Dari segi lingkungan, budidaya maggot jelas dapat meminimalkan limbah sisa makanan dan juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Sedangkan, dari segi ekonomi, maggot dapat menjadi salah satu dari penerapan sirkular ekonomi

di mana limbah sisa makanan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sumber daya baru. Seperti misalnya, limbah makanan tersebut akan menjadi pakan maggot, lalu maggot akan digunakan sebagai pakan ternak ikan. “Iya, bahkan aku pernah berdiskusi dengan beberapa alumni IPB, kalau ikan yang diberi maggot sebagai pakan mereka dagingnya akan lebih gurih, jadi menurutku ini nilai plus dari maggot di bidang ekonomi sih,” jelas Khairu. Selain itu, pada penerapan sirkular ekonomi, hasil pencernaan maggot yang mengonsumsi sisa sayuran busuk atau sayuran gagal panen dari petani juga dapat menjadi pupuk bernama kasgot. Walaupun hanya membudidaya dan bermitra dengan stakeholder, tetapi Khairu juga memiliki keinginan untuk melakukan edukasi kepada para petani dan peternak tentang manfaat dari maggot. Ia sangat berharap Magrow, nama pembudidayaan maggot mereka, tidak hanya berhenti di fase penjualan saja, tetapi juga terus berekspansi dengan mengedukasi banyak orang sehingga maggot lebih dikenal lebih luas lagi. Untuk pertanian Indonesia sendiri, Khairu berharap budidaya maggot lebih banyak dipraktikkan oleh para petani dan peternak karena memiliki nilai ekonomi yang besar. “Aku berharap banget budidaya maggot lebih banyak dikenal dan dipraktikkan lagi sampai ke pelosok Indonesia bukan hanya dianggap sebagai hewan menjijikan, tetapi dilihat sebagai sesuatu yang memiliki manfaat kepada ekonomi dan lingkungan yang besar,” tutup Khairu saat diwawancarai pada hari Selasa, 26 November 2024.

ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)

Illustrator Bulan Maysheira P. Layouter Rasyad Sastro H.

Tim Soyveyor IPB University Tembus PIMNAS dengan Inovasi Mesin Pemecah Kedelai

Kelompok Soyveyor, tim PKM mahasiswa IPB University yang terdiri dari lima mahasiswa lintas jurusan, berhasil melaju ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) dengan kategori penerapan IPTEK. Mereka menciptakan mesin pengolah kedelai untuk meningkatkan efisiensi produksi tempe skala besar. Eliza, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa ide mesin ini berawal dari wawancara dan pengamatan langsung terhadap permasalahan yang dihadapi mitra yaitu sebuah UMKM tempe. Sebelumnya, proses penggilingan, pemecahan kulit, dan penyortiran dilakukan secara terpisah, sehingga memakan waktu lama dan menghambat pemenuhan permintaan pasar. Sebagai solusi, tim Soyveyor kemudian merancang mesin pengolah kedelai yang mengintegrasikan seluruh proses dalam satu alat yang belum tersedia di pasaran sebelumnya. Sebelum menggunakan alat ini, proses produksi yang dilakukan masih mengandalkan cara tradisional sehingga seringkali memerlukan banyak waktu dan tenaga. Dengan alat yang diciptakan oleh kelompok Soyveyor, banyak kendala mitra yang sudah berhasil teratasi. Pak Siman, pemilik Rumah Sehat Super Tempe yang menjadi mitra, berbagi pengalamannya terlibat dan menggunakan alat pemecah kedelai dari kelompok Surveyor. “Alat ini walaupun hanya kami gunakan saat stok kedelai lumayan banyak,

tetapi sangat membantu karena dapat mengurangi wak tu proses pemecahan kedelai hingga 2 jam lamanya, jadi pekerjaaan kami pun cepat selesai,” kata Pak Siman. Ia melanjutkan, “Selama alat ini beroperasi belum pernah sekalipun ada kendala, mereka sangat bekerja keras untuk ini dan saya senang bisa bisa menjadi mitra mereka.” Pengalaman positif yang dibagikan Pak Siman ini menunjukkan bahwa kelompok Soyveyor memberikan dampak nyata kepada mitra dalam meningkatkan efisiensi produksi tempe skala besar. Eliza menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan Soyveyor melaju ke PIMNAS. “Rasanya sangat senang bisa sampai ke PIMNAS, meski ada beberapa kendala saat presentasi, tetapi semua kerja keras kami terbayar,” kata Eliza. Dia berharap UMKM pabrik tempe lainnya dapat merasakan manfaat penggunaan alat ini untuk mempermudah produksi mereka. “Jika ada kesempatan mengembangkan alat ini lagi, saya ingin membuat versi yang lebih besar untuk bermitra dengan perusahaan yang lebih besar dari Rumah Sehat Tempe Super,” tambahnya. Pak Siman juga menjelaskan bahwa untuk memaksimalkan penggunaan alat dan mengurangi risiko kegagalan, tim Soyveyor memberikan panduan lengkap mengenai cara kerja alat yang dapat dipelajari kembali oleh mitra kapan saja.

TEKA-TEKI SILANG

Menurun

1. Sistem operasi populer untuk komputer dan laptop

2. Alat untuk mengakses internet melalui jaringan nirkabel

3. Aplikasi untuk berkomunikasi melalui pesan teks atau suara

4. Ilmu yang mempelajari kecerdasan buatan

Mendatar

5. Teknologi yang bekerja pada skala nanometer, sering digunakan dalam elektronik dan kesehatan.

6. Perangkat penyimpanan data yang menggunakan memori flash untuk menyimpan informasi secara permanen

7. Perangkat yang mendeteksi perubahan fisik atau lingkungan dan mengubahnya menjadi sinyal.

8. Komponen komputer yang berfungsi memproses data

Korpus IPB

Apakah kamu merasa AI bisa menjadi ancaman atau peluang di masa depan?

SCANNING...

61

Menurut saya AI bisa menjadi ancaman bagi masa depan karena kebanyakan murid dan mahasiswa menggunakan AI itu dan menganggap semua bisa dikerjakan dengan AI sehingga ilmu yang di dapat tidak diimplementasikan dengan baik juga pelajar menjadi malas membaca materi bahkan bisa berdampak bagi perkembangan diri.

Marsya Regitha A. - KMN 60

Menurut saya, AI bisa menjadi ancaman karena awalnya teknologi ini dirancang untuk membantu manusia. Namun, kini AI tidak lagi hanya berperan sebagai alat bantu, tetapi juga mulai menggantikan pekerjaan manusia, sehingga berpotensi menjadi ancaman.

Menurut saya AI bisa menjadi peluang sekaligus ancaman bagi masa depan, hal itu tergantung dari bagaimana cara penggunaannya. AI akan menjadi peluang jika seseorang bisa menggunakannya dengan bijak, seperti halnya sesuatu hal yang memakan waktu lama dengan bantuan AI akan menjadi lebih singkat dan efektif. Namun, dengan syarat orang tersebut harus mengetahui ilmu dasar yang ingin dia kerjakan. Sedangkan AI bisa menjadi ancaman apabila digunakan oleh seseorang untuk mengerjakan sesuatu tanpa ingin mempelajari prosesnya, seperti contohnya menanyakan jawaban ujian menggunakan Chatgpt.

Vaisha Najwa - FAPET
Nova Sita Fitria - FPIK 61

Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
Logos Automaton | Tabmin Kelompok 7 by Koran Kampus IPB - Issuu