Skip to main content

pengelana dari negeri tabu

Page 1

PENGELANA DARI NEGERI TABU Oleh: SILMI AL ILMIAH

⋇⋆✦⋆⋇ Halo... Namaku Niyala Divya Carista. Aku bersekolah di elara high school. Malam ini, aku mengikuti camping sekolah di lapangan terbuka, di bawah langit yang luas dan berlapis bintang. Suasana hening, hanya terdengar desir angin dan suara dedaunan yang bergesekan, bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan tadi sore. Tenda-tenda kecil terhampar di sekitar lapangan hutan yang luas, dan malam ini seharusnya menjadi malam yang hangat, Namun takdir berkata lain. Tiba-tiba saja Api unggun yang kami nyalakan padam tanpa aba-aba, meninggalkan kami dalam gelap yang nyaris menelan seluruh suara. Di tengah riuh langkah siswa yang berhamburan aku memilih duduk di tepi hutan dan bersandar pada sebuah pohon besar lalu memejamkan mata ditengah gelap yang pekat dengan rasa penasaran yang tak bisa dijelaskan. Di balik tirai malam yang pekat, mataku seolah menangkap sosok itu. Ya, sosok seorang pengelana dari negeri tabu, tempat cahaya enggan menjejak dan bayangan menari sendiri di antara kesunyian. Ia muncul dari gelap, tatapannya dalam seperti menelisik rahasia langit, senyumnya samar namun memanggil, seolah mengundang diriku ke arahnya tanpa suara. “Kamu siapa…?” bisikku, suaraku nyaris tenggelam di udara malam yang berat.


“Aku Ardan, Seorang pengelana dari negeri tabu, negeri dimana semua tempat yang kau takutkan justru menjadi teman” jawabnya. Suara nya tipis seperti angin yang menyelinap di celah-celah daun kering. Aku sempat tertegun. Nama itu meluncur begitu saja, namun terasa mengisi ruang kosong dalam pikiranku. jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Ardan lalu mengarahkan telunjuknya pada pohon besar itu, tatapannya memohon lirih seakan menggantungkan harapan terakhir pada diamnya rimbun daun.

Tiga malam berturut-turut, Ardan terus menyusup ke dalam mimpiku. Ia terus mengangkat telunjuknya ke arah pohon besar itu, seakan di sana tersembunyi sesuatu yang belum berani diucapkannya. “Ardan… sebenarnya apa yang kamu tunjuk?” bisikku, suara nyaris pecah oleh rasa penasaran dan sedikit takut. “Kenapa selalu pohon itu? Ada apa di sana?” Ardan hanya menatapku, mata gelapnya berkilat seperti ingin berkata banyak hal, namun bibirnya tetap terkunci. Telunjuknya kembali terarah pada pohon besar itu lebih tegas dari sebelumnya seolah seluruh jawabannya tertanam di balik rimbun yang membisu. ⋇⋆✦⋆⋇ Kring… kring… Bel istirahat berdentang, memecah keheningan kelas yang sejak tadi dipenuhi suara guru menjelaskan pelajaran. Hari ini terasa berbeda, materi kimia yang diberikan bu zefa begitu mudah dipahami, seakan ilmu mengalir tanpa hambatan. Aku beranjak dari kursi, dan bergegas menuju wastafel untuk membersihkan noda tinta yang menempel ditangan. Tak sedikit siswa yang kutemui di sepanjang lorong sibuk berbisik-bisik, membicarakan insiden 3 hari yang lalu saat di perkemahan. Suara mereka terpotong-potong, namun selalu mengerucut pada satu hal hantu. Aku menggenggam buku erat-erat di dada, merasakan hawa dingin menyusup pelan ke kulitku hanya dengan mendengar desas-desus itu. Kegelapan malam itu seakan kembali menari di kepalaku, mengingatkanku pada Ardan yang selalu datang ke dalam mimpi ku. Aku berdiri di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri. Kedua tanganku bertengger di pinggang, penuh percaya ddiri “Lihat dirimu, Niyala… begitu cantik, menawan, dan penuh pesona. hahaha” Aku terkekeh kecil, puas dengan kalimat penghiburan itu. Namun, saat aku berbalik untuk melangkah menuju kantin sekolah, bug! Tubuhku seketika terhempas ke lantai. Dan detik berikutnya aku sadar bahwa tali sepatuku terlepas, hingga menjebakku dalam kecerobohan konyol.


