Ats-Tsabat
Bulletin Jum’at group KAMMI LINTAS GENERASI Edisi 2-07/2013
http://natasyalia.blogspot.co m
Kematian Hati Taujih K.H. Rahmat 'Abdullah
B
anyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu. Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang. Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan 1
ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka", ucapnya lirih. Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu? Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa. Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma'siat menggodamu dan engkau meni'matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia? Di luar sana rasa malu tak punya harga. Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah atau bahkan melalui penawaran langsung. Ini potret
Bulletin ATS-TSABAT, Bulletin Jum’at Group KAMMI Lintas Generasi
negerimu : 228.000 remaja mengidap putau. Dari 1.500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan. Mungkin engkau mulai berfikir "Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak kauperlukan sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh" Betapa jamaknya 'dosa kecil' itu dalam hatimu. Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu, saat "TV Thaghut" menyiarkan segala "kesombongan jahiliyah dan maksiat"? Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan, karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan "Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat?" Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang "Ini tidak islami" berarti ia paling islami, sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana? Sekarang kau telah jadi kader hebat. Tidak lagi malu-malu tampil. Justeru engkau akan dihadang tantangan : sangat malu untuk menahan tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar. Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa. Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada kesukaan atau
kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik yang kau miliki. Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter, maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi? Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu. Siapa yang mau menghormati ummat yang "kiayi"nya membayar beberapa ratus ribu kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang, lalu dengan enteng mengatakan "Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku" dan sesudah itu segalanya selesai, berlalu tanpa rasa bersalah? Siapa yang akan memandang ummat yang da'inya berpose lekat dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan "Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah, bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua?" Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat lalu mendaftar diri sebagai 'alimullisan (alim di lidah)? Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari kemungkinan jatuh ke lembah yang sama? Apa beda seorang remaja yang menzinai teman sekolahnya dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da'wahnya? Akankah kau andalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir? Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini? Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka. Tengoklah langkah mereka di mal. Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyakbanyak mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa "westernnya". Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan "lihatlah, betapa Amerikanya aku". Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika, melainkan apakah engkau punya harga diri. []
Festival Ramadhan Paramadina (FERAPA) bersama KAMMI Madani JAKARTA – Menyemarakkan bulan suci Ramadhan, Dewan Keluarga Majid (DKM) Universitas Paramadina menyelenggarakan agenda Ferapa (Festival Ramadhan Paramadina). Agenda Ferapa di antaranya yakni pembinaan kepada adik-adik di kampung pemulung Pancoran Buntu yang merupakan desa binaan KAMMI Madani. Ferapa diselenggarakan selama lima hari (10-15 Juli 2014), dengan agenda belajar dan bermain sore hingga berbuka puasa bersama. “Kepedulian yang dilakukan ini semoga menjadi bibit semangat generasi
