Kenali Emfisema,sebagai salah satu Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK)
Kenali Emfisema,sebagai salah satu Penyakit Paru Obtruktif Kronis (PPOK)
Era global ini, gaya hidup penduduk Indonesia terus berubah, tidak jarang gaya hidup yang negatif dianggap sebagai trend, misalnya kebiasaan merokok. Banyak penyakit dikaitkan secara langsung dengan kebiasaan merokok, dan salah satu yang harus diwaspadai ialah Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) / Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), karena belum banyak diketahui masyarakat luas. Pengalaman praktik dokter keseharian, kalau menyebut penyakit Bronkitis, Asma, TBC maupun Kanker paru sudah banyak anggota masyarakat yang mengetahui setidaknya pernah mendengar dan cukup familier. Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit paru yang ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran napas yang tidak sepenuhnya reversible. Hambatan aliran udara ini bersifat progresif dan behubungan dengan respon inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang beracun/ berbahaya. Istilah penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) atau Chronic Obstructif Pulmonary Disease (COPD) ditujukan untuk mengelempokkan penyakit-penyakit yang mempunyai gejala berupa terhambatnya arus udara pernapasan. Kelompok penyakit yang dimaksud adalah emfisema, bronkitis kronis, asma bronkial dan bronkiektasis. Nah, yang akan kita bahas sekarang adalah emfisema. Apa itu emfisema? Emfisema adalah kondisi pada paru yang ditandai dengan pembesaran yang irrevessible ruang udara pada distal bronkiolus terminalis dan diikuti dengan adanya destruksi dinding alveoli tanpa fibrosis yang jelas. Emfisema ditandai dengan pernafasan yang pendek yang disebabkan oleh kesulitan untuk menghembuskan seluruh udara keluar dari paru-paru karena tekanan udara yang berlebihan dari kantung udara di dalam paru-paru (alveoli). Tipe-tipe emfisema utama berdasarkan distribusi anatomi ada 4, yakni : Emfisema centriacinar (centrilobular), panacinar (panlobular), paraseptal (distal acainar) dan irreguler. Dominan terjadi pada tipe centriacinar yang dapat mencapai 95% dari kasus-kasus emfisema. Emfisema centriacinar adalah emfisema pada bagian sentral atau proksimal dari aciniyang dibentuk dari bronkiolus respiratorius. Emfisema ini lebih parah pada bagian lobus paling atas (apex). Dinding-dinding alveoli yang melebar terdapat pigmen hitam serta ada reaksi inflamasi pada bronkus dan bronkiolus. Lama-lama tipe ini bisa juga berdifferensiasi menjadi tipe panacinar. Definisi emfisema panacinar adalah bersal dari awalan ’pan’ yang artinya keseluruhan. Jadi emfisema panacinar adalah emfisema yang terjadi pada seluruh acinus. Bisasanya paling sering terjadi pada daerah yang lebih bawah pada daerah margin/tepi paru dan yang paling berat pada basis paru. Tipe ini sering dihubungkan dengan adanya defisisensi ι1antitrypsin (ι1-AT). Emfisema paraseptal (distal acinar) adalah emfisema pada bagian distal acinus sedangkan bagian proksimalanya normal. Emfisema ini terjadi secara multiple,
berkelanjutan, ruiang udara melebar dari diameter < 0.5 cm menjadi > 2.0 cm, dan kadang membentuk struktur seperti kista. Terjadi perlekatan area-area fibrosis, jaringan parut dan biasanya lebih berat pada separuh atas bagian paru. Emfisema irregular adalah pelebaran ruang udara dengan adanya fibrosis, biasanya asimptomatik dan tidak signifikan secara klinis. Selain tipe-tipe di atas ada bentuk lain dari emfisema. Seperti, emfisema kompensasi, yakni adanya dilatasi alveoli tanpa destruksi dinding septum yang merupakan respon dari hilangnya substansi pada paru. Ada juga overinflasi obstruktif yang disebabkan oleh obstruksi subtotal oleh tumor atau benda asing. Selain itu, ada emfisema bullosa, dimana terdapat bula subpleural yang besar ( Ă˜ >1 cm ), terjadi dekat apex, terkadang berhubungan dengan jaringan parut tuberkulosa yang sudah lama, dan kalau rupture bisa menyebabkan pneumothoraks. Contoh lainnya lagi seperti emfisema intertisial yaitu masuknya udara ke dalam jaringan ikat stroma pada paru, mediastinum atau jaringan subkutan. Biasanya disebabkan oleh fratktur costa yang menembus paru.