“Astaga… sialan!” gerutuku sambil meringis. “Kenapa sih, aku harus selalu ceroboh?”. Setengah jam berlalu, semua murid kembali ke kelasnya masing-masing dan melanjutkan kegiatan pembelajaran, di tengah-tengah pelajaran aku tidur karena mengantuk, dan yap! Aku kembali bermimpi bertemu dengan Ardan si pengelana dari negeri tabu. Namun, tempatnya tidak lagi dihutan melainkan di wastafel sekolah. Disana, aku menunduk mencuci kedua tanganku, entah mengapa bulu kuduk ku tiba-tiba berdiri, aku merasa ada seseorang yang berdiri dibelakang ku. Karena rasa penasaran yang tak terbendung aku menegakkan kepala, lalu menatap pantulan di cermin wastafel. “Aaaa!” Jeritanku pecah, meluncur tanpa bisa kucegah. Di balik pantulan kaca, berdiri sosok laki-laki dengan seragam sekolah kusut berlumuran darah. Wajahnya pucat pasi, seakan dihisap kehidupan. Jantungku berdegup liar. Tubuhku bergetar hebat hingga kedua telapak tanganku refleks menutup wajah. Gelap segera menelan pandanganku, tapi bayangan menyeramkan itu sudah terpatri jelas di benakku. “Hei Niyala...” Suara itu menusuk gendang telingaku, membuatku membuka mata perlahan. Nada bicaranya terdengar tak asing, seolah ada ketenangan yang berusaha menenangkan badai dalam dadaku. Aku menoleh dengan wajah gemetar, dan ternyata itu adalah Ardan, ya! Laki-laki yang selalu ketemui dalam mimpi ku. “A-Ardan…” suaraku terbata, napasku masih tersengal. Ardan menatapku tajam, namun ada kelembutan yang samar. Ia melangkah mendekat, merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajahku. “tolong aku la” gumamnya, seakan menimbang kata itu. “aku tahu kamu bisa bantu“ liriknya dengan senyuman miring yang menambah rasa penasaran. Tiba-tiba saja Ardan menarik tanganku yang kemudian membawaku ke sebuah hutan tempat sekolah ku berkemah beberapa hari yang lalu. Ardan mengangkat tangannya perlahan, lalu menunjuk kembali ke arah pohon besar, Suaranya lirih, namun setiap katanya menusuk hatiku. “Liat ke sana, Niyala… di bawah pohon itu ada jasadku. Selama hampir dua tahun, nggak ada yang pernah menemukanku. Dan aku… aku nggak bakal bisa hidup tenang di kehidupan selanjutnya kalau jasad aku aja belum dimakamkan dengan layak.” Aku menelan ludah, tenggorokanku tercekat. Mataku memanas, air bening menggantung di pelupuk. Membayangkan seseorang hidup sebagai roh terjebak hanya karena tubuhnya tak pernah ditemukan, membuat dadaku sesak. “Jadi kamu datang ke mimpi ku buat…” Kalimatku terhenti, suara tercekat oleh rasa takut sekaligus iba.


Ardan langsung memotong, tatapannya tajam namun penuh harap. “Iya, aku mau minta tolong sama kamu, dan Cuma kamu yang berani ngadepin semua ini.” Belum sempat aku merespons, sosok Ardan tiba-tiba memudar. Dalam sekejap, ia menghilang lenyap begitu saja, seperti asap yang diterbangkan angin. Mataku membelalak, tubuhku kaku. suasana mendadak terasa lebih dingin, seakan menelan semua suara. Hanya detak jantungku yang terdengar, berlari-lari liar di dalam dada. “A-ardan…?” panggilku lirih, namun yang menjawab hanyalah gema kosong dan desir angin. ⋇⋆✦⋆⋇ “Niyala!” Panggilan itu memecah lamunanku, membuatku tersentak kecil. Suara familiar itu milik Adel teman sebangkuku. Gadis berwajah manis dengan lesung pipi yang selalu muncul saat ia tersenyum, meski kali ini ia menatapku dengan alis terangkat penuh heran. “Kesambet apaan lo? Dari pagi tadi gue perhatiin ngelamun terus!” tegurnya, nada suaranya tegas namun ada kepedulian yang tak bisa disembunyikan. Aku menarik napas panjang, menunduk sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri menatapnya. “Del… gue harus cerita sesuatu.” Adel memiringkan kepala, menunggu dengan sabar. Lalu aku pun mulai membuka mulut, menuturkan semua yang terjadi sejak malam kemah, hingga sosok laki-laki bernama Ardan yang selalu muncul dalam mimpi di tengah kegelapan. Tak lupa, aku juga menceritakan sosok yang kulihat di cermin wastafel, dan bagaimana Ardan meminta pertolongan padaku. Kata-kata itu kembali terucap dari bibirku, membuat bulu kudukku meremang hanya dengan mengingatnya. Adel terdiam cukup lama setelah aku selesai bercerita. Matanya menatapku dalam-dalam, seolah ingin memastikan aku tidak sedang bercanda. “Jadi…” ia akhirnya bersuara, nadanya agak bergetar. “Lo ketemu pengelana dari negeri tabu bernama Ardan?” Aku mengangguk pelan, meski bagian dari diriku masih ingin menyangkal kenyataan tersebut. Adel menggigit bibirnya, “tapi.. Ardan itu siapa la? Apa dia....” Kalimatnya menggantung di udara, meninggalkan rasa penasaran yang menekan dadaku. Dalam keadaan serba membingungkan, aku menatap Adel dengan mata penuh harap. “Del, gue nggak bisa sendirian. Kita harus pecahin misteri ini, dan mencari tahu tentang siapa sebenarnya Ardan.” Adel langsung mengibaskan tangan, ekspresinya tegas. “Gue nggak mau!” ucapnya, matanya membulat seperti hendak menolak mentah-mentah ide gila itu.


Aku lalu merapatkan kedua tangan di depan dada, memelas sejadi-jadinya. “Please, Del… bantuin gue, ya? Masa gue harus sendirian?” Suaraku lirih, sengaja kububuhi wajah paling menyedihkan yang bisa kubuat. Adel mendengus, memutar bola matanya ke arah lain. “Huh… ya udah, kapan?” tanyanya akhirnya, nada suaranya seolah mengalah, meski jelas dia enggan. Senyumku langsung merekah lebar, hampir tak bisa kusembunyikan. “Pulang sekolah hari ini!” jawabku penuh semangat, mataku berbinar seperti anak kecil yang baru dapat hadiah. Adel menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Huh… dasar Niyala!” gumamnya, separuh kesal, separuh menyerah pada sifat keras kepalaku. Setelah bel pulang berbunyi dan seluruh murid meninggalkan sekolah, aku dan Adel bergegas menuju tempat perkemahan. Langkah kami bergema di sepanjang jalan hutan yang sunyi. Semakin mendekat, suasana terasa berbeda. Angin yang berhembus dari pohon-pohon tua yang membuat bulu kuduk meremang. Setiap derit kecil di tanah hutan seolah menjadi bisikan yang tak ingin kami dengar. “Aduh, Niyala… kita pulang aja, yuk! Gue takut banget!” pinta Adel sambil menggenggam erat tanganku. Jemarinya dingin, penuh kegelisahan. Aku menoleh, mencoba menenangkan dengan senyum tipis meski dadaku sendiri bergetar. “Aduh, Del… tapi bentar lagi kita sampai nih. Ayolah, tinggal beberapa langkah lagi ke pohon besar itu” Belum sempat aku melanjutkan langkah, suara-suara aneh itu terdengar lirih, namun jelas. Srakk… srakk… seperti sesuatu sedang diseret di tanah. Lalu disusul suara ketukan samar dari belakang pohon, tok… tok… tok… Adel menjerit kecil, lalu tanpa pikir panjang ia melepaskan genggamanku dan berlari terbirit-birit menuju lapangan utama perkemahan dan meninggalkan diriku sendirian “Niyala, gue nggak sanggup!” Aku terpaku di tempat. Kini hanya ada aku yang berdiri tepat di depan pohon besar yang sudah lapuk, dengan debu tebal menempel di setiap sisinya. Udara di sekitarku terasa semakin berat, seakan pohon itu bukan hanya sekadar penghalang, tapi gerbang menuju sesuatu yang tak seharusnya kusentuh. Aku menarik napas panjang, lalu memberanikan diri melangkah ke arah pohon besar yang sering ditunjuk oleh Ardan Kosong. Tak ada siapa pun. Aku mencoba menenangkan diri, tapi tiba-tiba seseorang berkata kepada ku “Aku ada di belakangmu, Niyala…”


Deg! Jantungku serasa meloncat dari dada. Tubuhku bergetar hebat. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku perlahan berbalik. Dan di sana Ardan berdiri. Wajahnya tenang, matanya menusuk, namun auranya dingin menusuk hingga tulang. Ardan menjelaskan semua tentang dirinya kepadaku dan tentang apa yang terjadi padanya. ⋇⋆✦⋆⋇ Keesokan harinya, dengan hati yang masih digelayuti takut, aku memberanikan diri melangkah ke ruang guru. Napasku berat, telapak tanganku dingin, namun aku tahu kebenaran ini harus kusampaikan. Dengan suara bergetar, aku menceritakan semuanya tentang kejadian saat perkemahan dan tentang mimpi-mimpi yang aku alami juga tentang jasad yang kutemukan di bawah pohon. Para guru menatapku lekat, sebagian terkejut, sebagian lain penuh keraguan. Pertanyaan demi pertanyaan mereka lontarkan, mencoba memastikan aku tidak sedang berhalusinasi. Namun, ketika keyakinanku tak goyah dan air mataku menetes, akhirnya suasana ruangan itu berubah. Tatapan curiga berganti dengan wajah muram yang penuh keseriusan. Tak butuh waktu lama, kepala sekolah pun langsung menghubungi tim SAR. Suara telepon berdering, terdengar tegas ketika beliau melaporkan adanya kemungkinan penemuan jasad seseorang yang hilang hampir dua tahun lalu. Dadaku berdegup kencang. Rasanya tak masuk akal, semua mimpi yang kualami selama ini yang mungkin dianggap rumor murahan oleh orang lain, kini mungkin saja terbukti benar. Dan aku… aku berada tepat di tengah pusaran misteri itu. Malam itu, proses evakuasi berlangsung di bawah cahaya lampu sorot yang menusuk pekatnya gelap. Para petugas bekerja dalam diam, hanya terdengar suara alat-alat yang bergesekan dengan kayu tua dan suara hewan malam yang beterbangan. Aku berdiri tak jauh dari sana, tubuhku kaku, namun air mata mengalir begitu saja di pipiku. “Niyala, jangan cengeng… please…” gumamku pada diri sendiri, berusaha menguatkan hati yang hampir runtuh. Namun, tiba-tiba di tengah keheningan yang mencekam, sebuah bayangan muncul. Sosok itu melangkah perlahan, lalu berhenti tepat di hadapanku. Ardan. Wajahnya tampak tenang, berbeda dari bayangan menyeramkan yang kulihat sebelumnya. Kali ini, ia tersenyum— senyum yang hangat namun sarat perpisahan. “Niyala,” suaranya lembut, bergema dalam dada. “Jangan tangisi apa yang memang seharusnya pergi. Ingatlah… setiap orang ada masanya, dan setiap masa pasti ada orangnya.”


Aku tak mampu menahan air mata lagi. Tubuhku bergetar hebat, Ardan memelukku dengan erat-erat. Lupa… bahwa ia bukan lagi manusia, lupa… bahwa ia hanyalah roh yang terjebak antara dunia dan akhirat. Yang kutahu, saat itu aku hanya ingin menahannya agar tak pergi. Dan di pelukan itu, untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang aneh dalam hatiku, ya! Mungkin ini perasaan cinta dan takut kehilangan seorang teman yang selalu menemani dalam setiap mimpiku. Angin malam berhembus kencang, menyapu dedaunan dan membawa kesejukan yang ganjil, ketenangan yang justru lahir dari kehilangan. Bersamaan dengan itu, sosok Ardan perlahan memudar dari pelukanku, lenyap seperti embun yang tersapu cahaya fajar. Aku terdiam, memandang ruang kosong di hadapanku, lalu menunduk sambil mengusap air mata yang tak kunjung berhenti. “ aku harus kuat…” bisikku lirih, seolah berusaha meyakinkan diri sendiri yang hampir rapuh. Bayangan masa depan terasa asing tanpa dirinya. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana menjalani hari-hari tanpa kehadiran Ardan. Meski kutahu, kami hanyalah pertemuan singkat antara dua dunia yang berbeda. “Kenapa ya… pertemuan sesaat aku sama Ardan bisa begitu melekat di pikiran?” gumamku, langkah kakiku pelan menyusuri jalan pulang. Aku menatap ke arah langit malam, bintang-bintang berkelip seakan mengamini perasaan yang tak bisa terucap. Dalam hati, aku mencoba belajar satu kata yang paling sulit yaitu ikhlas.

BIOGRAFI PENULIS Silmi Al Ilmiah adalah sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tua nya ketika penulis pertama kali melihat dunia, penulis lahir di Kab. Bandung pada bulan Agustus tahun 2006, penulis juga pernah aktif di beberapa organisasi seperti AMURKA (anak muda berkarya), PERAK (pena rahayu kreatif) dan juga markaz At-tuba, penulis terakhir mengenyam pendidikan di bangku sekolah di tingkat aliyah yaitu di MADRASAH ALIYAH SWASTA MU'ALLIMIEN PERSATUAN ISLAM 45 RAHAYU. Dan saat ini penulis sedang melanjutkan pendidikannya di RUMAH TAHFIZ PERMATA di Arcamanik Kota Bandung. Penulis berharap para pembaca senang ya sama hasil ceritanya. By the way jangan lupa difollow ya ig nya @luzzsilmi.hiqary._ Follow follow and support Maaciww guyssss


Turn static files into dynamic content formats.

Create a flipbook
pengelana dari negeri tabu by imiziey - Issuu