2
mendatang,” tutur Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina dalam sambutan acara puncak Ferapa di Aula Nurcholis Madjid, Paramadina, Minggu (14/7) kemarin. Anis Baswedan sangat mengapresiasi gerak dan aksi sosialedukasi mahasiswa baik di DKM Paramadina maupun KAMMI Madani. Anis menyampaikan bahwa ini sarana tepat untuk belajar banyak hal dari para anak pemulung tersebut. Dalam acara puncak Ferapa, sebanyak 30 anak-anak binaan KAMMI Madani tersebut menyumbangkan pertunjukan seni marawis kepada para hadirin. Edi Santoso, Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Jakarta Selatan yang juga pembina adik-adik Gang Buntu, sangat mengapresiasi hal ini. “Saya yakin, para pegiat KAMMI Madani dan teman-teman mahasiswa di sini ke depan akan menjadi para pemimpin yang amanah.” tutup Edi.[] http://eramadina.com/festival-ramadhan-paramadina-ferapa-bersama-kammi-madani/
Bulletin ATS-TSABAT, Bulletin Jum’at Group KAMMI Lintas Generasi
Menggagas Badan Wakaf Alumni KAMMI: Manifesto Pergerakan “Belajar berdiri sendiri, jangan hanya jual tenaga pada siapapun, ubah kedudukan kuli menjadi pengusaha, biar kecil seperti apapun. Tak ada modal? Berserikatm bentuk modal, bertekun dalam pekerjaan” (Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa)
W
akaf menjadi kearifan ekonomi yang dicetuskan oleh Intelektual ekonomi Muslim sejak era klasik. Dalam membangun pemberdayaan ekonomi rakyat, wakaf tunai berperan penting dalam membangun modal ekonomi. Wakaf selama ini hanya dipahami masyarakat umum dalam bentuk tanah dan bangunan masjid. Lembagalembaga Islam belum cukup maksimal menjadikan wakaf tunai sebagai alternative action dana abadi untuk menggerakkan ekonomi umat. Dalam hadist Rasulullah SAW menyatakan : “Apabila seorang
manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”.(Riwayat Muslim, Abu Dawud, AtTirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)
Keunggulan Wakaf Tunai adalah: Pertama, Wakaf tunai adalah asset abadi yang menjadi cadangan modal bagi masyarakat yang dapat dikelola secara produktif tidak berkurang tapi semakin bertambah. Kedua, Wakaf tunai adalah upaya mamaksimalkan amal individu untuk dapat dikelola menjadi modal produksi, lain seperti zakat yang dapat habis di konsumsi 8 Asnaf. Ketiga, Pengelolaan wakaf tunai semakin bermanfaat dengan prasyarat professional, transparan, dan berdaya untuk ekonomi umat. GERAKAN PRAKSIS KAMMI dalam gerakan nasional sangat mudah untuk melakukannya dengan contoh setiap kader KAMMI di Indonesia mengumpulkan secara sadar, wakaf tunai dengan harga Rp50.000,00 per sertifikat wakaf tunai. Jika di kali 10.000 kader maka akan terkumpul Rp.500.000.000 belum kita hitung kader dan alumni yang mampu membeli sertifikat wakaf tunai lebih dari satu sertifikat. Dengan Rp 500.000.000 ini setidaknya KAMMI Nasional mampu membeli tanah untuk Pengurus PP KAMMI yang akan berumur 15 Tahun ini. Dana Wakaf ini dapat dikumpulkan berkesinambungan di tahun-tahun yang akan datang. Selain itu KAMMI dengan dana itu dimasa depan mampu memiliki BMT, Swalayan, Percetakan Buku, Loundri KAMMI di Kampus se-Indonesia.
Landasan Syariah : Al-quran : (1) Al-Qur`an surat al-Baqarah (2): 267
Penting bagi kita untuk memahami wakaf tunai sebagai instrumen membangun ekonomi umat. Wakaf Tunai adalah cara cerdas berpahala tanpa batas. Dengan Wakaf Tunai harta kita akan menjadi lebih bernilai karena selama dana itu digunakan untuk jalan kebaikan pahalanya akan terus mengalir. Di negara-negara muslim yang maju seperti malaysia, wakaf tunai adalah potensi untuk pengembangan pendidikan Islam, Lembaga Keuangan Islam, Sosial Islam dan Badan usaha umat Islam. Pandangan Umar bin Khotob tentang tindakannya memberikan wakaf sebagian kebun kurma mengandung filosofi besar di era kontemporer ini. Kebun kurma menjadi harta Allah namun hasil kebun kurma dibagi untuk mendanai kebutuhan kolektif umat. Bahwa umat Islam memiliki ide membangun dana cadangan bagi umat dimana Allah yang menjadi pemilik sah harta wakaf tersebut dan manusia mendapat manfaat bersama dari asset abadi pengumpulan wakaf tunai dari individu.
3
memerintahkan: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (2) Al-Qur`an surat Āli ‘Imrān (3): 92: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (3) Al-Qur`an surat al-Hajj (22): 77: “Hai orang-orang yang beriman, ruku‘lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan”. Hadits : Riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad: “Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”. Indonesia, 10 Maret 2013 (digagas oleh Dharma Setiawan, penggiat Kultural Jogja) http://kammikultural.wordpress.com
Bulletin ATS-TSABAT, Bulletin Jum’at Group KAMMI Lintas Generasi
HIKMAH KETSA RAMADHAN:
RAMADHAN DAN SOSIALISASI PEMILU
S
epanjang Ramadhan tahun ini, ada pemandangan baru yang menghiasi sepanjang jalan dan setiap sudut perempatan di wilayah Solo dan sekitarnya. Apabila kita berkendara di sepanjang Slamet Riyadi dan Karanganyar, misal saja, akan kita lihat dengan meriah berderetnya pose wajah para tokoh politik, mulai dari calon bupati, calon anggota dewan, sampai calon presiden. Pun, demikian yang dilihat penulis di sepanjang perjalanan yang ditempuh dari Solo menuju Purbalingga. Berderetnya reklame dan spanduk ukuran jumbo dengan ucapan ‘Selamat Menyambut Bulan Ramadhan’ yang tengah menjamur di setiap sudut kota selama bulan penuh berkah ini mustahil tanpa tujuan. Tafsiran yang rasional adalah bahwa kehadiran para ‘artis baru’ ini ialah dalam rangka sosialisasi awal sebelum pemilu 2014 diselenggarakan. Adalah sangat masuk akal jika kampanye retoris ini dilakukan saat bulan Ramadhan. Sebab, tak bisa dinafikan, simpati masyarakat akan mampu diarahkan pada propaganda yang diusung dan disimbolkan lewat tulisan yang disematkan di samping foto yang terpampang gagah diiringi senyum yang seolah mengatakan : saya peduli pada kalian wahai rakyat, termasuk dalam urusan keberagamaan! Sungguh ironi, apabila ucapan ‘Selamat Menunaikan Ibadah Puasa’ yang marak hadir disepanjang jalan ini hanyalah menjadi isu renyah yang dijual oleh Partai Politik untuk melakukan sosialisasi awal jelang pemilu 2014. Jika hal itu terjadi, maka selamanya ucapan itu tak akan menemukan ruh spiritualitasnya, sebab kalimat yang dituliskan tidaklah berangkat dari keimanan sosial sebagai insan yang beragama, akan tetapi hanya menjadi rutinitas normatif yang telah terprogram dari waktu ke waktu. Keinginan untuk meraih dukungan suara sebanyak-banyaknya jelang momentum pesta rakyat, dan menjadikan ucapan ‘Selamat Menjalankan Ibadah Puasa’ sebagai sarana promosi dan publikasi bahwa calon dan partai yang mengusungnya adalah yang terbaik memang sah-sah saja. Akan tetapi, perlu diingat bahwa apabila partai politik selalu sibuk dengan urusan untuk mengangkat tinggi nama besar diri dan partainya, program-program keummatan tidak akan bisa terealisasi, termasuk dalam pengawalan kebijakan yang merugikan rakyat kecil. Apabila yang kemudian terjadi adalah pembohongan terhadap publik, dimana kepentingan pribadi maupun golongan dikemas sedemikian rupa dengan balutan agama dalam momentum bulan yang suci, maka hilanglah sudah harapan akan hadirnya nilai moral-etik dalam prosesi kepemimpinan dalam wacana politik kita hari ini. Nilai moral etik keagamaan harusnya berangkat dari kesadaran diri yang utuh untuk tidak membuat dikotomi dan jarak antara hati, lisan, dan tindakan. Nilai substantif keagamaan juga tidak berbicara mengenai bagaimana cara menggalang massa demi memperoleh suara saat pemilihan umum melalui ungkapan-ungkapan retoris dengan pengatasnamaan agama dan ayat suci, akan tetapi melalui kerja nyata dalam program-program keummatan yang mensejahterakan rakyat. (Alikta Hasnah Safitri, Kader KAMMI UNS Solo)
Bulletin Ats-Tsabat diterbitkan oleh admin Group facebook ‘KAMMI Lintas Generasi’. Insya Allah akan terbit setiap hari Jum’ at. Isi dari bulletin ini akan diambil dari berbagai posting di group KAMMI Lintas Generasi dan sumber lain. Hal ini sekaligus menjadi himbauan kepada warga group KLG untuk mari memposting hal-hal positif, konstruktif, sehingga semakin m enguatkan ke-Islam-an dan ke-KAMMI-an kita. Silahkan menggandakan dan menyebarkan Bulletin ini.
4
Bulletin ATS-TSABAT, Bulletin Jum’at Group KAMMI Lintas Generasi