Patogenesis utama penyakit ini bisa karena adanya hipotesis ketidakseimbangan antara protease-antiprotease. Ketidakseimbangan ini bisa karena defisiensi antiprotease Îą1- antitrypsin yang secara normal ada pada serum, cairan jaringan dan makrogaf, serta merupakan inhibitor mayor protease yang bekerja sebagai elastan. Bisa juga terjadi aktivasi neutofil karena pajanan ROS seperti pada perokok, sehingga menyebabkan inaktivasi dari Îą1-antitrypsin. Akibatnya aktivitas elastase meningkat, terjadi kerusakan jaringan (emfisema paru).
Gejala klinis biasanya muncul ketika parenkim paru yang rusak > ⅓. Seperti dyspneu, batuk, wheezing (mengi), penurunan berat badan, dada seperti tong (barrel chest), susah untuk melakukan ekspirasi. Expiratory airflow limitation ini dapat diukur dengan spirometri dan dipakai sebagai kunci diagnosis. Kebanyakan orang dengan menderita penyakit ini adalah pria yang sudah berumur >50 tahun, yang telah menjadi perokok berat untuk sebagian besar hidup mereka. Namun, sekarang yang merokok bukanlah hanya para pria saja, wanita juga sudah banyak yang merokok. Dari sinilah penyakit ini dapat menyerang pada wanita juga. Perkembangan pada penyakit Emfisema bisa dikatakan sangat lambat. Karena biasanya penderita akan merasakan sesak napas selama kegiatan atau latihan, dan alasan inilah yang mendorong seseorang datang ke dokter untuk melakukan konsultasi. Penyebab penyakit ini adalah :  
Usia Merokok
Polusi Udara Jenis Kelamin Faktor Keturunan Jarang Berolahraga Pola Hidup tidak Sehat Reaktivitas Saluran Pernapasan Kekurangan Enzim Alpha-1 Antitrypsin
5. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Emfisema paru terbagi atas : I. Penyuluhan: Menerapkan pada pasien hal-hal yang dapat memperberat penyakit, hal-hal yang harus dihindarkan dan bagaimana cara pengobatan dengan baik. II. Pencegahan: a. Merokok Merokok harus di hentikan, meskipun sangat sulit,penyuluhan dan usaha yanng optimal harus di lakukan. b. Polusi Menghindari lingkungan polusi sebaiknya dilakukan penyuluhan secara berkala pada pekerja pabrik, terutama pada pabrik-pabrik yang mengeluarkan zat-zat polutan yang berbahaya terhadap saluran pernafasan.
III. Terapi farmakologi Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi obstruksi jalan napas yang masih mempunyai komponen yang revesible meskipun sedikit. IV. Fisioterapi dan rehabilitasi Tujuan fisioterapi dan rehabilitasi adalah untuk meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup dan memenuhi kebutuhan pasien dari segi sosial,emosional,vokasional, Program fisioterapi yang dilaksanakan berguna untuk : ďƒź Mengeluarkan mucus dari saluran nafas ďƒź Memperbaiki Efisiensi ďƒź Memperbaiki Dan Meningkatkan kekuatan fisik V. Pemberian O2 dalam jangka panjang Pemberian O2 dalam jangka panjang akan memperbaiki Emfisema disertai kenaikan toleransi latihan, biasanya di berikan pada pasien Hipoksia yang timbul pada waktu tidur atau waktu latihan, Menurut Make Pemberian O2 selama 19 jam/hari akan mempunyai hasil yang lebih baik dari pada pemrian O2 12 jam/hari.