Skip to main content

HARI KESEHATAN NASIONAL: MALARIA JADI PAHLAWANNYA?

Page 1

BY : NABILA PUTRI - 18 NOVEMBER 2021

HARI KESEHATAN NASIONAL: MALARIA JADI PAHLAWANNYA?

Halo sobat NOME! Selamat Hari Kesehatan Nasional! Tepat pada tanggal 12 November kemarin telah diperingati Hari Kesehatan Nasional yang ke-57. Tahun ini Indonesia mengambil tema ‘Sehat Negeriku, Tumbuh Indonesiaku’. Mengingat kita masih terjerat di dalam kondisi pandemi COVID-19, campaign yang dilakukan juga sekaligus menyuarakan vaksinasi. Hal ini terlihat pada twibbon resmi yang diupload oleh KEMENKES RI. Namun, tahukah teman-teman awal dari Hari Kesehatan Nasional ini ada? Pada tahun 1950-an terjadi wabah malaria di Indonesia. Hampir seluruh penjuru negeri terjangkit penyakit ini. Banyak sekali korban berjatuhan. Melihat hal ini pun pemerintah langsung turun tangan untuk menciptakan badan dan juga program untuk membasmi malaria menggunakan DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane) dibantu dengan WHO (World Health Organization) dan USAID (United States Agency for International Development). Secara simbolis, tanggal 12 November 1959, Presiden Soekarno melakukan penyemprotan di Desa Kalasan, Yogyakarta. Penyemprotan DDT yang dilakukan dibarengi dengan penyuluhan, edukasi, dan juga promosi Kesehatan ke masyarakat. Semenjak hari itu, tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional. Namun, seiring berkembangnya waktu setelah pembasmian wabah tersebut, siapa sangka malaria sekarang masih menjadi mimpi buruk bagi Indonesia dan apakah teman-teman tidak penasaran bagaimana sih sebenarnya penyakit malaria itu? Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium spp. Parasit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Tidak semua Plasmodium yang ada menyebabkan malaria pada manusia, ada 5 spesies yang dikenal sampai pada saat ini mampu menginfeksi tubuh manusia, yaitu P. falciparum, P. vivax, P. ovale, P. malariae, dan P. knowlesi. Gejala malaria ini dikenal dengan trias, yaitu demam, menggigil, dan berkeringat. Demam merupakan gejala utama yang khasnya berbeda-beda sesuai jenis Plasmodium yang menginfeksi. Namun, jenis malaria yang memang gejalanya paling berat sehingga menyebabkan

NEWS OF MEDICAL EDUCATION


kasus yang fatal hingga meninggal adalah Plasmodium falciparum lalu diikuti dengan Plasmodium vivax. Tipe demam pada kedua jenis Plasmodium tersebut adalah intermiten dan kontinyu. Adapun, wilayah endemis tinggi malaria di Indonesia, telah dilaporkan meliputi Papua, Papua Barat, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Persentase kita menderita penyakit malaria ini akan lebih besar jika kita melakukan hal-hal seperti bepergian ke daerah endemis tanpa pencegahan yang adekuat, bertempat tinggal di pedesaan daerah endemis, tidak menggunakan kelambu saat tidur di daerah endemis, pekerjaan penduduk yang kebanyakan terjadi di malam hari seperti nelayan, dan status imun rendah contohnya orang dengan HIV/AIDS, ibu hamil, usia lanjut, dan anak kecil/bayi. Maka dari itu, kita harus melakukan pencegahan agar tidak terjangkit penyakit malaria ini. Ada banyak jenis pencegahan yang bisa kita lakukan, yaitu dengan penggunaan obat kemoprofilaksis (pemberian obat sebagai bentuk pencegahan terinfeksi malaria sebelum pergi ke daerah endemis) atau tanpa pengkonsumsian obat. Untuk pencegahan tanpa obat bisa digunakan prinsip ABCD. Pertama, kita harus meningkatkan Awareness atau kewaspadaan terhadap risiko malaria. Kedua, Bites Prevention juga harus menjadi poin penting. Gigitan nyamuk harus sebisa mungkin kita minimalisir dengan menggunakan kelambu berinsektisida, repelen, kawat kasa nyamuk, obat nyamuk, dan lain-lain. Ketiga, ada Chemoprophylaxis yang dimana pemberian obat profilaksis ini dinilai penting sebagai bentuk pencegahan infeksi malaria sebelum pergi ke daerah endemis. Obat yang bisa digunakan adalah doksisiklin. Namun obat tersebut tidak boleh diberikan pada ibu hamil dan anak dibawah umur 8 tahun. Terakhir, adalah Diagnosis dan Treatment. Penyakit yang diketahui lebih awal tentunya tidak akan separah penyakit yang terlembat diketahui. Adapun, pengobatan terbaru penyakit ini bisa menggunakan beberapa kombinasi obat atau yang biasa disebut dengan ACT (Artemisinin-based combination therapy) karena dinilai lebih efektif. Obat-obat lain juga ikut menjadi tambahan sesuai dengan tingkat keparahan dan juga gejala yang dirasakan. Bahkan, sekarang WHO sedang bersiap untuk menggadangkan dan juga menyebarluaskan vaksin malaria pertama di dunia yang telah diteliti selama 30 tahun dan sudah melewati uji klinis terbesar. Vaksin ini disebut dengan vaksin Mosquirix yang baru disahkan oleh WHO 2021 lalu. Sebagai awal dari terbentuknya Hari Kesehatan Nasional seharusnya Indonesia sudah berhasil mengeradikasi penyakit malaria. Namun, nyatanya penyakit ini masih terus ada dan menghantui kita semua. Harapan pada Hari Kesehatan Nasional di tahun depan, setidaknya jumlah kasus yang ada bisa berkurang jika kita masih belum mampu menghapus penyakit ini. Jadi, yuk eradikasi malaria agar bisa menjadi pahlawan Hari Kesehatan Nasional seutuhnya! Inspired from : infoDATIN Pusat Data Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Malaria. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI;2016. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku saku penatalaksanaan kasus malaria, Jakarta: Kementerian Kesehatan RI;2020 Liwan, A.S., 2015. Diagnosis dan penatalaksanaan malaria tanpa komplikasi pada anak. Cermin Dunia Kedokteran, 42(6), pp.425-429. Sumartiningtyas, H.K.N., 2021. Mengenal Mosquirix, Vaksin Malaria Pertama untuk Anak di Dunia. KOMPAS.com. Available at: https://www.kompas.com/sains/read/2021/10/08/164000423/mengenal mosquirix-vaksin-malaria-pertama-untuk-anak-di-dunia?page=all [Accessed November 13, 2021].

NEWS OF MEDICAL EDUCATION


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook